“Onde-onde Maut”


PIC_0133

 

Dipentaskan pada, 12 Januari 2013

 

Penulis Naskah: Ria Khoirun Nisak dan Berry wahyu K.

Sifat: Adaptasi Naskah Drama “Sitty Noerbaja” karangan Ilham Yusardi

Jumlah Babak: 2 (dua)

Jumlah pemain: 13

Genre: Tragedi

Durasi: 60 menit

NAMA ANGGOTA KELOMPOK:

Al Kindi                                 ( 081644069 )

Rifka Kusuma Jaya            ( 101644056 )

Bery Wahyu Kurniawan    ( 101644057 )

Citra Amalia                         (101644058 )

Junita Indah Muwahidah  ( 101644060 )

Retty Dwi Ratnasari           ( 101644961 )

Risma Heni Susanti            ( 101644062 )

Novaria Lailatul Jannah    ( 101644063 )

Erna Indah Yuliani             ( 101644093 )

Eka Wahyu Hidayati         ( 101644095 )

Ria Khoirun Nisak               ( 101644097 )

Rabi’ah Al Adawiyah         ( 101644103 )

Yesi Arfianti                         ( 101644258 )

Noviarni Ardilah                  ( 101644273 )

Sukma Vavilya                    ( 101644274 )

 

RANCANGAN PEMENTASAN

STAF PRODUKSI PEMENTASAN

Pimpinan Produksi: Drs. Heru Subrata, M.Si

Staf Produksi:

Sutradara: Ria Khoirun Nisak

Astrada: Bery Wahyu Kurniawan

Pengadaptasi Naskah: 1.Ria Khoirun Nisak,  2. Bery Wahyu K.

Penata:

Penata Panggung : Risma Heni Susanti dan Tim

Penata Rias          : Eka Wahyu H.

Penata Busana    : Tim

Penata Musik       : 1.Rabi’ah Al Adawiyah,   2.Citra Amalia,   3.Al Kindi

Staf Administrasi

Bendahara  : Sukma Vavilya

 

PEMAIN

SITTY SOERABAJA          : Noviarni Ardilah

SAMSUL BAHRI                : Bery Wahyu Kurniawan

DATUK MARKINDI          : Al Kindi

IBU                                        : Sukma Vavilya

TIARA                                   : Retty Dwi Ratnasari

ARIN                                     : Junita Indah Muwahidah

SHINTA                                : Erna Indah Yuliani

DAYANG 1                           : Rifka Kusuma Jaya

DAYANG 2                           : Risma Heni Susanti

DAYANG 3                           : Eka Wahyu Hidayati

PEDAGANG                         : Novaria Lailatul Jannah

PEDAGANG PALSU           : Rabi’ah Aladawiyah

BAYANGAN                        : Citra Amalia

NARATOR                           : Yesi Arfianti

 

PENOKOHAN

 

SITTY SOERABAJA          : Baik hati, kalem, santun, tegas, cerdas

SAMSUL BAHRI                : Baik hati, macho, romantis

DATUK MARKINDI          : Sombong, keras kepala, egois, angkuh

IBU                                        : Sabar, baik hati

TIARA                                   : Cuek, kocak, konyol.

ARIN                                     : Baik hati, Centil

SHINTA                                : Lemah lembut, baik hati

DAYANG 1                           : Centil, manja

DAYANG 2                           : Cool, sedikit jahat

DAYANG 3                           : Judes, jahat

PEDAGANG                         : Lemah lembut, baik hati,

PEDAGANG PALSU           : Ceroboh, mudah gugup, oon

BAYANGAN                        : Dingin, misterius.

 

KONSEP CERITA

 

Konsep cerita dalam “Onde-Onde maut ” adalah sejenis drama tragedi tentang percintaan dua anak manusia yang mendapatkan beberapa cobaan. Dalam naskah ini, kami memasukkan beberapa unsur romantisme dan konflik yang membuat penonton tidak merasa jenuh dengan dialog-dialog yang  panjang. Naskah ini kami rangkai sedemikian rupa agar menarik bagi penonton

SINOPSIS CERITA

Di sebuah rumah sederhana, tinggallah ibu dan anak gadisnya yang bernama Sitty Soerabaja. Keluarga kecil ini terlilit hutang pada rentenir yang tidak lain adalah Datuk Markindi. Besarnya bunga pinjaman  yang semakin menggunung membuat keluarga ini tak bisa melunasinya.

Sitty yang berparas cantik lagi baik hati membuat Datuk tertarik. Karena  Hutang yang menumpuk tersebut, Datuk berniat untuk membebaskan hutang kelurga tersebut, dengan jaminan dapat memperistri Sity.

Gadis baik hati yang disayangi oleh teman-temannya ini menolak, karena perbedaan umur, terlebih kerana ia telah memiliki Samsul  sebagai kekasihnya..

Melihat kedekatan Sitty dan Samsul, membuat emosi Datuk naik dan menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan saingannya dengan cara meracuni Samsul melalui pedagang palsu sururhannya.

Namun naas, ternyata Sitti yang teracuni sehingga membuat gadis cantik ini meninggal, Samsul yang mengetahui kejadian ini tidak terima, dan timbullah perkelahian. Datuk yang membawa keris berniat menusuk Samsul, tapi senjata makan tuan, keris itu berbalik menusuk pemiliknya. Dan akhirnya Datuk meninggal

ALUR CERITA

Alur dalam naskah ini adalah alur maju

KONSEP PANGGUNG

Cerita ini terdiri dari 2 babak, konsep panggung kami buat sedemikian rupa dan sesederhana mungkin tapi tidak mengurangi kesesuaian dengan kenyataan. Adapun properti yang digunakan adalah:

Babak I

Menggambarkan rumah seorang petani miskin, dimana ada sebuah kursi kayu, meja beserta taplak meja, ceret dan gelas di atasnya, jam, sabit dan topi sawah yang tertempel didinding.

Babak II

Mengambarkan halte bis yang disebelahnya ada gerobak, kursi dan rambu-rambu lalu lintas.

Lighting dan Musik.

Opening : “Anak Sekolah” by Chrisye

Babak I

1 – 19     : “sad piano from episode 3” , piano cover by Sherin Kim + efek ketukan dan pintu terbuka

20           : beethoven’s 5th symphony

21 – 26  : “sad piano from episode 3” , piano cover by Sherin Kim

Babak II

Efek suara halte bus, kendaraan bermotor, jalan raya

27 – 31  : “sad piano from episode 3” , piano cover by Sherin Kim

33           :  “Kepompong” by Sindencosta (ketika Tiara dan Arin bergabung dg Siti dan Sinta)

46           : Efek suara “ting” (ketika dialog arin : ask the audience), efek suara “kring” (ketika dialog Arin : phone a friends)

57 – 87  : “First love”, piano cover

 

Babak II & Bagian III

“Namaku Bento” by Iwan Fals, ketika Datuk masuk

88 – 104 : “Fur Elise” by Beethoven

104 – 159 : Pirates of the Caribean by the piano guys

160  – 187 : “torn apart dark sad angry piano “

Bagian  IV

187         : “Pink Panther”, ketika pedagang palsu masuk

187 – 213 : (sela – sela) Efek suara kendaraan bermotor, jalan raya

215 – 233 : Pirates of the Caribean by the piano guys

234 – 239 : “instrument 3th” , piano cover by Sherin Kim

240         : —

240 – 250 : “instrument 3th” , piano cover by Sherin Kim

Bagian V

251 – 258 :“Twinkle Lullaby”, by the Piano Guys

Ending   : “Tak Ada yang Abadi” by peterpan , piano cover

Kostum dan Riasan

SITTY SOERABAJA: Berseragam sekolah abu-abu dengan riasan natural

SAMSUL BAHRI: Berseragam sekolah abu-abu dengan riasan natural

DATUK MARKINDI: Memakai jas jawa dengan riasan tua

IBU: Daster, sweater, shall dengan riasan pucat

TIARA, Berseragam sekolah abu-abu dengan riasan natural

ARIN: Berseragam sekolah abu-abu dengan riasan natural

SHINTA: Berseragam sekolah abu-abu dengan riasan natural

DAYANG I: Celana hitam, baju putih, dasi kupu-kupu, kacamata hitam, membawa alat make up dan kipas dengan sedikit bermake up tebal (menor)

DAYANG II: Celana hitam, baju putih, dasi kupu-kupu, kacamata hitam, membawa pistol dengan sedikit bermake up tebal (menor)

DAYANG III: Celana hitam, baju putih, dasi kupu-kupu, kacamata hitam, membawa pistol dengan sedikit bermake up tebal (menor)

PEDAGANG: Daster dan kerudung dengan riasan lusuh

PEDAGANG PALSU ( SURUHAN DATUK ): Kaos pendek dan berkerudung  dengan riasan lusuh

BAYANGAN: Jubah Hitam, mata memakai lensa putih dengan make up tebal

PENTAS DRAMA DIBUKA DENGAN KONSEP TARIAN SEDERHANA YANG DI UMPAKAN SEBAGAI KEGIATAN LATIHAN ANAK SMA UNTUK PERSIAPAN LOMBA.

BABAK I

PENTAS MENGGAMBARKAN RUANGAN SEBUAH RUMAH SEORANG PEREMPUAN PARUH BAYA. PEREMPUAN ITU SEDANG MENUNGGU KEDATANGAN ANAKNYA. IA TERBATUK-BATUK SEMBARI MENGUSAP-USAP DADANYA MENAHAN SAKIT.

NARATOR           :

TINGGALAH SEORANG IBU DAN ANAK PEREMPUANNYA DALAM RUMAH KECIL YANG BEGITU SEDERHANA. TAK NAMPAK  KEMEWAHAN DALAM RUMAH SEDERHANA TERSEBUT. SEMUA TERLIHAT SEPERTI RUMAH-RUMAH PETANI MISKIN PADA UMUMNYA. MALAM SEMAKIN LARUT, NAMUN SI IBU TAK KUNJUNG BERANJAK DARI TEMPAT DUDUKNYA. MENUNGGU KEPULANGAN SANG ANAK. PEREMPUAN ITU TERBATUK BATUK SEMBARI MENGUSAP DADANYA MENAHAN SAKIT.

IBU

Sudah pulang kamu nak?

SITTY :

Iya, kenapa ibu belum istirahat

Istirahatlah bu, sudah terlalu larut.

IBU :

Tidak mudah tidur bagi ibu sekarang ini, Sitty.

Dipejam mata tak terpejam

Direbah tubuh tak jua senang perasaan.

SITTY :

Apalagi yang ibu pikirkan ? Bukankah ibu pernah bilang pada Sitty,

Tidaklah beban jadi rasian. Habis daging dihisapnya.

IBU :

Sitty, anakku. Kamu ini seperti orang dulu bilang,

Kecil tak lagi untuk disuruh-suruh.

Besar belumlah dapat ditumpangi.

SITTY :

Ah, ibu. Kecil Sitty anak ibu, besar juga tetap anak ibu. Kalau boleh Sitty tahu, apa yang ibu pikirkan ?

IBU :

Dipintal benang dengan gulungan

Biar berpisah pangkal dengan ujungnya

Tak kusut pula dalam genggaman.

Tapi, kali ini kamu terpegang ujung benang, Sitty.

Ibu memintal dari pangkalnya.

SITTY :

Kalaulah ujung di tangan Sitty, tentulah Sitty takkan berlepas tangan.

Ceritakanlah ibu. Sitty akan mendengarkan.

IBU :

( MENARIK NAFAS )

Berniaga ke tanah Jawa dagang emas dengan budi bahasa.

Tapi, bagaimanapun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.

Nasib tertoreh di telapak tangan.

Niat hendak menyekolahkanmu tinggi-tinggi, biar bertambah isi kepala.

Cita-cita membumbung langit, Tuhan dari atas jua yang menentukan.

Jerih peluh usaha niaga kita kali ini telah habis surut, Sitty. ibu tak dapat lagi berbuat apa-apa. Sekarang, kamu juga tahu, harta ibu hanya tinggal badan sepembawaan ini. Hutang-hutang tumbuh melilit pinggang. Mencekik kerongkongan.

SITTY :

Sitty mengerti, bu.

IBU :

Hutang emas dibayar emas. Hutang budi, tentulah dibawa mati.

SITTY :

Benar bu.

IBU :

Kemarin DATUK MARKINDI datang ke sini. Tak lain untuk menagih hutang pinjaman dagang yang sudah jatuh tempo. Ibu meminta Datuk menambah jangka waktu yang diberikan. Tapi, dia menolak. Karena telah melewati batas waktu yang seharusnya. Sehingga bunganya sudah berlipat ganda. Rumah yang satu-satunya inipun hendak disitanya. Dan itupun belum juga akan menutupi hutang kita Sitty.

SITTY :

Iya, bu. Sitty paham.

IBU :

Panjang cerita segelas kopi, direntang masa setinggi bulan. Bersilat lidah di perbincangan, berkecamuk darah dalam dada.

Ah. Hutang kita seperti memotong rumput di tengah padang. Potong dipotong tumbuh jua. Bunganya menjulang menyentuh lutut. Tiap melangkah terjatuh pula menyentuh tanah.

SITTY :

Sitty mengerti, bu.

Jual gabah di tengah pekan, gabah dibawa dengan bendi.

Kalaulah susah sama kita pikirkan, nak lapang jua beban di hati.

Ibu, apa yang bisa Sitty perbuat untuk itu, ibu.

IBU:

(KEMBALI MENARIK NAFAS, KEMUDIAN MENGGELENGKAN KEPALA )

Daunmu terlalu hijau. Berputik sudah, berbunga belum. Harumnya belumlah melintas pagar.

SITTY :

Maksud ibu…. ?

IBU:

Sitty, hutang emas dibayar emas ? Hutang budi dibayar budi ? Tapi, lain dengan DATUK MARKINDI. Seluruh hutang kita padanya, tidak berguna pepatah demikian. Datuk ingin mempersuntingmu. Maka, lepaslah hutang yang selilit pinggang.

SITTY :

( TERKEJUT )

Dengan Sitty, ibu? DATUK MARKINDI !?

IBU:

Itulah jalan yang ia pintaskan agar kita terlepas dari segala hutang.

SITTY :

Tidak, … tidakkah ada jalan lain, bu ?

IBU :

Kalaulah umur ibu masih panjang, dan tenaga berisi di badan. Tentu ibu tidak akan memberi tahu kamu, Sitty.

SITTY :

Tapi, … Sitty belum …

IBU :

Sitty, ibu paham kalau kamu belum punya timbangan yang kuat, Sitty. Timbangan yang bagus tidak berat sebelah. Berlebih semata ditentang dengan pikiran. Selepas kamu lulus sekolah nanti, DATUK MARKINDI hendak menjatuhkan hari.

SITTY :

( TERDIAM LAMA SEPERTI BERPIKIR )

Ibu, bolehkah Sitty mohon diri?

Sudah berat kelopak mata. O, ibu istirahatlah dahulu.

SITTY KELUAR MENINGGALKAN IBUNYA.

LAMPU PADAM

* * *

 

BABAK II

PENTAS MENGGAMBARKAN SESUDUT JALAN ATAU HALTE TEMPAT ANAK-ANAK SEKOLAH MENUNGGU JEMPUTAN ATAU ANGKUTAN UMUM. DI SITU MANGKAL SEORANG PEDAGANG GEROBAK YANG MENJUAL MAKANAN DAN MINUMAN RINGAN. DI SEBELAH KIRI TERDAPAT SEBUAH RAMBU-RAMBU YANG MENUNJUKAN TEMPAT PERHENTIAN BUS.

SITTY, DAN SHINTA TERLIBAT PERBINCANGAN SERIUS. SITTY MENCERITAKAN APA YANG TELAH IA BICARAKAN DENGAN IBUNYA SEMALAM.

NATAROR:

DI SESUDUT JALAN ITU, MASIHLAH SEPI, BELUM NAMPAK SISWA-SISWA YANG BIASA MEMENUHI TEMPAT ITU UNTUK MENUNGGU JEMPUTAN ATAU ANGKUTAN UMUM. HANYA ADA DUA SISWI TERLIHAT DUDUK DI BANGKU HALTE YANG BEJEJER. TERLIHAT PERBINCANGAN SERISUS ANTARA MEREKA BERDUA.

SHINTA :

Kenapa kamu begitu murung Sitty? Adakah yang dapat kudengarkan dari kegundahmu itu?

SITTY :

Saya tak tahu harus mulai darimana, dada ini begitu sesak sepeninggal perkataan ibuku kemarin.

SHINTA :

Katakan padaku jika kamu menganggapku sahabatmu, bukankah sahabat selalu berusaha untuk mengguatkan

SITTY :

Kemarin ibuku berkata, bahwa Datuk ingin menjadikanku sebagai Istrinya sebagai syarat pelunasan hutang keluargaku. Aku tak ingin, aku tak ingin.

SHINTA :

Lapangkan hatimu, ku yakin Si Tua itu tak akan pernah memilikimu. Sudah, jangan kamu bersedih lagi lagi, parasmu tak lagi Cantik jika kamu murung. Tersenyumlah.

SITTY

(TERSENYUM)

DISELA-SELA PERBINCANGAN SITTY DAN SHINTA, TIARA DAN ARIN BERGABUNG DENGAN SITTY DAN SHINTA.

TIARA :

Hei kalian sudah disini rupanya, cepat sekali.

SHINTA :

Bukan kami yang terlalu cepat, tapi kalian yang terlalu lama.  Darimana?

ARIN :

Mengurus contekan Tiara yang tadi ketinggalan. Sebelum pihak Sekolah mengetahuinya. Sudah Salah malah merepotkan.

TIARA :

Yah, yang namanya hidup di dunia tentu harus dengan akal, pandai-pandai. Kalau hidup di akhirat baru mesti dengan iman.

SITTY :

Tapi, melihat contekan saat ujian tadi kamu bilang pandai, TIARA ? Bukankah itu cara yang licik.

ARIN :

Kalau saya berpendapat lain. Yang dilakukan TIARA diwaktu ujian tadi namanya ‘licik pandai’, bukan cerdik pandai.

SHINTA :

Sama saja Arin, kalau licik ya licik saja. Kamu ini juga Tiara usahamu kok ya pakai contekan-contekan segala.

TIARA :

Hei. Untuk hasil maksimal dibutuhkan usaha yang maksimal. Betulkan Shinta ?

SHINTA :

Kata-kata itu benar. Kamunya yang tidak benar. Usaha maksimal bukannya menghalalkan segala cara. Ingat, alam terkembang jadikan guru. Bisa-bisa berubah pepatah itu, contekan terkembang otak membeku.

SEMUA TERTAWA MENDENGARNYA

PEDAGANG :

Oi ! onde-onde, onde-onde mande. Tertawa sambil makan onde-onde pasti lebih asyik. ( SITTY MEMERIKSA SAKUNYA )

SHINTA:

Ujian tadi baru tahap percobaan. Apakah kamu bisa melihat contekan saat ujian akhir yang sebenarnya, TIARA ?

ARIN :
Kalau saya berpendapat lain. Resiko untuk melakukan kecurangan di ujian akhir sangat besar. Melihat kiri-kanan saja mungkin dicurigai. Bertanya tetangga ?, sesekali jangan. Nah, apalagi lihat contekan, kertas kecil apapun jenisnya pasti akan gagal.

SHINTA :

Barangkali TIARA siap dengan resiko, didiskualifikasi.

ARIN :

Nah…, dari pada kepala pusing. Menurut pendapat saya. Lebih baik begini. Pertanyaan yang tidak terjawab oleh kita, gunakan pilihan bantuan. Pertama, ask the audience, kode tetangga-tetangga sebelah. Kalau dicurigai, urungkan niat. Kedua, phone a friends, siapkan kertas kecil untuk sms-sms-an,” bantu  saya nomor sekian”. Lemparkan pada kawan yang mungkin tahu jawabannya. Tidak bisa juga ! Baru gunakan fifty-fifty.

TIARA :

Fifty-fifty bagaimana ?

ARIN :

Tentukan dua pilihan jawaban yang menurut kamu paling berkemungkinan benar. Dari dua jawaban tersebut, pilih satu saja dengan cara menimbang ( MENIRUKAN DENGAN TANGAN ). “Ma rancak iko pado iko, rancak iko”

Nah, dapatlah satu jawabannya. Untung-untung betul. Gampangkan…. ?

SHINTA :

Alaahh…., sama juga bohong ARIN.

SITTY :

Tidak ada gunanya. Seperti kata petuah :

Jalar-menjalar akar benalu

Kuat melingkar di batang mangga

Kita belajar menuntut ilmu

Tabiat buruk tak akan berharga

ARIN :

Tapi bukankah fifty-fifty itu sah saja. Lain halnya dengan cara TIARA yang menurut pendapat saya….

TIARA :

Sudah, sudah. Waktu seminggu itu masih panjang. Cukup untuk bersantai menenangkan pikiran. Pergi piknik, tenangkan jiwa.

SHINTA :

Seminggu kamu bilang masih panjang ? Mana jari tanganmu ? Hitung mundur mulai detik ini. Saatnya siaga satu, kawan.

TIARA :

Jangan tegang, rileks saja. Kita tentu punya cara masing-masing sebelum bertempur. Kalau saya, butuh refreshing dulu sebelum menuju gelanggang. Kalau mau belajar kejar tayang menghafal buku-buku, silahkan coba. Bisa-bisa meledak itu kepala.

ARIN :

Dasar pemalas !

TIARA :

Terserah saja, sekarang lebih baik pulang. Dengar,

Batang purut di tepi pagar

Ditanam putri anak bangsawan

Kerontang perut karena lapar

Segera pulang mencari makan.

DISELA PEMBICARAAN 4 SEKAWAN TERSEBUT, TAMPAK SAMSUL BAHRI MENGHAMPIRI SITI

ARIN :

Ee.. itu Samsul. (menunjuk arah Samsul)

TIARA :

Ayo, ARIN, SHINTA. Kalian pulang bersama saya atau tidak ? Biarlah mereka berdua’an. Apakah kalian mau jadi obat nyamuk  ? ( ARIN dan SHINTA MENGIKUTI TIARA ) Samsul, Sitty, kami duluan. O, ya. Bayar onde-onde kami ini. Buat tutup mulut kami. Daaah.., selamat berduaan!

SHINTA, TIARA DAN ARIN KELUAR SETELAH MENGAMBIL BEBERAPA ONDE-ONDE

SAMSUL :

Wah dasar mereka !

Kamu lapar, Sitty ?

SITTY :

(MENGGELENG)

SAMSUL :

Benar tidak lapar ?

SITTY :

( MENGGELENG )

SAMSUL :

Bagaimana kalau kita beli onde-onde. Sekedar pengganjal perut.

SITTY :

Mau, mau ! Boleh juga.

SAMSUL MENUJU PEDAGANG

SAMSUL :

Onde-ondenya, bu.

PEDAGANG :

Nah, begitu. Perhatikan juga nasib orang kecil seperti saya. Masa seharian saya berjualan di sini tidak ada yang beli ? Makanya dari tadi saya tawarkan onde-onde ini. Saya tahu kalau putrimu itu sangat suka onde-onde. Dia kan langganan saya.

SAMSUL :

Berapa, bu?

PEDAGANG :

Belum seberapa, sepuluh onde-onde baru lima ribu saja. Kali ini saya kasih bonus dua buah. Buat nona Sitty.

SAMSUL :

O. Ya. Terima kasih. Ibu baik sekali. Eh, benar tidak, bu ? Kata orang, hari esok harus lebih baik dari hari ini.

PEDAGANG :

Ya, harus !

SAMSUL :

Kalau begitu besok ibu harus lebih baik. Besok, kalau saya beli onde-onde bonusnya harus lebih dari dua. Hehehe ……

PEDAGANG :

Pintar juga otakmu.

SAMSUL KEMBALI KE TEMPAT SITTY

SAMSUL :

Sitty, ini onde-ondenya. Makanlah. ibu itu memberi bonus buat kamu.

SITTY :

O, ya. Kalau saya tadi yang beli pasti bonusnya lebih dari dua.

SITTY DAN SAMSUL DUDUK MENIKMATI ONDE-ONDE

SAMSUL :

Sitty, selepas lulus sekolah nanti, ibuku menyuruhku untuk meneruskan ke perguruan tinggi. Aku sendiri setuju dengan itu. Kalau kamu bagaimana?

SITTY :

Baguslah. Siapa yang tidak bangga bisa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi . Ibumu tentu telah menyiapkan semua demi kamu. Aku sendiri belum tentu, Sam. Belakangan ini ibuku sakit-sakitan. Aku tidak mungkin memaksakan keinginanku dalam kondisi seperti ini. O… rencananya kamu mau melanjutkan kemana, Sam ?

SAMSUL :

Ibuku menyarankan untuk kuliah di luar negeri.

SITTY :

Luar negeri ?!

SAMSUL :

Iya, Sitty. Tidak di sini.

SITTY :

Kenapa mesti ke luar negeri, Sam ?

SAMSUL :

Kata ibuku, sangat baik untukku nantinya. Dengan kuliah di luar negeri kita bisa mendapatkan ilmu dengan maksimal.

SITTY :

Di sini juga bisa, bukan ? Banyak perguruan tinggi yang tidak kalah kualitasnya. Dan lagi, kuliah di luar itu butuh biaya besar, Sam. Apakah ibumu sudah memikirkannya matang-matang ?

SAMSUL :

Ah, entahlah. Selain itu sebenarnya aku belum siap untuk merantau terlalu jauh. Jauh dari kampung halaman, jauh dari keluarga, dan tentu akan menjauhkan aku dari kamu Sitty.

SITTY :

Jauh tidak lagi persoalan, Sam. Selagi masih di bumi ini. Apalagi zaman sekarang ini. Jarak dan waktu bisa direkayasa dengan teknologi.

SAMSUL :

Aku tidak ingin jauh dari kamu Sitty.

Anak baginda berburu rusa

Rusa mati tertembak panah

Jika kasih jauh dimata

Rasa mati badan sebelah.

SITTY :

Burung puyuh masuk ke rimba

Di dahan jati singgah merapat

Meskipun jauh dipelupuk mata

Di dalam hati tetapkan dekat.

TANPA DISADARI, PEDAGANG MEMPERHATIKAN PERCINTAAN SAMSUL DENGAN SITTY.

PEDAGANG :

“SubhanAllah SubhanAllah…………..!!” ( KEARAH SITTY DAN SAMSUL )

SAMSUL :

Hah ! O . Ayo kita pulang, Sitty. Sudah terlalu senja. Nanti orang di rumah marah-marah. Merantaunya masih lama. Lulus saja juga belum tentu.

SAMSUL DAN SITTY KELUAR

PEDAGANG :

Ikat berikat tali kuda

Pasang pelana kuda yang putih

Hati terikat samanya muda

Lupa waktu sebab berkasih

LAMPU PADAM.

III.

PENTAS MASIH MENGGAMBARKAN SESUDUT JALAN. PEDAGANG MENUNGGU ANAK-ANAK PULANG SEKOLAH.

DATUK MARKINDI MASUK BERSAMA DAYANG

(DAYANG I, DAYANG II, DAYANG III)

NARATOR :

MATAHARI YANG SEMAKIN TERTELAN GELAP. DATANGLAH SOSOK BARU DI DEPAN HALTE, WAJAH ASING YANG TAK BIASA TERLIHAT DI TEMPAT ITU. LAKI-LAKI TUA, YA? DIA ADALAH LAKI-LAKI TUA YANG PENUH DENGAN GAYA KEANGKUHANNYA.

DATUK :

Sudah keluar anak sekolah itu ?

PEDAGANG :

O, belum Tuan. Mungkin sebentar lagi. Coba lihat arlojinya ( MENARIK TANGAN DATUK, MELIHAT ARLOJI ). Baru pukul lima lewat sedikit. Lihat, baru sedikit lewatnya. Sekolah bubar pukul setengah enam. Ya, setengahnya saja. Sebentar lagi. Sabar, sabar. Silahkan duduk dulu.

DATUK :

Hoe! Kalian ini, berdiri! (membentak dayang yang duduk)

PEDAGANG

Santai dulu. Dan saya punya onde-onde, enak rasanya. Silahkan dicoba. Kalau tidak percaya lihat saja nanti. Seorang gadis cantik akan memborong onde-onde ini, Sitty  Noerbaja gadis….

DATUK :

Sitty Soerabaja ?!

PEDAGANG :

Tepat sekali. Gadis manis, semanis tebu, suka onde-onde. Dia bilang onde-onde lebih hebat dari makanan import manapun. Eh, apa Tuan menunggu Sitty Soerabaja ?

DATUK :

Ya. Saya menjemputnya.

PEDAGANG :

Berarti Tuan ini keluarganya Sitty, kakeknya barangkali ?

DAYANG III:

Heh ! Jangan asal bicara ya !

PEDAGANG :

Bapaknya ?

DAYANG :

Datuk ini bukan bapaknya.

PEDAGANG :

Jadi, pamannya begitu ?

DAYANG III:

Huhh ! Tidak kata saya !

PEDAGANG :

Kakek bukan, bapak tidak, paman juga salah. Tapi ke sini untuk menjemput Sitty. Nah, berarti nona ini sopir pribadinya nona Sitty.

DAYANG III:

Hei ! Mau kakek, kek. Mau bapak, kek. Mau paman, kek. Apa urusanmu ! Urus saja onde-ondemu itu.

PEDAGANG :

O. Oke, oke. Maafkan saya. Tidak akan saya urus lagi. Ya, bukan urusan saya. Tapi ingat, sekedar informasi. Bagi saya, Sitty berarti onde-onde, seperti onde-onde. Lembut di luarnya, manis di dalamnya. Dia ramah sekali….

DATUK :

( KEPADA DAYANG )

Coba kau lihat kesana. Lama sekali keluarnya. Apa yang mereka perbuat di sekolah itu. Zaman saya sekolah tidak terlalu penting. Lihat saya, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk bisa hidup sejahtera. Cuma pakai akal-akalan. Kecil bahagia, muda foya-foya, tua sejahtera, mati masuk……

DAYANG I :

Itu dia, Datuk. Menuju kesini. Anak sekolah keluar seperti kambing lepas dari kandang. Tapi, Sitty bergandengan Datuk.

DATUK :

Bergandengan ! Dengan siapa !?

DAYANG I:

Dengan laki-laki. Mesra sekali mereka.

DATUK :

Siapa laki-laki itu ? Hah ! Samsul Bahri. Anak Sutan Mahmud. Sudah melekat-lekat pula ia dengan Sitty.

SAMSUL DAN SITTY

SAMSUL :

Tuan DATUK MARKINDI rupanya. ( MENGULURKAN TANGAN HENDAK BERSALAMAN TAPI TIDAK DIBALAS OLEH DATUK )

DAYANG III:

Oh, bersalaman dengan Datuk harus melalui saya. Saya asisten, jubir, sekaligus pengawal pribadi Datuk. Jadi segala apapun urusan dengan Datuk harus melalui saya.

SAMSUL

Apa-apaan ini?

DATUK :

Selamat sore Sitty. Sedari tadi saya menunggu. Niat di hati hendak menjemputmu. Mobil sudah saya persiapkan. Mari, kita berkeliling menikmati senja yang menarik ini. Bagaimana kalau kita ke tepi laut, mencari angin segar sambil makan rujak atau jagung bakar. Setelah itu kita ke plaza mencari oleh-oleh untuk ibumu.

SITTY :

Ah, eh. O. Mmmh … Datuk !?

DATUK :

Ayo Sitty, mari. ( MENARIK TANGAN SITTY )

SAMSUL :

Ada apa ini Datuk ? jangan main paksa!

DAYANG III:

Bukan urusan kamu !

SAMSUL :

Ini jadi urusan saya.

DAYANG III:

Oi, urus saja dirimu sendiri, kalau tidak mau berurusan panjang dengan saya !

SAMSUL :

Tapi jangan main … !

SITTY :

Tenang Sam. Ini urusan saya. Pulanglah dulu Sam. Saya mau bicara sebentar dengan Tuan Datuk.

SAMSUL :

Tapi, Sitty. Kamu…

SITTY :

Sam, saya mohon pengertian kamu.

DAYANG I :

Nah, kamu dengar tidak ? Sitty menyuruhmu pergi dari sini. Pergi! (MENGUSIR SAMSUL)

SAMSUL PERGI DENGAN KESAL

SITTY :

Datuk. Apa maksud Datuk menjemput saya ?

DATUK :

Saya bermaksud baik Sitty. Mulai hari ini saya, eh, aku, akan menjemputmu. Sebagai seorang calon istriku, alangkah menyenangkan kita bertemu setiap saat. Biar kita merasa dekat. Bukan begitu hendaknya ?

SITTY :

Siapa yang menyuruh Datuk melakukannya ?

DATUK :

O, tidak siapa-siapa. Ini aku lakukan tulus dan murni dari hati nuraniku sendiri.

DAYANG II :

Ah, tidak usah pakai menolak segala. Turuti sajalah. Datuk akan membuat hari-harimu bahagia.

DATUK :

Saya tidak menyuruhmu bicara !

SITTY :

Datuk. Saya tidak pernah meminta untuk dijemput, Datuk.

DATUK :

Sitty, semua sudah saya perhitungkan dengan ibumu, Sitty. Tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan.

SITTY :

Tuan Datuk. Ini bukan hitungan matematik, Tuan. Sebagai seorang yang jauh lebih dewasa, tentu Tuan lebih paham dunia ini.

DATUK :

Ah, kau kan bukan lagi anak kecil yang tidak bisa menentukan langkahmu sendiri. Sudah tujuh belas tahun. Tentu kau mengerti Sitty.

SITTY :

Jalan saya masih panjang Datuk. Saya belum berpikir melangkah sejauh ini. Alangkah bagusnya Datuk mencari perempuan yang lebih dari saya. Lebih pantas, lebih pas menjalankan hidup dengan Datuk.

DATUK :

Apalagi yang kamu cari setamat sekolah ini, Sitty ? Lebih baik lakukan langkah besar. Apalagi, kamu perempuan. Bukankah perempuan itu hanya ; sumur, dapur, dan kasur.

SITTY :

Tuan. Hendaklah Tuan berpikir baik. Baik untuk Tuan, dan juga baik untuk saya.

DAYANG II :

Ini sudah yang terbaik Datuk lakukan untuk kamu dan Ibumu, Sitty. Apakah kamu senang melihat ibumu sakit-sakitan memikirkan…

SITTY :

Tentang hutang Ibu saya pada Datuk, saya berharap Datuk sabar. Berilah saya kesempatan. Tunggu saya menyelesaikan sekolah saya dulu. Saya akan berusaha, bekerja mencari uang untuk membayarnya.

DAYANG I:

Heh ! Mau kerja apa kamu Sitty ? Tidak gampang mencari pekerjaan di jaman sekarang ini. Kerja di kantor ? Di Bank ? Jangan mimpi Sitty. O, barangkali kamu bisa jadi babu, buruh kasar, atau kamu jadi pekerja … pekerja seks komersil.

SITTY :

( MENAHAN AMARAH )

Saya tidak bicara demikian nona-nona.

DATUK :

DAYANG. Saya tidak suruh kamu bicara. Diam saja di sana.

Jadi, kamu keberatan dengan aku Sitty ?

SITTY :

Maafkan saya Tuan Datuk.

DATUK :

Saya tidak main-main Sitty.

DAYANG III :

Tidak tahu diuntung pula kau rupanya. Ingat. Hutang ibumu dengan Datuk sudah terlalu banyak. Mau dibayar dengan apa lagi ? Ibumu sudah menjual seluruh perusahaan dagangnya. Untuk bunganya saja itu pun belum cukup. Ibumu sudah mulai bicara sendiri memikirkannya. Lebih baik kau bayar lunas dengan …

SITTY :

Hutang emas dibayar emas, nona.

DAYANG III :

Jadi kau kemanakan perbuatan baik Datuk selama ini pada ibumu ?

SITTY :

Saya akan selalu mengingatnya. Tidak akan saya lupakan, bahwa Datuk adalah seorang yang baik. Bahkan terlalu baik.

DAYANG II DAN DAYANG III:

Nah, tunggu apa lagi ?

SITTY :

Namun, keinginan Datuk terhadap saya, apakah baik buat saya ?

DAYANG II:

Jelas sangat baik. Niat baik Datuk tidak akan ada yang menghalangi.

SITTY :

Belum tentu, nona. Kalau Tuhan berkeinginan lain, tidaklah boleh mendahului yang di atas.

DATUK :

Hhh. Jangan bermain-main, apalagi mempermainkan saya. Jadi kamu menolak saya ? Saya tidak pantas untuk kamu, begitu ? Lalu, siapa yang pantas ?

DAYANG II:

Samsul Bahri tentu telah mempengaruhi otaknya.

SITTY :

Tidak baik menyangkut  – pautkan persoalan ini dengan orang lain, Nona. Samsul tidak tahu apa-apa dengan masalah ini.

DAYANG II:

Jangan bersilat lidah, Sitty. Sejak kapan kau berhubungan dengan dia ? Sudah sejauh mana ? Jangan-jangan kau telah melakukan……

SITTY :

Cukup Nona. Persoalan ini hanya antara keluarga saya dengan tuan Datuk.

DATUK :

Baik, baik. Sitty ! Silahkan kamu berpikir baik-baik sekarang. Baik untuk kamu serta ibumu. Terserah ! Saya tunggu keputusanmu

SITTY :

Sekali lagi, saya mohon maaf  dan berharap Tuan mengerti. Maafkan atas kelancangan saya. Saya mohon diri dulu, Tuan. Saya pulang.

NARATOR :

SITTY PERGI MENINGGALKAN DATUK DAN PARA DAYANG DI SESUDUT JALAN ITU, MEMBIARKAN DATUK BERPIKIR KERAS UNTUK MENEMUKAN CARA AGAR IA DAPAT MEMPERISTRI SI SITTY.

SITTY KELUAR

DAYANG I:

Keras kepala juga  dia !

DATUK :

Keras hati,dayang.

DAYANG I:

Keras hatinya pada Samsul Bahri.

DATUK :

Mmmh. Hehehe … Samsul Bahri !? Tampaknya dia akan menjadi batu sandungan bagi langkah saya. Tapi dia bukan masalah yang besar. Dayang, ke sini !( MEMBISIKAN SESUATU. DAYANG MENGANGGUK-ANGGUK )

DAYANG I:

Saya ada usul Tuan. Tapi…

DATUK :

Tapi bagaimana ?

DAYANG I :

Begini Datuk, apakah setelah ini dilakukan Sitty akan mau dengan Datuk ? Tentu dia akan tambah sulit didekati. Lebih baik langsung Sitty saja, Datuk.

DATUK :

Kamu gila ya ! Tujuan saya itu jelas-jelas Sitty. Kenapa Sitty pula yang dijadikan sasaran. Goblok ! Sekarang gunakan otakmu, bagaimana caranya.

DAYANG I:

O. Baik. Begini ( BEBICARA PELAN DENGAN DATUK, SESEKALI MENUNJUK KE ARAH PEDAGANG )

DATUK  :

Bagus, bagus. Sekarang gunakan bibirmu itu kesana.

NARATOR :

DAYANG I MENGHAMPIRI PEDAGANG, BERUSAHA MENYAMPAIKAN MAKSUD YANG TERPENDAM. DENGAN SEDIKIT KEBHOHONGAN DAN INTRIK RENCANA ITU DISAMPAIKAN.

DAYANG MENDEKATI PEDAGANG.

PEDAGANG :

Eh, Nona. Kelihatan serius sekali pembicaraan nona dengan Nona Sitty. Sehingga Ia tidak sempat menikmati onde-onde saya. Rejeki saya jadi hilang begitu saja.

DAYANG I:

Ah, biasalah. Kami ini memiliki sebuah Production House yang sedang menggarap sebuah film baru. Pembicaraan tadi itu, kami menawarkan sebuah peran pada Sitty Soerabaja. Tapi dia masih ragu. Pikir-pikir dulu katanya ( MEMAKAN SEBUAH ONDE-ONDE ) Mmmh..onde-ondenya enak sekali.

PEDAGANG :

Nona mengajak Sitty main film ? Dia menolaknya ?

DAYANG I:

O, Belum. Sitty belum memutuskannya tadi.

Selain dengan Sitty, sepertinya kita juga bisa berkerjasama.

PEDAGANG :

Bekerjasama ? nona membutuhkan saya untuk main film ?

DAYANG I:

Ya. Kami membutuhkan gerobak Anda ini untuk setting sebuah adegan di film kami nantinya.

PEDAGANG :

Aah…, masa cuma gerobaknya saja. Sayanya tidak? Kan semestinya saya di ajak, dikasih peran.

DAYANG I :

Sayang, wajah Anda itu tidak Kameragenik , tidak bagus kalau main film, nanti malah merusak citra film ini. Sudah gerobaknya saja yang saya sewa, Rp. 500.000,-  deh, bagaiman?  .

PEDAGANG :

Ah, cuma segitu ? Biasanya seorang produser itu sangat royal. Apalagi untuk sebuah adegan penting.

DAYANG :

Tenang, sesudah pengambilan gambar adegan ini akan saya tambah. Dua kali lipat, bagaimana ?

PEDAGANG :

Nah, begitu. Kerjasama disepakati. Tapi…..

DAYANG :

( HENDAK BERBALIK KE TEMPAT DATUK )  Apa lagi !?

PEDAGANG :

Tadi katanya, Nona Sitty belum memastikan dirinya untuk…….

DAYANG I:

O. Itu bukan urusan kamu. Nanti akan kami hubungi lagi dia. Cuma persoalan nilai kontrak. Dengan nilai yang lebih tinggi, pasti Sitty tidak akan sanggup menolaknya.

( MENUJU DATUK )

DATUK :

Bagaimana, dayang?

DAYANG I:

Beres, Datuk. Semua sudah saya persiapkan

DATUK :

Bagus. Tidak percuma kau kuangkat jadi jubir, bibirmu tak kalah cepatnya dengan otakmu. Setelah Samsul dibereskan, tidak ada lagi halangan bagi saya menuju Sitty. Oh, Sitty ( SERAYA MENERAWANG ).

* *

IV.

SEORANG PEDAGANG PALSU SURUHAN DAYANG TELAH SIAP DI TEMPAT ITU. IA MONDAR-MANDIR MENUNGGU ANAK-ANAK SEKOLAH KELUAR.

SITTY MASUK, HERAN MELIHAT PEDAGANG ITU.

NARATOR :

PEDAGANG PALSU TELAH SIAP DITEMPAT, MONDAR-MANDIR MENUNGGU ANAK-ANAK SEKOLAH KELUAR . SITTY YANG MELIHAT IBU PEDAGANG ITU HERAN, WAJAH YANG TAK BIASA IA TEMUI.

PEDAGANG PALSU :

O. Mmh, nona pasti  Sitty Soerabaja.

SITTY :

Betul. Tapi ibu ini siapa ? Biasanya kan bu Ami yang berjualan dengan gerobak ini.

PEDAGANG PALSU :

Saya ini… anu, maksud saya, saya ini saudara dari isterinya si Ami yang biasanya berjualan di sini. Berhubungan si Amatnya ada urusan ke situ…., maksud saya ke….kampung isterinya itu, saya diminta untuk menggantikannya. Daripada tidak untung….Eh, maksud saya daripada merugi, lebih baik saya yang menjual-jual dagangannya hari  ini. Katanya dia ada……

SITTY :

Ada apa, bu ?

PEDAGANG PALSU :

Ah, entahlah. Tidak tahu saya. Pokoknya anu. Penting !

SITTY :

Maksud ibu urusan penting.

PEDAGANG PALSU :

Nah, betul. Seperti yang Nona maksudkan tadi.

Yang penting bagi saya itu, si anu, maksud saya, teman Nona yang bernama Samsul itu .

SITTY :

O, Samsul Bahri. Dia belum keluar. Sebentar lagi. Saya biasa menunggunya di sini.

Ada perlu apa dengan Samsul bu?

PEDAGANG PALSU :

Begini. Saya ini di…., maksud saya ada sesuatu yang akan saya……

SITTY :

Maksudnya yang ingin ibu sampaikan pada Samsul ? Katakan saja pada saya, nanti saya sampaikan pada Samsul.

PEDAGANG PALSU :

Ooo…tidak bisa, maksud saya tidak usah. Biar saya saja. Ini juga penting Nona.

SITTY :

Memangnya siapa yang berpesan ?

PEDAGANG PALSU :

Si itu…, si anu, maksud saya…….

SITTY :

bu Ami ?

PEDAGANG PALSU :

Iya, ya, seharusnya saya bilang begitu. Hehehe……..

SEMENTARA PEDAGANG PALSU ITU MENUNGGU SAMSUL, SITTY MENGAMBIL BEBERAPA BUAH ONDE-ONDE DARI GEROBAKNYA.

SITTY :

Bu, Saya beli onde-ondenya. Ini uangnya.

PEDAGANG PALSU :

Ha! Onde-onde ? Nona Sitty membeli onde-onde ini untuk siapa ?

SITTY :

Ya buat saya.

PEDAGANG PALSU :

Tapi ini tidak untuk……..

SITTY :

O, tidak untuk dijual, begitu ? Apa tidak mau uang ?

PEDAGANG PALSU :

Uang ! Mau saya. Ini saya lakukan karena uang.

SITTY :

Nah, ini uangnya.

SITTY DUDUK MELEPAS LELAH . KEMUDIAN IA MEMAKAN SATU BUAH ONDE-ONDE.

PEDAGANG PALSU :

Aduh ! Celaka saya. Seharusnya Samsul, seperti yang disuruhkan pada saya. Nona memakannya ? ( PADA SITTY )

SITTY :

Iya, kenapa ?

PEDAGANG PALSU :

Ditelan ?

SITTY :

( MENGANGGUK )

PEDAGANG PALSU :

Enak ?

SITTY :

Mmm, enak. Tapi gulanya terlalu manis dari yang biasa.

( MEMAKAN SEBUAH LAGI )

PEDAGANG PALSU :

Yang itu ?

SITTY :

Sama saja. Ibu ini kenapa ? Kalau ibu mau silahkan coba saja. ( MENYODORKAN ONDE-ONDE )

PEDAGANG PALSU :

O. Tidak, tidak ! Saya tidak suka onde-onde.

Onde-onde itu manis.

Saya tidak boleh makan yang manis-manis.

Kalau saya makan, saya akan batuk-batuk.

Saya akan jadi pusing.

( SITTY MEMEGANG KEPALANYA SEPERTI KESAKITAN )

Nah, anak saya akan marah.

Ia akan tambah pusing melihat saya.

Ia akan kasak-kusuk mencarikan saya obat.

Saya pernah pusing gara-gara makan dodol yang sama manisnya dengan onde-onde.

Saya jadi terbatuk-batuk, nafas saya sesak sekali

(SITTY MEMEGANG DADANYA KARENA SESAK NAFAS )

Hampir-hampir saya tidak kuat lagi.

Untung anak saya segera membawa saya ke Puskesmas.

Susternya menyuntik saya disini ( MENUNJUK BAGIAN PAHANYA ) Sakit.

Tapi, setelah itu saya bisa sembuh. Kalau tidak, saya bisa mati.

( SITTY BERDIRI HENDAK  MENGHAMPIRI PEDAGANG PALSU DAN KEMUDIAN TERKAPAR DI TANAH )

Saya ini belum ingin mati. Saya ingin hidup seribu tahun lagi. Nona takut mati ?

( MENOLEH KEPADA SITTY )

Nona ? Nona ! Bangun nona. Nona, bangun.

Wah, celaka. Aduh, seharusnya Samsul.

Kalau tidak, saya tak dapat uang.

Aduh, nona ini ( MENDEKATKAN TANGAN PADA HIDUNG SITTY )

Haa ! Tidak ada anginnya.

Puskesmas, puskesmas ! Tolong ! Tolong ! Ah, kalau orang-orang datang hancur saya. Aduh, bagaimana ini !?.

SAMSUL, TIARA DAN ARIN MASUK

SAMSUL :

Sitty !?

TIARA :

Sitty kenapa !?

ARIN :

Ada apa dengan Sitty !?

SAMSUL :

Hah ! Tidak usah bertanya lagi. Cepat angkat. Bawa ke rumah sakit.

MEREKA KELUAR MEMBOPONG TUBUH SITTY. DARI ARAH LAIN DATUK MARKINDI DAN DAYANG MASUK.

NARATOR :

KARENA KEKELIRUAN DAN KEBODOHAN PEDAGANG YANG CEROBOH ITU, TUBUH SITTY MENJADI TERGOLEK TAK BERDAYA. HIDUP ATAU MATIKAH SITTY MASIH MENJADI PERTANYAAN.

DATUK :

Bagaimana ?

PEDAGANG PALSU :

Wah. Aduh, celaka ! Sitty !

DATUK :

Kenapa Sitty ?

PEDAGANG PALSU :

Onde-onde, maksud saya Sitty makan onde-ondenya. Sudah saya larang, tapi ia terus saja. Mau apa lagi. Kalau saya katakan ada racunnya tidak mungkin. Sekarang Sitty diangkut ke…

DAYANG I:

Diangkut ke rumah sakit ? Cepat lihat kondisinya ! Segera balik, kami tunggu di sini !

PEDAGANG PALSU KELUAR MELIHAT KEADAAN SITTY

DATUK :

Haahhh ! Kenapa bisa jadi seperti ini ? Kacau ! Yang saya perintahkan bunuh Samsul Bahri. Kalau Sitty mati, percuma semuanya !

DAYANG I :

Ini kesalahan teknis, Datuk.

DATUK :

Ini kesalahan kamu ! Menyuruh orang yang tidak bisa diandalkan ! Apa tidak ada yang lebih  punya akal !

DAYANG I :

Kalau orang berakal mungkin tidak mau melakukannya, Datuk.

DATUK :

Sudah! Jangan mencari alasan lagi. Apa yang harus kita lakukan ? Kita dalam keadaan bahaya. Sebaiknya kita pergi dari sini.

DAYANG II:

Tunggu Datuk, Kita tunggu laporan dari orang itu dulu Datuk.

DATUK :

Untuk apa lagi ?

DAYANG II :

Mengetahui keadaan Sitty, ia mati atau tidak.

DATUK :

Mati atau tidak, tidak perlu lagi saat ini. Kasus ini pasti diusut. Sekaranglah waktu yang tepat untuk menghindar. Ayo !

LANGKAH DATUK TERHENTI KARENA SAMSUL DATANG.

SAMSUL :

O. Ternyata langkah saya tak kurang dan tak jua lebih. Hendak ke mana tuan dan nona ? Tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya, ya ! Begitu ? Sitty sekarang dalam keadan koma, Dokter telah mengetahui penyebabnya. Tidak ada alasan untuk tidak menuduh Datuk sebagai dalangnya.

DATUK :

Jangan asal tuduh ! Kamu ingin mencemarkan nama baik saya, ya !?

DAYANG III:

Oi, anak muda. Apakah kau punya bukti otentik kalau bicara !?

SAMSUL :

Bukti ? ( MENGODE DENGAN TEPUKAN TANGAN )

TIARA MASUK MEMBAWA PEDAGANG PALSU

SAMSUL :

Siapa yang menyuruhmu untuk meracuni Sitty ? (KEPADA  PEDAGANG PALSU)

PEDAGANG PALSU :

Itu, Situ. Maksud saya orang itu ( MENUNJUK DAYANG )

SAMSUL :

Ibu di bayar berapa sama dia?

PEDAGANG PALSU :

Tadi saya dikasihnya uang segini ( HENDAK MENGELUARKAN SELURUH ISI SAKUNYA ). Janjinya saya akan dikasih uang banyak, satu juta katanya. Jadi saya mau. Perintah cuma menyerahkan onde-onde itu pada Samsul Bahri. Samsul Bahrinya tidak ada. Tapi Nona Sitty membeli onde-onde itu dan mengasih saya uang.

SAMSUL :

Maksudnya apa ?

PEDAGANG PALSU :

Aduh, ini sudah tiga kali saya jelaskan pada kalian !

TIARA :

Jadi tidak usah berkelit lagi dari kami, Datuk !

SAMSUL :

Datuk hendak meracuni saya agar Sitty bisa jatuh ke tangan Datuk ? Terlalu sempit jalan pikiran datuk. Tidak semua orang bisa Datuk bodoh-bodohi. Zaman sudah bertukar, Datuk ! Nah, sekarang kau harus me……

ARIN MASUK DENGAN RAUT MUKA TEGANG BERCAMPUR TANGIS.

ARIN :

Sitty sudah mendahului kita. Dia sudah meninggal..

SEMUA :

Sitty !?

SAMSUL :

Gaek keparat ! (MENYERANG DATUK )

DATUK

Lepaskan! (Sambil MELEPAS JAS JAWA)

SAMSUL BERHASIL MENGEJAR DATUK, DAN MEREKA TERLIBAT PERKELAHIAN. DATUK MENGELUARKAN BELATINYA. TAPI NAAS, DATUK TERTUSUK BELATINYA SENDIRI. MELIHAT DATUK TERGOLEK PENUH DARAH, PARA DAYANG LANGSUNG MENGHAMPIRI DATUK.

* *

V.

DI SUDUT JALAN BEBERAPA HARI KEMUDIAN, SEORANG PEREMPUAN BERPAKAIAN LUSUH DUDUK DI HALTE. IA TENGAH BERBICARA SEORANG DIRI.

NARATOR:

DISUDUT JALAN ITU, BEBERAPA HARI SETELAH KEMATIAN SITTY, DATANGLAH PEREMPUAN YANG BERPAKAIAN LUSUH . WAJAHNYA GELISAH, SEGELISAH HATINYA. IA BERBICARA SENDIRI, TANPA SEORANGPUN DISEKITARNYA, HANYA ADA BAYANGAN YANG MENYAHUT PEMBICARAAN PEREMPUAN ITU.

LAMPU PADAM

IBU :

Sitty…kembalilah Sitty…dst.

SUARA-SUARA :

Dia tak akan kembal. Menjelma gunung. Orang-orang mendaki, seperti mendaki mimpi. Sitty melihat mimpi itu, Ibu. Bintang jatuh ke samudera jiwa, jiwa lepas dari tubuh….

IBU :

Kemarilah, sayang. Maafkan Ibu, kemarilah…peluk Ibu….dst.

SUARA-SUARA :

Sitty di sini Ibu. Serupa jembatan, antara masa lalu, masa kini, dan masa datang. Jembatan waktu yang melingkar, metamorfosis. Orang-orang melintas, datang, singgah, pergi, dan menghilang.

IBU :

Jangan cengeng, Sitty ! Ayo, berdiri. Ayo! Bangun, nak. Lepaskan kemanjaan…dst.

SUARA-SUARA :

Sitty jadi muara, Ibu. Tempat segalanya berakhir. Akhir dari kepedihan, akhir dari segala dendam. Akhir dari mimpi-mimpi yang dihanyutkan orang dari hulu, dari masa lalu. Telah jadi kisah, Ibu. Yang melahirkan seribu tafsir…. Meski kita tidak pernah tahu kapan episode ini berakhir….

SEMUA ANGGOTA MASUK PANGGUNG MEMBAWA LILIN, DAN BERSAMA-SAMA MENYANYIKAN LAGU TAK ADA YANG ABADI-PETERPAN

SELESAI

3 Komentar (+add yours?)

  1. Mochamad Yusuf
    Mar 26, 2013 @ 14:48:15

    C-2010_Mochamad yusuf_101644035 Said: Pak, kok dari drama kelas A 2010 saja yang di posting?? kelas C 2010 kok tidak??

    Balas

  2. Mochamad Yusuf
    Mar 26, 2013 @ 14:48:53

    C-2010-mochamad yusuf-101644035 said: pak, kok drama dari kelas A saja yang di posting??? untuk kelas C mana??

    Balas

  3. tri ayu rokimah
    Apr 01, 2013 @ 13:38:15

    C-2010-TRI AYU ROKIMAH 091644344
    ceritanya sangat menarik karena berisi tentang percintaan dua anak manusia yang mendapatkan beberapa cobaan. Dalam cerita ini terdapat unsur romantisme dan konflik yang membuat pembaca tidak merasa jenuh dengan dialog-dialog yang panjang. ceritanya juga beruntun dan mudah dipahami oleh pembaca.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR

Sastra Mampu Membuka Mata Hati dan Mata Pikiran Kita, Karena Sastra Adalah Refleksi Kehidupan Kita

Sobo sak paran-paran

Ini blog-blogan ...

Garis Edar-ku

Blog tentang seputar aktivitas kerjaku

@ReeMekarsari

Buat Saya, "Bahagia itu Sederhana" -Ree-

@MaureenMoz

live is an adventure. enjoy the ride.

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Enrichissez-vous!

enrich yourselves

Joglo Drama - Mbah Brata

Seni memanusiakan manusia, menjadikan manusia lebih manusiawi

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: