Archive for the ‘Naskah’ Category

“TERJEBAK DALAM LORONG WAKTU“

Posted: 18 Desember 2009 in Naskah

BABAK I

Setting             : Pagi hari

Latar                : Di hutan

Susan bersama kelima temannya baru sampai di rumah Neneknya Yolan di daerah Bugisan, sebuah desa di daerah Palagan Ambarawa. Suasananya begitu tenang, tentu saja jauh dari kebisingan kota. Mereka sudah lama merencanakan liburan ini. Begitu Yolan bercerita langsung saja Susan, Erni, Wina, Wira dan Marshall setuju untuk mengisi liburan di sana.

Pagi itu mereka berenam menyusuri sebuah hutan kecil. Menurut cerita, di hutan itu pernah terjadi sebuah tragedi pembunuhan. Meurut Neneknya Yolan, dulu waktu masih jaman penjajahan Belanda, ada pemuda pribumi yang dianggap sebagai pemberontak dan dihukum tembak. Saat sedang berjalan menikmati keadaan sekitar tiba-tiba saja wajah Susan terlihat pucat pasi. Kelima sahabatnya reflek menghentikan langkahnya.

Wirya                         : “Kamu kenapa san ?” (BERTANYA DENGAN PENUH

PERHATIAN)

Susan                         : “ Kalian dengar ada suara tembakan ?”

Erni dan Yolan          : “Suara tembakan !” (SERENTAK DAN SALING BERPANDANGAN)

Wirya dan Marshall   : “Tidak kudengar suara tembakan” (SAMBIL MENAJAMKAN PENDENGARAN, KEMUDIAN MENGGELENG)

Susan                         :  “Masa kalian tidak dengar ? Suara tembakan itu jelas terdengar bahkan beruntun.” (BERUSAHA MEYAKINKAN SAMBIL MEMBELALAKKAN MATANYA KETAKUTAN)

Erni                            : “Lebih baik kita kembali ke rumah Nenek ?” (SAMBIL MEMBIMBING SUSAN YANG TERLIHAT PUCAT)

BABAK II

Setting              : Siang hari

Latar                 : Rumah Nenek

Sesampainya di rumah Nenek

Nenek                        : “Lho kalian sudah kembali ? Cepat sekali.” (BERTANYA KEHERANAN)

Yolan                         : “ Susan tiba – tiba saja sakit Nek .”

Nenek                        : “Kalau begitu Yolan ambilkan air putih untuk Susan.”

Yolan                         : “Ini air putihnya San, kamu minum dulu.” (MENGAMBIL DAN MEMBERIKAN SEGELAS AIR PUTIH)

Nenek                        : “ Kamu kenapa Susan ?” (BERJALAN MENDEKAT).  “Apa yang terjadi padamu Susan.” ( BERFIKIR DALAM HATI MERASAKAN ADA YANG TIDAK BERES SAMBIL MEMANDANGI WAJAH SUSAN, DAN MENYENTUH BAHU SUSAN)

Yolan dkk                 : “Ayo San ceritakan pada kami semua, apa yang sudah terjadi sama kamu !” (DUDUK DAN MENANTI CERITA SUSAN DENGAN SEKSAMA)

Susan                         : “Entahlah, saat memasuki hutan itu tiba – tiba saja saya mendengar renteten tembakan. Tapi saya tanya yang lain mereka tidak mendengarkannya, lalu…” (MENGGANTUNGKAN CERITA, MENGHELA NAFAS PANJANG, DAN WAJAHNYA YANG SEMULA TERLIHAT MEMERAH, TIBA-TIBA KEMBALI PUCAT)

Nenek                        : “Lalu ?” (BERTANYA SEMAKIN MENYELIDIK)

Susan                         : “Lalu saya melihat ada seorang pemuda yang diarak masyarakat dan beberapa orang bule,”

Wina                          : “Seorang pemuda diarak ? Kok bisa ya, padahal kita tidak melihat apa-apa. Ya kan teman-teman !” (TAMPAK KEHERANAN)

Wirya                         : “ Iya, tadi kami tidak melihat apa-apa.”

Nenek                        : “Nenek kira ada ikatan batin antara Susan dengan pemuda yang dilihatnya,” (TERLIHAT TENANG SEAAKAN MEMAHAMI APA YANG TERJADI PADA SUSAN)

Yolan                         : “Bagaimana mungkin Nek? Apakah yang dilihat Susan itu hantu ?” (AGAK TERCENGANG)

Nenek                        : “Kalian ingat cerita Nenek tentang tragedi yang terjadi di hutan itu ? Nenek rasa Susan melihat pemuda pribumi itu. Kejadian itu 70 tahun lalu. Saat itu Nenek masih berumur 7 tahun,” (MULAI MEMBUKA CERITA)

Marshall                     : “Cerita 70 tahun lalu ? (SANGAT TERKEJUT)

Wah, berarti Nenek awet muda ya ? Nenek saat ini tidak kelihatan kalau berumur 77 tahun,” (MEMUJI)

Nenek                        : “Kamu ini bisa saja Shall !” (TERSENYUM SIMPUL)

Wirya                         : “Kamu jangan memotong cerita Nenek dong Shall !” (TERLIHAT BETE)

Erni                            : “Lanjutkan Nek !” (TERLIHAT ANTUSIAS SEKALI)

Nenek                        : “Saat penjajahan Belanda dulu, di daerah ini Belanda menguasai tanah desa dan juga semua hasil bumi desa ini. Penduduk harus menyerahkan hasil bumi dengan harga dibawah standar. Namun, ada pemuda pribumi yang mengtahui hal itu. Ia kemudian menganjurkan warga desa untuk tidak menjualnya pada bule-bule yang berkuasa itu. Oh ya, Nenek belum memberi tahu nama pemuda itu. Namanya Wiryo,”

Marshall                     : “Jangan – jangan kamu keturunannya nih Wir !” (MENGGODA)

Wirya                         : “Kamu ini apa-apaan sih Shall. Teruskan Nek !” (MENDENGUS KESAL SAMBIL MENGALIHKAN PERHATIAN)

Nenek                        :  “Dasar anak-anak !Tuan William tahu kalau Wiryo mempengaruhi warga desa untuk membangkang. Dia berang dan memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Wiryo, hidup atau mati.” (TERSENYUM GELI, KEMUDIAN MENARIK NAFAS PANJANG MELANJUTKAN CERITANYA)

Marshall                     : “Wah, seperti cerita perjuangan si Pitung jago Betawi ya Nek ?” (MELUCU SAMBIL TERSENYUM GELI)

Nenek                        : “Nah, suatu hari Wiryo tertangkap dan ditembak mati di hadapan warga desa Wiryo. Saat itu tak satupun warga yang mau membela Wiryo.”

Yolan                         : “Mungkin yang dilihat Susan tadi itu adalah hantunya Wiryo yang penasaran ya Nek ?”

Nenek                        : “Mungkin juga ! Karena kalau saja warga desa berani membela Wiryo dan melawan penjajah mungkin saja Wiryo tidak mati sia-sia.”

Erni                            : “Tapi, mengapa yang bisa mendengar dan melihat hanya Susan Nek ?” (KEHERANAN)

Nenek                        : “Itulah yang tadi Nenek bilang ikatan batin. Kalian percaya akan adanya alam gaib ?”

Yolan dkk                 : “Percaya Nek !” (SERENTAK MENGANGGUK)

Nenek                        : “Tidak ada yang mustahil di dunia ini kan ? Ya sudah sekarang kalian makan dulu. Nenek masak opor ayam untuk kalian. Ceritanya akan Nenek lanjutkan nanti malam.” (BANGKIT DARI DUDUKNYA)

Yolan dkk                 : “CIHUYYY…..!” (BERSORAK GEMBIRA)

BABAK III

Setting              : Malam hari

Latar                 : Rumah Nenek

Malam itu sehabis sholat Isya’ anak-anak kembali berkumpul untuk mendengarkan cerita Nenek. Tanya jawabpun terjadi. Susan yang merasa tidak enak badan tiduran di kamar. Saat seru-serunya berdiskusi, tiba-tiba saja Susan keluar dari kamar dengan wajah pucat pasi. Badannya terlihat gemetar, tangannya memegang perut, dan tiba-tiba saja Susan limbung jatuh ke lantai. Reflek yang lain mendekat.S

Yolan                         : “Nek, lihat perut Susan  berdarah !” (SAMBIL BERTERIAK)

Wirya                         : “Seperti luka tembakan,” (BERDESIS)

Nenek                        : “Sudah Nenek duga, pasti ada ikatan batin antar Susan dan Wiryo. Susan merasakan apa yang dulu dirasakan oleh Wiryo. Dan yang dilihat Susan tadi pagi di hutan bukan hantu. Wiryo masih hidup diantara dua alam !”  (MENJELASKAN DENGAN SEKSAMA)

Wina                          : “Maksud Nenek ?”

Nenek                        : “Wiryo terjebak dalam lorong waktu !!”

Wina                          : “Nek, cepat bawa Susan ke rumah sakit !”

Nenek                        : “Percuma ! Ini tidak bisa diobati secara medis. Wiryo ingin kita membantunya untuk mendapatkan keadilan.”

Wina                          : “Tapi, bagaimana caranya Nek ?” (TERLIHAT GUSAR)

Nenek                        : “Wirya dan kamu Marshall, tolong kalian angkat Susan dan baringkan ke tempaat tidur. Erni, ambilkan lilin sebanyak 13. Wina, kamu kompres Susan karena panas badannya begitu tinggi. Marshall, Erni, Wirya, Yolan duduklah membentuk lingkaran dan nyalakan 13 lilin itu ditengah-tengah kalian. Yolan dan Wirya akan menembus lorong waktu. Hari dimana Wiryo ditembak 70 tahun yang lalu. Mencegah agar tembakan itu tidak terjadi sama dengan menyelamatkan nyawa Susan. (MEMERINTAH DENGAN TEGAS)

Yolan dkk                 : “Baik Nek !”  (DUDUK BERSIMPUH MEMBUAT LINGKARAN)

Nenek                        : “Dengar, Yolan, Wirya ! Kalian mempunyai 2 jam untuk menyelamatkan nyawa Susan. Tegakkan keadilan untuk Wiryo. Bujuk masyarakat desa untuk berani memberontak pada penjajah. Kalian sudah harus kembali seselum nyala lilin ini reup. Karena kalau tidak, kalian takkan bisa kembali dan selamanya akan terjebak dalam lorong waktu. Nyawa Susan tak akan tertolong. Kalian mengerti ?”

Yolan dan Wirya       : “Mengerti Nek.” (SALING PANDANG DAN MENGANGGUK)

Nenek mengucapkan kalimat yang sama sekali tak bisa dimengerti. Yolan dan Wirya merasa tubuhnya terseret ke sebuah lorong hitam. Kemudian, saat membuka mata, mereka telah berada di hutan yang telah mereka lewati tadi pagi. Yolan dan Wirya melihat pintu yang bersinar. Pasti sinar itu bersal dari 13 lilin yang dinyalakan Nenek. Itu adalah jalan satu-satunya untuk mereka kembali ke dunia nyata. Yolan menajamkan pendengarannya.

Wirya                         : “ Keributan di desa, kita harus cepat ke sana !” ( SAMBIL BERSERU )

Setengah berlari Yolan dan Wirya bergegas ke arah yang tak jauh dari hutan. Sesampainya di sana mereka melihat seorang pemuda yang diikat pada sebuah pohon.

Yolan                         : “Itu Wiryo !”

Wirya                         : “ Lihat penduduk desa itu ! Mereka sama sekali tidak membela Wiryo. Pak ! Kenapa kita tidak berusaha hal ini tidak terjadi ? Bukankah Wiryo pahlawan desa ini ?” (MENCERMATI KERUMUNAN DAN BERTANYA PADA SALAH SATU PENDUDUK)

Lelaki Tua                 : “ Aden bukan warga desa sini ? Apakah Aden tidak tahu, di sini tidak ada yang berani menghalangi keinginan Tuan William. Bisa ikut dihukun mati !” (MENJAWAB DENGAN KETAKUTAN)

Yolan                         : “Tapi pak, bukankah masyarakat di sini jumlahnya lebih banyak ? Kalau kita bersatu Wiryo bisa diselamatkan,” (SAMBIL BERCELUTUK)

Sementara itu, ikatan Wiryo dilepas dari pohon dan diarak menuju ke hutan. Tidak ada satupun yang berani membela Wiryo. Bahkan saat pasukan penembak sudah siap pada posisinya, belum ada satupun warga yang tersentuh hatinya untuk membela Wiryo. Dengan nekat Wirya berlari ke arah Wiryo dan berdiri di depannya.

Tuan William             : “Cepat lepas ikatannya dan arak menuju hutan dan bersiap di posisi masing-masing.” (MEMBERI PERINTAH PADA  PASUKAN PENEMBAK)

Pasukan Penembak    : “ Siap Tuan !”

Wirya                         : “TUNGGU….!!!” (NEKAT BERLARI KE ARAH WIRYO DAN BERDIRI DI DEPANNYA)

Tuan William             : “Hei ! Siapa kau pemuda pribumi ?” (MENGHARDIK WIRYA)

Wirya                         : “Penduduk semua ! Wiryo adalah pahlawan kalian. Mengapa sekarang kalian tidak berusaha untuk menolongnya ? Bersatulah dan kalian akan menang !” (BERTERIAK LANTANG SAMBIL MERENTANGKAN KEDUA TANGANNYA)

Wiryo                        : “Siapa kau ?” (KEHERANAN)

Wirya                         : “ Nyawa teman kami terancam kalau sampai kau ditembak,”

Wiryo                        : “Jadi usahaku untuk menghubungi masa depan berhasil.” (MENGUCAP DALAM HATI)

Tuan William             : “Minggir atau kami juga kan menembakmu !” (BERTERIAK)

Pasukan Penembak    : “Pasukan siap !” (MENGANGKAT SENAPAN DAN SIAP PADA POSISI MENEMBAK SETELAH MENDENGAR PERINTAH TUANNYA)

Yolan                         : “Rasanya semua usahaku sia-sia saja. Wirya cepat ! Tidak ada gunanya lagi. Waktu kita habis, kita harus pulang sebelum terlambat !”(BERTERIAK SAMBIL MELIHAT JALAN MENUJU JAMANNYA YANG SINAR LILINNYA SEMAKIN REDUP)

Percuma. Sekuat-kuatnya Yolan berteriak, suara keributan penduduk mengalahkan teriakannya itu. Sedangkan peluru mulai dimuntahkan dari larasnya. Sementara itu, di dunia nyata 13 lilin yang menyala di tengah lingkaran Nenek, Marshall, Erni dan Wina nyalanya semakin redup dan tak lama kemudian nyalanya padam. Sama sekali padam !

Oleh: Heru Subrata

‘Jejak Hitam Bidadari Biru’

Posted: 10 Desember 2009 in Naskah

JOleh: Heru Subrata
PARA PEMERAN

Arum : tokoh utama
Si mbok : pemeran pembantu
Bapak : pemeran pembantu
Mbak Sinta : pemeran pembantu
Mas Hikam : pemeran pembantu
Johan : pemeran pembantu
Kan Kristin : pemetan pembantu
Juragan : tokoh antagonis
Tante Narie : tokoh antagonis
Bang Dosor : tokoh antagonis

Narator : Arum gadis belia yang penuh bakti dan semangatnya memberikan pengabdian kepada kedua orang tuanya, anak sulung dari tiga bersaudara keluarga miskin ini terpaksa menghentikan sekolahnya hanya di bangku SMP, ia merantau ke Kota seberang untuk mencari nafkah dan melunasi hutang-hutang orang tuanya

BABAK KE I

BRAK…..BRAK….. … SUARA GADUH DI RUANG TAMU

Si mbok : jangan tuan, ampun juragan kami jangan diusir, kami akan melunasi hutang-hutang kami secepat mungkin.. (MENANGIS DAN BERLUTUT MEMOHON JURAGAN MENGASIHANINYA)

Juragan : aaaah……….. alasan sampai kapan kamu akan menunda untuk melunasi hutang-hutangmu? Sampai kapan? BRAK… BRAK… MASIH SAJA MEMBANTING MEJA DAN KURSI SI MBOkK BERLALU PERGI MENINGGALKAN RUMAH SIMBOK DENGAN WAJAH MARAH DAN MEMERAH

Arum : mbok…… arum kepengen kerjo (MEMOTONG DAUN SINGKONG DI BALE-BELE BELAKANG RUMAHNYA)

Si mbok : mau kerjo opo nduk? Mau kerja kemana? (MENOLEH SEBENTAR KEMUDIAN MELANJUTKAN MENUMBUK PADI DI LESUNG YANG SUDAH USANG ITU)

Arum : Rum gak mau seperti ini buk, rum gak mau hidup kita dikejar-kejar juragan sialan itu, rum benci buk! (MATANYA MENETESKAN AIR MATA). Rum…rum.. hanya pengen ibu, bapak, adek bahagia (AIR MATA TAK KAUASA IA BENDUNG LAGI, MATANYA MEMERAH HATINYA SAKIT MELIHAT JURAGAN ITU MEMPORAK-PORANDAKAN RUMAHNYA)

Si Mbok : lha iya mau kerja kemana? (BERUSAHA AGAR AIR MATANYA TAK JATUH MEMBASAHI BUTIR-BUTIR PADI YANG IA TUMBUK)

Bapak : mau kerja kemana nduk? ( MENYELA PEMBICARAAN MEREKA).

ARUM : Rum kepingin ikut tante Narie ke mbatam bersama temen-temen rum yang lain, katanya disana kami dijanjikan akan dipekerjakan di sebuah restoran pak! (MENGUSAP AIR MATANYA)

Si Mbok :karepmu piye tonduk? (MENJELASKAN DENGAN KEBINGUNGANNYA)
TanteNarie : permisi…!!!! (MENGETUK PINTU RUMAH ARUM)

Arum : e…… tante narie monggo-monggo pinarak (MEMBENAHI KURSI-KURSI YANG BERSERAKAN)

Tante Narie : jadi kamu ikut saya rum? Besok kita berangkat ke batam, disana banyak anak-anak dari desa sini kokjangan kuwatir. (MEYAKINKAN ARUM)

Arum : iya tante si mbok dan bapak sudah megijinkan, tapi…. Apa benar arum kerja di restoran? (MENEGASKAN)

Tante Narie : ya… iya banyak kok (GUGUP SEPERTI MENYEMBUNYIKAN SESUATU)

Si Mbok : ati-ati nduk? Disana kota asing ojo neko-neko yo? (KUWATIR)

Arum : mbok, pak , rum pamit (MEMBAWA TAS DAN KARDUS) ARUM DAN TEMAN-TEMAN BERANGKAT MELALUI PELABUHAN PAGI-PAGI DENGAN BEKAL SEADANYA.

BABAK KE II

Arum : tante ini tempat apa? (MEMANDANG SEKELILINGNYA YANG TAMPAK ASING, BANYAK GADIS-GADIS BERDANDAN MENOR DAN MUSIK-MUSIK YANG MEMBUAT HATI MAKIN MEMBUAT PERASAANNYA TAK TENANG)

Tante Narie : sudah lah nurut saja pada tante kamu pasti banya uang, Kris bawa gadis ini dan bantu dia untuk berhias (MENYALAKAN API ROKOK SAMBIL DUDUK DI KURSI)
Kak Kristin : ayo ku antarkan kamu ke kamarmu. Perkenalkan saya kristin teman sekamarmu. (METEKA BERJALAN MENUJU KAMAR)

Arum : kita kerjanya apa kak kok harus dandan seperti ini ( MERASA RISIH DENGAN BAJU SEKSI YANG DIKENAKANNYA)

Kak Kristin : kamu pastitausendiri nanti (TERSENYUM)

Tante Narie : wah…wah… gadis cantik ini kamu akan menjaditambang emas disini. Bagus.. bagus.. sekarang kamu lihat bule di pojok kursi depan dan kamu tunggu dia dikamar nomor lima, layani dia, kamu pasti punya banyak uang (MENEGUK MINUMAN KERAS)

Bule : namamu siapa gadis cantik? (MEMEGANG DAGU LANCIP ARUM, WAJAHNYA BENGIS PENUH NAFSU) jangan takut gadis cantik duduk sini dekat aku.

Arum : A…A….rrum tuan! (KETAKUTAN MENCOBA DUDUK DI DEKAT LAKI-LAKI BULE KETURUNAN SINGAPURA ITU)

Bule : ayo sayaang… ayolah jangan takut…. (MENAMPAKKAN SIFAT ASLINYA)

Arum : tidak…jangan tuan… (MERINTIH MERATAPI NASIPNYA, SETELAH LAKI-LAKI BENGIS ITU MENCAMPAKKANYA DAN MENINGGALKAN SEGEBOK UANG UNTUK ARUM)

Kak Kristin : sudahlah rum, jangn menangis terus… lama-lama pastikamuakan terbiasa dengan keadaan ini, usap air matamu, minum ini mau rokok? (MENENANGKAN ARUM)

ARUM : Tt…tapi rum gak mau begini kak, tante kristin membohongiku..

Kak Kristin : yang penting sekarang kita bisa kirim uang untuk keluarga kita, aku juga duluseperti itu ( MERANGKUL ARUM YANG SEDANG MENANGIS)

Tante Narie : lho masih bengong disini? Ayo para pelanggan sudah menunggu antri aaah… (MENGHARDIK)

Arum : Rum gak kuat mbak.. rum pengen pulang rum gak tahan dengan keadaan ini batin rum tersiksa mbak… (AIR MATANYA HABIS DIMAKAN WAKTU0

Kak Kristin : tenang (SERAYA BERFIKIR) oh aku punya ide ini adatiket pesawat terbang jam 5 sore nanti akan menuju ke Jakarta. Pergilah sebelum bang dosor si bodiguart it bangun dan mencarimu

Arum : terima kasih, tapi kaaak kristin?

Kak kristin :tenanglah jangan kuatirkan aku, cepat waktunya mrndesak.

BABAK III

Johan : mau kemana mbak?? Kelihatanyya kok gelisah? (MEMPERHATIKAN TINGKAH ANEH ARUM YANG MONDAR – MANDIR TAMPAK GELISAH)

Arum : ke Jakarta mas… mas… tolong orang itu jahat.. (ARUM MELIHAT BANG DOSOR MENGHAMPIRINYA)

Johan : ada apa mbak (BINGUNG

Bang Dosor : mamu kemana kau dasar perempuan jalang, tidak tau di untung ayo… tante mencarimu… (MENGGELANDANG ARUM)

Arum : tidak….. kalian jahat, tolong…tolong saya…

Johan : ada apa ini? Siapa anda? Kenapa anda kasar pada perempuan?

Bang Dosor : dia adik saya perempuan ini tidak tau untung, dasar pelacur.. (MENAMPAR ARUM)

Arum : tidaaak.. aku bukan pelacur aku dipaksa dan dijebak, aku dipekerjakan oleh orang ini di tempat yang tek pernah aku inginkan. (MENUMPAHKAN SEMUA AMARAHNYA)

Johan : Ooooo… begitu ya? (MEMUKUL DOSORDENGAN SEKAT TENAGA DAN MERINGKUSNYA SERTA MEMBAWANYA KE KANTOR POLISI)

BABAK IV

KARENA BERITA ITU NAMA ARUM TERCEMAR DI DESANYA IA PERGI MENENANGKAN DIRI KERUMAHPAMANNYA DI JAKARTA. DISANA DIA BERUSAHA MEMPERBAIKI DIRINYA, BERIBADAH, SERING IKUT PENGAJIAN DANKEGIATAN-KEGIATAN YANG BERBAU RELIGI

Arum : mbok! Arum gak tahan dengan ejekan orang mbok, semakin hari semakin menyebar gosip ini…
Mbok : sabar nduk cah ayu… ilingo karo send nduwe urip. (MENASEHATI)
Arum : Rum berangkat pengajian mbok..
Shinta : dek Rum! Sendirian nich? Mana teman-temannya?
Arum : mbak sinta, iya sendirian mbak. Mbak sendiri gak di antarmas catur?
Sinta : tidak, mas catur sedang keluar kota tugas perusahaan. Oh ya sekarang kerja di mana?
Arum : di toko kelontong bantu paman mbak.
Sinta : mau kerja sama saya? Kebetulantoko busana muslim mbak membutuhkan karyawan.
Arum : O… dengan senang hati mbak.
Shinta : yah… nanti setelah pengajian kita langsung ke toko, bisa kan kalau hari ini kamu mulaibekerja?
Arum : iya mbak.
Hikam : Assalamualaikum…..
Arum : wa’alaikum salamada yang bisa saya bantu? (SAMBIL MENATA GAUN-GAUN DI ETALASE)
Shinta : aduh mas hikam kemana aja kok gak pernah mampir ke tokombak?
Hikam : iya mbak lagi sibuk membuat skripsi, jadi gak ada waktu untuk jalan-jalan. Oh ya mbak! Karyawan baru ni?
Shinta : iya kenalkan namanya Arum.
Hikam : saya Hikam pelanggan disini. (MATANYA MENATAP ARUM PENUH MAKNA)
Arum : (TERSENYUM) saya Arum.. ada yang perlu dibantu?
Shinta : ini rum bungkuskan kado ini (MEMERINTAH ARUM)
Hikam : eeeeh… terimakasih pelayanannya mbak, saya pulang dulu.
Shinta : TILILILILILIT hallo Assalamualaikum dengan butik syifa, ada yang bisa ku dibantu?
Hikam : wa’alaikumsalam.. saya hikam mbak.. mbah adawaktu hari ini?kalau ada kita kemu besok di butik mbak, saya mau bicara tentang mbak Arum.
Shinta : ya sampaiketemu besok di butik. Wa’alaikumsalam.
Shinta : lho pagi-pagi udah sampai disini? Ada apa sich kelihatannya penting sekali?
Hikam : mbak ini tentang arum… kurasakan diawanita istimewa dihati saya. Saya menemukan gadis idamanku yang selama ini kucari, dia sibidadari biru hatiku mbak, saya hendak meminangnya. Tolong tanyakan pada arum apakah dia sudah punya calon?
Shinta : Insya Allah dek.
Hikam : kalau begitu hikam pulang dulu ya mbak
Shinta : iya dek nanti saya sampaikan ke dek Arum yach, hati-hati di jalan sampaikan salamku ke ibu dek hikam
Hikam : iya mbak. Terima kasih sebelumnya
Shinta : lho kapan datang? (KAGET MELIHAT ARUM SUDAH LAMA DIGUDANG BELAKANG). Oh ya tadi Hikam kemari diamebicarakan dirimu, bagaimana rum? Dia ingin kamu jadi pendamping hidupmu? Jangan dijawab sekarang dipikirkan dulu..
Arum : mbak… (NADANYA LIRIH) arum punya rahasia boleh saya cerita pada mbak? Tapi saya harap mbak bisa menyimpan rahasia ini.
Shinta : iya… InsyaAllah
Arum : arum sudah gak sucilagimbak (MATANYA BERKACA-KACA) Arum pernah dipaksa untuk melayani laki-laki hidung belang di kota Batam. Arum dutipu mbak, arumdi jebak oleh orang yang membawa rum ke Batam.. (TANGISNYA TERSEDU HINGGA TAK MAMPU MELANJUTKAN CERITANYA)
Shinta : Masya Allah ……. Saya tak pernahmenduga cobaanmubegitu berat, maafkan mbak rum mbak gak pernah tahu semuanya.
Arum : E…em soalmas hikam bagaimana mbak? Arum merasa takpantas buat mas Hikam… keJEJAK HITAM BIDADARI BIRU
OLEH:
HURRIYATURROSYIDAH
(061644252)

PARA PEMERAN

Arum : tokoh utama
Si mbok : pemeran pembantu
Bapak : pemeran pembantu
Mbak Sinta : pemeran pembantu
Mas Hikam : pemeran pembantu
Johan : pemeran pembantu
Kan Kristin : pemetan pembantu
Juragan : tokoh antagonis
Tante Narie : tokoh antagonis
Bang Dosor : tokoh antagonis

Narator : Arum gadis belia yang penuh bakti dan semangatnya memberikan pengabdian kepada kedua orang tuanya, anak sulung dari tiga bersaudara keluarga miskin ini terpaksa menghentikan sekolahnya hanya di bangku SMP, ia merantau ke Kota seberang untuk mencari nafkah dan melunasi hutang-hutang orang tuanya

BABAK KE I

BRAK…..BRAK….. … SUARA GADUH DI RUANG TAMU

Si mbok : jangan tuan, ampun juragan kami jangan diusir, kami akan melunasi hutang-hutang kami secepat mungkin.. (MENANGIS DAN BERLUTUT MEMOHON JURAGAN MENGASIHANINYA)

Juragan : aaaah……….. alasan sampai kapan kamu akan menunda untuk melunasi hutang-hutangmu? Sampai kapan? BRAK… BRAK… MASIH SAJA MEMBANTING MEJA DAN KURSI SI MBOkK BERLALU PERGI MENINGGALKAN RUMAH SIMBOK DENGAN WAJAH MARAH DAN MEMERAH

Arum : mbok…… arum kepengen kerjo (MEMOTONG DAUN SINGKONG DI BALE-BELE BELAKANG RUMAHNYA)

Si mbok : mau kerjo opo nduk? Mau kerja kemana? (MENOLEH SEBENTAR KEMUDIAN MELANJUTKAN MENUMBUK PADI DI LESUNG YANG SUDAH USANG ITU)

Arum : Rum gak mau seperti ini buk, rum gak mau hidup kita dikejar-kejar juragan sialan itu, rum benci buk! (MATANYA MENETESKAN AIR MATA). Rum…rum.. hanya pengen ibu, bapak, adek bahagia (AIR MATA TAK KAUASA IA BENDUNG LAGI, MATANYA MEMERAH HATINYA SAKIT MELIHAT JURAGAN ITU MEMPORAK-PORANDAKAN RUMAHNYA)

Si Mbok : lha iya mau kerja kemana? (BERUSAHA AGAR AIR MATANYA TAK JATUH MEMBASAHI BUTIR-BUTIR PADI YANG IA TUMBUK)

Bapak : mau kerja kemana nduk? ( MENYELA PEMBICARAAN MEREKA).

ARUM : Rum kepingin ikut tante Narie ke mbatam bersama temen-temen rum yang lain, katanya disana kami dijanjikan akan dipekerjakan di sebuah restoran pak! (MENGUSAP AIR MATANYA)

Si Mbok :karepmu piye tonduk? (MENJELASKAN DENGAN KEBINGUNGANNYA)
TanteNarie : permisi…!!!! (MENGETUK PINTU RUMAH ARUM)

Arum : e…… tante narie monggo-monggo pinarak (MEMBENAHI KURSI-KURSI YANG BERSERAKAN)

Tante Narie : jadi kamu ikut saya rum? Besok kita berangkat ke batam, disana banyak anak-anak dari desa sini kokjangan kuwatir. (MEYAKINKAN ARUM)

Arum : iya tante si mbok dan bapak sudah megijinkan, tapi…. Apa benar arum kerja di restoran? (MENEGASKAN)

Tante Narie : ya… iya banyak kok (GUGUP SEPERTI MENYEMBUNYIKAN SESUATU)

Si Mbok : ati-ati nduk? Disana kota asing ojo neko-neko yo? (KUWATIR)

Arum : mbok, pak , rum pamit (MEMBAWA TAS DAN KARDUS) ARUM DAN TEMAN-TEMAN BERANGKAT MELALUI PELABUHAN PAGI-PAGI DENGAN BEKAL SEADANYA.

BABAK KE II

Arum : tante ini tempat apa? (MEMANDANG SEKELILINGNYA YANG TAMPAK ASING, BANYAK GADIS-GADIS BERDANDAN MENOR DAN MUSIK-MUSIK YANG MEMBUAT HATI MAKIN MEMBUAT PERASAANNYA TAK TENANG)

Tante Narie : sudah lah nurut saja pada tante kamu pasti banya uang, Kris bawa gadis ini dan bantu dia untuk berhias (MENYALAKAN API ROKOK SAMBIL DUDUK DI KURSI)
Kak Kristin : ayo ku antarkan kamu ke kamarmu. Perkenalkan saya kristin teman sekamarmu. (METEKA BERJALAN MENUJU KAMAR)

Arum : kita kerjanya apa kak kok harus dandan seperti ini ( MERASA RISIH DENGAN BAJU SEKSI YANG DIKENAKANNYA)

Kak Kristin : kamu pastitausendiri nanti (TERSENYUM)

Tante Narie : wah…wah… gadis cantik ini kamu akan menjaditambang emas disini. Bagus.. bagus.. sekarang kamu lihat bule di pojok kursi depan dan kamu tunggu dia dikamar nomor lima, layani dia, kamu pasti punya banyak uang (MENEGUK MINUMAN KERAS)

Bule : namamu siapa gadis cantik? (MEMEGANG DAGU LANCIP ARUM, WAJAHNYA BENGIS PENUH NAFSU) jangan takut gadis cantik duduk sini dekat aku.

Arum : A…A….rrum tuan! (KETAKUTAN MENCOBA DUDUK DI DEKAT LAKI-LAKI BULE KETURUNAN SINGAPURA ITU)

Bule : ayo sayaang… ayolah jangan takut…. (MENAMPAKKAN SIFAT ASLINYA)

Arum : tidak…jangan tuan… (MERINTIH MERATAPI NASIPNYA, SETELAH LAKI-LAKI BENGIS ITU MENCAMPAKKANYA DAN MENINGGALKAN SEGEBOK UANG UNTUK ARUM)

Kak Kristin : sudahlah rum, jangn menangis terus… lama-lama pastikamuakan terbiasa dengan keadaan ini, usap air matamu, minum ini mau rokok? (MENENANGKAN ARUM)

ARUM : Tt…tapi rum gak mau begini kak, tante kristin membohongiku..

Kak Kristin : yang penting sekarang kita bisa kirim uang untuk keluarga kita, aku juga duluseperti itu ( MERANGKUL ARUM YANG SEDANG MENANGIS)

Tante Narie : lho masih bengong disini? Ayo para pelanggan sudah menunggu antri aaah… (MENGHARDIK)

Arum : Rum gak kuat mbak.. rum pengen pulang rum gak tahan dengan keadaan ini batin rum tersiksa mbak… (AIR MATANYA HABIS DIMAKAN WAKTU0

Kak Kristin : tenang (SERAYA BERFIKIR) oh aku punya ide ini adatiket pesawat terbang jam 5 sore nanti akan menuju ke Jakarta. Pergilah sebelum bang dosor si bodiguart it bangun dan mencarimu

Arum : terima kasih, tapi kaaak kristin?

Kak kristin :tenanglah jangan kuatirkan aku, cepat waktunya mrndesak.

BABAK III

Johan : mau kemana mbak?? Kelihatanyya kok gelisah? (MEMPERHATIKAN TINGKAH ANEH ARUM YANG MONDAR – MANDIR TAMPAK GELISAH)

Arum : ke Jakarta mas… mas… tolong orang itu jahat.. (ARUM MELIHAT BANG DOSOR MENGHAMPIRINYA)

Johan : ada apa mbak (BINGUNG

Bang Dosor : mamu kemana kau dasar perempuan jalang, tidak tau di untung ayo… tante mencarimu… (MENGGELANDANG ARUM)

Arum : tidak….. kalian jahat, tolong…tolong saya…

Johan : ada apa ini? Siapa anda? Kenapa anda kasar pada perempuan?

Bang Dosor : dia adik saya perempuan ini tidak tau untung, dasar pelacur.. (MENAMPAR ARUM)

Arum : tidaaak.. aku bukan pelacur aku dipaksa dan dijebak, aku dipekerjakan oleh orang ini di tempat yang tek pernah aku inginkan. (MENUMPAHKAN SEMUA AMARAHNYA)

Johan : Ooooo… begitu ya? (MEMUKUL DOSORDENGAN SEKAT TENAGA DAN MERINGKUSNYA SERTA MEMBAWANYA KE KANTOR POLISI)

BABAK IV

KARENA BERITA ITU NAMA ARUM TERCEMAR DI DESANYA IA PERGI MENENANGKAN DIRI KERUMAHPAMANNYA DI JAKARTA. DISANA DIA BERUSAHA MEMPERBAIKI DIRINYA, BERIBADAH, SERING IKUT PENGAJIAN DANKEGIATAN-KEGIATAN YANG BERBAU RELIGI

Arum : mbok! Arum gak tahan dengan ejekan orang mbok, semakin hari semakin menyebar gosip ini…
Mbok : sabar nduk cah ayu… ilingo karo send nduwe urip. (MENASEHATI)
Arum : Rum berangkat pengajian mbok..
Shinta : dek Rum! Sendirian nich? Mana teman-temannya?
Arum : mbak sinta, iya sendirian mbak. Mbak sendiri gak di antarmas catur?
Sinta : tidak, mas catur sedang keluar kota tugas perusahaan. Oh ya sekarang kerja di mana?
Arum : di toko kelontong bantu paman mbak.
Sinta : mau kerja sama saya? Kebetulantoko busana muslim mbak membutuhkan karyawan.
Arum : O… dengan senang hati mbak.
Shinta : yah… nanti setelah pengajian kita langsung ke toko, bisa kan kalau hari ini kamu mulaibekerja?
Arum : iya mbak.
Hikam : Assalamualaikum…..
Arum : wa’alaikum salamada yang bisa saya bantu? (SAMBIL MENATA GAUN-GAUN DI ETALASE)
Shinta : aduh mas hikam kemana aja kok gak pernah mampir ke tokombak?
Hikam : iya mbak lagi sibuk membuat skripsi, jadi gak ada waktu untuk jalan-jalan. Oh ya mbak! Karyawan baru ni?
Shinta : iya kenalkan namanya Arum.
Hikam : saya Hikam pelanggan disini. (MATANYA MENATAP ARUM PENUH MAKNA)
Arum : (TERSENYUM) saya Arum.. ada yang perlu dibantu?
Shinta : ini rum bungkuskan kado ini (MEMERINTAH ARUM)
Hikam : eeeeh… terimakasih pelayanannya mbak, saya pulang dulu.
Shinta : TILILILILILIT hallo Assalamualaikum dengan butik syifa, ada yang bisa ku dibantu?
Hikam : wa’alaikumsalam.. saya hikam mbak.. mbah adawaktu hari ini?kalau ada kita kemu besok di butik mbak, saya mau bicara tentang mbak Arum.
Shinta : ya sampaiketemu besok di butik. Wa’alaikumsalam.
Shinta : lho pagi-pagi udah sampai disini? Ada apa sich kelihatannya penting sekali?
Hikam : mbak ini tentang arum… kurasakan diawanita istimewa dihati saya. Saya menemukan gadis idamanku yang selama ini kucari, dia sibidadari biru hatiku mbak, saya hendak meminangnya. Tolong tanyakan pada arum apakah dia sudah punya calon?
Shinta : Insya Allah dek.
Hikam : kalau begitu hikam pulang dulu ya mbak
Shinta : iya dek nanti saya sampaikan ke dek Arum yach, hati-hati di jalan sampaikan salamku ke ibu dek hikam
Hikam : iya mbak. Terima kasih sebelumnya
Shinta : lho kapan datang? (KAGET MELIHAT ARUM SUDAH LAMA DIGUDANG BELAKANG). Oh ya tadi Hikam kemari diamebicarakan dirimu, bagaimana rum? Dia ingin kamu jadi pendamping hidupmu? Jangan dijawab sekarang dipikirkan dulu..
Arum : mbak… (NADANYA LIRIH) arum punya rahasia boleh saya cerita pada mbak? Tapi saya harap mbak bisa menyimpan rahasia ini.
Shinta : iya… InsyaAllah
Arum : arum sudah gak sucilagimbak (MATANYA BERKACA-KACA) Arum pernah dipaksa untuk melayani laki-laki hidung belang di kota Batam. Arum dutipu mbak, arumdi jebak oleh orang yang membawa rum ke Batam.. (TANGISNYA TERSEDU HINGGA TAK MAMPU MELANJUTKAN CERITANYA)
Shinta : Masya Allah ……. Saya tak pernahmenduga cobaanmubegitu berat, maafkan mbak rum mbak gak pernah tahu semuanya.
Arum : E…em soalmas hikam bagaimana mbak? Arum merasa takpantas buat mas Hikam… keadaan arum sepertiini mbak, arum takut suatusaatnantibisa menimbulkan fitnah..
Shinta : justru dengan keadaanmu yangsekaran kamu harus segera menikah.
Arum : Tapi mbak?
Shinta : cobalah bicarakan baik-baik Insya Allah Hikam mau menerima… kamu yang tegar yanch… (MEREKA MENUTUP KORDEN DAN JENDELA TOKO KARNA WAKTUSUDAH MULAI GELAP)

adaan arum sepertiini mbak, arum takut suatusaatnantibisa menimbulkan fitnah..
Shinta : justru dengan keadaanmu yangsekaran kamu harus segera menikah.
Arum : Tapi mbak?
Shinta : cobalah bicarakan baik-baik Insya Allah Hikam mau menerima… kamu yang tegar yanch… (MEREKA MENUTUP KORDEN DAN JENDELA TOKO KARNA WAKTUSUDAH MULAI GELAP)


Oleh:
Koidah  Fitriyah
Penyelaras: Drs. Heru Subrata, M.Si

Analisis unsur – unsur cerita

a. Tema

Tema adalah inti atau persoalan yang mendasari isi cerita. Pada cerpen ” Romansa di Tebing Pelangi ” temanya asdalah tentang percintaan.

b. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah pelaku yang mendukung peristiwa sehingga mampu menjalin suatu cerita. Penokohan adalah sifat atau karakter yang dimiliki oleh para tokoh cerita. Dalam cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” tokoh serta penokohannya adalah sbb :

Tokoh                                                 Penokohan ( watak )

1.   Meira                                             Cantik, mudah percaya, keras kepala.

2.   Elgar                                              Baik, penyayang, suka menolong, tidak pendendam

3.   Gery                                              Sombong, sok ganteng,, mabuk popularitas,playboy

4.   Ibu                                                 Baik, penyayang, sabar.

5.   Ayah                                             Baik, penyayang, sabar.

c. Latar / Setting

Sebuah cerita pada hakekatnya adalah lukisan peristiwa atau kejadian yang menimpa atau di lakukan oleh satu atau beberapa orang tokoh pada suatu waktu tertentu dan tempat tertentu. Atas dasar hal tersebut dapat dikatakan bahwa penempatan waktu dan tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi tersebut disebut latar cerita atau setting.

Latar dalam cerpen cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah di Tebing Pelangi, di Retro, rumah Meira, rumah sakit, dan pantai Bidadari. Settingnya pada siang hari, malam hari, dan sore hari.

d. Point of View

Point of view atau sudut pandang dalam cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah sudut pandang orang pertama, di mana penulis sebagai pencerita.

e. Amanat

Amanat yang dapat dipetik dari cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah kita jangan mudah percaya dengan rayuan lelaki. Orang yang paling dekat dengan kita adalah orang yang paling mengerti kita. Jangan terlarut dalam urusan cinta, apalagi sampai lupa akan tugas dari pekerjaan atau profesi kita, karena itu dapat menimbulkan penyesalan.

f. Alur

Alur cerita dalam cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah alur maju. Di mulai dari pertemuan, kemudian terjadi konflik, penyesalan, dan akhirnya berakhir bahagia.

Alur dalam cerita ”  Romansa di Tebing Pelangi ”   : (lebih…)


Naskah Telah Dipentaskan
Pendukung Pementasan:

1. Dian Lutfi (01)
2. Ririn Purnawati (02)
3. Alfiatur Rahma Taufika (09)
4. Dyah Dewi Aminah (11)
5. Ranti Sulistyo Basuki (13)
6. Arik Umi Piji Astuti (14)
7. Atalia Nur Ichsana Arafat (17)
8. Wijayanti Kusumaningrum (25)
9. Hanif Istiani (32)
10. Novi Kurniawati (33)
11. Anita (41)

STAF PRODUKSI

Pimpinan Produksi : Drs. Heru Subrata, M.Si
Sutradara : Atalia Nur Ichsana Arafat
Asisten Sutradara : Arik Umi Piji Astuti
Sekretaris : Ririn Purnawati
Bendahara : Dian Lutfi
Seksi-seksi :
1. Penata Panggung :
• Hanif Istiani
• Anita
• Dyah Dewi
2. Penata Musik :
• Wijayanti Kusumaningrum
• Alfiatur Rahma Taufika
• Novi Kurniawati
3. Penata Rias :
• Ranti Sulistyo Basuki
• Ririn Purnawati

Pelaku :
Novi Kurniawati sebagai Perawan Bodho
Ranti Sulistyo B. sebagai Mbok Ginem
Arik Umi P.A. sebagai Pria tak dikenal
Anita sebagai Pak RT
Ririn Purnawati sebagai Bu RT
Wijayanti K. sebagai Maling
Dian Lutfi sebagai Oneng
Dyah Dewi A. sebagai Mak Yah
Hanif Istiani sebagai Inem
Alfiatur Rahma T. sebagai Yu Pi”ah

SINOPSIS

Kisah ini menceritakan tentang seorang janda setengah tua yang bernama mbok Ginem. Dia mempunyai seorang anak yang memiliki kecerdasan di bawah normal, sehingga dipanggil Perawan Bodho. Suatu ketika, karena malu pada tetangganya mbok Ginem menyuruh anaknya mencari jodoh. Akhirnya Perawan Bodho menemukan pemuda yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan ibunya. Setelah sampai di rumah, terkejutlah mbok Ginem karena ternyata pemuda yang ditemukan Perawan Bodho adalah mantan suami yang telah meninggalkannya. Karena benci dan malu, mbok Ginem tidak menceritakan pada anaknya tetapi dia bingung karena anaknya sudah terlanjur menyukai pemuda tersebut. Dalam keadaan bingung mbok Ginem memperoleh akal untuk menyingkirkan laki-laki tersebut, kebetulan lelaki itu sedang mengalami penyakit kaki busuk. Mbok Ginem yang kesal mengatakan pada Perawan Bodho bahwa lelaki itu sudah mati karena baunya sudah busuk, oleh karena itu harus segera dibuang ke sungai. (lebih…)


Penyelaras: Drs, HERU SUBRATA, M.Si

A. NASKAH DRAMA

ADEGAN 1

Narator : (Mengutip salah satu penggalan surat Kartini yang tidak dipublikasikan. Diiringi suara dentingan gitar, pelan)
Daripada mati itu akan tumbuh kehidupan baru.
Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan tahan, dan meskipun sekarang dapat juga ditahan-tahan, besoknya akan tumbuh juga dia, dan hidup makin lama makin kuat makin teguh.

Kamar Kartika

Kartika : (memakai piyama, sedang membaca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang disusun oleh Armijn Pane, di meja belajar. Airmuka serius, lampu duduk menyala.)
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dan suara panggilan untuk Kartika.
Bu Sartika : Kartika? Kartika?! Buka pintunya! Hari masihlah sore, gemarkah kau untuk tidur? Bukalah! Lekas!
Kartika : Menghela napas panjang, kemudian menutup bukunya dan bangkit untuk membuka pintu.
Bu Sartika : Astaga! Sesore ini kau sudah siap berpiyama? Bisakah kau tidak bermalas malasan saja? (Menatap Kartika tak percaya, tangannya membawa tas tangan kecil. Dibelakangnya 2 orang pesuruh menggotong sebuah benda setinggi 2 meter berbungkus kertas cokelat.)
Kartika : Ma, Kartika sedang baca buku, bukan sedang tidur. (Bela Kartika pelan, sambil mengangkat buku Habis Gelap Terbitlah Terang)
Bu Sartika : Oh terserahlah, kau pasti membaca buku cerita. Itu sama saja dengan tidur. Sia-sia belaka. Pak, bawa masuk kesini (masuk ke dalam dan menunjuk dinding) Letakkan disini saja, ya bagus, kalian bisa keluar. Terimakasih.
Setelah 2 pesuruh tersebut keluar
Kartika : Apa ini Ma? (Menghampiri benda tinggi bungkusan cokelat tersebut, penasaran)
Bu Sartika : (Duduk di tepi ranjang sambil melepas sepatu hak tingginya) Mama bawakan oleh oleh untukmu. Bukalah, kau pasti suka. Itu dari Jepara. Asli! (Tersenyum sambil menunjuk bungkusan tersebut pada Kartika.)
Kartika : lukisan RA Kartini, Ma?! (segera menyobek bungkusan tersebut dengan bersemangat).
Sartika : Bukan, itu lebih bermanfaat buatmu.
Kartika : (Tertegun mendapati sebuah bingkai kayu jati. Selebar setengah meter dan setinggi 2 meter. Sekeliling tepinya penuh dengan ukir ukiran berbentuk sulur sulur. Kaki cermin juga berukir berbentuk bonggol akar yang kokoh. Warna bingkai cokelat tua berpelitur mengkilat.)
Sartika : Kenapa? Kau tak suka cermin itu?
Kartika : Buat apa Ma? Tika rasa cermin ini terlalu besar untuk kamar ini. (berkata lirih sambil melirik bingkai kayu tersebut tanpa minat) Oh ya! (serunya mendadak) Kartika sedang baca buku RA Kartini, Ma… bagus sekali ceritanya. Mama mau baca? (menyodorkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang dengan wajah berseri)
Bu Sartika : Tika! Berhentilah baca buku buku konyol seperti ini! Sekarang bukan saatnya kau mengenang jasa Kartini. Tapi manfaatkanlah jasanya sebaik mungkin. Mana prestasi yang dapat kau berikan buat Mama? Kerjakan tugasmu dan belajarlah yang tekun. Harusnya kau bersyukur emansipasi menjadikanmu pelajar sampai sekarang dan mama seorang manager perusahaan besar.” (berucap lantang)
Kartika : Mama sama sekali tak berminat baca ini? (masih menyodorkan buku tersebut)
Sartika : Ya.. ya..ya.. Mama akan baca jika mama sudah pulang dari dinas ke Bandung 2 minggu ini. Oke?
Kartika : Tapi Mama kan baru saja pulang dari Semarang? (meletakkan buku itu kembali ke meja belajar)
Bu Sartika : Mama mendadak ditugaskan atasan untuk mengurusi proyek yang baru. Sudahlah, mama capek. Mama hendak istirahat (bangkit, sambil menguap) Oh ya, cermin itu gunakan baik baik. Kau harus banyak merias diri, berlatih berbicara di depan umum dan menjadi seorang gadis teladan yang menyenangkan.
Kartika : Maksud Mama?
Bu Sartika : Bulan depan ada pesta peresmian kantor baru Mama. Kau harus ikut, mama ingin mengenalkanmu dengan anak kolega mama. Malam Sayang.. (mengecup kening Kartika lalu beranjak keluar) (lebih…)

“PUTRI SALJU YANG TERTIDUR”

Posted: 15 Juni 2009 in Naskah

Putri Salju Yang Tertidur

Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si.

A. 1. Stage manager : Andika Dafi
2. Sekretariat : Anis Sholikah
3. Bendahara : Nency Putri Muldash
4. Sutradara : Gunawan Effendy
5. Astrada : Dian Wahyu M
6. Pencatat Adegan : Sepsi Prawesti
7. Rias Busana : Eko Setyowati
8. Tata rias : Runi Puspitasari
9. Tari / gerak : Nita Carita
10. Musik suara : Sulis Andayani
11. Panggung : Heri Fainurrahman
12. Lampu : Heri Fainurrahman
13. Effect : Erna Dewi Widia

B. SINOPSIS CERITA
Cerita “Putri Salju yang tertidur” merupakan cerita fiktif dalam cerita ini menggambarkan kisah seorang putri salju yang dibuang ke hutan oleh kakak kandungnya sendiri yaitu putri salju, karena di merasa iri kepada putri salju, karena di merasa bahwa Raja dan Ratu akan memberikan jodoh yang lebih baik kepada putri Salju. Putri Salju setelah dikasih minuman oleh Putri Cemara akhirnya tertidur dan kemudian dibuang di hutan 7 Kurcaci. Ditengah hutan itu Putri Salju yang tidur itu ditemukan oleh 7 Kurcaci yang kemudian mengadakan sayembara untuk dapat membangunkan Putri Salju yang akhirnya dijadikan pendamping hidupnya.
Pangeran yang ikut sayembara harus melalui 4 tantangan dari 7 Kurcaci yaitu Kurcaci Pintar, Kurcaci Penyanyi, Kurcaci Lemot, Kurcaci Diplomat, Kurcaci Centil, Kurcaci Makan, Kurcaci Tidur. Dan Pangeran tersebut harus lulus dalam 4 tantangan agar mempunyai kesempatan untuk membangunkan Putri Salju. Setelah beberapa pangeran gagal, suatu hari ada 1 pangeran yang lolos dalam sayembara itu, yaitu Pangeran dari Kerajaan Moestopo dan sesuai dengan petunjuk dalam botol racun yang diminum Putri Salju, Pangeran harus bernyanyi lagu bintang kecil vokal ‘v’ sambil mengitarinya dengan berlompat-lompat 3 kali kemudian mencium Putri Salju yang akhirnya terbangun dan bertemu dengan Pangeran. Akan tetapi tak berapa lama Pangeran merasa haus dan meminum racun dalam botol yang ia temukan dan setelah minum itu Pangeran merasa ngantuk dan tertidur Pulas Putri Salju jadi bingung dan memanggil-manggil pangeran yang udah tidur.

C. SKENARIO
“PUTRI SALJU YANG TERTIDUR” (lebih…)

“JOKO BEREK MENCARI AYAH”

Posted: 15 Juni 2009 in Naskah

Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si.
Sutradara: Novian Rindasari Palupi

joko berek1. Pemusik
a. Rebana : Anik Zuyyina
b. Kentongan : Ummu Haniatul Faizah
2. Pemain
a. Pendongeng : Tika Pancawati
b. Dewi Sangkrah : Dwi Ana Susanti
c. Joko Berek : Marjoko
d. Kakek : Andri Sucahyo
e. Parman : Puji Lestari
f. Parno : Rohmatun Khamidah
g. Sawunggrono : Umi Rodiyah
h. Sawungsari : Rina Setyarini
i. Adipati Jayengrana : Ely Kristanti
3. Penari
a. Jago Joko Berek : Hesti Widha Kurnia
b. Jago Parman & Parno : Eni Nurhayati
c. Penari panahan : – Dwi Ana Susanti
- Rohmatun Khamidah
- Eni Nurhayati

TIM PRODUKSI
1. Sutradara : Novian Rindasari Palupi
2. Sie. Rias dan Busana : – Novian Rindasari Palupi
- Ratih Yanuarti
- Mariza Febriana
3. Sie. Dekorasi : – Marjoko
- Hesti Widha Kurnia

ALAT MUSIK:
1. Rebana
2. Kentongan

NASKAH JOKO BEREK MENCARI AYAH

BABAK I
PROLOG: Oleh pendongeng
Ada sebuah desa yang letaknya tak jauh dari Kadipaten Suroboyo, desa mana itu?…
Desa itu bernama “Lidah Ndonowati” desa terpencil dekat hutan lebat belantara. Masuk wilayah Lakarsantri. Di situlah ada keluarga kecil sejahtera yang bernama “Dewi Sangrah, satu rumah bersama kakek, dan anaknya yang bernama “Joko Berek ya Sawunggaling” yang hampir setiap harinya kesana kemari membawa ayam jago.

DIALOG :
1. Kakek : Nduk Dewi Sangrah, makin hari, makin tahun, anakmu Si Joko Berek makin dewasa.
2. Dewi Sangkrah : Hiya, kanjeng romo.
3. Kakek : Begini Dewi Sangkrah, saya dengar di Katemenggungan Surabaya ada sayemboro! Barangsiapa yang bisa menembak umbul-umbul Tunggulyudo, akan diangkat sebagai Adipati Jayengrono.
4. Dewi Sangkrah : Hiyo Kanjengromo…bagaimana kalau si Joko Berek disuruh mengikuti kanjengromo
5. Kakek : Hiya… Hiyo, coba ditawari dulu!
6. Dewi Sangkrah : Joko Berek!
7. Joko Berek : Ada apa buk?
8. Dewi Sangkrah : Begini Joko Berek, di katemenggungan Suroboyo ada sayemboro.
9. Joko Berek : Sayemboro apa buk?
10. Dewi Sangkrah : Joko Berek! Sayembara yang dimaksud adalah menembak umbul-umbul Tunggul Yudo, bagi siapa yang menang. bakal diangkat. menjadi Adipati di katemenggungan Suroboyo.
11. Joko Derek : Ibu! Saya akan mencoba mengikuti, namun reyang mohon doa restu, agar dalam mengikuti sayembara nanti reyang menang ibu!
12. Dewi Sangkrah : Hiya pasti Joko Berek! Joko berek harus selalu ingat kepada ibu! Pada waktu Joko Berek menembak sebutlah nama Dewi Sangkrah tiga kali Joko Berek!
13. Joko Berek : Hiya ibu! Joko Berek akan segera berangkat mohon doa restunya ibu!
14. Dewi Sangkrah : Hiyo tak restui anakku! (lebih…)