“Bawang Bombay”


Judul                      : “Bawang Bombay”

Penulis Naskah  : Aktiana Setya Ika Utami

Babak                     : 2 (dua) babak

Sifat                       : Adaptasi dari cerita “Cinderella” kombinasi dengan cerita “Timun Mas”

Genre Teater       : Tragedi Komedi

Durasi                  : 60 menit

 

Staf Pendukung Produksi :

  1. Anna Yuli Susanti
  2. Aktiana Setya Ika Utami
  3. Ely Daniati
  4. Mulyorini
  5. Agus Sumarliani

Konsep Cerita

“Bawang Bombai” adalah sebuah naskah teater bergenre tragedi komedi yang menceritakan cinta segitiga antara Bawang Bombai, Pangeran dan Buto Ijo.

Sinopsis

Dikisahkan seorang gadis berpostur tubuh gemuk yakni Si Bawang Bombai, yang terpaksa harus menerima kehadiran seorang ibu tiri dengan dua orang putrinya. Sifat ibu tiri dan kedua putrinya yakni Cabai Rawit dan Cabai Keriting sangat jahat kepada Bawang Bombai. Sehingga Bawang Bombai hanya sibuk dengan pekerjaan rumah dan mencuci baju di sungai. Karena kesibukannya, tubuh Bawang Bombai lama-lama menjadi langsing dan terlihat cantik.

Pada saat Bawang Bombai mencuci di sungai, ia mendengar kabar bahwa sang Raja akan mengadakn pesta di Istana. Rupanya Bawang Bombai tertarik hatinya untuk ikut. Tapi tiba-tiba kejadian tak terduga dialami oleh Bawang Bombai, sewaktu mencuci di sungai ia dihampiri oleh Buto Ijo. Bukan untuk memakannya, tapi Buto Ijo ternyata jatuh hati dengan Bawang Bombai. Tapi Bawang Bombai hanya menganggapnya sebagai seorang teman.

Melihat Bawang Bombai ingin pergi ke istana, hati Buto Ijo menjadi kasihan. Diapun memutuskan untuk mengantarkannya. Hingga akhirnya dia mengetahui bahwa putra raja juga menyukai Bawang Bombai. Buto Ijo memutuskan untuk menemui pangeran dan mengajaknya bertanding. Tetapi Buto Ijo meninggal karena diracun oleh Raja.

 

Bagan Alur :

Alur Maju( Alur Kronologis)

Perkenalan                   : Perkenalan Bawang Bombai dengan Buto Ijo

Pemicu Masalah       : Bawang Bombai ikut ke pesta yang menyebabkan Buto Ijo cemas.

Konflik                        : Pangeran jatuh hati kepada Bawang Bombai, begitupula sebaiknya.

Klimaks                       : Buto Ijo meluapkan kemarahannya dan menghajar pangeran.

Anti Klimaks              : Raja mempunyai siasat yang lick sehingga Buto ijo mati karena                                           keracunan makanan.

Konsep Panggung

Babak I :

Sungai              : terdapat beberapa tanaman hidup di panggung menggambarkan suasana asrinya hutan dan sungai.

Babak II :

Kerajaan          : dua buah kursi, gorden

Properti

–       Kentongan,

–       Selembar kertas pengumuman

–       Bunga mawar

–       keranjang cucian

–       pakaian untuk dicuci

–       miniatur pohon dari sterofoam

Konsep Busana

  1. Bawang Bombai          : kebaya dengan jarik setinggi lutut
  2. Ibu Bawang Bombai    : kebaya mewah
  3. Cabai keriting              : kebaya modern
  4. Pengawal                     : rompi, celana pendek, jarik setinggi lutut
  5. Buto Ijo                       : celana pendek
  6. Raja                             : kemeja adat jawa
  7. Pangeran                      : kemeja adat jawa

Tata Rias

  1. Bawang Bombai          : make up sederhana
  2. Ibu Bawang Bombai    : full make up
  3. Cabai keriting              : make up mencolok
  4. Pengawal                     : make up sederhana
  5. Buto Ijo                       : seluruh tubuh dilumuri pewarna hijau
  6. Raja                             : make up sederhana
  7. Pangeran                      : make up sederhana

 

Watak Tokok (Penokohan) :

  1. Bawang Bombai          : lemah lembut, sabar
  2. Ibu Bawang Bombai    : sombong, jahat
  3. Cabai keriting              : sombong jahat
  4. Pengawal                     : tegas
  5. Buto Ijo                       : baik hati, pemarah
  6. Raja                             : tegas, licik
  7. Pangeran                      : penyabar, baik hati

 

Narasi : Alkisah, di sebuah desa tinggallah seorang gadis yang bernama Bawang Bombai dengan ibu tiri dan saudara tirinya, karena sifat jahat ibu tiri dan saudara tirinya, Bawang Bombai terpaksa harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, termasuk mencuci semua pakaian kotor di sungai. Hingga suatu hari terjadilah peristiwa yang tidak diduga oleh Bawang Bombai, untuk cerita selengkapnya, mari kita saksikan di TKP !

(suara gamelan)

(hening)

(suara kicauan burung dan gemercik air sungai)

 

BABAK 1

TERLIHAT BAWANG BOMBAI TENGAH MERATAPI NASIBNYA SAMBIL MENCUCI SETUMPUK PAKAIAN DI SUNGAI.

Bawang Bombai         : “Setiap hari, pekerjaan ini yang harus aku lakukan. Membuatku rindu dengan ayah dan ibu. Ayah, Ibu, Bombai merindukan kalian.”

(TIBA-TIBA CABAI KRITING DAN IBUNYA MUNCUL)

Cabai Keriting            : ”Kayaknya ada yang lagi kangen sama ayah dan ibunya ni !.”

Bawang Bombai         : “Kakak, ibu, kenapa kalian ada di sini ?.” (KAGET)

Ibu Tiri                       : “Hei!, denger ya, bukan urusan kamu, aku sama Keriting ada di sini.”

Cabai Keriting            : “Denger gak kamu ?, uda sana lanjutin pekerjaan kamu. Rumahnya juga belum dibersikan tahu!.”

Bawang Bombai         : “Iya, maafkan saya Bu, Kak.”

(BOMBAI MELANJUTKAN MENCUCI, SEMENTARA CABAI KERITING DAN IBUNYA SIBUK MERAPIKAN DIRI DAN BERDANDAN)

Cabai Keriting            : “Sebentar lagi, mereka pasti akan lewat.”

Ibu Tiri                       : “Iya, karena itu jaga penampilan kamu!.”

TAK LAMA KEMUDIAN, MUNCULLAH PARA PENGAWAL ISTANA DENGAN MEMBUNYIKAN KENTONGAN)

Pengawal                    : “Pengumuman, pengumuman. Pengumuman, pengumuman. Pengumuman, pengumuman.”

Ibu Tiri                       : “Hei kalian, gak lihat apa ada orang di sini!, dari tadi pengumuman pengumuman. Emang apa pengumumannya ?.”

Cabai Keriting            : “Iya dari tadi kita di sini nungguin kalian tahu. Emangnya pengumuman apa si ?.”

Pengawal                    : “Sabar dong. Nyonya-nyonya ingin tau saja apa ingin tahu banget?.”

Cabai Keriting            : “Ya, ingin tahu banget lah. Kita uda jauh-jauh kesini cuma ingin mendengar pengumuman kalian secara langsung. Bukan lewat kabar burung.”

Ibu Tiri                       : “Uda ayo cepat. Apa pengumumannya, bacakan !”

Pengawal                    : “Baiklah, dengarkan baik-baik.”

(BAWANG BOMBAI JUGA TURUT MENDENGARKAN)

Pengawal                    : “Diberitahukan kepada seluruh gadis di seluruh penjuru negeri ini, untuk datang ke istana pada malam tahun baru, karena sang raja akan mengadakan pesta. Sekian terimakasih. Sudah nyonya, saya mau melanjutkan perjalanan. Pengumuaman, pengumuman.”

(PENGAWALPUN BERLALU PERGI)

Cabai Keriting            : “Wah! pasti seru banget. Hei Bombai, jangan harap kamu bisa ikut ya. Kita tidak mengijinkan!, ya kan Bu ?.”

Ibu Tiri                       : “Tentu saja. Sekarang lanjutkan pekerjaanmu dan pulang!, kita berdua mau ke pasar dulu untuk membeli baju yang bagus.”

Cabai Keriting            : “Rasain!.” (SAMBIL MENENDANG KERANJANG CUCIAN BAWANG BOMBAI DAN BERLALU PERGI)

BAWANG BOMBAI KEMBALI SENDIRI DAN MEMBERESKAN CUCIAN YANG BERANTAKAN.

Bawang Bombai         : “Ibu Tiri hanya cinta, kepada ayahku saja .. selagi ayah di sampingku, ku dipuja dan dimanja. Tapi bila ayah pergi, ku disiksa dan dimaki, “ (MENYANYI DI IRINGI MUSIK)

“Sabar sabar, semua ini sudah takdir yang harus aku jalani, meski berat, aku harus bersyukur. Bersyukur tidak jadi Pejabat, (TERTAWA). Kasihan –kasihan. Kasihan kalau ditanya malaikat, mereka jujur gak ya ?, kalau di pengadilan manusia si masih bisa bohong, masih bisa main suap. Malaikat disuap apa ya ? (TERTAWA) jadi nglantur.”

(MENYANYI)

“Andaiku gayus tambunan, yang bisa pergi ke Bali, semua keinginannya, masih bisa terpenuhi, ….”

Buto Ijo                      : “Terdengar merdu sekali suaranya, buat hatiku berdebar. Siapa ya gadis cantik itu…. ?”

(BERJALAN MENGENDAP DI BALIK POHON)

Bawang Bombai         : “Hai… siapa ya ?. Terdengar suara tapi gak ada orangnya. Jangan nakutin dong ?. Ayo keluarlah !”

Buto Ijo                      : “Maafkan aku tuan putri, aku telah mengganggu pekerjaanmu.”

(MASIH DIBALIK POHON DENGAN SUARA DIBUAT-BUAT)

Bawang Bombai         : “Tidak, kamu tidak menggangguku. Siapa kamu ?, kenapa bersembunyi ?, keluarlah”

Buto Ijo                      : “Maafkan aku tuan putri, aku malu.”

Bawang Bombai         : “Syukurlah, ternyata hari gini ada orang yang masih punya rasa malu. Tapi kenapa kamu malu ? Apa kamu malu karena sudah korupsi ?. Aku bukan KPK kok !. Jangan takut”

Buto Ijo                      : “Tuan putri bisa saja. Aku malu karena aku jelek tuan putri. Aku khawatir tuan putri takut jika melihat aku.”

Bawang Bombai         : “Tenang saja, asal kamu bukan gederuwo aku tidak akan takut. Keluarlah !”

( BUTO IJO KEUAR TAPI TUBUHNYA DISELIMUTI DENGAN KAIN)

Bawang Bombai         : “Kenapa kamu tutupi tubuhmu ?”

Buto Ijo                      : “Aku malu dan takut tuan putri lari jika melihat aku.”

Bawang Bombai         : “Baiklah, biar aku yang membuka kainnya, kan ku buktikan jika aku tidak takut padamu.”

(BAWANG BOMBAI MEMBUKA PENUTUP TUBUH BUTO IJO)

Bawang Bombai         : “Aawwww!!,”

(BAWANG BOMBAI TERIAK MENJAHUI BUTO IJO)

Buto Ijo                      : “Tuan putri jangan takut, aku tidak sedang mencari timun mas untuk dimakan, tapi aku sedang mencari………………….”

(BUTO IJO BERBALIK DAN MENGELUARKAN MAWAR MERAH DARI BALIK BAJUNYA)

Bawang Bombai         : “Maaf, kalau boleh tahu, kamu mencari siapa ?”

Buto Ijo                      : “Aku mencari……………..”

Bawang Bombai         : “Iya mencari siapa ?”

Buto Ijo                      : “Aku mencari…………….. “

(BUTO IJO BINGGUNG TIDAK BISA MENGUNGKAPKAN PERASAANNYA)

Bawang Bombai         : “Sampai kapan aku menunggumu untuk bicara ?”

Buto Ijo                      : “Maaf, aku mencari seorang putri yang mau berteman denganku.”

Bawang Bombai         : “O, tapi aku bukanlah tuan putri, jadi jangan panggil aku tuan putri. Sekarang biar kuantar kamu ke rumah tuan putri.”

Buto Ijo                      : “Tidak, tidak, aku ingin berteman denganmu saja. Bolehkah ?.”

Bawang Bombai         : “Baiklah, asalkan kamu tidak akan memakanku. Namaku Bawang Bombai, kamu siapa ?.” (SAMBIL MENGULURKAN TANGAN)

Buto Ijo                      : “Panggil saja aku Ijo.”

(KEDUANYA SEKARANG BERTEMAN, BUTO IJO MEMBANTU BAWANG BOMBAI MENCUCI)

Buto Ijo                      :“Sini aku bantu. Kamu istirahat aja dulu.”

Bawang Bombai         : “Kenapa kamu baik sekali.”

Buto Ijo                      : “Karena kamu sudah bersedia menjadi temanku.”

BUTO IJO MERASA SANGAT SENANG, BEGITU PULA BAWANG BOMBAI. DITANGAN BUTO IJO, PEKERJAAN BAWANG BOMBAIPUN CEPAT SELESAI.

Bawang Bombai         : “Oh ya, besok malam raja akan mengadakan pesta. Aku ingin datang ke pesta itu. Tapi aku tidak tahu jalannya. Ibu dan kakakku tidak mengijinkan aku untuk ikut.”

Buto Ijo                      : “Jangan khawatir, aku akan mengantarkanmu.”

Bawang Bombai         : “Sungguh ?.”

Buto Ijo                      : “Iya.”

Bawang Bombai         : “Terimahkasih. Tadi kamu sudah membantuku, besok mau mengantarkan aku. Sekarang, apa yang bisa kulakukan untukmu Ijo ?.”

Buto Ijo                      : “Aku senang sekali bisa bersama kamu Bombai. Kalau boleh, aku ingin bersamamu terus. Apa boleh ?.”

Bawang Bombai         : (HANYA MENGANGGUK) “Sekarang pulang yuk ?.”

Buto Ijo                      : “Biar aku yang bawakan cuciannya.”

Bawang Bombai         : “Terimakasih.”

 

BABAK 2

SUASANA KERAJAAN YANG RAMAI, BANYAK GADIS YANG BERDATANGAN. DUDUKLAH SANG RAJA DAN PUTRANYA.

 

Raja                            : “Putraku, pilihlah satu gadis yang menarik hatimu, dan jadikan ia pendampingmu selamanya.”

Pangeran                     : “Baiklah ayah, semoga ada gadis yang mampu mencuri hatiku.”

PENGAWAL MEMBUNYIKAN KENTONGAN, PERTANDA ADA YANG MAU DISAMPAIKAN.

Pengawal                    : “Perhatian, perintah dari Sang Baginda Raja, para gadis diminta untuk memperkenalkan dirinya satu persatu.”

TANPA BASA-BASI CABAI KERITING LANGSUNG MAJU MEMPERKENALKAN DIRI.

Cabai Keriting            : “Permisi Sang Raja, Pangeran. Perkenalkan nama saya Cabai Keriting. Saya yang paling cantik diantara gadis-gadis yang ada disini.”

Raja                            : “Terimakasih Cabai Rawit.”

Cabai Keriting            : “Cabai Keriting Baginda.”

Raja                            : “Ya, maaf. Terimakasih Cabai Keriting. Silahkan kembali ketempatmu.”

PANGERAN BERBISIK KEPADA PENGAWAL UNTUK MEMINTA BAWANG BOMBAI MEMPERKENALKAN DIRI. PENGAWALPUN MEMINTA BAWANG BOMBAI UNTUK MAJU.

Bawang Bombai         : “Maafkan saya Baginda, Pangeran. Saya malu untuk memperkenalkan diri.”

Raja                            : “Jangan malu, perkenalkan saja siapa nama kamu.”

Bawang Bombai         : “Nama saya Bawang Bombai Baginda.”

Pangeran                     : “Dimana kamu tinggal Bombai ?.”

Bawang Bombai         : “Di tengah hutan Pangeran.”

Pangeran                     : “Sekarang pulanglah, bilang pada kedua orang tuamu, mulai sekarang kamu boleh tinggal di Istana.”

Ibu Tiri                       : “Maaf Pangeran, saya ibunya Pangeran, dan ini Cabai Keriting adalah kakak Bawang Bombai. Kenapa Bombai harus tinggal di Istana. Tentu kami akan merasa sedih dan merasa kehilangan Pangeran.”

Cabai Keriting            : “Iya Pangeran. Bawang Bombai biar bersama kami saja.”

Raja                            : “Kalau begitu kalian berdua juga saya ijinkan untuk tinggal di Istana bersama Bawang Bombai.”

Ibu Tiri                       : “Terimakasih Baginda, terimakasih Pangeran.”

Raja                            : “Kalau begitu, pesta ini saya akhiri, mari ikut saya untuk berkeliling Istana.”

(PESTAPUN BERAKHIR, RAJA, IBU BAWANG BOMBAI DAN CABAI KERITING MENGIKUTI SANG RAJA BERKELILING ISTANA, DAN TINGGALLAH PANGERAN BERSAMA BAWANG BOMBAI)

 

Pangeran                     : “Bawang Bombai, kenapa nama kamu Bawang Bombai ?.”

Bawang Bombai         : “Maaf, pangeran. Dulu saya sangat gendut, dan semenjak Ibu saya meninggal. Saya harus ikut ibu tiri. Semenjak itu, saya yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah karena para pembantu di usir oleh kakak tiri saya Cabai Keriting.”

Pangeran                     : (TERSENYUM) “Sekarang, disini kamu tidak akan pernah melakukan pekerjaan itu lagi.”

Bawang Bombai         : “Bagaimana bisa Pangeran. Ibu dan kakak saya kan ada disini.”

Pangeran                     : “Di Istana banyak pembantu yang akan mengerjakan semuanya Bombai.”

Bawang Bombai         : ”Terus, kenapa saya harus tinggal di istana Pangeran.”

Pangeran                     : “Kamu akan menemaniku jalan-jalan disaat santai.”

Bawang Bombai         : “Apa Pangeran tidak malu berjalan-jalan dengan saya.”

Pangeran                     : “Tidak Bombai, sebenarnya aku sudah sering melihatmu, saat kamu mencuci begitu banyak pakaian di sungai. Dan kesederhanaanmu itu, membuat kamu kelihatan sangat cantik. Sekarang, bersediakah kamu ku jadikan permaisuri ?.” (SAMBIL MEMBERIKAN SETANGKAI BUNGA MAWAR)

DENGAN MALU-MALU BAWANG BOMBAI MENERIMANYA, HATINYA SANGAT SENANG HINGGA LUPA JIKA IA DITUNGGU OLEH BUTO IJO YANG TADI MENGANTARNYA, SEHINGGA BUTO IJO DENGAN MURKA MEMAKSA MASUK MENCARI BAWANG BOMBAI KARENA DIA SUDAH LAMA MENUNGGU.

Buto Ijo                       : “Bombai !!” (DENGAN WAJAH MARAH KARENA MELIHAT BOMBAI DIPELUK OLEH PANGERAN)

Bawang Bombai          : “Ijo.”

Pangeran                      : “Pengawal !” (PANGERAN BERSERU KETAKUTAN)

DENGAN SEGERA PENGAWAL MENGHADANG BUTO IJO, TAPI BUTO IJO BERONTAK DAN MENYERANG PANGERAN. PANGERAN TAMPAK MENYERAH SEHINGGA SALAH SATU PENGAWAL MEMANGGIL SANG RAJA. PANGERAN NAMPAK LEMAH. TETAPI RAJA SEGERA DATANG DAN BUTO IJO BERHENTI MENGHAJAR PANGERAN.

Raja                             : “Siapakah kamu ?, dan apa maksud kamu datang kemari.”

Bawang Bombai          : “Maaf, Baginda. Dia Buto Ijo teman saya.”

Raja                             : “Teman kamu ?.”

Bawang Bombai          : “Iya Baginda. Saya mohon, maafkanlah dia”

NAMPAKNYA RAJA TAHU AKAN KEMARAHAN BUTO IJO, SEHINGGA IA MEMPUNYAI SIASAT UNTUK MEMBUNUH BUTO IJO AGAR TIDAK LAGI MENGGANGGU BAWANG BOMBAI.

Raja                            : “Baiklah, kalau begitu, duduklah Buto Ijo, pengawalku akan membawakan makanan untukmu. Bawang Bombai, Putraku, pergilah kalian beristirahat, biar saya yang menjamu Buto Ijo di sini ”

RAJA MEMBERI ISYARAT KEPADA PENGAWAL UNTUK SEGERA MASUK MEMBAWA MAKANAN YANG TERNYATA SUDAH DIBERI OBAT TIDUR DAN RACUN

Raja                             : “Makanlah, kamu pasti lapar.”

BUTO IJOPUN MEMAKAN SEMUA HIDANGAN DENGAN LAHAP, SAMPAI IA TERTIDUR DAN TIDAK AKAN BANGUN LAGI SELAMANYA.

(PARA PENGAWAL MASUK DAN MEMBAWANYA KELUAR)

SESUNGGUHNYA RAJA SANGAT DENDAM DENGAN KELUARGA BUTO IJO YANG PERNAH MEMAKAN SEBAGIAN RAKYATNYA, SEHINGGA IA SANGAT DENDAM DAN TEGA MEMBUNUH BUTO IJO.

SEJAK SAAT ITU, BAWANG BOMBAI TAK PERNAH BERTEMU LAGI DENGAN BUTO IJO, DAN IA MERAYAKAN PESTA PERNIKAHAN DENGAN SANG PANGERAN, IBUNYA DI PERSUNTING SANG BAGINDA, SEDANGKAN CABAI KERITING TERNYATA JATUH HATI DENGAN PENGAWAL. MEREKAPUN HIDUP BAHAGIA DI ISTANA.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR

Sastra Mampu Membuka Mata Hati dan Mata Pikiran Kita, Karena Sastra Adalah Refleksi Kehidupan Kita

Sobo sak paran-paran

Ini blog-blogan ...

Garis Edar-ku

Blog tentang seputar aktivitas kerjaku

@ReeMekarsari

Buat Saya, "Bahagia itu Sederhana" -Ree-

@MaureenMoz

live is an adventure. enjoy the ride.

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Enrichissez-vous!

enrich yourselves

Joglo Drama - Mbah Brata

Seni memanusiakan manusia, menjadikan manusia lebih manusiawi

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: