Arsip untuk ‘Naskah’ Kategori

“TERJEBAK DALAM LORONG WAKTU“

Posted: 18 Desember 2009 in Naskah

BABAK I

Setting             : Pagi hari

Latar                : Di hutan

Susan bersama kelima temannya baru sampai di rumah Neneknya Yolan di daerah Bugisan, sebuah desa di daerah Palagan Ambarawa. Suasananya begitu tenang, tentu saja jauh dari kebisingan kota. Mereka sudah lama merencanakan liburan ini. Begitu Yolan bercerita langsung saja Susan, Erni, Wina, Wira dan Marshall setuju untuk mengisi liburan di sana.

Pagi itu mereka berenam menyusuri sebuah hutan kecil. Menurut cerita, di hutan itu pernah terjadi sebuah tragedi pembunuhan. Meurut Neneknya Yolan, dulu waktu masih jaman penjajahan Belanda, ada pemuda pribumi yang dianggap sebagai pemberontak dan dihukum tembak. Saat sedang berjalan menikmati keadaan sekitar tiba-tiba saja wajah Susan terlihat pucat pasi. Kelima sahabatnya reflek menghentikan langkahnya.

Wirya                         : “Kamu kenapa san ?” (BERTANYA DENGAN PENUH

PERHATIAN)

Susan                         : “ Kalian dengar ada suara tembakan ?”

Erni dan Yolan          : “Suara tembakan !” (SERENTAK DAN SALING BERPANDANGAN)

Wirya dan Marshall   : “Tidak kudengar suara tembakan” (SAMBIL MENAJAMKAN PENDENGARAN, KEMUDIAN MENGGELENG)

Susan                         :  “Masa kalian tidak dengar ? Suara tembakan itu jelas terdengar bahkan beruntun.” (BERUSAHA MEYAKINKAN SAMBIL MEMBELALAKKAN MATANYA KETAKUTAN)

Erni                            : “Lebih baik kita kembali ke rumah Nenek ?” (SAMBIL MEMBIMBING SUSAN YANG TERLIHAT PUCAT)

BABAK II

Setting              : Siang hari

Latar                 : Rumah Nenek

Sesampainya di rumah Nenek

Nenek                        : “Lho kalian sudah kembali ? Cepat sekali.” (BERTANYA KEHERANAN)

Yolan                         : “ Susan tiba – tiba saja sakit Nek .”

Nenek                        : “Kalau begitu Yolan ambilkan air putih untuk Susan.”

Yolan                         : “Ini air putihnya San, kamu minum dulu.” (MENGAMBIL DAN MEMBERIKAN SEGELAS AIR PUTIH)

Nenek                        : “ Kamu kenapa Susan ?” (BERJALAN MENDEKAT).  “Apa yang terjadi padamu Susan.” ( BERFIKIR DALAM HATI MERASAKAN ADA YANG TIDAK BERES SAMBIL MEMANDANGI WAJAH SUSAN, DAN MENYENTUH BAHU SUSAN)

Yolan dkk                 : “Ayo San ceritakan pada kami semua, apa yang sudah terjadi sama kamu !” (DUDUK DAN MENANTI CERITA SUSAN DENGAN SEKSAMA)

Susan                         : “Entahlah, saat memasuki hutan itu tiba – tiba saja saya mendengar renteten tembakan. Tapi saya tanya yang lain mereka tidak mendengarkannya, lalu…” (MENGGANTUNGKAN CERITA, MENGHELA NAFAS PANJANG, DAN WAJAHNYA YANG SEMULA TERLIHAT MEMERAH, TIBA-TIBA KEMBALI PUCAT)

Nenek                        : “Lalu ?” (BERTANYA SEMAKIN MENYELIDIK)

Susan                         : “Lalu saya melihat ada seorang pemuda yang diarak masyarakat dan beberapa orang bule,”

Wina                          : “Seorang pemuda diarak ? Kok bisa ya, padahal kita tidak melihat apa-apa. Ya kan teman-teman !” (TAMPAK KEHERANAN)

Wirya                         : “ Iya, tadi kami tidak melihat apa-apa.”

Nenek                        : “Nenek kira ada ikatan batin antara Susan dengan pemuda yang dilihatnya,” (TERLIHAT TENANG SEAAKAN MEMAHAMI APA YANG TERJADI PADA SUSAN)

Yolan                         : “Bagaimana mungkin Nek? Apakah yang dilihat Susan itu hantu ?” (AGAK TERCENGANG)

Nenek                        : “Kalian ingat cerita Nenek tentang tragedi yang terjadi di hutan itu ? Nenek rasa Susan melihat pemuda pribumi itu. Kejadian itu 70 tahun lalu. Saat itu Nenek masih berumur 7 tahun,” (MULAI MEMBUKA CERITA)

Marshall                     : “Cerita 70 tahun lalu ? (SANGAT TERKEJUT)

Wah, berarti Nenek awet muda ya ? Nenek saat ini tidak kelihatan kalau berumur 77 tahun,” (MEMUJI)

Nenek                        : “Kamu ini bisa saja Shall !” (TERSENYUM SIMPUL)

Wirya                         : “Kamu jangan memotong cerita Nenek dong Shall !” (TERLIHAT BETE)

Erni                            : “Lanjutkan Nek !” (TERLIHAT ANTUSIAS SEKALI)

Nenek                        : “Saat penjajahan Belanda dulu, di daerah ini Belanda menguasai tanah desa dan juga semua hasil bumi desa ini. Penduduk harus menyerahkan hasil bumi dengan harga dibawah standar. Namun, ada pemuda pribumi yang mengtahui hal itu. Ia kemudian menganjurkan warga desa untuk tidak menjualnya pada bule-bule yang berkuasa itu. Oh ya, Nenek belum memberi tahu nama pemuda itu. Namanya Wiryo,”

Marshall                     : “Jangan – jangan kamu keturunannya nih Wir !” (MENGGODA)

Wirya                         : “Kamu ini apa-apaan sih Shall. Teruskan Nek !” (MENDENGUS KESAL SAMBIL MENGALIHKAN PERHATIAN)

Nenek                        :  “Dasar anak-anak !Tuan William tahu kalau Wiryo mempengaruhi warga desa untuk membangkang. Dia berang dan memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Wiryo, hidup atau mati.” (TERSENYUM GELI, KEMUDIAN MENARIK NAFAS PANJANG MELANJUTKAN CERITANYA)

Marshall                     : “Wah, seperti cerita perjuangan si Pitung jago Betawi ya Nek ?” (MELUCU SAMBIL TERSENYUM GELI)

Nenek                        : “Nah, suatu hari Wiryo tertangkap dan ditembak mati di hadapan warga desa Wiryo. Saat itu tak satupun warga yang mau membela Wiryo.”

Yolan                         : “Mungkin yang dilihat Susan tadi itu adalah hantunya Wiryo yang penasaran ya Nek ?”

Nenek                        : “Mungkin juga ! Karena kalau saja warga desa berani membela Wiryo dan melawan penjajah mungkin saja Wiryo tidak mati sia-sia.”

Erni                            : “Tapi, mengapa yang bisa mendengar dan melihat hanya Susan Nek ?” (KEHERANAN)

Nenek                        : “Itulah yang tadi Nenek bilang ikatan batin. Kalian percaya akan adanya alam gaib ?”

Yolan dkk                 : “Percaya Nek !” (SERENTAK MENGANGGUK)

Nenek                        : “Tidak ada yang mustahil di dunia ini kan ? Ya sudah sekarang kalian makan dulu. Nenek masak opor ayam untuk kalian. Ceritanya akan Nenek lanjutkan nanti malam.” (BANGKIT DARI DUDUKNYA)

Yolan dkk                 : “CIHUYYY…..!” (BERSORAK GEMBIRA)

BABAK III

Setting              : Malam hari

Latar                 : Rumah Nenek

Malam itu sehabis sholat Isya’ anak-anak kembali berkumpul untuk mendengarkan cerita Nenek. Tanya jawabpun terjadi. Susan yang merasa tidak enak badan tiduran di kamar. Saat seru-serunya berdiskusi, tiba-tiba saja Susan keluar dari kamar dengan wajah pucat pasi. Badannya terlihat gemetar, tangannya memegang perut, dan tiba-tiba saja Susan limbung jatuh ke lantai. Reflek yang lain mendekat.S

Yolan                         : “Nek, lihat perut Susan  berdarah !” (SAMBIL BERTERIAK)

Wirya                         : “Seperti luka tembakan,” (BERDESIS)

Nenek                        : “Sudah Nenek duga, pasti ada ikatan batin antar Susan dan Wiryo. Susan merasakan apa yang dulu dirasakan oleh Wiryo. Dan yang dilihat Susan tadi pagi di hutan bukan hantu. Wiryo masih hidup diantara dua alam !”  (MENJELASKAN DENGAN SEKSAMA)

Wina                          : “Maksud Nenek ?”

Nenek                        : “Wiryo terjebak dalam lorong waktu !!”

Wina                          : “Nek, cepat bawa Susan ke rumah sakit !”

Nenek                        : “Percuma ! Ini tidak bisa diobati secara medis. Wiryo ingin kita membantunya untuk mendapatkan keadilan.”

Wina                          : “Tapi, bagaimana caranya Nek ?” (TERLIHAT GUSAR)

Nenek                        : “Wirya dan kamu Marshall, tolong kalian angkat Susan dan baringkan ke tempaat tidur. Erni, ambilkan lilin sebanyak 13. Wina, kamu kompres Susan karena panas badannya begitu tinggi. Marshall, Erni, Wirya, Yolan duduklah membentuk lingkaran dan nyalakan 13 lilin itu ditengah-tengah kalian. Yolan dan Wirya akan menembus lorong waktu. Hari dimana Wiryo ditembak 70 tahun yang lalu. Mencegah agar tembakan itu tidak terjadi sama dengan menyelamatkan nyawa Susan. (MEMERINTAH DENGAN TEGAS)

Yolan dkk                 : “Baik Nek !”  (DUDUK BERSIMPUH MEMBUAT LINGKARAN)

Nenek                        : “Dengar, Yolan, Wirya ! Kalian mempunyai 2 jam untuk menyelamatkan nyawa Susan. Tegakkan keadilan untuk Wiryo. Bujuk masyarakat desa untuk berani memberontak pada penjajah. Kalian sudah harus kembali seselum nyala lilin ini reup. Karena kalau tidak, kalian takkan bisa kembali dan selamanya akan terjebak dalam lorong waktu. Nyawa Susan tak akan tertolong. Kalian mengerti ?”

Yolan dan Wirya       : “Mengerti Nek.” (SALING PANDANG DAN MENGANGGUK)

Nenek mengucapkan kalimat yang sama sekali tak bisa dimengerti. Yolan dan Wirya merasa tubuhnya terseret ke sebuah lorong hitam. Kemudian, saat membuka mata, mereka telah berada di hutan yang telah mereka lewati tadi pagi. Yolan dan Wirya melihat pintu yang bersinar. Pasti sinar itu bersal dari 13 lilin yang dinyalakan Nenek. Itu adalah jalan satu-satunya untuk mereka kembali ke dunia nyata. Yolan menajamkan pendengarannya.

Wirya                         : “ Keributan di desa, kita harus cepat ke sana !” ( SAMBIL BERSERU )

Setengah berlari Yolan dan Wirya bergegas ke arah yang tak jauh dari hutan. Sesampainya di sana mereka melihat seorang pemuda yang diikat pada sebuah pohon.

Yolan                         : “Itu Wiryo !”

Wirya                         : “ Lihat penduduk desa itu ! Mereka sama sekali tidak membela Wiryo. Pak ! Kenapa kita tidak berusaha hal ini tidak terjadi ? Bukankah Wiryo pahlawan desa ini ?” (MENCERMATI KERUMUNAN DAN BERTANYA PADA SALAH SATU PENDUDUK)

Lelaki Tua                 : “ Aden bukan warga desa sini ? Apakah Aden tidak tahu, di sini tidak ada yang berani menghalangi keinginan Tuan William. Bisa ikut dihukun mati !” (MENJAWAB DENGAN KETAKUTAN)

Yolan                         : “Tapi pak, bukankah masyarakat di sini jumlahnya lebih banyak ? Kalau kita bersatu Wiryo bisa diselamatkan,” (SAMBIL BERCELUTUK)

Sementara itu, ikatan Wiryo dilepas dari pohon dan diarak menuju ke hutan. Tidak ada satupun yang berani membela Wiryo. Bahkan saat pasukan penembak sudah siap pada posisinya, belum ada satupun warga yang tersentuh hatinya untuk membela Wiryo. Dengan nekat Wirya berlari ke arah Wiryo dan berdiri di depannya.

Tuan William             : “Cepat lepas ikatannya dan arak menuju hutan dan bersiap di posisi masing-masing.” (MEMBERI PERINTAH PADA  PASUKAN PENEMBAK)

Pasukan Penembak    : “ Siap Tuan !”

Wirya                         : “TUNGGU….!!!” (NEKAT BERLARI KE ARAH WIRYO DAN BERDIRI DI DEPANNYA)

Tuan William             : “Hei ! Siapa kau pemuda pribumi ?” (MENGHARDIK WIRYA)

Wirya                         : “Penduduk semua ! Wiryo adalah pahlawan kalian. Mengapa sekarang kalian tidak berusaha untuk menolongnya ? Bersatulah dan kalian akan menang !” (BERTERIAK LANTANG SAMBIL MERENTANGKAN KEDUA TANGANNYA)

Wiryo                        : “Siapa kau ?” (KEHERANAN)

Wirya                         : “ Nyawa teman kami terancam kalau sampai kau ditembak,”

Wiryo                        : “Jadi usahaku untuk menghubungi masa depan berhasil.” (MENGUCAP DALAM HATI)

Tuan William             : “Minggir atau kami juga kan menembakmu !” (BERTERIAK)

Pasukan Penembak    : “Pasukan siap !” (MENGANGKAT SENAPAN DAN SIAP PADA POSISI MENEMBAK SETELAH MENDENGAR PERINTAH TUANNYA)

Yolan                         : “Rasanya semua usahaku sia-sia saja. Wirya cepat ! Tidak ada gunanya lagi. Waktu kita habis, kita harus pulang sebelum terlambat !”(BERTERIAK SAMBIL MELIHAT JALAN MENUJU JAMANNYA YANG SINAR LILINNYA SEMAKIN REDUP)

Percuma. Sekuat-kuatnya Yolan berteriak, suara keributan penduduk mengalahkan teriakannya itu. Sedangkan peluru mulai dimuntahkan dari larasnya. Sementara itu, di dunia nyata 13 lilin yang menyala di tengah lingkaran Nenek, Marshall, Erni dan Wina nyalanya semakin redup dan tak lama kemudian nyalanya padam. Sama sekali padam !

Oleh: Heru Subrata

‘Jejak Hitam Bidadari Biru’

Posted: 10 Desember 2009 in Naskah

JOleh: Heru Subrata
PARA PEMERAN

Arum : tokoh utama
Si mbok : pemeran pembantu
Bapak : pemeran pembantu
Mbak Sinta : pemeran pembantu
Mas Hikam : pemeran pembantu
Johan : pemeran pembantu
Kan Kristin : pemetan pembantu
Juragan : tokoh antagonis
Tante Narie : tokoh antagonis
Bang Dosor : tokoh antagonis

Narator : Arum gadis belia yang penuh bakti dan semangatnya memberikan pengabdian kepada kedua orang tuanya, anak sulung dari tiga bersaudara keluarga miskin ini terpaksa menghentikan sekolahnya hanya di bangku SMP, ia merantau ke Kota seberang untuk mencari nafkah dan melunasi hutang-hutang orang tuanya

BABAK KE I

BRAK…..BRAK….. … SUARA GADUH DI RUANG TAMU

Si mbok : jangan tuan, ampun juragan kami jangan diusir, kami akan melunasi hutang-hutang kami secepat mungkin.. (MENANGIS DAN BERLUTUT MEMOHON JURAGAN MENGASIHANINYA)

Juragan : aaaah……….. alasan sampai kapan kamu akan menunda untuk melunasi hutang-hutangmu? Sampai kapan? BRAK… BRAK… MASIH SAJA MEMBANTING MEJA DAN KURSI SI MBOkK BERLALU PERGI MENINGGALKAN RUMAH SIMBOK DENGAN WAJAH MARAH DAN MEMERAH

Arum : mbok…… arum kepengen kerjo (MEMOTONG DAUN SINGKONG DI BALE-BELE BELAKANG RUMAHNYA)

Si mbok : mau kerjo opo nduk? Mau kerja kemana? (MENOLEH SEBENTAR KEMUDIAN MELANJUTKAN MENUMBUK PADI DI LESUNG YANG SUDAH USANG ITU)

Arum : Rum gak mau seperti ini buk, rum gak mau hidup kita dikejar-kejar juragan sialan itu, rum benci buk! (MATANYA MENETESKAN AIR MATA). Rum…rum.. hanya pengen ibu, bapak, adek bahagia (AIR MATA TAK KAUASA IA BENDUNG LAGI, MATANYA MEMERAH HATINYA SAKIT MELIHAT JURAGAN ITU MEMPORAK-PORANDAKAN RUMAHNYA)

Si Mbok : lha iya mau kerja kemana? (BERUSAHA AGAR AIR MATANYA TAK JATUH MEMBASAHI BUTIR-BUTIR PADI YANG IA TUMBUK)

Bapak : mau kerja kemana nduk? ( MENYELA PEMBICARAAN MEREKA).

ARUM : Rum kepingin ikut tante Narie ke mbatam bersama temen-temen rum yang lain, katanya disana kami dijanjikan akan dipekerjakan di sebuah restoran pak! (MENGUSAP AIR MATANYA)

Si Mbok :karepmu piye tonduk? (MENJELASKAN DENGAN KEBINGUNGANNYA)
TanteNarie : permisi…!!!! (MENGETUK PINTU RUMAH ARUM)

Arum : e…… tante narie monggo-monggo pinarak (MEMBENAHI KURSI-KURSI YANG BERSERAKAN)

Tante Narie : jadi kamu ikut saya rum? Besok kita berangkat ke batam, disana banyak anak-anak dari desa sini kokjangan kuwatir. (MEYAKINKAN ARUM)

Arum : iya tante si mbok dan bapak sudah megijinkan, tapi…. Apa benar arum kerja di restoran? (MENEGASKAN)

Tante Narie : ya… iya banyak kok (GUGUP SEPERTI MENYEMBUNYIKAN SESUATU)

Si Mbok : ati-ati nduk? Disana kota asing ojo neko-neko yo? (KUWATIR)

Arum : mbok, pak , rum pamit (MEMBAWA TAS DAN KARDUS) ARUM DAN TEMAN-TEMAN BERANGKAT MELALUI PELABUHAN PAGI-PAGI DENGAN BEKAL SEADANYA.

BABAK KE II

Arum : tante ini tempat apa? (MEMANDANG SEKELILINGNYA YANG TAMPAK ASING, BANYAK GADIS-GADIS BERDANDAN MENOR DAN MUSIK-MUSIK YANG MEMBUAT HATI MAKIN MEMBUAT PERASAANNYA TAK TENANG)

Tante Narie : sudah lah nurut saja pada tante kamu pasti banya uang, Kris bawa gadis ini dan bantu dia untuk berhias (MENYALAKAN API ROKOK SAMBIL DUDUK DI KURSI)
Kak Kristin : ayo ku antarkan kamu ke kamarmu. Perkenalkan saya kristin teman sekamarmu. (METEKA BERJALAN MENUJU KAMAR)

Arum : kita kerjanya apa kak kok harus dandan seperti ini ( MERASA RISIH DENGAN BAJU SEKSI YANG DIKENAKANNYA)

Kak Kristin : kamu pastitausendiri nanti (TERSENYUM)

Tante Narie : wah…wah… gadis cantik ini kamu akan menjaditambang emas disini. Bagus.. bagus.. sekarang kamu lihat bule di pojok kursi depan dan kamu tunggu dia dikamar nomor lima, layani dia, kamu pasti punya banyak uang (MENEGUK MINUMAN KERAS)

Bule : namamu siapa gadis cantik? (MEMEGANG DAGU LANCIP ARUM, WAJAHNYA BENGIS PENUH NAFSU) jangan takut gadis cantik duduk sini dekat aku.

Arum : A…A….rrum tuan! (KETAKUTAN MENCOBA DUDUK DI DEKAT LAKI-LAKI BULE KETURUNAN SINGAPURA ITU)

Bule : ayo sayaang… ayolah jangan takut…. (MENAMPAKKAN SIFAT ASLINYA)

Arum : tidak…jangan tuan… (MERINTIH MERATAPI NASIPNYA, SETELAH LAKI-LAKI BENGIS ITU MENCAMPAKKANYA DAN MENINGGALKAN SEGEBOK UANG UNTUK ARUM)

Kak Kristin : sudahlah rum, jangn menangis terus… lama-lama pastikamuakan terbiasa dengan keadaan ini, usap air matamu, minum ini mau rokok? (MENENANGKAN ARUM)

ARUM : Tt…tapi rum gak mau begini kak, tante kristin membohongiku..

Kak Kristin : yang penting sekarang kita bisa kirim uang untuk keluarga kita, aku juga duluseperti itu ( MERANGKUL ARUM YANG SEDANG MENANGIS)

Tante Narie : lho masih bengong disini? Ayo para pelanggan sudah menunggu antri aaah… (MENGHARDIK)

Arum : Rum gak kuat mbak.. rum pengen pulang rum gak tahan dengan keadaan ini batin rum tersiksa mbak… (AIR MATANYA HABIS DIMAKAN WAKTU0

Kak Kristin : tenang (SERAYA BERFIKIR) oh aku punya ide ini adatiket pesawat terbang jam 5 sore nanti akan menuju ke Jakarta. Pergilah sebelum bang dosor si bodiguart it bangun dan mencarimu

Arum : terima kasih, tapi kaaak kristin?

Kak kristin :tenanglah jangan kuatirkan aku, cepat waktunya mrndesak.

BABAK III

Johan : mau kemana mbak?? Kelihatanyya kok gelisah? (MEMPERHATIKAN TINGKAH ANEH ARUM YANG MONDAR – MANDIR TAMPAK GELISAH)

Arum : ke Jakarta mas… mas… tolong orang itu jahat.. (ARUM MELIHAT BANG DOSOR MENGHAMPIRINYA)

Johan : ada apa mbak (BINGUNG

Bang Dosor : mamu kemana kau dasar perempuan jalang, tidak tau di untung ayo… tante mencarimu… (MENGGELANDANG ARUM)

Arum : tidak….. kalian jahat, tolong…tolong saya…

Johan : ada apa ini? Siapa anda? Kenapa anda kasar pada perempuan?

Bang Dosor : dia adik saya perempuan ini tidak tau untung, dasar pelacur.. (MENAMPAR ARUM)

Arum : tidaaak.. aku bukan pelacur aku dipaksa dan dijebak, aku dipekerjakan oleh orang ini di tempat yang tek pernah aku inginkan. (MENUMPAHKAN SEMUA AMARAHNYA)

Johan : Ooooo… begitu ya? (MEMUKUL DOSORDENGAN SEKAT TENAGA DAN MERINGKUSNYA SERTA MEMBAWANYA KE KANTOR POLISI)

BABAK IV

KARENA BERITA ITU NAMA ARUM TERCEMAR DI DESANYA IA PERGI MENENANGKAN DIRI KERUMAHPAMANNYA DI JAKARTA. DISANA DIA BERUSAHA MEMPERBAIKI DIRINYA, BERIBADAH, SERING IKUT PENGAJIAN DANKEGIATAN-KEGIATAN YANG BERBAU RELIGI

Arum : mbok! Arum gak tahan dengan ejekan orang mbok, semakin hari semakin menyebar gosip ini…
Mbok : sabar nduk cah ayu… ilingo karo send nduwe urip. (MENASEHATI)
Arum : Rum berangkat pengajian mbok..
Shinta : dek Rum! Sendirian nich? Mana teman-temannya?
Arum : mbak sinta, iya sendirian mbak. Mbak sendiri gak di antarmas catur?
Sinta : tidak, mas catur sedang keluar kota tugas perusahaan. Oh ya sekarang kerja di mana?
Arum : di toko kelontong bantu paman mbak.
Sinta : mau kerja sama saya? Kebetulantoko busana muslim mbak membutuhkan karyawan.
Arum : O… dengan senang hati mbak.
Shinta : yah… nanti setelah pengajian kita langsung ke toko, bisa kan kalau hari ini kamu mulaibekerja?
Arum : iya mbak.
Hikam : Assalamualaikum…..
Arum : wa’alaikum salamada yang bisa saya bantu? (SAMBIL MENATA GAUN-GAUN DI ETALASE)
Shinta : aduh mas hikam kemana aja kok gak pernah mampir ke tokombak?
Hikam : iya mbak lagi sibuk membuat skripsi, jadi gak ada waktu untuk jalan-jalan. Oh ya mbak! Karyawan baru ni?
Shinta : iya kenalkan namanya Arum.
Hikam : saya Hikam pelanggan disini. (MATANYA MENATAP ARUM PENUH MAKNA)
Arum : (TERSENYUM) saya Arum.. ada yang perlu dibantu?
Shinta : ini rum bungkuskan kado ini (MEMERINTAH ARUM)
Hikam : eeeeh… terimakasih pelayanannya mbak, saya pulang dulu.
Shinta : TILILILILILIT hallo Assalamualaikum dengan butik syifa, ada yang bisa ku dibantu?
Hikam : wa’alaikumsalam.. saya hikam mbak.. mbah adawaktu hari ini?kalau ada kita kemu besok di butik mbak, saya mau bicara tentang mbak Arum.
Shinta : ya sampaiketemu besok di butik. Wa’alaikumsalam.
Shinta : lho pagi-pagi udah sampai disini? Ada apa sich kelihatannya penting sekali?
Hikam : mbak ini tentang arum… kurasakan diawanita istimewa dihati saya. Saya menemukan gadis idamanku yang selama ini kucari, dia sibidadari biru hatiku mbak, saya hendak meminangnya. Tolong tanyakan pada arum apakah dia sudah punya calon?
Shinta : Insya Allah dek.
Hikam : kalau begitu hikam pulang dulu ya mbak
Shinta : iya dek nanti saya sampaikan ke dek Arum yach, hati-hati di jalan sampaikan salamku ke ibu dek hikam
Hikam : iya mbak. Terima kasih sebelumnya
Shinta : lho kapan datang? (KAGET MELIHAT ARUM SUDAH LAMA DIGUDANG BELAKANG). Oh ya tadi Hikam kemari diamebicarakan dirimu, bagaimana rum? Dia ingin kamu jadi pendamping hidupmu? Jangan dijawab sekarang dipikirkan dulu..
Arum : mbak… (NADANYA LIRIH) arum punya rahasia boleh saya cerita pada mbak? Tapi saya harap mbak bisa menyimpan rahasia ini.
Shinta : iya… InsyaAllah
Arum : arum sudah gak sucilagimbak (MATANYA BERKACA-KACA) Arum pernah dipaksa untuk melayani laki-laki hidung belang di kota Batam. Arum dutipu mbak, arumdi jebak oleh orang yang membawa rum ke Batam.. (TANGISNYA TERSEDU HINGGA TAK MAMPU MELANJUTKAN CERITANYA)
Shinta : Masya Allah ……. Saya tak pernahmenduga cobaanmubegitu berat, maafkan mbak rum mbak gak pernah tahu semuanya.
Arum : E…em soalmas hikam bagaimana mbak? Arum merasa takpantas buat mas Hikam… keJEJAK HITAM BIDADARI BIRU
OLEH:
HURRIYATURROSYIDAH
(061644252)

PARA PEMERAN

Arum : tokoh utama
Si mbok : pemeran pembantu
Bapak : pemeran pembantu
Mbak Sinta : pemeran pembantu
Mas Hikam : pemeran pembantu
Johan : pemeran pembantu
Kan Kristin : pemetan pembantu
Juragan : tokoh antagonis
Tante Narie : tokoh antagonis
Bang Dosor : tokoh antagonis

Narator : Arum gadis belia yang penuh bakti dan semangatnya memberikan pengabdian kepada kedua orang tuanya, anak sulung dari tiga bersaudara keluarga miskin ini terpaksa menghentikan sekolahnya hanya di bangku SMP, ia merantau ke Kota seberang untuk mencari nafkah dan melunasi hutang-hutang orang tuanya

BABAK KE I

BRAK…..BRAK….. … SUARA GADUH DI RUANG TAMU

Si mbok : jangan tuan, ampun juragan kami jangan diusir, kami akan melunasi hutang-hutang kami secepat mungkin.. (MENANGIS DAN BERLUTUT MEMOHON JURAGAN MENGASIHANINYA)

Juragan : aaaah……….. alasan sampai kapan kamu akan menunda untuk melunasi hutang-hutangmu? Sampai kapan? BRAK… BRAK… MASIH SAJA MEMBANTING MEJA DAN KURSI SI MBOkK BERLALU PERGI MENINGGALKAN RUMAH SIMBOK DENGAN WAJAH MARAH DAN MEMERAH

Arum : mbok…… arum kepengen kerjo (MEMOTONG DAUN SINGKONG DI BALE-BELE BELAKANG RUMAHNYA)

Si mbok : mau kerjo opo nduk? Mau kerja kemana? (MENOLEH SEBENTAR KEMUDIAN MELANJUTKAN MENUMBUK PADI DI LESUNG YANG SUDAH USANG ITU)

Arum : Rum gak mau seperti ini buk, rum gak mau hidup kita dikejar-kejar juragan sialan itu, rum benci buk! (MATANYA MENETESKAN AIR MATA). Rum…rum.. hanya pengen ibu, bapak, adek bahagia (AIR MATA TAK KAUASA IA BENDUNG LAGI, MATANYA MEMERAH HATINYA SAKIT MELIHAT JURAGAN ITU MEMPORAK-PORANDAKAN RUMAHNYA)

Si Mbok : lha iya mau kerja kemana? (BERUSAHA AGAR AIR MATANYA TAK JATUH MEMBASAHI BUTIR-BUTIR PADI YANG IA TUMBUK)

Bapak : mau kerja kemana nduk? ( MENYELA PEMBICARAAN MEREKA).

ARUM : Rum kepingin ikut tante Narie ke mbatam bersama temen-temen rum yang lain, katanya disana kami dijanjikan akan dipekerjakan di sebuah restoran pak! (MENGUSAP AIR MATANYA)

Si Mbok :karepmu piye tonduk? (MENJELASKAN DENGAN KEBINGUNGANNYA)
TanteNarie : permisi…!!!! (MENGETUK PINTU RUMAH ARUM)

Arum : e…… tante narie monggo-monggo pinarak (MEMBENAHI KURSI-KURSI YANG BERSERAKAN)

Tante Narie : jadi kamu ikut saya rum? Besok kita berangkat ke batam, disana banyak anak-anak dari desa sini kokjangan kuwatir. (MEYAKINKAN ARUM)

Arum : iya tante si mbok dan bapak sudah megijinkan, tapi…. Apa benar arum kerja di restoran? (MENEGASKAN)

Tante Narie : ya… iya banyak kok (GUGUP SEPERTI MENYEMBUNYIKAN SESUATU)

Si Mbok : ati-ati nduk? Disana kota asing ojo neko-neko yo? (KUWATIR)

Arum : mbok, pak , rum pamit (MEMBAWA TAS DAN KARDUS) ARUM DAN TEMAN-TEMAN BERANGKAT MELALUI PELABUHAN PAGI-PAGI DENGAN BEKAL SEADANYA.

BABAK KE II

Arum : tante ini tempat apa? (MEMANDANG SEKELILINGNYA YANG TAMPAK ASING, BANYAK GADIS-GADIS BERDANDAN MENOR DAN MUSIK-MUSIK YANG MEMBUAT HATI MAKIN MEMBUAT PERASAANNYA TAK TENANG)

Tante Narie : sudah lah nurut saja pada tante kamu pasti banya uang, Kris bawa gadis ini dan bantu dia untuk berhias (MENYALAKAN API ROKOK SAMBIL DUDUK DI KURSI)
Kak Kristin : ayo ku antarkan kamu ke kamarmu. Perkenalkan saya kristin teman sekamarmu. (METEKA BERJALAN MENUJU KAMAR)

Arum : kita kerjanya apa kak kok harus dandan seperti ini ( MERASA RISIH DENGAN BAJU SEKSI YANG DIKENAKANNYA)

Kak Kristin : kamu pastitausendiri nanti (TERSENYUM)

Tante Narie : wah…wah… gadis cantik ini kamu akan menjaditambang emas disini. Bagus.. bagus.. sekarang kamu lihat bule di pojok kursi depan dan kamu tunggu dia dikamar nomor lima, layani dia, kamu pasti punya banyak uang (MENEGUK MINUMAN KERAS)

Bule : namamu siapa gadis cantik? (MEMEGANG DAGU LANCIP ARUM, WAJAHNYA BENGIS PENUH NAFSU) jangan takut gadis cantik duduk sini dekat aku.

Arum : A…A….rrum tuan! (KETAKUTAN MENCOBA DUDUK DI DEKAT LAKI-LAKI BULE KETURUNAN SINGAPURA ITU)

Bule : ayo sayaang… ayolah jangan takut…. (MENAMPAKKAN SIFAT ASLINYA)

Arum : tidak…jangan tuan… (MERINTIH MERATAPI NASIPNYA, SETELAH LAKI-LAKI BENGIS ITU MENCAMPAKKANYA DAN MENINGGALKAN SEGEBOK UANG UNTUK ARUM)

Kak Kristin : sudahlah rum, jangn menangis terus… lama-lama pastikamuakan terbiasa dengan keadaan ini, usap air matamu, minum ini mau rokok? (MENENANGKAN ARUM)

ARUM : Tt…tapi rum gak mau begini kak, tante kristin membohongiku..

Kak Kristin : yang penting sekarang kita bisa kirim uang untuk keluarga kita, aku juga duluseperti itu ( MERANGKUL ARUM YANG SEDANG MENANGIS)

Tante Narie : lho masih bengong disini? Ayo para pelanggan sudah menunggu antri aaah… (MENGHARDIK)

Arum : Rum gak kuat mbak.. rum pengen pulang rum gak tahan dengan keadaan ini batin rum tersiksa mbak… (AIR MATANYA HABIS DIMAKAN WAKTU0

Kak Kristin : tenang (SERAYA BERFIKIR) oh aku punya ide ini adatiket pesawat terbang jam 5 sore nanti akan menuju ke Jakarta. Pergilah sebelum bang dosor si bodiguart it bangun dan mencarimu

Arum : terima kasih, tapi kaaak kristin?

Kak kristin :tenanglah jangan kuatirkan aku, cepat waktunya mrndesak.

BABAK III

Johan : mau kemana mbak?? Kelihatanyya kok gelisah? (MEMPERHATIKAN TINGKAH ANEH ARUM YANG MONDAR – MANDIR TAMPAK GELISAH)

Arum : ke Jakarta mas… mas… tolong orang itu jahat.. (ARUM MELIHAT BANG DOSOR MENGHAMPIRINYA)

Johan : ada apa mbak (BINGUNG

Bang Dosor : mamu kemana kau dasar perempuan jalang, tidak tau di untung ayo… tante mencarimu… (MENGGELANDANG ARUM)

Arum : tidak….. kalian jahat, tolong…tolong saya…

Johan : ada apa ini? Siapa anda? Kenapa anda kasar pada perempuan?

Bang Dosor : dia adik saya perempuan ini tidak tau untung, dasar pelacur.. (MENAMPAR ARUM)

Arum : tidaaak.. aku bukan pelacur aku dipaksa dan dijebak, aku dipekerjakan oleh orang ini di tempat yang tek pernah aku inginkan. (MENUMPAHKAN SEMUA AMARAHNYA)

Johan : Ooooo… begitu ya? (MEMUKUL DOSORDENGAN SEKAT TENAGA DAN MERINGKUSNYA SERTA MEMBAWANYA KE KANTOR POLISI)

BABAK IV

KARENA BERITA ITU NAMA ARUM TERCEMAR DI DESANYA IA PERGI MENENANGKAN DIRI KERUMAHPAMANNYA DI JAKARTA. DISANA DIA BERUSAHA MEMPERBAIKI DIRINYA, BERIBADAH, SERING IKUT PENGAJIAN DANKEGIATAN-KEGIATAN YANG BERBAU RELIGI

Arum : mbok! Arum gak tahan dengan ejekan orang mbok, semakin hari semakin menyebar gosip ini…
Mbok : sabar nduk cah ayu… ilingo karo send nduwe urip. (MENASEHATI)
Arum : Rum berangkat pengajian mbok..
Shinta : dek Rum! Sendirian nich? Mana teman-temannya?
Arum : mbak sinta, iya sendirian mbak. Mbak sendiri gak di antarmas catur?
Sinta : tidak, mas catur sedang keluar kota tugas perusahaan. Oh ya sekarang kerja di mana?
Arum : di toko kelontong bantu paman mbak.
Sinta : mau kerja sama saya? Kebetulantoko busana muslim mbak membutuhkan karyawan.
Arum : O… dengan senang hati mbak.
Shinta : yah… nanti setelah pengajian kita langsung ke toko, bisa kan kalau hari ini kamu mulaibekerja?
Arum : iya mbak.
Hikam : Assalamualaikum…..
Arum : wa’alaikum salamada yang bisa saya bantu? (SAMBIL MENATA GAUN-GAUN DI ETALASE)
Shinta : aduh mas hikam kemana aja kok gak pernah mampir ke tokombak?
Hikam : iya mbak lagi sibuk membuat skripsi, jadi gak ada waktu untuk jalan-jalan. Oh ya mbak! Karyawan baru ni?
Shinta : iya kenalkan namanya Arum.
Hikam : saya Hikam pelanggan disini. (MATANYA MENATAP ARUM PENUH MAKNA)
Arum : (TERSENYUM) saya Arum.. ada yang perlu dibantu?
Shinta : ini rum bungkuskan kado ini (MEMERINTAH ARUM)
Hikam : eeeeh… terimakasih pelayanannya mbak, saya pulang dulu.
Shinta : TILILILILILIT hallo Assalamualaikum dengan butik syifa, ada yang bisa ku dibantu?
Hikam : wa’alaikumsalam.. saya hikam mbak.. mbah adawaktu hari ini?kalau ada kita kemu besok di butik mbak, saya mau bicara tentang mbak Arum.
Shinta : ya sampaiketemu besok di butik. Wa’alaikumsalam.
Shinta : lho pagi-pagi udah sampai disini? Ada apa sich kelihatannya penting sekali?
Hikam : mbak ini tentang arum… kurasakan diawanita istimewa dihati saya. Saya menemukan gadis idamanku yang selama ini kucari, dia sibidadari biru hatiku mbak, saya hendak meminangnya. Tolong tanyakan pada arum apakah dia sudah punya calon?
Shinta : Insya Allah dek.
Hikam : kalau begitu hikam pulang dulu ya mbak
Shinta : iya dek nanti saya sampaikan ke dek Arum yach, hati-hati di jalan sampaikan salamku ke ibu dek hikam
Hikam : iya mbak. Terima kasih sebelumnya
Shinta : lho kapan datang? (KAGET MELIHAT ARUM SUDAH LAMA DIGUDANG BELAKANG). Oh ya tadi Hikam kemari diamebicarakan dirimu, bagaimana rum? Dia ingin kamu jadi pendamping hidupmu? Jangan dijawab sekarang dipikirkan dulu..
Arum : mbak… (NADANYA LIRIH) arum punya rahasia boleh saya cerita pada mbak? Tapi saya harap mbak bisa menyimpan rahasia ini.
Shinta : iya… InsyaAllah
Arum : arum sudah gak sucilagimbak (MATANYA BERKACA-KACA) Arum pernah dipaksa untuk melayani laki-laki hidung belang di kota Batam. Arum dutipu mbak, arumdi jebak oleh orang yang membawa rum ke Batam.. (TANGISNYA TERSEDU HINGGA TAK MAMPU MELANJUTKAN CERITANYA)
Shinta : Masya Allah ……. Saya tak pernahmenduga cobaanmubegitu berat, maafkan mbak rum mbak gak pernah tahu semuanya.
Arum : E…em soalmas hikam bagaimana mbak? Arum merasa takpantas buat mas Hikam… keadaan arum sepertiini mbak, arum takut suatusaatnantibisa menimbulkan fitnah..
Shinta : justru dengan keadaanmu yangsekaran kamu harus segera menikah.
Arum : Tapi mbak?
Shinta : cobalah bicarakan baik-baik Insya Allah Hikam mau menerima… kamu yang tegar yanch… (MEREKA MENUTUP KORDEN DAN JENDELA TOKO KARNA WAKTUSUDAH MULAI GELAP)

adaan arum sepertiini mbak, arum takut suatusaatnantibisa menimbulkan fitnah..
Shinta : justru dengan keadaanmu yangsekaran kamu harus segera menikah.
Arum : Tapi mbak?
Shinta : cobalah bicarakan baik-baik Insya Allah Hikam mau menerima… kamu yang tegar yanch… (MEREKA MENUTUP KORDEN DAN JENDELA TOKO KARNA WAKTUSUDAH MULAI GELAP)


Oleh:
Koidah  Fitriyah
Penyelaras: Drs. Heru Subrata, M.Si

Analisis unsur – unsur cerita

a. Tema

Tema adalah inti atau persoalan yang mendasari isi cerita. Pada cerpen ” Romansa di Tebing Pelangi ” temanya asdalah tentang percintaan.

b. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah pelaku yang mendukung peristiwa sehingga mampu menjalin suatu cerita. Penokohan adalah sifat atau karakter yang dimiliki oleh para tokoh cerita. Dalam cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” tokoh serta penokohannya adalah sbb :

Tokoh                                                 Penokohan ( watak )

1.   Meira                                             Cantik, mudah percaya, keras kepala.

2.   Elgar                                              Baik, penyayang, suka menolong, tidak pendendam

3.   Gery                                              Sombong, sok ganteng,, mabuk popularitas,playboy

4.   Ibu                                                 Baik, penyayang, sabar.

5.   Ayah                                             Baik, penyayang, sabar.

c. Latar / Setting

Sebuah cerita pada hakekatnya adalah lukisan peristiwa atau kejadian yang menimpa atau di lakukan oleh satu atau beberapa orang tokoh pada suatu waktu tertentu dan tempat tertentu. Atas dasar hal tersebut dapat dikatakan bahwa penempatan waktu dan tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi tersebut disebut latar cerita atau setting.

Latar dalam cerpen cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah di Tebing Pelangi, di Retro, rumah Meira, rumah sakit, dan pantai Bidadari. Settingnya pada siang hari, malam hari, dan sore hari.

d. Point of View

Point of view atau sudut pandang dalam cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah sudut pandang orang pertama, di mana penulis sebagai pencerita.

e. Amanat

Amanat yang dapat dipetik dari cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah kita jangan mudah percaya dengan rayuan lelaki. Orang yang paling dekat dengan kita adalah orang yang paling mengerti kita. Jangan terlarut dalam urusan cinta, apalagi sampai lupa akan tugas dari pekerjaan atau profesi kita, karena itu dapat menimbulkan penyesalan.

f. Alur

Alur cerita dalam cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah alur maju. Di mulai dari pertemuan, kemudian terjadi konflik, penyesalan, dan akhirnya berakhir bahagia.

Alur dalam cerita ”  Romansa di Tebing Pelangi ”   : (lebih…)


Naskah Telah Dipentaskan
Pendukung Pementasan:

1. Dian Lutfi (01)
2. Ririn Purnawati (02)
3. Alfiatur Rahma Taufika (09)
4. Dyah Dewi Aminah (11)
5. Ranti Sulistyo Basuki (13)
6. Arik Umi Piji Astuti (14)
7. Atalia Nur Ichsana Arafat (17)
8. Wijayanti Kusumaningrum (25)
9. Hanif Istiani (32)
10. Novi Kurniawati (33)
11. Anita (41)

STAF PRODUKSI

Pimpinan Produksi : Drs. Heru Subrata, M.Si
Sutradara : Atalia Nur Ichsana Arafat
Asisten Sutradara : Arik Umi Piji Astuti
Sekretaris : Ririn Purnawati
Bendahara : Dian Lutfi
Seksi-seksi :
1. Penata Panggung :
• Hanif Istiani
• Anita
• Dyah Dewi
2. Penata Musik :
• Wijayanti Kusumaningrum
• Alfiatur Rahma Taufika
• Novi Kurniawati
3. Penata Rias :
• Ranti Sulistyo Basuki
• Ririn Purnawati

Pelaku :
Novi Kurniawati sebagai Perawan Bodho
Ranti Sulistyo B. sebagai Mbok Ginem
Arik Umi P.A. sebagai Pria tak dikenal
Anita sebagai Pak RT
Ririn Purnawati sebagai Bu RT
Wijayanti K. sebagai Maling
Dian Lutfi sebagai Oneng
Dyah Dewi A. sebagai Mak Yah
Hanif Istiani sebagai Inem
Alfiatur Rahma T. sebagai Yu Pi”ah

SINOPSIS

Kisah ini menceritakan tentang seorang janda setengah tua yang bernama mbok Ginem. Dia mempunyai seorang anak yang memiliki kecerdasan di bawah normal, sehingga dipanggil Perawan Bodho. Suatu ketika, karena malu pada tetangganya mbok Ginem menyuruh anaknya mencari jodoh. Akhirnya Perawan Bodho menemukan pemuda yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan ibunya. Setelah sampai di rumah, terkejutlah mbok Ginem karena ternyata pemuda yang ditemukan Perawan Bodho adalah mantan suami yang telah meninggalkannya. Karena benci dan malu, mbok Ginem tidak menceritakan pada anaknya tetapi dia bingung karena anaknya sudah terlanjur menyukai pemuda tersebut. Dalam keadaan bingung mbok Ginem memperoleh akal untuk menyingkirkan laki-laki tersebut, kebetulan lelaki itu sedang mengalami penyakit kaki busuk. Mbok Ginem yang kesal mengatakan pada Perawan Bodho bahwa lelaki itu sudah mati karena baunya sudah busuk, oleh karena itu harus segera dibuang ke sungai. (lebih…)


Penyelaras: Drs, HERU SUBRATA, M.Si

A. NASKAH DRAMA

ADEGAN 1

Narator : (Mengutip salah satu penggalan surat Kartini yang tidak dipublikasikan. Diiringi suara dentingan gitar, pelan)
Daripada mati itu akan tumbuh kehidupan baru.
Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan tahan, dan meskipun sekarang dapat juga ditahan-tahan, besoknya akan tumbuh juga dia, dan hidup makin lama makin kuat makin teguh.

Kamar Kartika

Kartika : (memakai piyama, sedang membaca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang disusun oleh Armijn Pane, di meja belajar. Airmuka serius, lampu duduk menyala.)
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dan suara panggilan untuk Kartika.
Bu Sartika : Kartika? Kartika?! Buka pintunya! Hari masihlah sore, gemarkah kau untuk tidur? Bukalah! Lekas!
Kartika : Menghela napas panjang, kemudian menutup bukunya dan bangkit untuk membuka pintu.
Bu Sartika : Astaga! Sesore ini kau sudah siap berpiyama? Bisakah kau tidak bermalas malasan saja? (Menatap Kartika tak percaya, tangannya membawa tas tangan kecil. Dibelakangnya 2 orang pesuruh menggotong sebuah benda setinggi 2 meter berbungkus kertas cokelat.)
Kartika : Ma, Kartika sedang baca buku, bukan sedang tidur. (Bela Kartika pelan, sambil mengangkat buku Habis Gelap Terbitlah Terang)
Bu Sartika : Oh terserahlah, kau pasti membaca buku cerita. Itu sama saja dengan tidur. Sia-sia belaka. Pak, bawa masuk kesini (masuk ke dalam dan menunjuk dinding) Letakkan disini saja, ya bagus, kalian bisa keluar. Terimakasih.
Setelah 2 pesuruh tersebut keluar
Kartika : Apa ini Ma? (Menghampiri benda tinggi bungkusan cokelat tersebut, penasaran)
Bu Sartika : (Duduk di tepi ranjang sambil melepas sepatu hak tingginya) Mama bawakan oleh oleh untukmu. Bukalah, kau pasti suka. Itu dari Jepara. Asli! (Tersenyum sambil menunjuk bungkusan tersebut pada Kartika.)
Kartika : lukisan RA Kartini, Ma?! (segera menyobek bungkusan tersebut dengan bersemangat).
Sartika : Bukan, itu lebih bermanfaat buatmu.
Kartika : (Tertegun mendapati sebuah bingkai kayu jati. Selebar setengah meter dan setinggi 2 meter. Sekeliling tepinya penuh dengan ukir ukiran berbentuk sulur sulur. Kaki cermin juga berukir berbentuk bonggol akar yang kokoh. Warna bingkai cokelat tua berpelitur mengkilat.)
Sartika : Kenapa? Kau tak suka cermin itu?
Kartika : Buat apa Ma? Tika rasa cermin ini terlalu besar untuk kamar ini. (berkata lirih sambil melirik bingkai kayu tersebut tanpa minat) Oh ya! (serunya mendadak) Kartika sedang baca buku RA Kartini, Ma… bagus sekali ceritanya. Mama mau baca? (menyodorkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang dengan wajah berseri)
Bu Sartika : Tika! Berhentilah baca buku buku konyol seperti ini! Sekarang bukan saatnya kau mengenang jasa Kartini. Tapi manfaatkanlah jasanya sebaik mungkin. Mana prestasi yang dapat kau berikan buat Mama? Kerjakan tugasmu dan belajarlah yang tekun. Harusnya kau bersyukur emansipasi menjadikanmu pelajar sampai sekarang dan mama seorang manager perusahaan besar.” (berucap lantang)
Kartika : Mama sama sekali tak berminat baca ini? (masih menyodorkan buku tersebut)
Sartika : Ya.. ya..ya.. Mama akan baca jika mama sudah pulang dari dinas ke Bandung 2 minggu ini. Oke?
Kartika : Tapi Mama kan baru saja pulang dari Semarang? (meletakkan buku itu kembali ke meja belajar)
Bu Sartika : Mama mendadak ditugaskan atasan untuk mengurusi proyek yang baru. Sudahlah, mama capek. Mama hendak istirahat (bangkit, sambil menguap) Oh ya, cermin itu gunakan baik baik. Kau harus banyak merias diri, berlatih berbicara di depan umum dan menjadi seorang gadis teladan yang menyenangkan.
Kartika : Maksud Mama?
Bu Sartika : Bulan depan ada pesta peresmian kantor baru Mama. Kau harus ikut, mama ingin mengenalkanmu dengan anak kolega mama. Malam Sayang.. (mengecup kening Kartika lalu beranjak keluar) (lebih…)

“PUTRI SALJU YANG TERTIDUR”

Posted: 15 Juni 2009 in Naskah

Putri Salju Yang Tertidur

Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si.

A. 1. Stage manager : Andika Dafi
2. Sekretariat : Anis Sholikah
3. Bendahara : Nency Putri Muldash
4. Sutradara : Gunawan Effendy
5. Astrada : Dian Wahyu M
6. Pencatat Adegan : Sepsi Prawesti
7. Rias Busana : Eko Setyowati
8. Tata rias : Runi Puspitasari
9. Tari / gerak : Nita Carita
10. Musik suara : Sulis Andayani
11. Panggung : Heri Fainurrahman
12. Lampu : Heri Fainurrahman
13. Effect : Erna Dewi Widia

B. SINOPSIS CERITA
Cerita “Putri Salju yang tertidur” merupakan cerita fiktif dalam cerita ini menggambarkan kisah seorang putri salju yang dibuang ke hutan oleh kakak kandungnya sendiri yaitu putri salju, karena di merasa iri kepada putri salju, karena di merasa bahwa Raja dan Ratu akan memberikan jodoh yang lebih baik kepada putri Salju. Putri Salju setelah dikasih minuman oleh Putri Cemara akhirnya tertidur dan kemudian dibuang di hutan 7 Kurcaci. Ditengah hutan itu Putri Salju yang tidur itu ditemukan oleh 7 Kurcaci yang kemudian mengadakan sayembara untuk dapat membangunkan Putri Salju yang akhirnya dijadikan pendamping hidupnya.
Pangeran yang ikut sayembara harus melalui 4 tantangan dari 7 Kurcaci yaitu Kurcaci Pintar, Kurcaci Penyanyi, Kurcaci Lemot, Kurcaci Diplomat, Kurcaci Centil, Kurcaci Makan, Kurcaci Tidur. Dan Pangeran tersebut harus lulus dalam 4 tantangan agar mempunyai kesempatan untuk membangunkan Putri Salju. Setelah beberapa pangeran gagal, suatu hari ada 1 pangeran yang lolos dalam sayembara itu, yaitu Pangeran dari Kerajaan Moestopo dan sesuai dengan petunjuk dalam botol racun yang diminum Putri Salju, Pangeran harus bernyanyi lagu bintang kecil vokal ‘v’ sambil mengitarinya dengan berlompat-lompat 3 kali kemudian mencium Putri Salju yang akhirnya terbangun dan bertemu dengan Pangeran. Akan tetapi tak berapa lama Pangeran merasa haus dan meminum racun dalam botol yang ia temukan dan setelah minum itu Pangeran merasa ngantuk dan tertidur Pulas Putri Salju jadi bingung dan memanggil-manggil pangeran yang udah tidur.

C. SKENARIO
“PUTRI SALJU YANG TERTIDUR” (lebih…)

“JOKO BEREK MENCARI AYAH”

Posted: 15 Juni 2009 in Naskah

Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si.
Sutradara: Novian Rindasari Palupi

joko berek1. Pemusik
a. Rebana : Anik Zuyyina
b. Kentongan : Ummu Haniatul Faizah
2. Pemain
a. Pendongeng : Tika Pancawati
b. Dewi Sangkrah : Dwi Ana Susanti
c. Joko Berek : Marjoko
d. Kakek : Andri Sucahyo
e. Parman : Puji Lestari
f. Parno : Rohmatun Khamidah
g. Sawunggrono : Umi Rodiyah
h. Sawungsari : Rina Setyarini
i. Adipati Jayengrana : Ely Kristanti
3. Penari
a. Jago Joko Berek : Hesti Widha Kurnia
b. Jago Parman & Parno : Eni Nurhayati
c. Penari panahan : – Dwi Ana Susanti
- Rohmatun Khamidah
- Eni Nurhayati

TIM PRODUKSI
1. Sutradara : Novian Rindasari Palupi
2. Sie. Rias dan Busana : – Novian Rindasari Palupi
- Ratih Yanuarti
- Mariza Febriana
3. Sie. Dekorasi : – Marjoko
- Hesti Widha Kurnia

ALAT MUSIK:
1. Rebana
2. Kentongan

NASKAH JOKO BEREK MENCARI AYAH

BABAK I
PROLOG: Oleh pendongeng
Ada sebuah desa yang letaknya tak jauh dari Kadipaten Suroboyo, desa mana itu?…
Desa itu bernama “Lidah Ndonowati” desa terpencil dekat hutan lebat belantara. Masuk wilayah Lakarsantri. Di situlah ada keluarga kecil sejahtera yang bernama “Dewi Sangrah, satu rumah bersama kakek, dan anaknya yang bernama “Joko Berek ya Sawunggaling” yang hampir setiap harinya kesana kemari membawa ayam jago.

DIALOG :
1. Kakek : Nduk Dewi Sangrah, makin hari, makin tahun, anakmu Si Joko Berek makin dewasa.
2. Dewi Sangkrah : Hiya, kanjeng romo.
3. Kakek : Begini Dewi Sangkrah, saya dengar di Katemenggungan Surabaya ada sayemboro! Barangsiapa yang bisa menembak umbul-umbul Tunggulyudo, akan diangkat sebagai Adipati Jayengrono.
4. Dewi Sangkrah : Hiyo Kanjengromo…bagaimana kalau si Joko Berek disuruh mengikuti kanjengromo
5. Kakek : Hiya… Hiyo, coba ditawari dulu!
6. Dewi Sangkrah : Joko Berek!
7. Joko Berek : Ada apa buk?
8. Dewi Sangkrah : Begini Joko Berek, di katemenggungan Suroboyo ada sayemboro.
9. Joko Berek : Sayemboro apa buk?
10. Dewi Sangkrah : Joko Berek! Sayembara yang dimaksud adalah menembak umbul-umbul Tunggul Yudo, bagi siapa yang menang. bakal diangkat. menjadi Adipati di katemenggungan Suroboyo.
11. Joko Derek : Ibu! Saya akan mencoba mengikuti, namun reyang mohon doa restu, agar dalam mengikuti sayembara nanti reyang menang ibu!
12. Dewi Sangkrah : Hiya pasti Joko Berek! Joko berek harus selalu ingat kepada ibu! Pada waktu Joko Berek menembak sebutlah nama Dewi Sangkrah tiga kali Joko Berek!
13. Joko Berek : Hiya ibu! Joko Berek akan segera berangkat mohon doa restunya ibu!
14. Dewi Sangkrah : Hiyo tak restui anakku! (lebih…)


A. STAF PRODUKSI PEMENTASAN

1. Pimpinan Produksi : Drs. Heru Subrata, M.Si.
2. Sutradara : Siti Halimah
3. Astrada : Istiqomah
4. Penata Musik : Hariroh
5. Busana / Tata Rias : Lusi Ratnaningsih, Husnol Hotimah
6. Pentas / Panggung : Suedi, Nurul Hasanah

Pemain:
1. Bawang Merah
2. Bawang Putih
3. Ibu Bawang Merah
4. Bapak Bawang Putih
5. Pangeran
6. Pengawal I, II, dan III

B. SINOPSIS CERITA

BAWANG MERAH BAWANG PUTIH

Alkisah di sebuah desa hiduplah satu keluarga yang terdiri dari: Ibu, Bapak dan seorang anak perempuan yang bernama “Bawang Putih”, mereka hidup bahagia.
Pada suatu hari musibah menimpa keluarga mereka, Ibu si Bawang Putih sakit parah. Ketika itu bapaknya sedang berdagang, Ibu si Bawang Putih tidak bisa diobati akhirnya meninggal dunia.
Si Bawang Putih sangat sedih sekali karena ditinggalkan Ibunya, sedangkan Bapak yang disayangi menikah lagi dengan wanita lain yang telah mempunyai anak perempuan yang bernama “Bawang Merah”. Bawang Putih semakin hari semakin sedih dan menderita karena disiksa oleh Ibu dan saudara tirinya.
Pada suatu hari lewatlah seorang pangeran yang tampan dia melihat Bawang Putih sedang mencuci baju di sungai, dia melihat kecantikannya dan kemudian jatuh hati padanya. Pangeran mengejar si Bawang Putih kerumahnya tetapi dihalangi oleh saudara tirinya, tapi karena kebaikan si Bawang Putih akhirnya dilamarlah oleh pangeran itu dan akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya. (lebih…)

“RAMA NYANA SHINTA”

Posted: 14 Juni 2009 in Naskah

KERABAT KERJA:

Staf Produksi:
Pimpinan Produksi : Drs. Heru Subrata, M.Si.
Sutradara : Dwi Da’watus Sholihah
Asisten Sutradara : Suci Nur Amaliyah
Sekretaris : Talitha A.S.
Bendahara : Andhika Novianti

Para Pemain:
Yoyok Arianto sebagai Rama
Talitha A.S. sebagai Shinta
Ifing Hendri Chandra sebagai Laksmana
Hilda Andriani sebagai Rahwana
Ahmad Najib sebagai Anoman
Suci Nur Amaliyah sebagai Kakek
Bahri sebagai Maricha
Madinatul M. sebagai Brata
Tarian yang disajikan :
1. Tari Kijang
• Denik Indrawati
• Nita Aprilia
• Restu I.
• Lailatul Wahyu
2. Tari Anoman
• Ahmad Najib
3. Tari Shinta
• Talitha A.S.
• Yuni Widyawati
• Sri Nastiti
• Nani Agustina
4. Tari Api
• Denik Indrawati
• Nita Aprilia
• Restu I.
• Lailatul Wahyu

Penata Lagu :
• Sabbikhisma
• Puji Astuti
• Purwanti
• Andhika Novianti
• Suci Nur Amaliyah
• Yuni Widyawati

Penata Rias & Busana :
• Talitha A.S.
• Ifing Hendri Candra Mawarni

Konsep Busana :
Rama : Memakai Jarik dan celana hitam dengan aksesoris seperti Mahkota, kalung, gelang tangan dan sabuk emas.
Shinta : Memakai jarik, kemben, deker coklat dengan aksesoris seperti Mahkota, kalung, anting, gelang tangan dan sabuk emas.
Laksmana : Memakai jarik, deker coklat, dengan aksesorisnya seperti mahkota, kalung, gelang tangan dan sabuk emas.
Rahwana : Memakai jarik, deker coklat, celana hitam, dengan aksesoris seperti mahkota, kalung, gelang tangan, dan sabuk emas.
Anoman : Memakai jarik, deker putih, celana putih, dengan aksesoris Mahkota putih, kalung, gelang tangan dan sabuk emas.
Kakek : Baju compang-camping dengan aksesoris Tongkat
Maricha : Memakai jarik, deker coklat, rompi dan celana hitam.
Brata : Memakai jarik, deker coklat, rompi dan celana hitam.
Penari Kijang : Deker hitam, celana hitam, kaos hitam, dengan aksesoris bando tanduk, tempelan kertas emas, dan sabuk emas.
Penari Shinta : Jarik, kemben, deker coklat dengan aksesorisnya kalung, gelang tangan dan sabuk emas.
Penari Api : Deker hitam, kaos merah, celana hitam, dengan aksesorisnya sabuk emas, mahkota dan kertas untuk tangan.

Konsep Rias :
Rama : make up minimalis, blas on agak merah.
Shinta : make up minimalis, rambut kriting spiral
Laksmana : make up minimalis, rambut terurai
Rahwana : make up tebal, berkumis
Anoman : make up serba putih dengan memakai kapas sebagai bulu
Kakek : make up seperti kakek tua dengan garis keriput, kumis, jenggot dan rambut putih
Maricha & Brata: make up minimalis
Penari kijang : make up minimalis, rambut dikepang, Blas on merah bulat
Penari Shinta : make up minimalis, rambut terurai
Penari Api : make up minimalis, rambut dikepang, Blas on bulat merah

Setting : Dwi Da’watus Sholihah, Sri Nastiti, Madinatul M.
Background : Kain menggambarkan hutan, ditambah tanaman-tanaman dan tenda.

Musik : Karawitan
Musik ini dilantunkan pada waktu :
1. Pembuka
2. Rama dan Shinta masuk
3. Rahwana Masuk
4. Tari kijang
5. Anoman Masuk
6. Rama berdoa
7. Tari shinta
8. Tari Api
9. Penutup

Sinopsis:

“RAMA NYANA SHINTA”

Drama ini menceritakan salah satu bagian cerita pewayangan Ramayana karya legendaris Walmiki yang akan kami suguhkan dengan sedikit sentuhan modern dan diiringi dengan tari.
Suatu hari Rama diutus oleh Prabu Janaka untuk bertapa di hutan Dandaka yang kemudian ditemani oleh istrinya yaitu Shinta dan adiknya Laksmana. Kemudian mereka bersama – sama pergi ke hutan Dandaka untuk melaksanakan amanah dari Prabu Janaka. Akhirnya setelah menjelang siang mereka sampai juga di hutan dandaka. Sesampainya di hutan, kemudian mereka mendirikan tenda dan tanpa disadari mereka diintai oleh Rahwana dan kedua prajuritnya Maricha dan Brata. Rahwana dan kedua pengikutnya bingung mencari ide untuk menyingkirkan Rama dan laksmana dari sisi shinta agar dia bisa membawa shinta dengan mudah ke Istananya. Akhirnya Rahwana punya ide, dia menunjuk salah satu prajuritnya yaitu Maricha yang akan dirubahnya menjadi seekor kijang emas dan tiga batang kayu untuk dijadikan kijang – kijang hitam yang menemani kijang emas tersebut untuk menarik perhatian Shinta.
Kijang emas dan tiga kijang hitam menari-nari di depan Shinta, Laksmana dan Rama. Akhirnya shinta pun tertarik dengan kijang emas tersebut, dan meminta Rama menangkap kijang emas itu untuknya dan rama pun memburu kijang emas itu dan menitipkan istrinya shinta kepada adiknya Laksmana. Ketika Rama pergi, Shinta dan Laksmana membereskan barang-barangnya . ketika itu juga Rahwana dan prajuritnya Brata kembali bingung mencari ide bagaimana menyingkirkan laksmana dari sisi shinta. Akhirnya brata mempunyai ide, dia akan merubah suaranya menjadi suara Rama dan akan berteriak-teriak minta tolong, pasti laksmana akan pergi menolong Rama. Karena Rahwana ingin melakukannya sendiri, rahwana pun berteriak minta tolong seakan – akan Rama yang meminta tolong. Shinta dan Laksmana pun mendengar teriakan itu akhirnya shinta meminta laksmana pergi menolong Rama. Laksmana pun bersedia tapi sebelumnya Laksmana sudah membuatkan bundaran sakti agar shinta tidak bisa dijamah siapapun. Sebelum laksmana berangkat dia berpesan kepada Shintauntuk tidak keluar dari bundaran sakti tersebut karena apabila shinta keluar dia tidak akan bisa masuk lagi ke bundaran sakti itu.
Laksmana pergi dan shinta pun sendirian berada di hutan dengan lingkaran sakti yang mengitari tubuhnya. Di samping itu rahwana dan prajuritnya brata semakin bingung memikirkan bagaimana cara mengeluarkan shinta dari lingkaran itu. Akhirnya Rahwana pun mempunyai ide, dia akan menarik simpati shinta dengan menjadi sosok kakek yang tua renta. Kemudian rahwana pun merubah dirinya menjadi kakek yang tua renta dan menghampiri shinta. Kakek tersebut minta makan pada shinta. Karena melihat kakek tersebut yang sangat kelaparan, shinta pun mengambil makanan dengan keluar dari bundaran sakti tersebut. Ketika dia kembali setelah mengambil makanan dia sudah melihat sosok Rahwana yang menjelma jadi kakek tadi. Sinta pu akhirnya di sirep danshinta pun dengan mudah dibawa oleh rahwana.
Tidak lama kemudian rama pun datang dan bingung mencari istrinya shinta dan laksmana. Karena rama diperintahklan prabu janaka untuk bertapa di hutan dan dilarang meninggalkannya. Ia pun menelpon Anoman untuk meminta pertolongan. Tidak lama kemudian anoman pun datang. Anoman berangkat untuk menyelamatkan shinta dan rama tinggal di hutan sendirian serta terus berdoa untuk keselamatan istrinya. Rama pun terkejut ketika rahwana kembali dengan tangan hampa. Dia juga mengatakan rahwana sangat kuat melebihi dirinya. Anoman juga membawakan pengganti shinta untuk Rama. Anoman pun memanggil gadis tersebut. Gadis itu keluar dengan tiga penari. Setelah selesai menari gadis tersebut mendekati Rama dan membuka cadarnya. Ternyata gadis tersebut adalah Shinta, rama kaget dan bahagia. Setelah mereka kembali bersatu anoman meninggalkan mereka menuju khayangan. Tapi tiba-tiba rama sedih dan diam seribu bahasa, shinta pun bertanya tentang kesedihannya. Rama menjawab bahwa dia masih ragu akan kesucian Shinta. Dari itu Rama ingin membuktikan dengan meminta shinta berjalan di atas kobaran api yang dibuat Rama sendiri. Setelah berjalan di atas kobaran api tersebut, shinta tidak terbakar malah dia semakin cantik akhirnya Rama pun menerima shinta kembali.Akhirnya mereka berpegangan tangandan tiba-tiba laksmana datang mengagetkan mereka. Maka berakhirlah cerita ini dengan pertemuan ketiganya.
Drama ini akan menceritakan salah satu bagian cerita dari cerita pewayangan Ramayana karya Legendaris Walmiki yang akan kami suguhkan dengan sedikit sentuhan modern dan diiringi dengan tari.
Suatu hari Rama diutus oleh Prabu Janaka untuk bertapa di hutan Dandaka, yang kemudian ditemani oleh istrinya yaitu Shinta dan adiknya Laksmana. Mereka bersama-sama pergi ke hutan Dandaka untuk melaksanakan amanah dari Prabu Janaka. Akhirnya setelah menjelang siang mereka sampai juga di hutan dandaka.
Skenario:

(Setting di hutan Dandaka)
Rama : “Dinda, sepertinya kita sudah sampai, apa dinda capek ?”
( Tanyanya dengan lembut )
Shinta : “Tidak kakanda, selama aku ada disampingmu aku tidak akan pernah merasa capek” ( jawab shinta dengan lemah lembut dan seakan menyanjung Rama )
Rama : “Ah….. ! Dinda ini bisa aja ! aku jadi tersandung”
( jawabnya dengan tersipu )
Shinta : “Lho…. ! kok tersandung Kakanda ?”
Rama : “Eh… tersanjung maksud saya !”
Shinta : “Oh ……. Tersanjung ! aku kira kakanda tersinggung dengan perkataanku”
Rama : “Ya tidaklah istriku, kata-katamu itu….. ! Hem … Begitu begitu indah dan sangat menyejukkan jiwaku.”
Shinta : “Ah…Kanda !” ( tersipu malu sambil memukul Rama )
Rama : “Aduh dinda …! Dari tadi kok kita asyik menyanjung – nyanjung diri sendiri, sampai – sampai kita lupa kalau kita ditemani adik kita tercinta.”
Shinta : “Oh … iya ! sini adikku, kenapa masih disitu ( sambil menghampiri ), maaf ya dik laksmana, bukan maksud kami…..!”
( belum selesai ngomong kemudian dipotong oleh laksmana )
Laksmana : “sudahlah kak shinta, tidak apa – apa ! lagi pula aku juga senang melihat keakraban kak rama dan kak shinta.”
Shinta : “kamu memang adik yang baik laksmana. Kanda sangat beruntung punya adik sebaik dik Laksmana … !” ( sambil menengok ke rama )
Rama : “Betul Dinda … ! Laksmana memang adik yang sangat baik”
( sambil menepuk pundak Laksmana )
Laksmana : “Sudahlah, kak shinta dan kak rama tidak usah memuji aku terus. Nanti keterusan sampai malam kita tidak punya tempat untuk istirahat lagi.”
“Ehm … !! Kak, bagaimana kalau kita mendirikan tenda disini saja.” “Sepertinya disini tempatnya sangat teduh dan lapang .”
Rama : “Ehm … !” ( Sambil mengangguk – anggukkan kepalanya )
“Bagaimana menurut dinda ?”
Shinta : “Iya kanda , betul kata dik laksmana, disini tempatnya sangat teduh dan lapang, lebih baik kita mendirikan tenda disini saja.”
Rama : “Baik ! kalau begitu kita mendirikan tenda disini !” (ucapnya dengan tegas )
“Dik Laksmana, Tolong ambilkan tendanya di tas !”
Laksmana mengambil tenda , kemudian mereka mendirikan tenda bersama – sama ditengah hutan dandaka. Shinta melihat suami dan adiknya kelelahan, kemudian dia mengambilkan minum untuk mereka.
Shinta : “Kakanda , kakanda pasti cuapek . nich diminum dulu airnya, supaya capeknya hilang .” ( Sambil mengusap dahi rama dengan selendang )
“Adik Laksmana juga, istirahat dulu ! nanti diteruskan lagi , ini … diminum airnya.”
Laksmana : “Iya .. kak shinta ! sebentar lagi, nanggung … !”( Dijawabnya dengan semangat )
Rama : “Sudahlah dik … ! benar apa yang dikatakan kakakmu shinta, istirahat dulu nanti diteruskan !”
Laksmana : “Ya sudaaah … aku istirahat” ( menaruh kerjaannya dan langsung menghampiri rama dan shinta )
Ketika mereka telah asyik istirahat ternyata tanpa mereka sadari, mereka diintai oleh Rahwana dan dua pengikutnya. Rahwana bingung bagaimana cara menyingkirkan rama dan laksmanadari shinta. Supaya dia bisa mendapatkan shinta. Wanita yang selama inmi dia kejar-kejar karena ia anggap shinta merupakan jelmaan Dewi Widowati . akhirnya Rahwana mendapatkan ide, dia menunjuk salah satu pengikutnya.
Rahwana : “Ehm … ! mereka sedang enak-enak istirahat, kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menarik perhatian mereka .”
( ucapnya kepada dua pengikutnya )
“Aku tau …. !” ( ujarnya seakan-akan telah menemukan ide )
“Maricha …..!” ( panggilnya )
Maricha : “Iya Baginda … !”
Rahwana : “Maricha, akua akan merubahmu menjadi seekor kijang emas dan …”
(bingung mencari-cari sesuatu. Dan akhirnya mendapat 3 potong kayu)
“Nah … ini ada kayu ! Tiga kayu ini akan kujadikan tiga ekor kijang hitam yang akan menemanimu !”
Maricha : “Maksud Baginda … ?”
Rahwana : “Begini , setelah kamu nanti aku rubah menjadi seekor kijang emas, aku perintahkan kamu untuk menarik perhatian mereka dengan tarian kijang, dan tiga ekor kijang hitam dari kayu ini akan mengikuti kamu menari !”
Maricha : “trus.. setelah hamba menari, apa yang harus hamba lakukan baginda ?”
Rahwana : “Aduh …. ! begok banget sih loh. Kathrok – kathrok !setelah kamu menari dan kamu melihat mereka sudah tertarik untuk memburu kamu. Kamu langsung lari saja supaya rama dan laksmana lari mengejar kamu dan akhirnya shinta ditinggal sendirian. Nah … setelah itu aku bisa membawa lari shinta ! paham … ?”
Maricha : “oh … begitu toh baginda !baik baginda saya siap menjalankan semua perintah baginda.”
Rahwana : “Baguuss … ! sekarang kamu berdiri disitu dan pegangi kayu ini.aku akan merubah kamu dan kayu – kayu itu menjadi kijang. SIAP … ?”
Maricha : “Siap Baginda !”
Rahwana : “Houm ……” ( sambil komat-kamit membaca mantra ) Hap … !
Kemudian dalam sekejap jadilah maricha seekor kijang emas dan tiga potong kayu itu menjadi 3 ekor kijang hitam. Setelah itu kijang-kijang tersebut langsung menampakkan diri dihadapan Rama, shinta dan lakasmana dengan membawakan tarian kijangyang sangat indah dan lincah sekali.
Shinta : “Kanda, dik laksmana, lihat ! kijang-kijang itu cantik sekali”
( sambil menunjuk kijang-kijang yang menari )
Rama : “Iya Dinda !”
Laksmana : “Iya Kak, kijang-kijang itu lucu sekali !”
Shinta : “Kanda, lihat ! ada kijang yang bertanduk emas, ku ingin sekali kijang emas itu kanda ! kanda mau kan menangkap kijang itu untukku ?”
Rama : “Apa kamu sangat menginginkannya istriku ?”
Shinta : “iya kanda ! kanda mau kan menangkapnya untukku?”
( dengan nada yang sangat berharap )
Rama : “Baiklah, demi kau istriku yang sangat aku sayangi dan aku cintai, aku akan memburu kijang emas itu untukmu” ( sambil menyiapkan perlengkapan untuk memburu ) “Dan kamu adikku, tolong jaga kakakmu shinta selama kakak pergi memburu kijang itu. Karena aku takut nanti Rahwana tiba-tiba dating dan membawa pergi kakakmu shinta. Kamu tau sendiri kan kalau selama ini rahwana terus saja mengejar-ngejar kakakmu shinta kemanapun kakakmu pergi.”
Laksmana : “Iya kak ! saya mengerti , tenang saja kak aku akan menjaga kak shinta sampai titik darah penghabisan.” ( sambil mengepalkan tangan keatas )
Rama : “Waduh adikku! kata-katamu kaya’ orang mau berjuang saja. Baiklah adikku, aku percaya kepadamu, pokoknya jangan kemana-mana sampai nanti aku kembali.”
Shinta : “Hati-hati ya kanda .. ! aku yakin kanda pasti akan segera kembali dengan membawa kijang emas itu untukku” ( sambil mencium tangan rama ).
“Kanda, aku sangat mencintaimu” ( sambil memegangi tangan Rama )
Rama : “aku juga sangat mencintaimu dinda !”( mengusap rambut sinta )
“Ya sudah , aku berangkat sekarang, nanti keburu kijangnya kabur .”
“Jaga kakakmu yach !” ( sambil menepuk pundak laksmana )
Kemudian Rama langsung berlari menuju arah kijang pergi
Laksmana : “Iya kak, percaya sama saya. Hati-hati kak !”
( sambil melambaikan tangan )
Tiba – tiba Rama berhenti
Rama : “Oh ya dik … ! tolong itu barang-barangnya dimasukkan kedalam tenda.”( suaranya dari kejauhan )
Laksmana : “Beres kak …. !”
Setelah Rama pergi, shinta dan laksmana membereskan barang-barang kedalam tenda. Disamping itu rahwana bingung memikirkan laksmana yang tidak ikut memburu kijang emas itu.
Rahwana : “Aduhhh…. ! bagaimana ini Brata, kenapa laksmana tidak ikut memburu kijang bersama rama. Padahal bayanganku laksmana ikut mengejar kijang emas itu. Nah … ! sekarang bagaimana supaya laksmana terpisah dengan shinta ?”
“Brata … ! kamu kok diam saja , Bantu aku mikir donk !”
Brata : “Lho… dari tadi hamba diam ini juga lagi mikir baginda !”
Rahwana : “Oo….. ! ya sudah sekarang kita pikirkan bersama.”
Mereka berdua berfikir bagaimana supaya laksmana meninggalkan shinta sambil mondar-mandir. Sejenak mereka berfikir !
Brata : “Nah ….. !”
Rahwana : “Hus … ! jangan teriak-teriak, nanti mereka dengar!”
Brata : “Maaf baginda ! kelepasan baginda , hamba sudah menemukan caranya.”
Rahwana : “iya , bagaimana ?”
Brata : “begini baginda” ( sambil berbisik )
Rahwana : “Bagus ! ide kamu bagus sekali, ternyata kamu pintar juga brata ?”
Brata : “Lho… iya dong baginda! Gini-gini hamba lulusan D-II PGSD UNESA gitchu lho … !”
Rahwana : “Lho… iya ta ? sama dong kaya’ aku !”
Brata : “wah … sama dong kita baginda ?”
Rahwana : “Heh , enak aja lho mau nyamakan aku dengan kamu, sudah sudah kok malah bercanda ( serunya dengan keras ) sekarang aku akan merubah suaraku menjadi suara rama. Hem … Shinta ! kau pasti akan jadi milikku!”
( serunya dengan yakin )
Setelah shinta dan laksmana selesai membereskan semua barang-barang mereka kedalam tenda, tiba-tiba terdengar teriakan ….
Rahwana : “Tolong … ! Tolong …..!dik laksmana tolong aku .”
( teriaknya dengan suara menyerupai rama )
Shinta : “Dik laksmana ! apa kamu mendengar sesuatu ?”
Laksmana : “iya kak ! itu kak rama, bahkan teriakan itu memanggil namaku” ( serunya dengan sangat yakin pula ) “aku yakin itu kak rama ! kak rama butuh bantuan .aku harus menolongnya” ( ucapnya dengan nada khawatir )
Shinta : “iya dik … ! kamu pergi saja menolong kakanda sekarang biar aku disini saja menjaga barang-barang kita”
Laksmana : “Tapi kak ! aku sudah berjanji pada kak rama untuk menjaga kak shinta”
Shinta : “Tidak apa-apa dik ! sekarang kakanda membutuhkan bantuan dik laksmana. Dik laksmana tenang saja. Aku disini baik-baik saja !”
Laksmana : “Baik aku akan menolong kak rama. Tapi aku akan membuatkan perlindungan dulu untuk kak shinta”
Laksmana membuat sebuah bundaran sakti untuk shinta
Laksmana : “Kak shinta , tolong sekarang kakak masuk dalam bundaran ini !”
Shinta : “Ini apa dik ?”( sambil masuk kedalam bundaran sakti ) “kok dik laksmana malah ngajak main ?”
Laksmana : “Houm …… !” (membaca mantra) “hap … !”
“Nah sekarang bundaran ini sudah menjadi bundaran sakti”
Shinta : “Bundaran Sakti ?”
Laksmana : “Iya , bundaran sakti ini tidak bisa ditembus atau dimasuki oleh siapapun, jadi kak shinta tidak akan bisa disentuh oleh siapapun. Tapi kalau kak shinta keluar, kak shinta tidak akan bisa masuk lagi kedalam bundaran ini.”
Shinta : “ya sudah kalau begitu ! sekarang kamu sudah bisa tenang kan meninggalkan aku ?”
Laksmana : “Iya kak, tapi kak shinta harus janji tidak akan keluar dari bundaran sakti ini. Sampai aku dan kak rama kembali !”
Shinta : “Iya dik , kak sinta janji, sekarang kamu berangkat selamatkan kak Rama ya ?”
Laksmana : “Baik, aku berangkat! Doakan ya kak aku akan segera kembali” ( pamit dengan membawa seperangkat alat memanah )
Setelah laksmana pergi, Rahwana bukannya langsung bisa membawa shinta pergi, tetapi dia malah bingung memikirkan bagaimana mengeluarkan shinta dari bundaran sakti itu dan membawa shinta ke istananya. Shinta tetap berada didalam bundaran sakti dan terus berdoa kepada sang dewa untuk suami dan adiknya . sementara itu rahwana semakin bingung memikirkan bagaimana caranya bisa membawa shinta pergi.
Rahwana : “Aduh …! bagaimana ini ? aku kira setelah laksmana pergi aku langsung bisa membawa shinta , tapi sekarang aku malah tidak bisa menyentuh shinta sama sekali” ( sambil mondar-mandir dan mengepalkan tangannya )
“Brata, bagaimana ? apa kamu tidak punya ide lagi ?”
Brata : “Wah … baginda, sepertinya kali ini hamba bener-bener tidak tau bagaimana caranya mengambil dewi shinta dari bundaran sakti itu, karena hamba yakin tidak tidak akan mampu menembusnya !”
Rahwahna : “Ah … Gimana sich kamu itu ! katanya ngaku lulusan PGSD, ada masalah gini aja bingung .”
Brata : “Podhoo … ! Baginda juga bingungkan?”
Rahwana : “Oh… jadi kamu ngledek aku ?Iya … !” ( bentaknya )
Brata : “Ampun Baginda ! hamba tidak bermaksud seperti itu !”
Rahwana : “Ya sudah sekarang kita mikir lagi !”
Mereka kembali mondar-mandir
Rahwana : “Nah …! Hus…. Hust ….Hust …” ( sambil menutup mulutnya )
“Aku sekarang punya ide !”
Brata : “iya baginda” ( mendekati rahwana )
Rahwana : “Begini !” ( sambil berbisik )
Brata : “siap baginda ! hamba siap melaksanakannya”
Rahwana : “Tidak, kali ini biar aku yang melakukannya, biar nanti aku bisa langsung membawa shinta pergi ke Istanaku”
Brata : “Oh … baik baginda !” ( sambil mengangguk-anggukkan kepalanya )
Rahwana : “Tapi kamu tetap disini mengawasi, siapa tau rama dan laksmana nanti kembali. Dan kamu harus menghadangnya, apapun caranya !”
Brata : “Siap baginda !”
Rahwana : “bagus … sekarang aku akan merubah wujudku menjadi seorang lelaki yang tua renta. Houm….. !” ( membaca mantra ) “Hap …!”
Dalam sekejap jadilah rahwana seorang lelaki yang tua renta yang siap meluluhkan keyakinan shinta
Kakek : “Baik, aku akan kesana dan kamu jaga disini brata !”
Brata : “Baik baginda, Good luck baginda !”
Rahwana ( kakek ) menuju tempat shinta dengan wujudnya yang tua renta dan berjalan dengan tongkat dengan punggungnya yang agak membungkuk.
Shinta : “kakek , kenapa kakek ada ditengah hutan sendiri? Kakek kan sudah tua, kenapa tidak di rumah saja ?”
Kakek : “kakek sedang mencari makan cucuku ! sudah satu minggu kakek tidak makan dan tidak minum.”
Tiba-tiba kumis kakek jatuh
Shinta : “Lho kek… ! kumisnya jatuh”
Kakek : “Hah… mana ?”( meraba kumisnya kemudian mencarinya )
Shinta : “Itu kek, ……”
Kakek : “Ya… mungkin kumisku tidak pernah mendapatkan nutrisi saputra. Jadinya sampai rontok seperti ini !”
( sambil menempelkan kembali kumisnya )
Shinta : “Kakek ini bisa saja … !” ( sambil tersenyum )
Kakek : “Iya cu….. ! aku yakin lama kelamaan semua rambut yang ada ditubuhku akan rontok semua karena tidak pernah aku beri makan”
Shinta : “aduh kek … ! masa’ sampai begitu ?” ( ujarnya dengan sangat iba )
Kakek : “Iya cu ….! Tolong kakek cu … , berikan kakek sedikit makan dan minum agar kakek dapat bertahan hidup.”
Shinta : “Tapi kek …..!”
Kakek : “tolong cu ….! Kalau aku tidak makan aku yakin sebentar lagi aku akan mati.”
Karena shinta merasa kasihan kepada kakek itu yang merupakan jelmaan dari rahwana, akhirnya dia keluar dari bundaran sakti untuk mengambil makanan dan minuman.
Shinta : “Baik kek …! sekarang kakek tunggu disini dulu. Aku akan mengambilkan makanan dan minuman untuk kakek.”
Kakek : “terima kasih cu …. !kamu memang gadis yang baik, semoga Dewa membalas kebaikanmu.”
Shinta : “terima kasih kek … ! sebentar ya kek … !”
shinta masuk ke tenda mengambil makan dan minum. Kakek yang tua renta itu pun berubah wujud menjadi Rahwana . shinta keluar dan dia langsung kaget melihat kakek tua itu menjadi Rahwana, saking kagetnya, barang yang ada di tangannya langsung dijatuhkan.
Rahwana : “Ha…ha…..ha…..ha…… !”
Shinta : “Hah, Rahwana ! Jadi kamu ………”
Rahwana : “iya … ! aku adalah kakek tadi, lalu kijang dan suara minta tolong tadi semuanya adalah Rekayasaku. Ha … ha… ha… !” ( bangganya )
Shinta : “Kamu sangat licik Rahwana. Sekarang kamu mau apa ?”
Rahwana : “Aku mau kamu ikut dengan aku !”
Shinta : “Tidak… ! aku tidak mau …!”
Rahwana : “Tidak mau? Ya sudah , Hap…. !”
Rahwana menyihir dewi shinta sehingga dia pun pingsan. Shinta pun di bopong dan dibawanya pergi.
Rahwana : “Ayo brata … !kita tinggalkan tempat ini.”
Beberapa lama kemudian, Rahwana membawa shinta pergi. Akhirnya Rama pun datang.
Rama : “Istriku …. ! Dinda ….. ! Kanda datang. Tapi maaf dinda,aku tidak dapat menangkap kijang emas yang dinda inginkan, dinda tidak marahkan ?”
Melihat shinta tidak juga keluar dari tenda, akhirnya rama pun mencari shinta ke dalam tenda.
Rama : “istriku …..! istriku …..! Dinda …. ! kamu dimana ?”
( mencari di semua sudut )
Rama : “Laksmana … ! Laksmana adikku. Kamu juga dimana?”
Setelah berputar-putar akhirnya dia menemukan pecahan tempat minum.
Rama : “Hem… ! ini pasti ulah Rahwana. Aku harus segera menyelamatkan shinta, sebelum shinta di apa-apakan oleh rahwana.”
“Tapi …. ! selama aku harus bertapa di hutan ini, aku tidak boleh keluar dari hutan Dandaka ini. Sekarang aku harus bagaimana ?”
( bingung dan mondar-mandir )
“Nah aku tau …! Anoman, ya… anoman pasti bisa membantuku .”
Rama langsung menghubungi anoman HP. Thit thut thit thut …….. !
Rama : “Hallo … ! kakang Anoman ?”
Anoman : “Ya, Anoman disini . ni siapa yaa ?”
Rama : “ini aku Rama !”
Anoman : “Oh… rama ! ada apa pren.. ? kok tumben kamu telpon aku !”
Rama : “aduh kakang Anoman ! aku sangat butuh bantuanmu. Kamu maukan sekarang datang ke sini ? aku di hutan Dandaka, aku akan menjelaskannya disini !”
Anoman : “Okey pren ! aku ke sana sekarang. Kamu tenang saja !”
Rama : “Aku tunggu kang !”
Tidak lama kemudian anoman pun datang dengan tarian khasnya
Anoman : “Hai pren ! ada apa ? kenapa wajahmu kelihatan bingung sekali ? terus kanapa kamu bisa berada dihutan ini sendiri ?”
Rama : “ceritanya sangat panjang, nanti saja aku ceritakan. Sekarang tolong rebut shinta dari tangan Rahwana. Shinta diculiknya, dan aku diperintahkan prabu janaka tidak boleh meninggalkan hutan ini. Jadi hanya kamu satu-satunya orang yang bisa membantuku. Kakang mau kan membantuku ?”
Anoman : “Tenanglah sahabatku ! aku pasti akan membantumu” ( sambil menepuk pundak Rama )
Rama : “terima kasih kang…. !” ( menjabat tangan anoman )
Anoman : “Ya sudah, sekarang aku berangkat menyelamatkan shinta, kamu berdoa saja semoga aku bisa merebut shinta dari tangan Rahwana sialan itu !”
Rama : “Iya kang, sekali aku sangat berharap kepadamu Anoman !”
Anoman : “Ya aku pergi dulu .”
Kemudian anoman pergi menyelamatkan shinta, dia pergi dengan tarian khasnya pula. Selama anoman pergi, Rama terus saja berdo’a istrinya shinta cepat kembali ke pangkuannya.
Rama : “Oh sang Dewa !tolong selamatkan istriku shinta, jangan sampai dia di nodai oleh Rahwana. Aku sangat mencintainya !”
Tidak lama kemudian akhirnya Anoman pun datang dengan tariannya yang khas.
Anoman : “Ha… ha…. Ha….”
Rama : “Kakang anoman, kakang sudah kembali, tapi mana istriku shinta ? apa kakang tidak bisa merebutnya dari tangan Rahwana ?”
Anoman : “Maafkan aku sahabatku ! Rahwana sangat kuat, aku tidak bisa mengalahkannya.”
Rama : “tidak mungkin, aku yakin kakang anoman lebih kuat dari Rahwana”
Anoman : “maafkan aku sahabatku, tapi aku sudah punya penggantinya untukmu”
Rama : “ pengganti ? apa maksudmu pengganti ?tidak, aku tidak mau mengkhianati istriku shinta , aku sangat mencintainya !”
Anoman : “Iya, aku mengerti ! tapi lihat saja dulu, Okey !”
“Okey girl’s masuk !”
Shinta masuk dengan wajahnya ditutupi oleh kain dan diikuti oleh tiga penari kemudian mereka menari di depan Rama dan Anoman. Setelah tariannya selesai, ketiga penarinya keluar kemudian shinta mendekati Rama.
Shinta : “Kakanda … ! apa benar kamu sudah tidak mau menerimaku lagi”
Rama : “Lho… itu kan suara ….”
Shinta pun membuka kain yang menutupi wajahnya
Rama : “Oh… dinda ! akhirnya kau kembali.”
“Terima kasih kakang anoman, aku sangat berhutang budi padamu. Akupun tidak tau harus dengan apa aku membalas kebaikanmu ?”
Anoman : “Ah… tidak usah sungkan begitu pren … !aku juga senang kok bisa Bantu kamu.”
Rama : “Tapi sebentar kang, apa tadi kakang tidak melihat dik laksmana di sana ?”
Anoman : “Tidak … ! aku sama sekali tidak melihat laksmana”
Shinta : “Oh tidak kakanda , dik laksmana tidak ikut di sekap oleh Rahwana, dik laksmana tadi pergi mencari kakanda, karena tadi kita mendengar kakanda berteriak minta tolong.”
Rama : “berteriak ? aku yakin itu pasti ulah Rahwana. Ya sudah, pasti nanti dik laksmana akan segera kembali.”
Anoman : “Apa masih butuh bantuanku ?”
Rama : “oh tidak kakang ! terima kasih banyak atas bantuannya”
Anoman : “iya sama – sama pren ! aku kembali dulu ya ?”
Rama : “iya kang, sekali lagi aku ucapkan terima kasih atas bantuannya.”
Shinta : “terima kasih kakang Anoman” ( sambil melambaikan tangan )
Akhirnya anoman pun pergi meninggalkan rama dan sinta dengan tariannya yang khas.
Tiba-tiba Rama diam saja, dengan memasang muka sedih
Shinta : “kakanda ! kenapa kakanda diam saja? Apa kakanda tidak senang melihat dinda kembali ?”
Rama : “aku senang dinda kembali, tapi pasti kamu kembali dengan keadaan yang sudah ternodai oleh Rahwana”
Shinta : “ya ampun kanda ! kenapa kanda mempunyai pikiran seperti itu ? walau dalam keadaan apapun, dinda akan tetap dan selalu menjaga kesucian dinda untuk kanda .”
Rama : “aku percaya padamu istriku, tapi apa kamu tau kalau rahwana tadi telah menyentuhmu ketika kamu tidak sadarkan diri ?”
Shinta : “tapi aku yakin kanda, Rahwana belum mengapa-apakan aku, aku yakin sekali kanda !”
Rama : “baik dinda, apa dinda mau membuktikannya ?”
Shinta : “iya kanda, dengan apa dinda harus membuktikannya ?”
Rama : “baik, ……!”
“Houww……..”( rama membuat api )
“Sekarang aku minta kamu berjalan di atas kobaran api ini, jika kamu terbakar berarti kamu telah ternoda. Tetapi jika kamu tidak terbakar, berarti kamu masih suci !”
“Apa dinda mau melakukannya ?”
Shinta : “Baik kanda, demi cintaku padamu, aku akan melakukannya !”
Setelah shinta berjalan di atas kobaran api itu, ternyata shinta tidak terbakar. Akan tetapi wajah shinta menjadi lebih cantik. Akhirnya rama tau kalau shinta masih suci dan menerima shinta kembali.
Rama : “ Dinda, ternyata dinda masih suci. Maafkan kanda istriku, kanda telah menuduh dinda yang aneh-aneh. Aku sayang sekali sama dinda !”
Shinta : “ kanda percayakan kepada dinda ? aku juga sangat mencintai kanda !”
Ketika mereka sedang berpegangan tangan, tiba-tiba laksmana pun dating.
Laksmana : “Kakak … !”
Rama & Shinta: “Yach ….. !”
Demikian tadi kisah pewayangan yang menggambarkan kisah Ramayana mudah-mudahan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua.

SELESAI

“SANG PAHLAWAN”

Posted: 13 Juni 2009 in Naskah

[Drama Anak]
[Ajie Sudharmanto Mukhsin]
Diadaptasi Oleh: Menik Puspitarini

Nuniek dan Hastien adalah dua gadis yang malang. Kedua orang itu hamil sebelum perkawinan. Kejadian itu diketahui, setelah dua bulan mereka rekreasi dari Dieng. Namun Nuniek lebih beruntung daripada Hastien, sebab Burhan bersedia bertanggung jawab, bahkan sudah dikawininya secara resmi. Bagaimana keadaan Hastien sekarang? Tonny tidak mau mengawini secara resmi. Padahal jelas Tonny dan Hastien sama-sama melakukannya.
Musibah telah terjadi, Hastien memerlukan seorang pahlawan. Siapa pahlawan itu? Silakan mengikuti dialog-dialog berikut!
1. Nuniek : Bagaimana, Tier?, Tonnymu? Apa dia datang dan Jakarta?
2. Hastien : Datang sih sudah! Tapi dasar lelaki, bosan aku berurusan dengan dia, Lagi orangtuanya, yang bawel itu, malah menyalahkan saya.
3. Nuniek : Lho! Emangnya yang salah siapa?
4. Hastin : ya, jelas dia dong. Kalau aku enggak dikasih itu, kan nggak begini jadinya.
5. Nuniek : Kalau kamu nggak mau diajak itu, pasti nggak begitu!
6. Hastien : Kau juga menyalahkan aku? (Tersenyum)
7. Nuniek : (Tersenyum)
8. Hastien : Kau juga menyalahkan aku! (Lebih keras dialognya, karena Hastien sedikit marah kepada Nuniek. Dan Hastien sendiri merasa kurang yakin, apa yang diucapkannya tadi)
9. Nuniek : Tonny memang begitu! Dia sulit untuk dapat dipercaya. Dan kau menyebabkan dia berani menolakmu dan menyalahkanmu?
10. Hastien : Tidak. (Suara Hastien lemah)
11. Nuniek : Karena kekayaannya itulah! Dan kau mengejar kekayaan itu bukan?
12. Hastien : Aku sama sekali tidak mengejar kekayaannya.
13. Nuniek : Ketampanannya?
14. Hastien : (mengangguk)
15. Nuniek : Sama saja.
16. Hastin : Ya beda! Terus terang saja, Niek, kau membela Tonny?
17. Nuniek : Jangan putus asa! Saya dan Mas Burhan sedang mengusahakan.
18. Hastien : Pertemuanku dengan Tonny?
19. Nuniek : Ya!
20. Hastien : Dan kemudian akan menjatuhkan namaku, seperti ketika di Dieng itu?
21. Nuniek : Jelas beda dong! Aku juga mengakui kejadian itu. Aku juga merasa bersalah. Mas Burhan juga merasa bersalah. Hingga kini aku bisa hidup sebagai suami istri.
22. Hastien : Tapi aku? Apakah aku hanya hidup ke dalam ketidaktentuan belaka?
23. Nuniek : Aku dan Mas Burhan sekarang? (Nuniek belum sempat menjawab, Burhan telah masuk bersama Eddy, mereka saling bersalaman)
24. Burhan : Sukses! En, hendaknya, Ed, ditulis dengan huruf besar : SUKSES! (Nuniek dan Hastien tak mengerti Eddy sedikit senyum)
25. Nuniek : Apa sih, Mas?
26. Hastien : Apa? (Burhan masih tertawa lebar, Hastien dan Nuniek masih saling berpandangan tak mengerti)
27. Burhan : Kalian pasti tak mengerti. (Sambil menunjuk Nuniek dan Hastien) Kali ini, kita sama-sama mengharapkan perjuangan dari pahlawan kita. Semoga Ia berhasil dalam perannya. Apakah kalian sudah mengerti siapa pahlawan kita itu? (Nuniek dan Hastien hampir bersamaan menggelengkan kepala) Baiklah inilah dia orangnya (Sambil menunjuk Eddy)
28. Hastien dan Nuniek: Eddy?
29. Burhan : Tepat! Oke, gantian engkau yang bicara!
30. Eddy : Bicara apa, Bur?
31. Burhan : Terserahlah asal bicara. Asal ada kaitannya dengan apa yang kita bicarakan tadi.
32. Eddy : Soal Tonny?
33. Burhan : Apalagi kalau bukan
34. Eddy : Baik, terima kasih! Nuniek dan Hastien kan sudah lama kenal denganku?
35. Hastien : ya, siapa yang tidak kenal dengan Eddy. Di sekolah kita itu, semua kenal. Karena kenakalanmu, sampai engkau dikeluarkan oleh Kepala Sekolah. Aku masih ingat, setiap pagi harus pajak uang padamu Rp50,00.
36. Eddy : (Tertawa) Itu kan dulu, sekarang lain Iho, Tien!
37. Hastien : Sekarang lima ribu?
38. Eddy : Bukan begitu Aku sekarang sadar. Tak mau lagi aku berkelahi, kalau tidak terpaksa sekali.
39. Burhan : Sudah! Sekarang kita bicara sekarang, bukan yang dahulu. Oke? (Hastien memandang tajam pada Eddy)
40. Nuniek : Sekarang kita mau bicara apa sih?
41. Burhan : Membicarakan keadaan Hastien!
42. Hastien : Membicarakan aku?
43. Burhan : Aku tahu keadaanmu, Hastien. Aku sebenarnya menyesalkan tindakan Tonny yang tidak bertanggung jawab itu.
44. Hastin : Aku akan dikawinkan dengan Eddy…….
45. Eddy : Tidak Aku tidak berani. (Hening sejenak. Mereke saling berpandangan)
46. Burhan : Ayo, kita mulai bicara lagi. Tapi ingat jangan tegang-tegangan,
47. Eddy : Begini, Hastien, aku akan menolongmu. Aku pernah berhutang budi padamu. Aku merasa berdosa saat itu, meminta uang dengan paksa sampai beberapa bulan. (Eddy diam sejenak) Pagi tadi Burhan bercerita kepadaku tentang keadaanmu. Sebenarnya aku menyesalkan tindakan Tonny itu. Kenapa dia melakukan tindakan begitu kepadamu. Kupikir terlalu nekad. Nah kuharap kau mengerti, Hastien.
48. Hastien : Kau akan menolongku?
49. Eddy : Ya!
50 Hastien : Dengan cara bagaimana, kau akan menolongku?
51. Eddy : Menyeret Tonny ke hadapan Hastien.
52. Hastien : Hah! (Agak terkejut) .
53. Eddy : Tonny harus bersumpah di hadapan Hastien bahwa dia bersedia mengawini Hastien dengan segera!
54. Hastien : Bisakah begitu?
55. Eddy : inilah Eddy yang dulu nakal dan bejad akan memulai dengan kebaikan.
56. Hastien : Eddy …. (Menubruk Eddy sambil menangis)
57. Nuniek : Sudahlah, Tien. Kita tunggu saja. Kapan, Ed, kau akan mencarinya?
58. Eddy : Sekarang dia ada di rumahku! Oke, sebentar aku menjemput dia. (Eddy pergi ke luar meninggalkan mereka)
59. Nuniek : Mas Burhan, dapatkah kau percaya ucapan Eddy tadi?
60. Burhan : Aku percaya sekarang! Dulu ketika kita sama-sama satu kelas banyak yang curiga kepadanya. Padahal ya memang betul-betul dia itu terdesak.
61. Hastien : Terdesak? Terdesak apanya?
62.Burhan : Dia itu, orang tuanya miskin.
63. Hastien : Sekarang kok bisa kaya? Pakai mobil, pakaian necis.
64. Burhan : Dulu dia bekerja sebagai penjaga di sebuah toko. Ketika toko itu kena rampok, dialah yang menyelamatkannya
65. Nuniek : Eddy?
66. Hastien : Hingga tidak terjadi lagi perampokan?
67. Burhan : lya. Dialah yang menyelamatkan. Hingga akhirnya pemilik toko mengambil Eddy sebagai menantu.
68. Hastien : Jadi dia sudah kawin?
69. Burhan : Malah dia sudah punya anak.
70. Hastien : Aku akan meminta maaf kepadanya nanti …. (Ucapannya itu tidak jadi dilanjutkan karena pintu tiba-tiba telah membuka)
71. Eddy : Ton, kau jangan mencoba lari dari kenyataan ini
72. Tonny : Aku tidak diperkenankan oleh orang tuaku!
73. Eddy : Itu bukan alasan yang kuat untuk menolak! Di Catatan sipil juga bisa.
74. Tonny : Kalau aku melepas orang tuaku, aku kan belum bekerja.
75. Eddy : Lihat Burhan, apa dia sudah bekerja? Toh dia juga mengawini Nuniek. (Pelan-pelan Tonny memandang Hastien. Pertama yang diihat adalah perutnya yang tampa? sedikit besar. Lalu dengan pelan-pelan pula Tonny melangkah ke arah Hestien, kemudian berjabat tan gan)
76. Tonny : Hastien, aku berjanji dalam waktu dekat ini, akan mengajakmu ke Catatan Sipil.
77. Hastien : Terima kasih.
78. Eddy : Ton, kalau cuma janji kosong yang kau berikan kepada Hastien, jangan harap kau bisa hidup tenang (Tonny tak berani memandang Eddy yang memuncak kemarahannya)
79. Burhan : Terima kasih atas usahamu, Ed. . . . .
80. Eddy : (Mengangguk) Sama-sama.

Kajian:
Hal-hal yang dibahas dalam naskah drama :
- Ditinjau dari unsur instrinsik:
 Judul naskah : Sang Pahlawan
 Tema cerita : Persahabatan dan Cinta
 Plot/Alur cerita : Maju (Alur cerita tidak datar, ada tanjakan)
 Tokoh dan Penokohan/Pewatakan
1. Nunik : Istri Burhan, Sahabat Hastien
Watak: Tegas, tidak mudah putus asa, gaya bicaranya terus terang tidak suka bertele-tele
2. Hastien: Sahabat Nunik, Kekasih Tonny
Watak: Lugu/polos, suka mengeluh, mudah putus asa
3. Burhan : Suami Nunik, Sahabat Eddy
Watak: Tegas,bertanggungjawab,setiakawan,tidak mudah putus asa
4. Eddy: Sahabat Burhan, teman Hastien dan Nuniek
Watak: Suka bercanda, setiakawan, kaya tetapi tidak sombong,cuek, gaya bicaranya serius tapi santai, pekerja keras, suka menolong(Patriot), gampang emosi,suka bersikap nakal pada waktu lalu
5. Tonny: Kekasih Hastien
Watak: Pengecut, tidak bertanggungjawab, malas karena suka menggantungkan hidupnya pada orangtua
 Latar/Setting: Dirumah Burhan dan Nunik
Bahasa: Dalam cerita ini, pengarang menggunakan bahasa sehai-hari yang mudah dipahami tetapi tetap santun dan sedikit baku namun tidak terkesan terlalu kaku dalam dialognya. Sedangkan dari segi tanda baca, penggunaan kalimat langsung yang disetai tanda titik, koma, tanda tanya, tanda seru, dan huruf kapitalnya sudah benar, hanya saja dalam naskah ini pengarang tidak menggunakan tanda petik(“) untuk mengawali/mengakhiri kalimat langsung.
 Dari Segi Isi :
Naskah drama tersebut ceritanya cukup mudah dipahami, alurnya jelas dalam susunan peristiwa serta dialognya. Pengarang sudah dapat menggambarkan watak masing-masing tokohnya melalui dialog-dialog dalam naskah-naskah tersebut. Ceritanya cukup bermakna dengan adanya dialog-dialog yang serius dankadang menegangkan, namun tetap dibubuhi dengan dialog yang bersifat santai dan bercanda. Ceritanya dan dialognya tidak datar, mengandung klimaks dan penyelesaian yang baik. Isinya mengandung banyak npesan dan amanat untuk pembacanya.
 Sinopsis Cerita :
Naskah drama tersebut menceritakan tentang kehidupan persahabatan, cinta dan konflik yang timbul didalamnya. Hastien yang dihamili kekasihnya Tonny, mengeluh kepada Nuniek sahabatnya karena Tonny tidak mau bertanggung jawab. Dengan rasa kesetiakawanan yang tinggi, Nuniek dan suaminya Burhan membantu menyelesaikan permasalahan Hastien denga Tonny. Hastien selalu mengeluh dan hamper putus asa, hingga akhirnya dating seorang penolong yaitu Eddy, Sahabat lama mereka yang dahulu terkenal sifatnya yang kurang baik.
Eddy berhasil membantu Burhan membawa Tonny kehadapan Hastien, hingga terjadi negoisasi yang cukup alot. Tetapi akhirnya Eddy dan kawan-kawan mampu memaksa Tonny untuk mempertanggungjawbkan perbuatannya kepada Hastien.

 Sudut Pandang:
Pengarang sebagai sudut pandang orang ketiga, karena pengarang berada diluar cerita. Pengarangnya hanya sebagai pencerita dantidak tertlibat didalamnya. Pengarang hanya menggunakan nama-nama orang atau kata ganti orang ketiga dalam naskah drama tersebut.
 Amanat/Pesan :
Naskah drama tersebut mengandung pesan yang ungin disampaikan kepada para penikmatnya antara lain :
- Berpikirlah secara matang sebelum melakukan tindakan yang memerlukan tanggungjawab besar dan jangan bertindak ceroboh.
- Kita harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita baik kepada manusia maupun Tuhan
- Tolonglah sesame yang sedang mengalami kesulitan
- Jangan mudah puus asa dalam menghadapi persoalan, jika tekun pasti ada jalan keluarnya
- Jangan suka berprasangka buruk terhadap orang lain
- Taburlah kebaikan, niscaya kita akan menuai kebaikan pula

 Pembabakan cerita :
Babak 1: Pengenalan tokoh dan percakapan yang mengarah pada permasalahan.
Babak 2: Pertemuan Eddy dan Burhan dengan Nuniek dan Hastien
Klimaks: Pada waktu Eddy membawa Tonny ke hadapan Hastien
Ketegangan : Eddy dan teman-temannya (Nuniek dan Burhan) memaksa Tonny untuk menikahi Hastien
Penyelesaian: Tonny berjanji kepada Hastie untuk segera menikahinya

Ditinjau dari unsur Ekstrinsik
 Pengarang: Aji Sudharmaji Mukhsin
 Ditinjau dari kajian sosiologi :
Cerita dalam naskah tersebut menggambarkan hubungan antar sesama/sejawat dengan ruang lingkup pergaulan muda-mudi, permasalahan tentang cinta dan persahabatan yang setiap saat selalu ada dala kehidupan nyata. Serta segala upaya untukmemecahakan persoalan-persoalan tersebut. Certia ini juga banyak memberikan pesan-pesan moral kepada pembacanya khususnya para pemuda-pemudi agar berhati-hati dalam menjalin sebuah hubungan, dan agar selalu bertanggungjawab dalam setiap tindakan yang mereka lakukan. Kesetiakawanan social juga tidak kalah pentingnya agar kita peka untuk membantu sesame kita yang sedang bermasalah.
 Dintinjau dari segi budaya :
Naskah cerita drama tersebut menggambarkan kerasnya dampak globalisasi seperti pergaulan bebas dan freesex dari dunia barat masuk ke Indonesia, sehingga lambat laun nilai-nilai lebudayaan asli Indonesia yang santun dan bernafaskan religi. Tetapi masih ada nilai-nilai positif yang dapat diambil dari cerita ini yang mencerminkan budaya bangsa Indonesia secara turun-temurun yaitu sikap saling membantu, setia kawan, patriotisme, rela berkorban, tolong-menolong dan bertanggungjawab