Archive for the ‘Naskah Drama’ Category

“Pangeran Mendem”

Posted: 30 Mei 2011 in Naskah Drama

(Naskah telah dipentaskan)

1.   Judul Cerita

“ PANGERAN ROTE MENDEM”

( PANGERAN ROTE TERGILA- GILA PEREMPUAN JAWA )

Cerita Oleh: Eva Rara Puspita Agustin

2. Pengorganisasian

Pimpinan Produksi    : Drs. Heru Subrata, M.Si

Sutradara                     : Eva Rara Puspita A.

Asisten Sutradara        : Nurul Ayni

Sekretaris                    : Devi Wahyu Ertanti

Bendahara                   : Fitriatul Maulidiah

Pencatat Adegan         : Ardita Kurniasari

Penata Panggung        :  M. Yusuf

Penata Rias & Busana : Herrlys Maghdalena

Penata Musik              : Mareta Dellarosa

3.
Tokoh

  1. Ayub Mallesy sebagai Pangeran George Mallesy (Jono)
  2. Elita Ticianingrum sebagai Centini
  3. Wendri Wiratsiwi sebagai Bu Poniyem
  4. Banu Prasetyo sebagai Pak Paijo
  5. JhonTomb J. Djabal sebagai Raja Mallesy
  6. Natalia Selfin Sebagai Ratu Mallessy
  7. Mensiana Murti sebagai Julia

4.      Konsep cerita

Cerita yang berjudul “Pangeran Rote Mendem Wedokan Jawa” ditulis oleh Eva Rara Puspita
A. Konsep cerita ini adalah cerita percintaan  yang menggambarkan sebuah cerita yang sering ditemui di sekitar kita namun diselingi dengan unsur-unsur romantisme
percintaan sehingga tidak terasa membosankan bagi penikmat drama. Perbedaan suku serta kebudayaan yang masih saja menjadi penghalang bersatunya cinta mewarnai kisah c erita ini.

5.      Sinopsis cerita

Kisahtentang seorang pangeran yang tinggal di kerajaan Mallesy di Rote yang ingin
mencari kehidupan dan cinta yang sesungguhnya. Pangeran adalah anak semata
wayang raja dan ratu Mallesy. Di kerajaannya pangeran selalu mendapatkan apa
saja yang dia inginkan, bahkan seorang perempuan pun dengan sangat mudah ia
dapatkan.

Suatu ketika pangeran merasa bosan dengan kehidupannya di dalam kerajaan. Pangeran melarikan diri dari kerajaan dan merantau tanpa tujuan yang jelas. Akhirnya pangeran sampai di Pulau Jawa. Di perantauan pangeran tidak memiliki sanak saudara untuk tempat tinggal, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu paruh baya yaitu Bu
Poniyem menghampiri pangeran. Bu Poniyem menawarkan agar pangeran tinggal dan bekerja membantu suaminya di sawah.

Ketika membantu Pak Paijo suami Bu Poniem di sawah pangeran melihat seorang gadis desa yang memiliki paras cantik. Pangeran mengajak berkenalan gadis desa itu dan akhirnya menjadi sepasang kekasih. Seiring berjalannya waktu munculah Julia,
dia adalah putri dari kerajaan di Rote yang di jodohkan dengan pangeran. Dengan
datangnya Julia terbongkarlah rahasia yang dimiliki pangeran selama ini ia
sembunyikan dari semua orang. Centini sangat terkejut ternyata yang menjadi
kekasihnya selama ini adalah seorang pangeran. Selain Julia datang juga Raja dan
Ratu Mallesy. Mereka memaksa pangeran untuk kembali ke kerajaan Mallesy dan
menikah dengan Julia, karena jika pangeran tidak menikah dengan Julia semua
rakyatnya akan menderita kelaparan dan akan meninggal. Mendengar itu Centini
merasa miris dan memutuskan untuk meninggalkan pangeran yang sangat ia cintai
agar mau kembali ke kerajaannya dan menikah dengan Julia. Akhirnya pangeran
kembali ke kerajaannya dan menikah dengan Julia demi rakyatnya.

6.      Konsep panggung

Cerita ini terdiri dari 5 babak. Babak pertama adalah jalan pinggir sawah, babak kedua
adalah rumah pak Paijo dan Bu Poniyem, babak ketiga adalah sawah, babak keempat adalah rumah pak Paijo dan Bu Poniem, dan babak kelima adalah jalan pinggir sawah. Konsep panggung ini dibuat sederhana namun dapat mewakili dengan jelas jalan cerita yang ditampilkan.

Pada babak
pertama setting panggung adalah jalan pinggir sawah. Di atas panggung  terdapat

  1. Sarung
  2. Baju- baju (dimasukkan di dalam sarung)
  3. Bakul isi sayur
  4. Rumput

Pada babak kedua di rumah pak Paijo dan Bu Poniem. Setting adalah
sebuah ruang keluarga yang terdiri dari:

  1. Kursi panjang
  2. Meja
  3. Tikar
  4. Kendhi
  5. Bak  dan baju
  6. Pisau, bawang, dan telenan
  7. Lampu tempel

Pada babak ketiga di sawah. Setting di atas panggung terdapat

  1. Cangkul
  2. Pohon ketela
  3. Rumput
  4. Rantang isi makanan
  5. Kendhi
  6. Bakul
  7. Karung

Pada babak keempat di rumah pak Paijo dan Bu Poinem. Setting adalah sebuah ruang keluarga yang terdiri dari:

  1. Kursi panjang
  2. Meja
  3. Tikar
  4. Kendhi
  5. Bak dan baju
  6. Pisau, bawang, dan telenan
  7. Lampu tempel
  8. Kacang panjang
  9. Bakul dan singkong

Pada babak kelima di jalan pinggir sawah. Di atas panggung terdapat

  1. Sarung
  2. Baju- baju (dimasukan dalam sarung)
  3. Bakul isi sayur
  4. Rumput
  5. Rantang

7.      Konsep busana

  1. Pangeran George (Jono) Kaos, celana
    panjang kain, caping.
  2. Centini, Kebaya, jarik
  3. Bu Poniyem Kebaya, jarik, daster, batik, caping
  4. Pak Paijo Kaos oblong, peci, sarung, celana panjang, caping
  5. Julia Kebaya modern, kain songke, selendang, pita, sepatu
  6. Raja Mallesy, Songke, celana hitam, sapu (kepala), baju putih lengan panjang, selendang, sepatu hitam, keris, kain merah
  7. Ratu Mallesy Kebaya ibu, songke, selendang, pita, sepatu hitam, gelang, sanggul

8.      Penokohan

  1. Pangeran Seorang yang pemberani, teguh pendirian, baik hati, rendah hati dan berparas tampan.
  2. Centini, Wanita yang berparas cantik, lembut dalam bertutur kata, sopan, rendah hati.
  3. Bu Poniyem Wanita yang enerjik, bersemangat, baik
    hati, suka menolong, penyayang. Gaya bicaranya medok jawa.
  4. Pak Paijo, Rendah hati, penolong, penyabar.
  5. Julia, Seorang putri raja yang ketus dalam berbicara.
  6. Raja Mallesy Raja yang tegas, memaksakan kehendak pada pangeran.
  7. Ratu Mallesy Penyayang, lembut.

8.      Konsep musik

Narrator  Jimbe Marakas

Babak I

Babak II, Suara jangkrik, Suara ayam berkokok

Babak III, Suasana pedesaan (suara burung),  Terpesona

Babak IV Musik, lucu

  1. Dia
    Dia Dia

Babak V

  1. Musik-musik garang/marah. 2. Saat terahir ST 12

PANGERAN ROTE MENDEM WEDOKAN JAWA

(PANGERAN ROTE
TERGILA- GILA PEREMUAN JAWA)

Cerita ini
bermula dari seorang pangeran kerajaan rote yang sangat kaya.
Dia berniat hijrah ke pulau jawa untuk mencari jati
diri dan membebaskan diri dari tekanan dan aturan keluarganya
.

Babak 1

  1. Pangeran         : “ ya,,,,,,,, akhirnya aku sampai juga
    di pulau Jawa ini” (pangeran merasa lega dan senang  karena telah sampai di pulau jawa)
  2. Bu
    poniyem     : “  kisanak, kelihatannya kamu bukan orang asli
    daerah ini,,,dari mana kamu berasal? (tanya bu poniyem dengan heran)
  3. Pangeran         : “ iya bu saya memang bukan dari sini,
    saya datang dari pulau rote bu, NTT”
  4. Bu
    poniyem     : “ Rote? Mana itu. Kok ibu
    tidak tahu ya? Dimana itu rote?”
  5. Pangeran         : “ Rote buk, Rote itu di NTT”
  6. Bu
    poniyem     : “oalah, ibu nggak tau nak. mau apa kamu anak muda di pulau Jawa ini? Dan dimana
    kamu tinggal sekarang?
  7. Pangeran         : “saya ingin mencari pekerjaan bu, dan
    saya sebatang kara disini. Saya tidak punya keluarga atau saudara disini”
  8. Bu
    poniyem     : “o, kalau begitu kamu ikut
    ibu pulang saja anak muda. Nanti kamu juga bisa kerja dengan suami ibu”
  9. Pangeran         : “ o begitu ya bu”

Akhirnya
pangeran dan bu poniyem meninggalkan sawah tempat mereka
bertemu.

Babak 2

Sesampainya
di rumah bu poniyem, pangeran bertemu dengan pak paijo.

  1. Bu poniyem     : “ pak, pake nandi kowe pak. Iki lho pak
    onok tamu” ( bu ponijem mencari pak paijo)
  2. Pak paijo         :” ono opo to  bu, tamu sopo?” (pak paijo keluar dari
    kamarnya)
  3. Bu poniyem     : “
    iki lho pak, onok bocah bagus. Ki lho pak”

Pangeran
hanya tersenyum karena tidak paham dengan apa yg mereka katakan. Pak paijo
mendekati pangeran.

  1. Pak paijo         : “ sopo kowe bocah bagus?”
  2. Pangeran         : “ maaf pak, saya tidak bisa bahasa
    jawa.”
  3. Bu poniyem     : “ pak, cah bagus iki gak iso boso jowo.
    Cah bagus iki soko Rote pak, NTT. Dadi mulai dino iki ojo gawe boso jowo nggeh
    pak….” (bu ponijem memberi pengertian ke pak paijo)
  4. Pak paijo         :
    “Rote? Rote iku ndi seh buk? Mana buk?”
  5. Bu poniyem     : “
    Lha yo mboh pak, ibu juga gak paham. Ya bapak tanya sendiri”
  6. Pak paijo         : “ siapa namamu cah ganteng? Dan
    mengapa kamu datang ke pulau Jawa?”
  7. Pangeran         : “ nama saya George pak”

Pangeran
agak kebingungan menyebutkan nama aslinya yaitu pangeran George Malessy. Dimana
malessy adalah nama kebangsaan ayahnya Raja Malessy yang sangat terkenal di
negara NTT.

  1. Pak paijo         : “siapa nak, jono?”
  2. Pangeran         : “bukan pak, George”
  3. Pak paijo         : “ walah,
    susah sekali namamu nak”
  4. Pangeran         : “
    George pak. G E O R G E” (pangeran mengeja namanya)
  5. Pak paijo         :
    “ya sudah
    bagaimana kalau mulai sekarang kami panggil kamu
    jono saja”
  6. Pangeran         : “ow, iya bu. Tidak apa- apa. Saya
    sangat senang sekali.”
  7. Pak paijo         : “lha kamu mau kerja apa nak di pulau
    Jawa? Di jawa belum ada perusahan- perusahan besar, adanya ya hanya sawah-
    sawah ini”
  8. Bu poniyem     : “ lha gimana kalau si jono ini kita suruh
    kerja di sini saja pak?? Membantu bapak di sawah, membantu bapak menanam jagung,
    singkong, dan tanaman- tanaman lainnya. Kan lumayan pak, selama ini kita tidak
    punya anak. Nanti dia juga bisa membantu ibu membawakan barang- barang hasil
    sawah ke pasar untuk dijual. Bagaimana nak jono, mau apa tidak?”
  9. Pangeran         : “ iya bu, saya sangat senang sekali,
    saya sangat senang bisa bekerja disini” (wajah pangeran sngat senang sekali,
    dia merasa akan mendapatkan kehidupan sesungguhnya dari hasil jerih payahnya)
  10. Pak paijo         : “lho lho bu, piye to. lha jono itu
    siapa kita tidak tahu e. Lha nanti kalau dicari keluarganya bagaimana?”
  11. Bu poniyem     : “westala pak… jono itu tidak punya
    keluarga atau saudara pak. Lagian jononya juga mau to, iya to nak jono?” (bu
    poniyem menegaskan pertanyaannya ke jono)
  12. Pangeran         : “ iya pak, bu saya sangat senang
    sekali. Bisa bekerja di sawah, membantu ibu ke pasar. Itu hal yang menarik
    sekali bagi saya”
  13. Bu ponijem      : “ ya sudah kalau begitu, sudah malam.
    Kalian istirahat saja. Besok pagi nak Jono bangun pagi membantu bapak ke sawah,
    setelah itu membantu ibu membawa barang dagangan ke pasar, kamu tidur sama
    bapak di sini saja, ibu tidur dikamar.maklum kami hanya punya 1 kamar”

Bu
poniyem masuk ke kamarnya. Jono dan pak paijo memposisikan tidur diruang tamu.

Keesokan
harinya ibu membangunkan pak paijo dan jono.

  1. Bu poniyem     : “pak bangun pak, sudah pagi. Jono bangun
    sudah pagi nak. Malu sama ayam yang berkokok, nanti rejekinya d patok ayam lho”

Pak
paijo dan jono pun segera bangun.

  1. Pak paijo         : “iya bu iya, kami bangun. Ibu siapkan
    bekal buat bapak dan jono, nanti kami sarapan di sawah saja”
  2. Pangeran (jono) : “kita ke sawah sekarang pak?”
  3. Pak paijo         :
    “iya nak, kita berangkat sekarang saja. nanti bekalnya di kirim ibu ke sawah”
  4. Jono                 :
    “ o iya pak”
  5. Pak paijo         :
    “buk, kami berangkat dulu. Nanti bekalnya di kirim ya buk”
  6. Bu poniyem     :
    “iya pak iya. Inggih”

Ibupun
segera pergi ke dapur, dan mulai memasak. Ibu juga melanjutkan pekerjaan mencucinya.

 

Babak 3

Sepanjang
perjalanan menuju sawah bapak dan jono saling mengobrol tentang keadaan-
keadaan di desa itu.

  1. Jono                 : “bapak, sawah bapak yang mana?
    Masih jauh ya pak? (jono merasa kelelahan)
  2. Pak paijo         :” itu lho nak sudah dekat” ( sambil
    menunjuk sawah di depan mereka)
  3. Jono                 : “kalau sawah seluas ini milik
    siapa ya pak?” (jono menunjuk sawah yang dilewatinya)
  4. Pak paijo         : “ o, yang itu. Itu sawah juragan
    kasmo, penguasa di desa ini. Kekayaannya sangat terkenal di pulau Jawa” (pak
    paijo menerangkan dengan jelas)

Setelah
sesampainya di sawah pak Paijo, merekapun
segera menggarap sawah. Saat itu adalah musim singkong. Jono dan pak paijo
mencabuti singkong di sawahnya untuk dijual bu poniyem nanti sore di pasar.

  1. Jono                 : “ pak, bagaimana cara
    mengambil singkong ini pak”
  2. Pak paijo         : “begini lho nak” (pak paijo memberi
    contoh mencabut singkong)

Setelah
mereka merasa kelelahan, merekapun istirahat.

  1. Pak paijo         :” ayo nak istirahat dulu.”
  2. Jono                 : “ o iya pak” ( jono sangat
    setuju)
  3. Pak paijo         :
    “ibu mana ya nak, jam segini kok belum datang”
  4. Jono                 :
    “iya pak panas sekali hari ini”

Ibu
poniyem datang kesawah mengirim sarapan ke Pak Paijo dan Jono.

  1. Bu poniyem     : “ pak, pake ini lho bekalnya”
  2. Pak paijo         :
    “ o iya iya. Terimakasih ya bu”
  3. Jono                 :
    “ iya bu, terimaksih”
  4. Bu poniyem     :
    “iya, iya. Wes, dimakan dulu bekalnya. Nanti pulangnya jangan sore- sore ya.
    Ibu pulang dulu ya”
  5. Pak paijo         :
    “o iya buk”
  6. Jono                 : “iya bu”

Merekapun
memakan bekal yang yang di kirim bu ponijem. Tak lama kemudian ada segerombolan
gadis desa yang lewat di sawah pak paijo. Jono segera menghentikan makannya,
dan bertanya ke pak paijo.

  1. Jono                 : “pak, gadis- gadis itu siapa
    pak? Mengapa mereka bersama- sama ke sawah”. (jono heran)
  2. Pak paijo         : “ o, gadis- gadis itu. Mereka adalah
    gadis desa sini yang bersama- sama pergi ke sawah untuk membantu memanen hasil
    panenan salah satu penduduk. Kenapa? Suka ya kamu?” (pak paijo menggoda Jono)
  3. Jono                 :
    “ah bapak ada- ada saja” (jono malu)
  4. Pak paijo         : “sudah, ayo sudah siang. Ayo kita
    pulang. Pasti ibu sudah menunggu singkong kita”
  5. Jono                 : “o iya pak, bapak duluan.
    Nanti saya menyusul”
  6. Pak paijo         : “ ya sudahlah. Nanti bawa singkongnya
    ya. Nanti langsung berikan ibu. Bapak mau cangkrukan dulu di warung Pak Ucup”

Pak
paijo meninggalkan jono sendirian di sawah.

  1. Jono                 : “siapa gadis- gadis tadi ya,
    aku sangat penasaran untuk mengenalnya. Sosoknya begitu anggun mempesona,
    wajahnya mengalihkan duniaku. Tak ada gadis seanggun itu di rote. Kira- kira
    nanti dia mau tidak ya menikah denganku. Apa dia juga tertarik padaku, seperti
    gadis- gadis rote yang selalu mengejar- ngejar aku? Ah aku pulang saja…”
    (jono berbicara sendiri)

Di
perjalanan pulang jono bertemu lagi dengan gadis desa itu yang telah merebut
hati jono. Gadis itu hanya memberikan senyuman manis pada Jono. Dengan
memberanikan diri jono mulai mendekati gadis itu.

  1. Jono                 : “emm…. permisi, kalau boleh
    tahu nama kamu siapa ya?” (jono bertanya dengan gemetar)
  2. Centini                        : “Centini” (langsung
    bergegas meninggalkan jono)
  3. Jono                 : “waduh sialan, baru kali ini
    aku belum selesai bicara sudah ditinggalkan oleh perempuan” (jono terus
    bergumam sendiri)

Jono
segera bergegas pulang dan langsung menemui bu poniyem.

Babak 4

  1. Jono                 : “bu ibu. ibu dimana. Ayo kita
    kepasar bu…..”
  2. Bu poniyem     : “hari ini, kita tidak usah ke pasar cah
    bagos”
  3. Jono                 : “lho, mengapa bu? ibu sakit?”
  4. Bu poniyem     : “enggak, ibu sehat bugar kok, cuman nanti
    hasil kebun kita mau diborong sama juragan tanah itu, itulo juragan Kasmo.
    Nanti anak perempuannya dan pembantu- pembantunya yang akan mengambil dirumah
    kita”
  5. Jono                 : “ o iya bu,
    saya boleh tanya gak?”
  6. Bu poniyem     : “tanya apa to nak, ya tanya saja. mau
    tanya saja kok laporan”
  7. Jono                 : “ gadis desa ini yang sering
    lewat sawahnya bapak itu siapa to bu?
  8. Bu poniyem     : “gadis yang mana to? ya banyak to. semua
    gadis di desa ini membantu orang tuanya di sawah”
  9. Jono                 :” o, ya nggak tahu sih bu.
    Tapi gadis itu sangat anggun sekali bu. Sangat ayu. Pokoknya cuantik”
  10. Bu poniyem     : “ walah jon jon. Kamu ini ada- ada saja.
    lha ya banyak to gadis yang seperti itu. Wes ndang disiapkan ubinya. Dimasukkan
    karung, nanti biar gampang bawanya”

Jono
segera bergegas memasukkan singkong- singkong pesanan juragan Kasmo kedalam
karung. Tak lama berselang suruhan- suruhan juragan kasmo datang.

  1. Centini                        : “kulonuwun, buk,
    permisi”
  2. Bu poniyem     : “ owalah nak Centini, mau ambil pesanan
    bapakmu ya nduk?”
  3. Centini                        : “inggih buk”
  4. Bu poniyem     : “lha kok piyambakan to? lha yang bantu
    bawa nanti siapa?”
  5. Centini                        : “ saya sama teman saya
    kok bu, nanti bisa kok. Kami bawa berdua”

Di
sudut ruangan ada jono yang hanya terperanga, dia tidak menyangka kalau si
bidadari pujaan hatinyalah yang datang kerumahnya.

  1. Bu poniyem     : “jon jono, nak jono bawa singkongnya
    kesini nak. Ini lho sudah mau diambil mbak Centini”

Jono
dengan perasaan bercampur aduk mendekati Centini.

  1. Bu poniyem     : “ o iya, sek sebentar ya nak Centini. Ibu
    lupa, bapakmu juga pesan kacang panjang. Sebentar ibu ambilkan di belakang” bu
    poniyem meninggalkan mereka di ruang tamu.
  2. Jono                 : “ kau kah gadis yang pernah
    ku temui di sawah itu? Centini?”
  3. Centini                        : (Centini tersenyum
    manis) “ iya, dan kau jono bukan?pemuda yang tidak punya sanak saudara di Jawa.
    Keluargamu hilang setelah ada perang di negaramu?”
  4. Jono                 : “mengapa kau tau selengkap
    itu tentang aku? “ (jono heran)
  5. Centini                        : “ kampung ini sempat
    geger dengan kedatanganmu pemuda, mereka menganggap kau adalah  musuh yang menyusup di negara jawa kami. Tapi
    ternyata mereka salah. Kau adalah pemuda yang baik.”

Bu
poniyem keluar dari pintu belakang dan membawa kacang panjang titipan juragan
kasmo.

  1. Bu poniyem     : “ nduk, kacang panjangnya hanya segini,
    gak papa ya nduk. Nanti berikan saja ke bapakmu. Sampaikan maaf ibuk ke bapakmu
    ya nduk”
  2. Centini                        : “ o iya ibuk, tidak
    apa- apa kok. Segini juga sudah cukup. Ya sudah ibuk saya pamit dulu. Permisi.
    Terima kasih ya ibuk”

Centini
meninggalkan rumah bu poniyem.

  1. Jono                 : “ bu, lha itu tadi lho bu.
    Itu gadis yang saya maksud tadi bu…..”
  2. Bu poniyem     : “owalah jon jon. Iku ta? Lha kalo itu ibu
    ya kenal to. itu Centini, lha yang bapaknya sering mborong hasil kebun kita. Yo
    kenal banget kalo itu”
  3. Jono                 : “ bu, saya mau menikah dengan
    dia bu……”( jono sangat menggebu- gebu)
  4. Bu poniyem     : “o, ediyan kamu. Baru kenal sebentar kok
    sudah minta nikah. Lha yo mbok kenalan dulu lebih jauh, o ancen wes mendem
    wedokan jawa kamu ki”
  5. Jono                 : “mendem? Apa itu bu”
  6. Bu poniyem     :” mendem iku tergila- gila, sangat
    gandrung, sangat cinta. Owalah yo, aneh aneh ae kamu ki. Centini itu kembang
    desa ini. Banyak lelaki yang ingin menikahinya. Dan dengar-dengar dia akan
    dinikahkan dengan joko, anak pak lurah. Wes, kamu
    jangan berhayal. Baru ketemu saja sudah mau menikah, kamu ini mendem wedokan
    jawa tenan. istirahat dulu. Masuk sana. Bekal- bekal di bersihkan sana”

( Bapak datang dari warung)

  1. Pak Paijo         :
    “Bu ibuk….”
  2. Bu poniem       :
    “Walah teko endi ae to pak…”
  3. Pak Paijo         :
    “ Tekan warung bu Yusup”
  4. Bu Poniem      :
    “Warung wae bapak ki, tak kira bapak g muleh. Lha opo ngeser bu Yusup opo piye
    bapak ki?”
  5. Pak Paijo         :
    “Wah yo gak to Bu, bu ki piye.”
  6. Bu Poinem      : “Bu Yusup kan saiki wes rondo, iso ae bapak
    ngeser. Hayo”!
  7. Pak Paijo         : “Ora to yo bu, ibu ki lho”.
  8. Bu Poinem      : “Pak Jono ki mau crito neng ibu, Jono
    ttresno karo Centini, piye ngeneiki pak?
  9. Pak Paijo         : “Yo gak papa to bu. Jono yo cah
    bagus.”
  10. Bu Poniem      : “ Walah Bapak ki po gak ngerti?”
  11. Pak Paijo         : “Ngerti opo to ibu ki?”
  12. Bu Poniem      : “Bapak ki tenan gak ngerti gosip ki. Tak
    kandani yo pak, Centini ki sudah dijodohkan dengan anaknya lurah kelurahan sebelah
    itu lho, namanya Joko.”
  13. Pak Paijo         : “Ah mosok bu?”
  14. Bu Poinem      : “Bapak ki malah g ngandel. Wes ndang
    dikandani Jono ya pak, ojo seneng ma Centini.”
  15. Pak Pijo           : “Iyo bu engko tak kandani Jono.”
  16. Bu Poniem      : “Yowes bapak cepet mandi sana, ngopi
    terus bau bapak g enak.”
  17. Pak Paijo         : “iyo-iyo buk.”

 

Babak 5

Jono
akhirnya selalu memberanikan diri untuk menemui Centini sepulang dari sawah.

  1. Jono                 : “hai Centini,,,” ( sapa jono
    sambil menghampiri Centini )
  2. Centini            :
    “ ya,,ada apa jono ? “
  3. Jono                 :
    “ aku ingin  menanyakan sesuatu” (jono
    agak grogi)
  4. Centini                        :
    “ emang kamu mau tanya apa ? “
  5. Jono                 :
    “ apa kamu sudah memiliki pasangan? Dan apa benar kamu akan menikah dengan anak
    pak lurah ? “
  6. Centini            :
    “ untuk apa kamu menanyakan hal itu ?”
  7. Jono                 :
    “ ehmm,,, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu.”
  8. Centini            :
    “ iya katakan saja, aku akan mendengarnya” (dengan wajah tak berdosa)
  9. Jono                 : “sudah agak lama aku
    mengenalmu. Sudah sering pula kita bertemu di tempat ini. Dan aku ingin
    mengatakan bahwa aku menyukaimu sejak pertama aku melihatmu.”

Centini
langsung diam membisu mendengar apa yang jono katakan.

  1. Centini          : “apa jono? Apa aku tidak salah
    dengar?”
  2. Jono              : “sama sekali tidak, baru kali
    ini aku menyukai gadis. Dan gadis itu adalah gadis jawa. Aku berjanji akan
    membahagiakanmu, maukah kau menikah denganku?” (jono berusaha meyakinkan
    Centini)

Centini
sangat terharu mendengar kata- kata jono.

  1. Centini          : “ aku pun belum pernah merasakan
    jatuh cinta sedalam ini.” ( mereka pulang )
  2. Jono              : “ jadi,, kau terima cinta ku??”
  3. Centini          : ( hanya menjawab dengan senyum dan
    anggukan )

2 bulan kemudian

  1. Jono              : “ adek sudah menunggu lama?????
    ( jono menghampiri Centini yang sudah cukup lama duduk di pinggir sawah )
  2. Centini                      : “ Seperti biasa
    kang,,,, selama apapun aku harus
    menunggu,aku akan tetap bersabar menunggu kedatanganmu..”

Tak
selang beberapa saat ketika jono mnggarap sawah, muncullah seorang wanita
dengan berlari menghampiri jono.

  1. Julia                 : “oh, George….. akhirnya aku
    menemukanmu” (berusaha memeluk George namun ditepis oleh Centini)
  2. Centini                        : “ siapa kamu?”
    (Centini kaget melihat julia)
  3. Julia                 : “hey, yang seharusnya
    bertanya adalah saya. Siapa kamu? Berduaan di sawah dengan tunangan saya”
  4. Centini                        : “tunangan?  Apa maksudnya?”  (Centini tetap tidak mengerti)

Julia
tak menghiraukan Centini

  1. Julia                 : “sayang, kenapa sih kamu lari
    dari kerajaan? Raja mengirim beberapa antek- antek untuk mencarimu di beberapa
    pulau sekitar. kebetulan aku dan orang tuamu mendapat undangan pernikahan anak
    Raja Maemun dan Raja Wallabi di Jawa.Dan kami mendengar di pulau jawa ini ada
    pendatang dari pulau rote.Akhirnya aku segera mencarimu di pelosok-pelosok
    pulau Jawa ini untuk menjemputmu kembali pulang Ayolah sayang kita pulang saja”
    (julia mencoba membujuk Jono alias George)
  2. Jono                 : “aku tidak mau kembali ke
    kerajaan, aku tidak suka kehidupan kerajaan. Kehidupan yang penuh dengan
    kekayaan namun membuatku merasa terkekang. Aku tidak suka. Aku lebih suka hidup
    sederhana di sini.hidup dari hasil jerih payahku,dengan kebebasan dan kebahagiaan
    yang sebenarnya”
  3. Julia                 :” tapi kita telah dijodohkan
    sayang… dan dengan pernikahan kita nanti pasti kejayaan kerajaan akan semakin
    besar” (masih tetap merayu jono)
  4. Centini                        : “eh, apa-apaan ini.
    Apa maksud semua ini. George siapa? Dan kamu juga siapa?” ( Centini semakin
    bingung dengan keadaan)
  5. Julia                 : “ kamu yang apa- apaan.
    George itu tunangan saya. George itu pangeran kerajaan Mallesy. Dan saya
    tunangannya, saya putri kerajaan Deros”
  6. Centini                        : “hah? Apa?” ( Centini
    serasa tak percaya)
  1. Jono              : “tidak, semua itu tidak benar.
    Aku bukan pangeran. Aku tidak kenal dengan gadis itu” (menunjuk Julia)
  2. Julia               : “kamu tidak percaya denganku?
    Oke, akan saya panggil orang tua George kesini dan biar mereka yang menjelaskan
    semuanya” (julia meninggalkan mereka berdua)
  3. Jono              : “ percayalah Centini aku bukan
    pangeran, aku tidak mengenal gadis itu”
  4. Centini          : “wahai jono betapa sakitnya aku,
    jika memang kau adalah pengeran dan telah bertunangan. Aku telah memberikan
    sepenuh hatiku padamu. Tiada lagi keraguan padamu. Tapi, mengapa…….” (
    centini tak sanggup lagi meneruskan kata- katanya.

Tiba-
tiba bu poniyem dan pak paijo melewati sawah tempat jono dan Centini bertemu.

  1. Bu
    poniyem  : “ lho, kalian disini. Lho, ada
    apa? Kenapa Kamu menangis ndok?”
  2. Pak
    paijo       : “ ada apa ini jono. Mengapa
    Centini menangis?”
  3. Jono              : “ lho, kenapa bapak dan ibu ada
    di sini?” (jono kaget)
  4. Bu
    poniyem  : “ lha ya bapak dan ibu mau ke
    sawah to.  sudah kamu jangan mengalihkan
    pembicaraan. Ada apa ini. Mengapa Centini menangis? (bu poniyem bertanya  kepada jono)
  5. Centini          : “ selama ini jono telah membohongi
    kita semua, bu ”
  6. Bu
    poniyem dan pak paijo    : “ apa maksudmu
    ndok ?”
  7. Jono              : “tidak bapak, tidak ibu. Semua
    itu tidak benar.”
  8. Centini          : “ tak perlu kau tutupi lagi
    kebohonganmu selama ini, George. “
  9. Pak
    paijo       : “ sebenarnya ini ada apa?
    Jangan buat kami binggung. Jelaskan semuanya pada kami jono ! “ ( dengan nada
    binggung dan sedikit kesal )
  10. Jono              : “ eh…itu..anu… “ ( jono
    tergagap untuk
    menjawab )
  11. Centini          : “ biar saya yang menjelaskan pak.
    Jono adalah putra kerajaan Rote, dia sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi
    akan segera menikah. Tapi dia malah kabur dari kerajaan dan membohongi kita
    semua di sini. ( jelas Centini sambil menahan tangis)

Tiba-
tiba julia datang bersama orang tua George.

  1. Raja
    Mallesy : “ George, berani- beraninya kamu
    kabur dari kerajaan”
  2. Ratu
    Mallesy : “ George, pulanglah nak. Jangan
    mempermalukan kami. Segala persiapan sudah dipesiapkan” (berusaha membujuk
    George)
  3. Julia               : “ ayolah George, kita pulang.
    Kita akan menikah sayang”
  4. Jono              : “ sudah hentikan. Saya tidak mau
    hidup di kerajaan ayah, ibu. Saya tidak mau disuruh- suruh. Saya mau mencari
    arti kehidupan itu sendiri. Saya mau menemukan cinta sejati saya. Dan saya
    telah menemukan cinta sejati saya di pulau Jawa ini. (menggeret Centini)
  5. Ratu              : “apa? Gadis Jawa ini. Tidak bisa
    nak. Kamu harus menikah dengan julia, kerajaan kita akan hancur kalo kamu tidak
    menikah dengan julia. Kamu paham kan nak”
  6. Raja               : “ tidak boleh, kamu tidak boleh
    menikah denga gadis jawa itu” (raja marah)
  7. Jono              : “ ayah, tapi saya sayang,
    saya  cinta, saya mendem wedokan jawa
    ayah…… tolong mengerti saya” ( sambil memegang tangan Centini dengan erat)
  8. Ratu              : “nak, rakyat kita akan mati
    kelaparan kalau kamu tidak menuruti kata- kata ayahmu nak. Jangan menentang”
  9. Jono              : “tidak bisa bu, tidak bisa”
  10. Bu
    poniyem  : “sudahlah jono, ikuti saja
    kata- kata ayahmu. Taruhannya rakyat kamu Jono”
  11. Jono              : “tapi bu”
    (sambil menatap dalam Centini)
  12. Centini          : “turuti kata- kata ayahmu. Rakyatmu
    lebih penting. Dan aku hanya rakyat jelata. Tentu kamu tidak ingin melihat
    rakyatmu mati kelaparan kan?” (berusaha tegar)
  13. Jono              :” tapi Centini, aku benar- benar
    mencintaimu. Dan kita juga telah merencanakan masa depan kita yang indah.
    Dengan anak- anak kita”
  14. Centini          : “aku tidak mencintaimu, selama ini
    aku berbohong. Aku lebih mencintai anak pak lurah si joko. Sudahlah kamu pergi
    saja”
  15. Jono              : “benarkah itu Centini? Tapi
    mengapa kau membohongiku?”
  16. Centini          : “ aku pernah sakit hati dengan joko,
    karena dia telah membuatku sakit hati. Dan menurutku kamu adalah orang yang pas
    untuk dijadikan alat balas dendam.”
  17. Jono              : “ Centini? Jangan kau bohongi
    hatimu. Aku tahu selama ini kamu tak pernah mencintai joko. Aku benar-benar
    mencintaimu Centini”
  18. Raja               : “ sudahlah, ayo kita segera
    pergi dari sini. Kapal kita sebentar lagi akan berangkat. Ibu, julia ajak
    George ikut kembali dengan kita”
  19. Ratu              : “ayo nak kita pulang” (ratu
    mengajak George pergi)
  20. Julia               : “heh, gadis Jawa. Ternyata kau
    lebih busuk dari bangkai. Kau iblis, tega merebut tunangan orang lain. George
    selamanya akan menjadi milik ku” (beranjak meninggalkan sawah)

Centini
tak henti- hentiya menangis. Bu poniyem berusaha menenangkan Centini.

  1. Pak
    paijo       : “ apa benar to nduk kamu
    suka sama Joko?”
  2. Centini          : “ ya gak mungkin lah pak, kang joko
    sudah seperti kakak saya sendiri”
  3. Bu
    poniyem  : “lalu, mengapa tadi
    kamu………….”
  4. Centini          : “pak, bu. Saya sengaja berbohong.
    Agar jono mau ikut kembali ke kerajaannya”
  5. Bu
    poniyem  :” apa sebenarnya kamu mencintai
    jono nduk?”
  6. Centini          : “sangat bu, sangat. Belum ada lelaki
    manapun yang mampu menyentuh hati saya”
  7. Pak
    paijo       : “ tapi, mengapa kamu
    merelakan dia kembali?”
  8. Centini          : “ Centini tidak mau, dengan cinta
    Centini banyak rakyat yang mati kelaparan. Centini juga tidak mau kalau sampai
    orang bilang bahwa Centini tega merebut tunangan orang. Centini tidak ingin
    merasakan kebahagiaan di atas penderitaan orang lain.Centini tidak mau pak,
    bu…..”
  9. Bu
    paijo        : “sungguh mulia hatimu nduk.
    Ibu dan bapak yakin. Kelak kamu akan mendapatkan pendamping yang sangat
    menyayangimu”
  10. Centini                      : “semoga bu,
    amin……………………….”

Demikianlah akhir
dari cerita “PANGERAN ROTE MENDEM WEDOKAN JAWA”. Segala cinta dan pengorbanan
pun harus pupus karena adanya perpedaan serta tanggung jawab pada rakyat. CINTA
TAK HARUS MEMILIKI, NAMUN CINTA AKAN LEBIH INDAH JIKA HARUS MELAKUKAN SEBUAH
PENGORBANAN BESAR, DAN CINTA AKAN SENANTIASA BERSEMI DALAM RELUNG HATI.

“AKU vs AYAHKU”

Posted: 1 Februari 2011 in Naskah Drama

(Naskah Telah Dipentaskan)

Nama2 Pendukung “Aku vs Ayahku”

Nur Marita Sari

Wike Arniyar

Citra Kurnia

Yadmy Lian

Anjas A Kanawadu

Marlina J

Anaci Lamu

Ending E Ledoh

Maya E E

Buce F H

Ira Yudhitia

1. Judul Cerita

“Aku vs Ayahku”

2. Pengorganisasian

Pimpinan Produksi  : Drs. Heru Subrata, M.Si

Sutradara                 : Nur Marita Sari

Asisten Sutradara : Citra Kurnia Sari

Sekretaris : Wike Arniar Sari

Bendahara : Maya E Benu

Penata Panggung : Ira yuditya

Penata Rias & Busana: Marlina

Penata Musik: Anjas Kanawadu

3. Tokoh

  1. 1. Citra Kurnia Sari sebagai Marni
  2. Buce F Henuk sebagai Marjuki
  3. Yadmi lian sebagai Anto
  4. Wike Arniar sari sebagai Cepi
  5. Anaci Lamu sebagai Irna
  6. Marlina sebagai Audi
  7. Maya E Benu sebagai Lala
  8. Ira Yuditya sebagai Bu Wiwik
  9. Endang E sebagai Narator

4. Konsep cerita

Konsep cerita dalam “ Aku vs Ayahku” adalah cerita drama remaja yang menggambarkan sebuah cerita yang sering ditemui di sekitar kita namun diselingi dengan unsur-unsur komedi sehingga tidak terasa membosankan bagi penikmat drama.

Cerita ini adalah cerita yang kami ambil dari salah satu naskah Budi Ros yang berjudul sama  “Aku vs Ayahku”

5. Synopsis cerita

Kisah tentang sepasang anak remaja yang saling jatuh cinta, namun cinta mereka ditolak oleh ayah si perempun (marjuki).

Marni yang merasa tidak adil dengan sikap penolakan si ayah, nekat untuk kabur dari rumah, semua temannya berusaha untuk membujuknya. Namun si anto sebagai pacar mari pun merasa putus asa menghadapi ayah si marni……

Akankah kisa in I berakir indah, mari kita saksikan ….!!!!

6. Konsep panggung

Cerita ini terdiri dari 5 babak. Babak pertama dan ke dua adalah aula sekolah  dan babak ke tiga dan empat  adalah sebuah taman, babak ke lima adalah di rumah marjuki dan marni.  Konsep panggung ini dibuat sederhana namun dapat mewakili dengan jelas jalan cerita yang ditampilkan.

Pada babak pertama dan ke dua setting panggung adalah aula sekolah. Di atas penggung  terdapat

  1. 5 buah kursi pendek
  2. 2 buah tamanam dalan pot
  3. 1 buah papan sterofom bertuliskan aula

Pada babak ke tiga dan empat di sebuah taman. Setting adalah yang terdiri dari:

  1. 1 buah bangku panjang
  2. Beberapa tanaman dalam pot

Pada babak ke lima, setingnya adalah sebuah ruang tamu di rumah marjuki dan marni, terdiri dari :

  1. 3 buah kursi santai
  2. 1 buah meja tamu
  3. Lukisan yang tersebar di dinding dan lantai ruang tamu

7. Konsep busana

Marni : Memakai kaos, bawahan celana jeans, dan jaket

Anto   : Memakai pakaian seragam sekolah, dan berganti dengan atasan kaos

Marjuki : Memakai kemeja lengan pendek, celana panjang dan peci

Cepi : Memakai seragam pramuka dan akan diganti atasannya dengan kaos

Irna, lala, audi  : Memakai pakaian seragam pramuka, dan nanti akan berganti pakaian biasa, berupa kaos dan celana, juga membawa sampur

Ibu wiwik, pakaian batik dan memakai sampur

8. Penokohan

Marni : Kreativ, namun keras kepala, pendiriannya kuat dan mudah tersinggung, saying kepada teman-temannya.

Marjuki  : Wataknya keras, sangat saying terhadap anaknnya dan cenderung protektif, wajahnya tampak garang namun  sebenarnya sayang terhadap keluarga

Anto : Lembut sikapnya, mudah putus asa, cenderung rendah diri, pendirian kuat, badannya tinggi dan tidak terlalu gemuk.

Cepi : Gadis periang, suka menolong teman, cerdas dan lucu. Badannya tidak terlalu tinggi dan agak gemuk

Irna : Halus sikapnya dan sabar, tinggi, putih

Audi  : Sabar, penyayang dan agak centil, tinggi badan sedang

Lala : Sabar penyayang, dan halus.

9. Konsep musik

Music diiringi dengan alat music gitar, dan mainan kentingan, serta music recaman sebagai  backsound.

Naskah

GONG DUA KALI BERBUNYI.

(1) NARATOR            :

Selamat malam semua, Selamat datang … Apa kabar ?. Malam ini kami akan membawakan lakon berjudul Aku versus Ayah, lakon yang sederhana tapi seru. Seru di sini bukan saja ramai, tapi punya arti lain, yaitu Sedikit Ruwet. Ini lakon tentang pertentangan anak muda dan orang tua, pertentangan pop dan klasik, tradisi dan modern. Pertentangan yang sebetulnya tidak perlu ada. Tapi begitulah, nyatanya pertentangan semacam ini selalu ada, dari waktu ke waktu. Dan gara-gara pertentangan ini, kita semua sering kehabisan waktu. Cinta, kata orang bisa menjadi jawaban semua masalah. Tapi dalam kasus ini, cinta mengakibatkan banyak masalah.

GONG BERBUNYI SEKALI

PROLOG

(2) NARATOR :

Drama remaja tentang kisah cinta Si Marni, dia patah hati melulu. Karena setiap kali Marni jatuh cinta, atau ada pemuda jatuh cinta padanya, babenya (pak Marjuki) selalu melarang. Dan anehnya, sang babe selalu punya alasan yang sama: aku sayang sama kamu NAK, jadi aku harus menjagamu. Gile, memangnya cinta itu kejahatan. Atau jangan-jangan babe si Marni ngidam jadi sekuriti. Entahlah. Marjuki, dalam lakon ini punya tugas sebagai tokoh antagonis atau si jahat. Dalam kehidupan nyata, orang tua seperti Marjuki, tidak boleh begitu. Orang tua harus ngemong anak. Harus mengerti kemauan anak. Bukan main larang. Apalagi dalam urusan cinta. Ingin tahu apa yang terjadi dengan kisah cinta Marni? Saksikanlah!

BABAK SATU

ADEGAN SATU

AULA SEBUAH SMU. SIANG.

PARA SISWI / SISWA SEDANG ESKUL MENARI. MEREKA BERGERAK TANPA PENGHAYATAN. IBU WIWIK  MEMBERI PENGARAHAN.

(3) IBU WIWIK :

Coba perhatikan semua. Irna, Audi, Lala, semua tenang dulu sebentar.

(SETELAH SEMUA TENANG)

Perhatikan ya. Menari itu bukan asal bergerak. Tapi bergeraklah dengan perasaan, dengan emosi atau greget. Tanpa dibarengi perasaan, tarian kalian tidak akan menarik. Hambar, kosong. Seperti robot! Dan penonton akan cepat bosan, lalu pulang. Menyedihkan. Tontonan yang ditinggalkan penonton sebelum waktunya adalah tontonan yang sangat menyedihkan.

Sekarang coba lagi dari awal. Coba pakai musik. Ibu mau ke toilet. Irna, pimpin teman-teman, ya. ( PERGI )

(4) IRNA :

Baik, bu. Yuk, teman-teman. Langsung ya ?

(5) LALA :

Istirahat dulu dong.

(6) AUDI :

Heeh, BT nih.

(7) YANG LAIN :

Ya. Pegel juga ya ?

(8) AUDI :

Jadi nyesel milih tari tradisi. Mana gerakannya lambaaattt… jawa banget deh!

(9) YANG LAIN :

Ember …

(10) IRNA :

Siapa yang dulu ngotot milih tari tradisi ?

(11) AUDI :

Eh, bukan gue lagi. Keputusan bersama kan ?

(12) LALA :

Ya. Tapi provokatornya kamu. Lala bilang modern dance aja. eh, kamu ngotot.

(13) AUDI :

Gara-gara ibuku juga sih. Tradisi, tradisi aja, supaya kamu kenal tradisi. Tahunya pegeeelll. Gerakannya lambaaatttt … pantes  Marni nggak mau ikut.

(14) IRNA :

Eh, iya. Jadi inget Marni. Dia belum masuk sekolah juga, dia masih dalam masa protes sama bapaknya ya, gara-gara dilarang pacaran sama si Anto? Tapi, ini kan sudah seminggu dia nggak masuk sekolah. Masa’ dia nggak kangen sama kita.

(15) AUDI :

Memang Kasian Si Marni, Patah hati melulu. Bayangkan saja, Setiap kali Marni jatuh cinta, atau lagi dicintai sama orang, pasti bapaknya melarang.

(16) IRNA :

Iya. Semoga saja Pak Marjuki kali ini sadar kalau tindakannya itu salah. Soalnya Marni itu orangnya keras, kalau seperti ini terus bisa-bisa Marni jadi nekat.

( MARNI MENDADAK MUNCUL )

(17) MARNI :

Heh, latihan yang bener. Jangan mengeluh. Jangan ngerumpi teruss..

(18) SEMUA :

Eh, udah nongol aja dia.

(19) LALA :

Heh, katanya masih mogok sekolah. Kok nongol?

(20) MARNI :

Aku cuma mampir, habis beli cat.

(21) AUDI :

Mau  ngecat rumah? Wah, mau hajatan rupanya? Orang tua Anto mau melamar?

(22) MARNI :

Gila ! Tapi betul teman-teman, aku punya hajatan. Kalian harus datang, ya? Teman-teman, sepertinya aku akan pergi.

(23) LALA :

Mau pergi kemana?

(24) MARNI :

Jauhh..

(25) AUDI :

Iya, tapi kemana?

(26) MARNI :

Ke luar negeri.

(27) LALA :

Ngapain kamu disana?

(28) MARNI :

Jadi TKI.

(29) LALA :

Kamu benar-benar nekat Marni.

(30) IRNA :

Kenapa tiba-tiba pergi? Protes lagi sama ayahmu ya? Jadi ini acara hajatan untuk perpisahan kamu ke luar negeri?

(31) MARNI :

Mmhh.. ada dehh.. Rahasia! Pokoknya datang sajalah.

(32) IRNA :

Acara apa dong, yang jelas?

(33) MARNI :

Datang saja, pokoknya seru. Ini acara kejutan, jadi sengaja tidak pakai penjelasan. Datang dan bawa makanan apa saja, kue kek, rujak kek. Apa saja, soalnya aku nggak sempat masak. Kabarkan ke yang lain ya?  Dah .. (PERGI)

(34) AUDI :

Acara apa sih ?

(35) SEMUA :

Mana tahu.

(SEMUA KELUAR PANGGUNG, ANTO MASUK SENDIRIAN SAMBIL BERNYANYI)

LAMPU BERUBAH

BABAK 2

ADEGAN SATU

DI AULA SEBUAH SEKOLAH. SIANG.

ANTO SENDIRIAN, HATINYA GUNDAH.

(36) ANTO : (MENYANYI)

Bukan ku menolak mu, untuk mencintaimu…

Kau harus tahu siapa diriku…

Aku merasa … orang termiskin di dunia … Yang penuh derita… bermandikan air mata… itulah hidupku ku katakan padamu, agar engkau tahu siapa diriku…

(CEPI, DATANG DIAM-DIAM. NIMBRUNG NYANYI)

Kau orang kaya, aku orang tak punya…

(37) CEPI : (MENYANYI)

Siapa sangka, cinta marni bikin patah hati

cinta marni dilarang pak marjuki

(38) ANTO :

Setan kamu !

(39) CEPI :

Tenang kawan, tenang. Harap tenang. Semua aman terkendali, karena ada Cepi. Kamu ingat kan ? Bayu, Agus, Edo, Tyas, Audi, Lala, Irna, semua pernah punya masalah dalam urusan cinta. Tapi begitu Cepi datang, semua masalah selesai. Jadi harap sabar, tenang.

(40) ANTO :

Memang siapa yang ribut ?

(41) CEPI :

Sekarang aku sedang berpikir, bagaimana supaya ayah Marni bisa menerima kamu. Tapi sebelumnya dengar kataku. Ini penting dan perlu diketahui semua orang. Ini ilmu kuno, tapi manjur. Sayang orang sering melupakan.

Begini, dalam hidup ini ada dua hal yang harus diingat: sukses atau gagal. Menang atau kalah. Untung atau buntung. Senang atau sedih. Bahagia atau sengsara. Dalam urusan cinta, juga hanya ada dua kemungkinan: diterima atau ditolak. Jadi tenanglah.

(42) ANTO :

Memang siapa yang ribut ?

(43) CEPI :

Kalau cinta diterima, kita memang bahagia. Tapi sebetulnya ada sejuta resiko menunggu. Kamu harus apel setiap malam Minggu, harus datang tepat waktu, harus berpikir baju dan parfum apa yang pantas dipakai, punya uang saku, dan hadiah apa yang pantas diberikan pada saat si dia merayakan ulang tahun.

(44) ANTO :

Memang siapa yang bikin aturan begitu ?

(45) CEPI :

Itu baru tahap-tahap awal. Tahap berikutnya, lebih repot. Kamu harus datang silaturahmi pada kakek-neneknya, pada para om dan tentenya waktu mereka hajatan, harus datang waktu sepupu-sepupu dia kawin, atau ultah dan semacamnya.

(46) ANTO :

Siapa yang bikin aturan begitu ?

(47) CEPI :

Pada tahap yang paling serius, waktu kamu sudah nikah dengan dia misalnya, kamu akan dibilang orang paling sombong dalam keluarga mereka, hanya gara-gara  tidak datang waktu mereka bikin acara arisan keluarga. Bayangkan, arisan keluarga, acara paling membosankan di dunia  pun kamu harus datang. Itulah resiko kalau cinta kita diterima seorang gadis. Jadi ditolak, sebetulnya lebih bagus.

( ANTO TERTAWA )

(48) CEPI :

Kenapa tertawa ?

(49) ANTO :

Kamu penyitir yang hebat.

(50) CEPI :

Maksudnya ?

(51) ANTO :

Kamu menyitir buku “ Enaknya Hidup Membujang ” kan ?

(52) CEPI :

Kok tahu ?

(53) ANTO :

Yang nulis buku itu pamanku. Aku sudah baca sebelum buku itu dicetak. Aku pikir cuma aku yang hafal luar kepala, ternyata kamu lebih hafal lagi. Kapan kamu baca buku itu, tadi siang ya ?

(54) CEPI :

Bukan. Tadi sebelum ke sini.

(55) ANTO :

Pantes, hafal sampai titik komanya. Tapi maaf Cepi, aku tidak sepakat dengan buku itu. Ogah aku jomblo seumur hidup. Aku  betul-betul  sayang  sama  Marni,  dan  ingin  suatu  saat  hidup bersamanya. Bisa tidak  bisa, harus  bisa. Apa  pun  rintangan  yang  menghadang,  akan  kuterjang. ( PERGI )

(56) CEPI :

Anto, tunggu. Anto ! Busyet, Romeo sekali. Gila tu si Anto.

(NGOS-NGOSAN) Cepet banget larinya. Seperti atlit lari saja.

(MENGEJAR, MENCOBA UNTUK MENYUSUL ANTO)

LAMPU BERUBAH

ADEGAN DUA

DI AULA SEBUAH SEKOLAH. SIANG.

IRNA MEMBERI TAHU CEPI BERITA TENTANG MARNI.

TIBA-TIBA IRNA MASUK DENGAN TERGESA-GESA.

(57) IRNA :

Heh Cepi! Kamu sedang tidak sibuk kan? Aku mau berbicara serius.

(58) CEPI :

Ada kabar apa Irna? Seperti ada hal yang penting.

(59) IRNA :

Iya. Aku kemari dengan tujuan mencari Anto untuk memberi tahu tentang Marni.

(60) CEPI

Marni kenapa?

(61) IRNA

Dia bilang mau ke luar negeri jadi TKI.

(62) CEPI :

Apa tidak salah? Dia kan masih harus sekolah.

(63) IRNA :

Entahlah. Marni itu nekat. Kata Marni, ini sebagai salah satu kelanjutan bentuk protes pada ayahnya karena tidak mengijinkan dia pacaran sama Anto.

(64) CEPI :

Terus?

(65) IRNA :

Sekarang Anto dimana?

(66) CEPI :

Barusan saja pergi, tadi waktu kamu kesini.

(67) IRNA :

Yah.. padahal ini berita penting

(68) CEPI :

Ada-ada saja itu si Marni. Tapi aku salut terhadap perjuangannya untuk meluluhkan hati ayahnya.

(69) IRNA :

Lalu sekarang kita harus bagaimana?

(70) CEPI  :

Mmmmhhhhh…. (SAMBIL BERPIKIR)

Kapan Marni akan berangkat?

(71) IRNA :

Aku juga kurang tahu. Tapi, dia bilang secepatnya.

(72) CEPI :

Kita harus cepat mencegah dia untuk pergi. Anto juga harus cepat diberi tahu. Apa Anto sudah tahu tentang berita ini?

(73) IRNA :

Entahlah Cepi. Aku tidak pernah bertemu Anto. Susah sekali untuk bertemu dia. Kamu kan temannya, mengapa tidak kamu saja yang menanyakan pada Anto?

(74) CEPI :

Iya. Akan kucoba menanyakannya.

(75) IRNA :

Lalu Marni bagaimana?

(76) CEPI :

Menahan Marni agar tidak pergi adalah tugas kamu, Lala, dan Audi. Kalian kan teman dekat Marni. Jadi, sedikit banyak kalian pasti  tahu bagaimana sifat Marni. Sementara aku menemui Anto. Aku akan mencoba mengajak dia berbicara.

(77) IRNA :

Baiklah. Aku akan memberi tahu teman-teman yang lain.

(PERGI MENINGGALKAN ANTO SENDIRIAN)

(78) CEPI :

Selamat berjuang! Aku akan memberi tahu Anto.

ADEGAN TIGA

SEBUAH AULA SEKOLAH

ANTO SEDANG DIBUJUK CEPI UNTUK SEGERA MENEMUI MARNI.

CEPI SEDANG DUDUK-DUDUK SENDIRI. LALU ANTO DATANG MENGHAMPIRI.

(79) ANTO :

Hei. Ada apa? Aku harap ini penting.

(80) CEPI :

Aku serius Anto. Kamu harus ke rumah Marni. Kamu akan menyesal kalau Marni keburu pergi.

(81) ANTO :

Kalau memang mau pergi masa dia tidak kasih tahu aku ?

(82) CEPI :

Mungkin belum sempat kasih tahu.

(83) ANTO :

Dari mana kamu dapat berita itu ?

(84) CEPI :

Irna, Audi, Lala, semua sudah tahu.

(85) ANTO :

Kalau dia sempat kasih tahu semua orang masa saya tidak dikasih tahu ?

(86) CEPI :

Mungkin  belum sempat, makanya datang supaya tahu. Cari berita, jangan pasif.

(87) ANTO :

Barangkali memang sengaja tidak mau kasih tahu. Sudah tidak peduli sama aku.

(88) CEPI :

Aku tahu sifat  Marni. Tidak mungkin dia begitu.

(89) ANTO :

Nyatanya dia begitu.

(90) CEPI :

Tidak mungkin Anto. Aku yakin ini soal waktu. Mungkin dia menunggu waktu yang  tepat untuk bicara sama kamu. Kalian kan lama tidak saling ketemu. Biasanya kamu datang ke rumah Marni, sekarang tidak. Biasanya kalian jalan bareng, sekarang tidak. Marni juga lama tidak masuk sekolah.

(91) ANTO :

Memang tidak bisa telpon ?

(92) CEPI :

Telpon ke mana ? Kamu HP tidak ada, di rumah jarang.

(93) ANTO :

Jelas, dia sudah berubah. Tidak sayang aku lagi.

(94) CEPI :

Dari pada mengambil kesimpulan buru-buru dan salah, lebih baik kamu buru-buru ke rumah Marni dan semuanya jadi jelas. Tidak ada yang salah terima, tidak ada yang sakit hati. Ayo, kita ke sana. Aku siap menemani.

(95) ANTO :

Kalau ayahnya mengusir kita bagimana ? Aku trauma pernah diusir.

(96) CEPI :

Diusir kita pergi. Dimarahi kita diam. Disuguhi kita makan.

(97) ANTO :

Kamu bisa bilang begitu, coba kamu jadi aku.

(98) CEPI :

Kalau aku jadi kamu, tidak akan pernah diusir. Malah ayah Marni yang akan kubikin mencari-cari aku.

(99) ANTO :

Bagaimana caranya ?

(100) CEPI :

Anak gadisnya kita buntingin !

(101) ANTO :

Ngaco !

(102) CEPI :

Ayo berangkat. Ambil motormu dong.

(103) ANTO :

Jalan kaki saja. Knalpotnya tambah bocor, berisik sekali. Ayah Marni paling benci mendengar bunyi motorku.

(104) CEPI :

Ya sudah. Ayo !

(105) ANTO :

Kamu jalan di depan, aku di belakang.

(106) CEPI :

Aduh. Begitu amat. Seberapa trauma sih ?

( CEPI JALAN, ANTO MENGIKUTI DI BELAKANGNYA )

(107) ANTO : (BERHENTI)

Tunggu Cepi. Bagaimana kalau Marni tidak mau menemui kita ?

(108) CEPI :

Gampang, ingat saja nasehat buku “ Enaknya Hidup Membujang ”. Oke ?

(109) ANTO :

Tidak. Lebih baik aku pulang. ( PERGI )

(110) CEPI :

Ampun… Anto, Anto! Kenapa kamu jadi pengecut begitu sih? Anto! Ampuuunn.

( ANTO TERUS JALAN, CEPI MENGIKUTI )

LAMPU BERUBAH

BABAK 3
ADEGAN SATU

TAMAN SEKOLAH. SORE.

MARNI DIBUJUK TEMAN-TEMANNYA SUPAYA JANGAN PERGI.

INTRO MUSIK

MARNI, IRNA, LALA, DAN AUDI MASUK PANGGUNG.

(111) AUDI :

Jangan Marni, jangan pergi. Pergi tidak akan menyelesaikan masalah.

(112) IRNA :

Justru kamu akan bikin masalah baru.

(113) LALA :

Jadi TKI itu tidak gampang Marni. Kamu akan banyak kesulitan.

(114) IRNA :

Sebaiknya kamu segera masuk sekolah. Sebentar lagi kita ujian, tahun depan kita harus kuliah. Lupakan keinginan konyol itu.

(115) SEMUA :

Lupakan … Marni !

(116) MARNI : ( MENYANYI )

aku harus pergi rumah tak lagi memberiku kedamaian sebab aku dan ayah tak pernah   sepaham cinta pemuda yang kudambakan selalu lepas dari genggaman

(117) AUDI :

Bersabarlah, Marni. Kita masih banyak kesempatan. Waktu berjalan, sikap ayahmu pasti berubah.

(118) IRNA :

Orang seusia kita selalu diangap masih kanak-kanak. Dianggap belum waktunya pacaran.

(119) LALA :

Memang menjengkelkan, tapi di mana-mana selalu begitu.

(120) MARNI :

aku tak mau begitu masa depanku adalah milikku urusan cinta harus kita yang menentukan

(121) IRNA :

Tapi ayahmu bilang tidak melarangmu pacaran. Dia hanya minta kamu memilih pemuda yang tepat, dan jangan sampai pacaran mengganggu belajar.

(122) MARNI :

itu sama dengan melarang

Ayahku bahkan pernah mengusir Anto. Gara-garanya sangat sepele. Suara berisik knalpot motor Anto yang bocor. Padahal ada banyak suara knalpot motor yang lebih berisik lewat  di depan rumah. Itu tidak adil.

(123) AUDI :

Tapi semua pacar-pacar kita pernah ada masalah dengan orang tua kita. Semua pernah diperlakukan tidak adil.  Hubungan kalian pasti akan membaik.

(124) MARNI :

Ketidakadilan harus diperjuangkan, kawan. Sebab ia tidak datang dari langit. Hubungan bisa saja membaik, tapi pasti ada prinsip dan hak-hak yang dilanggar. Ada yang menindas dan tertindas. Dan itu tidak baik.

(125) LALA :

Tapi kami tetap tidak rela kamu pergi Marni. Apa lagi pergi ke luar negeri untuk jadi TKI.

(126) IRNA :

Ya. Omonganmu yang pintar tadi membuktikan kamu tidak pantas jadi TKI. Kamu harus lulus SMU dan kuliah.

(127) MARNI :

Soal ke luar negeri dan jadi TKI, bisa jadi aku memang asal bicara. Yang  jelas aku harus pergi dari rumah. Mungkin itu protes yang mempan buat ayahku.

(128) AUDI :

Itu lebih baik Marni. Kamu bisa tinggal di rumahku. Soal biaya sekolah, jangan kuatir. Ayahku pasti mau bantu.

(129) LALA :

Ayahku juga pasti mau bantu. Tapi kamu harus tinggal bergiliran di rumah kami bertiga dong, supaya adil.

(130) IRNA :

Ya. Aku setuju.

(131) AUDI :

Kalau kamu tidak ke luar negeri, pacaran sama Anto tetap berjalan lancar. Hidup backstreet !

(132) MARNI :

Tunggu. Kalian jangan salah ngerti. Aku pergi dari rumah bukan semata-mata protes. Tapi juga bermaksud mandiri. Supaya aku tidak tergantung siapa-siapa. Supaya aku merdeka menentukan masa depan.  Tinggal di rumah kalian jelas bukan pilihan yang tepat. Aku tetap jadi tanggungan orang.

(133) AUDI :

Itu tidak masalah Marni. Kami ikhlas membantumu. Itulah gunanya sahabat.

(134) LALA :

Yang penting kamu tetap bisa sekolah.

(135) MARNI :

Prioritas utamaku sekarang cari kerja supaya bisa membiayai hidupku sendiri. Sekolah aku pikirkan belakangan. Soal pacaran dengan Anto, aku sendiri tidak yakin tetap bisa jalan. Sejak diusir ayahku, dia tidak pernah muncul lagi. Dia ternyata pengecut. Tapi terimakasih  atas iktikad baik kalian. Selamat sore, aku pergi dulu. Ada perlu. ( PERGI )

(136) IRNA :

Marni, tunggu. Marni !

(137) LALA & AUDI :

Marniii …

(138) AUDI :

Bagaimana sih dia ?

(139) IRNA :

Kok kepala batu banget ?

(140) LALA :

Memang kepala batu dari sononya.

( CEPI MUNCUL BERGEGAS )

(141) CEPI :

He, lihat Marni ?

(142) AUDI :

Baru pergi.

(143) CEPI :

Anto ?

(144) AUDI :

Nggak. Sudah lama nggak lihat Anto. Bukannya dia jarang masuk sekarang ?

(145) CEPI :

Memang.

(146) IRNA :

Ada apa ?

(147) CEPI :

Mungkin cuma Anto yang bisa membujuk Marni tidak kabur ke luar negeri. Kemaren aku bicara sama Anto supaya dia datang menemui Marni, tapi gagal. Malah Anto ngambek. Merasa tidak dipamiti. Memang  Marni belum pamit sama Anto, ya ?.

(148) IRNA :

Kelihatannya begitu. Marni juga ngambek karena Anto tidak pernah datang lagi sejak dimarahi ayahnya.

(149) CEPI :

Begitu ? Wah, tambah ruwet dong. Terus bagimana ini ?

(150) IRNA :

Bagaimana, bagaimana ? Kita juga tidak tahu bagaimana.

( MENDADAK TERFIKIR ) Cepi, bagaimana kalau kita bagi tugas ?

Begini, coba temui Marni …

(151) CEPI :

Saya tadi ke rumah dia, tapi tidak ada …

(152) LALA :

Tadi dia di sini …

(153) IRNA :

Temui Marni, bujuk supaya ketemuan sama Anto. Saya, kami bertiga ini, membujuk Anto supaya ketemuan sama Marni. Bagaimana ?

(154) CEPI :

Tapi Anto sudah dibilangin juga bandel.

(155) IRNA :

Kamu jangan ikutan bandel. Kita berbagi tugas, setuju ? Oke ?

(156) CEPI :

Okelah kalo begitu.

LAMPU BERUBAH.

BABAK 4

ADEGAN SATU

TAMAN YANG SAMA, BEBERAPA HARI KEMUDIAN. SORE.

MARNI BERTEMU ANTO.

MARNI SUDAH LAMA MENUNGGU, DUDUK DIAM-DIAM.

ANTO DATANG KEMUDIAN,  JUGA DIAM-DIAM.

(157) MARNI :

Aku  kira  tidak datang …

(158) ANTO :

Aku kira kamu juga tidak datang …

( BEBERAPA SAAT ANTO SALAH TINGKAH. MAU DUDUK DI SEBELAH MARNI TAPI RAGU. AKHIRNYA IA DUDUK JUGA, TAPI AGAK JAUH. SUASANANYA SUNGGUH KAKU )

(159) ANTO :

Kamu mau pergi untuk menghindari aku kan ?

(160) MARNI :

Kamu tidak pernah datang ke rumah lagi, kenapa ?

(161) ANTO :

Supaya ayahmu tenang, karena tidak ada suara knalpot motor yang berisik.

(162) MARNI :

Bijaksana sekali …

(163) ANTO :

Aku harus tahu diri. Aku kan cuma tukang ojek dan sopir tembak. Jangan kata pacaran sama kamu, datang ke  rumahmu pun aku tidak pantas.

(164) MARNI :

Oo … jadi begitu cara berpikirmu ? Kalau begitu kamu lebih cocok jadi anak ayahku, dan memang tidak pantas jadi pacarku. Maaf … selamat tinggal ! (PERGI)

(165) ANTO : ( KAGET )

Marni .. Marni …

( MARNI BALIK LAGI )

(166) MARNI :

Maaf, saya tidak ada urusan sama tukang ojek. ( MAU PERGI LAGI TAPI ANTO MENAHANNYA )

(167) ANTO :

Maaf Marni, aku tidak bermaksud membuat kamu marah.

(168) MARNI :

Kamu sudah membuat aku marah.

(169) ANTO :

Maaf. Aku tidak akan membuat kamu marah lagi. Maaf.

(170) MARNI :

Katakan dengan jujur, kenapa lama tidak datang ? ( LAMA TIDAK MENJAWAB ) Katakan ! Kamu takut sama ayahku ? Aku benci orang yang pengecut Anto. Aku yakin kamu juga benci orang semacam itu. Jadi salahkan dirimu sendiri, jangan  menyalahkan aku. Aku mau pergi dari rumah, tujuanku jelas. Aku protes keras pada ayahku karena dia berlaku tidak adil pada kita. Jelas ?

(171) ANTO :

Kamu betul, aku pengecut..

(172) MARNI :

Bagus kalau kamu sadar. Tapi kenapa harus berlaku pengecut ? Kamu tidak salah apa-apa sama ayahku. Pacaran juga bukan kejahatan. Yang penting kita tahu batas.

(173) ANTO :

Ya. Tapi mungkin ayahmu betul. Kamu harus memilih pemuda yang tepat. Dan itu bukan aku.

ANTO MENYANYI LAGU “TAPI BUKAN AKU”-KERISPATIH.

(174) MARNI :

Stop ! Jangan mulai lagi Anto. Selain benci pengecut, aku juga benci orang rendah diri. Dulu kamu begitu percaya diri dengan semua yang kamu kerjakan. Kamu punya cita-cita dan berjuang keras untuk meraihnya. Itu kelebihan kamu. Itu juga yamg membuat aku … sayang  … sama kamu. Jadi tolong jangan berubah.

(175) ANTO :

Kamu  .. betul-betul sayang sama aku ?

(176) MARNI : ( MALU-MALU )

Ah, pakai nanya lagi.

(177) ANTO :

Tapi nilaiku jeblok. Aku banyak narik dan bolos sekolah. Aku kuatir tidak lulus.

(178) MARNI :

Belum terlambat untuk mengejar ketinggalan.

(179) ANTO :

Biaya kuliah makin mahal, apa aku sanggup ?

(180) MARNI :

Pasti sanggup. Kamu pekerja keras. Kalau perlu kamu bisa kerja yang lain, yang penghasilannya lebih banyak.

(181) ANTO :

Tapi ngojek pekerjaan bersejarah, Marni. Itu kan yang mempertemukan kita ?

(182) MARNI :

Ya. Suara knalpot motormu yang berisik membuat aku selalu menengok setiap kamu lewat di depan rumah.

(183) ANTO :

Ya. Dan kamu bilang pada teman-temanmu, aku tukang ojek paling keren.

(184) MARNI :

Yang jelas kamu berbeda. Tukang ojek lain kalau nunggu penumpang main gaple, kamu bikin PR. Tukang ojek lain selalu siap dengan uang kembalian, kamu tidak. Tukang ojek lain siap menerima uang tip, kamu malu-malu.

(185) ANTO :

Sekarang aku tidak malu, supaya cicilan motor cepat lunas.

(186) MARNI :

Eh, berapa utangku ?

(187) ANTO :

Utang apa ?

(188) MARNI :

Langganan ngojek sama kamu.

(189) ANTO :

Simpan saja uangmu. Aku lagi tidak butuh.

(190) MARNI :

Yang kamu butuh apa dong ?

(191) ANTO :

Pakai tanya lagi. Kita kan lama nggak ketemu ? Marni. ( MEMEGANG TANGAN MARNI )

(192) MARNI : ( MALU )

Apa sih ?

(193) ANTO :

Soal pergi ke luar negeri, kamu tidak sungguh-sungguh kan ?

(194) MARNI :

Tidak tahu. Yang jelas, aku harus pergi dari rumah. Aku tidak tahan, ayahku betul-betul kelewatan. Tidak adil. ( MENANGIS ) Aku harus protes. Harus ! Sampai ..

(195) ANTO :

Setuju, boleh saja protes. Tapi kan bisa dengan cara lain. Pergi dari rumah, bukan cara yang tepat. Nanti semuanya jadi kacau.

( MARNI TERUS MENANGIS. ANTO MENENANGKAN )

Tunggu, tenang dulu. Tenang Marni. Dengar. ( MARNI DIAM )

Bagaimanapun, rumah adalah tempat terbaik untuk memulai segala rencana, segala cita-cita. Dan orang tua, segalak apa pun, tetap sayang sama anak.

(196) MARNI :

Sok tahu, ah !

(197) ANTO :

Aku tidak sok tahu, Marni. Tapi memang tahu. Kamu juga tahu ayahmu sayang sama kamu. Kamu hanya sedang emosi.

(198) MARNI :

Terus aku harus bagaimana ? Apa usulmu ?

(199) ANTO :

Kamu janji tidak akan pergi ?

(200) MARNI :

Ya. Asal kamu tetap ke rumah seperti biasa.

(201) ANTO :

Janji kembali masuk sekolah ?

(202) MARNI :

Ya. Janji.

(203) ANTO :

Oke. Aku punya usul untuk kamu. Ayo, kita bicara di tempat lain. Nanti penonton tahu rencana rahasia ku. (BERBICARA KEPADA PENONTON)

( MEREKA PERGI )

LAMPU BERUBAH

BABAK 5

ADEGAN SATU

BERANDA DEPAN RUMAH MARJUKI. SIANG.

SETELAH MENGGAMBARI SELURUH TEMBOK RUMAH, MARNI MENGGAMBARI LANTAI. ITULAH UNGKAPAN PROTES MARNI KEPADA SANG AYAH, SEBAB SELALU DILARANG PACARAN.

SEBELUMNYA, MARNI PROTES DENGAN CARA MOGOK BICARA SEMINGGU. SEBELUMNYA LAGI, IA MOGOK MAKAN DAN TIDAK KELUAR KAMAR 3 HARI TIGA MALAM.

MARJUKI BARU DATANG DARI KELURAHAN, KAGET MELIHAT AKSI MARNI.

(204) MARJUKI :

Ya, ampun. Protes  model  apa  lagi ini Marni ? Masa, seluruh rumah digambari begini ? Aduh … aduuhh … gambar apa pula ini ? (MEMANDANG LEBIH SEKSAM ) Ya ampun, Marni .. Marni … saya pikir protes kamu sudah cukup. Tujuh hari mogok bicara, 3 hari 3 malam mogok makan dan tidak keluar kamar, eh masih ada lagi. Seluruh rumah digambari begini. Lukisan abstrak lagi. Soal protes dengan cara yang lain-lain itu, okelah. Ayah  bisa terima. Tapi lukisan abstrak ini, saya keberatan. Melukis itu ada aturannya. Pertama orang harus melukis realisme, surealisme, kemudian yang lain-lainnya, baru abstrak.

(205) MARNI :

Itu kuno.

(206) MARJUKI :

Apa salahnya kuno kalau  baik ?

(207) MARNI :

Apa salahnya modern kalau juga baik ?

(208) MARJUKI :

Sudahlah Marni, jangan ajak ayah berdebat. Capek.

(209) MARNI :

Marni juga capek, makanya kemaren seminggu diam.

(210) MARJUKI :

Marni, sekali lagi ayah tegaskan. Ayah tidak melarang kamu pacaran. Ayah hanya tidak setuju dengan caramu. Kamu pacaran tidak kenal waktu. Pagi, siang, sore, malam. Itu satu. Kedua, ayah ingin kamu benar-benar memilih pemuda yang cocok.

(211) MARNI :

Itu sama saja dengan melarang.

(212) MARJUKI :

Lain, Marni. Beda.

(213) MARNI :

Sama!

(214) MARJUKI :

Mmm  … berdebat lagi.

(215) MARNI :

Dulu, ayah melarang Marni dekat sama Ongky. “ Jangan yang beda agama ” kata ayah. Lalu Marni dekat sama Taufik, ayah juga melarang. “ Jangan dengan anak pejabat. Miskin tidak pantas, kaya disangka KKN ” begitu.

Sekarang, Marni dekat sama Anto, jelas dia anak baik,  se-iman, bukan anak pejabat. Apa lagi ? Apa ayah  tidak ada kata lain selain “ jangan ” ?

(216) MARJUKI :

Siapa rela punya anak pacaran sama pengangguran ?

(217) MARNI :

Siapa bilang dia pengangguran ? Dia sekolah ayah.

(218) MARJUKI :

Kalau sekolah ngapain  tiap pagi mondar-mandir naik motor ?

(219) MARNI :

Pagi dia  ngojek.

(220) MARJUKI :

Kapan sekolahnya ?

(221) MARNI :

Anto Masuk siang.

(222) MARJUKI :

Kalau sekolah siang kenapa malam-malam sering datang ke sini ? Habis sekolah mustinya pulang ke rumah, bukan main ke sini.

(223) MARNI :

Malam dia narik angkot ayah. Kalau lagi sepi, atau angkotnya dibawa orang lain baru main. Kan tidak tiap malam Anto ke sini ?

(224) MARJUKI :

O, supir tembak ? Ampun Marni, apa yang bisa diharap dari tukang ojek dan sopir tembak ?

(225) MARNI :

Jangan kuatir. Dia punya cita-cita tinggi, punya platform !

(226) MARJUKI :

Syarat yang diperlukan sebagai calon suami adalah hidup mapan, punya pekerjaan tetap, penghasilan cukup, dan sayang sama kamu.

(227) MARNI :

Itu pendapat kuno.

(228) MARJUKI :

Biar kuno kalau baik apa salahnya ?

(229) MARNI :

Biar modern kalau baik juga apa salahnya ?

(230) MARJUKI :

Jangan mengajak berdebat Marni. Capek !

(231) MARNI :

Saya juga capek dan tidak ada waktu. Masih banyak yang harus Marni kerjakan. Seluruh rumah harus saya lukis. Tapi catnya kurang. Permisi dulu. Saya mau beli cat.  ( PERGI )

(232) MARJUKI :

Duh, aduh … punya anak perempuan satu kok repot amat, susah dibilangin….marni..marni

ADEGAN DUA

RUMAH MARJUKI. SIANG

IRNA, AUDI, LALA DAN BEBERAPA TEMAN MARNI DATANG.

MEREKA SEMUA LANGSUNG MENGAGUMI LUKISAN MARNI.

MARJUKI MENEMUI MEREKA, MARNI TIDAK DI RUMAH.

(233) MARJUKI :

Silahkan, silahkan masuk semua.

(234) SEMUA :

Terimakasih …

(235) AUDI :

Marni ada, om ?

(236) MARJUKI :

Barusan pergi. Buru-buru rupanya, malah tidak pamit. Kalian sudah janjian mau datang?

(237) AUDI :

Kapan hari marni mapir ke sekolah, dan dia mangundang kami ?.

(238) IRNA :

Marni bilang, acara kejutan. Jadi tidak pakai penjelasan acaranya apa.

(239) LALA :

Ya. Keliatannya kemaren dia buru-buru sekali. Habis beli cat dan banyak pekerjaan di rumah. Dia juga pesan supaya kami bawa makanan. Marni tidak akan sempat masak katanya. Ini om, kami bawa jajan pasar.

(240) MARJUKI :

O, begitu ya ?  Ya .. ya.. Terimakasih .. terimakasih. Mungkin yang Marni maksud acara kejutan ya ini, lukisan-lukisan yang memenuhi rumah ini. Sebab setahu saya tidak ada kejutan lain.  Kami pun tidak punya hajatan apa-apa. Jadi silahkan menikmati lukisan-lukisan ini.

( SEMUA LANGSUNG MENGAGUMI LUKISAN MARNI )

(241) AUDI :

Ini semua Marni yang melukis om ?

(242) MARJUKI :

Ya, Marni semua.

(243) IRNA :

Luar biasa. Sangat berbakat.

(244) LALA :

Fantastis !

(245) IRNA :

Di mana Marni belajar melukis om ? Setahu saya, di sekolah Marni tidak pernah belajar.

(246) MARJUKI :

Saya juga kurang tahu. Sejak kanak-kanak Marni lebih tertarik menari atau menyanyi.

(247) AUDI :

Apa ini yang dikerjakan Marni selama seminggu lebih tidak masuk sekolah ?

(248) MARJUKI :

Marni mengerjakan ini hanya sehari semalam.

(249) SEMUA :

Oh … luar biasa.

(250) IRNA :

Sangat luar biasa ! ( BEBERAPA SAAT DIAM )

Om, ada apa sebetulnya dengan Marni ?

(251) LALA :

Apa dia sedang jatuh cinta  dan …

(252) AUDI :

… dan om melarangnya ?

(253) MARJUKI :

Saya tidak pernah melarang. Saya hanya meminta Marni memilih pemuda yang tepat dan jangan pacaran sembarang waktu. Jangan sampai pacaran mengganggu jam belajar. Itu kan tuntutan umum setiap orang tua ?

(254) IRNA :

Mungkin cara om meminta pada Marni terlalu keras, dan …

(255) LALA :

… dan Marni terluka hatinya.

(256) IRNA :

Ya, terluka hatinya. Lihat om, lihat semua lukisan itu. Saya bisa menangkap, luka hati yang sangat, sangat  …

(257) AUDI :

… sangat dalam ….

(258) IRNA :

Maaf om, sebagai orang tua om tentu lebih tahu bagaimana menyayangi anak. Tapi sebagai anak, kami-kamilah yang lebih tahu apa yang kami butuhkan dari orang tua. ( PADA AUDI ) Bukan begitu ?

(259) MARJUKI :

Mungkin begitu …

(260) AUDI :

Lihat om, lihat lukisan yang sebelah sini.

(261) MARJUKI :

Ya, saya lihat.

(262) AUDI :

Om lihat warna putih yang menggumpal seperti awan ?

(263) MARJUKI :

Ya.

(264) AUDI :

Apa yang om rasakan waktu melihat gumpalan warna putih itu ?

(265) MARJUKI : ( BINGUNG )

Ee … e ..

(266) AUDI :

Saya merasakan hati pelukisnya yang tengah kosong, hilang harapan, hampa.

(267) LALA :

Mungkin, waktu Marni melukis itu, darahnya tengah berhenti mengalir, karena kepedihan yang sangat.

(268) IRNA :

Bisa jadi hati Marni serasa terbang ke awan, sebab bumi tempatnya berpijak tidak memberi harapan apa-apa.

(269) AUDI :

Om lihat, warna hitam di lantai sebelah sini ?

(270) MARJUKI :

Yang mirip gua karang bolong ?

(271) AUDI :

Ya. Apa yang timbul dalam imajinasi om memandang lukisan ini ?

(272) MARJUKI : ( BINGUNG )

Ya ..  ada semacam ..

(273) IRNA :

Saya merasakan masa depan yang suram, gelap ..

(274) LALA :

Seperti masuk  sumur tanpa dasar.

(275) AUDI :

Persis !

(276) IRNA :

Mungkin sebaiknya om bicara dengan Marni, tanyakan apa yang terjadi. Semua lukisan ini adalah isyarat yang sangat jelas, hati Marni sedang kacau. Mungkin ada keinginan terpendam yang tidak kesampaian. Kalau saya jadi om, saya akan kabulkan apa pun keinginan Marni.

(277) LALA :

Ya, om harus bicara dan mengabulkan keinginannya.

(278) IRNA & AUDI :

Harus.

(279) MARJUKI : ( RAGU-RAGU )

Ya, ya, soal bicara dengan Marni saya rasa itu usulan yang baik. Dan saya sudah sering mencoba. Tapi kalau soal mengabulkan keinginan Marni, harus saya timbang-timbang dulu. Dan, maaf ya, anu, saya ada rapat RT di kelurahan. Saya sudah terlambat. Saya kan ketua RT paling senior di kampung ini, jadi malu kalau terlambat. Apa kalian mau menunggu Marni pulang, atau bagaimana ?

(280) AUDI : ( BINGUNG )

Mungkin …

(281) IRNA : ( BINGUNG JUGA )

Mungkin sebaiknya kami pulang.

(282) LALA :

Ya. Nanti kami datang lagi kapan-kapan.

(283) YANG LAIN :

Salam buat Marni ya om.

(284) IRNA :

Sampaikan pada Marni, kami gembira sekaligus sedih atas acara kejutan ini.

(285) MARJUKI :

Ya, ya … saya sampikan nanti.

( TEMAN-TEMAN MARNI PERGI )

(286) MARJUKI :

Kurang ajar. Berani-beraninya kasih nasehat sama saya. Apa  hak mereka menyuruh saya menuruti apa saja kemauan anak saya ? Sok pintar. Aku susah payah membiayai anakku, aku punya hak atas masa depan anakku. Ini pasti akal-akalannya si Marni sama si Anto.

(287) MARNI : ( MUNCUL DARI DALAM )

Jangan menuduh sembarangan, ayah. Aku tidak tahu apa-apa. Apa lagi Anto. Semua yang mereka lakukan tadi, adalah isnisiatif mereka sendiri. Aku sudah mencegah tapi mereka ngotot. Itu sebabnya aku pergi.

(288) MARJUKI :

Mereka datang atas undanganmu kan ?

(289) MARNI :

Aku memang mengundang mereka, tapi sekedar untuk ngobrol dan pamitan. Aku mau jadi TKI ke luar negeri. Itu protesku selanjutnya pada ayah. Dan aku akan terus protes sampai ayah mengijinkan aku pacaran sama Anto.

(290) MARJUKI :

O, begitu ? Jadi kamu pikir dengan protes keras ayah akan mengijinkan ?

(291) MARNI :

Tentu ada syarat lain. Aku harus mandiri. Dengan bekerja aku punya uang. Dengan uang aku bisa menentukan masa depanku sendiri. Selamanya anak akan kalah suara, kalau anak masih tergantung sama uang orang tua.

(292) MARJUKI :

Stop Marni ! Itu pikiran yang dangkal.

(293) MARNI :

Kita tidak perlu berdebat ayah. Aku pergi dulu, banyak urusan. ( PERGI )

(294) MARJUKI :

Marni …  ( mengejar marni) LAMPU BERUBAH

ADEGAN TIGA

RUMAH MARJUKI. MALAM.

CEPI DATANG KE RUMAH MARJUKI UNTUK MENYAMPAIKAN PESAN MARNI.

(295) MARJUKI :

Ya ampun, jadi Marni betul-betul mau pergi ke luar negeri ? Aku pikir cuma gertak.

(296) CEPI :

Rupanya begitu, om. Saya juga tidak menyangka Marni sungguh-sungguh.

(297) MARJUKI :

Terus di mana Marni sekarang ? Kapan berangkatnya ?

(298) CEPI :

Saya juga tidak tahu. Dia cuma bilang sekarang ada di tempat penampungan. Saya tanya bolak-balik di mana alamatnya, dia tetap tidak mau menjawab.

(299) MARJUKI :

Tapi apa secepat itu prosesnya ? Diterima jadi TKI bukannya prosesnya panjang ?

(300) CEPI :

Itu juga pernah saya tanya. Dia bilang, “ semua bisa diatur ” asal ada uang.

(301) MARJUKI :

Dari mana Marni dapat uang ?

(302) CEPI :

Ya  dari  uang  gaji Marni yang dipotong tiap bulan nanti. “ Semua dibiayai sama agen ”, begitu Marni bilang.

(303) MARJUKI :

Apa nama agennya ? Di mana alamatnya ?

(304) CEPI :

Marni tidak sebut-sebut om. Dia hanya minta tolong saya supaya mengambil beberapa  baju yang ketinggalan.

(305) MARJUKI :

Ya ampun, Marni .. Marni. Apa sebegitu besar marahmu sama ayah, sampai-sampai harus  pergi keluar negeri jadi TKI ? Tidak pamit lagi. Coba nak Cepi pikir, apa pantas ?

(306) CEPI :

Kalau ditanya pantas atau tidak, jelas tidak pantas. Tapi kelihatannya, Marni memang sangat marah sama om. Tapi terus-terang, sebagai teman, saya tidak setuju Marni pergi. Marni sebentar lagi ujian dan tahun depan harus kuliah. Setelah lulus kuliah, terserah mau ke mana dan jadi apa. Jadi TKI ke luar negeri pun tidak masalah. Itu bukan hal yang jelek. Menyelesaikan kuliah, lebih aman buat masa depan Marni.

(307) MARJUKI :

Ah, itu baru pikiran sehat. Terus, teruskan nak …

(308) CEPI :

Maaf om, saya tidak bisa lama. Marni memerlukan baju yang saya ambil.

(309) MARJUKI :

Kapan Marni mau ambil baju-baju itu ? Di mana kalian janjian ketemu ?

(310) CEPI :

Maaf om, saya tidak boleh bilang. Itu pesan Marni.

(311) MARJUKI :

Tolonglah nak Cepi, sebutkan. Saya harus ketemu Marni sebelum dia pergi. Tolong, saya mohon sekali. Please …

(312) CEPI :

Sekali lagi, maaf om. Saya tidak bisa melanggar janji.

(313) MARJUKI :

Please …

(314) CEPI :

Maaf  ommm …. Saya tidak bisa. (MENATAP MARJUKI BEBERAPA SAAT) Tapi, kalau om bersedia kerjasama dengan saya, kita sebetulnya bisa membatalkan Marni pergi. Seperti saya bilang tadi, saya tidak setuju Marni pergi.

(315) MARJUKI :

Membatalkan Marni pergi ? Bagaimana caranya ? Jelas saya setuju.

(316) CEPI :

Tapi jangan sampai dia tahu. Ini rahasia antara kita. Om Setuju ?

(317) MARJUKI :

Setuju. Saya bisa pegang janji. Bagaimana caranya ?

(318) CEPI :

Tunggu dulu. Saya mau tanya, tolong jawab dengan jujur Apa sebetulnya yang membuat Marni marah sama om ?

(319) MARJUKI :

Saya melarang Marni pacaran sama Anto.

(320) CEPI :

Kenapa ?

(321) MARJUKI :

Saya tidak tahu persis. Saya merasa, si Anto sebetulnya anak baik. Jadi, saya tidak sungguh-sungguh melarang. Tapi Marni keburu protes keras. Merasa tidak didengar omongannya, saya jadi tambah jengkel.

(322) CEPI :

Saya lihat Marni begitu juga. Makin dilarang, makin menentang. Intinya sama: ingin didengar suaranya.

(323) MARJUKI :

Begitu ?

(324) CEPI :

Begitu.

(325) MARJUKI :

Jadi bagaimana caranya supaya Marni tidak jadi pergi ?

(326) CEPI :

Turuti saja kemauannya. Toh om sudah yakin Anto anak baik.

(327) MARJUKI :

Nak Cepi bisa jamin 100% Marni batal pergi ?

(328) CEPI :

Saya harus ketemu Marni dulu.

(329) MARJUKI :

Kalau begitu temui Marni, segera. Katakan, saya akan ijinkan Marni pacaran sama Anto. Sesudah itu, ajak mereka berdua ke sini supaya mendengar langsung dari  saya.

(330) CEPI :

Om Marjuki bisa pegang janji ?

(331) MARJUKI :

Bisa. Saya jamin !

(332) CEPI :

Baik. Kalau begitu saya jamin 100% Marni batal pergi. Permisi dulu om, saya harus cari Marni dan Anto sekarang juga. Saya akan kabarkan berita gembira ini.

(IRNA, AUDI, LALA DAN BEBERAPA TEMAN MARNI YANG LAIN MENDADAK MUNCU )

(333) IRNA :

Tunggu Cepi !  Maaf om Marjuki, kami mendengar semua pembicaraan ini. Kami ikut gembira. Tapi itu tidak cukup. Harus ada jaminan tertulis bahwa om Marjuki akan menepati janji.

(334) CEPI :

Tidak Irna, aku percaya orang tua bijaksana ini.

(335) AUDI & LALA :

Perlu dong !

( ANTO TIBA-TIBA MUNCUL )

(336) ANTO :

Tidak, tidak perlu. Cepi betul. Saya juga percaya om Marjuki akan menepati janji. Ini kan bukan urusan jual beli tanah atau semacamnya. Tapi urusan anak dan orang tua. Jangan repot-repot. Janji secara lisan sudah cukup.

(337) IRNA :

Tapi …

(338) MARJUKI :

Nak Anto betul, jangan repot-repot. Makin kita repot, makin lama Marni di penampungan TKI. Kasihan dia. Lebih baik kita cari Marni sekarang. Apa kalian ada yang tahu alamatnya ?

( MARNI TIBA-TIBA MUNCUL DARI ARAH DALAM )

(339) MARNI :

Marni sudah di sini ayah. Tidak usah dicari.

(340) MARJUKI : ( KAGET )

Marni ?  Ah, kemarilah kamu nak. Ayah sangat kuatir ada apa-apa dengan kamu.

(341) MARNI :

Jangan kuatir ayah, Anto menjaga aku. Kalau bukan karena dia, aku pasti jadi TKI sungguhan.

(342) MARJUKI :

Syukur .. syukur kalau begitu. Terima kasih nak Anto.

(343) ANTO :

Marni melebih-lebihkan om.

(344) MARNI :

Anto meyakinkan aku begitu rupa, segalak apa pun, ayah tetap sayang aku. Dan rumah adalah tempat terbaik menyusun rencana dan cita-cita.

(345) MARJUKI :

Bagus. Kamu menemukan pemuda yang tepat anakku. Dan kamu tidak tinggal di tempat penampungan bukan ?

(346) MARNI :

Tidak.

(347) IRNA, AUDI & LALA :

Di rumah kami om. Kami bertiga.

(348) MARJUKI :

Jadi  siapa  yang  mengatur nak Cepi datang ke mari dan main sandiwara di depan saya ?

(349) ANTO :

Saya om. Sayalah komadan semua sandiwara malam ini. Sebagai komandan saya tidak akan lari. Saya siap diadili.

(350) MARJUKI :

Bagus. Itu komandan yang baik. Anda siap saya tuntut di depan penghulu menikahi anak saya ?

(351) ANTO :

Sekarang ?

(352) IRNA & YANG LAIN :

Huuuu  …

(353) MARJUKI :

Nanti, setelah lulus kuliah dong.

(354) ANTO :

Marni, siap jadi anggota Dharma Wanita ?

(355) MARNI : ( MALU )

Idih, Apaan siihh… masa harus dibahas sekarang ?

PENUTUP

( ANTO MENGGANDENG MARNI DAN MENYANYI BERSAMA )

MARNI: ( MENYANYI )

BILANG PAPA KU

KAU TAK KAN BUAT KU

BERUBAH MENJADI

ANAK YANG NAKAL

ANTO: ( MENYANYI )

BILANG PAPA MU

KU CINTA PADA MU

DAN AKU TAK PERNAH MAIN-MAIN

SEMUA : BIARKANLAH SAJA DULU

KITA JALAN BERDUA

MEREKA PUN PERNAH MUDA

SAATNYA KAU DAN AKU SEKARANG

LAMPU PADAM PERLAHAN

SELESAI

“KAMPUNG KARDUS”

Posted: 29 Januari 2011 in Naskah Drama

(Naskah Telah Dipentaskan)

 

Pimpinan Produksi:

Drs. Heru Subrata, M.Si.

Sutradara:

Teguh Budiyono

Nama Anggota:

1. Adijaya Singgih

2. Indah Febri Astuti

3. Dewi Widiana Rahayu

4. Fida Munawaroh

5. Endang Suhartatik

6. Wahyu

7. Rahmat Arifin

8. Arif K

9. Martisilia Ades

10. Yesi Yulia Hari Astuti

11. Tri Juni Harto

12. Suheri

KONSEP CERITA

Konsep cerita dalam “ Kampung Kardus“ adalah sejenis drama realist, mengangkat kisah kehidupan sehari-hari yang terjadi dalam masyarakat. Cerita ini merupakan salah satu cerita yang diambil dari kumpulan drama-drama dari fakultas bahasa dan seni. Dan naskah ini telah kami rangkai dan kami revisi sedemikian rupa agar menarik bagi penonton.

Teguh Budiyono                sebagai sutradara + Paijo(orang 1)

Adijaya Singgih sebagai Pak Lurah

Indah Febri Astuti sebagai Siti

Dewi Widiana R                 sebagai Rahmi

Fida Munawaroh                sebagai Surti

Endang Suhartatik sebagai Neneng

Wahyu Susilo sebagai Denok

Rahmad Arifin sebagai Pak Carik

Arif Krisdiantoro               sebagai Preman 1

Suheri                sebagai Preman 2

Martisilia Ade sebagai Simbok

Yessy Yulia sebagai Kontraktor

Tri Juni Harto sebagai Warga

KARAKTERISASI

  • Teguh Budiyono sebagai Paijo(orang 1)

Karakter         : Orang yang keras kepala.

  • Adijaya Singgih sebagai Pak Lurah

Karakter         : Orang yang licik, tukang korupsi, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai segala sesuatu.

  • Indah Febri Astuti sebagai Siti

Karakter         : Orang yang keras kepala, licik, dan suka membantah.

  • Dewi Widiana R. sebagai Rahmi

Karakter         : Orang yang mempunyai sikap halus, sopan, dan tidak mudah marah.

  • Fida Munawaroh sebagai Surti

Karakter         : Orang yang mudah putus asa.

  • Endang Suhartatik sebagai Neneng

Karakter         : Orang yang selalu pasrah dengan keadaan yang ada (nerimo)

  • Wahyu Susilo sebagai Denok

Karakter         : Orang yang selalu optimis.

  • Rahmad Arifin sebagai Pak Carik

Karakter         : Orang yang mudah terpengaruh.

  • Arif Krisdiantoro sebagai Preman 1

Karakter         : Orang yang berwatak keras, kejam, tidak mau tahu dengan keadaan.

  • Suheri             sebagai Preman 2

Karakter         : Orang yang berwatak keras, kejam, tidak mau tahu dengan keadaan.

  • Martisilia Ade sebagai Simbok

Karakter         : Orang tua renta yang sakit-sakitan.

  • Yessy Yulia sebagai Kontraktor

Karakter         : Orang yang licik, menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan.

  • Tri Juni Harto sebagai Warga

Karakter         : Orang yang keras kepala.

SINOPSIS CERITA

Cerita ini mengkisahkan sekelompok masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai pemulung dan tinggal di suatu kampung yang dianami “Kampung Kardus”, rumah-rumah dikampung ini semuanya adalah rumah semi permanen yang dibangun dari dinding seadanya. Kehidupan dikampung ini sangat sederhana dan miskin, namun mereka masih berkeinginan untuk memperbaiki kehidupan ada yang meninggalkan kampung dan menjadi TKI dan ada yang bersekolah meski hanya seorang dan itupun dilakukan dengan berhutang. Masyarakat yang tinggal dikampung ini kebanyakan masih buta aksara karena kemiskinan yang mendera mereka hanya mengandalkan hasil memulung untuk kehidupan sehari-hari, meskipun begitu warga dikampung ini sangat rukun.  Konflik dimulai ketika datang kontraktor yang hendak membangun kampung kardus menjadi perumahan elit. Pertentangan antara warga dan lurah terjadi manakala uang ganti rugi yang disanggupi dirasa belum sesuai dengan yang diharapkan warga karena kecurangan yang dilakukan oleh lurah dan carik. Akhirnya perwakilan warga kembali berunding namun belum terjadi kesepakatan malahan tokoh Siti yang merupakan perwakilan dari warga juga bersekongkol dengan lurah supaya warga mau dipindah, namun semua tidak sejalan dengan harapan Siti, Pak Lurah yang dianggap akan memberikan imbalan baginya justru malah menipunya. Suatu ketika datang preman orang-orang dari Pak Lurah untuk mengusir warga yang tidak mau pindah, kericuhanpun terjadi dikampung ini akibat ulah preman yang membuat warga ketakutan dan pergi. Denok yang dulunya pergi menjadi TKI datang dan pulang kerumahnya, namun yang didapati hanya kampung yang sepi dan hancur, tidak ada lagi orang2 yang ramai memilah hasil pulungan, tidah ada lagi sahabatnya si Neneng, yang tersisa hanya Siti dan Surti yang menjadi gila karena ditinggal pacarnya. Semua warga meninggalkan kampung karena kecewa kepada Siti.

ALUR

Drama ini termasuk drama yang beralur maju.

KONSEP PANGGUNG

Dalam cerita ini terdiri dari 1 babak, konsep panggung drama ini adalah panggung prosenium dimana panggung ini berada di dalam ruangan lengkap kebutuhan pementasan seperti tor mentor, setwing, backdrop, sengaja kami buat sesederhana mungkin tetapi tidak mengurangi kesesuaian dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun poerperti yang kami pakai sebagai berikut :

  1. Rumah-rumahan kumuh.
  2. 4 buah karung pemulung.
  3. Botol-botol bekas dan kardus-kardus bekas, kaleng bekas.
  4. 1 buah kursi panjang.
  5. 1 buah bakul tempat sayuran lengkap dengan sayurnya.
  6. 1 buah koper sebagai pendukung TKI yang datang dari luar negeri.
  7. Bambu Tua.

KONSEP BUSANA

Konsep busana antara lain :
1. Lurah memakai baju setelan batik supaya terlihat seperti lurah.

2. Carik memakai baju batik

3. Siti memakai baju seragam SMA dan baju kuliah.

4. Mbok Rahmi memakai baju daster tambal dengan kain jarik usang.

5. Denok memakai baju kaos usang dan kemudian bergati dengan baju ala TKI baru datang dari luar negeri lengkap dengan koper.

6. Mbok Denok memakai kebaya dan kain jarik.

7. Neneng memakai baju kaos usang, kemudian berganti baju yang bersih karena berganti profesi sebagai tukang sayur.

8. Orang 1(paklik Neneng) memakai pakaian usang seperti pemulung

9. Warga memakai pakaian usang seperti pemulung

10. Kontraktor memakai baju setelan seperti pegawai kantor

10. Surti memakai baju usang dengan dandanan orang gila.

11. Preman memakai pakaian ala preman.

KONSEP MUSIK

  1. Musik nuansa.
  2. 2. Musik efek

KONSEP LAMPU

  1. Black Out
  2. Lampu senter tengah depan (waktu aktor masuk)
  3. Set wings (lampu sayap panggung)
  4. Black Out
  5. Blitz
  6. Adegan terakhir lampu redup, hanya satu lampu yang menyala kearah aktor.

SKENARIO

Kampung Kardus

Karya : Gepeng Nugroho

Sebuah perkampungan kumuh, bangunan-bangunan dari kardus. Orang-orang beraktifitas seperti biasanya, mengumpulkan barang-barang bekas, berangkat sekolah dan lain sebagainya, layaknya kehidupan perkampungan pemulung.

  1. Siti : “Ahhhhh…… hari ini ndak di sangoni lagi. Suruh puasa sama simbok. Katanya seperti biasanya : nduk selagi masih sekolah kamu harus prihatin, kita ini orang miskin, ndak usah jajan ndak apa-apa, ndak bakalan mati, mendingan kamu puasa aja, biar pinter. Walah tiap hari kok suruh puasa.”
  2. Rahmi : “Nduk, piye to ora ndang mangkat, malah gedumelan. ngopo? Ngglendeng simbok, karena nggak disangoni, ya?”
  3. Siti : “Siapa yang ngglendeng simbok, wong lagi ngapalin pelajaran kok. Katane suruh pinter.”
  4. Rahmi : “Ngapalin pelajaran kok sambil mencab-menceb lambene.”
  5. Siti : “Lha wong pelajaran drama kok mbok, teater….. ini namanya mimik, ekspresi muka, kan harus ekspresif.”
  6. Rahmi : “Awas ya kalo ngglendeng simbok, kuwalat nanti!”
  7. Siti : “Walah….. ndak-ndak mbok, simbok ini kok sensitif banget tho”

Simbok berbalik kembali mau masuk kedalam rumah, siti menceb mengejek rahmi, beberapa langkah jalan lalu jatuh terpeleset. Rahmi berbalik menengok.

  1. Rahmi : “Jalan itu ngati-ati tho nduk… cah wedok kok polahe bedigasan!.”
  2. Siti : “Tenang mbok, ndak apa-apa, hanya kepleset. Aduuuhhhh.”
  3. Rahmi : bener nggak apa-apa? Apa mau pura-pura sakit biar mbok nulis surat ijin biar kamu bolos?”
  4. Siti : “Walah… ndak mbooookkk! Lagian sombong, mbok kan nggak bisa nulis, mau nulis surat ijin, lucu simbok’i.”
  5. Rahmi : “Makanya jangan jadi orang bodo, walaupun nggak punya uang kamu harus tetep sekolah, biar pinter, bisa nulis surat ijin  untuk anakmu mbesok.”

Rahmi berbalik masuk kedalam rumah.

  1. Siti : “Dasar simbok…….. eh ntar kuwalat lagi…………”

Siti exit

Masuk denok, kemudian duduk di sebuah kursi panjang

  1. Denok : “Bosen, tiap hari seperti ini, ndak ada perubahan. Kalo seperti ini terus hidup juga ndak akan maju-maju.:

Neneng masuk.

  1. Neneng : “Kenapa nok? Sedal-sedul seperti itu? We di Tanya kok malah mlengos.”
  2. Denok :  “Aku bosen.”.
  3. Neneng : “Opo? bosen, kamu wes bosen sama aku tho nok?, ooo… yoh….. kita ndak usah kekancan lagi, aku juga ndak pate`en ndak kekancan sama kamu!”
  4. Denok : “Wes, ndak usah nrocos ndak karuan, makanya kalo ada sesuatu itu ditelaah terlebih dulu biar ndak mis komunikasi, aku kan belum selesai ngomongnya.”
  5. Neneng : ”Apa lagi nok? Sudah cukup jelas penjelasan dari kamu tadi. Singkat dan jelas ndak usah di reply.”
  6. Denok : “Kosek to, sebentar…… aku kan ndak ngomong kan tadi kalo aku bosen sama kamu? Walaupun memang kamu orangnya mbosenin. Aku ini bosen dengan kehidupan kita sekarang, yang tengah kita jalanin ini. Apa kamu juga ndak bosen? tinggal diantara rumah-rumah kardus, sampah-sampah. Kita ini seperti bukan manusia saja. Kita ini kan kaum masyarakat yang ndak dianggep oleh dunia.”
  7. Neneng : “La terus maumu apa? Ndak ada yang bisa kita lakukan yo tho.”
  8. Denok : “Ya memang ndak ada kalo kita cuman bisa nerimo, berusaha dong.”
  9. Neneng : “Kita kan udah kerja siang malam, itu kan juga sudah usaha. Tuh tadi lihat mbak rahmi menyekolahkan si siti itu juga salah satu cara jalan untuk menuju sugeh. Siapa tahu setelah disekolahkan walaupun untuk makan saja sulit, kalo mau bayar sekolah saja nunjang sana sini cari utangan, tapi siapa tahu nanti siti jadi orang pinter, dapat kerjaan yang mapan, terus sugih. Itukan juga sudah upaya menuju sugeh.”
  10. Denok : “Kesuwen, kelamaan……. Selak uwanen rambute.”
  11. Neneng : “Lha maumu terus gimana?”
  12. Denok : “Aku mau pergi dari kampung kardus ini. Aku mau nyari kerja.”
  13. Neneng : “Mau kemana kamu?”
  14. Denok : “Aku mau kemana saja, mungkin ke kota, asal tidak ditempat ini”

Tanpa disadari mbok denok datang

  1. Denok : “Pokoknya aku mau kerja apa saja asal halal.”
  2. Mbok : “Kamu mau kemana? Kamu ndak boleh pergi, lalu mbokmu ini sama siapa kalo kamu pergi.”
  3. Denok : “Mbok… denok pengen jadi orang sugih mbok. Simbok kan seneng kalo jadi wong sugih?”
  4. Mbok : “Yang terpenting bagi simbok adalah kita tetep bisa kumpul. Makan ndak makan asal kumpul.”
  5. Denok : “Simbok harus dukung dong cita-cita luhur anakmu.”
  6. Mbok : “Kamu boleh kerja apa saja, dimana saja, asal masih tinggal bersama mbokmu dirumah.”
  7. Denok : “Ah…simbok kolot, ra gaul banget.”

Denok exit.

  1. Mbok : “Ra gaul? Nok opo tho maksudte? neng apa maksudnya aku ndak gaul?”
  2. Neneng :  “Simbok biar keliatan gaul pake celana jeans aja. Hahahahahaaa…….”
  3. Mbok : “Hus…. omong dleweran ra karuan.”
  4. Mbok : “Nok….. kamu ndak boleh tinggalin simbok”

Mbok exit

Beberapa saat kemudian masuk surti

  1. Surti : “Neeeng….. kamu harus Bantu aku neng. Ini penting, kamu akan sangat berjasa kalo bisa Bantu aku.”
  2. Neneng : “Bantu apa sih sur?”
  3. Surti : “Aku dapat surat dari kang samsul. Kang samsul kangen sama aku, pengen cepet ketemu. Sebentar lagi pulang.”
  4. Neneng : “Syukurlah kalo begitu, lha terus apa hubungannya denganku? Kamu mau minta bantuan apa coba?”
  5. Surti : “Tolong bacain surat ini dong.”
  6. Neneng : “Lho… kok…..”
  7. Surti : “Kamu kan tahu sendiri aku tidak bisa baca.”
  8. Neneng : “Kok kamu tahu tadi isi suratnya?”
  9. Surti : “Baru perkiraan aja.”

Neneng membuka surat.

  1. Neneng : “Lho kok tulisannya pake tinta merah?”
  2. Surti : “Itu tandanya cinta. Ah nggak gaul kamu. Kalo surat cinta itu kan harus penuh warna-warna cerah. Pasti nggak pernah nulis surat tho?”
  3. Neneng : “Zaman gini kok masih surat-suratan, sms dong atau e mail, deso banget.”
  4. Surti : “Walah jangan banyak ngomong, cepetan kamu bacain, tapi ingat jangan bocorin sama siapa-siapa ya, aku kan malu, siapa tahu isi suratnya juga hot.”
  5. Neneng : (membacakan surat) “Dek surti yang cantik…. Lama banget kakang ndak pernah kasih kabar sama adek. Gimana kabarnya sekarang dek?”
  6. Surti : “Baik kang, bagaimana kabarnya Kang Samsul?”
  7. Neneng : “Syukurlah kalo begitu, kang samsul baik-baik aja, tenang aja kamu ndak usah kawatir. Ada hal yang sangat penting yang ingin kakang sampaikan pada Dek Sur.”
  8. Surti : “Apa itu kakang?”
  9. Neneng : “Kita kan sudah lama menjalin hubungan cinta.”
  10. Surti : “Maksud kakang pasti mau pulang terus mau ngelamar aku kan?”
  11. Neneng : “Bukan itu dek, justru karena sudah terlalu lama dan kayaknya tidak ada peningkatan bagi hati kakang, lagian disini kakang sudah menemukan yang lain, maka dengan berat hati Dek, kakang putuskan untuk kita akhiri hubungan ini, kakang sudah berencana menikah dengan orang Gombong.”
  12. Surti : (menangis)
  13. Neneng : “Jangan menangis tho Dek.”
  14. Surti : (merebut surat kemudian merobeknya) “Kamu jahat kakang, kamu tidak setia.” ( menangis sambil exit)
  15. Orang 1 : “Ada apa tho? kamu nakalin surti po neng?”
  16. Neneng : “Kayak anak kecil saja, ini urusan hati dan perasaan. Love. Hart……”
  17. Orang 1 : “Halah ngomong pateng pentuntung, keduwuren. Ngomong wae tentang kerdus, kertas sekilo 700, plastic bekas. Hidup di tempat sampah kok ngomongin cinta.”
  1. Neneng : “Lha wong bukan aku kok , surti, pak leeeek…Lhe pating penteleng kok nanggon aku.”

Orang1 kembali beraktifitas kembali.

Beberapa saat kemudian masuk mbok sambil menangis.

  1. Orang 1 : “Opo meneh…. Hari ini kok syarat dengan tangisan tho, ora simbok ora surti podho tangisan, sak jane kuwi ono opo tho?”
  2. Mbok : “Neng denok minggat, kabur, eh pergi dari rumah…, denok minggat.”
  3. Neneng : “Apa mbok, denok kabur?”
  4. Orang 1 : “Tenane lho mbok?”
  5. Mbok : “Denok ninggalin surat ini.”
  6. Orang 1 : “Apa isinya mbok?”
  7. Mbok : “Makanya aku datang kesini, tolong bacakan suratnya Neng, aku ndak bisa baca.”
  8. Orang 1 : “Lo critanya gimana tho mbok kok ada acara minggat segala.”
  9. Mbok : “Sek kowe menengo sek, biar neneng  baca suratnya.”
  10. Orang  1 : “Jangan sama neneng, dia itu tukang ngawur kalo suruh baca surat.”
  11. Neneng : “Apa kamu aja nih yang baca???”
  12. Orang 1 : “Lho kamu kan tahu kalo aku tidak bisa baca tho neng. Wah…ngece banget’i.”
  13. Neneng : “Yo wes makane meneng wae. Simbok yang terhormat, maafkan Denok, Denok ndak pamitan pergi dari rumah, kalo Denok pamit mesti simbok ndak mengijinkan, jadi Denok langsung cabut saja. Tapi simbok ndak usah kawatir, Denok akan jaga diri baik-baik. Demikian juga simbok juga harus jaga diri baik-baik. Takecare mbok. Peluk cium dari ananda tercinta…. Muach…… Denok.”
  14. Mbok : wo alah gusti denok….. teganya kamu ndok ninggalin simbok sendiri…..

Orang orang kemudian ribut juga menenangkan simbok. Simbok pingsan, kemudian beramai-ramai orang orang menggotongnya. Exit

Masuk siti, kemudian masuk rumah.

  1. Siti : “Walah karo sambel meneh. Kapan pintere kalo tiap hari sama sambel teruuuuusssss.”

Waktu berlalu. lima tahun setelah kepergian denok, suasana dikampung kardus belum banyak berubah. Siti sudah jadi mahasiswi di universitas elite karena dapat beasiswa. Neneng jadi tukang sayur. Dan mayoritas warga masyarakat masih tetep sebagai pemulung.

Lurah mengadakan inpeksi mendadak didalam kampung.

  1. Carik : “Nah disekitar sini maunya bos besar mau bangun real estate itu.”
  2. Lurah : “Yayayayaaa….. daerah seperti ini kok ya payu ya?”
  3. Carik : “Mungkin ada pertimbangan-pertimbangan tertentu, kita kan ndak ngerti yang menjadi planing bos besar dari kota itu.”
  4. Lurah : “Tempat bosokan gini kok payu ya?”
  5. Carik : “Sekarang yang ndak laku itu apa tho pak lurah.  Sekarang banyak kekurangan lahan, natalitas semakin meningkat tetapi lahan tetap malah seolah makin menyempit…”
  6. Lurah : “Kamu bisa mengatur semua ini tho? kamu harus bisa mengatasinya. Ini kan  tugas mudah, bagaimana caranya saja kamu menyampaikannya.  Mereka itu orang-orang bodo jadi gampang dikibulin. Kamu janjikan saja uang gantinya.”
  7. Carik : “Lha memang sudah dijatah tho dari bos besar? Semeternya 200 rb.”
  8. Lurah : “Bodo, kamu gak bakat sugeh. Bilang sama mereka tanah itu di beli seharga 50 ribu, kalo nggak mau akan dibongkar paksa. Lagian itu kan bukan tanah milik mereka. Uang ganti rugi itu diberikan juga karena kasian pada mereka.”
  9. Carik : “Sory pak lurah, mudeng deh saya.”
  10. Lurah : “Kamu pengen ngerasain naik mobil pribadi tho? Dengan musik yang jeduk-jeduk? Duit itu bisa buat beli mobil yang jeduk-jeduk.”
  11. Carik : “Duit saya yang utama mau tak buat bangun WC dulu ah pak. lha wong saya kalo buang hajat masih dikali. Masak naik mobil jeduk-jeduk tapi buang hajadnya masih dikali.”
  12. Lurah :  “Terserah kamu sajalah, kita atur sendiri-sendiri duit kita.
  13. Carik : yang terpenting kan kita dapat duit banyak tho bos?”
  14. Lurah : “Kamu atur deh nanti.”
  15. Orang 1 : “Eee pak lurah kadingaren pak lurah mau datang kemari, bukan lagi kampanye kan bu?”
  16. Lurah : “Nah kebetulan kok sepi lagi pada kemana?”
  17. Orang 1 :  “Ya biasa tho Pak, kerja. Ada apa tho Pak? Ada program sensus?”
  18. Lurah :  (pada carik) “Kamu kumpulkan deh orang-orang sekarang.”

100. Carik :  (pada orang 1) “Kita mau ketemu dengan seluruh warga, kamu sekarang kumpulkan mereka ya, sifatnya penting dan sangat mendesak.”

101. Orang 1 : “Lha ya tapi ada apa?”

102. Carik : “Ada program kesejahteraan masyarakat yang harus segera disampaikan pada masyarakat.”

103. Orang 1 : “Pembagian bantuan subsidi BBM diajukan ya pak, atau malah di tambah?”

104. Carik : “Wes ndak usah cerewet, laksanakan saja tugas tadi, dasar wong susah, sugihe mung sugih omong.”

105. Orang 1 : (melihat orang 2, kemudian memanggil) “Pak lurah sama sekdes mau ketemu dengan seluruh warga, ini sifatnya penting dan sangat mendesak. Kamu sekarang kumpulin seluruh warga, ini perintah langsung.”

Orang 2 exit.

Beberapa saat kemudian warga mulai berdatangan.

106. Carik : “Warga yang baik.”

107. Orang 1 : “Njih pak? kadingaren banget mengadakan sidaknya mendadak?”

108. Orang 2 : “Apa itu sidak?”

109. Orang 1       : “Infeksi mendadak.”

110. Orang 2 : “Ooo…walah… inspeksi mendadak tho.”

111. Lurah “We neng kamu sekarang ganti profesi tho? Sekarang jualan sayur?”

112. Neneng :  “Iya lah pak, lumayan sekarang ndak kotor lagi, sekarang bisa dandan.”

113. Orang 2 : “Walah memang kamunya saja yang menel.”

114. Neneng : “Orang jualan itu harus tampil cantik dan menarik biar jualannya laku.”

115. Orang 1 :  “Jualan apa dulu?”

116. Neneng : “Ya sayur tho, memangnya apa? kalo jualan sayur nglomprot kayak kamu ya males yang beli.”

117. Orang 1 : “We…lhadhalah kok malah ngece tho kowe neng ……”

Terjadi kericuhan. .

118. Carik :  “Wes… wes…. Saudara-saudara sekalian, sengaja saudara2 sekalian dikumpulkan mendadak oleh kami disini adalah ada hal yang sangat penting yang perlu saudara sekalian ketahui.”

119. Carik : “Saudara sekalian, kami datang kemari untuk memberikan kabar gembira untuk kalian. Saudara2, saudara…. Wilayah ini, kampung kardus yang kalian tinggali ini akan segera dibangun real estate oleh kontraktor dari kota sana.”

Semua bersorak gembira.

120. Neneng : “Lha sek – sek…. Tapi terus bagaimana nasib kita selanjutnya, apa real state itu terus menjadi milik kita?”

121. Carik : “Lha kok enakmen. Kalian akan dipindahkan dari tempat ini.”

122. Warga :  “Digusur? Enak saja. Ndak bias.”

123. Carik :  “Bisa. Kalian nantinya akan di beri ganti rugi tiap warga untuk mencari tempat dan membangun rumah kembali.”

Semua warga gaduh.

124. Orang 1 : “Berapa akan kalian beri kami ganti rugi.”

125. Carik : “Ganti ruginya cukup besar. Lima puluh ribu.”

126. Lurah : “Empat puluh saja.”

127. Carik : “Maksud saya empat puluh ribu.”

Warga tidak setuju.

128. Lurah : “Ya udah lima puluh ribu.”

129. Carik : “Lho katanya 40 ribu pak?”

130. Lurah : “Ini namanya strategi negosiasi.”

131. Carik : “Ya sudah saya naikkan menjadi 50 rb.”

Warga masih menolak dan makin ramai.

132. Carik : “Wah sudah ndak kondusif ini pak lurah.”

133. Lurah : “Pokoknya kamu atur.”

134. Carik : “Baiklah kalo begitu, masalah ganti rugi nanti  perwakilan dari kalian akan  kami ajak berembuk di kelurahan. Kita tunggu di kelurahan.”

Lurah dan carik exit.

Orang-orang masih gaduh, kemudian memilih perwakilannya untuk pergi kekelurahan.

Beberapa orang exit. Sementara yang lain kemudian berkerumun membicarakan penggusuran itu.

Beberapa saat kemudian masuk siti.

135. Siti : “Ada apa tho mbok?”

136. Rahmi : “Kita akan di gusur nduk.”

137. Siti : “Digusur?”

Rahmi kemudian cerita soal penggusuran itu.

138. Siti : “Waduh mbok, ndak bisa begitu,  kalo gitu biar siti juga pergi ke kelurahan.”

139. Rahmi : “Tenang semua ya, anakku siti yang akan berdialog dengan pak lurah, dia kan bocah sekolahan, bocah pinter, pasti bisa bernegosiasi untuk kepentingan kita.seng ngati-ati ya sit, kamu pasti bisa, kita serahkan tanggung jawab ini sepenuhnya kepadamu.”

Siti exit

Orang makin kwatir dan was-was dengan penggusuran itu. Mereka berharap penggusuran itu tak jadi di lakukan. Beberapa saat kemudian orang-orang yang ikut rapat dikelurahan kembali.

140. Orang 2 : “Pokoknya aku tidak mau pergi dari tempat ini. Titik. Sampai darah penghabisan.”

141. Orang 1 : (pada rahmi) “Anakmu itu lho, apa ada persengkongkolan dengan pak lurah? Kok malah memihak pada mereka?”

142. Rahmi : “Apa iya?”

143. Orang 1 : ‘Nanti Tanya aja sendiri.”

Masuk siti.

144. Siti :  “Wah enak ni aku sama mbokku bisa kaya, bisa makan enak, bisa tidur nyaman, enak ini jadi wong sugih.”

145.  Rahmi : “Apa benar kamu juga sudah sekongkol dengan bu lurah. Tidak memihak pada kita?”

Siti menarik rahmi

146. Siti : “Mbok, tenang saja, kita nanti akan dapat persenan dari bulurah. Kita akan dapat lebih banyak duit ganti rugi, ditambah uang tutup mulut. Bulurah telah mempercayakan pada saya untuk membantu carik. Pada urusan ini.”

147. Rahmi :  “Kamu aku sekolahkan bukan untuk membodohi orang yang memang bodo.”

148. Siti : “Simbok, ini bisnis.”

Rahmi meninggalkan Siti sambil marah dan kecewa.

Seluruh warga ribut dan berdemo.

149. Neneng : “Sekarang kita harus bertindak cepat, kita protes besar-besaran, kalo perlu anarkis. Mogok makan!”

150. Orang 1 : “Nek kon mogok makan wegah, aku ra kuat!”

155. Neneng : “Cuman menggertak saja, kalo ndak gitu, kita tuntut mundur aja pak lurah.”

Semua warga berdemo. Exit

Masuk kontraktor, pak lurah dan carik

156. Kontraktor : “Ya.. tanah ya bagus untuk dibangun, pasti akan untung. Iya kan rik?”

157. Carik : (sambil mencatat) ya…. Ya bagus bos (gugup)

158. Kontraktor : “Sudah di distribusikan ganti rugi pada warga? Warga juga telah setuju kan dengan jumlah yang saya tawarkan. Apa perlu saya yang langsung melakukan kesepakatan dengan mereka?”

159. Lurah : “Ooooooo…oo.o.o jangan-jangan, semua sudah beres kok, ganti rugi sudah disepakati warga. Besok lahan ini akan dikosongkan.”

160. Carik : “Besok?”

161. Lurah :  “Menurut informasi warga telah membeli perumahan sederhana. Namun layak huni.”

162. Kontraktor : “Jadi ganti rugi yang saya berikan layak bagi mereka. Trimakasih telah membantu saya dalam hal ini, pak lurah dan carik memang pejabat teladan.”

163. Lurah : “Terimakasih atas kepercayaannya, kami sangat menjunjung tinggi kepercayaan yang diberikan kepada orang lain terhadap kami.”

164. Kontraktor : “Kita tinjau yang sebelah sana pak, sebelah sana calonnya saya bangun supermarket.”

Mereka exit

Waktu berlalu. Penggusuran terjadi, seluruh warga panik. Terjadi kekerasan dan lain-lain.

Kemudian lengang.

165. Siti : “Pak lurah, gimana janji bulurah, katanya mau kasih persenan.”

166. Lurah : “Nanti kalo urusannya sudah selesai, pasti tak bayar.”

167. Siti : “Kapan bu???”

Exit

Beberapa saat kemudian masuk denok

168. Denok : “Mbok aku pulang! (terkejut) lo ada apa ini? Kok jadi begini……… “

169. Siti : “Mbak denok?”

170. Denok : “Siti ya? Wah pangling aku.. sudah gede ya?”

171. Siti : “Kemana saja mbak selama ini?”

172. Denok :”Ya kerja, jadi TKW diluar negri. Lumayan lah dek. Ada apa ini? (menangis) kok jadi begini?”

173. Siti : (menangis) “Warga telah digusur.”

174. Denok : “Digusur? Lalu kemana semua warga, juga simbokku?

175. Siti :  (menggeleng)  simbok saya pun ndak ngerti dimana. saya sibuk ngurusin duit di bulurah saat penggusuran itu dilakukan. Saya tak membayangkan akan begini jadinya. Saya juga telah dibohongi oleh bu lurah.  Seluruh warga padahal juga telah membenci saya, termasuk simbok saya yang telah sangat kecewa dengan saya. Saya bingung harus bagaimana?”

176. Denok : “Simbok…..”(menangis)

Masuk surti yang telah jadi gila karena dulu ditinggal pacarnya.

177. Surti :”Lho…. Lagi pada ngapain? Kok melankolis banget tho, ditinggal pacar ya? Tenang aja, semua lelaki memang seperti itu. Mendingan kita nyanyi bareng yuk……..”

SELESAI

“PUTRI JAGAD”

Posted: 29 Januari 2011 in Naskah Drama

(Naskah Telah Dipentaskan)

RANCANGAN PEMENTASAN

A. Staf Produksi Pementasan

1. Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si

2. Staf Administrasi

  1. Sekretaris    : Rina Susanti
  2. Bendahara   : Wika Ayu Arifina

3. Staf Produksi

  1. Sutradara     : Dara Rosediana Putri
  2. Penulis Skenario : Rista Febriana Saputri
  3. Pencatat Adegan : Any Kusuma Wardhani
  4. Penata

1)       Penata Panggung    : Yulis Indriyani, Yunis Indriyanti

2)       Penata Rias dan Busana:  Mivtakul Zanah,  Anggralita Sandra D

3)       Penata Musik        : Agung Priyambodo, Benyamin Sinlae

4)       Penata Tari            : Rizki Nur Rosidah, Muhibbatul Latifah

4. Pelaku/ Pemain

  1. Raja Bumi mangku langit             : Agung Priyambodo
  2. Permaisuri Semilikithi Weleh-weleh: Wika Ayu Arifina
  3. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe: Benyamin Sinlae
  4. Putri Ayu Sajagade Dewe             : Rizki Nur Rosidah
  5. Dayang Rayu Tur Kemayu          : Mivtakul Zanah
  6. Dayang Kece Tur Memble           : Rina Susanti
  7. Nini Sihir Endelwati                    : Anggra Lita Sandra Dewi
  8. Sekretaris Kerajaan                      : Any Kusuma Wardhani
  9. Pengawal Jasim                            : Yulis Indriyani
  10. Narator                                        : Muhibbatul Latifah

B. Konsep Penyutradaraan

Karakter Pemain

  1. Raja Bumi Mangku Langit                  :   Bijaksana dan berwibawa
  2. Permaisuri Semilikithi Weleh-weleh   :   Cemburuan
  3. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe   :   Berwibawa dan tegas
  4. Putri Ayu Sajagade Dewe                   :   Lemah lembut, Sopan dan Baik hati
  5. Dayang Rayu Tur Kemayu                 :   Licik dan Syirik
  6. Dayang Kece Tur Memble                 :   Centil
  7. Nini Sihir Endelwati                           :   Endel dan Bengis
  8. Sekretaris Kerajaan                            :   Patuh dan Bertanggung Jawab
  9. Pengawal                                            :   Patuh pada pemimpin

2. Logat Bahasa

  1. Raja Bumi mangku langit                   :   Gaul dan Medok
  2. Permaisuri Semilikithi Weleh-weleh   :   Bahasa Indonesia
  3. Pangeran Ayu Sajagade Dewe            :   Bahasa Indonesia
  4. Putri Ayu Sajagade Dewe                   :   Bahasa Indonesia
  5. Dayang Rayu Tur Kemayu                 :   Gaul
  6. Dayang Kece Tur Memble                 :   Gaul
  7. Nini Sihir Endelwati                           :   Gaul
  8. Sekertarias Kerajaan                          :   Bahasa Indonesia
  9. Pengawal                                           :   Bahasa Indonesia

3. Suasana

Suasana Drama Putri Jagad lucu dan menegangkan

4. Setting

Drama Putri Jagad berlangsung di Sebuah Kerajaan

5. Alur → Maju

C. Konsep Cerita

TEMA : “Obsesi Seorang Dayang Menjadi Putri Raja”

Cerita “Putri Jagad” merupakan suatu cerita yang menggunakan konsep drama komedi. Cerita ini mengisahkan mengenai Putri Ayu Sajagade Dewe istri dari Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe dari kerajaan Sendang Agung Tentrem Adem Ayem yang di singkirkan oleh Dayang Rayu Tur Kemayu, dayang kerajaan yang iri dengan keelokan Putri Ayu. Dalam drama ini, kami menyelipkan beberapa unsur komedi dengan tujuan untuk menyuguhkan tontonan yang menyegarkan agar dapat menghibur para pemirsa penikmat drama. Adapun pesan yang ingin kami sampaikan lewat cerita “Putri Jagad” ini adalah kita hendaknya jangan merasa syirik dengan kelebihan orang lain, karena rasa syiriklah yang pada akhirnya nanti akan menjatuhkan kita. Dan sebaiknya kita harus selalu bersyukur dengan semua pemberian Yang Maha Kuasa.

Cerita “Putri Jagad” ini terdiri dari 9 adegan dalam 1 babak, diantaranya :

Adegan 1

Raja yang sedang merayu Permaisuri dengan rayuan khas miliknya

Adegan 2

Pangeran dan Putri yang baru saja tiba dari Paris

Adegan 3

Keiridengkian Dayang Rayu Tur Kemayu yang mulai meluap dan menjadi-jadi

Adegan 4

Bantuan Nini Sihir Endelwati pada Dayang Rayu Tur Kemayu untuk menguasai Kerajaan dan menggantikan posisi Putri Ayu Sajagade Dewe sebagai Putri Kerajaan

Adegan 5

Penyingkiran Putri Ayu Sajagade Dewe oleh Dayang Rayu Tur Kemayu

Adegan 6

Kecurigaan Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe terhadap Penurunan Otonomi Kerajaan yang kian memburuk dan meresahkan kerajaan

Adegan 7

Percekcokan antara Dayang Rayu Tur Kemayu dengan Pangeran Ganteng Sajagade Dewe

Adegan 8

Kekhawatiran Dayang Rayu Tur Kemayu atas kembalinya Putri Ayu Sajagade Dewe

Adegan 9

Pembongkaran rahasia dan kejahatan Dayang Rayu Tur Kemayu

SINOPSIS CERITA

Alkisah disebuah kerajaan “Sendang Agung Tentrem Adem Ayem” hiduplah seorang raja yang arif dan bijaksana bernama “Raja Bumi Mangku Langit ”. Raja Bumi Mangku Langit mempunyai seorang permaisuri yang bernama “Permaisuri Semilikithi Weleh-weleh”. Kehidupan Raja dan Permaisuri semakin lengkap dengan lahirnya seorang putra raja bernama ”Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe”. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewepun telah dewasa dan telah menikah dengan seorang gadis desa yang bernama “Putri Ayu Sajagade dewe”. Keluarga kerajaan sangat bahagia dan kehidupan di kerajaanpun sangat makmur pada masa pemerintahan Raja Bumi Mangku Langit bersama putranya Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe. Hingga pada suatu hari salah seorang dayang kerajaan yang bernama “Dayang Rayu Tur Kemayu” mulai berulah dan ingin menguasai kerajaan. Dia sangat syirik dan sangat iri hati pada kebahagiaan yang dimiliki oleh putri Ayu Sajagade Dewe. Dia menghalaukan segala macam cara untuk menyingkirkan putri dan menggantikan putri Ayu Sajagade Dewe sebagai putri kerajaan.

Sesosok nenek sihir yang sangat endel bernama “Nini Sihir Endelwati” datang menghampiri Dayang Rayu Tur Kemayu untuk menawarkan jasa. Nini Sihir Endelwati ingin membantu mewujudkan keinginan Dayang Rayu Tur Kemayu untuk menguasai kerajaan Bumi Mangku Langit. Dia merubah wujud Dayang Rayu Tur Kemayu menjadi wujud Putri Ayu Sajagade Dewe yang mempunyai wajah cantik dan mempesona. Tapi bantuan yang diberikan Nini Sihir Endelwati tidak cuma-cuma, Nini sihir meminta imbalan pada Dayang untuk berbagi kesenangan dan kebahagiaan bersamanya serta satu syarat yang wajib dipenuhi yaitu Dayang Rayu tidak boleh bercermin selama wujudnya sebagai Putri Ayu. Karena wujud aslinya akan terbongkar bila ia bercermin. Misi yang dijalankan Dayang Rayu Tur Kemayupun Berjalan dengan lancar. Dia berhasil menyingkirkan Putri Ayu Sajagade Dewe dan berhasil menduduki kursi Putri kerajaan dengan wujud parasnya sebagai Putri Ayu sajagade Dewe. Dia berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang kerajaan untuk kesenangannya bersama Nini Sihir Endelwati.

Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe mulai curiga dengan keadaan otonomi kerajaan yang kian menurun. Padahal selama ini dia bersama Raja telah bekerja keras untuk kemakmuran kerajaaan. Sekretaris kerajaan yang sangat setia pada Raja dan Pangeran mencoba mengungkap apa yang sebenarnaya terjadi selama ini. Dia menyampaikan pada Pangeran kalau memburuknya otonomi kerajaan dikarenakan ulah Putri Ayu. Pangeran tidak percaya dan meminta Putri Ayu memberikan penjelasan. Putri Ayu mengelak dan tidak mau mengakui kesalahannya. Suasana menjadi ricuh pada saat pengawal datang dengan kondisi tergopoh-gopoh menghadap Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe dan menyampaikan bahwa ada seorang wanita yang mirip Putri Raja mencari pangeran. Putri Ayu Sajagade  Dewe yang aslipun menerobos masuk ke istana dan menemui pangeran. Wajah mereka yang sangat mirip membuat pangeran terkejut dan semakin ragu. Dayang Rayu tidak tinggal diam menyaksikan pertunjukan itu, segala cara ia lakukan untuk menyingkirkan Putri Ayu. Tapi akhirnya, kejahatannya yang terbongkar. Dengan tidak sengaja tangan Putri Ayu mengenai kaca yang berada diatas meja kerja Pangeran. Setelah Dayang Rayu melihat kaca yang terjatuh, seketika itu wajah aslinyapun tampak. Semua menjadi kaget melihat wajah asli Dayang Rayu. Dayang Rayu diusir dari kerajaan dengan tidak hormat. Pangeran dan Putri kembali bersatu, kehidupan kerajaanpun kembali makmur dan sejahtera.

D. Bagan Alur/Plot

  1. Adegan 1 Raja yang sedang merayu Permaisuri dengan rayuan khas miliknya
  2. Adegan 2 Pangeran dan Putri yang baru saja tiba dari Paris
  3. Adegan 3 Keiridengkian Dayang Rayu Tur Kemayu yang mulai meluap dan menjadi-jadi
  4. Adegan4 Bantuan Nini Sihir Endelwati pada Dayang Rayu Tur Kemayu untuk menguasai Kerajaan dan menggantikan posisi Putri Ayu Sajagade Dewe sebagai Putri Kerajaan
  5. Adegan5 Penyingkiran Putri Ayu Sajagade Dewe oleh Dayang Rayu Tur Kemayu
  6. Adegan6 Kecurigaan Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe terhadap Penurunan Otonomi Kerajaan yang kian memburuk dan meresahkan kerajaan
  7. Adegan7 Percekcokan antara Dayang Rayu Tur Kemayu dengan Pangeran Ganteng Sajagade Dewe
  8. Adegan8 Kekhawatiran Dayang Rayu Tur Kemayu atas kembalinya Putri Ayu Sajagade Dewe
  9. Adegan 9 Pembongkaran rahasia dan kejahatan Dayang Rayu Tur Kemayu

E. Konsep Panggung/Setting/properti

Dalam cerita ini terdiri dari 1 babak, Konsep panggung adalah di sebuah istana kerajaan Jawa pada zaman dahulu. Sehingga properti yang digunakan bernuansa Jawa. Karena kami kesulitan dalam menghadirkan properti tersebut, maka kami akan membuat beberapa tiruan properti dari bahan sterofoam.

Adapun properti yang kami pakai sebagai berikut :

1. Kursi Raja dan permaisuri, properti ini merupakan fokus dari panggung. kami akan membuat singgasana dari bangku biasa yang dihias dengan sterofoam dan jarik

  1. Dua buah kursi yang lebih kecil dari singgasana raja untuk dayang/pengawal
  2. Gorden berwarna merah dengan hiasan renda-renda emas agar terlihat lebih glamor
  3. Karpet bercorak gold sebagai alas

5. Ukir-ukiran sebagai gebyok untuk memberi kesan etnik jawa, karena beberapa kendala jadi kami akan membuat tiruan dari sterofoam yang di beri cat warna gold

  1. 1 lembar kain warna hitam sebagian dasar background panggung sebelum dilengkapi dengan property pendukung yang lainnya.
  2. Pilar ruang istana yang kami buat dari sterofoam
  3. Beberapa pot bunga sebagai hiasan pada ruangan

F. Konsep Tata Rias dan Busana

Tata rias :

  1. Dayang : tata rias wajah : lipstik warna orange,  khusus untuk dayang rayu (alis nylirit ke atas menimbulkan kesan kejam dan sombong ,mata belok) . Rambut diikat miring.
  2. Pengawal : make up tidak terlalu tebal. Adanya penambahan godeg dan kumis.
  3. Sekretaris kerajaan : make up natural modern disesuaikan dengan busana. Rambut diikat simpel. Berkacamata.
  4. Pangeran : make up biasa tidak terlalu tebal. Di bagian dagu ditambahi garis warna hitam.
  5. Putri dan permaisuri : make up agak  tebal disesuaikan dengan busana. Memakai lipstik warna pink. Rambut disanggul modern. Cantik.
  6. Raja : make up tidak terlalu tebal disesuaikan dengan busana. Adanya penambahan aksen kumis dan aksen keriput agar terlihat tua.
  7. Nini sihir : tata rias wajah : alis tebal dan nylirit ke  atas. Mata : eyeshadow hitam, merah. Bibir :wana merah menyala,  agak methot. Blash on : hitam kemerahan. Bau badan : lengur ( karena tidak pernah mandi ).

Tata busana   :

  1. Dayang : baju kebaya biasa. Memakai jarik selutut. Tidak memakai alas kaki.
  2. Pengawal : memakai rompi, celana panjang hitam, jarik menutupi paha,memakai slayer jarik.
  3. Sekertaris kerajaan : memaki rok pendek, kemeja, sepatu high hill
  4. Pangeran : pakaian lengan panjang, memaki celana panjang, jarik, penutup kepala, sepatu selop.
  5. Putri dan permaisuri :  memakai jarik, memaki selendang, baju kebaya.
  6. Raja : memakai jarik,  memaki celana panjang, memaki baju adat lengan panjang, memakai mahkota, dan sepatu selop
  7. Nini sihir : baju terusan hitam ( compang-camping)

G. Konsep Musik

Musik yang digunakan dalam drama “ Putri Jagad” yaitu musik rekaman

  1. Musik Pembuka: rekaman karawitan
  2. Raja  masuk panggung: musik rekaman  “Kebyok Anting- Anting” masuk
  3. Pangeran  masuk: musik rekaman karawitan
  4. Pangeran meninggalkan raja: musik rekaman karawitan
  5. Raja dan permaisuri meninggalkan ruangan         : musik rekaman karawitan
  6. Dayang  menduduki singgasana: lagu makhluk tuhan paling seksi
  7. Nini sihir muncul: musik seram
  8. Dayang sari terkejut melihat nini sihir: terkejut
  9. Nini sihir pergi meninggalkan Dayang Sari           : musik seram
  10. Dayang mendekap Putri: musik rekaman tegang
  11. Pangeran masuk membawa map: musik dangdut

 

H. Konsep Tari

  1. Tari berpasangan antara dayang dan dayang (Lagu Dono)
  2. Tari solo dengan gaya seperti ratu sejagad

I. Naskah Drama

“PUTRI JAGAD”

BABAK 1

RAJA BUMI MANGKU LANGIT BERSAMA PERMAISURI SEMILIKITHI WELEH-WELEH BERJALAN MEMASUKI RUANG ISTANA DENGAN BERGANDENGAN TANGAN. TAPI PERMAISURI AGAK SEBEL DENGAN RAJA. DIA TAMPAK CEMBERUT. DENGAN SEGALA CARA RAJA MENCOBA MERAYU UNTUK MEMBUATNYA SENYUM KEMBALI.

ADEGAN 1

  1. Raja Bumi mangku Langit :”(MASIH TERUS MERAYU PERMAISURI) Oh permaisuriku, pujaan hatiku, belahan jiwaku, kenapa engkau cemberut seperti itu, tersenyumlah cantik, aku tidak tahan melihat bibirmu semakin hari semakin memble”.
  2. Permaisuri Semilikithi Weleh-weleh :”Biarin biar memble tapi kece, buktinya Kanda mau

Sama Dinda!!!”

  1. Raja Bumi mangku Langit : ”Siang hari muter- muter

Naik  motor sekuter

Permaisuriku yang bunder

Membuat hatiku tambah ser…ser…ser”

  1. Permaisuri Semilikithi Weleh-weleh :”Uuh…sayakan kurus dan langsing Baginda Raja (SAMBIL MEMANDANGI TUBUHNYA)”.
  2. Raja Bumi mangku Langit :”Oh iya Dinda, kamukan Kutilang.

Kurus tinggi tapi langsing”.

  1. Permaisuri Semilikithi Weleh-weleh :”Ah…Baginda raja bisa saja, jadi ge’er nich, gombal…gombal…gombal…!!! ( SAMBIL TERSIPU MALU)”
  2. Raja Bumi mangku Langit :”Hah gitu donk Permaisuriku, smile… kalau gitukan tambah ayu, semua bidadari mah lewat (MENYENGGOL PUNDAK PERMAISURI)”.
  3. Raja Bumi mangku Langit : (DUDUK DI KURSI SINGGASANA) “Ngomong-ngomong saya kok jadi kangen ya sama putra kita Pangeran Guanteng Sadonyane Dewe. Sejak putra kita menikah dengan Putri Ayu Sajagade Dewe, gadis desa yang sangat santun dan halus budinya. Dia menjadi sibuk dan jarang sekali menemui kita”
  4. Permaisuri Semilikithi Weleh-weleh : “Iya kanda, dinda juga kangen sama mereka, kangen Bangeeet !!!”

ADEGAN 2

PANGERAN GANTENG SADONYANE DEWE DATANG BERSAMA PUTRI AYU SAJAGADE DEWE SERTA DIIKUTI OLEH DUA DAYANG ISTANA YAITU DAYANG RAYU TUR KEMAYU DAN DAYANG KECE TUR MEMBLE.

  1. Pengawal Jasim :”Pangeran dan Putri tiba” (Gaya Sinchan Pangeran Bertopeng)
  2. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe & Putri Ayu Sajagade Dewe :”Hormat kami Ayahanda, hormat kami Ibunda” (MEMBUNGKUKAN BADAN SAMBIL MENELUNGKUPKAN KEDUA TANGAN)
  3. Raja Bumi mangku Langit               :”Duduklah Putra- Putriku.
  4. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Terima kasih Ayah”
  5. Raja Bumi mangku Langit               :” Kalian panjang umur, baru saja ayah dan ibundamu mambicarakan tentang kalian. Hingga kalian datang menemui ayah dan bunda. Bagaimana liburan kalian? Apakah kalian merasa senang?”
  6. Putri Ayu Sajagade Dewe : ”Kami sangat senang Ayah, kota paris sangat indah.”.
  7. Raja Bumi mangku Langit : ”Syukurlah kalau putri senang, kau harus selalu bahagia putriku”.
  8. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Bereslah Ayah, Hamba akan membuat Putri selalu bahagia dan nyaman tinggal di istana”.
  9. Permaisuri Semilikithi Weleh-weleh :”Kanda! Nampaknya kanda sudah sangat lelah. Sebaiknya kita istirahat dulu aja yach…!!!’
  10. Raja Bumi mangku Langit : (MENGANGGUK-ANGGUKAN KEPALA)
  11. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe : “Kami juga mohon pamit bunda” (DUDUK SAMBIL MENELUNGKUPKAN KEDUA TANGAN)

(RAJA DAN PERMAISURI MENINGGALKAN RUANGAN UNTUK BER ISTIRAHAT DIIKUTI DENGAN PANGERAN DAN PUTRI)

ADEGAN 3

SETELAH RAJA, PERMAISURI, PANGERAN DAN JUGA PUTRI PERGI MENINGGALKAN RUANGAN, DAYANG RAYU TUR KEMAYU MULAI BERAKSI DAN BERGAYA-GAYA LAYAKNYA SEORANG PUTRI RAJA.

  1. Dayang Rayu Tur Kemayu :”(DUDUK DI SINGGASANA RAJA SAMBIL MEMBAWA KIPAS) Ehmmmm…enaknya jadi Putri…!!!”
  2. Dayang Kece Tur Memble :”Eh Kemayu berani sekali kamu duduk di Singgasana itu! Itu tempat Raja dan Permaisuri tau!!!”.
  3. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Itu bukan urusan kamu, suka- suka ku donk!!!”
  4. Dayang Kece Tur Memble :”Memang bukan urusanku Kemayu, tapi kita sama- sama Dayang. So, wajar donk kalau aku ngingetin kamu. Jangan duduk di situ jika kau masih ingin mengabdi disini! ayo cepat berdiri sebelum ketahaun Baginda Raja dan Permaisuri”.
  5. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Huh…malas ah ngedengerin omongan yang gak penting!”
  6. Dayang Kece Tur Memble :”Sudah…Sudah….Ya Sudahlah…???Oh iya aku mau ngajakin kamu  jalan- jalan, bagaimana kalau kita keliling istana?”
  7. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Dengan kamu! Dayang kece!”
  8. Dayang Kece Tur Memble :”Ya iyalah, masa ya iya donk buah aza Kedondong…hemmm!!!”
  9. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Hemmm… stroberi apel- apel sory gak level!!!”
  10. Dayang Kece Tur Memble :”Ya sudah kalau kamu gak ikut, aku pergi sendiri aja, Hemmm”.
  11. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Ih cepat Pergi, Cepat…cepat…!!!

Ih dasar DKM, Dayang Kece Memble… huh!”

DAYANG RAYU TUR KEMAYU MULAI MENAMPAKKAN KEKESALANNYA PADA SEMUA ORANG DAN MENGUMPAT KESANA KEMARI. DIA IRI MELIHAT KEBAHAGIAAN PUTRI AYU SAJAGADE DEWE DENGAN PANGERAN GANTENG SADONYANE DEWE. DIA INGIN MENGGANTIKAN KEDUDUKAN PUTRI KERAJAAN DAN MENDAMPINGI PANGERAN YANG MEMIMPIN ISTANA.

  1. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Dasar wanita tak tau malu, datang- datang langsung nglunjak, memangnya siapa dia…dibandingkan dengan aku, aku jauh lebih terhormat. Dia itu sok manis,sok alim,..cuuh…melihat dia mau muntah saja (DUDUK DI SINGGASANA RAJA)

Padahal sudah lama aku menginginkan posisi putri raja dan sudah terlalu lama aku mengabdi di Kerajaan Sendang Agung tentrem Adhem Ayem ini, tapi apa balasan untukku, apa!!! Sejak dulu sampai sekarang dia tidak pernah melihatku apalagi menempatkan aku di posisi yang lebih tinggi. Bagaimanapun caranya aku harus bisa merebut posisi putri raja dari tangan Putri sok cantik itu. Aku akan menggunakan segala cara untuk menyingkirkannya. Ha….ha….ha….hahaha!”

ADEGAN 4

NINI SIHIR ENDELWATI MUNCUL MENGHAMPIRI DAYANG RAYU TUR KEMAYU YANG SEDANG SIBUK DENGAN UMPATANNYA ITU  DENGAN SUARANYA YANG MENGERIKAN.

  1. Nini Sihir Endelwati :”Hi…hi…hi…Wahai manusia berhati dengki, sebesar itukan keinginanmu untuk menduduki posisi Putri Raja, Aku bisa mewujudkan keinginanmu!”.
  2. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Hey…Siapa kamu? Tunjukkan wajahmu! Tunjukkan wujud aslimu! (BINGUNG MENCARI DARI MANA ASAL SUARA ITU)

Ayo nampakkan dirimu! Siapa kamu! Hey… (MEMBALIKKAN BADAN DAN TERKEJUT MELIHAT WUJUD  NINI SIHIR ENDELWATI )

Benarkah yang kau katakan tadi? Apakah kau bisa mengubah aku menjadi  putri di Kerajaan ini?”

  1. Nini Sihir Endelwati :”Hi…hi…hi…hihihi…..itu sih urusan gampang….tapi….!!!”
  2. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Tapi apa?”
  3. Nini Sihir Endelwati :”Ada syaratnya…hi…hihihi…hihihihi!”
  4. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Apa syaratnya Nini?”
  5. Nini Sihir Endelwati:”Kau harus berbagi kesenanganmu denganku, apa kamu mau?. Hi…hihihihi…hihihih”
  6. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Baiklah aku akan berbagi kesenangan denganmu, tapi apa yang hendak kau lakukan denganku?”
  7. Nini Sihir Endelwati :”Hi…hihihi….hihihihi…aku akan mengubah wajahmu menjadi wajah seorang putri ayu.”
  8. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Apa? Tidak!!! Aku tidak mau wajahku dirubah menjadi putri yang sok alim itu! Ih…amit- amit….”
  9. Nini Sihir Endelwati :”Hi…hihihih…apa kau tak mau menjadi seorang Putri Raja menggantikan Putri yang sok cantik itu? Apa kau tak mau mendampingi Pangeran dan duduk bersanding dengannya selamanya? Apa kau tak mau itu? Hi…hihihih…hi…hihihihi”
  10. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Hmmm…mau sih…tapi apa tidak ada cara lain agar aku bisa menjadi putri raja?”
  11. Nini Sihir Endelwati :”Hihihi…kau sudah kuberi tawaran, jadi…terserah kau mau atau tidak!!!

(MEMBALIKKAN BADAN DAN INGIN PERGI MENINGGALKAN DAYANG RAYU TUR KEMAYU) hihihih…”

  1. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Eh…tunggu nenek sihir. Kalau memang itu jalan satu-satunya, baiklah aku setuju, akan kuturuti maumu”.
  2. Nini Sihir Endelwati :”Hihihihi…Nah gitu donk gadis cantik, kau memang gadis yang licik.

Hihihi…aku akan merubah wajahmu, tapi ingat jangan sekali- kali kau tampakkan wajahmu dicermin, jika itu kau lakukan wajah aslimu yang akan tampak dicermin, dan semua kelicikanmu akan terbongkar, ingat itu…hi…hihihi…”

  1. Dayang Rayu Tur Kemayu :”okelah kalau begitu”.
  2. Nini Sihir Endelwati :”Bersiaplah kau gadis licik, aku akan merubah wajahmu. Tolong di bantu

Ya 1 2 3…Bim salabim jadi apa prok prok prok (MENGELUARKAN MANTRA DAN MERUBAH WAJAH DAYANG RAYU TUR KEMAYU MENJADI WAJAH PUTRI AYU SAJAGADE DEWE)”

  1. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Ha…hahaha…hahaha…akhirnya aku bisa menjadi peri, eh kok peri maksud aku Putri. Ha….hahaha…ahahah…”( Menari di iringi lagu Putri Sejagad )
  2. Nini Sihir Endelwati :”Ingatlah dengan janjimu gadis licik, hihihi… hihihi… (PERGI MENGHILANG BEGITU SAJA)”

ADEGAN 5

BEBERAPA SAAT KEMUDIAN SETELAH NINI SIHIR ENDELWATI PERGI, DATANGLAH PUTRI AYU SAJAGADE DEWE DENGAN WAJAH YANG CEMAS DAN KETAKUTAN.

  1. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Ah ada orang datang, sebaiknya aku sembunyi saja dulu (CARI TEMPAT UNTUK SEMBUNYI)”
  2. Putri Ayu Sajagade Dewe :”(MEMASUKI RUANGAN) Dimana ya Pangeran berada? Apa ada

yang tahu? Dari tadi aku sudah mencarinya kemana- mana tapi tidak ada, di kamar, di ruang kerja, di taman, di sinipun, aduh dimana ya pangeranku, aku ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting (MONDAR-MANDIR KEBINGUNGAN MENCARI PANGERAN)

TIBA- TIBA DARI ARAH BELAKANG DAYANG RAYU TUR KEMAYU DATANG DENGAN MEMBAWA SEHELAI KAIN YANG TELAH IA BERI OBAT BIUS. DIAPUN MENDEKAP PUTRI DAN MEMBIUSNYA.

  1. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Kena kau Putri sok cantik (MENDEKAP DAN MEMBIUS PUTRI SAMPAI PUTRI AYU SAJAGADE DEWE PINGSAN) akhirnya aku bisa menggantikan posisimu”.
  2. Putri Ayu Sajagade Dewe :”(PINGSAN)”
  3. Dayang Rayu Tur Kemayu:”(MEMBAWA PUTRI  PERGI JAUH DARI ISTANA)”

DAYANG RAYU BERHASIL MENYINGKIRKAN PUTRI DAN MENGGANTIKAN KEDUDUKAN PUTRI AYU SAJAGADE DEWE SEBAGAI PUTRI KERAJAAN. DIA MENGGUNAKAN KEDUDUKANNYA ITU DENGAN SEMENA-MENA. DI BUAT KEKACAUAN DISANA-SINI TANPA SEPENGETAHUAN PANGERAN. DIA TANGGALKAN SEMUA ATURAN ISTANA DAN DIA BUAT ATURAN-ATURAN BARU. DI GUNAKAN UANG KERAJAAN UNTUK KESENANGANNYA BERSAMA DENGAN NINI SIHIR ENDELWATI.

ADEGAN 6

PANGERAN MULAI MERASAKAN KEGANJALAN DENGAN KEJADIAN-KEJADIAN ANEH BEBERAPA AKHIR-AKHIR INI. DIA RESAH DENGAN KONDISI KERAJAAN YANG SEMAKIN KACAU DAN KONDISI KEUANGAN KERAJAAN YANG SEMAKIN MEMBURUK.

  1. Sekertaris Kerajaan :(BERJALAN MENGHAMPIRI PANGERAN SAMBIL MEMBAWA BERKAS LAPORAN KEUANGAN YANG TELAH DIREKAPNYA)
  2. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Apa yang sedang kamu bawa itu, wahai sekertarisku?”
  3. Sekertaris Kerajaan :”ini adalah berkas rekapan keuangan kerajaan kita saat ini pangeranku (SAMBIL KETAKUTAN SEKERTARIS MEMBERIKAN BERKAS LAPORAN KEUNAGAN YANG TELAH DI REKAP)
  4. Pangeran Ganteng Sadonyane dewe :(MEMEGANG KEPALA DAN MENGELENG- GELENGKANNYA)
  5. Sekertaris Kerajaan :”Ma’af pangeran itu semua terjadi karena ulah dari istri Pangeran sendiri

yaitu Tuan Putri Ayu Sajagade Dewe”.

  1. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Lancang sekali kau berkata seperti itu! Apa kamu ingin mati, menuduh istriku yang paling aku cintai!!!”
  2. Sekertaris Kerajaan :”Hamba mohon ampun pangeran, tapi itulah kenyataan yang sebenarnya.

Putri terlalu banyak menghambur- hamburkan uang Kerajaan untuk kegiatan yang tidak jelas. Tuan Putri juga merubah semua aturan- aturan yang sudah ditetapkan di kerajaan ini Pangeran’.

  1. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Apa benar yang kau katakan itu wahai Sekertaris Kerajaan? Apa sejauh itu yang sudah Putri lakukan untuk Kerajaan ini?”
  2. Sekertaris Kerajaan :”Sekali lagi hamba mohon ampun Pangeran, sebenarnya hamba tidak ingin menyampaikan ini tapi keadaan sudah benar-benar gawat jadi hamba tidak bisa menutupinya terlalu lama lagi pangeran”.
  3. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Sungguh keterlaluan. Pengawal!!!”
  4. Pengawal        Jasim       :”Dalem…Hamba, menghadap Pangeran”.
  5. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Cepat panggil Putri kemari!”.
  6. Pengawal        Jasim       :”Siap, segera Pangeran”.

ADEGAN 7

PENGAWAL MEMINTA PUTRI AYU SAJAGADE DEWE UNTUK MENEMUI PANGERAN SEGERA

  1. Pengawal        :”Putri Ayu Sajagade Dewe tiba”.
  2. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Kanda memanggil saya”
  3. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Ya, duduklah dulu Dinda”
  4. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Nampaknya Kanda sangat cemas, ada masalah apa Kanda?”
  5. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Cobalah kau lihat ini Dinda!”
  6. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Inikan laporan keuangan Kerajaan? Ada apa dengan laporan keuangan ini Kanda?”
  7. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Coba Dinda lihat dengan teliti laporan itu, di situ menunjukkan kalau keuangan kita semakin menurun”.
  8. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Ya, lalu apa hubungannya dengan saya Kanda?”
  9. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Apa benar Dinda yang telah menggunakan uang kerajaan untuk semua kebutuhan pribadi dinda? Benarkah uang itu untuk kesenangan Dinda semata?”
  10. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Apa maksud Kanda? Apa Kanda menuduh Dinda yang menggunakan semua uang itu? Teganya dirimu teganya…teganya….teganya pada diriku. Jadi Kanda percaya dengan semua fitnah itu?” (MENCOBA MERAYU DAN MEMBUJUK PANGERAN AGAR MAU MEMPERCAYAINYA) Mana mungkin saya melakukan itu Kanda. Bagaimanapun juga saya Putri Kerajaan. Jadi, mana mungkin Dinda malakukan hal-hal yang merugikan Kerajaan, tak mungkin itu Kanda, tak mungkin la yau…”  (SAMBIL MENGELUS PUNDAK PANGERAN)
  11. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Apa benar yang kau katakan itu Dinda?”
  12. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Ya iyalah Kanda, masak dinda bo’ong…!”

ADEGAN 8

PUTRI AYU SAJAGADE DEWE JELMAAN DARI DAYANG RAYU TUR KEMAYU TERUS MENERUS MENYAKINKAN PANGERAN BAHWA DIA HANYA DIFITNAH DAN BUKAN DIA YANG TELAH MENGHAMBUR-HAMBURKAN UANG KERAJAAN. DISAMPING ITU SAAT PUTRI SEDANG ASYIK MERAYU DAN MEYAKINKAN HATI PANGERAN, PENGAWAL JASIM MENGHADAP DENGAN TERGOPOH-GOPOH.

  1. Pengawal Jasim               :”(DATANG TERGOPOH-GOPOH) Hamba….Hamba menghadap Tuanku Pangeran”.
  2. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Ada apa denganmu pengawal? Kenapa kau tampak ketakutan?”
  3. Pengawal        Jasim :”Mohon ampun Pangeran, hamba melihat orang yang mirip Tuan Putri ingin

menerobos masuk ke dalam istana”.

  1. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Apaaa…!!! orang yang mirip dengan aku, wah gawat….(    CEMAS DAN KETAKUTAN)”
  2. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Gawat kenapa Dinda?”
  3. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Ah…tidak ada apa-apa kok kanda, tidak apa-apa…(MENGGENGGAM KEDUA TANGANNYA)”
  4. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Tapi kenapa kau tampak cemas Dinda? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?”
  5. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Tidak ada Kanda, benar tidak ada!”.
  6. Putri Ayu Sajagade Dewe :”(MENEROBOS MASUK) Kanda…Kanda…Kanda (MENATAP

WAJAH PANGERAN) Kanda ini saya…apa Kanda tidak mengenali saya?”

  1. P. Ganteng Sadonyane Dewe & D. Rayu Tur Kemayu :”(TERKEJUT)”
  2. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Putri Ayu Sajagade Dewe… kenapa mirip sekali? (TERNGANGA) Sangat mirip!”.
  3. Putri Ayu Sajagade Dewe                :”Kanda ini saya, istrimu kanda”.
  4. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Heh…siapa kamu! Berani- beraninya kamu memanggil suamiku dengan sebutan kanda seperti itu. Kau harus kuberi pelajaran. (MEMEGANG PUTRI AYU SAJAGADE DEWE DAN MENARIKNYA)”
  5. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Tunggu Dinda, jangan…”
  6. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Kenapa lagi kanda? Saya harus memberinya pelajaran karena Dia telah berani memanggil Kanda seperti itu. Dinda tidak terima Kanda” (MENGERATKAN TARIKANNYA).
  7. Pangeran Arya Ganteng Sadonyane Dewe :”Tunggu Dinda, tunggu…(BERDIRI, MENDEKAT DAN MENATAP KEDUANYA)”. Kenapa kalian sangat mirip? Boleh aku memegang tanganmu Nyonya? (MEMEGANG KEDUA TANGAN PUTRI AYU SAJAGADE DEWE)”
  8. Putri Ayu Sajagade Dewe :”Ya Kanda, tentu. Akulah Putri Ayu Sajagade Dewe, istrimu Kanda…”
  9. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Dia bohong Kanda, akulah istrimu (SAMBIL MELEPAS TANGAN PANGERAN DAN PUTRI AYU SAJAGADE DEWE) Dasar Pembohong (MELOTOTI PUTRI AYU SAJAGADE DEWE)”.
  10. Putri Ayu Sajagade Dewe :”Tapi saya benar-benar Istrimu yang sesungguhnya Kanda. Kanda ingat apa yang sering Dinda ucapkan pada Kanda, “Kasihku selalu untukmu, jiwaku menyatu dengan jiwamu”, Kanda ingat itu Kanda…Kanda ingat? (MEYAKINKAN PANGERAN)”.
  11. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Sudah cukup, Kau sudah terlalu banyak bicara pembohong. Ayo ikut aku (MENARIK TANGAN PUTRI AYU SAJAGADE DEWE)”.

 

ADEGAN 9

SAAT DAYANG RAYU TUR KEMAYU MENARIK TANGAN PUTRI AYU SAJAGADE DEWE DENGAN KASAR SEKETIKA ITU PULA TANGAN PUTRI MENGENAI KACA YANG BERADA DI ATAS MEJA KERJA PANGERAN. KACA ITU PUN TERJATUH DI LANTAI. DAYANG RAYU TUR KEMAYU TERKEJUT DAN MEMBALIKKAN BADANNYA MELIHAT KACA YANG TERJATUH ITU. DAN DAYANG  MENJERIT KETAKUTAN.

  1. Dayang Rayu Tur Kemayu :”Aaaaaa…….tidaaak…..tolong singkirkan kaca-kaca itu dariku….cepat singkirkan!!!cepat…pengawal….(SAMBIL MENUTUP MUKANYA DENGAN KEDUA TANGANNYA)”.
  2. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Dinda…ada apa denganmu Dinda….Dinda….(MENCOBA MEMBUKA KEDUA TANGAN DAYANG RAYU TUR KEMAYU) Haaa…(TERKEJUT) Siapa Kamu? Kau bukan istriku! Jadi selama ini kau telah menipuku!”
  3. Dayang Rayu Tur Kemayu : (PINGSAN)
  4. Putri Ayu Sajagade Dewe :”Dia adalah Dayang Rayu Tur Kemayu Kanda, dia Dayang kerajaan ini. Dia menyamar menjadi Dinda dan mengaku menjadi istri Kanda”.
  5. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :”Benarkah itu? Pengawal! Cepat bawa dayang ini pergi dan usir di dari istana ini! Cepat!”.
  6. Putri Ayu Sajagade Dewe :”Apa sekarang Kanda mempercayaiku ”.
  7. Pangeran Ganteng Sadonyane Dewe :” Sungguh aku tidak menyangka, semudah ini aku ditipu oleh seorang dayang istana. Ma’afkan Kanda tidak mengenalimu Dinda”.(MENDEKATI PUTRI AYU SAJAGADE DEWE)
  8. Putri Ayu Sajagade Dewe :”Sudahlah Kanda, ini semua sudah berlalu, Dinda telah kembali untuk Kanda”.
  9. P. Ganteng Sadonyane Dewe &P.Deswati:”(BERPEGANGAN TANGAN) Kasihku selalu untukmu, Jiwaku menyatu dengan jiwamu”.

 

AKHIRNYA DAYANG RAYU TUR KEMAYU DIUSIR DARI ISTANA DENGAN TIDAK HORMAT AKIBAT DARI KEJAHATAN DAN KELICIKANNYA SELAMA INI. PANGERAN GANTENG SADONYANE DEWE DAN PUTRI AYU SAJAGADE DEWEPUN KEMBALI HIDUP BAHAGIA DI KERAJAAN SENDANG AGUNG TENTREM ADHEM AYEM.

SELESAI

“Madu 3″ (MenTiga)

Posted: 28 Januari 2011 in Naskah Drama

(Naskah Telah Dipentaskan)

Pimpinan Produksi:

Drs. Heru Subrata, M.Si.

“ MEN-TIGA “ ( Madu Tiga )

Konsep & Penanggung Jawab :

  1. Sutradara                     : Adi Kusuma Dewi
  2. Stage Manager             : Novia Wandira
  3. Staf Desainer Artistik

Desainer Tata Rias                      : Astri Prasetya

Desainer Tata Suara                    : Astri Prasetya

Desainer Tata Busana (Kostum)  : Siti Nur Kayatin & Denis Trista

Desainer Lighting (Tata Lampu)  :Anastasya Anis

Desainer Dekorasi Panggung       : Helena Jealung, Ursulla Menong

Staf  Properti Pementasan            : Khikmatun Nadivah  , Laili Lati

A. KONSEP CERITA

Konsep cerita, MEN-TIGA adalah sejenis cerita drama romantisme yang diadaptasi dari kehidupan poligami yang tengah marak terjadi di Indonesia. Dalam cerita ini banyak terdapat unsure drama mengharukan,yang tersampaikan secara tidak langsung. Hal ini kami sajikan untuk memberikan tontonan yang menarik dan dramatis bagi para penikmat drama. Naskah ini kami susun dengan imajinasi yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari.

B. SINOPSIS CERITA

Keluarga Besar  Bambang Wirodjoyo seorang pegawai negri kelautan yang selalu berlayar, mampu menafkahi tiga orang istri dalam satu keluarga. Nur Lela istri pertama yang dinikahinya 18 tahun yang lalu atas paksaan orang tuanya mempunyai satu anak bernama Desi.. Istri Kedua, bernama Minah yang dinikahi 4 tahun setelah pernikahan pertamanya karena mengancam bunuh diri jika tidak bisa menikah dengan Bambang, karena bambang memang seorang lelaki gagah perkasa nan kaya dan tersohor di kampung bone, dari pernikahan keduanya mereka mempunyai seorang anak bernama maya. Maya sudah beranjak dewasa dan mulai sekolah SMP. Bambang jarang tinggal bersama keluarganya, karena dia sibuk berlayar untuk memenuhi kehidupan materi keluarganya. Saat Bambang hendak berlayar ke negara tetangga, bertemulah Bambang dengan seorang wanita yang sangat lugu dan manis wajahnya di kapal pesiar yang sama. wanita itu bernama aisyah. sejak itu,keduanya saling pandang, ngobrol hingga mereka dekat. bambang tersentuh atas kisah hidup aisyah yang sebatang kara, karena itu dia ingin pergi ke negara tetangga untuk menjadi TKW ilegal agar kehidupanya tercukupi. atas kedekatan itulah, timbul cinta diantara keduanya. cinta yang sangat tulus atas dasar belas kasih yang sangat nyata. hingga bambang mengambil keputusan untuk menjadikan aisyah istri ke 3, meskipun dia telah mempunyai dua istri sebelumya, namun bambang tidak mempunyai rasa cinta kepada keduanya seperti besar rasa cintanya kepada aisyah. sepulangnya dari berlayar, dirayakanlah acara pernikahan atas keduanya. meskipun bambang sudah berusia 40 tahun berselisih cukup jauh dengan usia aisyah yang masih 24 tahun, acara pernikahan ketiga ini dirayakan besar-besaran. sehingga ada kecemburuan antara istri-istri bambang sebelumnya dengan aisyah, karena pernikahan keduanya tidak pernah dirayakan semewah ini.

Setelah cuti libur selama 2 bulan, bambang mendapatkan pangilan tugas kembali, kali ini cukup bagi  sekitar satu tahun, yaitu berlayar di lebanon. sehingga dengan berat hati bambang meningalkan istri tercintanya yaitu aisyah. bambang memang tahu, kalau istri pertama dan keduanya cemburu dan iri hati terhadap aisyah, namun bambang teguh hati dan yakin, tuhan akan memberi  yang terbaik bagi aisyah. Dari pernikahan keduanya mereka mempunyai seorang anak bernama maya. maya sudah beranjak dewasa dan mulai kekolah smp. bambang jarang tinggal bersama keluarganya, karena dia sibuk berlayar untuk memenuhi kehidupan materi keluarganya. saat bambang hendak berlayar ke negara tetangga, bertemulah bambang dengan seorang wanita yang sangat lugu dan manis wajahnya di kapal pesiar yang sama. wanita itu bernama aisyah. sejak itu,keduanya saling pandang, ngobrol hingga mereka dekat. bambang tersentuh atas kisah hidup aisyah yang sebatang kara, karena itu dia ingin pergi ke negara tetangga untuk menjadi tkw ilegal agar kehidupanya tercukupi. atas kedekatan itulah, timbul cinta diantara keduanya. cinta yang sangat tulus atas dasar belas kasih yang sangat nyata. hingga bambang mengambil keputusan untuk menjadikan aisyah istri ke 3, meskipun dia telah mempunyai dua istri sebelumya, namun bambang tidak mempunyai rasa cinta kepada keduanya seperti besar rasa cintanya kepada aisyah. sepulangnya dari berlayar, dirayakanlah acara pernikahan atas keduanya. meskipun bambang sudah berusia 40 tahun berselisih cukup jauh dengan usia aisyah yang masih 24 tahun, acara pernikahan ketiga ini dirayakan besar-besaran. sehingga ada kecemburuan antara istri-istri bambang sebelumnya dengan aisyah, karena pernikahan keduanya tidak pernah dirayakan semewah ini.

Setelah cuti libur selama 2 bulan, bambang mendapatkan pangilan tugas kembali, kali ini cukup panjang sekitar satu tahun, yaitu berlayar di lebanon. sehingga dengan berat hati bambang meningalkan istri tercintanya yaitu aisyah. bambang memang tahu, kalau istri pertama dan keduanya cemburu dan iri hati terhadap aisyah, namun bambang teguh hati dan yakin, tuhan akan memberi  yang terbaik bagi aisyah. bambang menitipkan aisyah kepada ibunya yang sudah cukup tua, namun ingatan ibunya sudah banyak berkurang terkikis usia..

C. KONSEP PANGGUNG

Dalam cerita ini terdiri dari 1 babak, konsep panggung sengaja kami buat sesederhana mungkin tetapi tidak mengurangi kesesuaian dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Konsep panggung adalah ruang tamu. Dari rumah bapak bambang: Adapun poerperti yang kami pakai sebagai berikut :

  • 1 buah meja sebagai benda yang semestinya berada di ruang tamu dan dalam cerita ini banyak digunakan untuk meletakkan minuman, fas bunga, dan beberapa adegan membersihkan meja oleh pembantu.
  • 1 buah fas bunga yang diletakkan diatas meja sebagai penghias
  • 2 buah sofa, satu sofa panjang dan satu sofa kecil digunakan untuk beberapa adegan yang membutuhkan tempat duduk.
  • Meja kecil tinggi untuk meletakkan foto yang diletakkan di samping sofa
  • 1 buah kalung cristal
  • 1 buah foto keluarga untuk memperjelas bahwa  setting berada diruang tamu dan menunjukkan anggota keluarga. Dan juga untuk memperindah ruangan.
  • 2 buah cangkir digunakan untuk beberapa adegan. Ada satu adegan yang menggunakan cangkir untuk meracuni istri 3.
  • 1 piring kue untuk adegan tetangga memberi kue kepada Aisyah
  • 1 kotak perhiasan digunakan untuk memperjelas adegan saat istri 3 mendapatkan kiriman hadiah dari suaminya bambang
  • 1pack snack karena dalam cerita ada adegan memakan snack yang dilakukan oleh anak  istri pertama

D. KONSEP BUSANA

Dalam cerita ini terdiri dari

  • 1 babak, konsep busana sengaja kami buat sesederhana mungkin tetapi
  • tidak mengurangi kesesuaian dengan kenyataan dalam kehidupan
  • sehari-hari. Konsep busana antara lain :
  • istri pertama dan kedua memakai busana dress yang agak glamor dengan asesoris banyak tetapi terkesan norak dan berlebihan karena terlalu menonjolkan bahwa mereka memang istri dari saudagar yang kaya raya
  • istri ketiga (aisyah) memakai baju sederhana yang cantik dan lebih elegan mengesankan bahwa dirinya adalah istri dari saudagar kaya yang bersahaja
  • ibu memakai kebaya dengan warna agak tua sesuai dengan umurnya dan penutup kepala
  • anak istri 1 (maya) memakai baju yang  lucu dengan  warna yang cerah yang mengesankan bahwa dia adalah seorang anak-anak  seusianya dan pada satu adegan memakai baju Seragam SMP karena sepulang dari sekolah.
  • anak istri 2 (Desi) memakai baju yang  casual dan tomboy, terkesan seperti cuek dengan penampilan
  • Pembantu memakai baju sederhana dengan  asesoris serbet dibahunya
  • tetangga memakai baju  sederhana berupa dress.
  • dokter memakai baju putih dan tas hitam selayaknya dokter pada umumnya

E. KONSEP MUSIK

Konsep music yang akan digunakan dalam drama ini adalah sebagai berikut :

  • Instrument Bioskop transTV untuk memulai drama dengan menyebutkan judul cerita yang akan dimainkan.
  • Music slow melan colis (insyaflah wahai manusia by Marshanda) sengaja dimasukkan ketika prose Kematian agar terkesan mengharukan.
  • R n b cocok digunakan dalam adegan merokok
  • Efek Petir, Phone, Kicau Burung dan suara ketok pintu atau bel rumah.
  • Instrument tegang mengambarkan saat aisyah hendak meninggal dunia karena diracun.
  • Lagu Angel by Sarah MC Lahlal diputar saat kesedihan keluarga atas meninggalnya istri ke3
  • Suara petir sangat cocok untuk menyesuaikan alur vcerita yaitu  saat akhir cerita dimana bambang mengetahui bahwa istri ketiganya meninggal terbunuh
  • Beberapa instrument tambahan yang digunakan untuk memperkuat adegan yang sedang berlangsung.

F. KARAKTER PEMAIN :

istri 1 (Nur Lela)      :

sifatnya Diam, iri hati, tenang dan kejam. Postur tubuh istri pertama tinggi besar, berwajah judes, namun tidak banyak bicara, suaranya cenderung lantang dan tajam kata-katanya. Selalu menggunakan baju yang elegant, terlihat kaya dan agak glamour

istri 2 (Aminah)       :

Sifatnya ceriwis, lebay, iri hati, pendendam.  Berbadan agak gemuk, tergolong seorang wanita yang rajin, namun mudah terbawa emosi, ekspresif. Mempunyai suara yang nyaring. Baju yang digunakan, adalah baju long dres. Terlihat simple dan santai.

istri 3 (aisyah)                         :

Sifatnya lugu, baik hati, ramah, tenang dan lembut. Badanya langsing kecil. Seorang wanita yang rajin, suaranya lembut cenderung pelan. Baju yang dikenakan adalah baju yang simple tapi menarik dan elegant.

ibu                                           :

bersifat pelupa (pikun), namun bijaksana. Badanya masih cukup sehat, suaranya cukup keras dan masih kuat untuk beraktifitas. Mengenakan baju daster dan selalu menggunakan kerpus di kepalanya.

anak istri 1 (desi)     :

Bersifat tomboy, nakal, jahat. Badannya tegap, suaranya lantang dan keras, Mengenakan baju kaos yang lenganya di lilit, dan rambutnya diikat kebelakang.

anak istri 2 (maya)   :

mempunyai sifat periang, ramah penyayang dan sangat menyayangi aisyah. Suaranya lembut, masih kelas 2 SMP. Mengenakan baju biasa dan seragam sekolah dalam perannya.

pembantu                 :

mempunyai sifat polos, baik hati, penyabar dan selalu membantu aisyah. Suaranya pelan dan selalu siap dalam segala hal, mengenakan baju daster dan kerpus di kepalanya

tetangga                    :

mempunyai sifat dermawan, baik hati (terhadap aisyah).  Suaranya pelan, dalam perannya menggunakan baju pergi biasa.

Dokter                                     :

elegant, pintar, cerdas dan berpendidikan, kata-kata yang digunakan selalu beraturan dan ilmah, suaranya tegas dan jelas. Baju yang dikenalkan saat berperan adalah kemeja putih, celana hitam dan tas kotak yang ada di tangannya serupa koper.

Bambang                  :

Seorang angkatan laut yang tinggi gagah dan bersuara lantang. Kata-kata yang digunakan beraturan , dan penuh kasih sayang. Baju yang akan dikenakan adalah seragam Angkatan Laut berwarna biru muda dan biru tua. Mengenakan topi dan membawa tas koper.

G. PARA PEMERAN

  1. istri 1 (laila)                             : Laili Lati K.Janah   ( 071644007 )
  2. istri 2 (juminah)       : Denis Trista Silviana   (071644245 )
  3. istri 3 (aisyah)                          : Siti Nur Kayatin  (071644313 )
  4. ibu                                           : Khikmatun Nadivah  (071644311 )
  5. anak istri 1 (desi)     : Anastasya Anis  (071644112 )
  6. anak istri 2 (maya)   : Adi Kusuma Dewi ( 071644239 )
  7. pembantu                 : Nofia Wandira ( 071644237 )
  8. tetangga                    : Helena Jealung  (071644___ )
  9. Dokter                                      : Ursulla Menong (071644___)

Peran pembantu : Bambang :  Agustinus Purba

SKENARIO:

DI RUANG TAMU :

1. Nur Lela : MEMBACA KORAN DI RUANG TAMU DENGAN SEGELAS TEH DI MEJA SAMBIL DUDUK BERSILANG “penipuan berkedok investasi telah terbongkar, Hegh,manusia sekarang ini banyak yang goblok”MENUTUP KORAN

2.Desi : DATANG DENGAN SETOPLES SNACK DI TANGAN KIRI DUDUK DGN TDK SOPAN DI SEBELAH LELA “Mah,…MENAWARI LELA SNACK”

3. Nur lela : “nggak, lagi males…..dari mana kamu? Ngak kuliah?”

4. Desi  : “nggak mah dosenya kiler…., mah, kemarin malam ditabrak orang aku habis pulang dugem, untung ga apa-apa ni kaki, nyolot lagi yang nabrak…”

5. Lela  :  “ tabrak balik aja besok….” SAMBIL MEMINUM TEH

6. Desi : “ iya ya……boleh juga,,,,lihat nanti lah……” MENARUH TOPLES SNACK TAPI TUMPAH. “isah……..isah……….”

7.  Aisyah : “ada apa des………”

8. Desi : “bersihkan itu…….” SAMBIL MENGKIBASKAN SNACK YANG ADA DI MEJA DAN MEMBUANG KE DEPAN AISYAH

9.  Aisyah : “ Mbak Sumi…………tolong dibersihkan ya…….”

10. Bi Sumi : “Iya nyah,,,,,baik….”

11. Lela : DENGAN NADA TENANG “ heh! yang disuruh membersihkan itu kamu! Kenapa jadi sumi!”

12. Desi : “Ayo cepat bersihkan!!”

13. Aisyah : “Biar aku mbak sumi……..sini”

14. Bi Sumi : “ Ndak apa-apa nyah,,,benar kok “

15. Aisyah : “ Sudah,,,mbak masuk gih,,,,

16. Bi Sumi : SEAKAN TIDAK RELA PERGI, NAMUN TETAP PERGI

17. Aisah : SETELAH MEMBERSIHKAN ,LALU PERGI DARI RUANG TAMU

18. Lela  :  “lama-lama muak mama lihat dia..”

19. Desi : “Sama mah…”

20. tetangga :( BEL BERBUNYI )

21. nur lela : “des……. gih…..”

22. Desi : BERJALAN MEMBUKA PINTU

23. Tetangga :  DATANG MEMBAWA SEKOTAK BUNGKUSAN YANG BERBALUT KERTAS SAMPUL COKLAT RAPI “Bu lela,,, mbak aisyahnya ada?”

24. Lela  : “Ndak ada…..ada apa?

25. tetangga : “oh,…,ini kemarin malam suami saya pulang dari Sumatra, pak bambang katanya tidak pulang ,soalnya lanjut perjalanan ke Lebanon, pak Bambang Cuma titip ini, katanya buat mbak aisyah” MEMBERIKAN BUNGKUSAN KEPADA LELA.

26. Lela :  Oh,, iya nanti aku sampaikan. Lalu kata mas Bambang kapan pulang? MENERIMA BINGKISAN.

27. Tetangga : “wah kuang tau ya mbak, kapannya….suamiku ndak cerita apa-apa juga kok mbak, Cuma titip ini aja”

28. lela : oh,,” iya makasih….”

29. Ttnga : “ iya bu,, saya juga mau kepasar….saya pamit dulu, mari mbak desi…”

30. Lela & desi :” iya…”

31. Lela : MENIMBANG – NIMBANG BUNGKUSAN DENGAN WAJAH PENASARAN DAN IRI

32. desi : “ berat mah??” SAMBIL PENASARAN MELIHAT BUNGKUSAN

33. Lela : “nggak buka aja….” SAMBIL MEMBUKA BUNGKUSAN

34. minah  : “hegh,,,capeknya mbak, selesai nyuci baju…..” DENGAN MELIUKKAN PUNGGUNGNYA “apa itu mbak lela?? ” PENASARAN MELIHAT LELA SIBUK MEMBUKA BUNGKUSAN

35. Desi : “ bingkisan dari papa untuk si isa”

36. lela : BERHASIL MEMBUKA BINGKISAN “apa ini???” DENGAN MENGANGKAT KOTAK KADO YANG INDAH, MEMBUKA DAN MENGELUARKAN ISINYA

37. lela,desi,minah : “hah???!!!??” MEMEGANG PERHIASAN KALUNG

38. minah : “cristal????!!!!” (menyorotkan kalung pada cahaya lampu, dan berkilaulah kalung itu) “aku aja ndak per nah dikasih mas bambang seperti ini mbak…….DENGAN NADA IRI YANG AMAT MENDALAM

39. Lela : “kurang ajar dia!! SAMBIL MENGEPALKAN TANGAN DAN MEMUKULKAN KE TELAPAK TANGANNYA.

40. Minah : “iya mbak,,,,,,ya ampun…..kok ya kebangetan mas bambang ini,,,”SAMBIL MEMUKUL MEJA DALAM KEPALAN TANGANNYA

41. Desi : “hahahahaha,,,kenapa? Mami jealouse ya?? Isa itu mi,,,dikasih pelajaran aja….

42. Maya : MASUK KE RUANG TAMU MEMBAWA ROK “mama??? Besok disekolah ada upacara hari pahlawan, semua harus pakai baju putih bawahan putih…tapi ini sobek…..”

43. Minah : “Haduuuuh…….ini lagi! Sudah pakai yang lain saja!”

44. Maya : “mama….punyaku hanya ini…. Mama sih ga mau belikan aku…..”

45. Minah : “mama ndak punya uang!”

46. Maya : “yasudah dijahit saja ma….”

47. Minah : “Mayaaaa, dipakai Cuma besok aja kan!!! Sudah ndak usah di jahit, lagian Cuma sedikit kan sobeknya…”

48. Maya : “ Ugggh! Mamah jahat! Maya minta tolong sama mamah isa aja! BERLALU PERGI DARI MAMANYA

49. Minah : “Eeeeeehhhhh!!!!! Dasar kau ya…….. tu kan mbak, maya saja sudah lengket sama si isa itu!!Heeeegh….”

50. Desi : “hahaha disantet kali mah” SAMBIL BERLALU PERGI

51. Lela : “ kemana des?

52. Desi : “Mandi…..”

53. Lela : “sana jahitin baju anakmu! “

KEESOKAN HARINYA

54. Aisyah : SEDANG MENYAPU DI RUANG TAMU

55. Tetangga : “assalamualaikum…eh,,mbak isa ini loh aq buat gorengan tadi, nih ta cicipi…….” SAMBIL MEMBERIKAN SEPIRING KUE

56. Aisyah : “wah,,,makasih lo ya mbak….. ayo sini duduk dulu”

57. Tetangga : “mbak nggak sibuk apa?

58. Aisyah “Nggak apa-apa mbak…..ayo duduk dulu….aq juga mau ngobrolkan sesuatu sebentar”

59. Tetangga: DUDUK “ngobrol apa mbak?…….”

60. Aisyah : “begini loh mbak…..besok sabtu itu ada acara tasyakhuran 7 bulanan khan untuk si jabang bayi ini….aq minta tolong bantuanya ya…..

61. Tetangga : “oh,,,jadi besok itu ya mbak rencananya….berarti sudah dekat ya,,kurang 3 hari lagi….aq bantu apa mbak?”

62. Aisyah : “ nah, begini….nanti aq minta tolong mbak dewi yang memimpin acaranya…MC gitu lsh mbak…”

63. Tetangga : “MC tujuh bulanan ya?????wah aku nggak pernah memimpin acara seperti itu mbak”

64. Aisyah : “aq punya susunan acaranya kok…mbak dewi tinggal membacakan saja….tolong ya mbak,,,,masa aq yang harus jadi MC kan ndak lucu,,,hehehehe”

65. Tetangga & Aisyah : SALING TERTAWA KECIL

66. Aisyah : “mbak Sum……mbak…….” MEMANGGIL

67. Bi Sumi : “ ada apa buk??? DATANG MENEMUI

68. Aisyah : “mbak Sumi tolong buatkan teh ya”

69. Bi Sumi : ”Oh,,,nggeh buk….”

70. Aisyah : “sebentar ya, aku ambilkan catatanya…” SAMBIL MASUK KE DALAM

71. Tetangga : MENGANGGUK

72. Aisyah : KEMBALI KE RUANG TAMU “nah ini catatanya…coba dibaca sebentar..”

73. Bi Sumi : MASUK KE RUANG TAMU TAPI DIHENTIKAN OLEH LELA DARI BELAKANG, DAN MEMINTA MINUMAN YANG DIBAWA BI SUMI, DAN BI SUMI MEMBERIKANNYA.

74. Lela : MEMBAWA MASUK KEMBALI MINUMANNYA

75. Aisyah : “Mbak Sum…..mbak Sum……”LELA MASUK RUANG TAMU MEMBAWA NAMPAN) “eh….kok mbak Lela yang antar,,,?”

76. Lela : “Iya…Sumi membuang sampah ke depan” SAMBIL MELETAKKAN CANGKIR DI MEJA

77. Aisyah : “Oh,, trimakasih ya mbak….”

78. Lela : “Iya…”SAMBIL BERLALU PERGI

79. Aisyah : “Ayo diminum dulu…..”MEMINUM TEH

80. Tetangga : “iya-iya…” MEMINUM TEH “ oh,,,acaranya simple ya……insyaAllah aku bisa bantu kok mbak…

81. Aisyah : “ alhamdulilah,…undanganya besok jam 4…undanganya ga banyak kok”

82. Tetangga : HP BERBUNYI “Halo nak….iya tunggu” “ mbak aq pulang dulu ya,,ini sita sudah dirumah…kunci rumah ada  sama sya…” BERDIRI DAN BERPAMITAN

83. Aisyah : “Oh,,,iya mbak… jangan lupa ya,,, makasih banyak lo mbak…..”

84. Tetangga : “iya-iya…..”SAMBIL BERLALU

85. Aisyah : “ MENGAMBIL SAPU SAMBIL MEMEGANGI PERUTNYA YANG AGAK MERASA SAKIT. > MENERUSKAN MENYAPU DENGAN MEMEGANGI PERUT YANG MAKIN LAMA MAKIN SAKIT. >> KARENA MERASA SANGAT SAKIT, SAMBIL BERPEGANGAN SISI KURSI, DUDUK DI SALAH SATU KURSI DAN MENGADUH-ADUH DENGAN SUARA SAMAR-SAMAR ( HARUS PENUH EKSPRESI).

BEL RUMAH BERBUNYI……

86. Aisyah : BERANJAK MEMBUKAKAN PINTU, BERJALAN DENGAN PERLAHAN.

BEL RUMAH BERBUNYI KEMBALI…

87. Aisyah : “Iya…..tunggu” MEMBUKAKAN PINTU

88. Maya : “ Mamah isa……” MENCIUM TANGAN AISYAH “ ada rapat,,jadi pulang pagi”

89. Aisyah : “ Oh…yaudah cepat makan…”SAMBIL MEMEGANG PERUT MENAHAN SAKIT DAN DUDUK DI KURSI

90. Maya : “Mama kenapa???”

91. Aisyah : “Perut mamah……” SAKITNYA SEMAKIN MENJADI

92. Maya : “Mamah ina……… mamah……  eyang,,,, bik……….sini cepetan……” SAMBIL MEMBERIKAN MINUM KE AISYAH

93. Ibu : “ Loh….ini kenapa nak???????”

94. Bibi : “ Bu isa kenapa ini??”

95. Maya : “ Bi cepetan telpon dokter Helena!!!”

SATU JAM KEMUDIAN

96. Aisyah : PINGSAN

97. Maya : “ Halooo,dokter…..masih dimana??

98. Ibu : “ Aduh nak……. Kamu ini kenapa toh……” MENGKIPAS-KIPAS AISYAH YANG PINGSAN

99. Bi Sumi : “ nyah,,,,kok kakinya ibu dingin ini kenapa ya???

100. Ibu : “ndak apa sum…. Kalau pingsan ya seperti ini…. Dingin kakinya…. Eh… maya,, ambilkan minyak kayu putih di situ loh… …”

101. Maya : “iya yang……”BERLALU PERGI DAN CEPAT KEMBALI

102. Bi Sumi : “ nyah… apa jangan-jangan ibu ini mau melahirkan ya nyah??kok tiba-tiba sakit perut….”

103. Ibu : “ya mungkin aja ya sum…..hus!!! ini kan masih 7 bulan kok ya sudah melahirkan  toh…. Jangan asal kamu!!”

104. Bi sumi : “ lha ya bisa aja toh nyah,,, tetangga saya dikampung ada juga kok…. Masih 7 bulan tapi bayinya uda mbrojol….anaknya lahir nyah….Tapi kata bu bidan, bayinya lahir tempratur…..”

105. Ibu : “hah tempratur…. Kok ya bagus namanya??”

106. Maya : wah bik sum ini ngawur…..itu namanya bayi premature! Kok tempratur!”

107. Bi sumi : oh iya mungkin mbak….susah diomongkan e…”

BEL BERBUNYI

108. Ibu : “itu bu dokternya…. Bukakan pintunya”

109. Maya : BERANJAK MEMBUKAKAN PINTU

110. Dokter : “ selamat siang bu…..”

111. Ibu : “Selamat siang bu… ini silahkan diperiksa…”

112.Dokter : “baik…” DOKTER DUDUK DI SAMPING AISYAH, LALU MEMERIKSA DENGAN MENGGUNAKAN SETETOSKOP. “lho???” DENGAN HERAN MEMERIKSA DENYUT NADI PADA TANGAN >LALU MEMERIKSA DENYUT NADI KE LEHER >> LALU KE HIDUNG UNTUK CEK NAFAS. “ibu, ini bu aisyah sebenarnya kenapa??????” DENGAN WAJAH HERAN DAN SEDIH

113. Ibu : “ tadi perutnya kesakitan dokter, lalu pingsan, memang kenapa dokter? Baik saja toh??”

114. Dokter : “ Sehabis jatuh atau apa bu??”

115. Maya : “ tadi mama isa sudah sakit waktu membukakan pintu saat sya datang dokter…memang mamah kenapa dok??”

116. Dokter : “Mohon maaf ibu sebelumnya…. Sejauh pemeriksaan saya, ibu aisyah saat ini sudah meninggal dunia bu…..”

117. .Ibu, Maya, Bi Sum : “ Hah?????!!!!!! Apa?????!!!!”

118. Ibu : SAMBIL MEMERIKSA NAFAS. LALU MENANGIS SEIRING BICARANYA DOKTER

119. ALL : MENUNDUKKAN WAJAH, MENANGIS, BERPELUKAN, MENGELUS-ELUS AISYAH, LALU MEMBOPONG AISYAH KE DALAM

LIMA BULAN KEMUDIAN

IBU SEDANG MEMBACA BUKU TUNTUNAN SHOLAT DI RUANG TAMU, MAYA SEDANG MENGERJAKAN TUGAS DI RUANG TAMU.

120. Ibu : SEBENTAR – BENTAR MEMAINKAN KACAMATANYA. DIPAKAI, DAN DILEPAS KARENA TERLIHAT BURAM. “ Kacamata ini kok ndak enak dipakai ya….”

121. Maya : MENULIS DENGAN BANYAKNYA, SEBENTAR-BENTAR MENGHAPUS, MENULIS DAN MEMBACA.

BEL BERBUNYI

122. Ibu : BERANJAK MEMBUKA PINTU DENGAN SEDIKIT TERTATIH-TATIH. “ bambaaaang anakku……………….” DIKATAKAN DENGAN HARU

123. Bambang : “ Ibu……..”LANGSUNG MENCIUM TANGAN IBUNYA

124. Maya : “Ayah……” MENCIUM TANGAN AYAHNYA

125. Ibu : “Min….. Lel….. bambang datang…….”

126. Lela : “ Mas….. MENCIUM TANGAN BAMBANG

127. Bambang : “Iya…..apa kabar kamu lela??”

128. Lela :” Baik Mas…..

129. Bambang : “ Mana Desi?”

130. Maya : BERANJAK MENGAMBIL MINUM

131. Lela : “ Kulaih mas….duduk dulu mas”

132. Bambang : “ Oh,,,,iya….Mana aisyah, minah?”

133. Minah : “ Mas Bambang………DENGAN PERASAAN YANG BAHAGIA SEKALI “mbak lela geser dong…”

134. Bambang : “ Hahaha….Iya istriku….”

135. Minah : “mas lamanya kok ndak pulang, pulang-pulang ndak pakai seragam….. dari mana hayo????!!”

136. Bambang : “ seragamnya ditinggal di kapal…sudah tidak tugas ya tak pakai seragam lah… lho istriku satunya mana?? Aisyah mana??”

137. All : TERDIAM…..

138. Bambang : lho kok semuanya diam??? Aisyah?????? Aisyah?????” MELONGOK KE DALAM RUMAH.

139. Maya : KELUAR KE DEPAN RUANG TAMU DENGAN MEMBAWA SEGELAS AIR PUTIH. “ Ayah….. mamah isa sudah meninggal…..” BICARA DENGAN NADA SUNDU.

140. Bambang : “ Apa??????? “

141. Ibu : DENGAN NADA BERGETAR HARU “ Iya Nak…. Istrimu meninggal karena keracunan lima bulan yang lalu bersama anak di kandungannya……”

142. All : MENUNDUK DIAM DAN HARU

143. Bambang : “ Hah?????? Aisyah……………!!!!!!!!!!”

TAMAT

 

“DUKUN2AN”

Posted: 26 Januari 2011 in Naskah Drama



(Naskah Telah Dipentaskan)

Pimpinan Produksi:

Drs. Heru Subrata, M.Si.

  1. 2. Pengorganisasian

Pimpinan Produksi  : Drs. Heru Subrata, M.Si

Sutradara                 : Novita Anggraeni

Asisten Sutradara     : Exma Wahyuni

Sekretaris                 : Izzatud Diniyah

Bendahara                : Chusnul Chotimah

Pencatat Adegan   : Anifatul Maghfiroh

Penata Panggung   : Ayu Nastiti

Penata Rias & Busana  : Mimyn Putri Muldash

Penata Musik           : Putri Lestari K

Penata Tari               : Rayi Purwindasari

  1. 3. Tokoh
    1. Putri Lestari K. Sebagai Suami
    2. Anifatul Maghfiroh sebagai Istri
    3. Exma Wahyuni sebagai Parji PRT
    4. Rayi Purwindasari sebagai Suster
    5. Ayu Nastiti sebagai Putri
    6. Izzatud Diniyah sebagai Bu Martabat
    7. Mimyn Putri Muldash sebagai Pak Martabat
    8. Chusnul Chotimah sebagai narator
  1. 4. Konsep cerita

Konsep cerita dalam “ Dukun-dukunan” adalah cerita komedi yang menggambarkan sebuah cerita yang sering ditemui di sekitar kita namun diselingi dengan unsur-unsur komedi sehingga tidak terasa membosankan bagi penikmat drama.

Cerita ini adalah cerita yang kami ambil dari salah satu naskah Putut Buchori yang ide ceritanya diambil dari naskah  “dokter  gadungan” pada bulan Juli 2004

  1. 5. Synopsis cerita

Kisah tentang suami istri yang sedang bertengkar karena si suami selalu saja bersantai-santai setiap harinya. Padahal si istri sudah membanting tulang melakukan berbagai macam pekerjaan untuk menyambung hidup. Si istri yang sudah lelah dengan kelakuan suaminya mendapatkan akal ketika seorang PRT menanyakan alamat seorang dukun sakti padanya…

Suami yang dianggap dukun sakti diminta PRT tersebut untuk menyembuhkan penyakit anak majikannya. Suami yang merasa sudah dianggap dukun itu mau-tidak mau harus mengikuti rencana istrinya itu.

Saat tiba di rumah majikan, si suami mulai melaksanakan analisis-analisisannya. Bagai seorang dukun sakti mandraguna, ia mengeluarkan hipotesis-hipotesis yang sulit dijangkau oleh kemampuan manusia biasa. Kedua majikan yang sudah terlanjur mengagung-agungkan dukun sakti itu hanya mengangguk-angguk layaknya orang yang sudah paham.

Pengobatan ala dukun sakti pun mulai dilakukan. Apakah pengobatan “dukun” itu akan berhasil? Kita ikuti jalan ceritanya….

  • 6. Konsep panggung

 

    Cerita ini terdiri dari 2 babak. Babak pertama adalah rumah suami dan babak ke dua adalah rumah pak martabat dan bu martabat. Konsep panggung ini dibuat sederhana namun dapat mewakili dengan jelas jalan cerita yang ditampilkan.

    Pada babak pertama setting panggung adalah rumah suami. Di atas penggung  terdapat

    1. 1 buah dipan sebagai tempat tidur suami
    2. 1 buah kursi dan meja kayu untuk tempat duduk istri

    Pada babak ke dua di rumah pak martabat dan bu martabat. Setting adalah sebuah ruang keluarga yang terdiri dari:

    1. 1 set  kursi dan meja yang bagus
    2. Perabot mewah seperti guci dan satu pot pohon palsu
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        • 7. Konsep busana

      1. Suami              : Memakai kaos oblong putih, jaket jawa dengan celana longgar hitam dan ikat kepala (udeng)
      2. Istri                  : Memakai daster terusan dengan jilbab yang dipakai seadanya
      3. Parji PRT        :  Memakai daster warna mencolok namun agak terlihat seksi dengan asesoris berlebihan dan tidak serasi di beberapa bagian badannya
      4. Putri                 : Memakai pakaian kasual dengan kaos dan rok panjang
      5. Suster              : Memakai pakaian suster warna putih-putih
      6. Bu martabat  : Memakai setelan blus mewah dengan perhiasan yang berlebihan
      7. Pak martabat : Memakai setelan hem lengan panjang dan celana panjang

    8. Penokohan

     

    Suami    : Pemalas namun cerdik. Badannya tidak terlalu tinggi, di dagunya tampak jenggotnya yang kasar karena jarang dirawat. Gaya bicaranya sangat santai cenderung meremehkan dan nada suaranya berat.

    Istr   i    : Pekerja keras namun cerewet. Badannya sintal namun tertutupi pakaiannya yang kebesaran. Walaupun masih muda, tampak guratan-guratan di wajahnya yang membuatnya tampak lebih tua.

    Parji PRT   : Penampilan nyentrik dan cara bicaranya berlebihan. Nada suaranya yang melengking dan gayanya endel. Dandanannya pun menor serta sok kebarat-baratan.

    Putri   : Sebenarnya adalah gadis yang periang namun mengalami kesulitan dalam berbicara (gagu). Tubuhnya mungil dan mempunyai niat yang besar untuk melanjutkan sekolah.

    Suster   : Wataknya lemah lembut dan suka sedikit memaksa. Badannya tinggi kurus, kulitnya putih. Khas orang yang bekerja di rumah sakit.

    Pak Martabat : Sabar dan tidak mampu mengontrol istrinya yang cerewet. Badannya tinggi, perawakannya santai.

    Bu Martabat  : Badannya kurus, kecil namun cerewet dan terobsesi dengan Mbah Progo (dukun sakti)

    9. Konsep music

      Music diiringi dengan tabuhan bongo agar suasanan terkesan sederhana.

      Naskah

      Dukun Dukunan*

      Kulanuwun nyuwun ngapura

      Kula mriki main sandiwara

      Sandiwara humor bayak banyolan

      Tapi tidak lupa ada pesan kesan

      Kulanuwun inggih permisi

      Sumangga gojegan wonten ing mriki

      Gojegan wong pinter lan berisi

      Ampun kuatir dijamin tidak rugi

      BAGIAN I

      DI SEBUAH DESA

      SEPASANG SUAMI ISTRI YANG SEDANG ADU MULUT, SUAMI YANG PEMALAS, PEKERJAANNYA HANYA MEMANCING DI SUNGAI, NAMUN HASILNYA TAK SEBERAPA, SI ISTRI YANG PEMARAH KARENA SI SUAMI TAK PERNAH MENGHASILKAN UANG UNTUK KEBUTUHAN SEHARI HARI.

      001. ISTRI                           :  Oalah…. Pak.. pak…, mbok sekali kali, kerja yang bener, yang menghasilkan duit. Biar bisa untuk beli beras, untuk makan, untuk hidup sehari hari…

      002.SUAMI                         :   Kerja apa tho bu…, jaman sekarang itu, cari kerja sulit, angel banget, lha wong yang sarjana saja yang nganggur sak bajeg kere, apa lagi saya yang sama sekali belum pernah mambu sekolahan…

      003. ISTRI                           :   Dasar bapak saja yang keset, pekerjaan itu buanyak pak, asalkan kita gigih, kita rajin, cari kayu bakar kek, berkebun kecil-kecilan di kali kek, Bantu-bantu kuli kek, jadi PRT kek, Jadi TKI kek, jadi apa saja kek.

      004.SUAMI                         :   Kak kek, kak kek, memangnya aku ini kakek mu apa? Semprul kamu, jadi istri kok senangnya ngganggu kesenangan suami, mbok cobalah, dirimu itu jadi istri yang baik dan benar. Jadi istri yang setia setiap saat. Melayani suami…

      005. ISTRI                           :   Kalau yang bapak ini jadi suami yang bener bener suami, ya pasti aku mau melayani, lha bapak, suami hanya suami imitasi, ya sori sori saja kaalu aku tak sudi melayani.

      006. SUAMI                        :   We Lha Dhalah, nranyak !!, Kurang ajar, berani beraninya bilang suami imitasi.

      007. ISTRI                           :   Lha kalu bukan suami imitasi, suami palsu, lantas aku harus menyebut suami apa.

      008. SUAMI                        :   Ya sudah semestinya, kamu itu menyebut suamiku yang tampan, suamiku yang cakep, suamiku yang bagus….

      009. ISTRI                           :   Suamiku yang bagus kaya tikus, kecebur kakus, kejepit irus

      010. SUAMI                        :   Hus…

      011. ISTRI                           :   Lha bagus apanya, cakep apanya, tampan apanya? Bapak ini jadi suami betul betul ra urus, kesetnya minta ampun. Pagi-pagi saat orang-orang giat bekerja, bapak enak saja masih leha leha, apa itu namanya suami ? saat istrinya bekerja membanting tulang, kerja mati-matian jadi tukang cuci, kalau masih ada waktu cari kayu bakar untuk di jual, sesekali jadi tukang bersih bersih rumah,kadang-kadang kepala untuk kaki, kaki untuk tangan, tangan untuk kepala. Bapak kok masik asyik asyik saja duduk di pinggir kali, mancing cethul, santai santai. Apa itu bukan suami imitasi, suami palsu. Mbok insap pak, sadar pak, eling pak. Sebel aku, mangkel aku. Rasanya pingin aku kruwes-kruwes raimu pak.

      012. SUAMI                        :   Nah itulah bune. Ini.. ini… yang harus aku jelaskan sejelas-jelasnya kepada kamu istriku yang cerigis. Orang bisa leha leha, asyik asyik, santai santai, itu adalah anugerah terindah bagi umat manusia bune, jarang lho ada orang yang bisa seperti itu, hanya satu berbanding seratus ribu. Jadi itu bukan aib, bukan perbuatan cela. Jangan di hina….

      013. ISTRI                           :   Oalah pak.. bapak ! kalau kita sudah turah duit, kalau kita sudah kaya seperti bapak bapak pemimpin kita yang punya kekayaan seratus milyard, punya warisan tujuh turunan. Kita leha leha bolah boleh saja, kita asyik asyikan bisa-bisa saja, kita santai santai sah sah saja. Lha ini, uang sepeserpun gak punya, pekerjaan gak ada. Besok makan apa juga gak pasti, e.. kok masih sempat leha leha. Itu namanya kebangeten.

      014. SUAMI                        :   Ya kalau memang besok belom ada yang dimakan, ya puasa dulu…. Itu kan ajaran agama….

      015. ISTRI                           :   Puasa kok tiap hari. Puasa bagi orang yang mampu itu memang ajaran agama, tetapi bagi kita kaum duafa ? puasa itu karena keadaan pak, karena memang tidak ada yang di makan.

      016. SUAMI                        :   Wah itu berarti kita ini orang orang ampuh bune, sudah duafa, puasa lagi. Itu kan bisa untuk contoh baik orang-orang rakus yang suka makan jatah kita…

      017. ISTRI                           :   Ash. Sudah… sudah… nggak usah membantah, nggak usah ngeyel sekarang bapak harus kerja, kerja apa kek…

      018. SUAMI                        :   Whe lha, kok semakin hari kamu semakin kuasa tho bu, sudah berani ngatur ngatur suamimu, berani perintah perintah, sudah berani tudang tuding, kamu sudah berbau militerisme terhadap suamimu sendiri.

      019. ISTRI                           :   Habisnya bapak tidak mau kerja. Gak mau cari uang. Kita butuh beras pak. Kita butuh perabot rumah pak, kita butuh sabun, odol, butuh kasur , gelas, piring, dll. Rumah tangga kok hanya punya satu kasur tanpa ranjang, hanya punya dua gelas, satu piring, hingga kalau mau makan harus gantian.

      020. SUAMI                        :   Memang yang lain kemana ?

      021. ISTRI                           :   Pakai nanya kemana ? sudah di jual untuk beli beras. Memangnya nasi yang di makan bapak setiap hari itu dari mana? Ya dari perabotan kita itu pak. Ayo sekarang kerja. Jangan hanya moncang mancing saja, kerja yang bener.

      022. SUAMI                        :   Ogah ! Aku nggak mau kerja keras, dukani dokter! Dan lagi aku lagi menunggu wangsit.

      023. ISTRI                           :   O.. dasar suami tak tau diri.  (GEMAS INGIN MEREMAS-REMAS WAJAH SUAMINYA) Heh… andai aku berani… andai aku mampu.

      024. SUAMI                        :   (JADI MARAH) Apa bune, mau ngelawan suami, berani sama suami. Wong wedok, yen di nengke kok saya ndodro, bajigur tenan iki, yen wong kaya ngene ingi kudu di thuthuki. (AMBIL SEBATANG KAYU, DAN MEMUKULI ISTRINYA) Ayo mau ngelawan suami ya, mau berani sama suami. Pemimpin rumah tangga je! Di lawan (TERUS MEMUKULI ISTRINYA) ayao bilang kapok, tidak ngelawan suami lagi.

      025. ISTRI                           :   Kapok pak.. kapok….

      026. SUAMI                        :   Nah begitu, jangan di ulangi lagi ya, awas kalau sekali lagi ngelawan, ku punthes-punthes wudelmu.(SAMBIL PERGI) Aku ke kali nenepi cari inspirasi.

      027. ISTRI                           :   Suami macam apa itu? Berani memukuli istrinya sendiri. Disuruh kerja cari nafkah kok gak mau, usaha dikit gak mau. Oalah nasib… nasib. Nasib Orang miskin… Nasib… nasib. Nasibnya kaum wanita. .. duh gusti paringana arta. Aku sudah gak kuat lagi. Oh.. nasib.. nasib… kenapa dirimu hanya bias aku ratapi.

      DITENGAH KESEDIHAN ISTRI. DATANG SEORANG YANG SEDANG MENCARI DUKUN AMPUH.

      028. PARJI PRT                   :   Kulo nuwun… any body home….

      029. ISTRI                           :   Monggo. Ada bodi kok di sini.

      030. PARJI PRT                   :   Permisi…

      031. ISTRI                           :   Mari….

      032. PARJI PRT                   :   Excuse me

      033. ISTRI                           :   Hi hi hi…. Apa ya jawabnya, oh yes… pis…pis. Untung sesekali pernah dengar orang ngomong cara landa.

      034. PARJI PRT                   :   Can you help me ?

      035. ISTRI                           :   Oh Pasti yes, yes sekali, Pokoknya pis… pis… deh.

      034. PARJI PRT                   :   m…. I want some information. Please talk to me, about… eyang progo the super star.

      035. ISTRI                           :   Oh Iwan… itu yes. Eyang progo pis.. pis… pis… Nyuwun sewu, jan-jane panjenengan punika, ngunandika menapa tho?

      036. PARJI PRT                   :   Lha nggih nyuwun pangapunten, sejatosipun kawula wonten mriki, bade tanglet “ menapa panjenengan mangertos dalemipun eyang progo, dukun ampuh saking sak kilenipun kali progo?”.

      037. ISTRI                           :   Wah malah jadi seperti main kethoprak, Sulit omongnya, pakai bahasa biasa saja.

      038. PARJI PRT                   :   Setuja setuju saja. Saya sendiri juga pating pecothot je ngomongnya. Begini bu…

      039. ISTRI                           :   Asdi Ranjang.

      040. PARJI PRT                   :   Buas di Ranjang ?

      041. ISTRI                           :   Ya. Asdi nama suami saya, memang dahulu pekerjaannya tukang memperbaiki ranjang, orang orang sering menyebut Asdi Ranjang, jadi orang orang pun suka menyebut saya Bu Asdi Ranjang.

      042. PARJI PRT                   :   Jadi begini Buas Di ranjang…. Saya kemari, sesungguhnya akan bertanya. Konon katanya, di desa ini ada seorang dukun ampuh yang bisa menyembuhkan apa saja, Dari penyakit apendik sampai penyakit gudig, segala macam penyakit dada, hati, mata,tangan, leher, perut, kepala, pundak, lutut, kaki, kepala, pundak, lutut kaki, lutut, kaki. Konon katanya sih namanya eyang progo.

      043. ISTRI                           :   (MASIH RAGU RAGU MENJAWAB) Eyang progo, dukun ampuh, ahli segala macam penyakit, penyakit kepala, pundak, lutut, kaki, kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki. (OTAK LICIKNYA TIBA TIBA MUNCUL) Oh ada… sudah dekat… ibu sudah dekat, ibu sudah berada didekatnya.

      044. PARJI PRT                   :   Oh jadi Ibu sendiri ? (TIBA TIBA MENYEMBAH NYEMBAH IBU DAN MENANGIS) Oh bu tolonglah majikan saya bu, beliau sakit parah, hanya kepada ibu dia dapat di sembuhkan, sudah ratusan dokter, dukun, tabib, mencoba menyembuhkan tetapi gagal total. Majikan saya tidak sembuh sedikitpun, tolonglah lah saya bu, tolonglah majikan saya bu, tolonglah keluarga majikan saya bu…

      045. ISTRI                           :   Bukan.. bukan saya… saya bukan eyang progo. Anda salah….

      046. PARJI PRT                   :   Oh ya maap, maaf bu, karang saya kesusu susu cari dukun je. Lantas dukunnya yang mana ya bu ?

      047. ISTRI                           :   Jangan kuatir. Sampeyan tidak usah nyari, karena dia dukun ampuh, dia yang akan nyari sampeyan.

      048. PARJI PRT                   :   (BERDECAK KAGUM) Ck.. Ck… Ck….

      049. ISTRI                           :   Sampeyan cukup berdiri di situ, beliau dukun sakti ini akan datang dengan sendiri….

      050. PARJI PRT                   :   (BERDECAK KAGUM) Ck.. Ck… Ck….

      051. ISTRI                           :   Tanpa Sampeyan ceritakan penyakitnya, beliau akan tahu dengan sendirinya.

      052. PARJI PRT                   :  (BERDECAK KAGUM) Ck.. Ck… Ck….

      053. ISTRI                           :   Pokoknya beliau ini Ck.. Ck… Ck….

      054. PARJI PRT                   :   (BERDECAK KAGUM) Ck.. Ck… Ck….

      055. ISTRI                           :   Tetapi, untuk bertemu dengan beliau ini, ada syaratnya…

      056. PARJI PRT                   :   Apapun syaratnya akan saya penuhi, bu. Apapun, pokoknya beriiis.

      057. ISTRI                           :   Syaratnya, beliau ini harus dipukuli terlebih dahulu…

      058. PARJI PRT                   :   Lho Kok ?

      059. ISTRI                           :   Inilah unik dan anehnya dukun antik eyang progo sang super star. Beliau ini tidak mau mengaku dukun kalau tidak di pukuli terlebih dahulu, tidak mau memeriksa kalau tidak di pukuli dahulu, tidak mau mengeluarkan kepandaiannya kalau tidak di pukuli dahulu. Jadi jangan di sembah-sembah seperti saya tadi, dia malah tidak mengaku.

      060. PARJI PRT                   :   Gitu ya

      061. ISTRI                           :   Ya begitu lah. Aneh kan? (TAHU KALAU SUAMINYA AKAN DATANG) Nah… nah… nada nadanya eyang progo sudah mencium bau sampeyan yang akan minta pertolongan. Sampeyan berdiri saja di situ. Tutup mata, hitung sampai sepuluh, Beliau Pasti Datang (PERGI MENINGGALKAN PARJI PRT) Ingat, jangan lupa di pukuli dahulu.

      PARJI PRT MEMUTUP MATA DAN MENGHITUNG SAMPAI SEPULUH. SUAMI MENGHAMPIRI PARJI.

      062. SUAMI                        :   Weh.. ? Ini orang aneh atau orang kesasar? Wong sudah tua begini masih main petak umpet? Tetapi kok mainnya di sini ya, apa sudah tidak ada tempat lain? Apa orang ini orang yang sedang belajar menghitung dan kesasar di sini? Aneh? Ada ada saja.

      063. PARJI PRT                   :   (TEPAT HITUNGAN KE SEPULUH) Ya pak Dukun Eyang Progo !

      064. SUAMI                        :   Hus ! Guandrik Putune ki ageng serang !!

      065. PARJI PRT                   :   Nah ! Panjenengan pasti Eyang Progo, dukun ampuh sang super star.

      066.  SUAMI                       :   Dukun apa ? Ampuh gimana ? sampeyan nglindur ya ? Ngimpi ?

      067. PARJI PRT                   :   Anda pasti dukun, orang pinter ?

      068. SUAMI                        :   Bukan, tidak, Bukan Dukun, Tidak Pinter.

      069. PARJI PRT                   :   Pasti Dukun, Sudah pasti pinter.

      070. SUAMI                        :   Bukan, sungguh.

      071. PARJI PRT                   :   Mbok dukun

      072. SUAMI                        :   Bukan ah.

      073. PARJI PRT                   :   Dukun aja.

      074. SUAMI                        :   Bukan ! Bajigur! Orang ini kesurupan apa?

      075. PARJI PRT                   :   Dukun !

      076. SUAMI                        :   Bukan !

      077. PARJI PRT                   :   Duk…

      078. SUAMI                        :   Buk…

      079. PARJI PRT                   :   Benar juga kata ibu itu, memang harus dipukuli dahulu. (MENGAMBIL KAYU DAN MEMUKULI ORANG ITU) Kamu pasti dukun, pasti orang sakti, ampuh, pinter…. dll.   Dll…

      080. SUAMI                        : (KARENA TERUS DI PUKULI, AKHIRNYA MENYERAH) Ya dukun… dukun juga boleh…

      081. PARJI PRT                   :   Nah begitu, kalau ngaku dari tadi, saya kan tidak harus memukuli bapak. Jadi begini bapak dukun…

      082. SUAMI                        :   Tetapi saya bukan dukun…

      083. PARJI PRT                   :  Masih menyangkal (KEMBALI MEMUKULI) Ngaku tidak ?

      084. SUAMI                        :   Ya ngaku… ngaku… Dukun ! (BICARA SENDIRI) Yah daripada dipukuli, jadi dukun ya tak apalah, iseng-iseng berhadiah. (KEPADA PARJI PRT) Jadi apa keluhannya.

      KEMUDIAN PARJI PRT MENERANGKAN PANJANG LEBAR (DENGAN BAHASA ISYARAT). PARJI MENINGGALKAN SUAMI SENDIRI, SETELAH MEMPERSIAPKAN SEGALA SESUATU, SUAMI MENYUSUL PARJI PRT. KE KOTA.

      BAGIAN II

      DI RUMAH KELUARGA BAPAK MARTABAT. PUTRI, ANAK SATU SATUNYA PAK MARTABAT SEDANG DIKEJAR-KEJAR SEOARANG SUSTER UNTUK DI SUNTIK.

      085. SUSTER                      :   Ayo sini nak, jangan takut, sebentar lagi kamu pasti sembuh. Ayo sini sebentar saja, ayo, kamu jangan menurunkan kredibilitasku sebagai suster, kamu jangan merendahkan kwalitas namaku sebagai suster sakti. Ayolah nak, ayo.

      086. PUTRI                         :   (TAKUT) Kredabeg gup lgu gigu kali hila tara ystgerdfe bdgdtrfvb nhytrs.!

      087. SUSTER                      :   Ini ramuan terbaruku, inti sari susu kedelai yang di kombinasi ASI yang di sedot dari ibu-ibu pilihan berkwalitas super yang berusia 40 tahun.

      088. PUTRI                         :   Kredabeg gigu kali hila tara ystgerdfe bdgdtrfvb nhytrs.!

      089. SUSTER                      :   Sudah pasti obat ini, jaminan sembuh.

      090. PUTRI                         :   Kredabeg! gup lgu ! gigu kali ! hila ! tara ! ystgerdfe bdgdtrfvb nhytrs.!!!!!

      091. SUSTER                      :   Ayolah, demi kredi peti, demi spon bob, demi aquarius, demi apolo, demi kian.

      092. PUTRI                         :   (SEMAKIN KETAKUTAN) Kredabeg gup lgu gigu kali hila tara ystgerdfe bdgdtrfvb nhytrs.

      MUNCUL BU MARTABAT.

      093. BU MARTABAT             :               Oh, jadi begitu ya cara mengobatinya, pakai maksa maksa, anarkis ya, pakai kekerasan ya, orang sudah tahu ketakutan, malah di takut takuti ya, sudah tahu putriku lari kesana kesini kesitu masih di kejar saja. Sudah jelas jelas takut di suntik, mau di coblos saja. Suster macam apa kamu ini, mal praktek ya, illegal ya, palsu ya, apus-apusan ya, dasar… dasar…. Dasar…. Benci aku, pokoknya akan aku tuntut, ke meja hijau, karena sudah mengancam dan menakut-nakuti anak. Itu juga bias masuk pasal tindakan tidak menyenangkan, kalau caranya begitu anakku tidak semakin sembuh tapi malah tambah parah sakitnya. Dasar… dasar.. dasar….. huh !

      094. PAK MARTABAT       :   (DATANG MENYUSUL) Mbok yang sabar bu, yang sareh, kok malah marah-marahdengan suster, ini demi anak kita bune, segala cara patut kita coba.

      095. SUSTER                      :   Ya maafkan saya bu, Bukan maksud saya bu, untuk menyakiti anak ibu, ini dalam rangka penyembuhan secara medis.

      096. BU MARTABAT         :   Penyembuhan apa, penyembuhan kok menakut nakuti, penyembuhan kok bikin girap girap , penyembuhan cara mana itu?

      097. PAK MARTABAT       :   Jangan menuduh yang bukan bukan, siapa tahu itu cara yang paling canggih, paling baru…

      098. BU MARTABAT         :   Whe lha dalah ada gajah makan jadah ! bapak kok membela si suster ini tho? Seneng ya sama susternya? Tertarik ya? Emploken kabeh sana !

      099. PAK MARTABAT       :   Bukan begitu bu, bukannya membela bu…

      100. SUSTER                      :   Saya sungguh sungguh demi pengobatan bu, sesuai yang saya pelajari di yuniversitas kesusteran sekolah saya bu. Dan menurut penelitian para ahli, cara ini memang cara yang paling manjur untuk penyakit anak ibu.

      101. BU MARTABAT         :   Penelitian apa? Sok idih saja kamu ini. Mana bisa menyembuhkan orang, kalau yang akan di sembuhkan malah jiwanya tidak stabil, malah paranoid berlebihan, malah pobia sepobia pobianya.

      102. PUTRI                         :   (PROTES KEPADA IBUNYA) Kredabeg gup lgu gigu? kali hila tara ystgerdfe bdgdtrfvb nhytrs.?

      103. BU MARTABAT         :   Nah iya kan? Putriku malah semakin sakit? Semakin menderita? Sudah.. sudah pulang sana ke yuniversitasmu, belajar lagi, biar tidak menjadi sarjana premature, sarjana invalid.(MENGUSIR SUSTER) ayo pulang sana, dan tidak akan ku bayar kamu, ayo lekas pulang, mumpung aku belum berubah pikiran untuk menuntutmu.

      SUSTER PUN PERGI.

      104. PAK MARTABAT       :   Sabarlah bune, jangan mencit mencit begitu omangannya, nggak usah lancip lancip begitu nerocosnya, nanti darah tingginya naik lagi. Jadi orang itu mbok iyao sobar, orang sabar itu disayang Gusti Allah.

      105. BU MARTABAT         :   Sabar sing kepiye pak, saya ini sedang panik, sedang sok, anak kita ini sedang sakit serius, kok disuruh sabar, nggak bisa, kita harus terus berusaha keras sekeras kerasnya agar anak kita ini sembuh. Bapak malah nyuruh sabar, nanti kalau anak kita tidak sembuh bagaimana, jadi gagu seumur umur pigimana, jadi cacat. Apa bapak tega.

      106. PAK MARTABAT       :   Tetapi ya jangan grusa grusu seperti itu tho bu. Semprot sana semprit sini, nerocos sana nericis sini, ubeg begijigan ngalor ngidul. Semua dokter, suster, bidan, dukun, tabib, singshe, dan segala macam juru sembuh yang kesini, semua telah kena hujatan amarahmu. Dan suster tadi sudah orang ke seratus tiga puluh tiga, yang kena hujan amarahmu yang teramat sangat cerewet banget itu.

      107. BU MARTABAT         :   Habisnya mereka itu leda lede, ita itu, ina inu tetapi tak ada yang becus, malah bikin anak kita jadi ketakutan. Nyari dokter kok nyari yang mata duitan, belum apa apa sudah bayar di muka, baru tanya nama udah bayar duluan, padahal belum diperiksa, belum diobati, dokter apa itu, dan lihat hasilnya tidak sembuh juga. Kalau semua dokter begitu aku kan jadi mumet, mlungkret (MENUMPAHKAN KEMARAHANNYA DENGAN  TERIAK) heh !!!!

      108. PAK MARTABAT       :   Bu ?

      109. PUTRI                         :   (MENCOBA IKUT BERPENDAPAT TETAPI MASIH GAGU) Kredabeg! gup lgu ! gigu kali ! hila ! tara ! ystgerdfe bdgdtrfvb nhytrs.!!!!!

      110. BU MARTABAT         :   Ga ga, gi gi, ga ga, gu gu, Ya  kamu itu yang bikin ibumu ini bludreg stress berat. Sesak napas, mengi, mengkis mengkis. (NAPASNYA SESAK)

      111. PUTRI                         :   (MENANGIS MERASA DISALAHKAN) Kredabeg! gup lgu ! gigu kali ! hila ! tara ! ystgerdfe bdgdtrfvb.

      SEMENTARA ITU, BU MARTABAT SEMAKIN SESAK NAPAS, DAN HAMPIR PINGSAN.

      112. PAK MARTABAT       :   Waduh mbokmu kumat lagi nduk.

      113. BU MARTABAT         :   (SEPERTI NGOMNYANG) Barakadah, wasawyah, karakadah, Barakadah, wasawyah, karakadah, Barakadah, wasawyah, karakadah, air.. air… (TERIAK MEMANGGIL PARJI) Parji… Air… !

      114. PARJI PRT                   :   (YANG TIBA TIBA DATANG DARI LUAR) I am coming….Saya datang ndoro putri, saya sudah coming ndoro kakung.

      115. BU MARTABAT         :   Air.. ambilkan aku air… aku sesak napas… air…

      116. PARJI PRT                   :   Kali ini pasti ndoro putri tidak perlu air untuk menghilangkan sakit sesak napas. Karena saya telah menemukan dukun ampuh sang super star, seperti mimpi ndoro putri.

      117. BU MARTABAT         :   (TIBA TIBA SEMBUH) Eyang progo ?

      118. PARJI PRT                   :   Inggih leres, Eyang Progo.

      119. PAK MARTABAT       :   Oh.. pasti dukun ini sangat ampuh, baru akan mendengar namanya saja, istriku langsung sembuh dari penyakit asma.

      120. PUTRI                         :   (IKUT GEMBIRA, MASIH BISU) Kredabeg! gup lgu ! gigu kali ! hila ! tara ! ystgerdfe bdgdtrfvb nhytrs.!!!!!

      121. PARJI PRT                   :   Dukun ini memang ampuh, tanpa aya cari datang sendiri.

      122. PAK MARTABAT       :   Bisa menyembuhkan aneka penyakit ?

      123. PARJI PRT                   :   Segalanya ndoro kakung, segala penyakit bisa ditumpas dengan tuntas.. tas… tas…

      124. BU MARTABAT         :   Sekarang mana orang itu, aku kok sudah ingin ketemu.

      125. SUAMI                        :   (TIBA TIBA MUNCUL SUDAH DENGAN PAKAIAN DAN PERALATAN ALA DUKUN) Aloooha ! Perkenalkan nama saya sesungguhnya Adi, Adi Karta Raja Nagara. Tetapi di dunia ilmu supranatural orang sering menyebu dengan “ EYANG PROGO”. Juru sembuh paling ter masyur, canggih, dan pasti 100 % oke deh punya.

      126. PAK MARTABAT       :   Oh silahkan, monggo silahken masuk. Memang dari ambunya, dari prejengannya, bapak ini memang sudah tampak seperti dukun ampuh…

      127. SUAMI                        :   Super star….je….

      128. PAK MARTABAT       :   Memang tidak di ragukan kalau penampilan bapak ini memang penampilan juru sembuh professional.

      129. SUAMI                        :   (MEMEGANG TANGAN PAK MARTABAT) oh jadi ini tho yang sakit. Kalau dilihat dari gejalanya, terdiri dari gangguan di sebelah kiri, Wah… ini pasti migran. (MEMEGANG SISI YANG LAIN) Tapi tunggu, tunggu, Di sini kok juga mengalami kelainan. Wah ini lebih parah dari apa yang saya duga, Ini komplikasi Migran dan fertigo, atau bahasa ilmiahnya di sebut Vertigren. Atau dalam bahasa latin di sebut oregano Vertigano.

      130. BU MARTABAT         :   Ck.. ck.. ck.. Ampuh bener…  Fasih sekali bahasa latinnya.

      131. PAK MARTABAT       :   Tapi maaf pak super star, bukannya migran dan Vertigo itu, penyakit kepala ?

      132. SUAMI                        :   Oh ini pengembangan ilmu pengetahuan pak, yang pada akhirnya dapat mengikuti perkembangan penyakit, memang dahulu migran dan vertigo itu penyakit kepala, tetapi setelah mengalami sublimasi saraf otak secara kimiawi, langsung terjadi interaksi positif antara ion-ion retina mata, yang langsung di sebar luaskan oleh bakteri anaoda dan katoda dalam kepala, yang kemudian di alirkan ke tangan. Begitulah.

      133. BU MARTABAT         :   Gila Bener, pinter banget !

      134. PAK MARTABAT       :   Oh Begitu ya ?

      135. SUAMI                        :  Ya begitu itu, kejadian ilmiahnya.

      136. PAK MARTABAT       :   Tetapi yang sakit bukan saya.

      137. SUAMI                        :   Aduh, salah tho ? tiwas sudah aku brojolkan segala ilmuku je.

      138. BU MARTABAT         :   Yang sakit ini (MENUNJUK PUTRI ANAKNYA) anak saya.

      139. SUAMI                        :   Oh yang sakit ini tho, kebetulan sekali.

      140. BU MARTABAT         :   Kok kebetulan ?

      141. SUAMI                        :   Kebetulan, saya memang suka mengobati perempuan-perempun cantik. (KEPADA PUTRI) Siapa namamu nak?

      142. PUTRI                         :   (MASIH BISU) pukjhyftrg bgcftr mnjghy.

      143. SUAMI                        :   Oh, pasti anak ibu mengalami gangguan mulut.

      144. PUTRI                         :   (MASIH BISU) pukjhyftrg bgcftr mnjghy.

      145. SUAMI                        :   Oh aku yakin sekali kalau nak ibu ini bisu.

      146. PUTRI                         :   (MASIH BISU) pukjhyftrg bgcftr mnjghy.

      147. SUAMI                        :   Saya paham, paham, saya paham bahasanya. (KEPADA PUTRI) Blekuthuk blekutuk blekuthuk blekuthuk.

      148. PUTRI                         :   (MASIH BISU) pukjhyftrg bgcftr mnjghy.

      149. SUAMI                        :   Blekutak blekutik blekithuk ?

      150. PUTRI                         :   (MASIH BISU) pukjhyftrg bgcftr mnjghy.

      151. SUAMI                        :   Yah, aku sudah tahu jalan keluarnya. Sekarang silahkan semua saja yang tidak berkepentingan, untuk meninggalkan area ini. Baru setelah aku panggil, silahken dating.

      TANPA BERTANYA LAGI, IBU DAN BAPAK MARTABAT SERTA PARJI PRT MENINGGALKAN PUTRI UNTUK DIOBATI.

      DAN SETELAH SEPI, DUKUN PALSU ITU MENANGIS MERATAP MEMOHON SANG PUTRI UNTUK SEMBUH, KARENA DIA SESUNGGUHNYA TIDAK BISA MENGOBATI.

      152. SUAMI                        :   Tolonglah saya nona, plis banget, saya sebenarnya bukan dukun, saya bukan super star, saya hanya bohong bohongan, sebab kalau saya tidak mengaku dukun, saya bakal dipukuli, tolonglah saya nona, tolong, saya sesungguhnya tidak 100% oke deh punya, saya sebenarnya minus 100% payah lah boleh. Tolong nona.

      153. PUTRI                         :   (MELIHAT TINGKAH DUKUN PALSU ITU MERATAP SAMBIL MENANGIS, DAN SESEKALI KENTUT, PUTRI JADI TERTAWA GELI) Ih bau, bapak kentut ya?

      154. SUAMI                        :   Saya kalau ketakutan berlebihan, memang suka kentut, bau lagi….

      155. PUTRI                         :   (MASIH TERTAWA GELI) Sudah pak, sudah, jangan menghiba-hiba lagi, saya lihat bapak menangis sambil kentut, bikin perut saya kram karena tertawa.

      156. SUAMI                        :   (SADAR, TERHERAN MELIHAT PUTRI BISA BICARA NORMAL) oh jadi…. Jadi…

      157. PUTRI                         :   (KEMBALI PURA PURA BISU) Btrfaredeij nrhyui mbngjtyuygr.

      158. SUAMI                        :   Oh saya tahu.. saya paham.. nona pura-pura ya… nona bohong-bohongan ya… sudah jangan acting di depan gurunya acting.

      159. PUTRI                         :   Iya je. Saya pura-pura, maaf kalau sudah merepotkan semua orang, termasuk bapak..

      160. SUAMI                        :   Memangnya ada apa nona, kok pakai acara bisu-bisuan segala ?

      162. PUTRI                         :   Habisnya saya akan di jodohkan, di jodohkan dengan mas Turah Wojo. Padahal saya masih ingin melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi.

      163. SUAMI                        :   Oh begitu ya ?

      164. PUTRI                         :   Nah untuk mengulur-ulur waktu perjodohan, sambil cari akal yang lain, ya saya pura-pura saja bisu.

      165. SUAMI                        :   O.. o.. o.. o… makaten tho ? Jadi nono pura-pura bisu untuk menghindari perjodohan, dan ingin sekolah lagi.

      166. PUTRI                         :   Ya begitulah pak, meskipun jaman sekarang biaya sekolah itu muahalnya minta ampun, tetapi saya tetep ingin sekolah.

      167. SUAMI                        :   Baik, baik itu mau neruskan sekolah, tidak seperti saya, tidak pernah sekolah sama sekali. Begini saja Kita kong kalikong saja.

      168. PUTRI                         :   Kong kalikong bagaimana ?

      169. SUAMI                        :   Saya punya akal, kita perumit keadaan biar semakin genting. Tetapi nona setuju tidak kalau kita kong kalikong.

      170. PUTRI                         :   Asalkan aku tidak jadi di jodohkan dan aku bias sekolah lagi, aku setuju.

      171. SUAMI                        :   Oke, siip ! Kita bikin begina saja. (BERBISIK KEPADA PUTRI TENTANG RENCANANYA).

      172. PUTRI                         :   Setuju.

      173. SUAMI                        :   Setelah hitungan ke tiga, kita mulai. Konsentrasi, (LANGSUNG MENYEBUT) tiga….

      174. PUTRI                         :   (MENJERIT HISTERIS)

      175. SUAMI                        :   Nyonya, Tuan…

      IBU/BAPAK MARTABAT, PARJI PRT BURU BURU MASUK.

      176. PAK MARTABAT       :   Ada apa pak ?

      177. BU MARTABAT         :   Waduh.. waduh… kok lagi lagi begini, lagi lagi begitu. Tobat.. tobat…

      178. PARJI PRT                   :   Ndoro.. ndoro nona… ndoro nona putri. Pripun, wonten napa?

      179. SUAMI                        :   Wah gawat ini.. semakin gawat, ini bener-bener emerjensi. Ambilkan air putih.

      PARJI PRT MENGAMBIL AIR PUTIH.

      180. PARJI PRT                   :   Ini airnya pak dukun.

      DUKUN GADUNGAN SEGERA MENABURKAN SERBUK KE AIR DAN DIBERI JAMPI-JAMPI.

      181. SUAMI                        :   Minumlah ini nak, minum. (AJAIB, PUTRI SEMBUH DAN BISA BICARA).

      182. PUTRI                         :   Ajaib !! Aku bias bicara…. Ho.. ho… aku bisa bicara…

      183. BU MARTABAT         :   Sukur.. Gusti Allah Pangeran, terima kasih, anakku bisa bicara lagi. Ayo sekarang segera kita panggil kerabat kita, kita adakan sukuran dan kita langsung rapatkan tentang perjodohan anak kita dengan Mas Turah Wojo.

      184. PUTRI                         :   Perjodohan ? (KEMBALI BISU) bgstreemnfh kjuy kiki kuk  hmjouljm.

      185. BU MARTABAT         :   Lho Pak ? Kok kembali jadi gagu?

      186. SUAMI                        :   Nah inilah akar permasalahannya. Karena tekanan mental yang teramat sangat, fungsi-fungsi organ otak kepala yang ke mulut jadi terganggu. Terjadilah bisu.

      187. BU MARTABAT         :   Lantas bagaimana cara menyembuhkan secara total pak?

      188. SUAMI                        :   Tenangkan pikirannya, jernihkan hatinya, muluskan cita-citanya. Akan aku acoba sembuhkan lagi, dan ini untuk terakhir kalinya, sebab setelah itu akan afkir, dan bisa wassalam. (KEMBALI MEMBERI RAMUAN).

      189. PUTRI                         :   (SEMBUH) ah.. lega…

      190. BU MARTABAT         :   Nak…

      191. SUAMI                        :   Tunggu sebentar bu, Sebelum melontarkan pertanyaan-pertanyaan, mohon kata-katanya di atur terlebih dahulu, dari pada anaknya nanti invalid. Jangan lupa, Tenangkan pikirannya, jernihkan hatinya, muluskan cita-citanya. Jangan paksakan kehendak.

      192. BU MARTABAT         :   Baik , baik, aku hanya akan menanyakan keinginannya, (KEPADA PUTRI) piye nak, piye, apa sing di pingini?

      193. PUTRI                         :   Sekolah.. sekolah….

      194. BU MARTABAT         :   Iya sekolah.

      195. PUTRI                         :   Putri ingin sekolah dulu yang tinggi, tinggi sekali.

      196. BU MARTABAT         :   Ya kalau memang itu kemauanmu.

      197. SUAMI                        :   Nah itulah ibu yang baik dan benar, memberi keluasan berpikir bagi anaknya, anak itu amanah. Tidak memaksakan kehendak. Anak kita sesungguhnya bukan anak kita, dia adalah anak jaman yang terus mengalir sesuai jamannya. Kita hanya membimbingnya, tidak mencetaknya.

      198. ISTRI                           :   (MENYUSUL SUAMI) Pak.. Pak.. aku kangen karo kowe je.

      199.PARJI PRT                    :   Lho Jadi Bapak ini, suaminya ibu ini…

      200. BU/PAK MARTABAT : Berarti…..

      201. SUAMI                        :   Begitulah, yang penting masalahnya selesai tho?

      -Selesai-

      “RAMAH atau LEMAH”

      Posted: 26 Januari 2011 in Naskah Drama

      (Naskah Telah Dipentaskan)
      Pimpinan Produksi:
      Drs. Heru Subrata, M.Si.
      1. Ervita Meilisa .S (071644269)
      2. Rista Rahma Y    (071644270)
      3. Novi Dwi Canti   (071644271)
      4. Novi Dwi Rosiana  (071644272)
      5. Sasi Devita Lestari (071644292)
      6. Sukardi Pranata  (071644293)
      7. Kurnia Kusumaning Tyas (071644294)
      8. Dian Hayati (071644296)
      9. Lahel Hardianto  (071644297)
      10. Enung Megawati (071644299)
      11. Tino Bayu Tirtanto (071644300)
      12. Agus Yudi Setyawan (071644301)
      13. Efi Ika Febriandari   (071644302)
      14. Fitria Yuniarti  (071644303)
      15. Emmaniar Syahrita  (071644304)
      16. Beti Restiningsih (071644305)
      17. Risky Nur Winda  (071644306)
      18. Devi Nugrahini  (071644307)


      SUTRADARA                                                                    : Beti Restiningsih

      ASSISTEN SUTRADARA                                          : Tino Bayu Tirtanto

      NASKAH/ CERITA OLEH                                        : Tino Bayu Tirtanto

      PENATA PANGGUNG & PROPERTI  : Beti Restiningsih dan Dian Hayati

      PENATA MUSIK & TETABUHAN : Tino Bayu Tirtanto dan Lahel Hardianto

      PENATA RIAS & TARI : Novi Dwi Canti dan Risky Nur Winda

      LATAR BELAKANG DRAMA

      Tingginya prestise Bangsa Indonesia di hadapan dunia akibat kekayaan kebudayaannya membuat Indonesia disebut sebagai “Rumah Budaya”. Beraneka ragamnya seni dan kebudayaan di Indonesia dikarenakan keramahtamahan masyarakatnya. Dengan sikap keramahtamahan itu, sedikit demi sedikit ragam budaya dari berbagai bangsa mulai diserap oleh negeri kita. Hal ini semakin memperkaya perbendaraan budaya yang memunculkan ide-ide kreatif dari pengembangan budaya di daerah-daerah.

      Namun, perlu disadari juga dampak dari keramahtamahan itu pula yang menyebabkan negara Indonesia rawan akan penjajahan. Di era globalisasi ini, bentuk penjajahanpun semakin beranekaragam. Diantaranya adalah penjajahan terhadap ide, kreatifitas dan karya-karya anak bangsa dalam bentuk pengakuan atas aset-aset budaya bangsa oleh negara lain.

      Melihat kenyataan inilah, kami tergugah untuk menuangkan kreatifitas sebagai bentuk aspirasi kami sebagai manusia Indonesia yang peduli akan kelestarian seni dan budaya bangsa dalam sebuah karya pementasan seni drama. Dengan mengangkat tema kebudayaan,  kami mempersembahkan pementasan drama ini yang berjudul “Rumah (Ramah atau Lemah)”.

      Selain itu, pementasan seni drama ini, kami persembahkan untuk melengkapi tugas akhir semester yang diberikan oleh Bapak Heru Subrata selaku dosen pembimbing mata kuliah Pendidikan Seni Drama di PGSD.

      SINOPSIS

      Rumah

      (Ramah atau Lemah)

      Terdapatlah sebuah cerita dalam Sanggar Kebudayaan, yang bernama Sanggar Rumah Budaya Indonesia. Sanggar kebudayaan ini telah mengembangkan bakat dan minat setiap anggota sanggar untuk mengenal dan mempelajari budaya Indonesia agar tetap lestari. Semuanya berjalan seperti wajarnya sebuah sanggar. Kegiatan menari berbagai jenis tarian dari daerah-daerah di Indonesia tercurahkan tentunya sebagai bukti rasa cinta terhadap bangsa dan negara.

      Keadaan seperti ini tidak berlangsung lama, setelah pemilik sanggar yang bernama Siti Kondilati berniat untuk menjual Sanggar Rumah Budaya Indonesia beserta seluruh kebudayaannya kepada pihak Malaysia. Siti Kondilati adalah ketua sekaligus pemilik sanggar. Sifatnya yang selalu mementingkan materi dibandingkan dengan harga diri bangsa selalu mendapatkan tantangan dari salah satu anggota sanggar yang memiliki jiwa nasionalisme serta rasa kepedulian terhadap nasib kebudayaan Indonesia. Diantara teman-temannya, Minahlah yang selalu menentang Siti Kondilati. Dia orang yang memiliki prinsip bahwa hidup untuk menjaga harga diri bangsa atau mati tak terhormat tanpa bisa memperjuangkan identitas bangsa.

      Keinginan Siti Kondilati untuk menjual sanggar tidak tercegahkan lagi. Keinginan untuk menukarkan kebudayaan bangsa dengan uang sentak membuat pandangan pro kontra bagi para anggota sanggar. Dengan segala alasan mereka menolak keputusan Siti Kondilati. Tapi tak sedikit dari mereka menerima keputusan tersebut. Setelah mendapat iming-iming materi yang berlipat. Minahlah, dan hanya Minah yang bersikeras untuk menentang penjualan Sanggar Rumah Budaya Indonesia.

      Hingga tibalah suatu hari disaat anggota sanggar berlatih menari datanglah pihak Malaysia melihat-lihat kekayaan budaya Bangsa Indonesia. Semua anggota sanggar bingung akan kedatangan pihak asing ke sanggar mereka. Tanpa basa-basi Siti Kondilati mempersilahkan Nur Halimah untuk segera bertransaksi. Siti Kondilati tidak sabar lagi untuk memperkaya dirinya dengan menjual budaya bangsa tanpa memperdulikan harga diri serta identitas bangsa. Sekali lagi hanya Minahlah yang marah terhadap keputusan Siti Kondilati tersebut. Semua teman-temannya telah termakan oleh bengkoknya rasa nasionalisme tak ada lagi harga diri. Tak ada lagi rasa malu yang terpenting adalah uang, uang dan uang. Kekerasan hati Minah untuk mempertahankan kebudayaan bangsa sama sekali tidak diindahkan oleh semua pihak. Beginilah nasib bangsa jika semua rakyatnya tidak menghargai perjuangan pahlawan bangsa.

      Kalian adalah kaum yang terjual, terlenakan harta, tak peduli harkat, martabat bangsa. Masih adakah diantara kalian yang memiliki hati sekeras hati Minah? Mari kita jawab dengan waktu mengiringi umur kita.

      AMANAT

      Sebagai manusia Indonesia seutuhnya yang berbudi pekerti luhur, seharusnya kita bangga menjadi bagian dari penghuni nusantara ini dengan ciri keramah tamahannya. Namun perlu disadari juga, sebagai bangsa yang ramah, janganlah kita menginterpretasikan keramah tamahan itu dengan pengertian kesediaan untuk memberikan segala sesuatu yang kita miliki, terutama berkaitan dangan jati diri bangsa kepada bangsa lain. Kita harus bisa membedakan antara keramahan dan kelemahan. Pertahankan aset–aset budaya Indonesia ini dengan stabilitas nasional yang mantab.

      Sinkronisasi antara peran pemerintah dan rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus diwujudkan dengan menjaga subjek-subjek dan produk-produk kebudayaan bangsa ini agar tidak jatuh ke tangan bangsa lain.

      KONSEP PEMBAGIAN PERAN

      Dalam pembagian peran dan tugas masing-masing anggota kelompok, kami membedakan dan tidak memberi tugas/peran ganda antara tokoh-tokoh/pemain-pemain dalam cerita dengan penaggung jawab atau koordinator penunjang masing-masing bidang sebagai sarana pendukung pementasan drama yang kami persembahkan. Hal ini bertujuan agar tercipta profesionalisme kinerja tiap-tiap anggota dalam kelompok kami. Jadi, tiap-tiap individu dalam kelompok kami dapat fokus terhadap peran dan tugas pada bidang masing-masing.

      KONSEP PANGGUNG DAN PROPERTI

      Setting tempat yang kami tampilkan dalam drama yang terdiri dari 2 babak ini adalah di dalam sebuah sanggar tari, dengan properti sebagai berikut:

      • papan bertuliskan “Sanggar Rumah Budaya Indonesia”
      • papan bertuliskan “Sanggar Rumah Budaya Malaysia”
      • kursi, meja .
      • beberapa properti tari reog ponorogo

      KONSEP MUSIK

      Musikalisasi dalam drama berjudul “Rumah (Ramah atau Lemah)” yang akan kami persembahkan ini menggunakan alunan musik dan tetabuhan “live”. Konsep musik yang akan kami sajikan tanpa menggunakan alat perekam/rekaman. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan kreatifitas dari anggota kelompok kami dalam menciptakan suatu karya seni.

      Selain itu, musik dan lagu yang akan kami mainkan sebagian besar adalah murni aransemen hasil cipta karya kelompok kami sendiri, khususnya dari Saudara Tino Bayu Tirtanto selaku Assisten Sutradara yang menjadi komposer dan koordinator musik dalam pementasan karya drama “Rumah (Ramah atau Lemah)” ini.

      Adapun alat-alat musik yang kami gunakan antara lain:

      • gitar
      • bass
      • perkusi
      • beberapa alat musik tambahan lainnya.

      Dengan pemain musik dan vokal sebagai berikut :

      Tino Bayu Tirtanto, Beti Restiningsih, Lahel Hardianto E, Risky Nur Winda, Dian Hayati dan Novi Dwi Canti.

      KARAKTER PEMAIN

      1. Minah                      : Punya rasa nasionalisme tinggi, teguh pendirian, tegas
      2. Sumiati    : Tidak punya pendirian, sok tahu
      3. Suroyo                     : Cuek, tidak punya pendirian
      4. Siti Kondilati            : Sombong, Materealistis, Centil, Angkuh, Mudah dihasut
      5. Juminten  : Tidak punya pendirian, penghasut
      6. Cemeng    : Lucu, licik, banyak akal
      7. Sukardi    : Culun, lugu, mudah dibohongi
      8. Denok                      : Lucu, tidak adil, sebagai penengah
      9. Nur Halimah            : Sok berkuasa, tidah peduli kepentingan orang lain, kejam
      10. Zaenab                     : Penurut majikan, dapat dipercaya
      11. Pengawal  : Penurut

      NASKAH DRAMA

      Dengan bangga kami mempersembahkan sebuah karya drama sebagai wujud rasa peduli kami terhadap kebudayaan nusantara, dalam lakon RUMAH (Ramah ataU leMAH). Dengan susunan pemain sebagai berikut:

      1. Devi Nugrahini sebagai Minah
      2. Evi Ika Febriandari sebagai Siti Kondilati alias Bu Dila
      3. Agus Yudi Setyawan sebagai Suroyo alias Roy
      4. Emmaniar Syahrita sebagai Sumiati
      5. Sasi Devita sebagai Juminten
      6. Sukardi Pranata sebagai Kardi
      7. Rista Rahma Yunita sebagai Cemeng
      8. Enung Megawati sebagai Denok
      9. Ervita Meilisa sebagai Nur Halimah dari Malaysia
      10. Fitria Yuniarti sebagai Zaenab dari Malaysia
      11. Kurnia Kusuma dan Novi Rosiana sebagai pengawal dari Malaysia

      Jika ada persamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, ya memang kami buat seperti itu..

      Selamat Menyaksikan…….

      BABAK  1

      (……….. musik )

      Teatrikal dimana Indonesia mencoba mempertahankan kesenian reog ponorogo yang diklaim Malaysia.

      Puisi

      Rumah

      (Ramah atau Lemah)

      Gemerlap langit bumi pertiwi

      Terpampang ribuan budaya anak bangsa

      Menoreh sejarah dunia

      Ah………

      Sejak lama  jua anugrah itu ada

      Namun kini…..esok..

      Atau mungkin beberapa dasawarsa lagi

      Ragam keindahan itu kan luntur

      Bahkan mungkin sirna oleh keramahtamahan

      Ramah akan penjajahan

      Ramah akan kemunafikan

      ramah akan kepicikan negeri seberang

      Apakah itu tanda keramahan??

      Ataukah tanda kelemahan…

      (Musik…)

      Inilah karya budaya negeri..

      Karya abadi nan jaya..

      Oleh karena itu..

      Harus dilestarikan dan dijaga..

      Sumiati, Suroyo, Minah masuk membersihkan perabot sanggar

      1. Sumiati   : “Ah… (sambil mengusap peluh)

      Sampai berapa lama lagi rumah budaya kita ini bisa bertahan ya?”

      1. Minah      : “ Ya sampai hati dan nurani pemuda Indonesia ini sudah                 tidak lagi di Indonesia!”
      2. Suroyo    : “Bener itu… Kenapa ya, cuma kita di sini yang berusaha membuat Indonesia itu lebih Indonesia lagi? Padahal, coba kalian hitung, bandingkan banyaknya rambut yang melekat di kepalamu itu dengan kekayaan budaya kita. Berani taruhan, sampai gundulpun rambut kalian tidak akan mampu menandingi banyaknya budaya Indonesia tercinta ini.”
      3. Sumiati : “Iya… apalagi ditambah dengan budaya kita “DATANG AKUR” itu, waah..malah gak terhitung lagi jumlahnya.”
      4. Minah      : “ Sik..sik..sik..Opo iku DATANG AKUR??”
      5. Sumiati   : “ Ya itu.. buDAya uTANG gAK nyaUR! Yang susah siapa? Yo awake dewe, para generasi penerus bangsa.”
      6. Suroyo    : “ Nek ngunu, jenenge dudu generasi penerus bangsa reek..”
      7. Minah                      : “ Lha terus apa?”
      8. Sumiati   : “ Generasi penerus utang, lha itu yang lebih tepat!”
      9. Suroyo    : ” Yo…yo…bener…bener…”
      10. Minah                      : “ Tapi menurutku, dilihat dari proses terjadinya, DATANG AKUR itu tadi tidak bisa dikategorikan sebagai budaya rek!”
      11. Sumiati   : “ Lha terus apa?”
      12. Minah                      : “Iku mau termasuk seni.”
      13. Suroyo    : “ Lha kok bisa?”
      14. Minah                      : “ Masih gak percaya kalau itu seni? Seni itu adalah apresiasi jiwa. Segala keindahan yang dimunculkan dari kreativitas dan pikiran kita. Dengan kreativitas itu kita bisa memunculkan hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, hal-hal yang tidak layak menjadi layak begitu juga sebaliknya.”
      15. Suroyo    : “ Wah hebat kamu..!”
      16. Sumiati   : “ Lha terus apa hubungannya?”
      17. Minah      : “ Dalam ‘DATANG AKUR’ juga gitu, kalau gak punya seninya pasti gak akan terlaksana!”
      18. Sumiati   : “ Maksudnya gimana to?”
      19. Minah                      : “ Sekarang gini, pemerintah kita ini punya utang di IMF misalnya. Tahu gak kalian apa IMF itu?”
      20. Sumiati&Suroyo: (menggelengkan kepala) “gak..!”
      21. Minah                      : “ IMF itu Instansi Makelar Fulus, jadi badan dunia yang biasanya meminjamkan fulus ke negara-negara di dunia.”
      22. Sumiati&Suroyo    : “ Oooo…..”
      23. Minah                      : “ Suatu hari IMF datang dan bertanya kepada Indonesia.

      Ayo bayar utangku…

      Pemerintah kita menjawab, waduh kamu tahu sendiri kan, negaraku ini baru terkena bencana. Jadi, saya baru bayar 5 tahun lagi.

      IMF menjawab, oke kalau gitu bener ya 5 tahun lagi. Iya pasti, jawab Indonesia.

      Selang 5 tahun IMF datang lagi. Mana janjimu Sia??, katanya mau bayar sekarang. Udah 5 tahun kan?

      Waduh, baru aja saya buat impor beras, kasihan pak, rakyat saya banyak yang kelaparan, jawab Indonesia lagi..

      Lho kan negaramu ini sawahnya terbentang luas kok masih impor?

      Lha iya itu.. Saya butuh waktu 5 tahun lagi, kata Indonesia.

      Lalu IMF menyetujui, oke saya datang 5 tahun lagi.

      Dan 5 tahun kemudian IMF datang. Mana janjimu, katanya mau dibayar sekarang? Waduh bos, uangnya masih dibawa Gayus gak balik-balik.”

      1. Sumiati   : “ Ooo.. Ya itu seninya. Seni untuk meloloskan diri dari jeratan penagih hutang, he…..”
      2. Suroyo    : “ Pinter juga kamu..”
      3. Minah                      : “ Lho..wong aku e.. Minah..”
      4. Sumiati   : “ Aku seng pinter, bukan kamu Nah..”

      ( Juminten masuk..)

      1. Juminten: “Wah..wah.. pada ngapain ne?kayaknya asyik banget?”
      2. Minah                      : “ Ini lo.. kami bertiga ngobrol-ngobrol masalah seni dan kebudayaan Indonesia ini!”
      3. Juminten: “ Wah.. kebetulan aku juga mau memberi informasi pada kalian.”
      4. Sumiati   : “Informasi apa?”
      5. Juminten: “ Kalian tau gak?”…

      i.    (belum selesai bicara, dipotong oleh Minah & Suroyo)

      1. Minah&Suroyo: “ Gak…”
      2. Sumiati   : “ Kalo aku tahu ya gak tanya?”
      3. Juminten: “ Minggu depan itu sanggar kita akan mengadakan pagelaran seni kebudayaan yang berskala internasional. Tidak hanya masyarakat Indonesia saja yang menonton pagelaran kita ini, tapi juga mengundang duta dari Malaysia.”
      4. Suroyo    : “ Wah.. hebat dong..!”
      5. Sumiati   : “ Memang benar? Kamu tahu informasi itu dari mana?”
      6. Juminten: “ Justru itu, pimpinan sanggar rumah budaya ini yang memberi perintah langsung untuk menyampaikan kepada kalian tentang informasi itu!

      Hebat gak?”

      1. Sumiati   : “ Wah..asyik dong!Kita jadi terkenal..”
      2. Suroyo    : “ Ya nih..pasti pemasukan yang akan kita dapatkan juga semakin meningkat, berarti honor kita juga naik.

      Oh Marni…, kanda akan datang melamarmu..!

      1. Sumiati   : “ Huuu….(sambil memukul kepala Suroyo)
      2. Juminten: “ Itu..itu..Bu Dila datang!!”

      (Bu Dila masuk..)

      1. Bu Dila    : “ Asslamualaikum…”
      2. Bersama2: “ Walaikumsalam warohmatulloh..”
      3. Bu Dila    : “ Begini rekan-rekan yang saya hormati. Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan beberapa informasi yang penting terkait dengan pengembangan sanggar kita ini. Sebelumnya beri tepuk tangan terlebih dahulu..”
      4. Sumiati   : “ (sambil berbisik) belum ngomong apa-apa kok disuruh tepuk tangan!”
      5. Bu Dila    : “ Rekan-rekan, tadi malam pada jam 7.30 lebih 19 detik, saya sedang krosing internet..”
      6. Sumiati   : (menyela perkataan Bu Dila) “Maaf Bu, yang betul browsing internet.”
      7. Bu Dila    : “Lho…..3x, yang jadi pimpinan ini aku apa kamu ? “
      8. Sumiati   : “Ya sampean to…..”
      9. Bu Dila    : “Makannya itu terserah aku donk mau bilang apa ? kamu mau nggak saya gaji !”
      10. Sumiati  : “Ya…ya..maaf Bu Dila. Silahkan dilajutkan….!”
      11. Bu Dila    : “ Baik saya ulangi lagi tadi malam saya browsing internet disitu jejaring sosial ‘kesbruk’……yang …..(belum selesai bicara)”
      12. Minah    : “Maaf Bu Dila, yang benar itu facebook…….bukan kesbruk….”
      13. Bu Dila    : “ Yang jadi pimpinan itu siapa ? mau kesbruk kek, mau mabuk kek, ku bilang mbokmu juga mau apa ? yang gaji kamu itu siapa ? mau tak potong gajimu ?”
      14. Minah         : “ Iya…..iya…. Bu Dila, saya minta maaf !”
      15. Bu Dila    : “ Saya lanjutkan, di facebook itu saya sempat  “cateringan” dengan duta besar Malaysia……(terdiam sejenak)……kenapa kalian tertawa ? (sambil menunjuk kearah penonton) ada yang salah dengan ucapan saya ? Kenapa kalian diam saja kalau kata-kata saya ada yan salah ? Mau saya pecat kalian semua ?”
      16. Sumiati :  ( sambil berbisik) “ Repot……begini salah …..beegitu salah…!”
      17. Bu Dila : “ Saya lanjutkan lagi, di dalam chating itu, beliau-beliau menawarkan kepada saya untuk bekerjasama. Mereka memberi bantuan dana yang jumlahnya lumayan besar. Yaitu sekitar 4 triliun rupiah kepada kita untuk mengdakan pagelaran akbar seni dan budaya dari sanggar kita ini . bagaimana menurut kalian ?? saya hebat kan ? ha….ha….?!
      18. Suroyo    : “ wah… hebat..hebat. Pimpinan kita memang hebat.”
      19. Bu Dila    : “ Yo mesti lo…siapa dulu??”
      20. Minah                      : “ Jangan senang dulu..kita boleh berbangga, tapi perlu diwaspadai, perlu juga berhati-hati. Jangan sampai kita terlena oleh kesenangan sesaat yang tanpa kita sadari, kesenangan itu semata adalah bagian dari siasat musuh. Harga diri bangsa ini lebih mulia nilainya dibandingkan dengan apapun.”
      21. Sumiati   : “ Wah..wah..maksudnya kamu menuduh mereka punya siasat lain gitu?”
      22. Minah                      : “ Bukan menuduh tapi berhati-hati… Apa salahnya?”
      23. Suroyo    : “ Jangan gitu kamu.. kita ini dimata dunia terkenal dengan bangsa yang ramah. Apa salahnya kita menerima mereka dengan tangan terbuka, toh akhirnya mereka juga memberikan kita keuntungan yang sangat besar. Bayangkan 4 trilyun, gak sedikit lo itu…!”
      24. Sumiati&Juminten                :  “ Betul..betul itu..!”
      25. Bu Dila    : “ Sudah..sudah..jangan berteman.
      26. Juminten: “ Jangan bertengkar buk..(membenarkan perkataan 5)
      27. Bu Dila   : “ Siapa pimpinan disini?”
      28. Juminten: “ oh..iya..iya.. buk lupa..”
      29. Bu Dila    : “ Jadi, saya yang menentukan disini. Sekarang kalian istirahatlah dan jangan lupa hubungi teman-teman yang lain. Besok pagi ada tamu dari negeri seberang mau mengunjungi rumah budaya kita ini. Siapa tahu besok kita dapat coklat tombo ngelak.”
      30. Sumiati, Juminten&Suroyo: ” Siap bos laksanakan!”
      31. Minah         : (hanya menggelengkan kepala)
      32. Sumiati, Minah, Suroyo dan Jumiati meninggalkan panggung
      33. Bu Dila    : “ hahaha….bisa saja mereka itu kubodohi. Sebentar lagi aku akan dapat uang 4 trilyun. Hahaha…untung saja kemarin aku menyetujui kesepakatan dengan duta Malaysia, bahwa sanggar ini telah menjadi hak milik, hak cipta dan hak pengakuan atas kebudayaan mereka. Tinggal tandatangan, uang mengalir, hahaha…… Persetan dengan kebudayaan kita tidak akan kenyang makan kebudayaan yang penting adalah uang.hahaha…..”

      Bu Dila keluar meninggalkan panggung.

      BABAK 2

      1. Kardi         : “Kemana anak-anak ini? Katanya latihan kok jam segini belum ada yang datang?”

      (Dhenok dan Cemeng menyusul Kardi)

      1. Dhenok : “ Akhirnya setelah sekian lama kita menunggu pagelaran seni dari sanggar kita ini sebentar lagi akan terlaksana…………..”
      2. Kardi       : “ Itu artinya budaya kita akan lebih dikenal lagi oleh Negara lain…………..”
      3. Cemeng : “ Eh ngomong-ngomong, katanya pagi ini kita ada jadwal latihan ? Kok sampai jam segini belum ada yang datang ?
      4. Kardi          : “ Ya mungkin masih tidur Meng……”
      5. Dhenok : “ Daripada kita bosan menunggu bagaimana kalau kita main tebak-tebakan dulu…..”
      6. Kardi          : “ Waaaah usul yang baik itu….”
      7. Cemeng : “ Tapi harus ada hukumannya biar seru, bagaimana…..?”
      8. Dhenok : “ Setuju…….tapi apa hukumannya ?”
      9. Kardi          : “ Bagaimana kalau hukumannya yang kalah dipukul 10 kali, bagaimana ?”
      10. Dhenok & Cemeng : “ Setuju….setuju……”
      11. Kardi          : “ Kita undi dulu siapa yang jadi wasit……………..”

      ( Dhenok, Kardi dan Cemeng mengundi untuk jadi wasit )

      1. Dhenok  : “ Yes…..!! Kalau begitu aku jadi wasit. Sekarang kalian berdua suit untuk menjadi siapa yang memberi pertanyaan dulu………”Ayo sekarang kita mulai………..sekarang   Kardi, kamu dulu yang memberi pertanyaan…….”
      2. Kardi          : “ Oke……….panjang, lancip, gepeng apa hayo…..!”
      3. Cemeng : “ Hmm……..gampang……..jawabanya terong….!”
      4. Kardi          : “ Ha……ha……ha……..salah…..
      5. Dhenok : “ Trus apa jawabannya……?”
      6. Kardi         : “ Yang benar itu pisau………..( bersiap-siap mukul)
      7. Cemeng: “ Tunggu dulu…… Lha iya, pisau itu buat ngupas terong !”
      8. Dhenok : “ Iya bener…..berarti kamu Di yang kalah…..!”
      9. Kardi         : “ Aduh…..”
        1. Dhenok : “ Sekarang gantian, kamu Meng yang ngasih pertanyaan “
        2. Cemeng             : “ Siip…….pertanyaannya, ada dua ekor kuda yang satu menghadap ke barat yang satu menghadap ke timur. Bagaimana cara mereka berhadap-hadapan, hayo……!!”
        3. Kardi  : “ Gampang……. Caranya mereka sama-sama berputar, balik badan, pasti nanti mereka berhadap – hadapan.
        4. Cemeng: “ Ha……ha….. salah !!”
        5. Dhenok : “ Kalau begitu jawabannya apa ?”
        6. Cemeng               : “ Jawabannya yang benar itu ya dibiarkan saja, kuda itu kan sudah berhadap-hadapan yang satu menghadap ke barat, yang satu menghadap ke timur.
        7. Dhenok : “ Kok bisa gitu…?”
        8. Cemeng : “ Coba kita praktikkan, seumpama kita jadi kuda

      ( memperagakan)

      1. Kardi    : “ Oh…..iya….ya…..( sambil menggaruk kepala )
      2. Dhenok : “ Okey kalo gitu Cemeng menang lagi “
      3. Cemeng : “ Asyik ………… mukul lagi “ (memukul Kardi lagi )
      4. Kardi   : “ Waduh kena lagi……….awas ya tak bales, sekarang gantian…?! apa, aku kena terus. Aku yang ngasih pertanyaan lagi…”
      5. Dhenok : “ Ya…….. gantian kamu sekarang…..!”
      6. Kardi   : “ Awas ya…….pasti kamu gak bisa jawab sekarang…… Ayo ……..bentuknya  bulat, lebar, bolong-bolong…..apa, hayo..?? pasti gak bisa jawab…..hahaha…!
      7. Cemeng : “ Emm….apa ya ? Ha….ha…. Aku tahu….Jawabannnya pasti terong “
      8. Kardi                   : “ Ha…..ha…. apa kok terong terus……salah!! ……kali ini nggak mungkin kamu menang!”
      9. Dhenok : “ Ya udah sekarang apa jawabannya ?”
      10. Kardi    : “ Bulat, lebar, bolong – bolong itu ya kerajang…..” ( siap-siap memukul )
      11. Cemeng : “ Sik….sik….sik…..aku tadi jawab apa…?
      12. Kardi    : “ Terong…….ya salah itu ? Jawabannya  lo keranjang…..!”
      13. Cemeng : “ Lha iya……keranjang itu gawe ngadahi terong ……..!”
      14. Kardi    : “ Iya…….iya…..!”
      15. Cemeng : ( memukul Kardi )
      16. Kardi    : “ Duh…..kena terus aku…..!”
      17. Dhenok : “ Ayo sekarang gantian kamu 8  yang ngasih pertanyaan !”
      18. Cemeng: “ Oke…… Dibuka marah-marah…..ditutup malah ngintip-ngintip, apa hayo?”
      19. Kardi    : “ Ah….jorok kamu Meng…… malukan dilihat banyak penonton……”
      20. Cemeng : “ Ya pikiranmu itu yang jorok…. ! Ayo, cepet jawab !”
      21. Kardi    : “ Apa ya ? Nyerah wis…….”
      22. Dhenok : “ Ya udah jawannya apa ? ”
      23. Cemeng : “ Jawabannya, orang naik becak kehujanan…..ha…..ha…..ha….. “
      24. Kardi    : “ Ooh…..iya…ya…..wis sekarang aku jadi wasit aja…….dari tadi aku terus yang kena pukul…… “
      25. Dhenok : “ Ya deh…….ayo gantian…….aku ya yang ngasih pertanyaan……..”
      26. Cemeng : “ Ya…..ayo…… “
      27. Kardi   : “ Berapa jumlah banyaknya bulu kucing jantan yang ditinggal sama kucing betina selama 3 tahun “
      28. Cemeng : “ Waduh…….gak tahu aku jawabannya kamu tahu gak Nok?
      29. Dhenok : “ Gak……gak tahu juga aku…..berapa ya……? “
      30. Cemeng : “ Tanya wasit aja……kamu tau gak jumlahnya berapa ? “
      31. Kardi    : “ Gak…….” (langsung dipukul oleh Dhenok & Cemeng )
      32. Cemeng : “ Ya kamu berarti yang kalah Di…….”
      33. Dhenok : “ Iya kamu kan gak bisa jawab….”
      34. Kardi  : “ Oalah…….aku lagi yang kalah…..udah….udah selesai….selesai….dah aku pulang kampung aja “
      35. Cemeng : “ Lho….lho….tunggu dulu….mau kemana…..jangan ngambek gitu…..dunk….
      36. Kardi    : “Aku mau pulang aja……apa, dari tadi aku main diakalin terus………..
      37. Dhenok : “ Ya……ya deh maaf….kita ini kan Cuma bercanda……”
      38. Kardi  : “ Bercanda sih bercanda, tapi kalau kena pukul terus benjol semua kepala ini…..”

      (Minah , Sumiati dan Juminten masuk )

      1. Juminten: “ Assalamu’alaikum…………..”
      2. Serentak: “Wa’alaikumsalah………………………..”
      3. Juminten: “ Waduh, kalian semua sudah latihan nih kelihatannya ??”
      4. Dhenoh : “ Ya pasti donk, kami kan bersemangat sekali, ya gak ??”
      5. Kardi   : “ Iya bener banget, apalagi ini semua untuk menyambut duta Malaysia yang datang ke sanggar kita ini. Ya….agar mereka tidak kecewa dengan sambutan kita.”
      6. Minah   : “ Udah cepat kalian latihan, ntar keburu Bu Dila datang.
      7. Dhenok : “ Ayo…..ayo kita mulai latihan “

      ( mereka pun memulai latihan dipimpin oleh Minah )

      (Bu Dila datang)

      151.  Bu Dila   : “Assalamualaikum..”

      152.  Bersma2                : “Walaikumsalam..”

      153.  Bu Dila   : “Stop..stop..Hentikan dulu latihannya…Tamu yang sudah kita nanti-nantikan datang. Silahkan masuk Mak cik..”

      154.  (Nur Halimah, Zaenab dan 2 pengawal masuk diiringi musik)

      155.  Nur H                     : “Assalamualaikum..selamat pagi semua…

      Terima kasih atas sambutannya..Saya sangat bahagia telah sampai di Indonesia ini…

      Saya telah melihat sebentar latihan kalian tadi, dan saya sangat kagum.”

      156.  Bu Dila   : “Terimakasih..terimakasih…Ya itu semua kan berkat bimbingan dari saya…he…jadi malu…”

      1. Nur H                   : “Oo…oo….ya bagus..bagus….”
      2. Bu Dila : “Terimakasih..sekarang kalian semua istirahat dulu..saya mau ngobrol-ngobrol dengan tamu kita ini.”
      3. Serentak: “Baik bu..”
      4. (Sumiati, Minah dan Jumiati keluar)
      5. Zaenab                : “Bagaimana bu Dila, tentang persetujuan kita kemarin?”
      6. Bu Dila : “Hoho… ya pasti beres. Asalkan ada uang semua lancar..”
      7. Nur H                   :” Tolong Zaenab kamu keluarkan kopernya…

      Ini surat persetujuannya, anda tinggal tanda tangan saja!!

      Tolong dibaca dulu…”

      1. Bu Dila : “(Membaca surat persetujuannya)

      Dengan ini kami menyatakan bahwa hak kepemilikan dan hak cipta atas rumah budaya Indonesia beserta segala yang berkaitan didalamnya telah dipindah tangankan.

      Demikian surat itu kami buat atas dasar kesadaran dan persetujuan bersama.

      Ttd

      Siti Kondilati

      Selaku pimpinan utama

      Oke, tinggal tanda tangan kan?”

      165. Nur H                      : “Ya..silahkan…”

      (Bu Dila menandatangani surat persetujuan itu)

      166. Bu Dila    : “Ah…sekarang feenya dong..!”

      167. Nur H                      : “Tenang saja…. Zaenab bawa kesini kopernya!!”

      (Nur H menyerahkan koper kepada Zaenab)

      1. Nur H                   : “Ini lo kamu hitung dulu jumlahnya. Bener apa gak?”
      2. Bu Dila  : “Siiiip….Wah….kaya mendadak ini aku.ha..ha…”
      3. Zaenab  : “ganti papan namanya!!!”
      4. Pengawal 1 dan 2: “Baik bos..!!”
      5. (Pengawal 1 dan 2 mengganti papan nama rumah budaya Indonesia dengan papan nama rumah budaya Malaysia)

      (Para pelatih dan penari masuk)

      1. Minah                   : “Lho..lho..tunggu…tunggu…apa-apaan ini?

      Mengapa kalian rusak sanggar kami?

      174. Bu Dila: “Sudah kalian diam saja!

      1. Kalian semua dengarkan perkataan saya, mulai hari ini sanggar budaya    kita ini milik Nur Halimah.”
      2. Suroyo             : “Trus nasib kami gimana bu?”

      177. Minah      : “Iya..kalau kami keluar dari sini, keluarga kami makan apa??

      178. Nur H      : “Ooo…kalau masalah itu tenang aja. Kalian semua gak perlu kawatir! Tolong jelaskan Zaenab!”

      179. Zaenab   : “Begini saudara-saudara sekalian . Anda tidak perlu kawatir tentang hal itu. Bos saya telah menyiapkan segalanya. Jadi, kalian semua bisa tetap bekerja disini dengan gaji yang lebih besar. 10x lipat dari gaji anda sekeluarga.”

      Serentak terkejut kecuali Minah :”Ooo”……………

      180. Kardi                       : “Wah….asyik dong kalau begitu..”

      181.  Dhenok&Cemeng: “Iya..iya..horeee…..”

      182. Minah                      : “Tunggu dulu…Aku tidak setuju. Walaupun kalian gaji aku 100x lipat! Aku lebih memilih kebudayaanku ini tetap di tanganku!”

      183. Bu Dila    : “hey.. jangan membuat ulah kamu disini. Lihatlah ini surat pernyataan yang sudah kutandatangani kalau kamu masih berulah. Jangan harap mendapat uang sepeserpun. Sekarang juga kamu kupecat dengan tidak hormat.”

      184. Minah                      : “Hey keparat!! Aku tidak akan makan uang harammu itu.Dimana hati nurani kalian, dimana rasa nasionalisme kalian?Ini yang kalian sebut bangsa yang ramah? Ramah terhadap penindasan. Ya??”

      185. Juminten: “Sudahlah jangan munafik kamu..Mengapa kita harus punya rasa nasionalisme kalau pemerintah kita aja tidak punya…”

      186. Minah                      : “Bangsat kalian semua!Negeri ini pasti menyesal telah melahirkan makhluk-makhluk jahanam seperti kalian….Kalian benar-benar lemah!!”Kurang ajar!!(Sambil hendak memukul Bu Dila dan Nur H)

      (Serempak mereka memegangi pundak Minah dan menghajar Minah….)

      Musik

      Inilah nasib budaya negeri

      Terkikis oleh budaya asing

      Adakah hari esok nan cerah

      Untuk menggapai asa…

      SELESAI