Arsip untuk ‘Naskah Drama’ Kategori


Oleh :
NUR DWI AFIFAH
[Diadaptasi dari buku “Ketika Mas Gagah Pergi”, Pengarang: Helvy Tiana Rosa, Penerbit: Asy Syamil, Bandung]

[Penyelaras: Drs. Heru Subrata, M.Si

1. Tokoh-tokoh: Nia (aku)
2. Aam (teman si aku)
3. Mamanya Nia
4. Surti
5. Yanti
6. Pak Mar’i
7. Pak Jaya
8. Udin
9. Ucup
10. Rita
11. Eman
12. Tia
13. Preman (5 orang)
14. Adi

Babak 1
Siang itu, udara begitu panas menyengat tubuh. Anak-anak kecil tak beralas kaki itu sejenak menatapku. Mereka cengengesan. Ada yang menggaruk-garuk kepala. Ada yang asyik membersihkan hidung. Ada yang sibuk mengusir lalat yang hinggap di koreng. Ada yang mengoceh sendiri, ada pula yang asyik memperhatikan dari ujung jilbab sanpai ujung kaki. Dengan keramahan dan senyum di wajah Nia bertanya.
Nia :“Mau nggak belajar sama ibu?”
Mereka hanya bisa cengar-cengir, saling pandang sesama. Kutegaskan pertanyaanku.
Nia :“Ibu Tanya, mau tidak kalian ibu ajari membaca dan mengaji?” (TERSENYUM LEMBUT).
Udin :“Mau” (MENGACUNGKAN JARI, KEMUDIAN MENUNDUK MALU).
Ucup :“Ibu ini, memngnya ibu gulu?”
Eman :“Kami nggak punya pensil. Nggak punya buku sih!”
Udin :“Belajarnya dimana??” (PENASARAN).
Adi :“Kita mau kayak anak sekolahan ya Bu??”

Nia terdiam dan tersenyum ramah, merekapun tersenyum malu-malu. Setiap kali melewati stasiun kereta api Senen, hati rasanya haru biru dan ngilu. Melihat pemukiman yang kumuh dan anak-anak yang dekil. Mereka bermain dengan riang gembira. Seminggu yang lalu Nia melewati stasiun dan sempat mengobrol dengan ibu muda (Surti) yang sedang menggendong anaknya.
Nia :“Sore, Bu!!!! Permisi!Boleh saya mampir, Bu???”
Surti :“Yaaa……” (MENJAWAB DENGAN SUARA LIRIH DAN MALU-MALU).
Di seberang rel kereta api terlihat anak-anak jalanan sedang bermain dengan riang gembira di gerbong-gerbong kosong itu. Nia mengobrol dengan Surti.
Nia :“Ceria sekali mereka? Padahal mereka nggak punya mainan yang menarik?”.
Surti :“Itu adalah ungkapan kesenangan mereka sebagai obat pelepas capek”.
Nia :“Capek?????Capek karena belajar di sekolah maksud ibu????”.
Surti :“Ya enggaklah, mo sekolah dimana?”.
Nia :“Trussss????…..”.(PENASARAN).
Surti :“Ya capek karena cari duitlah”.
Nia :“Cari duit????”(MENEGASKAN).
Surti :“Iyaaaa…….”.
Nia :“Emang mereka bisa kerja apaan?????. Mereka kan masih kecil, kok nggak sekolah aja????.”
Surti :“Sekolah?????Mo sekolah pake apa?????mereka mikirnya yang penting bisa makan tiap hari itu udah beruntung sekali” (PESIMIS).
Nia :“Emang orang tua mereka nggak kerja to?masak nggak bisa mbiayai sekolah anak-anaknya???”.
Suti :“Ya kerjalah, mbak. Tapi berapa sih pemdapatan dari seorang pemulung?mereka kebanyakan pemulung dan pengemis!”.
Nia :“Oooooo…..gitu. Trus anak-anak nggak ada yang pingin sekolah to?”.
Surti itu terdiam dan sejenak berpikir.
Surti :“Ehmmmm……..ya pingin mbak!!tapi kadang mereka juga takut ma orang tua mereka.”
Nia :“Kok takutt????emang kenapa???”.
Surti :“Ya, iyalah. Soalnya mereka dipaksa untuk cari duit. Ada yang jadi pengemis ataupun pengamen. Selain itu mereka ada yang jadi penyemir sepatu, penjual es, atau pemjual Koran. ”
Nia :“Kasihan banget ya buk!!!!”
Selang beberapa langkah setelah Nia mengobrol dengan Surti tersebut. Dengan wajah memelas kupandangi anak-anak yang sedanng bermain riang gembira di gerbong kereta api tua itu. Kakek Mar’I, tukang cukur di daerah sekitar situ menyapaku dengan rasa ingin tahu.
Kakek Mar’I :“ada apa neng kok sedih banget?.”
Nia :“Kasihan mereka, pak!”(PANDANGAN MENUJU KE ARAH ANAK-ANAK).
Kakek Mar’I :“Mau kasihan gimana? Emang kadang mereka butuh belas kasihan tapi juga kadang mereka menjengkelkan.”
Nia :“Menjengkelkan????.Maksud bapak apa????”
Kakek Mar’I :“gimana nggak membuat jengkel???? Lha mereka itu kadang tega memeras pelajar SD yang lewat di daerah mereka.”
Nia :“Iya to. Pak????.”
Kakek Mar’I :“Iya, bahkan mereka berani mencuri dan merampas barang orang lain. Itu dah biasa neng……”
Nia :“Masak sih, pak??” (TIDAK PERCAYA).
Untuk mengobati rasa ketidakpercayaannya, Nia mengobrol sama pak Jaya, yang kabarnya ia adalah salah satu keamanan Pasar Senen.
Nia :“Maaf, bu guru, saya Nia (BERJABAT TANGAN)” .
Pak Jaya :“Ya….saya pak Jaya. Ada apa neng???.”
Nia :“Saya mau tanya. Apakah bener anak-anak itu bisanya mengemis atau mengemen di jalanan.”
Pak Jaya :“Iya, neng.”
Nia :“Aduh kasihan banget berarti mereka nggak sekolah dong, Pak?.”
Pak Jaya hanya menganggukkan kepala menandakan bahwa ia mengiyakan pertanyaan Nia.

Nia :“Orang tua mereka dimana, pak?? Kok nggak ngurusi anak-anaknya???.”
Pak Jaya :“Wah orang tua mereka pada sibuk cari duit, neng!”
Nia :“Kerja apa, pak?”
Pak Jaya :“Ya macam-macam, neng. Ada yang jadi tukang sampah, tukang cukur, dagang kue, ngemis, jualan Koran bahkan ada juga yang jadi perrek!!!!”
Nia :“Yang terakhir tadi apa, pak???Perek ta??” (MENDEKATKAN TELINGA KE PAK JAYA).
Pak Jaya :“Ya, benar perek.”
Nia :“Astagfirulloh…..!(MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA)”
Pak Jaya :“Malahan praktekya di gerbong-gerbong kereta api yang sudah tak terpakai itu, neng.”
Nia :“Memangnya gerbong-gerbong kereta api itu benar-benar nggak dipakai lagi, pak?”
Pak Jaya :“Yaaaa…., nggak tahu neng. Kayaknya sih mau dibenerin. Tapi ada juga yang udah karatan karena lama nggak dipakai.”
Nia :“Truss… apa manfaat gerbong kereta api itu bagi masyarakat itu?”
Pak Jaya :“Jadinya selama ini ya begitu, jadi tempat anak-anak main, tempat preman ngumpul, juga tempat para pelacur menjalankan aksinya. Pelakunya ya orang-orang sekitar situ, neng.”
Nia hanya bisa mengangguk-nganggukkan kepala sambil memahami perkataan pak Jaya. Ketika di rumah, hingga larut malam Nia tak dapat memejamkan mata meski tubuhnya sudah terbaring di tempat tidur.
Dua hari kemudian, sekitar jam 2 siang, Nia mendatangi gerbong-gerbong kereta api itu.. di gerbong 1 kulihat beberapa lelaki tertidur pulas, di gerbong 2 terdengar suara cekikikan pria dan wanita, di gerbong 3 terlihat anak-anak sedang bermain dengan riang gembira lalu kuhampiri mereka.
Nia :“Assalamu’alaikum….” (TERSENYUM)
Mereka menghentikan aktivitas mereka dan memandang Nia.
Udin :“Eh.., siapa tuh???siapa???”
Eman :“Cari siapa, Bu?”
Nia pandangi anak-anak dengan senyuman dari kejauhan.
Ucup :“Ciapa noh?? Kemali-kemali….”
Nia :“Kalian mau coklat???…..”
Udin+Ucup :“Mauuuuu” (BARENG)
Tak lama kemudian, anak-anak itu menyantap kue coklat itu dan ludes dalam sekejap.
Udin :“Wah……..enak banget yaaa….?”
Eman :“Iya…aku suka ini.” (MAKAN KUE DENGAN LAHAP).
Adi :“Memangnya itu siapa sih???
Nia :“Teman Ha…ha….ha….masak orang yang sudah besar mo temenan dengan anak kecil seperti kami ” (MEREKA SALING MEMANDANG DAN TERTAWA).

Babak 2
Setelah beberapa kali aku mengunjungi daerah itu. Mereka mau diajak belajar membaca dan mengaji. Sempat Nia keteteran karena anak-anak tadi berasal dari beberapa jenis umur (4-14 tahun). Salah seorang bapak membantu kami memasang lam,pu di gerbong untuk penerangan.
Nia :“Assalamu’alikum,nak……”
Anak-anak :“Wa’alaikum salam…..”
Nia :“Sudah siap belajar, anak-anak???????”
Udin :“Sudah……”
Nia :“Ayo.., ni huruf B ditambah U bacanya apa? (Menunjuk tulian di papan tulis)”
Udin :“Buuuuuuuu…..!
Eman :“Huruf D ditambah I.
Nia :“Jadi dibaca apa???????coba Udin! (MEMANDANG UDIN
Udin :“Ini ibu Budi.
Nia :“Lho, kok? Ini kan ibunya tidak ada? Coba ulangi.”
Tiba-tiba ada seorang anak yang datang….
Eman :”Kecelik, bu telat.”
Nia :“Ya….Eman, kenapa terlambat datang??????????
Eman :“Disuruh ngamen dulu, bu sama bapak.”
Nia :“Kalau Adi, kenapa kemarin nggak datang?????”Ibu tungguin lho…..(MEMANDANG ADI).
Adi :“ Abisnye emak sakit, pan abis nyuci noh, trus sakit.”
Ucup :“Bu Guyu,, mau pipiiissss…..”
Nia :“Iya…, kalo mau pipis biasanya dimana Eman????”
Eman :“Di kamar mandi”
Nia :“Pinter. Sekarang pergilah ke kamar mandi. Rumahnya siapa yang paling dekat?”
Eman :“Rumahnya Udin, Bu.”
Nia :“Bener ya Udin??
Udin :“Iya, Bu”
Nia :“Kalo begitu, tolong antarkan Ucup untuk pipis di kamar mandi rumahmu yaaaaa….”
Udin :“Iya, Bu” (UDIN DAN UCUP BERANGKAT KE RUMAH UDIN).
Setelah belajar sekitar 1,5 jam. Kami mengakhiri pembelajaran dan menitipkan papan tulis dan kapur di salah satu anak. Karena kesibukan kuliah dan mengajari anak-anak, ibuku sempat protes.
Mama Nia :“Kamu jangan terlalu mementingkan anak-anak itu, Nia. Kamu kan capek bolak-balik Depok-Jakarta buru-bruru seperti itu. Pergunakan waktu kamu di tempat kost. Ini kok malah sering pulang??”
Nia :“Jadi, mama nggak suka nih kalo Nia sering pulang ke rumah?”
Mama Nia :“Bukan itu, sayang.Mama kasihan lihat kamu.” (TERSENYUM).
Nia :“Jauh lebih kasihan melihat mereka, Ma. Kasihan sekali!”
Mama Nia :“Tapi kamu harus hati-hati ya, nak. Disana iu daerahnya kan lumayan rawan.”
Nia :“Ya Ma, InsyaAllah.”
Mama Nia :“Mama punya usul, gimana kalo kamu mengajak temanmu untuk membantu kamu.”
Nia :“Iya, Ma. Teman-temanku sudah tak ajak. Tapi mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri jadinya mereka gak bisa Bantu Nia.”
Hari kedua aku mengajar anak-anak tiba.
Nia :“Ayo ini dibaca A Ba Tsa Ja Da Dza Ro…”(MENUNTUN)
Tia :“Nnnnggggg……hik…..engggggggg.”
Nia :“Lho, Tia kok nangis??
“Sabar pelan-pelan. Orang sabar dan tekun diksihi Allah ya, sayang…….”(MENGELUS-NGELUS KEPALA TIA).
Ucup :“Za Sa Sya Sho Dho Dzo……
“Bu Gulu….., Bu Gulu lihat nih tulican caya.” (MENUNJUKKAN TULISAN).
Adi :“Buuu, saya permisi dulu!Mau nimba.”
Nia :“Iya, sebentar lagi yaaa…kan ni dah mo selesei.”
“Siapa diantara kalian yang melihat Dini hari ini??Mengapa ya Dini kok tidak hadir.”
Eman :“Kemarin bapaknya abis digebukin, Bu!”
Adi :“Iye, malingin jemuran orang!”
Ucup :“Dipenjala, nggak? Dipenjala nggak??”
Nia :“Husss…gak boleh bilang seperti itu.”
Senjapun tiba, aku harus segera mengakhiri pembelajaran, pulang jalan kaki sendiri.
Pemuda :“Ehm…ehm…ehm..Suit…Suit….Assalamu’alaikum, Cah Ayu……..”
Nia :“Wa’alaikumsalam (MENJAWAB DENGAN SUARA LIRIH)”
Di tengah-tengah perjalanan Nia ketemu dengan salah seorang walimurid (Yanti).
Yanti :“Maaf, Bu. Sebentar…..”
Nia :“Iya, Bu…Ada apa???”
Yanti :“Apa ibu mau menerima ini sebagai rasa trima kasih kami atas kebaikan ibu.” (MENYODORKAN SINGKONG REBUS).
Nia :“Iya, Bu gak usah repot-repot…..”
Yanti :“Ayolah, trima aja……”
Nia :“Ya udah saya trima pemberian ibu.” (MENERIMA SINGKONG REBUS).

Babak 3
Tak lama kemudian teman Nia,Aam, membantu mengajar. Suatu ketika kami sedang mengajar, beberapa orang lelaki (preman) menghampiri kami yang sedang asyik belajar. Wajah mereka tak ramah, Niapun turun dari gerbong menemui mereka.
Nia :“Maaf, ada apa yaa pak?”
Preman 1 :“Saya Cuma mau Tanya, adik ini dari yayasan mana?”
Nia :(DIAM SEJENAK) “Memangnya kenapa, pak??”
Preman 1 :“Lho, adik ini bagaimana??? Kami bertanya kok malah ditanya lagi?” (MENYENTAK).
Preman 2 :“Adik digaji berapa sih sama yayasan adik?”
Nia :“Saya bukan dari yayasan manapun.”
Preman 2 :“Dinas Sosial??” (MENEGASKAN).
Nia :“Bukan, saya mengajar anak-anak itu karena kasihan melihat mereka. Itu aja.”
Preman 2 :“Bener lhu?????…..”
Nia :“Iya……”
Preman 1 :“Ngajar sih…ngajar…., tapi hjarus ada ijinnya dong!!”
Nia :“Selama ini tak ada masalah. Saya rasa baik-baik aja????”
Preman 1 :“Gerbong-gerbong ini bukan tempat buat belajar. Jadi kalo kalian pake, harus ijin” (MENUNJUK KE ARAH GERBONG).
Nia :“Apa maksud bapak-bapak ini yang sebenarnya??? Yang saya tahu selama ini gerbong-gerbong tua ini hanya dipake untuk teler-teleran dan tempat main gaple, juga tempat prostitusi aja. Apakah itu juga pake ijin???Ijin pada siapa???” (MENEGASKAN).
Preman 1 :“Alah, sok tau lho…… ”
Nia :“Tapi benar kan yang saya katakana tadi??”
Preman 3 :“Ucup, Pulang kamu!!!” (TANGAN MENUNJUK KE ARAH UCUP).
Ucup :“Ntal Pak, belum selesai belajalnya.”
Preman 3 :“Pulang, gue bilang! Dapet pelajaran bukannya bener lhu…, malah suka nasehatin orang tua. Pulang….pulang….pulang!”
Ucup memandangku, matanya berkaca-kaca. Kemudian berlari pulang. Tak lama setelah kejadian tersebut Nia sering diteror oleh banyak lelaki.
Preman 4 :“Hey,neng….mo pulang ya??Gak usah pulang aja neng, mending ikut abang aja….”
Nia :(DIAM SAJA SAMBIL MEMPERCEPAT LANGKAH KAKINYA).
Preman 5 :“Hey, kok diam aja??kamu bisu ta atau budheg yaaa????Cantik-cantik kok bisu.(MEMEGANG TANGAN NIA DAN AAM)”
Nia :“Tolong…tolong…..”
Preman 5 :“Kurang ajar, lha wong nggak diapapin aja kok teriak-teriak minta tolong.Brisik tau????”
Aam :“Tolong lepaskan tangan kami, jangan apa-apakan kami”
Preman 5 :“Ha…..ha…ha tenang ajalah nona-nona cantik”
Nia :“Apa salah kami???”
Preman 4 :“Banyak salah kalian. (MENYENTAK)”
“Kalian telah mengganggu pekerjaan kami di sini.”
Aam :“Pekerjaan yang mana???”
Preman 4 :“Gak usahlah berlagak sok baik hati. Ngajar anak-anak sini di gerbong kereta api tua ini.”
Aam :“Kami hanya kasihan pada mereka….”
Preman 4 :“Kasihan…kasihan. Kami nggak butuh belas kasihan kalian. Pergi dari sini!!!”
Preman 5 :“e…e..e…e..tunggu dulu Bos. Kayaknya ni anak kuliahan berarti nia anak orang kaya dong..Kita kan butuh rokok Bos?” (MEMANDANG PREMAN 4).
Preman 4 :“Oke juga idemu. Sekarang serahkan uangmu!!Cepet!!Lelet banget sih???” (MENYENTAK).
Aam :“Kami nggak punya uang mas, uangku Cuma cukup buat ongkos pulang”
Preman 4 :“Alah, bohong lhu…..Ayo cepet keluarkan ”(MEMANDANG TAS YANG KUBAWA).
Nia :“Iniiiiiii…..”(MENYERAHKAN UANG DENGAN RASA TAKUT).
Akhirnya Nia dan Aam dibiarkan melanjutkan perjalanan lagi oleh preman tersebut. Selama dalam perjalanan pulang ke rumah Nia dan Aam berdiskusi.
Aam :“Aku takut, Nia. Mereka serem banget!!!”
Nia :“Aku juga, Am”
Aam :“Kita pindah aja yuk, tempat belajarnya!”
Nia :“Dimana, Am??”
“Anak-anak akan keberatan kalo tempat belajarnya jauh, apalagi kalo pake ongkos.”
Aam :“Ada nggak yaa rumah teman kita atau musholla sekitar Stasiun Senen yang bisa kita pake ya??”
Nia :(SAMBIL MELAMUN) “Sebenarnya penggunaan gerbong-gerbong itu untuk tempat belajar telah mengurangi kemaksiatan yang terjadi di gerbong-gerbong itu, kan???”
Kejadian terror terjadi lagi, ketika Nia sedang mengajar di gerbong kereta api.
Nia :“Ayo…ini dibaca apa, Udin???” (MENUNJUKKAN TEKS BACAAN).
Udin :“A…K…U…Ku, aku.”
Tiba-tiba preman-preman menghampiri anak-anak yang sedang belajar di dalam gerbong.
Preman 4 :(NYLONONG MASUK GERBONG TANPA PERMISI)
“Hei…hei….”
“Ayo bubar….bubar….bubar belajar apaan ini??? Buang-buang waktu aja.”
Preman 5 :“Mending kalian tu cari duit.”
“Ngamen sana!!!”
“Ngapain kalian susah ngajar mereka????” (MEMANDANG NIA DAN AAM).
Preman 4 :“Apa sebenarnya tujuan kalian melakukan ini semua???? Paling kalian Cuma mau memamerkan kepinteran kalian ke anak-anak. Iya kan? Jujur aja dech” MENARIK-NARIK JILBAB AAM).
Nia :“Astaghfirulloh, Pak….”(MENGELUS DADA).
“Kami nggak ingin pamer, tapi hanya ingin berbagi ilmu dengan mereka karena kasihan pada mereka….”
Preman 5 :“Ahhh…bohong lhu.Dasar orang kaya sukanya ngibul orang gak punya seperti kita-kita ini. Bukan begitu anak-anak???”
Udin :“Nggak Pak” (MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA).
“Bu Guru Nia dan Bu Guru Aam baik pada kami”
Preman 5 :“Kamu tu masih kecil. Tau apa kamu???Kalian dah kemakan omongan wanita-wanita ini” (MENENDANG UDIN).
Udin :“Aduuuhhhh…sakit Pak” (MERINGIS KESAKITAN).
Rita :“Pak, jangan sakiti temanku, Udin.”
“Emang, Bu Guru dan Bu Guru Aam baik pada kami. Mereka mengajari kami belajar membaca dan mengaji.” (MEMELUK NIA).
Preman 5 :(MENARIK RITA DARI PELUKAN NIA) “Kamu tu tau apa??”
Rita :“Kalian mengganggu belajar kami.”
Preman 5 :“Apa lhu bilang???” (MENJEWER TELINGA RITA).
Beberapa diantara anak-anak itu menangis keras.
Babak 3
Setelah beberapa bulan berlalu, kami sepakat untuk pindah belajar ke Musholla An-Nur.Eman, Rita, Adi belajar bersama.
Nia :“Alkhamdulillah…..ya anak-anak kita masih diberi kesempatan oleh Allah tuk belajar membaca dan mengaji lagi di tempat baru kita.”
“Bagaimana kabar kalian, anak-anak???”
Anak-anak :“Baik Buuuuu…..”
Adi :“Ayo belajar Buuu. Aku sudah pingin belajar sekarang Bu!!! ”
Nia :“Iya…iya…sabar dulu……”
“Baiklah anak-anak mari kita mulai belajar kita dengan berdo’a terlebih dahulu. Mari membaca surat Al-Ikhlas bersama-sama…Setuju???”
Anak-anak :“Setujuuu…..”
Nia :“Satu…Dua…Tiga…”
Anak-anak :“Qul huwallohu ahad. Allohushomad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakullahukufuwan ahad.”
Aam :“Pinter semuanya…….”
“Bu Guru bangga dan senang pada kalian. Kalian tambah pinter aja.”
Anak-anak :(TERSENYUM BANGGA).
Tiba-tiba datanglah Udin, Ucup dan Tia yang berlari-lari, tergesa-gesa membuka pintu musholla.
Udin + Ucup :“Bu Guru!Bu Guru Nia.” (TERENGAH-ENGAH MENARIK NAFAS CEPAT).
Nia :“Iya….iya…tenang dulu…tenang dulu…. ” (MENGELUS BADAN UDIN).
Setelah agak tenang kondisi anak-anak itu, Nia menanyai mereka.
Nia :“Ada apa?? Kok terlambat.”
Udin :“Aduh Buu.., kacau.”
Nia :“Kacau, bagaimana????”
Ucup :“Lumah Tia dibongkal !!Kami diucil!! ”
Udin :“Semua dibongkar, Bu! Sekarang orang-orang pada bingung mau pergi kemana?? Bapak Ucup ngelawan, tapi malah ditangkap sama petugas.”
Nia :“Innalillahi..” (BERPANDANGAN DENGAN AAM).
Anak-anak yang sedang belajar mulai panik, gaduh.
Nia :“Jadi pada mau pindah kemana???”
Udin :“Nggak tahu, Buuu. Disana masih rame!”
Tia :“Gerbong-gerbong udah dikosongin. Nggak boleh ditempatin lagi.”
Udin :“Kami boleh pulang, Bu?? Anak-anak pada ditanyain ama emaknye!!!”
Nia :“Ya, boleh (SUARA NIA TERSEKAT DI KERONGKONGAN)”
Anak-anak berbaris menyalami Nia dan Aam. Satu persatu anak dipeluk Nia.
Nia :“Ini alamat Ibu (MEMBERIKAN KARTU NAMA)”
“Kalian sudah bisa menulis, kan?? Tulislah surat pada Ibu yaaa!!! ”
Mereka berebut menerima kartu nama dari Nia.
Tia :“Rita mungkin pulang ke Jawa, Bu.”
Nia :“Yaaa….kalo Ucup gimana???”
Ucup :“Ucup nggak tahu gimana???”
Nia :“Narti…???”
Narti :“Aku juga, Buu”
Nia :(TERSENYUM) “Dimanapun kalian, kalau kalian menjadi anak yang saleh, allah akan selalu melindungi kalian.”
Aam :“Jangan lupa untuk selalu belajar, berusaha dan berdo’a.”
Kami semua saling berpelukan sambil menangis keras.

TAMAT

“RAMA NYANA SHINTA”

Posted: 14 Juni 2009 in Naskah

KERABAT KERJA:

Staf Produksi:
Pimpinan Produksi : Drs. Heru Subrata, M.Si.
Sutradara : Dwi Da’watus Sholihah
Asisten Sutradara : Suci Nur Amaliyah
Sekretaris : Talitha A.S.
Bendahara : Andhika Novianti

Para Pemain:
Yoyok Arianto sebagai Rama
Talitha A.S. sebagai Shinta
Ifing Hendri Chandra sebagai Laksmana
Hilda Andriani sebagai Rahwana
Ahmad Najib sebagai Anoman
Suci Nur Amaliyah sebagai Kakek
Bahri sebagai Maricha
Madinatul M. sebagai Brata
Tarian yang disajikan :
1. Tari Kijang
• Denik Indrawati
• Nita Aprilia
• Restu I.
• Lailatul Wahyu
2. Tari Anoman
• Ahmad Najib
3. Tari Shinta
• Talitha A.S.
• Yuni Widyawati
• Sri Nastiti
• Nani Agustina
4. Tari Api
• Denik Indrawati
• Nita Aprilia
• Restu I.
• Lailatul Wahyu

Penata Lagu :
• Sabbikhisma
• Puji Astuti
• Purwanti
• Andhika Novianti
• Suci Nur Amaliyah
• Yuni Widyawati

Penata Rias & Busana :
• Talitha A.S.
• Ifing Hendri Candra Mawarni

Konsep Busana :
Rama : Memakai Jarik dan celana hitam dengan aksesoris seperti Mahkota, kalung, gelang tangan dan sabuk emas.
Shinta : Memakai jarik, kemben, deker coklat dengan aksesoris seperti Mahkota, kalung, anting, gelang tangan dan sabuk emas.
Laksmana : Memakai jarik, deker coklat, dengan aksesorisnya seperti mahkota, kalung, gelang tangan dan sabuk emas.
Rahwana : Memakai jarik, deker coklat, celana hitam, dengan aksesoris seperti mahkota, kalung, gelang tangan, dan sabuk emas.
Anoman : Memakai jarik, deker putih, celana putih, dengan aksesoris Mahkota putih, kalung, gelang tangan dan sabuk emas.
Kakek : Baju compang-camping dengan aksesoris Tongkat
Maricha : Memakai jarik, deker coklat, rompi dan celana hitam.
Brata : Memakai jarik, deker coklat, rompi dan celana hitam.
Penari Kijang : Deker hitam, celana hitam, kaos hitam, dengan aksesoris bando tanduk, tempelan kertas emas, dan sabuk emas.
Penari Shinta : Jarik, kemben, deker coklat dengan aksesorisnya kalung, gelang tangan dan sabuk emas.
Penari Api : Deker hitam, kaos merah, celana hitam, dengan aksesorisnya sabuk emas, mahkota dan kertas untuk tangan.

Konsep Rias :
Rama : make up minimalis, blas on agak merah.
Shinta : make up minimalis, rambut kriting spiral
Laksmana : make up minimalis, rambut terurai
Rahwana : make up tebal, berkumis
Anoman : make up serba putih dengan memakai kapas sebagai bulu
Kakek : make up seperti kakek tua dengan garis keriput, kumis, jenggot dan rambut putih
Maricha & Brata: make up minimalis
Penari kijang : make up minimalis, rambut dikepang, Blas on merah bulat
Penari Shinta : make up minimalis, rambut terurai
Penari Api : make up minimalis, rambut dikepang, Blas on bulat merah

Setting : Dwi Da’watus Sholihah, Sri Nastiti, Madinatul M.
Background : Kain menggambarkan hutan, ditambah tanaman-tanaman dan tenda.

Musik : Karawitan
Musik ini dilantunkan pada waktu :
1. Pembuka
2. Rama dan Shinta masuk
3. Rahwana Masuk
4. Tari kijang
5. Anoman Masuk
6. Rama berdoa
7. Tari shinta
8. Tari Api
9. Penutup

Sinopsis:

“RAMA NYANA SHINTA”

Drama ini menceritakan salah satu bagian cerita pewayangan Ramayana karya legendaris Walmiki yang akan kami suguhkan dengan sedikit sentuhan modern dan diiringi dengan tari.
Suatu hari Rama diutus oleh Prabu Janaka untuk bertapa di hutan Dandaka yang kemudian ditemani oleh istrinya yaitu Shinta dan adiknya Laksmana. Kemudian mereka bersama – sama pergi ke hutan Dandaka untuk melaksanakan amanah dari Prabu Janaka. Akhirnya setelah menjelang siang mereka sampai juga di hutan dandaka. Sesampainya di hutan, kemudian mereka mendirikan tenda dan tanpa disadari mereka diintai oleh Rahwana dan kedua prajuritnya Maricha dan Brata. Rahwana dan kedua pengikutnya bingung mencari ide untuk menyingkirkan Rama dan laksmana dari sisi shinta agar dia bisa membawa shinta dengan mudah ke Istananya. Akhirnya Rahwana punya ide, dia menunjuk salah satu prajuritnya yaitu Maricha yang akan dirubahnya menjadi seekor kijang emas dan tiga batang kayu untuk dijadikan kijang – kijang hitam yang menemani kijang emas tersebut untuk menarik perhatian Shinta.
Kijang emas dan tiga kijang hitam menari-nari di depan Shinta, Laksmana dan Rama. Akhirnya shinta pun tertarik dengan kijang emas tersebut, dan meminta Rama menangkap kijang emas itu untuknya dan rama pun memburu kijang emas itu dan menitipkan istrinya shinta kepada adiknya Laksmana. Ketika Rama pergi, Shinta dan Laksmana membereskan barang-barangnya . ketika itu juga Rahwana dan prajuritnya Brata kembali bingung mencari ide bagaimana menyingkirkan laksmana dari sisi shinta. Akhirnya brata mempunyai ide, dia akan merubah suaranya menjadi suara Rama dan akan berteriak-teriak minta tolong, pasti laksmana akan pergi menolong Rama. Karena Rahwana ingin melakukannya sendiri, rahwana pun berteriak minta tolong seakan – akan Rama yang meminta tolong. Shinta dan Laksmana pun mendengar teriakan itu akhirnya shinta meminta laksmana pergi menolong Rama. Laksmana pun bersedia tapi sebelumnya Laksmana sudah membuatkan bundaran sakti agar shinta tidak bisa dijamah siapapun. Sebelum laksmana berangkat dia berpesan kepada Shintauntuk tidak keluar dari bundaran sakti tersebut karena apabila shinta keluar dia tidak akan bisa masuk lagi ke bundaran sakti itu.
Laksmana pergi dan shinta pun sendirian berada di hutan dengan lingkaran sakti yang mengitari tubuhnya. Di samping itu rahwana dan prajuritnya brata semakin bingung memikirkan bagaimana cara mengeluarkan shinta dari lingkaran itu. Akhirnya Rahwana pun mempunyai ide, dia akan menarik simpati shinta dengan menjadi sosok kakek yang tua renta. Kemudian rahwana pun merubah dirinya menjadi kakek yang tua renta dan menghampiri shinta. Kakek tersebut minta makan pada shinta. Karena melihat kakek tersebut yang sangat kelaparan, shinta pun mengambil makanan dengan keluar dari bundaran sakti tersebut. Ketika dia kembali setelah mengambil makanan dia sudah melihat sosok Rahwana yang menjelma jadi kakek tadi. Sinta pu akhirnya di sirep danshinta pun dengan mudah dibawa oleh rahwana.
Tidak lama kemudian rama pun datang dan bingung mencari istrinya shinta dan laksmana. Karena rama diperintahklan prabu janaka untuk bertapa di hutan dan dilarang meninggalkannya. Ia pun menelpon Anoman untuk meminta pertolongan. Tidak lama kemudian anoman pun datang. Anoman berangkat untuk menyelamatkan shinta dan rama tinggal di hutan sendirian serta terus berdoa untuk keselamatan istrinya. Rama pun terkejut ketika rahwana kembali dengan tangan hampa. Dia juga mengatakan rahwana sangat kuat melebihi dirinya. Anoman juga membawakan pengganti shinta untuk Rama. Anoman pun memanggil gadis tersebut. Gadis itu keluar dengan tiga penari. Setelah selesai menari gadis tersebut mendekati Rama dan membuka cadarnya. Ternyata gadis tersebut adalah Shinta, rama kaget dan bahagia. Setelah mereka kembali bersatu anoman meninggalkan mereka menuju khayangan. Tapi tiba-tiba rama sedih dan diam seribu bahasa, shinta pun bertanya tentang kesedihannya. Rama menjawab bahwa dia masih ragu akan kesucian Shinta. Dari itu Rama ingin membuktikan dengan meminta shinta berjalan di atas kobaran api yang dibuat Rama sendiri. Setelah berjalan di atas kobaran api tersebut, shinta tidak terbakar malah dia semakin cantik akhirnya Rama pun menerima shinta kembali.Akhirnya mereka berpegangan tangandan tiba-tiba laksmana datang mengagetkan mereka. Maka berakhirlah cerita ini dengan pertemuan ketiganya.
Drama ini akan menceritakan salah satu bagian cerita dari cerita pewayangan Ramayana karya Legendaris Walmiki yang akan kami suguhkan dengan sedikit sentuhan modern dan diiringi dengan tari.
Suatu hari Rama diutus oleh Prabu Janaka untuk bertapa di hutan Dandaka, yang kemudian ditemani oleh istrinya yaitu Shinta dan adiknya Laksmana. Mereka bersama-sama pergi ke hutan Dandaka untuk melaksanakan amanah dari Prabu Janaka. Akhirnya setelah menjelang siang mereka sampai juga di hutan dandaka.
Skenario:

(Setting di hutan Dandaka)
Rama : “Dinda, sepertinya kita sudah sampai, apa dinda capek ?”
( Tanyanya dengan lembut )
Shinta : “Tidak kakanda, selama aku ada disampingmu aku tidak akan pernah merasa capek” ( jawab shinta dengan lemah lembut dan seakan menyanjung Rama )
Rama : “Ah….. ! Dinda ini bisa aja ! aku jadi tersandung”
( jawabnya dengan tersipu )
Shinta : “Lho…. ! kok tersandung Kakanda ?”
Rama : “Eh… tersanjung maksud saya !”
Shinta : “Oh ……. Tersanjung ! aku kira kakanda tersinggung dengan perkataanku”
Rama : “Ya tidaklah istriku, kata-katamu itu….. ! Hem … Begitu begitu indah dan sangat menyejukkan jiwaku.”
Shinta : “Ah…Kanda !” ( tersipu malu sambil memukul Rama )
Rama : “Aduh dinda …! Dari tadi kok kita asyik menyanjung – nyanjung diri sendiri, sampai – sampai kita lupa kalau kita ditemani adik kita tercinta.”
Shinta : “Oh … iya ! sini adikku, kenapa masih disitu ( sambil menghampiri ), maaf ya dik laksmana, bukan maksud kami…..!”
( belum selesai ngomong kemudian dipotong oleh laksmana )
Laksmana : “sudahlah kak shinta, tidak apa – apa ! lagi pula aku juga senang melihat keakraban kak rama dan kak shinta.”
Shinta : “kamu memang adik yang baik laksmana. Kanda sangat beruntung punya adik sebaik dik Laksmana … !” ( sambil menengok ke rama )
Rama : “Betul Dinda … ! Laksmana memang adik yang sangat baik”
( sambil menepuk pundak Laksmana )
Laksmana : “Sudahlah, kak shinta dan kak rama tidak usah memuji aku terus. Nanti keterusan sampai malam kita tidak punya tempat untuk istirahat lagi.”
“Ehm … !! Kak, bagaimana kalau kita mendirikan tenda disini saja.” “Sepertinya disini tempatnya sangat teduh dan lapang .”
Rama : “Ehm … !” ( Sambil mengangguk – anggukkan kepalanya )
“Bagaimana menurut dinda ?”
Shinta : “Iya kanda , betul kata dik laksmana, disini tempatnya sangat teduh dan lapang, lebih baik kita mendirikan tenda disini saja.”
Rama : “Baik ! kalau begitu kita mendirikan tenda disini !” (ucapnya dengan tegas )
“Dik Laksmana, Tolong ambilkan tendanya di tas !”
Laksmana mengambil tenda , kemudian mereka mendirikan tenda bersama – sama ditengah hutan dandaka. Shinta melihat suami dan adiknya kelelahan, kemudian dia mengambilkan minum untuk mereka.
Shinta : “Kakanda , kakanda pasti cuapek . nich diminum dulu airnya, supaya capeknya hilang .” ( Sambil mengusap dahi rama dengan selendang )
“Adik Laksmana juga, istirahat dulu ! nanti diteruskan lagi , ini … diminum airnya.”
Laksmana : “Iya .. kak shinta ! sebentar lagi, nanggung … !”( Dijawabnya dengan semangat )
Rama : “Sudahlah dik … ! benar apa yang dikatakan kakakmu shinta, istirahat dulu nanti diteruskan !”
Laksmana : “Ya sudaaah … aku istirahat” ( menaruh kerjaannya dan langsung menghampiri rama dan shinta )
Ketika mereka telah asyik istirahat ternyata tanpa mereka sadari, mereka diintai oleh Rahwana dan dua pengikutnya. Rahwana bingung bagaimana cara menyingkirkan rama dan laksmanadari shinta. Supaya dia bisa mendapatkan shinta. Wanita yang selama inmi dia kejar-kejar karena ia anggap shinta merupakan jelmaan Dewi Widowati . akhirnya Rahwana mendapatkan ide, dia menunjuk salah satu pengikutnya.
Rahwana : “Ehm … ! mereka sedang enak-enak istirahat, kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menarik perhatian mereka .”
( ucapnya kepada dua pengikutnya )
“Aku tau …. !” ( ujarnya seakan-akan telah menemukan ide )
“Maricha …..!” ( panggilnya )
Maricha : “Iya Baginda … !”
Rahwana : “Maricha, akua akan merubahmu menjadi seekor kijang emas dan …”
(bingung mencari-cari sesuatu. Dan akhirnya mendapat 3 potong kayu)
“Nah … ini ada kayu ! Tiga kayu ini akan kujadikan tiga ekor kijang hitam yang akan menemanimu !”
Maricha : “Maksud Baginda … ?”
Rahwana : “Begini , setelah kamu nanti aku rubah menjadi seekor kijang emas, aku perintahkan kamu untuk menarik perhatian mereka dengan tarian kijang, dan tiga ekor kijang hitam dari kayu ini akan mengikuti kamu menari !”
Maricha : “trus.. setelah hamba menari, apa yang harus hamba lakukan baginda ?”
Rahwana : “Aduh …. ! begok banget sih loh. Kathrok – kathrok !setelah kamu menari dan kamu melihat mereka sudah tertarik untuk memburu kamu. Kamu langsung lari saja supaya rama dan laksmana lari mengejar kamu dan akhirnya shinta ditinggal sendirian. Nah … setelah itu aku bisa membawa lari shinta ! paham … ?”
Maricha : “oh … begitu toh baginda !baik baginda saya siap menjalankan semua perintah baginda.”
Rahwana : “Baguuss … ! sekarang kamu berdiri disitu dan pegangi kayu ini.aku akan merubah kamu dan kayu – kayu itu menjadi kijang. SIAP … ?”
Maricha : “Siap Baginda !”
Rahwana : “Houm ……” ( sambil komat-kamit membaca mantra ) Hap … !
Kemudian dalam sekejap jadilah maricha seekor kijang emas dan tiga potong kayu itu menjadi 3 ekor kijang hitam. Setelah itu kijang-kijang tersebut langsung menampakkan diri dihadapan Rama, shinta dan lakasmana dengan membawakan tarian kijangyang sangat indah dan lincah sekali.
Shinta : “Kanda, dik laksmana, lihat ! kijang-kijang itu cantik sekali”
( sambil menunjuk kijang-kijang yang menari )
Rama : “Iya Dinda !”
Laksmana : “Iya Kak, kijang-kijang itu lucu sekali !”
Shinta : “Kanda, lihat ! ada kijang yang bertanduk emas, ku ingin sekali kijang emas itu kanda ! kanda mau kan menangkap kijang itu untukku ?”
Rama : “Apa kamu sangat menginginkannya istriku ?”
Shinta : “iya kanda ! kanda mau kan menangkapnya untukku?”
( dengan nada yang sangat berharap )
Rama : “Baiklah, demi kau istriku yang sangat aku sayangi dan aku cintai, aku akan memburu kijang emas itu untukmu” ( sambil menyiapkan perlengkapan untuk memburu ) “Dan kamu adikku, tolong jaga kakakmu shinta selama kakak pergi memburu kijang itu. Karena aku takut nanti Rahwana tiba-tiba dating dan membawa pergi kakakmu shinta. Kamu tau sendiri kan kalau selama ini rahwana terus saja mengejar-ngejar kakakmu shinta kemanapun kakakmu pergi.”
Laksmana : “Iya kak ! saya mengerti , tenang saja kak aku akan menjaga kak shinta sampai titik darah penghabisan.” ( sambil mengepalkan tangan keatas )
Rama : “Waduh adikku! kata-katamu kaya’ orang mau berjuang saja. Baiklah adikku, aku percaya kepadamu, pokoknya jangan kemana-mana sampai nanti aku kembali.”
Shinta : “Hati-hati ya kanda .. ! aku yakin kanda pasti akan segera kembali dengan membawa kijang emas itu untukku” ( sambil mencium tangan rama ).
“Kanda, aku sangat mencintaimu” ( sambil memegangi tangan Rama )
Rama : “aku juga sangat mencintaimu dinda !”( mengusap rambut sinta )
“Ya sudah , aku berangkat sekarang, nanti keburu kijangnya kabur .”
“Jaga kakakmu yach !” ( sambil menepuk pundak laksmana )
Kemudian Rama langsung berlari menuju arah kijang pergi
Laksmana : “Iya kak, percaya sama saya. Hati-hati kak !”
( sambil melambaikan tangan )
Tiba – tiba Rama berhenti
Rama : “Oh ya dik … ! tolong itu barang-barangnya dimasukkan kedalam tenda.”( suaranya dari kejauhan )
Laksmana : “Beres kak …. !”
Setelah Rama pergi, shinta dan laksmana membereskan barang-barang kedalam tenda. Disamping itu rahwana bingung memikirkan laksmana yang tidak ikut memburu kijang emas itu.
Rahwana : “Aduhhh…. ! bagaimana ini Brata, kenapa laksmana tidak ikut memburu kijang bersama rama. Padahal bayanganku laksmana ikut mengejar kijang emas itu. Nah … ! sekarang bagaimana supaya laksmana terpisah dengan shinta ?”
“Brata … ! kamu kok diam saja , Bantu aku mikir donk !”
Brata : “Lho… dari tadi hamba diam ini juga lagi mikir baginda !”
Rahwana : “Oo….. ! ya sudah sekarang kita pikirkan bersama.”
Mereka berdua berfikir bagaimana supaya laksmana meninggalkan shinta sambil mondar-mandir. Sejenak mereka berfikir !
Brata : “Nah ….. !”
Rahwana : “Hus … ! jangan teriak-teriak, nanti mereka dengar!”
Brata : “Maaf baginda ! kelepasan baginda , hamba sudah menemukan caranya.”
Rahwana : “iya , bagaimana ?”
Brata : “begini baginda” ( sambil berbisik )
Rahwana : “Bagus ! ide kamu bagus sekali, ternyata kamu pintar juga brata ?”
Brata : “Lho… iya dong baginda! Gini-gini hamba lulusan D-II PGSD UNESA gitchu lho … !”
Rahwana : “Lho… iya ta ? sama dong kaya’ aku !”
Brata : “wah … sama dong kita baginda ?”
Rahwana : “Heh , enak aja lho mau nyamakan aku dengan kamu, sudah sudah kok malah bercanda ( serunya dengan keras ) sekarang aku akan merubah suaraku menjadi suara rama. Hem … Shinta ! kau pasti akan jadi milikku!”
( serunya dengan yakin )
Setelah shinta dan laksmana selesai membereskan semua barang-barang mereka kedalam tenda, tiba-tiba terdengar teriakan ….
Rahwana : “Tolong … ! Tolong …..!dik laksmana tolong aku .”
( teriaknya dengan suara menyerupai rama )
Shinta : “Dik laksmana ! apa kamu mendengar sesuatu ?”
Laksmana : “iya kak ! itu kak rama, bahkan teriakan itu memanggil namaku” ( serunya dengan sangat yakin pula ) “aku yakin itu kak rama ! kak rama butuh bantuan .aku harus menolongnya” ( ucapnya dengan nada khawatir )
Shinta : “iya dik … ! kamu pergi saja menolong kakanda sekarang biar aku disini saja menjaga barang-barang kita”
Laksmana : “Tapi kak ! aku sudah berjanji pada kak rama untuk menjaga kak shinta”
Shinta : “Tidak apa-apa dik ! sekarang kakanda membutuhkan bantuan dik laksmana. Dik laksmana tenang saja. Aku disini baik-baik saja !”
Laksmana : “Baik aku akan menolong kak rama. Tapi aku akan membuatkan perlindungan dulu untuk kak shinta”
Laksmana membuat sebuah bundaran sakti untuk shinta
Laksmana : “Kak shinta , tolong sekarang kakak masuk dalam bundaran ini !”
Shinta : “Ini apa dik ?”( sambil masuk kedalam bundaran sakti ) “kok dik laksmana malah ngajak main ?”
Laksmana : “Houm …… !” (membaca mantra) “hap … !”
“Nah sekarang bundaran ini sudah menjadi bundaran sakti”
Shinta : “Bundaran Sakti ?”
Laksmana : “Iya , bundaran sakti ini tidak bisa ditembus atau dimasuki oleh siapapun, jadi kak shinta tidak akan bisa disentuh oleh siapapun. Tapi kalau kak shinta keluar, kak shinta tidak akan bisa masuk lagi kedalam bundaran ini.”
Shinta : “ya sudah kalau begitu ! sekarang kamu sudah bisa tenang kan meninggalkan aku ?”
Laksmana : “Iya kak, tapi kak shinta harus janji tidak akan keluar dari bundaran sakti ini. Sampai aku dan kak rama kembali !”
Shinta : “Iya dik , kak sinta janji, sekarang kamu berangkat selamatkan kak Rama ya ?”
Laksmana : “Baik, aku berangkat! Doakan ya kak aku akan segera kembali” ( pamit dengan membawa seperangkat alat memanah )
Setelah laksmana pergi, Rahwana bukannya langsung bisa membawa shinta pergi, tetapi dia malah bingung memikirkan bagaimana mengeluarkan shinta dari bundaran sakti itu dan membawa shinta ke istananya. Shinta tetap berada didalam bundaran sakti dan terus berdoa kepada sang dewa untuk suami dan adiknya . sementara itu rahwana semakin bingung memikirkan bagaimana caranya bisa membawa shinta pergi.
Rahwana : “Aduh …! bagaimana ini ? aku kira setelah laksmana pergi aku langsung bisa membawa shinta , tapi sekarang aku malah tidak bisa menyentuh shinta sama sekali” ( sambil mondar-mandir dan mengepalkan tangannya )
“Brata, bagaimana ? apa kamu tidak punya ide lagi ?”
Brata : “Wah … baginda, sepertinya kali ini hamba bener-bener tidak tau bagaimana caranya mengambil dewi shinta dari bundaran sakti itu, karena hamba yakin tidak tidak akan mampu menembusnya !”
Rahwahna : “Ah … Gimana sich kamu itu ! katanya ngaku lulusan PGSD, ada masalah gini aja bingung .”
Brata : “Podhoo … ! Baginda juga bingungkan?”
Rahwana : “Oh… jadi kamu ngledek aku ?Iya … !” ( bentaknya )
Brata : “Ampun Baginda ! hamba tidak bermaksud seperti itu !”
Rahwana : “Ya sudah sekarang kita mikir lagi !”
Mereka kembali mondar-mandir
Rahwana : “Nah …! Hus…. Hust ….Hust …” ( sambil menutup mulutnya )
“Aku sekarang punya ide !”
Brata : “iya baginda” ( mendekati rahwana )
Rahwana : “Begini !” ( sambil berbisik )
Brata : “siap baginda ! hamba siap melaksanakannya”
Rahwana : “Tidak, kali ini biar aku yang melakukannya, biar nanti aku bisa langsung membawa shinta pergi ke Istanaku”
Brata : “Oh … baik baginda !” ( sambil mengangguk-anggukkan kepalanya )
Rahwana : “Tapi kamu tetap disini mengawasi, siapa tau rama dan laksmana nanti kembali. Dan kamu harus menghadangnya, apapun caranya !”
Brata : “Siap baginda !”
Rahwana : “bagus … sekarang aku akan merubah wujudku menjadi seorang lelaki yang tua renta. Houm….. !” ( membaca mantra ) “Hap …!”
Dalam sekejap jadilah rahwana seorang lelaki yang tua renta yang siap meluluhkan keyakinan shinta
Kakek : “Baik, aku akan kesana dan kamu jaga disini brata !”
Brata : “Baik baginda, Good luck baginda !”
Rahwana ( kakek ) menuju tempat shinta dengan wujudnya yang tua renta dan berjalan dengan tongkat dengan punggungnya yang agak membungkuk.
Shinta : “kakek , kenapa kakek ada ditengah hutan sendiri? Kakek kan sudah tua, kenapa tidak di rumah saja ?”
Kakek : “kakek sedang mencari makan cucuku ! sudah satu minggu kakek tidak makan dan tidak minum.”
Tiba-tiba kumis kakek jatuh
Shinta : “Lho kek… ! kumisnya jatuh”
Kakek : “Hah… mana ?”( meraba kumisnya kemudian mencarinya )
Shinta : “Itu kek, ……”
Kakek : “Ya… mungkin kumisku tidak pernah mendapatkan nutrisi saputra. Jadinya sampai rontok seperti ini !”
( sambil menempelkan kembali kumisnya )
Shinta : “Kakek ini bisa saja … !” ( sambil tersenyum )
Kakek : “Iya cu….. ! aku yakin lama kelamaan semua rambut yang ada ditubuhku akan rontok semua karena tidak pernah aku beri makan”
Shinta : “aduh kek … ! masa’ sampai begitu ?” ( ujarnya dengan sangat iba )
Kakek : “Iya cu ….! Tolong kakek cu … , berikan kakek sedikit makan dan minum agar kakek dapat bertahan hidup.”
Shinta : “Tapi kek …..!”
Kakek : “tolong cu ….! Kalau aku tidak makan aku yakin sebentar lagi aku akan mati.”
Karena shinta merasa kasihan kepada kakek itu yang merupakan jelmaan dari rahwana, akhirnya dia keluar dari bundaran sakti untuk mengambil makanan dan minuman.
Shinta : “Baik kek …! sekarang kakek tunggu disini dulu. Aku akan mengambilkan makanan dan minuman untuk kakek.”
Kakek : “terima kasih cu …. !kamu memang gadis yang baik, semoga Dewa membalas kebaikanmu.”
Shinta : “terima kasih kek … ! sebentar ya kek … !”
shinta masuk ke tenda mengambil makan dan minum. Kakek yang tua renta itu pun berubah wujud menjadi Rahwana . shinta keluar dan dia langsung kaget melihat kakek tua itu menjadi Rahwana, saking kagetnya, barang yang ada di tangannya langsung dijatuhkan.
Rahwana : “Ha…ha…..ha…..ha…… !”
Shinta : “Hah, Rahwana ! Jadi kamu ………”
Rahwana : “iya … ! aku adalah kakek tadi, lalu kijang dan suara minta tolong tadi semuanya adalah Rekayasaku. Ha … ha… ha… !” ( bangganya )
Shinta : “Kamu sangat licik Rahwana. Sekarang kamu mau apa ?”
Rahwana : “Aku mau kamu ikut dengan aku !”
Shinta : “Tidak… ! aku tidak mau …!”
Rahwana : “Tidak mau? Ya sudah , Hap…. !”
Rahwana menyihir dewi shinta sehingga dia pun pingsan. Shinta pun di bopong dan dibawanya pergi.
Rahwana : “Ayo brata … !kita tinggalkan tempat ini.”
Beberapa lama kemudian, Rahwana membawa shinta pergi. Akhirnya Rama pun datang.
Rama : “Istriku …. ! Dinda ….. ! Kanda datang. Tapi maaf dinda,aku tidak dapat menangkap kijang emas yang dinda inginkan, dinda tidak marahkan ?”
Melihat shinta tidak juga keluar dari tenda, akhirnya rama pun mencari shinta ke dalam tenda.
Rama : “istriku …..! istriku …..! Dinda …. ! kamu dimana ?”
( mencari di semua sudut )
Rama : “Laksmana … ! Laksmana adikku. Kamu juga dimana?”
Setelah berputar-putar akhirnya dia menemukan pecahan tempat minum.
Rama : “Hem… ! ini pasti ulah Rahwana. Aku harus segera menyelamatkan shinta, sebelum shinta di apa-apakan oleh rahwana.”
“Tapi …. ! selama aku harus bertapa di hutan ini, aku tidak boleh keluar dari hutan Dandaka ini. Sekarang aku harus bagaimana ?”
( bingung dan mondar-mandir )
“Nah aku tau …! Anoman, ya… anoman pasti bisa membantuku .”
Rama langsung menghubungi anoman HP. Thit thut thit thut …….. !
Rama : “Hallo … ! kakang Anoman ?”
Anoman : “Ya, Anoman disini . ni siapa yaa ?”
Rama : “ini aku Rama !”
Anoman : “Oh… rama ! ada apa pren.. ? kok tumben kamu telpon aku !”
Rama : “aduh kakang Anoman ! aku sangat butuh bantuanmu. Kamu maukan sekarang datang ke sini ? aku di hutan Dandaka, aku akan menjelaskannya disini !”
Anoman : “Okey pren ! aku ke sana sekarang. Kamu tenang saja !”
Rama : “Aku tunggu kang !”
Tidak lama kemudian anoman pun datang dengan tarian khasnya
Anoman : “Hai pren ! ada apa ? kenapa wajahmu kelihatan bingung sekali ? terus kanapa kamu bisa berada dihutan ini sendiri ?”
Rama : “ceritanya sangat panjang, nanti saja aku ceritakan. Sekarang tolong rebut shinta dari tangan Rahwana. Shinta diculiknya, dan aku diperintahkan prabu janaka tidak boleh meninggalkan hutan ini. Jadi hanya kamu satu-satunya orang yang bisa membantuku. Kakang mau kan membantuku ?”
Anoman : “Tenanglah sahabatku ! aku pasti akan membantumu” ( sambil menepuk pundak Rama )
Rama : “terima kasih kang…. !” ( menjabat tangan anoman )
Anoman : “Ya sudah, sekarang aku berangkat menyelamatkan shinta, kamu berdoa saja semoga aku bisa merebut shinta dari tangan Rahwana sialan itu !”
Rama : “Iya kang, sekali aku sangat berharap kepadamu Anoman !”
Anoman : “Ya aku pergi dulu .”
Kemudian anoman pergi menyelamatkan shinta, dia pergi dengan tarian khasnya pula. Selama anoman pergi, Rama terus saja berdo’a istrinya shinta cepat kembali ke pangkuannya.
Rama : “Oh sang Dewa !tolong selamatkan istriku shinta, jangan sampai dia di nodai oleh Rahwana. Aku sangat mencintainya !”
Tidak lama kemudian akhirnya Anoman pun datang dengan tariannya yang khas.
Anoman : “Ha… ha…. Ha….”
Rama : “Kakang anoman, kakang sudah kembali, tapi mana istriku shinta ? apa kakang tidak bisa merebutnya dari tangan Rahwana ?”
Anoman : “Maafkan aku sahabatku ! Rahwana sangat kuat, aku tidak bisa mengalahkannya.”
Rama : “tidak mungkin, aku yakin kakang anoman lebih kuat dari Rahwana”
Anoman : “maafkan aku sahabatku, tapi aku sudah punya penggantinya untukmu”
Rama : “ pengganti ? apa maksudmu pengganti ?tidak, aku tidak mau mengkhianati istriku shinta , aku sangat mencintainya !”
Anoman : “Iya, aku mengerti ! tapi lihat saja dulu, Okey !”
“Okey girl’s masuk !”
Shinta masuk dengan wajahnya ditutupi oleh kain dan diikuti oleh tiga penari kemudian mereka menari di depan Rama dan Anoman. Setelah tariannya selesai, ketiga penarinya keluar kemudian shinta mendekati Rama.
Shinta : “Kakanda … ! apa benar kamu sudah tidak mau menerimaku lagi”
Rama : “Lho… itu kan suara ….”
Shinta pun membuka kain yang menutupi wajahnya
Rama : “Oh… dinda ! akhirnya kau kembali.”
“Terima kasih kakang anoman, aku sangat berhutang budi padamu. Akupun tidak tau harus dengan apa aku membalas kebaikanmu ?”
Anoman : “Ah… tidak usah sungkan begitu pren … !aku juga senang kok bisa Bantu kamu.”
Rama : “Tapi sebentar kang, apa tadi kakang tidak melihat dik laksmana di sana ?”
Anoman : “Tidak … ! aku sama sekali tidak melihat laksmana”
Shinta : “Oh tidak kakanda , dik laksmana tidak ikut di sekap oleh Rahwana, dik laksmana tadi pergi mencari kakanda, karena tadi kita mendengar kakanda berteriak minta tolong.”
Rama : “berteriak ? aku yakin itu pasti ulah Rahwana. Ya sudah, pasti nanti dik laksmana akan segera kembali.”
Anoman : “Apa masih butuh bantuanku ?”
Rama : “oh tidak kakang ! terima kasih banyak atas bantuannya”
Anoman : “iya sama – sama pren ! aku kembali dulu ya ?”
Rama : “iya kang, sekali lagi aku ucapkan terima kasih atas bantuannya.”
Shinta : “terima kasih kakang Anoman” ( sambil melambaikan tangan )
Akhirnya anoman pun pergi meninggalkan rama dan sinta dengan tariannya yang khas.
Tiba-tiba Rama diam saja, dengan memasang muka sedih
Shinta : “kakanda ! kenapa kakanda diam saja? Apa kakanda tidak senang melihat dinda kembali ?”
Rama : “aku senang dinda kembali, tapi pasti kamu kembali dengan keadaan yang sudah ternodai oleh Rahwana”
Shinta : “ya ampun kanda ! kenapa kanda mempunyai pikiran seperti itu ? walau dalam keadaan apapun, dinda akan tetap dan selalu menjaga kesucian dinda untuk kanda .”
Rama : “aku percaya padamu istriku, tapi apa kamu tau kalau rahwana tadi telah menyentuhmu ketika kamu tidak sadarkan diri ?”
Shinta : “tapi aku yakin kanda, Rahwana belum mengapa-apakan aku, aku yakin sekali kanda !”
Rama : “baik dinda, apa dinda mau membuktikannya ?”
Shinta : “iya kanda, dengan apa dinda harus membuktikannya ?”
Rama : “baik, ……!”
“Houww……..”( rama membuat api )
“Sekarang aku minta kamu berjalan di atas kobaran api ini, jika kamu terbakar berarti kamu telah ternoda. Tetapi jika kamu tidak terbakar, berarti kamu masih suci !”
“Apa dinda mau melakukannya ?”
Shinta : “Baik kanda, demi cintaku padamu, aku akan melakukannya !”
Setelah shinta berjalan di atas kobaran api itu, ternyata shinta tidak terbakar. Akan tetapi wajah shinta menjadi lebih cantik. Akhirnya rama tau kalau shinta masih suci dan menerima shinta kembali.
Rama : “ Dinda, ternyata dinda masih suci. Maafkan kanda istriku, kanda telah menuduh dinda yang aneh-aneh. Aku sayang sekali sama dinda !”
Shinta : “ kanda percayakan kepada dinda ? aku juga sangat mencintai kanda !”
Ketika mereka sedang berpegangan tangan, tiba-tiba laksmana pun dating.
Laksmana : “Kakak … !”
Rama & Shinta: “Yach ….. !”
Demikian tadi kisah pewayangan yang menggambarkan kisah Ramayana mudah-mudahan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua.

SELESAI


STAF PRODUKSI

Pimpinan Produksi : Drs. Heru Subrata, M.Si.
Stage manager: M. Wahyu Habiburrahim
Sekretaris: Yuliana Kudiyani
Bendahara: LiesSetyoningrum
Sutradara: Kurnia Widyaningsih
Asisten Sutradara : Mamik Hariyani
Penata Pentas: Mas Fuad
Penata Rias: Siti Wahyuningsih
Penata Busana: Niamih Wahyuni
10. Penata Musik: Mas Fuad

PENOKOHAN

Pemain:
Lies Setyoningrum sebagai Nenek
Kurnia Widyaningsih sebagai Ibu Rumi
Rina Fransisca Wulandari sebagai Asih
Eny Sulistina sebagai Ana
Iva Faizah sebagai Atik
Mutin Kartika Dewi sebagai Criztine
Putri Rinti S. Asta sebagai Vera
Niamih Wahyuni sebagai Ocha
Siti Wahyuningsih sebagai Mami City
Masfuad sebagai Om Fuo
Vivin Yudhian T.R. sebagai Sarinah
Luluk Puji Astutik sebagai Lastri
Sri Wahyuni sebagai Yu T

KONSEP PENYUTRADARAAN

Cerita ini diambil dari kisah nyata, dimana Sang Sutradara berusaha mengangkat salah satu sisi kehidupan yang mungkin tidak setiap orang faham dan mungkin dianggap hina bagi kalangan umum. Kebanyakan orang menganggap bahwa orang bekerja sebagai PSK berdasarkan atas dasar untuk mencari kesenangan dunia saja. Padahal di balik itu semua, mereka sangat tidak menginginkan hal tersebut. Ada alasan yang sangat kuat yang mengharuskan mereka mengambil dan menjalani profesi seperti itu. Meskipun memang ada juga yang hanya mencari kesenangan atau kepuasan dirinya saja.
Yang menjadi alasan pada umumnya bagi PSK menjalani profesi tersebut adalah faktor ekonomi dan minimnya pendidikan. Mereka dihadapkan pada permasalahan ekonomi keluarga yang serba kekurangan ditambah lagi pendidikan yang mereka dapatkan hanya sampai pada tingkat yang paling rendah. Mereka menginginkan pekerjaan yang layak untuk memperbaiki keadaan ekonomi mereka. Akan tetapi pada zaman sekarang ini, zaman yang sudah mengglobal dan modern, yang penuh persaingan, semua dituntut untuk memiliki keahlian. Sementara itu, mereka hanya memiliki ijazah SD. Mereka putus asa dan berfikir dengan profesi itulah mereka bisa mendapatkan pekerjaan dan terpaksa harus membohongi orang lain dan menghilangkan hukum halal dan haram.
Di sinilah, dalam drama yang berjudul KISAH KEHIDUPAN ASIH akan mengungkap kisah seorang gadis yang terjebak dalam kehidupan malam karena suatu keterpaksaan untuk menyambung nyawa keluarganya. Dalam kisah ini, Sutradara berusaha menyampaikan amanat bahwa meskipun kita berada dalam masalah yang sangat sulit, janganlah iman kita ternoda oleh hal-hal yang dilarang agama maupun norma-norma kehidupan yang lainnya. Dengan melihat drama ini diharapkan mampu menghilangkan image yang buruk tentang mereka yang menjalani profesi seperti itu dan dalam hal ini yang perlu diperangi adalah perbuatannya bukan pelakunya.

SINOPSIS

Ada sebuah keluarga yang terdiri dari nenek, ibu, dan 3 orang anaknya. Neneknya bernama Jamilah, ibunya bernama Rumi, dan ketiga anaknya masing-masing bernama Asih,Ana dan Atik. Asih sudah putus sekolah, Ana duduk di bangku SMA kelas II, dan Atik masih duduk di bangku SMP kelas I. Keluarga ini berada pada konflik yang sangat berat. Semenjak Pak Parmo meninggal dunia yang dikarenakan oleh kecelakaan, Ibu Rumi yang mengambil alih kemudi keluarga. Ia menjadi ibu sekaligus kepala keluarga. Dia hanya bekerja sebagai buruh cuci yang harus membiayai 2 anaknya yang masih duduk di bangku sekulah dan harus memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Belum lagi harus merawat seorang nenek yang sedang sakit. Kondisi seperti ini memaksa Asih bekerja untuk membantu ibunya memenuhi kebutuhan keluarganya.
Saat Asih dalam kebingungan mencari pekerjaan, tiba-tiba teman Asih sewaktu kecil yang bernama Criztine datang ke rumahnya. Asih sangat terkejut dan senang melihat kedatangan Criztine. Dalam pembicaraan mereka, Asih menceritakan keinginannya untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Dan Criztine pun mengajak Asih bekerja di tempatnya. Tanpa berpikir panjang lebar Asih pun menerima tawaran itu. Ketika Asih tiba di tempat kerja Criztine, dia sangat terkejut dan takut. Karena yang ia tahu Criztine itu kerja di salon, bukan di club malam, sebagai PSK. Setelah Criztine membujuk dan merayu Asih, ia pun akhirnya mau bekerja sebagai PSK.
Setiap hari Asih harus pergi ke tempat itu untuk memndapatkan uang demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Dia selalu berangkat malam, dan pulang pada pagi harinya. Dan dia selalu bilang pada keluarganya, kalau dia bekerja di pabrik sift malam karena dia tidak mempunyai ijazah. Lama-kelamaan, tetangganyapun mulai membicarakannya. Ada pepatah mengatakan, “Seperti apapun bangkai disembunyikan pasti akan tercium juga”. Ibu Rumi tidak kuat lagi mendengarkan pembicaraan tetangga tentang pekerjaan anaknya itu. Dia pun mulai curiga karena tingkah laku anaknya mulai berubah. Di suatu pagi, tidak sengaja Ibu Rumi mendengarkan pembicaraan tetangganya itu. Kemudian dia bertanya pada anaknyatentang pekerjaannya itu. Asih tetap mengatakan kalau dia bekerja di pabrik kebagian sift malam karena tidak mempunyai ijazah. Namun lama-kelamaan ia pun mengaku bahwa sebenarnya dia bekerja sebagai PSK dan diapun merasa bersalah. Dia meminta maaf pada ibu dan neneknya. Kemudian ia meninggalkan pekerjaannya itu dan bertaubat pada Allah S.W.T.

NASKAH DRAMA

KISAH KEHIDUPAN ASIH (K2A)

BABAK I

Ada sebuah keluarga yang terdiri dari seorang nenek, ibu dan 3 orang anaknya. Neneknya bernama Jamilah, ibu bernama Rumi dan ketiga anaknya masing-masing bernama Asih, Ana, dan Atik. Asih sudah lama putus sekolah, sementara Ana masih duduk di bangku sekolah kelas II SMA dan Atik kelas III SMP. Keluarga ini berada pada konflik yang sangat beratt semenjak Pak Parmo, suami Bu Rumi meninggal dunia karena kecelakaan. Keluarga ini pun menjadi sangat kekurangan. Ibu Rumi yang bekerja hanya sebagai buruh cuci harus membiayai 2 anaknya yang masih duduk di bangku sekolah ditambah lagi harus merawat neneknya yang sudah tua,sakit-sakitan lagi. Situasi dan kondisi seperti ini memaksa Asih untuk bekerja membantu ibunya memenuhi kebutuhan keluarganya.
Nenek : (Duduk di ruang tamu, kemudian ibu datang membawa secangkir teh hangat)”Lhoo…kok tumben yang membawakan tehnya kamu. Emangnya cucuku Asih ke mana?”
Ibu Rumi : “Asih lagi nyiapin sarapan buat Ana dan Atik, bu.Ibu kok batuk-batuk terus, apa ibu lupa minum obatnya?”
Nenek : “Sudah nak. Tapi nggak taulah. Ibu kan sudah tua.”
Ibu Rumi : “Oh…ya…sebentar lagi waktunya kontrol, bu “
Nenek : “Iya. Apa kamu punya uangnya, nak?”
Ibu Rumi : “Ada kok bu. Masih ada sedikit uang. Tapi cukup untuk pergi ke dokter.”
(Ana dan Atik pamitan kepada nenek dan ibunya yang berada di ruang tamu sedangkan Asih membersihkan meja makan dan secara tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka)
Ana : “Ibu, nenek, Ana berangkat dulu. “
Atik : “Atik juga bu.”
Ana : “Oh…ya bu, Ana minta uangnya untuk bayar SPP. Kemarin Ana dipanggil ke ruang guru karena sudah 5 bulan belum bayar SPP.”
Atik : “Atik juga, bu! Kemarin aku ditegur sama Bapak guru karena belum bayar SPP selama 3 bulan. Trus kapan ibu bisa bayarnya?”
Nenek : “Sudah cu, sudah. Nanti ibumu pasti akan membayarnya.”
Ibu Rumi : “Iya, nak. Ibu pasti akan membayarnya. Sabar ya nak? Tunggu ibu dapat uang.”
Ana : “Kapan bu? Kapan? Ibu selalu janji dan janji terus. Sudah, kalau ibu nggak lekas bayarnya, lebih baik ana patus sekolah aja. Aku berangkat.”
Atik : “Eh, kak Ana! Tunggu!!!Dah bu, nek, Atik berangkat dulu! Assalamu alaikum….”
Nenek dan Ibu Rumi : “Waalaikum salam”
Nenek : “Sabar ya nak! Ini memang cobaan dari Tuhan untuk keluarga ini.”
Ibu Rumi : “Iya Bu…! Ini memang cobaan dari-Nyadan kita harus sabar dalam menghadapinya.Oh…ya!ibu kan masih sakit?sebaiknya ibu istirahat saja biar cepat sembuh.”
Nenek : “Iya nak..! (sambil membawa tongkatnya, nenek masuk ke kamar)
(Ibu Rumi termenung di ruang tamu dan Asih mendekatinya)
Asih : “Bu,ibu tidak apa-apa kan? Maaf bu, Asih secara tidak sengaja mendengarkan percakapan ibu, nenek, dan adik-adik. Asih ingin meringankan beban ibu, izinkan Asih ya bu?”
Ibu Rumi : “Anakku, Asih. Kamu mau kerja apa? Kamu kan gak punya ijazah? sudahlah!!! Ibu saja yang bekerja kamu bantu ibu ngurus adik-adikmu.”
Asih : “Tapi bu. Asih bisa kerja apa saja, apa adanya. Iya bu..ya?”
Ibu Rumi : “Ya….sudahlah. Pesan ibu, kamu harus bisa jaga diri.”
Asih : “Iya bu! Doakan Asih cepat dapat kerja ya bu!!”
(Ibu menganggukkan kepala)
(Dalam suasana tegang seperti itu, tiba-tiba datang seorang wanitayang cantikdan molek. Ternyata dia adalah teman kecilnya Asih yang bekerja di Jakarta)
Cristine : “Assalamualaikum!
Ibu Rumi dan Asih : “Waalaikumsalam.”
Ibu Rumi : “Asih ayo coba kamu lihat siapa yang di luar!”
Asih : (Berjalan menuju pintu)
“Cristine!!!”
Cristin : “Hello,Asih! How are you??”
Asih : “Baik. Ya ampun…Cristine! Kamu tambah cantik aja”
Ibu : “Eh…nak Cristine.”
Cristine : “Ibu, apa kabar bu?”
Ibu : “Baik,baik nak! Duduk dulu ya, ngobrol sama Asih. Ibu buatkan minum dulu.”
Cristine : “Ga usah repot-repot lho bu?”
Asih : “Cristine, gila bener lu, kamu tambah cantik banget. Kulitmu juga tambah mulus. Badanmu puntambah seksi. Emank kamu kerja dimana?”
Cristine : “Ya donk!!!Aku kan kerja di salon. Jadi aku harus selalu perawatan gitu lho. Masak! Kerja di salon dengan kulit keriput, badan gembrot, dan kusam. Aduh…..nggak mungkin lah! Lho…Asioh kamu kokkelihatan sedihsekali. Ada apa? Ayo cerita sama aku! Kamu ga bisa bohong sama aku. Barang kali aku bisa membantumu, Asis.”
Asih : ‘Aku sekarang lagi bingung Cris. Aku inddgin kerja tapi….kerja apa ya? Aku kan dulu putus sekolah. Jadi, aku tidak punya ijazah. Semenjak Bapak meninggal, perekonomian keluarga kami jadi erba kekurangan.”
Cristine : “Oh…itu to masalahmu. Kelihatannya aku bisa bantu kamu.”
Asih : “Benar, kamu bisa bantu aku cari kerja?”
Cristine : “Em….kayaknya bosku lagi butuh karyawan satu lagi. Apa kamu mau pekerjaan ini?”
Asih : “Mau….mau…!!”
Cristine : “Baik aku akan hubungi bosku dulu”
(Cristine mengeluarkan Hp dari tasnya dan memencet nomor bosnya. Tidak lama kemudian tersambung) Hello….mami!!!”
Mami : “Hello…..ada apa sayang??”
Cristine : ‘Ini Mi, Crisyine lagi di rumahteman. Dia ingin kerja Mi, tenang aja Mi, dia cantik kok. Bodynya pun sexy. Mami mau kan teroma dia??”
Mami : ‘Boleh-boleh,kapan kamu bawa dia ke sini?”
Cristine : “Tenang aja Mi, nanti malam Cristine ajak dia ke sana.”
Mami : ‘Ok, Mami tunggu ya.”
Cristine : “Ok, thank ya Mi,muah…….Asih tadi itu bosku,dia sudah nerima kamu kerja di sana. Nanti malam kita bisa langsung ke sana.”
Asih : “Benarkah?secepat itu?bagaimana dengan seragamnya?”
Criztine : “Beres. Nanti sebelum kita ketemu bos, aku akan make up wajahmu biar kelihatan OK gitu !!”
Asih : “Baik, Criz. Aku ngikut aja.”
Criztine : “Dah, ya Sih. Aku harus pergi sekarang karena aku harus menemui partnerku. Aku sudah ditunggu.”
Asih : “Bu……!!”
Ibu Rumi : “Lho, nak Criztine mau kemana?”
Criztine : “Saya harus pergi sekarang, bu, karena ada janji.”
Ibu Rumi : “Tapi…ini diminum dulu, nak!!”
Criztine : “O…ya bu. Nanti Criztine ke sini lagi kok, bu.”
Ibu Rumi : “Hati-hati ya, nak!!!!”
Criztine : “Ya, bu. Ayo Asih.”
Ibu Rumi : “Sih,sih! Criztine itu kok tambah cantik, ya???”
Asih : “I………yalah, bu. Dia kan sekarang sudah banyak uang. Jadi, dia sekarang bisa sering perawatan di salon. Oh…….iya, bu! Criztine mo ngajak Asih kerja di tempatnya.”
Ibu Rumi : “Benar Asih??Alhamdulillah……”
Asih : “Eh…..bu! Tadi kita kan belum sarapan? Sarapan dulu, yuk???”
Ibu : (Menganggukkan kepala sambil menuju ke ruang tengah)

BABAK II

Tepat pukul 7 malam, Criztine menjemput Asih di rumahnya,kemudian mereka bersama-sama pergi menemui bosnya Criztine, mami Sity. Sesampainya di sana……….
Mami : “Mana sich Criztine!!!Katanya janji datang jam 7. Mana sekarang sudah jam 8 lagi.Jadi nggak sich barang barunya?”
Asih : “Criz, tempat apa ini?”
Criztine : “Ya ini tempat kerjaku. Dan kamu juga akan kerja di sini.”
Asih : “Tapi kok begini, Criz? Aku takut.”
Criztine : “Asih……….!Inilah salonku. Kamu mau ikut kerja, nggak? Di sinilah aku bisa dapetin banyak uang padahal aku juga tidak punya ijazah.Katanya kamu pingin Bantu ibumu. Udah, ikut aja!!”
“Malem, mi……!(Nadanya centil, sambil cium pipi kanan kiri mamy)Ini lho mi, yang aku ceritakan tadi!(sambil merangkul pundak Asih)”
Mami : (Berjalan mengelilingi Asih sambil mengamati Asih)”OK….Boleh juga.”
Criztine : “Asih, nich kenalin bosku.Mamy Sity.”
Asih : (Berjabat tangan)”Nama saya Asih, bu”(sambil gemetar)
Mami : “Jangan panggil saya ‘bu’! Panggil saja ‘Mami Sity’!Benar, kamu mau kerja di sini?”
Asih : “I…..ya…..”
Mami : “Selama kamu kerja di sini, namamu bukan bukan asih lagi. Ganti namamu! Bisa Selvi, Rika, Salsa atau…………terserahlah. Emmm…..Gimana kalo mami kasih nama kamu Selvy?”
Asih : (Asih menganggukkan kepala)
Mami : “Sebentar ya?? Mami tinggal dulu.”
(Seorang bisnismen datang untuk mencari hiburan karena bisnisnya banyak yang bermasalah.’Om Fuo’,begitu mereka memanggilnya)
Om Fuo: “Malem cantik……”
Ocha dan Fera : “Malem om……….”
Ocha : “Om ganteng deh malem ini.Mau Ocha temenin om?”
Om Fuo: “Bentar manis. Om lagi pingin jalan-jalan dulu nich.”
Fera : “Gimana………kalo ama Fera aja om?????Dijamin dech o….m…..”
OM Fuo: “Sabar, ya cantik!!!O….m mau lihat-lihat dulu.”
Fera : “Om nyebelin deh malem ini…”
Om Fuo : “Tenang….Om tetap akan kasih tips buat kalian. Mami Sity mana??”
Mami Sity: “Ooo…….om Fuo…Gimana kabarnya?Dah lama nggak main ke sini.Lagi banyak bisnis ya??Atau……..Sudah punya tempat yang lain???????”
Om Fuo: “Aduh!!!Om lagi pusing nich.Bisnis lagi macet. Makanya om dating ke sini. Om tak kan bisa lupa tempat seindah ini. Mi, om mau seneng-seneng nich.Apa ada barang baru????”
Mami : “Tenang………Di tempat mami selalu ada yang baru Mami kan tahu selera om Fuo…..Dijamin OK dech.”
Om Fuo : “Mana mi??”(sambil matanya jelalatan)
Mami : “Tuh…..”(sambil melirik Asih)
“Tapi tarifnya mahal,lhoo……masih orisinil.”
(Mami dan om Fuo berjalan mendekati Asih)
Mami : “Selvi, kenalkan ini om Fuo.”
Om Fuo : “Wow………….w…….w…luar biasa.”(Memandangi Asih dari ujung kepala sampai ujung kaki, dari samping kanan ke samping kiri dan…….)”OK, mi.Malam ini, aku sama dia aja.”
Mami : “Asih, malam ini kamu temani om Fuo, ya? Ingat!! Jangan kecewakan dia, OK!!”
(Asih mengangguk saja kemudian Criztine bersama mami meninggalkan mereka berdua)
Om Fuo : “Kamu cantik sekali Selvi. Ayo!! Jangan takut sama om. Om ini orangnya baik hati dan romantis lhoo… Bagaimana kalo malam ini kita jalan-jalan ke luar aja??”
(Asih mengngguk tersipu malu dan mereka pun beranjak dari tempat duduknya. Baru beberapa langkah kemudian…. Mami memanggil)
Mami : “Mau cabut, nich om???????Tips buat mami mana??”
Om Fuo : “Oh…..ya mi. Nich, buat mami. Om berangkat dulu mi.Makasih ya!!!”
Mami : “Eh……..ingat!!!Pulangnya jangan malam-malam!!!PAGI AJA YA!!(mami berjalan mendekati Cristine) Criz, ini buat kamu. Kamu memang pinter, tau selera orang.”
Criztine : “Iya donk, mi!!Criztine!!!Makasih, mi.”
Ocha : “Ver, siapa sich cewek yang baru aja keluar ama om Fuo itu?”
Vera : “Aku juga nggak tau. Tadi sich datangnya sama Criztine. Anak baru kali!!(kemudian hand phone Vera berdering) Eh….!!!Bentar, bentar…Hallo…..Malam. Vera’s here.”
(X : “Halo juga cantik. Apa kamu bisa datang ke sini, sekarang? Aku lagi butuh kamu, cayank.”)
Vera : “OK…cayank!!1Tunggu 10 menit lagi!! Aku pasti sampai sana.Bye…..Muach.”
“Ocha, maaf ya?Aku harus pergi cos dah ada yang nunggu>”
Ocha : “OK. Nggak pa-pa lagi. It’s no problem.”
(Mami menghampiri tempat duduk Ocha sesudah Vera pergi)
Mami : “Ocha, lagi ngapain??? Kamu kok sendirian sich!!!”
Ocha : “Lagi sepi nich, mi. Nggak tau tuh kenapa..”
Mami : “Udah…Kamu sich….lesu gitu…Kamu lama nggak perawatan ya??Lebih baik temenin mami ke salon aja, yuk!”
Ocha : “Iya….dech, mi.”
(Ocha dan mami pergi ke salon bersama-sama)

BABAK III

Itulah pekerjaan Asih. Setiap hari dis harus pergi ke tempat itu untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Dia selalu berangkat malam, pulang pada pagi harinya. Para tetangga mulai membicarakannya.Pagi ini, aktifitas di daerah Asih berjalan seperti biasanya.
Sarinah : (Sedang menyapu halaman rumah sambil menunggu tukang sayur)
Lastri : (Sedang tapen beras sambil ngobrol sama Sarinah, tetangganya tentang aktivitas mereka)”Jeng Sari…..jeng Sari, tukang sayurnya dah dating belum?”
Sarinah : “Nggak tau….kayaknya belum. Aku juga lagi nunggu kok.”
Lastri : “Nanti kalo dah dating, panggil aku ya!”
Sarinah : “Beres jeng.”
Tumirah : “Sayur……sayur….sa..yu….r……..sayurnya jeng.”
“Jeng Sari, beli sayur ndak???”
Sarinah : “Iya, yu. Wong sudah ditunggu dari tadi kok, “Jeng Lastri! Beli sayur ndak?”
Lastri : “Ya..jeng…tunggu sebentar!!!!”
“Ooalah………..yu…………kemana aja sich???Kok baru dating. Aku dah nunggu dari tadi.”
Tumirah : “Ya maaf, jeng. Aku kan juga harus ngurus anakka berangkat sekolah. Itu lho, katanya di sekolah ada acara.”
Sarinah : “Lho, iya to yu……..kalo kamu nggak dating, mau tak kasih makan apa anak dan suamiku????”
Lastri : “Ada sayur apa aja yu???”
Tumirah : “Ini……ada bayem,kangkung, wortel. Masih seger lho…”
(Lastri dan Sarinah memilih-milih sayur….. kemudian Asih datang)
Asih : “Pagi, jeng ???”
Tumirah, Lastri dan Sarinah : “Pagi…..”
(Asih terus berjalan pulang dan ketiga tetangganya mulai membicarakan Asih)
Sarinah : “Eh,……..jeng. Emangnya siAsih itu kerjanya apaan sich..??? Kok selalu berangkat malem, terus pulangnya pagi.”
Tumirah : “Lho……..Katanya kerja di pabrik. Mungkin dia kebagian sift malam.”
Lastri : “Masa sich kerja di pabrik? Dia kan nggak punya ijazah.Padahal kerja di pabrik itu kan harus punya ijazah SMA.”
Tumirah : “O…..Jadi kerja di pabrik itu juga harus punya ijazah, to??”
Sarinah : “Piye to yu…..yu…..sampeyan iki. Masa gitu aja nggak tau.”
Tumirah : “Ya, namanya juga tukang sayur. Taunya ya kangkung, baye, wortel,…..”
Lastri : “Eh…..jangan-jangan asih kerja kayak di TV-TV itu lho…….yang sering digrebek sama polisi….”
Sarinah : “Aduh……..hhh.Jeng Lastri. Itu namanya PSK atau kata lainnya WTS (bisik-bisik). Masa istri direktur nggak ngerti yang namanya PSK????????”
Lastri : “Eh…..eh…..dengar tuh! Asih dipanggil ibunya. Udah cepat dihitung! Aku beli ini.”
Sarinah : “Iya. Cepetan yu!Dah siang nich…….Aku juga mau masak.”
Tumirah : “Ya udah. Jeng Lastri habis 9 ribu dan jeng Sari habis 6 ribu.”
Lastri : “Ya udah, yu. Aku mau masak dulu.”
Sarinah : “Makasih ya, yu???”
(Mereka bertiga terus membicarakan Asih. Setelah mendengar kabar itu, Ibu Rumi terkejut kemudian langsung memanggil Asih)
Ibu Rumi : “Asih!!!Asih!!!….Kesini nak!!!!”
Asih : “Ada apa, bu?”
Ibu Rumi : “Asih, ibu minta kejujuranmu. Sebenarnya Asih kerja apa, nak?”
Asih : “Asih kerja di pabrik. Ada apa sich bu??”
Ibu Asih : “Skali lagi ibu Tanya. Jujur, kamu kerjanya apa?”
Asih : “Asih itu kerja di pabrik, bu. Kebagian sift malam.”
Ibu Rumi : “Lalu……Apa yang mereka katakana? Kenapa semua orang mempergunjingkanmu?Katakan Asih! Apa yang sebenarnya kamu lakukan di luar sana? Kamu kerjanya benar apa nggak, nak?”
Asih : “Asih harus ngomong apa lagi, bu? Kenapa sich ibu lebih percaya pada mereka???Emangnya mereka bilang apa???”
Ibu Rumi : “Kau ingin tau? Benar, kamu ingin tau??? PSK!!Benarkan, nak? Ibu sudah curiga sejal awal, nak. Ditambah akhir-akhir ini sikapmu mulai berubah.Ayo Asih, katakana! Katakan!! Kenapa kamu hanya diam saja? Baik…..baik……ibu sudah bosan. Lebih baik ibu pergi saja.”
(Asih serentak bersujud di kaki ibunya, mencegah kepeergiannya. Dan di saat itu, neneknya masuk)
Asih : “Ibu!! Ibu jangan pergi! Asih emang salah, bu. Semua yang mereka katakana itu benar, bu. Maafkan Asih????”
Nenek : (Terkejut mendengar pengakuan Asih itu)”Astaghfirullahal ‘athiim….Asih…”
Ibu Rumi : “Anakku. Benar?? Kau kemanakan semua ilmu agama yang telah kamu pelajari, nak???Semenjak kepergian bapakmu, ibu selalu berusaha mencukupi kebutuhanmu dan juga adik-adikmu. Ibu bekerja keras nak,….karena ibu nggak mau melihat jadi manusia yang tak berguna.”
Nenek : “Sudahlah, nak. Asih kan sudah mengaku. Dia sudah menyesali semua perbuatannya.”
Ibu Rumi : “Menyesal???Enak aja ngomong menyesal. Apa dia nggak pernah mikir bagaimana perasaan ibunya mendengar kabar seperti itu. Dia sudah mencoreng nama baik keluarga ini. Ya Allah, ……. Maafkan hamba yang telah gagal mendidik anakku ini????????”
Asih : “Maafkan Asih, bu? Asih akan berhenti. Asih akan meninggalkan semua ini. Asih akan cari pekerjaan yang lain, kerja yang halal.”
(Hati Ibu Rumi mulai luluh mendengar penyesalan Asih)
Nenek : “Nak, maafkan Asih? Bagaimanapun juga, Asih itu anakmu. Dia bekerja seperti itu, demi keluarga ini juga kan?”
(Perasaan Ibu Rumi semakin luluh dan ia tidak kuasa membendung air matanya)
Ibu Rumi : “Anakku, Asih. Ma…..af….kan, ibu? Maafkan ibu yang telah buat kamu jadi begini?”
Asih : “Nggak…..bu,…..ibu nggak salah. Asih yang salah. Maafin Asih, bu?”
Ibu Rumi : “A…..si…..hhhh”
(Asih dan ibunya, Rumi kemudian saling berpelukan, meluapkan semuanya dengan air mata yang berlinang-linang. Asih akhirnya kembali ke jalan yang benar. Keluarga bu Rumi kembali hidup normal, bahagia dan bersahaja) .

SELESAI

“Hantu Jadi Artis”

Posted: 14 Juni 2009 in Naskah Drama

GELAR KARYA PEMENTASAN DRAMA:
“HANTU JADI ARTIS”
Pimpinan Produksi: DRS. HERU SUBRATA, M.Si

Hantu Jadi Artis

SUSUNAN STAF PRODUKSI

1. Pimpinan produksi : Drs. Heru Subrata, M.Si
2. Sekretaris : Nurmalia
3. Bendahara : Sri Maya Eka
4. Sutradara : Maria Ulfa
5. Astrada : Ristina S.
6. Penata Property dan panggung : Sholicatin. A
7. Penata Busana & Tata rias : Aldrine. S.
8. Penata Tari & Busana : Dwi Ayu Megawati

KARAKTERISASI

1. Sholicatin. A sebagai Tarmo beres slamet
2. Aldrine. S sebagai Kunti
3. Sri Maya Eka. S sebagai Ki Kolor ijo
4. Nurmalia. S sebagai Puci
5. Ristina. S sebagai Sundi
6. Maria Ulfa sebagai Nyai
7. Dwi ayu megawati sebagai Heni panci gosong

KONSEP PENYUTRADARAAN

 Konsep Panggung
Konsep panggung dibagi dalam 2 konsep, karena ada 2 babak cerita. Pada babak pertama, latar panggung gelap gulita, tidak ada properti sama sekali, hanya ada 2 pemain saja. Pada babak kedua, mulai ada properti yaitu kuburan yang diletakkan di tengah panggung, di depannya ada kamera buatan. Sebelah sisi kanan panggung ada batu dan semak-semak. Pencahayaan sudah agak terang karena adanya sorot kamera.

 Konsep Tata Rias dan Busana
Untuk para hantu :
Puci : memakai kostum putih dari ujung kepala hingga kaki (dibentuk seperti pocong). Untuk make up wajahnya diberi masker warna putih dan disekitar mata di make up hitam.
Sundi : memakai kostum hitam panjang. Riasan wajah hitam dan rambut dibuat acak-acakan. Di bagian punggung dibuat hiasan lubang seperti layaknya “sundel bolong”
Ki Kolor Ijo : memakai kostum kaos street warna hijau dan deker hitam. Mekai celana kolor warna hijau. Riasan wajah bernuansa hijau. Rambut diikat acak-acakan.
Kunti : memakai kostum serba putih panjang. Riasan layaknya hantu yang menjelma menjadi cantik.
Untuk para manusia :
Tarmo : memakai kaos besar warna biru. Celananya celana bola dengan kaos kaki panjang dan menggunakan sepatu bola. Memakai topi. Dirias layaknya seperti laki-laki.
Heni Panci : memakai pakaian serba hitam, dilengkapi dengan jaket hitam yang serba besar.
Bu Nyai : memakai baju taqwa, sarung, syurban, dan peci warna putih.

Drama ini dibagi menjadi 2 babak. Pada babak yang pertama panggung akan dibuat menjadi gelap dan tanpa ada property sama sekali. Babak ini dimulai dengan pembacaan prolog kemudian pemain pertama yang ada diatas panggug adalah Puci dan Sundi, mereka posisinya ada ditengah panggung dengan keadaan tidur telentang seperti orang mati kemudian keduanya bangun dan bercakap – cakap. Dilanjutkan dengan prolog, kemudian babak kedua.
Pada babak kedua setting panggung tetap gelap namun agak diberi sedikit pencahayaan. Panggung juga dilengkapi dengan beberapa kuburan ditengah panggung batu besar / semak – semak disebelah kanan panggung. Pada babak kedua pemain pertama yang masuk panggung adalah Heri panci gosong dan Kyai dan mengambil setting tempat didepan kuburan yang kemudian disusul oleh kemunculan hantu Puci dan Sundi yang segera mengambil setting tempat disebelah semak – semak / batu besar. Pada adegan ini Sundi dan Puci yang bercakap – cakap, kemudian pak Kyai dan Heri panci gosong bercakap – cakap tanpa suara.
Selang beberapa menit pemain berikutnya masuk yaitu Kunti dengan berjalan perlahan – lahan, dia segera menuju tempat persembunyian Sundi dan Puci serta mengejutkan mereka berdua kemudian dilanjutkan dengan percakapan. Adegan akan dilanjutkan dengan dimulainya acara “ Menelusuri Alam Ghaib “ yang dibuka oleh Heri panci gosong yang didampingi oleh pak Kyai, sedangkan para hantu ditempat pengintaiannya mendengarkan dan memperhatikan kegiatan mereka tanpa ada percakapan. Setelah acara dibuka Heri panci gosong dan Kyai menunjuk salah satu penonton yang mengacungkan tangan untuk dijadikan peserta uji nyali. Peserta tersebut diminta naik ke panggung dan dan adegan dilanjutkan dengan percakapan ketiga orang tersebut. Selanjutnya peserta (Tarmo) akan ditinggal oleh Heri panci gosong dan Kyai setelah ditanyai kesanggupannya oleh Heri panci gosong. Pada adegan ini dipanggung ada 4 pemain Tarmo didepan kuburan dan 3 hantu ( Puci, Sundi dan Kunti ) yang mengintai dari tempat persembunyiannya tadi. Ketika Tarmo ditinggal semdirian, 3 hantu tadi mulai bercakap – cakap lagi yang kemudian diakhiri dengan kepergian Puci dan Sundi. Selanjutnya, Kunti berkeliling panggung dan mendekati Tarmo, Tarmo terkejut dan adegan dilanjutkan dengan percakapan keduanya. Tiba – tiba dari makam kramat Ki kolor ijuk bermunculan asap tebal yang dibarengi kemunculan Ki kolor ijuk dari makam tersebut dan mengagetkan mereka berdua. Adegan dilanjutkan dengan pertengkaran mulut yang kemudian dilanjutkan dengan pertarungan fisik antara Ki kolior ijuk dan Tarmo. Pertarungan akhirnya dimenangkan oleh Ki kolor ijuk dan Tarmo kalah terjatuh dengan menahan rasa sakit. Kemudian Ki kolor ijuk menarik Kunti pergi meninggalkan Tarmo yang sudah tak berdaya. Kemudian, adegan dilanjutkan dengan Tarmo yang meminta tolong pada para kru TV, kemudian Kyai dan Heri panci gosong menghampirinya dan pak Kyai mengobati Tarmo dengan menyalurkan tenaga dalamnya kepada Tarmo dengan duduk bersila seperti menyalurkan tenaga dalam. Setelah disembuhkan Tarmo panik dan mulai melarikan diri karena merasa ketakutan. Acara berakhir dan ditutup oleh Heri panci gosong bersama dengan Kyai tetapi dipanggung juga ada pemain lain yaitu hantu – hantu penghuni kuburan kramat tersebut ( Puci, Sundi dan Ki kolor ijuk ) yang menakut – nakuti Heni panci gosong dan Nyai. Drama ditutup dengan Heri panci gosong dan Kyai yang kabur karena ditakut – takuti oleh hantu – hantu tadi. Kemudian, acara ditutup dengan kemunculan semua pemain yang diiringi dengan lagu Afi “ Menuju Puncak “.

SINOPSIS CERITA

Di alam kubur komplek kuburan kramat, dua penghuni kuburan ( Sundi dan Puci ) kramat sangat terganggu dengan keadaan yang sangat ramai dan berisik sekali. Akhirnya, mereka berdua memutuskan keluar dari alam kubur mereka untuk melihat situasi diluar makam.
Sementara itu, diluar kuburan telah ramai oleh para kru TV, mereka disibukkan dengan acara yang akan mereka adakan yaitu acara “ Menelusuri Alam Ghaib “ kedua hantu penghuni makam kramat yang baru tiba diatas komplek kuburan merasa amat heran dan kebingungan, mereka berdua hanya bisa mengintai dari semak – semak disekitar komplek kuburan kramat. Ketika mereka berdua masih kebingungan, tiba – tiba mereka berdua dikejutkan dengan kehadiran seorang hantu cantik yang tidak dikenal namun agak sombong ( Kunti ). Kedua hantu polos tersebut tidak begitu menyukai kedatangan penghuni baru yang sok tahu ini. Mereka bertiga akhirnya mengintai kegiatan para kru TV tersebut. Tidak lama kemudian acara “ menelusuri Alam Ghaib “ dimulai, acara dibuka oleh pembawa acara dari acara ini yaitu Heri Panci gosong kemudian dilanjutkan dengan pencarian peserta diantara kerumunan penonton. Akhirnya, ditemukan seorang pemuda ( Tarmo beres slamet ) yang bersedia menjadi peserta, dengan alasan karena dia memang berniat mencari pacar dari alam ghaib alias hantu.
Uji nyalipun dimulai, peserta ditinggal dikomplek kuburan kramat tersebut sendirian. Kunti yang sedang mengintip dan mendengarkan aktvitas mereka sejak tadi, ingin mencoba berkenalan dengan sang pemuda. Namun, hal itu tidak disetujui oleh kedua penghuni makam kramat tersebut ( Puci dan Sundi ) karena hal itu melanggar peraturan yang ada. Tetapi, Kunti nekat ingin berkenalan dengan Tarmo. Akhirnya mereka berdua berkenalan, mereka asyik berbincang – bincang dan bersenda gurau tanpa menghiraukan sekitarnya. Namun, tiba – tiba dari kuburan kramat tersebut muncullah “ Ki kolor ijuk “ ( hantu penghuni makam kramat ) yang mengaku sebagai suami Kunti dan memaksa Kunti untuk ikut dengannya. Tarmo yang melihat pacar barunya dipaksa dengan kasar tidak terima dan menantang Ki kolor ijuk. Pertarungan sengit terjadi dan pertarungan tersebut dimenangkan oleh Ki kolor ijuk. Tarmo tidak dibunuh dia dijinkan untuk pergi namun, meninggalkan tempat tersebut dengan keadaan luka parah. Kemudian Tarmo berteriak minta tolong hingga bantuan dari Kru pun datang, Tarmo diselamatkan oleh Nyai. Dia sembuh namun dia mengalami shock berat sehingga tidak dapat menceritakan kejadia yang telah menimpanya.

Naskah Drama “Hantu Jadi Artis”

Dengan diiringi suara-suara seram
Sundi : “ Aduh, berisik banget, sih ? Siapa sih yang mengganggu ketenangan disini. “
Puci : “ Iya nih. Aku jadi gak tenang. Gimana kalau kita lihat keluar saja ? “
Sundi : “ Oke. Siapa takut. “
( Akhirnya kedua hantu penghuni makam kramat itu memutuskan untuk keluar dari tempat peristirahatannya ).
Dengan diiringi suara-suara seram
Puci : “ Sun, mereka lagi ngapain sih ? “
Sundi : “ Emangnya kamu gak tau ya mereka itu para kru TV. Ya tentu saja mau syuting film. “
Puci : “ Syuting film kok disini. Emangnya gak ada tempat yang lebih bagus dari pada rumah kita. “
Sundi : “ Iya. manusia ini memang aneh, bukannya cari tempat yang bagus buat syuting film eh malah mengganggu kita yang sudah tenang disini. “
Puci : “ Sun, katanya mereka mau syuting film. Mana aktris dan aktornya ?”
Sundi : “ Iya kamu bener. Kok gak ada ya. “
Puci : “ Wah kesempatan nih siapa tau aku bisa jadi aktrisnya. Itukan cita – citaku sejak dulu. “
Sundi : “ Huss ngaco kamu, mana mau mereka ngajak kamu main film, kalau ngomong aja kamu kadang gak nyambung. “
( Tiba – tiba dari arah belakang muncul seorang hantu cantik yang mengejutkan mereka berdua )
Kunti : “ Hayooo……. kalian lagi ngapain ?”
Sundi & Puci : “ Hantuuu………..( terkejut).
Kunti : “ Hey easy man………Emangnya kalian berdua bukan hantu apa.”
Puci : “ Oh iya ya. Aku kok baru sadar kalau kita ini hantu.”
Sundi : ( Dengan nada marah ) Husss ngaco kamu. ( melihat kepada Kunti dengan rasa jengkel ) Hey..! kamu penghuni baru disini ya ?”
Kunti : “ Aku ini datang dari tempat nan jauh disana. Aku mau melihat pemandangan disekitar sini yang katanya sih bagus. Tetapi, ternyata tempatnya jelek apalagi penghuni disini yang jelek – jelek.”
Puci : “ Hey…! Ngomong lagi gue kepret lho.”
Kunti : “ Emangnya kamu bisa. Aku gak yakin tuh, kamu bisa.
Ayo coba pukul. Hah, tapi aku gak peduli tuh karena syutingnya udah mau mulai. Siapa tahu aku bisa ikut jadi pemainnya. “
Sundi : “ Emangnya mereka bisa ngeliat kamu apa ?”
Kunti : “ Emangnya kamu gak tahu mereka mau syuting apa ?”
Puci : “ Kita mana tahu acara TV, kita kan gak punya TV.”
Kunti : “ Kasihan deh lo, makanya yang gaul dong. Kalau bukan dari TV setidaknya kalian tau dari gosip yang santer beredar saat ini.”
Sundi : “ Gosip apa sih ?”
Kunti : “ Zaman sekarang ini manusia lebih suka berinteraksi dengan makhluk ghaib alias apa hayo ?”
Puci & Sundi : “ Hantuuu.”
Kunti : “ Iya , benar. Mereka itu ingin mengetahui tentang dunia kita ini.”
Puci : “ Manusia ini kok aneh, sih. Kita aja pengin jadi manusia dan menikmati kesenangan dunia, Eh malah mereka mau tau tentang dunia kita.”
( Tepat jam 11.00 malam acara menelusuri alam ghaib dimulai )
Heni Panci : “ Selamat malam, pemirsa. Kita bertemu lagi dalam acara “ Menelusuri Alam Ghaib “ bersama saya Heri Panci Gosong. Pemirsa pada episode kali ini kami telah mendapatkan tempat yang dianggap paling kramat ditempat ini yaitu kompleks kuburan kramat Ki kolor ijuk. Baiklah pemirsa sebelum acara uji nyali kita mulai, kami terlebih dahulu akan mencari peserta uji nyali yang berani kita tinggal sendirian ditempat ini selama 2 jam.”
( Heri Panci mulai mencari peserta uji nyali diantara kerumunan penonton, kemudian dia menunjuk seorang pemuda yang mengangkat tangannya ).
Heri panci : “ Ya, mas. Silahkan.”
( Peserta tadi naik ke panggung ).
Heni panci : “ Selamat malam, mas.”
Tarmo : “ Selamat malam, mas.”
Heni panci : “ Siapa nama anda ?”
Tarmo : “ Namanya saya Tarmo beres slamet. Tapi biasanya saya dipanggil Tarmo saja, mas.”
Heni panci : “ Anda berasal darimana Mas ?”
Tarmo : “ Saya berasal dari Madura asli, Mas.”
Heni panci : “ Apa alasan anda mengikuti acara ini ?”
Tarmo : “ Saya ingin mencari pacar dari alam ghaib, Mas. Siapa tau saya bisa kawin. Nanti Mas – mas ini saya undang.”
Heni panci : “ Baik Mas Tarmo, sebelum acara uji nyali kita mulai, mari kita tanyakan terlebih dahulu keadaan disini kepada ahlinya. Selamat malam pak Kyai !”
Nyai : “ Selamat malam, Mas.”
Heni panci : “ Menurut Kyai, bagaimana keadaan disekitar makam kramat ini ?”
Nyai : “ Kalau dilihat dan diperhatikan sepertinya tempat ini bersih, terawat, dan katanya sih pengunjungnya banyak. Tetapi, sayang Mas tempatnya jauh dan sulit dijangkau. Kaki saya sampai lecet nih, sedikit.”
Heni panci : “ Maaf, Kyai. Maksud saya bukan itu Kyai. Maksud saya bagaimana keadaan disini bila dilihat dari mata batin Kyai.”
Nyai : “ Oh itu, ngomong dong dari tadi. Jadi saya gak usah banyak ngomong. Baiklah, kalau dilihat dan dirasakan dari mata batin saya sepertinya tempat ini banyak sekali hantunya. Sepertinya hantunya menyebar dimana – mana. tetapi Mas, pusat kekuatan mistis terbesar terdapat dikuburan ini. Tempat ini juga merupakan tempat yang strategis untuk para hantu cangkruk bersama.”
Tarmo : “ Lho Kyai, hantu bisa cangkru’an juga ya ?”
Nyai : “ Oh jangan salah Mas. Sebenarnya paling suka cangkru’an itu adalah hantu karena mereka tidak punya kerjaan lain selain cangkru’an. Bisa mirip tante – tante genit gitu lho.”
Heni panci : “ Ah Kyai bisa aja. Baik Mas Tarmo, bagaimana apakah anda sudah siap ?”
Tarmo : “ Saya sudah siap dari tadi Mas.”
Heni panci : “ Baik Mas Tarmo. Kami akan meninggalkan anda disini selama 2 jam, jika anda berhasil anda akan mendapatkan hadiah dari kami. Tetapi jika anda menyerah, maka anda cukup bisa melambaikan tangan kepada kami, maka kru kami akan segera membantu anda. Tetapi, jika anda menyerah maka anda tidak akan mendapatkan hadiah.”
( Kemudian Pak Kyai dan Heri panci meninggalkan Tarmo di kompleks kuburan kramat itu sendirian, namun dari semak-semak tempat persembunyian ketiga hantu mulai berbincang-bincang lagi ).
Kunti : “ Tuh khan, kalian denger sendiri. Kalau cowok ganteng itu mau mencari pacar dari golongan kita.”
Puci : “ Tapi itu khan menyalahi aturan, kita khan sudah diberi batasan untuk tidak saling menganggu. Apalagi manusia itu sudah mengganggu kita yang sudah tenang disini.”
Kunti : “ Ah, aku gak peduli yang penting aku dapat pacar dari bangsa manusia yang cuakep dan suedep.”
Sundi : “ Ya, sudah kalau diomongin gak mau. Kamu rasakan sendiri akibatnya nanti. Ayo, Puci kita pergi.” ( menarik Puci )
Kunti : “ Pergi aja sana.”
( Hantu cantik ini kemudian mendekati Tarmo dan mengejutkannya ).
Kunti : “ Mas……. mas cakep.”
Tarmo : ( menoleh dan terkejut ) “ Ya ampun, cantik sekali ! Siapa namanya kamu ?”
Kunti : ( terseipu malu ) “ Nama saya Kunti Mas. Kalau Mas namanya siapa?”
Tarmo : “ Nama saya Tarmo beres slamet. Tapi, biasanya saya dipanggil Tarmo saja.”
Kunti : “ Nama Mas bagus deh, sebagus orangnya.”
Tarmo : “ Nama kamu juga cantik sama seperti orangnya.”
( Kedua makhluk yang berbeda alam tersebut langsung akrab dan langsung asyik berbincang-bincang. Namun, tiba-tiba terdengar suara tawa yang mengerikan yang dinarengi dengan kumpulan asap yang mengepul yang berasal dari kuburan kramat Ki kolor ijuk ).
Diiringi suara-suara seram
Ki kolor ijuk : “ Ha…ha…ha….ha…. Hey, kalian apa yang kalian lakukan disini, Kunti kau sengaja membuat aku marah ya ?”
Kunti : ( terkejut ) “ A…a….aku Cuma………..”
Ki kolor ijuk : “ Dasar perempuan gatel, ayo ikut.” ( menarik tangan Kunti )
Tarmo : “ E…e…e Sembarangan sampeyan. Ini pacar saya jangan dibawa sembarangan dong.”
Ki kolor ijuk : “ Bocah semprul kamu. Dia ini istriku yang ke-16 mana mungkin dia bisa jadi pacarmu. Ayo ikut Kunti !” ( menarik tangan Kunti).
Tarmo : “ E…e…e…. jangan sembarangan dong, Mas. Tanya dulu sama dia, dia pilih saya atau kamu.”
Ki kolor ijuk : “ Dia istriku jelas pilih aku. Ayo Kunti !” (menarik Kunti).
Kunti : “ Aku gak mau, aku mau ikut Mas Tarmo.” ( Berlari kearah belakang Tarmo )
Ki kolor ijuk : “ Kunti, kamu melawan aku ?”
Kunti : “ Aku gak akan berani ngelawan kamu, Mas. Tapi aku bosan jadi istrimu kau selalu meninggalkan aku sendirian, kalau aku gak nurut aku kamu pukul, dan kau selalu memperlakukanku seolah-olah aku ini budakmu. Kau tidak pernah mencintaiku. Aku ingin mencari bangsa manusia yang dapat mengerti apa itu arti cinta.”
Ki kolor ijuk : “ Hantu edan kamu Kunti ! Baiklah aku tidak akan tinggal diam akan kubunuh manusia ini.” ( Bersiap menyerang Tarmo).
Kunti : “ Eh tunggu dulu ! sebelum bertarung kasih hormat dulu dong.”
( Pertarungan sengit antara Tarmo dan Ki kolor ijuk pun dimulai. Pertarungan tersebut sangatlah seru dan terbagi dalam 2 babak pertarungan. Namun sayang ternyata Tarmo kalah dalam pertarungan itu ).
Tarmo : ( terjatuh menahan sakit ) “ Ah…….agh…….agh.”
Kunti : ( Berteriak ) “ Mas Tarmooooo……”
Ki kolor ijuk : “ Baiklah. Aku tidak akan membunuhmu, tetapi jangan pernah datang kesini lagi. Ayo Kunti !” ( Menarik tangan Kunti dengan paksa )
Kunti : ( sambil menangis ) “ Mas Tarmo tolong mas………mas………”
Tarmo : ( Dengan suara lemah ) “ Kunti…………Kunti…..”
( Ki kolor ijuk dan Kunti pergi meninggalkan tempat itu dan kembali kealamnya ).
Tarmo : (sambil melambaikan tangannya)“ Tolong……. .tolong…….. tolong……”
Heni panci : “ Lho ada apa, Mas ?”
Nyai : “ Sepertinya anak muda ini terkena pukulan dari makhluk ghaib penghuni makam kramat disini.”
Heni panci : “ Apa bisa disembuhkan Kyai ?”
Nyai : “ Insya Allah “
( Kemudian Kyai tersebut menyalurkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan Tarmo)
Tarmo : “ Sakalangkong banyak, Kyai.”
Nyai : “ Ya, sama – sama.”
Heni panci : “ Baiklah, Mas Tarmo. Bisakah anda menceritakan pengalaman anda kepada pemirsa ?”
Tarmo : ( Panik dan buru – buru pergi ) “ Saya kapok mas ikut acara ini. Saya mau pulang saja.”
Heni panci : “ Lho Mas……..lho mas, tunggu Mas ! Maaf pemirsa rupanya peserta kita kali ini mengalami shock berat, sehingga tidak bisa menceritakan pengalamannya. Baiklah pemirsa cukup sampai disini acara kita hari ini, bila ada kritik atau saran dapat anda kirimkan melalui surat ke alamat dibawah ini ( Poster alamat dibawa oleh Puci dan Sundi ). Baik pemirsa sampai disini acara kita dan sampai ketemu di episode berikutnya dalam acara “ Menelusuri Alam Ghaib “ bersama saya Heri panci gosong. Sampai jumpa pemirsa. Terima kasih Kyai.”
Nyai : “ Oh, iya.”
( Tiba – tiba mereka telah dikelilingi oleh hantu – hantu penghuni makam kramat )
Heni panci & Nyai : ( sambil berlari ) “ HANTUUUUUUUUUUUUU “

SELESAI

“SANG PAHLAWAN”

Posted: 13 Juni 2009 in Naskah

[Drama Anak]
[Ajie Sudharmanto Mukhsin]
Diadaptasi Oleh: Menik Puspitarini

Nuniek dan Hastien adalah dua gadis yang malang. Kedua orang itu hamil sebelum perkawinan. Kejadian itu diketahui, setelah dua bulan mereka rekreasi dari Dieng. Namun Nuniek lebih beruntung daripada Hastien, sebab Burhan bersedia bertanggung jawab, bahkan sudah dikawininya secara resmi. Bagaimana keadaan Hastien sekarang? Tonny tidak mau mengawini secara resmi. Padahal jelas Tonny dan Hastien sama-sama melakukannya.
Musibah telah terjadi, Hastien memerlukan seorang pahlawan. Siapa pahlawan itu? Silakan mengikuti dialog-dialog berikut!
1. Nuniek : Bagaimana, Tier?, Tonnymu? Apa dia datang dan Jakarta?
2. Hastien : Datang sih sudah! Tapi dasar lelaki, bosan aku berurusan dengan dia, Lagi orangtuanya, yang bawel itu, malah menyalahkan saya.
3. Nuniek : Lho! Emangnya yang salah siapa?
4. Hastin : ya, jelas dia dong. Kalau aku enggak dikasih itu, kan nggak begini jadinya.
5. Nuniek : Kalau kamu nggak mau diajak itu, pasti nggak begitu!
6. Hastien : Kau juga menyalahkan aku? (Tersenyum)
7. Nuniek : (Tersenyum)
8. Hastien : Kau juga menyalahkan aku! (Lebih keras dialognya, karena Hastien sedikit marah kepada Nuniek. Dan Hastien sendiri merasa kurang yakin, apa yang diucapkannya tadi)
9. Nuniek : Tonny memang begitu! Dia sulit untuk dapat dipercaya. Dan kau menyebabkan dia berani menolakmu dan menyalahkanmu?
10. Hastien : Tidak. (Suara Hastien lemah)
11. Nuniek : Karena kekayaannya itulah! Dan kau mengejar kekayaan itu bukan?
12. Hastien : Aku sama sekali tidak mengejar kekayaannya.
13. Nuniek : Ketampanannya?
14. Hastien : (mengangguk)
15. Nuniek : Sama saja.
16. Hastin : Ya beda! Terus terang saja, Niek, kau membela Tonny?
17. Nuniek : Jangan putus asa! Saya dan Mas Burhan sedang mengusahakan.
18. Hastien : Pertemuanku dengan Tonny?
19. Nuniek : Ya!
20. Hastien : Dan kemudian akan menjatuhkan namaku, seperti ketika di Dieng itu?
21. Nuniek : Jelas beda dong! Aku juga mengakui kejadian itu. Aku juga merasa bersalah. Mas Burhan juga merasa bersalah. Hingga kini aku bisa hidup sebagai suami istri.
22. Hastien : Tapi aku? Apakah aku hanya hidup ke dalam ketidaktentuan belaka?
23. Nuniek : Aku dan Mas Burhan sekarang? (Nuniek belum sempat menjawab, Burhan telah masuk bersama Eddy, mereka saling bersalaman)
24. Burhan : Sukses! En, hendaknya, Ed, ditulis dengan huruf besar : SUKSES! (Nuniek dan Hastien tak mengerti Eddy sedikit senyum)
25. Nuniek : Apa sih, Mas?
26. Hastien : Apa? (Burhan masih tertawa lebar, Hastien dan Nuniek masih saling berpandangan tak mengerti)
27. Burhan : Kalian pasti tak mengerti. (Sambil menunjuk Nuniek dan Hastien) Kali ini, kita sama-sama mengharapkan perjuangan dari pahlawan kita. Semoga Ia berhasil dalam perannya. Apakah kalian sudah mengerti siapa pahlawan kita itu? (Nuniek dan Hastien hampir bersamaan menggelengkan kepala) Baiklah inilah dia orangnya (Sambil menunjuk Eddy)
28. Hastien dan Nuniek: Eddy?
29. Burhan : Tepat! Oke, gantian engkau yang bicara!
30. Eddy : Bicara apa, Bur?
31. Burhan : Terserahlah asal bicara. Asal ada kaitannya dengan apa yang kita bicarakan tadi.
32. Eddy : Soal Tonny?
33. Burhan : Apalagi kalau bukan
34. Eddy : Baik, terima kasih! Nuniek dan Hastien kan sudah lama kenal denganku?
35. Hastien : ya, siapa yang tidak kenal dengan Eddy. Di sekolah kita itu, semua kenal. Karena kenakalanmu, sampai engkau dikeluarkan oleh Kepala Sekolah. Aku masih ingat, setiap pagi harus pajak uang padamu Rp50,00.
36. Eddy : (Tertawa) Itu kan dulu, sekarang lain Iho, Tien!
37. Hastien : Sekarang lima ribu?
38. Eddy : Bukan begitu Aku sekarang sadar. Tak mau lagi aku berkelahi, kalau tidak terpaksa sekali.
39. Burhan : Sudah! Sekarang kita bicara sekarang, bukan yang dahulu. Oke? (Hastien memandang tajam pada Eddy)
40. Nuniek : Sekarang kita mau bicara apa sih?
41. Burhan : Membicarakan keadaan Hastien!
42. Hastien : Membicarakan aku?
43. Burhan : Aku tahu keadaanmu, Hastien. Aku sebenarnya menyesalkan tindakan Tonny yang tidak bertanggung jawab itu.
44. Hastin : Aku akan dikawinkan dengan Eddy…….
45. Eddy : Tidak Aku tidak berani. (Hening sejenak. Mereke saling berpandangan)
46. Burhan : Ayo, kita mulai bicara lagi. Tapi ingat jangan tegang-tegangan,
47. Eddy : Begini, Hastien, aku akan menolongmu. Aku pernah berhutang budi padamu. Aku merasa berdosa saat itu, meminta uang dengan paksa sampai beberapa bulan. (Eddy diam sejenak) Pagi tadi Burhan bercerita kepadaku tentang keadaanmu. Sebenarnya aku menyesalkan tindakan Tonny itu. Kenapa dia melakukan tindakan begitu kepadamu. Kupikir terlalu nekad. Nah kuharap kau mengerti, Hastien.
48. Hastien : Kau akan menolongku?
49. Eddy : Ya!
50 Hastien : Dengan cara bagaimana, kau akan menolongku?
51. Eddy : Menyeret Tonny ke hadapan Hastien.
52. Hastien : Hah! (Agak terkejut) .
53. Eddy : Tonny harus bersumpah di hadapan Hastien bahwa dia bersedia mengawini Hastien dengan segera!
54. Hastien : Bisakah begitu?
55. Eddy : inilah Eddy yang dulu nakal dan bejad akan memulai dengan kebaikan.
56. Hastien : Eddy …. (Menubruk Eddy sambil menangis)
57. Nuniek : Sudahlah, Tien. Kita tunggu saja. Kapan, Ed, kau akan mencarinya?
58. Eddy : Sekarang dia ada di rumahku! Oke, sebentar aku menjemput dia. (Eddy pergi ke luar meninggalkan mereka)
59. Nuniek : Mas Burhan, dapatkah kau percaya ucapan Eddy tadi?
60. Burhan : Aku percaya sekarang! Dulu ketika kita sama-sama satu kelas banyak yang curiga kepadanya. Padahal ya memang betul-betul dia itu terdesak.
61. Hastien : Terdesak? Terdesak apanya?
62.Burhan : Dia itu, orang tuanya miskin.
63. Hastien : Sekarang kok bisa kaya? Pakai mobil, pakaian necis.
64. Burhan : Dulu dia bekerja sebagai penjaga di sebuah toko. Ketika toko itu kena rampok, dialah yang menyelamatkannya
65. Nuniek : Eddy?
66. Hastien : Hingga tidak terjadi lagi perampokan?
67. Burhan : lya. Dialah yang menyelamatkan. Hingga akhirnya pemilik toko mengambil Eddy sebagai menantu.
68. Hastien : Jadi dia sudah kawin?
69. Burhan : Malah dia sudah punya anak.
70. Hastien : Aku akan meminta maaf kepadanya nanti …. (Ucapannya itu tidak jadi dilanjutkan karena pintu tiba-tiba telah membuka)
71. Eddy : Ton, kau jangan mencoba lari dari kenyataan ini
72. Tonny : Aku tidak diperkenankan oleh orang tuaku!
73. Eddy : Itu bukan alasan yang kuat untuk menolak! Di Catatan sipil juga bisa.
74. Tonny : Kalau aku melepas orang tuaku, aku kan belum bekerja.
75. Eddy : Lihat Burhan, apa dia sudah bekerja? Toh dia juga mengawini Nuniek. (Pelan-pelan Tonny memandang Hastien. Pertama yang diihat adalah perutnya yang tampa? sedikit besar. Lalu dengan pelan-pelan pula Tonny melangkah ke arah Hestien, kemudian berjabat tan gan)
76. Tonny : Hastien, aku berjanji dalam waktu dekat ini, akan mengajakmu ke Catatan Sipil.
77. Hastien : Terima kasih.
78. Eddy : Ton, kalau cuma janji kosong yang kau berikan kepada Hastien, jangan harap kau bisa hidup tenang (Tonny tak berani memandang Eddy yang memuncak kemarahannya)
79. Burhan : Terima kasih atas usahamu, Ed. . . . .
80. Eddy : (Mengangguk) Sama-sama.

Kajian:
Hal-hal yang dibahas dalam naskah drama :
- Ditinjau dari unsur instrinsik:
 Judul naskah : Sang Pahlawan
 Tema cerita : Persahabatan dan Cinta
 Plot/Alur cerita : Maju (Alur cerita tidak datar, ada tanjakan)
 Tokoh dan Penokohan/Pewatakan
1. Nunik : Istri Burhan, Sahabat Hastien
Watak: Tegas, tidak mudah putus asa, gaya bicaranya terus terang tidak suka bertele-tele
2. Hastien: Sahabat Nunik, Kekasih Tonny
Watak: Lugu/polos, suka mengeluh, mudah putus asa
3. Burhan : Suami Nunik, Sahabat Eddy
Watak: Tegas,bertanggungjawab,setiakawan,tidak mudah putus asa
4. Eddy: Sahabat Burhan, teman Hastien dan Nuniek
Watak: Suka bercanda, setiakawan, kaya tetapi tidak sombong,cuek, gaya bicaranya serius tapi santai, pekerja keras, suka menolong(Patriot), gampang emosi,suka bersikap nakal pada waktu lalu
5. Tonny: Kekasih Hastien
Watak: Pengecut, tidak bertanggungjawab, malas karena suka menggantungkan hidupnya pada orangtua
 Latar/Setting: Dirumah Burhan dan Nunik
Bahasa: Dalam cerita ini, pengarang menggunakan bahasa sehai-hari yang mudah dipahami tetapi tetap santun dan sedikit baku namun tidak terkesan terlalu kaku dalam dialognya. Sedangkan dari segi tanda baca, penggunaan kalimat langsung yang disetai tanda titik, koma, tanda tanya, tanda seru, dan huruf kapitalnya sudah benar, hanya saja dalam naskah ini pengarang tidak menggunakan tanda petik(“) untuk mengawali/mengakhiri kalimat langsung.
 Dari Segi Isi :
Naskah drama tersebut ceritanya cukup mudah dipahami, alurnya jelas dalam susunan peristiwa serta dialognya. Pengarang sudah dapat menggambarkan watak masing-masing tokohnya melalui dialog-dialog dalam naskah-naskah tersebut. Ceritanya cukup bermakna dengan adanya dialog-dialog yang serius dankadang menegangkan, namun tetap dibubuhi dengan dialog yang bersifat santai dan bercanda. Ceritanya dan dialognya tidak datar, mengandung klimaks dan penyelesaian yang baik. Isinya mengandung banyak npesan dan amanat untuk pembacanya.
 Sinopsis Cerita :
Naskah drama tersebut menceritakan tentang kehidupan persahabatan, cinta dan konflik yang timbul didalamnya. Hastien yang dihamili kekasihnya Tonny, mengeluh kepada Nuniek sahabatnya karena Tonny tidak mau bertanggung jawab. Dengan rasa kesetiakawanan yang tinggi, Nuniek dan suaminya Burhan membantu menyelesaikan permasalahan Hastien denga Tonny. Hastien selalu mengeluh dan hamper putus asa, hingga akhirnya dating seorang penolong yaitu Eddy, Sahabat lama mereka yang dahulu terkenal sifatnya yang kurang baik.
Eddy berhasil membantu Burhan membawa Tonny kehadapan Hastien, hingga terjadi negoisasi yang cukup alot. Tetapi akhirnya Eddy dan kawan-kawan mampu memaksa Tonny untuk mempertanggungjawbkan perbuatannya kepada Hastien.

 Sudut Pandang:
Pengarang sebagai sudut pandang orang ketiga, karena pengarang berada diluar cerita. Pengarangnya hanya sebagai pencerita dantidak tertlibat didalamnya. Pengarang hanya menggunakan nama-nama orang atau kata ganti orang ketiga dalam naskah drama tersebut.
 Amanat/Pesan :
Naskah drama tersebut mengandung pesan yang ungin disampaikan kepada para penikmatnya antara lain :
- Berpikirlah secara matang sebelum melakukan tindakan yang memerlukan tanggungjawab besar dan jangan bertindak ceroboh.
- Kita harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita baik kepada manusia maupun Tuhan
- Tolonglah sesame yang sedang mengalami kesulitan
- Jangan mudah puus asa dalam menghadapi persoalan, jika tekun pasti ada jalan keluarnya
- Jangan suka berprasangka buruk terhadap orang lain
- Taburlah kebaikan, niscaya kita akan menuai kebaikan pula

 Pembabakan cerita :
Babak 1: Pengenalan tokoh dan percakapan yang mengarah pada permasalahan.
Babak 2: Pertemuan Eddy dan Burhan dengan Nuniek dan Hastien
Klimaks: Pada waktu Eddy membawa Tonny ke hadapan Hastien
Ketegangan : Eddy dan teman-temannya (Nuniek dan Burhan) memaksa Tonny untuk menikahi Hastien
Penyelesaian: Tonny berjanji kepada Hastie untuk segera menikahinya

Ditinjau dari unsur Ekstrinsik
 Pengarang: Aji Sudharmaji Mukhsin
 Ditinjau dari kajian sosiologi :
Cerita dalam naskah tersebut menggambarkan hubungan antar sesama/sejawat dengan ruang lingkup pergaulan muda-mudi, permasalahan tentang cinta dan persahabatan yang setiap saat selalu ada dala kehidupan nyata. Serta segala upaya untukmemecahakan persoalan-persoalan tersebut. Certia ini juga banyak memberikan pesan-pesan moral kepada pembacanya khususnya para pemuda-pemudi agar berhati-hati dalam menjalin sebuah hubungan, dan agar selalu bertanggungjawab dalam setiap tindakan yang mereka lakukan. Kesetiakawanan social juga tidak kalah pentingnya agar kita peka untuk membantu sesame kita yang sedang bermasalah.
 Dintinjau dari segi budaya :
Naskah cerita drama tersebut menggambarkan kerasnya dampak globalisasi seperti pergaulan bebas dan freesex dari dunia barat masuk ke Indonesia, sehingga lambat laun nilai-nilai lebudayaan asli Indonesia yang santun dan bernafaskan religi. Tetapi masih ada nilai-nilai positif yang dapat diambil dari cerita ini yang mencerminkan budaya bangsa Indonesia secara turun-temurun yaitu sikap saling membantu, setia kawan, patriotisme, rela berkorban, tolong-menolong dan bertanggungjawab

“KIKAN TIDAK BISA TIDUR”

Posted: 13 Juni 2009 in Naskah

[Drama Anak]
Oleh: Ari Sri Utami

Di sebuah pohon besar, hiduplah satu keluarga kumbang.

1. Ibu : “Sudah malam, tidurlah Kikan…”
2. Kikan : ( SAMBIL MENGUAP KIKAN MENJAWAB ) “Iya Bu……”
3. Ayah : “Iya Kikan kamu harus tidur, ini sudah larut….”
4. Kikan : “Tapi ayah aku takut, di luar sana banyak sekali suara – suara aneh.” ( SAMBIL MENUTUP TELINGANYA )

Sementara itu, kodok di luar bernyanyi saling bersahutan membuat Kikan semakin ketakutan.

5. Kikan : “Ibuuu….peluk aku yang erat, aku takut dimakan monster mengerikan itu.”
6. Ibu : “Iya….tapi kamu harus tidur ya….” ( BUJUK IBU )

Sedikit demi sedikit, akhirnya Kikan pun bisa tertidur dalam pelukan ibunya, dengan erat Kikan memeluk ibunya walaupun sudah tertidur lelap.Matahari pun terbit tatkala Kikan membuka matanya dan tanpa disadarinya ibunya sudah lepas dari pelukannya. Dan sudah tidak ada.

7. Kikan : “Ibu……ibu dimana?Kikan takut.”
8. Ibu : ( IBU LARI MENGHAMPIRI KIKAN ) ”Ada apa Kikan?”
9. Kikan : “Ibu kok pergi, aku kan takut….!”
10. Ibu : “Kamu itu penakut….kan sudah pagi…..!”
11. Kikan : “Oooh…Sudah pagi ya….Asyik, aku bisa terbang dan bermain lagi…..”
12. Ibu : “Tapi mandi dulu sebelum bermain.”

Kikan terbang ke danau untuk mandi bersama kakaknya dengan riangnya. Tertawa terbang kesana dan kemari.

13. Kakak : “Kan, ayo pulang, aku sudah lapar nih….”
14. Kikan : “Ayo….Ibu punya makanan apa ya Kak?”
15. Kakak : “Pasti persediaan makanan ibu enak.”

Mereka pun tidak sabar ingin pulang karena perut mereka sudah protes. Sesampai di rumnah, mereka pun lamgsung makan dengan lahapnya. Setelah makan, kakak beradik itu istirahat di dahan sambil menikmati udara yang sejuk. Saat itu ibu mendatangi mereka dan berkata…

16. Ibu : “Kikan, Ibu nanti sore mau pergi ke hutan seberang karena ada acara. Kamu di rumah saja ya sama kakakmu . Ibu menginap , besok pagi baru pulang.”
17. Kikan : “Lho Bu, aku kok tidak diajak?”
18. Ibu : “Tidak Kikan, itu acara serangga dewasa. Jadi kamu tidak bpleh ikut.” ( BUJUK IBU )
19. Kakak : “Iya, Kan. Di rumah sama aku saja.”
20. Kikan : “Tidak, aku takut, nanti malam aku tidur sama siapa?” ( RENGEK KIKAN )
21. Ibu : “Kan ada kakakmu, Kikan…!”
22. Ayah : “Kamu harus terbiasa tidur sendiri Kikan. Sampai kapan kamu akan tidur dengan ayah dan ibu nak….”
23. Kikan : “Iya deh……Tidak apa-apa, tapi benar ya hanya malan ini !”
24. Ibu : “Iya sayang…..malam ini saja. Kmu pasti bisa tidur…..”

Sore itu ibu dan ayah Kikan pergi ke hutan seberang . Tinggallah Kikan dan kakaknya berdua di rumah. Malam pun tiba dan perasaan ketakutan merasuk dalam diri Kikan. Di sudut sana sudah terlihat kakaknya tertidur dengan lelapnya.

25. Kikan : “Gerrr……( SAMBIL BERSENDEKAP ) Kakak sudah tidur, lalu aku bagaimana….?”

Terdengar suara angin huf…huf…huf…

26. Kikan : “Suara apa itu? Itu pasti binatang raksasa yang mencari mangsa, aku takut….”

Krik….krik….krik….krik….Suara jangkrik yang terdengar merdu.

27. Kikan : “Itu suara apa lagi….menyeramkan. Jangan-jangan itu adalah hantu rawa yang akan memakanku. ( SAMBIL MENUTUP MUKA DAN TELINGA DENGAN SAYAPNYA )
Kemudian disusul lagi suara kodok yang saling bersahutan.

Wok….wok….wok….membuat Kikan semakin ketakutan untuk menutup mata.

28. Kikan : “Aduh, Bagaimana ini, banyak sekali monsternya.”

Sampai matahari terbit dari timur, Si Kikan tidak dapat tertidur karena ketakutan akan suara-suara yang aneh. Kakaknya pun terbangun dari lelapnya.

29. Kakak : “Lho, Kan, kamu sudah bangun?”
30. Kikan : “Bangun…..!Aku tuh tidak tidur semalam Kak.
Belum sempat kakaknya bertanya, ibu sudah berdiri di depan kikan dan kakaknya.
31. Ibu : “Selamat pagi anak-anakku….Bagaimana tudurnya, nyenyak?”
32. Kakak : “Iya Bu…”
33. Ibu : “Lho Kikan, kenapa matamu sembab dan merah?”
34. Kakak : “Kikan tidak dapat tidur Bu….”
35. Ibu : “Lho kenapa…saying?”
36. Kikan : “Aku takut banyak suara monster tadi malam. Aku takut Bu…(SAMBIL MENGUSAP MATAMYA)
37. Ibu : “Baiklah, sekarang kamu tidur saja, Ibu temani.”
38. Kikan : “He..em..”

Kikan pun tertidur pulas karena capek dan kurang tidur. Malam pun tiba kembali. Ibu Kikan mengajak Kikan keliling rawa dan hutan untuk menjelaskan asal suara yang ditakuti oleh Kikan.

39. Kikan : “Ibu, kita mau kemana?Aku takut..
40. Ibu : “Jangan takut….Lihat, itu adalah Pak Angin, bukan raksasa.”
41. Kikan : “Jadi itu bukan binaatang raksasa ya Bu…?
Terdengar lagi suara Krik….krik….krik….
42. Kikan : “ Itu lagi Bu…Itu pasti benar- benar hantu rawa. Tadi malam aku tidak bias tidur gara-gara suara itu Bu.”
43. Ibu : “Kita lihat dari dekat ya…”
44. Kikan : “Tidak…..aku takut!!”
45. Ibu : “Tidak apa-apa. Lihatlah itu Pak Jangkrik yang bermain-main dengan keluarganya.”
46. Kikan : “Oooooh….lucu ya…!
47. Ibu : (SAMBIL MENUNJUK PAK KODOK) Nah, kalau itu Pak Kodok dengan teman-teman yang sedang bernyanyi.”
48. Kikan : “Wah….ternyata suara- suara itu dari hewan kecil yang lucu-lucu ya Bu…”
49. Ibu : “Makanya, kamu jangan takut. Nah, mulai hari ini kamu tidur sendiri ya!” ( BUJUK IBU )
50. Kikan : “Iya deh, aku tidak akan takut lagi.”

Ibu dan Kikan pulang ke rumah dan malam ini pun Kikan tidur sendiri tanpa ditemani ayah dan ibunya. Malam ini Kikan tidur nyenyak sekali dan keesokan harinya….

51. Ayah : ( SAMBIL MEMBANGUNKAN KIKAN ) Bangun Kikan…
52. Kikan : “Oh Ayah…pagi Ayah!”
53. Ayah : “Bagaimana tidurmu semalam?”
54. Kikan : “Nyenyak sekali, Yah!!

Ibu datang sambil membawa madu.

55. Ibu : “Yah jelas nyenyak, Kikan ditemani suara – suara merdu sich!!!” nah sekarang kita makan madu ini ya…!!
56. Ibu : “Nah untuk selanjutnya kamu tidur sendiri ya….”
57. Kikan : “OK…deh!!”

THE END


Diadaptasi dari sebuah cerpen majalah aneka, karya Rose linda
Karya : Ira Iryani Hafsyah

1. INT. RUANG KELUARGA RUMAH RANI – MALAM -
SEPASANG SOFA SEDERHANA TERTATA DITENGAH RUANGAN. SEBUAH LEMARI KACA YANG RETAK TEMPAT ANEKA BARANG RUMAH TANGGA BERDIRI AGAK MIRING. SEMENTARA SEBUAH MESIN JAHIT TUA BERADA DIPOJOK RUANGAN.
RANI TAMPAK DUDUK DI SOFA SAMBIL MEMBACA MAJALAH REMAJA YANG IA PINJAM DARI SANTI SAHABATNYA. SEMENTARA IBU RANI MENJAHIT BAJU BADUT MILIK AYAH YANG SEDIKIT SOBEK.
Rani : bu, hari valentin besok kita jadi kan makan di rumah makan favorit kita?….
Ibu : rani, kamu tahu kan kalau liburan ini ayahmu tidak bisa berkumpul bersama kita.
Rani : selalu saja begitu… setiap liburan atau hari istimewa ayah selalu keluar kota.
Ibu : ran, kamu harus bisa memaklumi pekerjaan ayahmu, sudah suratan takdir,ayahmu justru kebanjiran order dihari-hari libur dan hari istimewa. Rejeki ayahmu adalah rejeki hari hari libur dan hari raya.
RANI TERDIAM BEBERAPA SAAT. IBUNYA MELIRIK KEARAH RANI DAN MELANJUTKAN JAHITANYA. TAK BEBERAPA LAMA KEMUDIAN SANG AYAH KELUAR DARI DALAM KAMAR SAMBIL MEMBAWA TAS RANSEL BESAR YANG BERISI PAKAIAN DAN PERALATAN BADUT LAINNYA.
Ayah : sudah selesai bu jahitanya?..
Ibu : (sambil melipat baju) sudah… sini ibu masukkan kedalam tas sekalian.
AYAH MENYERAHKAN TAS YANG DIBAWANYA PADA IBU, DIA KEMUDIAN MENDEKATI DAN DUDUK DISAMPING RANI YANG DARI TADI KELIHATAN MURUNG.
Ayah : Lho anak ayah dari tadi kok cemberut?… mana senyuman yang manis itu?…..
RANI TAK MERESPON RAYUAN AYAHNYA, DIA TETAP MEMBACA MAJALAH YANG DIPEGANG SAMBIL MEMASANG WAJAH MASAM. AYAH KEMUDIAN MENGAMBIL DOMPETNYA, DAN MENGAMBIL SISA UANG YANG ADA.
Ayah : (sambil menyerahkan uang ke Rani) ini sayang, ayah ada sisa segini, pergilah bersenang-senang dengan temanmu besok, tapi tak perlu keluar kota, musim hujan tak nyaman untuk bepergian jauh.
Rani : aku akan menemani ibu saja dirumah, ber-valentin Day sama ibu. Kasiahan ibu kalau sendirian.
MENDENGAR UCAPAN RANI AYAH TERTUNDUK SEBENTAR.
Ayah : kamu tetap menyesalkan kepergian ayahmu? Bukankah selalu begini pekerjaan ayah setiap tahun ?
Rani : disana ayah bisa gembira….
Ayah : ayah selalu gembira. Ayahmu ini seorang penghibur, jadi hatinya juga harus gembira sebelum berusaha membuat orang lain gembira.
Rani : dan ayah tidak sedih, berpisah dengan keluarga dihari yang istimewa seperti Valentine Day?
AYAH TERCENUNG SEBENTAR MENDENGAR UCAPAN RANI, DIA MENATAP MATA RANI DAN MENGGELANGKAN KEPALA.
Rani : karena imbalan yang lebih?
Ayah : (sambil menggeleng lagi) ini kerja kelompok,rani. Ayah harus profesional dan tidak boleh mengecewakan orang lain, dalam hal ini juga teman-teman sekerja ayah. Rani, kamu harus ngerti,di semua pekerjaan, apapun itu, bahkan seorang badut seperti ayah ini yang bekerja dibalik kostum pun harus profesional dan iklas….
IBU YANG DARI TADI DUDUK AKHIRNYA BERDIRI DAN MENDEKATI AYAH. DIA MENYERAHKAN TAS RANSEL PADA AYAH.
Ibu : yah…sudah malam, ini tasnya, nanti teman-teman ayah kasihan menungu lama. Lagian kereta ke jogjanya satu jam lagi tiba distasiun.
AYAH MENGANGGUK DAN TERSENYUM PADA IBU. DIA BERDIRI DAN MENCIUM KENING IBU. DIA BERBALIK KEARAH RANI YANG SUDAH MULAI TENANG. RANI TERSENYUM KEARAH AYAHNYA DAN BERDIRI SAMBIL MEMELUK AYAHNYA.
2. INT. KANTIN SEKOLAH – SIANG-
SUASANA KANTIN SIANG ITU NAMPAK SEDIKIT SEPI DARI HARI BIASANYA, TAMPAK DISUDUT RUANGAN BEBERAPA SISWA-SISWI SMA SEDANG BERCANDA SAMBIL MENIKMATI SEMANGKUK BAKSO, DISUDUT LAINNYA TIGA SISWI SEDANG ASIK BERCERITA SAMBIL MEMINUM ES SIRUP FAVORITNYA. SEMENTARA RANI DAN TIGA SAHABATNYA TERLIHAT DUDUK DI MEJA TENGAH SAMBIL MENIKMATI JAJANAN GORENGAN YANG ADA DIKANTIN TERSEBUT. MEREKA TAMPAK BEGITU AKRAB DAN GEMBIRA.
Tia : kamu jadi sar bervalentine sama si Anton?
Sari : ya iya lah…masa ya,iya dong…
Meta : Kalau kamu rencana sama siapa yak?
Tia : kalau aku ma papa mama mau ke bandung, kami sengaja hari valentin besok ngumpul dirumah nenek.
Meta : kalau aku mau makan direstoran kesukaan ayahku.
Tia : Kalau kamu mau kemana ran?
Rani : itulah yang aku pikirkan dari tadi,..ayahku sekarang ada pekerjaan dijogja, sedangkan ibu nggak berani kalau keluar sendiri.
Meta : lho kan ada si itu, siapa namanya….lupa aku…
META MENCOBA MENGGODA RANI. SEMENTARA CUBITAN KECIL RANI MENDARAT DI PINGGUL META.
Rani : apaan sih….
meta : denny, iya denny…
SEMUA TERTAWA MENGGODA RANI. PADA SAAT YANG BERSAMAAN SI DENNY DATANG MENGHAMPIRI RANI DAN KELOMPOKNYA.
Tia : sssst.. ada arjuna datang…
Denny : Hai semua…
TIA, META DAN SARI MENJAWAB BERSAMAAN
Tia Dkk : hai juga, dennyyy………………
Denny : boleh aku gabung disini?
Meta : oh silahkan, …lagian saya juga gak bisa lama-lama disini kok, saya mau kelas dulu, ada yang ketinggalan, eee…permisi dulu

META BERDIRI,MELIRIK KEDUA SAHABATNYA, DAN MENGEDIPKAN MATA SEOLAH MEMBERI KODE UNTUK MENINGGALKAN RANI SENDIRI BERSAMA DENNY
Sari : (MENGERTI APA YANG DIMAKSUD META) eee…o,iya, aku juga mau ke kamar kecil nih, ee ayo tia temeni aku.
Tia : iya, aku juga jadi pengen pipis deh, kalian berdua ngobrol dulu aja, jangan mikirkan kami.
RANI YANG TAU KALAU TEMANNYA SENGAJA MENINGGALKAN MEREKA BERDUA TAK BISA BERBUAT APA-APA. UNTUK SESAAT SUASANA JADI HENING.
Denny : gimana, jadikan acara valentine dengan ayah mamahmu nanti malam?
Rani : ee… I,iay ..e,,mungkin jadi mungkin juga tidak,
denny : lho? Maksudnya?
Rani : e, kamu kan udah tau kondisi keluargaku, maksudku pekerjaan ayahku.
Denny : oh, masalah itu, iya deh aku paham, tapi bagaimanapun juga aku pingin kenalan ma ortumu malam valentine ini, aku ingin tunjukkan niat baikku. Ok deh apa kata nanti. Yang jelas aku berharap semoga kamu bisa datang ke tempat kita dulu.
SUASANA HENING…TAK LAMA KEMUDIAN SUARA BEL MASUK BERGEMA MEMECAHKAN KESUNYIAN. MEREKA BERDUAPUN SEGERA BERANJAK KE KELAS MASING-MASING.
3. INT.KAMAR TIDUR RANI – MALAM -
SEBUAH RANJANG TEPAT BERADA DI TENGAH RUANGAN, SEMENTARA DISAMPING BERDIRI SEBUAH LEMARI BAJU UKURAN SEDANG DAN SATU SET MEJA BELAJAR YANG TERTATA RAPI.
RANI BERDIRI DI BALIK JENDELA, DIA MENATAP LANGIT MELIHAT BINTANG YANG SEDANG BERTABURAN DIANGKASA. DIA MENGGENDONG BONEKA BERUANG KESAYANGANNYA YANG SELAMA INI MENJADI TEMAN KETIKA DIA KESEPIAN. DIPELUKNYA BERUANG ITU SEOLAH BARANG ITU PUNYA KEHIDUPAN.
Rani : tedy (panggilan bonekanya) … seandainya malam ini aku bisa terbang aku mau kebintang-bintang itu. Aku ingin mengambil satu dari mereka dan ingin kuberikan pada denny.
RANI MENUTUP TIRAI JENDELANYA. DIA BERJALAN MENUJU TEMPAT TIDUR DAN MEREBAHKAN DIRI DI ATASNYA, DAN MEMANDANG LANGIT-LANGIT RUMAH.
Rani : Ya Tuhan…Engkau yang mengutus malaikat cinta, Engkau yang sebenarnya bisa mengabulkan setiap permintaan. Jika kehendakmu terjadi padaku, aku inginkan hadiah istimewa dari-Mu sendiri, bukan dari malaikat utusanmu. Kuingin Tuhan ,kau hadirkan ayahku di malam valentine day malam ini.
TAK BEBERAPA LAMA KEMUDIAN DARI ARAH RUANG TAMU TERDENGAR SUARA AYAH RANI. RANI YANG AGAK RAGU BERDIRI DAN KELUAR DARI KAMAR MEMASTIKAN SUARA TERSEBUT
4. INT. RUANG TAMU RUMAH RANI -MALAM-
SANG BADUT(AYAH) MEMELUK DAN MENCIUM KENING IBU, RANI YANG SADAR BAHWA AYAHNYA SEKARANG ADA DIHADAPANYA LANGSUNG MEMELUK TUBUH YANG GEMUK YANG DIBUNGKUS KOSTUM BADUT.
Rani : yah..kenapa ayah sudah pulang. Bukankah seharusnya ayah masih ada dijogja?…
Ayah : kamu nggak lihat berita, tadi pagi hotel tempat ayahmu manggung kebakaran, sepuluh orang tewas terjebak api di lantai atas.
RANI YANG MENDENGAR BERITA DARI AYAHNYA LANGSUNG MENYALAKAN TELEVISI DIRUAN ITU. WAJAHNYA LANGSUNG PUCAT.
Ibu : lho kenapa kamu ran? Ya, terlambat sedikit kan tidak apa-apa, dari pada tidak sama sekali, cepatlah berganti pakaian, kita berangkat kerestoran impianmu sekarang juga.
Ayah. Jangan kesal rani ayah tetap membelikan hadiahvalentine buatmu
Ibu : bukanka ini yang kamu idamikan, bertiga dengan ayahmu pergi kerestoran.
RANI HANYA TERMENUNG TAK PERCAYA DENGAN APA YANG BARU DIMINTANYA DENGAN KEJADIAN YANG DILIHAT DI TELEVISI ITU.


Oleh :
NUR DWI AFIFAH
[Diadaptasi dari buku “Ketika Mas Gagah Pergi”, Pengarang: Helvy Tiana Rosa, Penerbit: Asy Syamil, Bandung]

1. Tokoh-tokoh: Nia (aku)
2. Aam (teman si aku)
3. Mamanya Nia
4. Surti
5. Yanti
6. Pak Mar’i
7. Pak Jaya
8. Udin
9. Ucup
10. Rita
11. Eman
12. Tia
13. Preman (5 orang)
14. Adi

Babak 1
Siang itu, udara begitu panas menyengat tubuh. Anak-anak kecil tak beralas kaki itu sejenak menatapku. Mereka cengengesan. Ada yang menggaruk-garuk kepala. Ada yang asyik membersihkan hidung. Ada yang sibuk mengusir lalat yang hinggap di koreng. Ada yang mengoceh sendiri, ada pula yang asyik memperhatikan dari ujung jilbab sanpai ujung kaki. Dengan keramahan dan senyum di wajah Nia bertanya.
Nia :“Mau nggak belajar sama ibu?”
Mereka hanya bisa cengar-cengir, saling pandang sesama. Kutegaskan pertanyaanku.
Nia :“Ibu Tanya, mau tidak kalian ibu ajari membaca dan mengaji?” (TERSENYUM LEMBUT).
Udin :“Mau” (MENGACUNGKAN JARI, KEMUDIAN MENUNDUK MALU).
Ucup :“Ibu ini, memngnya ibu gulu?”
Eman :“Kami nggak punya pensil. Nggak punya buku sih!”
Udin :“Belajarnya dimana??” (PENASARAN).
Adi :“Kita mau kayak anak sekolahan ya Bu??”

Nia terdiam dan tersenyum ramah, merekapun tersenyum malu-malu. Setiap kali melewati stasiun kereta api Senen, hati rasanya haru biru dan ngilu. Melihat pemukiman yang kumuh dan anak-anak yang dekil. Mereka bermain dengan riang gembira. Seminggu yang lalu Nia melewati stasiun dan sempat mengobrol dengan ibu muda (Surti) yang sedang menggendong anaknya.
Nia :“Sore, Bu!!!! Permisi!Boleh saya mampir, Bu???”
Surti :“Yaaa……” (MENJAWAB DENGAN SUARA LIRIH DAN MALU-MALU).
Di seberang rel kereta api terlihat anak-anak jalanan sedang bermain dengan riang gembira di gerbong-gerbong kosong itu. Nia mengobrol dengan Surti.
Nia :“Ceria sekali mereka? Padahal mereka nggak punya mainan yang menarik?”.
Surti :“Itu adalah ungkapan kesenangan mereka sebagai obat pelepas capek”.
Nia :“Capek?????Capek karena belajar di sekolah maksud ibu????”.
Surti :“Ya enggaklah, mo sekolah dimana?”.
Nia :“Trussss????…..”.(PENASARAN).
Surti :“Ya capek karena cari duitlah”.
Nia :“Cari duit????”(MENEGASKAN).
Surti :“Iyaaaa…….”.
Nia :“Emang mereka bisa kerja apaan?????. Mereka kan masih kecil, kok nggak sekolah aja????.”
Surti :“Sekolah?????Mo sekolah pake apa?????mereka mikirnya yang penting bisa makan tiap hari itu udah beruntung sekali” (PESIMIS).
Nia :“Emang orang tua mereka nggak kerja to?masak nggak bisa mbiayai sekolah anak-anaknya???”.
Suti :“Ya kerjalah, mbak. Tapi berapa sih pemdapatan dari seorang pemulung?mereka kebanyakan pemulung dan pengemis!”.
Nia :“Oooooo…..gitu. Trus anak-anak nggak ada yang pingin sekolah to?”.
Surti itu terdiam dan sejenak berpikir.
Surti :“Ehmmmm……..ya pingin mbak!!tapi kadang mereka juga takut ma orang tua mereka.”
Nia :“Kok takutt????emang kenapa???”.
Surti :“Ya, iyalah. Soalnya mereka dipaksa untuk cari duit. Ada yang jadi pengemis ataupun pengamen. Selain itu mereka ada yang jadi penyemir sepatu, penjual es, atau pemjual Koran. ”
Nia :“Kasihan banget ya buk!!!!”
Selang beberapa langkah setelah Nia mengobrol dengan Surti tersebut. Dengan wajah memelas kupandangi anak-anak yang sedanng bermain riang gembira di gerbong kereta api tua itu. Kakek Mar’I, tukang cukur di daerah sekitar situ menyapaku dengan rasa ingin tahu.
Kakek Mar’I :“ada apa neng kok sedih banget?.”
Nia :“Kasihan mereka, pak!”(PANDANGAN MENUJU KE ARAH ANAK-ANAK).
Kakek Mar’I :“Mau kasihan gimana? Emang kadang mereka butuh belas kasihan tapi juga kadang mereka menjengkelkan.”
Nia :“Menjengkelkan????.Maksud bapak apa????”
Kakek Mar’I :“gimana nggak membuat jengkel???? Lha mereka itu kadang tega memeras pelajar SD yang lewat di daerah mereka.”
Nia :“Iya to. Pak????.”
Kakek Mar’I :“Iya, bahkan mereka berani mencuri dan merampas barang orang lain. Itu dah biasa neng……”
Nia :“Masak sih, pak??” (TIDAK PERCAYA).
Untuk mengobati rasa ketidakpercayaannya, Nia mengobrol sama pak Jaya, yang kabarnya ia adalah salah satu keamanan Pasar Senen.
Nia :“Maaf, bu guru, saya Nia (BERJABAT TANGAN)” .
Pak Jaya :“Ya….saya pak Jaya. Ada apa neng???.”
Nia :“Saya mau tanya. Apakah bener anak-anak itu bisanya mengemis atau mengemen di jalanan.”
Pak Jaya :“Iya, neng.”
Nia :“Aduh kasihan banget berarti mereka nggak sekolah dong, Pak?.”
Pak Jaya hanya menganggukkan kepala menandakan bahwa ia mengiyakan pertanyaan Nia.

Nia :“Orang tua mereka dimana, pak?? Kok nggak ngurusi anak-anaknya???.”
Pak Jaya :“Wah orang tua mereka pada sibuk cari duit, neng!”
Nia :“Kerja apa, pak?”
Pak Jaya :“Ya macam-macam, neng. Ada yang jadi tukang sampah, tukang cukur, dagang kue, ngemis, jualan Koran bahkan ada juga yang jadi perrek!!!!”
Nia :“Yang terakhir tadi apa, pak???Perek ta??” (MENDEKATKAN TELINGA KE PAK JAYA).
Pak Jaya :“Ya, benar perek.”
Nia :“Astagfirulloh…..!(MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA)”
Pak Jaya :“Malahan praktekya di gerbong-gerbong kereta api yang sudah tak terpakai itu, neng.”
Nia :“Memangnya gerbong-gerbong kereta api itu benar-benar nggak dipakai lagi, pak?”
Pak Jaya :“Yaaaa…., nggak tahu neng. Kayaknya sih mau dibenerin. Tapi ada juga yang udah karatan karena lama nggak dipakai.”
Nia :“Truss… apa manfaat gerbong kereta api itu bagi masyarakat itu?”
Pak Jaya :“Jadinya selama ini ya begitu, jadi tempat anak-anak main, tempat preman ngumpul, juga tempat para pelacur menjalankan aksinya. Pelakunya ya orang-orang sekitar situ, neng.”
Nia hanya bisa mengangguk-nganggukkan kepala sambil memahami perkataan pak Jaya. Ketika di rumah, hingga larut malam Nia tak dapat memejamkan mata meski tubuhnya sudah terbaring di tempat tidur.
Dua hari kemudian, sekitar jam 2 siang, Nia mendatangi gerbong-gerbong kereta api itu.. di gerbong 1 kulihat beberapa lelaki tertidur pulas, di gerbong 2 terdengar suara cekikikan pria dan wanita, di gerbong 3 terlihat anak-anak sedang bermain dengan riang gembira lalu kuhampiri mereka.
Nia :“Assalamu’alaikum….” (TERSENYUM)
Mereka menghentikan aktivitas mereka dan memandang Nia.
Udin :“Eh.., siapa tuh???siapa???”
Eman :“Cari siapa, Bu?”
Nia pandangi anak-anak dengan senyuman dari kejauhan.
Ucup :“Ciapa noh?? Kemali-kemali….”
Nia :“Kalian mau coklat???…..”
Udin+Ucup :“Mauuuuu” (BARENG)
Tak lama kemudian, anak-anak itu menyantap kue coklat itu dan ludes dalam sekejap.
Udin :“Wah……..enak banget yaaa….?”
Eman :“Iya…aku suka ini.” (MAKAN KUE DENGAN LAHAP).
Adi :“Memangnya itu siapa sih???
Nia :“Teman Ha…ha….ha….masak orang yang sudah besar mo temenan dengan anak kecil seperti kami ” (MEREKA SALING MEMANDANG DAN TERTAWA).

Babak 2
Setelah beberapa kali aku mengunjungi daerah itu. Mereka mau diajak belajar membaca dan mengaji. Sempat Nia keteteran karena anak-anak tadi berasal dari beberapa jenis umur (4-14 tahun). Salah seorang bapak membantu kami memasang lam,pu di gerbong untuk penerangan.
Nia :“Assalamu’alikum,nak……”
Anak-anak :“Wa’alaikum salam…..”
Nia :“Sudah siap belajar, anak-anak???????”
Udin :“Sudah……”
Nia :“Ayo.., ni huruf B ditambah U bacanya apa? (Menunjuk tulian di papan tulis)”
Udin :“Buuuuuuuu…..!
Eman :“Huruf D ditambah I.
Nia :“Jadi dibaca apa???????coba Udin! (MEMANDANG UDIN
Udin :“Ini ibu Budi.
Nia :“Lho, kok? Ini kan ibunya tidak ada? Coba ulangi.”
Tiba-tiba ada seorang anak yang datang….
Eman :”Kecelik, bu telat.”
Nia :“Ya….Eman, kenapa terlambat datang??????????
Eman :“Disuruh ngamen dulu, bu sama bapak.”
Nia :“Kalau Adi, kenapa kemarin nggak datang?????”Ibu tungguin lho…..(MEMANDANG ADI).
Adi :“ Abisnye emak sakit, pan abis nyuci noh, trus sakit.”
Ucup :“Bu Guyu,, mau pipiiissss…..”
Nia :“Iya…, kalo mau pipis biasanya dimana Eman????”
Eman :“Di kamar mandi”
Nia :“Pinter. Sekarang pergilah ke kamar mandi. Rumahnya siapa yang paling dekat?”
Eman :“Rumahnya Udin, Bu.”
Nia :“Bener ya Udin??
Udin :“Iya, Bu”
Nia :“Kalo begitu, tolong antarkan Ucup untuk pipis di kamar mandi rumahmu yaaaaa….”
Udin :“Iya, Bu” (UDIN DAN UCUP BERANGKAT KE RUMAH UDIN).
Setelah belajar sekitar 1,5 jam. Kami mengakhiri pembelajaran dan menitipkan papan tulis dan kapur di salah satu anak. Karena kesibukan kuliah dan mengajari anak-anak, ibuku sempat protes.
Mama Nia :“Kamu jangan terlalu mementingkan anak-anak itu, Nia. Kamu kan capek bolak-balik Depok-Jakarta buru-bruru seperti itu. Pergunakan waktu kamu di tempat kost. Ini kok malah sering pulang??”
Nia :“Jadi, mama nggak suka nih kalo Nia sering pulang ke rumah?”
Mama Nia :“Bukan itu, sayang.Mama kasihan lihat kamu.” (TERSENYUM).
Nia :“Jauh lebih kasihan melihat mereka, Ma. Kasihan sekali!”
Mama Nia :“Tapi kamu harus hati-hati ya, nak. Disana iu daerahnya kan lumayan rawan.”
Nia :“Ya Ma, InsyaAllah.”
Mama Nia :“Mama punya usul, gimana kalo kamu mengajak temanmu untuk membantu kamu.”
Nia :“Iya, Ma. Teman-temanku sudah tak ajak. Tapi mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri jadinya mereka gak bisa Bantu Nia.”
Hari kedua aku mengajar anak-anak tiba.
Nia :“Ayo ini dibaca A Ba Tsa Ja Da Dza Ro…”(MENUNTUN)
Tia :“Nnnnggggg……hik…..engggggggg.”
Nia :“Lho, Tia kok nangis??
“Sabar pelan-pelan. Orang sabar dan tekun diksihi Allah ya, sayang…….”(MENGELUS-NGELUS KEPALA TIA).
Ucup :“Za Sa Sya Sho Dho Dzo……
“Bu Gulu….., Bu Gulu lihat nih tulican caya.” (MENUNJUKKAN TULISAN).
Adi :“Buuu, saya permisi dulu!Mau nimba.”
Nia :“Iya, sebentar lagi yaaa…kan ni dah mo selesei.”
“Siapa diantara kalian yang melihat Dini hari ini??Mengapa ya Dini kok tidak hadir.”
Eman :“Kemarin bapaknya abis digebukin, Bu!”
Adi :“Iye, malingin jemuran orang!”
Ucup :“Dipenjala, nggak? Dipenjala nggak??”
Nia :“Husss…gak boleh bilang seperti itu.”
Senjapun tiba, aku harus segera mengakhiri pembelajaran, pulang jalan kaki sendiri.
Pemuda :“Ehm…ehm…ehm..Suit…Suit….Assalamu’alaikum, Cah Ayu……..”
Nia :“Wa’alaikumsalam (MENJAWAB DENGAN SUARA LIRIH)”
Di tengah-tengah perjalanan Nia ketemu dengan salah seorang walimurid (Yanti).
Yanti :“Maaf, Bu. Sebentar…..”
Nia :“Iya, Bu…Ada apa???”
Yanti :“Apa ibu mau menerima ini sebagai rasa trima kasih kami atas kebaikan ibu.” (MENYODORKAN SINGKONG REBUS).
Nia :“Iya, Bu gak usah repot-repot…..”
Yanti :“Ayolah, trima aja……”
Nia :“Ya udah saya trima pemberian ibu.” (MENERIMA SINGKONG REBUS).

Babak 3
Tak lama kemudian teman Nia,Aam, membantu mengajar. Suatu ketika kami sedang mengajar, beberapa orang lelaki (preman) menghampiri kami yang sedang asyik belajar. Wajah mereka tak ramah, Niapun turun dari gerbong menemui mereka.
Nia :“Maaf, ada apa yaa pak?”
Preman 1 :“Saya Cuma mau Tanya, adik ini dari yayasan mana?”
Nia :(DIAM SEJENAK) “Memangnya kenapa, pak??”
Preman 1 :“Lho, adik ini bagaimana??? Kami bertanya kok malah ditanya lagi?” (MENYENTAK).
Preman 2 :“Adik digaji berapa sih sama yayasan adik?”
Nia :“Saya bukan dari yayasan manapun.”
Preman 2 :“Dinas Sosial??” (MENEGASKAN).
Nia :“Bukan, saya mengajar anak-anak itu karena kasihan melihat mereka. Itu aja.”
Preman 2 :“Bener lhu?????…..”
Nia :“Iya……”
Preman 1 :“Ngajar sih…ngajar…., tapi hjarus ada ijinnya dong!!”
Nia :“Selama ini tak ada masalah. Saya rasa baik-baik aja????”
Preman 1 :“Gerbong-gerbong ini bukan tempat buat belajar. Jadi kalo kalian pake, harus ijin” (MENUNJUK KE ARAH GERBONG).
Nia :“Apa maksud bapak-bapak ini yang sebenarnya??? Yang saya tahu selama ini gerbong-gerbong tua ini hanya dipake untuk teler-teleran dan tempat main gaple, juga tempat prostitusi aja. Apakah itu juga pake ijin???Ijin pada siapa???” (MENEGASKAN).
Preman 1 :“Alah, sok tau lho…… ”
Nia :“Tapi benar kan yang saya katakana tadi??”
Preman 3 :“Ucup, Pulang kamu!!!” (TANGAN MENUNJUK KE ARAH UCUP).
Ucup :“Ntal Pak, belum selesai belajalnya.”
Preman 3 :“Pulang, gue bilang! Dapet pelajaran bukannya bener lhu…, malah suka nasehatin orang tua. Pulang….pulang….pulang!”
Ucup memandangku, matanya berkaca-kaca. Kemudian berlari pulang. Tak lama setelah kejadian tersebut Nia sering diteror oleh banyak lelaki.
Preman 4 :“Hey,neng….mo pulang ya??Gak usah pulang aja neng, mending ikut abang aja….”
Nia :(DIAM SAJA SAMBIL MEMPERCEPAT LANGKAH KAKINYA).
Preman 5 :“Hey, kok diam aja??kamu bisu ta atau budheg yaaa????Cantik-cantik kok bisu.(MEMEGANG TANGAN NIA DAN AAM)”
Nia :“Tolong…tolong…..”
Preman 5 :“Kurang ajar, lha wong nggak diapapin aja kok teriak-teriak minta tolong.Brisik tau????”
Aam :“Tolong lepaskan tangan kami, jangan apa-apakan kami”
Preman 5 :“Ha…..ha…ha tenang ajalah nona-nona cantik”
Nia :“Apa salah kami???”
Preman 4 :“Banyak salah kalian. (MENYENTAK)”
“Kalian telah mengganggu pekerjaan kami di sini.”
Aam :“Pekerjaan yang mana???”
Preman 4 :“Gak usahlah berlagak sok baik hati. Ngajar anak-anak sini di gerbong kereta api tua ini.”
Aam :“Kami hanya kasihan pada mereka….”
Preman 4 :“Kasihan…kasihan. Kami nggak butuh belas kasihan kalian. Pergi dari sini!!!”
Preman 5 :“e…e..e…e..tunggu dulu Bos. Kayaknya ni anak kuliahan berarti nia anak orang kaya dong..Kita kan butuh rokok Bos?” (MEMANDANG PREMAN 4).
Preman 4 :“Oke juga idemu. Sekarang serahkan uangmu!!Cepet!!Lelet banget sih???” (MENYENTAK).
Aam :“Kami nggak punya uang mas, uangku Cuma cukup buat ongkos pulang”
Preman 4 :“Alah, bohong lhu…..Ayo cepet keluarkan ”(MEMANDANG TAS YANG KUBAWA).
Nia :“Iniiiiiii…..”(MENYERAHKAN UANG DENGAN RASA TAKUT).
Akhirnya Nia dan Aam dibiarkan melanjutkan perjalanan lagi oleh preman tersebut. Selama dalam perjalanan pulang ke rumah Nia dan Aam berdiskusi.
Aam :“Aku takut, Nia. Mereka serem banget!!!”
Nia :“Aku juga, Am”
Aam :“Kita pindah aja yuk, tempat belajarnya!”
Nia :“Dimana, Am??”
“Anak-anak akan keberatan kalo tempat belajarnya jauh, apalagi kalo pake ongkos.”
Aam :“Ada nggak yaa rumah teman kita atau musholla sekitar Stasiun Senen yang bisa kita pake ya??”
Nia :(SAMBIL MELAMUN) “Sebenarnya penggunaan gerbong-gerbong itu untuk tempat belajar telah mengurangi kemaksiatan yang terjadi di gerbong-gerbong itu, kan???”
Kejadian terror terjadi lagi, ketika Nia sedang mengajar di gerbong kereta api.
Nia :“Ayo…ini dibaca apa, Udin???” (MENUNJUKKAN TEKS BACAAN).
Udin :“A…K…U…Ku, aku.”
Tiba-tiba preman-preman menghampiri anak-anak yang sedang belajar di dalam gerbong.
Preman 4 :(NYLONONG MASUK GERBONG TANPA PERMISI)
“Hei…hei….”
“Ayo bubar….bubar….bubar belajar apaan ini??? Buang-buang waktu aja.”
Preman 5 :“Mending kalian tu cari duit.”
“Ngamen sana!!!”
“Ngapain kalian susah ngajar mereka????” (MEMANDANG NIA DAN AAM).
Preman 4 :“Apa sebenarnya tujuan kalian melakukan ini semua???? Paling kalian Cuma mau memamerkan kepinteran kalian ke anak-anak. Iya kan? Jujur aja dech” MENARIK-NARIK JILBAB AAM).
Nia :“Astaghfirulloh, Pak….”(MENGELUS DADA).
“Kami nggak ingin pamer, tapi hanya ingin berbagi ilmu dengan mereka karena kasihan pada mereka….”
Preman 5 :“Ahhh…bohong lhu.Dasar orang kaya sukanya ngibul orang gak punya seperti kita-kita ini. Bukan begitu anak-anak???”
Udin :“Nggak Pak” (MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA).
“Bu Guru Nia dan Bu Guru Aam baik pada kami”
Preman 5 :“Kamu tu masih kecil. Tau apa kamu???Kalian dah kemakan omongan wanita-wanita ini” (MENENDANG UDIN).
Udin :“Aduuuhhhh…sakit Pak” (MERINGIS KESAKITAN).
Rita :“Pak, jangan sakiti temanku, Udin.”
“Emang, Bu Guru dan Bu Guru Aam baik pada kami. Mereka mengajari kami belajar membaca dan mengaji.” (MEMELUK NIA).
Preman 5 :(MENARIK RITA DARI PELUKAN NIA) “Kamu tu tau apa??”
Rita :“Kalian mengganggu belajar kami.”
Preman 5 :“Apa lhu bilang???” (MENJEWER TELINGA RITA).
Beberapa diantara anak-anak itu menangis keras.
Babak 3
Setelah beberapa bulan berlalu, kami sepakat untuk pindah belajar ke Musholla An-Nur.Eman, Rita, Adi belajar bersama.
Nia :“Alkhamdulillah…..ya anak-anak kita masih diberi kesempatan oleh Allah tuk belajar membaca dan mengaji lagi di tempat baru kita.”
“Bagaimana kabar kalian, anak-anak???”
Anak-anak :“Baik Buuuuu…..”
Adi :“Ayo belajar Buuu. Aku sudah pingin belajar sekarang Bu!!! ”
Nia :“Iya…iya…sabar dulu……”
“Baiklah anak-anak mari kita mulai belajar kita dengan berdo’a terlebih dahulu. Mari membaca surat Al-Ikhlas bersama-sama…Setuju???”
Anak-anak :“Setujuuu…..”
Nia :“Satu…Dua…Tiga…”
Anak-anak :“Qul huwallohu ahad. Allohushomad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakullahukufuwan ahad.”
Aam :“Pinter semuanya…….”
“Bu Guru bangga dan senang pada kalian. Kalian tambah pinter aja.”
Anak-anak :(TERSENYUM BANGGA).
Tiba-tiba datanglah Udin, Ucup dan Tia yang berlari-lari, tergesa-gesa membuka pintu musholla.
Udin + Ucup :“Bu Guru!Bu Guru Nia.” (TERENGAH-ENGAH MENARIK NAFAS CEPAT).
Nia :“Iya….iya…tenang dulu…tenang dulu…. ” (MENGELUS BADAN UDIN).
Setelah agak tenang kondisi anak-anak itu, Nia menanyai mereka.
Nia :“Ada apa?? Kok terlambat.”
Udin :“Aduh Buu.., kacau.”
Nia :“Kacau, bagaimana????”
Ucup :“Lumah Tia dibongkal !!Kami diucil!! ”
Udin :“Semua dibongkar, Bu! Sekarang orang-orang pada bingung mau pergi kemana?? Bapak Ucup ngelawan, tapi malah ditangkap sama petugas.”
Nia :“Innalillahi..” (BERPANDANGAN DENGAN AAM).
Anak-anak yang sedang belajar mulai panik, gaduh.
Nia :“Jadi pada mau pindah kemana???”
Udin :“Nggak tahu, Buuu. Disana masih rame!”
Tia :“Gerbong-gerbong udah dikosongin. Nggak boleh ditempatin lagi.”
Udin :“Kami boleh pulang, Bu?? Anak-anak pada ditanyain ama emaknye!!!”
Nia :“Ya, boleh (SUARA NIA TERSEKAT DI KERONGKONGAN)”
Anak-anak berbaris menyalami Nia dan Aam. Satu persatu anak dipeluk Nia.
Nia :“Ini alamat Ibu (MEMBERIKAN KARTU NAMA)”
“Kalian sudah bisa menulis, kan?? Tulislah surat pada Ibu yaaa!!! ”
Mereka berebut menerima kartu nama dari Nia.
Tia :“Rita mungkin pulang ke Jawa, Bu.”
Nia :“Yaaa….kalo Ucup gimana???”
Ucup :“Ucup nggak tahu gimana???”
Nia :“Narti…???”
Narti :“Aku juga, Buu”
Nia :(TERSENYUM) “Dimanapun kalian, kalau kalian menjadi anak yang saleh, allah akan selalu melindungi kalian.”
Aam :“Jangan lupa untuk selalu belajar, berusaha dan berdo’a.”
Kami semua saling berpelukan sambil menangis keras.

TAMAT

‘HANTU JADI ARTIS’

Posted: 1 Juni 2009 in Naskah Drama

“IBU BUKAN IBUMU”

Posted: 27 Mei 2009 in Naskah Drama

“IBU BUKAN IBUMU”

Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si

1. KONSEP PEMENTASAN

1.1.Konsep cerita

Drama ini mengisahkan tentang seorang wanita yang bernama Bu Surti seorang buruh cuci yang memiliki seorang anak perempuan (Sari) yang sebenarnya adalah anak dari Bu Bagus (mantan majikannya dahulu). Bu Surti memutuskan untuk mengambil Sari tanpa sepengetahuan  Bu Bagus karena selama ini Bu Bagus tidak pernah memperhatikan dan memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu kepada anak kandungnya. Bu Bagus adalah seorang wanita berpendidikan yang ingin mengejar kesuksesan yang selama ini menjadi impiannya (menjadi model) sehingga ia pergi ke luar negeri dan menelantarkan anaknya.

Setelah sari tumbuh dewasa, secara tidak sengaja Bu Surti bertemu kembali dengan Bu Bagus di rumah Bu Tejo (pelanggannya). Seketika itu juga Bu Bagus memaksa Bu Surti untuk mengembalikan Sari kepadanya. Dan dengan berat hati Bu Surti menyerahkan Sari kepada Bu Bagus. Sari yang mendengar kenyataan bahwa dia bukan anak kandung BuSurti dia merasa terpukul . Namun dia lebih memilih Bu Surti dari pada Bu Bagus ibu kandungnya sendiri karena dari Bu Surtilah Sari dapat merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Dan diakhir cerita Bu Bagus menyesali perbuatannya.

 

1.2.Konsep panggung

Penataan panggung pada pementasan drama ini disesuaikan dengan setting cerita. Pada babak pertama, setting digambarkan di rumah Bu Surti. Karena Bu Surti termasuk orang yang hidupnya tidak berkecukupan maka panggung ditata  dengan property sesederhana mungkin. Pada babak kedua, setting panggung adalah di rumah Bu Tejo. Yang menggambar rumah seorang yang cukup kaya.

Berdasarkan pertimbangan tersebut maka property yang dibutuhkan antara lain:

  • Meja dan kursi
  • Jam dinding
  • Keranjang cucian dan cucian
  • Figura dan foto
  • Gelas,piring,toples dan nampan
  • Bantal kursi

 

1.3.Konsep kostum

Penentuan kostum pemain disesuaikan dengan karakter dan latar belakang social para pemain dalam drama ini, antara lain sebagai berikut:

  • Seragam SMU (Sari dan teman-temannya)
  • Daster (Bu Surti)
  • Kebaya (Bi Tum)
  • Pakaian mewah (Bu Bagus dan Bu Tejo)

 

1.4.Konsep penokohan

Adapun karakter dari masing-masing pemain dalam drama ini antara lain:

  • Bu Surti              : penyabar  dan keibuan
  • Bu Bagus           : ambisius
  • Sari                     : lemah lembut dan pandai
  • Wulan                 : centil
  • Heni                   : tomboi
  • Dewi                  : pemalu
  • BuTejo               : bijaksana
  • Bi Tum               : cerewet dan baik hati

 

  1. STAF PRODUKSI

a. sutradara                     : Ika Rahmawati                   (041052066)

b. asisten sutradara         : Intani Ika Siswarini            (041052075)

a. pentas/property           : Dhiyan Puspitasari             (041052083)

b. rias dan kostum          : Siti Zulaikhah                     (041052081)

c. musik                          : Hanifah                              (041052045)

d. gerak                          : SunWahyu Tanti DP          (041052065)

 

  1. DAFTAR PEMAIN

Bu Surti                                         : Ika Sari Nuridah                   (B-04/21)

Bu Bagus                                      : Hanifah                                 (B-04/03)

Sari                                                : Dhiyan Puspitasari                (B-04/41)

Bu Tejo                                         : Mudmainah                           (B-04/17)

Wulan (teman Sari)                       : Siti Zuliakhah                        (B-04/39)

Heni (teman Sari)                          :Sun Wahyu Tanti DP             (B-04/23)

Dewi (teman Sari)                         : Intani Ika Siswarini               (B-04/33)

Bi Tum (pembantu Bu Tejo)         : Melliyanti Kardiyana            (B-04/13)

 

 3. SINOPSIS

Bu Surti adalah seorang wanita yang kesehariaanya bekerja sebagai buruh cuci pakaian di kampungnya. Ia tinggal bersama seorang anak perempuan yang bernama Sari. Keduanya hidup bahagia meski dalam kesederhanaan tanpa kemewahan harta. Bu Surti sangat mencintai Sari, anak yang diasuhnya dengan penuh kasih sayang walaupun sebenarnya Sari bukanlah anak kandungnya melainkan hanya dipungut Bu Surti dari mantan majikannya. Selama ini Bu Surti merahasiakan jati diri Sari yang sebenarnya baik kepada Sari sendiri maupun para tetangga di sekitarnya. Namun hal inilah yang menyebabkan Bu Surti cemas dan takut jika suatu hari Sari pergi meninggalkannya begitu tahu bahwa dia bukan ibu kandungnya.

Pada suatu hari Bu Surti merasa cemas karena Sari belum pulang dari sekolahnya. Dengan perasaan cemas tersebut Bu Surti berharap dan berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan Sari. Tak lam kemudian Sari  pun datang bersama teman-temannya. Sari menjelaskan kepada Bu Surti bahwa mereka terlambat pulang karena baru saja selesai mengikuti Try Out di sekolah. Mendengar hal itu Bu Surti merasa lega dan selanjutnya mempersilahkan teman-teman Sari untuk duduk beristirahat. Mereka pun berbincang-bincang tentang sekolah dan masa depan mereka. Tapi dalam perbincangan itu BuSurti merasa terusik batinnya karena beberapa pertanyaan dari teman-teman Sari yang seolah mampu untuk mengungkap jati diri Sari yang sebenarnya, bahwa dia bukan anak kandunnya.

Akhirnya Bu Surti memutuskan untuk pergi mengantarkan cucian ke rumah Bu Tejo untuk menghindari pertnyaan-pertanyaan dari teman-teman Sari. Kemudian Bu Surti pergi seorang diri seraya berpamitan kepada sari dan teman-teman walaupun Sari berkeinginan untuk mengantarkan ibunya tersebut. Namun karena cemas akhirnya Sari dan teman-temannya mengikuti Bu Surti ke rumah Bu Tejo secara diam-diam.

Di rumah Bu Tejo, tanpa diduga  Bu Surti bertemu dengan Bu Bagus, ibu kandung Sari, yang saat itu bertamu di rumah Bu Tejo. Keduanya pun sama-sama terkejut. Akhirnya keduanya pun saling berbicara sesaat setelah Bu Tejo masuk kedalam rumahnya. Bu Bagus mendesak Bu Surti agar mengembalikan putri kandung yang selam ini dianggapnya telah di culik oleh mantan pembantunya itu. Tetapi Bu Surti tidak mau mengembalikan sari padanya karena telah terlanjur sayang dan telah menganggap Sari  seperti anaknya sendiri.

Semua yang dibicarakan oleh Bu Bagus dan Bu Surti secara tidak sengaja didengar oleh Sari yang sebelumnya telah mengikuti bersama teman-temannya. Kemudian Sari meminta penjelasan kepada Bu Surti atas rahasia yang selama ini disimpannya dan Bu Surti meminta Sari untuk kembali kepada ibu kandungnya yaitu Bu Bagus. Namun Sari menolaknya dan tetap ingin hidup bersama Bu surti yang sangat disayanginya. Bu Bagus pun menyesali perbuatannya.

 

4. NASKAH

 “Ibu Bukan Ibumu”

Babak I

             Hari itu seperti biasa Bu Surti tampak menyapu di teras rumahnya. Sudah hampir 5 (lima) tahun ini bu Surti menjadi buruh cuci di rumah bu Tejo, tetangga yang jaraknya sekitar tiga rumah dari rumah bu Surti. Bu Surti tiba-tiba cemas dan khawatir akan keberadaan Sari, anak yang diasuhnya sejak kecil, yang belum pulang dari sekolah.

Bu Surti        : “Sampai saat ini Sari kok belum pulang juga ya…? (bu Surti tampak begitu cemas)…Biasanya jam segini (sambil melihat ke arah jam dinding yang terpasang di dinding rumahnya yang amat sederhana) Sari sudah pulang.

 Ada apa ya…? (bu Surti beranjak dari tempat duduknya dan melihat ke luar jendela) Padahal cuaca hari ini cerah, tidak hujan.

Ya Allah lindungilah Sari anakku, jauhkanlah dia dari hal-hal yang dapat membahayakan dia, Aku tidak mau kehilangan dia…karena dia sangat berarti bagiku. Aku amat menyayangi dia. Meskipun…meskipun dia bukan anakku kandungku sendiri…(bu Surti sedih sekali)

Sari…dimana kau Nak…? Sari…Pulanglah Nak…!Ibu sangat mengkhawatirkanmu…”

                     Terdengar suara orang mengucapkan salam dari luar rumah. Serentak bu Surti sangat gembira, dia yakin itu suara Sari, anaknya. Bu Surti segera membenahi dandanannya dan beranjak ke luar.

Sari dan teman-temannya : “Assalamualaikum…”

Sari mengajak teman-temannya masuk.

Bu Surti        : ”Waalaikumsalam…aduh Sari, dari mana saja kau Nak…? Ibu sangat mengkhawatirkanmu…

Sari               : “ Ibu enggak usah khawatir ..Sari baik-baik aja kok. Tadi di sekolah ada pelaksanaan try out, Bu, jadi pulangnya agak telat. Oh ya…, perkenalkan Bu, ini teman-teman Sari. Teman-teman, ini ibuku…!

Wulan              : ”Siang Tante, nama saya Wulan, W-U-L-A-N…”

Bu Surti        : “O…ini to yang namanya Wulan, yang sering diceritakan sama Sari itu! Kalau yang ini siapa?” (menunjuk ke arah Heni)

Heni                :  “ Saya Heni, Tante!”

Sari                  : “Kalau yang ini jago karate lo, Bu. Eh…ada satu lagi teman Sari”

Dewi               : “Dewi, Tante…”

Bu Surti        : “Sari, ayo ajak teman-temanmu masuk. Pasti pada capek semua. Sari, jangan lupa ambilkan minuman untuk mereka. Oh ya…di dalam lemari ada sedikit makanan kecil, diambil ya…!”

Sari                  : “Baik Bu…”

                        Sari masuk ke dalam untuk mengambil makanan dan minuman untuk teman-temannya. Sementara itu, bu Surti berbincang-bincang dengan Dewi, Heni dan Wulan.

Bu Surti        : “Bagaimana try outnya tadi…? Kalian bisa menjawab semuanya khan…?

Wulan           : “…aduh Tante, solnya sulit sekali…Saya sampai keringetan ngerjakannya…”

Bu Surti        : “Kalo kamu Dewi, gimana?”

Dewi               :  “Ya…gitu dech Tante. Ada yang bisa dan ada yang enggak…”

Heni             : “Kalo Saya, bisa Tante ngerjakannya. Soalnya gampang kok Tante. (dengan gaya sombongnya) Mereka aja yang yang enggak bisa!”

Wulan              : “Bisa apaan…? Bisa nyontek maksud Lu…?

                        (Wulan dan Heni tertawa…)

Dewi               : “Iya nyontek…sama si Sari. Sari kan pinter Tante…”

Bu Surti        : “Sudahlah, kalian jangan saling menyalahkan. Yang penting kalian harus rajin belajar agar pada saat UNAS nanti, kalian bisa mengerrjakan semuanya. Jangan lupa kalian juga harus berdoa dan minta restu pada orang tua kalian!”

                     Sari datang membawa makanan dan minuman. Dia segera bergabung dengan ibu dan teman-temannya.

Sari               : “Pada ngobrolin apa nich…? Kok kayaknya asyik banget. ,eh ini minumannya, kalian pasti sudah haus.!”

Heni             : “Wah…asyik nich ada pisang goreng. Bikin sendiri ya Sari …?” (sambil melahap pisang gorengnya)

Sari                  : “Iya…pisang goreng ini Ibuku lho yang buat…Enak khan…?”

Wulan& Dewi : (sambil makan, spontan mereka menjawab) “ Iya Sari, enak banget…!”

Bu Surti        : “Kalo begitu, tidak usah sungkan-sungkan. Anggap saja rumah sendiri ya…Nah sekarang ibu tinggal dulu ya…Masih ada kerjaan di belakang. Kalian teruskan saja ngobrolnya. Ayo, silakan diminum!”

Bu Surti meninggalkan Sari dan teman-temannya kemudian meneruskan pekerjaannya.

Sari               : “Eh teman-teman, kirra-kira kita bisa enggak ya…ngerjain soal UAN nanti…tyr outnya aja sulit minta ampun…”

Dewi            : “Jangan merendah gitu dong Sari, kamu kan pinter. Tadi saja si Heni nyontek ama kamu. Bener gak Lan…?”

Wulan           : “Iya, itu bener tuh Sari…”

Heni             : “Siapa yang nyontek? Orang gue cuma nyocokin jawaban doank…!”

Wulan&Dewi  : “Itu mah sama aja Hen…”

Sari               : “Sudahlah…Kalian ini kayak kucing dan tikus aja…”

Wulan           : “Ngomong-ngomong kalian seneng gak sich melihat pengumuman tadi?”

Heni             : “Pengumuman yang mana? Pengumuman PMDK…? Ya…jelas lah. Dengan diterima PMDK aku kan gak usah ikut SPMB lagi….”

Dewi            : “Aku juga seneng lho teman-teman. Gimana dengan kamu Sari? Kok dari tadi kamu diem aja…?”

Sari               : (kelihatan bingung) “…aku…aku…”

Bu Surti datang sambil membawa keranjang pakaian. Lalu dia menghampiri Sari dan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol.

Bu Surti        : “Ibu denger dari tadi sepertinya kalian asyik banget ngobrolnya. Memangnya apa yang sedang kalian bicarakan…?”

Sari               : “Ini lho Bu, temen-temen pada ngomongin soal try out tadi dan juga tentang PMDK…”

Bu Surti        : “PMDK…apa itu Sari. Ibu enggak ngerti…?”

Sari               : “PMDK merupakan salah satu cara untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri tanpa tes, melainkan menggunakan nilai raport saja Bu…!”

Bu Surti        : “Oh…begitu ya! Jadi, kalian ini pada mau kuliah semua ya…?”

Wulan, Heni&Dewi serempak menjawab :”…Iya Tante…”

Bu Surti        : “Kamu mau nerusin kemana Lan?”

Wulan           : “Saya mau nerusin ke London Tante. Kata Papa disana fasilitasnya lebih lengkap dan berkualitas gitu dech Tante…”

Heni             : “Kamu mau kuliah ke London…? (sambil tersenyum sinis) Emangnya kamu bisa bahasa Inggris…?”

Wulan           : “Ya tentu bisa dong Hen. Ini aku kasih contoh ‘I love You…”

Heni             : “Kalau itu mah anak kecil juga bisa Lan, Oh ya… kalau saya kuliah di UI lho Tante,ambil  jurusan Ekonomi Bisnis. Heni kan cinta tanah air…”

Wulan           : “Eh…siapa juga yang nanya…?”

Heni             : “Aku kan cuma ngasih informasi. Iya kan Tante…?”

Bu Surti        : “Iya. Kalau kamu Dewi? Kamu mau kuliah dimana? Ibu pehatiin kamu kok dari tadi diem aja…?”

Dewi            : “Saya kuliah di UNESA Tante, ambil jurusan PGSD sama kayak Sari. Kemarin kan, daftarnya bareng sama Sari Tante. Dan kita diterima lho…!”

Bu Surti        : “Kok kamu enggak cerita! Jadi, kamu juga mau kuliah Sari…?”

Sari               : “Iya Bu. Sari kan sudah diterima PMDK. Tapi…kalau ibu mengijinkan…”

Bu Surti        : (sambil menghela nafas) “Bukannya Ibu tidak mengijinkan, tapi…kita dapat biaya dari mana? Kamu kan tahu sendiri Sari, penghasilan Ibu sebagai buruh cuci saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari. Sedangkan yang Ibu tahu biaya kuliah itu mahal sekali. Lagi pula…Ibu tidak mau berpisah jauh dari Sari…”

Sari               : “Ya sudahlah Bu…Sari enggak maksa kok Bu untuk kuliah. Meskipun enggak bisa kuliah, Sari kan bisa bekerja untuk menambah penghasilan dan juga masih bisa menemani Ibu. Bener kan Bu…”

Bu Surti        : (dengan muka murung) “Bener…”

Wulan           : “Emang, Bapak kamu kemana Sari?”

Mendengar perkataan Wulan, Bu Surti langsung terlihat gugup.

Sari               : “Ibu…ibu enggak apa-apakan…? Maaf temen-temen, mungkin Ibu agak sedikit kaget. Sebenarnya bapakku sudah lama meninggal dunia. Aku sendiri enggak tahu wajah aslinya. Selama ini aku mengenal dia hanya melalui selembar foto…”

Wulan           : “Maafkan aku Sari. Aku bener-bener enggak tahu…”

Dewi            : “Kamu sich Lan, ngomongnya asal keluar aja. Terus…gimana masalah kuliah kamu Sari?”

Sari               : “Sudahlah teman-teman,jangan omongin soal kuliah lagi entar Ibuku tambah stress dan penyakitnya kambuh lagi. Sari ikhlas kok. Mungkin Tuhan belum memberikan kesempatan, mudah-mudahan tahun depan ada kesempatan untuk kuliah, bener kan temen-temen…?”

Dewi, Heni& Wulan : “Iya bener Sari!”

Heni             : “Ngomong-ngomong, mukamu dengan ibumu kok gak sama ya Sari? Saya rasa lebih cantik ibumu dech daripada kamu. Bener gak temen-temen…?”

Wulan           : “Iya loh Sar, lebih cantik ibumu…”

Sari               : “Kalian ini ada-ada aja dech. Meskipu wajahku tidak sama, tetapi golongan darahku sama dengan ibu. Dan ini berarti, aku anak kandung asli ibuku. Ya kan Bu…?”

Bu Surti tampak gugup dan kebingungan menanggapi pertanyaan Sari dan dengan perasaan kacau, antara takut dan sedih akhirnya dia menjawab…

Bu Surti        : “I…I…iya Sari,…kamu memang anakku…”

Dewi            :  “Kamu punya berapa saudara Sari?”

Sari               : “Aku tidak punya saudara. Disisni aku hanya tinggal berdua sama ibu”

Heni             : “Enak dong Sar. Kalau punya sesuatu gak usah dibagi-bagi. Enggak kayak aku yang saudaranya banyak”

Sari               : “Seharusnya kamu bersyukur punya saudara. Kan ada yang membantu dan menghibur kamu”

Sementara Sari dan teman-temannya mengobrol, bu Surti melihat ke arah jam. Lalu dia bergegas untuk mengantarkan cucian ke rumah bu Tejo. Dia tidak ingin terlibat dalam perrbincangan yang mengarah pada masalah pribadinya. Bu Surti takut semua masa lalunya terungkap.

Bu Surti        : (dengan wajah cemas dan gelisah) “Sudah jam 3 (tiga), Ibu mau mengantarkan cucian dulu ya ke rumah bu Tejo”

Sari               : “Gak usah Bu, biar Sari aja yang nganterin cuciannya. Ibu kan sedang sakit…”

Wulan           : “Tante, kami antar aja ya…pake mobil saya Tante…”

Heni             : “Mobil apaan?… lah wong tadi kita kesini naik angkot juga…”

Bu Surti        : “Sudah, enggak apa-apa kok! Ibu nganterin sendiri aja ya…Kalian terusin aja ngobrolnya”

Sari               : “Bener Ibu enggak apa-apa…?”

Bu Surti        : “Bener Sari. Ibu berangkat dulu ya…Assalamualaikum”

Bu Surti berangkat ke rumah bu Tejo dengan membawa cucian.

Sari               : “Waalaikumsalam. Eh teman-teman, kok perasaanku gak enak ya? Sebelum Ibu pergi kok kayaknya ada yang aneh! Aku jadi khawatir sama ibu. Aku takut terjadi apa-apa sama ibu!”

Dewi            : “Gimana kalau kita ikutin aja Sari…?”

Heni             : “Tapi kamu tahu kan ibumu pergi ke rumah siapa…?”

Sari               : “Bu Tejo Hen”

Heni             : “Iya…iya…bu Tejo”

Sari               : “Iya aku tahu. Kalau begitu, sekarang kita susul ibu. Bagaimana teman-teman?”

Dewi, Heni& Wulan : ”ok dech!”

Sari dan teman-temannya pergi ke rumah bu Tejo untuk menyusul bu Surti.

 

Babak II

Bu Tejo dan bu Bagus tiba di rumah bu Tejo sekitar pukul 03.00 WIB. Mereka menghabiskan waktu seharian berbelanja di mal.

Bu Bagus     : “…aduh Jeng, kalung yang tadi itu bagus banget ya jeng…”

Bu Tejo        : “Oh maksud jeng yang liontinnya berbentuk hati itu ya Jeng

Bu Bagus     : “iya…iya yang itu jeng .eh….tau enggak, minggu kemaren waktu suamiku ke Swiss, ia membelikan seperangkat perhiasan lho jeng, lengkap lho ada anting, kalung, gelang, dan cincin juga lho”.

Bu Tejo        : “ ah… minggu depan suamiku  juga mau ke Perancis lho jeng, sekalian mau belikan aku perhiasan juga”.

Bu Bagus     : “ ke Perancis!! Aduh saya jadi inget waktu saya masih tinggal di sana”.

Bu Tejo        : “ oh…..jeng Bagus pernah tinggal di Perancis to…., berapa lama jeng?

Bu Bagus     :” ya…..lumayanlah sekitar 10 tahunan, kan dulu disana saya pernah jadi model lho, masa jeng gak tau sich, saya kan dulu selalu tampil di majalah”.

Bu Tejo        : “ tapi bukan majalah play boy kan jeng?”.

Bu Bagus     : “ ya bukan lah”.

Bu Tejo        : “ aduh ternyata jeng Bagus ini wanita kareir yang sukses ya…saya dengar kemarin buka salon lagi ya jeng?”

Bu Bagus     : “ya….maklum lah kan bisnis saya lagi berkembang. jangan lupa mampir lho jeng nanti ada diskon khusus buat jeng”.

Bu Tejo        : “ bener lho jeng”.

Bu Bagus     : “ oh…pasti”

                     ( Tiba-tiba Bu Bagus memandang ke sebuah foto di sudut ruang tamu)

Bu Bagus     : “ eh….jeng, itu foto siapa kok mirip sama jeng Tejo, adiknya ya jeng?”

Bu Tejo        : “ kenapa, cantik ya…..? itu anak saya namanya Indah, sekarang dia lagi kursus modelling di Perancis.

Bu Bagus     : “ oh……anaknya ya…..,umurnya berapa jeng?”

Bu Tejo        : “ 18 tahun”

Bu Bagus     : “ ( teringat sesuatu ) “ hah 18 tahun……!!berarti seusia dengan dia (sambil mengingat sesuatu).

Bu Tejo        : “ dia siapa jeng?”

Bu Bagus     : “ ah…bukan siapa-siapa kok”.

                     ( tiba-tiba muncul Bi Tum dengan membawa makanan dan minuman)

Bu Tejo        : “ aduh lama banget sich “.

Bi Tum         : “ maaf nyonya tadi gulanya habis, jadi saya harus beli ke warung, terus pas nyampek di warung antrinya panja……..ng banget, belum lagi nunggu kembaliannya kan………

Bu Tejo        : “ ( memotong perkataan bi Tum) sudah-sudah kamu ini alasan saja, sudah sana pergi!”

                     “Maaf lho jeng kelamaan nunggu, ayo jeng diminum dulu”.

Bu Bagus     : “ oh ya” (mengambil cangkir dan hendak meminumnya)

Bu Tejo        : “ eh ngomong-ngomong bagaimana kabar anak jeng sekarang?”

( Bu Bagus tidak jadi meminumnya dan agak sedikit gugup)

Bu Bagus     : “ apa jeng, anak saya?anak saya maksud jeng?”

Bu Tejo        : “ya iyalah, emang anak siapa?”

Bu Bagus     : “ anak saya….anak saya…..”.

                     (terdengar suara tamu mengucapkan salam)

Bu Surti        : “Assalamu’alaikum, Assalamu’alaikum”.

Bu Bagus     : “ jeng ada tamu tuh, menggangu saja ya jeng”.

Bu Tejo        : “ sebentar ya jeng saya lihat dulu”( Bu Tejo menghampiri tamunya)

                     “oh…..bu Surti tho, silahkan masuk bu….”

Bu Surti        : “ iya Bu, ini Bu saya mau nganterin cucian “.

( Pada saat Bu Surti hendak menyerahkan cucian kepada Bu Tejo, secara tidak sengaja Bu Surti melihat ke arah Bu Bagus dan dia sangat terkejut sekali sampai keranjang cucian yang dibawanya jatuh tanpa dia sadari)

Bu Tejo        : “lho…..lho….lho…..! kok jadi berantakan semua, gimana sih Bu Surti, sini bu biar saya bantu.”(sambil memungut pakaian yang terjatuh)

( Bu Bagus pun menoleh pada tamu Bu Tejo dan dia pun terkejut, sampai minuman yang ia minum tersembur dari mulutnya. Dengan gugup dia merapikan kembali penampilannya)

Bu Tejo        : “ ya sudah Bu Surti duduk saja dulu, saya mau menaruh cucian ini ke dalam”

                     ( menoleh ke arah Bu Bagus) “aduh jeng, kok jadi berantakan begini,tuh lihat baju jeng Bagus basah semua. Jeng Bagus sih kurang hati-hati. Tapi gak apa-apalah biar nanti Bi Tum saja yang beresin. saya tinggal ke dalam dulu ya jeng”.

Bu Bagus     : “ i……..i……..iya silahkan”.

( Bu Tejo pun masuk dengan membawa cuciannya dan tinggallah Bu Bagus dan Bu Surti. Tak lama kemudian Bu Bagus beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Bu Surti)

Bu Bagus     : “eh kamu……..dasar wanita sialan …..! kemana saja kau selama ini?

                     ( Bu Surti hanya terdiam) “ kenapa kau diam, apa kau takut padaku…?”

Bu Surti        : “B………b……..b…….bagaimana kabar nyonya?”

Bu Bagus     : “kenapa, apa kau berharap aku sudah mati? tak semudah itu,dimana kau sembunyikan anakku?”

Bu Surti        : “ apa…..apa…..maksud nyonya?”

Bu Bagus     : “apa maksudku? ah….sudahlan jangan berlagak bego. Bukankah kau tau sendiri apa yang kau lakukan belasan tahun yang lalu…. Kau teleh merenggutnya dariku….kau  telah merampas anakku, cepat katakan Surti dimana anakku sekarang! Kembalikan dia padaku, aku adalah ibu kandungnya!!!”( sambil mengguncang-nggincang tubuh Bu Surti)

Bu Surti        : “ tidak……tidak……nyonya ! saya tidak merampas dia, saya tidak pernah merampas dia dari nyonya. Tapi saya hanya ingin mengasuhnya.

Bu Bagus     : “ ya….kau asuh dia tanpa sepengetahuanku dan itu sama artinya dengan kau merampasnya dariku, kau telah menculiknya……….ya…..kau telah menculik anakku….kembalikan dia Surti…..kembalikan anakku….!!!”.

Bu Surti        : “ tidak nyonya……tidak…..saya tidak bisa…..’.

Bu Bagus     : “ Apa maksudmu dengan tidak bisa, sadar surti kamu tidak berhak atas dia, tapi aku……..aku yang berhak atas dia, aku ibu kandungnya surti!!!”.

                        (Bu Tejo muncul dari dalam rumahnya)

Bu Tejo        : “E…e…e…ada apa ini kok rame-rame to…? Jeng Bagus, bu Surti ada apa toh…?”

Bu Bagus     : (sambil menangis) “…perempuan ini Jeng, perempuan ini…dia…dia yang telah menculik anak saya…”

Bu Tejo        : “…menculik…?”

Bu Tejo jadi semakin bingung.

Bu Surti        : (langsung berdiri) “Tidak…tidak…itu tidak benar Bu…”

Bu Bagus     : “Percaya sama saya Jeng! Perempuan ini memang tidak tahu diri!”

Bu Surti        : “Saya tidak bersalah Bu, tidak…”

Bu Tejo        : “Sudah…sudah cukup, Jeng Bagus, bu Surti cukup ini rumah

 saya, Jeng Bagus dan bu Surti ndak berhak bertengkar disini”

Bu Bagus     : “…tapi dia…dia telah merampas anak saya Jeng…”

Bu Tejo        : “sudah…sekarang tenang dulu. Cerita sama saya ada apa ini sebenarnya”

Bu Bagus     : (sambil menangis) “…anak saya Jeng, dia telah memisahkan saya dengan anak saya…”

Bu Tejo        : “Anak Jeng?”

Bu Bagus     : “Iya Jeng anak saya…Anak yang telah saya telah lahirkan 18 tahun yang lalu…Dan dia…dia telah merampasnya dari saya Jeng…”

Sbu Surti      : “Tidak…tidak…Demi Tuhan saya tidak merampas Sari dari Nyonya. Saya hanya ingin merawatnya…”

Bu Bagus     : “…merawat…selalu saja kamu bilang kalau kamu merawatnya Kamu enggak tahu Surti, bagaimana penderitaanku tanpa adanya seorang anak disisiku…”

Bu Surti        : “…penderitaan…? Apa arti seorang anak bagi nyonya? Nyonya hanya mementingkan kekayaan, karier dan popularitas saja tanpa memperdulikan anak Nyonya…”

Bu Bagus     : “…sudahlah. Kamu tahu apa Surti? Memangnya kamu tahu apa tentang hidup yang aku jalani? Aku banting tulang siang malam mencari nafkah, dan kamu tahu semua ini untuk siapa? Untuk anakku Surti, semua ini untuk Sari…”

Bu Surti        : “…tapi…Sari tidak pernah mendapat kasih sayang. Apakah Nyonya tahu itu? Ketika Sari menangis siang dan malam membutuhkan ASI. Tahukah Nyonya apa yang Nyonya lakukan? Nyonya keluar dan sibuk mencari popularitas. Dan saya tidak tega melihat Sari terus-terusan menangis seperti itu. Dan…saya…saya ingin merawatnya…”

Bu Bagus           : “ cukup Surti. Cukup! Kau bukan ibu kandungnya… aku….. ibu kandungnya. Aku yang telah mengandung dia selama 9 bulan. Aku juga mempertaruhkan nyawaku agar dia bisa lahir ke dunia ini. Kau tidak berhak atas dia. Selama apapun kau merawatnya  kamu tetap bukan ibu kandungnya. Aku yang berhak memiliki dia. Jadi kembalikan dia padaku, kembalikan…“

Sementara itu, diluar rumah bu Tejo tampak sari dan teman-temannya yang sedang mendengarkan pembicaraan Bu bagus dan Bu surti. Sari tidak tahan mendengar semua ini dan ia ingin segera masuk ke rumah bu Tejo namun dihalangi oleh teman-temannya.

Bu Bagus     :” baik Nyah…… saya akan memenuhi permintaan Nyonya. Saya tahu saya bukan ibu kandungnya dan hanya nyonya yang berhak memiliki Sari. Tapi biarlah Sari yang memilih diantara kita siapa ibu yang terbaik untuknya…”

Tiba-tiba Sari masuk setelah berusaha dicegah oleh teman-temannya. Bersamaan  dengan ini, Dewi, teman Wulan pingsan karena shock dan takut.

Sari               :”Assalamu’laikum (dengan lemas menghampiri Bu Surti), Bu….Sari sudah mendengar semua yang ibu bicarakan ,kenapa ibu merahasiakan ini dari Sari Bu…..?”

Bu Surti        :”…maafkan Ibu nak, Ibu tidak berniat membohongimu selama ini, tapi ibu tidak mau kehilanganmu. Dialah ibu kandungmu, ikutlah bersamanya Sari  “

Bu Bagus     :”Sari…..aku adalah ibumu, bukan wanita itu. Kemarilah Sari dia tidak sebaik yang kau kira.

                     (berbicara kepada Bu Surti) “ dasar wanita tidak tahu diri, tidak tahu terima kasih

Sari               :(berbicara kepada Bu Surti dan tidak menghiraukan Bu Bagus) ”tapi,…..ibu Sari hanyalah ibu seorang. Sari sayang sama ibu, sungguh-sungguh menyayangi ibu. Apa ibu tidak menyayangi Sari lagi….?”

 

Bu Surti        “tidak nak, jangan berkata seperti itu…ibu selalu menyayangimu, dari kecil ibu mengasuhmu dan selalu menyayangimu seperti anak ibu sendiri. Tapi bagaimanapun juga dia adalah ibu kandungmu yang berhak atas dirimu” ( kemudian Bu Surti berdiri).

Bu Bagus     :” hai….Surti sialan, jangan kau kotori pikiran anakku. Kau memang benar-benar wanita jahat, tidak tahu diri…..dasar wanita mandul, bisamu hanya merampas anak orang…!!!”

Bu Sari         :” maafkan ibu nak….ibu sudah tidak tahan mendengar semua ini. Ibu tidak seharusnya diantara kalian…..ibu hanya menjadi beban dan penghalang. Sari…., kau adalah anak yang baik. Kembalilah padanya, ibu  sangat bahagia engkau telah menjadi bagian hidupku. Meskipun tanpamu, ibu akan mencoba jalani hidup ini. kembalilah nak….!ibu mohon padamu. ( kemudian Bu surti pergi meninggalkan Sari dan bu Bagus)

Sari               : “ ibu…..Sari tidak mau bu……., saya ingin bersama ibu….” ( sambil menangis)

Bu Bagus     :” kembalilah pada ibu nak…! aku adalah ibu kandungmu”

Sari               : “………(terdiam)

Bu Bagus     : “ Sari kau tak perlu menangisi wanita itu, Surti hanyalah wanita miskn yang telah merampasmu dariku. Kemarilah Sari…..ibu sangat rindu dan sangat sayang padamu”.

Sari               : “ kau…..benarkah kau menyayangiku??? Tidak….tidak aku tidak mau kembali padamu. Bagiku ibuku adalah Bu surti”.

Bu Bagus     : “ tapi aku telah melahirkan kamu nak, bukan buruh cuci itu”.

Sari               : “ baik, jika kau memang ibu kandungku apa yang kau berikan padaku selama ini? Bukankah kamu hanya sibuk ke Perancis mencari harta saja”.

Bu Bagus     : “ jangan berkata seperti itu pada ibu nak, kamu tidak tahu

bagaimana penderitaanku selama ini. Ibu membanting tulang siang dan malam agar kamu bisa di pandang oleh masyarakat, agar kamu tidak dicemooh sebagaimana kamu anak seorang buruh cuci….”

Sari               :” Aku memang tidak tahu penderitaanmu selama ini, yang aku tahu dan aku rasakan ibu Surti adalah ibu kandungku, dia yang selama ini merawatku, membesarkanku dan telah memberikan kasih sayangnya kepadaku”.

Bu Bagus     : “ sari, akulah ibu kandungmu….bukan wanita itu, dia hanyalah seorang pembantu yang telah menculik kamu “.

Sari               : “ omong kosong itu semua, aku bahagia hidup degan ibu surti”.

Bu Bagus     :” bahagia kamu bilang, bagaimana mungkin kamu bisa bahagia hidupmiskin bersama wanita itu, apa yang dia punya? Dia hanya seorang buruh cuci lalu bagaimana dengan kebutuhanmu sehari-hari, bagaimana pendidikanmu. Apa kamu tidak ingin belajar di luar Negeri seperti anak Bu Tejo. Dan itu tidak bisa diberikan oleh wanita itu”.

Sari               : “ materi terus yang kamu katakan!…..muak…..muak aku mendengarnya! Sebenarnya  ibu macam apa kamu ini!”

Bu Bagus     : “oh anakku, teganya kamu berkata seperti itu pada ibu kandungmu sendiri”.

Sari               : “ asal kamu tahu, bagiku harta bukanlah segala-galanya dan kasih sayang seorang ibu telah aku rasakan dari ibu Surti, dia adalah kebahagiaanku selama ini. Dan saat ini juga aku memutuskan untuk ikut dengan bu Surti saja”.

Sari pergi meninggalkan Bu Bagus dan Bu Bagus menangis menatap kepergian Sari.

Bu Bagus     :”…tidak Nak. Jangan lakukan itu pada ibu Sari…………(teriak), oh Tuhan, mengapa ini semua terjadi

padaku. Anak yang aku lahirkan lebih memilih orang lain dari pada aku. Apa… arti semua ini (sambil melepas semua perhiasannya) semua harta, kekuasaan, dan popularitas yang aku dapatkan tidak bisa membawa anakku kembali ke pangkuanku. Aku menyesal….aku sungguh menyesal ( sambil duduk bersimpuh). Kalau tahu akhirrnya akan seperti ini aku tidak akan pernah menyia-nyiakan anakku, maafkan aku anakku. Maafkan ibu yang tidak tahu diri ini. (Bu Tejo menghampiri  Bu Bagus dan berusaha menenangkannya)

Sari……..Sari………….Sari……….!!!!!!

–SELESAI–