Archive for the ‘Naskah Drama’ Category



(Naskah Telah Dipentaskan)

1. KONSEP CERITA
Konsep cerita dalam “ Gombel ngidam anak “ adalah sejenis komedi misteri yang mana didalamnya kami masukkan unsur-unsur komedi dan juga pesan moral bagi para penontonya. Hal itu kami pertimbangkan sebagai salah satu cara dari kami agar drama yang kami tampilkan tidak membosankan dan sekaligus tidak menjenuhkan bagi para penonton drama.
Cerita ini merupakan salah satu cerita yang diambil dari arsip drama yang berterbangan di dunia maya. Dan naskah ini telah kami rangkai dan kami revisi sedemikian rupa yang pastinya akan lebih menarik serta berkesan bagi penonton.

2. SINOPSIS CERITA
Ini adalah kisah dua sejoli makhluk ghaib yang saling mencintai selama ratusan tahun, yaitu Gombel dan Ruwo. gombel sangat mendambakan seorang anak walaupun itu tidak mungkin terjadi karena Ruwo yang sudah tidak produktif lagi. Meskipun Ruwo telah memberikan pengertian namun Gombel tetap mengharapkan adanya seorang anak di keluarga mereka.
Chaca, seorang anak yang mendapat perlakuan kasar dan di siksa oleh keluarganya tersesat di hutan angker. Dia menangis ketakutan. Kemudian Gombelpun muncul membujuk Chaca agar dia mau menjadi anak dari Gombel dan Ruwo. awalnya Chaca ketakutan namun lama kelamaan Chaca merasa nyaman bersama Ibu Gombel dan Bapak Ruwo.
Mama Chaca pun merasa resah karena Chaca tidak pulang kerumah. Mama meminta bantuan dari tetangga serta Jeng Dukun untuk mencari Chaca di hutan angker. Mereka bersama-sama berangkat kehutan dan menemukan Chaca. Mereka sadar bahwa Gombellah yang menculik Chaca. Penduduk kampung yang di pimpin jeng Dukun melawan Gombel. Akhirnya Gombel pun kalah dan kabur begitu saja. Mereka membawa Chaca kembali ke desa. Tetapi suatu hari Chaca pergi ke hutan angker lagi karena ia merasa lebih nyaman dengan Ibu Gombel dan Bapak Ruwo dari pada dengan keluarganya sendiri.
Gombel dan Ruwo pun sadar bahwa alam mereka dengan alam Chaca berbeda. Akhirnya Gombel mengusir Chaca padahal ia sangat sayang dengan Chaca. Chacapun kembali kerumah dengan menangis. Tetapi Chaca akhirnya juga menyadari perbedaan mereka dan Chaca lebih sayang dengan keluarganya.

3. KONSEP PANGGUNG
Dalam cerita ini terdiri dari 5 babak, konsep panggung sengaja kami buat sesederhana mungkin tetapi tidak mengurangi kesesuaian dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Konsep panggung adalah Hutan angker dan lingkungan desa. Adapun poerperti yang kami pakai sebagai berikut :
1. 1 buah foto keluarga untuk hiasan rumah di keluarga Chaca
2. 1 Vas bunga sebagai hiasan ruangan
3. 1 Sapu lidi properti Mama Chaca untuk memukuli anaknya
4. 1 set meja dan kursi sebagai properti rumah Chaca
5. 1 televisi sebagai properti rumah Chaca
6. 1 Boneka, sebuah boneka yang di berikan Gombel untuk mengelabuhi Chaca
7. 2 Senter, sebagai properti para hansip untuk ronda malam
8. 1 Laptop sebagai benda kesayangan dari ayah Chaca
9. 1 Pusaka (keris/pedang) properti yang digunakan jeng Dukun dalam melawan Gombel
10. 1 Cawan, 3 dupa dan bunga setaman yang digunakan assisten dukun dalam melawan Gombel

4. KARAKTERISASI
1. Sutradara (Wahyu Indra Permana)
2. Gombel (Ika Apriana)
Gombel adalah hantu wanita berwajah seram yang selalu bersedih karena ia sangat menginginkan anak. Dia sangat menginginkanya agar kehidupannya menjadi sepurna. Tapi karena takdir berkata lain akhira ia suka menculik anak manusia.

3. Ruwo (Bardani Ragil)
Ruwo yang bernama lengkap Gondoruwo adalah hantu laki-laki yang berbadan tinggi besar berblu lebat hitam seram. Dia adalah suami dari wewe gombel. Dia adalah hantu galak, pemarah. Suaranya sangat besar sehingga saat ia tertawa isi hutan menjadi bergoncang.
4. Suster ngesot (Rofina Luhut)
Suster ngesot, hantu wanita yang sering muncul di layar lebar. Hantu yang berpakaian layaknya seorang suster ini agak pendiam, namun tetap menyeramkan. Suster ngesot adalah istri dari buto cakil.
5. Buto Cakil (Efreem adem)
Buto cakil yaitu makhluk setengah hantu setengah siluman yang selalu petakilan, bringas, kejam, sangar dan angker. Dia berbadan hijau namun badannya kecil, berbeda dengan buto-buto yang lainnya
6. Anak Setan (Fitriyah Rachmawati)
Anak setan adalah setan perempuan kecil yang merupakan anak dari Buto Cakil dan Suster ngesot. Dia adalah hantu yang periang, suka bermain dan tidak bisa diam. Kemana-mana ia selalu membawa boneka jelek yang mirip seperti dirinya.
7. Chaca (Maryati)
Chaca adalah anak dari Papa dan Mama. Ia adalah anak yang pendiam mungkin ini disebabkan karena orang tuanya yang tidak memperhatikannya. Chaca bahagia jika ada temannya datang kerumah dan mengajaknya bermain, selain itu ia selalu murung dan kadang-kadang menangis.
8. Mama Chaca (Ayu Rizky S)
Mama adalah ibu dari Chaca. Wanita yang gemuk besar ini adalah seorang pekerja keras, galak, bengis, dan tidak pernah memperhatikan anak dan keluarganya. Terutama kepada Chaca ia suka membentak dan kadang-kadang memukuli, melempar dengan benda apapun yang dipegangnya.
9. Papa Chaca (Robius E)
Papa adalah suami mama dan ayahnya Chaca. Papa juga seorang peerja keras. Berangkat pagi pulang malam, begitulah kesehariannya. Papa adalah seorang yang cuek kepada keluarganya. Di waktu senggangnya ia hanya menghabiskan untuk bermain facebook saja. Ia juga penakut dengan hal-hal yang berbau hantu.
10. Leni (Leni Fitriyawati)
Leni adalah teman Chaca sejak kecil. Ia adalah anak yang periang, sedikit manja tapi baik hati. Walaupun badannya kecil tapi ia sangat lincah.
11. Casvi (Casvarina fitriani)
Casvi juga teman Chaca. Dia berteman dengan Chaca sejak ia pindah dari Kanada. ia pindah ke indonesia karena mamanya bisnis dengan perusahaan Sapi Martin. Ia juga anak yang suka bermaincublak-cublak suwung. Mungkin di Kanada tidak ada permainan itu sehingga sangat senang memainkannya.
12. Unjil (Unjila Kisbaini)
Unjil teman Chaca yang gemuk, dia juga anak yang periang dan baik hati
13. Yati (Margareta K. Ela)
Yati adalah teman Chaca yang berasal dari Manggarai. Dia menjadi teman chca sejak SD dia anak yang baik dan murah senyum.
14. Bu Ani (Karina Hening P)
Bu ani adalah ibunya Leni tetangga Chaca. Dia adalah wanita yang sedikit lebay dan selalu memakai roll rambut.

15. Bu Aci (Devilita B) Bu Aci adalah ibu dari Casve meskipun ia selalu sibuk ia selalu peduli dengan tetanggga.

16. Bu Ati (Maria G Deros)
Bu Ati adalah ibu dari Yati. Dia juga tetangga Chaca ibu ati adalah ibu yang murah senyum, tapi kadang-kadang suka melebih-lebihkan sesuatu.
17. Bu Asi (Nur Faizah Hanim)
Bu Asi adalah ibu dari Unjil badannya besar seperti anaknya. Tetapi ia adalah ibu yang baik dan juga peduli terhadap tetangga.
18. Jeng Dukun (Ilaysa Saning Gustin)
Jeng Dukun adalah orang yang sangat dipercaya didesa karena ia menguasai dalam hal-hal kemistisan. Ia adalah orang yang suka memburu hantu. Ia adalah dukun yang sangat percaya diri apalagi jika ia sedang menunjukan keris Meduntennya.
19. Assisten Dukun (Emilia D Wangkrur)
Asisten dukun adalah pembantu dukun. Ia membantu saat jeng dukun melawan berbagai macam makhluk halus. Ia adalah asisten yang setia.
20. Bu Lurah (Nur Arofiah)
Bu Lurah adalah orang bijak , berwibawa dan disegani di desa. Ia dipercaya karena ia dianggap mampu untuk memimpin desa.
21. Hansip Iman (Amrina H.R.)
Hansip Iman adalah warga dari desa yang dipercaya untuk menjaga keamanan desa dari berbagai macam ancaman. Tapi sayang ia tidak bisa mengatasi ancaman dari makhluk halus karena ia penakut.

22. Hansip Amin (Rillah Riski R.)
Hansip Amin adalah rekan dari hansip Iman. Dia sedikit sombong, sok tahu, dan sok jagoan, padahal ia juga sama seperti Iman. Ia takut dengan setan apalagi yang namanya wewe gombel.

5. KONSEP BUSANA
Dalam cerita ini terdiri dari 5 babak, konsep busana sengaja kami buat sesederhana mungkin tetapi tidak mengurangi kesesuaian dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Konsep busana antara lain :
1. Gombel memakai baju putih (seperti daster) dengan buah dada yang besar, gondal gandul agar terlihat seperti hantu wewe gombel yang menyeramkan
2. Ruwo memakai baju compang camping dengan bulu-bulu hitam tebal dan kotor agar kelihatan galak dan menakutkan layaknya seorang genderuwo
3. Suster ngesot memakai baju layaknya suster yang di sesuaikan dengan namanya yaitu suster ngesot
4. Cakil memakai baju yang serba hitam dan memakai taring palsu agar kelihatan garang dan sedikit petakilan seperti buto cakil
5. Anak setan memakai baju conpang-caping selaknya anak setan
6. Mama Chaca memakai daster layaknya orang kampung
7. Papa Chaca memakai celana jean dan kaos ketat yang menggambarkan papa Chacamasih seperti anak muda yang suka maen facebook.
8. Leni, Yati, Casvi, dan Unjil mereka memakai baju layaknya anak yang masih berusia 12 tahun.
9. 2 tukang ronda memakai sarung yang di selendangkan di pundaknya
10. bu Ani, bu Aci, bu Ati dan bu Asi mereka memakai daster selaknya ibu-ibu di desa (trend 2010)
11. bu Nyai memakai pakaian yang muslimah karena merukaan orang yang terpandang di kampung.
12. jeng Dukun dan assisten dukun memakai pakaian yang serba mistis di lengkapi properti yang serba mistis sehingga menambah kesan sangar.
5. KONSEP MUSIK
1. Suara-suara seram untuk menambah suasana seram saat berada di hutan.
3. Dangdut ( lagu mandul), kami memasukkan musik ini karena sangat cocok dengan alur cerita yaitu pada waktu Gombel sedang menginginkan seorang anak.
4. Suara salah satu acara di televisi untuk mengisi suara saat mama menonton sinetron di televisi
5. Lagu kasih ibu untuk mengiringi saat Chaca kembali kepada Mamanya dan mereka saling menyayangi.

6. STAFF PRODUKSI
1. Pimpinan Produksi: Drs. HERU SUBRATA, M.Si
2. Anggota Kelompok d’LG : 22 Orang
3. Sutradara : Wahyu Indra Permana
4. Assisten Sutradara : Nur Arofiah
5. Penyusun Naskah : All item
6. Penata Rias & Kostum :
• Ayu Rizky
• Karina Hening Pamekar
• Ilaysa Saning G
• Rofina Luhut
7. Penata Panggung :
• Robius E
• Agustus Efreem Adem
8. Penata Backsound :
• Wahyu Indra Permana
• Amrina Hidayatur R
• Leni Fitriawati
• Unjila Kisbaini
9. Penata Lampu :
• Rillah Riski
• Bardani Ragil
• Nur Faizah Hanim

Naskah Drama

BABAK 1
Malam di Hutan angker samping desa
Dalam bayangan hitam, WEWEGOMBEL menangis sedih.
1. GOMBEL : Ruwo… malam datang lagi. Malam datang lagi.
2. RUWO : Malam akan selalu datang, Gombel…
3. GOMBEL : Malam akan selalu menyiksaku, Ruwo. Malam akan membuatku kesepian.
4. RUWO : Tidak, Gombel. Aku akan menemanimu. Aku akan selalu di dekatmu.
5. GOMBEL : Ya, dan tanpa anak.
6. RUWO : Maafkan aku, Gombel. Aku tidak bisa memberi yang kau inginkan.
7. GOMBEL : Ratusan tahun aku menunggu. Sampai kapan lagi aku sanggup
menunggu seorang anak menghiburku.
(tiba-tiba pasangan suster ngesot dan buto cakil bersama anaknya melintas di depan gombel)
8. RUWO : Inilah nasib kita, Gombel. Ratusan tahun usia kita. Kita tidak perlu
anak untuk melanjutkan hidup kita. Kitalah yang mendampingi sang waktu. Malam bukanlah kesedihan kalau kita bersabar.
9. GOMBEL : Aku tidak bisa bersabar lagi, Ruwo. Setelah ratusan tahun kata
sabar jadi tidak bermakna. Ayolah, kita akan dapatkan anak yang manis.
10. SUSTER : hi….hi….hi…..hi….

11. CAKIL : kasihan sekali kamu mbel. Makanya kalo cari pejantan yang produktif donk….
12. SUSTER : iya lihat ne hasilnya (merangkul anaknya)
13. ANAK SETAN : tante gombel gak punya anak ya… kacian deh lo …Aku aja mau punya adek lagi
14. CAKIL : kamu mau ta wo tak kasih saran?
15. RUWO : saran apa kil?
16. CAKIL : kamu lebih baik tes kesuburan di RS wiyung sejahtera aja Tahun depan pasti dah jadi
17. RUWO : ah dasar kamu kil ada ada aja. Uda ah aku mau bergentayangan dulu
18. GOMBEL : iya aku juga…. Hi…hi…hi…….
Semua hantu pergi untuk bergentayangan entah kemana

BABAK 2
Malam hari di Rumah Chaca
CHACA sedang belajar di ruang tamu, MAMA lelah sepulang kerja. Dan papa hanya asyik dengan laptopnya saja
19. CHACA : (Menyanyi) Kasih ibu kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia.
20. MAMA : ca, berisik!! Mana air untuk Mama?
21. CHACA : Iya, Ma. Sebentar. (kemudian menyerahkan kepada mama)
22. MAMA : (mama kepanasan saat meminumair itu) Terlalu panas, Goblok.
Kau mau merebus Mama! Kurang ajar! (mama melemparnya dengan vas bunga)
23. CHACA : Maaf, Ma. chaca tambahkan air dingin dulu.
24. PAPA : kalian ini apa sih tiap hari kerjanya ribut terus..! mengganggu aku
maen facebook aja. Sudah ah aku kekamar dulu
25. MAMA : Ca sini kamu, sekarang pijit kaki mama. Mama capek banget..
kalo ngurut yang bener!!
26. CHACA : i..iya…ma..
MAMA mengumpat seraya menyalakan televisi dan memencet-mencet remot. Chaca mengurut kaki Mama sambil terus menangis.
27. MAMA : (Mentertawakan acara televisi) Ca, sudah. Diam. Tidak kau lihat
Mama sedang menonton sinetron.
Terdengar suara teman-teman bella memanggil Bella dan mengajaknya bermain
28. CASVI : Chaca….
29. LENI :Chaca…!
30. UNJIL : Chaca…!!
31. YATI : Chacaaaaa….!!!!!
32. CHACA : ada apa teman-teman?
33. TEMAN2 : main sama sama yuk
Semua bermain lebih seru (lagu cublak-cublak suwung). Tiba-tiba MAMA keluar membawa sapu dan berteriak-teriak.
34. MAMA : Hei, bubar. Tidak punya rumah apa. Malam-malam begini ribut
saja. Diculik Wewe Gombel, tahu rasa kalian!
35. TEMAN2 : Astaghfirullah…. Dasar nenek lampir… kabur…!!!
36. CHACA : teman-teman aku ikut…!
37. MAMA : CHACA kembali kamu… dasar anak nakal!!
(kembali ke ruang televisi dan melanjutkan menonton sinetron)
38. PAPA : ma, Tvnya jangan keras-keras….
Ganggu konsentrasi aku main facebook nech
Kemudian mama pun cemas karena sampai tengah malampun Chaca belum juga kembali
39. MAMA : Chaca…..! chaca……! (memanggil anaknya dari luar rumah)
40. BU ACI : Ada apa, Bu?
41. MAMA : Chaca hilang bu, sampai sekarang dia belum pulang
42. BU ANI : Chaca pasti diculik Wewe Gombel.
Ini saat Wewe Gombel mencari mangsa.
43. BU ASI : Wewe Gombel?
44. BU ATI : Ya, Wewe Gombel. Hantu Penculik Anak.
45. MAMA : Tidak, jangan mengada-ada, Bu’
46. BU ANI : Tidak, ini benar. Kemarin malam aku mendengar tangisnya.
47. BU ACI : Hii… bulu kudukku jadi merinding.
48. BU ATI : Tapi jangan khawatir, kita kan punya jeng dukun.
Kita minta bantuan dia saja
49. BU ECI : Wewe Gombel pasti takut sama jeng dukun.
50. BU ANI : iya lebih baik sekarang kita kerumah jeng dukun dan minta
bantuan untuk menemukan Chaca
51. BU ASI : Mari kita bergerak sekarang.
52. BU ACI : Ayo berangkat!
53. SEMUA BU A’ : Hancurkan Wewe Gombel!
54. PAPA : hei tunggu aku ikut…

MAMA dan ORANG-ORANG pergi ke rumah jeng DUKUN. Dan segera ke hutan untuk mencari Chaca
BABAK 3
Di hutan angker dekat desa
CHACA yang mengikuti teman-temannya malah tersesat sendirian di hutan angker
55. CHACA : (Berbisik) Teman-teman kalian di mana? Aku tersesat.
56. CHACA : (Berteriak) Teman-teman kalian di mana! (Terkejut) Mama, Chaca
takut…
CHACA menangis sendiri. GOMBEL mendekati chaca sambil membawa boneka
57. GOMBEL : (Mengeluarkan boneka cantik) Chaca…Chaca… Ini Ibu punya.
Kamu mau boneka?
58. CHACA : Siapa k-kamu…
59. GOMBEL : (Menyerahkan boneka) Terimalah. Jangan takut. Cantik, bukan?
Ciumlah.
Setelah mencium boneka, CHACA pingsan. GOMBEL memanggil RUWOuntuk memberitahukan bahwa dia mendapatkan anak
60. GOMBEL : (Tertawa gembira)hi…hiii…..hi…hi…. Ruwo, Ruwo…
Lihatlah, kita dapat anak yang manis. Kemarilah…. Ruwo
Suster ngesot sekeluarga mendekat
61. SUSTER : siapa tuh mbel??
62. CAKIL : kok beda dengan kita? Itu manusia ya ?
63. RUWO : (Kaget) Kau menculik anak manusia lagi, Gombel?
64. GOMBEL : Aku tidak menculik! Aku menyelamatkan anak ini. Namanya
Chaca.
65. RUWO : (Melihat CHACA) Menyelamatkan bagaimana?
66. GOMBEL : Dia sangat menderita. Ibunya kasar, suka membentak dan
memukul. Teman-temannya juga meninggalkannya.
67. RUWO : Tapi dia manusia. Dia bukan jenis kita.
68. GOMBEL : Kita bisa membahagiakannya. Dan kesenangan Chaca adalah
kebahagiaan kita. Kita tidak akan kesepian lagi, Ruwo.
69. RUWO : Ya. Kita tidak akan kesepian lagi.
70. SUSTER : tapi pasti nanti orang tuanya mencari mbel….
71. ANAK SETAN : biarin ma… biar aku punya teman bermain… (colek-colek)
72. GOMBEL : sudahlah kalian ini berisik saja (Menaburkan sesuatu) Chaca…
bangun….
73. RUWO : Rasanya hidup kita begitu cepat berubah, Gombel.
74. CHACA : (Bangun) Siapa kamu?
75. GOMBEL : (Tersenyum) Aku ibumu.
76. CHACA : Ibu?
77. GOMBEL : Ya, Ibu Gombel. Dan itu bapakmu. Bapak Ruwo.
78. RUWO : (Haru) Ya, Anakku.
79. CHACA : Ini di mana?
80. GOMBEL : Ini rumahmu sendiri. Ayo main.
81. ANAK SETAN : iya ayo main sama sama Ca

Tiba-tiba Orang-orang membunyikan alat-alat dapur berkeliling kampung dipimpin JENG DUKUN. Mereka membawa obor dan senjata sambil memanggil-manggil CHACA. WEWEGOMBEL dan GONDORUWO lari meninggalkan Chaca sendiri CHACA tidak merasa kalau sudah ditinggalkan WEWEGOMBEL

82. CHACA : Lho, Ibu di mana? (Setengah sadar) kalian di mana?
Bapak Ruwo? Ibu? Ibu…
83. PAPA : (Datang dan memeluk Chaca) Chaca, anakku.
84. MAMA : Chaca kamu kemana saja?
85. CHACA : (Melepaskan pelukan) Siapa kalian?
86. MAMA : Chaca, jangan katakan begitu, Anakku. Aku mamamu.
87. CHACA : Mama? Mama itu jahat. Mama suka membentak dan memukul.
Papa juga tiap hari hanya main laptop gak pernah pedulikan Chaca
88. MAMA : Tidak, Sayang. Mama sayang kamu. Mama akan bersikap lembut.
89. CHACA : Mama lebih sayang televisi daripada Chaca
90. PAPA : Tidak, Sayang. Lihatlah, papa dan mama. Hanya kaulah yang kita
sayang. kita sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ayo, kita pulang
sayang Sayang.
(memegang tangan chaca)
91. CHACA : Lepaskan… (menepis tangan ibu dan ayahnya)
92. MAMA : Kenapa Ca? Mama akan berubah.
93. CHACA : bohong…. Aku mau sama ibu gombel saja,,,

Wewegombel datang chaca langsung memeluk ibu gombel. Mama kaget tapi dia langsung menarik tangan chaca dari wewe gombel
94. PAPA : (kaget) se..se…se…setan. aku pulang dulu ma aku takut
ama yang begituan
95. MAMA : Kau siapa. Ini anakku.
96. GOMBEL : Chaca ini milikku. Dia sudah menjadi anakku.
97. CHACA : (Menangis) Ibu…
98. MAMA : Kau mengerikan. Lepaskan. Jangan sentuh.
99. GOMBEL : Kau jahat. Kau menyia-nyiakannya.
100. MAMA : Akulah mama yang melahirkannya.
101. CHACA : (Menangis) Mama…
102. GOMBEL : Akulah yang menyayanginya.
103. MAMA : Kau berbohong. Kau menculiknya. (Berteriak) Tolong… Wewe
Gombel di sini! Wewe Gombel merebut anakku!

Chaca menangis. ORANG-ORANG datang. Mereka menyiapkan senjatanya masing-masing.

104. JENG DUKUN : Gombel, lepaskan. Sekarang enyahlah dari sini!
105. AST DUKUN : pergilah… alam kita berbeda ………pergi!!!!!
JENG DUKUN menusuk WEWE GOMBEL dengan keris. WEWE GOMBEL perutnya terluka. Pegangannya terlepas. CHACA terjatuh dipelukan mamanya.

106. AST DUKUN : Bongko koe Mbel……. Kita dapatkan Chaca! Kita dapatkan
Chaca! Hidup JENG DUKUN
107. ORANG2 : Hidup…..
WEWE GOMBEL batuk-batuk. Tubuhnya terasa sakit. Dan pergi menghilang
ORANG-ORANG sibuk menyadarkan Chaca.

108. BU LURAH : (Berpidato) Bapak Ibu sekalian. Telah terbukti bahwa Chaca telah
diculik Wewe Gombel. Ini berarti bahwa anak-anak kita dalam keadaan tidak aman. Kita harus setiap saat menjaga dan melindungi anak-anak kita.
Malam ini kita bersama bisa atasi. Kita harus waspada juga untuk malam-
malam nanti. Hari ini seorang anak diculik Wewe Gombel, mungkin
besok oleh yang lainnya. Atau bahkan, maaf, oleh diri kita sendiri karena
kita kadang telah menculik dunia anak-anak menjadi dunia orang dewasa.

Tiba-tiba CHACA berteriak-teriak seperti kesurupan. ORANG-ORANG berlarian menolong.

109. CHACA : Mana jalannya? Siapa orang tuaku? Siapa aku? Siapa aku?
110. MAMA : Ca kau berkata apa? Ini Mama, Sayang?
111. CHACA : (Tertawa) Apa yang telah kau lakukan padaku? Apa kewajibanmu?
Mana punyaku? (Menangis) Aku tidak mau dipaksa. Aku tidak mau
dibiarkan.
112. MAMA : Ca, sadarlah. Lihatlah, semua orang melihatmu.
113. JENG DUKUN : (Mengucap mantra) Sss. Bumi berkata langit mendengar, udara
mengikis pepohonan bergetar, air memercik cahaya terlempar. Tuangkan dalam darah, jerang dalam pikiran, seduh dalam hati.

CHACA langsung tertidur. JENG DUKUN memijit kening dan tengkuknya.
114. BULURAH : Hatinya masih terguncang. Pikirannya tegang. Jiwanya terombang-
ambing dalam gelombang besar yang membingungkan. Sekarang semua tenanglah. Pulanglah, lihat anak kalian sendiri. Barangkali ada yang belum di rumah. Jaga mereka, jangan lengah.
Semua pergi. Dan pulang ke desa

BABAK 4
di hutan angker
115. HANSIP IMAN : wah kita waktunya ngeronda neh.
Untunga ya si Chaca itu ketemu kalo gak gimana jadinya tu anak.
116. HANSIP AMIN : iya..mungkin kalo gak ketemu udah pasti jadi wewe gombel junior
117. HANSIP IMAN : neh rokok….biar gak dingin
118. HANSIPAMIN : mantap jeh…..
119. HANSIP IMAN : keliling yuk barangkali aja ada sesuatu
120. HANSIP AMIN: yuk
tiba-tiba di belakang mereka wewegombel mengikuti
121. HANSIP IMAN : busyet… bulukudu merinding neh…
122. HANSIP AMIN : iyo podo jeh…
kemudian mereka menoleh kebelakang dan kaget kalo ada wewe gombel di belakangnya
123. GOMBEL : hi…hi…hi….
Setelah mereka kabur GOMBEL berdiri di bawah pohon besar dan menangisi kepergian Chaca
124. RUWO : Chaca telah pulang kepada mamanya. Relakanlah.
125. GOMBEL : Chaca, kau tinggalkan Ibu, Sayang.
126. RUWO : Sabarlah. Manusia perlu anak karena usia mereka singkat. Mereka
melanjutkan hidup mereka dengan beranak pinak. Kita melanjutkan
hidup kita dengan umur kita yang panjang.
127. GOMBEL : Aku juga ingin punya anak. Aku ingin anak! (Berpelukan)
128. CHACA : (Datang) Ibu Gombel… Aku datang…
Ibu Gombel, Bapak Ruwo, aku di sini!
129. GOMBEL : Anakku… Aku merindukanmu.
130. CHACA : Ibu, Chaca mau di sini saja. Aku takut. Mama jahat. Mama…
131. GOMBEL : (Berusaha marah) Tidak!. Pulanglah. Mamamu menunggumu.
Dialah mamamu yang sesungguhnya!!
132. CHACA : Tidak. Chaca sayang Ibu. Chaca mau bersama Ibu Gombel saja.
133. GOMBEL : (Mengubah wajahnya menjadi sangat mengerikan) Lihatlah. Aku
akan lebih jahat lagi. Aku akan memukulimu. (Menmpar dengan keras) Kembalilah kepada mamamu lagi! Pulang!
134. CHACA : (Kaget, tidak percaya) Ibu Gombel jahat. Ibu Gombel jahat!
Chaca melempar WEWE GOMBEL dengan boneka lalu menangis pergi. WEWE GOMBEL tertawa mengerikan, sebentar kemudian menangis sedih sekali. WEWE GOMBEL memungut boneka.
135. GOMBEL : (Kepada boneka) Maafkan aku Chaca. Kau tidak akan mengerti.
Aku sangat sayang kepadamu. Aku terpaksa melakukan ini.
136. RUWO : Sudahlah, kau telah melakukan yang seharusnya.
137. GOMBEL : Ruwo, ini siksaan tak ada habisnya. Kita adalah korban nasib
terabaikan.
138. RUWO : Betapa sengsaranya hidup ini. Umur panjang kita adalah kutukan.
Tiba-tiba GONDORUWO tertawa keras. WEWE GOMBEL kaget dan memukul GONDORUWO keras-keras.
139. GOMBEL : Ruwo, apa-apaan kau ini. Sudah, diam. Jangan mengundang orang-
Orang untuk membunuh kita.
140. RUWO : Ups….sorry…tapi lebih baik mereka membunuhku.
Biarkan aku mati. Aku tidak berguna lagi.
141. GOMBEL : Ada apa kau ini. Ini adalah kelangsungan hidup kita.
142. RUWO : Yang kau pikirkan cuma anak. Anak yang tak akan pernah menjadi
milik kita. Sementara aku yang beratus-ratus tahun mencintaimu, kau abaikan begitu saja. Apakah ini tidak sangat menyedihkan?
Suster ngesot sekeluarga datang
143. SUSTER : sudahlah mbel jagan menangis terus
144. CAKIL : sabarlah mbel jangan putus asa. Makanya jangan lupa sholat 5
waktu
145. ANAK SETAN : pa, ma katanya ke PTC ayo donk… entar harry potternya keburu
maen tu…
Keluarga suster ngesot meninggalkan mereka
146. GOMBEL : Maafkan aku, Ruwo. Maafkan aku. Susah payah aku
menginginkan seorang anak di dekapku.Tapi aku tak sadar ternyata
sesungguhnya, kaulah yang kucari. (Membuang boneka) Kasih
sayang. Kaulah cintaku, Ruwo. Lihatlah kepadaku. Aku menyesal
telah melupakanmu. (Menangis sedih sekali.)
147. RUWO : Sekarang, senyumlah, Sayang. Kita akan bahagia, Gombel.
Selamanya. Selama-lamanya.
WEWE GOMBEL tersenyum. Mereka bergandengan.
148. RUWO : Kau cantik sekali, Gombel.
149. GOMBEL : (Salah tingkah) Kau juga hebat, Ruwo.
150. GOMBEL : (Menghirup nafas panjang-panjang) Kau rasakah udara malam ini,
Ruwo.
151. RUWO : Ya. Udara malam seperti udara malam yang kita hirup beratus-ratus
tahun yang lalu.
152. GOMBEL : Tetapi terasa lebih segar, lebih lembut, Ruwo.
153. RUWO : Ya, karena kita telah menemukan cinta kita.
154. GOMBEL : Bulan telah muncul, Ruwo. Malam ini indah sekali.
(mereka meninggalkan hutan, mungkin berbulan madu)
Tiba tiba MAMA datang kehutan karena Chaca tidak ada dirumah, ia mengira wewe gombel menculiknya lagi
155. MAMA : Chaca kamu dimana…..
Gombel kau sembunyikan dimana anakku???!!! Chaca (resah)
Datanglah hansip amin dan iman
156. HANSIP AMIN : ada apa lagi bu?
157. HANSIP IMAN : ho’oh ada apa c? anaknya ilang lagi toh?
158. MAMA : Chaca, ia tidak ada di rumah lagi…!
159. HANSIP AMIN : oalah buk, mbok yo punya anak itu di jaga dengan baik…
160. HANSIP IMAN : ho’oh, kalo ilang ilang apa ibu gak sedih… trus kalo jadi gombel
junior gimana?
161. HANSIP AMIN : hus ngawur kamu man
162. MAMA : (menangis sedu) semua ini salahku. Aku tidak pernah
memperhatikannya, aku selalu kasar padanya. Chaca anaku…
163. HANSIP IMAN : ibu cari lagi dirumah … mungkin tadi main kerumah temennya
164. MAMA : iya lebih baik aku pulang saja (pulang dengan perasaan bersalah
bingung dan menangis sedu)

BABAK 5
Malam kedua, di dalam rumah
MAMA pulang kerumah. Tiba-tiba ada teriakan seorang anak. MAMA kaget karena mengira itu adalah Chaca.
165. MAMA : Ca, kamu di mana? (Melihat televisi dengan
nyalang) o… ternyata tadi suara televisi … dasar kamu ya… bikin kaget saja
MAMA menghajar televisi dengan sapu. Tampak percikan listrik dan kepulan asap dan meledak. Tapi setelah itu dia tetap mencari CHACA
166. MAMA : Chaca kau di mana? Pulanglah, anakku. Apa gunanya Mama
bekerja setiap hari, kalau tidak untuk kamu. (Menghamburkan tas berisi uang dan tertawa) Apa gunanya Mama melanjutkan hidup kalau Mama menyia- nyiakan kamu. Mama khilaf. Mama berdosa. Mama sangat sayang kepadamu. Engkaulah hidup Mama.
167. CHACA : (Muncul dari bawah meja) Benarkah itu Mama?
168. MAMA : Chaca? (Berpelukan) Mama sayang kamu.
169. CHACA : Chaca juga sayang Mama.
170. Sutradara :
Anak adalah amanat kehidupan
Anak adalah jiwa sang insan
Jagalah jagalah jagalah
Dengan sepenuh jiwa
Anak adalah senyum kehidupan
Anak adalah kita masa depan
Jagalah jagalah jagalah
Dengan kasih sayang.

THE END

MONUMEN

Posted: 4 Oktober 2010 in Naskah Drama

Indra Tranggono

TOKOH-TOKOH

1. PATUNG 1/ WIBAGSO (ketika mati berusia 30 tahun, seorang laki-laki, dulunya dikenal sebagai laki-laki pengecut, namun pintar berdalih). Bertubuh tegap, atletis, berwajah tampan, teguh dalam pendirian, dan bangga dengan kepahlawanannya.
2. PATUNG 2/ DURMO (ketika mati berusia 30 tahun, seorang laki-laki, dulunya dikenal sebagai laki-laki pemberani). Bertubuh tambun, berwajah nyaris bopeng, tipe pahlawan yang selalu gelisah, kritis dan bahkan selalu ragu pada gelar kepahlawanannya.
3. PATUNG 3/ CEMPLUK (ketika mati berusia 30 tahun, nama kerennya: Nimas Ayu Bujono, seorang perempuan, dulunya bekerja di dapur umum). Bertubuh sedang, berwajah lumayan, humoris, dan kadang-kadang kritis.
4. PATUNG 4/ SIDIK (ketika mati berusia 33 tahun, seorang lelaki, dulunya dikenal sebagai pejuang nekat). Bertubuh gempal-kekar, temperamental, jujur, semangatnya selalu meluap-luap tapi kadang-kadang juga naif.
5. PATUNG 5/ RATRI (ketika mati berusia 25 tahun, cerdas, seorang perempuan cantik, dulunya dikenal sebagai mata-mata). Bertubuh sintal, berperangai genit khas penggoda, narsistis, berkepribadian rapuh.

Di samping tokoh-tokoh di atas, juga muncul tokoh-tokoh lain:

1. KALUR/ PENCOPET (25 tahun, polos, naif, punya cita-cita besar)
2. YU SEBLAK/ PELACUR SENIOR (35 tahun, bersikap realistis)
3. AJENG/ PELACUR JUNIOR (20 tahun, lumayan kritis tapi lemah)
4. KAREP/ GELANDANGAN INTELEK (30 tahun, cerdas, anti kemapanan, idealis)
5. RM PICIS/ KEPALA KOTA PRAJA LAMA (55 tahun, feodal, sok kuasa)
6. DRS GINGSIR/ KEPALA KOTA PRAJA BARU (50 tahun, progressif dan pragmatis)
7. DEN BEI TAIPAN (45 tahun, pedagang, ambisius, militan dalam berburu laba)
8. ASISTEN (40 tahun,pembantu Drs.Gingsir, loyal, oportunis)
9. PUGUH (wakil kepala kota praja baru, 35 tahun, kritis, idealis)
10. PETUGAS 1, PETUGAS 2 (patuh pada perintah, over acting)
11. ORANG 1, ORANG 2 (gelandangan pemabuk, kasar)

KISAH RINGKAS

Sebuah Monumen Pahlawan berdiri di tengah kota Banjar Sari. Monumen itu didirikan untuk mengenang jasa pahlawan lokal yang pada masa penjajahan Belanda, gugur dalam pertempuran di kota itu. Monumen tiu dalam keadaan terlantar, tak terawat. Sehingga justru menjadi seorang gelandangan. Di situ ’bermukim’ Yu Seblak (pelacur senior), Kalur (pencopet), Ajeng (pelacur junior), Karep (gelandangan intelek),dll.
Persoalan muncul ketika Kepala Kota Praja Lama, RM Picis merencanakan memugar monumen tiu, seiring dengan bakal dikabulkannya usulan soal peningkatan status para pahlawan dalam monumen itu, dari pahlawan lokal menjadi pahlawan nasional. Pemugaran itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan daerah: kelak monumen itu akan dijadikan objek wisata unggulan. Yu Seblak dkk, gelisah, karena terancam terusir dari kompleks monumen itu.
Namun sebaliknya, para pahlawan yang dipatungkan itu, justru berdebat sengit soal hakekat kepahlawanan. Untuk merealisasikan pemugaran dan usulan perubahan status menjadi pahlawan nasional, RM Picis –bersama asistennya, meninjau dan memilih pahlawan mana yang layak mendapat anugerah menjadi pahlawan nasional. Hanya dua pahlawan yang dipilih, yakni Wibagso dan Ratri. Masalah ini menimbulkan kecemburuan sosial bagi (arwah) pahlawan dalam monumen itu. Mereka –Sidik, Durmo dan Cempluk- tidak bisa menerima keputusan yang dipandang sangat tidak adil itu. Terjadilah apa yang disebut ”disintegrasi pahlawan” dalam monumen itu. Sidik hendak memisahkan diri –berdiri sebagai monumen-, namun ditolak oleh Wibagso dkk.
Belum terwujud pemugaran monumen itu, terjadi perubahan politik dan perubahan kepemimpinan nasional. RM Picis lengser dan digantikan Drs.Gingsir. sebagai Kepala Kota Praja Baru, Drs.Gingsir, meninjau kembali dan bahkan membatalkan rencana pemugaran monumen itu. Keputusan ini, menimbulkan kegembiraan bagi Yu Seblak dkk. Namun di balik itu, ternyata Drs.Gingsir punya keputusan lain. Yakni, menggusur monumen itu. Dan di lahan bekas monumen itu didirikan mall.

BAGIAN SATU

PANGGUNG PERTUNJUKAN INI BERBENTUK PROCENIUM.
DI BAGIAN BELAKANG TENGAH PANGGUNG, BERDIRI SET MONUMEN. DI DEPAN SET MONUMEN ITU MENJUNTAI LAYAR PUTIH (YANG BISA DIANGKAT DAN DITURUNKAN SESUAI KEBUTUHAN). DI PANGGUNG BAGIAN SAMPING KANAN DAN KIRI, TERLETAK LEVEL YANG POSISI KEDUANYA TIDAK HARUS SIMETRIS.

DI KAIN PUTIH TERPAPAR SLIDE ATAU FILM DOKUMENTER PIDATO BUNG TOMO DISUSUL
SLIDE/ FILM: ADEGAN KOLOSAL PERJUANGAN RAKYAT/TENTARA RAKYAT. POSTER-POSTER ”MERDEKA ATAU MATI”
DISUSUL
SLIDE/FILM: PEMBACAAN TEKS PIDATO BUNG KARNO
DISUSUL
SLIDE/FILM: ADEGAN KOLOSAL RAPAT RAKSASA MERAYAKAN KEMERDEKAAN
DISUSUL
SLIDE/FILM: KERIUHAN KOTA METROPOLITAN
LAMPU BLACK OUT

BAGIAN DUA

DI DEPAN SILUET MONUMEN, YU SEBLAK DITEMANI DUA-TIGA ORANG SEDANG MEMANJATKAN DOA. DI DEPAN YU SEBLAK MENGEPUL TUNGKU DENGAN AROMA KEMENYAN. DI DEKAT TUNGKU ADA BUNGA-BUNGA SESAJI.

Yu Seblak : (nerocos, ndremimil melantunkan mantera)
Angin dari utara, angin dari selatan, angin dari barat, angin dari timur, jadilah topan besar, nanti kuberi upah air tape. Rontokkanlah seluruh permentaan…..

MUSIK MENGALUN TIPIS

Air, api, bumi dan angin kawallah permintaanku hingga sampai ke haribaan Gusti, awal dan akhir perjalanan kehidupan. Jagat cilik, jagat gede dan jagat setengah gede, leburlah menyatu dan menjelma jagat tunggal. Bantulah aku, Yu Seblak memanjatkan doa keselamatan. Semoga para pahlawan yang tidur damai di monumen ini diterima Tuhan secara sempurna.

YU SEBLAK MENABURKAN BUNGA DI SEKITAR MONUMEN SAMBIL TERUS NDREMIMIL:

Yu Seblak : Dhemit tidak ndulit
Setan tidak doyan
Banyak orang mabuk duwit
Njarah milik banyak orang

Jin, engklek-engklek, banaspati
Ada orang pendek ngaku Petinggi
Katanya mewujudkan cita-cita reformasi
Tapi malah hobi kolusi dan korupsi

Tuak dicampur lotis
Nasi basi dirubung jamur
Banyak orang pada apatis
Karena para pemimpin pada tawur

YU SEBLAK KEMBALI DUDUK DI TEMPAT SEMULA. MASIH KOMAT-KAMIT.
LAMPU DI AREA YU SEBLAK DKK PADAM.
LAMPU DI AREA PATUNG-PATUNG MONUMEN MENYALA. LIMA PATUNG BERGERAK HIDUP.

Wibagso : Telah sampai di manakah perjalanan kita, Bung Sidik? Sudah ribuan purnama, ribuan singsing fajar kita mengarungi jagat sonya ruri, jagat awang-uwung. Tanpa terasa butiran-butiran keringat kita mengkristal jadi keheningan. Keheningan yang sangat purba!
Sidik : Rasanya baru kemarin kita meninggalkan jasad kita, Bung Wibagso. Sejak pasukan Belanda yang bengis dan licik itu memberondongi kita, sejak peluru-peluru mereka membusuk di jantung kita; kita rasanya tak bergerak kemana-mana.
Wibagso : Aku tadi mendengar orang mendoakan kita. Ya…aku melihat mereka. Mereka memberi kita sesaji. Bunga-bunga, dupa, kemenyan, rokok…
Durmo : Kurang ajar. Kita dianggap dhemit! Brengsek, malah ada yang minta nomer segala! Ini apa-apaan Wibagso?
Wibagso : Tenanglah. Tidak ada jeleknya membikin hati mereka gembira. Anggap saja ini sekedar intermezzo.
Cempluk : Intermezzo ya intermezzo. Tapi kalau pahlawan sudah disuruh ngurusi togel, ini sudah kebangeten.
Ratri : Hidup mereka gelap, rekan Cempluk. Mereka putus asa. Mereka hanya bisa mengadu kepada kita. Karena yang hidup tak pernah mengurusi nasib mereka. Mereka yang hidup, justru sibuk memompa ambisi untuk membangun tahta masing-masing. Ya, mereka jadi raja-raja kecil yang hanya bisa memerintah. Tapi tidak mengayomi.
Wibagso : Analisismu terlalu berlebihan, Ratri. Bagiku semua itu wajar. Bukankah mereka sedang belajar berkuasa, belajar memerintah, belajar demokrasi.
Durmo : Belajar demokrasi kok nggak ada rampungnya! Jangan-jangan, mereka sengaja berlindung di balik proses belajar, agar ketika gagal, mereka merasa sah untuk tidak bertanggung jawab!
Wibagso : Dasar otak bocor alus! Bisanya Cuma curiga.

LAMPU DI AREA PATUNG MONUMEN PADAM.
LAMPU DI AREA YU SEBLAK DKK, MENYALA.

Yu Seblak : Sudah…kamu punya permentaan apa?
Perempuan : Saya minta dagangan saya laris, Yu.
Yu Seblak : Lha kamu ini jualan apa?
Perempuan : (tersipu malu) Eeee….anu.
Yu Seblak : Jualan ”anu”? Jadi, ”anu”mu itu sekarang kurang laku? Iya?
Perempuan : Bagaimana bisa laku, Yu. Lha wong sekarang banyak garukan.
Yu Seblak : Wah kalau soal garukan, agak repot mengabulkannya. Mosok para pahlawan yang gagah perkasa cuma kamu minta ngurusi garukan.
Perempuan : Yah…terserah bagaimana caranya Yu Seblak. Katanya friendly?
Yu Seblak : Friendly ya friendly, tapi saya kan harus mempertimbangkan semua permentaan secara selektip. Dan permentaanmu itu kok rasanya kurang etis, gitu lho. Meskipun kalau saya yang minta, mereka akan bilang, ”no problem”. Tapi saya kan yang sungkan. Kecuali ada harga khusus.
Perempuan : Lho kok gitu, Yu? Pakai harga umum saja.
Yu Seblak : Tapi permentaanmu itu tidak umum. Saya kan terpaksa pakai ”hot-line” untuk ngontak pahlawan itu. Dan itu tidak gampang. Kecuali ada (tangannya mengisyaratkan menghitung uang)
Perempuan : Kok harus pakai ”hot-line” segala to, Yu?
Yu Seblak : Mosok pakai SMS. Mana sempat para pahlawan itu baca SMS. Mereka itu luar biasa sibuk menerima berbagai permentaan. Kalau pakai “hot-line”, dijamin langsung sampai dan segera dipertimbangkan.
Perempuan : Ya sudah saya pasrah. (menyerahkan uang) Tapi pasti dijamin saya tidak kena garukan kan Yu…
Yu Seblak : Asal ada garukan kamu ndelik, pasti slamet.

PEREMPUAN EXIT

Yu Seblak : (kepada seorang lelaki) Lha sampeyan punya permentaan apa?
Lelaki : Ini begini, Yu. Yu Seblak kan sudah baca berita soal kasus penggelapan uang bantuan pangan untuk orang-orang miskin. Di koran-koran sudah geger kok Yu.
Yu Seblak : (sambil menambah kemenyan) Lantas hubungannya apa dengan diriku? Mau korupsi ya silahken, mau ngrampok ya silahken. Emangnya gue pikirin! Yang penting orang macam saya ini jujur. Mosok saya ini mau korupsi menyan. Terus untuk apa? Nggo mut-mutan?
Lelaki : Bukan begitu, Yu. Ini kasus saya. Terus terang saya ini terlibat. Karena itu, saya minta slamet. Lolos dari pemeriksaan,gitu lho.
Yu Seblak : (mengeluh) Wah…punya pasien dua saja berat-berat. Cari dukun lainnya saja.
Lelaki : Tapi saya siap membayar dengan harga khusus. Sudah. Yu Seblak minta berapa? Saya paham kok, menggunakan “hot-line” untuk arwah-arwah pahlawan itu sangat sulit. Pulsa untuk ngontak lelembut kan mahal…
Yu Seblak : (tersinggung dan marah) Sampeyan jangan clometan di sini. Ini tempat suci. Sakral. Punya ”permentaan” kok njijiki! Mosok pahlawan disuruh melindungi para koruptor kayak sampeyan. (nggerundel) Pahlawan je suruh ngurusi koruptor…
Lelaki : Sorry…sorry…Bukan begitu maksud saya. Saya ini kan orang susah. Mosok tak boleh minta perlindungan.
Yu Seblak : Tapi kesusahan sampeyan ini telah menyusahkan banyak orang! Termasuk saya! Dan lagi, saya ini nggak punya stok mantera penangkal pemeriksaan bagi koruptor. Konsultasi terpaksa ditutup. Dan sampeyan saya persilahkan go-out!
Lelaki : Wo…kok go-out? Tapi gini Yu…ini cek. Yu Seblak mau ngisi angka berapa, terserah. Yang penting saya slamet.

LAKI-LAKI EXIT

Yu Seblak : (memeriksa cek) Wah gimana? Kalau ini saya terima, saya bisa langsung pensiun dari jabatan paripurna saya sebagai ”pramu-nikmat” senior. Tak perlu lagi saya saban malam mangkal di sini. Saya bisa bangun rumah, beli kulkas untuk ngompres endhas, beli mobil dan kawin dengan Kalur pacar saya…
Tapi kalau terbongkar? Berat saya. Akan muncul ”pramu-nikmat gate” yang pasti menggegerkan. Walah…walah…aku tadi kan cuma buka praktek dukun-dukunan. Lha kok jadi beneran. Ini gimana ya? Gini aja. Cek ini akan saya simpan. Kalau sewaktu-waktu kasus itu terbongkar, cek ini akan segera saya kembalikan. Di depan Polisi, Jaksa, maupun para anggota Dewan, saya akan bersaksi bahwa saya ini memang anti korupsi…atas nama keselamatan diri. Beres kan? Bukankah, sebaik-baik manusia adalah yang bersikap ngambang!

MENDADAK MUNCUL DUA PETUGAS KETERTIBAN UMUM. MEREKA MENCARI SESEORANG.

Yu Seblak : Kok sampeyan-sampeyan ini pada dlajigan di sini? Ini tempat suci. Sakral.
Petugas 1 : Kami mencari copet. Dia tadi lari menuju ke sini.
Petugas 2 : Pasti sampeyan sembunyikan copet itu. Sudah ngaku saja. Kalau tidak malah bisa repot. Sampeyan bisa kena pasal…pasal…wah pasal berapa ya?
Petugas 1 : Yang jelas bukan ”pasal” swalayan!
Petugas 2 : Sekarang kamu ngaku saja! Di mana copet itu. Ayo ngaku?! Tak slomot rokok lho…
Petugas 1 : Apa kau menyarankan saya untuk mencabuti kukumu?! Atau kamu saya sarankan secara paksa untuk tidur di atas balok es?
Yu Seblak : (berubah marah) Mbok jangan serem-serem gitu ah…Nanti kalau saya yang dipahlawankan kayak Marsinah, situ malah repot.
Petugas 1 : Jadi petugas itu ya harus serem. itu sudah doktrin dari atasan yang harus ditaati!
Petugas 2 : Masak kami harus lemah lembut, bilang ”Yu…Yu Seblak, mbok sampeyan ngaku…” Ya nggak ada orang yang takut!
Petugas 1 : Kamu kan tahu, salah satu ukuran prestasi petugas itu ya kalau bisa membikin orang lain takut. jadi yang penting menakutkan dulu, urusan lain belakangan…
Yu Seblak : Tapi meskipun saya diwajibkan takut, saya tetap bilang, kalau saya tidak tahu apa-apa.
Petugas 1 : (mengacungkan pentungan) Jadi, sudah saya serem-seremkan begini kamu tetap tidak takut?!
Petugas 2 : Gebuk saja!

PETUGAS SATU MENGACUNGKAN PENTUNGAN

Yu Seblak : (mengelus-elus pentungan petugas) Jangan gitu ah Mas…Pakai cara yang lembut saja. Saya ini suka yang lembut-lembut, Mas. Kita kan friendly. Eee copetnya emang tadi ke…
Petugas 1 : (menyahut keras sekali) Haaa gene ngerti!! (pelan sekali penuh penghayatan) Di mana dia sekarang? Di mana?
Yu Seblak : (lembut dan manis) Nyuwun sewu Kangmas. Panjenenganipun copet tadi lari ke sini lalu ke sana.
Petugas 2 : (keras sekali) Ha gene ngerti!! (kepada temannya) Ayo kita buru copet itu!

DUA PETUGAS EXIT.
KALUR MUNCUL DARI BALIK MONUMEN SAMBIL MENGHITUNG UANG HASIL COPETAN.
YU SEBLAK LANGSUNG BEREAKSI.

Yu Seblak : Lur, nasibmu benr-benar mujur ya.
Kalur : (terus menghitung uang) Mujur-mujur apa?
Yu Seblak : Lha itu, copetanmu banyak sekali. Malah ada dolarnya segala. Banyak lagi.Edan-edan…
Kalur : Lho, jelas. Copet profesional! Mosok yang profesional cuma koruptor thok. Copet pun wajib mengembangkan karier demi masa depan yang cerah!
Yu Seblak : Gayamu Lur, Kalur…Apa kamu ini ya kursus nyopet? Apa kalau sudah lulus itu ya dapat sertifikat segala?
Kalur : Oooo jelas! Saya ini kursus kepribadian copet. Malah dapat gelar segala kok. MBA! Master of Bagian Ambil paksa! Gagah to?
Yu Seblak : Dosen-dosennya apa ya dari luar negeri?
Kalur : Oooo jelas tidak. Dari sini saja. Kita orang terkenal kan punya keterampilan sempurna soal colong-mencolong. Sudah tradisi…(Kalur memasukkan dompet ke sakunya)
Yu Seblak : (menahan tangan Kalur) Eee…nanti dulu, Lur. Jangan dikira aku nggak punya andil dalam kesuksesanmu mencopet, Lur. Kalau aku tadi nggak nyelamatkan kamu, kamu sudah digebugi petugas!
Kalur : (menyahut cepat dengan nada sinis) Lho kamu kan barusan dapat cek tho? Aku tadi ngliat sendiri kok. Cairkan segera. Cairkan sana! Dan jangan lupa, minta polisi untuk mengawal sekaligus meringkus kamu.
Yu Seblak : Ceknya itu sudah saya buang.
Kalur : Dibuang apa dislempitkan kutang?
Yu Seblak : Ya jelas dibuang to. Kamu ini curiga amat.
Kalur : Lha itu, di situ, kelihatan mintip-mintip! Katanya dibuang, eh ternyata diamankan…
Yu Seblak : Maksud saya itu dibuang di balik kutang, gitu lho…
Kalur : Kalau manut saya, cek itu buang saja. Cari makan itu yang halal. Percayalah, barang haram itu tidak akan jadi daging.
Yu Seblak : We…baru sekarang ada copet memberi nasehat. Lha wong kamu sendiri tiap hari makan barang haram kok ngotbahi!
Kalur : (bergaya memberi ceramah) Wahai Yu Seblak yang kucinta. Ketahuilah, serendah-rendahnya copet itu masih lebih baik dari koruptor. Copet itu kan hanya menyusahkan satu orang, yaitu orang yang dicopet. Sedangkan koruptor itu menyusahkan orang banyak. Menyusahkan masyarakat dan bikin bangsa hancur.
Yu Seblak : Walah…walah…sok suci. Copet dan koruptor itu ya sama-sama maling…
Kalur : Meskipun begitu, copet itu jauh lebih jantan daripada koruptor. Berani nanggung resiko digebugi. Bahkan siap mati. Sedang koruptor? Mereka berlindung di balik SK ini, SK itu. Dan kalau ketahuan mereka saling melempar tanggung jawab. Cokot-cokotan kayak ular.
Yu Seblak : Kesimpulannya apa, Lur?
Kalur : (menyahut cepat) Survei membuktikan, meskipun sama-sama merugikan, tetapi pencopet jauh lebih beradab daripada koruptor. copet itu lebih fair karena tidak ada satu pun peraturan yang melindungi copet. Beda dengan koruptor, untuk memeriksa saja harus ijin sana…ijin sini…Sedangkan kalau copet, ditangkap dan diperiksa mau lapor siapa. Apa mau lapor KPHAC, Komisi Pelindung Hak-hak Azasi Copet?
Yu Seblak : Maka…?
Kalur : Ya jelas to, lebih baik jadi copet daripada jadi koruptor!!
Yu Seblak : Wah elok, sudah kayak politikus. Bicaranya berbusa-busa tapi mak plekenyik…nggedebus…
Kalur : (memberikan uang) Nggak usah cringis! Nyoh!!! Tapi nanti malam…nanti malam…pokoknya kamu tahu sendiri to…
Yu Seblak : (manja, sambil menggoyang badan) Pokoknya ada uang, ya ada goyang. Tarikk mang…

PELACUR JUNIOR (AJENG) DAN KAREP (GELANDANGAN INTELEKTUAL) MASUK. MEREKA BERJALAN MESRA.

Ajeng : Rayuan Mas Karep ini luar biasa. Percintaan kita jadi indah. Meskipun kadang-kadang terasa sedikit keras. Ya, keras tapi indah.
Karep : Ajeng sayang, kalau ada perubahan, engkau akan kubelikan RSS, Rumah Sedikit Semen. Kita bisa bercinta di sana. Mengarungi benua-benua impian…
Ajeng : Rayuan Mas Karep sangat puitis. Percintaan kita jadi dramatis.
Karep : Yah, begitulah Dik Ajeng. Ternyata aku masih menyimpan sedikit bakat sebagai penyair. Orang yang tetap percaya pada kata-kata meskipun kadang-kadang hampa makna…
Ajeng : Mas…Mas Karep sayang. Kata-katamu tetaplah sarat makna. Dan kamu telah membawaku ke dunia yang sangaaaat indah, meskipun maya….
KALUR MENGEKSPRESIKAN KEMARAHANNYA DENGAN MEMBANTING COBEK BERISI BUNGA. AJENG DAN KAREP TERHENYAK KAGET. KALUR PUN TAK MAU KALAH DENGAN PARIKAN:

Kalur : Kapal keruk taline kenceng, Mata ngantuk hatinya methentheng!!

AJENG MENCOBA MENGUASAI KEADAAN, LANGSUNG MENGHAMBUR KE KALUR YANG TAMPAK KALAP.

Ajeng : Hati siapa Mas yang methentheng?
Kalur : Ha ya jelas hati saya. Kamu pikir kalian ini Adam dan Hawa yang berada di Taman Eden? Enak saja ngumbar kata-kata mutiara, puiisiiii. Bikin kami muak tahu?!
Ajeng : Mas cemburu ya? Bilang aja cemburu.
Kalur : Ha ya jelas, kamu telah berselingkuh dengannya…
Yu Seblak : Kere kok ngerti selingkuh. Apa sudah pada ijab pa? Lha wong nggak ada ikatan apa-apa kok ngrembrug kesetiaan. Dan lagi kamu ini kan sedang nego dengan saya to? Kok kamu malah ngurusi Ajeng. Oooo dasar copet nggragas!
Kalur : Kok lu jadi sewot amat? Mau cemburu kek, mau marah kek, itu urusanku. Lagian, cemburu itu hak semua bangsa. Termasuk bangsa copet.
Yu Seblak : Jeng, kamu ini di sini cuma pelacur junior. Jangan coba-coba merebut Kalur dariku. Kalau ingin mendapatkan dia, langkahi dulu mayat saya…

MENDADAK TERDENGAR SIARAN WARTA BERITA DARI RADIO.

OS RADIO : (setelah tuning lagu Rayuan Pulau Kelapa) Berita utama: Kepala Kota Praja Banjar Sari, Raden Mas Picis, merencanakan akan memugar Monumen Pahlawan yang terletak di Jalan Kemerdekaan. Pemugaran monumen itu, akan menggunakan dana dari APBD sebesar 3 milyar.

SUARA RADIO FADE OUT.
TAMPAK EKSPRESI KAGET WAJAH YU SEBLAK, KAREP, AJENG, DAN KALUR. LAMPU BLACK OUT

BAGIAN TIGA

MUSIK MENGALIR MENCIPTAKAN SUASANA MISTIS.
LAMPU FADE IN: MERAYAP MENUJU TERANG. LAYAR PUTIH YANG MENJADI TABIR MONUMEN ITU TERANGKAT PELAN-PELAN, HINGGA SELURUH BODY MONUMEN TAMPAK UTUH.
PATUNG BERGERAK PATAH-PATAH, SANGAT INTENS DAN PELAN.

Wibagso : Dulu, ketika jasad kita terbujur di sini, rasanya tempat ini sangat sunyi. Tapi kini, lihatlah, gedung-gedung menghimpit kita. Cahaya lampu berpendar-pendar. Negeri ini benar-benar megah. Tapi, lihatlah di sana. Lihatlah, deretan gubug-gubug reyot dan orang-orang makan bangkai anjing. Ya ampun, bangkai anjing mereka makan dengan lahap. Dan di sana, jutaan mulut menganga menunggu lalat-lalat terjebak. Ya Tuhan…mereka mengunyah lalat-lalat itu (sedih, merintih).
Ratri : Itu biasa, Wibagso. Dalam negeri yang gemerlap, tetap dipelihara kemiskinan untuk dijadikan ilham bagi kemajuan. Nah…kalian lihat di sana. Deretan rumah-rumah mewah yang menyimpan jutaan keluarga bahagia. Ada kolam renang pribadi, lapangan golf pribadi, mobil mewah bahkan pesawat terbang pribadi. Mereka tinggal terbang kemana mereka suka, untuk mereguk week- end atau berselingkuh dengan pacar gelap mereka.
Durmo : Dan lihatlah di sana, di gedung pencakar langit itu. Orang-orang pesta dan berdansa. Ya ampun mereka melakukan orgi, pesta seks besar-besaran. Ya ampun, ’punya’ mereka besar-besar. Gaya mereka lebih gila dari BF sekalipun! Ah…aku jadi pengin hidup kembali.
Cempluk : Sudah jadi arwah kok masih bisa terangsang. Arwah nggragas!
Durmo : (tak peduli dengan guyonan Cempluk) Lihatlah, mereka juga teler bersama, lalu menumpahkan kata-kata siluman.
Sidik : Perutku mual mendengar ocehan mereka. Ternyata mereka hanya sanggup mengurusi perut dan kelamin mereka sendiri.
Durmo : Sementara jutaan yang lain tak lebih dari angka-angka yang ditimbun untuk dilenyapkan.
Sidik : Saya jadi menyesal kenapa dulu aku ikut memerdekakan negeri ini.
Durmo : Aku jadi tidak lagi ”pede” jadi pahlawan. Ternyata, kita berdiri di sini tak lebih sekedar ”memedi sawah”. Buktinya mereka tidak takut atau sungkan kepada kita. Mereka tetap menggaruk apa saja…
Wibagso : Jangan tergesa menyimpulkan dulu, rekan Durmo. Aku rasa mereka tetap hormat pada kita. Buktinya, mereka membangunkan monumen yang megah.
Cempluk : Megah…megah…apanya yang megah? Lha wong kita cuma ditaruh di tempat njepit kayak gini. Pahlawan kok cuma dislempitkan!
Ratri : Kamu terlalu sentimentil rekan Cempluk. Justru kita ditaruh disini, diantara gedung-gedung mewah itu agar kita bisa menyaksikan kesuksesan anak cucu.
Sidik : Tapi mereka menyembunyikan begitu banyak kegagalan di balik kesuksesan yang kamu banggakan itu, Ratri!
Wibagso : Mungkin saja begitu. Dan kalau ada setitik borok di sekujur tubuh yang utuh, itu wajar.
Durmo : Tapi bagaimana kalau setitik borok itu hanyalah tanda dari kanker besar yang menggerogoti sekujur tubuh? Bagaimana hayo…bagaimana?
Cempluk : Aku sendiri mencium bau bacin itu rekan Durmo. Dan saking menyengatnya hingga arwahku pun bangkit. Ternyata aku mencium jiwa bangsaku yang sakit. Edan to? Orang yang segitu buanyaknya kok justru berlomba-lomba untuk sakit jiwa…
Wibagso : Kalian ini sukanya mendramatisasi masalah. Wajarlah kalian ini terus gelisah. itu karena kalian kurang ikhlas dan terlalu banyak menuntut. Dan untuk apa kalian selalu menuntut? Toh kita sudah tak dapat lagi menikmati apa-apa. Dan satu-satunya kenikmatan hanyalah merasakan hormat anak cucu kepada kita.
Ratri : Apalagi mereka membuatkan kita patung yang begitu sempurna, begitu cantik. Padahal sesungguhnya wajahku sedang-sedang saja, tapi manis. Meskipun kuakui banyak jerawatnya…
Cempluk : Pahlawan kok ngurusi kukul…
Wibagso : Tapi bagaimana pun, mereka sangat membutuhkan kita, agar mereka dikenang sebagai bangsa yang besar. Sangat wajar jika kelemahan kita ditutup-ditutupi, dipoles dan diperindah. Karena mereka membutuhkan citra pahlawan yang serba bersih, serba indah….
Durmo : Tapi kenapa wajahku tetap saja dibuat bopeng? Mestinya kan mereka bisa membuat wajahku sedikit tampan, sedikit gagah seperti John Kennedy. Atau setidak-tidaknya searif wajah Gandhi. Tidak brangasan macam ini. Ini kan membikin trah Kanjeng Durmo jadi malu. Padahal kalian tahu sendiri, bopengnya wajahku ini kan karena cipratan ledakan granat musuh?
Cempluk : Ah yang bener, Mo. Wajah bopengmu itu kan karena penyakit cacar? Nggak ada hubungannya dengan perang. Nggak ada. Cuma terlambat imunisasi saja…
Durmo : Busyet!! Imunisasi Belanda, mana aku suka!
Sidik : Syukurilah Bung Durmo. Justru bopeng wajahmu itu membuktikan kalau kamu ini pahlawan asli. Tidak dipoles-poles. Sama dengan aku. Kakiku yang cacat ini sengaja dipertahankan bengkok. Ini membuktikan aku sungguh-sungguh berjuang…
Cempluk : Berjuang atau karena kebodohan? Jelasnya, kamu ini kan dulu menginjak ranjau yang kamu sangka nanas to? Jujur saja.
Sidik : Kalau mau jujur-jujuran, kamu ini sebenarnya tidak layak jadi pahlawan! Apa itu dapur umum? Apa itu sayur-mayur? Ini kan gara-gara kamu waktu nguleg sambal klilipan peluru nyasar.
Durmo : (menyahut cepat) Lalu koit. Dan langsung del…jadi pahlawan…Betapa mudahnya jadi pahlawan. Mbokku wae iso…
Cempluk : Kok lantas ngundhat-ngundhat kepahlawananku? Dasar picik! Kamu kira pahlawan itu hanya yang manggul senjata dan dar…der…dor…klepek…klepek…klepek…Yang maunya nembak kaki tapi kena kepala itu? Iya? Lalu tanpa malu menyematkan gelar jenderal besar di dadanya sendiri itu?
Ratri : Kalian pikir hanya laki-laki yang behak menjadi pahlawan? Sementara kami, kaum perempuan hanya berhak menunggu laki-laki pulang dan rela dilucuti hingga telanjang? Lalu, kalian seenaknya menjelajahi setiap jengkal tubuh kami, sambil bercerita tentang dahsyatnya pertempuran. Kalian ini tidak adil, sekaligus anarkhis!
Cempluk : Anarkhis campur sadis! (mulai menangis) Dulu semasa hidup disepelekan, sekarang pun setelah mati tetap diremehkan. Kalian ini tidak adil. Apa hanya karena aku perempuan lantas disepelekan? Kalian ini benar-benar tidak sensitif gender!
Wibagso : Tak ada yang meremehkan kamu, Cempluk. Bahkan kami sangat bangga.
Cempluk : Bangga-bangga apa? Lha wong patungku saja diletakkan di belakang kalian. (PAUSE) Bahkan sudah jadi patung pun, perempuan tetap diperlakukan tidak adil.
Wibagso : Tapi peletakan patung ini ada dasarnya. Kami semua memang pantas berada di depan, karena dulu kami berjuang di garis depan. Sedangkan kamu kan cuma di dapur umum, ya pantas ditaruh di belakang. ini sudah adil.
Cempluk : (tersinggung dan marah) Tapi kalau nggak ada dapur umum, kalian ini kaliren. Apa kalian mau makan peluru?
Durmo : Kami akui. Itu kami akui. Tapi, kalau ditimbang-timbang, jasamu itu tidak sebesar jasa kami. Jadi, sudah cukup lumayan kamu ini dianugerahi gelar pahlawan.
Cempluk : Lho, aku juga tidak minta dianggap pahlawan. Nggak minta, meskipun tidak juga menolak. Dari segi nama saja, aku ini memang tidak pantas jadi pahlawan. Biasanya, pahlawan perempuan itu kan namanya bagus dan gagah: Raden Ajeng Kartini, Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Dewi Sartika atau Nyai Ageng Serang. Lha kok…Cempluk! Aku sendiri malu. Maluuuu!!! Tapi ya apa boleh buat. Biarlah fitnah kepahlawanan ini kuterima dengan suka cita…
Wibagso : Sejarah telah menjadi gembong paling aman untuk menyimpan rahasia kita. Seluruh rahasia kita kan dilindungi sejarah, karena kita telah menyejarah. Bahkan kita adalah sejarah itu sendiri. Kita dengar sendiri, berita dari radio tadi. Monumen ini akan dipugar. Nama kita pun akan semakin menjulang. Dan generasi demi generasi bnagsa kita ini akan selalu mengenang kita.
Ratri : Itulah anugerah terindah serupa sorga. Impian terindah dari segala impian. Tak sia-sia dulu aku, dengan jantung berdegup, menerobos kantung-kantung musuh untuk mencari bocoran informasi. Para KNIL, tentara-tentara bayaran penjajah itu, begitu tololnya menyangka aku sekutu, padahal sesungguhnya aku ini seteru. Dan aku tertawa terpingkal-pingkal setiap mereka gagal menyerbu kantung-kantung gerilyawan yang mereka anggap kaum ekstemis itu. Dan kebahagiaanku pun berbuncah-buncah, ketika gerilyawan-gerilyawan kita menggempur musuh tanpa ampun.
Wibagso : Kamu memang mata-mata yang cerdas dan cemerlang. Matamu setajam mata elang. Pendengaranmu setajam kesunyian. Aku masih menyimpan kenangan yang sangat manis. Ya, pertempuaran di Watu Gilang. Berkat informasimu, aku berhasil menghalau dan melumpuhkan musuh…
Sidik : ”Aku”? Enak saja kau bilang ”aku”. Padahal dulu kamu lari terbirit-birit ke hutan dan ke gunung.
Durmo : Dan tanpa malu kamu menyebut sedang bergerilya-gerilya.
Sidik : Lalu, soal pertempuran Watu Gilang itu. Kamilah yang menghadapi musuh satu lawan satu. Kakiku yang pengkor ini menjadi saksi sekaligus tumbal keberhasilan kita menyapu serangan dan ranjau.
Wibagso : Tapi akulah pemimpin serangan itu, Sidik. Akulah yang punya inisiatif untuk melakukan serangan fajar…
Sidik : Pemimpin? Siapa yang mengangkat kamu jadi pemimpin? Waktu itu, kami semua sama-sama pemuda yang hanya bermodal nyali.
Durmo : Jadi, tak ada jabatan. Tak ada hierarki. Tak ada koordinator. Apalagi pimpinan produksi.
Sidik : Jadi untuk apa kamu membangga-banggakan perjuanganmu yang kosong itu, Bung Wibagso? Kenapa kamu dan kalian (menunjuk Ratri) sibuk menghitung-hitung jasa yang sesungguhnya hampa?
Wibagso : Sidik! Belajarlah kamu menghargai orang lain! Menghargai aku, menghargai Ratri!
Ratri : Nyawaku, kupertaruhkan demi kemerdekaan! Juga tubuhku. Jutaan pori-pori tubuhku ini menjadi saksi, ketika ku, demi mendapatkan bocoran rencana serangan, mendadak disergap tentara-tentara bayaran yang ganas itu. Mereka melumat tubuhku. Ya, melumat tanpa ampun, di sela nafas mereka yang memburu. Tapi, sebelum serigala-serigala buas itu mengerang girang di puncak kenikmatan, tanganku berkelebat menikamkan belati di punggung mereka. Aku mengamuk. Kutikam jantung mereka, lambung mereka, usus mereka. Darah muncrat. Dan tubuh-tubuh serigala itu tumbang bersimbah darah. (PAUSE) Semula aku merasa terhina oleh cipratan noda mereka. Aku merasa hina dan jijik kepada diriku sendiri. Aku pun nyaris bunuh diri. Tapi demi matahari esok bangsa ini, kuteruskan melawan serigala-serigala itu…
Durmo : (sinis) Penderitaan kok dipamer-pamerkan! Huh! Emangnye yang menderite cume elu? Enak aje! Gua kepret mencret!
Cempluk : Huh…Betawi nanggung! Betawi ndeso!
Durmo : Sewot amat lu mpok!
Wibagso : Kalian ini bisanya cuma cengengesan dan sombong. Tak mau sedikitpun memperhitungkan pengorbanan kami. Hingga kalian tak merasa malu menganggap diri kalian paling pahlawan di antara pahlawan. Kalian lupa bahwa perang itu tidak hanya pakai otot, tapi juga pakai otak! Pakai strategi!
Durmo : Tapi strategi tanpa nyali, bagai kepala tanpa kaki. Akhirnya ya cuma jadi hantu ”glundhung pringis”. Camkan itu, Wibagso!
Cempluk : (menyela) Tapi otak dan otot tanpa dapur umum juga sia-sia. Camkan itu Bung Durmo!
Wibagso : (menyela) Kenapa kita meributkan masing-masing keunggulan kita? Kenapa tidak kita maklumi saja bahwa kita saling membutuhkan.
Ratri : Karena itu rencana pemugaran monumen dan pengajuan peningkatan status menjadi pahlawan nasional itu mesti kita rayakan bersama!

LAMPU PADAM.
MUSIK MEMBERIKAN AKSETUASI SUASANA YANG SEMULA RIANG PELAN-PELAN BERUBAH JADI SENTIMENTIL.
PELAN-PELAN LAMPU DI DEPAN MONUMEN MENYALA, HINGGA MENUJU TERANG.

BAGIAN EMPAT

KALUR, YU SEBLAK, AJENG DAN KAREP GELISAH MENDENGAR RENCANA PEMUGARAN MONUMEN. YU SEBLAK MENGGELAR PETA KOTA, MENCARI TEMPAT KOSONG UNTUK PANGKALAN DIRINYA, JIKA MONUMEN ITU BENAR-BENAR DIPUGAR.

Yu Seblak : (menunjuk-nunjuk peta) Di sini, di belakang mall ini, bagus juga.
Kalur : (menyahut sinis) Tapi…di situ padat. Nanti mengeluh…nggak nyaman…Kalau mau nyaman ya di perumahan…
Yu Seblak : Cringis! (tetap asyik menunjuk peta) Kalau di sini, lumayan kosong…dan asyiiik.
Kalur : (sinis) Tapi dekat rel, brebeg, bising. Nggak nyaman untuk indehoy. Kalau mau nyaman ya di hotel…
Yu Seblak : Cerewet! Kalau di sini, ya…ya…taman kota ini lumayan juga…
Kalur : (sinis) Tapi sering ada garukan. Nanti digaruk, marah…
Yu Seblak : Ya…ya…di sini, dekat stasiun. Aman.
Kalur : Tapi, banyak kerenya…Nanti dianggap kere, tersinggung. Padahal kan cuma gelandangan…
Yu Seblak : Tapi rak…gelandangan terhormat.
Kalur : Terhormat kok terlunta-lunta!
Yu Seblak : Kamu ini ngapa to kok sirik? (asyik dengan petanya) Yahh…yahh di sini saja. Di alun-alun. Jembar. Malah leluasa.
Kalur : Tapi, kalau hujan gimana?
Yu Seblak : Oya ya…Apa arep bukak praktek wae ndadak ngedekke tendha…
Kalur : (merebut peta) Pemugaran ini baru rencana kok kamu sibuk ngapling tempat. Memangnya yang punya kota itu kamu? Iya?
Yu Seblak : (berusaha merebut peta) Kembalikan peta pusakaku! Balek-ke!

KALUR MELEMPARKAN PETA

Kalur : Kemayu…apa lu kira elu ini birokrat tata kota?
Yu Seblak : Lho…bertahun-tahun saya beroperasi ya menggunakan peta ini. Dengan peta ini, seluruh kota saya kuasai. Saya jadi tahu tempat-tempat mana yang rawan garukan…(melipat dan menyembah peta) Peta pusoko je…
Kalur : (mencibir dan ingin merebut peta tapi tidak kena) Pusoko…pusoko opooohhhh?
Karep : (bergaya khas intelektual) Kang Kalur, saya kira Yu Seblak benar. Kalau monumen ini dipugar, dan dijadikan obyek wisata unggulan, otomatis ada perubahan manajerial. Tempat ini harus steril dari orang-orang macam kita. Akan ada tim satpam yang menjaga kompleks ini. Orang masuk harus beli karcis. Belum lagi muncul berbagai peraturan yang mengikat.
Ajeng : Terus bagaimana sikap kita?
Karep : Itu yang sedang aku pikirkan!
Yu Seblak : Mikir meneh…Pengangguran kok cuma dipikir, keburu diseruduk buldoser!
Kalur : Sekarang kita perlu menempuh cara-cara menghadapi penggusuran ini. Itu lebih relevan dan urgen! Kita mesti turun ke jalan! Kita kumpulkan seluruh gelandangan di kota ini untuk demo. Dan saya yakin bayak LSM yang kepincut dengan proyek ini. Karena gelandangan macam kita ini sangat laris untuk dijual!
Karep : Itu yang sedang aku pikirkan!
Kalur dan Yu Seblak : (koor) Mikir meneh…
Karep : Itulah bedanya aku dan kalian. Aku berpikir dulu sebelum bertindak, sedangkan kalian bertindak dulu tanpa pikiran. Yahh, level kita memang beda.
Yu Seblak : Apanya yang berbeda? Kamu ini tak kalah gembelnya dibanding kami.
Kalur : Bahkan kegembelanmu itu lebih serius daripada kami…
Karep : Aku pikir memang…begitu. Tapi aku jadi gembel ini hanyalah proses. Menurut aku, menjadi gelandangan merupakan prosedur awal menjadi filosof sejati.
Ajeng : Sejati…sejati apa? Filosof sejati tapi kok apa-apa maunya gratisan. Makan, minum, bahkan kelon pun minta gratisan.
Karep : Itulah inti kehidupan, di mana orang saling tulus memberi dan menerima. Itulah yang disebut hidup yang sejati. Tak ada jual-beli, tak ada negoisasi.
Ajeng : Lha kamu ini cuma mau menerima terus, tapi tak pernah memberi.
Karep : Aku pikir…hidup ini untuk memberi, Jeng. Bukan untuk meminta.
Yu Seblak : Filsafat lagi. Filsafat gratisan aja dibangga-banggakan. Makan filsafatmu itu,makan! Orang kita bingung mau digusur paksa kok kamu malah ngoceh…
Karep : Lho aku ini bukannya ngoceh. Tapi memberikan ide-ide cemerlang! Menurut aku, kita perlu mendesain gerakan-gerakan yang lebih kultural dan beradab. Artinya, meskipun kita ini gelandangan, ya gelandangan yang civilized, yang beradab!
Kalur : Apa? Gelandangan sipilis?
Karep : (mengeja gaya intelektual yang difasih-fasihkan) C i v i l i z e d, guoblok! Sipilis itu kan penyakit favoritmu!
Kalur : Enak aja omong sipilis. Aku ini pantang sipilis. Tapi kalau herpes atau GO, sering. Dan lagi, kamu ini ngomong dakik-dakik, dengan ludah berbusa-busa itu ya mau apa to? Kita butuh gerakan yang kongkrit. Turun ke jalan!
Karep : Aku pikir turun ke jalan itu kurang elegan, kurang anggun. Kita bisa protes dengan cara lain. Misalnya, sengaja meledakkan monumen ini, tanpa kita harus lari. Begitu monumen ini hancur dan kita binasa, maka kita pun akan dikenang sebagai tonggak perjuangan melawan penggusuran. Nama kita pun abadi. Dan kelak, orang-orang pun akan mendirikan monumen buat kita. Namanya, monumen…
Ajeng : (menyahut cepat) Kere! Kamu ini gila. Kalau kita mati konyol, siapa yang peduli? Siapa? (PAUSE) Kita kan bisa mengadu ke anggota dewan. Kita beberkan semuanya. Kita juga punya hak hidup. (PAUSE) Aku sendiri, meskipun cuma pelacur jalanan, melakukan dinas malam juga untuk ngongkosi hidup keluarga, ngongkosi sekolah anak…
Yu Seblak : Wah jan elok…elok tenan… Luar biasa! Sebagai anggota korp pelacur saya bangga.
Ajeng : Pasti Yu Seblak ini menawarkan tubuh kemana-mana itu ya untuk ngongkosi anak!
Yu Seblak : (tenang, yakin) O ya jelas tidak! Ya, untuk senang-senang sendiri, untuk nguja joko-joko buat jamu biar awet muda. Hidup cuma sekali saja, mau apa? Mosok cuma mampir minum. Rugi. Apa orang-orang itu ya cuma hidup untuk mampir minum? Kan ya tidak to? Kalau bisa ya…mampir ngombe sambil nglethaki kepala orang banyak.
Karep : Termasuk kepala kita ini yang diklethaki. Sebab sejak awalnya, mereka itu tidak pernah menghitung kita.

MUSIK TIPIS MENGALUN
Kita akan selalu terusir. Terusir bagai debu ditiup asap knalpot mobil-mobil mewah. Kamu, Yu Seblak…kamu akan terlunta-lunta menyisir kota demi kota menawarkan daganganmu kepada angin…
Begitu juga dengan kamu Ajeng. Hanya nasib baik serupa Pretty Woman yang akan mengangkatmu untuk dijadikan Putri Cinderella.
Aku sendiri, akan kehilangan habitat, kehilangan kebebasan di mana aku bisa mereguk inspirasi demi inspirasi…
Dan kamu, Kang Kalur…

MUSIK BERHENTI

Kalur : (cepat memotong) Kalau aku laen! Laen! Sangat laen. (musik berhenti)
Aku ini copet mandiri. Bisa survive dengan keterampilan tanganku. Dengan hasil copetan yang luar biasa banyaknya, aku akan membangun rumah mewah, membangun panti sosial untuk menampung kalian-kalian ini…agar tidak jadi debu.
Yu Seblak : (menyahut cepat) Tapi itu kalau kamu tidak keburu ditangkap dan digebyur bensin lalu dibakar! Kalau itu terjadi, akhirnya ya sama, kamu juga jadi abu…
Ajeng : Oalah…nasib…nasib…kok tidak pernah ada enaknya. Pergi ke barat, dihardik…pergi ke timur, dicekik…pergi ke utara, dihantam…pergi ke selatan, dirajam…Oalah…nasib…nasib…

BAGIAN LIMA

MUSIK TEROMPET DAN TAMBUR MENGALUN. PENGAWAL KOTA PRAJA LAMA BERBARIS MEMASUKI PANGGUNG. DISUSUL KEPALA KOTA PRAJA RM. PICIS DAN ASISTENNYA. YU SEBLAK, KAREP, KALUR DAN AJENG MINGGIR…

Asisten : Saya kira, sayang sekali jika monumen sepenting dan seindah ini hanya menjadi sarang gelandangan. Saya bisa menjamin, sembilan puluh sembilan koma sembilan persen seluruh warga akan mendukung rencana kita memugar monumen luhur ini. Saya kira Bapak Kepala Kota Praja bisa sedikit menekan para anggota dewan untuk menyetujui proyek itu. Bukankah Bapak sendiri sudah ingin ganti mobil?
RM Picis : Kalau soal cipratan proyek, kamu ini sangat cerdas dan tangkas dalam mengakali anggaran. Tapi, puji Tuhan, aku ini ternyata masih punya ketebalan iman. Meskipun, idemu soal ganti mobil itu, cukup menarik juga. (tertawa)
Asisten : Iman dan mobil mewah itu tidak ada hubungannya Pak. Maksud saya, tebal tipisnya iman seseorang bukan menjadi faktor yang menentukan untuk memiliki sebuah atau dua buah mobil mewah. Jadi yang penting itu mobil mewah, baru iman…
RM Picis : Tapi, jelek-jelek aku ini birokrat pejuang dan pejuang birokrat. Jadi dalam soal pamrih, aku agak kurang sensitif. Seperti soal pemugaran monumen ini. Rencana itu benar-benar murni demi menjunjung tinggi dan mengharumkan nama pahlawan. Perkara ada cipratan proyek, itu efek! (tertawa)
Asisten : Dan kalau perlu, justru efeknya itu yang diperbesar Pak. (tertawa) Eee soal monumen ini, saya sudah melakukan loby ke teman-teman anggota dewan. Tujuh puluh tujuh persen, mereka oke.
RM Picis : Ini bisa saya duga. Sebab, proyek ini akan mendongkrak citra kota kita, baik secara kultural maupun secara finansial. Nama kota kita akan melambung dan kas pendapatan kita pun akan menggelembung. Ini yang namanya ”sekali kayuh, dua-tiga proyek jadi rezeki”. (tertawa)
Coba sekarang kamu tinjau, pahlawan mana yang layak kita tingkatkan statusnya jadi pahlawan nasional?
Asisten : (meneliti patung satu persatu. Pengamatan dimulai dari patung Cempluk, Sidik, Durmo, Wibagso dan Ratri) Kalau yang ini (menunjuk patung Cempluk) …saya kira pengorbanannya tidak bisa diragukan. Dapur umum! Nguleg sambel matanya kelilipen peluru! Luar biasa, kan. Tapi ya itu tadi, Pak. Nimas Bujono alias Cempluk ini, sebenarnya tak punya potongan jadi pahlawan. Lihat saja wajahnya. Urat-urat yang ada di situ adalah urat-urat susah. Pahlawan kok memelas, nyremimih, kiwah-kiwih.
RM Picis : Jadi kesimpulannya?
Asisten : Menurut saya, tidak layak. Tapi ya terserah Bapak.
RM Picis : Aku juga sependapat. Pahlawan itu ya harus miyayeni. Meskipun tidak harus priyayi. Kalau yang ini? (menunjuk Durmo)
Asisten : Lha kalau yang ini, kesangarannya boleh. Setidaknya, begitu melihat patung ini, orang langsung mengkeret dan takut. Tapi ya maaf…kurang intelek!

BEGITU ASISTEN MENOLEH KE RM PICIS, PATUNG DURMO MEMUKUL KE KEPALA SANG ASISTEN ITU.

Asisten :(kepada petugas) Kamu mukul saya ya?
Petugas : Enggak.
Asisten : Kurang ajar. Ngaku saja! Daripada kamu saya mutasi jadi tukang bikin wedang!
Petugas : Berani sumpah!
RM Picis : Sudah, sudah. Kalau yang ini (menunjuk Sidik)
Asisten : Wah kalau yang ini, thongkrongannya boleh juga. Kayak Rambo! Lihat saja, tubuhnya yang methekol, kekar dan berotot. Tapi ya itu tadi Pak. Pahlawan yang kita butuhkan itu kan yang anggun, cerdas, berwibawa dan kredibilitasnya tidak meragukan. Dan saya kira, dia itu kurang pas. Tapi kalau Bapak mau memaksa saya untuk bilang setuju, ya boleh saja.

BEGITU MENOLEH, KEPALA ASISTEN ITU DIPUKUL DURMO. ASISTEN MARAH-MARAH KEPADA PETUGAS YANG DISANGKA MEMUKULNYA.

Asisten : Kamu mukul aku lagi ya?! Mukul aku lagi ya?!
Petugas : Sumpah demi proyek, saya tidak memukul Anda.
Asisten : Awas, nanti kumutasi jadi tukang kosek WC! (kepada Pak Gingsir) Gimana Pak dengan ide saya tadi? Kalau Bapak mengharapkan saya untuk bilang setuju, saya tidak keberatan lho Pak…
RM Picis : Biasanya saya memang selalu menseyogyakan orang untuk selalu bilang setuju. Kali ini kok saya kurang berselera begitu. (PAUSE) Pendapatmu betul. Kita butuh simbol kepahlawanan yang mencerminkan keberanian, kecerdasan, kejujuran, dan kewibawaan. Saya kira dua pahlawan ini (menunjuk Wibagso dan Ratri) yang cocok dengan kriteria itu. Apalagi tim peneliti sejarah kepahlawanan lokal yang saya bentuk, sudah memberikan rekomendasi pada dua pahlawan itu.

WIBAGSO DAN RATRI MENOLEH KE SIDIK, DURMO DAN CEMPLUK, DENGAN WAJAH SENYUM, PENUH KEMENANGAN.

Asisten : Persis! Saya kira hanya Raden Mas Wibagso dan Den Rara Ratri yang layak untuk menerima peningkatan status menjadi pahlawan nasional. Mereka adalah sepasang pahlawan yang akan menjadi ilham bagi anak cucu.
RM Picis : Saya akan segera memproses usulan ini ke Pusat. Kamu siapkan budget proyeknya. Cari juga arsitek yang handal untuk merancang monumen ini.
Asisten : Siap!
RM Picis : Laksanakan!

MUSIK DRUMBAND, ROMBONGAN RM PICIS EXIT.
LAMPU BLACK OUT.

BAGIAN ENAM

LAMPU YANG MENERANGI MONUMEN MERAMBAT PELAN, MENUJU TERANG. LIMA PATUNG BERGERAK SECARA KOREOGRAFIS.

Sidik : Licik! Culas! Buta sejarah! Ternyata kita ini tidak dianggap. Ternyata kita ini murahan!
Durmo : Ternyata kita hanya dijadikan pelengkap penderita yang benar-benar menderita!
Cempluk : Aku akan mengajukan pensiun dini sebagai pahlawan, daripada nggejejer di sini hanya jadi penggembira. Penggembira yang pilu!
Durmo : Inilah malangnya pahlawan. Tak boleh misuh-misuh, tak boleh memaki. Padahal kita telah dihina habis-habisan . Dihina total!
Wibagso : Tak ada yang harus merasa terhina. Apalagi hanya karena status yang berbeda. Dan kita tak kuasa memprotesnya, karena hal itu merupakan keputusan yang lahir dari berbagai pertimbangan.
Durmo : Aku semestinya tidak risau dengan gelar kepahlawanan. Tapi melihat mereka yang dengan semena-mena menciptakan kelas-kelas, darahku jadi mendidih. Umeb!
Sidik : Mereka tak punya hak untuk menganggap kami ini pahlawan kelas kambing, sedang kalian pahlawan kelas utama. Kayak sepur saja!
Ratri : Tapi mereka menguasai sejarah. Dan berdasarkan fakta-fakta sejarah itu mereka membikin kelompok-kelompok, kategori-kategori berdasarkan kriteria…
Sidik : Sejarah yang mana? Sejarah siapa? Enak saja bilang ”ini layak dan itu tidak layak”. Apa kalian pikir derajat kami lebih rendah dari kalian?
Cempluk : Kalau aku masih hidup, kukembalikan gelar pahlawan itu. Mereka ternyata cuma basa-basi.
Wibagso : Seluruh pahala kita akan batal hanya karena kemarahan kita.
Cempluk : Untuk apa mempersoalkan pahala? Sia-sia. Sebab, malaikat pencatat pahala sudah tutup buku. Kita tinggal tunggu hasil penghitungan…
Wibagso : Tapi di balik sikap sok suci, ternyata kalian menyimpan pamrih yang lebih mengerikan . Kalian ternyata munafik!
Durmo : Tunggu dulu Wibagso! Kamu lihat sendiri, kami tak pernah menghitung-hitung jasa dan sibuk mengejar kehormatan. Bahkan ketika masih berjuang pun, kamu lihat sendiri, bagaimana aku justru menghilang ketika seorang panglima besar memuji keberhasilan kita dalam pertempuran merebut benteng musuh.
Sidik : Kalau mau, bisa saja waktu itu kami mencatatkan diri menjadi anggota pasukan Panglima Besar itu. Aku yakin, jika aku bisa menikmati kemerdekaan, aku pasti akan mendapat pangkat kaprajuritan yang tinggi. Dan kelak, ketika merdeka, kami bisa jadi petinggi yang bisa memborong proyek. Tapi, puji Tuhan, aku keburu tertembak musuh dan mati, sehingga aku terbebas dari berbagai godaan pamrih.
Durmo : Begitu pula dengan aku. Sebelum aku menemui ajal, aku berwasiat agar keluargaku, seluruh keturunanku tidak perlu mengungkit kepahlawananku, hanya demi uang tunjangan yang tak seberapa harganya dan itupun masih banyak potongannya.
Cempluk : Aku sendiri tak peduli dengan semua ini. Sebab, aku sendiri sangat membenci perang. Kalau aku berjuang, itu karena kau ingin membalaskan dendamku. Ya, karena suamiku dicincang pasukan Belanda.
Ratri : Tapi suamimu memang jadi mata-mata para gerilyawan. Aku sendiri sering menerima bocoran informasi dari suamimu.
Cempluk : Bukan. Suamiku bukan mata-mata. Dia hanya tukang sapu Gubermen Mister Van Der Moouten. Kalau dia sering membocorkan rahasia musuh, itu kuakui. Tapi dia bukan mata-mata.
Wibagso : Lantas apa yang kalian tuntut? Kenapa kalian merisaukan munculnya gelar pahlawan nasional yang kebetulan tersemat di dadaku dan dada Ratri?
Durmo : Kami menolak penggolongan-penggolongan, kelas-kelas kepahlawanan. Bagi kami hanya ada satu kepahlawanan, yaitu kepahlawanan sejati, kepahlawanan rohani.
Sidik : Apa alasan Raden Mas Picis mengangkat kamu dan Ratri sebagai pahlawan nasional? Apa? Selain hanya karena kamu Wibagso, adalah kakek buyut Raden Mas Picis. Juga karena kamu Ratri, kamu masih saudara dengan Wibagso.
Durmo : Kenapa hanya soal gelar kepahlawanan saja kalian ini kolusi? Kebangeten!
Cempluk : Dan yang menyakitkan lagi, sementara kita harus berdiri nggejejer di sini, kita harus rela menjadi tontonan para turis. Padahal turis-turis itu belum tentu menganggap kita pahlawan mereka. Sebab, mereka punya pahlawan sendiri. Kita menjadi pahlawan yang dipaksakan. Gendheng! Kalau tahu begitu, sudah sejak dulu aku turun dari sini. Atau sekarang aku harus turun…! Akan kugalang seluruh arwah pahlawan yang tertindas untuk demo besar-besar di balai Kota Praja.
Wibagso : Kalian ini ternyata kanak-kanak. Yang hanya bisa merengek. Kalian lupa pada kepentingan yang lebih besar: kebanggaan sebuah bangsa. Kenapa kita tidak mau sedikit berkorban?
Durmo : Ini bukan soal rela dan tidak rela berkorban Wibagso. Tapi soal harga diri.
Sidik : Posisi kita memang berbeda! Bagaimanapun monumen ini harus dibelah menjadi dua. Kalian di sana! Kami di sini!
Cempluk : Aku di situ. Berdiri sebagai monumen sendiri. Monumen Cempluk!
Ratri : Itu penyelesaian kanak-kanak. Bagaimana mungkin kita hadir di sini dalam keadaan tidak lengkap? Bahkan terpecah-pecah? Sudahlah, lupakan soal gelar kepahlawanan. Kita tetap harus utuh sebagai monumen.
Cempluk : Bagaimana bisa utuh, kalau kami selalu diakali?

LAMPU BLACK OUT.
LAYAR PUTIH TABIR MONUMEN TURUN. DI LAYAR ITU TERPANTUL BERBAGAI SLIDE SEPUTAR MELETUSNYA REFORMASI.
LAMPU DI SALAH SATU SISI PANGGUNG TERANG.
TAMPAK PENYERAHAN KEKUASAAN DARI KEPALA KOTA PRAJA LAMA (RM PICIS) KE DRS GINGSIR.
LAMPU BLACK OUT.

BAGIAN TUJUH

MUSIK MENGHENTAK-HENTAK (BISA DANGDUT).
DI LAYAR PUTIH TERPAMPANG SLIDE-SLIDE MELERTUSNYA REFORMASI.
PERGANTIAN KEPEMIMPINAN DISAMBUT HANGAT KOMUNITAS MONUMEN. KALUR, AJENG, YU SEBLAK DAN KAREP MENGUNGKAPKAN KEGEMBIRAANNYA, DENGAN BERJOGET, ATAU APA SAJA. KALUR MUNCUL DARI DALAM, MENGHENTIKAN PESTA DAN BERPIDATO BAK PEMIMPIN BARU.

Kalur : (keras) Stop. Stop. Seeeetttttoooooop! Hoop! Rakyatku sekalian, dengarkan aku mau berpidato.

MUSIK BERHENTI MENDADAK.
ORANG-ORANG BEREAKSI KECEWA.

Orang 1 : (mabuk) Lu jangan seenaknya ngebacot, Lur. Gue kepret, kapok! (mencengkeram kerah baju Kalur) Apa situ di sini mau menthol, mau njago? (siap memukul)
Orang 2 : (melerai, juga dalam kondisi mabuk) Bedem ya bedem Dul, tapi yang rukun. Jadi boleh mabuk asal rukun. Slow aja…Everything is allright…
Kalur : (ketakutan) ndak…ndak…saya cuma mau menyampaikan berita kok. Soal anu ook…soal anu ook….
Karep : Berita? Berita apa? Aku pikir kita semua sudah tahu kalau Raden Mas Picis sudah lengser. Dan digantikan Doktorandus Gingsir menjadi Kepala Kota Praja Baru. Koran-koran sudah memuatnya. Headline, lagi…
Kalur : Tapi itu kan berita koran tadi pagi. Yang saya baca ini koran sore. Sepulang dari dinas di stasiun tadi, saya beli koran.
Orang 2 : (mabuk) Dinas…dinas…dinas apa?
Kalur : (kesal) Haa yaa…jelas menjalankan dinas pungutan sosial suka paksa, Nyuk!
Orang 2 : (mabuk) Oooo jadi kamu sekarang kerja di lembaga sosial?
Kalur : Nyopet, guoblok!!!
Orang 2 : Oooo nylompret….Jadi pemusik ya?
Kalur : (kesal) Nyopeeettt, Nyuk! N y o p e t! (memperagakan tangan mencopet)
Orang 1 : (mabuk) Oooo k l o s e t! Mbok sejak tadi bilang kamu berak di stasiun!
Kalur : (makin kesal) Kok ngising to? Nylompret…nylompret…(memperagakan orang meniup terompet)
Orang 2 : (mabuk) Oooo n y o p e t! Terus?
Kalur : (bergaya orator) Di koran itu, Bapak Drs.Gingsir mengatakan, bahwa selaku pimpinan yang dipilih oleh rakyat secara demokratis, maka dia akan memihak rakyat.
Karep : Sebentar,sebentar…dipilih secara demokratis itu artinya tidak pakai money politic?
Kalur : Biarpun pakai money politic, tapi kan tetap demokratis. Lagi pula, pemilihan pemimpin zaman sekarang ini, kalau tak ada money politic, kan nggak ilok. Tabu, gitu lho. Tapi yang penting Bapak Drs.Gingsir itu mau memperjuangkan kepentingan orang banyak.
Karep : Klise! Klise! Dulu RM Picis juga bilang begitu? Tapi buktinya?
Yu Seblak : He filosof amatiran, mbok jangan cringis. Kritis ya kritis , tapi jangan cringis. Lanjutkan Lur. (tegas)
Kalur : Beliau menandaskan, begini, “Pemerintahan yang baru ini didesain secara efektif dan efisien. Karena itu, setiap kucuran dana harus melalui pertimbangan f e a s e b i l i t y dan azas kemanfaatan bagi publik. Dus itu artinya, pemerintah akan memangkas program-program yang dipandang tidka efektif dan efisien. Dan semua program akan diarahkan pada pertumbuhan ekonomi. Hanya dengan caa ini kita bisa memasuki pasar bebas”.
Ajeng : (marah) Pidato apa itu? Bikin bingung saja. Lur! Yang penting bagaimana nasib kita ini?! Nasib kita! Jangan malah ngelantur…
Kalur : Lho kok malah memelototi saya. Ya sana marah pada Pak Gingsir…
Karep : Substansinya Lur…substansinya apa? Dan apa relevansinya bagi kita.
Kalur : (kalem) Hadirin dilarang cringis! Eee soal yang berkaitan dengan kita, tentu saja ada. Ada. Yaitu bahwa…

LAMPU DI AREA BAWAH (TEMPAT KALUR CS) PADAM. KEMUDIAN LAMPU YANG MENERANGI AREA LAIN, YAKNI TEMPAT DRS.GINGSIR MEMBERIKAN PERNYATAAN PERS KEPADA TIGA WARTAWAN, MENYALA.

Drs.Gingsir : Rencana pemugaran monumen Pahlawan Kemerdekaan kami nilai mubazir. Karena itu, atas nama menjunjung tinggi azas kemanfaatan dan pertumbuhan ekonomi, maka rencana itu dibatalkan.

LAMPU DI AREA GINGSIR PADAM.
LAMPU DI AREA YU SEBLAK CS MENYALA.

Yu Seblak : (senang) Dibatalkan?! Apa kamu nggak salah dengar?!

LAMPU DI AREA KALUR CS PADAM.
LAMPU DI AREA DRS. GINGSIR MENYALA.

Drs.Gingsir : Benar. Dibatalkan. Tulis itu! (PAUSE) Dana pembangunan monumen sebesar tiga milyar dari APBD akan dialihkan untuk mengatasi krisis ekonomi, lewat penyaluran bahan pangan, obat-obatan dan peningkatan pendidikan. Tentu saja tidak gratis. Tapi yang jelas murah.

LAMPU DI AREA GINGSIR CS PADAM.
LAMPU DI AREA KALUR CS NYALA.

Kalur : Jadi, mulai detik ini, kita semua dilarang bingung dan cemas. Pak Gingsir sudah baik hati. Tidak nguthik-uthik monumen ini.
Karep : Aku pikir, itu bukan baik hati. Tapi kewajiban.
Yu Seblak : Cringis meneh! Tak tampeg parut kapok kowe! Mbok sudah, kita nggak usah macem-macem. Yang penting kita bisa tinggal di sini, sudah cukup. Jatahnya wong cilik itu ya cuma manut atasan. Pokoknya, keputusan ini harus kita rayakan. Musik!!!

MUSIK MENGHENTAK.ORANG-ORANG BERJOGET DAN MENGALUN LAGU YANG MENDAYU: LAGU ORANG TERBUANG.

Langit tak jadi mengusir kita
Kita tetap berpijak di bumi yang sama
Bumi kita yang ramah, bumi kita tercinta

Akankah badai mencabik kita
Akankah harapan jadi tiada
Marilah bersembunyi di rongga dada

Orang terbuang selalu jadi layang-layang
Melayang tanpa benang, ditiup badai kencang
Singgah di awan, membangun negeri di angan
Mabuk impian memeluk harapan

MUSIK BERHENTI.
LAMPU BLACK OUT.
BAGIAN DELAPAN

LAMPU DI AREA GINGSIR CS MENYALA.
GINGSIR, PUGUH (WAKIL KEPALA KOTA PRAJA) DAN DEN BEI TAIPAN SEDANG BERDIALOG SOAL KEMUNGKINAN KERJA SAMA.

Den Bei Taipan : Kota ini akan menjadi kota metropolitan yang gemerlap. Kota impian dari segala impian. Pokoknya fantastis! Berdasarkan insting bisnis saya, kota ini akan melampaui Jakarta. Ya setidaknya bisa sejajar lah. Asal Bapak Gingsir bisa merangkul konglomerat macam saya…(tertawa)
Drs. Gingsir :Saya kira Den Bei Taipan terlalu berlebihan. Kota ini terlalu kecil untuk menjadi metropolitan.
Den Bei Taipan : Jangan terlalu merendah, apalagi kalau merendah untuk sombong, Pak Gingsir. Anda ingat Singapura? Negara itu hanyalah pulau kecil, yang mungkin luasanya sama dengan kota ini. Tapi, lihat sendiri. Singapura menjadi kota bisnis paling menyilaukan di Asia. Kuncinya sederhana: terbuka bagi penanaman modal asing.
Puguh : Saya kira, biarlah kota kami ini menjadi kota kecil yang nyaman bagi penghuninya. Kami sudah sangat bangga dengan sebutan kota budaya. Kota yang sudah melahirkan berjuta orang pandai di negeri ini, kota yang nyaman untuk menetaskan berbagai pemikiran…Maaf, Den Bei, tidak terlalu berlebihan kalau kota ini mempunyai banyak sekali local genius! apalagi orang-orang lokal yang merasa sok genius…
Den Bei Taipan : That’s right! That’s right! Tapi begini Bung Puguh. Kalau you mengikuti perkembangan kota-kota besar di dunia, maka kita tidak mungkin mengelak dari gelombang besar pasar bebas, yang menjadi bagian erat dari gelombang kesejagadan. Ya, gelombang mondial and gelombang yang membikin dunia ini hanya sebesar kelereng. (PAUSE) Maaf…anda punya internet?
Puguh : Sorry Den Bei. Internet saya malas mengakses situs-situs perdagangan yang tidak jelas juntrungannya…
Den Bei Taipan : Tapi perdagangan itu sangat eksak. Laba dan rugi itu jelas. Investasi, saham dan valas juga jelas definisinya. Jadi, saya sedikit merasa aneh mendengar ada orang bingung, sehingga kurang bia membedakan antara valas dengan talas.
Drs.Gingsir : Maaf Den Bei Taipan. Saya kira Bung Puguh ini bukannya tidak tahu, tapi sengaja tidak mau tahu. Maklum, dia dulu kan seniman yang kini tersesat menjadi birokrat. (tertawa)
Den Bei Taipan : Tersesat atau menyamar? Jangan-jangan karena beliau ini gagal jadi seniman, maka malik grembyang jadi birokrat (tertawa). Eee kembali pada tawaran saya. Kalau Bapak setuju, saya akan mendirikan mall di sini. Tidak banyak, cuma lima. Saya lihat, kota ini memiliki daya beli yang kuat.
Drs.Gingsir : Lahan kami terlalu sempit, Den Bei. Kami terlanjur merencanakan pembangunan pembangungan berbagai sekolah kejuruan di tanah-tanah yang kosong.
Den Bei Taipan : Tapi bisnis mall ini sangat menjanjikan, Pak Gingsir. Prospeknya sangat cerah. Jadi terlalu sayang untuk tidak dipikirkan. Dan saya siap menginvestasikan uang saya. Tidak dalam bentuk rupiah. Tapi dolar US. Ya dolar!!! Saya memang kurang terbiasa dan terlatih menggunakan rupiah. Nah…soal keuntungan, nanti bisa kita atur. Biasanya 30:70 persen.
Drs.Gingsir : Tawaran yang menarik juga. Tapi untuk membangun lima mall di sini, terlalu sulit.
Den Bei Taipan : Tapi, soal pembagian keuntungan bisa dinegoisasikan, Pak Gingsir. Bagaimana kalau 35:65. itu sangat logis. Bapak tahu sendiri kan, berapa juta dolar uang saya yang harus keluar…sementara margin keuntungannya sangat tipis…
Drs.Gingsir : Tawaran yang menarik juga. Tapi, maaf, lahan kami terlalu sempit untuk itu.
Den Bei Taipan : Bagaimana kalau 40:60. Ini peningkatan yang sangat progresif. Tidak ada pedagang gila dan baik hati macam saya…
Drs.Gingsir : Sebentar-sebentar. Saya kok jadi ingat, masih ada lahan yang bisa dimanfaatkan. Ya…di alun-alun. Kita bisa membangun dua mall di sana. Juga di kompleks museum perjuangan yang juga terlantar. Dan satunya, di…di…Monumen Joeang yang terlantar. Daripada jadi lahan bursa seks kere kan mendingan untuk mall…
Den Bei Taipan : Ternyata Pak Gingsir ini cerdas. Ya setidaknya mendadak cerdas. (tertawa)
Puguh : Tapi sebentar, Pak Gingsir. Apakah hal itu tidak melanggar undang-undang ordonansi? Bukankah setiap warisan bangunan ataupun monumen itu dilindungi?
Drs.Gingsir : Kalau soal itu, aku lebih tahu. Itu gampang diatur. Saya bisa menjelaskan gagasan cemerlang ini pada anggota dewan yang semuanya adalah teman kita.
Puguh : Saya kira tidak semua anggota dewan bisa dikuasai…
Drs.Gingsir : Ah itu kan teori. Dan saya punya cara…Percayalah…
Puguh : Tapi mereka itu idealis. Bahkan militan. Komitmen sosial mereka sangat kuat.
Drs.Gingsir : Itu kan sebagian. Dan sebagian yang lain belum tentu. Dan biasanya jumlah mereka lebih besar…
Puguh : Tapi maaf Pak…Saya kira kita tak bisa mengorbankan warisan nilai sejarah. Bagaimana mungkin sebuah bangsa bisa berkembang tanpa tahu sejarah? Kita hanya akan menghasilkan berjuta-juta Malin Kundang yang akhirnya menghardik ibunya.
Drs.Gingsir : Tapi kota ini juga punya jutaan perut yang bisa lapar. Kota ini juga punya berjuta mulut yang berhak untuk makan…
Puguh : Saya sangsi jika hal itu yang jadi pertimbangan utama kebijakan gila ini.
Drs.Gingsir : Puguh! Bagaimanapun kamu ini hanya wakil saya. Dan kamu tak lebih dari pembantu saya…
Puguh : Tapi saya berhak mengontrol Saudara!
Drs.Gingsir : Apa? Kamu panggil aku dengan sebutan “saudara”? Kurang ajar. Tidak sopan.
Puguh : Sikap hormat dan sopan hanya berlaku bagi orang yang bertindak sopan. (PAUSE) Dengan menerima tawaran ini, Saudara telah berbuat tidak sopan terhadap aturan yang disepakati bersama. Saudara ternyata tak lebih dari pialang, tak lebih dari broker…tak lebih dari makelar…
Drs.Gingsir : Alangkah indahnya sumpah serapahmu itu, Puguh? Kuakui, aku memang makelar. Sekarang ini mana ada pemimpin yang tidak menjalankan fungsi makelar? Mana ada? Kamu boleh kecewa. Tapi seluruh kecamanmu yang indah itu, tidak akan menggugurkan keputusanku. Monumen itu harus digusur!
Puguh : Kalau begitu tidak ada gunanya saya jadi wakil Saudara. Mulai detik ini saya mengundurkan diri!!!
Drs.Gingsir : Itu lebih bagus, daripada kamu menjadi duri dalam daging!

LAMPU PADAM.
MUSIK MENGHENTAK, KEMUDIAN MEMBEKU BEBERAPA SAAT, DAN KEMUDIAN MENCAIR DAN MENGALIR PELAN.

BAGIAN SEMBILAN

LAMPU DI AREA MONUMEN MENYALA. PATUNG-PATUNG BERGERAK.

Wibagso : Pengkhianat! Pongah. Sombong! Arogan! Busuk! Penguasa demi penguasa datang, ternyata hanya berganti nama. Mereka tetap saja menikam kita dengan pengkhianatan demi pengkhianatan.
Ratri : Kita tak lebih dianggap sekadar bongkahan batu yang memukau. Bongkahan batu yang membeku. Bongkahan batu yang malang dan menyedihkan. Mereka hendak melempar kita, menggerus kita menjadi butiran-butiran masa silam yang kelam.
Wibagso : Jiwa-jiwa yang gelap, jiwa-jiwa yang kelam, alangkah menyedihkan. Mereka selalu gagal membedakan antara sinar dengan kemilau cahaya impian, yang sesungguhnya tak lebih dari fosfor yang mematikan. Fosfor yang menguap dari tumpukan jasad orang-orang mati atau yang terpaksa dimatikan, demi impian yang penuh tipu daya. Dan kita dianggap bagian dari orang-orang mati itu. Padahal kita tidak pernah mati. Tidak pernah mati. Hanya tubuh kita yang hancur, dan mencair diurai bakteri. Tapi ruh kita tetap hidup. Bahkan perkasa.
Durmo : (sinis) Alangkah malangnya kalian para pahlawan kelas utama. Nama kalian akan menjulang, bahkan justru ditenggelamkan demi gemerincing kin-koin uang.
Cempluk : Bagi kami, pahlawan kelas kambing, penggusuran ini bukan masalah.
Sidik : Kehormatan tidak terletak di lencana-lencana, di piagam-piagam, bahkan juga di monumen-monumen. Kehormatan berada dalam harga diri yang terus ditegakkan.
Wibagso : Kenapa kalian justru tertawa? Padahal kita hendak dihancurkan. Kehormatan kita telah diinjak-injak atas nama laba dan angka-angka. Kenapa kalian tetap memelihara kebencian, memelihara kedengkian dan menghitung-hitung untung-rugi? Buldoser itu segera menggilas kita. Lihat mereka datang. Berderap-derap. Moncong mereka yang bengis segera melumat kita.

MUSIK PENGGUSURAN MENGGEMURUH.
MUSIK MELEMAH, DAN SIDIK BERDIALOG.

Sidik : Hadapilah Wibagso, hadapilah. Kenapa pahlawan bangsa kelas utama takut melawan buldoser?
Durmo : Rasain lu, sekarang gigit jari! Kalau gue sih enteng-enteng aja. Cuma bul…doser aja. Ya…cuma melawan bul…doser saja takut!
Wibagso : Ternyata kalian hanya bisa sinis! Kalian tidak sadar, bagaimanapun aku dan Ratri adalah bagian dari kalian. Kita berjuang bersama-sama, mengusir musuh bersama-sama, gembira bersama-sama, dan sedih bersama-sama.
Cempluk : Tapi menjadi pahlawan nasional tidak bersama-sama…
Ratri : Dasar picik! Ini bukan persoalan pahlawan kelas utama atau pahlawan kelas kambing. Tapi harga diri kita sebagai pahlawan…
Wibagso : Penistaan ini tidak bisa dibiarkan. Lihat, buldoser-buldoser itu makin mendekat. Kita tetap bertahan! Ya bertahan! Lawan mereka!

SUARA DERU BULDOSER TERUS MEMBAHANA. DURMO, CEMPLUK DAN SIDIK TAK “TERPROVOKASI” OLEH WIBAGSO. MEREKA TETAP TENANG DALAM SUASANA KALUT ITU. SUARA BULDOSER TERUS MENDERU.

Ratri : Bertahan! Kita tetap bertahan di sini! Kita mesti buktikan bahwa kita tidak seremeh yang mereka duga!

SIDIK, DURMO DAN CEMPLUK TAMPAK TENANG-TENANG MELIHAT ADEGAN YANG SERU ITU.

Wibagso : Kenapa kalian malah diam? Bantu kami. Tunjukkan kalau kita punya harga.
Sidik : Wibagso, kalau kami melawan buldoser-buldoser itu, kami tidak sedang membela kepongahan sebagai pahlawan. Tapi membela harga diri yang diinjak!
Wibagso : Aku tak meminta penjelasan. Tapi minta kejelasan sikap kalian. Ayo lawan mereka! Lawan!

SIDIK, DURMO DAN CEMPLUK BERGEGAS MENGHADAPI BULDOSER.

Sidik : Dasar rakus! Kalian hendak membunuh kami untuk yang kedua kalinya! Kenapa kalian bisa berjaya hanya dengan membunuh?
Durmo : Dasar tamak, loba, nggragas dan ngongso! Batu saja kalian makan! Kenapa kalian sedikit bisa berbagi, dengan membiarkan kami bersemayam di sini? Kenapa?
Wibagso : Durmo! Kenapa nyalimu mendadak lumer? Tidak sepantasnya pahlawan itu mengemis! Kita lawan mereka! Kita lawan!

MUSIK MENGGEMURUH.
PANGGUNG DI BAWAH MONUMEN MENYALA.
YU SEBLAK, KALUR, KAREP, AJENG DLL MENCOBA MELAWAN DESAKAN BULDOSER.

Yu Seblak : Kita tetap bertahan. Tetap bertahan. Lebih baik mati di sini daripada selama hisup dikutuk jadi kecoa, jadi tikus celurut…Kita bertahan! Bertahan! Kita harus pertahankan liang kita! Kalur…Karep…Ajeng…di mana kalian?!
Koor : Kami siap di sini! Di belakangmu!
Yu Seblak : Kita lawan mereka! Kita labrak mereka!
Kalur : Kita tak bisa diremehkan!
Karep : Aku pikir kita juga punya hak hidup! Kita mesti mempertahankan!
Ajeng : Dasar busuk! Kalian hanya bisa merampas. Kalian tidak pernah membari. Kalian hanya bisa meminta dan mengambil!

KALUR, YU SEBLAK, KAREP DAN AJENG MEMBENTUK KOREOGRAFI MENGHADAPI GEMPURAN BULDOSER. BEGITU PULA DENGAN WIBAGSO DKK.

Wibagso : Lihatlah, mereka yang hanya gelandangan pun berpihak pada kita. Kalian mestinya malu. Ayo kita lawan buldoser-buldoser itu. Kita sikat mereka.
Durmo, menyusuplah kamu ke mesin. Cabut selang bensinnya. Hancurkan mesinnya. Sidik, meloncatlah kamu ke ruang kemudi. Cekik leher sopir itu! Ratri, hentikan roda buldoser itu! Dan aku…aku akan membungkam moncong buldoser itu…

MUSIK TERUS MENGGEMURUH.

Yu Seblak : Kalur! Halau penggusur-penggusur itu!
Kalur : Aku tak berani. Mereka ternyata banyak sekali!
Yu Seblak : Karep…tahan moncong buldoser itu! Tahan!
Karep : Mana aku kuat? Aku pikir buldoser itu terlalu kuat untuk dilawan. Kita menyingkir saja daripada mati konyol! Menyingkir!
Kalur : Ya menyingkir saja! Sia-sia kita melawan mereka.
Karep : Aku pikir memang sia-sia. Sedang terhadap para pahlawan saja mereka tek memberi harga, apalagi terhadap kecoa macam kita!
Yu Seblak : Kalian benar-benar gembus!

DERU BULDOSER TERUS MEMBAHANA.
KAREP, KALUR DAN AJENG MENYINGKIR. TINGGAL YU SEBLAK SENDIRIAN.

Yu Seblak : Kalian benar-benar pengecut! Heh, kenapa kalian lari? Kenapa? Munyuk! He buldoser yang sombong, tabrak aku kalau berani! Tabrak aku!

MUSIK TERUS MENGGEMURUH. YU SEBLAK JATUH TERGILAS.
MUSIK TERUS MENGGEMURUH, PATUNG-PATUNG BERGELIMPANGAN.
MUSIK BERHENTI. TINGGAL KESUNYIAN.

Ratri : Kita telah dibunuh untuk yang kedua kalinya.
Cempluk : Kita telah dibunuh untuk yang kedua kalinya.
Sidik : Kita telah dibunuh untuk yang kedua kalinya.
Wibagso : Ternyata, bagi kalian, kami ini tak lebih dari onggokan kenangan buram. Kenangan buram yang harus dibakar agar kalian bisa tidur tenteram di atas tumpukan keculasan. Kalian sangka, impian besar kalian ini kemajuan, padahal penghancuran.
Kenapa kalian tak mau menghentikan jatuhnya korban yang tak terkira nilainya?
Kenapa?!
Bisakah kalian membangun tanpa menghancurkan?
Bisakah?!
Kenapa kalian hanya bisa menggertak dan merusak?
Kenapa?!
Apa telinga kalian tuli?!

MUSIK LIRIH, KEMUDIAN MERAMBAT KERAS, KERAS DAN PERLAHAN FADE OUT…BERSAMAAN LAMPU YANG SERENTAK PADAM.

SELESAI
Yogya, 11 Mei 2002

“RAMUAN AJAIB”

Posted: 28 Desember 2009 in Naskah Drama Anak

Oleh: Hendrik Iswahyudin

BABAK I

DI MALAM YANG SEPI, YOGI SENDIRI DI KAMAR SAMBIL MEREBAHKAN BADANNYA YANG GEMPAL DI TEMPAT TIDUR KESAYANGANNYA. TIBA-TIBA IA TERPERANJAT MENDENGAR SEKILAS TENTANG CERITA KAKEK YANG BERBINCANG DENGAN NENEKNYA DI RUANG TENGAH.

Kakek              : Nek! Mau dengar cerita kakek ndak?

Nenek              : Boleh, cerita apa sih kek?

Kakek              : Tentang ramuan ajaib

Nenek              : Ramuan ajaib apa sih kek?NENEK PENASARAN

Kakek              : Ya ramuan ajaib yang pernah kakek buat pada masa kecil dulu untuk        cepat menghafal rumus matematika.

DI DALAM KAMAR YOGI LANGSUNG MENDEKATI PINTU DI KAMARNYA DAN MENEMPELKAN DAUN TELINGANYA KE PINTU.

Nenek              : Memangnya ada ramuan ajaib seperti itu?

Kakek              : Dengar dulu cerita kakek, nek! Dulu kakek ketika seumuran Yogi, kakek mirip sekali dengan Yogi. Kakek itu malas sekali kalau di suruh belajar. Kemudian ketika menjelang ulangan kakek bingung karena tidak pernah belajar. Tapi kakek tidak putus asa, kakek berfikir untuk mendapatkan cara yang cepat agar hafal rumus-rumus matematika. Setelah beberapa lama berfikir, akhirnya kakek menemukan ide cemerlang.

Nenek              : Ide apa itu kek?

YOGI SEMAKIN MELEKATKAN DAUN TELINGANYA KE PINTU KAMARNYA.

Kakek              : Kakek membuat ramuan ajaib dengan harapan dapat hafal rumus-rumus matematika. Ramuan ajaib itu terdiri dari air putih, gula, garam dan abu dari catatan rumus-rumus matematika yang telah kakek bakar. Kemudian kakek campur jadi satu dengan air lalu kakek minum.

Nenek              : Hasilnya kek?

Kakek              : Waduh kepala kakek jadi pusing dan perut kakek terasa mual.

Nenek              : Terus?

KRIIING……KRIIIING……KRIIIING(SUARA TELEPON BERDERING)

Kakek              : Nek itu teleponya berdering!

Nenek              : Ya, ceritanya di lanjutkan besok saja ya kek.

Kakek              : Ya, kakek tidur dulu ya nek.BERJALAN MENUJU KAMAR

BABAK II

DENGAN HATI TANPA KEKHAWATIRAN MENGHADAPI ULANGAN MATEMATIKA BESOK, YOGI MELANGKAH TENANG MENUJU RUMAH. DI DEPAN GERBANG SEKOLAH, TEMAN-TEMAN YOGI TELAH BERKUMPUL MENUJU KE RUMAH MIA UNTUK BELAJAR KELOMPOK MEMPERSIAPKAN ULANGAN MATEMATIKA BESOK.

Mia                  : Gi! Ke mana? Nggak ikut ke rumahku?

Yogi                : Buat apa ke rumahmu.TANGANNYA BERKACAK PINGGANG

Anton              : Ya belajar dong, besok kan ulangan matematika, banyak rumus yang harus di hafal lo!

Yogi                : Kalian saja yang belajar, aku tidak perlu melakukannya.

Jaka                 : Kok bisa begitu?

Yogi                : Tentu bisa, karena aku telah mendapatkan resep mujarab dari kakekku.

Mia                  : Resep apa sih?

Yogi                : Resep agar sukses ulangan.

Anton              : Alaa…ah, paling juga disuruh belajar.

Yogi                : wah, kalian salah, pokoknya ini rahasia.

Mia                  : Dasar pelit.

Anton              : Jangan-jangan kakek Yogi dukun.

Jaka                 : Ha…ha….ha….dipanggil mbah dukun aja.

Yogi                : Jangan sembarangan ya, kita lihat saja besok.

MIA, ANTON DAN JAKA PERGI KE RUMAH MIA UNTUK BELAJAR, SEDANGKAN YOGI PULANG KE RUMAH

BABAK III

MALAM TELAH TIBA, YOGI SIBUK MEMPERSIAPKAN BAHAN-BAHAN UNTUK RAMUAN AJAIBNYA. CATATAN MATEMATIKA, SEGELAS AIR PUTIH, GULA, DAN GARAM. DENGAN HATI-HATI YOGI MEMBAKAR CATATAN LEMBAR DEMI LEMBAR MATEMATIKANYA. KEMUDIAN DENGAN HATI-HATI YOGI MEMASUKKAN GULA, GARAM DAN ABU KE DALM GELAS YANG BERISI AIR. TIBA-TIBA SUARA IBU MEMANGGIL.

Ibu                   : Yogi sedang apa kamu di kamar nak?kok ada bau benda terbakar dari kamarmu.

YOGI TERPERANJAT MENDENGAR IBUNYA DARI RUANG TENGAH. DIA MENDEKAT KE PINTU MENGAMATI LUBANG KUNCI DENGAN SEKSAMA, IA MEMASTIKAN PINTUNYA TELAH TERKUNCI.

Yogi                : Yogi tidak apa-apa kok bu, Yogi hanya menyiapkan untuk ulangan besok kok bu.

TOGI MENGADUK RAMUAN AJAIBNYA, KEMUDIAN MEMINUMNYA.

Yogi                : Huekk..kk!ternyata rasanya tidak enak. Bagaimana kakek dulu meminumnya ya?

YOGI MEMINUMNYA SEKALI LAGI.

Yogi                : Huek..kk!huekk..kk!

Ibu                   : Tok…tok….tok…..Yogi, ada apa nak?SUARA IBU DI DEPAN PINTU

Yogi                : Uhuk..kk!uhuk…kk!Yogi hanya tersedak kok bu.

Ibu                   : Buka pintunya nak, ini ibu bawakan susu hangat untukmu.

YOGI MEMBUKA PINTU DENGAN PERASAAN TAKUT KETAHUAN IBUNYA.

Ibu                   : Benar, kamu tidak apa-apa?

Yogi                : Tidak apa-apa kok bu.

Ibu                   : Ini susunya, ibu letakkan di meja belajar.

Yogi                : Ya bu terima kasih. YOGI MASIH KETAKUTAN

IBU KELUAR DARI KAMAR YOGI, YOGI KEMBALI MENUTUP PINTUNYA SAMBIL MENGELUS DADANYA.

Yogi                : kuteruskan nggak ya?……ku teruskan nggak ya?….Ah…daripada susah-susah menghafal mendingan kuteruskan saja.

YOGI MENCOBA MEMINUMNYA SEKALI LAGI.

Yogi                : Glek…glek….huekk…kk!huek…kk. aku benar-benar tidak dapat meminumnya.

YOGI TAMPAK PASRAH, WAJAHNYA SEDIKIT PUCAT DAN KEPALANYA PUSING .

Yogi                : Bukankah kakek dulu merasa mual dan pusing? Artinya ramuan ini mulai bekerja.

DENGAN PERASAAN SEDIKIT GEMBIRA, YOGI MEMILIH UNTUK TIDUR BERHARAP BESOK RUMUS-RUMUS MATEMETIKA MELEKAT DI KEPALANYA.

HARI SUDAH PAGI, YOGI MASIH TIDUR DI KAMARNYA. BERKALI-KALI IBUNNYA MENGETUK PINTU DENGAN PERASAAN KHAWATIR.

Ibu                   : Yogi (TOK……TOK…..TOK), Yogi(TOK….TOK….TOK)

TIDAK ADA JAWABAN DARI KAMAR YOGI. KEMUDIAN IBU MEMBUKA PINTU KAMAR YOGI. IBU MELIHAT YOGI MASIH TERBARING DI TEMPAT TIDURNYA. IBU MENDEKATI YOGI DAN MEMEGANG KENINGNYA.

Ibu                   : Kamu sakit nak?

Yogi                : Kepalaku pusing, bu. Aku juga kedinginan.

Ibu                   : Kaau  begitu, jangan masuk sekolah dulu. Istirahat di rumah saja.

Yogi                : Tapi hari ini Yogi ulangan bu.

Ibu                   : Nanti ibu telepon ke sekolah agar boleh ikut ulangan susulan…. Ibu telepon gurumu ya?

Yogi                : Ya bu. Bu tolong panggilkan kakek ya!

Ibu                   : Ya, sebentar.IBU MELANGKAH KE LUAR KAMAR

KAKEK MASUK KE KAMAR YOGI DAN DUDUK DI TEPI TEMPAT TIDUR YOGI.

Kakek              : Aduh Yogi, mau ulangan kok sakit.

Yogi                : Ya kek, kepala Yogi pusing sekali.

YOGI MENATAP GELAS YANG BERISI CAIRAN GELAP.

Kakek              : Yogi minum kopi?

Yogi                : tidak kek.

KAKEK MELANGKAH DAN MENGAMBIL GELAS YANG BERISI CAIRAN GELAP DAN MENCIUM ISI GELAS ITU.

Kakek              : Kamu buat ramuan ini?

Yogi                : Ya kek.

Kakek              : siapa yang mengajari. KAKEK BINGUNG

Yogi                : dua hari yang lalu Yogi mendengar kakek sedang bercerita tentang ramuan ajaib kepada nenek. Makanya aku mencobanya.

KAKEK TERTAWA TERBAHAK-BAHAK

Kakek              : ha…ha..ha…ha…

Yogi                : Kenapa tertawa kek. YOGI KEHERANAN

Kakek              : Ooo.. itu rupanya yang menyebabkan kamu sakit.

Yogi                : Kok bisa kek?

Kakek              : Ya,kakek dulu sama seperti kamu seperti sekarang ini. Setelah kakek meminum ramuan ajaib itu kakek juga langsung sakit.

Yogi                : Dan kakek jadi pintar?

Kakek              : Waduh, pasti kamu belum mendengar dengan lengkap cerita kakek waktu itu. Setelah minum ramuan iotu, kakek masih ikut ulangan dan hasilnya, kakek mendapat nilai tiga.

Yogi                : Ha?? Tiga??YOGI TERKEJUT

Kakek              : Ya , tiga.

Yogi                : lho bukankan kakek pandai matematika?

Kakek              : Ya, Karena setelah itu kakek rajin belajar agar semua rumus-rumus matematika dapat melekat di kepala, tidak dengan meminumnya. Kalau Yogi ingin pandai matematika, Yogi harus banyak belajar dan banyak menghafal. Dengan begitu Yogi akan hafal semua rumus matematika. Yogi mau seperti itu?

Yogi                : Baiklah, Yogi akan mencobanya.

Kakek              : Ingat Yogi tidak ada jalan pintas untuk pintar. Semua harus dimulai dengan kerja keras. Sekarang istirahat dulu.

“TERJEBAK DALAM LORONG WAKTU“

Posted: 18 Desember 2009 in Naskah

BABAK I

Setting             : Pagi hari

Latar                : Di hutan

Susan bersama kelima temannya baru sampai di rumah Neneknya Yolan di daerah Bugisan, sebuah desa di daerah Palagan Ambarawa. Suasananya begitu tenang, tentu saja jauh dari kebisingan kota. Mereka sudah lama merencanakan liburan ini. Begitu Yolan bercerita langsung saja Susan, Erni, Wina, Wira dan Marshall setuju untuk mengisi liburan di sana.

Pagi itu mereka berenam menyusuri sebuah hutan kecil. Menurut cerita, di hutan itu pernah terjadi sebuah tragedi pembunuhan. Meurut Neneknya Yolan, dulu waktu masih jaman penjajahan Belanda, ada pemuda pribumi yang dianggap sebagai pemberontak dan dihukum tembak. Saat sedang berjalan menikmati keadaan sekitar tiba-tiba saja wajah Susan terlihat pucat pasi. Kelima sahabatnya reflek menghentikan langkahnya.

Wirya                         : “Kamu kenapa san ?” (BERTANYA DENGAN PENUH

PERHATIAN)

Susan                         : “ Kalian dengar ada suara tembakan ?”

Erni dan Yolan          : “Suara tembakan !” (SERENTAK DAN SALING BERPANDANGAN)

Wirya dan Marshall   : “Tidak kudengar suara tembakan” (SAMBIL MENAJAMKAN PENDENGARAN, KEMUDIAN MENGGELENG)

Susan                         :  “Masa kalian tidak dengar ? Suara tembakan itu jelas terdengar bahkan beruntun.” (BERUSAHA MEYAKINKAN SAMBIL MEMBELALAKKAN MATANYA KETAKUTAN)

Erni                            : “Lebih baik kita kembali ke rumah Nenek ?” (SAMBIL MEMBIMBING SUSAN YANG TERLIHAT PUCAT)

BABAK II

Setting              : Siang hari

Latar                 : Rumah Nenek

Sesampainya di rumah Nenek

Nenek                        : “Lho kalian sudah kembali ? Cepat sekali.” (BERTANYA KEHERANAN)

Yolan                         : “ Susan tiba – tiba saja sakit Nek .”

Nenek                        : “Kalau begitu Yolan ambilkan air putih untuk Susan.”

Yolan                         : “Ini air putihnya San, kamu minum dulu.” (MENGAMBIL DAN MEMBERIKAN SEGELAS AIR PUTIH)

Nenek                        : “ Kamu kenapa Susan ?” (BERJALAN MENDEKAT).  “Apa yang terjadi padamu Susan.” ( BERFIKIR DALAM HATI MERASAKAN ADA YANG TIDAK BERES SAMBIL MEMANDANGI WAJAH SUSAN, DAN MENYENTUH BAHU SUSAN)

Yolan dkk                 : “Ayo San ceritakan pada kami semua, apa yang sudah terjadi sama kamu !” (DUDUK DAN MENANTI CERITA SUSAN DENGAN SEKSAMA)

Susan                         : “Entahlah, saat memasuki hutan itu tiba – tiba saja saya mendengar renteten tembakan. Tapi saya tanya yang lain mereka tidak mendengarkannya, lalu…” (MENGGANTUNGKAN CERITA, MENGHELA NAFAS PANJANG, DAN WAJAHNYA YANG SEMULA TERLIHAT MEMERAH, TIBA-TIBA KEMBALI PUCAT)

Nenek                        : “Lalu ?” (BERTANYA SEMAKIN MENYELIDIK)

Susan                         : “Lalu saya melihat ada seorang pemuda yang diarak masyarakat dan beberapa orang bule,”

Wina                          : “Seorang pemuda diarak ? Kok bisa ya, padahal kita tidak melihat apa-apa. Ya kan teman-teman !” (TAMPAK KEHERANAN)

Wirya                         : “ Iya, tadi kami tidak melihat apa-apa.”

Nenek                        : “Nenek kira ada ikatan batin antara Susan dengan pemuda yang dilihatnya,” (TERLIHAT TENANG SEAAKAN MEMAHAMI APA YANG TERJADI PADA SUSAN)

Yolan                         : “Bagaimana mungkin Nek? Apakah yang dilihat Susan itu hantu ?” (AGAK TERCENGANG)

Nenek                        : “Kalian ingat cerita Nenek tentang tragedi yang terjadi di hutan itu ? Nenek rasa Susan melihat pemuda pribumi itu. Kejadian itu 70 tahun lalu. Saat itu Nenek masih berumur 7 tahun,” (MULAI MEMBUKA CERITA)

Marshall                     : “Cerita 70 tahun lalu ? (SANGAT TERKEJUT)

Wah, berarti Nenek awet muda ya ? Nenek saat ini tidak kelihatan kalau berumur 77 tahun,” (MEMUJI)

Nenek                        : “Kamu ini bisa saja Shall !” (TERSENYUM SIMPUL)

Wirya                         : “Kamu jangan memotong cerita Nenek dong Shall !” (TERLIHAT BETE)

Erni                            : “Lanjutkan Nek !” (TERLIHAT ANTUSIAS SEKALI)

Nenek                        : “Saat penjajahan Belanda dulu, di daerah ini Belanda menguasai tanah desa dan juga semua hasil bumi desa ini. Penduduk harus menyerahkan hasil bumi dengan harga dibawah standar. Namun, ada pemuda pribumi yang mengtahui hal itu. Ia kemudian menganjurkan warga desa untuk tidak menjualnya pada bule-bule yang berkuasa itu. Oh ya, Nenek belum memberi tahu nama pemuda itu. Namanya Wiryo,”

Marshall                     : “Jangan – jangan kamu keturunannya nih Wir !” (MENGGODA)

Wirya                         : “Kamu ini apa-apaan sih Shall. Teruskan Nek !” (MENDENGUS KESAL SAMBIL MENGALIHKAN PERHATIAN)

Nenek                        :  “Dasar anak-anak !Tuan William tahu kalau Wiryo mempengaruhi warga desa untuk membangkang. Dia berang dan memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Wiryo, hidup atau mati.” (TERSENYUM GELI, KEMUDIAN MENARIK NAFAS PANJANG MELANJUTKAN CERITANYA)

Marshall                     : “Wah, seperti cerita perjuangan si Pitung jago Betawi ya Nek ?” (MELUCU SAMBIL TERSENYUM GELI)

Nenek                        : “Nah, suatu hari Wiryo tertangkap dan ditembak mati di hadapan warga desa Wiryo. Saat itu tak satupun warga yang mau membela Wiryo.”

Yolan                         : “Mungkin yang dilihat Susan tadi itu adalah hantunya Wiryo yang penasaran ya Nek ?”

Nenek                        : “Mungkin juga ! Karena kalau saja warga desa berani membela Wiryo dan melawan penjajah mungkin saja Wiryo tidak mati sia-sia.”

Erni                            : “Tapi, mengapa yang bisa mendengar dan melihat hanya Susan Nek ?” (KEHERANAN)

Nenek                        : “Itulah yang tadi Nenek bilang ikatan batin. Kalian percaya akan adanya alam gaib ?”

Yolan dkk                 : “Percaya Nek !” (SERENTAK MENGANGGUK)

Nenek                        : “Tidak ada yang mustahil di dunia ini kan ? Ya sudah sekarang kalian makan dulu. Nenek masak opor ayam untuk kalian. Ceritanya akan Nenek lanjutkan nanti malam.” (BANGKIT DARI DUDUKNYA)

Yolan dkk                 : “CIHUYYY…..!” (BERSORAK GEMBIRA)

BABAK III

Setting              : Malam hari

Latar                 : Rumah Nenek

Malam itu sehabis sholat Isya’ anak-anak kembali berkumpul untuk mendengarkan cerita Nenek. Tanya jawabpun terjadi. Susan yang merasa tidak enak badan tiduran di kamar. Saat seru-serunya berdiskusi, tiba-tiba saja Susan keluar dari kamar dengan wajah pucat pasi. Badannya terlihat gemetar, tangannya memegang perut, dan tiba-tiba saja Susan limbung jatuh ke lantai. Reflek yang lain mendekat.S

Yolan                         : “Nek, lihat perut Susan  berdarah !” (SAMBIL BERTERIAK)

Wirya                         : “Seperti luka tembakan,” (BERDESIS)

Nenek                        : “Sudah Nenek duga, pasti ada ikatan batin antar Susan dan Wiryo. Susan merasakan apa yang dulu dirasakan oleh Wiryo. Dan yang dilihat Susan tadi pagi di hutan bukan hantu. Wiryo masih hidup diantara dua alam !”  (MENJELASKAN DENGAN SEKSAMA)

Wina                          : “Maksud Nenek ?”

Nenek                        : “Wiryo terjebak dalam lorong waktu !!”

Wina                          : “Nek, cepat bawa Susan ke rumah sakit !”

Nenek                        : “Percuma ! Ini tidak bisa diobati secara medis. Wiryo ingin kita membantunya untuk mendapatkan keadilan.”

Wina                          : “Tapi, bagaimana caranya Nek ?” (TERLIHAT GUSAR)

Nenek                        : “Wirya dan kamu Marshall, tolong kalian angkat Susan dan baringkan ke tempaat tidur. Erni, ambilkan lilin sebanyak 13. Wina, kamu kompres Susan karena panas badannya begitu tinggi. Marshall, Erni, Wirya, Yolan duduklah membentuk lingkaran dan nyalakan 13 lilin itu ditengah-tengah kalian. Yolan dan Wirya akan menembus lorong waktu. Hari dimana Wiryo ditembak 70 tahun yang lalu. Mencegah agar tembakan itu tidak terjadi sama dengan menyelamatkan nyawa Susan. (MEMERINTAH DENGAN TEGAS)

Yolan dkk                 : “Baik Nek !”  (DUDUK BERSIMPUH MEMBUAT LINGKARAN)

Nenek                        : “Dengar, Yolan, Wirya ! Kalian mempunyai 2 jam untuk menyelamatkan nyawa Susan. Tegakkan keadilan untuk Wiryo. Bujuk masyarakat desa untuk berani memberontak pada penjajah. Kalian sudah harus kembali seselum nyala lilin ini reup. Karena kalau tidak, kalian takkan bisa kembali dan selamanya akan terjebak dalam lorong waktu. Nyawa Susan tak akan tertolong. Kalian mengerti ?”

Yolan dan Wirya       : “Mengerti Nek.” (SALING PANDANG DAN MENGANGGUK)

Nenek mengucapkan kalimat yang sama sekali tak bisa dimengerti. Yolan dan Wirya merasa tubuhnya terseret ke sebuah lorong hitam. Kemudian, saat membuka mata, mereka telah berada di hutan yang telah mereka lewati tadi pagi. Yolan dan Wirya melihat pintu yang bersinar. Pasti sinar itu bersal dari 13 lilin yang dinyalakan Nenek. Itu adalah jalan satu-satunya untuk mereka kembali ke dunia nyata. Yolan menajamkan pendengarannya.

Wirya                         : “ Keributan di desa, kita harus cepat ke sana !” ( SAMBIL BERSERU )

Setengah berlari Yolan dan Wirya bergegas ke arah yang tak jauh dari hutan. Sesampainya di sana mereka melihat seorang pemuda yang diikat pada sebuah pohon.

Yolan                         : “Itu Wiryo !”

Wirya                         : “ Lihat penduduk desa itu ! Mereka sama sekali tidak membela Wiryo. Pak ! Kenapa kita tidak berusaha hal ini tidak terjadi ? Bukankah Wiryo pahlawan desa ini ?” (MENCERMATI KERUMUNAN DAN BERTANYA PADA SALAH SATU PENDUDUK)

Lelaki Tua                 : “ Aden bukan warga desa sini ? Apakah Aden tidak tahu, di sini tidak ada yang berani menghalangi keinginan Tuan William. Bisa ikut dihukun mati !” (MENJAWAB DENGAN KETAKUTAN)

Yolan                         : “Tapi pak, bukankah masyarakat di sini jumlahnya lebih banyak ? Kalau kita bersatu Wiryo bisa diselamatkan,” (SAMBIL BERCELUTUK)

Sementara itu, ikatan Wiryo dilepas dari pohon dan diarak menuju ke hutan. Tidak ada satupun yang berani membela Wiryo. Bahkan saat pasukan penembak sudah siap pada posisinya, belum ada satupun warga yang tersentuh hatinya untuk membela Wiryo. Dengan nekat Wirya berlari ke arah Wiryo dan berdiri di depannya.

Tuan William             : “Cepat lepas ikatannya dan arak menuju hutan dan bersiap di posisi masing-masing.” (MEMBERI PERINTAH PADA  PASUKAN PENEMBAK)

Pasukan Penembak    : “ Siap Tuan !”

Wirya                         : “TUNGGU….!!!” (NEKAT BERLARI KE ARAH WIRYO DAN BERDIRI DI DEPANNYA)

Tuan William             : “Hei ! Siapa kau pemuda pribumi ?” (MENGHARDIK WIRYA)

Wirya                         : “Penduduk semua ! Wiryo adalah pahlawan kalian. Mengapa sekarang kalian tidak berusaha untuk menolongnya ? Bersatulah dan kalian akan menang !” (BERTERIAK LANTANG SAMBIL MERENTANGKAN KEDUA TANGANNYA)

Wiryo                        : “Siapa kau ?” (KEHERANAN)

Wirya                         : “ Nyawa teman kami terancam kalau sampai kau ditembak,”

Wiryo                        : “Jadi usahaku untuk menghubungi masa depan berhasil.” (MENGUCAP DALAM HATI)

Tuan William             : “Minggir atau kami juga kan menembakmu !” (BERTERIAK)

Pasukan Penembak    : “Pasukan siap !” (MENGANGKAT SENAPAN DAN SIAP PADA POSISI MENEMBAK SETELAH MENDENGAR PERINTAH TUANNYA)

Yolan                         : “Rasanya semua usahaku sia-sia saja. Wirya cepat ! Tidak ada gunanya lagi. Waktu kita habis, kita harus pulang sebelum terlambat !”(BERTERIAK SAMBIL MELIHAT JALAN MENUJU JAMANNYA YANG SINAR LILINNYA SEMAKIN REDUP)

Percuma. Sekuat-kuatnya Yolan berteriak, suara keributan penduduk mengalahkan teriakannya itu. Sedangkan peluru mulai dimuntahkan dari larasnya. Sementara itu, di dunia nyata 13 lilin yang menyala di tengah lingkaran Nenek, Marshall, Erni dan Wina nyalanya semakin redup dan tak lama kemudian nyalanya padam. Sama sekali padam !

Oleh: Heru Subrata

“PERTENGKARAN”

Posted: 18 Desember 2009 in Naskah Drama Anak

Di tengah terik matahari, 2 orang sahabat sedang mencari rumah kontrakan mereka tidak menghiraukan jalan raya yang terik menggang. Dengan ditemani sekitarnya mereka jalan-jalan pintas untuk menghindari keramaian dan kemacetan. Dengan semangat kesetiakawanan mereka menyusuri jalan di pelosok-pelosok untuk mencari rumah yang dituju, tetapi perjuangan mereka sia-sia, akhirnya mereka menemukan rumah yang dicari meskipun tidak berhasil menempatinya.

Eko            : “Apakah jadi kita mencari rumah kontrakan?”

Harun         : “Ya jadilah … akukan butuh rumah itu.”

Eko            : “Lalu kapan kita berangkat …?”

Harun         : “Pagi ini bisa … ?”

Eko            : “Baiklah, saya siap-siap dulu seperempat jam lagi saya jemput.”

Harun         : “OK …. ! Saya tunggu.”

Di tengah perjalanan, mereka melewati jalan raya yang telah ramai dan macet.

Saya              : “Kurang ajar! Coba tadi kita lewat jalan garuda!”

Teman saya   : “Naik saja ke trotoar. Kita tuntun.”

Saya              : “Kurang ajar! Coba tadi kita lewat jalan garuda!”

Teman saya   : “Naik saja ke trotoar. Kita tuntun.”

Saya              : “Ya, nanti kalau ada trotoar kita lewat sana saja.”

Teman saya   : “Nah itu ada rentetan tali pekerja jalanan, kita serobot saja.”

Kemudian mereka menuntun sekuternya, sekitar dua puluh meter dari situ mereka menemukan jalan yang lapang kemudian mereka kembali menaiki kendaraan. Ketika mereka berkecepatan tinggi, tiba-tiba orang yang dibonceng berseru:

Eko            : “Awas sebentar lagi belok!” (TERIAK SESEORANG DARI BELAKANG)

Harun         : “Jalan yang mana?” (SAMBIL TERIAK)

Eko            : “Apa?” (SAMBIL TERIAK JUGA)

Harun         : “Jalan yang mana? Kiri atau kanan?”

Eko            : “Ya! sekarang belok kiri! Belok kiri! Awas! Ada mobil di belakang!”

(SAYA TUNGGU MOBIL ITU LALU, ALNTAS SAYA MENEYBERANG DAN MASUK KE GANG TAK BERASPAL. BEBERAPA PULUH METER SAYA MENAIKI KENDARAAN, TAPI SAMPAI PADA SEBUAH BELOKAN NAMPAK ANAK-ANAK YANG RAMAI DI JALAN. DISITUPUN GANG ITU MAKIN SEMPIT, LALU SAYA TURUN DAN SAYA DORONG SKUTER SAYA)

Harun         : “Masih jauh?” (TANYA SAYA LAGI SAMBIL TERIAK)

Eko            : “Sudah dekat! Nah, tu! Rumah yang didepannya ada pohon belimbing.”

Harun         : “Sungguh menyesal dibawa melihat rumah sejauh ini ke dalam. Kalau tidak akrena menenggang kawan saya sudah ingin kembali saja.” (MENGGERUTU SAMBIL BERJALAN KE BAWAH POHON UNTUK BERTEDUH).

Eko            : “Nah, sampai! sekarang .” (SAMBIL MENGELUARKAN SAPU TANGAN UNTUK MENYEKA MUKANYA).

Harun         : “Ini rumahnya?” (RAGU DAN TAK PERCAYA)

Eko            : “Ya! Mari masuk!”

(KEDUANYA MASUK KE PEKARANGAN RUMAH ITU)

Harun         : (MASIH MEMANDANGI RUMAH ITU)

“Baiklah, mari kita lihat kesana!”

Eko            : “Tok…. Tok…. Tok…. (MENGETUK PINTU DAN SAYA MENGIKUTI DI BELAKANG SAMBIL LONGAK-LONGOK KE SAMPING MENYAMPING RUMAH).

Kemudian ada seorang perempuan menjulurkan kepala dari balik pintu. Kemudian ia memperhatikan saya, saya membungkuk hormat, ia membalas menganggu, lalu mundur.

Perempuan    : “Silakan masuk.” (KAMIPUN MASUK LALU DUDUK DI RUANG TAMU)

(SI PEREMPUAN MASUK KE DALAM RUMAH DAN BEBERAPA SAAT KEMUDIAN KELUAR LAHI KE RUANG TAMU DAN DUDUK BERSAMA KAMI. KEMUDIAN TEMAN SAYA MEMBEBERKAN MAKSUD TUJUANNYA).

Bu Mira         : “Apa om tidak tahu kalau rumah ini sudah saya kontrak. Seharusnya om bicarakan dulu ini dengan pemiliki rumah. Lalu bersama dia om datang melihat-lihat kesini.”

Eko               : “Sudah juga saya bicarakan dengan yang empunya. Rumahnya persis di sebelah rumah saya.”

Bu Mira         : “Tapi ia harus datang kesini. Kalau tak bersama-sama, ia sendiri harus memberitahukan saya tentang maksudnya menjual rumah ini.”

Eko               : “Tapi Zus, kami hanya permisi untuk melihat-lihat saja dulu.” (DENGAN MENGUSAPKAN SAPUTANGAN KE MUKANYA).

Bu Mira         : “Ya meskipun untuk melihat, tapi harus juga diberi tahu lebih dulu kepada saya. Saya si penyewa yang sah di rumah ini. Berarti rumah ini tak boleh seenaknya saja mau dijual atau doperkan si pemilik tanpa sepengetahuan dan persetujuan saya.”

Eko               : “Maaf saja, Zus kalau pemilik tak sempat permisi, biarlah sekarang kami yang minta permisi untuk melihat-lihat.”

Bu Mira         : “Tidak bisa begitu!” (SAMBIL BERDIRI DAN DENGAN NADA TINGGI) “Kau tahu, ha!?” kau tahu, ha?!” (SAMBIL MENUDING-NUDING DAN TANGAN MEMEGANG PINGGANG).

Telah berpuluh-puluh calo datang merongrong kemari untuk melihat rumah ini. Datang yang ini ingin melihat. Datang yang itu untuk memeriksa. Datang yang anu ingin melihat dan memaksa masuk ke tiap kamar. Dan mereka datang tanpa merperdulikan waktu. Ada yang pagi, ada yang siang ketika orang sedang istirahat, ada pula yang malam. Pusing! Pusing saya memikirkan!” (SAMBIL MELETAKKAN TAPAK TANGAN KE ATAS MEJA SEPERTI INGIN MENAMPAR NAMPAKNYA)

Harun            : “Ehm … ehm…, hilag sudah harapan.”

(PIKIRNYA DALAM HATI SAMBIL BANGKIT PELAN DARI DUDUKNYA DAN BERNIAT UNTUK MELARIKAN DIRI DARI PERCAKAPAN)

Bu Mira         : “Coba! Coba! Siapa yang tak pusing dibikin begitu ha ?”

Eko               : “Tapi, Zus, ehm, sesungguhnya rumah ini sudah mau kami jual. Ehm, maksud saya kami bersaudara yang mewarisi rumah ini sejak ibu kami meninggal kira-kira 10 bulan lalu.”

(DENGAN SUARA YANG DALAM DAN DI TENANG-TENANGKAN)

Bu Mira         : “Ha?” (TERKEJUT DAN JADI PELAN)

“Jadi ….. rumah ini warisan beberapa saudara? Jadi om ikut memiliki rumah ini?”

Eko               : “Benar, Zus.” (DENGAN NADA KEMENANGAN)

“Sesungguhnya abang kami Atang, yang menyewakan rumah ini tanpa berunding masak dengan kami saudara-saudaranya. Ada 3 orang kami bersaudara dan saya yang bungsu. Sesungguhnya rumah ini ingin kami jual, sebab bikin sengketa saja pada kami. Kalau dijual dapat dibagiuang penjualannya. Maaf saja, Zus, saya tidak segera menjelaskannya tadi pada Zus.”

Seketika suasana menjadi hening, beberapa lama kemudian:

Bu Mira         : “Meskipun begitu saya telah resmi menjadi penyewa rumah ini. Ada tanda tangan RT dari RK sekalian. Kalian belum bisa menjual begitu saja sebelum saya dicarikan rumah yang betul-betul cocok pada saya, sama seperti rumah ini.”

Eko               : “Tapi, Zus ……”

Bu Mira         : “Tapi kenapa? Apa om keberatan dengan permintaan ganti rugi saya….!”

Eko               : “Sebenarnya bukan keberatan, tapi saya merasa saya tidak ikut menyewakan rumah ini, jadi yang seharusnya bertanggung jawab adalah abang saya.”

Bu Mira         : “Trus bagaimana saya bisa menemui abang om.”

Eko               : “Ya coba nanti saya hubungi beliau.”

Bu Mira         : “OK, kalau begitu, saya baru mau pindah kalau sudah dapat ganti rugi.”

Eko               : “Saya mohon pamit dulu dan terima kasih atas toleransinya.”

‘Jejak Hitam Bidadari Biru’

Posted: 10 Desember 2009 in Naskah

JOleh: Heru Subrata
PARA PEMERAN

Arum : tokoh utama
Si mbok : pemeran pembantu
Bapak : pemeran pembantu
Mbak Sinta : pemeran pembantu
Mas Hikam : pemeran pembantu
Johan : pemeran pembantu
Kan Kristin : pemetan pembantu
Juragan : tokoh antagonis
Tante Narie : tokoh antagonis
Bang Dosor : tokoh antagonis

Narator : Arum gadis belia yang penuh bakti dan semangatnya memberikan pengabdian kepada kedua orang tuanya, anak sulung dari tiga bersaudara keluarga miskin ini terpaksa menghentikan sekolahnya hanya di bangku SMP, ia merantau ke Kota seberang untuk mencari nafkah dan melunasi hutang-hutang orang tuanya

BABAK KE I

BRAK…..BRAK….. … SUARA GADUH DI RUANG TAMU

Si mbok : jangan tuan, ampun juragan kami jangan diusir, kami akan melunasi hutang-hutang kami secepat mungkin.. (MENANGIS DAN BERLUTUT MEMOHON JURAGAN MENGASIHANINYA)

Juragan : aaaah……….. alasan sampai kapan kamu akan menunda untuk melunasi hutang-hutangmu? Sampai kapan? BRAK… BRAK… MASIH SAJA MEMBANTING MEJA DAN KURSI SI MBOkK BERLALU PERGI MENINGGALKAN RUMAH SIMBOK DENGAN WAJAH MARAH DAN MEMERAH

Arum : mbok…… arum kepengen kerjo (MEMOTONG DAUN SINGKONG DI BALE-BELE BELAKANG RUMAHNYA)

Si mbok : mau kerjo opo nduk? Mau kerja kemana? (MENOLEH SEBENTAR KEMUDIAN MELANJUTKAN MENUMBUK PADI DI LESUNG YANG SUDAH USANG ITU)

Arum : Rum gak mau seperti ini buk, rum gak mau hidup kita dikejar-kejar juragan sialan itu, rum benci buk! (MATANYA MENETESKAN AIR MATA). Rum…rum.. hanya pengen ibu, bapak, adek bahagia (AIR MATA TAK KAUASA IA BENDUNG LAGI, MATANYA MEMERAH HATINYA SAKIT MELIHAT JURAGAN ITU MEMPORAK-PORANDAKAN RUMAHNYA)

Si Mbok : lha iya mau kerja kemana? (BERUSAHA AGAR AIR MATANYA TAK JATUH MEMBASAHI BUTIR-BUTIR PADI YANG IA TUMBUK)

Bapak : mau kerja kemana nduk? ( MENYELA PEMBICARAAN MEREKA).

ARUM : Rum kepingin ikut tante Narie ke mbatam bersama temen-temen rum yang lain, katanya disana kami dijanjikan akan dipekerjakan di sebuah restoran pak! (MENGUSAP AIR MATANYA)

Si Mbok :karepmu piye tonduk? (MENJELASKAN DENGAN KEBINGUNGANNYA)
TanteNarie : permisi…!!!! (MENGETUK PINTU RUMAH ARUM)

Arum : e…… tante narie monggo-monggo pinarak (MEMBENAHI KURSI-KURSI YANG BERSERAKAN)

Tante Narie : jadi kamu ikut saya rum? Besok kita berangkat ke batam, disana banyak anak-anak dari desa sini kokjangan kuwatir. (MEYAKINKAN ARUM)

Arum : iya tante si mbok dan bapak sudah megijinkan, tapi…. Apa benar arum kerja di restoran? (MENEGASKAN)

Tante Narie : ya… iya banyak kok (GUGUP SEPERTI MENYEMBUNYIKAN SESUATU)

Si Mbok : ati-ati nduk? Disana kota asing ojo neko-neko yo? (KUWATIR)

Arum : mbok, pak , rum pamit (MEMBAWA TAS DAN KARDUS) ARUM DAN TEMAN-TEMAN BERANGKAT MELALUI PELABUHAN PAGI-PAGI DENGAN BEKAL SEADANYA.

BABAK KE II

Arum : tante ini tempat apa? (MEMANDANG SEKELILINGNYA YANG TAMPAK ASING, BANYAK GADIS-GADIS BERDANDAN MENOR DAN MUSIK-MUSIK YANG MEMBUAT HATI MAKIN MEMBUAT PERASAANNYA TAK TENANG)

Tante Narie : sudah lah nurut saja pada tante kamu pasti banya uang, Kris bawa gadis ini dan bantu dia untuk berhias (MENYALAKAN API ROKOK SAMBIL DUDUK DI KURSI)
Kak Kristin : ayo ku antarkan kamu ke kamarmu. Perkenalkan saya kristin teman sekamarmu. (METEKA BERJALAN MENUJU KAMAR)

Arum : kita kerjanya apa kak kok harus dandan seperti ini ( MERASA RISIH DENGAN BAJU SEKSI YANG DIKENAKANNYA)

Kak Kristin : kamu pastitausendiri nanti (TERSENYUM)

Tante Narie : wah…wah… gadis cantik ini kamu akan menjaditambang emas disini. Bagus.. bagus.. sekarang kamu lihat bule di pojok kursi depan dan kamu tunggu dia dikamar nomor lima, layani dia, kamu pasti punya banyak uang (MENEGUK MINUMAN KERAS)

Bule : namamu siapa gadis cantik? (MEMEGANG DAGU LANCIP ARUM, WAJAHNYA BENGIS PENUH NAFSU) jangan takut gadis cantik duduk sini dekat aku.

Arum : A…A….rrum tuan! (KETAKUTAN MENCOBA DUDUK DI DEKAT LAKI-LAKI BULE KETURUNAN SINGAPURA ITU)

Bule : ayo sayaang… ayolah jangan takut…. (MENAMPAKKAN SIFAT ASLINYA)

Arum : tidak…jangan tuan… (MERINTIH MERATAPI NASIPNYA, SETELAH LAKI-LAKI BENGIS ITU MENCAMPAKKANYA DAN MENINGGALKAN SEGEBOK UANG UNTUK ARUM)

Kak Kristin : sudahlah rum, jangn menangis terus… lama-lama pastikamuakan terbiasa dengan keadaan ini, usap air matamu, minum ini mau rokok? (MENENANGKAN ARUM)

ARUM : Tt…tapi rum gak mau begini kak, tante kristin membohongiku..

Kak Kristin : yang penting sekarang kita bisa kirim uang untuk keluarga kita, aku juga duluseperti itu ( MERANGKUL ARUM YANG SEDANG MENANGIS)

Tante Narie : lho masih bengong disini? Ayo para pelanggan sudah menunggu antri aaah… (MENGHARDIK)

Arum : Rum gak kuat mbak.. rum pengen pulang rum gak tahan dengan keadaan ini batin rum tersiksa mbak… (AIR MATANYA HABIS DIMAKAN WAKTU0

Kak Kristin : tenang (SERAYA BERFIKIR) oh aku punya ide ini adatiket pesawat terbang jam 5 sore nanti akan menuju ke Jakarta. Pergilah sebelum bang dosor si bodiguart it bangun dan mencarimu

Arum : terima kasih, tapi kaaak kristin?

Kak kristin :tenanglah jangan kuatirkan aku, cepat waktunya mrndesak.

BABAK III

Johan : mau kemana mbak?? Kelihatanyya kok gelisah? (MEMPERHATIKAN TINGKAH ANEH ARUM YANG MONDAR – MANDIR TAMPAK GELISAH)

Arum : ke Jakarta mas… mas… tolong orang itu jahat.. (ARUM MELIHAT BANG DOSOR MENGHAMPIRINYA)

Johan : ada apa mbak (BINGUNG

Bang Dosor : mamu kemana kau dasar perempuan jalang, tidak tau di untung ayo… tante mencarimu… (MENGGELANDANG ARUM)

Arum : tidak….. kalian jahat, tolong…tolong saya…

Johan : ada apa ini? Siapa anda? Kenapa anda kasar pada perempuan?

Bang Dosor : dia adik saya perempuan ini tidak tau untung, dasar pelacur.. (MENAMPAR ARUM)

Arum : tidaaak.. aku bukan pelacur aku dipaksa dan dijebak, aku dipekerjakan oleh orang ini di tempat yang tek pernah aku inginkan. (MENUMPAHKAN SEMUA AMARAHNYA)

Johan : Ooooo… begitu ya? (MEMUKUL DOSORDENGAN SEKAT TENAGA DAN MERINGKUSNYA SERTA MEMBAWANYA KE KANTOR POLISI)

BABAK IV

KARENA BERITA ITU NAMA ARUM TERCEMAR DI DESANYA IA PERGI MENENANGKAN DIRI KERUMAHPAMANNYA DI JAKARTA. DISANA DIA BERUSAHA MEMPERBAIKI DIRINYA, BERIBADAH, SERING IKUT PENGAJIAN DANKEGIATAN-KEGIATAN YANG BERBAU RELIGI

Arum : mbok! Arum gak tahan dengan ejekan orang mbok, semakin hari semakin menyebar gosip ini…
Mbok : sabar nduk cah ayu… ilingo karo send nduwe urip. (MENASEHATI)
Arum : Rum berangkat pengajian mbok..
Shinta : dek Rum! Sendirian nich? Mana teman-temannya?
Arum : mbak sinta, iya sendirian mbak. Mbak sendiri gak di antarmas catur?
Sinta : tidak, mas catur sedang keluar kota tugas perusahaan. Oh ya sekarang kerja di mana?
Arum : di toko kelontong bantu paman mbak.
Sinta : mau kerja sama saya? Kebetulantoko busana muslim mbak membutuhkan karyawan.
Arum : O… dengan senang hati mbak.
Shinta : yah… nanti setelah pengajian kita langsung ke toko, bisa kan kalau hari ini kamu mulaibekerja?
Arum : iya mbak.
Hikam : Assalamualaikum…..
Arum : wa’alaikum salamada yang bisa saya bantu? (SAMBIL MENATA GAUN-GAUN DI ETALASE)
Shinta : aduh mas hikam kemana aja kok gak pernah mampir ke tokombak?
Hikam : iya mbak lagi sibuk membuat skripsi, jadi gak ada waktu untuk jalan-jalan. Oh ya mbak! Karyawan baru ni?
Shinta : iya kenalkan namanya Arum.
Hikam : saya Hikam pelanggan disini. (MATANYA MENATAP ARUM PENUH MAKNA)
Arum : (TERSENYUM) saya Arum.. ada yang perlu dibantu?
Shinta : ini rum bungkuskan kado ini (MEMERINTAH ARUM)
Hikam : eeeeh… terimakasih pelayanannya mbak, saya pulang dulu.
Shinta : TILILILILILIT hallo Assalamualaikum dengan butik syifa, ada yang bisa ku dibantu?
Hikam : wa’alaikumsalam.. saya hikam mbak.. mbah adawaktu hari ini?kalau ada kita kemu besok di butik mbak, saya mau bicara tentang mbak Arum.
Shinta : ya sampaiketemu besok di butik. Wa’alaikumsalam.
Shinta : lho pagi-pagi udah sampai disini? Ada apa sich kelihatannya penting sekali?
Hikam : mbak ini tentang arum… kurasakan diawanita istimewa dihati saya. Saya menemukan gadis idamanku yang selama ini kucari, dia sibidadari biru hatiku mbak, saya hendak meminangnya. Tolong tanyakan pada arum apakah dia sudah punya calon?
Shinta : Insya Allah dek.
Hikam : kalau begitu hikam pulang dulu ya mbak
Shinta : iya dek nanti saya sampaikan ke dek Arum yach, hati-hati di jalan sampaikan salamku ke ibu dek hikam
Hikam : iya mbak. Terima kasih sebelumnya
Shinta : lho kapan datang? (KAGET MELIHAT ARUM SUDAH LAMA DIGUDANG BELAKANG). Oh ya tadi Hikam kemari diamebicarakan dirimu, bagaimana rum? Dia ingin kamu jadi pendamping hidupmu? Jangan dijawab sekarang dipikirkan dulu..
Arum : mbak… (NADANYA LIRIH) arum punya rahasia boleh saya cerita pada mbak? Tapi saya harap mbak bisa menyimpan rahasia ini.
Shinta : iya… InsyaAllah
Arum : arum sudah gak sucilagimbak (MATANYA BERKACA-KACA) Arum pernah dipaksa untuk melayani laki-laki hidung belang di kota Batam. Arum dutipu mbak, arumdi jebak oleh orang yang membawa rum ke Batam.. (TANGISNYA TERSEDU HINGGA TAK MAMPU MELANJUTKAN CERITANYA)
Shinta : Masya Allah ……. Saya tak pernahmenduga cobaanmubegitu berat, maafkan mbak rum mbak gak pernah tahu semuanya.
Arum : E…em soalmas hikam bagaimana mbak? Arum merasa takpantas buat mas Hikam… keJEJAK HITAM BIDADARI BIRU
OLEH:
HURRIYATURROSYIDAH
(061644252)

PARA PEMERAN

Arum : tokoh utama
Si mbok : pemeran pembantu
Bapak : pemeran pembantu
Mbak Sinta : pemeran pembantu
Mas Hikam : pemeran pembantu
Johan : pemeran pembantu
Kan Kristin : pemetan pembantu
Juragan : tokoh antagonis
Tante Narie : tokoh antagonis
Bang Dosor : tokoh antagonis

Narator : Arum gadis belia yang penuh bakti dan semangatnya memberikan pengabdian kepada kedua orang tuanya, anak sulung dari tiga bersaudara keluarga miskin ini terpaksa menghentikan sekolahnya hanya di bangku SMP, ia merantau ke Kota seberang untuk mencari nafkah dan melunasi hutang-hutang orang tuanya

BABAK KE I

BRAK…..BRAK….. … SUARA GADUH DI RUANG TAMU

Si mbok : jangan tuan, ampun juragan kami jangan diusir, kami akan melunasi hutang-hutang kami secepat mungkin.. (MENANGIS DAN BERLUTUT MEMOHON JURAGAN MENGASIHANINYA)

Juragan : aaaah……….. alasan sampai kapan kamu akan menunda untuk melunasi hutang-hutangmu? Sampai kapan? BRAK… BRAK… MASIH SAJA MEMBANTING MEJA DAN KURSI SI MBOkK BERLALU PERGI MENINGGALKAN RUMAH SIMBOK DENGAN WAJAH MARAH DAN MEMERAH

Arum : mbok…… arum kepengen kerjo (MEMOTONG DAUN SINGKONG DI BALE-BELE BELAKANG RUMAHNYA)

Si mbok : mau kerjo opo nduk? Mau kerja kemana? (MENOLEH SEBENTAR KEMUDIAN MELANJUTKAN MENUMBUK PADI DI LESUNG YANG SUDAH USANG ITU)

Arum : Rum gak mau seperti ini buk, rum gak mau hidup kita dikejar-kejar juragan sialan itu, rum benci buk! (MATANYA MENETESKAN AIR MATA). Rum…rum.. hanya pengen ibu, bapak, adek bahagia (AIR MATA TAK KAUASA IA BENDUNG LAGI, MATANYA MEMERAH HATINYA SAKIT MELIHAT JURAGAN ITU MEMPORAK-PORANDAKAN RUMAHNYA)

Si Mbok : lha iya mau kerja kemana? (BERUSAHA AGAR AIR MATANYA TAK JATUH MEMBASAHI BUTIR-BUTIR PADI YANG IA TUMBUK)

Bapak : mau kerja kemana nduk? ( MENYELA PEMBICARAAN MEREKA).

ARUM : Rum kepingin ikut tante Narie ke mbatam bersama temen-temen rum yang lain, katanya disana kami dijanjikan akan dipekerjakan di sebuah restoran pak! (MENGUSAP AIR MATANYA)

Si Mbok :karepmu piye tonduk? (MENJELASKAN DENGAN KEBINGUNGANNYA)
TanteNarie : permisi…!!!! (MENGETUK PINTU RUMAH ARUM)

Arum : e…… tante narie monggo-monggo pinarak (MEMBENAHI KURSI-KURSI YANG BERSERAKAN)

Tante Narie : jadi kamu ikut saya rum? Besok kita berangkat ke batam, disana banyak anak-anak dari desa sini kokjangan kuwatir. (MEYAKINKAN ARUM)

Arum : iya tante si mbok dan bapak sudah megijinkan, tapi…. Apa benar arum kerja di restoran? (MENEGASKAN)

Tante Narie : ya… iya banyak kok (GUGUP SEPERTI MENYEMBUNYIKAN SESUATU)

Si Mbok : ati-ati nduk? Disana kota asing ojo neko-neko yo? (KUWATIR)

Arum : mbok, pak , rum pamit (MEMBAWA TAS DAN KARDUS) ARUM DAN TEMAN-TEMAN BERANGKAT MELALUI PELABUHAN PAGI-PAGI DENGAN BEKAL SEADANYA.

BABAK KE II

Arum : tante ini tempat apa? (MEMANDANG SEKELILINGNYA YANG TAMPAK ASING, BANYAK GADIS-GADIS BERDANDAN MENOR DAN MUSIK-MUSIK YANG MEMBUAT HATI MAKIN MEMBUAT PERASAANNYA TAK TENANG)

Tante Narie : sudah lah nurut saja pada tante kamu pasti banya uang, Kris bawa gadis ini dan bantu dia untuk berhias (MENYALAKAN API ROKOK SAMBIL DUDUK DI KURSI)
Kak Kristin : ayo ku antarkan kamu ke kamarmu. Perkenalkan saya kristin teman sekamarmu. (METEKA BERJALAN MENUJU KAMAR)

Arum : kita kerjanya apa kak kok harus dandan seperti ini ( MERASA RISIH DENGAN BAJU SEKSI YANG DIKENAKANNYA)

Kak Kristin : kamu pastitausendiri nanti (TERSENYUM)

Tante Narie : wah…wah… gadis cantik ini kamu akan menjaditambang emas disini. Bagus.. bagus.. sekarang kamu lihat bule di pojok kursi depan dan kamu tunggu dia dikamar nomor lima, layani dia, kamu pasti punya banyak uang (MENEGUK MINUMAN KERAS)

Bule : namamu siapa gadis cantik? (MEMEGANG DAGU LANCIP ARUM, WAJAHNYA BENGIS PENUH NAFSU) jangan takut gadis cantik duduk sini dekat aku.

Arum : A…A….rrum tuan! (KETAKUTAN MENCOBA DUDUK DI DEKAT LAKI-LAKI BULE KETURUNAN SINGAPURA ITU)

Bule : ayo sayaang… ayolah jangan takut…. (MENAMPAKKAN SIFAT ASLINYA)

Arum : tidak…jangan tuan… (MERINTIH MERATAPI NASIPNYA, SETELAH LAKI-LAKI BENGIS ITU MENCAMPAKKANYA DAN MENINGGALKAN SEGEBOK UANG UNTUK ARUM)

Kak Kristin : sudahlah rum, jangn menangis terus… lama-lama pastikamuakan terbiasa dengan keadaan ini, usap air matamu, minum ini mau rokok? (MENENANGKAN ARUM)

ARUM : Tt…tapi rum gak mau begini kak, tante kristin membohongiku..

Kak Kristin : yang penting sekarang kita bisa kirim uang untuk keluarga kita, aku juga duluseperti itu ( MERANGKUL ARUM YANG SEDANG MENANGIS)

Tante Narie : lho masih bengong disini? Ayo para pelanggan sudah menunggu antri aaah… (MENGHARDIK)

Arum : Rum gak kuat mbak.. rum pengen pulang rum gak tahan dengan keadaan ini batin rum tersiksa mbak… (AIR MATANYA HABIS DIMAKAN WAKTU0

Kak Kristin : tenang (SERAYA BERFIKIR) oh aku punya ide ini adatiket pesawat terbang jam 5 sore nanti akan menuju ke Jakarta. Pergilah sebelum bang dosor si bodiguart it bangun dan mencarimu

Arum : terima kasih, tapi kaaak kristin?

Kak kristin :tenanglah jangan kuatirkan aku, cepat waktunya mrndesak.

BABAK III

Johan : mau kemana mbak?? Kelihatanyya kok gelisah? (MEMPERHATIKAN TINGKAH ANEH ARUM YANG MONDAR – MANDIR TAMPAK GELISAH)

Arum : ke Jakarta mas… mas… tolong orang itu jahat.. (ARUM MELIHAT BANG DOSOR MENGHAMPIRINYA)

Johan : ada apa mbak (BINGUNG

Bang Dosor : mamu kemana kau dasar perempuan jalang, tidak tau di untung ayo… tante mencarimu… (MENGGELANDANG ARUM)

Arum : tidak….. kalian jahat, tolong…tolong saya…

Johan : ada apa ini? Siapa anda? Kenapa anda kasar pada perempuan?

Bang Dosor : dia adik saya perempuan ini tidak tau untung, dasar pelacur.. (MENAMPAR ARUM)

Arum : tidaaak.. aku bukan pelacur aku dipaksa dan dijebak, aku dipekerjakan oleh orang ini di tempat yang tek pernah aku inginkan. (MENUMPAHKAN SEMUA AMARAHNYA)

Johan : Ooooo… begitu ya? (MEMUKUL DOSORDENGAN SEKAT TENAGA DAN MERINGKUSNYA SERTA MEMBAWANYA KE KANTOR POLISI)

BABAK IV

KARENA BERITA ITU NAMA ARUM TERCEMAR DI DESANYA IA PERGI MENENANGKAN DIRI KERUMAHPAMANNYA DI JAKARTA. DISANA DIA BERUSAHA MEMPERBAIKI DIRINYA, BERIBADAH, SERING IKUT PENGAJIAN DANKEGIATAN-KEGIATAN YANG BERBAU RELIGI

Arum : mbok! Arum gak tahan dengan ejekan orang mbok, semakin hari semakin menyebar gosip ini…
Mbok : sabar nduk cah ayu… ilingo karo send nduwe urip. (MENASEHATI)
Arum : Rum berangkat pengajian mbok..
Shinta : dek Rum! Sendirian nich? Mana teman-temannya?
Arum : mbak sinta, iya sendirian mbak. Mbak sendiri gak di antarmas catur?
Sinta : tidak, mas catur sedang keluar kota tugas perusahaan. Oh ya sekarang kerja di mana?
Arum : di toko kelontong bantu paman mbak.
Sinta : mau kerja sama saya? Kebetulantoko busana muslim mbak membutuhkan karyawan.
Arum : O… dengan senang hati mbak.
Shinta : yah… nanti setelah pengajian kita langsung ke toko, bisa kan kalau hari ini kamu mulaibekerja?
Arum : iya mbak.
Hikam : Assalamualaikum…..
Arum : wa’alaikum salamada yang bisa saya bantu? (SAMBIL MENATA GAUN-GAUN DI ETALASE)
Shinta : aduh mas hikam kemana aja kok gak pernah mampir ke tokombak?
Hikam : iya mbak lagi sibuk membuat skripsi, jadi gak ada waktu untuk jalan-jalan. Oh ya mbak! Karyawan baru ni?
Shinta : iya kenalkan namanya Arum.
Hikam : saya Hikam pelanggan disini. (MATANYA MENATAP ARUM PENUH MAKNA)
Arum : (TERSENYUM) saya Arum.. ada yang perlu dibantu?
Shinta : ini rum bungkuskan kado ini (MEMERINTAH ARUM)
Hikam : eeeeh… terimakasih pelayanannya mbak, saya pulang dulu.
Shinta : TILILILILILIT hallo Assalamualaikum dengan butik syifa, ada yang bisa ku dibantu?
Hikam : wa’alaikumsalam.. saya hikam mbak.. mbah adawaktu hari ini?kalau ada kita kemu besok di butik mbak, saya mau bicara tentang mbak Arum.
Shinta : ya sampaiketemu besok di butik. Wa’alaikumsalam.
Shinta : lho pagi-pagi udah sampai disini? Ada apa sich kelihatannya penting sekali?
Hikam : mbak ini tentang arum… kurasakan diawanita istimewa dihati saya. Saya menemukan gadis idamanku yang selama ini kucari, dia sibidadari biru hatiku mbak, saya hendak meminangnya. Tolong tanyakan pada arum apakah dia sudah punya calon?
Shinta : Insya Allah dek.
Hikam : kalau begitu hikam pulang dulu ya mbak
Shinta : iya dek nanti saya sampaikan ke dek Arum yach, hati-hati di jalan sampaikan salamku ke ibu dek hikam
Hikam : iya mbak. Terima kasih sebelumnya
Shinta : lho kapan datang? (KAGET MELIHAT ARUM SUDAH LAMA DIGUDANG BELAKANG). Oh ya tadi Hikam kemari diamebicarakan dirimu, bagaimana rum? Dia ingin kamu jadi pendamping hidupmu? Jangan dijawab sekarang dipikirkan dulu..
Arum : mbak… (NADANYA LIRIH) arum punya rahasia boleh saya cerita pada mbak? Tapi saya harap mbak bisa menyimpan rahasia ini.
Shinta : iya… InsyaAllah
Arum : arum sudah gak sucilagimbak (MATANYA BERKACA-KACA) Arum pernah dipaksa untuk melayani laki-laki hidung belang di kota Batam. Arum dutipu mbak, arumdi jebak oleh orang yang membawa rum ke Batam.. (TANGISNYA TERSEDU HINGGA TAK MAMPU MELANJUTKAN CERITANYA)
Shinta : Masya Allah ……. Saya tak pernahmenduga cobaanmubegitu berat, maafkan mbak rum mbak gak pernah tahu semuanya.
Arum : E…em soalmas hikam bagaimana mbak? Arum merasa takpantas buat mas Hikam… keadaan arum sepertiini mbak, arum takut suatusaatnantibisa menimbulkan fitnah..
Shinta : justru dengan keadaanmu yangsekaran kamu harus segera menikah.
Arum : Tapi mbak?
Shinta : cobalah bicarakan baik-baik Insya Allah Hikam mau menerima… kamu yang tegar yanch… (MEREKA MENUTUP KORDEN DAN JENDELA TOKO KARNA WAKTUSUDAH MULAI GELAP)

adaan arum sepertiini mbak, arum takut suatusaatnantibisa menimbulkan fitnah..
Shinta : justru dengan keadaanmu yangsekaran kamu harus segera menikah.
Arum : Tapi mbak?
Shinta : cobalah bicarakan baik-baik Insya Allah Hikam mau menerima… kamu yang tegar yanch… (MEREKA MENUTUP KORDEN DAN JENDELA TOKO KARNA WAKTUSUDAH MULAI GELAP)

Separuh Jiwaku Pergi

Posted: 16 November 2009 in Naskah Drama

Anang – Separuh Jiwaku Pergi

Separuh Jiwaku Pergi
Memang indah semua
Tapi berakhir luka

Reff:
Benar ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku

Kau bilang tak pernah bahagia
Selama dengan aku
Itu ucap bibirmu
Kau dustakan semua
Yang kita bina
Kau hancurkan semua

Lirik Lagu Anang – Separuh Jiwaku Pergi ini dipersembahkan oleh Istanalagu.com ( Free Download Mp3 Gratis Lirik & Video Clip ). Kunjungi Juga Songspalace.com ( Song Lyrics ) Untuk mendapatkan Lyrics lagu barat dan video clipnya.

“Andai”

Posted: 10 September 2009 in Naskah Drama

Andai aku bisa
Menggapai mawar jingga, yang tertepis merona
Yang tertiup angin barat di antara tebing2 terjal
Yang berdiri menggapai awan sambil sesekali berdesah lirih..
Pada pilu yang menusuk iga pagi itu

Andai aku bisa
Menabur bulir air kesejukan pada wajah memerah
Wajahmu, wajah bidadari mimpi yang selalu hadir
Pada mimpi-mimpi bisu kala itu

Andai aku bisa
Merengkuh batas angan tuk bunga yang tercampakkan
Tuk asa yang kian tenggelam
Menyatu dalam kasih, seremoni rindu

Andai aku bisa,
Ya andai bisa aku
Melukis di air mata dera kesedihan
Lalu, aku ingin menyanyikan sebuah lagu
Untukmu juwitaku…selamanya.

Surabaya, 10 September 2009

Tegak 17

Posted: 16 Agustus 2009 in Naskah Drama

Merdeka,
Masih kau dengar pekik itu?
Walau bertalu menusuk tulang
Merenda semangat yang makin menghadang
Menghitung waktu yang kadang makin hilang
Smentara himpitan menjepit meradang

Merdeka,
Masihkah kau dengar itu?
Lalai sudah sejarah tinggal desah
Terburai gundah keluh resah
Kerna hidup tak lagi nikmati
Perjuangan pahlawan yang tinggal kenangan
Di pojok2 buku yang tak lagi terbaca

Merdeka,
Masihkah kau dengar pekik itu
Tatkala bendera lusuh berkibar menghiasi pelataran
Yang berkibar bersemangat dengan wajah merona
Seperti ingin terbang bebas lepas dari tangan-tangan buas
Yang tega merajut benang baru beraroma keserakahan

Merdeka,
Hanya tinggal veteran pejuang
Yang rela mendongak hormat, tak peduli panas menyengat
Hanya semangat yang tinggal sisa-sisa
Menghiasi hidup yang tinggal sejengkal

Merdeka,
Untuk kita semua,
Smoga…

Surabaya, 17 Agustus 2009


Oleh:
Koidah  Fitriyah
Penyelaras: Drs. Heru Subrata, M.Si

Analisis unsur – unsur cerita

a. Tema

Tema adalah inti atau persoalan yang mendasari isi cerita. Pada cerpen ” Romansa di Tebing Pelangi ” temanya asdalah tentang percintaan.

b. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah pelaku yang mendukung peristiwa sehingga mampu menjalin suatu cerita. Penokohan adalah sifat atau karakter yang dimiliki oleh para tokoh cerita. Dalam cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” tokoh serta penokohannya adalah sbb :

Tokoh                                                 Penokohan ( watak )

1.   Meira                                             Cantik, mudah percaya, keras kepala.

2.   Elgar                                              Baik, penyayang, suka menolong, tidak pendendam

3.   Gery                                              Sombong, sok ganteng,, mabuk popularitas,playboy

4.   Ibu                                                 Baik, penyayang, sabar.

5.   Ayah                                             Baik, penyayang, sabar.

c. Latar / Setting

Sebuah cerita pada hakekatnya adalah lukisan peristiwa atau kejadian yang menimpa atau di lakukan oleh satu atau beberapa orang tokoh pada suatu waktu tertentu dan tempat tertentu. Atas dasar hal tersebut dapat dikatakan bahwa penempatan waktu dan tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi tersebut disebut latar cerita atau setting.

Latar dalam cerpen cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah di Tebing Pelangi, di Retro, rumah Meira, rumah sakit, dan pantai Bidadari. Settingnya pada siang hari, malam hari, dan sore hari.

d. Point of View

Point of view atau sudut pandang dalam cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah sudut pandang orang pertama, di mana penulis sebagai pencerita.

e. Amanat

Amanat yang dapat dipetik dari cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah kita jangan mudah percaya dengan rayuan lelaki. Orang yang paling dekat dengan kita adalah orang yang paling mengerti kita. Jangan terlarut dalam urusan cinta, apalagi sampai lupa akan tugas dari pekerjaan atau profesi kita, karena itu dapat menimbulkan penyesalan.

f. Alur

Alur cerita dalam cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah alur maju. Di mulai dari pertemuan, kemudian terjadi konflik, penyesalan, dan akhirnya berakhir bahagia.

Alur dalam cerita ”  Romansa di Tebing Pelangi ”   : (lebih…)