“TERJEBAK DALAM LORONG WAKTU“


BABAK I

Setting             : Pagi hari

Latar                : Di hutan

Susan bersama kelima temannya baru sampai di rumah Neneknya Yolan di daerah Bugisan, sebuah desa di daerah Palagan Ambarawa. Suasananya begitu tenang, tentu saja jauh dari kebisingan kota. Mereka sudah lama merencanakan liburan ini. Begitu Yolan bercerita langsung saja Susan, Erni, Wina, Wira dan Marshall setuju untuk mengisi liburan di sana.

Pagi itu mereka berenam menyusuri sebuah hutan kecil. Menurut cerita, di hutan itu pernah terjadi sebuah tragedi pembunuhan. Meurut Neneknya Yolan, dulu waktu masih jaman penjajahan Belanda, ada pemuda pribumi yang dianggap sebagai pemberontak dan dihukum tembak. Saat sedang berjalan menikmati keadaan sekitar tiba-tiba saja wajah Susan terlihat pucat pasi. Kelima sahabatnya reflek menghentikan langkahnya.

Wirya                         : “Kamu kenapa san ?” (BERTANYA DENGAN PENUH

PERHATIAN)

Susan                         : “ Kalian dengar ada suara tembakan ?”

Erni dan Yolan          : “Suara tembakan !” (SERENTAK DAN SALING BERPANDANGAN)

Wirya dan Marshall   : “Tidak kudengar suara tembakan” (SAMBIL MENAJAMKAN PENDENGARAN, KEMUDIAN MENGGELENG)

Susan                         :  “Masa kalian tidak dengar ? Suara tembakan itu jelas terdengar bahkan beruntun.” (BERUSAHA MEYAKINKAN SAMBIL MEMBELALAKKAN MATANYA KETAKUTAN)

Erni                            : “Lebih baik kita kembali ke rumah Nenek ?” (SAMBIL MEMBIMBING SUSAN YANG TERLIHAT PUCAT)

BABAK II

Setting              : Siang hari

Latar                 : Rumah Nenek

Sesampainya di rumah Nenek

Nenek                        : “Lho kalian sudah kembali ? Cepat sekali.” (BERTANYA KEHERANAN)

Yolan                         : “ Susan tiba – tiba saja sakit Nek .”

Nenek                        : “Kalau begitu Yolan ambilkan air putih untuk Susan.”

Yolan                         : “Ini air putihnya San, kamu minum dulu.” (MENGAMBIL DAN MEMBERIKAN SEGELAS AIR PUTIH)

Nenek                        : “ Kamu kenapa Susan ?” (BERJALAN MENDEKAT).  “Apa yang terjadi padamu Susan.” ( BERFIKIR DALAM HATI MERASAKAN ADA YANG TIDAK BERES SAMBIL MEMANDANGI WAJAH SUSAN, DAN MENYENTUH BAHU SUSAN)

Yolan dkk                 : “Ayo San ceritakan pada kami semua, apa yang sudah terjadi sama kamu !” (DUDUK DAN MENANTI CERITA SUSAN DENGAN SEKSAMA)

Susan                         : “Entahlah, saat memasuki hutan itu tiba – tiba saja saya mendengar renteten tembakan. Tapi saya tanya yang lain mereka tidak mendengarkannya, lalu…” (MENGGANTUNGKAN CERITA, MENGHELA NAFAS PANJANG, DAN WAJAHNYA YANG SEMULA TERLIHAT MEMERAH, TIBA-TIBA KEMBALI PUCAT)

Nenek                        : “Lalu ?” (BERTANYA SEMAKIN MENYELIDIK)

Susan                         : “Lalu saya melihat ada seorang pemuda yang diarak masyarakat dan beberapa orang bule,”

Wina                          : “Seorang pemuda diarak ? Kok bisa ya, padahal kita tidak melihat apa-apa. Ya kan teman-teman !” (TAMPAK KEHERANAN)

Wirya                         : “ Iya, tadi kami tidak melihat apa-apa.”

Nenek                        : “Nenek kira ada ikatan batin antara Susan dengan pemuda yang dilihatnya,” (TERLIHAT TENANG SEAAKAN MEMAHAMI APA YANG TERJADI PADA SUSAN)

Yolan                         : “Bagaimana mungkin Nek? Apakah yang dilihat Susan itu hantu ?” (AGAK TERCENGANG)

Nenek                        : “Kalian ingat cerita Nenek tentang tragedi yang terjadi di hutan itu ? Nenek rasa Susan melihat pemuda pribumi itu. Kejadian itu 70 tahun lalu. Saat itu Nenek masih berumur 7 tahun,” (MULAI MEMBUKA CERITA)

Marshall                     : “Cerita 70 tahun lalu ? (SANGAT TERKEJUT)

Wah, berarti Nenek awet muda ya ? Nenek saat ini tidak kelihatan kalau berumur 77 tahun,” (MEMUJI)

Nenek                        : “Kamu ini bisa saja Shall !” (TERSENYUM SIMPUL)

Wirya                         : “Kamu jangan memotong cerita Nenek dong Shall !” (TERLIHAT BETE)

Erni                            : “Lanjutkan Nek !” (TERLIHAT ANTUSIAS SEKALI)

Nenek                        : “Saat penjajahan Belanda dulu, di daerah ini Belanda menguasai tanah desa dan juga semua hasil bumi desa ini. Penduduk harus menyerahkan hasil bumi dengan harga dibawah standar. Namun, ada pemuda pribumi yang mengtahui hal itu. Ia kemudian menganjurkan warga desa untuk tidak menjualnya pada bule-bule yang berkuasa itu. Oh ya, Nenek belum memberi tahu nama pemuda itu. Namanya Wiryo,”

Marshall                     : “Jangan – jangan kamu keturunannya nih Wir !” (MENGGODA)

Wirya                         : “Kamu ini apa-apaan sih Shall. Teruskan Nek !” (MENDENGUS KESAL SAMBIL MENGALIHKAN PERHATIAN)

Nenek                        :  “Dasar anak-anak !Tuan William tahu kalau Wiryo mempengaruhi warga desa untuk membangkang. Dia berang dan memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Wiryo, hidup atau mati.” (TERSENYUM GELI, KEMUDIAN MENARIK NAFAS PANJANG MELANJUTKAN CERITANYA)

Marshall                     : “Wah, seperti cerita perjuangan si Pitung jago Betawi ya Nek ?” (MELUCU SAMBIL TERSENYUM GELI)

Nenek                        : “Nah, suatu hari Wiryo tertangkap dan ditembak mati di hadapan warga desa Wiryo. Saat itu tak satupun warga yang mau membela Wiryo.”

Yolan                         : “Mungkin yang dilihat Susan tadi itu adalah hantunya Wiryo yang penasaran ya Nek ?”

Nenek                        : “Mungkin juga ! Karena kalau saja warga desa berani membela Wiryo dan melawan penjajah mungkin saja Wiryo tidak mati sia-sia.”

Erni                            : “Tapi, mengapa yang bisa mendengar dan melihat hanya Susan Nek ?” (KEHERANAN)

Nenek                        : “Itulah yang tadi Nenek bilang ikatan batin. Kalian percaya akan adanya alam gaib ?”

Yolan dkk                 : “Percaya Nek !” (SERENTAK MENGANGGUK)

Nenek                        : “Tidak ada yang mustahil di dunia ini kan ? Ya sudah sekarang kalian makan dulu. Nenek masak opor ayam untuk kalian. Ceritanya akan Nenek lanjutkan nanti malam.” (BANGKIT DARI DUDUKNYA)

Yolan dkk                 : “CIHUYYY…..!” (BERSORAK GEMBIRA)

BABAK III

Setting              : Malam hari

Latar                 : Rumah Nenek

Malam itu sehabis sholat Isya’ anak-anak kembali berkumpul untuk mendengarkan cerita Nenek. Tanya jawabpun terjadi. Susan yang merasa tidak enak badan tiduran di kamar. Saat seru-serunya berdiskusi, tiba-tiba saja Susan keluar dari kamar dengan wajah pucat pasi. Badannya terlihat gemetar, tangannya memegang perut, dan tiba-tiba saja Susan limbung jatuh ke lantai. Reflek yang lain mendekat.S

Yolan                         : “Nek, lihat perut Susan  berdarah !” (SAMBIL BERTERIAK)

Wirya                         : “Seperti luka tembakan,” (BERDESIS)

Nenek                        : “Sudah Nenek duga, pasti ada ikatan batin antar Susan dan Wiryo. Susan merasakan apa yang dulu dirasakan oleh Wiryo. Dan yang dilihat Susan tadi pagi di hutan bukan hantu. Wiryo masih hidup diantara dua alam !”  (MENJELASKAN DENGAN SEKSAMA)

Wina                          : “Maksud Nenek ?”

Nenek                        : “Wiryo terjebak dalam lorong waktu !!”

Wina                          : “Nek, cepat bawa Susan ke rumah sakit !”

Nenek                        : “Percuma ! Ini tidak bisa diobati secara medis. Wiryo ingin kita membantunya untuk mendapatkan keadilan.”

Wina                          : “Tapi, bagaimana caranya Nek ?” (TERLIHAT GUSAR)

Nenek                        : “Wirya dan kamu Marshall, tolong kalian angkat Susan dan baringkan ke tempaat tidur. Erni, ambilkan lilin sebanyak 13. Wina, kamu kompres Susan karena panas badannya begitu tinggi. Marshall, Erni, Wirya, Yolan duduklah membentuk lingkaran dan nyalakan 13 lilin itu ditengah-tengah kalian. Yolan dan Wirya akan menembus lorong waktu. Hari dimana Wiryo ditembak 70 tahun yang lalu. Mencegah agar tembakan itu tidak terjadi sama dengan menyelamatkan nyawa Susan. (MEMERINTAH DENGAN TEGAS)

Yolan dkk                 : “Baik Nek !”  (DUDUK BERSIMPUH MEMBUAT LINGKARAN)

Nenek                        : “Dengar, Yolan, Wirya ! Kalian mempunyai 2 jam untuk menyelamatkan nyawa Susan. Tegakkan keadilan untuk Wiryo. Bujuk masyarakat desa untuk berani memberontak pada penjajah. Kalian sudah harus kembali seselum nyala lilin ini reup. Karena kalau tidak, kalian takkan bisa kembali dan selamanya akan terjebak dalam lorong waktu. Nyawa Susan tak akan tertolong. Kalian mengerti ?”

Yolan dan Wirya       : “Mengerti Nek.” (SALING PANDANG DAN MENGANGGUK)

Nenek mengucapkan kalimat yang sama sekali tak bisa dimengerti. Yolan dan Wirya merasa tubuhnya terseret ke sebuah lorong hitam. Kemudian, saat membuka mata, mereka telah berada di hutan yang telah mereka lewati tadi pagi. Yolan dan Wirya melihat pintu yang bersinar. Pasti sinar itu bersal dari 13 lilin yang dinyalakan Nenek. Itu adalah jalan satu-satunya untuk mereka kembali ke dunia nyata. Yolan menajamkan pendengarannya.

Wirya                         : “ Keributan di desa, kita harus cepat ke sana !” ( SAMBIL BERSERU )

Setengah berlari Yolan dan Wirya bergegas ke arah yang tak jauh dari hutan. Sesampainya di sana mereka melihat seorang pemuda yang diikat pada sebuah pohon.

Yolan                         : “Itu Wiryo !”

Wirya                         : “ Lihat penduduk desa itu ! Mereka sama sekali tidak membela Wiryo. Pak ! Kenapa kita tidak berusaha hal ini tidak terjadi ? Bukankah Wiryo pahlawan desa ini ?” (MENCERMATI KERUMUNAN DAN BERTANYA PADA SALAH SATU PENDUDUK)

Lelaki Tua                 : “ Aden bukan warga desa sini ? Apakah Aden tidak tahu, di sini tidak ada yang berani menghalangi keinginan Tuan William. Bisa ikut dihukun mati !” (MENJAWAB DENGAN KETAKUTAN)

Yolan                         : “Tapi pak, bukankah masyarakat di sini jumlahnya lebih banyak ? Kalau kita bersatu Wiryo bisa diselamatkan,” (SAMBIL BERCELUTUK)

Sementara itu, ikatan Wiryo dilepas dari pohon dan diarak menuju ke hutan. Tidak ada satupun yang berani membela Wiryo. Bahkan saat pasukan penembak sudah siap pada posisinya, belum ada satupun warga yang tersentuh hatinya untuk membela Wiryo. Dengan nekat Wirya berlari ke arah Wiryo dan berdiri di depannya.

Tuan William             : “Cepat lepas ikatannya dan arak menuju hutan dan bersiap di posisi masing-masing.” (MEMBERI PERINTAH PADA  PASUKAN PENEMBAK)

Pasukan Penembak    : “ Siap Tuan !”

Wirya                         : “TUNGGU….!!!” (NEKAT BERLARI KE ARAH WIRYO DAN BERDIRI DI DEPANNYA)

Tuan William             : “Hei ! Siapa kau pemuda pribumi ?” (MENGHARDIK WIRYA)

Wirya                         : “Penduduk semua ! Wiryo adalah pahlawan kalian. Mengapa sekarang kalian tidak berusaha untuk menolongnya ? Bersatulah dan kalian akan menang !” (BERTERIAK LANTANG SAMBIL MERENTANGKAN KEDUA TANGANNYA)

Wiryo                        : “Siapa kau ?” (KEHERANAN)

Wirya                         : “ Nyawa teman kami terancam kalau sampai kau ditembak,”

Wiryo                        : “Jadi usahaku untuk menghubungi masa depan berhasil.” (MENGUCAP DALAM HATI)

Tuan William             : “Minggir atau kami juga kan menembakmu !” (BERTERIAK)

Pasukan Penembak    : “Pasukan siap !” (MENGANGKAT SENAPAN DAN SIAP PADA POSISI MENEMBAK SETELAH MENDENGAR PERINTAH TUANNYA)

Yolan                         : “Rasanya semua usahaku sia-sia saja. Wirya cepat ! Tidak ada gunanya lagi. Waktu kita habis, kita harus pulang sebelum terlambat !”(BERTERIAK SAMBIL MELIHAT JALAN MENUJU JAMANNYA YANG SINAR LILINNYA SEMAKIN REDUP)

Percuma. Sekuat-kuatnya Yolan berteriak, suara keributan penduduk mengalahkan teriakannya itu. Sedangkan peluru mulai dimuntahkan dari larasnya. Sementara itu, di dunia nyata 13 lilin yang menyala di tengah lingkaran Nenek, Marshall, Erni dan Wina nyalanya semakin redup dan tak lama kemudian nyalanya padam. Sama sekali padam !

Oleh: Heru Subrata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR

Sastra Mampu Membuka Mata Hati dan Mata Pikiran Kita, Karena Sastra Adalah Refleksi Kehidupan Kita

Sobo sak paran-paran

Ini blog-blogan ...

Garis Edar-ku

Blog tentang seputar aktivitas kerjaku

@ReeMekarsari

Buat Saya, "Bahagia itu Sederhana" -Ree-

@MaureenMoz

live is an adventure. enjoy the ride.

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Enrichissez-vous!

enrich yourselves

Joglo Drama - Mbah Brata

Seni memanusiakan manusia, menjadikan manusia lebih manusiawi

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: