SETAN DALAM BAHAYA


[ANALISIS NASKAH DRAMA]

Taufiq Al-Hakim

Seduran oleh: Dian Silaturachman

“Untuk Kawan Bahasa Indonesia”

  • Pikiran adalah Jejak Langkah Masa Depanku

Sett *1

Raungan suara mesin perang, sirene, sambutan-sambutan (semua ditampilkan di back ground belakang) (fade in)

Samar-samar derap langkah prajurit perang, dan di ikuti komandan mereka tampak raut muka bercampur sedih dan senang.

Komandan: Pengumuman-pengumuman dengan ini perang akan segera di jalankan dan segala sesuatunya akan diselesaikan dengan tempo sesingat-singkatnya.

Surabaya, (tgl main, …………….) tanda tangan.

Prajurit: (Koor) hidup perang, hidup perang, hidup perang.

Grouping komandan + Prajurit masuk (fade out)

Sett *2

–          Sebuah meja + peralatan lain (Mesin tik, asbak, kotak tinta dsb) tampak tidak beraturan dengan latar belakang beberapa buku + bantal& guling ada di antaranya (Sudut1)

–          Sebuah televisi besar (ukuran menyesuaikan) (sudut 2)

–          Beberapa ruas jemuran pakaian (jumlah dan panjang ruas menyesuaikan) (sudut 3)

–          Tampak filusuf duduk di (sudut 1) membaca, berfikir dengan tenang dan sesekali menyalakan rokok, tampak mesin ketik di gerakkan , tiba-tiba telepon di sebelah berdering (bukan Hp Lho).

–          Sikap acug terus dikembangkan antara terima dan tidak maka pada suatu kesempatan dia kemudian mengangkat telepon tersebut.

+  Filusuf : Hallo! … Hallo ….. siapa nya? Minta bertemu dengan saya? …. sekarang? ……. apa soal penting? Tp di situ siapa nya? ……… apa katambat setan? ……. saya rasa ini bukan waktu yang tepat untuk bergurau, se larut malam begini? …. sudahlah tolong tutup saja, (telepon di tutup) kurang ajar dan kurang punya selera (menghisap rokok)

Filusuf tampak masih tak percaya atas apa yang dialaminya, mondar-mandir sambil bergumam: setan … apa tidak salah. Langkahnya terhenti tepat di jemuran pakaian, tiba-tiba setan muncul di balik jemuran-jemuran tersebut,

Setan I   : Maaf-maafkan aku, memang benar, kurang ajar dan kurang punya selera. Memang bukan waktu yang tepat untuk berkunjung tapi keadaannya gawat sekali.

Filusuf   : (Memalingkan badan) Engkau ….?

Setan I   : (Sambil membungkuk, membetulkan jemuran dan memberi salam)

Ya, benar akulah!

Fikusuf  : (Berbisi dan kaget) se…. setor?

Setan I   : (Mengambil cermin yang telah di gantung di leher) ya … setan

(Berjalan ke meja mengambil bingkai foto) mudah-mudahan tempang ku tidak mengecewakan dugaan mu.

Filusuf   : Sebaliknya, tampangmu sama sekali tidak berbeda dengan biasa yang kami lihat delam gambar-gambar, bajumu yang merah …… kedua tandukmu yang kecil, sepasang mata yang kecil dan menyala ….. hidung mu yang panjang ….. bentuk badan yang kurus dan juga tampak lebih tua.

Setan I   : Aku tidak mengerti bagaimana orang melukiskan aku dalam bentuk semacam itu (mengamati tubuhnya) tetapi kalau memang selama ini memang itu yang kau kenal, aku pun memakai itu.

“Kebohongan yang sudah di kenal orang lebih baik dari pada kebenaran yang masih tersembunyi”.

Filusuf   : Setan …… jadi kau itu setan!? (terkejut)

Setan yang sering kami baca beritanya dalam buku-buku (menghampiri setan dan mengambil salah satu buku) yang sering kami dengar perbuatan yang aneh-aneh itu.

Setan II : Hallo, dengan segala rendah hati itulah aku (muncul di tengah layar televisi) itulah yang kalian sebut dengan segala kebaikan yang kalian tulis, yang kalian ucapkan….. tentu aku mengikuti semua yang disiarkan tentang diriku yang di hubungkan kepada kum kalau mau ku ikuti, sebagian besar waktu ku niscaya hanya kuhabiskan untuk mengoreksi segala kejadian dan membantah sagala macam tuduhan, aku tidak banyak menggubris segala yang ada dalam buku-buku dan dalam percakapan orang, barangkali akan terkejut kalau kau ketahui, aku cenderung sekali menyendiri ……… aku menjauhkan diri dari pergaulan dengan manusia, inilah rahasianya maka aku tetap muda dan urat saraf ku selalu santai.

Filusuf   : (Menyodorkan rokok) merokok?

Setan II : Boleh …….. boleh juga asal dari kwalitas ringan.

Filusuf   : Jangan kuatir, (menyodorkan rokok) rokok ku hanya yang paling ringan.

Setan II : Hah …….. ha ……. api? (seperti kebakaran) (hilang di belakang layar)

Seten III  : (Menerima rokok) + menghisap dan menikmati)

Terima kasih

Filusuf   : (Kaget) soalnya karena aku tidak suka merokok kecuali membantu aku dalam memikirkan sesuatu (terus menghampiri meja, duduk mengangkat cangkir)

Setan III  : Berfikir tentang apa?

Filusuf   : Tentang pekerjaanku, tentu kau sudah tahu jika profesiku berfikir.

Setan III  : (Menaikan nada) tentu saja, seorang filusuf sangat penting, begitulah di katakan orang kepadaku dan lewat beberapa iklan yang aku lihat

(Sambil menghampiri filusuf) itulah sebabnya aku datang malam ini, maksudku supaya kau berfikir untukku.

Filusuf   : (Heran + senyum) berfikir untuk mu? Engkau?

Setan III  : (Bersemangat) ya ….. ya tentu saja kau harus berfikir untukku, untuk melepaskan aku dari bencana yang hampir menimpa kepalaku ini.

Filusuf   : (Terkejut) bencana?! Akan menimpa kepalamu? Engkau

Setan III  : (Semakin panik) Ya …ya tolonglah aku, (berdiri di tengah, dan jongkok di atas kursi) tak ada orang yang dapat menolongku terutama kepalaku ini selain kepalamu yang penuh pikiran itu. Carikanlah akal buat aku, buat menjauhkan aku dari bahaya.

Dari kanan-kiri panggung tampak beberapa orang membawa tulisan slogan yang mengancam perbuatan setan (musik riang)

Filusuf   : Luar biasa!

Setan III  : (Semakin keras) cepat!berfikirlah buat aku, bagaimana caranya aku terhindar dari itu.

Filusuf   : Terhindar dari?

Setan I   : Dari bahaya yang mengancamku, pikirkanlah buat aku, (Sambil keluar dari balik jemuran pakaian tampak dia masih ketakutan) bukankah engkau filusuf? Bukankah profesimu berfikir? Berfikirlah buat aku sekarang (sambil sengoh membentak) cepat pikirkan-pikirkan.

Filusuf   : Ini … ini aku sedang berfikir (mengambil buku lalu membuang beberapa kali, setan mengikuti di belakang dan beberapa kali menghindar) (filusuf berbalik dan mendorong sebuah buku tepat kearah setan I).

Setan I   : Ya …… (sambil menahan entah, sakit atau terkejut) engkau memang sedang mengumpulkan pikiranmu, ku harap kecerdasan yang raksasa itu akan melahirkan buah pikiran yang efektif.

Filusuf   : (Mengambil sebuah buku dan melempar ke luar panggung, setan I heran dan berusaha mengambil) Aneh …….. aneh sekali

Setan II masuk membawa buku yang di lempar filusuf,

Setan II : (Dengan gembira) sudah dapat, sudah dapat.

Filusuf   : Ya ……… sudah ku dapati bahwa engkau belum menyebutkan kepadaku bahaya apa yang sedang mengancammu dan yang mau dicarikan pemecahannya ………

Setan II : (Agak marah) Engkau tidak pernah menayakan itu padaku.

Filusuf   : Disinilah pokok persoalan yang telah menimbulkan keanehan tadi. Perlu kutanyakan kepadamu sebelum aku berfikir.

Setan II : Engkau sudah berfikir sebelum bertanya!

Filusuf   : Maafkan, sudah menjadi kebiasaanku, begini kami, dari kalangan filusuf kadang berfikir berpanjang-panjang ……… kemudian pikiran kami sering berakhir dengan sebuah pertanyaan.

Setan II : Bukan begitu tuan ….. kuharap ….. jangan membuang waktuku aku datang kepadamu larut malam begini supaya kau berfikir untuk ku dengan hasil yang akan dapat memecahkanpersoalan

Filusuf   : Kalau begitu baik kita mulai dengan pertanyaan (menghampiri meja, mengetik sesuatu) bahaya apakah yang sedang mengancammu?

Samar-samar (Fade in) suara sirene-tampak siluet prajurit masuk kearea dengan menghunus senjata.

Setan II : (Kaget) perang

Iya tentu saja perang.

Filusuf   : (Sambil melihat setan II di kejar + Groping tentara) perang ………. perang mengancam kau?

Sisi lain tampak setan III masuk terengah-engah dengan nafas yang tidak teratur.

Setan III  : Tentu sekali mengancamku, hei …. apa yang membuat kau jadi terkejut seperti ini! Perang yang akan datang sungguh mengerikan dan kukira kau bukan tidak tahu, bom-bom atum dan peluru kendali akan menghancurkan dunia dan membinasakan umat manusia.

Filusuf   : Apakah dalam hal ini engkau mengasihi manusia?

Setan III  : Sangat mengasihi diriku.

Filusuf   : Apa urusan mu?

Setan III  : Hidupku bergantung pada manusia, dimana ada manusia disitu ada aku, kalau terjadi kiamat maka segalanya berakhir aku harus memenuhi nasibku, serta kesudahanku yang tidak dapat terelakkan kembali.

Filusuf   : Jadi …….. perang yang datang tidak tergantungkan kau?

Setan III  : Sama sekali tidak!

Filusuf   : Dan siapa di antara bangsa-bangsa itu yang akan mengorbarkan perang?

Setan III  : (Tak acuh) mana aku tahu!

Filusuf   : Aneh, dunia semua menduga, setanlah yang mengoda negara-negara besar itu supaya mereka semua mengobarkan api peperangan yang akan datang, sekarang malah setan sendiri mau  cuci tangan dan mangkir. Apa engkau juga berusaha melarikan diri?

Setan III  : (Nada tinggi) tuan yang terhormat, sudah gilakah aku mau membakar dunia ini seluruhnya termasuk aku sendiriada di dalamnya?

Filusuf   : Masuk akal

Setan III  : Total aku? Aku mau bunuh diri? Seperti yang kukatakan, sekarang aku senang menyendiri (mencari sudut fade) hidup tentram tetapi rupanya ada orang-orang yang sedang ribut-ribut dan hidup dalam kegaduhan, lalu bunyi-bunyian letusan hiburan bagi mereka, sebegitu jauh memang, begitulah hiduplah hidup mereka sebelum itu aku masih memasang jari-jariku di telinga … tapi menurut hematku ..? soalnya sudah berkembang.

Filusuf   : Jadi kau mengingingkan?

Setan III  : Perang dilarang!

ANALISIS NASKAH DRAMA

Judul  : “SETAN DALAM BAHAYA”

*  Dilihat dari unsur Intrinsik

  • Alurnya maju karena naratif bagi seluruh cerita dan harus dapat menjalankan tugasnya dalam menyelesaikan gagasan hingga menjadi satu kesatuan.
  • Tema : Pikiran adalah jejak langkah masa depanku.
  • Tokoh : 1.  Filusuf

2.  Setan

  • Penokohan
  1. Filusuf berperan sebagai prajurit.
  2. Setan berperan sebagai komandan.
  • Karakterisaksi

Filusuf : Filusuf ini berwatak keras

Setan    : Setan dalam drama ini setan berwatak baik dan bijaksana.

  • Setting

Temnpat           : Jemuran Pakaian

Waktu              : Malam hari

Suasana            : Suasana pada malam hari itu sangat panik.

Sudut Pandang  : Sudut pandang dari ini adalah tentang pikiran adalah jejak langkah masa depanku perang melawan ancaman dari rasa takut.

  • Suspent (Ketegangan)

–   Saat melawan dari ancaman rasa takut.

  • Klimaksnya

–          Filusuf dan setan hidup menyendiri dan membujang begini terbayang olehku bahwa dunia perkawinan tertutup bagiku

(Setan tertegung melihat pasangan masuk dari 2 sisi mereka terlihat bahagia)

*   Dilihat dari unsur Ekstrinsiknya adalah: Tentang Kebudayaan.

4 Komentar (+add yours?)

  1. dian silaturachman
    Sep 10, 2011 @ 09:20:46

    maaf sebelum nya Saya Dian silaturachman mantan mahasiswa UNESA thn 2000 sekarang masih aktif di Teater Institut UNESA. yang tersebut di atas…
    ada beberapa kekeliruan yang mungkin terjadi dengan tidak sengaja namun hal tersebut Fatal..setan dalam bahaya adalah naskah baku yang saya berikan kepada Temen2 jurusan bahasa dan seni UNESA di setiap anggkatan untuk Program mata kuliah apresiasi Drama mulai di kerjakan awal tahun 2001 sampai kemarin tahun 2009.dan maaf ada beberapa tulisan-2 saya yang menurut saya melenceng jauh dari apa yang saya kembangkan…jika bapak berkenan saya mungkin masih menyimpan seluruh data pementasan tersebut termasuk latar belakang pengambilan aktor,pisikologi aktor,sett yang di gunakan.dan jika ini di buat sebagai bahan pembelajaran saya pribadi siap membantu.kebetulan tahun ini Teater Institut Punya Brand Pendidikan seni masyarakat…..makasih sebelumnya…..

    Balas

    • mbahbrata
      Sep 13, 2011 @ 19:12:31

      Makasih atas atensinya, saya senang ada konfirmasi ttg apapun yg ada di Joglo Drama Mbah Brata, semoga apa yg kita lakukan bermanfaat untuk dapat mengembangkan seni peran.
      Tetapi perlu diketahui bahwa yang ditampilkan tersebut adalah analisis atas SETAN DALAM BAHAYA Saduran oleh: Dian Silaturachman yang dianalisis olehTaufiq Al-Hakim. Ya kalau analisisnya kurang pas…perlu dimaklumi.
      Kalau Dian punya niat menampilakn naskah asli utuh ya terima kasih…
      Salam..Mbah Brata

      Balas

  2. Eki Indradi
    Des 09, 2011 @ 05:42:22

    om buat sinopsisnya dunk aq da tugas suruh buat sinopsis naskah ini , tp males baca ^^

    Balas

  3. barbara.cieka
    Feb 08, 2014 @ 10:16:09

    boleh saya tahu skrip asli Setan Dalam Bahaya dalam penulisan Taufiq Al – Hakim?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR

Sastra Mampu Membuka Mata Hati dan Mata Pikiran Kita, Karena Sastra Adalah Refleksi Kehidupan Kita

Sobo sak paran-paran

Ini blog-blogan ...

Garis Edar-ku

Blog tentang seputar aktivitas kerjaku

@ReeMekarsari

Buat Saya, "Bahagia itu Sederhana" -Ree-

@MaureenMoz

live is an adventure. enjoy the ride.

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Enrichissez-vous!

enrich yourselves

Joglo Drama - Mbah Brata

Seni memanusiakan manusia, menjadikan manusia lebih manusiawi

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: