Archive for the ‘Naskah Drama Anak’ Category

“RAMUAN AJAIB”

Posted: 28 Desember 2009 in Naskah Drama Anak

Oleh: Hendrik Iswahyudin

BABAK I

DI MALAM YANG SEPI, YOGI SENDIRI DI KAMAR SAMBIL MEREBAHKAN BADANNYA YANG GEMPAL DI TEMPAT TIDUR KESAYANGANNYA. TIBA-TIBA IA TERPERANJAT MENDENGAR SEKILAS TENTANG CERITA KAKEK YANG BERBINCANG DENGAN NENEKNYA DI RUANG TENGAH.

Kakek              : Nek! Mau dengar cerita kakek ndak?

Nenek              : Boleh, cerita apa sih kek?

Kakek              : Tentang ramuan ajaib

Nenek              : Ramuan ajaib apa sih kek?NENEK PENASARAN

Kakek              : Ya ramuan ajaib yang pernah kakek buat pada masa kecil dulu untuk        cepat menghafal rumus matematika.

DI DALAM KAMAR YOGI LANGSUNG MENDEKATI PINTU DI KAMARNYA DAN MENEMPELKAN DAUN TELINGANYA KE PINTU.

Nenek              : Memangnya ada ramuan ajaib seperti itu?

Kakek              : Dengar dulu cerita kakek, nek! Dulu kakek ketika seumuran Yogi, kakek mirip sekali dengan Yogi. Kakek itu malas sekali kalau di suruh belajar. Kemudian ketika menjelang ulangan kakek bingung karena tidak pernah belajar. Tapi kakek tidak putus asa, kakek berfikir untuk mendapatkan cara yang cepat agar hafal rumus-rumus matematika. Setelah beberapa lama berfikir, akhirnya kakek menemukan ide cemerlang.

Nenek              : Ide apa itu kek?

YOGI SEMAKIN MELEKATKAN DAUN TELINGANYA KE PINTU KAMARNYA.

Kakek              : Kakek membuat ramuan ajaib dengan harapan dapat hafal rumus-rumus matematika. Ramuan ajaib itu terdiri dari air putih, gula, garam dan abu dari catatan rumus-rumus matematika yang telah kakek bakar. Kemudian kakek campur jadi satu dengan air lalu kakek minum.

Nenek              : Hasilnya kek?

Kakek              : Waduh kepala kakek jadi pusing dan perut kakek terasa mual.

Nenek              : Terus?

KRIIING……KRIIIING……KRIIIING(SUARA TELEPON BERDERING)

Kakek              : Nek itu teleponya berdering!

Nenek              : Ya, ceritanya di lanjutkan besok saja ya kek.

Kakek              : Ya, kakek tidur dulu ya nek.BERJALAN MENUJU KAMAR

BABAK II

DENGAN HATI TANPA KEKHAWATIRAN MENGHADAPI ULANGAN MATEMATIKA BESOK, YOGI MELANGKAH TENANG MENUJU RUMAH. DI DEPAN GERBANG SEKOLAH, TEMAN-TEMAN YOGI TELAH BERKUMPUL MENUJU KE RUMAH MIA UNTUK BELAJAR KELOMPOK MEMPERSIAPKAN ULANGAN MATEMATIKA BESOK.

Mia                  : Gi! Ke mana? Nggak ikut ke rumahku?

Yogi                : Buat apa ke rumahmu.TANGANNYA BERKACAK PINGGANG

Anton              : Ya belajar dong, besok kan ulangan matematika, banyak rumus yang harus di hafal lo!

Yogi                : Kalian saja yang belajar, aku tidak perlu melakukannya.

Jaka                 : Kok bisa begitu?

Yogi                : Tentu bisa, karena aku telah mendapatkan resep mujarab dari kakekku.

Mia                  : Resep apa sih?

Yogi                : Resep agar sukses ulangan.

Anton              : Alaa…ah, paling juga disuruh belajar.

Yogi                : wah, kalian salah, pokoknya ini rahasia.

Mia                  : Dasar pelit.

Anton              : Jangan-jangan kakek Yogi dukun.

Jaka                 : Ha…ha….ha….dipanggil mbah dukun aja.

Yogi                : Jangan sembarangan ya, kita lihat saja besok.

MIA, ANTON DAN JAKA PERGI KE RUMAH MIA UNTUK BELAJAR, SEDANGKAN YOGI PULANG KE RUMAH

BABAK III

MALAM TELAH TIBA, YOGI SIBUK MEMPERSIAPKAN BAHAN-BAHAN UNTUK RAMUAN AJAIBNYA. CATATAN MATEMATIKA, SEGELAS AIR PUTIH, GULA, DAN GARAM. DENGAN HATI-HATI YOGI MEMBAKAR CATATAN LEMBAR DEMI LEMBAR MATEMATIKANYA. KEMUDIAN DENGAN HATI-HATI YOGI MEMASUKKAN GULA, GARAM DAN ABU KE DALM GELAS YANG BERISI AIR. TIBA-TIBA SUARA IBU MEMANGGIL.

Ibu                   : Yogi sedang apa kamu di kamar nak?kok ada bau benda terbakar dari kamarmu.

YOGI TERPERANJAT MENDENGAR IBUNYA DARI RUANG TENGAH. DIA MENDEKAT KE PINTU MENGAMATI LUBANG KUNCI DENGAN SEKSAMA, IA MEMASTIKAN PINTUNYA TELAH TERKUNCI.

Yogi                : Yogi tidak apa-apa kok bu, Yogi hanya menyiapkan untuk ulangan besok kok bu.

TOGI MENGADUK RAMUAN AJAIBNYA, KEMUDIAN MEMINUMNYA.

Yogi                : Huekk..kk!ternyata rasanya tidak enak. Bagaimana kakek dulu meminumnya ya?

YOGI MEMINUMNYA SEKALI LAGI.

Yogi                : Huek..kk!huekk..kk!

Ibu                   : Tok…tok….tok…..Yogi, ada apa nak?SUARA IBU DI DEPAN PINTU

Yogi                : Uhuk..kk!uhuk…kk!Yogi hanya tersedak kok bu.

Ibu                   : Buka pintunya nak, ini ibu bawakan susu hangat untukmu.

YOGI MEMBUKA PINTU DENGAN PERASAAN TAKUT KETAHUAN IBUNYA.

Ibu                   : Benar, kamu tidak apa-apa?

Yogi                : Tidak apa-apa kok bu.

Ibu                   : Ini susunya, ibu letakkan di meja belajar.

Yogi                : Ya bu terima kasih. YOGI MASIH KETAKUTAN

IBU KELUAR DARI KAMAR YOGI, YOGI KEMBALI MENUTUP PINTUNYA SAMBIL MENGELUS DADANYA.

Yogi                : kuteruskan nggak ya?……ku teruskan nggak ya?….Ah…daripada susah-susah menghafal mendingan kuteruskan saja.

YOGI MENCOBA MEMINUMNYA SEKALI LAGI.

Yogi                : Glek…glek….huekk…kk!huek…kk. aku benar-benar tidak dapat meminumnya.

YOGI TAMPAK PASRAH, WAJAHNYA SEDIKIT PUCAT DAN KEPALANYA PUSING .

Yogi                : Bukankah kakek dulu merasa mual dan pusing? Artinya ramuan ini mulai bekerja.

DENGAN PERASAAN SEDIKIT GEMBIRA, YOGI MEMILIH UNTUK TIDUR BERHARAP BESOK RUMUS-RUMUS MATEMETIKA MELEKAT DI KEPALANYA.

HARI SUDAH PAGI, YOGI MASIH TIDUR DI KAMARNYA. BERKALI-KALI IBUNNYA MENGETUK PINTU DENGAN PERASAAN KHAWATIR.

Ibu                   : Yogi (TOK……TOK…..TOK), Yogi(TOK….TOK….TOK)

TIDAK ADA JAWABAN DARI KAMAR YOGI. KEMUDIAN IBU MEMBUKA PINTU KAMAR YOGI. IBU MELIHAT YOGI MASIH TERBARING DI TEMPAT TIDURNYA. IBU MENDEKATI YOGI DAN MEMEGANG KENINGNYA.

Ibu                   : Kamu sakit nak?

Yogi                : Kepalaku pusing, bu. Aku juga kedinginan.

Ibu                   : Kaau  begitu, jangan masuk sekolah dulu. Istirahat di rumah saja.

Yogi                : Tapi hari ini Yogi ulangan bu.

Ibu                   : Nanti ibu telepon ke sekolah agar boleh ikut ulangan susulan…. Ibu telepon gurumu ya?

Yogi                : Ya bu. Bu tolong panggilkan kakek ya!

Ibu                   : Ya, sebentar.IBU MELANGKAH KE LUAR KAMAR

KAKEK MASUK KE KAMAR YOGI DAN DUDUK DI TEPI TEMPAT TIDUR YOGI.

Kakek              : Aduh Yogi, mau ulangan kok sakit.

Yogi                : Ya kek, kepala Yogi pusing sekali.

YOGI MENATAP GELAS YANG BERISI CAIRAN GELAP.

Kakek              : Yogi minum kopi?

Yogi                : tidak kek.

KAKEK MELANGKAH DAN MENGAMBIL GELAS YANG BERISI CAIRAN GELAP DAN MENCIUM ISI GELAS ITU.

Kakek              : Kamu buat ramuan ini?

Yogi                : Ya kek.

Kakek              : siapa yang mengajari. KAKEK BINGUNG

Yogi                : dua hari yang lalu Yogi mendengar kakek sedang bercerita tentang ramuan ajaib kepada nenek. Makanya aku mencobanya.

KAKEK TERTAWA TERBAHAK-BAHAK

Kakek              : ha…ha..ha…ha…

Yogi                : Kenapa tertawa kek. YOGI KEHERANAN

Kakek              : Ooo.. itu rupanya yang menyebabkan kamu sakit.

Yogi                : Kok bisa kek?

Kakek              : Ya,kakek dulu sama seperti kamu seperti sekarang ini. Setelah kakek meminum ramuan ajaib itu kakek juga langsung sakit.

Yogi                : Dan kakek jadi pintar?

Kakek              : Waduh, pasti kamu belum mendengar dengan lengkap cerita kakek waktu itu. Setelah minum ramuan iotu, kakek masih ikut ulangan dan hasilnya, kakek mendapat nilai tiga.

Yogi                : Ha?? Tiga??YOGI TERKEJUT

Kakek              : Ya , tiga.

Yogi                : lho bukankan kakek pandai matematika?

Kakek              : Ya, Karena setelah itu kakek rajin belajar agar semua rumus-rumus matematika dapat melekat di kepala, tidak dengan meminumnya. Kalau Yogi ingin pandai matematika, Yogi harus banyak belajar dan banyak menghafal. Dengan begitu Yogi akan hafal semua rumus matematika. Yogi mau seperti itu?

Yogi                : Baiklah, Yogi akan mencobanya.

Kakek              : Ingat Yogi tidak ada jalan pintas untuk pintar. Semua harus dimulai dengan kerja keras. Sekarang istirahat dulu.

“PERTENGKARAN”

Posted: 18 Desember 2009 in Naskah Drama Anak

Di tengah terik matahari, 2 orang sahabat sedang mencari rumah kontrakan mereka tidak menghiraukan jalan raya yang terik menggang. Dengan ditemani sekitarnya mereka jalan-jalan pintas untuk menghindari keramaian dan kemacetan. Dengan semangat kesetiakawanan mereka menyusuri jalan di pelosok-pelosok untuk mencari rumah yang dituju, tetapi perjuangan mereka sia-sia, akhirnya mereka menemukan rumah yang dicari meskipun tidak berhasil menempatinya.

Eko            : “Apakah jadi kita mencari rumah kontrakan?”

Harun         : “Ya jadilah … akukan butuh rumah itu.”

Eko            : “Lalu kapan kita berangkat …?”

Harun         : “Pagi ini bisa … ?”

Eko            : “Baiklah, saya siap-siap dulu seperempat jam lagi saya jemput.”

Harun         : “OK …. ! Saya tunggu.”

Di tengah perjalanan, mereka melewati jalan raya yang telah ramai dan macet.

Saya              : “Kurang ajar! Coba tadi kita lewat jalan garuda!”

Teman saya   : “Naik saja ke trotoar. Kita tuntun.”

Saya              : “Kurang ajar! Coba tadi kita lewat jalan garuda!”

Teman saya   : “Naik saja ke trotoar. Kita tuntun.”

Saya              : “Ya, nanti kalau ada trotoar kita lewat sana saja.”

Teman saya   : “Nah itu ada rentetan tali pekerja jalanan, kita serobot saja.”

Kemudian mereka menuntun sekuternya, sekitar dua puluh meter dari situ mereka menemukan jalan yang lapang kemudian mereka kembali menaiki kendaraan. Ketika mereka berkecepatan tinggi, tiba-tiba orang yang dibonceng berseru:

Eko            : “Awas sebentar lagi belok!” (TERIAK SESEORANG DARI BELAKANG)

Harun         : “Jalan yang mana?” (SAMBIL TERIAK)

Eko            : “Apa?” (SAMBIL TERIAK JUGA)

Harun         : “Jalan yang mana? Kiri atau kanan?”

Eko            : “Ya! sekarang belok kiri! Belok kiri! Awas! Ada mobil di belakang!”

(SAYA TUNGGU MOBIL ITU LALU, ALNTAS SAYA MENEYBERANG DAN MASUK KE GANG TAK BERASPAL. BEBERAPA PULUH METER SAYA MENAIKI KENDARAAN, TAPI SAMPAI PADA SEBUAH BELOKAN NAMPAK ANAK-ANAK YANG RAMAI DI JALAN. DISITUPUN GANG ITU MAKIN SEMPIT, LALU SAYA TURUN DAN SAYA DORONG SKUTER SAYA)

Harun         : “Masih jauh?” (TANYA SAYA LAGI SAMBIL TERIAK)

Eko            : “Sudah dekat! Nah, tu! Rumah yang didepannya ada pohon belimbing.”

Harun         : “Sungguh menyesal dibawa melihat rumah sejauh ini ke dalam. Kalau tidak akrena menenggang kawan saya sudah ingin kembali saja.” (MENGGERUTU SAMBIL BERJALAN KE BAWAH POHON UNTUK BERTEDUH).

Eko            : “Nah, sampai! sekarang .” (SAMBIL MENGELUARKAN SAPU TANGAN UNTUK MENYEKA MUKANYA).

Harun         : “Ini rumahnya?” (RAGU DAN TAK PERCAYA)

Eko            : “Ya! Mari masuk!”

(KEDUANYA MASUK KE PEKARANGAN RUMAH ITU)

Harun         : (MASIH MEMANDANGI RUMAH ITU)

“Baiklah, mari kita lihat kesana!”

Eko            : “Tok…. Tok…. Tok…. (MENGETUK PINTU DAN SAYA MENGIKUTI DI BELAKANG SAMBIL LONGAK-LONGOK KE SAMPING MENYAMPING RUMAH).

Kemudian ada seorang perempuan menjulurkan kepala dari balik pintu. Kemudian ia memperhatikan saya, saya membungkuk hormat, ia membalas menganggu, lalu mundur.

Perempuan    : “Silakan masuk.” (KAMIPUN MASUK LALU DUDUK DI RUANG TAMU)

(SI PEREMPUAN MASUK KE DALAM RUMAH DAN BEBERAPA SAAT KEMUDIAN KELUAR LAHI KE RUANG TAMU DAN DUDUK BERSAMA KAMI. KEMUDIAN TEMAN SAYA MEMBEBERKAN MAKSUD TUJUANNYA).

Bu Mira         : “Apa om tidak tahu kalau rumah ini sudah saya kontrak. Seharusnya om bicarakan dulu ini dengan pemiliki rumah. Lalu bersama dia om datang melihat-lihat kesini.”

Eko               : “Sudah juga saya bicarakan dengan yang empunya. Rumahnya persis di sebelah rumah saya.”

Bu Mira         : “Tapi ia harus datang kesini. Kalau tak bersama-sama, ia sendiri harus memberitahukan saya tentang maksudnya menjual rumah ini.”

Eko               : “Tapi Zus, kami hanya permisi untuk melihat-lihat saja dulu.” (DENGAN MENGUSAPKAN SAPUTANGAN KE MUKANYA).

Bu Mira         : “Ya meskipun untuk melihat, tapi harus juga diberi tahu lebih dulu kepada saya. Saya si penyewa yang sah di rumah ini. Berarti rumah ini tak boleh seenaknya saja mau dijual atau doperkan si pemilik tanpa sepengetahuan dan persetujuan saya.”

Eko               : “Maaf saja, Zus kalau pemilik tak sempat permisi, biarlah sekarang kami yang minta permisi untuk melihat-lihat.”

Bu Mira         : “Tidak bisa begitu!” (SAMBIL BERDIRI DAN DENGAN NADA TINGGI) “Kau tahu, ha!?” kau tahu, ha?!” (SAMBIL MENUDING-NUDING DAN TANGAN MEMEGANG PINGGANG).

Telah berpuluh-puluh calo datang merongrong kemari untuk melihat rumah ini. Datang yang ini ingin melihat. Datang yang itu untuk memeriksa. Datang yang anu ingin melihat dan memaksa masuk ke tiap kamar. Dan mereka datang tanpa merperdulikan waktu. Ada yang pagi, ada yang siang ketika orang sedang istirahat, ada pula yang malam. Pusing! Pusing saya memikirkan!” (SAMBIL MELETAKKAN TAPAK TANGAN KE ATAS MEJA SEPERTI INGIN MENAMPAR NAMPAKNYA)

Harun            : “Ehm … ehm…, hilag sudah harapan.”

(PIKIRNYA DALAM HATI SAMBIL BANGKIT PELAN DARI DUDUKNYA DAN BERNIAT UNTUK MELARIKAN DIRI DARI PERCAKAPAN)

Bu Mira         : “Coba! Coba! Siapa yang tak pusing dibikin begitu ha ?”

Eko               : “Tapi, Zus, ehm, sesungguhnya rumah ini sudah mau kami jual. Ehm, maksud saya kami bersaudara yang mewarisi rumah ini sejak ibu kami meninggal kira-kira 10 bulan lalu.”

(DENGAN SUARA YANG DALAM DAN DI TENANG-TENANGKAN)

Bu Mira         : “Ha?” (TERKEJUT DAN JADI PELAN)

“Jadi ….. rumah ini warisan beberapa saudara? Jadi om ikut memiliki rumah ini?”

Eko               : “Benar, Zus.” (DENGAN NADA KEMENANGAN)

“Sesungguhnya abang kami Atang, yang menyewakan rumah ini tanpa berunding masak dengan kami saudara-saudaranya. Ada 3 orang kami bersaudara dan saya yang bungsu. Sesungguhnya rumah ini ingin kami jual, sebab bikin sengketa saja pada kami. Kalau dijual dapat dibagiuang penjualannya. Maaf saja, Zus, saya tidak segera menjelaskannya tadi pada Zus.”

Seketika suasana menjadi hening, beberapa lama kemudian:

Bu Mira         : “Meskipun begitu saya telah resmi menjadi penyewa rumah ini. Ada tanda tangan RT dari RK sekalian. Kalian belum bisa menjual begitu saja sebelum saya dicarikan rumah yang betul-betul cocok pada saya, sama seperti rumah ini.”

Eko               : “Tapi, Zus ……”

Bu Mira         : “Tapi kenapa? Apa om keberatan dengan permintaan ganti rugi saya….!”

Eko               : “Sebenarnya bukan keberatan, tapi saya merasa saya tidak ikut menyewakan rumah ini, jadi yang seharusnya bertanggung jawab adalah abang saya.”

Bu Mira         : “Trus bagaimana saya bisa menemui abang om.”

Eko               : “Ya coba nanti saya hubungi beliau.”

Bu Mira         : “OK, kalau begitu, saya baru mau pindah kalau sudah dapat ganti rugi.”

Eko               : “Saya mohon pamit dulu dan terima kasih atas toleransinya.”

“GENGSI”

Posted: 4 Juli 2009 in Naskah Drama Anak
Tag:

Oleh : MENIK PUSPITA RINI

Penyelaras: Heru Subrata

GAMBARAN ALUR CERITA

Pengenalan Karakter

Konflik

Ketegangan

Klimaks

Penyelesaian

Widi mengungkapkan perasaan irinya pada Dya karena berbagai alasan. Widi kesulitan menger-jakan soal-soal fisika, Dia ingin meminta bantuan Dya untuk mengerja-kannya tetapi Widi ragu-ragu dan merasa gengsi Dya datang ke rumah Widi, Widi merasa kaget, tetapi dia senang karena bisa belajar bersama untuk menghadapi ula-ngan besok. Ketika Widi dan Dya menanti-nanti hasil ulangannya dibagikan. Nilai-nilai ulangna Widi sama dengan Dya. Mereka belajar bersama, saling membantu dan bersahabat  tanpa perasaan iri lagi di hati Widi.


NASKAH CERITA

BABAK I

(DI KAMAR, WIDI MELAMUN SENDIRI, IA TRINGAT DENGAN TEMAN SEBANGKUNYA DYA YANG KEBETULAN PADA HARI ITU MEMBUATNYA KESAL)

(DI DALAM HATI WIDI BERKECAMUK PERASAAN KESAL PADA TEMANNYA ITU, TNPA SADAR IA BERGUMAM SENDIRI)

Widi          :   “Uh!! Kok ya ada orang sesempurna Dya hidup di dunia ini ? Sudah cantik, pintar, baik, banyak yang suka lagi!”

(WIDI MELEMPARKAN SEBUAH BANTAL YANG TAK SENGAJA MENGENAI KUCINGNYA, SI BELANG YANG SEDANG MERINGKUK DI ATAS KESET DEKAT PINTU KAMARNYA. SETELAH HILANG RASA TERKEJUTNYA, SI BELANG KEMBALI MERINGKUK DEKAT BANTAL YANG WIDI LEMPARKAN)

Belang     :   “Miaww ! meow…!”

Widi          :   “Ups ! maaf ya belang!”

Widi          :   “Aku saja tak seberuntung si belang, lihat sekarang dia dapat bantal yang empuk untuk tidur.” (SAMBIL MELIHAT SI BELANG)

(WIDI MEMELUK GULING DENGAN GEMAS) (lebih…)


Oleh:
ERI MIYARTI

Penyelaras: Heru Subrata

Para Pelaku :

Lina : Tokoh utama (PROTAGONIS)
Pramudiya : Kekasih Lina (ANTAGONIS)
Fani : Teman Lina (PROTAGONIS)
Meta : Teman gaul Lina ( selingkuhan pramudiya ) (ANTAGONIS)

BABAK KESATU
Suatu malam, bulan terlihat bersinar terang, bintang bercahaya kerlap-kerlip indah di langit. Udara berhembus sejuk di hati, serasa menambah meriah suasana pesta ulang tahun. Dua sejoli saling berpasang-pasangan memadu kasih, tapi ada juga yang epi tanpa seorang kekasih, mungkin disinilah tempat anak muda mencari ajang kenalan, berangkat sendirian dan waktu pulang sudah ada yang mengantarkan sampai rumah, dan bahkan hubungannya bisa berlanjut sampai ke depannya. (lebih…)


Diadaptasi dari sebuah cerpen majalah aneka, Karya Rose Linda
[Penyelaras: Drs. Heru Subrata, M.Si]

Karya : Ira Iryani Hafsyah

1. INT. RUANG KELUARGA RUMAH RANI – MALAM -
SEPASANG SOFA SEDERHANA TERTATA DITENGAH RUANGAN. SEBUAH LEMARI KACA YANG RETAK TEMPAT ANEKA BARANG RUMAH TANGGA BERDIRI AGAK MIRING. SEMENTARA SEBUAH MESIN JAHIT TUA BERADA DIPOJOK RUANGAN.
RANI TAMPAK DUDUK DI SOFA SAMBIL MEMBACA MAJALAH REMAJA YANG IA PINJAM DARI SANTI SAHABATNYA. SEMENTARA IBU RANI MENJAHIT BAJU BADUT MILIK AYAH YANG SEDIKIT SOBEK.
Rani : bu, hari valentin besok kita jadi kan makan di rumah makan favorit kita?….
Ibu : rani, kamu tahu kan kalau liburan ini ayahmu tidak bisa berkumpul bersama kita.
Rani : selalu saja begitu… setiap liburan atau hari istimewa ayah selalu keluar kota.
Ibu : ran, kamu harus bisa memaklumi pekerjaan ayahmu, sudah suratan takdir,ayahmu justru kebanjiran order dihari-hari libur dan hari istimewa. Rejeki ayahmu adalah rejeki hari hari libur dan hari raya. (lebih…)


Oleh: IKA RAHMAWATI

Penyelaras: Heru Subrata

Babak I
Matahari terbit layaknya hukum alam. Hangatnya mentaripun selalu melindungi kulit – kulit berpori dari kejamnya angin malam. Sinarnya saling memantulkan menembus tembok – tembok tinggi yang mengelilingi areal luas penjara itu. Seperti biasa, banyak orang keluar masuk ke dalam rumah gratis tersebut. Tetapi ada yang lain terhadap raut wajah salah seorang yang baru keluar dari penjara itu. Coba kita perhatikan sosok itu.
Marzuki : “Akhirnya aku bias merasakan kebebasan ini. Kinilah satnya bagiku untuk menuntaskan kerinduanku pada Resti, istriku dan Fikar, anakku”. (MENGHADAP ATAS DENGAN MENGANGKAT TANGAN SEMBARI MENGHIRUP UDARA BEBAS SEDALAM-DALAMNYA). “Tapi……..dimana mereka sekarang tinggal???”. (MURAM DAN MENUNDUKKAN KEPALA DENGAN KEDUA TANGAN MEMEGANG KEPALANYA).
Kesedihan wajahnya, mengingatkan Marzuki pada istri dan anaknya sewaktu menjenguk dirinya ketika masih berada dalam terali besi yang menjadi rumah gratisnya itu.
Marzuki : “Res……, kamu datang menjengukku juga!Res, kamu harus percaya sama aku?” (MEMEGANG TANGAN RESTI DENGAN WAJAH SEDIH)
Resti : “Sudahlah Mas….kau tak usah merasa bersedih. Aku bersyukur akhirnya kau mendapat upah dari semua perbuatanmu sendiri”. (DENGAN RAUT WAJAH MARAH DAN BENCI)
Marzuki : “Tapi Res………”. (TETAP MEMOHON DAN BERSEDIH)
Resti : “Sudahlah. Aku memang terlambat mengetahui kau berselingkuh!Tapi, semua sudah terbukti dan aku tak menyangka kau sejahat itu Mas”. (MATANYA MENGELUARKAN AIR MATA KESEDIHAN DAN SEGERA MENINGGALKAN SUAMINYA ITU)
Marzuki tersadar dari lamunannya. Ia segera meninggalkan penjara yang menjadi rumah gratisnya itu selama bertahun-tahun. Dalam perjalanannya itu, Marzuki menghentikan langkahnya dan segera duduk di sebuah tempat di bawah pohon rindang karena lelah. Saat ia duduk untuk menghilangkan rasa lelahnya, Marzuki teringat kembali dengan masa lalunya yang sampai membuat istri dan anaknya menjauh dari dirinya selama bertahun-tahun.
Atida : “Mas….aku selalu merasa kesepian sejak kepergian suamiku. Sungguh, pernah terlintas dalam pikiranku untuk menyusulnya”. (MENUNDUKKAN KEPALA DENGAN MENANGIS) (lebih…)


Oleh :
Nama : Ari Sri Utami

Di sebuah pohon besar, hiduplah satu keluarga kumbang.

Ibu : “Sudah malam, tidurlah Kikan…”
Kikan : ( SAMBIL MENGUAP KIKAN MENJAWAB ) “Iya Bu……”
Ayah : “Iya Kikan kamu harus tidur, ini sudah larut….”
Kikan : “Tapi ayah aku takut, di luar sana banyak sekali suara – suara aneh.” ( SAMBIL MENUTUP TELINGANYA )

Sementara itu, kodok di luar bernyanyi saling bersahutan membuat Kikan semakin ketakutan.

Kikan : “Ibuuu….peluk aku yang erat, aku takut dimakan monster mengerikan itu.”
Ibu : “Iya….tapi kamu harus tidur ya….” ( BUJUK IBU )

Sedikit demi sedikit, akhirnya Kikan pun bisa tertidur dalam pelukan ibunya, dengan erat Kikan memeluk ibunya walaupun sudah tertidur lelap.Matahari pun terbit tatkala Kikan membuka matanya dan tanpa disadarinya ibunya sudah lepas dari pelukannya. Dan sudah tidak ada.

Kikan : “Ibu……ibu dimana?Kikan takut.”
Ibu : ( IBU LARI MENGHAMPIRI KIKAN ) ”Ada apa Kikan?”
Kikan : “Ibu kok pergi, aku kan takut….!”
Ibu : “Kamu itu penakut….kan sudah pagi…..!”
Kikan : “Oooh…Sudah pagi ya….Asyik, aku bisa terbang dan bermain lagi…..”
Ibu : “Tapi mandi dulu sebelum bermain.”

Kikan terbang ke danau untuk mandi bersama kakaknya dengan riangnya. Tertawa terbang kesana dan kemari.

Kakak : “Kan, ayo pulang, aku sudah lapar nih….”
Kikan : “Ayo….Ibu punya makanan apa ya Kak?”
Kakak : “Pasti persediaan makanan ibu enak.”

Mereka pun tidak sabar ingin pulang karena perut mereka sudah protes. Sesampai di rumnah, mereka pun lamgsung makan dengan lahapnya. Setelah makan, kakak beradik itu istirahat di dahan sambil menikmati udara yang sejuk. Saat itu ibu mendatangi mereka dan berkata…

Ibu : “Kikan, Ibu nanti sore mau pergi ke hutan seberang karena ada acara. Kamu di rumah saja ya sama kakakmu . Ibu menginap , besok pagi baru pulang.”
Kikan : “Lho Bu, aku kok tidak diajak?”
Ibu : “Tidak Kikan, itu acara serangga dewasa. Jadi kamu tidak bpleh ikut.” ( BUJUK IBU )
Kakak : “Iya, Kan. Di rumah sama aku saja.”
Kikan : “Tidak, aku takut, nanti malam aku tidur sama siapa?” ( RENGEK KIKAN )
Ibu : “Kan ada kakakmu, Kikan…!”
Ayah : “Kamu harus terbiasa tidur sendiri Kikan. Sampai kapan kamu akan tidur dengan ayah dan ibu nak….”
Kikan : “Iya deh……Tidak apa-apa, tapi benar ya hanya malan ini !”
Ibu : “Iya saying…..malam ini saja. Kmu pasti bisa tidur…..”

Sore itu ibu dan ayah Kikan pergi ke hutan seberang . Tinggallah Kikan dan kakaknya berdua di rumah. Malam pun tiba dan perasaan ketakutan merasuk dalam diri Kikan. Di sudut sana sudah terlihat kakaknya tertidur dengan lelapnya.

Kikan : “Gerrr……( SAMBIL BERSENDEKAP ) Kakak sudah tidur, lalu aku bagaimana….?”

Terdengar suara angin huf…huf…huf…

Kikan : “Suara apa itu? Itu pasti binatang raksasa yang mencari mangsa, aku takut….”

Krik….krik….krik….krik….Suara jangkrik yang terdengar merdu.

Kikan : “Itu suara apa lagi….menyeramkan. Jangan-jangan itu adalah hantu rawa yang akan memakanku. ( SAMBIL MENUTUP MUKA DAN TELINGA DENGAN SAYAPNYA )
Kemudian disusul lagi suara kodok yang saling bersahutan.

Wok….wok….wok….membuat Kikan semakin ketakutan untuk menutup mata.

Kikan : “Aduh, Bagaimana ini, banyak sekali monsternya.”

Sampai matahari terbit dari timur, Si Kikan tidak dapat tertidur karena ketakutan akan suara-suara yang aneh. Kakaknya pun terbangun dari lelapnya.

Kakak : “Lho, Kan, kamu sudah bangun?”
Kikan : “Bangun…..!Aku tuh tidak tidur semalam Kak.
Belum sempat kakaknya bertanya, ibu sudah berdiri di depan kikan dan kakaknya.
Ibu : “Selamat pagi anak-anakku….Bagaimana tudurnya, nyenyak?”
Kakak : “Iya Bu…”
Ibu : “Lho Kikan, kenapa matamu sembab dan merah?”
Kakak : “Kikan tidak dapat tidur Bu….”
Ibu : “Lho kenapa…saying?”
Kikan : “Aku takut banyak suara monster tadi malam. Aku takut Bu…(SAMBIL MENGUSAP MATAMYA)
Ibu : “Baiklah, sekarang kamu tidur saja, Ibu temani.”
Kikan : “He..em..”

Kikan pun tertidur pulas karena capek dan kurang tidur. Malam pun tiba kembali. Ibu Kikan mengajak Kikan keliling rawa dan hutan untuk menjelaskan asal suara yang ditakuti oleh Kikan.

Kikan : “Ibu, kita mau kemana?Aku takut..
Ibu : “Jangan takut….Lihat, itu adalah Pak Angin, bukan raksasa.”
Kikan : “Jadi itu bukan binaatang raksasa ya Bu…?
Terdengar lagi suara Krik….krik….krik….
Kikan : “ Itu lagi Bu…Itu pasti benar- benar hantu rawa. Tadi malam aku tidak bias tidur gara-gara suara itu Bu.”
Ibu : “Kita lihat dari dekat ya…”
Kikan : “Tidak…..aku takut!!”
Ibu : “Tidak apa-apa. Lihatlah itu Pak Jangkrik yang bermain-main dengan keluarganya.”
Kikan : “Oooooh….lucu ya…!
Ibu : ( SAMBIL MENUNJUK PAK KODOK ) Nah, kalau itu Pak Kodok dengan teman-teman yang sedang bernyanyi.”
Kikan : “Wah….ternyata suara- suara itu dari hewan kecil yang lucu- lucu ya Bu…”
Ibu : “Makanya, kamu jangan takut. Nah, mulai hari ini kamu tidur sendiri ya!” ( BUJUK IBU )
Kikan : “Iya deh, aku tidak akan takut lagi.”

Ibu dan Kikan pulang ke rumah dan malam ini pun Kikan tidur sendiri tanpa ditemani ayah dan ibunya. Malam ini Kikan tidur nyenyak sekali dan keesokan harinya….

Ayah : ( SAMBIL MEMBANGUNKAN KIKAN ) Bangun Kikan…
Kikan : “Oh Ayah…pagi Ayah!”
Ayah : “Bagaimana tidurmu semalam?”
Kikan : “Nyenyak sekali, Yah!!

Ibu dating sambil membawa madu.

Ibu : “Yah jelas nyenyak, Kikan ditemani suara – suara merdu sich!!!” nah sekarang kita makan madu ini ya…!!
Ibu : “Nah untuk selanjutnya kamu tidur sendiri ya….”
Kikan : “OK…deh!!”

THE END


Oleh :
NUR DWI AFIFAH
[Diadaptasi dari buku “Ketika Mas Gagah Pergi”, Pengarang: Helvy Tiana Rosa, Penerbit: Asy Syamil, Bandung]

[Penyelaras: Drs. Heru Subrata, M.Si

1. Tokoh-tokoh: Nia (aku)
2. Aam (teman si aku)
3. Mamanya Nia
4. Surti
5. Yanti
6. Pak Mar’i
7. Pak Jaya
8. Udin
9. Ucup
10. Rita
11. Eman
12. Tia
13. Preman (5 orang)
14. Adi

Babak 1
Siang itu, udara begitu panas menyengat tubuh. Anak-anak kecil tak beralas kaki itu sejenak menatapku. Mereka cengengesan. Ada yang menggaruk-garuk kepala. Ada yang asyik membersihkan hidung. Ada yang sibuk mengusir lalat yang hinggap di koreng. Ada yang mengoceh sendiri, ada pula yang asyik memperhatikan dari ujung jilbab sanpai ujung kaki. Dengan keramahan dan senyum di wajah Nia bertanya.
Nia :“Mau nggak belajar sama ibu?”
Mereka hanya bisa cengar-cengir, saling pandang sesama. Kutegaskan pertanyaanku.
Nia :“Ibu Tanya, mau tidak kalian ibu ajari membaca dan mengaji?” (TERSENYUM LEMBUT).
Udin :“Mau” (MENGACUNGKAN JARI, KEMUDIAN MENUNDUK MALU).
Ucup :“Ibu ini, memngnya ibu gulu?”
Eman :“Kami nggak punya pensil. Nggak punya buku sih!”
Udin :“Belajarnya dimana??” (PENASARAN).
Adi :“Kita mau kayak anak sekolahan ya Bu??”

Nia terdiam dan tersenyum ramah, merekapun tersenyum malu-malu. Setiap kali melewati stasiun kereta api Senen, hati rasanya haru biru dan ngilu. Melihat pemukiman yang kumuh dan anak-anak yang dekil. Mereka bermain dengan riang gembira. Seminggu yang lalu Nia melewati stasiun dan sempat mengobrol dengan ibu muda (Surti) yang sedang menggendong anaknya.
Nia :“Sore, Bu!!!! Permisi!Boleh saya mampir, Bu???”
Surti :“Yaaa……” (MENJAWAB DENGAN SUARA LIRIH DAN MALU-MALU).
Di seberang rel kereta api terlihat anak-anak jalanan sedang bermain dengan riang gembira di gerbong-gerbong kosong itu. Nia mengobrol dengan Surti.
Nia :“Ceria sekali mereka? Padahal mereka nggak punya mainan yang menarik?”.
Surti :“Itu adalah ungkapan kesenangan mereka sebagai obat pelepas capek”.
Nia :“Capek?????Capek karena belajar di sekolah maksud ibu????”.
Surti :“Ya enggaklah, mo sekolah dimana?”.
Nia :“Trussss????…..”.(PENASARAN).
Surti :“Ya capek karena cari duitlah”.
Nia :“Cari duit????”(MENEGASKAN).
Surti :“Iyaaaa…….”.
Nia :“Emang mereka bisa kerja apaan?????. Mereka kan masih kecil, kok nggak sekolah aja????.”
Surti :“Sekolah?????Mo sekolah pake apa?????mereka mikirnya yang penting bisa makan tiap hari itu udah beruntung sekali” (PESIMIS).
Nia :“Emang orang tua mereka nggak kerja to?masak nggak bisa mbiayai sekolah anak-anaknya???”.
Suti :“Ya kerjalah, mbak. Tapi berapa sih pemdapatan dari seorang pemulung?mereka kebanyakan pemulung dan pengemis!”.
Nia :“Oooooo…..gitu. Trus anak-anak nggak ada yang pingin sekolah to?”.
Surti itu terdiam dan sejenak berpikir.
Surti :“Ehmmmm……..ya pingin mbak!!tapi kadang mereka juga takut ma orang tua mereka.”
Nia :“Kok takutt????emang kenapa???”.
Surti :“Ya, iyalah. Soalnya mereka dipaksa untuk cari duit. Ada yang jadi pengemis ataupun pengamen. Selain itu mereka ada yang jadi penyemir sepatu, penjual es, atau pemjual Koran. ”
Nia :“Kasihan banget ya buk!!!!”
Selang beberapa langkah setelah Nia mengobrol dengan Surti tersebut. Dengan wajah memelas kupandangi anak-anak yang sedanng bermain riang gembira di gerbong kereta api tua itu. Kakek Mar’I, tukang cukur di daerah sekitar situ menyapaku dengan rasa ingin tahu.
Kakek Mar’I :“ada apa neng kok sedih banget?.”
Nia :“Kasihan mereka, pak!”(PANDANGAN MENUJU KE ARAH ANAK-ANAK).
Kakek Mar’I :“Mau kasihan gimana? Emang kadang mereka butuh belas kasihan tapi juga kadang mereka menjengkelkan.”
Nia :“Menjengkelkan????.Maksud bapak apa????”
Kakek Mar’I :“gimana nggak membuat jengkel???? Lha mereka itu kadang tega memeras pelajar SD yang lewat di daerah mereka.”
Nia :“Iya to. Pak????.”
Kakek Mar’I :“Iya, bahkan mereka berani mencuri dan merampas barang orang lain. Itu dah biasa neng……”
Nia :“Masak sih, pak??” (TIDAK PERCAYA).
Untuk mengobati rasa ketidakpercayaannya, Nia mengobrol sama pak Jaya, yang kabarnya ia adalah salah satu keamanan Pasar Senen.
Nia :“Maaf, bu guru, saya Nia (BERJABAT TANGAN)” .
Pak Jaya :“Ya….saya pak Jaya. Ada apa neng???.”
Nia :“Saya mau tanya. Apakah bener anak-anak itu bisanya mengemis atau mengemen di jalanan.”
Pak Jaya :“Iya, neng.”
Nia :“Aduh kasihan banget berarti mereka nggak sekolah dong, Pak?.”
Pak Jaya hanya menganggukkan kepala menandakan bahwa ia mengiyakan pertanyaan Nia.

Nia :“Orang tua mereka dimana, pak?? Kok nggak ngurusi anak-anaknya???.”
Pak Jaya :“Wah orang tua mereka pada sibuk cari duit, neng!”
Nia :“Kerja apa, pak?”
Pak Jaya :“Ya macam-macam, neng. Ada yang jadi tukang sampah, tukang cukur, dagang kue, ngemis, jualan Koran bahkan ada juga yang jadi perrek!!!!”
Nia :“Yang terakhir tadi apa, pak???Perek ta??” (MENDEKATKAN TELINGA KE PAK JAYA).
Pak Jaya :“Ya, benar perek.”
Nia :“Astagfirulloh…..!(MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA)”
Pak Jaya :“Malahan praktekya di gerbong-gerbong kereta api yang sudah tak terpakai itu, neng.”
Nia :“Memangnya gerbong-gerbong kereta api itu benar-benar nggak dipakai lagi, pak?”
Pak Jaya :“Yaaaa…., nggak tahu neng. Kayaknya sih mau dibenerin. Tapi ada juga yang udah karatan karena lama nggak dipakai.”
Nia :“Truss… apa manfaat gerbong kereta api itu bagi masyarakat itu?”
Pak Jaya :“Jadinya selama ini ya begitu, jadi tempat anak-anak main, tempat preman ngumpul, juga tempat para pelacur menjalankan aksinya. Pelakunya ya orang-orang sekitar situ, neng.”
Nia hanya bisa mengangguk-nganggukkan kepala sambil memahami perkataan pak Jaya. Ketika di rumah, hingga larut malam Nia tak dapat memejamkan mata meski tubuhnya sudah terbaring di tempat tidur.
Dua hari kemudian, sekitar jam 2 siang, Nia mendatangi gerbong-gerbong kereta api itu.. di gerbong 1 kulihat beberapa lelaki tertidur pulas, di gerbong 2 terdengar suara cekikikan pria dan wanita, di gerbong 3 terlihat anak-anak sedang bermain dengan riang gembira lalu kuhampiri mereka.
Nia :“Assalamu’alaikum….” (TERSENYUM)
Mereka menghentikan aktivitas mereka dan memandang Nia.
Udin :“Eh.., siapa tuh???siapa???”
Eman :“Cari siapa, Bu?”
Nia pandangi anak-anak dengan senyuman dari kejauhan.
Ucup :“Ciapa noh?? Kemali-kemali….”
Nia :“Kalian mau coklat???…..”
Udin+Ucup :“Mauuuuu” (BARENG)
Tak lama kemudian, anak-anak itu menyantap kue coklat itu dan ludes dalam sekejap.
Udin :“Wah……..enak banget yaaa….?”
Eman :“Iya…aku suka ini.” (MAKAN KUE DENGAN LAHAP).
Adi :“Memangnya itu siapa sih???
Nia :“Teman Ha…ha….ha….masak orang yang sudah besar mo temenan dengan anak kecil seperti kami ” (MEREKA SALING MEMANDANG DAN TERTAWA).

Babak 2
Setelah beberapa kali aku mengunjungi daerah itu. Mereka mau diajak belajar membaca dan mengaji. Sempat Nia keteteran karena anak-anak tadi berasal dari beberapa jenis umur (4-14 tahun). Salah seorang bapak membantu kami memasang lam,pu di gerbong untuk penerangan.
Nia :“Assalamu’alikum,nak……”
Anak-anak :“Wa’alaikum salam…..”
Nia :“Sudah siap belajar, anak-anak???????”
Udin :“Sudah……”
Nia :“Ayo.., ni huruf B ditambah U bacanya apa? (Menunjuk tulian di papan tulis)”
Udin :“Buuuuuuuu…..!
Eman :“Huruf D ditambah I.
Nia :“Jadi dibaca apa???????coba Udin! (MEMANDANG UDIN
Udin :“Ini ibu Budi.
Nia :“Lho, kok? Ini kan ibunya tidak ada? Coba ulangi.”
Tiba-tiba ada seorang anak yang datang….
Eman :”Kecelik, bu telat.”
Nia :“Ya….Eman, kenapa terlambat datang??????????
Eman :“Disuruh ngamen dulu, bu sama bapak.”
Nia :“Kalau Adi, kenapa kemarin nggak datang?????”Ibu tungguin lho…..(MEMANDANG ADI).
Adi :“ Abisnye emak sakit, pan abis nyuci noh, trus sakit.”
Ucup :“Bu Guyu,, mau pipiiissss…..”
Nia :“Iya…, kalo mau pipis biasanya dimana Eman????”
Eman :“Di kamar mandi”
Nia :“Pinter. Sekarang pergilah ke kamar mandi. Rumahnya siapa yang paling dekat?”
Eman :“Rumahnya Udin, Bu.”
Nia :“Bener ya Udin??
Udin :“Iya, Bu”
Nia :“Kalo begitu, tolong antarkan Ucup untuk pipis di kamar mandi rumahmu yaaaaa….”
Udin :“Iya, Bu” (UDIN DAN UCUP BERANGKAT KE RUMAH UDIN).
Setelah belajar sekitar 1,5 jam. Kami mengakhiri pembelajaran dan menitipkan papan tulis dan kapur di salah satu anak. Karena kesibukan kuliah dan mengajari anak-anak, ibuku sempat protes.
Mama Nia :“Kamu jangan terlalu mementingkan anak-anak itu, Nia. Kamu kan capek bolak-balik Depok-Jakarta buru-bruru seperti itu. Pergunakan waktu kamu di tempat kost. Ini kok malah sering pulang??”
Nia :“Jadi, mama nggak suka nih kalo Nia sering pulang ke rumah?”
Mama Nia :“Bukan itu, sayang.Mama kasihan lihat kamu.” (TERSENYUM).
Nia :“Jauh lebih kasihan melihat mereka, Ma. Kasihan sekali!”
Mama Nia :“Tapi kamu harus hati-hati ya, nak. Disana iu daerahnya kan lumayan rawan.”
Nia :“Ya Ma, InsyaAllah.”
Mama Nia :“Mama punya usul, gimana kalo kamu mengajak temanmu untuk membantu kamu.”
Nia :“Iya, Ma. Teman-temanku sudah tak ajak. Tapi mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri jadinya mereka gak bisa Bantu Nia.”
Hari kedua aku mengajar anak-anak tiba.
Nia :“Ayo ini dibaca A Ba Tsa Ja Da Dza Ro…”(MENUNTUN)
Tia :“Nnnnggggg……hik…..engggggggg.”
Nia :“Lho, Tia kok nangis??
“Sabar pelan-pelan. Orang sabar dan tekun diksihi Allah ya, sayang…….”(MENGELUS-NGELUS KEPALA TIA).
Ucup :“Za Sa Sya Sho Dho Dzo……
“Bu Gulu….., Bu Gulu lihat nih tulican caya.” (MENUNJUKKAN TULISAN).
Adi :“Buuu, saya permisi dulu!Mau nimba.”
Nia :“Iya, sebentar lagi yaaa…kan ni dah mo selesei.”
“Siapa diantara kalian yang melihat Dini hari ini??Mengapa ya Dini kok tidak hadir.”
Eman :“Kemarin bapaknya abis digebukin, Bu!”
Adi :“Iye, malingin jemuran orang!”
Ucup :“Dipenjala, nggak? Dipenjala nggak??”
Nia :“Husss…gak boleh bilang seperti itu.”
Senjapun tiba, aku harus segera mengakhiri pembelajaran, pulang jalan kaki sendiri.
Pemuda :“Ehm…ehm…ehm..Suit…Suit….Assalamu’alaikum, Cah Ayu……..”
Nia :“Wa’alaikumsalam (MENJAWAB DENGAN SUARA LIRIH)”
Di tengah-tengah perjalanan Nia ketemu dengan salah seorang walimurid (Yanti).
Yanti :“Maaf, Bu. Sebentar…..”
Nia :“Iya, Bu…Ada apa???”
Yanti :“Apa ibu mau menerima ini sebagai rasa trima kasih kami atas kebaikan ibu.” (MENYODORKAN SINGKONG REBUS).
Nia :“Iya, Bu gak usah repot-repot…..”
Yanti :“Ayolah, trima aja……”
Nia :“Ya udah saya trima pemberian ibu.” (MENERIMA SINGKONG REBUS).

Babak 3
Tak lama kemudian teman Nia,Aam, membantu mengajar. Suatu ketika kami sedang mengajar, beberapa orang lelaki (preman) menghampiri kami yang sedang asyik belajar. Wajah mereka tak ramah, Niapun turun dari gerbong menemui mereka.
Nia :“Maaf, ada apa yaa pak?”
Preman 1 :“Saya Cuma mau Tanya, adik ini dari yayasan mana?”
Nia :(DIAM SEJENAK) “Memangnya kenapa, pak??”
Preman 1 :“Lho, adik ini bagaimana??? Kami bertanya kok malah ditanya lagi?” (MENYENTAK).
Preman 2 :“Adik digaji berapa sih sama yayasan adik?”
Nia :“Saya bukan dari yayasan manapun.”
Preman 2 :“Dinas Sosial??” (MENEGASKAN).
Nia :“Bukan, saya mengajar anak-anak itu karena kasihan melihat mereka. Itu aja.”
Preman 2 :“Bener lhu?????…..”
Nia :“Iya……”
Preman 1 :“Ngajar sih…ngajar…., tapi hjarus ada ijinnya dong!!”
Nia :“Selama ini tak ada masalah. Saya rasa baik-baik aja????”
Preman 1 :“Gerbong-gerbong ini bukan tempat buat belajar. Jadi kalo kalian pake, harus ijin” (MENUNJUK KE ARAH GERBONG).
Nia :“Apa maksud bapak-bapak ini yang sebenarnya??? Yang saya tahu selama ini gerbong-gerbong tua ini hanya dipake untuk teler-teleran dan tempat main gaple, juga tempat prostitusi aja. Apakah itu juga pake ijin???Ijin pada siapa???” (MENEGASKAN).
Preman 1 :“Alah, sok tau lho…… ”
Nia :“Tapi benar kan yang saya katakana tadi??”
Preman 3 :“Ucup, Pulang kamu!!!” (TANGAN MENUNJUK KE ARAH UCUP).
Ucup :“Ntal Pak, belum selesai belajalnya.”
Preman 3 :“Pulang, gue bilang! Dapet pelajaran bukannya bener lhu…, malah suka nasehatin orang tua. Pulang….pulang….pulang!”
Ucup memandangku, matanya berkaca-kaca. Kemudian berlari pulang. Tak lama setelah kejadian tersebut Nia sering diteror oleh banyak lelaki.
Preman 4 :“Hey,neng….mo pulang ya??Gak usah pulang aja neng, mending ikut abang aja….”
Nia :(DIAM SAJA SAMBIL MEMPERCEPAT LANGKAH KAKINYA).
Preman 5 :“Hey, kok diam aja??kamu bisu ta atau budheg yaaa????Cantik-cantik kok bisu.(MEMEGANG TANGAN NIA DAN AAM)”
Nia :“Tolong…tolong…..”
Preman 5 :“Kurang ajar, lha wong nggak diapapin aja kok teriak-teriak minta tolong.Brisik tau????”
Aam :“Tolong lepaskan tangan kami, jangan apa-apakan kami”
Preman 5 :“Ha…..ha…ha tenang ajalah nona-nona cantik”
Nia :“Apa salah kami???”
Preman 4 :“Banyak salah kalian. (MENYENTAK)”
“Kalian telah mengganggu pekerjaan kami di sini.”
Aam :“Pekerjaan yang mana???”
Preman 4 :“Gak usahlah berlagak sok baik hati. Ngajar anak-anak sini di gerbong kereta api tua ini.”
Aam :“Kami hanya kasihan pada mereka….”
Preman 4 :“Kasihan…kasihan. Kami nggak butuh belas kasihan kalian. Pergi dari sini!!!”
Preman 5 :“e…e..e…e..tunggu dulu Bos. Kayaknya ni anak kuliahan berarti nia anak orang kaya dong..Kita kan butuh rokok Bos?” (MEMANDANG PREMAN 4).
Preman 4 :“Oke juga idemu. Sekarang serahkan uangmu!!Cepet!!Lelet banget sih???” (MENYENTAK).
Aam :“Kami nggak punya uang mas, uangku Cuma cukup buat ongkos pulang”
Preman 4 :“Alah, bohong lhu…..Ayo cepet keluarkan ”(MEMANDANG TAS YANG KUBAWA).
Nia :“Iniiiiiii…..”(MENYERAHKAN UANG DENGAN RASA TAKUT).
Akhirnya Nia dan Aam dibiarkan melanjutkan perjalanan lagi oleh preman tersebut. Selama dalam perjalanan pulang ke rumah Nia dan Aam berdiskusi.
Aam :“Aku takut, Nia. Mereka serem banget!!!”
Nia :“Aku juga, Am”
Aam :“Kita pindah aja yuk, tempat belajarnya!”
Nia :“Dimana, Am??”
“Anak-anak akan keberatan kalo tempat belajarnya jauh, apalagi kalo pake ongkos.”
Aam :“Ada nggak yaa rumah teman kita atau musholla sekitar Stasiun Senen yang bisa kita pake ya??”
Nia :(SAMBIL MELAMUN) “Sebenarnya penggunaan gerbong-gerbong itu untuk tempat belajar telah mengurangi kemaksiatan yang terjadi di gerbong-gerbong itu, kan???”
Kejadian terror terjadi lagi, ketika Nia sedang mengajar di gerbong kereta api.
Nia :“Ayo…ini dibaca apa, Udin???” (MENUNJUKKAN TEKS BACAAN).
Udin :“A…K…U…Ku, aku.”
Tiba-tiba preman-preman menghampiri anak-anak yang sedang belajar di dalam gerbong.
Preman 4 :(NYLONONG MASUK GERBONG TANPA PERMISI)
“Hei…hei….”
“Ayo bubar….bubar….bubar belajar apaan ini??? Buang-buang waktu aja.”
Preman 5 :“Mending kalian tu cari duit.”
“Ngamen sana!!!”
“Ngapain kalian susah ngajar mereka????” (MEMANDANG NIA DAN AAM).
Preman 4 :“Apa sebenarnya tujuan kalian melakukan ini semua???? Paling kalian Cuma mau memamerkan kepinteran kalian ke anak-anak. Iya kan? Jujur aja dech” MENARIK-NARIK JILBAB AAM).
Nia :“Astaghfirulloh, Pak….”(MENGELUS DADA).
“Kami nggak ingin pamer, tapi hanya ingin berbagi ilmu dengan mereka karena kasihan pada mereka….”
Preman 5 :“Ahhh…bohong lhu.Dasar orang kaya sukanya ngibul orang gak punya seperti kita-kita ini. Bukan begitu anak-anak???”
Udin :“Nggak Pak” (MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA).
“Bu Guru Nia dan Bu Guru Aam baik pada kami”
Preman 5 :“Kamu tu masih kecil. Tau apa kamu???Kalian dah kemakan omongan wanita-wanita ini” (MENENDANG UDIN).
Udin :“Aduuuhhhh…sakit Pak” (MERINGIS KESAKITAN).
Rita :“Pak, jangan sakiti temanku, Udin.”
“Emang, Bu Guru dan Bu Guru Aam baik pada kami. Mereka mengajari kami belajar membaca dan mengaji.” (MEMELUK NIA).
Preman 5 :(MENARIK RITA DARI PELUKAN NIA) “Kamu tu tau apa??”
Rita :“Kalian mengganggu belajar kami.”
Preman 5 :“Apa lhu bilang???” (MENJEWER TELINGA RITA).
Beberapa diantara anak-anak itu menangis keras.
Babak 3
Setelah beberapa bulan berlalu, kami sepakat untuk pindah belajar ke Musholla An-Nur.Eman, Rita, Adi belajar bersama.
Nia :“Alkhamdulillah…..ya anak-anak kita masih diberi kesempatan oleh Allah tuk belajar membaca dan mengaji lagi di tempat baru kita.”
“Bagaimana kabar kalian, anak-anak???”
Anak-anak :“Baik Buuuuu…..”
Adi :“Ayo belajar Buuu. Aku sudah pingin belajar sekarang Bu!!! ”
Nia :“Iya…iya…sabar dulu……”
“Baiklah anak-anak mari kita mulai belajar kita dengan berdo’a terlebih dahulu. Mari membaca surat Al-Ikhlas bersama-sama…Setuju???”
Anak-anak :“Setujuuu…..”
Nia :“Satu…Dua…Tiga…”
Anak-anak :“Qul huwallohu ahad. Allohushomad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakullahukufuwan ahad.”
Aam :“Pinter semuanya…….”
“Bu Guru bangga dan senang pada kalian. Kalian tambah pinter aja.”
Anak-anak :(TERSENYUM BANGGA).
Tiba-tiba datanglah Udin, Ucup dan Tia yang berlari-lari, tergesa-gesa membuka pintu musholla.
Udin + Ucup :“Bu Guru!Bu Guru Nia.” (TERENGAH-ENGAH MENARIK NAFAS CEPAT).
Nia :“Iya….iya…tenang dulu…tenang dulu…. ” (MENGELUS BADAN UDIN).
Setelah agak tenang kondisi anak-anak itu, Nia menanyai mereka.
Nia :“Ada apa?? Kok terlambat.”
Udin :“Aduh Buu.., kacau.”
Nia :“Kacau, bagaimana????”
Ucup :“Lumah Tia dibongkal !!Kami diucil!! ”
Udin :“Semua dibongkar, Bu! Sekarang orang-orang pada bingung mau pergi kemana?? Bapak Ucup ngelawan, tapi malah ditangkap sama petugas.”
Nia :“Innalillahi..” (BERPANDANGAN DENGAN AAM).
Anak-anak yang sedang belajar mulai panik, gaduh.
Nia :“Jadi pada mau pindah kemana???”
Udin :“Nggak tahu, Buuu. Disana masih rame!”
Tia :“Gerbong-gerbong udah dikosongin. Nggak boleh ditempatin lagi.”
Udin :“Kami boleh pulang, Bu?? Anak-anak pada ditanyain ama emaknye!!!”
Nia :“Ya, boleh (SUARA NIA TERSEKAT DI KERONGKONGAN)”
Anak-anak berbaris menyalami Nia dan Aam. Satu persatu anak dipeluk Nia.
Nia :“Ini alamat Ibu (MEMBERIKAN KARTU NAMA)”
“Kalian sudah bisa menulis, kan?? Tulislah surat pada Ibu yaaa!!! ”
Mereka berebut menerima kartu nama dari Nia.
Tia :“Rita mungkin pulang ke Jawa, Bu.”
Nia :“Yaaa….kalo Ucup gimana???”
Ucup :“Ucup nggak tahu gimana???”
Nia :“Narti…???”
Narti :“Aku juga, Buu”
Nia :(TERSENYUM) “Dimanapun kalian, kalau kalian menjadi anak yang saleh, allah akan selalu melindungi kalian.”
Aam :“Jangan lupa untuk selalu belajar, berusaha dan berdo’a.”
Kami semua saling berpelukan sambil menangis keras.

TAMAT