Archive for the ‘Naskah Drama’ Category

Tegak 17

Posted: 16 Agustus 2009 in Naskah Drama

Merdeka,
Masih kau dengar pekik itu?
Walau bertalu menusuk tulang
Merenda semangat yang makin menghadang
Menghitung waktu yang kadang makin hilang
Smentara himpitan menjepit meradang

Merdeka,
Masihkah kau dengar itu?
Lalai sudah sejarah tinggal desah
Terburai gundah keluh resah
Kerna hidup tak lagi nikmati
Perjuangan pahlawan yang tinggal kenangan
Di pojok2 buku yang tak lagi terbaca

Merdeka,
Masihkah kau dengar pekik itu
Tatkala bendera lusuh berkibar menghiasi pelataran
Yang berkibar bersemangat dengan wajah merona
Seperti ingin terbang bebas lepas dari tangan-tangan buas
Yang tega merajut benang baru beraroma keserakahan

Merdeka,
Hanya tinggal veteran pejuang
Yang rela mendongak hormat, tak peduli panas menyengat
Hanya semangat yang tinggal sisa-sisa
Menghiasi hidup yang tinggal sejengkal

Merdeka,
Untuk kita semua,
Smoga…

Surabaya, 17 Agustus 2009


Oleh:
Koidah  Fitriyah
Penyelaras: Drs. Heru Subrata, M.Si

Analisis unsur – unsur cerita

a. Tema

Tema adalah inti atau persoalan yang mendasari isi cerita. Pada cerpen ” Romansa di Tebing Pelangi ” temanya asdalah tentang percintaan.

b. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah pelaku yang mendukung peristiwa sehingga mampu menjalin suatu cerita. Penokohan adalah sifat atau karakter yang dimiliki oleh para tokoh cerita. Dalam cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” tokoh serta penokohannya adalah sbb :

Tokoh                                                 Penokohan ( watak )

1.   Meira                                             Cantik, mudah percaya, keras kepala.

2.   Elgar                                              Baik, penyayang, suka menolong, tidak pendendam

3.   Gery                                              Sombong, sok ganteng,, mabuk popularitas,playboy

4.   Ibu                                                 Baik, penyayang, sabar.

5.   Ayah                                             Baik, penyayang, sabar.

c. Latar / Setting

Sebuah cerita pada hakekatnya adalah lukisan peristiwa atau kejadian yang menimpa atau di lakukan oleh satu atau beberapa orang tokoh pada suatu waktu tertentu dan tempat tertentu. Atas dasar hal tersebut dapat dikatakan bahwa penempatan waktu dan tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi tersebut disebut latar cerita atau setting.

Latar dalam cerpen cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah di Tebing Pelangi, di Retro, rumah Meira, rumah sakit, dan pantai Bidadari. Settingnya pada siang hari, malam hari, dan sore hari.

d. Point of View

Point of view atau sudut pandang dalam cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah sudut pandang orang pertama, di mana penulis sebagai pencerita.

e. Amanat

Amanat yang dapat dipetik dari cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah kita jangan mudah percaya dengan rayuan lelaki. Orang yang paling dekat dengan kita adalah orang yang paling mengerti kita. Jangan terlarut dalam urusan cinta, apalagi sampai lupa akan tugas dari pekerjaan atau profesi kita, karena itu dapat menimbulkan penyesalan.

f. Alur

Alur cerita dalam cerpen ”  Romansa di Tebing Pelangi ” ini adalah alur maju. Di mulai dari pertemuan, kemudian terjadi konflik, penyesalan, dan akhirnya berakhir bahagia.

Alur dalam cerita ”  Romansa di Tebing Pelangi ”   : (lebih…)

“GENGSI”

Posted: 4 Juli 2009 in Naskah Drama Anak
Tag:

Oleh : MENIK PUSPITA RINI

Penyelaras: Heru Subrata

GAMBARAN ALUR CERITA

Pengenalan Karakter

Konflik

Ketegangan

Klimaks

Penyelesaian

Widi mengungkapkan perasaan irinya pada Dya karena berbagai alasan. Widi kesulitan menger-jakan soal-soal fisika, Dia ingin meminta bantuan Dya untuk mengerja-kannya tetapi Widi ragu-ragu dan merasa gengsi Dya datang ke rumah Widi, Widi merasa kaget, tetapi dia senang karena bisa belajar bersama untuk menghadapi ula-ngan besok. Ketika Widi dan Dya menanti-nanti hasil ulangannya dibagikan. Nilai-nilai ulangna Widi sama dengan Dya. Mereka belajar bersama, saling membantu dan bersahabat  tanpa perasaan iri lagi di hati Widi.


NASKAH CERITA

BABAK I

(DI KAMAR, WIDI MELAMUN SENDIRI, IA TRINGAT DENGAN TEMAN SEBANGKUNYA DYA YANG KEBETULAN PADA HARI ITU MEMBUATNYA KESAL)

(DI DALAM HATI WIDI BERKECAMUK PERASAAN KESAL PADA TEMANNYA ITU, TNPA SADAR IA BERGUMAM SENDIRI)

Widi          :   “Uh!! Kok ya ada orang sesempurna Dya hidup di dunia ini ? Sudah cantik, pintar, baik, banyak yang suka lagi!”

(WIDI MELEMPARKAN SEBUAH BANTAL YANG TAK SENGAJA MENGENAI KUCINGNYA, SI BELANG YANG SEDANG MERINGKUK DI ATAS KESET DEKAT PINTU KAMARNYA. SETELAH HILANG RASA TERKEJUTNYA, SI BELANG KEMBALI MERINGKUK DEKAT BANTAL YANG WIDI LEMPARKAN)

Belang     :   “Miaww ! meow…!”

Widi          :   “Ups ! maaf ya belang!”

Widi          :   “Aku saja tak seberuntung si belang, lihat sekarang dia dapat bantal yang empuk untuk tidur.” (SAMBIL MELIHAT SI BELANG)

(WIDI MEMELUK GULING DENGAN GEMAS) (lebih…)


Oleh:
ERI MIYARTI

Penyelaras: Heru Subrata

Para Pelaku :

Lina : Tokoh utama (PROTAGONIS)
Pramudiya : Kekasih Lina (ANTAGONIS)
Fani : Teman Lina (PROTAGONIS)
Meta : Teman gaul Lina ( selingkuhan pramudiya ) (ANTAGONIS)

BABAK KESATU
Suatu malam, bulan terlihat bersinar terang, bintang bercahaya kerlap-kerlip indah di langit. Udara berhembus sejuk di hati, serasa menambah meriah suasana pesta ulang tahun. Dua sejoli saling berpasang-pasangan memadu kasih, tapi ada juga yang epi tanpa seorang kekasih, mungkin disinilah tempat anak muda mencari ajang kenalan, berangkat sendirian dan waktu pulang sudah ada yang mengantarkan sampai rumah, dan bahkan hubungannya bisa berlanjut sampai ke depannya. (lebih…)


Naskah Telah Dipentaskan
Pendukung Pementasan:

1. Dian Lutfi (01)
2. Ririn Purnawati (02)
3. Alfiatur Rahma Taufika (09)
4. Dyah Dewi Aminah (11)
5. Ranti Sulistyo Basuki (13)
6. Arik Umi Piji Astuti (14)
7. Atalia Nur Ichsana Arafat (17)
8. Wijayanti Kusumaningrum (25)
9. Hanif Istiani (32)
10. Novi Kurniawati (33)
11. Anita (41)

STAF PRODUKSI

Pimpinan Produksi : Drs. Heru Subrata, M.Si
Sutradara : Atalia Nur Ichsana Arafat
Asisten Sutradara : Arik Umi Piji Astuti
Sekretaris : Ririn Purnawati
Bendahara : Dian Lutfi
Seksi-seksi :
1. Penata Panggung :
• Hanif Istiani
• Anita
• Dyah Dewi
2. Penata Musik :
• Wijayanti Kusumaningrum
• Alfiatur Rahma Taufika
• Novi Kurniawati
3. Penata Rias :
• Ranti Sulistyo Basuki
• Ririn Purnawati

Pelaku :
Novi Kurniawati sebagai Perawan Bodho
Ranti Sulistyo B. sebagai Mbok Ginem
Arik Umi P.A. sebagai Pria tak dikenal
Anita sebagai Pak RT
Ririn Purnawati sebagai Bu RT
Wijayanti K. sebagai Maling
Dian Lutfi sebagai Oneng
Dyah Dewi A. sebagai Mak Yah
Hanif Istiani sebagai Inem
Alfiatur Rahma T. sebagai Yu Pi”ah

SINOPSIS

Kisah ini menceritakan tentang seorang janda setengah tua yang bernama mbok Ginem. Dia mempunyai seorang anak yang memiliki kecerdasan di bawah normal, sehingga dipanggil Perawan Bodho. Suatu ketika, karena malu pada tetangganya mbok Ginem menyuruh anaknya mencari jodoh. Akhirnya Perawan Bodho menemukan pemuda yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan ibunya. Setelah sampai di rumah, terkejutlah mbok Ginem karena ternyata pemuda yang ditemukan Perawan Bodho adalah mantan suami yang telah meninggalkannya. Karena benci dan malu, mbok Ginem tidak menceritakan pada anaknya tetapi dia bingung karena anaknya sudah terlanjur menyukai pemuda tersebut. Dalam keadaan bingung mbok Ginem memperoleh akal untuk menyingkirkan laki-laki tersebut, kebetulan lelaki itu sedang mengalami penyakit kaki busuk. Mbok Ginem yang kesal mengatakan pada Perawan Bodho bahwa lelaki itu sudah mati karena baunya sudah busuk, oleh karena itu harus segera dibuang ke sungai. (lebih…)


Penyelaras: Drs, HERU SUBRATA, M.Si

A. NASKAH DRAMA

ADEGAN 1

Narator : (Mengutip salah satu penggalan surat Kartini yang tidak dipublikasikan. Diiringi suara dentingan gitar, pelan)
Daripada mati itu akan tumbuh kehidupan baru.
Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan tahan, dan meskipun sekarang dapat juga ditahan-tahan, besoknya akan tumbuh juga dia, dan hidup makin lama makin kuat makin teguh.

Kamar Kartika

Kartika : (memakai piyama, sedang membaca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang disusun oleh Armijn Pane, di meja belajar. Airmuka serius, lampu duduk menyala.)
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dan suara panggilan untuk Kartika.
Bu Sartika : Kartika? Kartika?! Buka pintunya! Hari masihlah sore, gemarkah kau untuk tidur? Bukalah! Lekas!
Kartika : Menghela napas panjang, kemudian menutup bukunya dan bangkit untuk membuka pintu.
Bu Sartika : Astaga! Sesore ini kau sudah siap berpiyama? Bisakah kau tidak bermalas malasan saja? (Menatap Kartika tak percaya, tangannya membawa tas tangan kecil. Dibelakangnya 2 orang pesuruh menggotong sebuah benda setinggi 2 meter berbungkus kertas cokelat.)
Kartika : Ma, Kartika sedang baca buku, bukan sedang tidur. (Bela Kartika pelan, sambil mengangkat buku Habis Gelap Terbitlah Terang)
Bu Sartika : Oh terserahlah, kau pasti membaca buku cerita. Itu sama saja dengan tidur. Sia-sia belaka. Pak, bawa masuk kesini (masuk ke dalam dan menunjuk dinding) Letakkan disini saja, ya bagus, kalian bisa keluar. Terimakasih.
Setelah 2 pesuruh tersebut keluar
Kartika : Apa ini Ma? (Menghampiri benda tinggi bungkusan cokelat tersebut, penasaran)
Bu Sartika : (Duduk di tepi ranjang sambil melepas sepatu hak tingginya) Mama bawakan oleh oleh untukmu. Bukalah, kau pasti suka. Itu dari Jepara. Asli! (Tersenyum sambil menunjuk bungkusan tersebut pada Kartika.)
Kartika : lukisan RA Kartini, Ma?! (segera menyobek bungkusan tersebut dengan bersemangat).
Sartika : Bukan, itu lebih bermanfaat buatmu.
Kartika : (Tertegun mendapati sebuah bingkai kayu jati. Selebar setengah meter dan setinggi 2 meter. Sekeliling tepinya penuh dengan ukir ukiran berbentuk sulur sulur. Kaki cermin juga berukir berbentuk bonggol akar yang kokoh. Warna bingkai cokelat tua berpelitur mengkilat.)
Sartika : Kenapa? Kau tak suka cermin itu?
Kartika : Buat apa Ma? Tika rasa cermin ini terlalu besar untuk kamar ini. (berkata lirih sambil melirik bingkai kayu tersebut tanpa minat) Oh ya! (serunya mendadak) Kartika sedang baca buku RA Kartini, Ma… bagus sekali ceritanya. Mama mau baca? (menyodorkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang dengan wajah berseri)
Bu Sartika : Tika! Berhentilah baca buku buku konyol seperti ini! Sekarang bukan saatnya kau mengenang jasa Kartini. Tapi manfaatkanlah jasanya sebaik mungkin. Mana prestasi yang dapat kau berikan buat Mama? Kerjakan tugasmu dan belajarlah yang tekun. Harusnya kau bersyukur emansipasi menjadikanmu pelajar sampai sekarang dan mama seorang manager perusahaan besar.” (berucap lantang)
Kartika : Mama sama sekali tak berminat baca ini? (masih menyodorkan buku tersebut)
Sartika : Ya.. ya..ya.. Mama akan baca jika mama sudah pulang dari dinas ke Bandung 2 minggu ini. Oke?
Kartika : Tapi Mama kan baru saja pulang dari Semarang? (meletakkan buku itu kembali ke meja belajar)
Bu Sartika : Mama mendadak ditugaskan atasan untuk mengurusi proyek yang baru. Sudahlah, mama capek. Mama hendak istirahat (bangkit, sambil menguap) Oh ya, cermin itu gunakan baik baik. Kau harus banyak merias diri, berlatih berbicara di depan umum dan menjadi seorang gadis teladan yang menyenangkan.
Kartika : Maksud Mama?
Bu Sartika : Bulan depan ada pesta peresmian kantor baru Mama. Kau harus ikut, mama ingin mengenalkanmu dengan anak kolega mama. Malam Sayang.. (mengecup kening Kartika lalu beranjak keluar) (lebih…)

“PUTRI SALJU YANG TERTIDUR”

Posted: 15 Juni 2009 in Naskah

Putri Salju Yang Tertidur

Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si.

A. 1. Stage manager : Andika Dafi
2. Sekretariat : Anis Sholikah
3. Bendahara : Nency Putri Muldash
4. Sutradara : Gunawan Effendy
5. Astrada : Dian Wahyu M
6. Pencatat Adegan : Sepsi Prawesti
7. Rias Busana : Eko Setyowati
8. Tata rias : Runi Puspitasari
9. Tari / gerak : Nita Carita
10. Musik suara : Sulis Andayani
11. Panggung : Heri Fainurrahman
12. Lampu : Heri Fainurrahman
13. Effect : Erna Dewi Widia

B. SINOPSIS CERITA
Cerita “Putri Salju yang tertidur” merupakan cerita fiktif dalam cerita ini menggambarkan kisah seorang putri salju yang dibuang ke hutan oleh kakak kandungnya sendiri yaitu putri salju, karena di merasa iri kepada putri salju, karena di merasa bahwa Raja dan Ratu akan memberikan jodoh yang lebih baik kepada putri Salju. Putri Salju setelah dikasih minuman oleh Putri Cemara akhirnya tertidur dan kemudian dibuang di hutan 7 Kurcaci. Ditengah hutan itu Putri Salju yang tidur itu ditemukan oleh 7 Kurcaci yang kemudian mengadakan sayembara untuk dapat membangunkan Putri Salju yang akhirnya dijadikan pendamping hidupnya.
Pangeran yang ikut sayembara harus melalui 4 tantangan dari 7 Kurcaci yaitu Kurcaci Pintar, Kurcaci Penyanyi, Kurcaci Lemot, Kurcaci Diplomat, Kurcaci Centil, Kurcaci Makan, Kurcaci Tidur. Dan Pangeran tersebut harus lulus dalam 4 tantangan agar mempunyai kesempatan untuk membangunkan Putri Salju. Setelah beberapa pangeran gagal, suatu hari ada 1 pangeran yang lolos dalam sayembara itu, yaitu Pangeran dari Kerajaan Moestopo dan sesuai dengan petunjuk dalam botol racun yang diminum Putri Salju, Pangeran harus bernyanyi lagu bintang kecil vokal ‘v’ sambil mengitarinya dengan berlompat-lompat 3 kali kemudian mencium Putri Salju yang akhirnya terbangun dan bertemu dengan Pangeran. Akan tetapi tak berapa lama Pangeran merasa haus dan meminum racun dalam botol yang ia temukan dan setelah minum itu Pangeran merasa ngantuk dan tertidur Pulas Putri Salju jadi bingung dan memanggil-manggil pangeran yang udah tidur.

C. SKENARIO
“PUTRI SALJU YANG TERTIDUR” (lebih…)