Archive for the ‘Naskah Drama’ Category


Penulis naskah    : Yuni Herawati

Jumlah babak      : 9 ( Sembilan )

Durasi      : 60 menit

Genre       : drama komedi tragedi

 

Nama kelompok :

Yuni herawati

Rifka Kusuma Jaya

Marita

Siska Dian

Johan Aditya Graha

 

Konsep cerita :

Konsep cerita dalam naskah ini adalah kisah kehidupan sehari-hari yang bnyak terjadi dalam kehidupan yang mengandung banyak pesan moral. Dalam drama ini tidak hanya menyuguhkan hiburan semata, namun juga sebagai pelajaran hidup dan media untuk merefleksi diri kita masing-masing. Cerita ini kami ambil dari kisah sehari-hari yaitu persaingan antar masyarakat dan poligami yang telah kami rangkai sedemikian rupa sehingga bisa kami pentaskan dengan baik dan berkesan bagi penonton.

 

Synopsis :

Suatu hari didesa Huru-Hara terdapat dua keluarga yang sangat kaya yaitu keluarga pak Suyono dan keluarga pak Marsudi. Namun dua keluarga ini saling bersaing untuk menunjukkan bahwa salah satu diantara merekalah yang paling hebat. Hal ini membuat mereka bersaing dalam berbagai hal. Bahkan dalam hal-hal biasa merekapun bersaing satu sama lain, persaingan mereka seringkali menimbulkan kekacauan di desa Huru-Hara tersebut.

Kemudian suatu hari, rumah keluarga Suyono kemalingan barang mereka banyak yang raip dicuri maling yang berjumlah tiga orang. Marsudi merasa bingung melihat rumahnya kosong dan tidak ada hiburan. Akhirnya ia meminta  pembantunya Keceng untuk menemaninya berbelanja barang-barang rumah yang hilang. Dengan sisa uang di Bank Suyono dan pembantunya Keceng berbelanja banyak barang dan keperluan rumah. Dan sebagai hadiah Keceng dibelikan handphone  keluaran terbaru.

Kesokan harinya Keceng bertemu dengan Bolot diwarung yang Mbok Nah. Melihat handphone milik Keceng, Bolot merasa iri. Ia akhirnya beranjak pulang kerumah dan menceritakan kepada majikannya yaitu keluarga pak Marsudi. Merasa tersingi keluarga pak Marsudi menjual semua barang-barangnya dan membeli barang-barang yang baru. Dengan kesombongannya pak Marsudi memamerkan barang-barangnya kepada pak Suyono.  Karena merasa terhina pak Suyono menantang pak Marsudi untuk berkelahi. Hampir saja mereka berkelahi, namun warga dan pembantu mereka melerai perkelahianpun terhindarkan.

Tak sampai disitu saja perseteruan terjadi, suatu hari bu Yayuk istri pak Suyono meminta suaminya untuk menikah lagi. Bu Yayuk ingin memiliki anak, namun tidak bisa kerena mandul. Mendengar permintaan istrinya pak Suyono yang awalnya menolak akhirnya luluh. Dengan berat hati Ia membagi cintanya dengan wanita lain. Mendengar berita pesaingnya menikah lagi pak Marsudi gelap mata, Ia meminta istrinya bu Ipah untuk siap dimadu. Bu Ipah menyalahkan keluarga pak Suyono karena telah membuat suaminya menjadi gelap mata.

Suatu hari dipagi yang cerah pak Suyono sedang berjalan pulang dari pasar bersama kedua istrinya kemudian bu Ipah menghadang mereka dan bu Ipah marah-marah kepada pak Suyono, menyalahkan pak Suyono karena telah membuat suaminya menikah lagi serta menganggap ini adalah bagian dari persaingan diantara mereka. Pak Suyono naik pitam karena pernikahan keduanya bukan karena hal tersebut. kemudian pak Marsudi datang  dengan Istri mudanya menyusul bu Ipah, perselisihan terjadi antara kedua pasangan tersebut dan akhirnya perkelahianpun tidak bisa dihindarkan antara pak Suyono dan pak Marsudi. Sampai akhirnya Pak RT datang untuk melerai mereka.

Di Rumah Pak RT ,kedua keluarga ini dpertemukan, mereka menceritakan permasalahan yang terjadi. Pada akhirnya permasalahan intinya adalah pak Suyono menikah lagi dan pak Marsudi cemburu dan merasa tersaingi, pak Marsudi pun menikah lagi. Ini menimbulkan ketidak relaan istri pertama pak Marsudi yaitu bu Ipah. Bu Ipah menuding pak Suyono sebagai penyebab pernikahan kedua pak Marsudi. Untuk melerai pertikaian diantara mereka, Pak RT pun berusaha menyadarkan mereka. Akan tetapi pertengkaran ini memang akhirnya tidak berakhir bahagia. Bu Ipah menghujamkan belati ketubuhnya dan ia rebah seketika. Penyesalan mendalam pak Marsudi yang menangisi istrinya yang meninggal karena kesalahannya.

Konsep panggung :

Panggung pertama  : jalan desa yang sunyi dimalam hari

Panggung kedua      : menggambarkan suasana rumah warga desa

Panggung ketiga      : menggambarkan suasana warung ditepian pematang sawah

Panggung keempat  : menggambarkan suasana rumah warga desa

Panggung kelima     : jalanan desa disiang hari yang cerah

Panggung keenam   : menggambarkan suasana rumah warga desa

Panggung ketujuh    : jalanan desa dipagi hari yang cerah

Panggung kedelapan          : menggambarkan suasana rumah warga desa

 

Property panggung :

Kain hitam, meja, kursi, gambar-gambar rumput dari sterofom, handphone mainan, taplak meja dan makanan.

 

Konsep busana :

Busana yang digunakan setiap pemain menggabarkan busana sehari-hari warga desa.

 

Pengorganisasian dan karakterisasi :

Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si
Sutradara: Yuni Herawati
Asisten Sutradara: Marita Agustin
Sekretaris: Rifka Kusuma j
Bendahara: Siska Dian
Kelengkapan Properti: Rifka Kusuma
Penata Panggung: Johan Aditya

Penata Rias & Busana : Marita Agustine
Penata Musik: Johan Aditya
PEMAIN :                                                                                                  

  • Suyono                       (Juragan Sapi)
  • Marsudi                     (Mandor Tebu)
  • Yayuk                          (Istri Suyono)
  • Ipah                            (Istri Marsudi)
  • Rahayu                       (Istri ke-2 Suyono)
  • Lastri                          (Istri ke-2 Marsudi)
  • Keceng                       (Pembantu Suyono)
  • Bolot                          (Pembantu Marsudi)
  • Pak RT Kadenu       (Ketua RT)
  • Marfu’ah                    (Istri Pak RT)
  • Yu Nah                       (Pemilik Warung)
  • Tohir                           (bapak lastri)
  • Maling 1
  • Maling 2
  • Maling 3
  • Penduduk 1
  • Penduduk 2
  • Penduduk 3

Skenario

BABAK 1 : Jalan Desa

Terjadi pengejaran terhadap 3 orang maling yang kepergok mencuri barang milik Suyono. Perkelahian pun terjadi antara maling dan penduduk desa yang mengejar mereka,perkelahian itu dimenangkan oleh 3 orang maling tersebut dan maling berhasil kabur dengan membawa barang curian.

BABAK 2 : Rumah Pak Suyono

Suyono sedang duduk diruang tamu dan memikirkan barang-barangnya yang dirampok oleh maling. Kemudian muncul niat Suyono untuk membeli barang yang serupa tetapi lebih bagus dan baru serta ingin memamerkannya kepada tetangganya Marsudi,setelah berunding dengan istrinya (Yayuk) dan Yayuk pun setuju,Suyono menyuruh Keceng (Pembantu Suyono) untuk membeli barang-barang tersebut.

BABAK 3 : Warung Mbok Nah

Saat Bolot (Pembantu Marsudi) sedang asyik duduk di warung Mbok Nah sambil menikmati kopi,Bolot melihat Keceng yang hendak membeli pesanan Suyono dan memanggilnya untuk mampir,setelah bertemu dan bercerita tentang tujuan Keceng,Keceng pun pergi dan Bolot kembali ke rumah.

BABAK 4 : Rumah Pak Marsudi

Bolot kembali ke rumah,dia heran serta kagum dengan apa yang diceritakan oleh Keceng. Marsudi datang dan menanyakan apa yang telah dibicarakan oleh Bolot. Bolot pun bercerita dan Marsudi tersentak kaget serta memanggil istrinya Ipah,merasa tersaingi Marsudi mempunyai ide untuk menyaingi Suyono dan pamer siapa yang paling hebatdi antara mereka,dan Marsudi memiliki ide untuk membuat Suyono kalah.

Babak 5 : Jalan Desa

Suyono dan Keceng sedang berjalan menuju kandang sapi milik Suyono,Kemudian ditengah perjalanan Suyono bertemu dengan Marsudi dan Bolot yang pulang sehabis membeli barang baru,Marsudi pun pamer kepada Suyono dan mengatakan bahwa Suyono tidak akan mampu untuk menyaingi kekayaan serta kehebatan Marsudi. Suyono pun panas dan akan membuktikan kalau dia yang lebih hebat dari Marsudi.

Babak 6 : Rumah Suyono

Suyono berdiskusi dengan istrinya Yayuk. Karena sampai saat ini mereka belum dikaruniai anak,Yayuk menyuruh Suyono untuk menikah lagi agar mereka bisa mempunyai keturunan,Suyono pun menghendaki permintaan sang istri

Babak 7 : Rumah Marsudi

Marsudi heran dengan keramaian yang terjadi di rumah Suyono,Marsudi pun memanggil Bolot untuk menanyakan apa yang terjadi. Kemudian Marsudi kaget mendengar berita dari Bolot bahwa Suyono kawin lagi dan Marsudi menganggap ini adalah persaingan diantara mereka. Marsudi memanggil Ipah dan meminta ijin untuk menikah lagi. Ipah tidak terima dan melarang Marsudi untuk menikah lagi namun Marsudi memaksa dan akhirnya mereka bertengkar mulut. Ipah menyalahkan Suyono karena telah membuat suaminya menjadi gelap mata.

Babak 8 : Jalan Desa

Suyono sedang berjalan pulang dari pasar bersama kedua istrinya kemudian Ipah menghadang mereka dan Ipah pun marah-marah kepada Suyono,menyalahkan Suyono karena telah membuat Marsudi kawin lagi serta menganggap ini adalah bagian dari persaingan diantara mereka. Suyono naik pitam karena pernikahan keduanya bukan karena hal tersebut. kemudian Marsudi datang  dengan Istri mudanya menyusul Ipah,cekcok pun terjadi antara kedua pasangan tersebut dan akhirnya perkelahian pun tak bisa dihindarkan antara Suyono dan Marsudi. Sampai akhirnya Pak RT datang untuk melerai mereka.

Babak 9 : Rumah RT Kadenu

Di Rumah Pak RT,kedua keluarga ini dikumpulkan. mereka menceritakan permasalahan yang terjadi,pada akhirnya Suyono kawin lagi dan Marsudi cemburu dan merasa tersaingi,Marsudi pun kawin lagi. Ini menimbulkan ketidak relaan istri pertama Marsudi yaitu Ipah. Ipah menuding Suyono sebagai penyebab pernikahan kedua Marsudi.Untuk melerai pertikaian diantara mereka,Pak RT pun berusaha menyadarkan mereka. Tapi naas, pertengkaran ini memang akhirnya tidak berakhir bahagia. ________________________________________________________________

BABAK 1 ( Dalan Desa )

Penduduk   : Maling ….maling,………

Maling1      : He,… yok opo iki awak dewe wis dikepung penduduk

Maling2      : Nek wis ngene iki carane yo  tawur

Maling1      : Tawur…??? Gendeng  koen awak dewe iki mek 3 lah musuh wong sak kampong

Maling3      : Lha iyo ,… yek opo carane,??? Sing onok awak dewe iki malah ajur kabeh,… asu koen iku

Maling2      : Maling kok wedi mati coy………….. nyalimu endi?

Maling1      : Nek mati temen lakyo sara lho!!!!

Maling2      : Halah, wis gk ngurusi! Ayo maju…….

Penduduk1 : Heh, maling… jo mlayu koen! Reneo tak gepuki koen!

Maling2      : renea tak enteni!

(tawuran)

Maling1     : hahaha,……. Modelmu ae kate nantang aku?!?!? Koen gak ngerti aku sopo??

Penduduk1 : aku ngerti sopo koen,…. Koen iku maling sing sering nyusahne warga kene.

Maling1      : hahaha ,.. goblok!!!  Kenalno iki, jarwo pemimpin maling sing nguasai desa iki, hahah,….

Penduduk1 : maling ae bangga,……. Sing modele kaya awakmu iku penyakite masyarakat.

Maling1      : terus..???

Penduduk1 : kudu disingkirna,..!!

Maling1      : iwak ati rasa keju, lalapane sayur bayem,…… lek wani ayo maju, gak usah kakean cangkem!!

(tawuran)

Penduduk2 : kolang kaling digawe buko tambah sego

Maling2      : artine,…????

Penduduk2 : maling ndang bongko mlebu neraka

Maling2      : cethek geni karo sapi ompong,… lek pancen wani gak usah kakean omong

Penduduk2 : jangkrik,….. tampanana iki,… (tawuran)

Penduduk3 : he maling,… sek wanimu mbobol omah-omah nang desa iki

Maling3      : iku urusanku,….lapo koen melu-melu??

Penduduk3 : iku saiki dadi urusanku, soale gara-gara awakmu kabeh , wes akeh penduduk kene resah

Maling3      : terus,… ape lapo koen marang aku???

Penduduk3 : sayur bacem segone sak pethi

Maling3      : artine???

Penduduk3  : gak usah kakean cangkem, koen bakal mati

Maling3      : hahaha,….. nang Jakarta lewat yogya, numpak bis sumber kencono

Penduduk3 : artine ???

Maling3      : kadohen, larang goblok,…. Majuo, iki patimu!! (tawuran)

___________________________________________________________________________________________________

BABAK 2 ( Rumah Pak Suyono )

Suyono       : apes temen dina iki, bengi-bengi omah kemalingan,…Ganggu wong kelon ae.

Yayuk         : opo seh pak,… wes talah sing ikhlas, sing ilang kan isa dituku maneh

Suyono : lha yo bu, aku lho bingung maling saiki padha pinter marang sing digoleki, ,.. yek opo maling jaman biyen iku sing

diincer gelang, kalung, jam, mas-mas’an, tv. Lha sak iki HP, lapotop, iku ae kudu sing model anyar,… lek lawas

gak usah digowo.

Yayuk     : ya wes, timbang bingung-bingung tuku maneh ae, duwit yo nggangur, timbang njamur kan luwih apik dihambur

Suyono        :  bener bu,… endi keceng iki?, wes mari tah ngumbah mobil’e mau?,… ceng…..keceeeng!!!

Keceng        :  nggeh den,…..

Suyono        :  waduh, mlaku klemar-klemer koyok putri solo ae

Keceng        :  lha pripun toh den, kula kan rajane,..

Suyono        :  dapuranmu ngunu ae koyok raja solo, pantese iku raja kaya.

Keceng        :  nggeh sekarep den mawon,… niki wau wonten napa toh den? Kok nimbali kula?

Suyono :  tolong awakmu saiki budhal nang toko, ibu tukok’e HP model anyar karo laptop sing canggih,  gantine sing

kemalingan mau bengi, nyoh 20 juta, lek kurang ngomongo ojo lali njaluk bon

Keceng        :  kok bon seh den? ,…. Kwitansi toh?

Suyono        :  sembarang sing penting tanda bukti, ben gak mbok tilap susuk’e

Keceng        :  walah den,…. Kok pritungan nemen,..

Suyono        :  opoooo?!?!? ,….Balenana?

Keceng        :  mboten den, lagi itung-itung

Suyono        :  ndang budhal kana!

Yayuk            :  wes pak,… ayo ndang mangan sek

Suyono        : ayo.

___________________________________________________________________________________________________

BABAK 3 ( Warung Yu Nah )

Bolot            :  nah, yu nah,… kopine sak cangkir Yu… (sambil mengambil makanan)

Yu nah        :  kopi maneh,.. kopi maneh, utangmu iku lho lek dibayar wes isa digawe tuku sepeda motor.

Bolot            :  hah? Kotang molor?

Yu nah        :  kotang-kotang,.. atek molor pisan, yo kotange makmu iku sek molor Loot..Bolot

Bolot             :  hah bathang mambu? Opo ae toh mbok kok nglantur sampeyan iku, endi kopine?

Yu nah         : yok po seehhh…. yo koen iku sing nglantur (memberikan kopi)

(keceng yang kebetulan lewat setelah membeli pesanan suyono juragannya)

Bolot             :  lho iku lak keceng ,… ceng keceng,…. Teka endi?

Keceng         :  mari belanja

Bolot             :  belanja opo ae?

Keceng         :  iki pesenane juragan Suyono tuku barang ngganti seng kemalingan mau bengi

Bolot             :  Mampir kene sek lho,.. opo ae iku?

Yu nah          : iya mas mari mborong opo ae sampean iku ngglunyur ae?

Keceng         : sek,.. sek sakdurunge aku ngomong, iki gorokan lagi garing mari teka belanja mau, mbok yo digawekne ombenan

Yu nah          : ombenan biasane tah?

Keceng         : iya mbok, ombenan ekstra jongos,.. es’e titik ae,.. lek kakean dadi jongossssss,…

Yu nah          : sampeyan iku,…aneh-aneh ae ceng..

Bolot             : he isine opo ae gawananmu iku?

Keceng       :  akeh lot,.. enek laptop canggih, enek Hp model anyar iku loh,… opo arane yo? Bebek bebek ngono.

Yu nah          :  eaalah..modern sithik po’o..iku arane black berry mas

Keceng         :  nah iku mau lho…

Yu nah          : aku yo duwe siji neng omah…

Bolot             : hah?? Blek krupuk?? Gawe opo juraganmu tuku blek krupuk barang? Ape digawe dodol krupuk ta?

Keceng         : ndasmu koyok blek krupuk,….. black berry lot,..

Bolot             : mboh opo arane iku,… juraganmu iku aneh-aneh ae sing dituku

Yu nah          : iki mas ,… monggo diunjuk disekk,,,,,

Keceng         : matur nuwun mbok ,…. (minum),…maklum juraganku wong kadung sugih lot,  sembarang yo isa dituku, gak koyok juraganmu , aku ae ambe juraganku ditukokne HP BB kok.

Bolot             : mosok???

Keceng         : iyo BB,.. tapi sing biri-biri, pokoke gak koyok juraganmu medit,…. Hahahah wes yo tak mulih sek, dienteni juraganku

Yu nah          : mas ombenane dibayar disek tah…

Keceng         : dadi siji karo bolot

Yu nah         : lot.. Ayoo lot..gek ndang di Bayar!!

Bolot             :  hah?,.. iki aku mau yo arepe utang lho (mlayu)

Yu nah         : lot,. Awas yo!!!…bolooooottttt…..

 

___________________________________________________________________________________________________

BABAK 4 ( Rumah Pak Marsudi )

Bolot             : wah hebat juragane keceng iku, tuku opo ae isa atek jjarene juragane gelem nukukne keceng HP pisan

Marsudi      : iki lapo kok ngomong dewe, aku iki ngerti arek iki sedeng ket baiyen, tapi lek gendeng baru tumon saiki, lot,….boloot, lot,…boloooott!!

Bolot             : eh nggeh gan,… wonten napa?

Marsudi      : koen iku nggremeng dewe ae,… nggremengi opo koen?

Bolot             : niku lho gan,.. keceng mau dikengken juragane belanja, mborong pisan

Marsudi      : belanja opo ae suyono iku?

Bolot             : katah gan, wonten laptop, wonten HP, lan liyane, lha keceng niku mawon ditumbasaken HP pisan lho gan,……nggeh kulo kepengen

Marsudi      : iyo sesuk tak tukoke

Bolot             : saestu gan?

Marsudi      : yo, tapi mene koen gak tak bayar setahun

Bolot             : oalah gan,…

Marsudi      : gendeng suyono iku, sek sombonge dikira aku gak isa tuku be’e,… sawangen lek suyono isa, aku ya isa luwih malahan, lek meh belanja ngono tok kecil,…..

Ipah               : ya loh pak, mosok ape kalah, dikira sing duwe duit mek de’e thok, saiki mending sampeyan karo bolot budhal tuku belanja pisan, kudu luwih apik, sek suyono iku gak sombong

Marsudi      : ngono yo bu?

Ipah               : iya pak, ojo mek tuku iku thok, sing akeh pisan, lek perlu kabeh barang neng omah iki dianyari pisan

Marsudi      : yo wes,… ayo lot budhal borong belanja

Bolot             : hah? Sundel bolong belanja??

Marsudi      : ayo budhal (menjewer kuping bolot)

Bolot             : aduh-aduh,… nggeh gan

 

___________________________________________________________________________________________________

BABAK 5 ( Dalan Desa )

Suyono        : ceng,… sapi sing sek tas manak iku kate tak dol, kate tak ijolne sapi brahman

Keceng       : byoh-byoh, sapi ae enek jenenge barang seh ndara?

Suyono        : yo iyo, sapi brahman iku teko luar negeri, regane yo larang banget sek larang kuwi timbang awakmu

Keceng        : mosok seh ndara?

Suyono        : diomongi kok ngeyel ae

Keceng        :  berarti kula niki mboten wonten regane

Suyono        : sapa apene ngregani koen iku? Wes jarang adus, wajah pas-pasan, kemproh pisan, nyawang ae gak doyan

Keceng        : lha ndara kok taseh purun ndadeke kula babu?

Suyono        : kepeksan ceng,….

(marsudi dan bolot datang dengan membawa belanja’an mereka)

Marsudi      : pencene repot dadi wong sugih, nek belanja mesti kudu akeh, lot  awak dewe mau belanja opo ae?

Bolot             : nggeh gan,… wau tumbas sawi, wortel, brambang, Lombok, empon-empon…..

Marsudi      : goblok,.. iku kan belanjane ibumu mau isuk, belanja sing iki mau lho,..

Bolot             : oalah gan,…. Wau tumbas mas-mas’an ½ kilo, wonten HP 10juta’an, laptop sing isa digawe tivi

Marsudi      : iku sing cilik-cilik, lha sing engko sore  diterne gawe mobil iku opo ae?

Bolot             : wonten kulkas, AC, DVD, motor,.. barang gres langsung saking tokone

Suyono        : halah wong yo ngono ae kok dipamer-pamerna

Marsudi      :  gak masalah, lha wong duwitku akeh, dipangan pitung turunan gak entek

Suyono        : koyok gak enek sega ae mangan duwit

Marsudi      : ayo lot mulih, ngomong karo wong gak duwe duwit panceng angel!! Gak level, ambek ngenteni mobile mau lho wediku nyasar neng omahe suyono

Bolot             : nggeh mangga gan,….

_________________________________________________________________________________________________

BABAK 6 ( Rumah Pak Suyono )

Yayuk            : (ngudarasa) eyalah,. Yo,..yo,.. urip wes enak, sandhang pangan wis kecukupan, omah yo wis magrong-magrong, nanging kok enek sing kurang ya, sampe saiki aku kok durung isa ngekek’i anak ning mas suyono

Suyono        : ono opo sih dek? Disawang-sawang kok koyok susah, mobok yo crito neng mas

Yayuk            : gak kok mas,..

Suyono        : temen?

Yayuk            : iya

Suyono        : dek,… aku wes sandhingan karo sampeyan ampir 10 tahun lho, dadi lek sampeyan lek enek apa-apa mas iki yo hapal,…. Jujur nang mas, enek opo toh sampeyan? Opo aku ono kurange nang sampeyan?

Yayuk            : gak mas,.. sampeyan gak kurang opo-opo

Suyono        : lha terus?

Yayuk            : ngene loh mas, awak dewe iki wes urip bareng hamper 10 tahun, opo-opo wes keturutan, tapi sampe saiki kok durung duwe keturunan

Suyono        : yo sing sabar dik, awak dewe iki y owes berusaha, tapi yek opo maneh, wong Gusti Allah durung maringi

Yayuk            : tapi aku gak enak karo sampeyan, aku gak pantes dadi bojone sampeyan (nangis)

Suyono        : aku gak opo-opo kok dik, aku wes seneng urip karo sampeyan, aku janji bakal gawe sampeyan bahagia

Yayuk            : temen mas,….sampeyan janji?

Suyono        : iya dek mas janji

Yayuk            : lek ngunu sampeyan kudu rabi maneh

Suyono        : opo?!?!

Yayuk            : iya,.. sampeyan kudu rabi maneh

Suyono        : gak dek,… aku mesakne sampeyan,….aku moh ngemadu sampeyan

Yayuk            : tapi aku gak opo-opo mas,…. Sampeyan wes janji bakal gawe aku bahagia

Suyono        : tapi gak ngene carane dek

Yayuk            : gak opo-opo mas,… kanggo aku

Suyono        : ,……… yo wis, demi sampeyan aku rabi maneh, tapi janji karo mas lek sampeyan kudu lilo

Yayuk            : iya mas,….aku seneng banget

Suyono        : padha,.. mas tak berusaha adil

___________________________________________________________________________________________________

BABAK 7 ( Rumah Pak Marsudi )

Marsudi      : aduh ,…. Nek opo seh rame-rame neng omahe suyono iki? Mbrebegki kupingku ae, penasaran aku enek gawe opo wong iku? Endi bolot ape tak takoni sopo ae ngerti, lot,… bolot,…. Loot,.. bolooooot!!!

Bolot             : nggeh gan,… wonten napa?

Marsudi      : ancen susah lek duwe gedibal kopok koyok koen iki

Bolot             : napa gan??? Bantal kapuk?

Marsudi      : kopok lot,.. bolooot

Bolot             : kula niki sakjane mboten kopok lho gan,…

Marsudi      : lha terus??

Bolot             : Cuma gangguan sakedhik

Marsudi      : padha ae iku,….gak usah ngomong aneh-aneh, iku neng omahe suyono ono opo kok rame-rame?

Bolot             : lek krungu-krungu, suyono iku ape rabi maneh gan,..

Marsudi      : opo rabi maneh?? Sing temen koen iku

Bolot             : juragan dikandhani kok ngeyel,.. nggeh saestu, dados duyono sakniki nggadah bojo 2 gan,.

Marsudi      : jangkrik wong iku,… ngene carane ngejak saingan, dudu’ marsudi lek nyerah ngono ae,… aku kudu rabi maneh

Bolot             : mantap gan,….

Marsudi      : pah,..ipaaah, endi seh arek iku?

Ipah               : ya mas,… sabar po’o, lagi masak kok, ono opo bengak-bengok

Marsudi      : pah,.. aku pengen rabi maneh

Ipah               : opo mas?!?!?,… coba balenana

Marsudi      : aku apene rabi maneh

Ipah               : gak isa mas,… moh ,… aku moh dimadu mas,… lapo sampeyan rabi maneh?!?

Marsudi      : yo pokok’e kudu rabi maneh

Ipah               : opo iki gara-gara saingan iku mas?? Lek ngene carane mas mending gak usah,  aku gak rela

Marsudi      : gak isa dek,…. Engko aku kalah karo suyono, gelem tah aku diguyu suyono

Ipah               : mending ngono mas,… timbang aku lara ati

Marsudi      : wes dek,.. rela’na aku,.. ayo lot budhal!

Ipah               : mas,… maaaaaass!!!

 

BABAK 9 ( RUMAH LASTRI)

Marsudi      :  kulo nuwun,…

Bolot             :  gan,.. niki griyane sinten toh?

Marsudi      :  wes talah ,…menengo ae

Bolot             :  nggeh kula penasaran gan

Marsudi      : iki iku,…. Omahe lastri

Bolot             : napa gan? Daleme tukang patri?? Lah enten napa panjenengan maradayoh dating griyane tukang patri?? Badhe matri napa?

Marsudi      : patri gundulmu,….. lastri

Bolot             :  ooo,…..lastri sinten toh gan?

Marsudi      :  lastri iku bocah wadon sing wes suwi tak senengi, sak durunge karo ipah,…. Lha kabare iku de’e dadi rondo ditinggal mati karo bojone,…

Bolot             : lha  terus pripun?

Marsudi      : lha lastri iki kate tak dadekne bojoku sing nomer loro

Bolot             : oalah ngono tah,…

Tohir             : nggeh waalaikum salam,….. ooo pak marsudi, kok kadingaren mrene, ana apa??,… mangga pinarak rumiyin,…

Marsudi      : ngeten pak tohir,….krungu-krungu lastri anak’e panjenengan niku ditinggal mati bojone,….inggih napa mboten?

Tohir             : iya di,… lastri iku wes kurang luwih setahun ditinggal mati bojone amarga kapale kelelep nang segara,..

Bolot             : hah?? Keleleken semangka??

Marsudi      :  hus,…. Kelelep nang segara lot,……heheh nuwun sewu lho pak tohir, niki gadhah gedibal setunggal kupinge radi kopok’en,…

Tohir             :  ooo,… ngono tah,..

Marsudi      : nggih,,,kekarep kula sowan mriki badhe nembung lastri dados garwa kula,,pripun?.napa panjenengan maringi pangestu???..

Tohir             : yen mengkono kekarepmu aku tak takok lastri dhisek,,,las,,,,,lastri renea jare ki ana tamu.

Lastri            : dalem pak??wonten napa,

Tohir          : yo..nduk lunguh disik, iki lo…ana dek Marsudi  duwe kekarepan kate dhadekno awakmu dadi bojo nomor loro…yok apa nduk???

Lastri            : Inggih pak, kula purun didadekake bojo sing nomor loro mas marsudi, namung sedaya kula wangsulaken dhateng bapak mawon…

Tohir             : yo wis…lek ngono…kowe oleh rabi anakku nanging syarate, awakmu kudu lunasi utang-utangku nang wong-wong, karo bayar listrik lan banyu sing wis nunggak setahun…

Bolot             : Gendheng…wong iki…utang pating telecek…nang ndi enggon kok enek..

Marsudi      : Huuusssssss……cangke’em jagaen lottt….iki calon maratuwaku, inggih pak kula sanggup…gampang niku…

Tohir             : yo..wis saiki tak titipna anaku nang koen…

___________________________________________________________________________________________________

BABAK 8 ( Dalan Desa )

Marsudi      : dek,…. Mene ladang tebu sing 20 hektar iko, bakal dadi nggone sampeyan

Lastri            : sing temen mas,…

Marsudi      : iyo,.. gelem ta gak,..

Lastri            : yo gelem mas,….tapi engko mbak ipah yek opo?

Marsudi      : halah ipah ae mbok pikir, gampang,….iku urusanku

Lastri            : yo gak ngono mas, awak dewe iki kan wes rabi, meski aku dadi bojo nomer 2 wes suwe koyok ngene kok durung isa kepethuk mbak ipah.

Marsudi      : wes gak usah,… engko aku tak ngomong dewe nang de’e,..

(ipah datang)

Ipah               : lho,.. mas,.. mas marsudi??

Marsudi      : lho lapo koen nang kene?

Ipah               : aku,. Aku wes seminggu golek’I sampeyan mas,..,.. ayo mas mulih

Marsudi      : gak,.. aku moh mulih

Ipah               : lapo mas,…??? Aku wes kangen,…. Lho iki sapa karo sampeyan mas??

Lastri            : aku lastri mbak,..bojone mas marsudi

Ipah               : bojo?!?!,.. bojone mas marsudi iku mek aku tok,.. ipah!!

Marsudi      : iyo,.. iki bojoku nomer loro

Ipah               : dadi awakmu sing gawe bojoku gak mulih??

Lastri            : maksudte?

Ipah               : iya, mek wedok kegatelen sing wani-wani nggroyok bojone wong liya

Lastri            : heh,… sampeyan ojo ngawur lek ngomong, mas marsudi ancene sing pengen ngrabi aku kok

Ipah               : halah,.. alasan!!

Lastri            : pantes ae mas marsudi gak betah nang omah,.. lha nang omah ono demit’e

Ipah               : opo maksudmu?!?!

Lastri            : iya,… demit cerewet, bener ae mas marsudi luwih milih aku,…ancen aku sik ayu, seksi,enom,.. timbang awakmu!!

Marsudi      : he…. Wes, Ojo tukaran ae!!,..pah,… minggira aku ambe lastri apenen neng ladang tebu

Ipah               : moh mas,.. ayo mulih saiki!

Lastri            : pah,.. minggiro, gak krungu ta omongane mas marsudi?

Ipah               : ojo kakean omong koen las,..

Marsudi      : wes,… pah saiki awakmu minggiro!!

Ipah               : maass,.. massssss!!!

(marsudi & lastri pergi)

Ipah               : ngene iki gara-gara suyono, mas marsudi rabi maneh, gara-gara suyono keluargaku morat-marit,…. Pokok’e gara-gara suyono,…. Titenana suyono iku,….biasane yamene iki suyono mlaku-mlaku karo bojo-bojone,.. endi wong iku??,.. lha iku,…suyono!, suyonoo!!

Suyono        : opo toh pah,… nyeluk wong kok koyok ngunu,… aku iki gak budeg

Ipah               : gak usah kakean omong!! Kabeh gara-gara awakmu!

Suyono        : gara-gara aku?

Ipah               : iyo!

Yayuk            : he! Ono opo dasarmu nyalahne bojoku!

Ipah               : iyo yuk, gara-gara bojomu rabi maneh, mas marsudi melu rabi maneh, saiki aku dijarno aku gak diiurus maneh

Yayuk            : jogoen omonganmu pah! Bojoku rabi maneh pancen aku sing ngongkon, aku ikhlas, mas suyono isa adil, iku urusanmu yek marsudi rabi maneh, gak ono hubungane karo keluargaku, ancene marsudi sing kegatelen paling. Lek ora percaya takokno de Rahayu…

Rahayu                   : Iyo….mbak Ipah. Aku rabi karo mas marsudi jalaran di kongkon karo mbak yayuk..

Ipah               : nanging gara-gara iku mas marsudi rabi maneh, soale pengen saingan karo mas marsudi, sapa sing luwih hebat

Rahayu                  : yok..iku urusane bojomu mbak..

Suyono        : lah lek jarene bojomu ngono pah,… berarti de’e sing keliru,.. aku rabi maneh jalaran saka panjaluke  bojoku yayuk, lek bojoku gak gelem aku rabi maneh, aku gak ngarah rabi pah,……gak koyok bojomu sing ngawur iku

Ipah               : (nangis)

(marsudi datang dengan istri keduanya)

Marsudi      : ngomong opo koen yon!!,… wani-wanimu ngarani aku ngawur, koyok koen bener ae

Yayuk            : marsudi!! Ancene awakmu sing gak bener, sawangen ipah saiki mbok jarno, gak mbok urus!, ipah iku lara ati amarga awakmu rabi maneh! Yek opo koen iku?!? Lek apene rabi maneh mikir sing bener!

Marsudi      : ojo kakean cangkem koen yuk!!

Suyono        : wanimu ngomong model ngunu nang bojoku!!

Marsudi      : opo terusan?!? ,… nanas banyune amber,… lek awakmu panas, ayo geger!!

Suyono        : bothok teri rasane legi,…. Lek iku karepmu di!,.. tampanono iki (tawur)

Pak RT          : hee,.. onok opo iku kok padha gelut?,.. eling wes padha tuwa

Suyono        : iku marsudi sing nggarai…!!!!!!

Marsudi      : ngawur!! Yo koen iku!!

Suyono        : cangkemmu rusak!!

Pak RT          : wes-wes ,…… saiki padha nang omahku kabeh, bareng-bareng dirembug ben kelar,…… ayo

_________________________________________________________________________________________________

BABAK 10 ( Rumah Pak RT )

Pak RT          : mangga-mangga mlebet,… pinarak rumiyin, bu,..buu iki onok tamu

Bu RT             : lho alah,.. keluargane pak suyono karo pak marsudi tah..

Pak RT          : bu tolong gawekne ngombe

Bu RT             : iyo pak,…..tak tinggal dhisik pak,.. bu

Kedua keluarga : inggih bu,….

Pak RT          : sakjane antawis keluarga pak suyono kaliyan pak marsudi niki wonten napa toh??

Suyono        : ngeten lho pak, niki wau kulo kalean bojo-bojo kula ndugi peken, terus pas manthuk wau kok teng dalan dicegat kale Ipah niki

Pak RT          : bener ngunu pah??

Ipah               : inggih pak,..kula niki emosi

Suyono        : lha terus, ipah niku muring-muring teng kula, dikirane kula niki, dadi penyebab marsudi niku rabi maleh

Pak RT          : pah,… bener jarene suyono iku ??

Ipah               : nggeh pak,.. kula boten trima nek bojo kula niku rabi maleh

Pak RT          : lah opo hubungane karo suyono lek bojomu rabi maneh??

Ipah               : soale mas marsudi niki iri kaleh suyono, nek suyono iku saged rabi maleh, terus mas marsudi nekad rabi maneh, nggeh kula boten setuju, kula nyalahne suyono sing dadi penyebabe, soale antawis suyono kaliyan mas marsudi niki saingan.

Suyono        : alah ancene bojomu ae iri pah

Marsudi      : ngomong opo koen!!

Suyono        : ancene nyatane ngunu,… aku rabi pancen bojoku sing ngongkon kok

Yayuk            : bener di,.. aku sing ngongkon mas suyono rabi maneh

Rahayu        : inggih,… kula angsal ijin saking mbak yayuk dadi bojone mas suyono nomer 2, mbak yayuk piyambak sing nyuwun kula purun rabi kaliyan mas suyono

Marsudi      : pancene awakmu diperalat wong iku kanggo nyaingi aku!

Rahayu        : mboten …. saestu

Suyono        : rungokna dewe di!!

Marsudi      : alah iki ancen akal-akalanmu yon!!

Suyono        : jangkrik koen iku!!

Pak RT          : wes-wes,.. ojo geger maneh,…iki manga diunjuk rumiyin

Bu RT             : inggih bapak-bapak ibu-ibu,…. Mangga diunjuk,…

(minum)

Bu RT             : bu,.. pak pancen bener, lek enek masalah iku kudu dirembug bareng-bareng, musyawarah kanggo goleki dalan metu sing apik, lan adil,.. engko ben gak dadi koyok ngene iki, keluargane pak suyono karo pak marsudi dadi gegeran,..gak apik dirungakna tonggo-tonggo, apamaneh omah’e pak suyono karo pak marsudi kan tonggo tunggal gedhek,…

Pak RT          : wis timbang geger amarga saingan,….. mendhing di rembug apik-apikan disik aja kesusu emosi..

Ipah               : inggih boten saged pak, kula boten trima lek mas marsudi rabi maneh…ora lilo…Atiku Lara pak…(nangis)

Yayuk            : di, rungokno omongane bojomu…

Marsudi      : gak nguruss…gak sah melu-melu koen yuk…

Suyono        : cangkemu…ngomong karo wong wedhok sing penak di

Pak RT          : wiss..gak usah tukaran…saiki jalukmu yo’ po…pah

Ipah               : aku jaluk, saiki Mas Marsudi kudu megat Lastri…

Marsudi      : gak iso…!!!!! aku gak bakal megat lastri…

Ipah               : (ambil pisau) lek ngono…aku tak mati ae…

Semua         : pah..aja pah…pikiren maneh pah…

Bu RT             : iyo,,,nduk aja cekak pikirmu, dalan sek dawa…pikiren disek apa sing kate kok lakoni…

Marsudi      : aja pah…ak yo tresno marang sliramu..nanging aku yo tresno karo Lastri…

Ipah               : Saiki sampeyan kudu milih, aku apa Lastri….????

Marsudi      : gak iso pah,gak iso lek aku kon milih salah sijine…tresnaku wis kanggo awakmu karo lastri..

Ipah               : lek ngono jalukmu mas…aku ae sing ngalah… lilakno aku mati (sambil menusukan pisau ke perut)

Semua         : IPAHHHHHHHHH………………

 

 

THE END

“Sang Putri”

Posted: 12 April 2014 in Naskah Drama

Penulis Naskah  : NURUL FATIKAH

Babak                     : 3 (tiga) babak

Genre Teater        : Drama Tragedi

Jumah Pemain   : 6 (enam) orang

Durasi                    : 60 menit

 

Pendukung Produksi:

  1. NURUL FATIKAH
  2. RAFKI ADY WINARNO
  3. ZAINAL EFENDI
  4. AYYUNA FEBRIYANTI
  5. RIZKY PERMATASARI

1. Konsep Cerita

Sang Putri adalah drama tragedi yang menceritakan tentang dua orang putri raja yang salah satunya hendak dilamar oleh seorang pangeran. Ternyata pangeran memilih sang adik sehingga kakaknya cemburu dan berniat mencelakakan adiknya.

 2. Sinopsis

Dikisahkan seorang Raja di kerajaan Mekar Wangi yang mempunyai dua orang putri yang terkenal akan kecantikannya. Putri yang pertama bernama Kamboja, dan yang kedua bernama Kenangga. Karena sudah beranjak dewasa, datanglah seoarng pangeran dari kerajaan seberang hendak melamar salah satu dari dua putri raja tersebut. Ternyata pangeran lebih memilih Kenanga, sehingga membuat sakit hati putri pertama, yakni Kamboja. Siasat jahatpun dilakukan oleh Kamboja dengan meminta penyihir untuk merubah wajah Kenanga menjadi buruk rupa. Pangeran akhirnya membatalkan lamaranya, dan menikah dengan Kamboja. Kenanga juga diusir dari istana dan dibuang di hutan, dengan pesan dari seorang penyihir bahwa Kenanga akan kembali menjadi cantik jika menemukan cinta sejatinya.

3. Alur Cerita

Alur maju (Alur Kronologi)

Perkenalan       : pangeran hendak melamar sang putri

Konflik              : pangeran memilih Kenanga, sehingga Kamboja cemburu

Klimaks             : Kamboja membuat rupa Kenanga menjadi buruk sehingga di usir dari istana

Anti klimaks     : Kenanga berhasil menemukan cinta sejati sehingga ia berubah kembali menjadi cantik seperti semula dan kembali keistana

 

4. Watak Tokok (Penokohan) :

1. Raja                         : bijaksana

2. Permaisuri               :penyayang

3. Kamboja                  : jahat

4. Kenanga                  : rajin, rendah hati

5. Pangeran                  : bijaksana

6. Jakawana                 : baik hati, penolong

 

5. Konsep Panggung

Babak I          :singgasana raja, latar belakang gorden, 2 buah kursi

Babak II         : suasana hutan, terdapat beberapa tanaman hidup, tenda tempat tinggal Jakawana

Babak III        : singgasana raja, latar belakang gorden, 2 buah kursi

 

6. Properti

-         Keranjang cucian

-         Peralatan makan

-         Sabit

7. Konsep Busana

Raja                         : baju adat jawa

Permaisuri               :kebaya mewah

Kamboja                  : kebaya mewah

Kenanga                  : kebaya mewah, kebaya sederhana

Pangeran                  : baju adat jawa

Jakawana                 : celana pendek dengan jarik selutut, atasan rompi.

 

8. Tata Rias

Raja                         : sedikit bedak dan pewarna bibir

Permaisuri               :full makeup

Kamboja                  : full makeup

Kenanga                  : full make up (babak 1&3). Sedikit bedak dan pewarna bibir (babak 2)

Pangeran                  : sedikit bedak dan pewarna bibir

Jakawana                 : polos

 

9. Konsep Musik

-       Babak 1    : Iringan gamelan

-       Babak 2    : Suara kicau burung dan genmercik air

-       Babak 3    : Iringan gamelan

 

NARASI : ALKISAH, DI SEBUAH KERAJAAN YANG BERNAMA MEKAR WANGI, TINGGALLAH DUA ORANG PUTRI YANG BERNAMA KAMBOJA DAN ADIKNYA YANG BERNAMA KENANGA. SUATU HARI DATANGLAH SEORANG PANGERAN HENDAK MELAMAR SALAH SATU DIANTARA KEDUA PUTRI TERSEBUT. UNTUK KISAH SELANJUTNYA, MARI KITA SAKSIKAN BERSAMA-SAMA DI TeKaPe !

(SUARA GAMELAN)

(HENING)

 

BABAK 1

DUDUKLAH SEORANG RAJA DAN PERMAISURINYA DI SINGGASANA KERAJAAN, DAN SEDANG MEMBICARAKAN KEDUA PUTRINYA.

Raja                          :”Dinda, sepertinya putri kita sudah mulai beranjak dewasa, sudah waktunya mereka mendapatkan calon suami.”

Permaisuri                :”Benar, Paduka. Bukankah Paduka mempunyai sahabat di seberang yang mempunyai seorang anak laki-laki.”

Raja                          :”Kamu benar Dinda, besok aku akan mengundangnya untuk datang kemari.”

TIBA-TIBA SEORANG PENGAWAL MASUK MENEMUI RAJA

Pengawal                  :”Permisi, Paduka. Ada tamu seorang pemuda yang hendak bertemu dengan Paduka.”

Raja                          :”Baiklah, persilahkan ia masuk menemuiku.”

Pengawal                  :”Baik, Paduka.”

PENGAWAL PERGI DAN TAK LAMA KEMUDIAN KEMBALI BERSAMA SEORANG PEMUDA TAMPAN.

Raja                          :”Pemuda, siapakah namamu ?, dan apa keperluannmu menemuiku.”

Pangeran                   :”Maafkan saya, Paduka. Telah lancang datang ke kerajaan Paduka. Saya datang kemari bersama surat dari ayahanda untuk Paduka baca.” (SAMBIL MEMBERIKAN GULUNGAN KEPADA RAJA, RAJAPUN MENERIMA DAN MEMBACANYA)

Raja                          :”Dinda, rupanya pemuda ini adalah yang telah kita bicarakan tadi. Benar-benar pucuk dicinta ulampun tiba. Berdirilah anakku, kamu adalah putra sahabatku yang aku tunggu-tunggu. Dengarlah, sesungguhnya kamu disuruh ayahmu untuk datang kemari adalah untuk satu hal.”

Pangeran                   :”Ayahanda sudah menceritakannya, Paduka. Sehingga saya dengan suka cita datang kemari.”

Raja                          : (TERTAWA) “Rupanya kerajaan kita telah benar-benar berjodoh. Sepertinya kamu juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua putriku.”

(PANGERAN HANYA TERSENYUM MALU)

Raja                          :”Dinda, ajaklah kedua putrimu kemari.”

Permaisuri                :”Baik, Paduka.”

RAJA MEMPERSILAHKAN PANGERAN UNTUK DUDUK, TAK LAMA KEMUDIAN PERMAISURI DAN KEDUA PUTRINYAPUN DATANG DAN DUDUK BERSAMA RAJA DAN PENGERAN.

Raja                          :”Putriku, ini adalah putra dari sahabat ayah, yakni pangeran dari kerajaan Arum. Yang sengaja datang kemari hendak mempersunting salah satu diantara kalian. Pangeran, putriku ada dua orang, yang pertama bernama Kamboja, dan adiknya bernama Kenanga. Pada siapakan pangeran menaruh hari, saya bebaskan untuk mamilih.”

Pangeran                   :”Terimakasih Paduka. Tetapi saya tidak ingin menyakiti hati salah satu diajeng. Jadi biar nanti saya sampaikan sendiri kepada Paduka siapa yang hendak saya pinang.”

Raja                          :”Baiklah putraku. Dinda, ajaklah kedua putrimu untuk masuk, biar aku berbicara sendriri dengan pangeran.”

Permaisuri                :”Baiklah, Paduka.”

PERMAISURIPUN MASUK BERSAMA KEDUA PUTRINYA YANG SANGAT PATUH KEPADA AYAHANDANYA.

Raja                          :”Sudahkah kamu dapat menetukan pilihanmu putraku ?.”

Pangeran                   :”Semoga tidak menyakiti hati diajeng Kamboja, karena saya menaruh hati kepada diajeng Kenanga.”

Raja                          :”Sudah menjadi keputusan bahwa hati tidak mugkin dapat dipaksakan jika tidak mempunyai rasa. Saya restui pilihanmu, datanglah bersama ayahandamu besok untuk melakukan lamaran.”

Pangeran                   :”Baiklah, Paduka.”

Raja                          :”Berhati-hatilah dalam perjalanan, dan sampaikan salamku kepada ayahandamu.”

Pangeran                   :”Pasti saya sampaikan, mohon diri Paduka.”

PANGERANPUN PULANG DAN SANG RAJA MEMANGGIL KEMBALI PERMAISURI BERSAMA KEDUA PUTRINYA.

Raja                          :”Dinda, Putriku Kamboja dan Kenanga, besok pangeran akan kembali ke kerajaan kita bersama ayahandanya untuk melamar Kenanga. Putriku Kamboja, hendaknya kamu berbesar hati untuk melepasakan adikmu.”

Kamboja                   :”Nanda mengerti ayah, dan nanda juga turut bahagia.”

Kenanga                   :”Terimakasih Yunda,”

Permaisuri                :”Paduka, sepertinya banyak yang akan kita persiapkan.”

Raja                          :”Benar, Dinda. Putriku, persiapkanlah diri kalian.”

Kamboja&Kenanga  :”Baik, Ayah.”

RAJA DAN PERMAISURI MENINGGALKAN KEDUA PUTRINYA, DAN SEPERTINYA KAMBOJA SUDAH MEMPUNYAI NIAT JAHAT KEPADA KENANGA.

Kamboja                   :”Selamat dinda, pangeran telah memilihmu.”

Kenanga                   :”Terimakasih yunda.”

Kamboja                   :”Aku ingin kamu menunggu di sini sebentar, aku akan kembali membawa hadiah yang pantas untukmu.”

Kenanga                   :”Baiklah yunda, saya akan menunggu yunda di sini.”

KAMBOJA PERGI SEBENTAR, DAN KEMBALI DENGAN MEMBAWA SEKERANJANG BUAH APEL.

Kamboja                   :”Aku ingin kita makan bersama dinda, dan nanti kita akan tahu siapakan yang sebenranya pantas mendapatkan pangeran dan menikah terlebih dahulu. Ayo, makanlah !.”

KENANGA TAMPAK BINGUNG, TAPI IA TAK DAPAT MENOLAK PERMINTAAN KAKAKNYA UNTUK MEMAKAN BUAH APEL TERSEBUT, KENANGA LALU MEMAKAN APEL YANG DIPILIHKAN KAKAKNYA.

Kamboja                   :”Jangan takut dinda, apel itu tidak akan membunuhmu. Tapi apel ini akan menentukan siapakan besok yang pantas dilamar oleh pangeran. Sebaiknya kita bersiap-siap sekarang”

KEESOKAN HARINYA, PANGERANPUN DATANG MELAMAR KENANGA, RAJA MENYAMBUT DENGAN SUKA CITA.

Pangeran                   :”Beribu maaf Paduka, ayahanda tidak dapt ikut karena sedang sakit.”

Raja                          :”Tidak menjadi masalah putraku, aku yang akan datang untuk menjengguk ayahmu. Tapi apakah yang kau bawa sekarang putraku ?.”

Pangeran                   :”Sebuah kotak pemberian ayahanda dan ibunda untuk diajeng Kenanga, Paduka. Mohon diterima.”

RAJA MENERIMA KOTAK TERSEBUT DAN MEMBUKANNYA, CINCIN BERSIMBUL KERAJAAN ARUM YANG BERBENTUK BUNGA.

Raja                          :”Baiklah, saya terima putraku.”

TIBA-TIBA KAMBOJA MASUK DENGAN TERGESA-GESA.

Kamboja                   :”Ayahanda, Ibunda, dinda Kenanga, wajahnya berubah, beruubah menjadi sangat buruk.”

Raja                          :”Bagaimana bisa Kamboja ?.”

Kamboja                   :”Saya tidak tahu ayah.”

Raja                          :”Dinda, sebaiknya Kenanga kau jemput kemari.”

Permaisuri                :”Baiklah Paduka.”

PERMAISURI KELUAR DAN KEMBALI LAGI MEMBAWA KENANGA.

Raja                          :”Apa yang terjadi padamu, Kenanga ?.”

Kenanga                   :”Kenanga tidak mengerti ayah, tiba-tiba wajah kenanga berubah menjadi buruk seperti ini.” (SAMBIL MEMBUKA TUDUNGNYA)

PANGERANPUN TERKEJUT DAN LANGSUNG BERUCAP LAIN.

Pangeran                   :”Maaf, Paduka. Sepertinya saya tidak sanggup membawa diajeng Kenanga untuk bertemu ayahanda. Saya meminta untuk membatal kan lamaran saya kepada diajeng Kenanga.”

Raja                          :”Kalau begitu, sudilah pangeran membawa Kamboja agar tidak membuat malu kerajaan ini.”

Pangeran                   :”Baiklah, saya bersedia membawa diajeng Kamboja untuk bertemu ayahanda dan juga mempersuntingnya sebagai seorang istri.”

Kamboja                   :”Ayah, haruskah saya ikut bersama pangeran ?.”

Raja                          :”Iya putriku, ayah sudah menerima cincin pinangan itu. Pakailah sebelum kamu pergi.”

PANGERAN MEMAKAIKAN CINCIN ITU KE JARI KAMBOJA. KENANGA HANYA DIAM, IA MENUTUPI PERASANNYA.

Raja                          :”Pangeran, pergilah sebelum larut, bawalah Kamboja menghadap ayah dan ibundamu. Jangan lupa sampaikan salamku kepada mereka.”

Pangeran                   :”Baik, Paduka.”

Kamboja                   :”Ayah, apakah ayah tidak malu mempunyai seorang putri yang buruk rupa ?, sebaiknya ayah mengasingkan dinda Kenanga di tengah hutan, agar tidak ada yang tahu jika ayah mempunyai putri yang buruk rupa seperti adinda Kenanga.”

Permaisuri                :”Jaga ucapanmu Kamboja, dia adalah adikmu.”

Kamboja                   :”Kamboja tidak punya adik yang buruk rupa, Ibunda. Dia pasti bukan adik saya. Jika ayah tidak mengusir si buruk rupa ini, saya tidak mau ikut pergi dengan pangeran.”

Kenanga                   :”Maafkan saya yunda, maafkan saya.”

Kamboja                   :”Kamu bukan adikku. Ayah, usir dia !.”

Kenanga                   : (MENANGIS) “Ayah, Ibunda, jangan usir saya, maafkan saya,”

Permaisuri                :”Jangan menangis sayang, jika kamu benar, kamu akan baik-baik saja meskipun di tengah hutan, pakailah cincin ibu, jangan takut putriku.”

Raja                          :”Kamboja benar, ayah terpaksa mengasingkanmu di hutan sampai kamu bisa kembali menjadi Kenanga yang seperti dulu.”

Kamboja                   :”Ayo, pergi !, pengawal akan mengantarkanmu sampai kamu di tengah hutan nanti.”

KENANGA TAK LAGI DAPAT MEMBATAH, IA HANYA DAPAT MENANGIS DAN PERGI MENINGGALKAN KERAJAAN.

Kamboja                   :”Ayahanda, Ibunda, terimakasih telah merestui hubungan kami.”

Raja                          :”Iya, sekarang segeralah berangkat menuju Arum, orang tua pangeran pasti sudah menunggu.”

Pangeran                   :”Kami mohan pamit, Ayahanda, Ibunda.”

Permaisuri                :”Hati-hati, semoga selamat sampai tujuan.”

KAMBOJA DAN PANGERANPUN PERGI.

Raja                          :”Dinda, bagaimana bisa putri kita kenanga menjadi buruk rupanya ?.”

Permaisuri                :”Dinda juga tidak tahu Paduka, tetapi jika putri kita Kenanga adalah anak yang baik hati dan budinya, ia pasti akan kembali, mungkin sekarang dia sedang diuji, kita doakan saja semoga dia selamat dan bisa menjalani ujiannya ini Paduka.”

Raja                          :”Kamu benar, Dinda.”

RAJA DAN PERMAISURI JUGA MENDO’AKAN AGAR KENANGA BISA MELEWATI TAKDIRNYA, DAN KEMBALI KE KERAJAAN DENGAN SELAMAT.

 

BABAK 2

KENANGA DENGAN PAKAIAN SEADANYA TERLIHAT LELAH DAN TAK BERDAYA, IA SEAKAN TAK TAHU HARUS KAMANA DAN MENCARI SIAPA. HINGGA TUBUHNYA JATUH LEMAS TERKULAI DITANAH. BERUNTUNG SEORANG PEMUDA PENCARI KAYU BAKAR MENEMUKAN KENANGA DAN MEMBAWANYA PULANG.

(KENANGA TERBANGUN)

Kenanga                   :”Dimana aku ?.”

Jakawana                  :”Kamu di rumahku nona.”

Kenanga                   :”Siapa kamu ?.”

Jakawana                  :”Namaku Jakawana, aku pencari kayu bakar di hutan ini, aku menemukanmu lemah tak sadarkan diri, maaf jika aku telah lancang membawamu kerumahku. Sekarang, ceritakan siapa kamu sehingga tersesat di hutan ini sendirian.”

Kenanga                   :”Aku…, aku gadis sebatang kara yang tidak tahu arah dan tujuanku harus kemana, dan aku juga tidak ingat apa-apa tentang masa laluku.” (KENANGA TAK MENCERITAKAN YANG SESUNGGUHNYA)

Jakawana                  :”Siapa nama kamu ?”

(KENANGA MENGGELENGKAN KEPALA)

Kenanga                   :”Aku tak ingat.”

Jakawana                  :”Baiklah, sekarang terserah kamu, kamu mau tetap tinggal di sini atau pergi lagi. Aku mau keluar dulu mencari kayu bakar.”

Kenanga                   :”Tunggu!, apa kamu tidak takut melihar wajahku yang buruk ini ?.”

Jakawana                  :”Lebih baik melihat wajahmu yang buruk, daripada melihat wanita cantik tetapi buruk hatinya. Aku pergi dulu.”

JAKAWANA PERGI, KENANGA MEMUTUSKAN UNTUK TETAP TINGGAL. SEBAGAI BALAS BUDI, IA MEMBANTU JAKAWANA MEMEBRESKAN PEKERJAAN RUMAH, SEKALIAN MEMASAK. SEPULANG DARI MENCARI KAYU, JAKAWANA TERKEJUT MENDAPATKAN RUMAHNYA SANGAT RAPI, DAN TERSEDIA MAKANAN DI MEJA. IA LEKAS MENCARI KENANGA.

Jakawana                  :”Biar aku menunggunya, dia pasti kembali.”

Kenanga                   :”Maaf, aku ingin tinggal di sini.”

Jakawana                  :”Kenapa kau melakukan ini semua ?.”

Kenanga                   :”Tidak apa-apa, karena kamu juga sudah baik kepadaku, sudah sepatutnya aku berbuat baik pula kepadamu.”

Jakawana                  :”Aku tidak salah, bagaimanapun keadaanmu ternyata hatimu baik sekali.”

JAKAWANA TERTARIK HATINYA, IA MENDEKATI KENANGA UNTUK MENYATAKAN PERASAANYA.

Jakawana                  :”Diajeng, bersediakah kau untuk tidak pergi dan menemaniku selamanya di sini ?. Aku mencintaimu.”

KENCANA TERSENYUM DAN TIBA-TIBA LEMAS TAK SADARKAN DIRI, KUTUKAN KAMBOJA LEWAT BUAH APEL ITU KINI TELAH BERAKHIR.

Jakawana                  :”Wajahmu berubah, kau tampak cantik sekali.”

KENCANA MEMBUKA MATANYA DAN BANGUN.

Kenanga                   :”Benarkah ?,” (LANGSUNG MENCARI AIR UNTUK BERCERMIN). Maafkan Aku Jaka, selama ini aku tidak jujur kepadamu. Sebenarnya aku adalah putri Kenanga. Wajahku berubah menjadi buruk karena kecemburuan kakakku putri Kamboja, lalu ia mengusirku. Jika aku cerita, aku khawatir kamu tidak percaya kepadaku.”

Jakawana                  :”Aku melihat kecantikan seorang dari hatinya, bukan dari rupanya. Tapi kini kau memiliki kedunya.”

JAKAWANA BENAR-BANAR JATUH HATI DENGAN KENANGA.

Jakawana                  :”Diajeng tidak pantas tinggal di hutan ini, maafkan saya.”

Kenanga                   :”Aku senang di sini, Jaka.”

Jakawana                  :”Tidak putri, kau harus kembali, aku akan mengantarmu ke istana.”

Kenanga                   :”Baiklah, terimakasih Jaka.”

KENANGA KEMBALI MENJADI CANTIK, DAN JAKAWANA MENGANTARNYA KEMBALI KE ISTANA.

 

BABAK III

SEPERTINYA RAJA MEMPUNYAI FIRASAT AKAN KEMBALINYA SANG PUTRI. SEPERTI BIASA, IA DUDUK DI SINGGASANA BERSAMA PERMAISURI. DAN TIBA-TIBA ADA PENGAWAL MASUK.

Pengawal                  :”Permisi Paduka, ada yang hendak bertemu dengan Paduka,”

Raja                          :”Biarkan dia masuk.”

KENANGA DAN JAKAWANA KEMUDIAN MASUK MENEMUI RAJA.

Kenanga                   :”Ayahanda, Ibunda, masihkah kalian mengingatku ?.”

Permaisuri                :”Putriku, kau pasti putriku Kenanga. Llihat, ini cincin yang aku berikan sebelum kamu pergi.”

Kenanga                   :”Benar Ibunda.”

(PERMAISURI MEMELUK KENANGA)

Raja                          :”Kamu telah berhasil melewati ujianmu ini putriku, tapi kau tdak mungkin sendirian. Siapakah yang bersamamu ini ?.”

Kenanga                   :”Dia Jakawana Ayah, dia yang menolongku dan menyelamatkanku sewaktu di hutan.”

Raja                          :”Terimakasih Jaka, kau telah menolong putriku. Sebagai balas budiku, tinggalah kamu di Istana, dan menjadi suami Kenanga. ”

Jakawana                  :”Terimakasih Paduka,”

TIBA-TIBA PENGAWAL MASUK.

Pengawal                  :”Permisi Paduka. Ada seorang buruk rupa ingin menemui Paduka.”

Raja                          :”Biarkan dia masuk.”

Kamboja                   :”Ayahanda, Ibunda, Dinda Kenanga, maafkan saya, saya yang telah berbuat jahat kepada kalian.”

Permaisuri                :”Putriku Kamboja, ini balasan atas perbuatanmu yang jahat, kami memaafkanmu, tapi kami tidak bisa menolongmu putriku, kamu harus menerima akibatnya.”

Raja                          :”Kamu harus menjalani hukuman yang sama dengan apa yang telah kamu lakukan, bahkan lebih berat. Ayah tidak dapat menerimamu, karena kamu harus tinggal di hutan seperti adikmu selama ini.”

Kenanga                   :”Kutukan ini akan berakhir, jika yunda berbuat baik kepada semua orang, maafkan saya karena tidak bisa membantu yunda.”

Kamboja                   :”Kalian semua jahat dan tega kepadaku, aku tidak akan memaafkan kalian !.”

KAMBOJA PUN BERLARI PERGI, KARENA HATINYA YANG JAHAT DAN SEKERAS BATU, IA MENJALANI HUKUMAN ITU SELAMANYA DI HUTAN

Raja                          :”Kejahatan tidak akan pernah mengalahkan kebaikan, maka dari itu kita harus berteguh hati untuk tetap berbuat baik dan rendah hati kepada siapapun.”

Kenanga                   :”Iya ayah.”

KENANGAPUN AKHIRNYA MENIKAH DENGAN JAKAWANA DAN HIDUP BAHAGIA DI ISTANA.

 

SELESAI

“Bawang Bombay”

Posted: 12 April 2014 in Naskah Drama

Judul                      : “Bawang Bombay”

Penulis Naskah  : Aktiana Setya Ika Utami

Babak                     : 2 (dua) babak

Sifat                       : Adaptasi dari cerita “Cinderella” kombinasi dengan cerita “Timun Mas”

Genre Teater       : Tragedi Komedi

Durasi                  : 60 menit

 

Staf Pendukung Produksi :

  1. Anna Yuli Susanti
  2. Aktiana Setya Ika Utami
  3. Ely Daniati
  4. Mulyorini
  5. Agus Sumarliani

Konsep Cerita

“Bawang Bombai” adalah sebuah naskah teater bergenre tragedi komedi yang menceritakan cinta segitiga antara Bawang Bombai, Pangeran dan Buto Ijo.

Sinopsis

Dikisahkan seorang gadis berpostur tubuh gemuk yakni Si Bawang Bombai, yang terpaksa harus menerima kehadiran seorang ibu tiri dengan dua orang putrinya. Sifat ibu tiri dan kedua putrinya yakni Cabai Rawit dan Cabai Keriting sangat jahat kepada Bawang Bombai. Sehingga Bawang Bombai hanya sibuk dengan pekerjaan rumah dan mencuci baju di sungai. Karena kesibukannya, tubuh Bawang Bombai lama-lama menjadi langsing dan terlihat cantik.

Pada saat Bawang Bombai mencuci di sungai, ia mendengar kabar bahwa sang Raja akan mengadakn pesta di Istana. Rupanya Bawang Bombai tertarik hatinya untuk ikut. Tapi tiba-tiba kejadian tak terduga dialami oleh Bawang Bombai, sewaktu mencuci di sungai ia dihampiri oleh Buto Ijo. Bukan untuk memakannya, tapi Buto Ijo ternyata jatuh hati dengan Bawang Bombai. Tapi Bawang Bombai hanya menganggapnya sebagai seorang teman.

Melihat Bawang Bombai ingin pergi ke istana, hati Buto Ijo menjadi kasihan. Diapun memutuskan untuk mengantarkannya. Hingga akhirnya dia mengetahui bahwa putra raja juga menyukai Bawang Bombai. Buto Ijo memutuskan untuk menemui pangeran dan mengajaknya bertanding. Tetapi Buto Ijo meninggal karena diracun oleh Raja.

 

Bagan Alur :

Alur Maju( Alur Kronologis)

Perkenalan                   : Perkenalan Bawang Bombai dengan Buto Ijo

Pemicu Masalah       : Bawang Bombai ikut ke pesta yang menyebabkan Buto Ijo cemas.

Konflik                        : Pangeran jatuh hati kepada Bawang Bombai, begitupula sebaiknya.

Klimaks                       : Buto Ijo meluapkan kemarahannya dan menghajar pangeran.

Anti Klimaks              : Raja mempunyai siasat yang lick sehingga Buto ijo mati karena                                           keracunan makanan.

Konsep Panggung

Babak I :

Sungai              : terdapat beberapa tanaman hidup di panggung menggambarkan suasana asrinya hutan dan sungai.

Babak II :

Kerajaan          : dua buah kursi, gorden

Properti

-       Kentongan,

-       Selembar kertas pengumuman

-       Bunga mawar

-       keranjang cucian

-       pakaian untuk dicuci

-       miniatur pohon dari sterofoam

Konsep Busana

  1. Bawang Bombai          : kebaya dengan jarik setinggi lutut
  2. Ibu Bawang Bombai    : kebaya mewah
  3. Cabai keriting              : kebaya modern
  4. Pengawal                     : rompi, celana pendek, jarik setinggi lutut
  5. Buto Ijo                       : celana pendek
  6. Raja                             : kemeja adat jawa
  7. Pangeran                      : kemeja adat jawa

Tata Rias

  1. Bawang Bombai          : make up sederhana
  2. Ibu Bawang Bombai    : full make up
  3. Cabai keriting              : make up mencolok
  4. Pengawal                     : make up sederhana
  5. Buto Ijo                       : seluruh tubuh dilumuri pewarna hijau
  6. Raja                             : make up sederhana
  7. Pangeran                      : make up sederhana

 

Watak Tokok (Penokohan) :

  1. Bawang Bombai          : lemah lembut, sabar
  2. Ibu Bawang Bombai    : sombong, jahat
  3. Cabai keriting              : sombong jahat
  4. Pengawal                     : tegas
  5. Buto Ijo                       : baik hati, pemarah
  6. Raja                             : tegas, licik
  7. Pangeran                      : penyabar, baik hati

 

Narasi : Alkisah, di sebuah desa tinggallah seorang gadis yang bernama Bawang Bombai dengan ibu tiri dan saudara tirinya, karena sifat jahat ibu tiri dan saudara tirinya, Bawang Bombai terpaksa harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, termasuk mencuci semua pakaian kotor di sungai. Hingga suatu hari terjadilah peristiwa yang tidak diduga oleh Bawang Bombai, untuk cerita selengkapnya, mari kita saksikan di TKP !

(suara gamelan)

(hening)

(suara kicauan burung dan gemercik air sungai)

 

BABAK 1

TERLIHAT BAWANG BOMBAI TENGAH MERATAPI NASIBNYA SAMBIL MENCUCI SETUMPUK PAKAIAN DI SUNGAI.

Bawang Bombai         : “Setiap hari, pekerjaan ini yang harus aku lakukan. Membuatku rindu dengan ayah dan ibu. Ayah, Ibu, Bombai merindukan kalian.”

(TIBA-TIBA CABAI KRITING DAN IBUNYA MUNCUL)

Cabai Keriting            : ”Kayaknya ada yang lagi kangen sama ayah dan ibunya ni !.”

Bawang Bombai         : “Kakak, ibu, kenapa kalian ada di sini ?.” (KAGET)

Ibu Tiri                       : “Hei!, denger ya, bukan urusan kamu, aku sama Keriting ada di sini.”

Cabai Keriting            : “Denger gak kamu ?, uda sana lanjutin pekerjaan kamu. Rumahnya juga belum dibersikan tahu!.”

Bawang Bombai         : “Iya, maafkan saya Bu, Kak.”

(BOMBAI MELANJUTKAN MENCUCI, SEMENTARA CABAI KERITING DAN IBUNYA SIBUK MERAPIKAN DIRI DAN BERDANDAN)

Cabai Keriting            : “Sebentar lagi, mereka pasti akan lewat.”

Ibu Tiri                       : “Iya, karena itu jaga penampilan kamu!.”

TAK LAMA KEMUDIAN, MUNCULLAH PARA PENGAWAL ISTANA DENGAN MEMBUNYIKAN KENTONGAN)

Pengawal                    : “Pengumuman, pengumuman. Pengumuman, pengumuman. Pengumuman, pengumuman.”

Ibu Tiri                       : “Hei kalian, gak lihat apa ada orang di sini!, dari tadi pengumuman pengumuman. Emang apa pengumumannya ?.”

Cabai Keriting            : “Iya dari tadi kita di sini nungguin kalian tahu. Emangnya pengumuman apa si ?.”

Pengawal                    : “Sabar dong. Nyonya-nyonya ingin tau saja apa ingin tahu banget?.”

Cabai Keriting            : “Ya, ingin tahu banget lah. Kita uda jauh-jauh kesini cuma ingin mendengar pengumuman kalian secara langsung. Bukan lewat kabar burung.”

Ibu Tiri                       : “Uda ayo cepat. Apa pengumumannya, bacakan !”

Pengawal                    : “Baiklah, dengarkan baik-baik.”

(BAWANG BOMBAI JUGA TURUT MENDENGARKAN)

Pengawal                    : “Diberitahukan kepada seluruh gadis di seluruh penjuru negeri ini, untuk datang ke istana pada malam tahun baru, karena sang raja akan mengadakan pesta. Sekian terimakasih. Sudah nyonya, saya mau melanjutkan perjalanan. Pengumuaman, pengumuman.”

(PENGAWALPUN BERLALU PERGI)

Cabai Keriting            : “Wah! pasti seru banget. Hei Bombai, jangan harap kamu bisa ikut ya. Kita tidak mengijinkan!, ya kan Bu ?.”

Ibu Tiri                       : “Tentu saja. Sekarang lanjutkan pekerjaanmu dan pulang!, kita berdua mau ke pasar dulu untuk membeli baju yang bagus.”

Cabai Keriting            : “Rasain!.” (SAMBIL MENENDANG KERANJANG CUCIAN BAWANG BOMBAI DAN BERLALU PERGI)

BAWANG BOMBAI KEMBALI SENDIRI DAN MEMBERESKAN CUCIAN YANG BERANTAKAN.

Bawang Bombai         : “Ibu Tiri hanya cinta, kepada ayahku saja .. selagi ayah di sampingku, ku dipuja dan dimanja. Tapi bila ayah pergi, ku disiksa dan dimaki, “ (MENYANYI DI IRINGI MUSIK)

“Sabar sabar, semua ini sudah takdir yang harus aku jalani, meski berat, aku harus bersyukur. Bersyukur tidak jadi Pejabat, (TERTAWA). Kasihan –kasihan. Kasihan kalau ditanya malaikat, mereka jujur gak ya ?, kalau di pengadilan manusia si masih bisa bohong, masih bisa main suap. Malaikat disuap apa ya ? (TERTAWA) jadi nglantur.”

(MENYANYI)

“Andaiku gayus tambunan, yang bisa pergi ke Bali, semua keinginannya, masih bisa terpenuhi, ….”

Buto Ijo                      : “Terdengar merdu sekali suaranya, buat hatiku berdebar. Siapa ya gadis cantik itu…. ?”

(BERJALAN MENGENDAP DI BALIK POHON)

Bawang Bombai         : “Hai… siapa ya ?. Terdengar suara tapi gak ada orangnya. Jangan nakutin dong ?. Ayo keluarlah !”

Buto Ijo                      : “Maafkan aku tuan putri, aku telah mengganggu pekerjaanmu.”

(MASIH DIBALIK POHON DENGAN SUARA DIBUAT-BUAT)

Bawang Bombai         : “Tidak, kamu tidak menggangguku. Siapa kamu ?, kenapa bersembunyi ?, keluarlah”

Buto Ijo                      : “Maafkan aku tuan putri, aku malu.”

Bawang Bombai         : “Syukurlah, ternyata hari gini ada orang yang masih punya rasa malu. Tapi kenapa kamu malu ? Apa kamu malu karena sudah korupsi ?. Aku bukan KPK kok !. Jangan takut”

Buto Ijo                      : “Tuan putri bisa saja. Aku malu karena aku jelek tuan putri. Aku khawatir tuan putri takut jika melihat aku.”

Bawang Bombai         : “Tenang saja, asal kamu bukan gederuwo aku tidak akan takut. Keluarlah !”

( BUTO IJO KEUAR TAPI TUBUHNYA DISELIMUTI DENGAN KAIN)

Bawang Bombai         : “Kenapa kamu tutupi tubuhmu ?”

Buto Ijo                      : “Aku malu dan takut tuan putri lari jika melihat aku.”

Bawang Bombai         : “Baiklah, biar aku yang membuka kainnya, kan ku buktikan jika aku tidak takut padamu.”

(BAWANG BOMBAI MEMBUKA PENUTUP TUBUH BUTO IJO)

Bawang Bombai         : “Aawwww!!,”

(BAWANG BOMBAI TERIAK MENJAHUI BUTO IJO)

Buto Ijo                      : “Tuan putri jangan takut, aku tidak sedang mencari timun mas untuk dimakan, tapi aku sedang mencari………………….”

(BUTO IJO BERBALIK DAN MENGELUARKAN MAWAR MERAH DARI BALIK BAJUNYA)

Bawang Bombai         : “Maaf, kalau boleh tahu, kamu mencari siapa ?”

Buto Ijo                      : “Aku mencari……………..”

Bawang Bombai         : “Iya mencari siapa ?”

Buto Ijo                      : “Aku mencari…………….. “

(BUTO IJO BINGGUNG TIDAK BISA MENGUNGKAPKAN PERASAANNYA)

Bawang Bombai         : “Sampai kapan aku menunggumu untuk bicara ?”

Buto Ijo                      : “Maaf, aku mencari seorang putri yang mau berteman denganku.”

Bawang Bombai         : “O, tapi aku bukanlah tuan putri, jadi jangan panggil aku tuan putri. Sekarang biar kuantar kamu ke rumah tuan putri.”

Buto Ijo                      : “Tidak, tidak, aku ingin berteman denganmu saja. Bolehkah ?.”

Bawang Bombai         : “Baiklah, asalkan kamu tidak akan memakanku. Namaku Bawang Bombai, kamu siapa ?.” (SAMBIL MENGULURKAN TANGAN)

Buto Ijo                      : “Panggil saja aku Ijo.”

(KEDUANYA SEKARANG BERTEMAN, BUTO IJO MEMBANTU BAWANG BOMBAI MENCUCI)

Buto Ijo                      :“Sini aku bantu. Kamu istirahat aja dulu.”

Bawang Bombai         : “Kenapa kamu baik sekali.”

Buto Ijo                      : “Karena kamu sudah bersedia menjadi temanku.”

BUTO IJO MERASA SANGAT SENANG, BEGITU PULA BAWANG BOMBAI. DITANGAN BUTO IJO, PEKERJAAN BAWANG BOMBAIPUN CEPAT SELESAI.

Bawang Bombai         : “Oh ya, besok malam raja akan mengadakan pesta. Aku ingin datang ke pesta itu. Tapi aku tidak tahu jalannya. Ibu dan kakakku tidak mengijinkan aku untuk ikut.”

Buto Ijo                      : “Jangan khawatir, aku akan mengantarkanmu.”

Bawang Bombai         : “Sungguh ?.”

Buto Ijo                      : “Iya.”

Bawang Bombai         : “Terimahkasih. Tadi kamu sudah membantuku, besok mau mengantarkan aku. Sekarang, apa yang bisa kulakukan untukmu Ijo ?.”

Buto Ijo                      : “Aku senang sekali bisa bersama kamu Bombai. Kalau boleh, aku ingin bersamamu terus. Apa boleh ?.”

Bawang Bombai         : (HANYA MENGANGGUK) “Sekarang pulang yuk ?.”

Buto Ijo                      : “Biar aku yang bawakan cuciannya.”

Bawang Bombai         : “Terimakasih.”

 

BABAK 2

SUASANA KERAJAAN YANG RAMAI, BANYAK GADIS YANG BERDATANGAN. DUDUKLAH SANG RAJA DAN PUTRANYA.

 

Raja                            : “Putraku, pilihlah satu gadis yang menarik hatimu, dan jadikan ia pendampingmu selamanya.”

Pangeran                     : “Baiklah ayah, semoga ada gadis yang mampu mencuri hatiku.”

PENGAWAL MEMBUNYIKAN KENTONGAN, PERTANDA ADA YANG MAU DISAMPAIKAN.

Pengawal                    : “Perhatian, perintah dari Sang Baginda Raja, para gadis diminta untuk memperkenalkan dirinya satu persatu.”

TANPA BASA-BASI CABAI KERITING LANGSUNG MAJU MEMPERKENALKAN DIRI.

Cabai Keriting            : “Permisi Sang Raja, Pangeran. Perkenalkan nama saya Cabai Keriting. Saya yang paling cantik diantara gadis-gadis yang ada disini.”

Raja                            : “Terimakasih Cabai Rawit.”

Cabai Keriting            : “Cabai Keriting Baginda.”

Raja                            : “Ya, maaf. Terimakasih Cabai Keriting. Silahkan kembali ketempatmu.”

PANGERAN BERBISIK KEPADA PENGAWAL UNTUK MEMINTA BAWANG BOMBAI MEMPERKENALKAN DIRI. PENGAWALPUN MEMINTA BAWANG BOMBAI UNTUK MAJU.

Bawang Bombai         : “Maafkan saya Baginda, Pangeran. Saya malu untuk memperkenalkan diri.”

Raja                            : “Jangan malu, perkenalkan saja siapa nama kamu.”

Bawang Bombai         : “Nama saya Bawang Bombai Baginda.”

Pangeran                     : “Dimana kamu tinggal Bombai ?.”

Bawang Bombai         : “Di tengah hutan Pangeran.”

Pangeran                     : “Sekarang pulanglah, bilang pada kedua orang tuamu, mulai sekarang kamu boleh tinggal di Istana.”

Ibu Tiri                       : “Maaf Pangeran, saya ibunya Pangeran, dan ini Cabai Keriting adalah kakak Bawang Bombai. Kenapa Bombai harus tinggal di Istana. Tentu kami akan merasa sedih dan merasa kehilangan Pangeran.”

Cabai Keriting            : “Iya Pangeran. Bawang Bombai biar bersama kami saja.”

Raja                            : “Kalau begitu kalian berdua juga saya ijinkan untuk tinggal di Istana bersama Bawang Bombai.”

Ibu Tiri                       : “Terimakasih Baginda, terimakasih Pangeran.”

Raja                            : “Kalau begitu, pesta ini saya akhiri, mari ikut saya untuk berkeliling Istana.”

(PESTAPUN BERAKHIR, RAJA, IBU BAWANG BOMBAI DAN CABAI KERITING MENGIKUTI SANG RAJA BERKELILING ISTANA, DAN TINGGALLAH PANGERAN BERSAMA BAWANG BOMBAI)

 

Pangeran                     : “Bawang Bombai, kenapa nama kamu Bawang Bombai ?.”

Bawang Bombai         : “Maaf, pangeran. Dulu saya sangat gendut, dan semenjak Ibu saya meninggal. Saya harus ikut ibu tiri. Semenjak itu, saya yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah karena para pembantu di usir oleh kakak tiri saya Cabai Keriting.”

Pangeran                     : (TERSENYUM) “Sekarang, disini kamu tidak akan pernah melakukan pekerjaan itu lagi.”

Bawang Bombai         : “Bagaimana bisa Pangeran. Ibu dan kakak saya kan ada disini.”

Pangeran                     : “Di Istana banyak pembantu yang akan mengerjakan semuanya Bombai.”

Bawang Bombai         : ”Terus, kenapa saya harus tinggal di istana Pangeran.”

Pangeran                     : “Kamu akan menemaniku jalan-jalan disaat santai.”

Bawang Bombai         : “Apa Pangeran tidak malu berjalan-jalan dengan saya.”

Pangeran                     : “Tidak Bombai, sebenarnya aku sudah sering melihatmu, saat kamu mencuci begitu banyak pakaian di sungai. Dan kesederhanaanmu itu, membuat kamu kelihatan sangat cantik. Sekarang, bersediakah kamu ku jadikan permaisuri ?.” (SAMBIL MEMBERIKAN SETANGKAI BUNGA MAWAR)

DENGAN MALU-MALU BAWANG BOMBAI MENERIMANYA, HATINYA SANGAT SENANG HINGGA LUPA JIKA IA DITUNGGU OLEH BUTO IJO YANG TADI MENGANTARNYA, SEHINGGA BUTO IJO DENGAN MURKA MEMAKSA MASUK MENCARI BAWANG BOMBAI KARENA DIA SUDAH LAMA MENUNGGU.

Buto Ijo                       : “Bombai !!” (DENGAN WAJAH MARAH KARENA MELIHAT BOMBAI DIPELUK OLEH PANGERAN)

Bawang Bombai          : “Ijo.”

Pangeran                      : “Pengawal !” (PANGERAN BERSERU KETAKUTAN)

DENGAN SEGERA PENGAWAL MENGHADANG BUTO IJO, TAPI BUTO IJO BERONTAK DAN MENYERANG PANGERAN. PANGERAN TAMPAK MENYERAH SEHINGGA SALAH SATU PENGAWAL MEMANGGIL SANG RAJA. PANGERAN NAMPAK LEMAH. TETAPI RAJA SEGERA DATANG DAN BUTO IJO BERHENTI MENGHAJAR PANGERAN.

Raja                             : “Siapakah kamu ?, dan apa maksud kamu datang kemari.”

Bawang Bombai          : “Maaf, Baginda. Dia Buto Ijo teman saya.”

Raja                             : “Teman kamu ?.”

Bawang Bombai          : “Iya Baginda. Saya mohon, maafkanlah dia”

NAMPAKNYA RAJA TAHU AKAN KEMARAHAN BUTO IJO, SEHINGGA IA MEMPUNYAI SIASAT UNTUK MEMBUNUH BUTO IJO AGAR TIDAK LAGI MENGGANGGU BAWANG BOMBAI.

Raja                            : “Baiklah, kalau begitu, duduklah Buto Ijo, pengawalku akan membawakan makanan untukmu. Bawang Bombai, Putraku, pergilah kalian beristirahat, biar saya yang menjamu Buto Ijo di sini ”

RAJA MEMBERI ISYARAT KEPADA PENGAWAL UNTUK SEGERA MASUK MEMBAWA MAKANAN YANG TERNYATA SUDAH DIBERI OBAT TIDUR DAN RACUN

Raja                             : “Makanlah, kamu pasti lapar.”

BUTO IJOPUN MEMAKAN SEMUA HIDANGAN DENGAN LAHAP, SAMPAI IA TERTIDUR DAN TIDAK AKAN BANGUN LAGI SELAMANYA.

(PARA PENGAWAL MASUK DAN MEMBAWANYA KELUAR)

SESUNGGUHNYA RAJA SANGAT DENDAM DENGAN KELUARGA BUTO IJO YANG PERNAH MEMAKAN SEBAGIAN RAKYATNYA, SEHINGGA IA SANGAT DENDAM DAN TEGA MEMBUNUH BUTO IJO.

SEJAK SAAT ITU, BAWANG BOMBAI TAK PERNAH BERTEMU LAGI DENGAN BUTO IJO, DAN IA MERAYAKAN PESTA PERNIKAHAN DENGAN SANG PANGERAN, IBUNYA DI PERSUNTING SANG BAGINDA, SEDANGKAN CABAI KERITING TERNYATA JATUH HATI DENGAN PENGAWAL. MEREKAPUN HIDUP BAHAGIA DI ISTANA.

 


PIC_0084

JAMILA DAN SANG PRESIDEN
oleh Ratna Sarumpaet

Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si

Judul: Jamila dan Sang Presiden
Penulis Naskah: Ratna Sarumpaet
Jumlah babak: Tiga (3)
Durasi: 40 Menit
Jumlah Pemain: Enam Belas (16)
Genre: Drama Tragedi

Nama Kelompok:
Muhammad Yusuf (101644035)
Tri Rachma Zakiya (101644201)
Garin Dian N. (101644202)
Retno Pritasari (101644203)
Indra Marina C. (101644204)
Erry Dwi Anita (101644205)
Chelly Amalia P. (101644206)
Novi Nurdian (101644207)
Lindra Nur Khanifah (101644208)
Nur Ainiyah (101644209)
Putri Redita (101644211)
Vivin (101644212)
Erma Kurniawati (101644214)
Fathudin Basri (101644216)
Ony Iva Adityas (101644238)
Sri Wahyuningsih (101644239)
Linda F. (101644251)

Pelacur & Sang Presiden
Karya RATNA SARUMPAET (Satu Merah Panggung )

KONSEP CERITA
Konsep cerita dalam “Pelacur dan Sang Presiden” adalah tragedi kehidupan, di terdapat serentetan peristiwa yang syarat akan pesan moral. Hal ini kami pertimbangkan sebagai salah satu cara agar drama yang kami tampilkan tidak hanya dapat menjadi hiburan bagi penonton tapi juga dapat digunakan sebagai pelajaran dan media untuk merefleksi diri. Cerita ini merupakan salah satu cerita yang diambil dari arsip drama teman-teman kami. Naskah ini telah kami rangkai dan revisi ulang sedemikian sehingga bisa kami pentaskan dengan baik dan berkesan bagi penonton.

SINOPSIS
Cerita “Jamila & Sang Presiden” dimulai ketika Jamila, 26 tahun, seorang pelacur, menyerahkan diri kepada kepolisian, ia mengaku telah membunuh seorang Pejabat Negara yang menjadi langganannya. Karena perbuatannya itu dia kemudian dijatuhi hukuman mati. Sebelum dieksekusi, permintaan terakhir Jamila bukan bertemu demgan Ibu atau Ayahnya. Dia meminta untuk dipertemukan dengan Presiden dan seorang ulama tersohor. Permintaan Jamila tersebut membuat masyarakat semakin marah.
Jamila lahir di tengah sebuah masyarakat yang beranggapan bahwa memperdagangkan anak perempuan untuk dijadikan pelacur adalah hal biasa bahkan sudah membudaya. Terlahir cantik, menjadikan Jamila sejak masih kecil sudah digadaikan Ayahnya pada seorang mucikari. Pada saat itu ia masih berusia dua tahun. Tanpa setahu suaminya, Ibunda Jamila diam-diam menculik Jamila, lalu menyerahkannya pada keluarga Wardiman. Keluarga Ibu Wardiman adalah keluarga terpandang dan terpelajar di kampungnya, Ibu Jamila yakin dibawah lindungan keluarga Wardiman, Jamila akan aman sekaligus bisa memperoleh pendidikan yang memadai. Apa yang diharapkan Ibunda Jamila ternyata jauh dari kenyataan. Dua laki-laki di tengah keluarga terhormat itu (suami dan putra tunggal Bu Wardiman) setiap malam menggerayangi Jamila, dan untuk menghentikannya Jamila terpaksa membunuh, dan kabur. Sebuah pengalaman amat buruk yang terus membekas dan membayangi perjalanannya.
Jamila tidak pulang ke kekeluarganya. Dia bertekad memperbaiki nasibnya tanpa bantuan keluarganya. Sebuah tekad yang jelas tidak mudah. Mencari pekerjaan tanpa pendidikan yang memadai, memaksa Jamila terseret ke lingkungan keras perdagangan perempuan. Upayanya menjadi TKI tidak mulus. Kecantikannya membuat para agen lebih tergiur memperdagangkannya sebagai pelacur.

KONSEP PANGGUNG
Cerita ini terdiri dari tiga babak, babak pertama ketika Jamila menyerahkan diri kepada polisi, babak kedua feedback ke masa lalu Jamila, dan babak ketiga kembali ke kehidupan Jamila sekarang ketika dia akan dijatuhi hukuman mati. Konsep panggung sengaja kami buat dengan sederhana, karena menyesuaikan dengan kondisi yang ada dan kemampuan kami tentunya. Namun tetap kami usahakan sebaik yang kmi bisa lakukan agar tidak mengurangi kesesuaian dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut rancangan tata panggung kami:
Babak 1 – 2-3 (tampak atas)
Babak 1 dan 3 : sel penjara
Babak 2 : lokalisasi ilegal

Properti panggung :
Babak 1 dan 3 :
Bamboo untuk sel
Kursi
Meja
Pistol/ pentungan
Borgol
Clip on
Vas bunga
Kunci dan tempat tantungan
Al-quran
Koran
Kain penutup muka
Sirine
Radio
Babak 2 :
Sofa
Lampu besar
Botol minuman keras
Rokok dan tempat rokok
Peluit
Uang
Tanaman-tanaman

KONSEP BUSANA
Tata busana :
Pembawa berita: resmi. Pakaian yang memiliki atribut stasiun tv
Para pelacur: baju pendek, celana/ rok pendek, sandal higheels, dompet kerlap-kerlip
Tati: baju pendek tapi sedikit lebih sopan.
Jaelani: dress pendek, logat medok jawa
Bu Darno: baju panjang (long-dress) warna mencolok, higheels, dompet, emas, kosmetik
Pengacara: baju resmi pengacara (blazer,kemeja,rok span)
Istri Pejabat: baju kalangan orang atas ,tas besar, higheels
Bu Ria: pakaian petugas penjara (sipir)
Bu Nyai: baju muslimah, berjilbab, berselendang
Petugas penjara: pakaian polisi
Presiden: kemeja, jas dan celana berwarna gelap tampak rapi
Jamila: baju tahanan ; daaster berkerudung

PENGORGANISASIAN DAN KARAKTERISASI
Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si
Sutradara: Sri Wahyuningsih
Asisten Sutradara: Lindra Nur Khanifah
Sekretaris: Vivin
Bendahara: M. Yusuf
Kelengkapan Properti: Fatuhudi Basri
Penata Panggung: Garin Dian Nugraha

Penata Rias & Busana : Linda F.
Penata Musik: Novi Nurdian
Para Pemain :
Muhammad Yusuf sebagai Polisi penjara 2
Tri rachma zakiya sebagai istri pejabat
Garin Dian N. sebagai kepala polisi dan Presiden
Retno Prita Sari sebagai Bu darno
Indra Marina C. sebagai Jamila
Eri Dwi Anita sebagai pembawa berita 2; pelacur 3
Chelly Amalia P. sebagai Jaelani
Novi Nurdian sebagai Pelacur Gendut
Nur Ainiyah sebagai Pengacara
Lindra Nur K. sebagai Pembawa berita 1
Putri Redhita A. sebagai pelacur 1
Vivin sebagai Bu Nyai
Erma Kurniyawati sebagai Bu Ria
Fathuddin Basri sebagai Polisi penjara 1
Ony Iva A sebagai Tati
Linda P. sebagai pelacur 2

SKENARIO
Part 1
PANGGUNG KOSONG, GELAP. CAHAYA MUNCUL DI LAYAR BELAKANG SEPERTI CAHAYA FAJAR. BUNYI SIRENE TERDENGAR MERAUNG-RAUNG DI KEJAUHAN, DIIKUTI SUARA SIRENE MOBIL KEPOLISIAN YANG TERDENGAR MENDERU-DERU. TERDENGAR SUARA PARA PEMBACA BERITA DI BERBAGAI STASIUN TELEVISI MEMBACAKAN BERITA TENTANG KEMATIAN SEORANG MENTRI, DI ULANG-ULANG DAN BERLOMBA, KADANG BERTUMPUK.

PEMBACA BERITA 1: “Nurdin Hidayat, salah seorang menteri kabinet, pagi tadi ditemukan meninggal dunia di kamar sebuah hotel berbintang lima. Tubuhnya berlumuran darah dengan beberapa tusukan di bagian dada dan perut. Kematian Menteri Nurdin dilaporkan sendiri oleh pelakunya, Jamila, kepada pihak kepolisian. Jamila mengaku membunuh Menteri Nurdin dalam keadaan sadar.”

PEMBACA BERITA 2: “Sidang kabinet yang pagi ini berlangsung diselimuti suasana mendung. Cara dan tempat kematian Nurdin, oleh berbagai pihak dinilai sebagai kegagalan Presiden dalam menyeleksi kualitas moral para anggota Kabinetnya. Para pengamat politik menyerukan agar semua pihak terutama para politikus mengambil pelajaran dari kematian Nurdin dan memberikan kebebasan pada Presiden menentukan kabinetnya tanpa dibebani kepentingan-kepentingan politik.”

JAMILA YANG DUDUK DI BALE DI DALAM SELNYA. MATANYA MENATAP KE SATU ARAH, JAUH, PENUH DENGAN KEMARAHAN DAN KEBENCIAN.
DI TENGAH BALENYA JAMILA TAMPAK BERSUJUD, SAMBIL MELETAKKAN KEPALANYA DI BALE, PERLAHAN IA MENGANGKAT TUBUHNNYA, MEMENTANGKAN KEDUA TANGANNYA LALU BERTERIAK SEKUAT TENAGA.
JAMILA: “Aaaaaaaaaaaaaaaaa…..”

BU RIA, 30 TAHUN (SIPIR PENJARA) MASUK. SAMBIL MEMBAWA PENTUNGAN – IA MENATAP JAMILA DENGAN TATAPAN TANPA EMPATI, MESKI IA TAMPAK BERUSAHA MENAHAN SUARANYA, SUARANYA TETAP TERDENGAR KETUS – CULAS.

BU RIA: “Hei Hei! Apa-apaan terik-teriak begini?”

JAMILA – 2 MENDADAK STATIS OLEH SUARA KERAS BU RIA. IA MULAI SADAR IA BARU SAJA MENGALAMI MIMPI BURUK.

BU RIA: “Penghuni penjara ini bukan cuma kamu Mila. Mimpi buruk itu biasa. Jadi gak usah teriak-teriak. Membunuh seorang pejabat tinggi mampu, menghadapi mimpi buruk kok seperti orang kesurupan.”

JAMILA TIDAK MENANGGAPI. TAMPAK LETIH, IA MEREBAHKAN TUBUHNYA, MERINGKUK. JAMILA MASIH MERINGKUK. BU RIA MENDEKATI JAMILA, DUDUK DI SALAH SATU SUDUT DENGAN POSISI MEMBELAKANGI JAMILA, SAMBIL TETAP MENGAYUNKAN PENTUNGAN.

JAMILA: “Itu pengalaman terpahit sepanjang hidupku Bu Ria. Aku dititipkan di tengah keluarga itu agar aku aman dan tumbuh sehat. Dan dua lelaki di keluarga terhormat itu, setiap malam menggerangi tubuhku, merenggut kesucianku …. “

BU RIA BANGKIT. IA BICARA SINIS SAMBIL MENGITARI JAMILA, TAK HENTI MENGAYUNKAN PENTUNGANNYA.
BU RIA: “Pelacur bicara tentang kesucian …..”

TANPA SEDIKITPUN EMPATI, BU RIA DENGAN SIKAP KASAR YANG BERLEBIHAN MEMUNTAHKAN KEJENGKELANNYA PADA JAMILA.

BU RIA: “Hei, Dengar ya !! Aku sudah tiga tahun diangkat jadi Kepala sipir di penjara ini. Jadi aku sudah kenyang dengan cerita-cerita pembelaan-diri seperti itu. Anak-anak yang diperkosa… Dianiaya, diperdagangkan dan kalaupun kamu betul korban, Itu tidak berarti kamu berhak membunuh orang, apalagi mengharapkan bonus belas kasihan.”

JAMILA, MENEPIS TANGAN BU RIAYANG SEJAK TADI SECARA BERLEBIHAN MELECEHKAN JAMILA. SIKAP JAMILA TAMPAK BERUBAH. IA DUDUK DENGAN TUBUH TEGAK, KEPALA MENATAP LURUS KE DEPAN, TAMPAK KUAT.

JAMILA: “Aku membunuh dua laki-laki itu dalam waktu bersamaan Bu Ria. Aku membunuh keduanya dengan tanganku sendiri.”

BU RIA MENATAP JAMILA TERPANA SEKALIGUS MARAH. MASIH BELUM PUAS DENGAN EJEKAN-EJEKANNYA, IA MENANGGAPI PENGAKUAN JAMILA DENGAN SIKAP DAN SUARA SEMAKIN BERNAFSU.

BU RIA: “Ooooo…. Dan kamu bangga? Apa yang kamu banggakan Mila? Menjadi sorotan dimana-mana? Menjadi berita utama di koran-koran ….”

TIDAK TAHAN, BU RIA TIBA-TIBA LONCAT KE BALE, MENGUNYANG-UNYANG KEPALA JAMILA, KASAR

BU RIA: “Eh, dengar ya, pelacur …. Kamu itu harusnya malu !!!”

JAMILA TIDAK MENANGGAPI. MATANYA TERUS MENATAP JAUH KE DEPAN, TAJAM, SEPERTI MENATAP KE MASA LALUNYA.
BU RIA MENINGGALKAN SEL. SEORANG POLISI PENJARA MASUK DARI ARAH BELAKANG ARENA MEMBAWA SEBUAH KORAN. JAMILA TIBA-TIBA MENGUBAH POSISINYA MENJADI TERLENTANG, DAN MENGANGKAT SALAH SATU KAKINYA TINGGI-TINGGI, MEMBUAT BAJU TAHANANNYA TERSINGKAP HINGGA KE PANGKAL PAHA.

POLISI PENJARA: “Turunkan kaki kamu Jamila!”

JAMILA TIDAK MEMATUHI TEGURAN POLISI PENJARA. DIA MALAH MENGULANGI KELAKUANYA DENGAN MENAIKKAN KAKINYA YANG LAIN. POLISI PENJARA MENJADI MARAH. DIA MENGHAMPIRI JAMILA, DENGAN MENEGURNYA, KERAS.

POLISI PENJARA: “Hei Jamila! Turunkan kaki kamu itu!”

MERASA SUKSES JAMILA TERTAWA. IA MEMBALIK TUBUHNYA CEPAT, LALU MENGEJEK POLISI PENJARA.

JAMILA: “Kenapa? Terangsang? Jangan liat!”

POLISI PENJARA: “Dasar Pelacur!” (MENGGERUTU)

JAMILA: “Saya dipenjara di sini bukan karena melacur Pak Polisi, tapi karena membunuh. Jadi saya pembunuh bukan pelacur.”

POLISI PENJARA: “Pansus RUU APP menipu masyarakat baik pihak yang mendukung maupun pihak yang kontra ……”

JAMILA GERAM. DIA TAHU POLISI PENJARA MENGGANTI TOPIK YANG DIBACANYA. DIA TAHU ADA BERITA HANGAT TENTANG DIRINYA MAKA POLISI ITU MEMBAWA KORAN KE SANA UNTUK MEMBACAKANNYA PADA JAMILA. JAMILA MENDEKATI POLISI PENJARA, MERAMPAS KORAN YANG SEDANG DIBACANYA. JAMILA MEMBOLAK – BALIK KORAN ITU, LALU KEMBALI MENYERAHKANYA PADA POLISI PENJARA.

JAMILA: “Hari ini Pengadilan akan memutuskan Hukumanku. Aku yakin hari ini semua Koran dengan bersemangat sedang membicarakannya….. Baca !!”

POLISI PENJARA MEMBACA KORAN SESUAI KEINGINAN JAMILA.

POLISI PENJARA: “Forum Pembela Iman Bangsa atau FPI, besok akan mengerahkan ribuan massanya ke depan Kantor Pengadilan, memastikan sidang Pengadilan menjatuhi Jamila hukuman mati.”

JAMILA: “Forum Pembela Iman Bangsa. Milisi moralis munafik itu …..”

DENGAN GAYA SEORANG PELACUR JAMILA MENGHAMPIRI POLISI PENJARA, MENANGGAPI DENGAN SINIS BERITA YANG BARU DIDENGARNYA

JAMILA: “Kalau saja mereka mengerti apa arti moral …. Mereka akan tahu moral seperti apa yang membuat nasibku jadi seperti ini, dan mereka seharusnya mengangkatku menjadi anggota kehormatan.”

IBU RIA MUNCUL BERSAMA PENGACARA. BU RIA TAMPAK TIDAK SUKA MELIHAT PERILAKU JAMILA BERRANGKUL-RANGKULAN DENGAN PETUGAS.
BU RIA: “Hem, hem …..”

POLISI PENJARA TERKEJUT DAN LANGSUNG BERLALU DENGAN LANGKAH TERBURU-BURU. JAMILA KEMBALI KE BALENYA, TERSIPU. DI LAIN PIHAK, TERIAKAN BU RIA MENGHENTIKAN LANGKAHNYA.

BU RIA: “Mau kemana kamu ?”

BU RIA MENGHAMPIRI POLISI PENJARA, GERAM.

BU RIA: “Tugas kamu menjaga napi. Bukan bercengkerama dengan napi.”

POLISI PENJARA MENINGGALKAN SEL. GUSAR MAUNYA SENDIRI, BU RIA MENGHAMPIRI JAMILA, DENGAN SIKAP TETAP TANPA EMPATI.

BU RIA: “Jamila !! Tuh, aku bawain kamu pengacara. Aku sendiri sih gak percaya sama yang namanya pengacara. Tapi siapa tahu nasib kamu lebih baik.”

JAMILA TIDAK BEREAKSI, BU RIA BERGERAK KE ARAH PENGACARA.

BU RIA: “Ibu Malik ini menawarkan diri membelamu di Pengadilan nanti. Kalau pengacara menawarkan diri berarti gratis dong. Iya nggak Bu ?” (Ke Pengacara)

PENGACARA ITU HANYA SENYUM-SENYUM. IA MELANGKAH MENDEKATI JAMILA, TAPI BELUM-BELUM JAMILA SUDAH MENOLAKNYA DENGAN SUARA KETUS.

JAMILA: “Aku tidak membutuhkan pembelaan.”
IBU MALIK BEBERAPA SAAT TAMPAK BERPIKIR. DENGAN TENANG, IA KEMBALI MENDEKATI JAMILA, MEMBERI PENJELASAN DENGAN SUARA KHAS SEORANG PENGACARA

PENGACARA: “Jamila. Kamu membunuh seorang pejabat tinggi. Banyak pihak meragukan proses yang berlangsung di Pengadilan. Terlalu cepat dan tidak masuk akal.”

PENJELASAN MALIK TIDAK BERHASIL MEMBUAT JAMILA BERGEMING.

PENGACARA: “Jutaan orang diluar sana bersimpati sama kamu Jamila …..”

BU RIA: “Tuh kan? Aku yang membunuh suamiku karena setiap hari mabuk-mabukan, pulang ke rumah untuk memukuliku. Tapi nggak ada tuh yang bersimpati ….”

JAMILA BANGKIT DARI DUDUKNYA, MENGGERUTU ….

JAMILA: “Bersimpati …. (MENGGERUTU) Aku baru saja membaca bagaimana mereka merindukan kematianku.”

PENGACARA: “Bukan mereka Jamila, tapi jutaan orang diluar sana.”

JAMILA: “Cukup Bu!” JAMILA KEMBALI KE BALE, PENGACARA MENGEJARNYA

PENGACARA: “Bagaimana pun ratusan juta orang yang membisu itulah yang sungguh-sungguh memahami keadaanmu.”

JAMILA: “Cukup!”
PENGACARA: “Mereka tidak menginginkan dakwaan atas dirimu ditunggangi kepentingan politik.”

JAMILA: “Cukup! Cukup!! Cukup !!!! Aku sudah bilang aku tidak membutuhkan pembelaan.” AMARAH JAMILA MENGEJUTKAN PENGACARA. BEBERAPA SAAT HENING.

PENGACARA: “Jamila . . .”

DENGAN SUARA BERGETAR MENAHAN AMARAH, JAMILA MENGUSIR PENGACARA.

JAMILA: “Keluar! Atau aku akan berteriak.”

BU RIA AKHIRNYA MENDEKAT MENENGAHI

BU RIA: “Sudahlah Bu Malik. Dia sudah siap jadi Martir kok.”

BU RIA MEMBERI ISYARAT PADA PENGACARA UNTUK MENINGGALKAN JAMILA. PENGACARA AKHIRNYA KELUAR. BEGITU PENGACARA KELUAR, DENGAN GERAM BU RIA LANGSUNG MENGHADAPI JAMILA NYARIS TIDAK SANGGUP MENGENDALIKAN EMOSINYA.

BU RIA: “Pelacur, pembunuh, dan sekarang siap jadi martir …… Kamu itu pelacur Mila. Kamu pembunuh. Jadi jangan kamu bermimpi ingin jadi pahlawan. Politik …. Politik …… “ (Menggerutu)
BEBERAPA SAAT HENING. SELANJUTNYA, DENGAN BERWIBAWA, DIEJA, JAMILA BUKA SUARA.

JAMILA: “Pelacuran itu politik Bu Ria. Aku, tidak ada bedanya dengan Politikus. Sama-sama kotor bu,.” (bu ria terkejut)

BU RIA: “Jaga mulutmu Mila.”

JAMILA: “Berteriak-teriak tentang moral. Laki-laki selalu gegap gempita kalau sudah bicara soal moral. Hah . . .”

BU RIA: “Mila!” (BERTERIAK)

JAMILA: “Kenapa? Bawa aku ke hadapan mereka Bu Ria, dengan betis sedikit membuka. Dan moral tidak lagi punya tempat. Ha ha ha . . .”

BU RIA: “Jamila, duduk kamu!!”

JAMILA MENEPIS TANGAN BU RIA, DAN SEMAKIN BERSEMANGAT.

JAMILA: “Aku benci orang-orang yang membesar-besarkan kedudukan politikus. Mau berdasi, mau bersorban tujuh tingkat ….. Politikus dan aku sama Bu. Sama-sama pelacur.”

BU RIA: “Tapi kamu pelacur yang dalam beberapa hari lagi akan dijatuhi hukuman mati.”

JAMILA: “Lalu ? Aku membunuh pejabat itu dengan tanganku sendiri Bu Ria. Aku membunuhnya dengan sadar. Orang-orang seperti mereka memang harus dibunuh.”

BU RIA BANGKIT, MARAH

BU RIA: “Cukup Mila!!”
JAMILA: “Kenapa?” (membalas dengan sewot)

BU RIA MENCOBA LEBIH TEGAS SEKALIGUS BERWIBAWA
BU RIA: “Karena apa yang keluar dari mulut kamu itu bisa memberatkan hukumanmu.”

JAMILA SURUT, MENERTAWAKAN DENGAN SINIS SIKAP BU RIA YANG MENDADAK PERDULI.

JAMILA: “Hah …… Setelah selama ini kamu sibuk menghinaku, sibuk mengejek dan melecehkanku, sekarang kamu mendadak perduli…..”

BU RIA: “Saya perduli Jamila. Saya perduli. Itu sebab aku tidak ingin ocehan-ocehanmu ini didengar orang lain, karena itu bisa memberatkan hukumanmu.”

JAMILA MELEPAS TUBUHNYA KASAR DARI GENGGAMAN BU RIA, BANGKIT,SAMBIL MENYERINGAI SINIS, IA MULAI BERTINGKAH …..

JAMILA: “Begitu? Bagaimana kalau aku justru ingin semua orang mendengar.”

JAMILA LONCAT KE ATAS BALE DAN MULAI BERTERIAK-TERIAK, MEMBUAT BU RIA SEMAKIN PANIK. DIA BERTERIAK MEMANGGIL PETUGAS.

BU RIA: “Petugas !!” (DUA POLISI PENJARA MASUK MEMBUAT JAMILA JUSTERU SEMAKIN LIAR DAN NAKAL)

JAMILA: “Kenapa Bu Ria? Bukankah seseorang yang akan dijatuhi hukuman mati boleh melakukan apa saja sebelum ajalnya tiba?”

JAMILA SEMAKIN JENGKEL MELIHAT DUA POLISI PENJARA TAHU-TAHU SUDAH BERDIRI DI SISI BALENYA. IA MENGANGKAT KAKINYA TINGGI-TINGGI.

JAMILA: “Bagaimana pendapat Bu Ria, kalau permintaan terakhirku nanti adalah ditiduri Presiden? “

TIDAK TAHAN, BU RIA MENEMPELENG JAMILA SESAAT HENING. BU RIA SENDIRI, TERKEJUT ATAS PERBUATANNYA, MENGHINDAR KE SISI LAIN.

BU RIA: “Bawa dia ke ruang Isolasi!”

JAMILA MERONTA DARI TANGAN DUA PETUGAS YANG DENGAN SIGAP MENARIKNYA.

JAMILA: “Aku lebih suka meminta Presiden meniduriku Bu Ria, ketimbang memintanya memberiku pengampunan. Pengampunan hanya akan memperpanjang kesialanku.”

PARA PETUGAS KEMBALI MEMEGANGI JAMILA TAPI JAMILA KEMBALI MERONTA. DIA LONCAT DARI BALE, MENGHAMPIRI BU RIA.

JAMILA: “Tidak ada satu anakpun di muka bumi ini ingin jadi Pelacur Bu Ria. Tidak satu anakpun..”

BU RIA: “Petugas !! “

PARA POLISI ITU MENYERET JAMILA KELUAR. JAMILA TERUS SAJA BERTERIAK. SUARANYA SEMAKIN SERAK DAN BERBAUR AIR MATA.

JAMILA: “Siapa yang menginginkanku jadi pelacur Ria?”

DUA PETUGAS AKHIRNYA MENYERET JAMILA YANG MASIH TERUS BERTERIAK-TERIAK.

Narator 1: “Di ruang isolasi Jamila lebih banyak merenung. Menyesali keadaanya yang penuh dengan dosa dan kenistaan. Mengenang masa lalu yang mengharuskannya terus bertahan hidup walaupun dengan cara yang tidak ia ingini. Mengenang semua perjuangannya bertahan meskipun terkadang harus membunuh orang lain. Ia berusaha mengingat dirinya yang dulu, Jamila yang polos, yang belum bersentuhan dengan mucikari dan sejenisnya, kemudian ia berusaha mencari sosok dirinya yang dulu pada jamila yang sekarang, jamila yang akan segera dihukum mati karena kasus pembunuhan. Namun di tengah perenungannya, masa lalunya yang kelam itu tidak berhenti berputar di otaknya. Termasuk masa lalunya ketika masih menjadi pelacur di Kalimantan.”

Part 2
BU DARNO, SEORANG GERMO, SETENGAH BAYA, KUAT, KERAS SEDANG MENYERET-NYERET JAMILA (MUDA) BERSAMA SEGEROMBOLAN ANAK-ANAK PEREMPUAN DIBAWAH UMUR, KASAR, MELINTAS PANGGUNG. TATI, SEORANG PELACUR, MENGEJAR BU DARNO.

TATI: “Bu Darno! Sebentar Bu Darno !” (KESAL BU DARNO MENGHENTIKAN LANGKAH)

BU DARNO: “Ada apa lagi Tati?”

TATI: “Jamila ingin jadi TKI Bu Darno.”

BU DARNO: “Cari agen TKI kalau begitu.”

BU DARNO KEMBALI MELANGKAH. JAMILA MEMBERANIKAN DIRI MENGHAMPIRI DAN BERDIRI DIHADAPAN BU DARNO. BU DARNO MENATAP JAMILA JENGKEL, LALU DUDUK DENGAN PERASAAN KESAL DI BALE YANG TERLETAK TIDAK JAUH DARI SANA.

JAMILA: “Tolong saya Bu Darno, saya ingin jadi TKI.”

BU DARNO: “Saya pusing dengan kamu! Saya tidak tau kamu siapa, keturunan siapa? Kamu tahu-tahu ada di hadapan saya, mandi di kamar mandi saya, makan makanan dari dapur saya, tetapi tidak sedikit pun mau mendengar nasehat saya. Mau kamu apa Jamila?”

JAMILA: “Saya tidak akan selamanya menumpang Bu. saya akan kerja. Saya ingin jadi TKI.”

BU DARNO: “TKI? Pernah baca Koran nggak, dengerin berita di radio? Atau nonton tv ?”

JAMILA: “Pernah Bu.”

BU DARNO: “Lihat bagaimana hinanya TKI-TKI itu dipulangkan? Lihat bagaimana mereka ketakutan dan putus asa dan berjejal-jejal seperti sampah dengan begitu banyaknya derita yang mereka bawa pulang juga, ada yang pulang hanya tinggal nama saja…”

JAMILA TAMPAK CIUT. IA MENJAWAB HAMPIR TAK TERDENGAR.

JAMILA: “Lihat Bu.”

BU DARNO: “Tahu Bonet? Atau Ningsih yang sekarang terancam hukuman gantung itu?”

JAMILA TERDUDUK PUTUS ASA DI SAMPING BU DARNO

BU DARNO: “Kamu siap kalau satu saat kulitmu yang bagus ini disetrika majikan sinting di luar sana? Atau diperkosa setiap malam, setelah sepanjang hari kamu banting tulang sikat ubin dan menggosok baju-baju mereka?”

TATI: “Jamila cuma minta dikenalin sana si Mami Bu Darno.”

BU DARNO: “Tutup mulut kamu kalau Ibu sedang bicara Tati. Dan sejak kapan kamu jadi makelar? Mau nyaingin aku sekarang?hah…!”
JAMILA: “Saya tidak punya ijasah Bu Darno …… Saya dengar Si Mami bisa membantu.”

BU DARNO: “Itu justru yang Ibu maksud. Tanpa ijazah, di Luar Negri sana kamu hanya akan jadi babu. Si Mami, si Mami ….. (MENGEJEK SAINGAN) Si Mami itu hanya akan memeras kamu dari ujung rambut hingga ujung kuku kakimu. Jadi TKI itu ibarat main judi. Kalau kamu beruntung kamu dapat majikan yang baik dan bagus. Tapi kalau nggak, kamu akan bertemu majikan berhati setan; Pulang sebagai korban penganiayaan, tetap miskin pula.”

JAMILA: “Saya ingin punya uang Bu, dan saya tidak punya ijasah.”

BU DARNO: “Lha itu yang Ibu maksud. Tanpa ijazah, di luar Negeri sana, kamu hanya bisa jadi babu. Padahal disini, kamu masih bisa jaga toko, jualan gado-gado dan dapat uang. Mentang-mentang ke luar Negeri, matanya pada silau. Lebih baik jadi ratu di kampung sendiri Jamila ketimbang jadi budak di negeri orang ….”

JAMILA: “Tapi saya ingin punya uang banyak Bu. Saya ingin menyekolahkan adik saya. Saya tidak mau adik saya, seperti saya.”

BU DARNO: “Oooo, jadi itu intinya. Ingin punya banyak uang? Bagus. (mengangguk angguk, tersirat memiliki niat memanfaatkan Jamila) Ibu akan menunjukkan sama kamu, membimbing kamu, hingga kamu dengan cara gampang, cepat, enak, dan dapat uang sebanyak-banyaknya. “

TATI: “Tapi Jamila hanya mau jadi TKI Bu Darno!”

BU DARNO LAGI-LAGI MURKA SAMA TATI.

BU DARNO: ‘Cukup Tati !! Cukup!! Jangan ikut campur !! Keluar!! Keluar !!”

TATI LANGSUNG LARI MENUJU TEMAN-TEMANNYA. BU DARNO KEMBALI KE JAMILA, MENATAPNYA LEKAT, LALU MENGHAMPIRINYA DENGAN SIKAP LEBIH RAMAH.

BU DARNO: “Kamu mau belajar kan ?”

JAMILA: “Mau Bu.”

BU DARNO: “Bagus.”

BU DARNO MEMERIKSA DAN MERABA-RABA TUBUH JAMILA, MENELITINYA DARI UJUNG RAMBUT HINGGA UJUNG KAKI, SAMBIL MENGAJUKAN BEBERAPA PERTANYAAN.

BU DARNO: “Berapa umurmu sekarang ?”

JAMILA: “14 tahun Bu.”

BU DARNO: “Bagus. Mulai sekarang umurmu 18.”

JAMILA: “Umur saya 14 Bu Darno.” (kesal)

SUARA BU DARNO KEMBALI MELENGKING.

BU DARNO: “Ya, tapi mulai sekarang umurmu 18.”

JAMILA: “Kenapa Bu.”

BU DARNO: (bu darno merapat ke jamila, menarik bajunya ke atas, hingga tubuh jamila terangkat) “Karena saya mau begitu Dan karena kamu mau dapat uang banyak. Kamu mau uang banyak kan?”

JAMILA: “Iya Bu.”

BU DARNO: “Bagus. Itu kesepakatannya. Dan jangan pernah anggap enteng dengan kesepakatan itu karena urusannya nyawa, Paham ?”

JAMILA: “Paham Bu.”

BUNYI SIRENE POLISI TERDENGAR MERAUNG DI KEJAUHAN.

BU DARNO: “Ayo, sekarang kamu ikut saya!” (bu darno menyeret jamila, meninggalkan arena)

PARA PELACUR, MEMASUKI ARENA DARI BEBERAPA ARAH BERLARIAN, PANIK, DIIUKUTI LAMPU SOROT YANG MENYOROTI MEREKA SATU DEMI SATU. BEBERAPA PETUGAS MENGEJAR MEREKA. PARA PELACUR BERLARIAN, KETIKA PARA PELACUR SUDAH TERSUDUT, DAN PARA PETUGAS SEDANG SIAP-SIAP UNTUK MEMULAI RAZIA, PARA PELACUR ITU SEREMPAK MENGEJEK PARA PETUGAS DENGAN MENGGOYANG-GOYANGKAN PANTATNYA.

PETUGAS 1: “Konyol!”

SALAH SATU PETUGAS MENENDANG PANTAT SALAH SATU PELACUR MEMBUAT SELURUH PELACUR ITU SEREMPAK TERSUNGKUR DI LANTAI. PADA SAAT ITU KEPALA PETUGAS MASUK.

KEPALA PETUGAS: “Berdiri! Ayo berdiri! Cepat berdiri!! Kalian ini..” (sambil menunjuk ke wajah pelacur 1 per 1)
PARA GADIS BERUSAHA BANGKIT, KEREPOTAN. PETUGAS MENARIK MEREKA STU DEMI SATU.

PETUGAS 2: “Berdiri disitu! Jejer !! Hei! Dengar nggak? Jejer!! Baris yang rapi, bisa tidak?”

SEORANG GADIS GENDUT KESUSAHAN BANGKIT. IA MASIH MENIBAN PELACUR LAIN. PETUGAS MENARIKNYA.
PETUGAS 1: “Badan tebalnya kayak gini kok ada yang doyan.”

SI GENDUT MENGEPALKAN TANGANNYA KE PETUGAS, BICARA CEMPRENG, DAN DIBUAT-BUAT.
GENDUT: “Kenapa? Mau coba?”

PETUGAS 2: “Serahin KTP kamu.”

SI GENDUT MENYERAHKAN KTPNYA KE KEPALA PETUGAS. KEPALA PETUGAS MEM BOLAK-BALIK KTP SAMBIL MENGAMATI SI GENDUT.

KEPALA PETUGAS: “Apa betul kamu sembilan belas tahun?”

GENDUT: “Betul Pak. Sembilan belas.”

KEPALA PETUGAS: “Sekarang, coba kamu bantu saya. Kumpulkan KTP teman-temanmu ini.”
(PARA PELACUR MAJU SEREMPAK, MENUNJUKKAN PROTES)

KEPALA PETUGAS: “Kenapa ?”

PELACUR 2: “Damai aja Pak, DAMAI ….” (Salah Satu Dari Para Gadis Itu Nyeletuk)

KEPALA PETUGAS BERUSAHA MENAHAN KEJENGKELANNYA

KEPALA PETUGAS: “Siapa itu ? Hei! Siapa yang barusan ngomong tuh? Kesini kamu !! Jangan berani bunyi nggak berani nunjukin muka.”

BERHUBUNG TIDAK ADA YANG MAU MAJU, KEPALA PETUGAS MEMBERI PERINTAH PADA BAWAHANNYA.

KEPALA PETUGAS: “Petugas…. !!”

SALAH SATU PETUGAS AKHIRNYA MENYERET PELACUR 2 KE HADAPAN KEPALA PETUGAS.
KEPALA PETUGAS: “Bicara apa kamu barusan hah? Damai – damai …. Hari gini, ngajak Polisi korupsi.”

TATI : (meludah/mengejek dengan keras) “Chuah …., munafiik.”

KEPALA PETUGAS: “Yang barusan meludah kesini!!”

TATI, DENGAN BERANI MENDEKATI KEPALA PETUGAS.

KEPALA PETUGAS: “Bongkar dan cari KTP di atas kawan-kawanmu! Satu demi satu.”

TATI: “Nggak mau PAk !! Saya bukan polisi.”

PETUGAS 2: “Kurang ajar..” (PETUGAS 2 MENYERET GADIS 2 KE HADAPAN KEPALA PETUGAS)

KEPALA PETUGAS: “Periksa tas kawan-kawanmu!!”

TATI: “Saya sudah bilang, saya bukan polisi, jadi saya gak mau!”

KEPALA PETUGAS: “Baik kalau itu yang kamu mau….. Petugas !!”

PARA PETUGAS: “Siap!”

KEPALA PETUGAS: “Laksanakan!! Urus Mereka!” (sambil berjalan pergi)

PARA PETUGAS: “Siap! Laksanakan !!”

SEREMPAK PARA PETUGAS MENGHAMPIRI PARA GADIS UNTUK MELAKUKAN PENGGELEDAHAN. TERJADI KEGADUHAN, KARENA TANPA DIDUGA PARA PELACUR JUSTRU LEBIH SIGAP MENYERANG PARA PETUGAS.

PETUGAS 1: “Aduh …. Aduh …. Bajingan ….. Dasar pelacur !” (para petugas kelimpungan menahan sakit di mata dan kemaluan. para gadis lari sambil tertawa puas)

PARA PELACUR KEMBALI MEMASUKI PENTAS, DAN BERTINGKAH SEPERTI MENJAJAKAN DIRI, BEBERAPA SAAT BERLANGSUNG, DARI SUDUT LAIN BU DARNO MASUK DENGAN LANGKAH PANJANG-PANJANG, MARAH

BU DARNO: “Di mana Jamila ?”

GADIS-GADIS ITU TIBA-TIBA STATIS, MEREKA MENOLEH KE BU DARNO DENGAN TATAPAN TIDAK SUKA.

BU DARNO: “Ada yang lihat Jamila nggak?” (SEMUA MEMBISU DENGAN SIKAP MELAWAN)

BU DARNO: “Apa ini? Solidaritas? Bu Darno yang kejam yang telah dengan sadis menempeleng Jamila yang cantik dan lemah lembut…. (DIEXPLOITASI) Kita punya aturan disini. Membangkang, berbuat sesuka hati, ada ganjarannya. Jamila mendapatkan duapuluh kali lipat dari apa yang kalian semua dapatkan. Sekolah, kursus bahasa, buku-buku mahal …. Dan Ibu tidak mengusir Jamila. Ibu hanya meminta supaya dia berhenti Bunting. Bagaimana mau dapat uang kalau sebentar-sebentar bunting?”

JAMILA MUNCUL DARI ARAH BELAKANG BU DARNO. TATI MENOLEH DAN BERLARI KE ARAH JAMILA MUNCUL. BU DARNO MEMBENTAK TATI.

BU DARNO: “Mau kemana Tati?”

TATI MENGEHENTIKAN LANGKAHNYA. SAAT IA MENOLEH KE ARAH JAMILA, BU DARNO BARU SADAR AKAN KEHADIRAN JAMILA. DIA LANGSUNG SEWOT.

BU DARNO: “Ooo, si Ratu datang rupanya. Kalian tahu apa masalah teman kalian ini? Sombong. Merasa laku. Merasa memberi banyak pemasukan – sekarang malah mau berkhianat ……”

BU DARNO: “Mau kemana kamu Tati?” (bertanya dengan nada marah)

JAMILA: “Saya mau pamit sama kawan-kawan Bu.”

BU DARNO: “Kalian lihat itu? Kamu tidak akan menemukan germo sebaik saya Jamila. Dimanapun..” (dengan nada sombong)

JAMILA: “Saya tidak ingin cari germo Bu Darno. Saya hanya mau pergi.”

BU DARNO: “Pergi kemana? Memulai kehidupan yang bersih? Takdirmu pelacur Jamila dan akan selalu begitu.”

JAMILA MENDADAK BERUBAH. IA MENGHADAPI BU DARNO, BICARA DENGAN SUARA MARAH SEKALIGUS BERWIBAWA

JAMILA: “Tidak Bu Darno. Aku tidak pernah ingin jadi pelacur dan tidak ditakdirkan menjadi pelacur. Ibulah yang membuat saya jadi pelacur. Ibulah yang menipu dan memeras saya, sama seperti bagaimana Ibu memeras mereka-mereka ini.”

BU DARNO: “Bangsat !!”

BU DARNO MERNGAYUNKAN TANGANNYA HENDAK MEMUKUL JAMILA, TAPI JAMILA, DIDUKUNG KAWAN-KAWANNYA, JUSTERU BERRAMAI-RAMAI MENYERANG BU DARNO.

JAMILA: “Mundur !! Jangan Ibu berani-berani menyentuh saya !!: (BU DARNO TERBELALAK, SURUT)

BU DARNO: “Ooooo ….. Setelah kamu makmur. Makmur karena kebaikan hati saya ….. Kamu melawan sekarang. Mau jadi apa kamu sekarang hah? Jadi Dosen? Jadi guru ngaji? Kacang lupa kulit.”

JAMILA MENGELUARKAN BERTUMPUK-TUMPUK UANG DARI TAS TANGANNYA. IA MELANGKAH KEHADAPAN BU DARNO, LALU MENYERAHKAN TUMPUKAN UANG ITU PADA BU DARNO.

JAMILA: “Ini Bu. Untuk membayar kebaikan hati Ibu.”

BU DARNO MENERIMA UANG ITU. MATANYA TERBELALAK INGIN MENGATAKAN SESUATU, TAPI JAMILA SUDAH MEMBALIK TUBUHNYA, DIIKUTI PARA PELACUR LAINNYA.
JAMILA: “Saya masih akan melacur Bu Darno. Tapi saya akan jadi pelacur sesuai keinginan saya.” (BERJALAN DIIKUTI PELACUR LAINNYA)

Narator 2: “Jamila meneruskan kembali pekerjaannya melacur dengan teman-temannya berharap kehidupan lebih baik tanpa ada paksaan dari pihak yang berkuasa dan memerasnya secara habis-habisan.Terjerat dalam lamunannya, Jamila kembali sadar bahwa dia telah berada dalam sel tahanan hukuman sebagai seorang pembunuh. Pembunuh sekaligus pelacur yang bersih keras dengan kemauan untuk mengadili orang-orang yang bertanggung jawab atas hidupnya yang kelam ini.”

Part 3
DI SEL JAMILA, BU RIA MASUK GUSAR SAMBIL MEMBAWA SEBUAH KORAN. IA MENGHAMPIRI JAMILA YANG SEDANG MERINGKUK DAN MEMBUATNYA SEMAKIN GUSAR. IA AKHIRNYA DUDUK DI TEPI BALE JAMILA, DAN MEMBACA KORAN DI TANGANNYA.

BU RIA: “Eksekusi mati atas Jamila, pembunuh Menteri Nurdin, dilakukan besok. Sesuai permintaan Jamila, sebelum dieksekusi, Bapak Presiden dan Bu Nyai sohor Zaenab akan menemui Jamila.” (menatap jamila dengan tatapan tidak habis pikir)

BU RIA: “Kenapa kamu Mila? Saya kagum sama kamu. Jutaan orang di luar sana bangga sama kamu. Kamu memberikan pelajaran buat para pejabat itu. Kamu buat mereka shok. Itu luar biasa Mila ……”

JAMILA, TETAP MEMBISU, DINGIN DAN TEGAR, MEMBUAT BU RIA MENJADI FRUSTASI.

BU RIA: “Kamu bisa mengajukan grasi pada Presiden? Kenapa kamu malah memintanya datang kemari ?”

BU RIA KEMBALI KE SAMPING Jamila, menyapanya dengan nada yang dilunakkan dan lebih membujuk.

BU RIA: “Saya mengerti kamu membutuhkan seorang Ulama. Tapi Presiden ?”

JAMILA BANGKIT, MENJAUH, BICARA TEGAS DAN DIEJA.

JAMILA: “Dia yang paling bertanggungjawab atas apa yang menimpa diriku Bu Ria.”

TERKEJUT, BU RIA MENGEJAR JAMILA.

BU RIA: “Apa maksud kamu Jamila? Jamila, apa maksud kamu? Kamu tidak bisa bicara sembarangan seperti itu terutama sekarang ini Mila. Seluruh negeri ini akan semakin membenci kamu ….”

JAMILA TIDAK MENANGGAPI.
DUA ORANG POLISI PENJARA MASUK, MELAPOR.

POLISI PENJARA: “Ada ratusan orang melakukan demo. Beberapa kelompok mendesak ingin menemui Jamila.”

BU RIA: “Kamu bisa menolak mereka, tapi untuk meredam kemarahan di luar, sebaiknya kamu menerimanya.”

JAMILA KEMBALI KE BALENYA, BICARA DINGIN.

JAMILA: “Meredam kemarahan di luar …. Apa urusan saya dengan kemarahan di luar.”

BU RIA: “Lakukan penyaringan !!”

POLISI PENJARA: “Baik Bu.”

JAMILA: “Aku sudah mengalami hampir semua hal dalam hidupku Bu Ria. Aku kadang tidak menangis. Bersama kawan-kawanku, aku kadang bisa tertawa lebar menertawakan pahit getir kehidupan kami. Satu-satunya hal yang tidak pernah kualami adalah dicintai …. , mencintai dengan tulus…..”
BU RIA TIDAK TAHAN. IA MENARIK JAMILA KE DALAM PELUKANNYA, MEMELUKNYA ERAT. BELUM PUAS DENGAN PENJELASAN JAMILA, TENTANG PRESIDEN, BU RIA KEMBALI BERTANYA.

BU RIA: “Tentang presiden tadi …..”

TIDAK SUKA DENGAN PERTANYAAN BU RIA, JAMILA LANGSUNG MENARIK TUBUHNYA DARI PELUKAN BU RIA. IA BANGKIT CEPAT DAN MENJAUH.

BU RIA: “Apa maksudmu “Dia bertanggung jawab?”

JAMILA: “Boleh nggak untuk yang satu itu, aku menolak untuk menjawabnya?”

BU RIA TIDAK PUAS. NAMUN TAK PUNYA PILIHAN. JAMILA MENOLEH KE ARAH SUARA ITU, DENGAN TATAPAN KOSONG. POLISI PENJARA MEMBAWA MASUK TAMU PERTAMA JAMILA, JAELANI. SEORANG PEREMPUAN, PEMBANTU BU WARDIMAN. BU RIA MENINGGALKAN SEL. BEGITU BERHADAPAN DENGAN JAMILA, ZAELANI MENJULURKAN KEDUA TANGANNYA DENGAN MATA BERSINAR.

ZAELANI: “Ya Allah Jamila – Jamila……” (JAMILA BANGKIT, DAN KEDUANYA BERPELUKAN ERAT)

ZAELANI: “Aku akan membelamu Jamila. Dengan cara apapun.”

JAMILA MENARIK TUBUHNYA DARI PELUKAN ZAELANI MENARIK ZAELANI DUDUK DI BANGKU.

ZAELANI: “Aku akan membeberkan semuanya Jamila. Semua yang kamu alami dulu.”

JAMILA: “Apa kabar Ibu Wardiman – Zaelani?”

ZAELANI: “Sudah mampus. Kualat dia sama koe Jamila.”

JAMILA: “Sakit apa ?”

ZAELANI: “Aku sudah cerita sama dia soal koe Mila. Ya sakit k u a l a t. Benci aku saceraiin bojone, koe sing diunyeng-unyeng. Wong suaminya Bu Wardiman itu bandit kok. Aku aja dimek-mek, apalagi koe, sing kemilau kayak gini.”

ZAELANI MENCUBIT PIPI JAMILA. MEREKA TERTAWA LEPAS. ZAELANI KEMUDIAN BERDIRI, DAN MENIRUKAN SECARA BERLEBIHAN KELAKUAN BU WARDIMAN MAJIKANNYA DULU.

ZAELANI: “Ngajinya itu membuat telingaku serasa terbakar. Aku merasa bersekongkol dengan setan menghina almarhumah Ibumu Jamila. Cuah !! Koyo sing peduli. Keluarga terhormat. Moralis munafik itu. Sama karo sing demo-demo di luar sana itu. Pemuda moralis, ning sangar kabeh. Pembela Undang-undang, Pembela Agama ….. Wong Gusti Allah kirim Agama untuk membela manusia ….. ( KE PENONTON) Jamila ….. Koe ki korban Agama digawe politik-politikan Jamila ….. (KE PENONTON) Nyuruh orang insaf kok gowo parang, gowo hujatan ….. Ya ndak mempan ….. Goblok !!”

JAELANI KEMBALI KE SISI JAMILA, SUJUD, DAN BICARA LEMBUT

ZAELANI: “Jamila, kowe masih ngaji apo ora ?”

JAMILA MENGHINDAR MURUNG. JAELANI KEMBALI DUDUK DI SAMPING JAMILA SAMBIL MEMIJAT-MIJAT PUNDAK JAMILA.

ZAELANI: “Maafin aku Mila. Aku ki pancen lancang. Gemes aku …”

JAMILA YANG NYARIS TAK BERREAKSI TAK MEMBUAT JAELANI PUTUS ASA. IA BANGKIT MEMIJIT MIJIT PUNDAK JAMILA, DAN TERUS MEMBUJUK.

ZAELANI: “Sekarang, sebut apa karebmu. Apa sing aku bisa bantu. Jadi saksi? Jadi penuntut? Aku tuntut kabeh Mila!”

JAMILA BANGKIT DARI DUDUKNYA, MENJAUH DAN BICARA LIRIH.

JAMILA: “Kamu yang terbaik dalam hidupku Zaelani, Kedatanganmu membuat perasaanku lega, sekarang, pergilah..”

JAMILA MENGULURKAN TANGANNYA – HENDAK MEMELUK ZAELANI. ZAELANI MUNDUR PROTES. IA DUDUK DI BANGKU.

ZAELANI: “Eh, nanti dulu.”

JAMILA: “ Jaelani …..”

JAELANI: “ Moh ….”
JAMILA TERUS MEMBUJUK
JAMILA: “Pergilah Jaelani ….”

JAMILA: “Moh !! Wong koe belum cerita soal Presiden itu kok.”

JAMILA MENJAUH SAMBIL MENOLEH KE POLISI PENJARA, MEMBERI ABA ABA, AGAR MENANGANI JAELANI. POLISI PENJARA MENUNTUN ZAELANI, TETAPI SEBELUMNYA IA LEBIH DULU MENGHAMPIRI JAMILA, BICARA.

ZAELANI: “Aku kagum karo koe Jamila. Kalau koe sukses ngrayu Presiden ….Wah Koe yang terbaik Jamila.”

PETUGAS MENUNTUN ZAELANI MENINGGALKAN JAMILA. IA TIBA-TIBA MENGHENTIKAN LANGKAHNYA.

ZAELANI: “Nanti kalau koe di hukum mati, gusti Allah pasti mbopong koe, langsung ke sorga.”

PINTU BELAKANG TERBUKA, KETIKA ZAELANI KELUAR. POLISI PENJARA MASUK.

POLISI PENJARA: “Ada seorang Ibu Pejabat.”

BU RIA: “Walaupun dia isteri pejabat, kamu berhak menolak.”

JAMILA MENEGAKKAN DUDUKNYA, MENGANGKAT KEPALANYA, SAMBIL NAFAS PANJANG.
JAMILA: “Saya terima.”

POLISI PENJARA KELUAR. KETIKA PINTU MEMBUKA, MEMPERSILAHKAN ISTRI PEJABAT ITU MASUK. ISTRI PEJABAT MASUK LANGSUNG MENYERBU JAMILA DENGAN UMPATAN-UMPATAN.

ISTERI PEJABAT: “Ini ya, perempuan da’jal yang dengan lancang meminta bertemu Presiden itu?”

BU RIA DAN POLISI PENJARA LANGSUNG BERREAKSI MENDENGAR SUARA ISTERI PEJABAT YANG MEMEKIK-MEKIK.

BU RIA: “Mohon maaf Bu. Mohon jangan terlalu keras.”

ISTERI PEJABAT MENOLEH KE BU RIA, SINIS DAN TIDAK MENGGUBRIS. IA TERUS MENYERANG JAMILA
ISTERI PEJABAT: “Lancang!! Dasar Pelacur, Kamu membunuh seorang Menteri, perempuan sundal, dan sekarang terang-terangan meminta Presiden datang kemari? Mau kamu apa hah ?”

BU RIA: “Petugas!!” (Berteriak)

ISTRI PEJABAT TERSINGGUNG ATAS PERINTAH RIA

ISTERI PEJABAT: “Hei. Dengar ya. Saya ini isteri seorang pejabat penting.”

BU RIA: “Saya tahu Bu. Saya hanya meminta agar Ibu tidak berteriak-teriak.”

RIA BICARA SAMBIL MENDORONG ISTRI PEJABAT

ISTRI PEJABAT: “Baru jadi Sipir, sudah sok kuasa Aku di sini atas nama semua istri pejabat di Negri ini. Ngerti nggak ? Sombong … “

ISTRI PEJABAT LANGSUNG MENGAMBIL ALIH. IA MENDEKATI JAMILA DAN MULAI MENJAMBAK RAMBUT JAMILA.

ISTRI PEJABAT: “Ini atas nama kehormatan kaum perempuan di negeri ini.”

JAMILA YANG SEJAK AWAL BERUSAHA KERAS MENAHAN DIRI, TANPA DIDUGA, MULAI BUKA SUARA, TENANG DAN BERWIBAWA.

JAMILA: “Aku perempuan negeri ini Bu.”

ISTRI PEJABAT: “Eh, Melawan lagi ….. “ (Seraya ingin menampar jamila)

JAMILA: (menghalau serangan dari istri pejabat) “Sama seperti seluruh pelacur di luar sana kami perempuan negeri ini.”
ISTRI PEJABAT MENYERANG JAMILA, TAPI JAMILA DENGAN TANGKAS MENANGKAP TANGANNYA.

ISTRI PEJABAT: “Lepaskan tanganku !! Petugas !!”

POLISI PENJARA MENDEKAT TAPI JAMILA MEMBENTAK

JAMILA: “Minggir Pak. Ini urusan perempuan Negeri ini.”

POLISI PENJARA SURUT, JAMILA MENDORONG ISTRI PEJABAT, TERLEMPAR JAUH.

JAMILA: “Sekarang, Ibu sebaiknya pulang. Pastikan apakah suami Ibu betul sedang bekerja – bukan sedang bercengkerama di pelukan pelacur yang lain.”

ISTRI PEJABAT: “Bangsat! Da’jal !! Pembunuh !!”

JAMILA: “Keluar !!” (berteriak)

ISTRI PEJABAT: “Perempuan setan ! Perempuan sundal !! “

JAMILA: “Keluar !!”

POLISI PENJARA SIBUK MENGENDALIKAN SUASANA YANG JADI PANIK – BERUSAHA MENGGIRING ISTRI PEJABAT ITU KELUAR.

ISTRI PEJABAT: “ Bangsat kamu !! Da’jal !!”

JAMILA: “Keluar !!” (berteriak)

ISTRI PEJABAT: “Kamu akan mati perempuan kotor, kamu akan mati.”

JAMILA: “Keluaaar !!”

BU RIA MENDEKATI JAMILA, MEMELUKNYA ERAT. BUNYI SIRENE TERDENGAR DARI JAUH, TERUS MENDEKAT BU RIA BANGKIT. DIA TAMPAK PANIK. SEBELUM MENINGGALKAN SEL, IA MENATAP JAMILA DENGAN PRIHATIN, LALU BERGEGAS KE LUAR. SEMENTARA ITU JAMILA BERDIRI DI TENGAH SELNYA, MENDENGAR DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH BUNYI SIRENE, TERIAKAN-TERIAKAN YANG MASIH TERUS RIUH DILUAR, SAMPAI BENAR-BENAR MENGHILANG.

PROSES MENUJU EKSEKUSI HARI INI ADALAH HARI DI MANA EKSEKUSI HUKUMAN MATI ATAS JAMILA AKAN DILAKUKAN. SUASANA HENING. TIDAK ADA LAGI DEMO ANTI JAMILA. TERDENGAR SOUND EFFECT YANG MENUNJUKKAN SUASANA DUKA DAN TEGANG. DI SELNYA, DI ATAS BALENYA, JAMILA – TAMPAK BERGUMUL DENGAN BATINNYA, BERUSAHA IKHLAS MENERIMA KETIDAKADILAN YANG DIALAMINYA SEPANJANG DALAM PERJALANAN HIDUP.

DI ARENA TERJADI KESIBUKAN DI PANGGUNG, PARA PETUGAS MENGANGKAT BALE, MELETAKKAN BALE KECIL, PERMADANI DAN SAJADAH. DI SEL JAMILA BU RIA MASUK BERSAMA DUA PETUGAS. DUA PETUGAS MEMBAWAKAN PERALATAN SHALAT.

BU RIA MEMBANTU JAMILA MENGENAKAN PAKAIAN UNTUK SHALAT LALU MENYERAHKAN AL QUR’AN. JAMILA TAMPAK TENANG, BU RIA DENGAN PRIHATIN DAN BERAT HATI MENINGGALKAN JAMILA. ANGGUN, JAMILA MELANGKAH MENINGGALKAN SELNYA. MENGIKUTI SETIAP LANGKAHNYA MENUJU SAJADAH YANG SUDAH DISIAPKAN DI PUSAT PANGGUNG.

BERDIRI DI ATAS SAJADAHNYA, JAMILA BERUSAHA MEMUSATKAN PIKIRANNYA UNTUK MELAKUKAN SHALAT. TAPI SETIAP KALI IA MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA UNTUK MENGUCAPKAN ALLAHU AKBAR, TUBUHNYA SEPERTI TIDAK SANGGUP MENAHAN BEBAN MASA LALUNYA. IA MERASA KOTOR. IA MERASA TIDAK LAYAK. TIDAK BERDAYA MELAKUKAN SHALAT, DALAM PUTUS ASA IA MEMBIARKAN TUBUHNYA TERDUDUK, SUJUD. IA MENJATUHKAN TUBUHNYA HINGGA KENING TERLETAK DI ATAS AL’QURAN DI ATAS SAJADAHNYA. JAMILA MENANGIS, TERGUNCANG. BU RIA TERKEJUT MELIHAT KEADAAN JAMILA KETIKA DIA MASUK MENGATAR BU NYAI. IA SETENGAH BERLARI MENDAHULI BU NYAI, LANGSUNG KE JAMILA.

BU RIA: “Jamila….. Jamila ….. Bu Nyai, Jamila …… Tamu istimewamu sudah ada di sini ….”

PERLAHAN SEKALI JAMILA MENGANGKAT TUBUHNYA. KIYAI JALALUDIN MENDEKAT, MENGUCAPKAN SALAM.

BU NYAI: “Assalamualaikum Neng Jamila.”

JAMILA MENGANGKAT TUBUHNYA DAN MENEGAKKANNYA. DIA TIDAK MENYAMBUT SALAM. IA MENATAP LURUS KEDEPAN, BUNGKAM. SEMENTARA USTADZAH ZAENAB DUDUK DI BANGKU YANG TERLETAK TAK JAUH DARI JAMILA2 DENGAN SIKAP DITENANG-TENANGKAN. BU RIA BERGEGAS MENINGGALKAN ARENA.

BU NYAI: “Neng Jamila. Silahkan Neng. Duduk dekat Ibu disini. Kita bicara.”

HENING LAGI – JAMILA MASIH JUGA BELUM BERSUARA

BU NYAI: “Atau kalau Neng mau, kita bisa mulai dengan berdoa. Silahkan saja.”

JAMILA: “Aku yang mengundang Ibu kemari, Dari itu akulah yang menentukan apa yang akan terjadi diruangan ini.”

KALIMAT-KALIMAT JAMILA YANG LUGAS DAN BERWIBAWA, MEMBUAT BU NYAI TAMPAK RIKUH DAN GELAGEBAN.

BU NYAI: “Baik Neng. Ibu akan menunggu kalau begitu.”

JAMILA: “Ibu tahu kenapa aku memilih Ibu? Kenapa tidak perempuan lain – Bibiku misalnya, atau Ibu kandungku …. Ibu tahu kenapa ?”

BU NYAI: “Tidak Neng. Ibu tidak tahu … Tapi Ibu senang berada di sini sekarang. Ibu merasa diberi kesempatan menyempurnakan tugas Ibu sebagai seorang ulama.”

JAMILA: “Apa tugas Ibu itu? Menceramahiku agar aku insyaf? Mendoakanku? Memohon ampunan Allah agar aku tidak masuk neraka?”

KATA-KATA JAMILA YANG SINIS MEMBUAT BU NYAI TERPERANGAH DAN BUNGKAM.

JAMILA: “Asal Ibu tahu, Ayah kandungku, orang yang seharusnya paling bertanggung jawab melindungiku, adalah orang yang paling mendambakanku menjadi pelacur.”

BU NYAI: “Astagfirullah hallazim . . . “

JAMILA: “Dia dengan enteng memutus tali pusarku dari air susu Ibuku, lalu menyerahkanku pada seorang mucikari. Pada waktu itu usiaku masih 2 tahun Bu.”

BU NYAI: “Astagfirullahallaziiim …”

JAMILA: “Cita-cita Ayahkulah yang melemparku ke dalam kegelapan. Terhempas di tengah kehidupan paling nista, dikejar-kejar rasa takut, dihina, dan diludahi orang. Ayahku tidak tahu bagaimana para agen dan mucikari-mucikari itu memeras keringat dan menghisap darahku tanpa mengenal kasihan . . .”

BU NYAI: “Astagfirullah hallazim”

JAMILA: “Bisa nggak Ibu berhenti istiqfar?”

BU NYAI TERKEJUT DAN TANPA SADAR KEMBALI ISTIQFAR.

BU NYAI: “Astagfirullah hallazim”

JAMILA: “Bagaimana Ibu akan mendengar ucapanku dengan baik kalau Ibu terus menerus istighfar?”

BU NYAI: “Astagfirullah hallazim, Baik Neng, baik – Astagfirullah hallazim . . .”

JAMILA: “Di kampung halamanku, menggadaikan seorang anak perempuan pada saat mereka masih bayi merah – bukan dongeng Bu Nyai– tapi realita.”

BU NYAI: “Astagfirullah hallazim”

JAMILA: “Itu budaya perbudakan yang lahir dari kemiskinan Bu Nyai. Lahir dari kebodohan dan lemahnya iman, Perbudakan yang sacral. Yang dihormati-hormati dengan upacara. Didandani dengan kembang setaman dan mantera-mantera, dicampur aduk dengan doa-doa dan salawat Nabi.”

BU NYAI: “Astagfirullah hallazim”

JAMILA: “Tidak satupun yang bangkit mengutuknya, Tidak Pemerintah, tidak masyarakat setempat, Termasuk para ulama seperti Ibu ….. Ibu lebih suka menjadi politikus. Menjadi bintang televisi, Berceramah tentang langit ….. Tentang hal-hal yang sama sekali tidak menyentuh persoalan kami …..”
BU NYAI: “Neng Jamila dengar …..

JAMILA: “Tidak Bu Nyai. Tidak !! Ibu-lah yang harus mendengar sekarang!! Ibu sebagai ulamalah, yang sekarang harus mendengar – apa yang keluar dari mulut perempuan kotor ini ….”

BU NYAI TERDIAM. BEBERAPA SAAT HENING

JAMILA “Aku mendengar kalian dengan lantang menyerukan agar orang-orang menjauhkan diri dari kemaksiatan …. Kemaksiatan yang seperti apa Bu Nyai. Aku hanya seorang pelacur di tengah pentas pelacuran politik yang sedang kalian bangun di muka-bumi ini …. Membunuh seorang Jamila tidak akan mematikan peradaban yang sudah terlanjur kalian bangun dengan tangan-tangan kotor …. Dengan kemunafikan – Dengan nama Allah – kalian menyerukan agar orang-orang menghindari pertikaian dan kebencian – di tengah dunia dimana kalian meletakkan agama sebagai sesuatu yang menakutkan – Sah untuk saling membenci dan saling membunuh.”

BU NYAI: “Neng Jamila …..”

JAMILA: “Berpikirlah sebagai Ulama sekali ini saja Bu Nyai. Dan sadar …… Betapa atas nama politik, kalian telah mengotori apa yang menjadi tanggung jawab kalian. Berhianat pada ummat; mengingkari apa yang sesungguhnya mereka butuhkan sebagai anak manusia …… Aku manusia Bu Nyai – ciptaan Allah paling sempurna sama seperti Bu Nyai. Tapi aku pelacur …….”

BU NYAI: “Neng Jamila. Mari, kita berdoa Neng, meminta pemangampunan pada Allah.”

JAMILA: “Tidaaak.” (BERGUMAM)

BU NYAI: “Allah Maha Mendengar, Neng Jamila. Dia Maha Mengetahui.”

JAMILA: “Tidak Bu Nyai. Aku tidak membutuhkan ulama untuk memohon pengampunan Allah. Aku tidak membutuhkan ulama yang tidak memahami penderitaanku, yang tidak memiliki kemampuan menarikku dari kenistaan ….. “

BU NYAI: “Neng Jamila..”

JAMILA MENDADAK MEMUTAR TUBUHNYA, MENOLEH KE BU NYAI, MELEMPAR KEMARAHANNYA SECARA LANGSUNG.

JAMILA: “Kenapa sekarang Bu Nyai? Kenapa sekarang ? Kenapa dulu Ibu tidak berada disisiku, Kenapa dulu Ibu tidak merampasku dari tangan Ayahku, hingga dia tidak menggadaikanku ke tangan mucikari? Kenapa? Jawab aku !” (Meradang)

BU NYAI: “Neng Jamila”

JAMILA MEMBUKA MUKENAHNYA. DIA MEMUTAR TUBUHNYA SAMBIL MEMBUKA KEDUA TANGANNYA LEBAR, MEMPERTONTONKAN DIRINYA PADA BU NYAI.

JAMILA: “Lihat Bu Nyai, Lihat !! Lihat betapa kotor dan nistanya aku. Dan jangan Ibu mengatakan Ibu tidak ikut bertanggung jawab atas semua ini.”

BU NYAI: “Neng Jamila ….”

JAMILA: “Keluar ….”

BU NYAI: “Neng Jamila ….”

JAMILA MENGABAIKAN BU NYAI.
HENING. BU NYAI SURUT DENGAN RAGU-RAGU.
JAMILA: “Kalau Ibu betul ingin menyempurnakan kewajiban Ibu sebagai ulama, berangkat ke kampung halamanku – sekarang. Duduklah bersama para orang tua disana menunggu detik-detik kematianku dan memohon ampunlah pada Allah diantara mereka.”

BU NYAI MENGHILANG. JAMILA TERSUNGKUR DILANTAI, TERGUNCANG. TERDENGAR DERAP SEPATU PETUGAS. DI LATAR BELAKANG TERLIHAT PARA PETUGAS YANG AKAN MELAKSANAKAN EKSEKUSI MEMASUKI PANGGUNG, DARI DUA ARAH.
JAMILA TERDIAM SESAT. DIA SADAR, DIA SUDAH HARUS SIAP MENERIMA AJALNYA. DIA MENGANGKAT TUBUHNYA, MENATAP KE ARAH PENONTON DENGAN TATAPAN TENANG. SEBUAH SALAWAT “ASTAQFIRULLAH ……” MENYAYAT MENGIKUTI KALIMAT-KALIMAT TERAKHIR DARI JAMILA, LIRIH DAN JERNIH.

JAMILA: “Jutaan kali bibirku menyebut namaNya – Menjerit-jerit aku meminta pertolonganNya – memohon ampun dariNya . . . .”

DI LATAR BELAKANG, SEORANG LELAKI BERTUBUH BESAR, TEGAP, SANG PRESIDEN, DIIKUTI PARA PENGAWAL MASUK. BERDIRI DIANTARA PARA PETUGAS EKSEKUSI, SANG PRESIDEN MENATAP KEDEPAN LURUS. DARI ARAH LAIN, BU RIA MUNCUL, SEMUA MENATAP KE JAMILA, YANG MASIH TERUS BICARA.

JAMILA: “Dua tangan ini sudah berlumur darah sejak aku masih kanak-kanak . . . Dan aku tidak mampu membersihkannya. Tangan ini seperti ditakdirkan untuk terus menerus berlumur darah ….. Untuk terus menerus kotor dan menagih.”

BU RIA: “Jamila ! Sang Presiden.”

MENDENGAR SUARA BU RIA, JAMILA TERDIAM SESAAT. IA KEMUDIAN MEMBUNGKUKKAN TUBUHNYA MENCARI KERUDUNGNYA DI LANTAI. JAMILA MENARIK SEPOTONG KAIN PUTIH KUSAM YANG DULU DIA GUNAKAN SEBAGAI KERUDUNG. IA MEMBUKA DAN MELEBARKAN KAIN KUSAM ITU, MEMPERTONTONKANNYA KE PENONTON SAMBIL MENJULURKAN TANGANNYA KE DEPAN. DENGAN SUARA JERNIH JAMILA BICARA PADA PENONTON SEOLAH IA SEDANG BICARA PADA DUNIA.

JAMILA: “Kain ini, dulu putih dan bersih . . . Dia dulu menutupi auratku, melindungiku dan memberi cahaya di air mukaku . . .
JAMILA MEMUTAR TUBUHNYA KE ARAH PRESIDEN.

JAMILA: “Siapa yang menginginkanku jadi pelacur? Siapa yang mengotoriku …. Siapa yang menumpuk kebencian didadaku?”

PADA SAAT ITU PRESIDEN JUSTRU MENINGGALKAN PANGGUNG JAMILA MERADANG MENGULANGI PERTANYAANNYA KE TEMPAT DIMANA PRESIDEN SEBELUMNYA BERDIRI.

JAMILA: “Siapa yang menginginkanku jadi pelacur? Siapa menumpuk kebencian didadaku? Siapa …… Siapa …… Siapa …… “

FRUSTRASI, JAMILA BANGKIT DAN MELANGKAH KE PUSAT PANGGUNG. PANIK DAN TERPUKUL IA TERUS NERTERIAK – BERTANYA PADA PENONTON, PADA DINDING, PADA PADA DUNIA.

LAMPU PERLAHAN MEREDUP, DIIKUTI MUSIK MENGIRINGI EKSEKUSI JAMILA. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN, SEBUAH BUNYI SENAPAN MENGGELEGAR MEMECAH KEHENINGAN.
JAMILA, PEREMPUAN PELACUR ITU TELAH TIADA ….
Narator 3: “Dengan terdengarnya bunyi senapan yang ditembakkan oleh sang penembak, berakhirlah derita pelacur bernama Jamila. Seorang wanita yang tangguh memperjuangkan kebebasan dirinya, wanita yang berani berdiri di tengah-tengah kebobrokan dunia dan wanita yang menjunjung harga diri sampai ajal tiba.”

SELESAI

” Ayahku Pulang”

Posted: 28 Maret 2013 in Naskah Drama

PIC_0074

Naskah Telah dipentaskan
Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si.

Judul : “Ayahku Pulang”
Penulis Naskah : Usmar Ismail
Jumlah babak : Satu (1)
Durasi : 45 Menit
Jumlah Pemain : Lima (5)
Genre : Drama Tragedi

SINOPSIS CERITA
Drama ini mengisahkan tentang konflik keluarga dimana Raden Salah selaku kepala keluarga pergi meninggalkan tiga orang anak yaitu Gunarto, Maimun dan Mintarsih serta menceraikan Tina istrinya dengan keadaan ekonomi yang susah. Gunarto merasa benci dengan ayahnya yang tidak bertanggung jawab pada keluarga, akan tetapi Tina (Sang Ibu) terus berusaha mengingatkan Gunarto agar tidak membenci Raden Saleh selaku Ayah kandungnya. Tina merupakan seorang Ibu yang luar biasa, tanpa seorang suami dia berhasil membesarkan ketiga anaknya walau dengan keadaan yang sangat sederhana.
Setelah 20 tahun kemudian, Raden Saleh (ayah) kembali pulang ke rumah dalam keadaan tua renta serta miskin, akan tetapi Gunarto masih tetap saja menyimpan rasa kebencian pada ayahnya. Gunarto merasa bahwa selama ini dia tidak memiliki seorang ayah.
Kebencian Gunarto terhadap Raden Saleh (ayah) berbanding terbalik dengan perasaan Ibu, serta adik-adiknya. Mereka masih mau menerima ayahnya untuk kembali. Akan tetapi apa daya, kebencian Gunarto menimbulkan perasaan yang berkecamuk bagi Raden Saleh (ayah). Akhirnya Raden Saleh (ayah) memilih untuk pergi meninggalkan rumah dan memutuskan untuk tidak mengusik lagi kehidupan keluarga kecilnya yang pernah dia tinggalkan.

KONSEP PANGGUNG
Dalam cerita ini terdiri dari satu babak, konsep panggung sengaja kami buat
sesederhana mungkin tetapi tidak mengurangi kesesuaian dengan kenyataan
dalam kehidupan sehari-hari. Konsep panggung adalah rumah yang sangat sederhana. Adapun properti yang kami pakai sebagai berikut :
1. Mesih jahit
2. Almari kecil
3. Kain jahitan
4. Satu set kursi tamu
5. Gambar presiden dan wakil presiden
6. Gambar Garuda
7. Korden

KONSEP BUSANA
Busana yang digunakan para pemain sangat sederhana agar tidak mengurangi kesesuaian dengan kenyataan kehidupan sehari-hari. Konsep busana antara lain:
1. Raden Saleh (ayah) menggunakan baju compang-camping, celana hitam, sandal jepit.
2. Tina (ibu) menggunakan jarik, korset tempo dulu, baju sifon, kerpus jilbab, switer model lama, sandal jepit.
3. Gunarto menggunakan kemeja polos tempo dulu, celana hitam, ikat pinggang sandal.
4. Maimun menggunakan kemeja polos, celana hitam, ikat pinggang, dan sandal.
5. Mintarsih menggunakan kemeja tempo dulu, rok, sandal jepit, jilbab menyesuaikan.

KONSEP IRINGAN MUSIK
1. Iringan suara takbir dan bedug agar lebih terkesan pada malam hari raya Idul Fitri.
2. Musik instrument yang melo agar konflik batin terkesan lebih kuat.
3. Suara gemuruh petir dan hujan deras, kami memasukkan suara ini karena cocok dengan alur cerita pada saat Raden Saleh (ayah) pergi meninggalkan rumah.

STAF PRODUKSI
1. Sutradara : Dyoty Auliya V.G (101644026)
2. Asisten Sutradara : Nindy Pusvitaningtyas (101644027)
3. Stage Manager : Indah Sylvi S. (101644215)
4. Properti : Denis Erliza (101644072), Yunita Purwandini (101644076)
5. Dekorasi : Noor Murdiyah (101644044) Sofianingrum G.P (101644041)
6. Busana dan Rias: Maya Retno P. (101644075), Ulfa Gery A.(101644046)
7. Penata Musik : Mamluatul Karomah (081644039)

PEMERAN DRAMA “AYAHKU PULANG”
1. Raden Saleh: Zudha Wahyu Mustafa (101644045)
2. Tina: Erwin Nindya Putri (101644032)
3. Gunarto: Ardi Ismayadi (101644028)
4. Maimun: Johan Aditya G. (101644079)
5. Mintarsih: Nur Fitriyah (101644042)

KARAKTER TOKOH DALAM DRAMA
1. Raden Saleh: Tidak setia, mudah putus asa.
2. Tina: Penyabar, penyayang, pemaaf, keibuan.
3. Gunarto: Keras kepala, berpendirian kuat, rapuh.
4. Maimun: Tenang, penyayang, santun.
5. Mintarsih: Lemah lembut, penyayang, santun.

Penokohan:

1. RADEN SALEH: Ayah.
2. T I N A: Ibu atau Isteri Raden Saleh.
3. GUNARTO: Anak laki-laki tertua Raden Saleh dan Tina.
4. MAIMUN: Adik laki-laki Gunarto atau anak kedua Raden Saleh dan Tina.
5. MINTARSIH: Adik perempuan Gunarto dan Maimun atau anak bungsu Raden Saleh dan Tina.

Tata Panggung:

Panggung menggambarkan sebuah ruangan dalam dari sebuah rumah yang sangat sederhana dengan sebuah jendela agak tua. Dikiri kanan ruangan terdapat pintu. Disebelah kiri ruangan terdapat satu set kursi dan meja yang agak tua, disebelah kanan terdapat sebuah meja makan kecil dengan empat buah kursinya, tampak cangkir teh, kue-kue dan peralatan lainnya diatas meja. Suara adzan di latar belakang menunjukkan saat berbuka puasa.
Sebelum layar diangkat sebaiknya terlebih dahulu sudah terdengar suara beduk bersahut-sahutan diiringi suara takbir beberapa kali sebagai tanda kalau esok adalah hari raya idul fitri. Suara bedug dan takbir sebaiknya terus terdengar dari mulai layar diangkat/sandiwara dimulai sampai akhir pertunjukkan ini. Ketika sandiwara dimulai/layar panggung diangkat, tampak ibu sedang duduk dikursi dekat jendela. Ekspresinya kelihatan sedih dan haru mendengar suara beduk dan takbiran yang bersahut-sahutan itu. Kemudian masuk kepanggung gunarto.

1. Gunarto: “Ibu masih berfikir lagi…”
2. I b u: “Malam Hari Raya Narto. Dengarlah suara bedug itu bersahut Sahutan.” “Pada malam hari raya seperti inilah Ayahmu pergi dengan tidak meninggalkan sepatah katapun.”
3. Gunarto: “Ayah…”
4. I b u: “Keesokan harinya Hari Raya, selesai shollat ku ampun dosanya…”
5. Gunarto: “Kenapa masih Ibu ingat lagi masa lampau itu? Mengingat orang yang sudah tidak ingat lagi kepada kita?”
6. I b u: (Memandang Gunarto) “Aku merasa bahwa ia masih ingat kepada kita.”
7. Gunarto: (Bergerak Ke Meja Makan) “Mintarsih kemana, Bu?”
8. I b u: “Mintarsih keluar tadi mengantarkan jahitan, Narto.”
9. Gunarto: (Heran) “Mintarsih masih juga mengambil upah jahitan, Bu?” “Bukankah seharusnya ia tidak usah lagi membanting tulang sekarang?”
10. I b u: “Biarlah Narto. Karena kalau ia sudah kawin nanti,
kepandaiannya itu tidak sia-sia nanti.”
11. Gunarto: (Bergerak Mendekati Ibu, Lalu Bicara Dengan Lembut) “Sebenarnya Ibu mau mengatakan kalau penghasilanku tidak cukup untuk membiayai makan kita sekeluarga kan, Bu?” (Diam Sejenak. Pause) “Bagaimana dengan lamaran itu, Bu?”
12. I b u: “Mintarsih nampaknya belum mau bersuami, Narto.. Tapi dari pihak orang tua anak lelaki itu terus mendesak Ibu saja..”
13. Gunarto: “Apa salahnya, Bu? Mereka uangnya banyak!”
14. I b u: “Ah… uang, Narto?”
15. Gunarto: (Sadar Karena Tadi Berbicara Salah) “Maaf Bu… bukan maksud aku mau menjual adik sendiri” (Lalu Bicara Dengan Dirinya Sendiri). “Ah… aku jadi mata duitan… yah mungkin karena hidup yang penuh penderitaan ini…”
16. I b u: (Menerawang) “Ayahmu seorang hartawan yang mempunyai tanah dan kekayaan yang sangat banyak, mewah diwaktu kami menikah dulu. Tetapi kemudian, seperti pokok yang ditiup angin kencang, buahnya gugur karena…” (Suasana Sejenak Hening, Penuh Tekanan Bathin, Suara Ibu Lemah Tertekan) “Uang Narto! Tidak Narto, tidak… aku tidak mau terkena dua kali, aku tidak mau adikmu bersuamikan seorang Hartawan, tidak… cukuplah aku saja sendiri. Biarlah ia hidup sederhana, Mintarsih mestilah bersuamikan orang yang berbudi tinggi, mesti, mesti…”
17. Gunarto: (Coba Menghibur Ibu) “Tapi kalau bisa kedua-duanya Sekaligus Bu? Ada harta ada budi.”
18. I b u:”Dimanalah dicari, Narto? Adik kau Mintarsih hanyalah seorang gadis biasa. Apalagi sekarang ini keadaan kita susah? Kita tidak punya uang dirumah? Sebentar hari lagi uang simpananku yang terakhirpun akan habis pula.”
19. Gunarto: (Diam Berfikir, Kemudian Kesal) “Semua ini adalah karena ulah Ayah! Hingga Mintarsih harus menderita pula! Sejak kecil Mintarsih sudah merasakan pahit getirnya kehidupan. Tapi kita harus mengatasi kesulitan ini, Bu! Harus! Ini kewajibanku sebagai abangnya, aku harus lebih keras lagi berusaha!” (Hening Sejenak Pause. Lalu Bicara Kepada Dirinya Sendiri) Kalau saja aku punya uang sejuta…
20. I b u: “Buat perkawinan Mintarsih, lima ratus ribu rupiah saja sudah cukup,Narto.” (Ibu Coba Tersenyum) “Sesudah Mintarsih nanti, datanglah giliranmu Narto…”
21. Gunarto: (Kaget) “Aku kawin,Bu? Belum bisa aku memikirkan kesenangan untuk diriku sendiri sekarang ini, Bu. Sebelum saudara-saudaraku senang dan Ibu ikut mengecap kebahagiaan atas jerih payahku nanti Bu.”
SUARA BEDUG DAN TAKBIR TERDENGAR LEBIH KERAS SEDIKIT.
22. I b u: “Aku sudah merasa bahagia kalau kau bahagia, Narto. Karena nasibku bersuami tidak baik benar.” (Kembali Fikirannya Menerawang) “Dan kata orang bahagia itu akan turun kepada anaknya.” (Pause Lalu Terdengar Suara Bedug Takbir Lebih Keras Lagi. Ibu Mulai Bicara Lagi) “Malam hari raya sewaktu ia pergi itu, tak tahu aku apa yang mesti aku kerjakan? Tetapi…” (KEMBALI SEDIH DAN HARU)
23. Gunarto: (Tampak Kesal Lalu Mengalihkan Pembicaraan) “Maimun lambat benar pulang hari ini, Bu?”
24. I b u: “Barangkali banyak yang harus dikerjakannya? Karena katanya mungkin bulan depan dia naik gaji.”
25. Gunarto: “Betul bu itu? Maimun memang pintar, otaknya encer. Tapi karena kita tak punya uang kita tak bisa membiayai sekolahnya lebih lanjut lagi. Tapi kalau ia mau bekerja keras, tentu ia akan menjadi orang yang berharga di masyarakat!”
26. I b u : (Agak Mengoda) “Narto… siapa gadis yang sering ku lihat bersepeda bersamamu?”
27. Gunarto: (Kaget. Gugup) “Ah…dia itu cuma teman sekerja, Bu.”
28. I b u: “Tapi Ibu rasa pantas sekali dia buat kau, Narto. Meskipun Ibu lihat dia bukanlah orang yang rendah seperti kita derajatnya. Tapi kalau kau suka…”
29. Gunarto(Memotong Bicara Ibu) “Ah… buat apa memikirkan kawin sekarang, Bu? Mungkin kalau sepuluh tahun lagi nanti kalau sudah beres.”
30. I b u: “Tapi kalau Mintarsih nanti sudah kawin, kau mesti juga Narto? Kau kan lebih tua.” (Diam Sebentar Lalu Terkenang) “Waktu Ayahmu pergi pada malam hari raya itu, ku peluk kalian anak-anakku semuanya, hilang akalku…”
31. Gunarto: “Sudahlah Bu. Buat apa mengulang kaji lama?” MASUK MAIMUN DIA TAMPAK KELIHATAN SENANG.
32. Maimun: (Setelah Meletakkan Tas Kerjanya Lalu Bicara) ”Lama menunggu, Bu? Bang?”
33. Gunarto: “Ah tidak…”
34. I b u: “Agak lambat hari ini, Mun? Dimana kau berbuka puasa tadi?”
35. Maimun: “Kerja lembur, Bu. Tadi aku berbuka puasa bersama teman dikantor. Tapi biarlah, buat perkawinan Mintarsih nanti. Eh, mana dia Bu?”
36. I b u: “Mengantarkan jahitan…”
37. Maimun: (Menghampiri Gunarto Lalu Duduk Disebelahnya) “Bang, ada Kabar aneh, nih! Tadi pagi aku berjumpa dengan seorang tua yang serupa benar dengan Ayah?”
38. Gunarto: (Tampak Tak Terlalu Mendengarkan) “Oh, begitu?”
39. Maimun: “Waktu Pak Tirto berbelanja disentral, tiba-tiba ia berhadapan dengan seorang tua kira-kira berumur enam puluh tahun. Ia kaget juga?! Karena orang tua itu seperti yang pernah dikenalnya? Katanya orang tua itu serupa benar dengan Raden Saleh. Tapi kemudian orang itu menyingkirkan diri lalu menghilang dikerumunan orang banyak!”
40. Gunarto: “Ah, tidak mungkin dia ada disini…”
41. I b u: (Setelah Diam Sebentar) “Aku kira juga dia sudah meninggal dunia atau keluar negeri. Sudah dua puluh tahun semenjak dia pergi pada malam hari raya seperti ini.”
42. Maimun: “Ada orang mengatakan dia ada Singapur, Bu?”
43. I b u: “Tapi itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu kata orang dia mempunyai toko yang sangat besar disana. Dan kata orang juga yang pernah melihat, hidupnya sangat mewah.”
44. Gunarto: (Kesal) “Ya! Tapi anaknya makan lumpur!”
45. I b u: (Seperti Tidak Mendengar Gunarto) “Tapi kemudian tak ada lagi sama sekali kabar apapun tentang Ayahmu. Apalagi sesudah perang sekarang ini, dimana kita dapat bertanya?”
46. Maimun: “Bagaimana rupa Ayah yang sebenarnya, Bu?”
47. I b u: “Waktu ia masih muda, ia tak suka belajar. Tidak seperti kau. Ia lebih suka berfoya-foya. Ayahmu pada masa itu sangat disegani orang. Ia suka meminjamkan uang kesana kemari. Dan itulah…”
48. Gunarto: (Kesal Lalu Mengalihkan Pembicaraan) “Selama hari raya ini berapa hari kau libur, Mun?”
49. Maimun: “Dua hari, Bang.”
50. I b u: “Oh ya! Hampir lupa masih ada makanan yang belum Ibu Taruh dimeja. IBU LALU MASUK KEDALAM
51. Gunarto: (Setelah Diam Sebentar) “Pak Tirto bertemu dengan orang tua Itu kapan, Mun?”
52. Maimun: “Kemarin sore, Bang. Kira-kira jam setengah tujuh.”
53. Gunarto: “Bagaimana pakaiannya?”
54. Maimun: “Tak begitu bagus lagi katanya. Pakaiannya sudah compang camping dan kopiahnya sudah hampir putih.”
55. Gunarto: (Acuh Saja) “Oh begitu?”
56. Maimun: “Kau masih ingat rupa Ayah, Bang?”
57. Gunarto: (Cepat) “Tidak ingat lagi aku.”
58. Maimun: “Semestinya abang ingat, karena umur abang waktu itu sudah delapan tahun. Sedangkan aku saja masih ingat, walaupun samar-samar.”
59. Gunarto: (Agak Kesal) “Tidak ingat lagi aku. Sudah lama aku paksa Diriku untuk melupakannya.”
60. Maimun: (Terus Bicara) “Pak Tirto banyak cari tanya tentang Ayah.” IBU KELUAR KEMBALI MEMBAWA MAKANAN LALU BERGABUNG LAGI DENGAN MEREKA.
61. I b u: “Ya, kata orang Ayahmu seorang yang baik hati.” (MENERAWANG) “Jika ia berada disini sekarang, dirumah ini, besok hari raya, tentu ia bisa bersenang-senang dengan anak-anaknya…”
62. Gunarto: (Mengalihkan Pembicaraan) “Eh, Mintarsih seharusnya sudah pulang sekarang… jam berapa sekarang ini?”
63.Maimun: “Bang Narto. Ada kabar aneh lagi nih! Tadi pagi aku Berkenalan dengan orang India. Dia mengajarkan aku bahasa Urdu, dan aku memberikan pelajaran bahasa Indonesia kepada dia!
64. Gunarto: “Baguslah itu. Kau memang harus mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya. Supaya nanti dapat dibanggakan kalau kau bisa jadi orang yang sangat berguna bagi masyarakat! Jangan seperti aku ini, hanya lulusan sekolah rendah. Aku tidak pernah merasakan atau bisa lebih tinggi lagi, karena aku tidak punya Ayah. Tidak ada orang yang mau membantu aku. Tapi kau Maimun, yang sekolah cukup tinggi, bekerjalah sekuat tenagamu! Aku percaya kau pasti bisa memenuhi tuntutan zaman sekarang ini!” MASUK MINTARSIH SEORANG ANAK GADIS YANG TAMPAK RIANG. IA MEMBAWA SESUATU YANG TAMPAKNYA UNTUK KEPERLUAN HARI RAYA BESOK.

65.  Mintarsih: “Ah…. sudah berbuka puasa semuanya?”

66.  I b u: “Tadi kami menunggu kau, tapi lama benar?” (Mintarsih Bergerak Mendekati Jendela Lalu Melongokkan Kepalanya Melihat Keluar) “Makanlah… Apa yang kau lihat diluar?”Mintarsih: “Waktu saya lewat disitu tadi…” (Menoleh Melihat GunartoYang Tampak Acuh Saja) “Bang Narto… dengarlah dulu…”

67.  Gunarto: (Tenang) “Ya, aku dengar.”

68. Mintarsih: “Ada orang tua diujung jalan ini. Dari jembatan sana melihat lihat kearah rumah kita. Nampaknya seperti seorang pengemis.” (Semua Diam)  “Yah… kenapa semua jadi diam?”  GUNARTO TERTUNDUK MEMBISU

69. Maimun: (Dengan Cepat)  “Orang tua? Bagaimana rupanya?”

70. Mintarsih: “Hari agak gelap. Jadi tidak begitu jelas kelihatannya… tapi orangnya…”

TINGGI ATAU PENDEK TERGANTUNG PEMERAN, SUARA BEDUG AGAK KERAS TERDENGAR.

71. Maimun: (Bangkit Dari Duduknya Lalu Melihat Ke Jendela) “Coba ku lihat!”

KEMUDIAN MAIMUN KELUAR  TAK LAMA MASUK KEMBALI, LALU MELONGOKKAN KEPALANYA KE JENDELA LAGI

72Gunarto: (Menoleh Sedikit Kepada Maimun) “ Siapa Mun?”

73.  Maimun: “Tak ada orang kelihatannya?!” (Duduk Kembali)

74. I b u: (Tampak Sedih)  “Malam hari raya seperti ini ia berlalu dulu itu…” (Terkenang) Mungkin …”

75. Gunarto: (Agak Kesal) “Ah Bu, lupakan sajalah apa yang sudah berlalu itu.”

SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN TERDENGAR AGAK JELAS KETIKA SUASANA HENING, SAMBIL MENUNGGU DIALOG.

76.  I b u: “Waktu kami masih sama-sama muda, kami sangat berkasih kasihan. Sejelek-jelek Ayahmu, banyak juga kenangan-kenangan di masa itu yang tak dapat Ibu lupakan. Nak, mungkin ia kembali juga?”

SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN MAKIN SAYUP-SAYUP LALU TERDENGAR SUARA ORANG MEMBERI SALAM DARI PINTU LUAR.

77.  R. Saleh: “Assalamualaikum, assalamualaikum… apa disini rumahnya Nyonya Saleh?”

78.  I b u: “Astagfirullah! Seperti suara Ayahmu, nak? Ayahmu pulang, nak! “

IBU BERGERAK MENDEKATI PINTU RUMAH LALU MEMBUKA PINTU LEBIH LEBAR. DAN NAMPAK RADEN SALEH BERDIRI DIHADAPANNYA. SUASANA JADI HENING TIBA-TIBA. HANYA TERDENGAR SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN YANG SAYUP-SAYUP NAMUN JELAS TERDENGAR.

79. R. Saleh: (Setelah Lama Berpandangan) “Tina? Engkau Tina?”

80. I b u: (Agak Gugup) “Saleh? Engkau Saleh? Engkau banyak berubah, Saleh.”

81. R. Saleh: (Tersenyum Malu)  “Ya aku berubah, Tina. Dua puluh tahun perceraian merubah wajahku.” (Kemudian Memandangi Anak-Anaknya Satu Persatu) “Dan ini tentunya anak-anak kita semua?”

82. I b u: “Ya, memang ini adalah anak-anakmu semua. Sudah lebih besar dari Ayahnya. Mari duduk, dan pandangilah mereka.

83. R. Saleh: (Ragu) “Apa? Aku boleh duduk, Tina?” MINTARSIH MENARIK KURSI UNTUK MEMPERSILAHKAN RADEN SALEH DUDUK.

84.  I b u: “Tentu saja boleh. Mari…” (Menuntun raden saleh sampai ke kursi) Ayahmu pulang, Nak.

85. Maimun: (Gembira Lalu Berlutut Dihadapan Raden Saleh) ”Ayah, aku Maimun.”

86. R. Saleh: “Maimun? Engkau sudah besar sekarang, Nak. Waktu aku Pergi dulu, engkau masih kecil sekali. Kakimu masih lemah, belum dapat berdiri.” (Diam sebentar lalu melihat mintarsih) “Dan Nona ini, siapa?”

88. Mintarsih: “Saya Mintarsih, Ayah.” (Lalu Mencium Tangan Ayahnya)

89. R. Saleh: “Ya, ya… Mintarsih. Aku dengar dari jauh bahwa aku mendapat seorang anak lagi. Seorang putri”. (Memandang Wajah Mintarsih) “Engkau cantik, Mintarsih. Seperti Ibumu dimasa muda.” (Ibu Tersipu Malu) “Aku senang sekali. Tak tahu apa yang harus ku lakukan?”

90. I b u: “Aku sendiri tidak tahu dimana aku harus memulai berbicara? Anak-anak semuanya sudah besar seperti ini. Aku kira inilah bahagia yang paling besar.”

91. R. Saleh: (Tersenyum Pahit) “Ya, rupanya anak-anak dapat juga besar walaupun tidak dengan Ayahnya.”

92. I b u: “Mereka semua sudah jadi orang pandai sekarang. Gunarto bekerja diperusahaan tenun. Dan Maimun tak pernah tinggal kelas selama bersekolah. Tiap kali keluar sebagai yang pertama dalam ujian. Sekarang mereka sudah mempunyai penghasilan masing-masing. Dan Mintarsih dia ini membantu aku menjahit.”

93. Mintarsih: (Malu) “Ah, Ibu.”

94. R. Saleh: (Sambil Batuk-Batuk) “Sepuluh tahun aku menjadi seorang saudagar besar disingapur. Aku menjadi kepala perusahaan dengan pegawai berpuluh-puluh orang. Tapi malang bagiku, toko itu habis terbakar. Lalu seolah-olah seperti masih belum puas menyeret aku kelembah kehancuran, saham-saham yang ku beli merosot semua nilainya sehabis perang ini. Sesudah itu semua segala yang kukerjakan tak ada lagi yang sempurna. Sementara aku sudah mulai tua. Lalu tempat tinggalku, keluargaku, anak isteriku tergambar kembali didepan mata dan jiwaku. Kalian seperti mengharapkan kasihku.” (Batuk-batuk. Lalu memandang Gunarto) “Maukah engkau memberikan air segelas buat ku Gunarto? Hanya engkau yang tidak…”

95. I b u: (Gelisah Serba Salah) “Narto, Ayahmu yang berbicara itu.” “Mestinya engkau gembira, nak. Sudah semestinya Ayah berjumpa kembali dengan anak-anaknya yang sudah sekian lama tidak bertemu.”

96. R. Saleh: “Kalau Narto tak mau, engkaulah Maimun. Maukah kau memberikan Ayah air segelas?”

97. Maimun: “Baik, Ayah.” MAIMUN BERGERAK HENDAK MENGAMBILKAN AIR MINUM, TAPI NIATNYA TERHENTI OLEH TEGURAN KERAS GUNARTO.

98. Gunarto: “Maimun! Kapan kau mempunyai seorang Ayah!”

99. I b u: “Gunarto!” (Sedih, Gelisah Dan Mulai Menangis)

100. Gunarto: (Bicara Perlahan Tapi Pahit) “Kami tidak mempunyai Ayah, Bu. Kapan kami mempunyai seorang Ayah?”

101. I b u: (Agak Keras Tapi Tertahan) “Gunarto! Apa katamu itu!”

102. Gunarto: “Kami tidak mempunyai seorang Ayah kataku. Kalau kami mempunyai Ayah, lalu apa perlunya kami membanting tulang selama ini? Jadi budak orang! Waktu aku berumur delapan tahun, aku dan Ibu hampir saja terjun kedalam laut, untung Ibu cepat sadar. Dan jika kami mempunyai Ayah, lalu apa perlunya aku menjadi anak suruhan waktu aku berumur sepuluh tahun? Kami tidak mempunyai seorang Ayah. Kami besar dalam keadaan sengsara. Rasa gembira didalam hati sedikitpun tidak ada. Dan kau Maimun,. Lupakah engkau waktu menangis disekolah rendah dulu? Karena kau tidak bisa membeli kelereng seperti kawan-kawanmu yang lain. Dan kau pergi kesekolah dengan pakaian yang sudah robek dan tambalan sana-sini? Itu semua terjadi karena kita tidak mempunyai seorang Ayah! Kalau kita punya seorang Ayah, lalu kenapa hidup kita melarat selama ini!”

IBU DAN MINTARSIH MULAI MENANGIS DAN MAIMUN MERASA SEDIH.

103. Maimun: “Tapi bang, Narto. Ibu saja sudah memaafkannya. Kenapa kita tidak?”

104. Gunarto: (Sikapnya Dingin, Namun Keras) “Ibu seorang perempuan. Waktu aku kecil dulu, aku pernah menangis dipangkuan Ibu karena lapar, dingin dan penyakitan, dan Ibu selalu bilang “Ini semua adalah kesalahan Ayahmu, Ayahmu yang harus disalahkan.” Lalu kemudian aku jadi budak suruhan orang! Dan Ibu jadi babu mencuci pakaian kotor orang lain! Tapi aku berusaha bekerja sekuat tenagaku! Aku buktikan kalau aku dapat memberi makan keluargaku! Aku berteriak kepada dunia, aku tidak butuh pertolongan orang lain! Yah.. orang yang meninggalkan anak dan isterinya dalam keadaan sengsara. Tapi aku sanggup menjadi orang yang berharga, meskipun aku tidak mengenal kasih sayang seorarng ayah! Waktu aku berumur delapan belas tahun, tak lain yang selalu terbayang dan terlihat diruang mataku hanya gambaran Ayahku yang telah sesat! Ia melarikan diri dengan seorang perempuan asing yang lalu menyeretnya kedalam lembah kedurjanaan! Lupa ia kepada anak dan isterinya! Juga lupa ia kepada kewajibannya karena nafsunya telah membawanya kepintu neraka! Hutangnya yang ditinggalkan kepada kita bertimbun-timbun! Sampai-sampai buku tabunganku yang disimpan oleh Ibu ikut hilang juga bersama Ayah yang minggat itu! Yah, masa kecil kita sungguh-sungguh sangat tersiksa. Maka jika memang kita mempunyai Ayah, maka Ayah itulah musuhku yang sebesar-besarnya!”

105. I b u: “Gunarto!” (Mintarsih Dan Ibu Menangis)

106. Maimun: “Bang!”

107. Mintarsih: “Bang!” KALAU MUNGKIN DIALOG MEREKA BERTIGA TADI DIUCAPKAN BERBARENGAN

108. Maimun: (Dengan Suara Agak Sedih) “Tapi, Bang. Lihat Ayah sudah Seperti ini sekarang. Ia sudah tua bang Narto.”

109. Gunarto: “Maimun, sering benar kau ucapkan kalimat “Ayah” kepada orang yang tidak berarti ini? Cuma karena ada seorang tua yang masuk kerumah ini dan ia mengatakan kalau ia Ayah kita, lalu kau sebut pula ia Ayah kita? Padahal dia tidak kita kenal. Sama sekali tidak Maimun. Coba kau perhatikan apakah kau benar-benar bisa merasakan kalau kau sedang berhadapan dengan Ayah mu?”

110. Maimun: “Bang Narto, kita adalah darah dagingnya. Bagaimanapun buruknya kelakuan dia kita tetap anaknya yang harus merawatnya.”

111. Gunarto: “Jadi maksudmu ini adalah kewajiban kita? Sesudah melepaskan hawa nafsunya dimana-mana, lalu sekarang ia kembali lagi kesini karena sudah tua dan kita harus memeliharanya? Huh, enak betul!”

112. I b u: (Bingung, Serba-Salah)  “Gunarto, sampai hati benar kau Berkata begitu terhadap Ayahmu. Ayah kandungmu.

113. Gunarto: (Cepat)  “Ayah kandung? Memang Gunarto yang dulu pernah punya Ayah, tapi dia sudah meninggal dunia dua puluh tahun yang lalu. Dan Gunarto yang sekarang adalah Gunarto yang dibentuk oleh Gunarto sendiri! aku tidak pernah berhutang budi kepada siapapun diatas dunia ini. Aku merdeka, semerdeka merdekanya, Bu!” SUARA BEDUG DAN TAKBIR BERSAHUT-SAHUTAN DIIRINGI SUARA TANGIS IBU DAN MINTARSIH.

114. R. Saleh: (Diantara Batuknya) “Aku memang berdosa dulu itu. Aku mengaku. Dan itulah sebabnya aku kembali pada hari ini. Pada hari tuaku untuk memperbaiki kesalahan dan dosaku. Tapi ternyata sekarang…. yah, benar katamu Narto. Aku seorang tua dan aku tidak bermaksud untuk mendorong-dorongkan diri agar diterima dimana tempat yang aku tidak dikehendaki.” (Berfikir,sementara maimun tertunduk diam dan mintarsih menangis dipelukan ibunya) “Baiklah aku akan pergi. Tapi tahukah kau Narto, bagaimana sedih rasa hatiku. Aku yang pernah dihormati, orang kaya yang memiliki uang berjuta-juta banyaknya, sekarang diusir sebagai pengemis oleh seorang anak kandungnya sendiri… tapi biarlah sedalam apapun aku terjerumus kedalam kesengsaraan, aku tidak akan mengganggu kalian lagi.” (Berdiri Hendak Pergi, Tetap Batuk-Batuk)

115. Maimun: (Menahan) “Tunggu dulu, Ayah! Jika Bang Narto tidak mau menerima Ayah, akulah yang menerima Ayah. Aku tidak perduli apa yang terjadi!”

116. Gunarto: “Maimun! Apa pernah kau menerima pertolongan dari orang tua seperti ini? Aku pernah menerima tamparan dan tendangan juga pukulan dari dia dulu! Tapi sebiji djarahpun, tak pernah aku menerima apa-apa dari dia!”

117. Maimun: “Jangan begitu keras, Bang Narto.”

118. Gunarto: (Marah, Dengan Cepat) “Jangan kau membela dia! Ingat, siapa yang membesarkan kau! Kau lupa! Akulah yang membiayaimu selama ini dari penghasilanku sebagai kuli dan kacung suruhan! Ayahmu yang sebenar-benarnya adalah aku!”

119. Mintarsih: “Engkau menyakiti hati Ibu, Bang.” (Sambil Tersedu-Sedu)

120. Gunarto: “Kau ikut pula membela-bela dia! Sedangkan untuk kau, aku juga yang bertindak menjadi Ayahmu selama ini! Baiklah, peliharalah orang itu jika memang kalian cinta kepadanya! Mungkin kau tidak merasakan dulu pahit getirnya hidup karena kita tidak punya seorang Ayah. Tapi sudahlah, demi kebahagiaan saudara-saudaraku, jangan sampai menderita seperti aku ini.” IBU DAN MINTARSIH TERUS MENANGIS, SEMENTARA MAIMUN DIA KAKU, SUARA BEDUG DAN TAKBIR TERUS BERSAHUT-SAHUTAN. LALU TERDENGAR SUARA GEMURUH PETIR DAN HUJANPUN TURUN.

121. R. Saleh: “Aku mengerti… bagiku tidak ada jalan untuk kembali. Jika Aku kembali aku hanya mengganggu kedamaian dan kebahagiaan anakku saja. Biarlah aku pergi. Inilah jalan yang terbaik. Tidak ada jalan untuk kembali. RADEN SALEH BERGERAK PERLAHAN SAMBIL BATUK-BATUK, SEMENTARA MAIMUN MENGIKUTI DARI BELAKANG.

122. Maimun: “Ayah, apa Ayah punya uang? Ayah sudah makan?”

123. Mintarsih: (Dengan Air Mata Tangisan) “Kemana Ayah akan pergi sekarang?”

124. R. Saleh: “Tepi jalan atau dalam sungai. Aku cuma seorang pengemis sekarang. Seharusnya memang aku malu untuk masuk kedalam rumah ini yang kutinggalkan dulu. Aku sudah tua lemah dan sadar, langkahku terayun kembali. Yah, sudah tiga hari aku berdiri didepan sana, tapi aku malu tak sanggup sebenarnya untuk masuk kesini. Aku sudah tua, dan…” RADEN SALEH MEMANDANGI ANAK-ANAKNYA SATU PERSATU LALU KELUAR DENGAN PERLAHAN SAMBIL BATUK-BATUK. BERJALAN LEMAH DIIRINGI SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN YANG SAYUP-SAYUP MASIH TERDENGAR, SEMENTARA HUJAN MULAI TURUN DENGAN DERAS.

125. I b u: (Sambil Menangis) “Malam hari raya dia pergi dan datang Untuk pergi kembali. Seperti gelombang yang dimainkan oleh angin topan. Demikianlah nasib Ibu, Nak.”

126. Mintarsih: (Sambil Menangis Menghampiri Gunarto, Lalu Bergerak Kedekat Jendela) “Bang…. bagaimanakah Abang? Tidak dapatkah Abang memaafkan Ayah? Besok hari raya, sudah semestinya kita saling memaafkan. Abang tidak kasihan? Kemana dia akan pergi setua itu?” HUJAN SEMAKIN DERAS

127. Maimun: (Kesal) “Tidak ada rasa belas kasihan. Tidak ada rasa tanggung jawab terhadap adik-adiknya yang tidak berAyah lagi.”

128. Mintarsih: “Dalam hujan lebat seperti ini, Abang suruh dia pergi. Dia Ayah kita Bang. Ayah kita sendiri!

129. Gunarto: (Memandang Adiknya) “Janganlah kalian lihat aku sebagai terdakwa. Mengapa kalian menyalahkan aku saja? Aku sudah hilangkan semua rasa itu! Sekarang kalian harus pilih, dia atau aku!”

130. Maimun: (Tiba-Tiba Bangkit Marahnya) “Tidak! Aku akan panggil kembali Ayahku pulang! Aku tidak perduli apa yang Abang mau lakukan? Kalau perlu bunuh saja aku kalau Abang mau! Aku akan panggil Ayahku! Ayahku pulang! Ayahku mesti pulang!” MAIMUN LARI KELUAR RUMAH, SEMENTARA HUJAN MAKIN LEBAT DIIRINGI SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN SAYUP-SAYUP TERDENGAR.

131. Gunarto: “Maimun kembali!” GUNARTO CEPAT HENDAK MENYUSUL MAIMUN TAPI TIDAK JADI LALU PERLAHAN-LAHAN DUDUK KEMBALI. IBU DAN MINTARSIH MENANGIS. SUASANA HENING SEJENAK HANYA TERDENGAR SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN SERTA GEMURUH HUJAN. TAK BERAPA LAMA TAMPAK MAIMUN MASUK KEMBALI. NAMUN IA HANYA MEMBAWA PAKAIAN  DAN KOPIAH AYAHNYA SAJA. MAIMUN KELIHATAN MENANGIS.

132. Mintarsih: “Mana Ayah, Bang?”

133. I bu: “Mana Ayahmu?”

134. Maimun: “Tidak aku lihat. Hanya kopiah dan bajunya saja yang kudapati…”

135. Gunarto: “Maimun, dimana kau dapatkan baju dan kopiah itu?”

136. Maimun: “Dibawah lampu dekat jembatan…”

137. Gunarto: “Lalu Ayah? Bagaimana dengan Ayah? Dimana Ayah?”

138 Maimun: “Aku tidak tahu…”

139. Gunarto:(Kaget dan Sadar) “Jadi, jadi Ayah meloncat kedalam sungai!”

140. I b u: (Menjerit) “Gunarto….!”

141. Gunarto: (Berbicara Sendiri Sambil Memeggang Pakaian Dan Kopiah Ayahnya. Tampak Menyesal) “Dia tak tahan menerima penghinaan dariku. Dia yang biasa dihormati orang, dan dia yang angkuh, yah, angkuh seperti diriku juga… Ayahku. Aku telah membunuh Ayahku. Ayahku sendiri. Ayahku pulang, Ayahku pulang…” GUNARTO BERTERIAK MEMANGGIL-MANGGIL AYAHNYA LALU LARI KELUAR RUMAH DAN TERUS BERTERIAK-TERIAK SEPERTI ORANG GILA. IBU MINTARSIH DAN MAIMUN BERBARENGAN BERTERIAK MEMANGGIL GUNARTO “GUNARTO….!!” SUARA BEDUG BERSAHUT-SAHUTAN DIIRINGI TAKBIR. SEMENTARA HUJAN MASIH SAJA TURUN DENGAN DERASNYA. LAMPU PANGGUNG PERLAHAN-LAHAN MATI LALU LAYAR TURUN.

S  E  L  E  S  A  I

Catatan: Dialog no 87 tidak ada

“Onde-onde Maut”

Posted: 2 Februari 2013 in Naskah Drama

PIC_0133

 

Dipentaskan pada, 12 Januari 2013

 

Penulis Naskah: Ria Khoirun Nisak dan Berry wahyu K.

Sifat: Adaptasi Naskah Drama “Sitty Noerbaja” karangan Ilham Yusardi

Jumlah Babak: 2 (dua)

Jumlah pemain: 13

Genre: Tragedi

Durasi: 60 menit

NAMA ANGGOTA KELOMPOK:

Al Kindi                                 ( 081644069 )

Rifka Kusuma Jaya            ( 101644056 )

Bery Wahyu Kurniawan    ( 101644057 )

Citra Amalia                         (101644058 )

Junita Indah Muwahidah  ( 101644060 )

Retty Dwi Ratnasari           ( 101644961 )

Risma Heni Susanti            ( 101644062 )

Novaria Lailatul Jannah    ( 101644063 )

Erna Indah Yuliani             ( 101644093 )

Eka Wahyu Hidayati         ( 101644095 )

Ria Khoirun Nisak               ( 101644097 )

Rabi’ah Al Adawiyah         ( 101644103 )

Yesi Arfianti                         ( 101644258 )

Noviarni Ardilah                  ( 101644273 )

Sukma Vavilya                    ( 101644274 )

 

RANCANGAN PEMENTASAN

STAF PRODUKSI PEMENTASAN

Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si

Staf Produksi:

Sutradara: Ria Khoirun Nisak

Astrada: Bery Wahyu Kurniawan

Pengadaptasi Naskah: 1.Ria Khoirun Nisak,  2. Bery Wahyu K.

Penata:

Penata Panggung : Risma Heni Susanti dan Tim

Penata Rias          : Eka Wahyu H.

Penata Busana    : Tim

Penata Musik       : 1.Rabi’ah Al Adawiyah,   2.Citra Amalia,   3.Al Kindi

Staf Administrasi

Bendahara  : Sukma Vavilya

 

PEMAIN

SITTY SOERABAJA          : Noviarni Ardilah

SAMSUL BAHRI                : Bery Wahyu Kurniawan

DATUK MARKINDI          : Al Kindi

IBU                                        : Sukma Vavilya

TIARA                                   : Retty Dwi Ratnasari

ARIN                                     : Junita Indah Muwahidah

SHINTA                                : Erna Indah Yuliani

DAYANG 1                           : Rifka Kusuma Jaya

DAYANG 2                           : Risma Heni Susanti

DAYANG 3                           : Eka Wahyu Hidayati

PEDAGANG                         : Novaria Lailatul Jannah

PEDAGANG PALSU           : Rabi’ah Aladawiyah

BAYANGAN                        : Citra Amalia

NARATOR                           : Yesi Arfianti

 

PENOKOHAN

 

SITTY SOERABAJA          : Baik hati, kalem, santun, tegas, cerdas

SAMSUL BAHRI                : Baik hati, macho, romantis

DATUK MARKINDI          : Sombong, keras kepala, egois, angkuh

IBU                                        : Sabar, baik hati

TIARA                                   : Cuek, kocak, konyol.

ARIN                                     : Baik hati, Centil

SHINTA                                : Lemah lembut, baik hati

DAYANG 1                           : Centil, manja

DAYANG 2                           : Cool, sedikit jahat

DAYANG 3                           : Judes, jahat

PEDAGANG                         : Lemah lembut, baik hati,

PEDAGANG PALSU           : Ceroboh, mudah gugup, oon

BAYANGAN                        : Dingin, misterius.

 

KONSEP CERITA

 

Konsep cerita dalam “Onde-Onde maut ” adalah sejenis drama tragedi tentang percintaan dua anak manusia yang mendapatkan beberapa cobaan. Dalam naskah ini, kami memasukkan beberapa unsur romantisme dan konflik yang membuat penonton tidak merasa jenuh dengan dialog-dialog yang  panjang. Naskah ini kami rangkai sedemikian rupa agar menarik bagi penonton

SINOPSIS CERITA

Di sebuah rumah sederhana, tinggallah ibu dan anak gadisnya yang bernama Sitty Soerabaja. Keluarga kecil ini terlilit hutang pada rentenir yang tidak lain adalah Datuk Markindi. Besarnya bunga pinjaman  yang semakin menggunung membuat keluarga ini tak bisa melunasinya.

Sitty yang berparas cantik lagi baik hati membuat Datuk tertarik. Karena  Hutang yang menumpuk tersebut, Datuk berniat untuk membebaskan hutang kelurga tersebut, dengan jaminan dapat memperistri Sity.

Gadis baik hati yang disayangi oleh teman-temannya ini menolak, karena perbedaan umur, terlebih kerana ia telah memiliki Samsul  sebagai kekasihnya..

Melihat kedekatan Sitty dan Samsul, membuat emosi Datuk naik dan menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan saingannya dengan cara meracuni Samsul melalui pedagang palsu sururhannya.

Namun naas, ternyata Sitti yang teracuni sehingga membuat gadis cantik ini meninggal, Samsul yang mengetahui kejadian ini tidak terima, dan timbullah perkelahian. Datuk yang membawa keris berniat menusuk Samsul, tapi senjata makan tuan, keris itu berbalik menusuk pemiliknya. Dan akhirnya Datuk meninggal

ALUR CERITA

Alur dalam naskah ini adalah alur maju

KONSEP PANGGUNG

Cerita ini terdiri dari 2 babak, konsep panggung kami buat sedemikian rupa dan sesederhana mungkin tapi tidak mengurangi kesesuaian dengan kenyataan. Adapun properti yang digunakan adalah:

Babak I

Menggambarkan rumah seorang petani miskin, dimana ada sebuah kursi kayu, meja beserta taplak meja, ceret dan gelas di atasnya, jam, sabit dan topi sawah yang tertempel didinding.

Babak II

Mengambarkan halte bis yang disebelahnya ada gerobak, kursi dan rambu-rambu lalu lintas.

Lighting dan Musik.

Opening : “Anak Sekolah” by Chrisye

Babak I

1 – 19     : “sad piano from episode 3” , piano cover by Sherin Kim + efek ketukan dan pintu terbuka

20           : beethoven’s 5th symphony

21 – 26  : “sad piano from episode 3” , piano cover by Sherin Kim

Babak II

Efek suara halte bus, kendaraan bermotor, jalan raya

27 – 31  : “sad piano from episode 3” , piano cover by Sherin Kim

33           :  “Kepompong” by Sindencosta (ketika Tiara dan Arin bergabung dg Siti dan Sinta)

46           : Efek suara “ting” (ketika dialog arin : ask the audience), efek suara “kring” (ketika dialog Arin : phone a friends)

57 – 87  : “First love”, piano cover

 

Babak II & Bagian III

“Namaku Bento” by Iwan Fals, ketika Datuk masuk

88 – 104 : “Fur Elise” by Beethoven

104 – 159 : Pirates of the Caribean by the piano guys

160  – 187 : “torn apart dark sad angry piano “

Bagian  IV

187         : “Pink Panther”, ketika pedagang palsu masuk

187 – 213 : (sela – sela) Efek suara kendaraan bermotor, jalan raya

215 – 233 : Pirates of the Caribean by the piano guys

234 – 239 : “instrument 3th” , piano cover by Sherin Kim

240         : —

240 – 250 : “instrument 3th” , piano cover by Sherin Kim

Bagian V

251 – 258 :“Twinkle Lullaby”, by the Piano Guys

Ending   : “Tak Ada yang Abadi” by peterpan , piano cover

Kostum dan Riasan

SITTY SOERABAJA: Berseragam sekolah abu-abu dengan riasan natural

SAMSUL BAHRI: Berseragam sekolah abu-abu dengan riasan natural

DATUK MARKINDI: Memakai jas jawa dengan riasan tua

IBU: Daster, sweater, shall dengan riasan pucat

TIARA, Berseragam sekolah abu-abu dengan riasan natural

ARIN: Berseragam sekolah abu-abu dengan riasan natural

SHINTA: Berseragam sekolah abu-abu dengan riasan natural

DAYANG I: Celana hitam, baju putih, dasi kupu-kupu, kacamata hitam, membawa alat make up dan kipas dengan sedikit bermake up tebal (menor)

DAYANG II: Celana hitam, baju putih, dasi kupu-kupu, kacamata hitam, membawa pistol dengan sedikit bermake up tebal (menor)

DAYANG III: Celana hitam, baju putih, dasi kupu-kupu, kacamata hitam, membawa pistol dengan sedikit bermake up tebal (menor)

PEDAGANG: Daster dan kerudung dengan riasan lusuh

PEDAGANG PALSU ( SURUHAN DATUK ): Kaos pendek dan berkerudung  dengan riasan lusuh

BAYANGAN: Jubah Hitam, mata memakai lensa putih dengan make up tebal

PENTAS DRAMA DIBUKA DENGAN KONSEP TARIAN SEDERHANA YANG DI UMPAKAN SEBAGAI KEGIATAN LATIHAN ANAK SMA UNTUK PERSIAPAN LOMBA.

BABAK I

PENTAS MENGGAMBARKAN RUANGAN SEBUAH RUMAH SEORANG PEREMPUAN PARUH BAYA. PEREMPUAN ITU SEDANG MENUNGGU KEDATANGAN ANAKNYA. IA TERBATUK-BATUK SEMBARI MENGUSAP-USAP DADANYA MENAHAN SAKIT.

NARATOR           :

TINGGALAH SEORANG IBU DAN ANAK PEREMPUANNYA DALAM RUMAH KECIL YANG BEGITU SEDERHANA. TAK NAMPAK  KEMEWAHAN DALAM RUMAH SEDERHANA TERSEBUT. SEMUA TERLIHAT SEPERTI RUMAH-RUMAH PETANI MISKIN PADA UMUMNYA. MALAM SEMAKIN LARUT, NAMUN SI IBU TAK KUNJUNG BERANJAK DARI TEMPAT DUDUKNYA. MENUNGGU KEPULANGAN SANG ANAK. PEREMPUAN ITU TERBATUK BATUK SEMBARI MENGUSAP DADANYA MENAHAN SAKIT.

IBU

Sudah pulang kamu nak?

SITTY :

Iya, kenapa ibu belum istirahat

Istirahatlah bu, sudah terlalu larut.

IBU :

Tidak mudah tidur bagi ibu sekarang ini, Sitty.

Dipejam mata tak terpejam

Direbah tubuh tak jua senang perasaan.

SITTY :

Apalagi yang ibu pikirkan ? Bukankah ibu pernah bilang pada Sitty,

Tidaklah beban jadi rasian. Habis daging dihisapnya.

IBU :

Sitty, anakku. Kamu ini seperti orang dulu bilang,

Kecil tak lagi untuk disuruh-suruh.

Besar belumlah dapat ditumpangi.

SITTY :

Ah, ibu. Kecil Sitty anak ibu, besar juga tetap anak ibu. Kalau boleh Sitty tahu, apa yang ibu pikirkan ?

IBU :

Dipintal benang dengan gulungan

Biar berpisah pangkal dengan ujungnya

Tak kusut pula dalam genggaman.

Tapi, kali ini kamu terpegang ujung benang, Sitty.

Ibu memintal dari pangkalnya.

SITTY :

Kalaulah ujung di tangan Sitty, tentulah Sitty takkan berlepas tangan.

Ceritakanlah ibu. Sitty akan mendengarkan.

IBU :

( MENARIK NAFAS )

Berniaga ke tanah Jawa dagang emas dengan budi bahasa.

Tapi, bagaimanapun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.

Nasib tertoreh di telapak tangan.

Niat hendak menyekolahkanmu tinggi-tinggi, biar bertambah isi kepala.

Cita-cita membumbung langit, Tuhan dari atas jua yang menentukan.

Jerih peluh usaha niaga kita kali ini telah habis surut, Sitty. ibu tak dapat lagi berbuat apa-apa. Sekarang, kamu juga tahu, harta ibu hanya tinggal badan sepembawaan ini. Hutang-hutang tumbuh melilit pinggang. Mencekik kerongkongan.

SITTY :

Sitty mengerti, bu.

IBU :

Hutang emas dibayar emas. Hutang budi, tentulah dibawa mati.

SITTY :

Benar bu.

IBU :

Kemarin DATUK MARKINDI datang ke sini. Tak lain untuk menagih hutang pinjaman dagang yang sudah jatuh tempo. Ibu meminta Datuk menambah jangka waktu yang diberikan. Tapi, dia menolak. Karena telah melewati batas waktu yang seharusnya. Sehingga bunganya sudah berlipat ganda. Rumah yang satu-satunya inipun hendak disitanya. Dan itupun belum juga akan menutupi hutang kita Sitty.

SITTY :

Iya, bu. Sitty paham.

IBU :

Panjang cerita segelas kopi, direntang masa setinggi bulan. Bersilat lidah di perbincangan, berkecamuk darah dalam dada.

Ah. Hutang kita seperti memotong rumput di tengah padang. Potong dipotong tumbuh jua. Bunganya menjulang menyentuh lutut. Tiap melangkah terjatuh pula menyentuh tanah.

SITTY :

Sitty mengerti, bu.

Jual gabah di tengah pekan, gabah dibawa dengan bendi.

Kalaulah susah sama kita pikirkan, nak lapang jua beban di hati.

Ibu, apa yang bisa Sitty perbuat untuk itu, ibu.

IBU:

(KEMBALI MENARIK NAFAS, KEMUDIAN MENGGELENGKAN KEPALA )

Daunmu terlalu hijau. Berputik sudah, berbunga belum. Harumnya belumlah melintas pagar.

SITTY :

Maksud ibu…. ?

IBU:

Sitty, hutang emas dibayar emas ? Hutang budi dibayar budi ? Tapi, lain dengan DATUK MARKINDI. Seluruh hutang kita padanya, tidak berguna pepatah demikian. Datuk ingin mempersuntingmu. Maka, lepaslah hutang yang selilit pinggang.

SITTY :

( TERKEJUT )

Dengan Sitty, ibu? DATUK MARKINDI !?

IBU:

Itulah jalan yang ia pintaskan agar kita terlepas dari segala hutang.

SITTY :

Tidak, … tidakkah ada jalan lain, bu ?

IBU :

Kalaulah umur ibu masih panjang, dan tenaga berisi di badan. Tentu ibu tidak akan memberi tahu kamu, Sitty.

SITTY :

Tapi, … Sitty belum …

IBU :

Sitty, ibu paham kalau kamu belum punya timbangan yang kuat, Sitty. Timbangan yang bagus tidak berat sebelah. Berlebih semata ditentang dengan pikiran. Selepas kamu lulus sekolah nanti, DATUK MARKINDI hendak menjatuhkan hari.

SITTY :

( TERDIAM LAMA SEPERTI BERPIKIR )

Ibu, bolehkah Sitty mohon diri?

Sudah berat kelopak mata. O, ibu istirahatlah dahulu.

SITTY KELUAR MENINGGALKAN IBUNYA.

LAMPU PADAM

* * *

 

BABAK II

PENTAS MENGGAMBARKAN SESUDUT JALAN ATAU HALTE TEMPAT ANAK-ANAK SEKOLAH MENUNGGU JEMPUTAN ATAU ANGKUTAN UMUM. DI SITU MANGKAL SEORANG PEDAGANG GEROBAK YANG MENJUAL MAKANAN DAN MINUMAN RINGAN. DI SEBELAH KIRI TERDAPAT SEBUAH RAMBU-RAMBU YANG MENUNJUKAN TEMPAT PERHENTIAN BUS.

SITTY, DAN SHINTA TERLIBAT PERBINCANGAN SERIUS. SITTY MENCERITAKAN APA YANG TELAH IA BICARAKAN DENGAN IBUNYA SEMALAM.

NATAROR:

DI SESUDUT JALAN ITU, MASIHLAH SEPI, BELUM NAMPAK SISWA-SISWA YANG BIASA MEMENUHI TEMPAT ITU UNTUK MENUNGGU JEMPUTAN ATAU ANGKUTAN UMUM. HANYA ADA DUA SISWI TERLIHAT DUDUK DI BANGKU HALTE YANG BEJEJER. TERLIHAT PERBINCANGAN SERISUS ANTARA MEREKA BERDUA.

SHINTA :

Kenapa kamu begitu murung Sitty? Adakah yang dapat kudengarkan dari kegundahmu itu?

SITTY :

Saya tak tahu harus mulai darimana, dada ini begitu sesak sepeninggal perkataan ibuku kemarin.

SHINTA :

Katakan padaku jika kamu menganggapku sahabatmu, bukankah sahabat selalu berusaha untuk mengguatkan

SITTY :

Kemarin ibuku berkata, bahwa Datuk ingin menjadikanku sebagai Istrinya sebagai syarat pelunasan hutang keluargaku. Aku tak ingin, aku tak ingin.

SHINTA :

Lapangkan hatimu, ku yakin Si Tua itu tak akan pernah memilikimu. Sudah, jangan kamu bersedih lagi lagi, parasmu tak lagi Cantik jika kamu murung. Tersenyumlah.

SITTY

(TERSENYUM)

DISELA-SELA PERBINCANGAN SITTY DAN SHINTA, TIARA DAN ARIN BERGABUNG DENGAN SITTY DAN SHINTA.

TIARA :

Hei kalian sudah disini rupanya, cepat sekali.

SHINTA :

Bukan kami yang terlalu cepat, tapi kalian yang terlalu lama.  Darimana?

ARIN :

Mengurus contekan Tiara yang tadi ketinggalan. Sebelum pihak Sekolah mengetahuinya. Sudah Salah malah merepotkan.

TIARA :

Yah, yang namanya hidup di dunia tentu harus dengan akal, pandai-pandai. Kalau hidup di akhirat baru mesti dengan iman.

SITTY :

Tapi, melihat contekan saat ujian tadi kamu bilang pandai, TIARA ? Bukankah itu cara yang licik.

ARIN :

Kalau saya berpendapat lain. Yang dilakukan TIARA diwaktu ujian tadi namanya ‘licik pandai’, bukan cerdik pandai.

SHINTA :

Sama saja Arin, kalau licik ya licik saja. Kamu ini juga Tiara usahamu kok ya pakai contekan-contekan segala.

TIARA :

Hei. Untuk hasil maksimal dibutuhkan usaha yang maksimal. Betulkan Shinta ?

SHINTA :

Kata-kata itu benar. Kamunya yang tidak benar. Usaha maksimal bukannya menghalalkan segala cara. Ingat, alam terkembang jadikan guru. Bisa-bisa berubah pepatah itu, contekan terkembang otak membeku.

SEMUA TERTAWA MENDENGARNYA

PEDAGANG :

Oi ! onde-onde, onde-onde mande. Tertawa sambil makan onde-onde pasti lebih asyik. ( SITTY MEMERIKSA SAKUNYA )

SHINTA:

Ujian tadi baru tahap percobaan. Apakah kamu bisa melihat contekan saat ujian akhir yang sebenarnya, TIARA ?

ARIN :
Kalau saya berpendapat lain. Resiko untuk melakukan kecurangan di ujian akhir sangat besar. Melihat kiri-kanan saja mungkin dicurigai. Bertanya tetangga ?, sesekali jangan. Nah, apalagi lihat contekan, kertas kecil apapun jenisnya pasti akan gagal.

SHINTA :

Barangkali TIARA siap dengan resiko, didiskualifikasi.

ARIN :

Nah…, dari pada kepala pusing. Menurut pendapat saya. Lebih baik begini. Pertanyaan yang tidak terjawab oleh kita, gunakan pilihan bantuan. Pertama, ask the audience, kode tetangga-tetangga sebelah. Kalau dicurigai, urungkan niat. Kedua, phone a friends, siapkan kertas kecil untuk sms-sms-an,” bantu  saya nomor sekian”. Lemparkan pada kawan yang mungkin tahu jawabannya. Tidak bisa juga ! Baru gunakan fifty-fifty.

TIARA :

Fifty-fifty bagaimana ?

ARIN :

Tentukan dua pilihan jawaban yang menurut kamu paling berkemungkinan benar. Dari dua jawaban tersebut, pilih satu saja dengan cara menimbang ( MENIRUKAN DENGAN TANGAN ). “Ma rancak iko pado iko, rancak iko”

Nah, dapatlah satu jawabannya. Untung-untung betul. Gampangkan…. ?

SHINTA :

Alaahh…., sama juga bohong ARIN.

SITTY :

Tidak ada gunanya. Seperti kata petuah :

Jalar-menjalar akar benalu

Kuat melingkar di batang mangga

Kita belajar menuntut ilmu

Tabiat buruk tak akan berharga

ARIN :

Tapi bukankah fifty-fifty itu sah saja. Lain halnya dengan cara TIARA yang menurut pendapat saya….

TIARA :

Sudah, sudah. Waktu seminggu itu masih panjang. Cukup untuk bersantai menenangkan pikiran. Pergi piknik, tenangkan jiwa.

SHINTA :

Seminggu kamu bilang masih panjang ? Mana jari tanganmu ? Hitung mundur mulai detik ini. Saatnya siaga satu, kawan.

TIARA :

Jangan tegang, rileks saja. Kita tentu punya cara masing-masing sebelum bertempur. Kalau saya, butuh refreshing dulu sebelum menuju gelanggang. Kalau mau belajar kejar tayang menghafal buku-buku, silahkan coba. Bisa-bisa meledak itu kepala.

ARIN :

Dasar pemalas !

TIARA :

Terserah saja, sekarang lebih baik pulang. Dengar,

Batang purut di tepi pagar

Ditanam putri anak bangsawan

Kerontang perut karena lapar

Segera pulang mencari makan.

DISELA PEMBICARAAN 4 SEKAWAN TERSEBUT, TAMPAK SAMSUL BAHRI MENGHAMPIRI SITI

ARIN :

Ee.. itu Samsul. (menunjuk arah Samsul)

TIARA :

Ayo, ARIN, SHINTA. Kalian pulang bersama saya atau tidak ? Biarlah mereka berdua’an. Apakah kalian mau jadi obat nyamuk  ? ( ARIN dan SHINTA MENGIKUTI TIARA ) Samsul, Sitty, kami duluan. O, ya. Bayar onde-onde kami ini. Buat tutup mulut kami. Daaah.., selamat berduaan!

SHINTA, TIARA DAN ARIN KELUAR SETELAH MENGAMBIL BEBERAPA ONDE-ONDE

SAMSUL :

Wah dasar mereka !

Kamu lapar, Sitty ?

SITTY :

(MENGGELENG)

SAMSUL :

Benar tidak lapar ?

SITTY :

( MENGGELENG )

SAMSUL :

Bagaimana kalau kita beli onde-onde. Sekedar pengganjal perut.

SITTY :

Mau, mau ! Boleh juga.

SAMSUL MENUJU PEDAGANG

SAMSUL :

Onde-ondenya, bu.

PEDAGANG :

Nah, begitu. Perhatikan juga nasib orang kecil seperti saya. Masa seharian saya berjualan di sini tidak ada yang beli ? Makanya dari tadi saya tawarkan onde-onde ini. Saya tahu kalau putrimu itu sangat suka onde-onde. Dia kan langganan saya.

SAMSUL :

Berapa, bu?

PEDAGANG :

Belum seberapa, sepuluh onde-onde baru lima ribu saja. Kali ini saya kasih bonus dua buah. Buat nona Sitty.

SAMSUL :

O. Ya. Terima kasih. Ibu baik sekali. Eh, benar tidak, bu ? Kata orang, hari esok harus lebih baik dari hari ini.

PEDAGANG :

Ya, harus !

SAMSUL :

Kalau begitu besok ibu harus lebih baik. Besok, kalau saya beli onde-onde bonusnya harus lebih dari dua. Hehehe ……

PEDAGANG :

Pintar juga otakmu.

SAMSUL KEMBALI KE TEMPAT SITTY

SAMSUL :

Sitty, ini onde-ondenya. Makanlah. ibu itu memberi bonus buat kamu.

SITTY :

O, ya. Kalau saya tadi yang beli pasti bonusnya lebih dari dua.

SITTY DAN SAMSUL DUDUK MENIKMATI ONDE-ONDE

SAMSUL :

Sitty, selepas lulus sekolah nanti, ibuku menyuruhku untuk meneruskan ke perguruan tinggi. Aku sendiri setuju dengan itu. Kalau kamu bagaimana?

SITTY :

Baguslah. Siapa yang tidak bangga bisa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi . Ibumu tentu telah menyiapkan semua demi kamu. Aku sendiri belum tentu, Sam. Belakangan ini ibuku sakit-sakitan. Aku tidak mungkin memaksakan keinginanku dalam kondisi seperti ini. O… rencananya kamu mau melanjutkan kemana, Sam ?

SAMSUL :

Ibuku menyarankan untuk kuliah di luar negeri.

SITTY :

Luar negeri ?!

SAMSUL :

Iya, Sitty. Tidak di sini.

SITTY :

Kenapa mesti ke luar negeri, Sam ?

SAMSUL :

Kata ibuku, sangat baik untukku nantinya. Dengan kuliah di luar negeri kita bisa mendapatkan ilmu dengan maksimal.

SITTY :

Di sini juga bisa, bukan ? Banyak perguruan tinggi yang tidak kalah kualitasnya. Dan lagi, kuliah di luar itu butuh biaya besar, Sam. Apakah ibumu sudah memikirkannya matang-matang ?

SAMSUL :

Ah, entahlah. Selain itu sebenarnya aku belum siap untuk merantau terlalu jauh. Jauh dari kampung halaman, jauh dari keluarga, dan tentu akan menjauhkan aku dari kamu Sitty.

SITTY :

Jauh tidak lagi persoalan, Sam. Selagi masih di bumi ini. Apalagi zaman sekarang ini. Jarak dan waktu bisa direkayasa dengan teknologi.

SAMSUL :

Aku tidak ingin jauh dari kamu Sitty.

Anak baginda berburu rusa

Rusa mati tertembak panah

Jika kasih jauh dimata

Rasa mati badan sebelah.

SITTY :

Burung puyuh masuk ke rimba

Di dahan jati singgah merapat

Meskipun jauh dipelupuk mata

Di dalam hati tetapkan dekat.

TANPA DISADARI, PEDAGANG MEMPERHATIKAN PERCINTAAN SAMSUL DENGAN SITTY.

PEDAGANG :

“SubhanAllah SubhanAllah…………..!!” ( KEARAH SITTY DAN SAMSUL )

SAMSUL :

Hah ! O . Ayo kita pulang, Sitty. Sudah terlalu senja. Nanti orang di rumah marah-marah. Merantaunya masih lama. Lulus saja juga belum tentu.

SAMSUL DAN SITTY KELUAR

PEDAGANG :

Ikat berikat tali kuda

Pasang pelana kuda yang putih

Hati terikat samanya muda

Lupa waktu sebab berkasih

LAMPU PADAM.

III.

PENTAS MASIH MENGGAMBARKAN SESUDUT JALAN. PEDAGANG MENUNGGU ANAK-ANAK PULANG SEKOLAH.

DATUK MARKINDI MASUK BERSAMA DAYANG

(DAYANG I, DAYANG II, DAYANG III)

NARATOR :

MATAHARI YANG SEMAKIN TERTELAN GELAP. DATANGLAH SOSOK BARU DI DEPAN HALTE, WAJAH ASING YANG TAK BIASA TERLIHAT DI TEMPAT ITU. LAKI-LAKI TUA, YA? DIA ADALAH LAKI-LAKI TUA YANG PENUH DENGAN GAYA KEANGKUHANNYA.

DATUK :

Sudah keluar anak sekolah itu ?

PEDAGANG :

O, belum Tuan. Mungkin sebentar lagi. Coba lihat arlojinya ( MENARIK TANGAN DATUK, MELIHAT ARLOJI ). Baru pukul lima lewat sedikit. Lihat, baru sedikit lewatnya. Sekolah bubar pukul setengah enam. Ya, setengahnya saja. Sebentar lagi. Sabar, sabar. Silahkan duduk dulu.

DATUK :

Hoe! Kalian ini, berdiri! (membentak dayang yang duduk)

PEDAGANG

Santai dulu. Dan saya punya onde-onde, enak rasanya. Silahkan dicoba. Kalau tidak percaya lihat saja nanti. Seorang gadis cantik akan memborong onde-onde ini, Sitty  Noerbaja gadis….

DATUK :

Sitty Soerabaja ?!

PEDAGANG :

Tepat sekali. Gadis manis, semanis tebu, suka onde-onde. Dia bilang onde-onde lebih hebat dari makanan import manapun. Eh, apa Tuan menunggu Sitty Soerabaja ?

DATUK :

Ya. Saya menjemputnya.

PEDAGANG :

Berarti Tuan ini keluarganya Sitty, kakeknya barangkali ?

DAYANG III:

Heh ! Jangan asal bicara ya !

PEDAGANG :

Bapaknya ?

DAYANG :

Datuk ini bukan bapaknya.

PEDAGANG :

Jadi, pamannya begitu ?

DAYANG III:

Huhh ! Tidak kata saya !

PEDAGANG :

Kakek bukan, bapak tidak, paman juga salah. Tapi ke sini untuk menjemput Sitty. Nah, berarti nona ini sopir pribadinya nona Sitty.

DAYANG III:

Hei ! Mau kakek, kek. Mau bapak, kek. Mau paman, kek. Apa urusanmu ! Urus saja onde-ondemu itu.

PEDAGANG :

O. Oke, oke. Maafkan saya. Tidak akan saya urus lagi. Ya, bukan urusan saya. Tapi ingat, sekedar informasi. Bagi saya, Sitty berarti onde-onde, seperti onde-onde. Lembut di luarnya, manis di dalamnya. Dia ramah sekali….

DATUK :

( KEPADA DAYANG )

Coba kau lihat kesana. Lama sekali keluarnya. Apa yang mereka perbuat di sekolah itu. Zaman saya sekolah tidak terlalu penting. Lihat saya, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk bisa hidup sejahtera. Cuma pakai akal-akalan. Kecil bahagia, muda foya-foya, tua sejahtera, mati masuk……

DAYANG I :

Itu dia, Datuk. Menuju kesini. Anak sekolah keluar seperti kambing lepas dari kandang. Tapi, Sitty bergandengan Datuk.

DATUK :

Bergandengan ! Dengan siapa !?

DAYANG I:

Dengan laki-laki. Mesra sekali mereka.

DATUK :

Siapa laki-laki itu ? Hah ! Samsul Bahri. Anak Sutan Mahmud. Sudah melekat-lekat pula ia dengan Sitty.

SAMSUL DAN SITTY

SAMSUL :

Tuan DATUK MARKINDI rupanya. ( MENGULURKAN TANGAN HENDAK BERSALAMAN TAPI TIDAK DIBALAS OLEH DATUK )

DAYANG III:

Oh, bersalaman dengan Datuk harus melalui saya. Saya asisten, jubir, sekaligus pengawal pribadi Datuk. Jadi segala apapun urusan dengan Datuk harus melalui saya.

SAMSUL

Apa-apaan ini?

DATUK :

Selamat sore Sitty. Sedari tadi saya menunggu. Niat di hati hendak menjemputmu. Mobil sudah saya persiapkan. Mari, kita berkeliling menikmati senja yang menarik ini. Bagaimana kalau kita ke tepi laut, mencari angin segar sambil makan rujak atau jagung bakar. Setelah itu kita ke plaza mencari oleh-oleh untuk ibumu.

SITTY :

Ah, eh. O. Mmmh … Datuk !?

DATUK :

Ayo Sitty, mari. ( MENARIK TANGAN SITTY )

SAMSUL :

Ada apa ini Datuk ? jangan main paksa!

DAYANG III:

Bukan urusan kamu !

SAMSUL :

Ini jadi urusan saya.

DAYANG III:

Oi, urus saja dirimu sendiri, kalau tidak mau berurusan panjang dengan saya !

SAMSUL :

Tapi jangan main … !

SITTY :

Tenang Sam. Ini urusan saya. Pulanglah dulu Sam. Saya mau bicara sebentar dengan Tuan Datuk.

SAMSUL :

Tapi, Sitty. Kamu…

SITTY :

Sam, saya mohon pengertian kamu.

DAYANG I :

Nah, kamu dengar tidak ? Sitty menyuruhmu pergi dari sini. Pergi! (MENGUSIR SAMSUL)

SAMSUL PERGI DENGAN KESAL

SITTY :

Datuk. Apa maksud Datuk menjemput saya ?

DATUK :

Saya bermaksud baik Sitty. Mulai hari ini saya, eh, aku, akan menjemputmu. Sebagai seorang calon istriku, alangkah menyenangkan kita bertemu setiap saat. Biar kita merasa dekat. Bukan begitu hendaknya ?

SITTY :

Siapa yang menyuruh Datuk melakukannya ?

DATUK :

O, tidak siapa-siapa. Ini aku lakukan tulus dan murni dari hati nuraniku sendiri.

DAYANG II :

Ah, tidak usah pakai menolak segala. Turuti sajalah. Datuk akan membuat hari-harimu bahagia.

DATUK :

Saya tidak menyuruhmu bicara !

SITTY :

Datuk. Saya tidak pernah meminta untuk dijemput, Datuk.

DATUK :

Sitty, semua sudah saya perhitungkan dengan ibumu, Sitty. Tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan.

SITTY :

Tuan Datuk. Ini bukan hitungan matematik, Tuan. Sebagai seorang yang jauh lebih dewasa, tentu Tuan lebih paham dunia ini.

DATUK :

Ah, kau kan bukan lagi anak kecil yang tidak bisa menentukan langkahmu sendiri. Sudah tujuh belas tahun. Tentu kau mengerti Sitty.

SITTY :

Jalan saya masih panjang Datuk. Saya belum berpikir melangkah sejauh ini. Alangkah bagusnya Datuk mencari perempuan yang lebih dari saya. Lebih pantas, lebih pas menjalankan hidup dengan Datuk.

DATUK :

Apalagi yang kamu cari setamat sekolah ini, Sitty ? Lebih baik lakukan langkah besar. Apalagi, kamu perempuan. Bukankah perempuan itu hanya ; sumur, dapur, dan kasur.

SITTY :

Tuan. Hendaklah Tuan berpikir baik. Baik untuk Tuan, dan juga baik untuk saya.

DAYANG II :

Ini sudah yang terbaik Datuk lakukan untuk kamu dan Ibumu, Sitty. Apakah kamu senang melihat ibumu sakit-sakitan memikirkan…

SITTY :

Tentang hutang Ibu saya pada Datuk, saya berharap Datuk sabar. Berilah saya kesempatan. Tunggu saya menyelesaikan sekolah saya dulu. Saya akan berusaha, bekerja mencari uang untuk membayarnya.

DAYANG I:

Heh ! Mau kerja apa kamu Sitty ? Tidak gampang mencari pekerjaan di jaman sekarang ini. Kerja di kantor ? Di Bank ? Jangan mimpi Sitty. O, barangkali kamu bisa jadi babu, buruh kasar, atau kamu jadi pekerja … pekerja seks komersil.

SITTY :

( MENAHAN AMARAH )

Saya tidak bicara demikian nona-nona.

DATUK :

DAYANG. Saya tidak suruh kamu bicara. Diam saja di sana.

Jadi, kamu keberatan dengan aku Sitty ?

SITTY :

Maafkan saya Tuan Datuk.

DATUK :

Saya tidak main-main Sitty.

DAYANG III :

Tidak tahu diuntung pula kau rupanya. Ingat. Hutang ibumu dengan Datuk sudah terlalu banyak. Mau dibayar dengan apa lagi ? Ibumu sudah menjual seluruh perusahaan dagangnya. Untuk bunganya saja itu pun belum cukup. Ibumu sudah mulai bicara sendiri memikirkannya. Lebih baik kau bayar lunas dengan …

SITTY :

Hutang emas dibayar emas, nona.

DAYANG III :

Jadi kau kemanakan perbuatan baik Datuk selama ini pada ibumu ?

SITTY :

Saya akan selalu mengingatnya. Tidak akan saya lupakan, bahwa Datuk adalah seorang yang baik. Bahkan terlalu baik.

DAYANG II DAN DAYANG III:

Nah, tunggu apa lagi ?

SITTY :

Namun, keinginan Datuk terhadap saya, apakah baik buat saya ?

DAYANG II:

Jelas sangat baik. Niat baik Datuk tidak akan ada yang menghalangi.

SITTY :

Belum tentu, nona. Kalau Tuhan berkeinginan lain, tidaklah boleh mendahului yang di atas.

DATUK :

Hhh. Jangan bermain-main, apalagi mempermainkan saya. Jadi kamu menolak saya ? Saya tidak pantas untuk kamu, begitu ? Lalu, siapa yang pantas ?

DAYANG II:

Samsul Bahri tentu telah mempengaruhi otaknya.

SITTY :

Tidak baik menyangkut  – pautkan persoalan ini dengan orang lain, Nona. Samsul tidak tahu apa-apa dengan masalah ini.

DAYANG II:

Jangan bersilat lidah, Sitty. Sejak kapan kau berhubungan dengan dia ? Sudah sejauh mana ? Jangan-jangan kau telah melakukan……

SITTY :

Cukup Nona. Persoalan ini hanya antara keluarga saya dengan tuan Datuk.

DATUK :

Baik, baik. Sitty ! Silahkan kamu berpikir baik-baik sekarang. Baik untuk kamu serta ibumu. Terserah ! Saya tunggu keputusanmu

SITTY :

Sekali lagi, saya mohon maaf  dan berharap Tuan mengerti. Maafkan atas kelancangan saya. Saya mohon diri dulu, Tuan. Saya pulang.

NARATOR :

SITTY PERGI MENINGGALKAN DATUK DAN PARA DAYANG DI SESUDUT JALAN ITU, MEMBIARKAN DATUK BERPIKIR KERAS UNTUK MENEMUKAN CARA AGAR IA DAPAT MEMPERISTRI SI SITTY.

SITTY KELUAR

DAYANG I:

Keras kepala juga  dia !

DATUK :

Keras hati,dayang.

DAYANG I:

Keras hatinya pada Samsul Bahri.

DATUK :

Mmmh. Hehehe … Samsul Bahri !? Tampaknya dia akan menjadi batu sandungan bagi langkah saya. Tapi dia bukan masalah yang besar. Dayang, ke sini !( MEMBISIKAN SESUATU. DAYANG MENGANGGUK-ANGGUK )

DAYANG I:

Saya ada usul Tuan. Tapi…

DATUK :

Tapi bagaimana ?

DAYANG I :

Begini Datuk, apakah setelah ini dilakukan Sitty akan mau dengan Datuk ? Tentu dia akan tambah sulit didekati. Lebih baik langsung Sitty saja, Datuk.

DATUK :

Kamu gila ya ! Tujuan saya itu jelas-jelas Sitty. Kenapa Sitty pula yang dijadikan sasaran. Goblok ! Sekarang gunakan otakmu, bagaimana caranya.

DAYANG I:

O. Baik. Begini ( BEBICARA PELAN DENGAN DATUK, SESEKALI MENUNJUK KE ARAH PEDAGANG )

DATUK  :

Bagus, bagus. Sekarang gunakan bibirmu itu kesana.

NARATOR :

DAYANG I MENGHAMPIRI PEDAGANG, BERUSAHA MENYAMPAIKAN MAKSUD YANG TERPENDAM. DENGAN SEDIKIT KEBHOHONGAN DAN INTRIK RENCANA ITU DISAMPAIKAN.

DAYANG MENDEKATI PEDAGANG.

PEDAGANG :

Eh, Nona. Kelihatan serius sekali pembicaraan nona dengan Nona Sitty. Sehingga Ia tidak sempat menikmati onde-onde saya. Rejeki saya jadi hilang begitu saja.

DAYANG I:

Ah, biasalah. Kami ini memiliki sebuah Production House yang sedang menggarap sebuah film baru. Pembicaraan tadi itu, kami menawarkan sebuah peran pada Sitty Soerabaja. Tapi dia masih ragu. Pikir-pikir dulu katanya ( MEMAKAN SEBUAH ONDE-ONDE ) Mmmh..onde-ondenya enak sekali.

PEDAGANG :

Nona mengajak Sitty main film ? Dia menolaknya ?

DAYANG I:

O, Belum. Sitty belum memutuskannya tadi.

Selain dengan Sitty, sepertinya kita juga bisa berkerjasama.

PEDAGANG :

Bekerjasama ? nona membutuhkan saya untuk main film ?

DAYANG I:

Ya. Kami membutuhkan gerobak Anda ini untuk setting sebuah adegan di film kami nantinya.

PEDAGANG :

Aah…, masa cuma gerobaknya saja. Sayanya tidak? Kan semestinya saya di ajak, dikasih peran.

DAYANG I :

Sayang, wajah Anda itu tidak Kameragenik , tidak bagus kalau main film, nanti malah merusak citra film ini. Sudah gerobaknya saja yang saya sewa, Rp. 500.000,-  deh, bagaiman?  .

PEDAGANG :

Ah, cuma segitu ? Biasanya seorang produser itu sangat royal. Apalagi untuk sebuah adegan penting.

DAYANG :

Tenang, sesudah pengambilan gambar adegan ini akan saya tambah. Dua kali lipat, bagaimana ?

PEDAGANG :

Nah, begitu. Kerjasama disepakati. Tapi…..

DAYANG :

( HENDAK BERBALIK KE TEMPAT DATUK )  Apa lagi !?

PEDAGANG :

Tadi katanya, Nona Sitty belum memastikan dirinya untuk…….

DAYANG I:

O. Itu bukan urusan kamu. Nanti akan kami hubungi lagi dia. Cuma persoalan nilai kontrak. Dengan nilai yang lebih tinggi, pasti Sitty tidak akan sanggup menolaknya.

( MENUJU DATUK )

DATUK :

Bagaimana, dayang?

DAYANG I:

Beres, Datuk. Semua sudah saya persiapkan

DATUK :

Bagus. Tidak percuma kau kuangkat jadi jubir, bibirmu tak kalah cepatnya dengan otakmu. Setelah Samsul dibereskan, tidak ada lagi halangan bagi saya menuju Sitty. Oh, Sitty ( SERAYA MENERAWANG ).

* *

IV.

SEORANG PEDAGANG PALSU SURUHAN DAYANG TELAH SIAP DI TEMPAT ITU. IA MONDAR-MANDIR MENUNGGU ANAK-ANAK SEKOLAH KELUAR.

SITTY MASUK, HERAN MELIHAT PEDAGANG ITU.

NARATOR :

PEDAGANG PALSU TELAH SIAP DITEMPAT, MONDAR-MANDIR MENUNGGU ANAK-ANAK SEKOLAH KELUAR . SITTY YANG MELIHAT IBU PEDAGANG ITU HERAN, WAJAH YANG TAK BIASA IA TEMUI.

PEDAGANG PALSU :

O. Mmh, nona pasti  Sitty Soerabaja.

SITTY :

Betul. Tapi ibu ini siapa ? Biasanya kan bu Ami yang berjualan dengan gerobak ini.

PEDAGANG PALSU :

Saya ini… anu, maksud saya, saya ini saudara dari isterinya si Ami yang biasanya berjualan di sini. Berhubungan si Amatnya ada urusan ke situ…., maksud saya ke….kampung isterinya itu, saya diminta untuk menggantikannya. Daripada tidak untung….Eh, maksud saya daripada merugi, lebih baik saya yang menjual-jual dagangannya hari  ini. Katanya dia ada……

SITTY :

Ada apa, bu ?

PEDAGANG PALSU :

Ah, entahlah. Tidak tahu saya. Pokoknya anu. Penting !

SITTY :

Maksud ibu urusan penting.

PEDAGANG PALSU :

Nah, betul. Seperti yang Nona maksudkan tadi.

Yang penting bagi saya itu, si anu, maksud saya, teman Nona yang bernama Samsul itu .

SITTY :

O, Samsul Bahri. Dia belum keluar. Sebentar lagi. Saya biasa menunggunya di sini.

Ada perlu apa dengan Samsul bu?

PEDAGANG PALSU :

Begini. Saya ini di…., maksud saya ada sesuatu yang akan saya……

SITTY :

Maksudnya yang ingin ibu sampaikan pada Samsul ? Katakan saja pada saya, nanti saya sampaikan pada Samsul.

PEDAGANG PALSU :

Ooo…tidak bisa, maksud saya tidak usah. Biar saya saja. Ini juga penting Nona.

SITTY :

Memangnya siapa yang berpesan ?

PEDAGANG PALSU :

Si itu…, si anu, maksud saya…….

SITTY :

bu Ami ?

PEDAGANG PALSU :

Iya, ya, seharusnya saya bilang begitu. Hehehe……..

SEMENTARA PEDAGANG PALSU ITU MENUNGGU SAMSUL, SITTY MENGAMBIL BEBERAPA BUAH ONDE-ONDE DARI GEROBAKNYA.

SITTY :

Bu, Saya beli onde-ondenya. Ini uangnya.

PEDAGANG PALSU :

Ha! Onde-onde ? Nona Sitty membeli onde-onde ini untuk siapa ?

SITTY :

Ya buat saya.

PEDAGANG PALSU :

Tapi ini tidak untuk……..

SITTY :

O, tidak untuk dijual, begitu ? Apa tidak mau uang ?

PEDAGANG PALSU :

Uang ! Mau saya. Ini saya lakukan karena uang.

SITTY :

Nah, ini uangnya.

SITTY DUDUK MELEPAS LELAH . KEMUDIAN IA MEMAKAN SATU BUAH ONDE-ONDE.

PEDAGANG PALSU :

Aduh ! Celaka saya. Seharusnya Samsul, seperti yang disuruhkan pada saya. Nona memakannya ? ( PADA SITTY )

SITTY :

Iya, kenapa ?

PEDAGANG PALSU :

Ditelan ?

SITTY :

( MENGANGGUK )

PEDAGANG PALSU :

Enak ?

SITTY :

Mmm, enak. Tapi gulanya terlalu manis dari yang biasa.

( MEMAKAN SEBUAH LAGI )

PEDAGANG PALSU :

Yang itu ?

SITTY :

Sama saja. Ibu ini kenapa ? Kalau ibu mau silahkan coba saja. ( MENYODORKAN ONDE-ONDE )

PEDAGANG PALSU :

O. Tidak, tidak ! Saya tidak suka onde-onde.

Onde-onde itu manis.

Saya tidak boleh makan yang manis-manis.

Kalau saya makan, saya akan batuk-batuk.

Saya akan jadi pusing.

( SITTY MEMEGANG KEPALANYA SEPERTI KESAKITAN )

Nah, anak saya akan marah.

Ia akan tambah pusing melihat saya.

Ia akan kasak-kusuk mencarikan saya obat.

Saya pernah pusing gara-gara makan dodol yang sama manisnya dengan onde-onde.

Saya jadi terbatuk-batuk, nafas saya sesak sekali

(SITTY MEMEGANG DADANYA KARENA SESAK NAFAS )

Hampir-hampir saya tidak kuat lagi.

Untung anak saya segera membawa saya ke Puskesmas.

Susternya menyuntik saya disini ( MENUNJUK BAGIAN PAHANYA ) Sakit.

Tapi, setelah itu saya bisa sembuh. Kalau tidak, saya bisa mati.

( SITTY BERDIRI HENDAK  MENGHAMPIRI PEDAGANG PALSU DAN KEMUDIAN TERKAPAR DI TANAH )

Saya ini belum ingin mati. Saya ingin hidup seribu tahun lagi. Nona takut mati ?

( MENOLEH KEPADA SITTY )

Nona ? Nona ! Bangun nona. Nona, bangun.

Wah, celaka. Aduh, seharusnya Samsul.

Kalau tidak, saya tak dapat uang.

Aduh, nona ini ( MENDEKATKAN TANGAN PADA HIDUNG SITTY )

Haa ! Tidak ada anginnya.

Puskesmas, puskesmas ! Tolong ! Tolong ! Ah, kalau orang-orang datang hancur saya. Aduh, bagaimana ini !?.

SAMSUL, TIARA DAN ARIN MASUK

SAMSUL :

Sitty !?

TIARA :

Sitty kenapa !?

ARIN :

Ada apa dengan Sitty !?

SAMSUL :

Hah ! Tidak usah bertanya lagi. Cepat angkat. Bawa ke rumah sakit.

MEREKA KELUAR MEMBOPONG TUBUH SITTY. DARI ARAH LAIN DATUK MARKINDI DAN DAYANG MASUK.

NARATOR :

KARENA KEKELIRUAN DAN KEBODOHAN PEDAGANG YANG CEROBOH ITU, TUBUH SITTY MENJADI TERGOLEK TAK BERDAYA. HIDUP ATAU MATIKAH SITTY MASIH MENJADI PERTANYAAN.

DATUK :

Bagaimana ?

PEDAGANG PALSU :

Wah. Aduh, celaka ! Sitty !

DATUK :

Kenapa Sitty ?

PEDAGANG PALSU :

Onde-onde, maksud saya Sitty makan onde-ondenya. Sudah saya larang, tapi ia terus saja. Mau apa lagi. Kalau saya katakan ada racunnya tidak mungkin. Sekarang Sitty diangkut ke…

DAYANG I:

Diangkut ke rumah sakit ? Cepat lihat kondisinya ! Segera balik, kami tunggu di sini !

PEDAGANG PALSU KELUAR MELIHAT KEADAAN SITTY

DATUK :

Haahhh ! Kenapa bisa jadi seperti ini ? Kacau ! Yang saya perintahkan bunuh Samsul Bahri. Kalau Sitty mati, percuma semuanya !

DAYANG I :

Ini kesalahan teknis, Datuk.

DATUK :

Ini kesalahan kamu ! Menyuruh orang yang tidak bisa diandalkan ! Apa tidak ada yang lebih  punya akal !

DAYANG I :

Kalau orang berakal mungkin tidak mau melakukannya, Datuk.

DATUK :

Sudah! Jangan mencari alasan lagi. Apa yang harus kita lakukan ? Kita dalam keadaan bahaya. Sebaiknya kita pergi dari sini.

DAYANG II:

Tunggu Datuk, Kita tunggu laporan dari orang itu dulu Datuk.

DATUK :

Untuk apa lagi ?

DAYANG II :

Mengetahui keadaan Sitty, ia mati atau tidak.

DATUK :

Mati atau tidak, tidak perlu lagi saat ini. Kasus ini pasti diusut. Sekaranglah waktu yang tepat untuk menghindar. Ayo !

LANGKAH DATUK TERHENTI KARENA SAMSUL DATANG.

SAMSUL :

O. Ternyata langkah saya tak kurang dan tak jua lebih. Hendak ke mana tuan dan nona ? Tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya, ya ! Begitu ? Sitty sekarang dalam keadan koma, Dokter telah mengetahui penyebabnya. Tidak ada alasan untuk tidak menuduh Datuk sebagai dalangnya.

DATUK :

Jangan asal tuduh ! Kamu ingin mencemarkan nama baik saya, ya !?

DAYANG III:

Oi, anak muda. Apakah kau punya bukti otentik kalau bicara !?

SAMSUL :

Bukti ? ( MENGODE DENGAN TEPUKAN TANGAN )

TIARA MASUK MEMBAWA PEDAGANG PALSU

SAMSUL :

Siapa yang menyuruhmu untuk meracuni Sitty ? (KEPADA  PEDAGANG PALSU)

PEDAGANG PALSU :

Itu, Situ. Maksud saya orang itu ( MENUNJUK DAYANG )

SAMSUL :

Ibu di bayar berapa sama dia?

PEDAGANG PALSU :

Tadi saya dikasihnya uang segini ( HENDAK MENGELUARKAN SELURUH ISI SAKUNYA ). Janjinya saya akan dikasih uang banyak, satu juta katanya. Jadi saya mau. Perintah cuma menyerahkan onde-onde itu pada Samsul Bahri. Samsul Bahrinya tidak ada. Tapi Nona Sitty membeli onde-onde itu dan mengasih saya uang.

SAMSUL :

Maksudnya apa ?

PEDAGANG PALSU :

Aduh, ini sudah tiga kali saya jelaskan pada kalian !

TIARA :

Jadi tidak usah berkelit lagi dari kami, Datuk !

SAMSUL :

Datuk hendak meracuni saya agar Sitty bisa jatuh ke tangan Datuk ? Terlalu sempit jalan pikiran datuk. Tidak semua orang bisa Datuk bodoh-bodohi. Zaman sudah bertukar, Datuk ! Nah, sekarang kau harus me……

ARIN MASUK DENGAN RAUT MUKA TEGANG BERCAMPUR TANGIS.

ARIN :

Sitty sudah mendahului kita. Dia sudah meninggal..

SEMUA :

Sitty !?

SAMSUL :

Gaek keparat ! (MENYERANG DATUK )

DATUK

Lepaskan! (Sambil MELEPAS JAS JAWA)

SAMSUL BERHASIL MENGEJAR DATUK, DAN MEREKA TERLIBAT PERKELAHIAN. DATUK MENGELUARKAN BELATINYA. TAPI NAAS, DATUK TERTUSUK BELATINYA SENDIRI. MELIHAT DATUK TERGOLEK PENUH DARAH, PARA DAYANG LANGSUNG MENGHAMPIRI DATUK.

* *

V.

DI SUDUT JALAN BEBERAPA HARI KEMUDIAN, SEORANG PEREMPUAN BERPAKAIAN LUSUH DUDUK DI HALTE. IA TENGAH BERBICARA SEORANG DIRI.

NARATOR:

DISUDUT JALAN ITU, BEBERAPA HARI SETELAH KEMATIAN SITTY, DATANGLAH PEREMPUAN YANG BERPAKAIAN LUSUH . WAJAHNYA GELISAH, SEGELISAH HATINYA. IA BERBICARA SENDIRI, TANPA SEORANGPUN DISEKITARNYA, HANYA ADA BAYANGAN YANG MENYAHUT PEMBICARAAN PEREMPUAN ITU.

LAMPU PADAM

IBU :

Sitty…kembalilah Sitty…dst.

SUARA-SUARA :

Dia tak akan kembal. Menjelma gunung. Orang-orang mendaki, seperti mendaki mimpi. Sitty melihat mimpi itu, Ibu. Bintang jatuh ke samudera jiwa, jiwa lepas dari tubuh….

IBU :

Kemarilah, sayang. Maafkan Ibu, kemarilah…peluk Ibu….dst.

SUARA-SUARA :

Sitty di sini Ibu. Serupa jembatan, antara masa lalu, masa kini, dan masa datang. Jembatan waktu yang melingkar, metamorfosis. Orang-orang melintas, datang, singgah, pergi, dan menghilang.

IBU :

Jangan cengeng, Sitty ! Ayo, berdiri. Ayo! Bangun, nak. Lepaskan kemanjaan…dst.

SUARA-SUARA :

Sitty jadi muara, Ibu. Tempat segalanya berakhir. Akhir dari kepedihan, akhir dari segala dendam. Akhir dari mimpi-mimpi yang dihanyutkan orang dari hulu, dari masa lalu. Telah jadi kisah, Ibu. Yang melahirkan seribu tafsir…. Meski kita tidak pernah tahu kapan episode ini berakhir….

SEMUA ANGGOTA MASUK PANGGUNG MEMBAWA LILIN, DAN BERSAMA-SAMA MENYANYIKAN LAGU TAK ADA YANG ABADI-PETERPAN

SELESAI

“Kutukan Cinta Bandung”

Posted: 2 Februari 2013 in Naskah Drama

PIC_0102

Naskah telah dipentaskan pada, 12 Januari 2013

Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si

Judul                       : “KCB (Kutukan Cinta Bandung)”

Penulis Naskah    : Indah TK

Sifat                          : Adaptasi Cerita Rakyat Asal Mula Candi Prambanan

Babak                       : I (satu) babak

Genre Teater         : Komedi

Durasi                       : 30 menit

Konsep Cerita

“Kutukan Cinta Bandung” adalah sebuah naskah teater bergenre Komedi yang di adaptasi dari sebuah cerita rakyat “Asal Mula Candi Prambanan”.

Sinopsis

Dikisahkan di sebuah kerajaan di Jawa ada seorang Raja yang gagah, sakti, sombong dan arogan bernama Bandung Bondowoso. Pada suatu hari dia bertemu dengan Roro Jonggrang. Bandung Bondowoso terpesona oleh kecantikan Roro Jonggrang. Dia berniat untuk memperistri Roro Jonggrang. Roro Jonggrang tidak mau menikah dengan Bandung Bondowoso. Dia mencoba menolaknya secara halus dengan menyuruh Bandung Bondowoso membuatkan seribu candi untuknya dalam waktu satu malam. Bandung Bondowoso menyetujuinya karena dia merasa sanggup untuk membuatnya dengan bantuan pasukan jin yang dia miliki. Bandung Bondowoso langsung memanggil pasukan Jinnya untuk membuatkan seribu candi. Terang saja dengan cepat ratusan candi telah dibuat. Melihat hal itu Roro Jongrang sangat bingung. Akhirnya dia mempunyai inisiatif untuk membuat sebuah pagi buatan. Melihat sudah pagi, pasukan jin pun pulang lagi ke tempat asalnya, padahal candinya masih kurang satu. Roro Jonggrang kembali menghampiri Bandung Bondowoso untuk menanyakan jumlah candinya. Karena kurang satu, jadi dia tidak mau menikah dengan Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso sangat marah karena merasa telah ditipu dan dibodohi oleh Roro Jonggrang. Saat kemarahannya itu dia mengutuk Roro Jonggrang menjadi sebuah arca untuk melengkapi jumlah candi yang dibuatnya.

 

 Pemeran                    :

1. Saiful                      sebagai                 Bandung Bondowoso

2. Duhita                     sebagai                 Roro Jonggrang

3. Alfin                       sebagai                 Patih

4. Vivi                         sebagai                 Dayang 1 (painem)

5. Eni                          sebagai                 Dayang 2 (paijem)

6. Menik                     sebagai                 Jinni

7. Tya                          sebagai                 Jinten

8. Putri                        sebagai                 Jinem

9. Qurun                     sebagai                 Jinnah

10.Okta                       sebagai                 rakyat 1

11.Dika                       sebagai                 rakyat 2

12.Baiq                       sebagai                 Rakyat 3

Watak Tokok (Penokohan) :

1. Bandung Bondowoso        : Sombong, angkuh, percaya diri.

2. Roro Jonggrang                  : Cuek, jutek, cerdas.

3. Patih                                        : Patuh kepada pimpinan,

4. Painem (Dayang )               : Centil, patuh

5. Paijem (Dayang)                 : Centil, patuh

6. Jinni                                    : Percaya diri

7. Jinten                                  : Suka Shopping

8. Jinem                                  : pendiam, tidak terlalu banyak tingkah

9. Jinnah                                 : Percaya diri

10 Para Rakyat                       : Patuh

 Crew Drama:

Sutradara                     :  Indah

Tata Rias + kostum   : 1. Manda

2. Firma

Narator + pembisik  : Firma

Music director            : Wedari

Penata panggung dan properti  1. Baiq     2. Okta     3. Mahardika

Alur :

Alur Maju( Alur Kronologis)

Perkenalan : Pertemuan antara Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang

Pemunculan Masalah : Bandung Bondowoso melamar Roro Jonggrang, Roro Jonggrang meminta dibuatkan seribu candi sebagai persyaratannya

Konflik : Pembuatan candi oleh para jin sudah hampir selesai sebelum fajar tiba

Klimaks : Candi yang diminta kurang satu, sehingga Roro Jonggrang menolak pernikahannya dengan Bandung Bondowoso

Anti Klimaks: Roro Jonggrang dikutuk oleh Bandung Bondowoso menjadi arca sebagai candi ke seribu

Konsep Panggung

Setting awal : Panggung terdapat beberapa tanaman hidup di panggung menggambarkan suasana asrinya wilayah kerajaan Prambanan. Lesung di bagian panggung bawah.

Setting akhir : tiga buah miniatur candi, satu besar di tengah, dan dua buah candi kecil disamping kanan dan kiri. Ada Banner yang menggambarkan banyaknya candi. Lesung di bagian panggung bawah.

Setting Tempat

1. Depan Kerajaan Prambanan

2. Pemukiman Penduduk ( tempat penumbukan lesung)

Properti

Sterofoem untuk membuat candi dan lesung

22 Kardus Aqua gelas/ Mie Instan untuk dasar pembuatan candi

3 buah tongkat untuk alu (penumbuk lesung)

1 buah mic

beberapa buah shopping bag

Kentongan + pemukul

Uang mainan

1 tangkai bunga mawar merah

Tanaman hidup

Banner menggambarkan banyaknya candi

Konsep Busana

1 ps Pakaian Raja Jawa

1 ps Pakaian Patih Jawa

1 buah kemben, Main set, sewek untuk Roro Jonggrang

2 buah selendang

2 buah Jarik/ sewek

2 buah kebayak

3 buah stagen

4 buah kostum jin : celana + pakaian jin (seperti jinni oh jinni)

3 (Kebaya + sewek) untuk ibu-ibu penumbuk lesung.

Tata Rias

Roro Jonggrang          : Tata rias yang menapilkan kesan mewah sebagai seorang Putri, rambut berasal dari jilbab yang ditata sedemikian rupa sehingga membentuk seperti sanggul yang tinggi.

Dayang-dayang : natural, diberi sanggul kecil / digelung kecil

Bandung Bondowoso : Tata rias natural dan menampilkan kesan sombong

Patih                           : Natural, menampilkan kesan garang.

Jinni                            : berdandan seperti Jinni oh Jinni

Jinten                          : berdandan seperti Jinni oh Jinni

Jinem                          : berdandan seperti Jinni oh Jinni

Jinah                           : berdandan seperti Jinni oh Jinni

Rakyat                        : Natural, menggunakan kerudung seperti sorban.

Konsep Musik            : bunyi gamelan saat masuknya Bandung Bondowoso (diawal cerita, Kebo Giro)

Lagu kahitna : Cantik (saat Bandung Bondowoso Melihat Roro Jonggrang di Taman Sari

Lagu Malik n D’Esensial “Pilihanku”

Gang nam Style : Saat Pemanggilan Jin

Live Lagu dangdut (Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga), saat jin 4 datang dan mengajak bernyaanyi.

Gamelan jawa seperti saat peperangan di pewayangan pembuatan candi oleh para jin

Suara lesung yang ditumbuk

Lagu anang : separuh jiwaku pergi (saat setelah  Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang)

Lagu Penutup : Gending Jawa

Narasi : Alkisah, di pulau jawa ada seorang Raja yang gagah, sakti, sombong dan arogan bernama Bandung Bondowoso. Saat dia dan patihnya hang out di kawasan kerajaan Prambanan dia bertemu dengan Roro Jonggrang yang sangat cantik. Dia berniat untuk melamarnya. Untuk kisah selengkapnya kita saksikan di, TKP..

 (musik gending jawa kebo giro)

1. Bandung Bondowoso

(berjalan menampilkan kesan sombong dan arogan) tempat apa ini. sepi banget, kaya kuburan. Masa ada Bandung Bondowoso yang keren gini gak ada yang nyambut. (menghela nafas) aduh parah banget nih. Loh, mana lagi si patih gila itu. Tih..Patih.. (dengan nada tinggi) Patih…

  • 2.      Patih

(lari tergopoh-gopoh) iya bos, ada apa bos.

3.      Bandung Bondowoso

bas..bos..bas..bos.. bosok ta?

  • 4.      Patih

sorry, paduka. Kalau ngomong paduka kan kayaknya jadul banget nih. Kita kan orang gaul. Makanya untuk menampilkan kesan gaul, jadi saya manggil Padukanya Bos.

  • 5.      Bandung Bondowoso

Gaul dengkulmu iku.. heh, ngapain kamu berdiri didepanku. Duduk.. nggak sopan berdiri didepan  Raja. Tak tempeleng kamu nanti.

  • 6.      Patih

Ampun Paduka. Saya lupa.

  • 7.      Bandung Bondowoso

Ngomong-ngomong, tempat seindah ini kok sepi ya. Gak ada cewek cakep. Kamu tadi lihat nggak pas jalan kesini.

 

  • 8.      Patih

So pasti paduka, rakyat disini cakep-cekep kaya luna maya. Bener-bener nggak rugi aku ikut paduka kesini.

  • 9.      Bandung Bondowoso

apa? Rakyat jelata. Aduh kemseupai. Masa BB yang gagah perkasa kaya gini disejajarkan dengan rakyat jelata.

  • 10.  Patih

yah, dari pada temen-temen paduka yang dari kerajaan jin itu. ya mending rakyat jelata di sini.

  • 11.  Bandung Bondowoso

iya e.. kemarin aku tekor bayari Jinni sama Jinnah karaokean, belum lagi Jinten. Shopping mulu kerjaannya. ATM terkuras kalau jalan sama mereka. Untung Jinem gak ikut kemaren. Coba ikut, wes gak ngerti jadi apa aku.

  • 12.  Patih

loh, kemaren paduka jalan sama para jin itu ya? Kok saya nggak diajak sih paduka?

  • 13.  Bandung Bondowoso

kamu sih, molor mulu kemaren. Jadi ya tak tinggal.

  • 14.  Patih

yah, kalau gitu ya nggak salah.. kalo paduka diporotin sama jin-jin gila itu

  • 15.  Bandung Bondowoso

ow.. jadi kamu nyukurin aku. Tak pecat kamu nanti yo.

  • 16.  Patih

ow..tidak bisa.. kontrak saya masih panjang.

 

  • 17.  Bandung Bondowoso

semprul kamu.. eh, ada cewek cakep tuh. Siapa ya? Jaga sikap..jaga sikap..

(muncul lagu Cantik dari Kahitna)

18.  Roro Jonggrang

Dayang, laper nih. Tadi bawa bekal apa?

19.  Painem (dayang)

Aduh, lupa gusti ayu

20.  Paijem (dayang)

Lupa, apa habis kamu makan tadi?

21.  Roro Jonggrang

Kalian itu ya. Kebiasaan deh.

  • 22.  Bandung Bondowoso

(berjalan menghampiri Roro Jonggrang) ehem..ehem.. cewek.. boleh kenalan nggak??

23.  Painem (dayang)

(mengulurkan tangan kepada patih) Painem.. biasa di panggil “Inem si pelayan seksi”.

24.  Paijem (dayang)

(menabrak Painem sampai terjatuh dan memutuskan jabat tangannya dengan patih) saja Maya, Luna Maya.

25.  Pinem (dayang)

Paijem aja, ngaku-ngaku Luna Maya.

26.  Patih

Saya Ariel, kok cocok ya kayaknya sama mbak Maya.

27.  Bandung Bondowoso

udah-udah.. kok jadi ajang kenalan kalian sih.

(menyodorkan beberapa lembar uang kepada patih) Nih tih, buat kamu. Ajak jalan dayang-dayang itu. Tapi jangn jauh-jauh. Nanti kalau tak tak panggil kamu harus cepet kemari.

28.  Patih

Kurang nih paduka..

29.  Bandung Bondowoso

Loh, berani minta tambah lagi kamu??

30.  Patih

Ampun paduka, ndak kok. Ini sudah lebih dari cukup. Saya berangkat dulu ya.

(menghampiri para dayang)

Ikut abang yuk neng..

31.  Paijem

ijin ke sana dulu ya gusti ayu.

32.  Roro Jonggrang

Loh..loh., pada mau kemana? Kalian tu ya, pada kecentilan.

33.  Painem

ya maaf, kan lagi usaha.

34.  Roro Jonggrang

(gemas melihat kalakuan dayang-dayangnya

35.  Bandung Bondowoso

Ehem..ehem.. mbak yang cantik, kalo boleh saya tahu, Namanya siapa ya??

36.  Roro Jonggrang

(Menjawab dengan ketus, tanpa mengulurkan tangan dan menatap Bandung Bondowoso) ErJe.

37.  Bandung Bondowoso

ErJe?? Namanya kok singkat banget ya?? Terus saya musti panggil apa??

38.  Roro Jonggrang

ErJe tu nama panggilan gw dodol.. Nama gw tu Roro Jonggrang.

39.  Bandung Bondowoso

Oh, Mbak Roro toh.

40.  Roro Jonggrang

Er…Je…bukan Mbak Roro.

41.  Bandung Bondowoso

iya..iya Mbak Jonggrang.

42.  Roro Jonggrang

(menghela nafas) terserah loe mau panggil gw apa.

43.  Bandung Bondowoso

Iya..iya ErJe.. bercanda. Kalo gw BeBe alias Bandung Bondowoso.

44.  Roro Jonggrang

Siapa juga yang nanya, PeDe banget sih. Lagian Nama kok Aneh, Bandung Bondowoso. Bandung Jawa Barat, Bondowoso Jawa Timur. Nggak konsisten banget sih.

45.  Bandung Bondowoso

aduh.. sombong banget sih Je. Nama aku sih nggak aneh. Aku kan blasteran Jawa Barat sama Jawa Timur. Kayaknya cocok nih kalau kita menikah. Anak kita nanti Blasteran Jawa Barat,Jawa Tengah sama Jawa Timur. Lengkap…

(mencari Patih) tih..Patih..Patih (Sedikit berteriak)

46.  Patih

Iya..iya..paduka.. ganggu orang aja sih paduka.

47.  Bandung Bondowoso

(berbisik kepada Patih, menyuruhnya untuk mencarikan setangkai bunga)

48.  Patih

siap, laksanakan paduka. (lari mencari bunga)

49.  Patih

(Berlari menghampiri BB sambil terengah-engah, dan segera memberikan setangkai bunga) ini paduka.

50.  Bandung Bondowoso

Thank’s ya, ntar gw naikin deh gaji lu. Sana pergi lagi.

51.  Patih

(menggerutu dan berlalu meninggalkan Bandung Bondowoso)

Yang bener aja  paduka? Bulan ini aja belum dibayar.

52.  Bandung Bondowoso

(Berlutut, sambil menyodorkan setangkai bunga kepada Roro Jonggrang)

(Terdengar lirih, alunan lagu malik n D’Esensial)

53.  Bandung Bondowoso

ErJe, Will You Marry Me??

54.  Roro Jonggrang

(terkejut, tapi pura-pura cuek) ihh..apa-apaan nih. Bunga?? Setangkai lagi. Nggak modal banget sih lu.

55.  Bandung Bondowoso

Ini emang setangkai, siapa juga yang bilang sepuluh tangkai. Tapi kamu tahu nggak apa arti dari setangkai bunga ini?? ini tuh, melambangkan hatiku yang kupersembahkan hanya untukmu…

56.  Roro Jonggrang

Sorry ya, gw nggak suka bunga yang beginian. Gw tuh sukanya Bunga deposito.

57.  Bandung Bondowoso

oke deh, gw kasih semua buat lu. Gimana? Mau nggak??

58.  Roro Jonggrang

gimana ya?? Kasih tau nggak ya???

59.  Bandung Bondowoso

Kasih tau dong..

60.  Roro Jonggrang

Emang lu pengen tau apa pengen tau banget??

61.  Bandung Bondowoso

Banget, cepetan dong.

62.  Roro Jonggrang

Oke, aku terima

63.  Bandung Bondowoso

jadi kamu mau jadi istriku??

64.  Roro Jonggrang

iya, tapi dengan satu syarat lagi.

65.  Bandung Bondowoso

apaan?

66.  Roro Jonggrang

Syaratnya,  kamu harus membuatkan seribu candi untukku dalam satu malam. Nggak boleh korupsi. Gimana? Mau nggak?? Kalo nggak mau ya udah.

67.  Bandung Bondowoso

Ok. Apapun persyaratannya, minumnya teh botol sosro.

Loh, maksudnya apapun persyaratannya pasti akan ku terima.

68.  Roro Jonggang

deal..

69.  Bandung Bondowoso

deal…

(mereka berdua berjabat tangan menandakan persetujuan)

70.  Bandung Bondowoso

Patih…

71.  Roro Jonggrang

Dayang…

72.  Dayang-dayang

Iya gusti

73.  Roro Jonggrang

Dari mana aja kalian? Ayo pulang. Besuk pagi kita kemari lagi untuk menghitung jumlah Candinya. (mereka meninggalkan BB dan Patihnya)

74.  Dayang-Dayang

(melambaikan tangan) Sampai ketemu besuk sayang…

75.  Patih

(melambaikan tangan)

76.  Roro Jonggrang

Kalian ya.. ayo cepat.

Narator  : setelah kepergian Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso berinisiatif untuk memanggil para sabatnya yang berasal dari negeri Jin untuk meminta bantuan kepada mereka membuatkan seribu candi untuk Roro Jonggrang.

77.  Bandung Bondowoso

(berpikir serius, sambil mondar-mandir)

78.  Bandung Bondowoso

Ngapain kamu mondar-mandir?

79.  Patih

Kan ngikutin paduka. Lha terus paduka ngapain?

80.  Bandung Bondowoso

Terserah aku dong, yang jadi raja siapa?

81.  Patih

Paduka

82.  Bandung Bondowoso

Yang mondar-mandir siapa?

83.  Patih

Paduka

84.  Bandung Bondowoso

Terus, emang masalah buat lo?

85.  Patih

(menggumam) dasar rojo gendeng.

86.  Bandung Bondowoso

Tih, coba deh kamu hubungi para jin.

87.  Patih

Lagi nggak punya pulsa nih paduka.. Paket BB juga Habis.. Kan belum paduka gaji bulan ini.

88.  Bandung Bondowoso

Dasar Kere..

89.  Patih

Lagian paduka seenak jidatnya aja kalo nyuruh orang..

90.  Bandung Bondowoso

Apa kamu bilang??

91.  Patih

Nggak paduka..

92.  Bandung Bondowoso

Jadi gw musti manggil manual nih.

93.  Patih

Ya iya lah.. gimana lagi.

94.  Bandung Bondowoso

Kamu tu ya, (gemas, aingin memukul patih)

(melakukan gerakan memanggil Jin, Tarian Gang nam Style, diiringi lagu Gang Nam Style)

95.  Jinni

Aduh apa-apaan sih kamu ini Be. Aku kan lagi asik karaokean,.

Eh Para Penonton… Perkenalkan Nama saya Jinni, 22 tahun, asal dari Jawa Timur Bagian Timur. Jika Anda Tertarik jangan matikan lampu podium anda.

96.  Jinten

Apa-apaan kamu Jinni. Kamu pikir ini panggung Take Me Out ya.

Ada apa sih Be, Jinten kan lagi asik shopping. Ganggu aja sih lu. (tampak kelelahan, duduk meletakkan shopping bagnya)

97.  Jinem

BB, kamu tu ya kebiasaan. Kalo mau pake jasa kami tu mbok ya hubungi kami dulu minimal seminggu sebelumnya. jadi kami kan dalam kondisi Ready.

98.  Jinni

Bener tuh kata si Jinem..

99.  Jinnah

(lari terbitrit-birit) Eh sorry Jinnah telat lagi ya. Maklum lah, gw baru selesai Casting iklan.

100.   Jinem

Casting Iklan Apaan??

101.   Jinnah

Biasa orang cantik..Casting iklan sabun muka “Wage”

102.   Jinten

Emang ada sabun muka merk “Wage”

103.   Jinnah

Ada baru aja mau beredar, saingan terberatnya “PONDS”.

e penonton…..

104.   Jinni, Jinten, Jinnem

eeee…………

105. Jinnah

Kok sepi sih?

106.   Semua Jin

Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga..

Hei, begitulah kata para pujangga, aduh hai begitulah kata para pujangga.

Taman suram tanpa bunga.

107.   Patih

Stop..stop..stop.. aduh berisik banget sih kalian.

108.   Jinnah

Apa sih tih, sirik aja deh.

109.   Bandung Bondowoso

Udah-udah..sorry ya, aku yang salah, mendadak hubungin kalian.

110.   Jinten

Emang ada apa sih?

111.   Bandung Bondowoso

Aduh jadi nggak enak nih.

112.   Jinnem

Ngak apa-apa biasa aja kalee.

 113.   Jinnah

Tau tuh, biasanya juga gak pake sungkan-sungkanan.

114. Bandung Bondowoso

Gw lagi butuh kalian banget?

115.   Jinni

Eits butuh apa dulu nih?

 116.   Bandung Bondowoso

Kalian kan hebat-hebat tuh, tolong dong bantuin gw buat seribu candi malam ini saja. Cuma malam ini kok. Tapi harus lengkap jumlahnya.

117.   Jinni

Enak aja, gw baru selesai manny paddy nih, ntar kuku gw rusak dong kalo di pake buat candi.

118.   Bandung Bondowoso

Sok kecakepan benget sih lu. Emang lu pada mau gw pindah di tengah hutan yang jauh dari PTC, jauh dari Citra Land, Jauh dari Ciputra?

119.   Patih

Bener tuh paduka, biar tahu rasa mereka.

120.   Jinnem

Eh diam lu tih, dasar mulut-mulut kompor lu ye, lama-lama gw sumpel pake sepatu tuh mulutmu yang bau.

 121.   Jinten

Jangan dong Be. Kalo di tengah hutan ntar kita main sama nongkrongnya dimana? Yang lebih parah lagi, gw pasti gk bisa Shopping de..

122.   Bandung Bondowoso

Makanya kerjain apa yang gw suruh

 123.   Jinnem

Kasih nggak..kasih nggak…

124.   Jinni, Jinten, Jinnah

Kasih dah..

125.   Bandung Bondowoso

Makasih ya.. kalian emang temen-temenku yang paling baik sedunia

(hendak memeluk para jin)

126.   Jinnem

Heh..heh.. main peluk aja..bukan muhrim tau.

127.   Patih

Kalau sama aku gimana??

128.   Jinnem

Sama aja dodol..

129.   Bandung Bondowoso

Kalian siap melaksanakan tugas???

130.   Semua Jin

Siap boss… materialnya mana?

131.   Bandung Bondowoso

Ntar dianter sama patih. Tak tinggal dulu ya.

(BB + patih meninggalkan para jin, para Jin Berdiskusi mengenai rancangan Candinya)

 132.   Patih

(mengantarkan material dengan hati yang tidak ikhlas) nih materialnya. (semua jin berusaha membuat candi, ada iringan instrumen gamelan jawa mengiringi pembuatan candi

Narasi : Roro Jonggrang terkejut dengan pembuatan candi yang telah hampir selesai, dia takut jika pembuatan candi berhasil maka dia akan dinikahi oleh Bandung Bondowoso. Akhirnya dia  memiliki ide untuk membuat pagi buatan.

 133.   Roro Jonggrang

(kebingungan melihat candinya sudah hampir selesai)

Kok candinya udah hampir selesai ya. Gila tuh si BB kerjanya cepet banget.

 134.   Painem

Terus kenapa? Emang gw harus koprol sambil bilang wow gitu???

135.   Paijem

Heh, kamu tu ya. Dalam keadaan genting seperti ini masih aja bercanda.

136.   Painem

Ya maap. Kan buat menghibur gusti ayu.

137.   Roro Jonggrang

Aduh gimana ya??

138.   Paijem

Gusti ayu mending nikah aja sama Bandung, lumayan lho gusti ayu, orangnya ganteng banget.. kalo gusti ayu ndak mau buat saya aja ya bandungnya.

  • 139.   Painem

Kamu tu ya, gusti ayu lagi bingung malah ngomong gituan. Lagian bandungnya mana mau sama kamu??

140.   Paijem

Ya maap, namanya juga usaha.

141.   Painem

Gini aja gusti ayu, kita coba bikin pagi buatan?

142.   Paijem

Lu pikir gampang bikin gituan? Gimana caranya??

143.   Painem

Oh, iya ya.. gak kepikiran nih.

144.   Roro Jonggrang

Bentar-bentar…kayaknya ide kamu bagus dayang. Kita coba bikin pagi buatan aja. Biasanya kan tiap pagi ibu-ibu tuh udah pada numbuk lesung, hewan ternak juga pada dikeluarin.

Gini aja, coba kamu suruh ibu-ibu menumbuk lesung. Lalu bapak-bapak kamu suruh mengeluarkan hewan ternaknya.

145.   Painem

Pinter juga nih bos gw. Kuliah dimana sih??

146.   Roro Jonggrang

Ya iya lah… PGSD Unesa gitu loh.. sana cepat laksanakan tugasmu.

147.   Dayang-Dayang (Paijem + Painem)

sendiko dawuh Gusti Ayu.

(para dayang berangkat untuk melaksanakan tugasnya)

148.   Painem

Woro-woro…… Woro-woro…..

149.     Paijem

(memukul kentongan)

 150.   Rakyat 1

ada apa sih dayang malam-malam gini kok ya bangunin orang tidur aja

151.   Rakyat 2

Iya, nih. aku juga masih ngantuk berat (tiduran di lantai)

 152.   Rakyat 3

Nih mataku rasanya juga kaya di lem (duduk)

 153.   Painem

Ada titah dari Gusti Ayu Roro Jonggrang. Cepat tumbuk lesung kalian dan suruh suami kalian mengeluarka hewan ternak.

  • 154.   Paijem

Ini pertaruhan masa depan Gusti Ayu Roro Jonggrang.

155.   Rakyat 1

Lebay deh dayang, pake acara pertaruhan masa depan segala.

156.   Rakyat 2

Iya nih emangnya kenapa??

157.   Painem

Tadi Gusti Ayu dilamar oleh BB.

158.   Rakyat  1

Hubungannya sama kami apa?

159.   Paijem

Dengerin dulu dong.

160.   Painem

Gusti ayu bingung menolaknya, lalu beliau memberi syarat untuk dibuatkan seribu candi dalam satu malam.tapi candinya sudah hampir selesai saat ini. makanya beliau mengeluarkan titah ini untuk membuat pagi buatan.

161.   Rakyat 1

Itu sih salah gusti ayu sendiri, ngapain nggak langsung ditolak aja.

 162.   Paijem

Kamu itu nggak ngerti, ngomel aja. Tak sumpel mulutmu ntar.

163.   Rakyat 2

BB tu yang mana sih?

164.   Paijem

Itu loh, raja dari kerajaan pengging yang arogan dan sombong itu. tapi orangnya emang ganteng sih.

165.   Rakyat 3

Apa?? kasihan gusti ayu. Kalo kayak gitu ntar gusti ayu pasti dipukuli tiap hari. Kalo nggak disuntik kaya manohara. Ih, ngeri.

166.   Paijem

Makanya, kalian lekas tumbuk lesung kalian.

167.   Semua Rakyat

Oke, berangkat. (mereka bertiga mulai menumbuk lesung)

Narasi:  dalam pembuatan candi oleh pasukan jin yang hampir selesai, tiba-tiba terdengar bunyi kegaduhan suara lesung dan ayam-ayam berkokok yang menandakan datangnya pagi. Para  jin akhirnya berpamitan kepada Bandung, namun candinya hanya berjumlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan

(terdengar bunyi tumbukan lesung, bunyi ayam ayam berkokok

168.   Jinni

Aduh udah hampir pagi nih, waktunya pulang.

169.   Jinem

Iya ntar kalo terkena matahari kulit kita gosong lagi.

170.   Jinten

Gosong??? Nggak mau….

171.   Jinni

Mending kita buru-buru cabut dari sini aja de.

172.   Bandung Bondowoso

Gimana jin, udah selesai semua.

173.   Jinten

Kayaknya sih kurang satu.

174.   Jinni

Tapi ini udah pagi, jadi kita harus pulang.

175.   Jinnah

Iya, tadi kan kontraknya sampai pagi.

176.   Jinnem

Bener tuh, kalo kena sinar matahari, nggak kebayang de seberapa gosongnya kulit kita.

177.   Jinni

Kira-kira habis lulur berapa ya? Buat mutihin kulit kita?

178.   Jinten

au ah, gak kepikiran

179.   Jinnah

Kayak mak nori aja, gak kepikiran.

180.   Jinni

Ya udah Be, kita pamit dulu.

181.   Semua jin

Bye…. see you next time.. (mereka semua meninggalkan BB)

182.   Bandung Bondowoso

Loh..loh.. kok ditinggalin siapa nih yang bakal nyeleseiin. Jin..jin.. jangan pergi.,JIn..

Jin..Jin.. Sial, kan belum selesai nih. Awas ya kalian ntar.

(Roro Jonggrang bersama para dayangnya menghampiri Bandung Bondowoso.

183.   Roro Jonggrang

Gimana Be, udah selsai?

184.   Bandung Bondowoso

Udah dong.

185.   Roro Jonggrang

Yang bener aja Be, gw itung dulu ya. Dayang coba hitung semua candinya.

(Dayang menghitung jumlah candi yang telah selesai dibuat)

 186.   Painem

Lapor gusti ayu, candi yang saya hitung jumlahnya 500 buah.

187.   Paijem

Lapor, candi bagian saya jumlahnya 499.

188.   Roro Jonggrang

Jadi jumlahnya 999. Loh, kok kurang satu ya Be, gimana nih??

189.   Bandung Bondowoso

Yang bener, salah hitung kali? Coba hitung lagi de.

190.   Paijem

Enak aja, lu pikir kita gak lulus matakuliah matematika?

191.   Painem

Iya nih, songong banget ni orang seenaknya aja ngatain orang.

192.   Roro Jonggrang

cukup dayang, stop ngocehnya.

Tuan Bandung Bondowoso yang terhormat, karena jumlah candinya kurang satu. So, maaf anda kurang beruntung. Bisa di coba lagi di lain kesempatan.

193.   Bandung Bondowoso

Nggak bisa gitu dong kan cuma kurang satu, gw buatin deh. pokoknya kamu harus menikah denganku.

194.   Roro Jonggrang

Tidak bisa..sesuai dengan kesepakatan kita. Sebelum fajar tiba, kau harus menyelesaikan pembuatan candi itu.

195.   Bandung Bondowoso

Tapi ini tipu muslihatmu kan, yang bikin pagi buatan.

196.   Roro Jonggang

Lu pikir gw cewek apaan nglakuin tipu muslihat.

197.   Bandung Bondowoso

Nggak ngaku lagi. Seharusnya kamu itu bersyukur ErJe dilamar olehku, Bandung Bondowoso raja paling tersohor seantero jagad raya. Bukannya bertindak seperti ini, melakukan tipuan murahan.

198.   Roro Jonggrang

Jangan seenaknya aja ya kalo ngomong. Kamu juga kan nyuruh jin-jin bodoh itu untuk membuatkan seribu candi.

199.   Bandung Bondowoso

emang tadi ada peraturan kalau “Jin Dilarang Membantu Pembuatan Candi” nggak kan. Jadi nggak masalah dong??

200.   Roro Jonggrang

Emang nggak ada sih, berarti aku juga nggak salah dong bikin pagi buatan kan nggak ada peraturan  “Dilarang bikin pagi buatan”, jadi skor kita 1-1.

201.   Bandung Bondowoso

Oke, candi ini emang kurang satu, dan aku akan segera melengkapinya. Karena candi yang satu lagi adalah kau…

(menunjuk  dayang painem)

202.   Painem

(mematung)

203.   Bandung Bondowoso

Gimana Je, udah seribu kan.

204.   Roro Jonggrang

Nggak mau.. Ini kan dayangku bukan candi.

205.   Paijem

Kembalikan painem seperti dulu…

206.   Bandung Bondowoso

Aduh.. kakehan omong iki. Dadio patung pisan kon.

207.   Paijem

(mematung)

 208.   Bandung BOndowoso

Yak opo Je?? Wis tak lebihi siji iki lho

209.   Roro Jonggrang

Aku tetep nggak mau Bandung, ini tetap kurang satu candinya. Lagi pula kau orang jahat. Kau telah mejadikan dayang-dayangku sebagai patung.

210.   Bandung Bondowoso

Jadi kau tetap tidak mau menikah denganku??

211.   Roro Jonggrang

Nggak!!!

212.   Bandung Bondowoso

Oke.. jika aku tidak dapat menikahimu,  maka orang lain juga tidak boleh menikah denganmu. Jika kau menganggap candi ini belum lengkap, aku akan melengkapinya denganmu Roro Jonggrang.

 213.   Roro Jonggrang

Apa? A………

(berputar-putar dan akhirnya jadi Arca, diiringi musik gamelan gending jawa)

214.   Bandung Bondowoso

Dayang ki lapo se nang kene. Geser titik po’o.

215.   Painem

Kan wis mbok dadikno patung se Be. Gayamu lali.

  • 216.   Bandung Bondowoso

Loh patung kok ngomong?? Berarti sek iso minggir.

  • 217.   Painem

Yo wes…

 

  • 218.   Bandung Bondowoso

Lha ngono lak enak se. Kembali ke Lap..top.

Kenapa kau harus menipuku Roro Jonggrang. Kenapa kau tidak mau menjadi  isteriku. Apa sih, susahnya jadi istri Bandung Bondowoso. Kalau kau mau kan nggak mungkin jadi begini. (di samping Roro Jonggrang Bandung Bondowoso tampak menyesai perbuatannya) (terdengar lirih alunan lagu anang Separuh Jiwaku Pergi).

Karena ini berada di kerajaan Prambanan, akan kunamai candi ini dengan nama Candi Prambanan.

(musik penutup)

“Pangeran Mendem”

Posted: 30 Mei 2011 in Naskah Drama

(Naskah telah dipentaskan)

1.   Judul Cerita

“ PANGERAN ROTE MENDEM”

( PANGERAN ROTE TERGILA- GILA PEREMPUAN JAWA )

Cerita Oleh: Eva Rara Puspita Agustin

2. Pengorganisasian

Pimpinan Produksi    : Drs. Heru Subrata, M.Si

Sutradara                     : Eva Rara Puspita A.

Asisten Sutradara        : Nurul Ayni

Sekretaris                    : Devi Wahyu Ertanti

Bendahara                   : Fitriatul Maulidiah

Pencatat Adegan         : Ardita Kurniasari

Penata Panggung        :  M. Yusuf

Penata Rias & Busana : Herrlys Maghdalena

Penata Musik              : Mareta Dellarosa

3.
Tokoh

  1. Ayub Mallesy sebagai Pangeran George Mallesy (Jono)
  2. Elita Ticianingrum sebagai Centini
  3. Wendri Wiratsiwi sebagai Bu Poniyem
  4. Banu Prasetyo sebagai Pak Paijo
  5. JhonTomb J. Djabal sebagai Raja Mallesy
  6. Natalia Selfin Sebagai Ratu Mallessy
  7. Mensiana Murti sebagai Julia

4.      Konsep cerita

Cerita yang berjudul “Pangeran Rote Mendem Wedokan Jawa” ditulis oleh Eva Rara Puspita
A. Konsep cerita ini adalah cerita percintaan  yang menggambarkan sebuah cerita yang sering ditemui di sekitar kita namun diselingi dengan unsur-unsur romantisme
percintaan sehingga tidak terasa membosankan bagi penikmat drama. Perbedaan suku serta kebudayaan yang masih saja menjadi penghalang bersatunya cinta mewarnai kisah c erita ini.

5.      Sinopsis cerita

Kisahtentang seorang pangeran yang tinggal di kerajaan Mallesy di Rote yang ingin
mencari kehidupan dan cinta yang sesungguhnya. Pangeran adalah anak semata
wayang raja dan ratu Mallesy. Di kerajaannya pangeran selalu mendapatkan apa
saja yang dia inginkan, bahkan seorang perempuan pun dengan sangat mudah ia
dapatkan.

Suatu ketika pangeran merasa bosan dengan kehidupannya di dalam kerajaan. Pangeran melarikan diri dari kerajaan dan merantau tanpa tujuan yang jelas. Akhirnya pangeran sampai di Pulau Jawa. Di perantauan pangeran tidak memiliki sanak saudara untuk tempat tinggal, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu paruh baya yaitu Bu
Poniyem menghampiri pangeran. Bu Poniyem menawarkan agar pangeran tinggal dan bekerja membantu suaminya di sawah.

Ketika membantu Pak Paijo suami Bu Poniem di sawah pangeran melihat seorang gadis desa yang memiliki paras cantik. Pangeran mengajak berkenalan gadis desa itu dan akhirnya menjadi sepasang kekasih. Seiring berjalannya waktu munculah Julia,
dia adalah putri dari kerajaan di Rote yang di jodohkan dengan pangeran. Dengan
datangnya Julia terbongkarlah rahasia yang dimiliki pangeran selama ini ia
sembunyikan dari semua orang. Centini sangat terkejut ternyata yang menjadi
kekasihnya selama ini adalah seorang pangeran. Selain Julia datang juga Raja dan
Ratu Mallesy. Mereka memaksa pangeran untuk kembali ke kerajaan Mallesy dan
menikah dengan Julia, karena jika pangeran tidak menikah dengan Julia semua
rakyatnya akan menderita kelaparan dan akan meninggal. Mendengar itu Centini
merasa miris dan memutuskan untuk meninggalkan pangeran yang sangat ia cintai
agar mau kembali ke kerajaannya dan menikah dengan Julia. Akhirnya pangeran
kembali ke kerajaannya dan menikah dengan Julia demi rakyatnya.

6.      Konsep panggung

Cerita ini terdiri dari 5 babak. Babak pertama adalah jalan pinggir sawah, babak kedua
adalah rumah pak Paijo dan Bu Poniyem, babak ketiga adalah sawah, babak keempat adalah rumah pak Paijo dan Bu Poniem, dan babak kelima adalah jalan pinggir sawah. Konsep panggung ini dibuat sederhana namun dapat mewakili dengan jelas jalan cerita yang ditampilkan.

Pada babak
pertama setting panggung adalah jalan pinggir sawah. Di atas panggung  terdapat

  1. Sarung
  2. Baju- baju (dimasukkan di dalam sarung)
  3. Bakul isi sayur
  4. Rumput

Pada babak kedua di rumah pak Paijo dan Bu Poniem. Setting adalah
sebuah ruang keluarga yang terdiri dari:

  1. Kursi panjang
  2. Meja
  3. Tikar
  4. Kendhi
  5. Bak  dan baju
  6. Pisau, bawang, dan telenan
  7. Lampu tempel

Pada babak ketiga di sawah. Setting di atas panggung terdapat

  1. Cangkul
  2. Pohon ketela
  3. Rumput
  4. Rantang isi makanan
  5. Kendhi
  6. Bakul
  7. Karung

Pada babak keempat di rumah pak Paijo dan Bu Poinem. Setting adalah sebuah ruang keluarga yang terdiri dari:

  1. Kursi panjang
  2. Meja
  3. Tikar
  4. Kendhi
  5. Bak dan baju
  6. Pisau, bawang, dan telenan
  7. Lampu tempel
  8. Kacang panjang
  9. Bakul dan singkong

Pada babak kelima di jalan pinggir sawah. Di atas panggung terdapat

  1. Sarung
  2. Baju- baju (dimasukan dalam sarung)
  3. Bakul isi sayur
  4. Rumput
  5. Rantang

7.      Konsep busana

  1. Pangeran George (Jono) Kaos, celana
    panjang kain, caping.
  2. Centini, Kebaya, jarik
  3. Bu Poniyem Kebaya, jarik, daster, batik, caping
  4. Pak Paijo Kaos oblong, peci, sarung, celana panjang, caping
  5. Julia Kebaya modern, kain songke, selendang, pita, sepatu
  6. Raja Mallesy, Songke, celana hitam, sapu (kepala), baju putih lengan panjang, selendang, sepatu hitam, keris, kain merah
  7. Ratu Mallesy Kebaya ibu, songke, selendang, pita, sepatu hitam, gelang, sanggul

8.      Penokohan

  1. Pangeran Seorang yang pemberani, teguh pendirian, baik hati, rendah hati dan berparas tampan.
  2. Centini, Wanita yang berparas cantik, lembut dalam bertutur kata, sopan, rendah hati.
  3. Bu Poniyem Wanita yang enerjik, bersemangat, baik
    hati, suka menolong, penyayang. Gaya bicaranya medok jawa.
  4. Pak Paijo, Rendah hati, penolong, penyabar.
  5. Julia, Seorang putri raja yang ketus dalam berbicara.
  6. Raja Mallesy Raja yang tegas, memaksakan kehendak pada pangeran.
  7. Ratu Mallesy Penyayang, lembut.

8.      Konsep musik

Narrator  Jimbe Marakas

Babak I

Babak II, Suara jangkrik, Suara ayam berkokok

Babak III, Suasana pedesaan (suara burung),  Terpesona

Babak IV Musik, lucu

  1. Dia
    Dia Dia

Babak V

  1. Musik-musik garang/marah. 2. Saat terahir ST 12

PANGERAN ROTE MENDEM WEDOKAN JAWA

(PANGERAN ROTE
TERGILA- GILA PEREMUAN JAWA)

Cerita ini
bermula dari seorang pangeran kerajaan rote yang sangat kaya.
Dia berniat hijrah ke pulau jawa untuk mencari jati
diri dan membebaskan diri dari tekanan dan aturan keluarganya
.

Babak 1

  1. Pangeran         : “ ya,,,,,,,, akhirnya aku sampai juga
    di pulau Jawa ini” (pangeran merasa lega dan senang  karena telah sampai di pulau jawa)
  2. Bu
    poniyem     : “  kisanak, kelihatannya kamu bukan orang asli
    daerah ini,,,dari mana kamu berasal? (tanya bu poniyem dengan heran)
  3. Pangeran         : “ iya bu saya memang bukan dari sini,
    saya datang dari pulau rote bu, NTT”
  4. Bu
    poniyem     : “ Rote? Mana itu. Kok ibu
    tidak tahu ya? Dimana itu rote?”
  5. Pangeran         : “ Rote buk, Rote itu di NTT”
  6. Bu
    poniyem     : “oalah, ibu nggak tau nak. mau apa kamu anak muda di pulau Jawa ini? Dan dimana
    kamu tinggal sekarang?
  7. Pangeran         : “saya ingin mencari pekerjaan bu, dan
    saya sebatang kara disini. Saya tidak punya keluarga atau saudara disini”
  8. Bu
    poniyem     : “o, kalau begitu kamu ikut
    ibu pulang saja anak muda. Nanti kamu juga bisa kerja dengan suami ibu”
  9. Pangeran         : “ o begitu ya bu”

Akhirnya
pangeran dan bu poniyem meninggalkan sawah tempat mereka
bertemu.

Babak 2

Sesampainya
di rumah bu poniyem, pangeran bertemu dengan pak paijo.

  1. Bu poniyem     : “ pak, pake nandi kowe pak. Iki lho pak
    onok tamu” ( bu ponijem mencari pak paijo)
  2. Pak paijo         :” ono opo to  bu, tamu sopo?” (pak paijo keluar dari
    kamarnya)
  3. Bu poniyem     : “
    iki lho pak, onok bocah bagus. Ki lho pak”

Pangeran
hanya tersenyum karena tidak paham dengan apa yg mereka katakan. Pak paijo
mendekati pangeran.

  1. Pak paijo         : “ sopo kowe bocah bagus?”
  2. Pangeran         : “ maaf pak, saya tidak bisa bahasa
    jawa.”
  3. Bu poniyem     : “ pak, cah bagus iki gak iso boso jowo.
    Cah bagus iki soko Rote pak, NTT. Dadi mulai dino iki ojo gawe boso jowo nggeh
    pak….” (bu ponijem memberi pengertian ke pak paijo)
  4. Pak paijo         :
    “Rote? Rote iku ndi seh buk? Mana buk?”
  5. Bu poniyem     : “
    Lha yo mboh pak, ibu juga gak paham. Ya bapak tanya sendiri”
  6. Pak paijo         : “ siapa namamu cah ganteng? Dan
    mengapa kamu datang ke pulau Jawa?”
  7. Pangeran         : “ nama saya George pak”

Pangeran
agak kebingungan menyebutkan nama aslinya yaitu pangeran George Malessy. Dimana
malessy adalah nama kebangsaan ayahnya Raja Malessy yang sangat terkenal di
negara NTT.

  1. Pak paijo         : “siapa nak, jono?”
  2. Pangeran         : “bukan pak, George”
  3. Pak paijo         : “ walah,
    susah sekali namamu nak”
  4. Pangeran         : “
    George pak. G E O R G E” (pangeran mengeja namanya)
  5. Pak paijo         :
    “ya sudah
    bagaimana kalau mulai sekarang kami panggil kamu
    jono saja”
  6. Pangeran         : “ow, iya bu. Tidak apa- apa. Saya
    sangat senang sekali.”
  7. Pak paijo         : “lha kamu mau kerja apa nak di pulau
    Jawa? Di jawa belum ada perusahan- perusahan besar, adanya ya hanya sawah-
    sawah ini”
  8. Bu poniyem     : “ lha gimana kalau si jono ini kita suruh
    kerja di sini saja pak?? Membantu bapak di sawah, membantu bapak menanam jagung,
    singkong, dan tanaman- tanaman lainnya. Kan lumayan pak, selama ini kita tidak
    punya anak. Nanti dia juga bisa membantu ibu membawakan barang- barang hasil
    sawah ke pasar untuk dijual. Bagaimana nak jono, mau apa tidak?”
  9. Pangeran         : “ iya bu, saya sangat senang sekali,
    saya sangat senang bisa bekerja disini” (wajah pangeran sngat senang sekali,
    dia merasa akan mendapatkan kehidupan sesungguhnya dari hasil jerih payahnya)
  10. Pak paijo         : “lho lho bu, piye to. lha jono itu
    siapa kita tidak tahu e. Lha nanti kalau dicari keluarganya bagaimana?”
  11. Bu poniyem     : “westala pak… jono itu tidak punya
    keluarga atau saudara pak. Lagian jononya juga mau to, iya to nak jono?” (bu
    poniyem menegaskan pertanyaannya ke jono)
  12. Pangeran         : “ iya pak, bu saya sangat senang
    sekali. Bisa bekerja di sawah, membantu ibu ke pasar. Itu hal yang menarik
    sekali bagi saya”
  13. Bu ponijem      : “ ya sudah kalau begitu, sudah malam.
    Kalian istirahat saja. Besok pagi nak Jono bangun pagi membantu bapak ke sawah,
    setelah itu membantu ibu membawa barang dagangan ke pasar, kamu tidur sama
    bapak di sini saja, ibu tidur dikamar.maklum kami hanya punya 1 kamar”

Bu
poniyem masuk ke kamarnya. Jono dan pak paijo memposisikan tidur diruang tamu.

Keesokan
harinya ibu membangunkan pak paijo dan jono.

  1. Bu poniyem     : “pak bangun pak, sudah pagi. Jono bangun
    sudah pagi nak. Malu sama ayam yang berkokok, nanti rejekinya d patok ayam lho”

Pak
paijo dan jono pun segera bangun.

  1. Pak paijo         : “iya bu iya, kami bangun. Ibu siapkan
    bekal buat bapak dan jono, nanti kami sarapan di sawah saja”
  2. Pangeran (jono) : “kita ke sawah sekarang pak?”
  3. Pak paijo         :
    “iya nak, kita berangkat sekarang saja. nanti bekalnya di kirim ibu ke sawah”
  4. Jono                 :
    “ o iya pak”
  5. Pak paijo         :
    “buk, kami berangkat dulu. Nanti bekalnya di kirim ya buk”
  6. Bu poniyem     :
    “iya pak iya. Inggih”

Ibupun
segera pergi ke dapur, dan mulai memasak. Ibu juga melanjutkan pekerjaan mencucinya.

 

Babak 3

Sepanjang
perjalanan menuju sawah bapak dan jono saling mengobrol tentang keadaan-
keadaan di desa itu.

  1. Jono                 : “bapak, sawah bapak yang mana?
    Masih jauh ya pak? (jono merasa kelelahan)
  2. Pak paijo         :” itu lho nak sudah dekat” ( sambil
    menunjuk sawah di depan mereka)
  3. Jono                 : “kalau sawah seluas ini milik
    siapa ya pak?” (jono menunjuk sawah yang dilewatinya)
  4. Pak paijo         : “ o, yang itu. Itu sawah juragan
    kasmo, penguasa di desa ini. Kekayaannya sangat terkenal di pulau Jawa” (pak
    paijo menerangkan dengan jelas)

Setelah
sesampainya di sawah pak Paijo, merekapun
segera menggarap sawah. Saat itu adalah musim singkong. Jono dan pak paijo
mencabuti singkong di sawahnya untuk dijual bu poniyem nanti sore di pasar.

  1. Jono                 : “ pak, bagaimana cara
    mengambil singkong ini pak”
  2. Pak paijo         : “begini lho nak” (pak paijo memberi
    contoh mencabut singkong)

Setelah
mereka merasa kelelahan, merekapun istirahat.

  1. Pak paijo         :” ayo nak istirahat dulu.”
  2. Jono                 : “ o iya pak” ( jono sangat
    setuju)
  3. Pak paijo         :
    “ibu mana ya nak, jam segini kok belum datang”
  4. Jono                 :
    “iya pak panas sekali hari ini”

Ibu
poniyem datang kesawah mengirim sarapan ke Pak Paijo dan Jono.

  1. Bu poniyem     : “ pak, pake ini lho bekalnya”
  2. Pak paijo         :
    “ o iya iya. Terimakasih ya bu”
  3. Jono                 :
    “ iya bu, terimaksih”
  4. Bu poniyem     :
    “iya, iya. Wes, dimakan dulu bekalnya. Nanti pulangnya jangan sore- sore ya.
    Ibu pulang dulu ya”
  5. Pak paijo         :
    “o iya buk”
  6. Jono                 : “iya bu”

Merekapun
memakan bekal yang yang di kirim bu ponijem. Tak lama kemudian ada segerombolan
gadis desa yang lewat di sawah pak paijo. Jono segera menghentikan makannya,
dan bertanya ke pak paijo.

  1. Jono                 : “pak, gadis- gadis itu siapa
    pak? Mengapa mereka bersama- sama ke sawah”. (jono heran)
  2. Pak paijo         : “ o, gadis- gadis itu. Mereka adalah
    gadis desa sini yang bersama- sama pergi ke sawah untuk membantu memanen hasil
    panenan salah satu penduduk. Kenapa? Suka ya kamu?” (pak paijo menggoda Jono)
  3. Jono                 :
    “ah bapak ada- ada saja” (jono malu)
  4. Pak paijo         : “sudah, ayo sudah siang. Ayo kita
    pulang. Pasti ibu sudah menunggu singkong kita”
  5. Jono                 : “o iya pak, bapak duluan.
    Nanti saya menyusul”
  6. Pak paijo         : “ ya sudahlah. Nanti bawa singkongnya
    ya. Nanti langsung berikan ibu. Bapak mau cangkrukan dulu di warung Pak Ucup”

Pak
paijo meninggalkan jono sendirian di sawah.

  1. Jono                 : “siapa gadis- gadis tadi ya,
    aku sangat penasaran untuk mengenalnya. Sosoknya begitu anggun mempesona,
    wajahnya mengalihkan duniaku. Tak ada gadis seanggun itu di rote. Kira- kira
    nanti dia mau tidak ya menikah denganku. Apa dia juga tertarik padaku, seperti
    gadis- gadis rote yang selalu mengejar- ngejar aku? Ah aku pulang saja…”
    (jono berbicara sendiri)

Di
perjalanan pulang jono bertemu lagi dengan gadis desa itu yang telah merebut
hati jono. Gadis itu hanya memberikan senyuman manis pada Jono. Dengan
memberanikan diri jono mulai mendekati gadis itu.

  1. Jono                 : “emm…. permisi, kalau boleh
    tahu nama kamu siapa ya?” (jono bertanya dengan gemetar)
  2. Centini                        : “Centini” (langsung
    bergegas meninggalkan jono)
  3. Jono                 : “waduh sialan, baru kali ini
    aku belum selesai bicara sudah ditinggalkan oleh perempuan” (jono terus
    bergumam sendiri)

Jono
segera bergegas pulang dan langsung menemui bu poniyem.

Babak 4

  1. Jono                 : “bu ibu. ibu dimana. Ayo kita
    kepasar bu…..”
  2. Bu poniyem     : “hari ini, kita tidak usah ke pasar cah
    bagos”
  3. Jono                 : “lho, mengapa bu? ibu sakit?”
  4. Bu poniyem     : “enggak, ibu sehat bugar kok, cuman nanti
    hasil kebun kita mau diborong sama juragan tanah itu, itulo juragan Kasmo.
    Nanti anak perempuannya dan pembantu- pembantunya yang akan mengambil dirumah
    kita”
  5. Jono                 : “ o iya bu,
    saya boleh tanya gak?”
  6. Bu poniyem     : “tanya apa to nak, ya tanya saja. mau
    tanya saja kok laporan”
  7. Jono                 : “ gadis desa ini yang sering
    lewat sawahnya bapak itu siapa to bu?
  8. Bu poniyem     : “gadis yang mana to? ya banyak to. semua
    gadis di desa ini membantu orang tuanya di sawah”
  9. Jono                 :” o, ya nggak tahu sih bu.
    Tapi gadis itu sangat anggun sekali bu. Sangat ayu. Pokoknya cuantik”
  10. Bu poniyem     : “ walah jon jon. Kamu ini ada- ada saja.
    lha ya banyak to gadis yang seperti itu. Wes ndang disiapkan ubinya. Dimasukkan
    karung, nanti biar gampang bawanya”

Jono
segera bergegas memasukkan singkong- singkong pesanan juragan Kasmo kedalam
karung. Tak lama berselang suruhan- suruhan juragan kasmo datang.

  1. Centini                        : “kulonuwun, buk,
    permisi”
  2. Bu poniyem     : “ owalah nak Centini, mau ambil pesanan
    bapakmu ya nduk?”
  3. Centini                        : “inggih buk”
  4. Bu poniyem     : “lha kok piyambakan to? lha yang bantu
    bawa nanti siapa?”
  5. Centini                        : “ saya sama teman saya
    kok bu, nanti bisa kok. Kami bawa berdua”

Di
sudut ruangan ada jono yang hanya terperanga, dia tidak menyangka kalau si
bidadari pujaan hatinyalah yang datang kerumahnya.

  1. Bu poniyem     : “jon jono, nak jono bawa singkongnya
    kesini nak. Ini lho sudah mau diambil mbak Centini”

Jono
dengan perasaan bercampur aduk mendekati Centini.

  1. Bu poniyem     : “ o iya, sek sebentar ya nak Centini. Ibu
    lupa, bapakmu juga pesan kacang panjang. Sebentar ibu ambilkan di belakang” bu
    poniyem meninggalkan mereka di ruang tamu.
  2. Jono                 : “ kau kah gadis yang pernah
    ku temui di sawah itu? Centini?”
  3. Centini                        : (Centini tersenyum
    manis) “ iya, dan kau jono bukan?pemuda yang tidak punya sanak saudara di Jawa.
    Keluargamu hilang setelah ada perang di negaramu?”
  4. Jono                 : “mengapa kau tau selengkap
    itu tentang aku? “ (jono heran)
  5. Centini                        : “ kampung ini sempat
    geger dengan kedatanganmu pemuda, mereka menganggap kau adalah  musuh yang menyusup di negara jawa kami. Tapi
    ternyata mereka salah. Kau adalah pemuda yang baik.”

Bu
poniyem keluar dari pintu belakang dan membawa kacang panjang titipan juragan
kasmo.

  1. Bu poniyem     : “ nduk, kacang panjangnya hanya segini,
    gak papa ya nduk. Nanti berikan saja ke bapakmu. Sampaikan maaf ibuk ke bapakmu
    ya nduk”
  2. Centini                        : “ o iya ibuk, tidak
    apa- apa kok. Segini juga sudah cukup. Ya sudah ibuk saya pamit dulu. Permisi.
    Terima kasih ya ibuk”

Centini
meninggalkan rumah bu poniyem.

  1. Jono                 : “ bu, lha itu tadi lho bu.
    Itu gadis yang saya maksud tadi bu…..”
  2. Bu poniyem     : “owalah jon jon. Iku ta? Lha kalo itu ibu
    ya kenal to. itu Centini, lha yang bapaknya sering mborong hasil kebun kita. Yo
    kenal banget kalo itu”
  3. Jono                 : “ bu, saya mau menikah dengan
    dia bu……”( jono sangat menggebu- gebu)
  4. Bu poniyem     : “o, ediyan kamu. Baru kenal sebentar kok
    sudah minta nikah. Lha yo mbok kenalan dulu lebih jauh, o ancen wes mendem
    wedokan jawa kamu ki”
  5. Jono                 : “mendem? Apa itu bu”
  6. Bu poniyem     :” mendem iku tergila- gila, sangat
    gandrung, sangat cinta. Owalah yo, aneh aneh ae kamu ki. Centini itu kembang
    desa ini. Banyak lelaki yang ingin menikahinya. Dan dengar-dengar dia akan
    dinikahkan dengan joko, anak pak lurah. Wes, kamu
    jangan berhayal. Baru ketemu saja sudah mau menikah, kamu ini mendem wedokan
    jawa tenan. istirahat dulu. Masuk sana. Bekal- bekal di bersihkan sana”

( Bapak datang dari warung)

  1. Pak Paijo         :
    “Bu ibuk….”
  2. Bu poniem       :
    “Walah teko endi ae to pak…”
  3. Pak Paijo         :
    “ Tekan warung bu Yusup”
  4. Bu Poniem      :
    “Warung wae bapak ki, tak kira bapak g muleh. Lha opo ngeser bu Yusup opo piye
    bapak ki?”
  5. Pak Paijo         :
    “Wah yo gak to Bu, bu ki piye.”
  6. Bu Poinem      : “Bu Yusup kan saiki wes rondo, iso ae bapak
    ngeser. Hayo”!
  7. Pak Paijo         : “Ora to yo bu, ibu ki lho”.
  8. Bu Poinem      : “Pak Jono ki mau crito neng ibu, Jono
    ttresno karo Centini, piye ngeneiki pak?
  9. Pak Paijo         : “Yo gak papa to bu. Jono yo cah
    bagus.”
  10. Bu Poniem      : “ Walah Bapak ki po gak ngerti?”
  11. Pak Paijo         : “Ngerti opo to ibu ki?”
  12. Bu Poniem      : “Bapak ki tenan gak ngerti gosip ki. Tak
    kandani yo pak, Centini ki sudah dijodohkan dengan anaknya lurah kelurahan sebelah
    itu lho, namanya Joko.”
  13. Pak Paijo         : “Ah mosok bu?”
  14. Bu Poinem      : “Bapak ki malah g ngandel. Wes ndang
    dikandani Jono ya pak, ojo seneng ma Centini.”
  15. Pak Pijo           : “Iyo bu engko tak kandani Jono.”
  16. Bu Poniem      : “Yowes bapak cepet mandi sana, ngopi
    terus bau bapak g enak.”
  17. Pak Paijo         : “iyo-iyo buk.”

 

Babak 5

Jono
akhirnya selalu memberanikan diri untuk menemui Centini sepulang dari sawah.

  1. Jono                 : “hai Centini,,,” ( sapa jono
    sambil menghampiri Centini )
  2. Centini            :
    “ ya,,ada apa jono ? “
  3. Jono                 :
    “ aku ingin  menanyakan sesuatu” (jono
    agak grogi)
  4. Centini                        :
    “ emang kamu mau tanya apa ? “
  5. Jono                 :
    “ apa kamu sudah memiliki pasangan? Dan apa benar kamu akan menikah dengan anak
    pak lurah ? “
  6. Centini            :
    “ untuk apa kamu menanyakan hal itu ?”
  7. Jono                 :
    “ ehmm,,, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu.”
  8. Centini            :
    “ iya katakan saja, aku akan mendengarnya” (dengan wajah tak berdosa)
  9. Jono                 : “sudah agak lama aku
    mengenalmu. Sudah sering pula kita bertemu di tempat ini. Dan aku ingin
    mengatakan bahwa aku menyukaimu sejak pertama aku melihatmu.”

Centini
langsung diam membisu mendengar apa yang jono katakan.

  1. Centini          : “apa jono? Apa aku tidak salah
    dengar?”
  2. Jono              : “sama sekali tidak, baru kali
    ini aku menyukai gadis. Dan gadis itu adalah gadis jawa. Aku berjanji akan
    membahagiakanmu, maukah kau menikah denganku?” (jono berusaha meyakinkan
    Centini)

Centini
sangat terharu mendengar kata- kata jono.

  1. Centini          : “ aku pun belum pernah merasakan
    jatuh cinta sedalam ini.” ( mereka pulang )
  2. Jono              : “ jadi,, kau terima cinta ku??”
  3. Centini          : ( hanya menjawab dengan senyum dan
    anggukan )

2 bulan kemudian

  1. Jono              : “ adek sudah menunggu lama?????
    ( jono menghampiri Centini yang sudah cukup lama duduk di pinggir sawah )
  2. Centini                      : “ Seperti biasa
    kang,,,, selama apapun aku harus
    menunggu,aku akan tetap bersabar menunggu kedatanganmu..”

Tak
selang beberapa saat ketika jono mnggarap sawah, muncullah seorang wanita
dengan berlari menghampiri jono.

  1. Julia                 : “oh, George….. akhirnya aku
    menemukanmu” (berusaha memeluk George namun ditepis oleh Centini)
  2. Centini                        : “ siapa kamu?”
    (Centini kaget melihat julia)
  3. Julia                 : “hey, yang seharusnya
    bertanya adalah saya. Siapa kamu? Berduaan di sawah dengan tunangan saya”
  4. Centini                        : “tunangan?  Apa maksudnya?”  (Centini tetap tidak mengerti)

Julia
tak menghiraukan Centini

  1. Julia                 : “sayang, kenapa sih kamu lari
    dari kerajaan? Raja mengirim beberapa antek- antek untuk mencarimu di beberapa
    pulau sekitar. kebetulan aku dan orang tuamu mendapat undangan pernikahan anak
    Raja Maemun dan Raja Wallabi di Jawa.Dan kami mendengar di pulau jawa ini ada
    pendatang dari pulau rote.Akhirnya aku segera mencarimu di pelosok-pelosok
    pulau Jawa ini untuk menjemputmu kembali pulang Ayolah sayang kita pulang saja”
    (julia mencoba membujuk Jono alias George)
  2. Jono                 : “aku tidak mau kembali ke
    kerajaan, aku tidak suka kehidupan kerajaan. Kehidupan yang penuh dengan
    kekayaan namun membuatku merasa terkekang. Aku tidak suka. Aku lebih suka hidup
    sederhana di sini.hidup dari hasil jerih payahku,dengan kebebasan dan kebahagiaan
    yang sebenarnya”
  3. Julia                 :” tapi kita telah dijodohkan
    sayang… dan dengan pernikahan kita nanti pasti kejayaan kerajaan akan semakin
    besar” (masih tetap merayu jono)
  4. Centini                        : “eh, apa-apaan ini.
    Apa maksud semua ini. George siapa? Dan kamu juga siapa?” ( Centini semakin
    bingung dengan keadaan)
  5. Julia                 : “ kamu yang apa- apaan.
    George itu tunangan saya. George itu pangeran kerajaan Mallesy. Dan saya
    tunangannya, saya putri kerajaan Deros”
  6. Centini                        : “hah? Apa?” ( Centini
    serasa tak percaya)
  1. Jono              : “tidak, semua itu tidak benar.
    Aku bukan pangeran. Aku tidak kenal dengan gadis itu” (menunjuk Julia)
  2. Julia               : “kamu tidak percaya denganku?
    Oke, akan saya panggil orang tua George kesini dan biar mereka yang menjelaskan
    semuanya” (julia meninggalkan mereka berdua)
  3. Jono              : “ percayalah Centini aku bukan
    pangeran, aku tidak mengenal gadis itu”
  4. Centini          : “wahai jono betapa sakitnya aku,
    jika memang kau adalah pengeran dan telah bertunangan. Aku telah memberikan
    sepenuh hatiku padamu. Tiada lagi keraguan padamu. Tapi, mengapa…….” (
    centini tak sanggup lagi meneruskan kata- katanya.

Tiba-
tiba bu poniyem dan pak paijo melewati sawah tempat jono dan Centini bertemu.

  1. Bu
    poniyem  : “ lho, kalian disini. Lho, ada
    apa? Kenapa Kamu menangis ndok?”
  2. Pak
    paijo       : “ ada apa ini jono. Mengapa
    Centini menangis?”
  3. Jono              : “ lho, kenapa bapak dan ibu ada
    di sini?” (jono kaget)
  4. Bu
    poniyem  : “ lha ya bapak dan ibu mau ke
    sawah to.  sudah kamu jangan mengalihkan
    pembicaraan. Ada apa ini. Mengapa Centini menangis? (bu poniyem bertanya  kepada jono)
  5. Centini          : “ selama ini jono telah membohongi
    kita semua, bu ”
  6. Bu
    poniyem dan pak paijo    : “ apa maksudmu
    ndok ?”
  7. Jono              : “tidak bapak, tidak ibu. Semua
    itu tidak benar.”
  8. Centini          : “ tak perlu kau tutupi lagi
    kebohonganmu selama ini, George. “
  9. Pak
    paijo       : “ sebenarnya ini ada apa?
    Jangan buat kami binggung. Jelaskan semuanya pada kami jono ! “ ( dengan nada
    binggung dan sedikit kesal )
  10. Jono              : “ eh…itu..anu… “ ( jono
    tergagap untuk
    menjawab )
  11. Centini          : “ biar saya yang menjelaskan pak.
    Jono adalah putra kerajaan Rote, dia sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi
    akan segera menikah. Tapi dia malah kabur dari kerajaan dan membohongi kita
    semua di sini. ( jelas Centini sambil menahan tangis)

Tiba-
tiba julia datang bersama orang tua George.

  1. Raja
    Mallesy : “ George, berani- beraninya kamu
    kabur dari kerajaan”
  2. Ratu
    Mallesy : “ George, pulanglah nak. Jangan
    mempermalukan kami. Segala persiapan sudah dipesiapkan” (berusaha membujuk
    George)
  3. Julia               : “ ayolah George, kita pulang.
    Kita akan menikah sayang”
  4. Jono              : “ sudah hentikan. Saya tidak mau
    hidup di kerajaan ayah, ibu. Saya tidak mau disuruh- suruh. Saya mau mencari
    arti kehidupan itu sendiri. Saya mau menemukan cinta sejati saya. Dan saya
    telah menemukan cinta sejati saya di pulau Jawa ini. (menggeret Centini)
  5. Ratu              : “apa? Gadis Jawa ini. Tidak bisa
    nak. Kamu harus menikah dengan julia, kerajaan kita akan hancur kalo kamu tidak
    menikah dengan julia. Kamu paham kan nak”
  6. Raja               : “ tidak boleh, kamu tidak boleh
    menikah denga gadis jawa itu” (raja marah)
  7. Jono              : “ ayah, tapi saya sayang,
    saya  cinta, saya mendem wedokan jawa
    ayah…… tolong mengerti saya” ( sambil memegang tangan Centini dengan erat)
  8. Ratu              : “nak, rakyat kita akan mati
    kelaparan kalau kamu tidak menuruti kata- kata ayahmu nak. Jangan menentang”
  9. Jono              : “tidak bisa bu, tidak bisa”
  10. Bu
    poniyem  : “sudahlah jono, ikuti saja
    kata- kata ayahmu. Taruhannya rakyat kamu Jono”
  11. Jono              : “tapi bu”
    (sambil menatap dalam Centini)
  12. Centini          : “turuti kata- kata ayahmu. Rakyatmu
    lebih penting. Dan aku hanya rakyat jelata. Tentu kamu tidak ingin melihat
    rakyatmu mati kelaparan kan?” (berusaha tegar)
  13. Jono              :” tapi Centini, aku benar- benar
    mencintaimu. Dan kita juga telah merencanakan masa depan kita yang indah.
    Dengan anak- anak kita”
  14. Centini          : “aku tidak mencintaimu, selama ini
    aku berbohong. Aku lebih mencintai anak pak lurah si joko. Sudahlah kamu pergi
    saja”
  15. Jono              : “benarkah itu Centini? Tapi
    mengapa kau membohongiku?”
  16. Centini          : “ aku pernah sakit hati dengan joko,
    karena dia telah membuatku sakit hati. Dan menurutku kamu adalah orang yang pas
    untuk dijadikan alat balas dendam.”
  17. Jono              : “ Centini? Jangan kau bohongi
    hatimu. Aku tahu selama ini kamu tak pernah mencintai joko. Aku benar-benar
    mencintaimu Centini”
  18. Raja               : “ sudahlah, ayo kita segera
    pergi dari sini. Kapal kita sebentar lagi akan berangkat. Ibu, julia ajak
    George ikut kembali dengan kita”
  19. Ratu              : “ayo nak kita pulang” (ratu
    mengajak George pergi)
  20. Julia               : “heh, gadis Jawa. Ternyata kau
    lebih busuk dari bangkai. Kau iblis, tega merebut tunangan orang lain. George
    selamanya akan menjadi milik ku” (beranjak meninggalkan sawah)

Centini
tak henti- hentiya menangis. Bu poniyem berusaha menenangkan Centini.

  1. Pak
    paijo       : “ apa benar to nduk kamu
    suka sama Joko?”
  2. Centini          : “ ya gak mungkin lah pak, kang joko
    sudah seperti kakak saya sendiri”
  3. Bu
    poniyem  : “lalu, mengapa tadi
    kamu………….”
  4. Centini          : “pak, bu. Saya sengaja berbohong.
    Agar jono mau ikut kembali ke kerajaannya”
  5. Bu
    poniyem  :” apa sebenarnya kamu mencintai
    jono nduk?”
  6. Centini          : “sangat bu, sangat. Belum ada lelaki
    manapun yang mampu menyentuh hati saya”
  7. Pak
    paijo       : “ tapi, mengapa kamu
    merelakan dia kembali?”
  8. Centini          : “ Centini tidak mau, dengan cinta
    Centini banyak rakyat yang mati kelaparan. Centini juga tidak mau kalau sampai
    orang bilang bahwa Centini tega merebut tunangan orang. Centini tidak ingin
    merasakan kebahagiaan di atas penderitaan orang lain.Centini tidak mau pak,
    bu…..”
  9. Bu
    paijo        : “sungguh mulia hatimu nduk.
    Ibu dan bapak yakin. Kelak kamu akan mendapatkan pendamping yang sangat
    menyayangimu”
  10. Centini                      : “semoga bu,
    amin……………………….”

Demikianlah akhir
dari cerita “PANGERAN ROTE MENDEM WEDOKAN JAWA”. Segala cinta dan pengorbanan
pun harus pupus karena adanya perpedaan serta tanggung jawab pada rakyat. CINTA
TAK HARUS MEMILIKI, NAMUN CINTA AKAN LEBIH INDAH JIKA HARUS MELAKUKAN SEBUAH
PENGORBANAN BESAR, DAN CINTA AKAN SENANTIASA BERSEMI DALAM RELUNG HATI.

“AKU vs AYAHKU”

Posted: 1 Februari 2011 in Naskah Drama

(Naskah Telah Dipentaskan)

Nama2 Pendukung “Aku vs Ayahku”

Nur Marita Sari

Wike Arniyar

Citra Kurnia

Yadmy Lian

Anjas A Kanawadu

Marlina J

Anaci Lamu

Ending E Ledoh

Maya E E

Buce F H

Ira Yudhitia

1. Judul Cerita

“Aku vs Ayahku”

2. Pengorganisasian

Pimpinan Produksi  : Drs. Heru Subrata, M.Si

Sutradara                 : Nur Marita Sari

Asisten Sutradara : Citra Kurnia Sari

Sekretaris : Wike Arniar Sari

Bendahara : Maya E Benu

Penata Panggung : Ira yuditya

Penata Rias & Busana: Marlina

Penata Musik: Anjas Kanawadu

3. Tokoh

  1. 1. Citra Kurnia Sari sebagai Marni
  2. Buce F Henuk sebagai Marjuki
  3. Yadmi lian sebagai Anto
  4. Wike Arniar sari sebagai Cepi
  5. Anaci Lamu sebagai Irna
  6. Marlina sebagai Audi
  7. Maya E Benu sebagai Lala
  8. Ira Yuditya sebagai Bu Wiwik
  9. Endang E sebagai Narator

4. Konsep cerita

Konsep cerita dalam “ Aku vs Ayahku” adalah cerita drama remaja yang menggambarkan sebuah cerita yang sering ditemui di sekitar kita namun diselingi dengan unsur-unsur komedi sehingga tidak terasa membosankan bagi penikmat drama.

Cerita ini adalah cerita yang kami ambil dari salah satu naskah Budi Ros yang berjudul sama  “Aku vs Ayahku”

5. Synopsis cerita

Kisah tentang sepasang anak remaja yang saling jatuh cinta, namun cinta mereka ditolak oleh ayah si perempun (marjuki).

Marni yang merasa tidak adil dengan sikap penolakan si ayah, nekat untuk kabur dari rumah, semua temannya berusaha untuk membujuknya. Namun si anto sebagai pacar mari pun merasa putus asa menghadapi ayah si marni……

Akankah kisa in I berakir indah, mari kita saksikan ….!!!!

6. Konsep panggung

Cerita ini terdiri dari 5 babak. Babak pertama dan ke dua adalah aula sekolah  dan babak ke tiga dan empat  adalah sebuah taman, babak ke lima adalah di rumah marjuki dan marni.  Konsep panggung ini dibuat sederhana namun dapat mewakili dengan jelas jalan cerita yang ditampilkan.

Pada babak pertama dan ke dua setting panggung adalah aula sekolah. Di atas penggung  terdapat

  1. 5 buah kursi pendek
  2. 2 buah tamanam dalan pot
  3. 1 buah papan sterofom bertuliskan aula

Pada babak ke tiga dan empat di sebuah taman. Setting adalah yang terdiri dari:

  1. 1 buah bangku panjang
  2. Beberapa tanaman dalam pot

Pada babak ke lima, setingnya adalah sebuah ruang tamu di rumah marjuki dan marni, terdiri dari :

  1. 3 buah kursi santai
  2. 1 buah meja tamu
  3. Lukisan yang tersebar di dinding dan lantai ruang tamu

7. Konsep busana

Marni : Memakai kaos, bawahan celana jeans, dan jaket

Anto   : Memakai pakaian seragam sekolah, dan berganti dengan atasan kaos

Marjuki : Memakai kemeja lengan pendek, celana panjang dan peci

Cepi : Memakai seragam pramuka dan akan diganti atasannya dengan kaos

Irna, lala, audi  : Memakai pakaian seragam pramuka, dan nanti akan berganti pakaian biasa, berupa kaos dan celana, juga membawa sampur

Ibu wiwik, pakaian batik dan memakai sampur

8. Penokohan

Marni : Kreativ, namun keras kepala, pendiriannya kuat dan mudah tersinggung, saying kepada teman-temannya.

Marjuki  : Wataknya keras, sangat saying terhadap anaknnya dan cenderung protektif, wajahnya tampak garang namun  sebenarnya sayang terhadap keluarga

Anto : Lembut sikapnya, mudah putus asa, cenderung rendah diri, pendirian kuat, badannya tinggi dan tidak terlalu gemuk.

Cepi : Gadis periang, suka menolong teman, cerdas dan lucu. Badannya tidak terlalu tinggi dan agak gemuk

Irna : Halus sikapnya dan sabar, tinggi, putih

Audi  : Sabar, penyayang dan agak centil, tinggi badan sedang

Lala : Sabar penyayang, dan halus.

9. Konsep musik

Music diiringi dengan alat music gitar, dan mainan kentingan, serta music recaman sebagai  backsound.

Naskah

GONG DUA KALI BERBUNYI.

(1) NARATOR            :

Selamat malam semua, Selamat datang … Apa kabar ?. Malam ini kami akan membawakan lakon berjudul Aku versus Ayah, lakon yang sederhana tapi seru. Seru di sini bukan saja ramai, tapi punya arti lain, yaitu Sedikit Ruwet. Ini lakon tentang pertentangan anak muda dan orang tua, pertentangan pop dan klasik, tradisi dan modern. Pertentangan yang sebetulnya tidak perlu ada. Tapi begitulah, nyatanya pertentangan semacam ini selalu ada, dari waktu ke waktu. Dan gara-gara pertentangan ini, kita semua sering kehabisan waktu. Cinta, kata orang bisa menjadi jawaban semua masalah. Tapi dalam kasus ini, cinta mengakibatkan banyak masalah.

GONG BERBUNYI SEKALI

PROLOG

(2) NARATOR :

Drama remaja tentang kisah cinta Si Marni, dia patah hati melulu. Karena setiap kali Marni jatuh cinta, atau ada pemuda jatuh cinta padanya, babenya (pak Marjuki) selalu melarang. Dan anehnya, sang babe selalu punya alasan yang sama: aku sayang sama kamu NAK, jadi aku harus menjagamu. Gile, memangnya cinta itu kejahatan. Atau jangan-jangan babe si Marni ngidam jadi sekuriti. Entahlah. Marjuki, dalam lakon ini punya tugas sebagai tokoh antagonis atau si jahat. Dalam kehidupan nyata, orang tua seperti Marjuki, tidak boleh begitu. Orang tua harus ngemong anak. Harus mengerti kemauan anak. Bukan main larang. Apalagi dalam urusan cinta. Ingin tahu apa yang terjadi dengan kisah cinta Marni? Saksikanlah!

BABAK SATU

ADEGAN SATU

AULA SEBUAH SMU. SIANG.

PARA SISWI / SISWA SEDANG ESKUL MENARI. MEREKA BERGERAK TANPA PENGHAYATAN. IBU WIWIK  MEMBERI PENGARAHAN.

(3) IBU WIWIK :

Coba perhatikan semua. Irna, Audi, Lala, semua tenang dulu sebentar.

(SETELAH SEMUA TENANG)

Perhatikan ya. Menari itu bukan asal bergerak. Tapi bergeraklah dengan perasaan, dengan emosi atau greget. Tanpa dibarengi perasaan, tarian kalian tidak akan menarik. Hambar, kosong. Seperti robot! Dan penonton akan cepat bosan, lalu pulang. Menyedihkan. Tontonan yang ditinggalkan penonton sebelum waktunya adalah tontonan yang sangat menyedihkan.

Sekarang coba lagi dari awal. Coba pakai musik. Ibu mau ke toilet. Irna, pimpin teman-teman, ya. ( PERGI )

(4) IRNA :

Baik, bu. Yuk, teman-teman. Langsung ya ?

(5) LALA :

Istirahat dulu dong.

(6) AUDI :

Heeh, BT nih.

(7) YANG LAIN :

Ya. Pegel juga ya ?

(8) AUDI :

Jadi nyesel milih tari tradisi. Mana gerakannya lambaaattt… jawa banget deh!

(9) YANG LAIN :

Ember …

(10) IRNA :

Siapa yang dulu ngotot milih tari tradisi ?

(11) AUDI :

Eh, bukan gue lagi. Keputusan bersama kan ?

(12) LALA :

Ya. Tapi provokatornya kamu. Lala bilang modern dance aja. eh, kamu ngotot.

(13) AUDI :

Gara-gara ibuku juga sih. Tradisi, tradisi aja, supaya kamu kenal tradisi. Tahunya pegeeelll. Gerakannya lambaaatttt … pantes  Marni nggak mau ikut.

(14) IRNA :

Eh, iya. Jadi inget Marni. Dia belum masuk sekolah juga, dia masih dalam masa protes sama bapaknya ya, gara-gara dilarang pacaran sama si Anto? Tapi, ini kan sudah seminggu dia nggak masuk sekolah. Masa’ dia nggak kangen sama kita.

(15) AUDI :

Memang Kasian Si Marni, Patah hati melulu. Bayangkan saja, Setiap kali Marni jatuh cinta, atau lagi dicintai sama orang, pasti bapaknya melarang.

(16) IRNA :

Iya. Semoga saja Pak Marjuki kali ini sadar kalau tindakannya itu salah. Soalnya Marni itu orangnya keras, kalau seperti ini terus bisa-bisa Marni jadi nekat.

( MARNI MENDADAK MUNCUL )

(17) MARNI :

Heh, latihan yang bener. Jangan mengeluh. Jangan ngerumpi teruss..

(18) SEMUA :

Eh, udah nongol aja dia.

(19) LALA :

Heh, katanya masih mogok sekolah. Kok nongol?

(20) MARNI :

Aku cuma mampir, habis beli cat.

(21) AUDI :

Mau  ngecat rumah? Wah, mau hajatan rupanya? Orang tua Anto mau melamar?

(22) MARNI :

Gila ! Tapi betul teman-teman, aku punya hajatan. Kalian harus datang, ya? Teman-teman, sepertinya aku akan pergi.

(23) LALA :

Mau pergi kemana?

(24) MARNI :

Jauhh..

(25) AUDI :

Iya, tapi kemana?

(26) MARNI :

Ke luar negeri.

(27) LALA :

Ngapain kamu disana?

(28) MARNI :

Jadi TKI.

(29) LALA :

Kamu benar-benar nekat Marni.

(30) IRNA :

Kenapa tiba-tiba pergi? Protes lagi sama ayahmu ya? Jadi ini acara hajatan untuk perpisahan kamu ke luar negeri?

(31) MARNI :

Mmhh.. ada dehh.. Rahasia! Pokoknya datang sajalah.

(32) IRNA :

Acara apa dong, yang jelas?

(33) MARNI :

Datang saja, pokoknya seru. Ini acara kejutan, jadi sengaja tidak pakai penjelasan. Datang dan bawa makanan apa saja, kue kek, rujak kek. Apa saja, soalnya aku nggak sempat masak. Kabarkan ke yang lain ya?  Dah .. (PERGI)

(34) AUDI :

Acara apa sih ?

(35) SEMUA :

Mana tahu.

(SEMUA KELUAR PANGGUNG, ANTO MASUK SENDIRIAN SAMBIL BERNYANYI)

LAMPU BERUBAH

BABAK 2

ADEGAN SATU

DI AULA SEBUAH SEKOLAH. SIANG.

ANTO SENDIRIAN, HATINYA GUNDAH.

(36) ANTO : (MENYANYI)

Bukan ku menolak mu, untuk mencintaimu…

Kau harus tahu siapa diriku…

Aku merasa … orang termiskin di dunia … Yang penuh derita… bermandikan air mata… itulah hidupku ku katakan padamu, agar engkau tahu siapa diriku…

(CEPI, DATANG DIAM-DIAM. NIMBRUNG NYANYI)

Kau orang kaya, aku orang tak punya…

(37) CEPI : (MENYANYI)

Siapa sangka, cinta marni bikin patah hati

cinta marni dilarang pak marjuki

(38) ANTO :

Setan kamu !

(39) CEPI :

Tenang kawan, tenang. Harap tenang. Semua aman terkendali, karena ada Cepi. Kamu ingat kan ? Bayu, Agus, Edo, Tyas, Audi, Lala, Irna, semua pernah punya masalah dalam urusan cinta. Tapi begitu Cepi datang, semua masalah selesai. Jadi harap sabar, tenang.

(40) ANTO :

Memang siapa yang ribut ?

(41) CEPI :

Sekarang aku sedang berpikir, bagaimana supaya ayah Marni bisa menerima kamu. Tapi sebelumnya dengar kataku. Ini penting dan perlu diketahui semua orang. Ini ilmu kuno, tapi manjur. Sayang orang sering melupakan.

Begini, dalam hidup ini ada dua hal yang harus diingat: sukses atau gagal. Menang atau kalah. Untung atau buntung. Senang atau sedih. Bahagia atau sengsara. Dalam urusan cinta, juga hanya ada dua kemungkinan: diterima atau ditolak. Jadi tenanglah.

(42) ANTO :

Memang siapa yang ribut ?

(43) CEPI :

Kalau cinta diterima, kita memang bahagia. Tapi sebetulnya ada sejuta resiko menunggu. Kamu harus apel setiap malam Minggu, harus datang tepat waktu, harus berpikir baju dan parfum apa yang pantas dipakai, punya uang saku, dan hadiah apa yang pantas diberikan pada saat si dia merayakan ulang tahun.

(44) ANTO :

Memang siapa yang bikin aturan begitu ?

(45) CEPI :

Itu baru tahap-tahap awal. Tahap berikutnya, lebih repot. Kamu harus datang silaturahmi pada kakek-neneknya, pada para om dan tentenya waktu mereka hajatan, harus datang waktu sepupu-sepupu dia kawin, atau ultah dan semacamnya.

(46) ANTO :

Siapa yang bikin aturan begitu ?

(47) CEPI :

Pada tahap yang paling serius, waktu kamu sudah nikah dengan dia misalnya, kamu akan dibilang orang paling sombong dalam keluarga mereka, hanya gara-gara  tidak datang waktu mereka bikin acara arisan keluarga. Bayangkan, arisan keluarga, acara paling membosankan di dunia  pun kamu harus datang. Itulah resiko kalau cinta kita diterima seorang gadis. Jadi ditolak, sebetulnya lebih bagus.

( ANTO TERTAWA )

(48) CEPI :

Kenapa tertawa ?

(49) ANTO :

Kamu penyitir yang hebat.

(50) CEPI :

Maksudnya ?

(51) ANTO :

Kamu menyitir buku “ Enaknya Hidup Membujang ” kan ?

(52) CEPI :

Kok tahu ?

(53) ANTO :

Yang nulis buku itu pamanku. Aku sudah baca sebelum buku itu dicetak. Aku pikir cuma aku yang hafal luar kepala, ternyata kamu lebih hafal lagi. Kapan kamu baca buku itu, tadi siang ya ?

(54) CEPI :

Bukan. Tadi sebelum ke sini.

(55) ANTO :

Pantes, hafal sampai titik komanya. Tapi maaf Cepi, aku tidak sepakat dengan buku itu. Ogah aku jomblo seumur hidup. Aku  betul-betul  sayang  sama  Marni,  dan  ingin  suatu  saat  hidup bersamanya. Bisa tidak  bisa, harus  bisa. Apa  pun  rintangan  yang  menghadang,  akan  kuterjang. ( PERGI )

(56) CEPI :

Anto, tunggu. Anto ! Busyet, Romeo sekali. Gila tu si Anto.

(NGOS-NGOSAN) Cepet banget larinya. Seperti atlit lari saja.

(MENGEJAR, MENCOBA UNTUK MENYUSUL ANTO)

LAMPU BERUBAH

ADEGAN DUA

DI AULA SEBUAH SEKOLAH. SIANG.

IRNA MEMBERI TAHU CEPI BERITA TENTANG MARNI.

TIBA-TIBA IRNA MASUK DENGAN TERGESA-GESA.

(57) IRNA :

Heh Cepi! Kamu sedang tidak sibuk kan? Aku mau berbicara serius.

(58) CEPI :

Ada kabar apa Irna? Seperti ada hal yang penting.

(59) IRNA :

Iya. Aku kemari dengan tujuan mencari Anto untuk memberi tahu tentang Marni.

(60) CEPI

Marni kenapa?

(61) IRNA

Dia bilang mau ke luar negeri jadi TKI.

(62) CEPI :

Apa tidak salah? Dia kan masih harus sekolah.

(63) IRNA :

Entahlah. Marni itu nekat. Kata Marni, ini sebagai salah satu kelanjutan bentuk protes pada ayahnya karena tidak mengijinkan dia pacaran sama Anto.

(64) CEPI :

Terus?

(65) IRNA :

Sekarang Anto dimana?

(66) CEPI :

Barusan saja pergi, tadi waktu kamu kesini.

(67) IRNA :

Yah.. padahal ini berita penting

(68) CEPI :

Ada-ada saja itu si Marni. Tapi aku salut terhadap perjuangannya untuk meluluhkan hati ayahnya.

(69) IRNA :

Lalu sekarang kita harus bagaimana?

(70) CEPI  :

Mmmmhhhhh…. (SAMBIL BERPIKIR)

Kapan Marni akan berangkat?

(71) IRNA :

Aku juga kurang tahu. Tapi, dia bilang secepatnya.

(72) CEPI :

Kita harus cepat mencegah dia untuk pergi. Anto juga harus cepat diberi tahu. Apa Anto sudah tahu tentang berita ini?

(73) IRNA :

Entahlah Cepi. Aku tidak pernah bertemu Anto. Susah sekali untuk bertemu dia. Kamu kan temannya, mengapa tidak kamu saja yang menanyakan pada Anto?

(74) CEPI :

Iya. Akan kucoba menanyakannya.

(75) IRNA :

Lalu Marni bagaimana?

(76) CEPI :

Menahan Marni agar tidak pergi adalah tugas kamu, Lala, dan Audi. Kalian kan teman dekat Marni. Jadi, sedikit banyak kalian pasti  tahu bagaimana sifat Marni. Sementara aku menemui Anto. Aku akan mencoba mengajak dia berbicara.

(77) IRNA :

Baiklah. Aku akan memberi tahu teman-teman yang lain.

(PERGI MENINGGALKAN ANTO SENDIRIAN)

(78) CEPI :

Selamat berjuang! Aku akan memberi tahu Anto.

ADEGAN TIGA

SEBUAH AULA SEKOLAH

ANTO SEDANG DIBUJUK CEPI UNTUK SEGERA MENEMUI MARNI.

CEPI SEDANG DUDUK-DUDUK SENDIRI. LALU ANTO DATANG MENGHAMPIRI.

(79) ANTO :

Hei. Ada apa? Aku harap ini penting.

(80) CEPI :

Aku serius Anto. Kamu harus ke rumah Marni. Kamu akan menyesal kalau Marni keburu pergi.

(81) ANTO :

Kalau memang mau pergi masa dia tidak kasih tahu aku ?

(82) CEPI :

Mungkin belum sempat kasih tahu.

(83) ANTO :

Dari mana kamu dapat berita itu ?

(84) CEPI :

Irna, Audi, Lala, semua sudah tahu.

(85) ANTO :

Kalau dia sempat kasih tahu semua orang masa saya tidak dikasih tahu ?

(86) CEPI :

Mungkin  belum sempat, makanya datang supaya tahu. Cari berita, jangan pasif.

(87) ANTO :

Barangkali memang sengaja tidak mau kasih tahu. Sudah tidak peduli sama aku.

(88) CEPI :

Aku tahu sifat  Marni. Tidak mungkin dia begitu.

(89) ANTO :

Nyatanya dia begitu.

(90) CEPI :

Tidak mungkin Anto. Aku yakin ini soal waktu. Mungkin dia menunggu waktu yang  tepat untuk bicara sama kamu. Kalian kan lama tidak saling ketemu. Biasanya kamu datang ke rumah Marni, sekarang tidak. Biasanya kalian jalan bareng, sekarang tidak. Marni juga lama tidak masuk sekolah.

(91) ANTO :

Memang tidak bisa telpon ?

(92) CEPI :

Telpon ke mana ? Kamu HP tidak ada, di rumah jarang.

(93) ANTO :

Jelas, dia sudah berubah. Tidak sayang aku lagi.

(94) CEPI :

Dari pada mengambil kesimpulan buru-buru dan salah, lebih baik kamu buru-buru ke rumah Marni dan semuanya jadi jelas. Tidak ada yang salah terima, tidak ada yang sakit hati. Ayo, kita ke sana. Aku siap menemani.

(95) ANTO :

Kalau ayahnya mengusir kita bagimana ? Aku trauma pernah diusir.

(96) CEPI :

Diusir kita pergi. Dimarahi kita diam. Disuguhi kita makan.

(97) ANTO :

Kamu bisa bilang begitu, coba kamu jadi aku.

(98) CEPI :

Kalau aku jadi kamu, tidak akan pernah diusir. Malah ayah Marni yang akan kubikin mencari-cari aku.

(99) ANTO :

Bagaimana caranya ?

(100) CEPI :

Anak gadisnya kita buntingin !

(101) ANTO :

Ngaco !

(102) CEPI :

Ayo berangkat. Ambil motormu dong.

(103) ANTO :

Jalan kaki saja. Knalpotnya tambah bocor, berisik sekali. Ayah Marni paling benci mendengar bunyi motorku.

(104) CEPI :

Ya sudah. Ayo !

(105) ANTO :

Kamu jalan di depan, aku di belakang.

(106) CEPI :

Aduh. Begitu amat. Seberapa trauma sih ?

( CEPI JALAN, ANTO MENGIKUTI DI BELAKANGNYA )

(107) ANTO : (BERHENTI)

Tunggu Cepi. Bagaimana kalau Marni tidak mau menemui kita ?

(108) CEPI :

Gampang, ingat saja nasehat buku “ Enaknya Hidup Membujang ”. Oke ?

(109) ANTO :

Tidak. Lebih baik aku pulang. ( PERGI )

(110) CEPI :

Ampun… Anto, Anto! Kenapa kamu jadi pengecut begitu sih? Anto! Ampuuunn.

( ANTO TERUS JALAN, CEPI MENGIKUTI )

LAMPU BERUBAH

BABAK 3
ADEGAN SATU

TAMAN SEKOLAH. SORE.

MARNI DIBUJUK TEMAN-TEMANNYA SUPAYA JANGAN PERGI.

INTRO MUSIK

MARNI, IRNA, LALA, DAN AUDI MASUK PANGGUNG.

(111) AUDI :

Jangan Marni, jangan pergi. Pergi tidak akan menyelesaikan masalah.

(112) IRNA :

Justru kamu akan bikin masalah baru.

(113) LALA :

Jadi TKI itu tidak gampang Marni. Kamu akan banyak kesulitan.

(114) IRNA :

Sebaiknya kamu segera masuk sekolah. Sebentar lagi kita ujian, tahun depan kita harus kuliah. Lupakan keinginan konyol itu.

(115) SEMUA :

Lupakan … Marni !

(116) MARNI : ( MENYANYI )

aku harus pergi rumah tak lagi memberiku kedamaian sebab aku dan ayah tak pernah   sepaham cinta pemuda yang kudambakan selalu lepas dari genggaman

(117) AUDI :

Bersabarlah, Marni. Kita masih banyak kesempatan. Waktu berjalan, sikap ayahmu pasti berubah.

(118) IRNA :

Orang seusia kita selalu diangap masih kanak-kanak. Dianggap belum waktunya pacaran.

(119) LALA :

Memang menjengkelkan, tapi di mana-mana selalu begitu.

(120) MARNI :

aku tak mau begitu masa depanku adalah milikku urusan cinta harus kita yang menentukan

(121) IRNA :

Tapi ayahmu bilang tidak melarangmu pacaran. Dia hanya minta kamu memilih pemuda yang tepat, dan jangan sampai pacaran mengganggu belajar.

(122) MARNI :

itu sama dengan melarang

Ayahku bahkan pernah mengusir Anto. Gara-garanya sangat sepele. Suara berisik knalpot motor Anto yang bocor. Padahal ada banyak suara knalpot motor yang lebih berisik lewat  di depan rumah. Itu tidak adil.

(123) AUDI :

Tapi semua pacar-pacar kita pernah ada masalah dengan orang tua kita. Semua pernah diperlakukan tidak adil.  Hubungan kalian pasti akan membaik.

(124) MARNI :

Ketidakadilan harus diperjuangkan, kawan. Sebab ia tidak datang dari langit. Hubungan bisa saja membaik, tapi pasti ada prinsip dan hak-hak yang dilanggar. Ada yang menindas dan tertindas. Dan itu tidak baik.

(125) LALA :

Tapi kami tetap tidak rela kamu pergi Marni. Apa lagi pergi ke luar negeri untuk jadi TKI.

(126) IRNA :

Ya. Omonganmu yang pintar tadi membuktikan kamu tidak pantas jadi TKI. Kamu harus lulus SMU dan kuliah.

(127) MARNI :

Soal ke luar negeri dan jadi TKI, bisa jadi aku memang asal bicara. Yang  jelas aku harus pergi dari rumah. Mungkin itu protes yang mempan buat ayahku.

(128) AUDI :

Itu lebih baik Marni. Kamu bisa tinggal di rumahku. Soal biaya sekolah, jangan kuatir. Ayahku pasti mau bantu.

(129) LALA :

Ayahku juga pasti mau bantu. Tapi kamu harus tinggal bergiliran di rumah kami bertiga dong, supaya adil.

(130) IRNA :

Ya. Aku setuju.

(131) AUDI :

Kalau kamu tidak ke luar negeri, pacaran sama Anto tetap berjalan lancar. Hidup backstreet !

(132) MARNI :

Tunggu. Kalian jangan salah ngerti. Aku pergi dari rumah bukan semata-mata protes. Tapi juga bermaksud mandiri. Supaya aku tidak tergantung siapa-siapa. Supaya aku merdeka menentukan masa depan.  Tinggal di rumah kalian jelas bukan pilihan yang tepat. Aku tetap jadi tanggungan orang.

(133) AUDI :

Itu tidak masalah Marni. Kami ikhlas membantumu. Itulah gunanya sahabat.

(134) LALA :

Yang penting kamu tetap bisa sekolah.

(135) MARNI :

Prioritas utamaku sekarang cari kerja supaya bisa membiayai hidupku sendiri. Sekolah aku pikirkan belakangan. Soal pacaran dengan Anto, aku sendiri tidak yakin tetap bisa jalan. Sejak diusir ayahku, dia tidak pernah muncul lagi. Dia ternyata pengecut. Tapi terimakasih  atas iktikad baik kalian. Selamat sore, aku pergi dulu. Ada perlu. ( PERGI )

(136) IRNA :

Marni, tunggu. Marni !

(137) LALA & AUDI :

Marniii …

(138) AUDI :

Bagaimana sih dia ?

(139) IRNA :

Kok kepala batu banget ?

(140) LALA :

Memang kepala batu dari sononya.

( CEPI MUNCUL BERGEGAS )

(141) CEPI :

He, lihat Marni ?

(142) AUDI :

Baru pergi.

(143) CEPI :

Anto ?

(144) AUDI :

Nggak. Sudah lama nggak lihat Anto. Bukannya dia jarang masuk sekarang ?

(145) CEPI :

Memang.

(146) IRNA :

Ada apa ?

(147) CEPI :

Mungkin cuma Anto yang bisa membujuk Marni tidak kabur ke luar negeri. Kemaren aku bicara sama Anto supaya dia datang menemui Marni, tapi gagal. Malah Anto ngambek. Merasa tidak dipamiti. Memang  Marni belum pamit sama Anto, ya ?.

(148) IRNA :

Kelihatannya begitu. Marni juga ngambek karena Anto tidak pernah datang lagi sejak dimarahi ayahnya.

(149) CEPI :

Begitu ? Wah, tambah ruwet dong. Terus bagimana ini ?

(150) IRNA :

Bagaimana, bagaimana ? Kita juga tidak tahu bagaimana.

( MENDADAK TERFIKIR ) Cepi, bagaimana kalau kita bagi tugas ?

Begini, coba temui Marni …

(151) CEPI :

Saya tadi ke rumah dia, tapi tidak ada …

(152) LALA :

Tadi dia di sini …

(153) IRNA :

Temui Marni, bujuk supaya ketemuan sama Anto. Saya, kami bertiga ini, membujuk Anto supaya ketemuan sama Marni. Bagaimana ?

(154) CEPI :

Tapi Anto sudah dibilangin juga bandel.

(155) IRNA :

Kamu jangan ikutan bandel. Kita berbagi tugas, setuju ? Oke ?

(156) CEPI :

Okelah kalo begitu.

LAMPU BERUBAH.

BABAK 4

ADEGAN SATU

TAMAN YANG SAMA, BEBERAPA HARI KEMUDIAN. SORE.

MARNI BERTEMU ANTO.

MARNI SUDAH LAMA MENUNGGU, DUDUK DIAM-DIAM.

ANTO DATANG KEMUDIAN,  JUGA DIAM-DIAM.

(157) MARNI :

Aku  kira  tidak datang …

(158) ANTO :

Aku kira kamu juga tidak datang …

( BEBERAPA SAAT ANTO SALAH TINGKAH. MAU DUDUK DI SEBELAH MARNI TAPI RAGU. AKHIRNYA IA DUDUK JUGA, TAPI AGAK JAUH. SUASANANYA SUNGGUH KAKU )

(159) ANTO :

Kamu mau pergi untuk menghindari aku kan ?

(160) MARNI :

Kamu tidak pernah datang ke rumah lagi, kenapa ?

(161) ANTO :

Supaya ayahmu tenang, karena tidak ada suara knalpot motor yang berisik.

(162) MARNI :

Bijaksana sekali …

(163) ANTO :

Aku harus tahu diri. Aku kan cuma tukang ojek dan sopir tembak. Jangan kata pacaran sama kamu, datang ke  rumahmu pun aku tidak pantas.

(164) MARNI :

Oo … jadi begitu cara berpikirmu ? Kalau begitu kamu lebih cocok jadi anak ayahku, dan memang tidak pantas jadi pacarku. Maaf … selamat tinggal ! (PERGI)

(165) ANTO : ( KAGET )

Marni .. Marni …

( MARNI BALIK LAGI )

(166) MARNI :

Maaf, saya tidak ada urusan sama tukang ojek. ( MAU PERGI LAGI TAPI ANTO MENAHANNYA )

(167) ANTO :

Maaf Marni, aku tidak bermaksud membuat kamu marah.

(168) MARNI :

Kamu sudah membuat aku marah.

(169) ANTO :

Maaf. Aku tidak akan membuat kamu marah lagi. Maaf.

(170) MARNI :

Katakan dengan jujur, kenapa lama tidak datang ? ( LAMA TIDAK MENJAWAB ) Katakan ! Kamu takut sama ayahku ? Aku benci orang yang pengecut Anto. Aku yakin kamu juga benci orang semacam itu. Jadi salahkan dirimu sendiri, jangan  menyalahkan aku. Aku mau pergi dari rumah, tujuanku jelas. Aku protes keras pada ayahku karena dia berlaku tidak adil pada kita. Jelas ?

(171) ANTO :

Kamu betul, aku pengecut..

(172) MARNI :

Bagus kalau kamu sadar. Tapi kenapa harus berlaku pengecut ? Kamu tidak salah apa-apa sama ayahku. Pacaran juga bukan kejahatan. Yang penting kita tahu batas.

(173) ANTO :

Ya. Tapi mungkin ayahmu betul. Kamu harus memilih pemuda yang tepat. Dan itu bukan aku.

ANTO MENYANYI LAGU “TAPI BUKAN AKU”-KERISPATIH.

(174) MARNI :

Stop ! Jangan mulai lagi Anto. Selain benci pengecut, aku juga benci orang rendah diri. Dulu kamu begitu percaya diri dengan semua yang kamu kerjakan. Kamu punya cita-cita dan berjuang keras untuk meraihnya. Itu kelebihan kamu. Itu juga yamg membuat aku … sayang  … sama kamu. Jadi tolong jangan berubah.

(175) ANTO :

Kamu  .. betul-betul sayang sama aku ?

(176) MARNI : ( MALU-MALU )

Ah, pakai nanya lagi.

(177) ANTO :

Tapi nilaiku jeblok. Aku banyak narik dan bolos sekolah. Aku kuatir tidak lulus.

(178) MARNI :

Belum terlambat untuk mengejar ketinggalan.

(179) ANTO :

Biaya kuliah makin mahal, apa aku sanggup ?

(180) MARNI :

Pasti sanggup. Kamu pekerja keras. Kalau perlu kamu bisa kerja yang lain, yang penghasilannya lebih banyak.

(181) ANTO :

Tapi ngojek pekerjaan bersejarah, Marni. Itu kan yang mempertemukan kita ?

(182) MARNI :

Ya. Suara knalpot motormu yang berisik membuat aku selalu menengok setiap kamu lewat di depan rumah.

(183) ANTO :

Ya. Dan kamu bilang pada teman-temanmu, aku tukang ojek paling keren.

(184) MARNI :

Yang jelas kamu berbeda. Tukang ojek lain kalau nunggu penumpang main gaple, kamu bikin PR. Tukang ojek lain selalu siap dengan uang kembalian, kamu tidak. Tukang ojek lain siap menerima uang tip, kamu malu-malu.

(185) ANTO :

Sekarang aku tidak malu, supaya cicilan motor cepat lunas.

(186) MARNI :

Eh, berapa utangku ?

(187) ANTO :

Utang apa ?

(188) MARNI :

Langganan ngojek sama kamu.

(189) ANTO :

Simpan saja uangmu. Aku lagi tidak butuh.

(190) MARNI :

Yang kamu butuh apa dong ?

(191) ANTO :

Pakai tanya lagi. Kita kan lama nggak ketemu ? Marni. ( MEMEGANG TANGAN MARNI )

(192) MARNI : ( MALU )

Apa sih ?

(193) ANTO :

Soal pergi ke luar negeri, kamu tidak sungguh-sungguh kan ?

(194) MARNI :

Tidak tahu. Yang jelas, aku harus pergi dari rumah. Aku tidak tahan, ayahku betul-betul kelewatan. Tidak adil. ( MENANGIS ) Aku harus protes. Harus ! Sampai ..

(195) ANTO :

Setuju, boleh saja protes. Tapi kan bisa dengan cara lain. Pergi dari rumah, bukan cara yang tepat. Nanti semuanya jadi kacau.

( MARNI TERUS MENANGIS. ANTO MENENANGKAN )

Tunggu, tenang dulu. Tenang Marni. Dengar. ( MARNI DIAM )

Bagaimanapun, rumah adalah tempat terbaik untuk memulai segala rencana, segala cita-cita. Dan orang tua, segalak apa pun, tetap sayang sama anak.

(196) MARNI :

Sok tahu, ah !

(197) ANTO :

Aku tidak sok tahu, Marni. Tapi memang tahu. Kamu juga tahu ayahmu sayang sama kamu. Kamu hanya sedang emosi.

(198) MARNI :

Terus aku harus bagaimana ? Apa usulmu ?

(199) ANTO :

Kamu janji tidak akan pergi ?

(200) MARNI :

Ya. Asal kamu tetap ke rumah seperti biasa.

(201) ANTO :

Janji kembali masuk sekolah ?

(202) MARNI :

Ya. Janji.

(203) ANTO :

Oke. Aku punya usul untuk kamu. Ayo, kita bicara di tempat lain. Nanti penonton tahu rencana rahasia ku. (BERBICARA KEPADA PENONTON)

( MEREKA PERGI )

LAMPU BERUBAH

BABAK 5

ADEGAN SATU

BERANDA DEPAN RUMAH MARJUKI. SIANG.

SETELAH MENGGAMBARI SELURUH TEMBOK RUMAH, MARNI MENGGAMBARI LANTAI. ITULAH UNGKAPAN PROTES MARNI KEPADA SANG AYAH, SEBAB SELALU DILARANG PACARAN.

SEBELUMNYA, MARNI PROTES DENGAN CARA MOGOK BICARA SEMINGGU. SEBELUMNYA LAGI, IA MOGOK MAKAN DAN TIDAK KELUAR KAMAR 3 HARI TIGA MALAM.

MARJUKI BARU DATANG DARI KELURAHAN, KAGET MELIHAT AKSI MARNI.

(204) MARJUKI :

Ya, ampun. Protes  model  apa  lagi ini Marni ? Masa, seluruh rumah digambari begini ? Aduh … aduuhh … gambar apa pula ini ? (MEMANDANG LEBIH SEKSAM ) Ya ampun, Marni .. Marni … saya pikir protes kamu sudah cukup. Tujuh hari mogok bicara, 3 hari 3 malam mogok makan dan tidak keluar kamar, eh masih ada lagi. Seluruh rumah digambari begini. Lukisan abstrak lagi. Soal protes dengan cara yang lain-lain itu, okelah. Ayah  bisa terima. Tapi lukisan abstrak ini, saya keberatan. Melukis itu ada aturannya. Pertama orang harus melukis realisme, surealisme, kemudian yang lain-lainnya, baru abstrak.

(205) MARNI :

Itu kuno.

(206) MARJUKI :

Apa salahnya kuno kalau  baik ?

(207) MARNI :

Apa salahnya modern kalau juga baik ?

(208) MARJUKI :

Sudahlah Marni, jangan ajak ayah berdebat. Capek.

(209) MARNI :

Marni juga capek, makanya kemaren seminggu diam.

(210) MARJUKI :

Marni, sekali lagi ayah tegaskan. Ayah tidak melarang kamu pacaran. Ayah hanya tidak setuju dengan caramu. Kamu pacaran tidak kenal waktu. Pagi, siang, sore, malam. Itu satu. Kedua, ayah ingin kamu benar-benar memilih pemuda yang cocok.

(211) MARNI :

Itu sama saja dengan melarang.

(212) MARJUKI :

Lain, Marni. Beda.

(213) MARNI :

Sama!

(214) MARJUKI :

Mmm  … berdebat lagi.

(215) MARNI :

Dulu, ayah melarang Marni dekat sama Ongky. “ Jangan yang beda agama ” kata ayah. Lalu Marni dekat sama Taufik, ayah juga melarang. “ Jangan dengan anak pejabat. Miskin tidak pantas, kaya disangka KKN ” begitu.

Sekarang, Marni dekat sama Anto, jelas dia anak baik,  se-iman, bukan anak pejabat. Apa lagi ? Apa ayah  tidak ada kata lain selain “ jangan ” ?

(216) MARJUKI :

Siapa rela punya anak pacaran sama pengangguran ?

(217) MARNI :

Siapa bilang dia pengangguran ? Dia sekolah ayah.

(218) MARJUKI :

Kalau sekolah ngapain  tiap pagi mondar-mandir naik motor ?

(219) MARNI :

Pagi dia  ngojek.

(220) MARJUKI :

Kapan sekolahnya ?

(221) MARNI :

Anto Masuk siang.

(222) MARJUKI :

Kalau sekolah siang kenapa malam-malam sering datang ke sini ? Habis sekolah mustinya pulang ke rumah, bukan main ke sini.

(223) MARNI :

Malam dia narik angkot ayah. Kalau lagi sepi, atau angkotnya dibawa orang lain baru main. Kan tidak tiap malam Anto ke sini ?

(224) MARJUKI :

O, supir tembak ? Ampun Marni, apa yang bisa diharap dari tukang ojek dan sopir tembak ?

(225) MARNI :

Jangan kuatir. Dia punya cita-cita tinggi, punya platform !

(226) MARJUKI :

Syarat yang diperlukan sebagai calon suami adalah hidup mapan, punya pekerjaan tetap, penghasilan cukup, dan sayang sama kamu.

(227) MARNI :

Itu pendapat kuno.

(228) MARJUKI :

Biar kuno kalau baik apa salahnya ?

(229) MARNI :

Biar modern kalau baik juga apa salahnya ?

(230) MARJUKI :

Jangan mengajak berdebat Marni. Capek !

(231) MARNI :

Saya juga capek dan tidak ada waktu. Masih banyak yang harus Marni kerjakan. Seluruh rumah harus saya lukis. Tapi catnya kurang. Permisi dulu. Saya mau beli cat.  ( PERGI )

(232) MARJUKI :

Duh, aduh … punya anak perempuan satu kok repot amat, susah dibilangin….marni..marni

ADEGAN DUA

RUMAH MARJUKI. SIANG

IRNA, AUDI, LALA DAN BEBERAPA TEMAN MARNI DATANG.

MEREKA SEMUA LANGSUNG MENGAGUMI LUKISAN MARNI.

MARJUKI MENEMUI MEREKA, MARNI TIDAK DI RUMAH.

(233) MARJUKI :

Silahkan, silahkan masuk semua.

(234) SEMUA :

Terimakasih …

(235) AUDI :

Marni ada, om ?

(236) MARJUKI :

Barusan pergi. Buru-buru rupanya, malah tidak pamit. Kalian sudah janjian mau datang?

(237) AUDI :

Kapan hari marni mapir ke sekolah, dan dia mangundang kami ?.

(238) IRNA :

Marni bilang, acara kejutan. Jadi tidak pakai penjelasan acaranya apa.

(239) LALA :

Ya. Keliatannya kemaren dia buru-buru sekali. Habis beli cat dan banyak pekerjaan di rumah. Dia juga pesan supaya kami bawa makanan. Marni tidak akan sempat masak katanya. Ini om, kami bawa jajan pasar.

(240) MARJUKI :

O, begitu ya ?  Ya .. ya.. Terimakasih .. terimakasih. Mungkin yang Marni maksud acara kejutan ya ini, lukisan-lukisan yang memenuhi rumah ini. Sebab setahu saya tidak ada kejutan lain.  Kami pun tidak punya hajatan apa-apa. Jadi silahkan menikmati lukisan-lukisan ini.

( SEMUA LANGSUNG MENGAGUMI LUKISAN MARNI )

(241) AUDI :

Ini semua Marni yang melukis om ?

(242) MARJUKI :

Ya, Marni semua.

(243) IRNA :

Luar biasa. Sangat berbakat.

(244) LALA :

Fantastis !

(245) IRNA :

Di mana Marni belajar melukis om ? Setahu saya, di sekolah Marni tidak pernah belajar.

(246) MARJUKI :

Saya juga kurang tahu. Sejak kanak-kanak Marni lebih tertarik menari atau menyanyi.

(247) AUDI :

Apa ini yang dikerjakan Marni selama seminggu lebih tidak masuk sekolah ?

(248) MARJUKI :

Marni mengerjakan ini hanya sehari semalam.

(249) SEMUA :

Oh … luar biasa.

(250) IRNA :

Sangat luar biasa ! ( BEBERAPA SAAT DIAM )

Om, ada apa sebetulnya dengan Marni ?

(251) LALA :

Apa dia sedang jatuh cinta  dan …

(252) AUDI :

… dan om melarangnya ?

(253) MARJUKI :

Saya tidak pernah melarang. Saya hanya meminta Marni memilih pemuda yang tepat dan jangan pacaran sembarang waktu. Jangan sampai pacaran mengganggu jam belajar. Itu kan tuntutan umum setiap orang tua ?

(254) IRNA :

Mungkin cara om meminta pada Marni terlalu keras, dan …

(255) LALA :

… dan Marni terluka hatinya.

(256) IRNA :

Ya, terluka hatinya. Lihat om, lihat semua lukisan itu. Saya bisa menangkap, luka hati yang sangat, sangat  …

(257) AUDI :

… sangat dalam ….

(258) IRNA :

Maaf om, sebagai orang tua om tentu lebih tahu bagaimana menyayangi anak. Tapi sebagai anak, kami-kamilah yang lebih tahu apa yang kami butuhkan dari orang tua. ( PADA AUDI ) Bukan begitu ?

(259) MARJUKI :

Mungkin begitu …

(260) AUDI :

Lihat om, lihat lukisan yang sebelah sini.

(261) MARJUKI :

Ya, saya lihat.

(262) AUDI :

Om lihat warna putih yang menggumpal seperti awan ?

(263) MARJUKI :

Ya.

(264) AUDI :

Apa yang om rasakan waktu melihat gumpalan warna putih itu ?

(265) MARJUKI : ( BINGUNG )

Ee … e ..

(266) AUDI :

Saya merasakan hati pelukisnya yang tengah kosong, hilang harapan, hampa.

(267) LALA :

Mungkin, waktu Marni melukis itu, darahnya tengah berhenti mengalir, karena kepedihan yang sangat.

(268) IRNA :

Bisa jadi hati Marni serasa terbang ke awan, sebab bumi tempatnya berpijak tidak memberi harapan apa-apa.

(269) AUDI :

Om lihat, warna hitam di lantai sebelah sini ?

(270) MARJUKI :

Yang mirip gua karang bolong ?

(271) AUDI :

Ya. Apa yang timbul dalam imajinasi om memandang lukisan ini ?

(272) MARJUKI : ( BINGUNG )

Ya ..  ada semacam ..

(273) IRNA :

Saya merasakan masa depan yang suram, gelap ..

(274) LALA :

Seperti masuk  sumur tanpa dasar.

(275) AUDI :

Persis !

(276) IRNA :

Mungkin sebaiknya om bicara dengan Marni, tanyakan apa yang terjadi. Semua lukisan ini adalah isyarat yang sangat jelas, hati Marni sedang kacau. Mungkin ada keinginan terpendam yang tidak kesampaian. Kalau saya jadi om, saya akan kabulkan apa pun keinginan Marni.

(277) LALA :

Ya, om harus bicara dan mengabulkan keinginannya.

(278) IRNA & AUDI :

Harus.

(279) MARJUKI : ( RAGU-RAGU )

Ya, ya, soal bicara dengan Marni saya rasa itu usulan yang baik. Dan saya sudah sering mencoba. Tapi kalau soal mengabulkan keinginan Marni, harus saya timbang-timbang dulu. Dan, maaf ya, anu, saya ada rapat RT di kelurahan. Saya sudah terlambat. Saya kan ketua RT paling senior di kampung ini, jadi malu kalau terlambat. Apa kalian mau menunggu Marni pulang, atau bagaimana ?

(280) AUDI : ( BINGUNG )

Mungkin …

(281) IRNA : ( BINGUNG JUGA )

Mungkin sebaiknya kami pulang.

(282) LALA :

Ya. Nanti kami datang lagi kapan-kapan.

(283) YANG LAIN :

Salam buat Marni ya om.

(284) IRNA :

Sampaikan pada Marni, kami gembira sekaligus sedih atas acara kejutan ini.

(285) MARJUKI :

Ya, ya … saya sampikan nanti.

( TEMAN-TEMAN MARNI PERGI )

(286) MARJUKI :

Kurang ajar. Berani-beraninya kasih nasehat sama saya. Apa  hak mereka menyuruh saya menuruti apa saja kemauan anak saya ? Sok pintar. Aku susah payah membiayai anakku, aku punya hak atas masa depan anakku. Ini pasti akal-akalannya si Marni sama si Anto.

(287) MARNI : ( MUNCUL DARI DALAM )

Jangan menuduh sembarangan, ayah. Aku tidak tahu apa-apa. Apa lagi Anto. Semua yang mereka lakukan tadi, adalah isnisiatif mereka sendiri. Aku sudah mencegah tapi mereka ngotot. Itu sebabnya aku pergi.

(288) MARJUKI :

Mereka datang atas undanganmu kan ?

(289) MARNI :

Aku memang mengundang mereka, tapi sekedar untuk ngobrol dan pamitan. Aku mau jadi TKI ke luar negeri. Itu protesku selanjutnya pada ayah. Dan aku akan terus protes sampai ayah mengijinkan aku pacaran sama Anto.

(290) MARJUKI :

O, begitu ? Jadi kamu pikir dengan protes keras ayah akan mengijinkan ?

(291) MARNI :

Tentu ada syarat lain. Aku harus mandiri. Dengan bekerja aku punya uang. Dengan uang aku bisa menentukan masa depanku sendiri. Selamanya anak akan kalah suara, kalau anak masih tergantung sama uang orang tua.

(292) MARJUKI :

Stop Marni ! Itu pikiran yang dangkal.

(293) MARNI :

Kita tidak perlu berdebat ayah. Aku pergi dulu, banyak urusan. ( PERGI )

(294) MARJUKI :

Marni …  ( mengejar marni) LAMPU BERUBAH

ADEGAN TIGA

RUMAH MARJUKI. MALAM.

CEPI DATANG KE RUMAH MARJUKI UNTUK MENYAMPAIKAN PESAN MARNI.

(295) MARJUKI :

Ya ampun, jadi Marni betul-betul mau pergi ke luar negeri ? Aku pikir cuma gertak.

(296) CEPI :

Rupanya begitu, om. Saya juga tidak menyangka Marni sungguh-sungguh.

(297) MARJUKI :

Terus di mana Marni sekarang ? Kapan berangkatnya ?

(298) CEPI :

Saya juga tidak tahu. Dia cuma bilang sekarang ada di tempat penampungan. Saya tanya bolak-balik di mana alamatnya, dia tetap tidak mau menjawab.

(299) MARJUKI :

Tapi apa secepat itu prosesnya ? Diterima jadi TKI bukannya prosesnya panjang ?

(300) CEPI :

Itu juga pernah saya tanya. Dia bilang, “ semua bisa diatur ” asal ada uang.

(301) MARJUKI :

Dari mana Marni dapat uang ?

(302) CEPI :

Ya  dari  uang  gaji Marni yang dipotong tiap bulan nanti. “ Semua dibiayai sama agen ”, begitu Marni bilang.

(303) MARJUKI :

Apa nama agennya ? Di mana alamatnya ?

(304) CEPI :

Marni tidak sebut-sebut om. Dia hanya minta tolong saya supaya mengambil beberapa  baju yang ketinggalan.

(305) MARJUKI :

Ya ampun, Marni .. Marni. Apa sebegitu besar marahmu sama ayah, sampai-sampai harus  pergi keluar negeri jadi TKI ? Tidak pamit lagi. Coba nak Cepi pikir, apa pantas ?

(306) CEPI :

Kalau ditanya pantas atau tidak, jelas tidak pantas. Tapi kelihatannya, Marni memang sangat marah sama om. Tapi terus-terang, sebagai teman, saya tidak setuju Marni pergi. Marni sebentar lagi ujian dan tahun depan harus kuliah. Setelah lulus kuliah, terserah mau ke mana dan jadi apa. Jadi TKI ke luar negeri pun tidak masalah. Itu bukan hal yang jelek. Menyelesaikan kuliah, lebih aman buat masa depan Marni.

(307) MARJUKI :

Ah, itu baru pikiran sehat. Terus, teruskan nak …

(308) CEPI :

Maaf om, saya tidak bisa lama. Marni memerlukan baju yang saya ambil.

(309) MARJUKI :

Kapan Marni mau ambil baju-baju itu ? Di mana kalian janjian ketemu ?

(310) CEPI :

Maaf om, saya tidak boleh bilang. Itu pesan Marni.

(311) MARJUKI :

Tolonglah nak Cepi, sebutkan. Saya harus ketemu Marni sebelum dia pergi. Tolong, saya mohon sekali. Please …

(312) CEPI :

Sekali lagi, maaf om. Saya tidak bisa melanggar janji.

(313) MARJUKI :

Please …

(314) CEPI :

Maaf  ommm …. Saya tidak bisa. (MENATAP MARJUKI BEBERAPA SAAT) Tapi, kalau om bersedia kerjasama dengan saya, kita sebetulnya bisa membatalkan Marni pergi. Seperti saya bilang tadi, saya tidak setuju Marni pergi.

(315) MARJUKI :

Membatalkan Marni pergi ? Bagaimana caranya ? Jelas saya setuju.

(316) CEPI :

Tapi jangan sampai dia tahu. Ini rahasia antara kita. Om Setuju ?

(317) MARJUKI :

Setuju. Saya bisa pegang janji. Bagaimana caranya ?

(318) CEPI :

Tunggu dulu. Saya mau tanya, tolong jawab dengan jujur Apa sebetulnya yang membuat Marni marah sama om ?

(319) MARJUKI :

Saya melarang Marni pacaran sama Anto.

(320) CEPI :

Kenapa ?

(321) MARJUKI :

Saya tidak tahu persis. Saya merasa, si Anto sebetulnya anak baik. Jadi, saya tidak sungguh-sungguh melarang. Tapi Marni keburu protes keras. Merasa tidak didengar omongannya, saya jadi tambah jengkel.

(322) CEPI :

Saya lihat Marni begitu juga. Makin dilarang, makin menentang. Intinya sama: ingin didengar suaranya.

(323) MARJUKI :

Begitu ?

(324) CEPI :

Begitu.

(325) MARJUKI :

Jadi bagaimana caranya supaya Marni tidak jadi pergi ?

(326) CEPI :

Turuti saja kemauannya. Toh om sudah yakin Anto anak baik.

(327) MARJUKI :

Nak Cepi bisa jamin 100% Marni batal pergi ?

(328) CEPI :

Saya harus ketemu Marni dulu.

(329) MARJUKI :

Kalau begitu temui Marni, segera. Katakan, saya akan ijinkan Marni pacaran sama Anto. Sesudah itu, ajak mereka berdua ke sini supaya mendengar langsung dari  saya.

(330) CEPI :

Om Marjuki bisa pegang janji ?

(331) MARJUKI :

Bisa. Saya jamin !

(332) CEPI :

Baik. Kalau begitu saya jamin 100% Marni batal pergi. Permisi dulu om, saya harus cari Marni dan Anto sekarang juga. Saya akan kabarkan berita gembira ini.

(IRNA, AUDI, LALA DAN BEBERAPA TEMAN MARNI YANG LAIN MENDADAK MUNCU )

(333) IRNA :

Tunggu Cepi !  Maaf om Marjuki, kami mendengar semua pembicaraan ini. Kami ikut gembira. Tapi itu tidak cukup. Harus ada jaminan tertulis bahwa om Marjuki akan menepati janji.

(334) CEPI :

Tidak Irna, aku percaya orang tua bijaksana ini.

(335) AUDI & LALA :

Perlu dong !

( ANTO TIBA-TIBA MUNCUL )

(336) ANTO :

Tidak, tidak perlu. Cepi betul. Saya juga percaya om Marjuki akan menepati janji. Ini kan bukan urusan jual beli tanah atau semacamnya. Tapi urusan anak dan orang tua. Jangan repot-repot. Janji secara lisan sudah cukup.

(337) IRNA :

Tapi …

(338) MARJUKI :

Nak Anto betul, jangan repot-repot. Makin kita repot, makin lama Marni di penampungan TKI. Kasihan dia. Lebih baik kita cari Marni sekarang. Apa kalian ada yang tahu alamatnya ?

( MARNI TIBA-TIBA MUNCUL DARI ARAH DALAM )

(339) MARNI :

Marni sudah di sini ayah. Tidak usah dicari.

(340) MARJUKI : ( KAGET )

Marni ?  Ah, kemarilah kamu nak. Ayah sangat kuatir ada apa-apa dengan kamu.

(341) MARNI :

Jangan kuatir ayah, Anto menjaga aku. Kalau bukan karena dia, aku pasti jadi TKI sungguhan.

(342) MARJUKI :

Syukur .. syukur kalau begitu. Terima kasih nak Anto.

(343) ANTO :

Marni melebih-lebihkan om.

(344) MARNI :

Anto meyakinkan aku begitu rupa, segalak apa pun, ayah tetap sayang aku. Dan rumah adalah tempat terbaik menyusun rencana dan cita-cita.

(345) MARJUKI :

Bagus. Kamu menemukan pemuda yang tepat anakku. Dan kamu tidak tinggal di tempat penampungan bukan ?

(346) MARNI :

Tidak.

(347) IRNA, AUDI & LALA :

Di rumah kami om. Kami bertiga.

(348) MARJUKI :

Jadi  siapa  yang  mengatur nak Cepi datang ke mari dan main sandiwara di depan saya ?

(349) ANTO :

Saya om. Sayalah komadan semua sandiwara malam ini. Sebagai komandan saya tidak akan lari. Saya siap diadili.

(350) MARJUKI :

Bagus. Itu komandan yang baik. Anda siap saya tuntut di depan penghulu menikahi anak saya ?

(351) ANTO :

Sekarang ?

(352) IRNA & YANG LAIN :

Huuuu  …

(353) MARJUKI :

Nanti, setelah lulus kuliah dong.

(354) ANTO :

Marni, siap jadi anggota Dharma Wanita ?

(355) MARNI : ( MALU )

Idih, Apaan siihh… masa harus dibahas sekarang ?

PENUTUP

( ANTO MENGGANDENG MARNI DAN MENYANYI BERSAMA )

MARNI: ( MENYANYI )

BILANG PAPA KU

KAU TAK KAN BUAT KU

BERUBAH MENJADI

ANAK YANG NAKAL

ANTO: ( MENYANYI )

BILANG PAPA MU

KU CINTA PADA MU

DAN AKU TAK PERNAH MAIN-MAIN

SEMUA : BIARKANLAH SAJA DULU

KITA JALAN BERDUA

MEREKA PUN PERNAH MUDA

SAATNYA KAU DAN AKU SEKARANG

LAMPU PADAM PERLAHAN

SELESAI

“KAMPUNG KARDUS”

Posted: 29 Januari 2011 in Naskah Drama

(Naskah Telah Dipentaskan)

 

Pimpinan Produksi:

Drs. Heru Subrata, M.Si.

Sutradara:

Teguh Budiyono

Nama Anggota:

1. Adijaya Singgih

2. Indah Febri Astuti

3. Dewi Widiana Rahayu

4. Fida Munawaroh

5. Endang Suhartatik

6. Wahyu

7. Rahmat Arifin

8. Arif K

9. Martisilia Ades

10. Yesi Yulia Hari Astuti

11. Tri Juni Harto

12. Suheri

KONSEP CERITA

Konsep cerita dalam “ Kampung Kardus“ adalah sejenis drama realist, mengangkat kisah kehidupan sehari-hari yang terjadi dalam masyarakat. Cerita ini merupakan salah satu cerita yang diambil dari kumpulan drama-drama dari fakultas bahasa dan seni. Dan naskah ini telah kami rangkai dan kami revisi sedemikian rupa agar menarik bagi penonton.

Teguh Budiyono                sebagai sutradara + Paijo(orang 1)

Adijaya Singgih sebagai Pak Lurah

Indah Febri Astuti sebagai Siti

Dewi Widiana R                 sebagai Rahmi

Fida Munawaroh                sebagai Surti

Endang Suhartatik sebagai Neneng

Wahyu Susilo sebagai Denok

Rahmad Arifin sebagai Pak Carik

Arif Krisdiantoro               sebagai Preman 1

Suheri                sebagai Preman 2

Martisilia Ade sebagai Simbok

Yessy Yulia sebagai Kontraktor

Tri Juni Harto sebagai Warga

KARAKTERISASI

  • Teguh Budiyono sebagai Paijo(orang 1)

Karakter         : Orang yang keras kepala.

  • Adijaya Singgih sebagai Pak Lurah

Karakter         : Orang yang licik, tukang korupsi, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai segala sesuatu.

  • Indah Febri Astuti sebagai Siti

Karakter         : Orang yang keras kepala, licik, dan suka membantah.

  • Dewi Widiana R. sebagai Rahmi

Karakter         : Orang yang mempunyai sikap halus, sopan, dan tidak mudah marah.

  • Fida Munawaroh sebagai Surti

Karakter         : Orang yang mudah putus asa.

  • Endang Suhartatik sebagai Neneng

Karakter         : Orang yang selalu pasrah dengan keadaan yang ada (nerimo)

  • Wahyu Susilo sebagai Denok

Karakter         : Orang yang selalu optimis.

  • Rahmad Arifin sebagai Pak Carik

Karakter         : Orang yang mudah terpengaruh.

  • Arif Krisdiantoro sebagai Preman 1

Karakter         : Orang yang berwatak keras, kejam, tidak mau tahu dengan keadaan.

  • Suheri             sebagai Preman 2

Karakter         : Orang yang berwatak keras, kejam, tidak mau tahu dengan keadaan.

  • Martisilia Ade sebagai Simbok

Karakter         : Orang tua renta yang sakit-sakitan.

  • Yessy Yulia sebagai Kontraktor

Karakter         : Orang yang licik, menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan.

  • Tri Juni Harto sebagai Warga

Karakter         : Orang yang keras kepala.

SINOPSIS CERITA

Cerita ini mengkisahkan sekelompok masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai pemulung dan tinggal di suatu kampung yang dianami “Kampung Kardus”, rumah-rumah dikampung ini semuanya adalah rumah semi permanen yang dibangun dari dinding seadanya. Kehidupan dikampung ini sangat sederhana dan miskin, namun mereka masih berkeinginan untuk memperbaiki kehidupan ada yang meninggalkan kampung dan menjadi TKI dan ada yang bersekolah meski hanya seorang dan itupun dilakukan dengan berhutang. Masyarakat yang tinggal dikampung ini kebanyakan masih buta aksara karena kemiskinan yang mendera mereka hanya mengandalkan hasil memulung untuk kehidupan sehari-hari, meskipun begitu warga dikampung ini sangat rukun.  Konflik dimulai ketika datang kontraktor yang hendak membangun kampung kardus menjadi perumahan elit. Pertentangan antara warga dan lurah terjadi manakala uang ganti rugi yang disanggupi dirasa belum sesuai dengan yang diharapkan warga karena kecurangan yang dilakukan oleh lurah dan carik. Akhirnya perwakilan warga kembali berunding namun belum terjadi kesepakatan malahan tokoh Siti yang merupakan perwakilan dari warga juga bersekongkol dengan lurah supaya warga mau dipindah, namun semua tidak sejalan dengan harapan Siti, Pak Lurah yang dianggap akan memberikan imbalan baginya justru malah menipunya. Suatu ketika datang preman orang-orang dari Pak Lurah untuk mengusir warga yang tidak mau pindah, kericuhanpun terjadi dikampung ini akibat ulah preman yang membuat warga ketakutan dan pergi. Denok yang dulunya pergi menjadi TKI datang dan pulang kerumahnya, namun yang didapati hanya kampung yang sepi dan hancur, tidak ada lagi orang2 yang ramai memilah hasil pulungan, tidah ada lagi sahabatnya si Neneng, yang tersisa hanya Siti dan Surti yang menjadi gila karena ditinggal pacarnya. Semua warga meninggalkan kampung karena kecewa kepada Siti.

ALUR

Drama ini termasuk drama yang beralur maju.

KONSEP PANGGUNG

Dalam cerita ini terdiri dari 1 babak, konsep panggung drama ini adalah panggung prosenium dimana panggung ini berada di dalam ruangan lengkap kebutuhan pementasan seperti tor mentor, setwing, backdrop, sengaja kami buat sesederhana mungkin tetapi tidak mengurangi kesesuaian dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun poerperti yang kami pakai sebagai berikut :

  1. Rumah-rumahan kumuh.
  2. 4 buah karung pemulung.
  3. Botol-botol bekas dan kardus-kardus bekas, kaleng bekas.
  4. 1 buah kursi panjang.
  5. 1 buah bakul tempat sayuran lengkap dengan sayurnya.
  6. 1 buah koper sebagai pendukung TKI yang datang dari luar negeri.
  7. Bambu Tua.

KONSEP BUSANA

Konsep busana antara lain :
1. Lurah memakai baju setelan batik supaya terlihat seperti lurah.

2. Carik memakai baju batik

3. Siti memakai baju seragam SMA dan baju kuliah.

4. Mbok Rahmi memakai baju daster tambal dengan kain jarik usang.

5. Denok memakai baju kaos usang dan kemudian bergati dengan baju ala TKI baru datang dari luar negeri lengkap dengan koper.

6. Mbok Denok memakai kebaya dan kain jarik.

7. Neneng memakai baju kaos usang, kemudian berganti baju yang bersih karena berganti profesi sebagai tukang sayur.

8. Orang 1(paklik Neneng) memakai pakaian usang seperti pemulung

9. Warga memakai pakaian usang seperti pemulung

10. Kontraktor memakai baju setelan seperti pegawai kantor

10. Surti memakai baju usang dengan dandanan orang gila.

11. Preman memakai pakaian ala preman.

KONSEP MUSIK

  1. Musik nuansa.
  2. 2. Musik efek

KONSEP LAMPU

  1. Black Out
  2. Lampu senter tengah depan (waktu aktor masuk)
  3. Set wings (lampu sayap panggung)
  4. Black Out
  5. Blitz
  6. Adegan terakhir lampu redup, hanya satu lampu yang menyala kearah aktor.

SKENARIO

Kampung Kardus

Karya : Gepeng Nugroho

Sebuah perkampungan kumuh, bangunan-bangunan dari kardus. Orang-orang beraktifitas seperti biasanya, mengumpulkan barang-barang bekas, berangkat sekolah dan lain sebagainya, layaknya kehidupan perkampungan pemulung.

  1. Siti : “Ahhhhh…… hari ini ndak di sangoni lagi. Suruh puasa sama simbok. Katanya seperti biasanya : nduk selagi masih sekolah kamu harus prihatin, kita ini orang miskin, ndak usah jajan ndak apa-apa, ndak bakalan mati, mendingan kamu puasa aja, biar pinter. Walah tiap hari kok suruh puasa.”
  2. Rahmi : “Nduk, piye to ora ndang mangkat, malah gedumelan. ngopo? Ngglendeng simbok, karena nggak disangoni, ya?”
  3. Siti : “Siapa yang ngglendeng simbok, wong lagi ngapalin pelajaran kok. Katane suruh pinter.”
  4. Rahmi : “Ngapalin pelajaran kok sambil mencab-menceb lambene.”
  5. Siti : “Lha wong pelajaran drama kok mbok, teater….. ini namanya mimik, ekspresi muka, kan harus ekspresif.”
  6. Rahmi : “Awas ya kalo ngglendeng simbok, kuwalat nanti!”
  7. Siti : “Walah….. ndak-ndak mbok, simbok ini kok sensitif banget tho”

Simbok berbalik kembali mau masuk kedalam rumah, siti menceb mengejek rahmi, beberapa langkah jalan lalu jatuh terpeleset. Rahmi berbalik menengok.

  1. Rahmi : “Jalan itu ngati-ati tho nduk… cah wedok kok polahe bedigasan!.”
  2. Siti : “Tenang mbok, ndak apa-apa, hanya kepleset. Aduuuhhhh.”
  3. Rahmi : bener nggak apa-apa? Apa mau pura-pura sakit biar mbok nulis surat ijin biar kamu bolos?”
  4. Siti : “Walah… ndak mbooookkk! Lagian sombong, mbok kan nggak bisa nulis, mau nulis surat ijin, lucu simbok’i.”
  5. Rahmi : “Makanya jangan jadi orang bodo, walaupun nggak punya uang kamu harus tetep sekolah, biar pinter, bisa nulis surat ijin  untuk anakmu mbesok.”

Rahmi berbalik masuk kedalam rumah.

  1. Siti : “Dasar simbok…….. eh ntar kuwalat lagi…………”

Siti exit

Masuk denok, kemudian duduk di sebuah kursi panjang

  1. Denok : “Bosen, tiap hari seperti ini, ndak ada perubahan. Kalo seperti ini terus hidup juga ndak akan maju-maju.:

Neneng masuk.

  1. Neneng : “Kenapa nok? Sedal-sedul seperti itu? We di Tanya kok malah mlengos.”
  2. Denok :  “Aku bosen.”.
  3. Neneng : “Opo? bosen, kamu wes bosen sama aku tho nok?, ooo… yoh….. kita ndak usah kekancan lagi, aku juga ndak pate`en ndak kekancan sama kamu!”
  4. Denok : “Wes, ndak usah nrocos ndak karuan, makanya kalo ada sesuatu itu ditelaah terlebih dulu biar ndak mis komunikasi, aku kan belum selesai ngomongnya.”
  5. Neneng : ”Apa lagi nok? Sudah cukup jelas penjelasan dari kamu tadi. Singkat dan jelas ndak usah di reply.”
  6. Denok : “Kosek to, sebentar…… aku kan ndak ngomong kan tadi kalo aku bosen sama kamu? Walaupun memang kamu orangnya mbosenin. Aku ini bosen dengan kehidupan kita sekarang, yang tengah kita jalanin ini. Apa kamu juga ndak bosen? tinggal diantara rumah-rumah kardus, sampah-sampah. Kita ini seperti bukan manusia saja. Kita ini kan kaum masyarakat yang ndak dianggep oleh dunia.”
  7. Neneng : “La terus maumu apa? Ndak ada yang bisa kita lakukan yo tho.”
  8. Denok : “Ya memang ndak ada kalo kita cuman bisa nerimo, berusaha dong.”
  9. Neneng : “Kita kan udah kerja siang malam, itu kan juga sudah usaha. Tuh tadi lihat mbak rahmi menyekolahkan si siti itu juga salah satu cara jalan untuk menuju sugeh. Siapa tahu setelah disekolahkan walaupun untuk makan saja sulit, kalo mau bayar sekolah saja nunjang sana sini cari utangan, tapi siapa tahu nanti siti jadi orang pinter, dapat kerjaan yang mapan, terus sugih. Itukan juga sudah upaya menuju sugeh.”
  10. Denok : “Kesuwen, kelamaan……. Selak uwanen rambute.”
  11. Neneng : “Lha maumu terus gimana?”
  12. Denok : “Aku mau pergi dari kampung kardus ini. Aku mau nyari kerja.”
  13. Neneng : “Mau kemana kamu?”
  14. Denok : “Aku mau kemana saja, mungkin ke kota, asal tidak ditempat ini”

Tanpa disadari mbok denok datang

  1. Denok : “Pokoknya aku mau kerja apa saja asal halal.”
  2. Mbok : “Kamu mau kemana? Kamu ndak boleh pergi, lalu mbokmu ini sama siapa kalo kamu pergi.”
  3. Denok : “Mbok… denok pengen jadi orang sugih mbok. Simbok kan seneng kalo jadi wong sugih?”
  4. Mbok : “Yang terpenting bagi simbok adalah kita tetep bisa kumpul. Makan ndak makan asal kumpul.”
  5. Denok : “Simbok harus dukung dong cita-cita luhur anakmu.”
  6. Mbok : “Kamu boleh kerja apa saja, dimana saja, asal masih tinggal bersama mbokmu dirumah.”
  7. Denok : “Ah…simbok kolot, ra gaul banget.”

Denok exit.

  1. Mbok : “Ra gaul? Nok opo tho maksudte? neng apa maksudnya aku ndak gaul?”
  2. Neneng :  “Simbok biar keliatan gaul pake celana jeans aja. Hahahahahaaa…….”
  3. Mbok : “Hus…. omong dleweran ra karuan.”
  4. Mbok : “Nok….. kamu ndak boleh tinggalin simbok”

Mbok exit

Beberapa saat kemudian masuk surti

  1. Surti : “Neeeng….. kamu harus Bantu aku neng. Ini penting, kamu akan sangat berjasa kalo bisa Bantu aku.”
  2. Neneng : “Bantu apa sih sur?”
  3. Surti : “Aku dapat surat dari kang samsul. Kang samsul kangen sama aku, pengen cepet ketemu. Sebentar lagi pulang.”
  4. Neneng : “Syukurlah kalo begitu, lha terus apa hubungannya denganku? Kamu mau minta bantuan apa coba?”
  5. Surti : “Tolong bacain surat ini dong.”
  6. Neneng : “Lho… kok…..”
  7. Surti : “Kamu kan tahu sendiri aku tidak bisa baca.”
  8. Neneng : “Kok kamu tahu tadi isi suratnya?”
  9. Surti : “Baru perkiraan aja.”

Neneng membuka surat.

  1. Neneng : “Lho kok tulisannya pake tinta merah?”
  2. Surti : “Itu tandanya cinta. Ah nggak gaul kamu. Kalo surat cinta itu kan harus penuh warna-warna cerah. Pasti nggak pernah nulis surat tho?”
  3. Neneng : “Zaman gini kok masih surat-suratan, sms dong atau e mail, deso banget.”
  4. Surti : “Walah jangan banyak ngomong, cepetan kamu bacain, tapi ingat jangan bocorin sama siapa-siapa ya, aku kan malu, siapa tahu isi suratnya juga hot.”
  5. Neneng : (membacakan surat) “Dek surti yang cantik…. Lama banget kakang ndak pernah kasih kabar sama adek. Gimana kabarnya sekarang dek?”
  6. Surti : “Baik kang, bagaimana kabarnya Kang Samsul?”
  7. Neneng : “Syukurlah kalo begitu, kang samsul baik-baik aja, tenang aja kamu ndak usah kawatir. Ada hal yang sangat penting yang ingin kakang sampaikan pada Dek Sur.”
  8. Surti : “Apa itu kakang?”
  9. Neneng : “Kita kan sudah lama menjalin hubungan cinta.”
  10. Surti : “Maksud kakang pasti mau pulang terus mau ngelamar aku kan?”
  11. Neneng : “Bukan itu dek, justru karena sudah terlalu lama dan kayaknya tidak ada peningkatan bagi hati kakang, lagian disini kakang sudah menemukan yang lain, maka dengan berat hati Dek, kakang putuskan untuk kita akhiri hubungan ini, kakang sudah berencana menikah dengan orang Gombong.”
  12. Surti : (menangis)
  13. Neneng : “Jangan menangis tho Dek.”
  14. Surti : (merebut surat kemudian merobeknya) “Kamu jahat kakang, kamu tidak setia.” ( menangis sambil exit)
  15. Orang 1 : “Ada apa tho? kamu nakalin surti po neng?”
  16. Neneng : “Kayak anak kecil saja, ini urusan hati dan perasaan. Love. Hart……”
  17. Orang 1 : “Halah ngomong pateng pentuntung, keduwuren. Ngomong wae tentang kerdus, kertas sekilo 700, plastic bekas. Hidup di tempat sampah kok ngomongin cinta.”
  1. Neneng : “Lha wong bukan aku kok , surti, pak leeeek…Lhe pating penteleng kok nanggon aku.”

Orang1 kembali beraktifitas kembali.

Beberapa saat kemudian masuk mbok sambil menangis.

  1. Orang 1 : “Opo meneh…. Hari ini kok syarat dengan tangisan tho, ora simbok ora surti podho tangisan, sak jane kuwi ono opo tho?”
  2. Mbok : “Neng denok minggat, kabur, eh pergi dari rumah…, denok minggat.”
  3. Neneng : “Apa mbok, denok kabur?”
  4. Orang 1 : “Tenane lho mbok?”
  5. Mbok : “Denok ninggalin surat ini.”
  6. Orang 1 : “Apa isinya mbok?”
  7. Mbok : “Makanya aku datang kesini, tolong bacakan suratnya Neng, aku ndak bisa baca.”
  8. Orang 1 : “Lo critanya gimana tho mbok kok ada acara minggat segala.”
  9. Mbok : “Sek kowe menengo sek, biar neneng  baca suratnya.”
  10. Orang  1 : “Jangan sama neneng, dia itu tukang ngawur kalo suruh baca surat.”
  11. Neneng : “Apa kamu aja nih yang baca???”
  12. Orang 1 : “Lho kamu kan tahu kalo aku tidak bisa baca tho neng. Wah…ngece banget’i.”
  13. Neneng : “Yo wes makane meneng wae. Simbok yang terhormat, maafkan Denok, Denok ndak pamitan pergi dari rumah, kalo Denok pamit mesti simbok ndak mengijinkan, jadi Denok langsung cabut saja. Tapi simbok ndak usah kawatir, Denok akan jaga diri baik-baik. Demikian juga simbok juga harus jaga diri baik-baik. Takecare mbok. Peluk cium dari ananda tercinta…. Muach…… Denok.”
  14. Mbok : wo alah gusti denok….. teganya kamu ndok ninggalin simbok sendiri…..

Orang orang kemudian ribut juga menenangkan simbok. Simbok pingsan, kemudian beramai-ramai orang orang menggotongnya. Exit

Masuk siti, kemudian masuk rumah.

  1. Siti : “Walah karo sambel meneh. Kapan pintere kalo tiap hari sama sambel teruuuuusssss.”

Waktu berlalu. lima tahun setelah kepergian denok, suasana dikampung kardus belum banyak berubah. Siti sudah jadi mahasiswi di universitas elite karena dapat beasiswa. Neneng jadi tukang sayur. Dan mayoritas warga masyarakat masih tetep sebagai pemulung.

Lurah mengadakan inpeksi mendadak didalam kampung.

  1. Carik : “Nah disekitar sini maunya bos besar mau bangun real estate itu.”
  2. Lurah : “Yayayayaaa….. daerah seperti ini kok ya payu ya?”
  3. Carik : “Mungkin ada pertimbangan-pertimbangan tertentu, kita kan ndak ngerti yang menjadi planing bos besar dari kota itu.”
  4. Lurah : “Tempat bosokan gini kok payu ya?”
  5. Carik : “Sekarang yang ndak laku itu apa tho pak lurah.  Sekarang banyak kekurangan lahan, natalitas semakin meningkat tetapi lahan tetap malah seolah makin menyempit…”
  6. Lurah : “Kamu bisa mengatur semua ini tho? kamu harus bisa mengatasinya. Ini kan  tugas mudah, bagaimana caranya saja kamu menyampaikannya.  Mereka itu orang-orang bodo jadi gampang dikibulin. Kamu janjikan saja uang gantinya.”
  7. Carik : “Lha memang sudah dijatah tho dari bos besar? Semeternya 200 rb.”
  8. Lurah : “Bodo, kamu gak bakat sugeh. Bilang sama mereka tanah itu di beli seharga 50 ribu, kalo nggak mau akan dibongkar paksa. Lagian itu kan bukan tanah milik mereka. Uang ganti rugi itu diberikan juga karena kasian pada mereka.”
  9. Carik : “Sory pak lurah, mudeng deh saya.”
  10. Lurah : “Kamu pengen ngerasain naik mobil pribadi tho? Dengan musik yang jeduk-jeduk? Duit itu bisa buat beli mobil yang jeduk-jeduk.”
  11. Carik : “Duit saya yang utama mau tak buat bangun WC dulu ah pak. lha wong saya kalo buang hajat masih dikali. Masak naik mobil jeduk-jeduk tapi buang hajadnya masih dikali.”
  12. Lurah :  “Terserah kamu sajalah, kita atur sendiri-sendiri duit kita.
  13. Carik : yang terpenting kan kita dapat duit banyak tho bos?”
  14. Lurah : “Kamu atur deh nanti.”
  15. Orang 1 : “Eee pak lurah kadingaren pak lurah mau datang kemari, bukan lagi kampanye kan bu?”
  16. Lurah : “Nah kebetulan kok sepi lagi pada kemana?”
  17. Orang 1 :  “Ya biasa tho Pak, kerja. Ada apa tho Pak? Ada program sensus?”
  18. Lurah :  (pada carik) “Kamu kumpulkan deh orang-orang sekarang.”

100. Carik :  (pada orang 1) “Kita mau ketemu dengan seluruh warga, kamu sekarang kumpulkan mereka ya, sifatnya penting dan sangat mendesak.”

101. Orang 1 : “Lha ya tapi ada apa?”

102. Carik : “Ada program kesejahteraan masyarakat yang harus segera disampaikan pada masyarakat.”

103. Orang 1 : “Pembagian bantuan subsidi BBM diajukan ya pak, atau malah di tambah?”

104. Carik : “Wes ndak usah cerewet, laksanakan saja tugas tadi, dasar wong susah, sugihe mung sugih omong.”

105. Orang 1 : (melihat orang 2, kemudian memanggil) “Pak lurah sama sekdes mau ketemu dengan seluruh warga, ini sifatnya penting dan sangat mendesak. Kamu sekarang kumpulin seluruh warga, ini perintah langsung.”

Orang 2 exit.

Beberapa saat kemudian warga mulai berdatangan.

106. Carik : “Warga yang baik.”

107. Orang 1 : “Njih pak? kadingaren banget mengadakan sidaknya mendadak?”

108. Orang 2 : “Apa itu sidak?”

109. Orang 1       : “Infeksi mendadak.”

110. Orang 2 : “Ooo…walah… inspeksi mendadak tho.”

111. Lurah “We neng kamu sekarang ganti profesi tho? Sekarang jualan sayur?”

112. Neneng :  “Iya lah pak, lumayan sekarang ndak kotor lagi, sekarang bisa dandan.”

113. Orang 2 : “Walah memang kamunya saja yang menel.”

114. Neneng : “Orang jualan itu harus tampil cantik dan menarik biar jualannya laku.”

115. Orang 1 :  “Jualan apa dulu?”

116. Neneng : “Ya sayur tho, memangnya apa? kalo jualan sayur nglomprot kayak kamu ya males yang beli.”

117. Orang 1 : “We…lhadhalah kok malah ngece tho kowe neng ……”

Terjadi kericuhan. .

118. Carik :  “Wes… wes…. Saudara-saudara sekalian, sengaja saudara2 sekalian dikumpulkan mendadak oleh kami disini adalah ada hal yang sangat penting yang perlu saudara sekalian ketahui.”

119. Carik : “Saudara sekalian, kami datang kemari untuk memberikan kabar gembira untuk kalian. Saudara2, saudara…. Wilayah ini, kampung kardus yang kalian tinggali ini akan segera dibangun real estate oleh kontraktor dari kota sana.”

Semua bersorak gembira.

120. Neneng : “Lha sek – sek…. Tapi terus bagaimana nasib kita selanjutnya, apa real state itu terus menjadi milik kita?”

121. Carik : “Lha kok enakmen. Kalian akan dipindahkan dari tempat ini.”

122. Warga :  “Digusur? Enak saja. Ndak bias.”

123. Carik :  “Bisa. Kalian nantinya akan di beri ganti rugi tiap warga untuk mencari tempat dan membangun rumah kembali.”

Semua warga gaduh.

124. Orang 1 : “Berapa akan kalian beri kami ganti rugi.”

125. Carik : “Ganti ruginya cukup besar. Lima puluh ribu.”

126. Lurah : “Empat puluh saja.”

127. Carik : “Maksud saya empat puluh ribu.”

Warga tidak setuju.

128. Lurah : “Ya udah lima puluh ribu.”

129. Carik : “Lho katanya 40 ribu pak?”

130. Lurah : “Ini namanya strategi negosiasi.”

131. Carik : “Ya sudah saya naikkan menjadi 50 rb.”

Warga masih menolak dan makin ramai.

132. Carik : “Wah sudah ndak kondusif ini pak lurah.”

133. Lurah : “Pokoknya kamu atur.”

134. Carik : “Baiklah kalo begitu, masalah ganti rugi nanti  perwakilan dari kalian akan  kami ajak berembuk di kelurahan. Kita tunggu di kelurahan.”

Lurah dan carik exit.

Orang-orang masih gaduh, kemudian memilih perwakilannya untuk pergi kekelurahan.

Beberapa orang exit. Sementara yang lain kemudian berkerumun membicarakan penggusuran itu.

Beberapa saat kemudian masuk siti.

135. Siti : “Ada apa tho mbok?”

136. Rahmi : “Kita akan di gusur nduk.”

137. Siti : “Digusur?”

Rahmi kemudian cerita soal penggusuran itu.

138. Siti : “Waduh mbok, ndak bisa begitu,  kalo gitu biar siti juga pergi ke kelurahan.”

139. Rahmi : “Tenang semua ya, anakku siti yang akan berdialog dengan pak lurah, dia kan bocah sekolahan, bocah pinter, pasti bisa bernegosiasi untuk kepentingan kita.seng ngati-ati ya sit, kamu pasti bisa, kita serahkan tanggung jawab ini sepenuhnya kepadamu.”

Siti exit

Orang makin kwatir dan was-was dengan penggusuran itu. Mereka berharap penggusuran itu tak jadi di lakukan. Beberapa saat kemudian orang-orang yang ikut rapat dikelurahan kembali.

140. Orang 2 : “Pokoknya aku tidak mau pergi dari tempat ini. Titik. Sampai darah penghabisan.”

141. Orang 1 : (pada rahmi) “Anakmu itu lho, apa ada persengkongkolan dengan pak lurah? Kok malah memihak pada mereka?”

142. Rahmi : “Apa iya?”

143. Orang 1 : ‘Nanti Tanya aja sendiri.”

Masuk siti.

144. Siti :  “Wah enak ni aku sama mbokku bisa kaya, bisa makan enak, bisa tidur nyaman, enak ini jadi wong sugih.”

145.  Rahmi : “Apa benar kamu juga sudah sekongkol dengan bu lurah. Tidak memihak pada kita?”

Siti menarik rahmi

146. Siti : “Mbok, tenang saja, kita nanti akan dapat persenan dari bulurah. Kita akan dapat lebih banyak duit ganti rugi, ditambah uang tutup mulut. Bulurah telah mempercayakan pada saya untuk membantu carik. Pada urusan ini.”

147. Rahmi :  “Kamu aku sekolahkan bukan untuk membodohi orang yang memang bodo.”

148. Siti : “Simbok, ini bisnis.”

Rahmi meninggalkan Siti sambil marah dan kecewa.

Seluruh warga ribut dan berdemo.

149. Neneng : “Sekarang kita harus bertindak cepat, kita protes besar-besaran, kalo perlu anarkis. Mogok makan!”

150. Orang 1 : “Nek kon mogok makan wegah, aku ra kuat!”

155. Neneng : “Cuman menggertak saja, kalo ndak gitu, kita tuntut mundur aja pak lurah.”

Semua warga berdemo. Exit

Masuk kontraktor, pak lurah dan carik

156. Kontraktor : “Ya.. tanah ya bagus untuk dibangun, pasti akan untung. Iya kan rik?”

157. Carik : (sambil mencatat) ya…. Ya bagus bos (gugup)

158. Kontraktor : “Sudah di distribusikan ganti rugi pada warga? Warga juga telah setuju kan dengan jumlah yang saya tawarkan. Apa perlu saya yang langsung melakukan kesepakatan dengan mereka?”

159. Lurah : “Ooooooo…oo.o.o jangan-jangan, semua sudah beres kok, ganti rugi sudah disepakati warga. Besok lahan ini akan dikosongkan.”

160. Carik : “Besok?”

161. Lurah :  “Menurut informasi warga telah membeli perumahan sederhana. Namun layak huni.”

162. Kontraktor : “Jadi ganti rugi yang saya berikan layak bagi mereka. Trimakasih telah membantu saya dalam hal ini, pak lurah dan carik memang pejabat teladan.”

163. Lurah : “Terimakasih atas kepercayaannya, kami sangat menjunjung tinggi kepercayaan yang diberikan kepada orang lain terhadap kami.”

164. Kontraktor : “Kita tinjau yang sebelah sana pak, sebelah sana calonnya saya bangun supermarket.”

Mereka exit

Waktu berlalu. Penggusuran terjadi, seluruh warga panik. Terjadi kekerasan dan lain-lain.

Kemudian lengang.

165. Siti : “Pak lurah, gimana janji bulurah, katanya mau kasih persenan.”

166. Lurah : “Nanti kalo urusannya sudah selesai, pasti tak bayar.”

167. Siti : “Kapan bu???”

Exit

Beberapa saat kemudian masuk denok

168. Denok : “Mbok aku pulang! (terkejut) lo ada apa ini? Kok jadi begini……… “

169. Siti : “Mbak denok?”

170. Denok : “Siti ya? Wah pangling aku.. sudah gede ya?”

171. Siti : “Kemana saja mbak selama ini?”

172. Denok :”Ya kerja, jadi TKW diluar negri. Lumayan lah dek. Ada apa ini? (menangis) kok jadi begini?”

173. Siti : (menangis) “Warga telah digusur.”

174. Denok : “Digusur? Lalu kemana semua warga, juga simbokku?

175. Siti :  (menggeleng)  simbok saya pun ndak ngerti dimana. saya sibuk ngurusin duit di bulurah saat penggusuran itu dilakukan. Saya tak membayangkan akan begini jadinya. Saya juga telah dibohongi oleh bu lurah.  Seluruh warga padahal juga telah membenci saya, termasuk simbok saya yang telah sangat kecewa dengan saya. Saya bingung harus bagaimana?”

176. Denok : “Simbok…..”(menangis)

Masuk surti yang telah jadi gila karena dulu ditinggal pacarnya.

177. Surti :”Lho…. Lagi pada ngapain? Kok melankolis banget tho, ditinggal pacar ya? Tenang aja, semua lelaki memang seperti itu. Mendingan kita nyanyi bareng yuk……..”

SELESAI