“BIDADARI DATANG KEMBALI “


Oleh: IKA RAHMAWATI

Penyelaras: Heru Subrata

Babak I
Matahari terbit layaknya hukum alam. Hangatnya mentaripun selalu melindungi kulit – kulit berpori dari kejamnya angin malam. Sinarnya saling memantulkan menembus tembok – tembok tinggi yang mengelilingi areal luas penjara itu. Seperti biasa, banyak orang keluar masuk ke dalam rumah gratis tersebut. Tetapi ada yang lain terhadap raut wajah salah seorang yang baru keluar dari penjara itu. Coba kita perhatikan sosok itu.
Marzuki : “Akhirnya aku bias merasakan kebebasan ini. Kinilah satnya bagiku untuk menuntaskan kerinduanku pada Resti, istriku dan Fikar, anakku”. (MENGHADAP ATAS DENGAN MENGANGKAT TANGAN SEMBARI MENGHIRUP UDARA BEBAS SEDALAM-DALAMNYA). “Tapi……..dimana mereka sekarang tinggal???”. (MURAM DAN MENUNDUKKAN KEPALA DENGAN KEDUA TANGAN MEMEGANG KEPALANYA).
Kesedihan wajahnya, mengingatkan Marzuki pada istri dan anaknya sewaktu menjenguk dirinya ketika masih berada dalam terali besi yang menjadi rumah gratisnya itu.
Marzuki : “Res……, kamu datang menjengukku juga!Res, kamu harus percaya sama aku?” (MEMEGANG TANGAN RESTI DENGAN WAJAH SEDIH)
Resti : “Sudahlah Mas….kau tak usah merasa bersedih. Aku bersyukur akhirnya kau mendapat upah dari semua perbuatanmu sendiri”. (DENGAN RAUT WAJAH MARAH DAN BENCI)
Marzuki : “Tapi Res………”. (TETAP MEMOHON DAN BERSEDIH)
Resti : “Sudahlah. Aku memang terlambat mengetahui kau berselingkuh!Tapi, semua sudah terbukti dan aku tak menyangka kau sejahat itu Mas”. (MATANYA MENGELUARKAN AIR MATA KESEDIHAN DAN SEGERA MENINGGALKAN SUAMINYA ITU)
Marzuki tersadar dari lamunannya. Ia segera meninggalkan penjara yang menjadi rumah gratisnya itu selama bertahun-tahun. Dalam perjalanannya itu, Marzuki menghentikan langkahnya dan segera duduk di sebuah tempat di bawah pohon rindang karena lelah. Saat ia duduk untuk menghilangkan rasa lelahnya, Marzuki teringat kembali dengan masa lalunya yang sampai membuat istri dan anaknya menjauh dari dirinya selama bertahun-tahun.
Atida : “Mas….aku selalu merasa kesepian sejak kepergian suamiku. Sungguh, pernah terlintas dalam pikiranku untuk menyusulnya”. (MENUNDUKKAN KEPALA DENGAN MENANGIS)
Marzuki : “Sudahlah da, kematian seseorang itu sudah ada yang mengaturnya. Kita tidak bias melakukan apa-apa selain berserah diri kepada-Nya”. (MEMEGANG TANGAN ATIDA DAN MENATAP ERAT WAJAHNYA)
Atida : “Tapi Mas…..”. (MASIH BERSEDIH DENGAN LINANGAN AIR MATANYA)
Marzuki : “Sudahlah, janganlah dipikirkan lagi dan jangan bersedih terus. Kalau kau butuh aku, kau ngomong saja. Tak usah kau sungkan-sungkan padaku”. (TETAP MENATAP WAJAH ATIDA DAN MEMEGANG ERAT TANGANNYA)
Atida : “Makasih Mas…..kamu sudah mau menjadi orang teman terdekatku”. (MEMBALAS TATAPAN MARZUKI DAN MEMEGANG TANGANNYA)
Berbulan-bulan mereka melakukan hal seperti itu bahkan sampai pergi ke luar kota berdua. Sampai berubahnya suatu malam yang begitu indah dengan hiasan bintang dan bulan di atas setiap rumah menjadi malam yang suram bagi mereka berdua.
Marzuki : “Da, aku rasa……hubungan ini kita hentikan saja. Kita sudah tersesat terlalu jauh dalam lubang nista ini. Aku bukan saja mengkhianati Resti, istriku. Tidak pula melupakan Fikar, anakku yang seharusnya butuh kasih saying dariku. Tapi….kita juga telah melupakan larangan Allah atas perbuatan dosa yang telah kita lakukan berdua”. (MENUNDUKKAN KEPALA DENGAN NADA BICARA YANG TERBATA-BATA)
Atida : “Iya mas…..aku juga tau dan akupun menyadarinya. Aku juga terlalu lama bergelut dalam dosa. Terlalu lama berhamba pada nafsuku sendiri. Maafkan aku mas yang sudah mengganggu rumah tanggamu”. (MENANGIS TERHARU KARENA TELAH MENYADARI KESALAHANNYA)
Marzuki : “Sudahlah, ini bukan salahmu saja tapi ini juga salahku. Maafkan aku juga ya”. (INGIN MEMELUK ATIDA TAPI DITAHANNYA). “Yasudah, kalau begitu….aku pulang dulu untuk meminta maafpada istri dan anakku”. (MENINGGALKAN RUMAH ATIDA)
Marzuki segera pulang dengan mengendarai mobilnya. Di tengah perjalanannya, ia terhenti karena setelah merogoh saku celanya untuk mencari HP miliknya yang tidak ada. Ia berpikiran bahwa HP miliknya ketinggalan di rumah Atida. Dan….Marzuki kembali ke rumah itu. Tak lama, Marzuki datang. Ia terkejut dan panik melihat Atida tergeletak dengan cucuran darah di lantai dari tubuhnya.
Marzuki : “Ya Tuhan!Atidaaaaaa…..!!”. (TERIAK MARZUKI DENGAN PANIK DAN TANPA SADAR IA MENGAMBIL PISAU YANG MASIH MENANCAP DI TUBUH ATIDA)
Resti : “Oh!Mas Marzukiiii………!!”. (TERIAK RESTI HISTERIS MELIHAT SUAMI YANG SANGAT DICINTAINYA DENGAN MATA MEMBELALAK DAN KEDUA TANGANNYA DI PIPI)
Entah darimana datangnya, tiba-tiba rumah itu banyak kerumunan orang dan pembunuh Atida yang sebenarnya menyelinapkeluar melalui orang-orang yang melihat peristiwa itu. Polisipun datang dan langsung menangkap Marzuki dengan disertai sedikit pembelaan dari mulut Marzuki.
Marzuki : “Saya tidak bersalah, Pak…..saya tidak bersalah!!”. (MEMOHON DAN MENANGIS)
Polisi : “Jelaskan saja di kantor polisi nanti. Sekarang ikut saya”. (MENARIK TANGAN MARZUKI YANG SUDAH DIBORGOL)
Resti : “Mas…….kamu tega………”. (MENANGIS TERSEDU DI SEBELAH ANAKNYA YANG MASIH LUGU)
Beberapa minggu Marzuki di dalam penjara. Dan persidangan terhadap kasusnyapun di mulai. Suasana ricuh saat persidangan berlangsung. Resti dan Fikarpun ikut menyaksikan persidangan itu dan duduk di bangku tepat di belakang Marzuki diadili.
Jaksa : “Apa Anda berada di tempat kejadian sebelum tragei tersebut terjadi?”. (BERDIRI, BERJALAN PELAN DENGAN SESEKALI MENGHADAP WAJAH MARZUKI)
Marzuki : “Iya, saya memang berada di sana tapi bukan saya yang membunuhnya”. (JAWABNYA TEGAS)
Jaksa : “Apa Anda ada hubungan khusus dengan dia?”
Marzuki : “Iya, awalnya kami hanya sebagai teman curhat. Lama kelamaan rasa kasihan yang saya punya terhadap dia berubah menjadi rasa sayang. Tapi, kita berdua sudah sadar atas perbuatan yang sudah kita lakukan”. (MENJAWAB DENGAN LIRIH DAN MENUNDUKKAN KEPALANYA)
Jaksa : “Jadi…Anda membunuhnya karena dia sudah sadar dan Anda tidak mau?”.
Marzuki : “Kesadaran berasal dari diri kita berdua dan saya tidak membunuhnya. Dia meninggal seelah saya kembali ke rumahnya karena HP saya ketinggalan”. (MARZUKI MENCOBA MENJELASKAN)
Jaksa : “Apa keluarga Anda tau?maksud saya….istri Anda?”. (TERUS MENGGALI JAWABAN DARI MARZUKI)
Marzuki : “Ehm…dia….tidak tau. Saya…melakukan ini dengan sembunyi-sembunyi”. (JAWABNYA DENGAN TERBATA-BATA DAN LIRIH)
Jaksa : “Cukup. Terima kasih”. (MENGAKHIRI PERTANYAANNYA)
Hakim : “Dengan bukti-bukti dan pertimbangan yang ada, maka Saudara Marzuki divonis lima tahun penjara dikurangi masa tahanan”. (MEMUKULKAN PALU DI ATAS MEJA HIJAU)
Marzuki dibimbing polisi menuju mobil tahanan dan Resti menghampirinya. Sejenak Marzuki dan polisi yang menggandengnya berhenti.
Resti : “Aku sebenarnya sudah curiga atas apa yang kau lakukan akhir-akhir ini. Tapi, aku tak percaya. Namun malam itu, aku yakin bahwa kau benar-benar selingkuh dengan atida sesuai pengakuanmu di pengadilan. Dan aku tau kau membunuhnya”. (DENGAN TATAPAN PENUH DUKA, AMARAH, DAN DENDAM)
Marzuki : “Resti….kamu harus percaya sama aku. Aku memang selingkuh tapi aku sudah sadar dan aku tidak membunuhnya. Maafkan aku Resti…..”. (MENGHARAP KEPERCAYAAN RESTI KEMBALI)
Resti : “Sudahlah…..”. (SEGERA PERGI MENINGGALKAN MARZUKI)
Marzuki tersadar dari lamunannya ketika buah dari atas pohon jatuh dan menimpanya. Kini, ia harus kembali menatap masa depan yang harus dilaluinya. Ia juga harus segera mencari istrinya yang belum dicerainya itu serta anak semata wayangnya.

Babak II
Keteguhan hati Marzuki untuk tetap mencari istri dan anaknya tak pernah membuatnya merasa lelah. Sampai suatu malam, di sebuah masjid, tempat ia mengadu, Marzuki bertemu dengan Rozak, sobat satu selnya waktu dalam penjara.
Rozak : “M-Marzuki…?”. (MENEPUK PUNGGUNG MARZUKI DARI BELAKANG)
Marzuki : “Rozak…..!bagaimana kabarmu sekarang?”(MENOLEH DAN BERJABAT TANGAN SERTA SALING MERANGKUL)
Rozak : “Alhamdulillah baik. Oh ya Mar, dua bulan kau keluar dari penjara, istri dan anakmu datang”. (DUDUK DI LANTAI DAN MENCERITAKAN MASALAH KEDAANGAN TERSEBUT DENGAN SERIUS)
Marzuki : “MasyaAllah…!mereka datang, Zak?mereka datang menjengukku?lalu….dimana mereka sekarang?”. (TERKEJUT DAN BANYAK BERTANYA)
Rozak : “Untuk apa kau mencari mereka?”. (TANYA ROZAK SERIUS)
Marzuki : “Sungguh, aku…ingin meminta maaf sekali lagi”. (MENATAP WAJAH ROZAK, SOBATNYA)
Rozak : “Hanya itu???’. (TANYA ROZAK TAK PERCAYA)
Marzuki : “Ya, hanya itu. Karena aku tak terlalu berani berharap banyak padanya”. (MENUNDUKKAN KEPALA)
Rozak : “?!?!” (MENYERAHKAN SECARIK KERTAS BERISIKAN SEBUAH ALAMAT YANG DIAMBIL DARI DOMPETNYA)
Marzuki : “Alamat siapa ini?”. (TANYA MARZUKI HERAN SEMBARI MENGAMBIL SECARIK KERTAS ITU)
Rozak : “Jangan banyak Tanya. Datanglah ke alamat ini. InsyaAllah orang disana bias membantumuuntuk bertemu dengan anak dan istrimu”. (MEMBERI PENJELASAN DAN KEPERCAYAAN PADA MARZUKI)

Babak III
Pagi yang cerahpun datang, pelangi terpampang dengan keindahan sinarnya. Gemercik tetesan embun juga menghiasi heningnya desa itu yang jauh dari keramaian. Setelah menumpang truk dan berjalan kaki berkilo-kilo, akhirnya ditemukan juga alamat tersebut. Rumah sederhana yang asri karena pepohonan di depannya.
Marzuki : “Assalamu’alaikum….”(MENGUCAP SALAM SAMBIL MENGETUK PINTU BERULANG KALI)
Resti : “M-mas…..M-marzuki???”. (MENELAN LUDAH DAN MENATAP ERAT WAJAH RESTI, ISTRINYA)
Resti : “Oh!Silahkan, Mas….,Silahkan”. (MASIH BINGUNG DAN TERBATA-BATA)SAAT BERBICARA)
Marzuki : “Terima kasih, Res….!”. (MENUNDUKKAN KEPALA KARENA MERASA BERSALAH TERHADAP ISTRINYA)
Suasana menjadi hening. Tak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka berdua. Tak lama, sosok kecil bersarung dan berkopyah datang memecah keheningan tersebut.
Fikar : “Ibu….,ayo kita shalat!kenapa…,eh!”. (BERLARI DARI DALAM RUMAH SAMBIL MENGGERUTU). “Bapaaakkkk!!!!”. (BERLARI MENUJU ARAH MARZUKI DAN LANGSUNG MEMELUKNYA)
Marzuki : “?!?!”. (BINGUNG< KAGET< DAN MEMBALAS PELUKAN ITU)
Resti : “Fikar selalu menanyakanmu mas… Dia sangat merindukanmu. Aku….aku…juga begitu”. (MEMULAI PEMBICARAAN DENGAN TERBATA_BATA SEMBARI MENUNDUKKAN KEPALANYA). “Setelah kau di penjara, banyak yang menghina kami, mas. Banyak pula yang mengejekku”. (TETAP MENUNDUK DENGAN LINANGAN AIR MATA)
Marzuki : “Maafkan aku Res, ini semua salahku”. (MENATAP ERAT WAJAH RESTI SAMBIL MENETESKAN AIR MATA)
Resti : “Sudahlah mas. Selama mas dalam penjara, aku tak sepenuhnya percaya dengan semuanya. Aku berusaha menyelidiki semua kejadian tersebutsampai akhirnya ditemukan pelaku pembunuhan Atida meskipun pembunuh itu ditangkap setelah Mas Marzuki keluar dari penjara”. (MENJELASKAN DENGAN SERIUS)
Marzuki : “Siapa pelakunya, Res?”. (PENUH RASA INGIN TAU)
Resti : “Seorang lelaki yag menanyakan sebuah alamat. Tapi, setelah tau Atida sendirian, timbul niat jahatnya untuk merampok. Memang tak ada barang yang hilang karena orang itu hanya membunuh Atida. Karena kau buru-buru datang, dia langsung bersembunyi di belakang. Dia kabur dengan cara menyelinap saat orang-orang berhamburan datang. Allah rupanya membimbingku untuk menemukan pembunuh itu dan kini sudah ditangkap. Semua baru sadar kalau kau adalah korban salah tangkap”. (MENJELASKAN DENGAN RINCI)
Marzuki : “Hu….uh….”(MEMEJAMKAN MATA SEMBARI MENGHIRUP UDARA DALAM_DALAM)
Resti : “Maafkan aku mas……maafkan aku……”. (BERSIMPUH DI KAKI MARZUKI)
Marzuki : “Ya Allah, Resti…., justru aku yang minta maaf padamu.”(MEMBANTU RESTI BERDIRI DAN MELEPAS RANGKULAN FIKAR DENGAN PELAN) “Aku telah berbuat hina, salah, dan dosa. Dan….aku telah menebusnya dengan penderitaan yang pedih. Resti….., bersediakah kamu kalu kita bersama-sama lagi?”(MEMEJAMKAN MATA DAN MENELAN LUDAH)
Resti : “Ehm…..I….Iya, Mas…..”(MENGANGGUKKAN KEPALA DENGAN LINANGAN AIR MATA)
Fikar : “Bapak….Ibu…., kita shalat ashar dulu”. (MENGAJAK MARZUKI DAN RESTI DENGAN MENARIK TANGAN MEREKA)
Akhirnya, semua permasalan usai. Keluarga Marzuki kembali berkumpul dan mereka membina kembali hubungan keluarga yang bahagia dan harmonis. Marzuki telah menemukan bidadarinya kembali yaitu Resti, istrinya dan juga anak semata wayangnya, Fikar.

2 Komentar (+add yours?)

  1. classically
    Jun 30, 2009 @ 05:58:35

    saya senang dgn penyelesaiannya..
    ternyata memang Marzuki orng yg baik..
    bravo..!^^

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR

Sastra Mampu Membuka Mata Hati dan Mata Pikiran Kita, Karena Sastra Adalah Refleksi Kehidupan Kita

Sobo sak paran-paran

Ini blog-blogan ...

Garis Edar-ku

Blog tentang seputar aktivitas kerjaku

@ReeMekarsari

Buat Saya, "Bahagia itu Sederhana" -Ree-

@MaureenMoz

live is an adventure. enjoy the ride.

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Enrichissez-vous!

enrich yourselves

Joglo Drama - Mbah Brata

Seni memanusiakan manusia, menjadikan manusia lebih manusiawi

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: