Posts Tagged ‘heru subrata’


Oleh:
ERI MIYARTI

Penyelaras: Heru Subrata

Para Pelaku :

Lina : Tokoh utama (PROTAGONIS)
Pramudiya : Kekasih Lina (ANTAGONIS)
Fani : Teman Lina (PROTAGONIS)
Meta : Teman gaul Lina ( selingkuhan pramudiya ) (ANTAGONIS)

BABAK KESATU
Suatu malam, bulan terlihat bersinar terang, bintang bercahaya kerlap-kerlip indah di langit. Udara berhembus sejuk di hati, serasa menambah meriah suasana pesta ulang tahun. Dua sejoli saling berpasang-pasangan memadu kasih, tapi ada juga yang epi tanpa seorang kekasih, mungkin disinilah tempat anak muda mencari ajang kenalan, berangkat sendirian dan waktu pulang sudah ada yang mengantarkan sampai rumah, dan bahkan hubungannya bisa berlanjut sampai ke depannya. (lebih…)


Naskah Telah Dipentaskan
Pendukung Pementasan:

1. Dian Lutfi (01)
2. Ririn Purnawati (02)
3. Alfiatur Rahma Taufika (09)
4. Dyah Dewi Aminah (11)
5. Ranti Sulistyo Basuki (13)
6. Arik Umi Piji Astuti (14)
7. Atalia Nur Ichsana Arafat (17)
8. Wijayanti Kusumaningrum (25)
9. Hanif Istiani (32)
10. Novi Kurniawati (33)
11. Anita (41)

STAF PRODUKSI

Pimpinan Produksi : Drs. Heru Subrata, M.Si
Sutradara : Atalia Nur Ichsana Arafat
Asisten Sutradara : Arik Umi Piji Astuti
Sekretaris : Ririn Purnawati
Bendahara : Dian Lutfi
Seksi-seksi :
1. Penata Panggung :
• Hanif Istiani
• Anita
• Dyah Dewi
2. Penata Musik :
• Wijayanti Kusumaningrum
• Alfiatur Rahma Taufika
• Novi Kurniawati
3. Penata Rias :
• Ranti Sulistyo Basuki
• Ririn Purnawati

Pelaku :
Novi Kurniawati sebagai Perawan Bodho
Ranti Sulistyo B. sebagai Mbok Ginem
Arik Umi P.A. sebagai Pria tak dikenal
Anita sebagai Pak RT
Ririn Purnawati sebagai Bu RT
Wijayanti K. sebagai Maling
Dian Lutfi sebagai Oneng
Dyah Dewi A. sebagai Mak Yah
Hanif Istiani sebagai Inem
Alfiatur Rahma T. sebagai Yu Pi”ah

SINOPSIS

Kisah ini menceritakan tentang seorang janda setengah tua yang bernama mbok Ginem. Dia mempunyai seorang anak yang memiliki kecerdasan di bawah normal, sehingga dipanggil Perawan Bodho. Suatu ketika, karena malu pada tetangganya mbok Ginem menyuruh anaknya mencari jodoh. Akhirnya Perawan Bodho menemukan pemuda yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan ibunya. Setelah sampai di rumah, terkejutlah mbok Ginem karena ternyata pemuda yang ditemukan Perawan Bodho adalah mantan suami yang telah meninggalkannya. Karena benci dan malu, mbok Ginem tidak menceritakan pada anaknya tetapi dia bingung karena anaknya sudah terlanjur menyukai pemuda tersebut. Dalam keadaan bingung mbok Ginem memperoleh akal untuk menyingkirkan laki-laki tersebut, kebetulan lelaki itu sedang mengalami penyakit kaki busuk. Mbok Ginem yang kesal mengatakan pada Perawan Bodho bahwa lelaki itu sudah mati karena baunya sudah busuk, oleh karena itu harus segera dibuang ke sungai. (lebih…)


Penyelaras: Drs, HERU SUBRATA, M.Si

A. NASKAH DRAMA

ADEGAN 1

Narator : (Mengutip salah satu penggalan surat Kartini yang tidak dipublikasikan. Diiringi suara dentingan gitar, pelan)
Daripada mati itu akan tumbuh kehidupan baru.
Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan tahan, dan meskipun sekarang dapat juga ditahan-tahan, besoknya akan tumbuh juga dia, dan hidup makin lama makin kuat makin teguh.

Kamar Kartika

Kartika : (memakai piyama, sedang membaca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang disusun oleh Armijn Pane, di meja belajar. Airmuka serius, lampu duduk menyala.)
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dan suara panggilan untuk Kartika.
Bu Sartika : Kartika? Kartika?! Buka pintunya! Hari masihlah sore, gemarkah kau untuk tidur? Bukalah! Lekas!
Kartika : Menghela napas panjang, kemudian menutup bukunya dan bangkit untuk membuka pintu.
Bu Sartika : Astaga! Sesore ini kau sudah siap berpiyama? Bisakah kau tidak bermalas malasan saja? (Menatap Kartika tak percaya, tangannya membawa tas tangan kecil. Dibelakangnya 2 orang pesuruh menggotong sebuah benda setinggi 2 meter berbungkus kertas cokelat.)
Kartika : Ma, Kartika sedang baca buku, bukan sedang tidur. (Bela Kartika pelan, sambil mengangkat buku Habis Gelap Terbitlah Terang)
Bu Sartika : Oh terserahlah, kau pasti membaca buku cerita. Itu sama saja dengan tidur. Sia-sia belaka. Pak, bawa masuk kesini (masuk ke dalam dan menunjuk dinding) Letakkan disini saja, ya bagus, kalian bisa keluar. Terimakasih.
Setelah 2 pesuruh tersebut keluar
Kartika : Apa ini Ma? (Menghampiri benda tinggi bungkusan cokelat tersebut, penasaran)
Bu Sartika : (Duduk di tepi ranjang sambil melepas sepatu hak tingginya) Mama bawakan oleh oleh untukmu. Bukalah, kau pasti suka. Itu dari Jepara. Asli! (Tersenyum sambil menunjuk bungkusan tersebut pada Kartika.)
Kartika : lukisan RA Kartini, Ma?! (segera menyobek bungkusan tersebut dengan bersemangat).
Sartika : Bukan, itu lebih bermanfaat buatmu.
Kartika : (Tertegun mendapati sebuah bingkai kayu jati. Selebar setengah meter dan setinggi 2 meter. Sekeliling tepinya penuh dengan ukir ukiran berbentuk sulur sulur. Kaki cermin juga berukir berbentuk bonggol akar yang kokoh. Warna bingkai cokelat tua berpelitur mengkilat.)
Sartika : Kenapa? Kau tak suka cermin itu?
Kartika : Buat apa Ma? Tika rasa cermin ini terlalu besar untuk kamar ini. (berkata lirih sambil melirik bingkai kayu tersebut tanpa minat) Oh ya! (serunya mendadak) Kartika sedang baca buku RA Kartini, Ma… bagus sekali ceritanya. Mama mau baca? (menyodorkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang dengan wajah berseri)
Bu Sartika : Tika! Berhentilah baca buku buku konyol seperti ini! Sekarang bukan saatnya kau mengenang jasa Kartini. Tapi manfaatkanlah jasanya sebaik mungkin. Mana prestasi yang dapat kau berikan buat Mama? Kerjakan tugasmu dan belajarlah yang tekun. Harusnya kau bersyukur emansipasi menjadikanmu pelajar sampai sekarang dan mama seorang manager perusahaan besar.” (berucap lantang)
Kartika : Mama sama sekali tak berminat baca ini? (masih menyodorkan buku tersebut)
Sartika : Ya.. ya..ya.. Mama akan baca jika mama sudah pulang dari dinas ke Bandung 2 minggu ini. Oke?
Kartika : Tapi Mama kan baru saja pulang dari Semarang? (meletakkan buku itu kembali ke meja belajar)
Bu Sartika : Mama mendadak ditugaskan atasan untuk mengurusi proyek yang baru. Sudahlah, mama capek. Mama hendak istirahat (bangkit, sambil menguap) Oh ya, cermin itu gunakan baik baik. Kau harus banyak merias diri, berlatih berbicara di depan umum dan menjadi seorang gadis teladan yang menyenangkan.
Kartika : Maksud Mama?
Bu Sartika : Bulan depan ada pesta peresmian kantor baru Mama. Kau harus ikut, mama ingin mengenalkanmu dengan anak kolega mama. Malam Sayang.. (mengecup kening Kartika lalu beranjak keluar) (lebih…)