“Pangeran Mendem”


(Naskah telah dipentaskan)

1.   Judul Cerita

“ PANGERAN ROTE MENDEM”

( PANGERAN ROTE TERGILA- GILA PEREMPUAN JAWA )

Cerita Oleh: Eva Rara Puspita Agustin

2. Pengorganisasian

Pimpinan Produksi    : Drs. Heru Subrata, M.Si

Sutradara                     : Eva Rara Puspita A.

Asisten Sutradara        : Nurul Ayni

Sekretaris                    : Devi Wahyu Ertanti

Bendahara                   : Fitriatul Maulidiah

Pencatat Adegan         : Ardita Kurniasari

Penata Panggung        :  M. Yusuf

Penata Rias & Busana : Herrlys Maghdalena

Penata Musik              : Mareta Dellarosa

3.
Tokoh

  1. Ayub Mallesy sebagai Pangeran George Mallesy (Jono)
  2. Elita Ticianingrum sebagai Centini
  3. Wendri Wiratsiwi sebagai Bu Poniyem
  4. Banu Prasetyo sebagai Pak Paijo
  5. JhonTomb J. Djabal sebagai Raja Mallesy
  6. Natalia Selfin Sebagai Ratu Mallessy
  7. Mensiana Murti sebagai Julia

4.      Konsep cerita

Cerita yang berjudul “Pangeran Rote Mendem Wedokan Jawa” ditulis oleh Eva Rara Puspita
A. Konsep cerita ini adalah cerita percintaan  yang menggambarkan sebuah cerita yang sering ditemui di sekitar kita namun diselingi dengan unsur-unsur romantisme
percintaan sehingga tidak terasa membosankan bagi penikmat drama. Perbedaan suku serta kebudayaan yang masih saja menjadi penghalang bersatunya cinta mewarnai kisah c erita ini.

5.      Sinopsis cerita

Kisahtentang seorang pangeran yang tinggal di kerajaan Mallesy di Rote yang ingin
mencari kehidupan dan cinta yang sesungguhnya. Pangeran adalah anak semata
wayang raja dan ratu Mallesy. Di kerajaannya pangeran selalu mendapatkan apa
saja yang dia inginkan, bahkan seorang perempuan pun dengan sangat mudah ia
dapatkan.

Suatu ketika pangeran merasa bosan dengan kehidupannya di dalam kerajaan. Pangeran melarikan diri dari kerajaan dan merantau tanpa tujuan yang jelas. Akhirnya pangeran sampai di Pulau Jawa. Di perantauan pangeran tidak memiliki sanak saudara untuk tempat tinggal, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu paruh baya yaitu Bu
Poniyem menghampiri pangeran. Bu Poniyem menawarkan agar pangeran tinggal dan bekerja membantu suaminya di sawah.

Ketika membantu Pak Paijo suami Bu Poniem di sawah pangeran melihat seorang gadis desa yang memiliki paras cantik. Pangeran mengajak berkenalan gadis desa itu dan akhirnya menjadi sepasang kekasih. Seiring berjalannya waktu munculah Julia,
dia adalah putri dari kerajaan di Rote yang di jodohkan dengan pangeran. Dengan
datangnya Julia terbongkarlah rahasia yang dimiliki pangeran selama ini ia
sembunyikan dari semua orang. Centini sangat terkejut ternyata yang menjadi
kekasihnya selama ini adalah seorang pangeran. Selain Julia datang juga Raja dan
Ratu Mallesy. Mereka memaksa pangeran untuk kembali ke kerajaan Mallesy dan
menikah dengan Julia, karena jika pangeran tidak menikah dengan Julia semua
rakyatnya akan menderita kelaparan dan akan meninggal. Mendengar itu Centini
merasa miris dan memutuskan untuk meninggalkan pangeran yang sangat ia cintai
agar mau kembali ke kerajaannya dan menikah dengan Julia. Akhirnya pangeran
kembali ke kerajaannya dan menikah dengan Julia demi rakyatnya.

6.      Konsep panggung

Cerita ini terdiri dari 5 babak. Babak pertama adalah jalan pinggir sawah, babak kedua
adalah rumah pak Paijo dan Bu Poniyem, babak ketiga adalah sawah, babak keempat adalah rumah pak Paijo dan Bu Poniem, dan babak kelima adalah jalan pinggir sawah. Konsep panggung ini dibuat sederhana namun dapat mewakili dengan jelas jalan cerita yang ditampilkan.

Pada babak
pertama setting panggung adalah jalan pinggir sawah. Di atas panggung  terdapat

  1. Sarung
  2. Baju- baju (dimasukkan di dalam sarung)
  3. Bakul isi sayur
  4. Rumput

Pada babak kedua di rumah pak Paijo dan Bu Poniem. Setting adalah
sebuah ruang keluarga yang terdiri dari:

  1. Kursi panjang
  2. Meja
  3. Tikar
  4. Kendhi
  5. Bak  dan baju
  6. Pisau, bawang, dan telenan
  7. Lampu tempel

Pada babak ketiga di sawah. Setting di atas panggung terdapat

  1. Cangkul
  2. Pohon ketela
  3. Rumput
  4. Rantang isi makanan
  5. Kendhi
  6. Bakul
  7. Karung

Pada babak keempat di rumah pak Paijo dan Bu Poinem. Setting adalah sebuah ruang keluarga yang terdiri dari:

  1. Kursi panjang
  2. Meja
  3. Tikar
  4. Kendhi
  5. Bak dan baju
  6. Pisau, bawang, dan telenan
  7. Lampu tempel
  8. Kacang panjang
  9. Bakul dan singkong

Pada babak kelima di jalan pinggir sawah. Di atas panggung terdapat

  1. Sarung
  2. Baju- baju (dimasukan dalam sarung)
  3. Bakul isi sayur
  4. Rumput
  5. Rantang

7.      Konsep busana

  1. Pangeran George (Jono) Kaos, celana
    panjang kain, caping.
  2. Centini, Kebaya, jarik
  3. Bu Poniyem Kebaya, jarik, daster, batik, caping
  4. Pak Paijo Kaos oblong, peci, sarung, celana panjang, caping
  5. Julia Kebaya modern, kain songke, selendang, pita, sepatu
  6. Raja Mallesy, Songke, celana hitam, sapu (kepala), baju putih lengan panjang, selendang, sepatu hitam, keris, kain merah
  7. Ratu Mallesy Kebaya ibu, songke, selendang, pita, sepatu hitam, gelang, sanggul

8.      Penokohan

  1. Pangeran Seorang yang pemberani, teguh pendirian, baik hati, rendah hati dan berparas tampan.
  2. Centini, Wanita yang berparas cantik, lembut dalam bertutur kata, sopan, rendah hati.
  3. Bu Poniyem Wanita yang enerjik, bersemangat, baik
    hati, suka menolong, penyayang. Gaya bicaranya medok jawa.
  4. Pak Paijo, Rendah hati, penolong, penyabar.
  5. Julia, Seorang putri raja yang ketus dalam berbicara.
  6. Raja Mallesy Raja yang tegas, memaksakan kehendak pada pangeran.
  7. Ratu Mallesy Penyayang, lembut.

8.      Konsep musik

Narrator  Jimbe Marakas

Babak I

Babak II, Suara jangkrik, Suara ayam berkokok

Babak III, Suasana pedesaan (suara burung),  Terpesona

Babak IV Musik, lucu

  1. Dia
    Dia Dia

Babak V

  1. Musik-musik garang/marah. 2. Saat terahir ST 12

PANGERAN ROTE MENDEM WEDOKAN JAWA

(PANGERAN ROTE
TERGILA- GILA PEREMUAN JAWA)

Cerita ini
bermula dari seorang pangeran kerajaan rote yang sangat kaya.
Dia berniat hijrah ke pulau jawa untuk mencari jati
diri dan membebaskan diri dari tekanan dan aturan keluarganya
.

Babak 1

  1. Pangeran         : “ ya,,,,,,,, akhirnya aku sampai juga
    di pulau Jawa ini” (pangeran merasa lega dan senang  karena telah sampai di pulau jawa)
  2. Bu
    poniyem     : “  kisanak, kelihatannya kamu bukan orang asli
    daerah ini,,,dari mana kamu berasal? (tanya bu poniyem dengan heran)
  3. Pangeran         : “ iya bu saya memang bukan dari sini,
    saya datang dari pulau rote bu, NTT”
  4. Bu
    poniyem     : “ Rote? Mana itu. Kok ibu
    tidak tahu ya? Dimana itu rote?”
  5. Pangeran         : “ Rote buk, Rote itu di NTT”
  6. Bu
    poniyem     : “oalah, ibu nggak tau nak. mau apa kamu anak muda di pulau Jawa ini? Dan dimana
    kamu tinggal sekarang?
  7. Pangeran         : “saya ingin mencari pekerjaan bu, dan
    saya sebatang kara disini. Saya tidak punya keluarga atau saudara disini”
  8. Bu
    poniyem     : “o, kalau begitu kamu ikut
    ibu pulang saja anak muda. Nanti kamu juga bisa kerja dengan suami ibu”
  9. Pangeran         : “ o begitu ya bu”

Akhirnya
pangeran dan bu poniyem meninggalkan sawah tempat mereka
bertemu.

Babak 2

Sesampainya
di rumah bu poniyem, pangeran bertemu dengan pak paijo.

  1. Bu poniyem     : “ pak, pake nandi kowe pak. Iki lho pak
    onok tamu” ( bu ponijem mencari pak paijo)
  2. Pak paijo         :” ono opo to  bu, tamu sopo?” (pak paijo keluar dari
    kamarnya)
  3. Bu poniyem     : “
    iki lho pak, onok bocah bagus. Ki lho pak”

Pangeran
hanya tersenyum karena tidak paham dengan apa yg mereka katakan. Pak paijo
mendekati pangeran.

  1. Pak paijo         : “ sopo kowe bocah bagus?”
  2. Pangeran         : “ maaf pak, saya tidak bisa bahasa
    jawa.”
  3. Bu poniyem     : “ pak, cah bagus iki gak iso boso jowo.
    Cah bagus iki soko Rote pak, NTT. Dadi mulai dino iki ojo gawe boso jowo nggeh
    pak….” (bu ponijem memberi pengertian ke pak paijo)
  4. Pak paijo         :
    “Rote? Rote iku ndi seh buk? Mana buk?”
  5. Bu poniyem     : “
    Lha yo mboh pak, ibu juga gak paham. Ya bapak tanya sendiri”
  6. Pak paijo         : “ siapa namamu cah ganteng? Dan
    mengapa kamu datang ke pulau Jawa?”
  7. Pangeran         : “ nama saya George pak”

Pangeran
agak kebingungan menyebutkan nama aslinya yaitu pangeran George Malessy. Dimana
malessy adalah nama kebangsaan ayahnya Raja Malessy yang sangat terkenal di
negara NTT.

  1. Pak paijo         : “siapa nak, jono?”
  2. Pangeran         : “bukan pak, George”
  3. Pak paijo         : “ walah,
    susah sekali namamu nak”
  4. Pangeran         : “
    George pak. G E O R G E” (pangeran mengeja namanya)
  5. Pak paijo         :
    “ya sudah
    bagaimana kalau mulai sekarang kami panggil kamu
    jono saja”
  6. Pangeran         : “ow, iya bu. Tidak apa- apa. Saya
    sangat senang sekali.”
  7. Pak paijo         : “lha kamu mau kerja apa nak di pulau
    Jawa? Di jawa belum ada perusahan- perusahan besar, adanya ya hanya sawah-
    sawah ini”
  8. Bu poniyem     : “ lha gimana kalau si jono ini kita suruh
    kerja di sini saja pak?? Membantu bapak di sawah, membantu bapak menanam jagung,
    singkong, dan tanaman- tanaman lainnya. Kan lumayan pak, selama ini kita tidak
    punya anak. Nanti dia juga bisa membantu ibu membawakan barang- barang hasil
    sawah ke pasar untuk dijual. Bagaimana nak jono, mau apa tidak?”
  9. Pangeran         : “ iya bu, saya sangat senang sekali,
    saya sangat senang bisa bekerja disini” (wajah pangeran sngat senang sekali,
    dia merasa akan mendapatkan kehidupan sesungguhnya dari hasil jerih payahnya)
  10. Pak paijo         : “lho lho bu, piye to. lha jono itu
    siapa kita tidak tahu e. Lha nanti kalau dicari keluarganya bagaimana?”
  11. Bu poniyem     : “westala pak… jono itu tidak punya
    keluarga atau saudara pak. Lagian jononya juga mau to, iya to nak jono?” (bu
    poniyem menegaskan pertanyaannya ke jono)
  12. Pangeran         : “ iya pak, bu saya sangat senang
    sekali. Bisa bekerja di sawah, membantu ibu ke pasar. Itu hal yang menarik
    sekali bagi saya”
  13. Bu ponijem      : “ ya sudah kalau begitu, sudah malam.
    Kalian istirahat saja. Besok pagi nak Jono bangun pagi membantu bapak ke sawah,
    setelah itu membantu ibu membawa barang dagangan ke pasar, kamu tidur sama
    bapak di sini saja, ibu tidur dikamar.maklum kami hanya punya 1 kamar”

Bu
poniyem masuk ke kamarnya. Jono dan pak paijo memposisikan tidur diruang tamu.

Keesokan
harinya ibu membangunkan pak paijo dan jono.

  1. Bu poniyem     : “pak bangun pak, sudah pagi. Jono bangun
    sudah pagi nak. Malu sama ayam yang berkokok, nanti rejekinya d patok ayam lho”

Pak
paijo dan jono pun segera bangun.

  1. Pak paijo         : “iya bu iya, kami bangun. Ibu siapkan
    bekal buat bapak dan jono, nanti kami sarapan di sawah saja”
  2. Pangeran (jono) : “kita ke sawah sekarang pak?”
  3. Pak paijo         :
    “iya nak, kita berangkat sekarang saja. nanti bekalnya di kirim ibu ke sawah”
  4. Jono                 :
    “ o iya pak”
  5. Pak paijo         :
    “buk, kami berangkat dulu. Nanti bekalnya di kirim ya buk”
  6. Bu poniyem     :
    “iya pak iya. Inggih”

Ibupun
segera pergi ke dapur, dan mulai memasak. Ibu juga melanjutkan pekerjaan mencucinya.

 

Babak 3

Sepanjang
perjalanan menuju sawah bapak dan jono saling mengobrol tentang keadaan-
keadaan di desa itu.

  1. Jono                 : “bapak, sawah bapak yang mana?
    Masih jauh ya pak? (jono merasa kelelahan)
  2. Pak paijo         :” itu lho nak sudah dekat” ( sambil
    menunjuk sawah di depan mereka)
  3. Jono                 : “kalau sawah seluas ini milik
    siapa ya pak?” (jono menunjuk sawah yang dilewatinya)
  4. Pak paijo         : “ o, yang itu. Itu sawah juragan
    kasmo, penguasa di desa ini. Kekayaannya sangat terkenal di pulau Jawa” (pak
    paijo menerangkan dengan jelas)

Setelah
sesampainya di sawah pak Paijo, merekapun
segera menggarap sawah. Saat itu adalah musim singkong. Jono dan pak paijo
mencabuti singkong di sawahnya untuk dijual bu poniyem nanti sore di pasar.

  1. Jono                 : “ pak, bagaimana cara
    mengambil singkong ini pak”
  2. Pak paijo         : “begini lho nak” (pak paijo memberi
    contoh mencabut singkong)

Setelah
mereka merasa kelelahan, merekapun istirahat.

  1. Pak paijo         :” ayo nak istirahat dulu.”
  2. Jono                 : “ o iya pak” ( jono sangat
    setuju)
  3. Pak paijo         :
    “ibu mana ya nak, jam segini kok belum datang”
  4. Jono                 :
    “iya pak panas sekali hari ini”

Ibu
poniyem datang kesawah mengirim sarapan ke Pak Paijo dan Jono.

  1. Bu poniyem     : “ pak, pake ini lho bekalnya”
  2. Pak paijo         :
    “ o iya iya. Terimakasih ya bu”
  3. Jono                 :
    “ iya bu, terimaksih”
  4. Bu poniyem     :
    “iya, iya. Wes, dimakan dulu bekalnya. Nanti pulangnya jangan sore- sore ya.
    Ibu pulang dulu ya”
  5. Pak paijo         :
    “o iya buk”
  6. Jono                 : “iya bu”

Merekapun
memakan bekal yang yang di kirim bu ponijem. Tak lama kemudian ada segerombolan
gadis desa yang lewat di sawah pak paijo. Jono segera menghentikan makannya,
dan bertanya ke pak paijo.

  1. Jono                 : “pak, gadis- gadis itu siapa
    pak? Mengapa mereka bersama- sama ke sawah”. (jono heran)
  2. Pak paijo         : “ o, gadis- gadis itu. Mereka adalah
    gadis desa sini yang bersama- sama pergi ke sawah untuk membantu memanen hasil
    panenan salah satu penduduk. Kenapa? Suka ya kamu?” (pak paijo menggoda Jono)
  3. Jono                 :
    “ah bapak ada- ada saja” (jono malu)
  4. Pak paijo         : “sudah, ayo sudah siang. Ayo kita
    pulang. Pasti ibu sudah menunggu singkong kita”
  5. Jono                 : “o iya pak, bapak duluan.
    Nanti saya menyusul”
  6. Pak paijo         : “ ya sudahlah. Nanti bawa singkongnya
    ya. Nanti langsung berikan ibu. Bapak mau cangkrukan dulu di warung Pak Ucup”

Pak
paijo meninggalkan jono sendirian di sawah.

  1. Jono                 : “siapa gadis- gadis tadi ya,
    aku sangat penasaran untuk mengenalnya. Sosoknya begitu anggun mempesona,
    wajahnya mengalihkan duniaku. Tak ada gadis seanggun itu di rote. Kira- kira
    nanti dia mau tidak ya menikah denganku. Apa dia juga tertarik padaku, seperti
    gadis- gadis rote yang selalu mengejar- ngejar aku? Ah aku pulang saja…”
    (jono berbicara sendiri)

Di
perjalanan pulang jono bertemu lagi dengan gadis desa itu yang telah merebut
hati jono. Gadis itu hanya memberikan senyuman manis pada Jono. Dengan
memberanikan diri jono mulai mendekati gadis itu.

  1. Jono                 : “emm…. permisi, kalau boleh
    tahu nama kamu siapa ya?” (jono bertanya dengan gemetar)
  2. Centini                        : “Centini” (langsung
    bergegas meninggalkan jono)
  3. Jono                 : “waduh sialan, baru kali ini
    aku belum selesai bicara sudah ditinggalkan oleh perempuan” (jono terus
    bergumam sendiri)

Jono
segera bergegas pulang dan langsung menemui bu poniyem.

Babak 4

  1. Jono                 : “bu ibu. ibu dimana. Ayo kita
    kepasar bu…..”
  2. Bu poniyem     : “hari ini, kita tidak usah ke pasar cah
    bagos”
  3. Jono                 : “lho, mengapa bu? ibu sakit?”
  4. Bu poniyem     : “enggak, ibu sehat bugar kok, cuman nanti
    hasil kebun kita mau diborong sama juragan tanah itu, itulo juragan Kasmo.
    Nanti anak perempuannya dan pembantu- pembantunya yang akan mengambil dirumah
    kita”
  5. Jono                 : “ o iya bu,
    saya boleh tanya gak?”
  6. Bu poniyem     : “tanya apa to nak, ya tanya saja. mau
    tanya saja kok laporan”
  7. Jono                 : “ gadis desa ini yang sering
    lewat sawahnya bapak itu siapa to bu?
  8. Bu poniyem     : “gadis yang mana to? ya banyak to. semua
    gadis di desa ini membantu orang tuanya di sawah”
  9. Jono                 :” o, ya nggak tahu sih bu.
    Tapi gadis itu sangat anggun sekali bu. Sangat ayu. Pokoknya cuantik”
  10. Bu poniyem     : “ walah jon jon. Kamu ini ada- ada saja.
    lha ya banyak to gadis yang seperti itu. Wes ndang disiapkan ubinya. Dimasukkan
    karung, nanti biar gampang bawanya”

Jono
segera bergegas memasukkan singkong- singkong pesanan juragan Kasmo kedalam
karung. Tak lama berselang suruhan- suruhan juragan kasmo datang.

  1. Centini                        : “kulonuwun, buk,
    permisi”
  2. Bu poniyem     : “ owalah nak Centini, mau ambil pesanan
    bapakmu ya nduk?”
  3. Centini                        : “inggih buk”
  4. Bu poniyem     : “lha kok piyambakan to? lha yang bantu
    bawa nanti siapa?”
  5. Centini                        : “ saya sama teman saya
    kok bu, nanti bisa kok. Kami bawa berdua”

Di
sudut ruangan ada jono yang hanya terperanga, dia tidak menyangka kalau si
bidadari pujaan hatinyalah yang datang kerumahnya.

  1. Bu poniyem     : “jon jono, nak jono bawa singkongnya
    kesini nak. Ini lho sudah mau diambil mbak Centini”

Jono
dengan perasaan bercampur aduk mendekati Centini.

  1. Bu poniyem     : “ o iya, sek sebentar ya nak Centini. Ibu
    lupa, bapakmu juga pesan kacang panjang. Sebentar ibu ambilkan di belakang” bu
    poniyem meninggalkan mereka di ruang tamu.
  2. Jono                 : “ kau kah gadis yang pernah
    ku temui di sawah itu? Centini?”
  3. Centini                        : (Centini tersenyum
    manis) “ iya, dan kau jono bukan?pemuda yang tidak punya sanak saudara di Jawa.
    Keluargamu hilang setelah ada perang di negaramu?”
  4. Jono                 : “mengapa kau tau selengkap
    itu tentang aku? “ (jono heran)
  5. Centini                        : “ kampung ini sempat
    geger dengan kedatanganmu pemuda, mereka menganggap kau adalah  musuh yang menyusup di negara jawa kami. Tapi
    ternyata mereka salah. Kau adalah pemuda yang baik.”

Bu
poniyem keluar dari pintu belakang dan membawa kacang panjang titipan juragan
kasmo.

  1. Bu poniyem     : “ nduk, kacang panjangnya hanya segini,
    gak papa ya nduk. Nanti berikan saja ke bapakmu. Sampaikan maaf ibuk ke bapakmu
    ya nduk”
  2. Centini                        : “ o iya ibuk, tidak
    apa- apa kok. Segini juga sudah cukup. Ya sudah ibuk saya pamit dulu. Permisi.
    Terima kasih ya ibuk”

Centini
meninggalkan rumah bu poniyem.

  1. Jono                 : “ bu, lha itu tadi lho bu.
    Itu gadis yang saya maksud tadi bu…..”
  2. Bu poniyem     : “owalah jon jon. Iku ta? Lha kalo itu ibu
    ya kenal to. itu Centini, lha yang bapaknya sering mborong hasil kebun kita. Yo
    kenal banget kalo itu”
  3. Jono                 : “ bu, saya mau menikah dengan
    dia bu……”( jono sangat menggebu- gebu)
  4. Bu poniyem     : “o, ediyan kamu. Baru kenal sebentar kok
    sudah minta nikah. Lha yo mbok kenalan dulu lebih jauh, o ancen wes mendem
    wedokan jawa kamu ki”
  5. Jono                 : “mendem? Apa itu bu”
  6. Bu poniyem     :” mendem iku tergila- gila, sangat
    gandrung, sangat cinta. Owalah yo, aneh aneh ae kamu ki. Centini itu kembang
    desa ini. Banyak lelaki yang ingin menikahinya. Dan dengar-dengar dia akan
    dinikahkan dengan joko, anak pak lurah. Wes, kamu
    jangan berhayal. Baru ketemu saja sudah mau menikah, kamu ini mendem wedokan
    jawa tenan. istirahat dulu. Masuk sana. Bekal- bekal di bersihkan sana”

( Bapak datang dari warung)

  1. Pak Paijo         :
    “Bu ibuk….”
  2. Bu poniem       :
    “Walah teko endi ae to pak…”
  3. Pak Paijo         :
    “ Tekan warung bu Yusup”
  4. Bu Poniem      :
    “Warung wae bapak ki, tak kira bapak g muleh. Lha opo ngeser bu Yusup opo piye
    bapak ki?”
  5. Pak Paijo         :
    “Wah yo gak to Bu, bu ki piye.”
  6. Bu Poinem      : “Bu Yusup kan saiki wes rondo, iso ae bapak
    ngeser. Hayo”!
  7. Pak Paijo         : “Ora to yo bu, ibu ki lho”.
  8. Bu Poinem      : “Pak Jono ki mau crito neng ibu, Jono
    ttresno karo Centini, piye ngeneiki pak?
  9. Pak Paijo         : “Yo gak papa to bu. Jono yo cah
    bagus.”
  10. Bu Poniem      : “ Walah Bapak ki po gak ngerti?”
  11. Pak Paijo         : “Ngerti opo to ibu ki?”
  12. Bu Poniem      : “Bapak ki tenan gak ngerti gosip ki. Tak
    kandani yo pak, Centini ki sudah dijodohkan dengan anaknya lurah kelurahan sebelah
    itu lho, namanya Joko.”
  13. Pak Paijo         : “Ah mosok bu?”
  14. Bu Poinem      : “Bapak ki malah g ngandel. Wes ndang
    dikandani Jono ya pak, ojo seneng ma Centini.”
  15. Pak Pijo           : “Iyo bu engko tak kandani Jono.”
  16. Bu Poniem      : “Yowes bapak cepet mandi sana, ngopi
    terus bau bapak g enak.”
  17. Pak Paijo         : “iyo-iyo buk.”

 

Babak 5

Jono
akhirnya selalu memberanikan diri untuk menemui Centini sepulang dari sawah.

  1. Jono                 : “hai Centini,,,” ( sapa jono
    sambil menghampiri Centini )
  2. Centini            :
    “ ya,,ada apa jono ? “
  3. Jono                 :
    “ aku ingin  menanyakan sesuatu” (jono
    agak grogi)
  4. Centini                        :
    “ emang kamu mau tanya apa ? “
  5. Jono                 :
    “ apa kamu sudah memiliki pasangan? Dan apa benar kamu akan menikah dengan anak
    pak lurah ? “
  6. Centini            :
    “ untuk apa kamu menanyakan hal itu ?”
  7. Jono                 :
    “ ehmm,,, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu.”
  8. Centini            :
    “ iya katakan saja, aku akan mendengarnya” (dengan wajah tak berdosa)
  9. Jono                 : “sudah agak lama aku
    mengenalmu. Sudah sering pula kita bertemu di tempat ini. Dan aku ingin
    mengatakan bahwa aku menyukaimu sejak pertama aku melihatmu.”

Centini
langsung diam membisu mendengar apa yang jono katakan.

  1. Centini          : “apa jono? Apa aku tidak salah
    dengar?”
  2. Jono              : “sama sekali tidak, baru kali
    ini aku menyukai gadis. Dan gadis itu adalah gadis jawa. Aku berjanji akan
    membahagiakanmu, maukah kau menikah denganku?” (jono berusaha meyakinkan
    Centini)

Centini
sangat terharu mendengar kata- kata jono.

  1. Centini          : “ aku pun belum pernah merasakan
    jatuh cinta sedalam ini.” ( mereka pulang )
  2. Jono              : “ jadi,, kau terima cinta ku??”
  3. Centini          : ( hanya menjawab dengan senyum dan
    anggukan )

2 bulan kemudian

  1. Jono              : “ adek sudah menunggu lama?????
    ( jono menghampiri Centini yang sudah cukup lama duduk di pinggir sawah )
  2. Centini                      : “ Seperti biasa
    kang,,,, selama apapun aku harus
    menunggu,aku akan tetap bersabar menunggu kedatanganmu..”

Tak
selang beberapa saat ketika jono mnggarap sawah, muncullah seorang wanita
dengan berlari menghampiri jono.

  1. Julia                 : “oh, George….. akhirnya aku
    menemukanmu” (berusaha memeluk George namun ditepis oleh Centini)
  2. Centini                        : “ siapa kamu?”
    (Centini kaget melihat julia)
  3. Julia                 : “hey, yang seharusnya
    bertanya adalah saya. Siapa kamu? Berduaan di sawah dengan tunangan saya”
  4. Centini                        : “tunangan?  Apa maksudnya?”  (Centini tetap tidak mengerti)

Julia
tak menghiraukan Centini

  1. Julia                 : “sayang, kenapa sih kamu lari
    dari kerajaan? Raja mengirim beberapa antek- antek untuk mencarimu di beberapa
    pulau sekitar. kebetulan aku dan orang tuamu mendapat undangan pernikahan anak
    Raja Maemun dan Raja Wallabi di Jawa.Dan kami mendengar di pulau jawa ini ada
    pendatang dari pulau rote.Akhirnya aku segera mencarimu di pelosok-pelosok
    pulau Jawa ini untuk menjemputmu kembali pulang Ayolah sayang kita pulang saja”
    (julia mencoba membujuk Jono alias George)
  2. Jono                 : “aku tidak mau kembali ke
    kerajaan, aku tidak suka kehidupan kerajaan. Kehidupan yang penuh dengan
    kekayaan namun membuatku merasa terkekang. Aku tidak suka. Aku lebih suka hidup
    sederhana di sini.hidup dari hasil jerih payahku,dengan kebebasan dan kebahagiaan
    yang sebenarnya”
  3. Julia                 :” tapi kita telah dijodohkan
    sayang… dan dengan pernikahan kita nanti pasti kejayaan kerajaan akan semakin
    besar” (masih tetap merayu jono)
  4. Centini                        : “eh, apa-apaan ini.
    Apa maksud semua ini. George siapa? Dan kamu juga siapa?” ( Centini semakin
    bingung dengan keadaan)
  5. Julia                 : “ kamu yang apa- apaan.
    George itu tunangan saya. George itu pangeran kerajaan Mallesy. Dan saya
    tunangannya, saya putri kerajaan Deros”
  6. Centini                        : “hah? Apa?” ( Centini
    serasa tak percaya)
  1. Jono              : “tidak, semua itu tidak benar.
    Aku bukan pangeran. Aku tidak kenal dengan gadis itu” (menunjuk Julia)
  2. Julia               : “kamu tidak percaya denganku?
    Oke, akan saya panggil orang tua George kesini dan biar mereka yang menjelaskan
    semuanya” (julia meninggalkan mereka berdua)
  3. Jono              : “ percayalah Centini aku bukan
    pangeran, aku tidak mengenal gadis itu”
  4. Centini          : “wahai jono betapa sakitnya aku,
    jika memang kau adalah pengeran dan telah bertunangan. Aku telah memberikan
    sepenuh hatiku padamu. Tiada lagi keraguan padamu. Tapi, mengapa…….” (
    centini tak sanggup lagi meneruskan kata- katanya.

Tiba-
tiba bu poniyem dan pak paijo melewati sawah tempat jono dan Centini bertemu.

  1. Bu
    poniyem  : “ lho, kalian disini. Lho, ada
    apa? Kenapa Kamu menangis ndok?”
  2. Pak
    paijo       : “ ada apa ini jono. Mengapa
    Centini menangis?”
  3. Jono              : “ lho, kenapa bapak dan ibu ada
    di sini?” (jono kaget)
  4. Bu
    poniyem  : “ lha ya bapak dan ibu mau ke
    sawah to.  sudah kamu jangan mengalihkan
    pembicaraan. Ada apa ini. Mengapa Centini menangis? (bu poniyem bertanya  kepada jono)
  5. Centini          : “ selama ini jono telah membohongi
    kita semua, bu ”
  6. Bu
    poniyem dan pak paijo    : “ apa maksudmu
    ndok ?”
  7. Jono              : “tidak bapak, tidak ibu. Semua
    itu tidak benar.”
  8. Centini          : “ tak perlu kau tutupi lagi
    kebohonganmu selama ini, George. “
  9. Pak
    paijo       : “ sebenarnya ini ada apa?
    Jangan buat kami binggung. Jelaskan semuanya pada kami jono ! “ ( dengan nada
    binggung dan sedikit kesal )
  10. Jono              : “ eh…itu..anu… “ ( jono
    tergagap untuk
    menjawab )
  11. Centini          : “ biar saya yang menjelaskan pak.
    Jono adalah putra kerajaan Rote, dia sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi
    akan segera menikah. Tapi dia malah kabur dari kerajaan dan membohongi kita
    semua di sini. ( jelas Centini sambil menahan tangis)

Tiba-
tiba julia datang bersama orang tua George.

  1. Raja
    Mallesy : “ George, berani- beraninya kamu
    kabur dari kerajaan”
  2. Ratu
    Mallesy : “ George, pulanglah nak. Jangan
    mempermalukan kami. Segala persiapan sudah dipesiapkan” (berusaha membujuk
    George)
  3. Julia               : “ ayolah George, kita pulang.
    Kita akan menikah sayang”
  4. Jono              : “ sudah hentikan. Saya tidak mau
    hidup di kerajaan ayah, ibu. Saya tidak mau disuruh- suruh. Saya mau mencari
    arti kehidupan itu sendiri. Saya mau menemukan cinta sejati saya. Dan saya
    telah menemukan cinta sejati saya di pulau Jawa ini. (menggeret Centini)
  5. Ratu              : “apa? Gadis Jawa ini. Tidak bisa
    nak. Kamu harus menikah dengan julia, kerajaan kita akan hancur kalo kamu tidak
    menikah dengan julia. Kamu paham kan nak”
  6. Raja               : “ tidak boleh, kamu tidak boleh
    menikah denga gadis jawa itu” (raja marah)
  7. Jono              : “ ayah, tapi saya sayang,
    saya  cinta, saya mendem wedokan jawa
    ayah…… tolong mengerti saya” ( sambil memegang tangan Centini dengan erat)
  8. Ratu              : “nak, rakyat kita akan mati
    kelaparan kalau kamu tidak menuruti kata- kata ayahmu nak. Jangan menentang”
  9. Jono              : “tidak bisa bu, tidak bisa”
  10. Bu
    poniyem  : “sudahlah jono, ikuti saja
    kata- kata ayahmu. Taruhannya rakyat kamu Jono”
  11. Jono              : “tapi bu”
    (sambil menatap dalam Centini)
  12. Centini          : “turuti kata- kata ayahmu. Rakyatmu
    lebih penting. Dan aku hanya rakyat jelata. Tentu kamu tidak ingin melihat
    rakyatmu mati kelaparan kan?” (berusaha tegar)
  13. Jono              :” tapi Centini, aku benar- benar
    mencintaimu. Dan kita juga telah merencanakan masa depan kita yang indah.
    Dengan anak- anak kita”
  14. Centini          : “aku tidak mencintaimu, selama ini
    aku berbohong. Aku lebih mencintai anak pak lurah si joko. Sudahlah kamu pergi
    saja”
  15. Jono              : “benarkah itu Centini? Tapi
    mengapa kau membohongiku?”
  16. Centini          : “ aku pernah sakit hati dengan joko,
    karena dia telah membuatku sakit hati. Dan menurutku kamu adalah orang yang pas
    untuk dijadikan alat balas dendam.”
  17. Jono              : “ Centini? Jangan kau bohongi
    hatimu. Aku tahu selama ini kamu tak pernah mencintai joko. Aku benar-benar
    mencintaimu Centini”
  18. Raja               : “ sudahlah, ayo kita segera
    pergi dari sini. Kapal kita sebentar lagi akan berangkat. Ibu, julia ajak
    George ikut kembali dengan kita”
  19. Ratu              : “ayo nak kita pulang” (ratu
    mengajak George pergi)
  20. Julia               : “heh, gadis Jawa. Ternyata kau
    lebih busuk dari bangkai. Kau iblis, tega merebut tunangan orang lain. George
    selamanya akan menjadi milik ku” (beranjak meninggalkan sawah)

Centini
tak henti- hentiya menangis. Bu poniyem berusaha menenangkan Centini.

  1. Pak
    paijo       : “ apa benar to nduk kamu
    suka sama Joko?”
  2. Centini          : “ ya gak mungkin lah pak, kang joko
    sudah seperti kakak saya sendiri”
  3. Bu
    poniyem  : “lalu, mengapa tadi
    kamu………….”
  4. Centini          : “pak, bu. Saya sengaja berbohong.
    Agar jono mau ikut kembali ke kerajaannya”
  5. Bu
    poniyem  :” apa sebenarnya kamu mencintai
    jono nduk?”
  6. Centini          : “sangat bu, sangat. Belum ada lelaki
    manapun yang mampu menyentuh hati saya”
  7. Pak
    paijo       : “ tapi, mengapa kamu
    merelakan dia kembali?”
  8. Centini          : “ Centini tidak mau, dengan cinta
    Centini banyak rakyat yang mati kelaparan. Centini juga tidak mau kalau sampai
    orang bilang bahwa Centini tega merebut tunangan orang. Centini tidak ingin
    merasakan kebahagiaan di atas penderitaan orang lain.Centini tidak mau pak,
    bu…..”
  9. Bu
    paijo        : “sungguh mulia hatimu nduk.
    Ibu dan bapak yakin. Kelak kamu akan mendapatkan pendamping yang sangat
    menyayangimu”
  10. Centini                      : “semoga bu,
    amin……………………….”

Demikianlah akhir
dari cerita “PANGERAN ROTE MENDEM WEDOKAN JAWA”. Segala cinta dan pengorbanan
pun harus pupus karena adanya perpedaan serta tanggung jawab pada rakyat. CINTA
TAK HARUS MEMILIKI, NAMUN CINTA AKAN LEBIH INDAH JIKA HARUS MELAKUKAN SEBUAH
PENGORBANAN BESAR, DAN CINTA AKAN SENANTIASA BERSEMI DALAM RELUNG HATI.

1 Komentar (+add yours?)

  1. Rama Wanda Saputra
    Okt 25, 2011 @ 13:18:12

    fvfv

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR

Sastra Mampu Membuka Mata Hati dan Mata Pikiran Kita, Karena Sastra Adalah Refleksi Kehidupan Kita

Sobo sak paran-paran

Ini blog-blogan ...

Garis Edar-ku

Blog tentang seputar aktivitas kerjaku

@ReeMekarsari

Buat Saya, "Bahagia itu Sederhana" -Ree-

@MaureenMoz

live is an adventure. enjoy the ride.

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Enrichissez-vous!

enrich yourselves

Joglo Drama - Mbah Brata

Seni memanusiakan manusia, menjadikan manusia lebih manusiawi

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: