“LORONG”


(Naskah Telah Dipentaskan)

Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si.

Penata Konsep & Penanggung Jawab :

  1. Sutradara                              : Selvyana Mega Sari
  2. Stage Manager                    : Evia Rahmawati
  3. Staf Desainer Artistik

Desainer Tata Rias                          : Selvyana Mega Sari

Desainer Tata Suara                       : Eka Aprilia Susanti

Desainer Tata Busana (Kostum): Berty Kheda

Desainer Lighting (Tata Lampu): Nena Ridayati

Desainer Dekorasi Panggung       : Berty kheda,Evia ,  Rahmawati

  1. Staf  Properti Pementasan: Selviana Setia Rini,Eka ,  Aprilia Susanti
  1. KONSEP CERITA

“ LORONG “ adalah sejenis  drama dengan sedikit memasukkan unsur komedi. LORONG merupakan  karya Phutut Bukhori pada tahun 2004. Namun, kami telah mengadakan beberapa perubahan pada naskah ini untuk menyesuaikan dengan jumlah  pemain dan waktu.

  1. SINOPSIS CERITA

Pada  sebuah tempat yang kumuh dan kotor tinggallah orang-orang yang memiliki semangat hidup dengan kerja dan usaha. Namun ketenangan mereka terusik ketika seorang kontraktor ingin membeli tanah milik mereka untuk dijadikan tempat wisata. Sri Prantoro, anak buah dari pengembang sengaja menyebarkan virus penyakit di perkampungan itu dan berpura-pura mengobati mereka supaya mereka menganggap Sri Prantoro sebagai dewa penolong dan mau menjual tanah milik mereka pada Bu Pengembang.

  1. KONSEP PANGGUNG

Naskah ini mengambil setting tempat pemukiman kumuh dimana dekat dengan tempat pembuangan sampah terakhir.  Terdapat gubuk  yang sudah reot, yang dinding-dindingnya memakai kardus dengan atap terbuat dari seng. Di sekitar gubuk  tersebut terdapat tumpukan kardus, topi yang lusuh, keranjang untuk memungut sampah, terdapat barang-barang bekas yang tidak terpakai lagi seperti botol minuman, koran bekas, plastik, serta sampah lainnya. Sedangkan handproperty yang digunakan yaitu keranjang sampah untuk menaruh hasil memulung sampah, cuthe’an untuk mengambil sampah, dan karung.

  1. KONSEP BUSANA
  2. Sri Prantoro memakai baju kantoran, sepatu higheels warna hitam, dan bros supaya terkesan seperti orang penting.
  3. Bu Pengembang memakai baju kantoran, sepatu higheels warna hitam, dan bros supaya terkesan bijaksana.
  4. Para pemulung memakai baju compang camping atau kumel untuk mengesankan karakter seorang pemulung.
  5. Preman memakai kaos oblong, celana jeans, dan jaket untuk mengesankan seorang preman.
  1. KONSEP MUSIK
    1. Lagu Orang Lorong dengan diiringi gitar

Lagu ini diputar pada di awal dan di akhir cerita.

  1. Keyboard

Untuk suara efek dan musik eksternal.

  1. Jimbe

Untuk memunculkan suasana tegang di akhir cerita.

  1. KARAKTERISTIK PEMAIN

–        Sri Prantoro :

Licik, Pintar Bersandiwara, Kemayu, Suka Berbohong, Pandai  Menghasut, Cerewet dan sombong.

–        Bu Pengembang :

Bersikap acuh dengan orang bawah, Licik, Pendendam, Pintar berbohong dan Pendendam.

–        Lik Gombes :

Wibawa, Bijaksana dan Meneyelesaikan masalah dengan pemikiran yang matang.

–        Cipluk :

Emosi tinggi, Ingin urusan cepat selesai, Ingin dikasihani dan Egois.

–        Ati :

Sabar, Kalem,  Hati-hati dalam ucapan, Suka menasehati dan Suka mengasihi.

–        Ceples :

Semaunya sendiri dan Emosi tinggi.

  1. Plot

Naskah ini memiliki alur yaitu LINIER hal tersebut dapat penulis tuliskan karena cerita yang dimaksudkan berjalan runtut dari awal hingga akhir, sedangkan mengapa  penulis dapat menyebutkan dari awal sampai akhir karena awal cerita terjadi ketika tiba-tiba saja daerah kawasan kumuh terserang penyakit aneh yang hampir belum pernah terjadi di derah tersebut. Cipluk salah seorang waraga mengerang kesakitan. Teman-teman Cipluk panik, mereka mencoba untuk memanggil dukun, dokter, atau siapa saja yang terpenting kawannya bisa sembuh. Dan pada akhirnya datang Sri Prantoro yang berusaha untuk menyembuhkan Cipluk. Sri Prantoro berhasil menyembuhkan Cipluk. Semua warga Lorong sangat berterima kasih kepada Sri Prantoro. Namun dibalik halus budinya, ternyata Sri telah membuat skenario politik balas budi agar warga mau menjual tanah pada seorang investor.

Pembicaraan Sri dengan Bu Pengembang yang berdiskusi tentang rencana pembebasan tanah lorong ternyata didengar oleh salah seorang warga lorong yaitu Ceples. Ceples pun menceritakan semua kelicikan Sri Prantoro pada semua teman-temanya. Orang-orang lorongpun marah dan geram dengan ulah Sri tersebut. Wargapun membikin skenario untuk membalas kelicikan Sri Lik gombes mengusulkan agar warga lorong mengikuti saja permainan Sri prantoro. Kemudian Bu Pengembang datang dengan Sri Prantoro. Mereka menemui warga lorong. Setelah bernegosiasi panjang lebar, bahwa Bu Pengembang akan membeli tanah ini dengan harga standard dan memperkerjakan mereka sebagai karyawan. Akhirnya Cipluk sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Cipluk tiba-tiba menyerang Sri Prantoro juga diikuti dengan warga lain. Akhirnya Bu Pengembang memanggil orang berseragam. Mereka mengikat Sri Prantoro beserta warga lorong dan memasukkannya ke dalam gubuk. Kemudian membakar gubuk itu agar terkesan seperti kebakaran.

Gustav Freytag membagi unsur-unsur plot menjadi 5 yang meliputu hal-hal berikut:

  1. Eksposition atau pelukisan awal cerita

Saat pemulung pulang dari memungut sampah, dengan membawa tumpukan sampah di keranjangnya. Terdapat aktivitas memilah-milah sampah. Memisahkan botol-botol bekas, koran. Plastik. Serta kardus ke tempat yang berbeda.

  1. Komplikasi atau pertikaian awal

Ketika tiba-tiba saja daerah kawasan kumuh terserang penyakit aneh yang hampir belum pernah terjadi di derah tersebut. Cipluk salah seorang warga mengerang kesakitan. Teman-teman Cipluk panik, mereka mencoba untuk memanggil dukun, dokter, atau siapa saja yang terpenting kawannya bisa sembuh. Dan pada akhirnya datang sri Prantoro yang berusaha untuk menyembuhkan Cipluk.

  1. Klimaks atau titik Puncak Cerita

Terjadi saat pembicaraan Sri dengan Bu Pengembang yang berdiskusi tentang rencana pembebasan tanah lorong ternyata didengar olek salah seorang warga lorong yaitu Ceples. Ceples pun menceritakan semua kelicikan Sri Prantoro pada semua teman-temannya. Orang-orang lorongpun marah dan geram dengan ulah Sri tersebut.

  1. Resolusi atau penyelesaian atau falling action

Wargapun membikin skenario untuk membalas kelicikan Sri Prantoro, Lik gombes mengusulkan agar warga lorong mengikuti saja pemainan Sri prantoro.

  1. Catastrophe atau denoument atau keputusan

Saat Cipluk sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Cipluk tiba-tiba menyerang sri Prantoro juga diikuti dengan warga lain. Akhirnya Bu Pengembang memanggil orang berseragam. Mereka mengikat Sri Prantoro beserta warga lorong dan memasukkannya ke dalam gubuk. Kemudian membakar gubuk itu agar terkesan seperti kebakaran.

Pimpinan Produksi     : Drs. Heru Subrata, M.Si

Sutradara : Selvyana Mega Sari

Para Pemeran:

  1. Sri Prantoro              : Eka Aprillia Susan
  2. Lek Gombes              : Evia Rahmawati
  3. Cipluk                            : Selviana Setya Rini
  4. Ceples                           : Berty Kheda
  5. Ati                                    : Nena Ridayati
  6. Bu Pengembang     : Selvyana Mega Sari
  7. Preman 1                    : Rahmat Arifin
  8. Preman 2                    : Tri Juni Hartanto
  9. Preman 3                    : Teguh Budiono

SKENARIO

BABAK SATU

PADA SEBUAH TEMPAT: KUMUH, KOTOR. NAMUN TINGGAL DI TEMPAT TERSEBUT ORANG-ORANG YANG MEMILIKI SEMANGAT HIDUP DENGAN KERJA DAN USAHA.

Lagu orang lorong:

Lorong, Orang orang lorong

Bolong, Rumah kami bolong

Lorong, Orang orang lorong

Kosong, Nasib orang kolong

Kami yang di miskinkan oleh suatu sebab

Terpinggirkan di jurang kekalahan

Kami yang di kalahkan oleh suatu sistem

Tersingkirkan di ladang kami yang telah hilang

Kami yang lahir di tanah air subur makmur

Tapi hidup dan di besarkan di lahan kering kerontang

Tanah kami telah di rampas

Hak hidup entah telah di curi siapa?

Negeriku kaya, aku yang miskin

Bangsaku makmur, hidup kami yang hancur

Dasar Orang orang lorong

Beginilah nasib dan hidup

Yang harus tertindas

Kalah , kalah , kalah

TIBA TIBA SAJA DAERAH KAWASAN KUMUH ITU TERSERANG PENYAKIT ANEH, YANG HAMPIR BELUM PERNAH TERJADI DI DAERAH TERSEBUT. SALAH SEORANG WARGA MENGERANG KESAKITAN.

001. CIPLUK                            : (TERIAK KESAKITAN) Aug !!! kergh… aduh ulu hatiku, aduh kepalaku, aduh kakiku. Akh… Aduh.. akankan kematianku datang hari ini.

002. LIK GOMBES                 : Hus ! Jangan omong ngawur seperti itu, kalo Gusti Allah dengar, kuwalat kamu, bisa dicabut beneran.

003. CIPLUK                            : Tetapi ini sungguh sakit, aku tak kuat lagi.

004. CEPLES                             : Iktiar yu, dedonga biar sakitnya berkurang.

005. ATI                                      : (SESUDAH AMBIL MINUMAN DI KOLONGNYA) ini minum dulu biar tenang.

006. CEPLES                             : Iya ini di minum dulu, biar enteng.

ORANG YANG SAKIT MEMINUM AIR YANG DI BERIKAN TETANGGANYA, NAMUN AIR ITU TERASA PANAS DAN MEMUNTAHKANKEMBALI.

007. CIPLUK                            : Panas… Panas… racun… racun… (SEMAKIN MENGERANG KESAKITAN)

008. LIK GOMBES                 : Wah Kalau ini pasti Ayan !

009. ORANG YANG LAIN  : Hus !

010. LIK GOMBES                 : Kalau bukan ayan, pasti kesurupan.

011. CEPLES                             : Wah bisa jadi. (KEPADA YANG SAKIT) kamu tadi nguntal apa tho? Kok jadi kangsluban ? Kamu tadi dolanan dimana ? kok bisa kesurupan, sadar yu, sadar…..

012. LIK GOMBES                 : Sekarang panggilkan mbah karto dukun saja, biar di jampi-jampi.

013. CEPLES                             : Jangan mbah karto dukun, kurang ampuh. Lebih baik lik minah cucunya mbah kartono.

014. LIK GOMBES                 : Hus ngaco ! Lik minah itu dukun bayi !

015. CEPLES                             : Tapi pas selasa kliwon kemarin, dia juga bisa sembuhkan orang kesurupan.

016. LIK GOMBES                 : Nggak! dia itu cuma pura-pura menyembuhkan. Lha wong yang kesurupan waktu itu keponakannya sendiri, dan itu cuma bohong-bohongan, dia itu cuma akting menyembuhkan, dan keponakannya pura-pura kesurupan.

017. CEPLES                             : Tetapi mantra-mantra dan rapalannya mantep lho!

018. LIK GOMBES                 : Ngapusi, Bohong ! itu cuma ngawur.

019. ATI                                      : Lha wong saya lihat sendiri kok.

020. LIK GOMBES                 : Alah… malah cerigis. Sudah tho sekarang panggil mbah karto.

021. CEPLES                             : Aku tetep nggak  setuju kalau mbah karto, orang nya sudah pikun. Lik minah saja.

022. LIK GOMBES                 : Dasar Wong ngeyel !  Sudah dibilang minah itu dukun bayi ! sudah. Aku aku pergi panggil mbah karto.(HENDAK PERGI)

023. CEPLES                             : Sa’karebmu ! aku pergi panggil lik minah ! (HENDAK PERGI)

024. ATI                                      : Cukup ! temannya sakit malah ribut diskusi soal dukun.

025. LIK GOMBES, CEPLES             : Tetapi kita harus panggil dukun.

026. CIPLUK                            : (TERIAK LEBIH KERAS) Aku tidak kesurupan. Aduh jantungku, otakku, kupingku, tanganku, semua tambah sakit.

CIPLUK MENGERANG SEMAKIN KERAS KARENA SEMAKIN KESAKITAN, ORANG ORANG SEMAKIN BINGUNG HENDAK MELAKUKAN APA. HINGGA PADA AKHIR DATANG SESEORANG (PRANTORO) YANG BERPAKAIAN AGAK BERSIH DATANG MEMBANTU.

027. SRI PRANTORO           : Walah… walah gusti Allah, ada apa ini, ada apa kok ribut banget. Mbak-mbak ada apa ini…. ? apa butuh pertolongan ?

028. CEPLES                             : Wah kami betul-betul kewalahan mbak, kawan saya ini sakit luar biasa, tetapi kami tak dapat berbuat apa-apa.

029.SRI PRANTORO             : Gampang, jangan kuatir. Sebelum kita bersaudara lebih jauh. Perkenalkan, nama saya Sri Prantoro, kebetulan saya sedikit memiliki ilmu pengobatan, bersyukur sekali saya pernah dapat anugerah, di percaya untuk berguru pada seorang tabib dari China, dan masalah biaya tidak usah dipersoalkan.

030. ORANG-ORANG          : Terima kasih.., andaikan saja semua dokter seperti itu.

031. SRI PRANTORO           : Sekarang coba kuperiksa, barangkali cocok dengan gaya penyembuhan saya.

KEMUDIAN PRANTORO MEMERIKSA ORANG SAKIT, MENGANALISA DAN MEMBERI OBAT PADA CIPLUK. NAMUN CIPLUK MALAH SEMAKIN MENGERANG-NGERANG KESAKITAN.

032. CIPLUK                            : Wah ajaib, sembuh total. Saya sekarang tidak merasakan sakit apapun. (KEPADA SRI PRANTORO)  terima kasih mbak, terima kasih banget.

033. ORANG ORANG          : Terima kasih, terima kasih.

034. SRI PRANTORO           : Sudah.. jangan berlebihan begitu, ini hanya pertolongan kecil.

035. ORANG ORANG          : Tetapi tetep terima kasih, terima kasih.

036. SRI PRANTORO           : Iya, iya…, sekarang lebih baik saudara-saudara kembali bekerja, jangan buang-buang waktu hanya untuk mengucapkan terima kasih. Saya cukup senang kok membantu saudara-saudara.

037. ORANG ORANG          : Baik, terima kasih, terima kasih.

ORANG ORANG LORONG MULAI BERANGKAT BEKERJA MENINGGALKAN RUMAH LORONG MEREKA.

SRI PRANTORO YANG SEBELUMNYA TAMPAK HALUS BUDI, LEMAH LEMBUT, MULAI TAMPAK SIFAT LICIKNYA.

038. SRI PRANTORO           : Dasar orang-orang goblog, kena tepu prantoro kalian. Prantoro dilawan.

KEMUDIAN SRI PRANTORO MEMANGGIL SESEORANG : BU PENGEMBANG.

039. SRI PRANTORO           : Bagaimana ? Gampangkan?

040. BU PENGEMBANG    : Beres ?

041. SRI PRANTORO           : Beres ! Siapa dulu ? Sri Prantoro…. Menyelesaikan masalah tanpa masalah, tidak perlu susah-susah datanglah berkah.

042. BU PENGEMBANG    : Bagus… bagus…. Bagus.

043. SRI PRANTORO           : Inilah yang namanya politik balas budi. Jadi ibu pengembang yang terhormat, perlu ibu ketahui bahwa untuk rencana pembebasan tanah lorong ini, Sengaja saya sebarkan virus penyakit di daerah lorong ini, yang tentu saja sudah saya siapkan penawarnya. Sejak awal saya yakin kok, kalau orang orang lorong pasti kesulitan dalam pengobatan. Maklum, mereka kan cuma gembel. Nah pada saat yang tepat itulah, Sri Prantoro datang sebagai pahlawan penyembuan. mereka akan menganggap saya dewa mereka. Dan sekarang tinggal tunggu balas jasa mereka  saja….

044. BU PENGEMBANG    : Sip! Skenario penggusuran tanah rancanganmu memang sip. Seindah tempat tamasya yang hendak kita bangun disini, dan sengetop, ketenaran kita kelah. SIP.INDAH.TOP.

045. SRI PRANTORO           : Nah adegan dua, adegan pemilu… pertemuan milik umum.

046. BU PENGEMBANG    : (MENGANGGUK-ANGGUK)

047. SRI PRANTORO           : Kita bikin pertemuan antara Ibu dengan warga. warga akan saya provokasi untuk menerima kehadiran Ibu.

048. BU PENGEMBANG    : Lanjutkan…

049. SRI PRANTORO           : Yang perlu Bu pengembang ingat. Ibu di sini sebagai aktris, “AKTRIS”. Jadi Ibu di sini harus akting, “AKTING”. Pura-pura saja ibu akan membeli dengan harga  tinggi, kemudian akan membangun kawasan ini sebagai tempat rekreasi yang indah yang akan membuat harum nama bangsa. Kalau atas nama bangsa mereka pasti percaya bu. Kemudian Ibu janjikan mereka pekerjaan yang layak…

050. BU PENGEMBANG    : OK! Pastikan semua berjalan dengan lancar. (TERTAWA GEMBIRA)

051. SRI PRANTORO           : Oww.. pasti! Nah, saya kira adegan satu sudah cukup, silahkan Ibu kondur dan nantikan saja kabar selanjutnya. Selamat jalan.

BU PENGEMBANG SEGERA MENINGGALKAN TEMPAT KUMUH TERSEBUT. DENGAN SENYUM BANGGA AKAN KEPINTARAN DAN KELICIKANNYA, SRI PRANTORO JUGA MENINGGALKAN TEMPAT TERSEBUT.

SETELAH PRANTORO PERGI, TERNYATA ADA SALAH SEORANG PENGHUNI YANG MENDENGAR DAN MELIHAT SENDIRI AKAL LICIK SRI PRANTORO, PENGHUNI ITU BERNAMA CEPLES, MUNCUL DARI SALAH SATU SUDUT KAWASAN KUMUH DAN KOTOR ITU.

052. CEPLES                             : Kurang ajar, dasar begundal , sundal, kadal mangan sandal. Mentang mentang kami ini orang bodho lantas dibodohi. Kurang asem. Maling, ngaku pulisi. Iblis ngaku malaikat.

HARI TELAH PETANG, MALAM TELAH MENJELANG. ORANG ORANG LORONGPUN TELAH KEMBALI PULANG KE ISTANA KUMUH MEREKA. MESKIPUN DALAM KEADAAN LELAH SEHARIAN BEKERJA, MEREKA MASIH MEMILIKI RASA MARAH KETIKA CEPLES MENCERITAKAN KEJADIAN SESUNGGUHNYA YANG TELAH DI SKENARIO OLEH SRI PRANTORO. ORANG ORANG ITUPUN MENGADAKAN REMBUG KERE .

053. CEPLES                             : Gombal, gombal tenan, gombal mukiyo tenan, iblis, iblis tenan. Huh.. pingin aku remas-remas mukanya. Mentang mentang kita ini orang miskin, trus diperlakukan seenaknya.

054. CIPLUK                            : Saya yang lebih kecewa lagi, masak nyawa orang di permainkan, diatur oleh yang kuat, dipenggawe, memang kita ini boneka, saya nggak terima, akan saya lawan, saya hajar mati-matian.

055. LIK GOMBES                 : Tunggu dulu, sabar, sareh… marah ya marah, tapi jangan gedubrah gedubruh waton sasak sana sasak sini. Nesu bolah boleh saja tetapi jangan grusa grusu, aja kesusu.

056. CIPLUK                            : Lha piye saya harus sabar, saya yang kena tipu, saya yang dipermainkan.

057. LIK GANDUL                 : Kita semua kena tipu, kita semua yang di permainkan.

058. CIPLUK                            : Tetapi kan aku sing ketiban kuman, kena sakitnya, sakit yang sesungguhnya di sebarkan oleh si brengsek, tempe bosok itu. Emosi aku, marah tenan iki aku.

059. ATI                                      : Marah ya marah, tetapi mbok ya dengarkan dulu omongan lik Gombes ini. Siapa tahu dia punya cara jitu untuk meluapkan amarahmu.

060. CIPLUK                            : Lha marah je, bebas tho.

061. LIK GOMBES                 : bebas gundulmu, pluk… cipuk ! hei mbul, meski kita marah, kita emosi, nesu, kita sebagai orang yang berbudaya, orang yang punya sopan santun, punya adat yang adiluhung, kita ini masih punya aturan, masih memiliki tata krama tidak waton bebas.

062. CIPLUK                            : oalah entut lik !. orang bebas kok dilarang, lha wong mereka saja, orang-orang yang selalu berbudaya, juga setiap hari dengan bebasnya menginjak-nginjak harga diri kita. Mereka yang ngakunya pejabat negara, pemegang kekuasaan, pemegang tampuk pemerintahan, juga dengan bebas membiarkan kita miskin, terinjak-injak, dan banyak orang lagi yang dengan bebas dan cueknya  melupakan kita, anak-anak kita. Mereka rebutan uang, sementara orang seperti kita kelaparan. Tai kucing, tai kucing semua. Gitu kok kita nggak boleh bebas.

063. LIK GOMBES                 : Oalah Gusti Allah pangeran. Kok bisa-bisanya kamu bicara seperti itu. Seperti bukan orang beriman saja.

064. CEPLES                             : Sudah ! Sudah ! lha kok omongannya malah ngalor ngidul ra karuan. Kita kumpul di sini itu kan untuk bicarakan nasib kita.

065. ATI                                      : Iya sekarang lik Gandul biar ngomong dulu.

066. LIK GOMBES                 : Kita di sini memang marah, tidak terima dipermainkan. Tetapi kita kan tidak tahu apa maksud apa orang tadi pagi mempermainkan kita, kita tidak tahu tipuan apa yang sesungguhnya.

067. CEPLES                             : Benar Lik, kita tidak tahu udang di balik batunya.

068. LIK GOMBES                 : Nah ! untuk itu, kita telusuri saja dulu maksud-maksud itu. Dan ingat jaman seperti sekarang ini jangan grusa grusu pakai okol, tapi harus pakai akal. Kalau hanya pakai okol kita pasti mudah di perdaya. Gampang di adu domba.

069. ATI                                      : Terus yang akan kita lakukan apa lik ?

070. LIK GOMBES                 : Menunggu.

071. JAMBUL                          : Alah.. kesuwen lik, dan nggak jelas nunggu apa?

072. ATI                                      : Kita nunggu apa lik ?

073. LIK GOMBES                 : Kita tunggu kedatangannya.

074. ORANG ORANG          : Siapa lik ?

075. LIK GOMBES                 : Ya orang yang tadi pagi ngadalin kita.

076. CIPLUK                            : Lha kok kamu yakin, justru dia yang akan datang.

077. LIK GOMBES                 : Lha sudah jelas-jelas kelihatan tho?

geliat gelagatnya kadal satu itu

Mereka ingin bermain, kita ikuti permainnya. Pura-pura saja kita tidak tahu apa-apa, bersikaplah biasa-biasa saja.

078. SRI PRANTORO           : (TIBA-TIBA MUNCUL) Selamat malam saudara-saudaraku tercinta.

079. LIK GOMBES                 : Oh selamat malam, silahkan.. silahkan mampir….

080.  SRIPRANTORO           : Terima kasih, kebetulan saya lewat, dan saya sempatkan mampir. Bagaimana yang sakit pagi tadi, sudah sembuh ?

081. CIPLUK                            : Sukurlah mas, tidak kambuh lagi.

082. SRI PRANTORO           : YA baguslah…

083. LIK GOMBES                 : Lha kok njanur gunung di sempatkan mampir segala, ada yang bisa kami bantu, sebagai rasa ucapan terima kasih akan kami bantu semampunya.

084. CEPLES                             : Ya, kalau cuma bantuan tenaga, kami masih bisa kok..

085. SRI PRANTORO           : Bukan, kami kesini bukan bermaksud akan merepotkan saudara-saudara di sini kok. Saya hanya ingin berkunjung, silaturahmi. Hanya itu, tidak lebih. (TIBA-TIBA SUARA PONSEL PRANTORO BERBUNYI, DAN DIA MENJAWAB PANGGILAN TERSEBUT)  Oh.. ya… sudah.. beres.. pasti beres kalau ditangan saya, ibu gak usah kuatir…. tidak lama…. paling dalam hitungan hari… iya… terima kasih ibu.

086. SRI PRANTORO           : Maaf, sahabat bisnis saya sedang membutuhkan keahlian saya. Oh ya bu, saya lewat kampung sini, sebenarnya sedang mencari desa LOH IJO

saya sudah mondar mandir kesitu kesini kok tidak ada papan nama desa LOH IJO.

087. LIK GOMBES                 : Yah kebetulan, desa kami ini namanya LOH IJO, dan kami memang tidak memasang papan nama, karena memang kecuali kami miskin, toh juga tida ada yang bakal berkepentingan dengan orang-orang semacam kami.

088. SRI PRANTORO           : Oh, kebetulan sekali, kebeulan yang betul-betul tak terduga.

089. LIK GOMBES                 : Memang ada kepentingan apa mbak?

090.SRI PRANTORO             : Yah kebetulan ada seorang investor yang tertarik untuk bekerjasama dengan masyarakat desa LOH IJO ini, dan beliau investor ini sangat ingin bertatap muka dan berdiskusi dengan warga di sini.

091. LIK GOMBES                 : Kebetulan mbak, kami ini cukup bisa mewakili masyarakat desa LOH IJO ini, saya sendiri dipercaya untuk koordinir daerah tengah, Jambul kawan saya yang  tadi pagi sakit ini, mengkoordinir kawan-kawan pemulung di desa ini.

092. SRI PRANTORO           : walah-walah, saya ini kok seperti ketiban ndaru berturut-turut. Lha kalau begitu langsung saja kita bahas. Kebetulan saya yang di percaya untuk penjadwalan.

093. LIK GOMBES                 : kalau pertemuan itu bermaksud baik untuk kepentingan semua, ya bolah boleh saja.

094. SRI PRANTORO           : Bagaimana kalo besok?

095. ORANG ORANG          : Besok ?

096. SRI PRANTORO           : Ya lebih cepat lebih baik. Tetapi jangan kuatir, uang penghasilan besok akan kami ganti dua kali lipat, jadi saudara-saudara tidak perlu bekerja dulu.

097. CIPLUK                            : Kalau begitu sih oka oke saja.

098. LIK GOMBES                 : Ya kalau memang maunya demikian, tidak masalah.

099. PRANTORO                    : Besok jam 9 pagi ya? (MENINGGALKAN PERKAMPUNGAN ITU) Adegan selanjutnya segera di mulai, skenario berjalan mulus. (PERGI)

100. LIK GOMBES                 : Nah benarkan? Pasti ada maunya.

101. ATI                                      : Pura-pura saja cari alamat, pura-pura ini,itu, ah.. gombal.

102. CEPLES                             : Terus sekarang bagaimana lik?

103. LIK GOMBES                 : Kita ikuti permainannya, mari kita susun di dalam saja, ntar malah ada mata-matanya.

KEMUDIAN ORANG ORANG LORONG ITU, MASUK DALAM SALAH SATU GUBUK YANG ADA DI SITU.

BABAK  2

PAGI HARI, ORANG ORANG LORONG TELAH BERSIAP MENGADAKAN PERTEMUAN DENGAN ROMBONGAN INVESTOR.

ROMBONGANPUN TIBA.

104. LIK GOMBES                 : Monggo, silahkan, silahkan …, tetapi maaf apa adanya, sebab kami memang tidak memiliki tempat yang layak.

105. BU PENGEMBANG    : Tidak apa-apa, kami kesini memang dengan konsep merakyat, jadi duduk di kursi darurat, tidak masalah.

106. CEPLES                             : alah Ibu ini seperti pejabat saja, kalau pas perkenanalan sok merakyat, kalau sudah jadi pejabat, nggak bakalan kenal rakyat, melirikpun kagak bakalan.

107. ATI                                      : Hus.

108. BU PENGEMBANG    : Kami kesini tidak akan sok, sok diatas, sok kuasa, sok kaya, sok-sokan lah. Kami kesini kan bertujuan mengajak kerja sama, jadi posisi kita sama.

109. LIK GOMBES                 : Terima kasih kalau memang Ibu sekalian berkehendak demikian. Mungkin bisa langsung kepada pokok persoalan.

110. BU PENGEMBANG    : Begitu lebih bagus. Jadi kami sengaja ke sini untuk kerja sama, adapun kerja sama yang kami tawarkan adalah pengelolaan sebuah tempat pesiar yang elok nan indah dipandang. Tim sukses kami telah berembuk berbulan-bulan tentang proyek ini, yakni akan membangun sebuah taman pesiar yang termegah sepanjang sejarah.

111. LIK GOMBES                 : Terus kerja sama yang di ingini ?

112. BU PENGEMBANG    : kami akan beli semua tanah di sini dengan harga yang cocok, kami tidak akan menggusur, tetapi kami akan menempatkan penduduk disini sebagai bagian dari pesiar itu, akan kami rombak, renovasi perkampungan di sini menjadi perkampungan wisata.

113. ATI                                      : Lantas kami di situ harus bagaimana?

114. CEPLES                             : Apa akan di jadikan pajangan “pameran orang miskin” mungkin ?

115. BU PENGEMBANG    : Bukan, bukan pajangan, tetapi sebagai pekerja.

116. CIPLUK                            : Sebagai pemungut sampah seperti pekerjaan kami sekarang ini?

117. BU PENGEMBANG    : Bukan,bukan.. Seamua akan kami pekerjakan selayaknya karyawan.

118. LIK GOMBES                 : tetapi kami kan tidak memiliki pengalaman dan keahlian?

119. BU PENGEMBANG    : Gampang, gampang itu bisa diatur, bekerja itu tidak membutuhkan keahlian kok, yang penting koneksi. Kami akan atur sedemikian rupa sehingga….

120. CIPLUK                            : (SUDAH TIDAK KUAT MENAHAN AMARAHNYA SEJAK TADI) sudahlah pak tidak usah basi basi, tidak usah akting di depan kami, (MARAH) kami semua disini sudah tahu akal bulus,rencana busuk kalian. Kami sudah mendengar semua tentang rencana penggusuran ini. Jadi bapak ngggak usah basa basi, kerja sama segala, tai kucing. Kami disini tidak akan setuju apapun rencana bapak, hanya tipu-tipu belaka, jadi karyawan, jadi budak sama saja, mau di beli, mau di rampas, mau diambil, dan apapun bahasanya, tetap saja kami ini akan di gusur, di singkirkan, di tendang. Dan saya tau bajingan mana yang turut berperan.

121. BU PENGEMBANG    : Lho Pran, kok mereka tau rencana kita ?

122. SRI PRANTORO           : Saya juga tidak tahu bu, aduh kenapa jadi melenceng dari skenario?

123. CIPLUK                            : Prantoro, kamu memang begundal, yang tega dengan sesama, dan orang seperti kamu ini pantas mati !

TERJADI KEGADUHAN, JAMBUL TIBA-TIBA MENYERANG PRANTORO.

124. CIPLUK                 : (SAMBIL MEMUKULI PRANTORO) Ini biang keladinya.

SAAT SUASANA SEMAKIN GADUH, BU PENGEMBANG MEMBERIKAN KODE KEPADA PREMAN YANG DIBAWANNYA UNTUK KELUAR DAN MEMBERESKAN PARA PEMULUNG ITU.

AKHIRNYA PREMAN-PREMAN DENGAN SANGAT ANARKIS MELUMPUHKAN ORANG-ORANG LORONG ITU. ORANG ORANG LORONGPUN TETAP SAJA MENJADI ORANG KALAH.

125. PREMAN 1            : Mereka sudah dilumpuhkan bu…

126. BU PENGEMBANG    : Ya. Bungkam dan Ikat mereka semua, masukkan dalam gubuk mereka masing-masing dan bakar perkampungan ini. Biar terkesan kebakaran.

127. PREMAN                         : (MENGANGGUK DAN BERTINDAK)

128. PREMAN 2                     : Prantoro bagaimana bu ?

129. BU PENGEMBANG    : Biar saja mati membusuk dengan lukanya, biar sekalian jadi makanan anjing liar.

ORANG ORANG LORONG, TERBUNGKAM, TERIKAT, DIBAKAR SEKALIAN RUMAHNYA.

130. LAGU KALAH ORANG ORANG LORONG:

Orang orang lemah

Orang orang kalah

Tak mungkin kami melawan

Hanya ajal yang terjelang

Orang orang lorong

Tetap saja kosong

Tak ada harapan

Tak pernah ada kepastian

Kami yang kalah

Kami yang tersingkir

Kami yang selalu terpinggir

———————————-THE END———————————–


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR

Sastra Mampu Membuka Mata Hati dan Mata Pikiran Kita, Karena Sastra Adalah Refleksi Kehidupan Kita

Sobo sak paran-paran

Ini blog-blogan ...

Garis Edar-ku

Blog tentang seputar aktivitas kerjaku

@ReeMekarsari

Buat Saya, "Bahagia itu Sederhana" -Ree-

@MaureenMoz

live is an adventure. enjoy the ride.

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Enrichissez-vous!

enrich yourselves

Joglo Drama - Mbah Brata

Seni memanusiakan manusia, menjadikan manusia lebih manusiawi

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: