RONGGOLAWE


[ANALISIS NASKAH DRAMA]

KARYA S.T. WIYONO:

Peran – peran :

  1. Kawulo I
  2. Kawulo II
  3. Kawulo III
  4. Candolo
  5. Ronggolawe
  6. Lembu sora

ANALISIS :

Ada dua penganalisisan stilistika dalam naskah drama ini, yaitu secara umum dan secara khusus. Secara umum, artinya penganalisisan pemakaian gaya bahasa yang tersirat dalam keseluruhan cerita, yang menyangkut penokohan, tema, penceritaan, setting, dan pemaknaan cerita. Secara khusus, artinya penganalisisan pemakaian gaya bahasa pada bahasa yang digunakan pengarang dalam naskah lakon “Ronggolawe”.

  • Analisis  Secara Umum

Naskah lakon “Ronggolawe” secara umum menggunakan gaya bahasa kiasan (metafora), yaitu mengkiaskan perilaku manusia yang diwujudkan dalam diri Ronggolawe, Lembu Sora, Prabu Kertarejasa, Patih Nambi, dan Amerta Raga. Penokohan Ronggolawe menggambarkan/mengkiaskan sosok manusia yang begitu setia mengabdi untuk kemajuan, kewibawaan, dan kejayaan negara. Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Ronggolawe harus rela kehilangan harta, tahta, keluarga, dan nyawanya. Sebuah idealisme yang ‘aneh’ untuk ukuran manusia jaman modern.

Secara umum, naskah lakon “Ronggolawe” menggunakan gaya bahasa kiasan / perumpamaan. Perilaku tokoh-tokoh sentral (Ronggolawe, Lembu Sora, Prabu Kertarejasa) mengkiaskan / mengumpamakan perilaku  manusia dalam kehidupan di dunia ini. Semua penokohan, penceritaan, konflik, tema, bahkan setting adalah simbol kehidupan manusia saat ini. Diangkatnya tokoh Ronggolawe sebagai judul naskah lakon ini karena dia-lah tokoh yang kontroversial (dianggap sebagai trouble maker), karena berani ‘menentang titah’ Prabu Kertarejasa ketika menetapkan Nambi sebagai maha patih Majapahit. Ronggolawe menilai bahwa Nambi bukan figur yang tepat sebagai pemimpin, karena memiliki watak yang licik, culas, yang lebih mementingkan dirinya sendiri.

Selain itu, naskah lakon ini juga memanfaatkan majas pars pro toto yaitu menyatakan sebagian untuk menyebutkan keseluruhan. Artinya yang diceritakan dalam naskah lakon ini ialah perilaku tiga tokoh (utama), yang sebenarnya menyimbolkan keseluruhan perilaku manusia yang beraneka ragam sifat dan tingkahnya dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Gaya bahasa klimaks juga turut mewarnai naskah lakon “Ronggolawe”. Hal ini terlihat ketika konflik penceritaan mulai memuncak antara pihak ‘idealis’ yang berupaya menegakkan kejayaan negara dengan pihak ‘oportunis’ yang mencoba memanfaatkan kesempatan sabda pandita-pangandikane ratu tan kena wola-wali. Pada akhir cerita dikisahkan pertempuran yang seru antara Majapahit dan Tuban, yang juga merupakan klimaks cerita yang juga mengakhiri naskah lakon ini. Dengan demikian, secara umum ada tiga gaya bahasa yang dominan mewarnai naskah lakon “Ronggolawe”, yaitu kiasan, pars pro toto, dan klimaks.

  • Analisis Secara Khusus

Dalam naskah lakon “Ronggolawe” ST. Wiyono memanfaatkan berbagai gaya bahasa yang dapat menimbulkan efek tertentu pada pembaca dan juga dapat menjaga estetika karya itu sendiri. Secara garis besar, gaya bahasa yang dimanfaatkan ialah (1) gaya bahasa berdasarkan pilihan leksikal, (2) gaya bahasa berdasarkan bunyi, (3) gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat, (4) gaya bahasa berdasarkan makna.

Naskah drama “Ronggolawe” amat menarik dan mampu menggugah pembaca untuk merenung tentang apa maksud naskah lakon ini; permasalahan-permasalahan apa yang sebenarnya disampaikan oleh pengarang; dan harapan-harapan apa yang diinginkan pengarang.

1.)Pemanfaatan Kata Ganti

Kata ganti yang dimanfaatkan oleh pengarang di antaranya kata kula, kowe, kabeh, sira, bentuk niki dan niku sebagai pembatas kata benda juga digunakan dalam naskah lakon “Ronggolawe”.

KAWULO II:

…Lha kula sak konco niki rak wong cilik to, wong cilik niku rak mboten sah melu cawe-cawe babagan negara to. Leres ngaten to Ndoro Nggung…(hlm.6)

CANDOLO:

Ho…hooo, keliru kuwi…Kowe kabeh malah kudu melu cawe-cawe…Kowe kabeh kudu nyengkuyung marang negara, kuwi wajib ngono…(hlm.6)

2.)Pemanfaatan Sinonimi dalam Julukan

Sinonimi dalam analisis naskah drama ini bukan mengacu pada padanan kata secara umum, tetapi kata yang ‘sesuai’ dipadankan atau diterapkan pada kata lain sebagai julukan seseorang yang dianggap cocok, seperti pada kutipan berikut.

RONGGOLAWE:

Nuwun sewu gusti prabu,…menawi wonten kepareng ndalem kulo bade urun pemanggih, mbok menawi saget kanggo tetimbangan (hlm.1)

Kata gusti prabu merupakan padanan kata untuk menyebut Raja Majapahit, Kertarejasa.

Saur Manuk: Sugeng rawuh…Ndoro Nggungg…(hlm.6)

Kata Ndoro Nggungg merupakan julukan atau padanan untuk menyebut Tumenggung Cokro Candholo. Selain itu, kata ndoro biasanya digunakan untuk sebutan kalangan bangsawan. Sampai saat ini, panggilan ndoro masih sering kita jumpai dalam lingkungan Jawa yang kental dengan nuansa ‘feodalisme’ atau ‘kratonisme’.

KAWULO I:

Tontonan gratis gundhulmu apek kuwi…(hlm.5).

Penyebutan kata gundhulmu merupakan panggilan yang mungkin diucapkan apabila hubungannya cukup dekat atau akrab. Penyebutan kata tersebut muncul dalam dialog antarkawulo sehingga aspek kedekatan/keakraban yang terjadi di antara mereka (kawulo) sangat dimungkinkan.

RONGGOLAWE:

Dhiajeng Amertaraga,…kowe pancen wanita utama. Bisa mangerteni marang kerepotane kakung. Aku kepengin mulyakaken sliramu dhiajeng, lair tumekaning batin…(hlm.12).

Kata dhiajeng merupakan panggilan sayang terhadap istri. Dalam hal ini pengarang memberikan efek kasih sayang suami-istri yang begitu tulus dan murni. Yang siap menerima baik dalam kondisi senang maupun susah.

3.)Pemanfaatan Gaya Bahasa Berdasarkan Bunyi

Bunyi dapat digunakan sebagai gaya bahasa untuk menimbulkan suatu efek pada karya sastra. Gaya bunyi ini ialah aliterasi dan asonansi. Yang dimaksud aliterasi ialah perulangan bunyi pada tiap awal kata, dan yang dimaksud asonansi ialah perulangan bunyi pada tiap akhir kata. Dalam naskah drama “Ronggolawe” ditemukan gaya bahasa berdasarkan bunyi asonansi, seperti pada kutipan berikut.

KAWULO I: Geger…geger gember…ewer…ewer…(hlm.5).

Bunyi er pada geger, gember, dan ewer mengisyaratkan bahwa ada efek penggiringan makna dari ‘geger’ yang bermula dari adu argumentasi menjadi adu prinsip bahkan kekuatan antara Majapahit dan Tuban.

KAWULO II:

…Awake dhewe ki ra wong cilik, ongklak-angklik…linggih dingklik, bendino mangane gogik… wong cilik sing ora biso nentokke apa-apa, ora bisa nggawe owah-owahan, apa maneh urusan negara…(hlm.5).

Bunyi ik pada kata-kata cilik, angklik, dhingklik, dan gogik memperjelas gambaran tentang kehidupan wong cilik yang serba kekurangan, yang seakan-akan tidak mempunyai hak apa-apa atas kebesaran dan kejayaan sebuah negara. Yang ada hanyalah kewajiban dan kewajiban terhadap negara.

  • Pemanfaatan Gaya Bahasa Berdasarkan Struktur Kalimat

1.)Pemanfaatan Gaya Bahasa Klimaks

Gaya bahasa klimaks ialah pengungkapan sesuatu yang bersifat periodik dengan urutan dari sesuatu yang ‘lemah’ menjadi sesuatu yang ‘kuat’ yang diwujudkan dalam satu kalimat atau beberapa kalimat, seperti pada kutipan berikut.

RONGGOLAWE:

Paman Lembu Sora,…ing tengahing palagan mboten wonten sanak kadang, Bapa kalayan putra. Ingkang wonten naming mungsuh ingkang kedah dipun sirnakaken…(hlm.10)

Kutipan tersebut memberikan gambaran betapa kejamnya peperangan. Perang tidak lagi memandang hubungan kekeluargaan, tidak ada hubungan Bapak dengan anak. Yang ada hanya musuh yang harus dimusnahkan. Perang hanya memberi pilihan membunuh atau dibunuh.

2.)Pemanfaatan Gaya Bahasa Repetisi

Gaya bahasa repetisi memiliki jenis tautoles, anafora, epifora, simploke, mesodiplosis, epanalepsis, dan anadiplosis (Keraf, 1984). Dalam naskah drama “Ronggolawe” ditemukan gaya bahasa tautoles, anafora, dan mesodiplosis.

1)  Tautoles

Gaya bahasa tautoles ialah gaya bahasa repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi, seperti pada contoh berikut.

LEMBU SORA:

Perang kuwi tetap kejem…Perang kang dumadi saka sunaring katresnan bakal medhot sesambunganing katresnan sanak kadang, antarane Bapak karo anak… Perang bakal medhot sesambunganing katresnan antaraning manungsa, uga alam lan lingkungan…(hlm.11).

Kutipan di atas, pengarang ingin menekankan bahwa perang merupakan suatu perbuatan yang kejam. Perang dapat memutuskan hubungan kekeluargaan dan memutuskan hubungan manusia dengan alam. Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk membenarkan terjadinya suatu peperangan.

2)  Anafora

Gaya bahasa anafora ialah gaya bahasa repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada setiap baris atau pada tiap kalimat berikutnya, seperti contoh berikut.

LEMBU SORA:

Ronggolawe cilik sing nakal, saban sore tak gendhong, tak tembangke kidung-kidung satriya tama… Ronggolawe sing wiwit cilik tak gegulang olah kanuragan, ndak gadhang mbesuk dadia satria tama kang migunani tumraping nusa lan bangsa (hlm.10).

Kutipan di atas, mengandung perulangan pada awal kata, yaitu Ronggolawe. Hal itu memberikan efek bahwa Lembu Sora mengasuh Ronggolawe sejak kecil dengan penuh kasih sayang, agar dapat menjadi satria utama yang berguna bagi nusa dan bangsa.

3)  Mesodiplosis

Gaya bahasa mesodiplosis ialah gaya bahasa perulangan kata atau kelompok kata di tengah-tengah baris kalimat atau pada kalimat-kalimat yang berurutan, seperti pada kutipan berikut.

LEMBU SORA:

Ronggolawe cilik sing nakal, saban sore tak gendhong, tak tembangke kidung-kidung satriya tama… Ronggolawe sing wiwit cilik tak gegulang olah kanuragan, ndak gadhang mbesuk dadia satria tama kang migunani tumraping nusa lan bangsa (hlm.10).

Dengan adanya perulangan kata tak gendhong, tak tembangke kidung-kidung satriya tama, dan tak gegulang olah kanuragan menimbulkan efek penekanan bahwa hubungan Lembu Sora begitu dekat dengan Ronggolawe. Selain itu, ada efek bahwa si Lembu Sora merupakan paman yang baik karena ia menyayangi, mengasuh, dan mendidik seorang Ronggolawe dengan harapan agar kelak ia menjadi satria utama.

  • Pemanfaatan Gaya Bahasa Berdasarkan Makna

Gaya bahasa berdasarkan makna terdiri atas kiasmus, pleonasme, perifrasis, silepsis, hiperbol, paradoks, oksimoron, simile, metafora, personifikasi, sinekdoke, metonimia, antonomasia, hiplase, dan sarkasme (Keraf, 1984). Dalam naskah drama “Ronggolawe” ditemukan gaya bahasa hiperbola, paradoks, sarkasme, personifikasi, dan perifrasis.

1.Hiperbola

Gaya bahasa hiperbola ialah gaya analogi yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan suatu hal, seperti pada kutipan berikut.

RONGGOLAWE:

Diajeng Amerta Raga… Kaya-kaya aku kepengin nyimpen sliramu ana ing telenging dadaku, tak gawa saparan-paran, ana tengahing kasusahan lan kabungahan, saiki nganti mbesuk ing akerat (hlm.13).

Dalam kutipan tersebut tampak bahwa ada pelebihan makna ‘mencintai dari dunia sampai akhirat. Ungkapan-ungkapan perasaan cinta Ronggolawe terhadap istrinya terkesan begitu mendalam. Hal ini terbukti dengan kutipan aku kepengin nyimpen sliramu ana ing telenging dhadhaku, tak gawa saparan-paran, ana tengahing kasusahan lan kabungahan, saiki nganti mbesuk ing akerat.

KAWULO III:

Wah… aja gawe bingung lho kang… tak tempiling malah semaput kowe mengko (hlm.4).

Ungkapan tak tempiling malah semaput kowe mengko merupakan gaya bahasa hiperbola, karena jarang ada orang yang pingsan hanya karena ditampar. Hal ini biasanya digunakan untuk menakut-nakuti orang lain agar tidak semaunya sendiri.

2.Paradoks

Gaya bahasa paradoks ialah gaya yang mengandung pertentangan yang nyata sesuai dengan fakta-fakta yang ada, seperti pada kutipan berikut.

RONGGOLAWE:

Perang panci kejem, paman… nanging ugi mujudake sunaring katresnan dating sesami ugi dating alam lingkunganipun… (hlm.10).

Ungkapan perang panci kejem disandingkan dengan ungkapan mujudake sunaring katresnan dating sesami ugi dating alam lingkunganipun merupakan sesuatu hal yang mengandung pertentangan yang amat nyata. Padahal katresnan atau cinta itu tidak seperti perang. Karena cinta tidak pernah membunuh dan tidak kejam. Cinta selalu penuh dengan kasih sayang, sedangkan perang tidak demikian.

3.Sarkasme

Gaya bahasa sarkasme ialah gaya bahasa yang mengandung makna mengejek, seperti pada kutipan berikut.

RONGGOLAWE:

Jalaran ajrih menawi kecalan drajat lan pangkatipun. Tiyang ingkang kados mekaten menika namung mentingaken bondo donya, kangge blendhukake wetenge dhewe. Mboten tulus anggenipun ngabdi kangge kawibawan lan katentreman kawula… (hlm.3).

Ungkapan kangge blendhukake wetenge dhewe merupakan gaya bahasa sarkasme untuk menyebut orang-orang yang tidak berani menyuarakan kebenaran, takut kehilangan pangkat dan jabatan. Mereka lebih memilih untuk diam daripada harus bersuara menentang arus apalagi menentang sabda pandhita ratu.

RONGGOLAWE:

Nyuwun pangapunten, paman… Panjenengan ngertos sinten kula, semanten ugi kula sampun ngertos sinten panjenengan. Senopati ingkang mboten miris nyawang getih ing tengahing palagan, ugi sampun mangertos sepinten tataraning kaprajuritan dalah olah kanuragan .(hlm.10).

(LEMBU SORA TIBA-TIBA MENCABUT KERIS… (MUSIK BERUBAH)… LEMBU SORA MAJU…)

RONGGOLAWE: Paman Lembu Sora,… dereng wancinipun, paman…

Adanya kata-kata “kula sampun ngertos sinten panjenengan. Senopati ingkang mboten miris nyawang getih ing tengahing palagan, ugi sampun mangertos sepinten tataraning kaprajuritan dalah olah kanuragan” dan “dereng wancinipun, paman” ketika Lembu Sora mencabut keris merupakan hinaan, ejekan dari si penutur (Ronggolawe) terhadap senopati dari Majapahit.

KAWULO I:

Tontonan gratis gundhulmu apek kuwi… (hlm.5).

Penggunaan kata gundhulmu merupakan gaya bahasa sarkasme. Gundhulmu di sini merujuk pada penyebutan kepada seseorang yang hubungannya sudah sedemikian akrab. Apabila tidak begitu akrab tentu saja akan sangat menyinggung dan menyakitkan bagi orang yang disebutnya.

4.Personifikasi

Gaya bahasa personifikasi ialah gaya bahasa yang menganggap benda mati dapat seolah-olah bertindak seperti benda hidup, seperti pada kutipan berikut.

RONGGOLAWE:

Kulo kaliyan kawulo Tuban sampun manunggal tekad notohaken jiwa raga, bondho donya, kanggo jejegaken pranatan Majapahit… gegayuhan menika mboten kangge kulo pribadi. Kulo kaliyan kawulo sedoyo, kepingin mbenjang anak putu sageto ngenyam kamukten negari Majapahit (hlm.9).

Kutipan kanggo jejegaken pranatan Majapahit dan ngenyam kamukten negari Majapahit merupakan gaya bahasa personifikasi. Majapahit sebagai negara diibaratkan ‘manusia yang terpuruk’ karena dipimpin oleh penguasa-penguasa yang lebih mendahulukan kepentingan pribadi dan golongannya. Untuk itu, Ronggolawe dan rakyat Tuban menyatukan tekad, siap berkorban harta, benda dan nyawa untuk mengembalikan kejayaan Majapahit. Efek yang muncul dari kutipan di atas, yaitu semangat yang begitu menggebu-gebu untuk membesarkan kejayaan negara. Tidaklah mengherankan, apabila Majapahit dahulu menjadi negara yang besar karena rakyat dan satria-satrianya begitu berani dan tulus berkorban demi kejayaan negara.

RONGGOLAWE:

Ronggolawe, … ora lila menawa negara Majapahit kang wus dibangun kanthi banten tetesing kringet getih lan bangkene kawula alit, bakal njegur marang jurang kanisthan, bakal ambyar muspra. Awit para panguwasa wis ora gelem nampa usule kawula… (hlm.4).

Kutipan Majapahit… bakal njegur marang jurang kanisthan, bakal ambyar muspra merupakan pemanfaatan gaya bahasa personifikasi. Majapahit sebagai negara diibaratkan sebuah ‘kendaraan’ sedangkan panguwasa diibaratkan ‘supir’-nya.

5.Perifrasis

Gaya bahasa perifrasis ialah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata yang berlebihan yang sebenarnya mubazir, seperti kutipan berikut.

LEMBU SORA:

Ronggolawe,… Jejering senopati aku bakal ngadepi sapa wae ing tengahing palagan… Nanging jejering manungso aku ngenggoni rasa kamanungsan… Njur apa tegel yen aku kudu mateni ponakanku dewe… Ponakan sing banget ndak tresnani, sing ndak gulo wenthah wiwit cilik nganti tataraning kadewasaan… (hlm.10).

Setiap manusia pasti memiliki rasa kemanusiaan. Penggunaan kata rasa kamanungsan merupakan kata yang berlebihan. Namun, justru menimbulkan efek penyengatan peristiwa konflik batin Lembu Sora yang bimbang ketika harus menjalankan tugas negara atau menyelamatkan Ronggolawe, yang masih terhitung keponakannya sendiri.

RONGGOLAWE:

Ronggolawe,… ora lila menawa negara Majapahit kang wus dibangun kanthi banten tetesing kringet getih lan bangkene kawula alit, bakal njegur marang jurang kanisthan, bakal ambyar muspra. Awit para panguwasa wis ora gelem nampa usule kawula… (hlm.4).

Kegiatan njegur selalu menunjukkan ke bawah, sehingga penggunaan kata marang jurang kanisthan merupakan kata yang berlebihan. Namun, justru menimbulkan efek penguatan atas peristiwa tersebut. Begitu pula dengan kata ambyar berarti sudah hancur tidak berbentuk, masih diikuti dengan kata muspra yang berarti hilang. Penggunaan kedua kata itu secara bersamaan memberikan efek penguatan ‘hancur lebur’. Jadi sebuah negara besar akan masuk ke dalam jurang kenistaan dan hancur lebur kalau para pemimpinnya tidak lagi mau mendengarkan apa yang disampaikan oleh rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR

Sastra Mampu Membuka Mata Hati dan Mata Pikiran Kita, Karena Sastra Adalah Refleksi Kehidupan Kita

Sobo sak paran-paran

Ini blog-blogan ...

Garis Edar-ku

Blog tentang seputar aktivitas kerjaku

@ReeMekarsari

Buat Saya, "Bahagia itu Sederhana" -Ree-

@MaureenMoz

live is an adventure. enjoy the ride.

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Enrichissez-vous!

enrich yourselves

Joglo Drama - Mbah Brata

Seni memanusiakan manusia, menjadikan manusia lebih manusiawi

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: