“PERTENGKARAN”

Posted: 18 Desember 2009 in Naskah Drama Anak

Di tengah terik matahari, 2 orang sahabat sedang mencari rumah kontrakan mereka tidak menghiraukan jalan raya yang terik menggang. Dengan ditemani sekitarnya mereka jalan-jalan pintas untuk menghindari keramaian dan kemacetan. Dengan semangat kesetiakawanan mereka menyusuri jalan di pelosok-pelosok untuk mencari rumah yang dituju, tetapi perjuangan mereka sia-sia, akhirnya mereka menemukan rumah yang dicari meskipun tidak berhasil menempatinya.

Eko            : “Apakah jadi kita mencari rumah kontrakan?”

Harun         : “Ya jadilah … akukan butuh rumah itu.”

Eko            : “Lalu kapan kita berangkat …?”

Harun         : “Pagi ini bisa … ?”

Eko            : “Baiklah, saya siap-siap dulu seperempat jam lagi saya jemput.”

Harun         : “OK …. ! Saya tunggu.”

Di tengah perjalanan, mereka melewati jalan raya yang telah ramai dan macet.

Saya              : “Kurang ajar! Coba tadi kita lewat jalan garuda!”

Teman saya   : “Naik saja ke trotoar. Kita tuntun.”

Saya              : “Kurang ajar! Coba tadi kita lewat jalan garuda!”

Teman saya   : “Naik saja ke trotoar. Kita tuntun.”

Saya              : “Ya, nanti kalau ada trotoar kita lewat sana saja.”

Teman saya   : “Nah itu ada rentetan tali pekerja jalanan, kita serobot saja.”

Kemudian mereka menuntun sekuternya, sekitar dua puluh meter dari situ mereka menemukan jalan yang lapang kemudian mereka kembali menaiki kendaraan. Ketika mereka berkecepatan tinggi, tiba-tiba orang yang dibonceng berseru:

Eko            : “Awas sebentar lagi belok!” (TERIAK SESEORANG DARI BELAKANG)

Harun         : “Jalan yang mana?” (SAMBIL TERIAK)

Eko            : “Apa?” (SAMBIL TERIAK JUGA)

Harun         : “Jalan yang mana? Kiri atau kanan?”

Eko            : “Ya! sekarang belok kiri! Belok kiri! Awas! Ada mobil di belakang!”

(SAYA TUNGGU MOBIL ITU LALU, ALNTAS SAYA MENEYBERANG DAN MASUK KE GANG TAK BERASPAL. BEBERAPA PULUH METER SAYA MENAIKI KENDARAAN, TAPI SAMPAI PADA SEBUAH BELOKAN NAMPAK ANAK-ANAK YANG RAMAI DI JALAN. DISITUPUN GANG ITU MAKIN SEMPIT, LALU SAYA TURUN DAN SAYA DORONG SKUTER SAYA)

Harun         : “Masih jauh?” (TANYA SAYA LAGI SAMBIL TERIAK)

Eko            : “Sudah dekat! Nah, tu! Rumah yang didepannya ada pohon belimbing.”

Harun         : “Sungguh menyesal dibawa melihat rumah sejauh ini ke dalam. Kalau tidak akrena menenggang kawan saya sudah ingin kembali saja.” (MENGGERUTU SAMBIL BERJALAN KE BAWAH POHON UNTUK BERTEDUH).

Eko            : “Nah, sampai! sekarang .” (SAMBIL MENGELUARKAN SAPU TANGAN UNTUK MENYEKA MUKANYA).

Harun         : “Ini rumahnya?” (RAGU DAN TAK PERCAYA)

Eko            : “Ya! Mari masuk!”

(KEDUANYA MASUK KE PEKARANGAN RUMAH ITU)

Harun         : (MASIH MEMANDANGI RUMAH ITU)

“Baiklah, mari kita lihat kesana!”

Eko            : “Tok…. Tok…. Tok…. (MENGETUK PINTU DAN SAYA MENGIKUTI DI BELAKANG SAMBIL LONGAK-LONGOK KE SAMPING MENYAMPING RUMAH).

Kemudian ada seorang perempuan menjulurkan kepala dari balik pintu. Kemudian ia memperhatikan saya, saya membungkuk hormat, ia membalas menganggu, lalu mundur.

Perempuan    : “Silakan masuk.” (KAMIPUN MASUK LALU DUDUK DI RUANG TAMU)

(SI PEREMPUAN MASUK KE DALAM RUMAH DAN BEBERAPA SAAT KEMUDIAN KELUAR LAHI KE RUANG TAMU DAN DUDUK BERSAMA KAMI. KEMUDIAN TEMAN SAYA MEMBEBERKAN MAKSUD TUJUANNYA).

Bu Mira         : “Apa om tidak tahu kalau rumah ini sudah saya kontrak. Seharusnya om bicarakan dulu ini dengan pemiliki rumah. Lalu bersama dia om datang melihat-lihat kesini.”

Eko               : “Sudah juga saya bicarakan dengan yang empunya. Rumahnya persis di sebelah rumah saya.”

Bu Mira         : “Tapi ia harus datang kesini. Kalau tak bersama-sama, ia sendiri harus memberitahukan saya tentang maksudnya menjual rumah ini.”

Eko               : “Tapi Zus, kami hanya permisi untuk melihat-lihat saja dulu.” (DENGAN MENGUSAPKAN SAPUTANGAN KE MUKANYA).

Bu Mira         : “Ya meskipun untuk melihat, tapi harus juga diberi tahu lebih dulu kepada saya. Saya si penyewa yang sah di rumah ini. Berarti rumah ini tak boleh seenaknya saja mau dijual atau doperkan si pemilik tanpa sepengetahuan dan persetujuan saya.”

Eko               : “Maaf saja, Zus kalau pemilik tak sempat permisi, biarlah sekarang kami yang minta permisi untuk melihat-lihat.”

Bu Mira         : “Tidak bisa begitu!” (SAMBIL BERDIRI DAN DENGAN NADA TINGGI) “Kau tahu, ha!?” kau tahu, ha?!” (SAMBIL MENUDING-NUDING DAN TANGAN MEMEGANG PINGGANG).

Telah berpuluh-puluh calo datang merongrong kemari untuk melihat rumah ini. Datang yang ini ingin melihat. Datang yang itu untuk memeriksa. Datang yang anu ingin melihat dan memaksa masuk ke tiap kamar. Dan mereka datang tanpa merperdulikan waktu. Ada yang pagi, ada yang siang ketika orang sedang istirahat, ada pula yang malam. Pusing! Pusing saya memikirkan!” (SAMBIL MELETAKKAN TAPAK TANGAN KE ATAS MEJA SEPERTI INGIN MENAMPAR NAMPAKNYA)

Harun            : “Ehm … ehm…, hilag sudah harapan.”

(PIKIRNYA DALAM HATI SAMBIL BANGKIT PELAN DARI DUDUKNYA DAN BERNIAT UNTUK MELARIKAN DIRI DARI PERCAKAPAN)

Bu Mira         : “Coba! Coba! Siapa yang tak pusing dibikin begitu ha ?”

Eko               : “Tapi, Zus, ehm, sesungguhnya rumah ini sudah mau kami jual. Ehm, maksud saya kami bersaudara yang mewarisi rumah ini sejak ibu kami meninggal kira-kira 10 bulan lalu.”

(DENGAN SUARA YANG DALAM DAN DI TENANG-TENANGKAN)

Bu Mira         : “Ha?” (TERKEJUT DAN JADI PELAN)

“Jadi ….. rumah ini warisan beberapa saudara? Jadi om ikut memiliki rumah ini?”

Eko               : “Benar, Zus.” (DENGAN NADA KEMENANGAN)

“Sesungguhnya abang kami Atang, yang menyewakan rumah ini tanpa berunding masak dengan kami saudara-saudaranya. Ada 3 orang kami bersaudara dan saya yang bungsu. Sesungguhnya rumah ini ingin kami jual, sebab bikin sengketa saja pada kami. Kalau dijual dapat dibagiuang penjualannya. Maaf saja, Zus, saya tidak segera menjelaskannya tadi pada Zus.”

Seketika suasana menjadi hening, beberapa lama kemudian:

Bu Mira         : “Meskipun begitu saya telah resmi menjadi penyewa rumah ini. Ada tanda tangan RT dari RK sekalian. Kalian belum bisa menjual begitu saja sebelum saya dicarikan rumah yang betul-betul cocok pada saya, sama seperti rumah ini.”

Eko               : “Tapi, Zus ……”

Bu Mira         : “Tapi kenapa? Apa om keberatan dengan permintaan ganti rugi saya….!”

Eko               : “Sebenarnya bukan keberatan, tapi saya merasa saya tidak ikut menyewakan rumah ini, jadi yang seharusnya bertanggung jawab adalah abang saya.”

Bu Mira         : “Trus bagaimana saya bisa menemui abang om.”

Eko               : “Ya coba nanti saya hubungi beliau.”

Bu Mira         : “OK, kalau begitu, saya baru mau pindah kalau sudah dapat ganti rugi.”

Eko               : “Saya mohon pamit dulu dan terima kasih atas toleransinya.”

About these ads
Komentar
  1. Willy Aji Pangestu mengatakan:

    VERY GOOD…….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s