“JALINAN KASIH DARI GERBONG KERETA API”


Oleh :
NUR DWI AFIFAH
[Diadaptasi dari buku “Ketika Mas Gagah Pergi”, Pengarang: Helvy Tiana Rosa, Penerbit: Asy Syamil, Bandung]

1. Tokoh-tokoh: Nia (aku)
2. Aam (teman si aku)
3. Mamanya Nia
4. Surti
5. Yanti
6. Pak Mar’i
7. Pak Jaya
8. Udin
9. Ucup
10. Rita
11. Eman
12. Tia
13. Preman (5 orang)
14. Adi

Babak 1
Siang itu, udara begitu panas menyengat tubuh. Anak-anak kecil tak beralas kaki itu sejenak menatapku. Mereka cengengesan. Ada yang menggaruk-garuk kepala. Ada yang asyik membersihkan hidung. Ada yang sibuk mengusir lalat yang hinggap di koreng. Ada yang mengoceh sendiri, ada pula yang asyik memperhatikan dari ujung jilbab sanpai ujung kaki. Dengan keramahan dan senyum di wajah Nia bertanya.
Nia :“Mau nggak belajar sama ibu?”
Mereka hanya bisa cengar-cengir, saling pandang sesama. Kutegaskan pertanyaanku.
Nia :“Ibu Tanya, mau tidak kalian ibu ajari membaca dan mengaji?” (TERSENYUM LEMBUT).
Udin :“Mau” (MENGACUNGKAN JARI, KEMUDIAN MENUNDUK MALU).
Ucup :“Ibu ini, memngnya ibu gulu?”
Eman :“Kami nggak punya pensil. Nggak punya buku sih!”
Udin :“Belajarnya dimana??” (PENASARAN).
Adi :“Kita mau kayak anak sekolahan ya Bu??”

Nia terdiam dan tersenyum ramah, merekapun tersenyum malu-malu. Setiap kali melewati stasiun kereta api Senen, hati rasanya haru biru dan ngilu. Melihat pemukiman yang kumuh dan anak-anak yang dekil. Mereka bermain dengan riang gembira. Seminggu yang lalu Nia melewati stasiun dan sempat mengobrol dengan ibu muda (Surti) yang sedang menggendong anaknya.
Nia :“Sore, Bu!!!! Permisi!Boleh saya mampir, Bu???”
Surti :“Yaaa……” (MENJAWAB DENGAN SUARA LIRIH DAN MALU-MALU).
Di seberang rel kereta api terlihat anak-anak jalanan sedang bermain dengan riang gembira di gerbong-gerbong kosong itu. Nia mengobrol dengan Surti.
Nia :“Ceria sekali mereka? Padahal mereka nggak punya mainan yang menarik?”.
Surti :“Itu adalah ungkapan kesenangan mereka sebagai obat pelepas capek”.
Nia :“Capek?????Capek karena belajar di sekolah maksud ibu????”.
Surti :“Ya enggaklah, mo sekolah dimana?”.
Nia :“Trussss????…..”.(PENASARAN).
Surti :“Ya capek karena cari duitlah”.
Nia :“Cari duit????”(MENEGASKAN).
Surti :“Iyaaaa…….”.
Nia :“Emang mereka bisa kerja apaan?????. Mereka kan masih kecil, kok nggak sekolah aja????.”
Surti :“Sekolah?????Mo sekolah pake apa?????mereka mikirnya yang penting bisa makan tiap hari itu udah beruntung sekali” (PESIMIS).
Nia :“Emang orang tua mereka nggak kerja to?masak nggak bisa mbiayai sekolah anak-anaknya???”.
Suti :“Ya kerjalah, mbak. Tapi berapa sih pemdapatan dari seorang pemulung?mereka kebanyakan pemulung dan pengemis!”.
Nia :“Oooooo…..gitu. Trus anak-anak nggak ada yang pingin sekolah to?”.
Surti itu terdiam dan sejenak berpikir.
Surti :“Ehmmmm……..ya pingin mbak!!tapi kadang mereka juga takut ma orang tua mereka.”
Nia :“Kok takutt????emang kenapa???”.
Surti :“Ya, iyalah. Soalnya mereka dipaksa untuk cari duit. Ada yang jadi pengemis ataupun pengamen. Selain itu mereka ada yang jadi penyemir sepatu, penjual es, atau pemjual Koran. ”
Nia :“Kasihan banget ya buk!!!!”
Selang beberapa langkah setelah Nia mengobrol dengan Surti tersebut. Dengan wajah memelas kupandangi anak-anak yang sedanng bermain riang gembira di gerbong kereta api tua itu. Kakek Mar’I, tukang cukur di daerah sekitar situ menyapaku dengan rasa ingin tahu.
Kakek Mar’I :“ada apa neng kok sedih banget?.”
Nia :“Kasihan mereka, pak!”(PANDANGAN MENUJU KE ARAH ANAK-ANAK).
Kakek Mar’I :“Mau kasihan gimana? Emang kadang mereka butuh belas kasihan tapi juga kadang mereka menjengkelkan.”
Nia :“Menjengkelkan????.Maksud bapak apa????”
Kakek Mar’I :“gimana nggak membuat jengkel???? Lha mereka itu kadang tega memeras pelajar SD yang lewat di daerah mereka.”
Nia :“Iya to. Pak????.”
Kakek Mar’I :“Iya, bahkan mereka berani mencuri dan merampas barang orang lain. Itu dah biasa neng……”
Nia :“Masak sih, pak??” (TIDAK PERCAYA).
Untuk mengobati rasa ketidakpercayaannya, Nia mengobrol sama pak Jaya, yang kabarnya ia adalah salah satu keamanan Pasar Senen.
Nia :“Maaf, bu guru, saya Nia (BERJABAT TANGAN)” .
Pak Jaya :“Ya….saya pak Jaya. Ada apa neng???.”
Nia :“Saya mau tanya. Apakah bener anak-anak itu bisanya mengemis atau mengemen di jalanan.”
Pak Jaya :“Iya, neng.”
Nia :“Aduh kasihan banget berarti mereka nggak sekolah dong, Pak?.”
Pak Jaya hanya menganggukkan kepala menandakan bahwa ia mengiyakan pertanyaan Nia.

Nia :“Orang tua mereka dimana, pak?? Kok nggak ngurusi anak-anaknya???.”
Pak Jaya :“Wah orang tua mereka pada sibuk cari duit, neng!”
Nia :“Kerja apa, pak?”
Pak Jaya :“Ya macam-macam, neng. Ada yang jadi tukang sampah, tukang cukur, dagang kue, ngemis, jualan Koran bahkan ada juga yang jadi perrek!!!!”
Nia :“Yang terakhir tadi apa, pak???Perek ta??” (MENDEKATKAN TELINGA KE PAK JAYA).
Pak Jaya :“Ya, benar perek.”
Nia :“Astagfirulloh…..!(MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA)”
Pak Jaya :“Malahan praktekya di gerbong-gerbong kereta api yang sudah tak terpakai itu, neng.”
Nia :“Memangnya gerbong-gerbong kereta api itu benar-benar nggak dipakai lagi, pak?”
Pak Jaya :“Yaaaa…., nggak tahu neng. Kayaknya sih mau dibenerin. Tapi ada juga yang udah karatan karena lama nggak dipakai.”
Nia :“Truss… apa manfaat gerbong kereta api itu bagi masyarakat itu?”
Pak Jaya :“Jadinya selama ini ya begitu, jadi tempat anak-anak main, tempat preman ngumpul, juga tempat para pelacur menjalankan aksinya. Pelakunya ya orang-orang sekitar situ, neng.”
Nia hanya bisa mengangguk-nganggukkan kepala sambil memahami perkataan pak Jaya. Ketika di rumah, hingga larut malam Nia tak dapat memejamkan mata meski tubuhnya sudah terbaring di tempat tidur.
Dua hari kemudian, sekitar jam 2 siang, Nia mendatangi gerbong-gerbong kereta api itu.. di gerbong 1 kulihat beberapa lelaki tertidur pulas, di gerbong 2 terdengar suara cekikikan pria dan wanita, di gerbong 3 terlihat anak-anak sedang bermain dengan riang gembira lalu kuhampiri mereka.
Nia :“Assalamu’alaikum….” (TERSENYUM)
Mereka menghentikan aktivitas mereka dan memandang Nia.
Udin :“Eh.., siapa tuh???siapa???”
Eman :“Cari siapa, Bu?”
Nia pandangi anak-anak dengan senyuman dari kejauhan.
Ucup :“Ciapa noh?? Kemali-kemali….”
Nia :“Kalian mau coklat???…..”
Udin+Ucup :“Mauuuuu” (BARENG)
Tak lama kemudian, anak-anak itu menyantap kue coklat itu dan ludes dalam sekejap.
Udin :“Wah……..enak banget yaaa….?”
Eman :“Iya…aku suka ini.” (MAKAN KUE DENGAN LAHAP).
Adi :“Memangnya itu siapa sih???
Nia :“Teman Ha…ha….ha….masak orang yang sudah besar mo temenan dengan anak kecil seperti kami ” (MEREKA SALING MEMANDANG DAN TERTAWA).

Babak 2
Setelah beberapa kali aku mengunjungi daerah itu. Mereka mau diajak belajar membaca dan mengaji. Sempat Nia keteteran karena anak-anak tadi berasal dari beberapa jenis umur (4-14 tahun). Salah seorang bapak membantu kami memasang lam,pu di gerbong untuk penerangan.
Nia :“Assalamu’alikum,nak……”
Anak-anak :“Wa’alaikum salam…..”
Nia :“Sudah siap belajar, anak-anak???????”
Udin :“Sudah……”
Nia :“Ayo.., ni huruf B ditambah U bacanya apa? (Menunjuk tulian di papan tulis)”
Udin :“Buuuuuuuu…..!
Eman :“Huruf D ditambah I.
Nia :“Jadi dibaca apa???????coba Udin! (MEMANDANG UDIN
Udin :“Ini ibu Budi.
Nia :“Lho, kok? Ini kan ibunya tidak ada? Coba ulangi.”
Tiba-tiba ada seorang anak yang datang….
Eman :”Kecelik, bu telat.”
Nia :“Ya….Eman, kenapa terlambat datang??????????
Eman :“Disuruh ngamen dulu, bu sama bapak.”
Nia :“Kalau Adi, kenapa kemarin nggak datang?????”Ibu tungguin lho…..(MEMANDANG ADI).
Adi :“ Abisnye emak sakit, pan abis nyuci noh, trus sakit.”
Ucup :“Bu Guyu,, mau pipiiissss…..”
Nia :“Iya…, kalo mau pipis biasanya dimana Eman????”
Eman :“Di kamar mandi”
Nia :“Pinter. Sekarang pergilah ke kamar mandi. Rumahnya siapa yang paling dekat?”
Eman :“Rumahnya Udin, Bu.”
Nia :“Bener ya Udin??
Udin :“Iya, Bu”
Nia :“Kalo begitu, tolong antarkan Ucup untuk pipis di kamar mandi rumahmu yaaaaa….”
Udin :“Iya, Bu” (UDIN DAN UCUP BERANGKAT KE RUMAH UDIN).
Setelah belajar sekitar 1,5 jam. Kami mengakhiri pembelajaran dan menitipkan papan tulis dan kapur di salah satu anak. Karena kesibukan kuliah dan mengajari anak-anak, ibuku sempat protes.
Mama Nia :“Kamu jangan terlalu mementingkan anak-anak itu, Nia. Kamu kan capek bolak-balik Depok-Jakarta buru-bruru seperti itu. Pergunakan waktu kamu di tempat kost. Ini kok malah sering pulang??”
Nia :“Jadi, mama nggak suka nih kalo Nia sering pulang ke rumah?”
Mama Nia :“Bukan itu, sayang.Mama kasihan lihat kamu.” (TERSENYUM).
Nia :“Jauh lebih kasihan melihat mereka, Ma. Kasihan sekali!”
Mama Nia :“Tapi kamu harus hati-hati ya, nak. Disana iu daerahnya kan lumayan rawan.”
Nia :“Ya Ma, InsyaAllah.”
Mama Nia :“Mama punya usul, gimana kalo kamu mengajak temanmu untuk membantu kamu.”
Nia :“Iya, Ma. Teman-temanku sudah tak ajak. Tapi mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri jadinya mereka gak bisa Bantu Nia.”
Hari kedua aku mengajar anak-anak tiba.
Nia :“Ayo ini dibaca A Ba Tsa Ja Da Dza Ro…”(MENUNTUN)
Tia :“Nnnnggggg……hik…..engggggggg.”
Nia :“Lho, Tia kok nangis??
“Sabar pelan-pelan. Orang sabar dan tekun diksihi Allah ya, sayang…….”(MENGELUS-NGELUS KEPALA TIA).
Ucup :“Za Sa Sya Sho Dho Dzo……
“Bu Gulu….., Bu Gulu lihat nih tulican caya.” (MENUNJUKKAN TULISAN).
Adi :“Buuu, saya permisi dulu!Mau nimba.”
Nia :“Iya, sebentar lagi yaaa…kan ni dah mo selesei.”
“Siapa diantara kalian yang melihat Dini hari ini??Mengapa ya Dini kok tidak hadir.”
Eman :“Kemarin bapaknya abis digebukin, Bu!”
Adi :“Iye, malingin jemuran orang!”
Ucup :“Dipenjala, nggak? Dipenjala nggak??”
Nia :“Husss…gak boleh bilang seperti itu.”
Senjapun tiba, aku harus segera mengakhiri pembelajaran, pulang jalan kaki sendiri.
Pemuda :“Ehm…ehm…ehm..Suit…Suit….Assalamu’alaikum, Cah Ayu……..”
Nia :“Wa’alaikumsalam (MENJAWAB DENGAN SUARA LIRIH)”
Di tengah-tengah perjalanan Nia ketemu dengan salah seorang walimurid (Yanti).
Yanti :“Maaf, Bu. Sebentar…..”
Nia :“Iya, Bu…Ada apa???”
Yanti :“Apa ibu mau menerima ini sebagai rasa trima kasih kami atas kebaikan ibu.” (MENYODORKAN SINGKONG REBUS).
Nia :“Iya, Bu gak usah repot-repot…..”
Yanti :“Ayolah, trima aja……”
Nia :“Ya udah saya trima pemberian ibu.” (MENERIMA SINGKONG REBUS).

Babak 3
Tak lama kemudian teman Nia,Aam, membantu mengajar. Suatu ketika kami sedang mengajar, beberapa orang lelaki (preman) menghampiri kami yang sedang asyik belajar. Wajah mereka tak ramah, Niapun turun dari gerbong menemui mereka.
Nia :“Maaf, ada apa yaa pak?”
Preman 1 :“Saya Cuma mau Tanya, adik ini dari yayasan mana?”
Nia :(DIAM SEJENAK) “Memangnya kenapa, pak??”
Preman 1 :“Lho, adik ini bagaimana??? Kami bertanya kok malah ditanya lagi?” (MENYENTAK).
Preman 2 :“Adik digaji berapa sih sama yayasan adik?”
Nia :“Saya bukan dari yayasan manapun.”
Preman 2 :“Dinas Sosial??” (MENEGASKAN).
Nia :“Bukan, saya mengajar anak-anak itu karena kasihan melihat mereka. Itu aja.”
Preman 2 :“Bener lhu?????…..”
Nia :“Iya……”
Preman 1 :“Ngajar sih…ngajar…., tapi hjarus ada ijinnya dong!!”
Nia :“Selama ini tak ada masalah. Saya rasa baik-baik aja????”
Preman 1 :“Gerbong-gerbong ini bukan tempat buat belajar. Jadi kalo kalian pake, harus ijin” (MENUNJUK KE ARAH GERBONG).
Nia :“Apa maksud bapak-bapak ini yang sebenarnya??? Yang saya tahu selama ini gerbong-gerbong tua ini hanya dipake untuk teler-teleran dan tempat main gaple, juga tempat prostitusi aja. Apakah itu juga pake ijin???Ijin pada siapa???” (MENEGASKAN).
Preman 1 :“Alah, sok tau lho…… ”
Nia :“Tapi benar kan yang saya katakana tadi??”
Preman 3 :“Ucup, Pulang kamu!!!” (TANGAN MENUNJUK KE ARAH UCUP).
Ucup :“Ntal Pak, belum selesai belajalnya.”
Preman 3 :“Pulang, gue bilang! Dapet pelajaran bukannya bener lhu…, malah suka nasehatin orang tua. Pulang….pulang….pulang!”
Ucup memandangku, matanya berkaca-kaca. Kemudian berlari pulang. Tak lama setelah kejadian tersebut Nia sering diteror oleh banyak lelaki.
Preman 4 :“Hey,neng….mo pulang ya??Gak usah pulang aja neng, mending ikut abang aja….”
Nia :(DIAM SAJA SAMBIL MEMPERCEPAT LANGKAH KAKINYA).
Preman 5 :“Hey, kok diam aja??kamu bisu ta atau budheg yaaa????Cantik-cantik kok bisu.(MEMEGANG TANGAN NIA DAN AAM)”
Nia :“Tolong…tolong…..”
Preman 5 :“Kurang ajar, lha wong nggak diapapin aja kok teriak-teriak minta tolong.Brisik tau????”
Aam :“Tolong lepaskan tangan kami, jangan apa-apakan kami”
Preman 5 :“Ha…..ha…ha tenang ajalah nona-nona cantik”
Nia :“Apa salah kami???”
Preman 4 :“Banyak salah kalian. (MENYENTAK)”
“Kalian telah mengganggu pekerjaan kami di sini.”
Aam :“Pekerjaan yang mana???”
Preman 4 :“Gak usahlah berlagak sok baik hati. Ngajar anak-anak sini di gerbong kereta api tua ini.”
Aam :“Kami hanya kasihan pada mereka….”
Preman 4 :“Kasihan…kasihan. Kami nggak butuh belas kasihan kalian. Pergi dari sini!!!”
Preman 5 :“e…e..e…e..tunggu dulu Bos. Kayaknya ni anak kuliahan berarti nia anak orang kaya dong..Kita kan butuh rokok Bos?” (MEMANDANG PREMAN 4).
Preman 4 :“Oke juga idemu. Sekarang serahkan uangmu!!Cepet!!Lelet banget sih???” (MENYENTAK).
Aam :“Kami nggak punya uang mas, uangku Cuma cukup buat ongkos pulang”
Preman 4 :“Alah, bohong lhu…..Ayo cepet keluarkan ”(MEMANDANG TAS YANG KUBAWA).
Nia :“Iniiiiiii…..”(MENYERAHKAN UANG DENGAN RASA TAKUT).
Akhirnya Nia dan Aam dibiarkan melanjutkan perjalanan lagi oleh preman tersebut. Selama dalam perjalanan pulang ke rumah Nia dan Aam berdiskusi.
Aam :“Aku takut, Nia. Mereka serem banget!!!”
Nia :“Aku juga, Am”
Aam :“Kita pindah aja yuk, tempat belajarnya!”
Nia :“Dimana, Am??”
“Anak-anak akan keberatan kalo tempat belajarnya jauh, apalagi kalo pake ongkos.”
Aam :“Ada nggak yaa rumah teman kita atau musholla sekitar Stasiun Senen yang bisa kita pake ya??”
Nia :(SAMBIL MELAMUN) “Sebenarnya penggunaan gerbong-gerbong itu untuk tempat belajar telah mengurangi kemaksiatan yang terjadi di gerbong-gerbong itu, kan???”
Kejadian terror terjadi lagi, ketika Nia sedang mengajar di gerbong kereta api.
Nia :“Ayo…ini dibaca apa, Udin???” (MENUNJUKKAN TEKS BACAAN).
Udin :“A…K…U…Ku, aku.”
Tiba-tiba preman-preman menghampiri anak-anak yang sedang belajar di dalam gerbong.
Preman 4 :(NYLONONG MASUK GERBONG TANPA PERMISI)
“Hei…hei….”
“Ayo bubar….bubar….bubar belajar apaan ini??? Buang-buang waktu aja.”
Preman 5 :“Mending kalian tu cari duit.”
“Ngamen sana!!!”
“Ngapain kalian susah ngajar mereka????” (MEMANDANG NIA DAN AAM).
Preman 4 :“Apa sebenarnya tujuan kalian melakukan ini semua???? Paling kalian Cuma mau memamerkan kepinteran kalian ke anak-anak. Iya kan? Jujur aja dech” MENARIK-NARIK JILBAB AAM).
Nia :“Astaghfirulloh, Pak….”(MENGELUS DADA).
“Kami nggak ingin pamer, tapi hanya ingin berbagi ilmu dengan mereka karena kasihan pada mereka….”
Preman 5 :“Ahhh…bohong lhu.Dasar orang kaya sukanya ngibul orang gak punya seperti kita-kita ini. Bukan begitu anak-anak???”
Udin :“Nggak Pak” (MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA).
“Bu Guru Nia dan Bu Guru Aam baik pada kami”
Preman 5 :“Kamu tu masih kecil. Tau apa kamu???Kalian dah kemakan omongan wanita-wanita ini” (MENENDANG UDIN).
Udin :“Aduuuhhhh…sakit Pak” (MERINGIS KESAKITAN).
Rita :“Pak, jangan sakiti temanku, Udin.”
“Emang, Bu Guru dan Bu Guru Aam baik pada kami. Mereka mengajari kami belajar membaca dan mengaji.” (MEMELUK NIA).
Preman 5 :(MENARIK RITA DARI PELUKAN NIA) “Kamu tu tau apa??”
Rita :“Kalian mengganggu belajar kami.”
Preman 5 :“Apa lhu bilang???” (MENJEWER TELINGA RITA).
Beberapa diantara anak-anak itu menangis keras.
Babak 3
Setelah beberapa bulan berlalu, kami sepakat untuk pindah belajar ke Musholla An-Nur.Eman, Rita, Adi belajar bersama.
Nia :“Alkhamdulillah…..ya anak-anak kita masih diberi kesempatan oleh Allah tuk belajar membaca dan mengaji lagi di tempat baru kita.”
“Bagaimana kabar kalian, anak-anak???”
Anak-anak :“Baik Buuuuu…..”
Adi :“Ayo belajar Buuu. Aku sudah pingin belajar sekarang Bu!!! ”
Nia :“Iya…iya…sabar dulu……”
“Baiklah anak-anak mari kita mulai belajar kita dengan berdo’a terlebih dahulu. Mari membaca surat Al-Ikhlas bersama-sama…Setuju???”
Anak-anak :“Setujuuu…..”
Nia :“Satu…Dua…Tiga…”
Anak-anak :“Qul huwallohu ahad. Allohushomad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakullahukufuwan ahad.”
Aam :“Pinter semuanya…….”
“Bu Guru bangga dan senang pada kalian. Kalian tambah pinter aja.”
Anak-anak :(TERSENYUM BANGGA).
Tiba-tiba datanglah Udin, Ucup dan Tia yang berlari-lari, tergesa-gesa membuka pintu musholla.
Udin + Ucup :“Bu Guru!Bu Guru Nia.” (TERENGAH-ENGAH MENARIK NAFAS CEPAT).
Nia :“Iya….iya…tenang dulu…tenang dulu…. ” (MENGELUS BADAN UDIN).
Setelah agak tenang kondisi anak-anak itu, Nia menanyai mereka.
Nia :“Ada apa?? Kok terlambat.”
Udin :“Aduh Buu.., kacau.”
Nia :“Kacau, bagaimana????”
Ucup :“Lumah Tia dibongkal !!Kami diucil!! ”
Udin :“Semua dibongkar, Bu! Sekarang orang-orang pada bingung mau pergi kemana?? Bapak Ucup ngelawan, tapi malah ditangkap sama petugas.”
Nia :“Innalillahi..” (BERPANDANGAN DENGAN AAM).
Anak-anak yang sedang belajar mulai panik, gaduh.
Nia :“Jadi pada mau pindah kemana???”
Udin :“Nggak tahu, Buuu. Disana masih rame!”
Tia :“Gerbong-gerbong udah dikosongin. Nggak boleh ditempatin lagi.”
Udin :“Kami boleh pulang, Bu?? Anak-anak pada ditanyain ama emaknye!!!”
Nia :“Ya, boleh (SUARA NIA TERSEKAT DI KERONGKONGAN)”
Anak-anak berbaris menyalami Nia dan Aam. Satu persatu anak dipeluk Nia.
Nia :“Ini alamat Ibu (MEMBERIKAN KARTU NAMA)”
“Kalian sudah bisa menulis, kan?? Tulislah surat pada Ibu yaaa!!! ”
Mereka berebut menerima kartu nama dari Nia.
Tia :“Rita mungkin pulang ke Jawa, Bu.”
Nia :“Yaaa….kalo Ucup gimana???”
Ucup :“Ucup nggak tahu gimana???”
Nia :“Narti…???”
Narti :“Aku juga, Buu”
Nia :(TERSENYUM) “Dimanapun kalian, kalau kalian menjadi anak yang saleh, allah akan selalu melindungi kalian.”
Aam :“Jangan lupa untuk selalu belajar, berusaha dan berdo’a.”
Kami semua saling berpelukan sambil menangis keras.

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR

Sastra Mampu Membuka Mata Hati dan Mata Pikiran Kita, Karena Sastra Adalah Refleksi Kehidupan Kita

Sobo sak paran-paran

Ini blog-blogan ...

Garis Edar-ku

Blog tentang seputar aktivitas kerjaku

@ReeMekarsari

Buat Saya, "Bahagia itu Sederhana" -Ree-

@MaureenMoz

live is an adventure. enjoy the ride.

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Enrichissez-vous!

enrich yourselves

Joglo Drama - Mbah Brata

Seni memanusiakan manusia, menjadikan manusia lebih manusiawi

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: