Kajian Teori Sastra

Posted: 22 April 2009 in Kajian Teori

1. Pendahuluan

Ada tiga konvensi sastra lagi yang harus kita ketahui dan pahami agar dapat menginterpretasi atau memberi makna karya sastra. Tiga hal itu adalah kerangka kesejarahan: hubungan intertekstual, jenis sastra, dan aliran sastra. Maksud ketiga konvensi tersebut dijelaskan secara singkat berikut ini.

I. Materi

1.1 Kerangka Kesejarahan: Hubungan Intertekstual

Selain tiga konvensi di atas dibutuhkan untuk memahami karya sastra, ada satu hal lagi yang harus diperhatikan, yaitu kerangka kesejarahan: hubungan antartekstual, yakni hubungan satu karya sastra dengan karya sastra yang yang lain. Hubungan tersebut adalah hubungan suatu karya sastra yang sedang dipahami dengan karya atau teks yang dicipta sebelumnya pada periode sebelumnya maupun dengan karya atau tek yang sezaman. Penjelasan lebih lanjut tentang hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Pradopo (2002:55) berikut ini:

“Di samping konvensi bahasa dan sastra, untuk memproduksi makna karya sastra pembaca (kritikus) tidak boleh melupakan kerangka kesejarahan karya sastra yang di­baca atau dikritik itu. Hal ini mengingat bahwa karya sastra tidak lahir dalam kekosongan sastra dan budaya (Teeuw, t980: 11; 1983:4, 8). Karya sastra diciptakan mengikuti kon­vensi-konvensi karya-karya sastra yang ditulis sebelumnya, di samping juga menyimpangi konvensi sastra yang sudah ada, atau menentang karya sastra sebelumnya, baik mengenai pikiran yan g dikedepankan maupun konvensi estetikanya. Oleh karena itu, dalam mem­berikan makna karya sastra, seharusnya kritikus mengingat kerangka kesejarahan karya sastra itu. Dalam arti, ia harus melihat sejarah sastra untuk dapat meletakkan karya sastra yang dikritik pada posisi yang setepatnya di antara karya sastra sebelumnya, seza­man, dan sesudahnya, di samping meletakkan karya sastra itu dalam kerangka keseluruh­an karya sastra pengarang itu sendiri (Cf. Teeuw, 1980:24). Dengan demikian, kritikus akan dapat memberikan makna sepenuhnya kepada sebuah karya sastra berdasarkan posisi kesejarahannya.

Dalam kaitannya dengan usaha memberi makna sebuah karya sastra dengan jalan menyejajarkannya dengan karya sastra sebelumnya yang menunjukkan adanya perta­lian, adalah apa yang disebut dengan hubungan intertekstual, yaitu hubungan antarteks.

Dasar intertekstualitas adalah prinsip persamaan (vraisdmhahle ) teks yang satu dengan teks yang lain sebagai dikemukakan Culler (1977:139). Ia mengemukakan pendapat Julia Kristeva bahwa setiap teks itu merupakan penyerapan dan transformasi teks-teks lain, setiap teks itu merupakan mosaik kutipan-kutipan dari teks lain. Hubungan ini dapat berupa persamaan atau pertentangan (Cf. Teeuw, 1983:65). Dikeniu, ialah Riffaterre (1978:11, 23) bahwa sajak -(tieFs-) yang menjadi latar penciptaan sebuah karya sastra (teks) yang lain itu disebut hipogram. Karya sastra yang menjadi hipogram diserap dan ditransformasikan ke dalam teks sastra sesudahnya yang menunjukkan adanya persamaan itu. Dengan menjajarkan sebuah teks dengan teks yang menjadi hipogramnya, maka makna teks tersebut menjadi jelas, baik teks itu mengikuti atau menentang hipogramnya. Begitu juga, situasi yang dilukiskan menjadi lebih terang hingga dapat diberikan makna sepenuhnya.”

Sebagai sebuah contoh dapatlah dikemukakan sajak Chairil Anwar yang berjudul “Penerimaan” (1959:36) yang menyerap dan mentransformasikan sajak Amir Hamzah yang berjudul´”Kusangka” (1959:19).

2.2 Jenis Sastra

Sebelum kita tetapkan tentang pengertian genre beserta cakupannya. Rene Wellek & Austin Warren mengatakan bahwa “Teori genre adalah suatu prinsip keteraturan: sastra dan sejarah sastra diklasifika sikan tidak berdasarkan waktu atau tempat (periode atau pembagian sastra nasional), tetapi berdasarkan tipe struktur atau susunan sastra tertentu” ( 1989:299). Pada bagian ini yang akan dibicara­kan adalah genre sastra sebagai suatu karya sastra. Dari definisi di atas dapat disimpul.kan bahwa karya-karya sastra yang ada diklasifikasikan ke dalam suatu kelas atau kelompok berdasarkan struktur atau susunan sastra tersebut.

Berkenaan dengan klasifikasi atau pembagian sastra telah begitu banyak kita kenal. Pembagian itu dimulai dari pembagian secara garis besar atau secara umum sampai kepada pembagian berdasarkan ciri-ciri khusus suatu karya sastra. Dari pembagian yang sudah ada kita mengenal bentuk sastra puisi, fiksi, dan drama. Seorang kri.tikus abad ke-18, Thomas Hankins membagi drama Inggris ke dalam beberapa species, yakni misteri, moraliti, tragedi, dan komedi. Pada abad ke-18, prosa dianggap terdiri dari dua species, yaitu novel dan romansa(Well.ek & Warren,1989). Dalam kesusastraan Indonesia ke dalam jenis prosa tercakup cerita pendek (cerpen), novel dan roman. Novel. menurut sudut pandang dan terra yang digarap dibedakan atas novel kedaerahan, novel psikolo­gi, novel sosial, novel gotik, novel sejarah, novel detektif, dan novel biografi ( Eddy,1991). Pembagian manakah di antara pemba­gian-pembagian di atas yang disebut sebagai genre? Pembagian sastra atas bentuk puisi fiksi, dan drama disebut dengan “pembagian pokok”. Prosa fiksi yang terdiri dari tiga species; cerpen, novel, dan roman inilah yang disebut sebagai “genre” (Sedangkan, pembedaan novel atas novel kedaerahan, novel psikolo­gi) kita tetapkan tentang pengertian genre beserta cakupannya. Rene Wellek Austin Warren mengatakan bahwa “Teori genre adalah suatu prinsip keteraturan: sastra dan sejarah sastra diklasifika– sikan tidak berdasarkan waktu atau tempat (periode atau pembagian sastra nasional), tetapi berdasarkan tipe struktur atau susunan sastra tertentu” ( 1989:299). Pada bagian ini yang akan dibicara­kan adalah genre sastra sebagai suatu karya sastra. Dari definisi di atas dapat disimpul.kan bahwa karya-karya sastra yang ada diklasifikasikan ke dalam suatu kelas atau kelompok berdasarkan struktur atau susunan sastra tersebut.

Berkenaan dengan klasifikasi atau pembagian sastra telah begitu banyak kita kenal. Pembagian itu dimulai dari pembagian secara garis besar atau secara umum sampai kepada pembagian berdasarkan ciri-ciri khusus suatu karya sastra. Dari pembagian yang sudah ada kita mengenal bentuk sastra puisi, fiksi, dan drama. Seorang kri.tikus abad ke-18, Thomas Hankins membagi drama Inggris ke dalam beberapa species, yakni misteri, moraliti, tragedi, dan komedi. Pada abad ke-18, prosa dianggap terdiri dari dua species, yaitu novel dan romansa(Wellek & Warren,1989). Dalam kesusastraan Indonesia ke dalam jenis prosa tercakup cerita pendek (cerpen), novel dan roman. Novel. menurut sudut pandang dan terra yang digarap dibedakan atas novel kedaerahan, novel psikolo­gi, novel sosial, novel gotik, novel sejarah, novel detektif, dan novel biografi ( Eddy,1991). Pembagian manakah di antara pemba­gian-pembagian di atas yang disebut sebagai genre? Pembagian sastra atas bentuk puisi fiksi, dan drama disebut dengan “pembagian pokok”. Prosa fiksi yang terdiri dari tiga species; cerpen, novel, dan roman inilah yang disebut sebagai “genre” (Sedangkan, pembedaan novel atas novel kedaerahan, novel psikolo­

Pembagegoian karya sastra yang lain, dilakukan dengan berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Pembagian ini pun banyak versinya, dan masing-masing pembagian dilakukan atas kriteria­kriteria yang bervariasi pula.

Aristoteles menerapkan tiga kriteria atas sastra Yunani klasik. Namun, satu hal yang menari.k bahwa teori itu juga cocok untuk sastra lain- Penggolongan karya sastra atas tiga kriteria itu adalah sebagai berikut.

a. “media of representation” (sarana perwujudannya); 1.prosa; 2.puisi: a.karya hanya memanfaatkan satu matra (metrum) saja (misalnya epik,contoh Indonesia:syair)

b. karya memanfaatkan lebih dari satu matra (misalnya tragedi, kakawin); dalam pembagian ini pada prinsipnya tidak dibeda­kan antara sastra dan bukan sastra!)

c. “objects of representation” (objek perwujudan)-. yang menjadi objek pads prinsipnya selalu manusia, tetapi ada tiger kemungkinan, l) manusia rekaan lebih agung dari manusia nyata:tra­gedi,epik Homerus; cerita Panji; 2) manusia rekaan lebih hina dari manusia nyata: komedi;lenong; 3) manusia rekaan sama dengan manusia nyata:Cleophon (seandainya roman pads waktu itu sudah ada pastilah roman digolongkan Aristoteles dalam katagori ini!). Dalam pembagian ini pada prinsipnya tidak dibeda­kan antara sastra dan bukan sastra!) misalnya sebuah monolog panjang atau sebuah teks didaktik.

2) Isi Abstrak

Pembagian menurut situasi bahasa dapat dijabarkan lebih lanjut. Baik drama atau teks cerita mempunyai isi yang serupa rangkaian peristiwa yang dikaitkan secara logik dan kronologik yang disebut sejarah atau riwayat. Namun Diri khas ini tidak terdapat pada sajak-sajak. Andaika­ta ada berarti kita berhadapan dengan sebuah “sajak naratif”. Jika suatu sajak menurut situasi bahasa berupa monolog, tetapi isinya berupa cerita, ini dapat disebut bentuk campuran. Ia dapat didekati dari sudut naratif atau puitik, atau kedua-duanya bersama-sama.

Tematik

Dalam perkembangan sejarah berbagai tema silih berganti digemari. Dalam sastra Indonesia terdapat beberapa tema yang selalu hadir, ada juga yang kadang-kadang muncul. Kadang-kadang kita menyaksikan semacam mode. Misalnya, pada tahun 20-an roman yang ditulis banyak yang berte­makan putus cinta antara dua remaja. Namun, gejala ini belum memberikan cukup alasan untuk berbicara jenis roman yang bertemakan tentang putus cinta. Karena pada masa-masa berikutnya tema ini tergeser oleh kehadiran tema-tema lain yang cukup bervariasi. Pembagian-pembagian tematik mustahil disusun secara deduksi. Ada beberapa alasannya, (i) karena pada da­sarnya dapat dibayangkan seribu satu tema, (ii.) penyebaran sebuah tema terikat akan tempat dan waktu, (iii) tema-tema itu sering tumpang tindih, dan (iv) pembagian ini tidak dapat dihubungkan dengan pembagian ahistor ik menurut situasi bahasa seperti telah diuraikan di atas.

Dalam teori-teori mengenai jenis-jenis sastra sejak da­hulu memang dikaitkan situasi bahasa dengan tematik.Demikian pada abad ke-18 terjadi pembagian klasik antara lirik, epik, dan dramatik tiga jenis sastra itu dikaitkan dengan tema. Dalam lirik pengung­kapan perasaan pribadi dipandang sebagai tema terpen­ting. Dalam drama perbuatan yang memuncak dalam sebuah konflik dianggap pokok, sedangkan dalam epik perbuatan dahsyat seorang leluhur yang menentukan nasib bangsa keturunannya.

Pembagian di atas masih diperbincangkan. Namun, sampai pertengahan abad ke-20 ini masih juga diadakan usaha untuk memberlakukan jenis sastra secara tematik sebagai suatu patokan universal. Pembagian karya sastra berdasarkan gaya sepanjang sejarah sastra memang ada. Pembagian global sastra atas puisi dan prosa sebetulnya bersifat stilistik.Dalam pandangan ini puisi dianggap teratur menurut irama. Pengaruh anggapan ini terhadap sejarah sastra memang besar. Namun, dewasa ini ciri-ciri yang dianggap khas bagi puisi dan prosa tidak universal dan abadi.

Pembagian lain seperti, gaya tinggi yang dianggap cocok dengan seorang ningrat sedangankan gaya rendah cocok untuk seorang petani- Dalam teori klasik, gaya tinggi dihubungkan dengan pentas tragedi, sedangkan gaya rendah dengan komedi.

(5) Akibat Pragmatik

Katagori akibat pragmatik adalah katagori berdasarkan tujuan dan akibat sebuah karya sastra. Ada teks-teks yang ingin mengajarkan sesuatu, yang meyakinkan, yang bersifat humor, mengharukan, dan yang memberi informa­si. Pembagian serupa ini ada persoalan. Kita tak dapat memberikan kaidah-kaidah yang berlaku umum, tujuan dan akibat tidak selalu sama, alasannya : (i) akibat dan pengaruh terhadap pembaca berubah dari zaman kezaman, (ii) maksud pengarang dapat disalahartikan, dan (iii) fungsi-fungsi pragmatik tidak mudah dikaitkan dengan sekelompok teks tertentu. Pembagian jenis-jenis sastra menurut dampaknya harus memenuhi dua syarat, yaitu (i) harus dibedakan antara efek primer, atau efek dominan, dan efek camping dan (ii) pembagian harus terikat pads suatu periode sejarah tertentu.

(6) Bentuk Material atau Lahiriah

Katagori ini berdasarkan bentuk lahiriah teks yang diterbi.tkan. Sebuah cerita mengisi seluruh permukaan halaman, sedangkan dalam teks drama kita berjumpa dengan banyak bi.dang putih, khusus bila pembicaranya berganti, Hama pelaku dicetak sedemikian rupa. Dalam puisi pun halaman tidak diisi sepenuhnya, bait-bait terpisah oleh bidang putih dan kadang perwujudan lahir­iah memperlihatkan variasi-variasi lain pula.

Katagori sastra yang lainnya, yakni berdasarkan tujuh kri­teria. Kriteria itu adalah : (i.) isi, (ii) media, (iii) aliran, (iv) nilai literer, (v) zaman, (vi) asal, dan (vii) ciri khan kebahasaan. Maksud masing-masing kriteria di atas dapat dijelas­kan sebagai berikut.

Berdasarkan isi, yakni berdasarkan tema yang dibahas. Berda­sarkan tema kita mengenal sastra sejarah, sastra sufisik, sastra didaktik, dan sebagainya. Media maksudnya same dengan kriteria sarana perwujudan yang dikemukakan oleh Aristoteles di atas. Pada prose kita mengenal cerpen, novel, dan novellet. Aliran kesusastraan yang dianut oleh pengarang akan melahirkan jenis-jenis sastra terrtentu. Berdasarkan aliran kesusas­traan yang ada kita mengenal sastra ekspresionistis, sastra impresionistis, sastra simbolis, sastra didaktis, dan sebagainya.

Kriteria ni.lain literer, yakni pembagian sastra berdasarkan bobot kesastraan atau kadar literer yang dikandung oleh sebuah karya sastra. Berdasarkan kriteria ini, dapat disebut novel popular, novel picisan, dan novel yang berbobot sastra.

Berdasarkan zaman, berarti mengelompokkan karya sastra yang ada berdasarkan zaman karya sastra itu diciptakan.Dalam sastra Indonesia dikenal puisi lama, puisi baru, puisi modern, dan puisi kontemporer.

Berdasarkan asal, berarti memperhatikan pada tempat asal karya sastra tersebut, dalam hal ini merujuk kepada negara. Secara umum, dalam sastra Indonesia ada sastra asing dan ada sastra daerah. Selain itu juga dikenal sastra Arab, sastra sastra lisan untuk penggolongan ini adalah bahasa yang digunakan pengar­ang atau stilistikanya. Sastra yang termasuk ke dalam kriteria ini seperti puisi mantra, puisi mbeling, dan s Inggris, dan sebagainya.

Terakhir kriteria ciri khas kebahasaan. Demikianlah pembicaraan tentang genre sastra dan katagorisa­si sastra. Keberadaan kedua teori ini dalam kesusastraan sampai seat ini tetap dibutuhkan. Namun, dalam pemakaiannya masih diper­lukan peninjauan lebih lanjut, terutama terhadap penyesuaiannya dengan tempat dan masa karya sastra yang akan dikelompokkan itu.

1.2 Aliran Sastra

2.4 Teks ( Sastra )

a) Pengertian Teks

Karya-karya sastra yang diciptakan sastrawan berjudul sebuah teks. Yang dimaksud dengan teks ialah ungkapan bahasa yang menurut isi, sintaksis, dan pragmatiknya merupakan suatu kesatuan.

b) Ciri-ciri Teks sastra

Menurut Jan Van Luxemburg (1984:86-89) sebuah teks mempunyai ciri-ciri:

(1) Pragmatik: menyangkut perbuatan, ungkapan bahasa, pembicaraan dalam konteks sosial tertentu dalam satu kesatuan.

(2) sintaksis: unsur-unsur bahasa yang memperlihatkan suatu pertautan.

(3) Semantik: Merupakan terra yang berfungsi merumuskan makna simbolik unsur-unsur bahasa teks. Tema bisa eksplisit dan implicit.

c) Fungsi Teks

Menurut Jacobson teks berfungsi sebagai pesan dalam situasi komunikasi. Tindak komunikasi ditentukan oleh lima faktor, yaitu:

(1) Pemancar dan Penerima

(2) Pesan

(3) Konteks

(4) Kode:perwujudan dari pesan

(5) Saluran

d) Jenis Teks

Luxemburg membagi teks atas 3 jenis, yaitu:

(1) Teks acuan, yaitu teks yang mengacu pada suatu konteks ( dunia nyata atau yang mungkin ada).

(2) Teks ekspresif, teks yang mengungkapkan perasaan, pertimbangan, pengalaman batin, dan sebagainya. Misalnya, cerita fiksi, puisi lirik.

(3) Teks persuasif, teks yang berfungsi mempengaruhi pendapat, perasaan, umpamanya Man dan resensi.

d) Isi Teks Sastra

- sastra merupakan cermin / gambar mengenai kenyataan, tepi dunia melukiskan banyak hal yang dalam kenyataan tak pernah ada.

- sekalipun seorang pengarang mengungkapkan daya khayalnya dengan menciptakan tokoh-tokoh yang tidak ada, yang hidup dalam ling­kungan khayalan, namun tetap ada kaitan -kaitan tertentu antara tokoh-tokoh dan perbuatan mereka, yang dapat dimengerti oleh pembaca dan dapat diterima berdasarkan pengertian mengenai dunia nyata.

About these ads
Komentar
  1. yi mengatakan:

    saya sangat puas dengan pemaparan diatas.
    pengertiannya cukup meluas ^_^

    Trim’s

  2. Azizah Nur Fitriana mengatakan:

    terimakasih telah berbagi tentang sastra . .
    semoga makin sukses . .
    dan saya juga ingin mengetahui lebih banyak lagi hal tentang sastra indonesia . .

    wssalam :)

  3. Wb Merdeka mengatakan:

    thanks atas masukan dari blog anda Pak. saya ijin copy paste untuk saya baca-baca. trimakasih.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s