“PERAWAN BODHO”


Naskah Telah Dipentaskan
Pendukung Pementasan:

1. Dian Lutfi (01)
2. Ririn Purnawati (02)
3. Alfiatur Rahma Taufika (09)
4. Dyah Dewi Aminah (11)
5. Ranti Sulistyo Basuki (13)
6. Arik Umi Piji Astuti (14)
7. Atalia Nur Ichsana Arafat (17)
8. Wijayanti Kusumaningrum (25)
9. Hanif Istiani (32)
10. Novi Kurniawati (33)
11. Anita (41)

STAF PRODUKSI

Pimpinan Produksi : Drs. Heru Subrata, M.Si
Sutradara : Atalia Nur Ichsana Arafat
Asisten Sutradara : Arik Umi Piji Astuti
Sekretaris : Ririn Purnawati
Bendahara : Dian Lutfi
Seksi-seksi :
1. Penata Panggung :
• Hanif Istiani
• Anita
• Dyah Dewi
2. Penata Musik :
• Wijayanti Kusumaningrum
• Alfiatur Rahma Taufika
• Novi Kurniawati
3. Penata Rias :
• Ranti Sulistyo Basuki
• Ririn Purnawati

Pelaku :
Novi Kurniawati sebagai Perawan Bodho
Ranti Sulistyo B. sebagai Mbok Ginem
Arik Umi P.A. sebagai Pria tak dikenal
Anita sebagai Pak RT
Ririn Purnawati sebagai Bu RT
Wijayanti K. sebagai Maling
Dian Lutfi sebagai Oneng
Dyah Dewi A. sebagai Mak Yah
Hanif Istiani sebagai Inem
Alfiatur Rahma T. sebagai Yu Pi”ah

SINOPSIS

Kisah ini menceritakan tentang seorang janda setengah tua yang bernama mbok Ginem. Dia mempunyai seorang anak yang memiliki kecerdasan di bawah normal, sehingga dipanggil Perawan Bodho. Suatu ketika, karena malu pada tetangganya mbok Ginem menyuruh anaknya mencari jodoh. Akhirnya Perawan Bodho menemukan pemuda yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan ibunya. Setelah sampai di rumah, terkejutlah mbok Ginem karena ternyata pemuda yang ditemukan Perawan Bodho adalah mantan suami yang telah meninggalkannya. Karena benci dan malu, mbok Ginem tidak menceritakan pada anaknya tetapi dia bingung karena anaknya sudah terlanjur menyukai pemuda tersebut. Dalam keadaan bingung mbok Ginem memperoleh akal untuk menyingkirkan laki-laki tersebut, kebetulan lelaki itu sedang mengalami penyakit kaki busuk. Mbok Ginem yang kesal mengatakan pada Perawan Bodho bahwa lelaki itu sudah mati karena baunya sudah busuk, oleh karena itu harus segera dibuang ke sungai.

Tanpa berfikir panjang Perawan Bodho segera membuang lelaki itu ke sungai, karena kebodohannya.
Setelah kembali ke rumah , Perawan Bodho menemui ibunya. Ketika sedang berbincang-bincang ternyata mbok Ginem buang angin. Karena Perawan Bodho berfikir bahwa orang yang baunya busuk adalah orang mati dan harus dibuang, maka dengan segera Perawan Bodho membuang ibunya ke sungai. Beberapa saat kemudian Perawan Bodho juga buang angin, dia juga berfikir hal yang sama,lalu dengan segera dia menceburkan diri ke sungai.
Di saat Perawan Bodho ingin menceburkan diri ke sungai, dia diselamatkan oleh Pak RT. Pak RT membawanya ke rumah dan memberinya tugas mnjaga hartanya yang besar, maksudnya adalah benda-benda berharga di dalam lemari. Kemudian datanglah seorang pencuri sambil mengendap-ngendap. Perawan Bodho berhasil menangkap basah pencuri tersebut lalu memaksannya mengakui perbuatannya. Akhirnya, pencuri itu mengakui bahwa dia ingin mengambil harta Pak RT yang ada di dalam lemari. Karena berfikir bahwa barang besar yang dimaksud Pak RT adalah lemari, maka Perawan Bodho mempersilakan pencuri itu mengambil harta yang ada di lemari. Si Pencuri pun dengan senang hati mengambil seluruh benda berharga Pak RT yang ada di lemari, kemudian pergi.
Setelah sampai di rumah, betapa terkejutnya Pak RT dan Bu RT melihat hartannya hilang semua. Keduanya memukuli Perawan Bodho sambil marah-marah dan mengancam akan memasukkannya ke penjara. Tetapi tiba-tiba datanglah mbok Ginem beserta para tetangga yang membela Perawan Bodho dan mengatakan bahwa sebenarnya Perawan Bodho adalah anak hasil selingkuhannya dengan Pak RT. Bu RT marah besar, tetapi disaat suasana semakin memanas Perawan Bodho justru merasa bangga pada ibunya karena tukang kawin (senang kawin). Semua orang yang berada di tempat itu memandangnya dengan heran dan berkata “Dasar Perawan Bodho”

KONSEP PENYUTRADARAAN

A. Latar Belakang
Cerita Perawan Bodho inikami ambil melalui berbagai pertimbangan diantaranya :
1. cerita yang disajikan tidak umum dan memiliki unsur yang menarik
2. tokoh-tokohnya dalamcerita memiliki karakter yang unik dan menarik untuk diperankan.
3. cerita ini dapat meningkatkan kesadaran seseorang akan pentingnya pendidikan danmemberi elajaran bahwa kebodohan akan membawa kesenggsaraan.
Cerita ini terdiri dari 4 babak, sebagai berikut:
Babak I
Beberapa warga desa pergi kesawah, kemudian menari bersama-sama. Lalu datanglah ucok ginem membawa bekal makanan siang di sawah mereka membicarakan berbagai gossip kemudian mereka meninggalkan ucok ginem di sawah dan pulang. Kemudian perawan bodho dating mengagetkan mbok ginem yang berbicara sendiri. Mbok ginem menyuruh anaknya menikah dengan berbagai criteria.mbok ginem kemudian pulang tinggallah perawan bodho di sawah mencangkul seorang diri. Tiba-tiba bertemulah perawan bodho dengan seorang pemuda. Setelah di dekati lelaki itu kemudian di bawa pulang kerumahnya.
Babak II
Perawan bodho membawa lelaki itu masuk ke dalam kamarnya dan menemui ibunya. Setelah mereka bercakap-cakap, perawan bodho memapah lelaki tersebut kedepan ibunya. Ibunya terkejut karena ternyata lelaki tersebut mantan suaminya. Mbok ginem mengatakan kepada anaknya untuk mencium kaki lelaki tersebut ternyata kakinya bau busuk. Mbok ginem menyuruh anaknya untuk membuangnya karena bau busuk itu menandakan dia sudah mati. Perawan bodho kembali sambil mengibas-ngibaskan tangan, sebagai tanda telah membuang lelaki tersebut. Setelah berbicara dengan ibunya, tiba-tiba ibunya kentut. Perawan bodho menarik ibunya untuk di buang ke sungai.
Babak III
Perawan bodho membuang ibunya ke sungai. Setelah itu dia kentut. Dia ingin mencebut ke sungai tiba-tiba tanganya di tarik oleh pak RT. Kemudian pak RT mengajaknya pulang
Babak IV
Pak RT dan Bu RT siap-siap berangkat kondangan. Perawan bodho di suruh menjaga rumah dan hartan benda di dalam lemari. Pak RT dan Bu RT berangkat. Perawan bodho ke belakang. Masuklah seorang maling sambil mengendap-ngendap mendekati lemari. Perawan bodho menepuk pungungnya dari belakang kemudian mereka berkelahi. Pencuri itu kalah dan mengakui apa yang akan di lakukannya. Perawan bodho menyuruhnya mengambil harta tersebut. Maling itu senang dan mengambil harta tersebut, lalu pergi. Pak RT dan Bu RT dating. Pak RT menanyakan keadaan rumah pada perawan bodho, Bu RT langsung masuk dan melihat lemari. Bu RT berteriak histeris, mengadu pada suaminya bahwa harta mereka hilang dan memarahi perawan bodho. Pak RT dan Bu Rt menarik perawan bodho untuk di bawa ke kantor polisi. Mesuklah mbok ginem dan warga untuk menyelamatkan anaknya. Dalam babak ini terbongkarlah peristiwa perselingkuhan antara Pak RT dan Mbok Ginem. Bu RT memarahi Pak RT. Perawan bodho berkata denganbangga tentang ibunya yang tukang kawin. Semua warga melihatnya dan berkata “Dasar Perawan Bodho”.

B. Setting dan penataan panggung
Kisah ini bersetting di daerah pedesaan yang terpencil.
Babak I
Setting : sawah
Property : pohon, rumput, semak-semak, batu dan cangkul.

Babak II
Setting : rumah mbok ginem
Property : kursi, meja, vas bunga, kompor, wajan, sot tel.

Babak III
Setting : sungai
Property : pohon, semak-semak, rumput, batu

Babak IV
Setting : Rumah pak RT
Property : Lemari, kursi, meja, vas unga, harta, tas.

C. Tat Rias
Adapun tat arias dan busana yang kami pakai ialah :
1. Perawan Bodho : Memakai kaos oblong, celana batik dan jilbab yang berantakan, tidak memakai hiasan.
2. Mbok ginem : Memakai kebaya, jarik, kerpus, dengan hiasan agak keriput.
3. Pak RT : Memakai calaana, sepatu, kemeja, kopyah dan kacamata.
4. Bu RT : Memakai long dress
5. Warga : Kebaya, jarik, kepus.

D. Tata Musik
Musik yang akami gunkan dalam drama ini merupakan upaya umtuk mendukung suasana agar lebih hidup.
Adapun musik yang akan kami gunakan diantaranya:
 Musik dangdut untuk mengringi warga menari
 Lagu menanam jagung untuk mengiringi adegan perawan bodho mencangkul
 Musik dangdut yang mengiringi mbok ginem menari
 Musik-musik pendukung lainnya.

SKENARIO
PERAWAN BODHO

ADEGAN 1
Setting : Di sawah ( mbok Ginem berbincang-bincang dengan empat orang tetangganya yaitu Oneng, mak Yah, Inem dan yu Piah)
Mbok Ginem : “ Sudah dulu yu, sekarang kita makan dulu!”
Keempat tetangga : “ Asyiiii…..k”
Oneng : “ Waduh….waduh …dari kemaren kok lauknya sambel sama ikan terus”
Mbok Ginem : “ Yang sabar to yu, kata Bu RT lagi pengiritan”
Yu Piah : “ Halah….halah….ngirit kok terus, ngirit pa pelit?”
Mak Yah : “ Iya yu, Bu RT emang kebacut peliiiit banget, pak RT untung banget ya dapat istri kayak gitu pasti tabungannya banyak.”
Mbok Ginem : “ Sudah…sudah..jangan ngomongin Pak RT memang Nggak ada bahasan lain”
Inem : “ Kenapa yu, kok bela pak RT jangan….jangan…..”
Mbok Ginem : “ Ah yu ini ngomong apa? Ayo kita lanjutkan mkan saja!”
Oneng : “ Eh yu….yu….,dah dengar kabar belum?”
Semua : “ Kabar apa yu?”
Oneng : “ Ah yu yu ini, pasti ga’ngikuti infotaiment. Gini lho, denger-denger kemaren anak wak so, si….si Makromah? ”
Semua : “ Markonah!!!”
Oneng : “ O…ya, itu kemaren dilamar sama anaknya Pak Kades mana anaknya guanteng buanget, rasanya jadi pengen.”
Yu Inem : “ Oneng ini pasti gitu kalo ada daun muda Brondong nih ye…!”
Oneng : “Mau brondong mau marneng, sampean mau juga to?”
Mak Yah : “Dua hari yang lalu juga, tahu Si Lastri – kan, itu katanya malah dilamar pegawai PEMDA.”
Yu Piah : “ Wah hebat, pegawai PEMDA bagian apa mak ?”
Mak Yah : “ Itu lho, kebersihan, apa namanya? Aku lupa”
Mbok Ginem : “ Cleaning Service”
Mak Yah : “ Nah,….itu!!”
Mbok Ginem : “ Halah , dapat pegawai rendahan saja kok bangga.”
Yu Piah : “ Ya mending to yu, dari pada anak situ, kapan mau dikawinin. Awas kalo jadi perawan tua!”
Mbok Ginem : “ Ngomong kok ngawur ,lihat aja nanti. Siap-siap ya, yang jantungen, awas! Jangan kaget kalo anakku dapat jodoh guanteng.”
Oneng : “ Lho gitu aja kok marah, ya sudah yu kita pulang dulu ya, yu!”

(Tiba-tiba perawan Bodho datang)
Mbok Ginem : “ Dasar wong ndeso gak berpendidikan, beraninya menghina anakku biar bodho-bodho gitu dia kan anakku. Masih ada keturunan eyang Subali Sugriwo Kuncoro Ningrat.”
Perawan Bodho : “ Ada apa to mbok? Mbok lagi baca mantra ya? Pasti kayak mbah dukun yang di TV tadi. Emang mbok mau nyantet siapa? ”
Mbok Ginem : “ Hush!! Kamu ini ngawur, sini lo nduk !”
Perawan Bodho : “ Hiii….jangan-jangan mbok mau nyantet aku. Hiii….jangan lo mbok, mbok nanti bisa dipenjara!”
Mbok Ginem : “ Kamu ini kebanyakan nonton film horor. Duduk sini lo Nduk, mbok mau bicara!”
Perawan Bodho : “ Bukannya sekarang lagi bicara? ”
Mbok Ginem : “ Ya, tapi yang ini penting. Gini lo nduk, tadi tuh tetangga-tetangga nggosipin kamu. Masak mereka bilang kamu perawan tua, mbok kan jadi malu to, nduk.”
Perawan Bodho : “ Asyiiii……..k, aku digosipin, berarti aku ngetop dong mbok!”
Mbok Ginem : “ Dibilang perawan tua kok seneng, ya malu to!”
Perawan bodho : “ Emang perawan tua, apa mbok? Apa bisa dimakan?”
Mbok Ginem : “ Woalah, dasar Perawan Bodho, perawan tua itu ya perawan yang nggak laku – laku!”
Perawan Bodho : “ Pasti harganya mahal ya mbok?”
Mbok Ginem : “ Kok gak nyambung to??, maksudnya cewek yang nggak dapat-dapat jodoh. Makanya sekarang kamu cari jodoh!”
Perawan Bodho : “ Cari jodoh? Di mana mbok? Di pasar? Harganya berapa? ”
Mbok Ginem : “ Terserah kamu, mau di pasar mau di sawah yang penting memenuhi kriteria-kriteria mbok. Pertama, harus yang bener-bener laki-laki”
Perawan Bodho : “ Kayak Pak RT ya mbok? ”
Mbok Ginem : “ Ya pinter, tumben cerdas. Yang kedua guanteng dan yang ketiga paling penting jangan cerewet, dan yang pendiam saja biar gampang diatur! ”
Perawan Bodho : “ Ya mbok, beres! ”
Mbok Ginem : “ Ya sudah sekarang kamu mencangkul dulu, mbok mau pulang. ”
( Perawan Bodho mencangkul)
Perawan Bodho : ( Crok grewol crok…..) “ Eh ….apaan tuh. Wow keren! Sepertinya itu laki-laki. O….iya mbok kan nyuruh aku cari laki-laki. Aku dekatin nggak ya? Aku dekatin nggak penonton? Ya aku rasa juga gitu,he…he.. ”
( Perawan Bodho mendekati lelaki tersebut)
Perawan Bodho : “ Mas…mas…maaas, lho kok dipanggil diam aja sih mas? ”
( Maju ke depan. )
Perawan Bodho : “ Pendiam. Syarat pertama masuk, tapi lelaki bukan ya? ”
( Kembali, membuka sarung )

Perawan Bodho : “ Ha….sama seperti punya Pak RT. Berarti laki-laki, syarat kedua masuk. Syarat ketiga ganteng, kalo ini sih mbahnya ganteng. Tapi kakinya kok busuk, nggak apa-apa ah. Ambiiil! ”
( Perawan Bodho menarik pemuda itu dengan paksa )

Adegan 2
Setting : Rumah Mbok Ginem
( Perawan Bodho sampai di rumah )
Perawan Bodho : “ Mas…mas…lho kok tidur, tidur ya di kamar to. O..mau diantar. Udah sekarang aku mau cari mbok dulu. ” ( Beberapa saat kemudian ) “ Mbok…mbok…aku udah dapat laki-laki. ”
Mbok Ginem : “ Mana,…mana nduk? Waduh mbok seneng pasti tetangga-tetangga kita itu pasti nyesel sudah menghina kamu. Mana calon suamimu itu? ”
Perawan Bodho : “ Masih di kamar mbok, tidur. ”
Mbok Ginem : “ O…ya sudah kalo begitu kita siapkan makanan dulu. Nduk calon mantu mbok itu ganteng gak? ”
Perawan Bodho : “ Yo jelas mbok, bintang film Hollywood saja kalah. ”
Mbok Ginem : “ Wow, bintang film Hollywood mana yang kamu maksud? ”
Perawan Bodho : “ Itu mbok, Si Doyok! ”
Mbok Ginem : “ Woalah, itu kan buatan lokal. Ya sudah gak apa-apa penting ganteng. Trus pendiam gak? ”
Perawan Bodho : “ Sebentar ya mbok, aku panggil dulu. ”( Perawan Bodho membawa lelaki itu ke depan ibunya, lalu memukul kepalanya. Tetapi lelaki itu tak berkata sepatah katapun )
“ Lihat, pendiam banget kan mbok, dipukul saja diam.” ( Kemudian lelaki itu pingsan. )
( Mbok Ginem terkejut karena lelaki itu ternyata mantan suami yang telah meninggalkannya. )
Mbok Ginem : “ Waduh, ini kan Si Jojok mantan suamiku yang ninggalin aku karena kawin lagi. Pasti kena azab Illahi,sudah bisu kakinya busuk lagi. Rasakan…! ”
Perawan Bodho : “ Gimana mbok? Jadi ? ”
Mbok Ginem : “ Waduh, mana Si genduk suka lagi! Kalo diceritakan, nanti aku malu. Tapi kalo tidak diceritakan, gimana nih? Kayak buah simalakama.”
Perawan Bodho : “ Ayo sayang, mau makan ya, kok tidur terus. ”
( Mbok Ginem melihat kaki lelaki yang busuk kemudian dia memperoleh ide )
Mbok Ginem : “ Iya nduk, mbok suka, tapi sayang lelaki ini sudah mati. ”
Perawan Bodho : “ Sudah mati? Kenapa mbok? ”
Mbok Ginem : “ Kamu cium saja baunya, busuk kan? Kalo manusia baunya busuk, berarti sudah mati. Nah, sekarang lebih baik cepat kamu buang ke kali di belakang rumah kita! ”
Perawan Bodho : “ Iya-iya mbok. ”

( Setelah membuang lelaki itu di kali, Perawan Bodho pulang dan menemui ibunya. )
Mbok Ginem : “ Gimana? Sudah kamu buang? ”
Perawan Bodho : “ Beres mbok! ”
Mbok Ginem : “ Bagus, makanya lain kali cari suami yang bener. Ayo sekarang makan dulu! ”
( Tiba-tiba mbok Ginem buang angin )
Perawan Bodho : “ Bau apa ini mbok? Kok busuk, jangan-jangan ada orang mati lagi? ”
Mbok Ginem : “ Ngawur,bukan. Tadi malam mbok kebanyakan makan nangka jadi perut mbok sakit. ”
Perawan Bodho : “ Kata mbok tadi, kalo manusia baunya sudah busuk, berarti sudah mati dan harus dibuang kan mbok??!! ”
Mbok Ginem : “ Tapi mbok belum mati, tadi mbok suruh kamu buang lelaki itu karena dia mantan suami mbok yang sudah ninggalin mbok gara-gara kawin lagi. ”
Perawan Bodho : “ Tapi mbok bau busuk jadi harus tetap dibuang. ”
Mbok Ginem : “ Lho nduk….nduk..!?!?! ”
( Perawan Bodho menarik ibunya dengan paksa dan menceburkannya ke sungai. )
Perawan Bodho : “ Da..da.. mbok!! ( Tiba-tiba Perawan Bodho buang angin ) Bau apa ini? Kok seperti mbok. Tapi di sini tidak ada siapa-siapa, berarti aku sudah mati. Berarti aku harus ikut mbok nyebur di kali??!! ”
( Perawan Bodho ragu-ragu menceburkan dirinya, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menariknya. )
Pak RT : “ Lho…siapa itu? Kamu anaknya Mbok Ginem kan? Kenapa kamu mau nyebur ke kali? ”
Perawan Bodho : “ Saya ikut mbok, tadi dai sudah nyebur lebih dulu ”
Pak RT : “ Waduh gimana nasib Si Ginem? Pasti sudah terseret arus. Ya sudah sekarang kamu ikut bapak saja, tapi istri saya cerewet banget. Jadi kamu harus saya beri pekerjaan biar istri saya tidak marah. Kamu bisa masak? ”
Perawan Bodho : “ Enggak pak. ”
Pak RT : “ Mencuci ? ”
Perawan Bodho : “ Enggak ( menggeleng-geleng kepala ) ”
Pak RT : “ Kalo gitu nyapu aja deh! ”
Perawan Bodho : “ Enggak bisa juga pak. ”
Pak RT : “ Trus, kamu bisanya apa? ”
Perawan Bodho : “ Satu-satunya yang saya bisa ya mencangkul. ”
Pak RT : “ O…ternyata kamu wanita perkasa. Kalo begitu kamu bapak beri pekerjaan menjaga harta bapak saja, kebetulan nanti malam aku dan Bu RT mau kondangan. Ya sudah, ayo ikut bapak. ”

Adegan 3
( Pak RT dan Bu RT akan berangkat kondangan. )
Pak RT : “ Nduk,sini! Lihat hartaku ini, ini yang harus kamu jaga. Bapak ingin barang-barang besar ini tetap ada setelah bapak pulang nanti. Kamu ngerti kan Nduk? ”
Perawan Bodho : “ Ngerti pak. Tenang saja, saya akan menjaga barang-barang besar ini sampai bapak pulang. ”
Bu RT : “ Nggak apa-apa to Pak? Awas nanti kalo perhiasanku hilang, tak tonyo kamu. ” ( Sambil menonjok kening Perawan Bodho. )
Perawan Bodho : “ Sudah bu, sekarang kita berangkat saja. Ayo! ”
( Tiba-tiba masukklah seorang lelaki dengan mengendap-ngendap. Perawan Bodho berhasil menangkap lelaki tersebut.)
Perawan Bodho : “ Hayoo…..ketangkap basah kamu. Hayo ..ngaku, siapa kamu? ”
Maling : “ Sa…saya..maling mas..eh ..mbak ”
Perawan Bodho : “ Mau apa kamu di sini? ” ( sambil menghajar maling )
Maling : “ Ampun mbak! Saya mau mengambil barang yang di dalam lemari, mbak. Saya kapok. ”
Perawan Bodho : “ O….itu ta, ngomong dari tadi.Ya silahkan ambil saja tapi lemarinya jangan, soalnya nggak boleh sama Pak RT ”
Pencuri : (Memandang dengan heran dan segera mengambil barang-barang tersebut kemudian pergi). “ Terima kasih mbak.”
( Akhirnya Pak RT dan Bu RT pulang.)
Pak RT : “ Gimana nduk? Aman ? ”
Perawan Bodho : “ Aman pak! ”
Bu RT : “ Pak…pak…ketiwasan pak. Lemarinya kosong, harta kita hilang. Dasar kamu Perawan Bodho, pasti kamu yang ambil ya…?? ”
Pak RT : “ Lho gimana to? Katamu tadi aman. ”
Perawan Bodho : “ Bapak bilang kan saya harus menjaga barang besar. Lihat, lemari itu kan masih ada. ”
Pak RT : “ Trus, barang di dalamnya? ”
Perawan Bodho : “ Ya saya kasih ke pencuri. ”
Bu RT : “ Woalah ..gara-gara kamu. Ya sudah kamu harus tanggung jawab, ayo pak kita bawa ke kantor polisi! ”
Pak RT : “ Ayoo…….. ”
( Tiba-tiba datanglah Mbok Ginem dan para tetangga.)
Mbok Ginem : “ Jangan….jangan!!! ”
Perawan Bodho : “ Lho mbok kok masih hidup? ”
Mbok ginem : “ Mbok diselamatkan tetangga-tetangga ini ”
Pak RT : “ Ayo-ayo kita lapor polisi. ”

Mbok ginem : “ Jangan-jangan, dia itu…. ”
Pak RT : “ Dia itu apa? ”
Mbok Ginem : “ Dia itu anakmu. ”( Semua terbelalak. )
( Pak RT memberi kode pada Mbok Ginem agar diam dengan mengedipkan mata.)
Perawan Bodho : “ Bapak sakit mata ya? ”
Pak RT : “ Kok bisa? ”
Mbok Ginem : “ Ah…bapak pura-pura lupa, yang waktu itu lho… ”
Bu RT : “ Jadi selama ini benar kecurigaanku. Dasar bapak tukang selingkuh, aku benci…aku benci… ” ( Sambil memukul pak RT )
Perawan Bodho : “ Tadi mantan suami, ini selingkuhan, mbok emang bener-bener hebat! ”
Semua : “ Wo….dasar Perawan Bodho. ”

11 Komentar (+add yours?)

  1. kairul
    Agu 19, 2010 @ 04:06:41

    Mabah Brata hebat buanget naskah filmnya lucu-lucu dan bikin seneng

    Balas

  2. mbahbrata
    Agu 20, 2010 @ 14:36:32

    Makasih cucuku…Alhamdulillah kamu salah satu yang suka dg naskah2 Mbah…moga2 dapat memacu kreativitasmu dalam bersastra…

    Balas

  3. Miiee GoyeNk
    Nov 03, 2010 @ 14:57:39

    contoh pengkarakterisasianny mana pk e???
    q kok bngung yg mau bkin karakter tokohnya….

    help meeee…

    Balas

  4. mbahbrata
    Nov 04, 2010 @ 18:39:01

    Karakterisasi atau perwatakan, bisa dilihat dari unsur fisik dan fisik dari tokoh/pelaku dalam drama.
    Secara fisik misalnya: postur tubuh yang tinggi besar, gendut, kurus kerempeng, pincang, matanya cuma satu, dekil, perlente, dsb.
    dari segi bicaranya, misalnya: keras, lemah lembut, sering batuk-batuk, bisu, serak-serak, kasar, sopan santun, gagap, dsb.
    dari segi perilaku, misalnya: jalannya terseok-seok, tangannya selalu mengepal, suka menunjuk-nunjuk, membusungkan dada, menunduk, tidak berani menatap, melotot, suka mengumpat, dsb.
    dari segi psikologis juga sangat meundukung karakter tokoh, walaupun hal ini tidak selalu muncul secara nyata (fisik). umumnya sisi ini dapat dilihat dari keseluruhan perilaku dari tokoh itu melalui bagaimana ia, misalnya: menanggapi percakapan tokoh lain, melakukan pembicaraan, dan bagaimana umumnya kemauan tokoh yang diekspresikan dalam setiap aktingnya.
    Jadi karakter tokoh dapat berupa apa saja yang dapat mewarnai keseluruhan sikap dan perilaku dari tokoh tersebut.

    Balas

  5. Dethia dethia
    Mei 07, 2011 @ 18:00:37

    mbah mbah.. ceritanya lucu.. aneh tapi asik banget🙂
    dan kalo saya boleh ga ya pake cerita ini untuk tugas saya? tapi tetep nanti akan di cantumkan sumbernya dari mbah ini? soalnya menarik sekali mbah. :)) semoga mbah ngizinin ya😀

    makasih sebelumnya😀

    Balas

  6. aji
    Okt 06, 2011 @ 05:24:45

    TERMA KASIH Mbah Brata atas kesempatan yang Mbah berikan untuk membaca naskah-naskah drama semoga bermanfaat

    Balas

  7. wewe
    Feb 03, 2012 @ 14:09:26

    wah, bagus banget cerita2nya !
    luculucu 4 thumbs deh😀
    HAMPIR baca semua postnya. HAMPIR loh yaa… tapi emang great banget ! kreatif. semoga bisa makin berkembang dan bermanfaat bagi orang lain dah.

    oh, iya. mbah, ijin cumut yang ini ya? lucu ceritanya.
    matur nuwuun😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR

Sastra Mampu Membuka Mata Hati dan Mata Pikiran Kita, Karena Sastra Adalah Refleksi Kehidupan Kita

Sobo sak paran-paran

Ini blog-blogan ...

Garis Edar-ku

Blog tentang seputar aktivitas kerjaku

@ReeMekarsari

Buat Saya, "Bahagia itu Sederhana" -Ree-

@MaureenMoz

live is an adventure. enjoy the ride.

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Enrichissez-vous!

enrich yourselves

Joglo Drama - Mbah Brata

Seni memanusiakan manusia, menjadikan manusia lebih manusiawi

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: