“GENGSI”


Oleh : MENIK PUSPITA RINI

Penyelaras: Heru Subrata

GAMBARAN ALUR CERITA

Pengenalan Karakter

Konflik

Ketegangan

Klimaks

Penyelesaian

Widi mengungkapkan perasaan irinya pada Dya karena berbagai alasan. Widi kesulitan menger-jakan soal-soal fisika, Dia ingin meminta bantuan Dya untuk mengerja-kannya tetapi Widi ragu-ragu dan merasa gengsi Dya datang ke rumah Widi, Widi merasa kaget, tetapi dia senang karena bisa belajar bersama untuk menghadapi ula-ngan besok. Ketika Widi dan Dya menanti-nanti hasil ulangannya dibagikan. Nilai-nilai ulangna Widi sama dengan Dya. Mereka belajar bersama, saling membantu dan bersahabat  tanpa perasaan iri lagi di hati Widi.


NASKAH CERITA

BABAK I

(DI KAMAR, WIDI MELAMUN SENDIRI, IA TRINGAT DENGAN TEMAN SEBANGKUNYA DYA YANG KEBETULAN PADA HARI ITU MEMBUATNYA KESAL)

(DI DALAM HATI WIDI BERKECAMUK PERASAAN KESAL PADA TEMANNYA ITU, TNPA SADAR IA BERGUMAM SENDIRI)

Widi          :   “Uh!! Kok ya ada orang sesempurna Dya hidup di dunia ini ? Sudah cantik, pintar, baik, banyak yang suka lagi!”

(WIDI MELEMPARKAN SEBUAH BANTAL YANG TAK SENGAJA MENGENAI KUCINGNYA, SI BELANG YANG SEDANG MERINGKUK DI ATAS KESET DEKAT PINTU KAMARNYA. SETELAH HILANG RASA TERKEJUTNYA, SI BELANG KEMBALI MERINGKUK DEKAT BANTAL YANG WIDI LEMPARKAN)

Belang     :   “Miaww ! meow…!”

Widi          :   “Ups ! maaf ya belang!”

Widi          :   “Aku saja tak seberuntung si belang, lihat sekarang dia dapat bantal yang empuk untuk tidur.” (SAMBIL MELIHAT SI BELANG)

(WIDI MEMELUK GULING DENGAN GEMAS)

Widi          :   “Mungkinkah aku iri poadanya ? Yah! Mungkin aku iri ! Ah…mnggak deh aku nggak iri, tapi aku akui aku memang benar-benar iri!

Habis, rasanya tak adil Tuhan menciptakan gadis sesempurna dia, sementara aku ?

Huh!!! Aku selalu di bawah Dya. Padahal aku nggak jelek-jelek amat kok! “ (WIDI MENGERUTKAN DAHINYA).

(WIDI MENGHEMPASKAN TUBUHNYA DI ATAS TEMPAT TIDUR, SAMBIL MEMANDANG LANGIT-LANGIT KAMAR).

Widi          :   “Bisa nggak ya, aku jadi seperti Dya ? Cantik, lembut ….

Ya, aku bisa ! cantik itu kan relatif. Kalau lembut, …yah bisa juga walaupun di luarnya aku acak-acakan gini, tapi hatiku kan selembut sutera ! He…he…he….

(WIDI MENTERTAWAI DIRINYA SENDIRI)

Widi          :   “Tapi …. Pintar ? Haaa! Tidak !!!

(WIDI MENGACAK-NGACAK RAMBUTNYA)

Widi          :   “Kenapa ya, aku nggak bisa sepintar Dya, padahal aku kan sudah belajar mati-matian, sedangkan Dya ? nyantai-nyantai saja!”

(WIDI MEMBAYANGKAN WAJAH DYA SEDANG TERSENYUM MENGEJEKNYA DI LANGIT-LANGIT KAMARNYA).

Widi          :   “Dya jelek! Dya jelek! Dya jeleekk!

(WIDI MEMBALAS EJEKAN DYA SAMBIL MELOMPAT DARI TEMPAT TIDUR, LALU MENCLOK KE MEJA BELAJARNYA DAN MEMBUKA-BUKA BUKUNYA).

Widi          :   “Besok ulangna fisika dan bahasa Inggris, kalau bahasa Inggris sih bukan masalah ! Percuma dong aku kursus dulu kalau masih nggak lancar. Tapi kalau fisika ?!”

(WIDI MEMASANG WAJAH BINGUNG, IA MENCOBA MENGERJAKAN SOAL-SOAL FISIKA YANG ADA DI BUKUNYA)

Widi          :   “Uh !! Gimana sih caranya ? Kok nggak bisa-bisa ?!!

Enaknya minta diajari siapa yah ? kaka, nggak suka fisika ! Mama, taunya Cuma menghitung uang. Dan papa, sama butanya ! Uh,, tanya siapa dong?!!”

“Tanya pak guru, rumahnya kejauhan !”

(WIDI BERPIKIR, SAMBIL MENGETUK=NGETUKKAN PULPENNYA KE MEJA)

Widi          : “Ahaa…aku tau, tanya Dya aja ! Tanya Dya ? Idiih ! tak ada dalam kamusku tanya-tanya Dya. Lebih baik aku belajar sendiri semalaman suntuk daripada tanya dia. Huh! Gengsi !!”

(WIDI BERANJAK DAN KEMBALI BERBARING DI TEMPAT TIDUR, BERALASKAN TANGAN YANG TERLIPAT SAMBIL MENATAP LANGIT-LANGIT KAMAR)

Widi          :   “Besok ulangan fisika, dan aku belum mampu mengerjakannya. Kalaupun pak Guru akan tetap menilai penurunanya , paling banter aku dapat nilai 6, itu juga kalau penurunanya benar. Kalau tidak ? bisa-bisa aku dapat kursi terbalik dong ! Ah…nggak mau!!

(WIDI BANGKIT DARI TEMPAT TIDUR DAN MEMASUKKAN BUKU-BUKU FISIKANYA KE DALAM TAS)

Widi          :   “Ah,.. masa bodo dengan gengsi ! lebih baik aku turun gengsi tanya ke Dya daripada aku malu karena dapat nilai kursi terbalik.”

(WIDI MEMBUKA PINTU KAMAR DAN MENAPAKI ANAK TANGGA DENGAN PELAN)

Widi          :   “Berangkat, tidak ? Berangkat, tidak ? “ (menghitung-hitung jari)

“Ah, gengsi kalau harus tanya-tanya Dya, seharusnya kana kau juga bisa !” (WIDI BERBALIK DAN KEMBALI KE KAMARNYA)

Widi          :   “Tapi sejak semalam mencoba, tak kutemukan juga jawabannya.

Itu berarti aku tidak bisa !” (Langkah terhenti di depan pintu kamar)

“Tanya tidak ya ? Aduuuh, aku kok masih mrasa berat melangkah ya ? Dya kan tidak jahat, justru aku yang jahat padanya. Selama ini aku selalu menjauhi dia. Kira-kira Dya mau membantu nggak ya, setelah semua yang kulakukan padanya ?

Aduuh, bagaimana ini ? Aku bingung!”

(WIDI BERJONGKOK DI DEPAN PINTU KAMARNYA SAMBIL BERGUMAM SENDIRI)

(TIBA-TIBA MAMA BERTERIAK DARI BAWAH)

Mama       :   “Widiii! Ada Dya, tuh !

Widi          :   “Hah !!” (WIDI TERPERANJAT DAN SEGERA BERLARI MENYAPA DYA)

Widi          :   “Hai, Dya! Tumben kesini ?” (DENGAN SENYUAMN LEBAR)

Dya           :   “Iya Di, ajarin aku bahasa Inggris dong ! Dari semalam belajar, aku masih belum bisa menemukan perbedaan antar tenses.”

“Tolong dong Di, di rumah enggak ada yang bisa membantuku nih,”

Widi          :   “Ah, iya dengan senag hati. Kebetulan aku juga mau minta bimbinganmu tentang fisika.”

(WIDI MENGAJAK DYA BELAJAR DI KAMARNYA)

Widi          :   “Ke kamarku, yuk !” (MENARIK TANGAN DYA)

“Mau minum apa ?” (SAMBIL MEMBUKA PINTU KAMAR)

Dya           :   “Terserah kamu,” (DENGAN KALEM)

Widi          :   “Teh  manis saja ya, kebetulan mama bikin pisang goreng. Kamu suka pisang goreng, kan ?”

Dya           :   “Suka, “ (MENGANGGUKKAN KEPALANYA)

Widi          :   “Kita belajar apa dulu nih?” (SAMBIL MELETAKKAN BAKI YANG BERISI 2 CANGKIR TEH MANIS DAN SEPIRING PISANG GORENG)

Dya           :   “Terserah kamu,”

Widi          :   “Kita suten ya. Aku pegang fisika. Yang menang, ituy berarti pelajaran dia yang duluan.”

Dya           :   “Oke.”

(WIDI DAN DYA SUTEN, DAN DYA YANG MENANG)

Dya           :   “Aku menang!”

Widi          :   “Oke, kalau begitu kita belajar bahasa Inggruis dulu ya !”

“Yang mana yang belum kamu pahami?”

Dya           :   “Yang ini Di,..”

Widi          : “Oh …yang itu! Begini caranya…”

(WIDI MENGAJARI DYA DAN DYA MENGANGGUK-NAGGUK TANDA MENGERTI)

Widi          :   “Nah, sekarang kita belajar fisika ya, yang ini aku belum mengerti, bagaimana caranya ?”

Dya           :   “Begini, yang ini diturunkan dulu Di!…”

(MEREKA MENCOBA MENGERJAKAN SOAL-SOAL LATIHAN DI BUKU SAMPAI MALAM)

Dya           :   “Terima kasih banyak ya Di, karena kamu aku jadi mengerti sekarang.”

Widi          :   “Sama-sama Dya, aku juga sudah belajar banyak dari kamu.”

“Semoga besok kita berhasil ya!”

Dya           :   “Iya ! semoga.”

“Aku pulang dulu ya Dia, sudah malam nih!”

Widi          :   “Sampai ketemu besok di sekolah ya Dya!”

(WIDI MENGANTARKAN DYA  KE DEPAN PINTU RUMAH DNB MELAMBAIKAN TANGANNYA)

BABAK II

(DI SEKOLAH SETELAH MENEMPUH ULANGAN FISIKA, PERASAAN WIDI DAN DYA BERDEBAR-DEBAR, GELISAH MENANTI HASIL ULANGAN YANG AKAN DIBAGIKAN OLEH BU NDRARI)

Bu Ndrari :   “Widi, “ (MENYODORKAN KERTAS ULANGAN WIDI)

Widi          :   “Hah?” (MATANYA TERBELALAK SEAKAN TAK PERCAYA)

Dya           :   “Berapa Di ?” (DYA PENASARAN)

Widi          :   “Ini,” (MEMPERLIHATKAN KERTAS ULANGANYA PADA DYA)

Dya           :   “Wah, selamat ya!” (MENGULURKAN TANGANNYA PADA WIDI)

“Nilai ulanganmu 96, sama dengan  aku Di.”

Widi : “Ya, ini kan berkat kamu juga!”

Dya : Nggak sepenuhnya kok Di, kamu juga berusaha kan ?”

“Tinggal satu lagi perjuangan kita, ulanga bahasa Inggris!”

Widi          :   “Aku yakin kita pasti bisa !”

Dya           :   “Iya, pasti !” (TERSENYUM OPTIMIS)

Widi          :   “Selamat berjuang!” (SAMBIL MENGACUNGKAN KEPALAN TANGAN DENGAN SEMANGAT)

(SETELAH ULANGAN BAHASA INGGRIS, YANG WALAU TAK LANGSUNG DIPERIKSA, NAMUN TERLIHAT PERASAAN PUAS DI WAJAH DYA)

Widi          :   “Bagaimana ulangannya barusan Dya, mudah semua kan?”

Dya           : “Iya, lumayan Di. Memang kalau kita mau berusaha dan belajar, yang sulit akan menjadi mudah ya ?”

(WIDI MENGANGGUKKAN KEPALA)

Widi          :   “He..eh!”

WIDI DAN DYA MELANGKAH KE LUAR KELAS PADA WAKTU ISTIRAHAT, MEREKA MENUJU KE KANTIN DAN NGOBROL SAMBIL JAJAN)

SEJAK SAAT ITU WIDI DAN DYA MENJADI SAHABAT YANG AKRAB

7 Komentar (+add yours?)

  1. wahyu am
    Jul 04, 2009 @ 12:15:50

    WIDI DAN DYA😀

    keren gan

    Balas

  2. classically
    Jul 06, 2009 @ 12:23:22

    Bagus sekali, Pak..!
    Saya tdk akan lupa pd puisi saya, Pak.. hehe..
    Suskes selalu..^^

    Balas

  3. Izzatur
    Sep 03, 2010 @ 03:36:31

    keren sekali, pak! saya ambil buat tugas ya, pak!

    Balas

  4. vivin
    Apr 07, 2011 @ 04:04:30

    pak bagus sekali blognya,, saya pakai buat tugas ya…… hehe…makasih…..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR

Sastra Mampu Membuka Mata Hati dan Mata Pikiran Kita, Karena Sastra Adalah Refleksi Kehidupan Kita

Sobo sak paran-paran

Ini blog-blogan ...

Garis Edar-ku

Blog tentang seputar aktivitas kerjaku

@ReeMekarsari

Buat Saya, "Bahagia itu Sederhana" -Ree-

@MaureenMoz

live is an adventure. enjoy the ride.

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Enrichissez-vous!

enrich yourselves

Joglo Drama - Mbah Brata

Seni memanusiakan manusia, menjadikan manusia lebih manusiawi

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: