“BONE KAH KAU KU”


2015601144918

 Produksi PGSD FIP UNESA 2015

Pimpinan Produksi

Drs. Heru Subrata, M.Si

Produser pelaksana

Drs. Hendratno, M.Pd

“BONE(KAH) KAU KU”

Sutradara

Rahmi NurHabibah

Asisten Sutradara

Edo Tresnanto

Penulis Naskah

Harumi

Editor

Dimas Dwi Kurniawan

Penata Musik:

Gagas Anung P. Dan Azizah Syaila A.

Penata Panggung:

Moh. Setyo Wardono, Kartika Dewi W, Prita Novilia.

Penata Busana dan Rias:

Layla Miftakhul, Lola Ayu, Oktavina Ika Palupi.

Pemain:

Kartika Dewi W, Edo Tresnanto, Kustiyo Rini, Hesti Prestica, Erlin Citra, Prita Novilia, Dzakirotul Dihni, Moh. Setyo Wardono, Harumi, Dimas Dwi Kurniawan, Afifatul Istiqomah, Gagas Anung P, Layla Miftakhul, Rahmi NurHabibah, Lola Ayu Oktavia, Oktavina ika Palupi, Azizah Syaila Amiliyana, Eka Retno Wardani, Hidayatul Munasihah.

PEMERAN

Bone : Edo Tresnanto

Sulastri : Kartika Dewi W.

Penari 1 : Kustiyo Rini

Penari 2 : Hesti Prastica

Penari 3 : Erlin Citra

Penari 4 : Prita Novilia

Penari 5 : Dzakirotul Dihni

Bapak Sulastri : Moh. Setyo Wardono

Ibu Sulastri : Harumi

Mas Heri : Dimas Dwi Kurniawan

Bos Romlah : Afifatul Istiqomah

Body Guard : Gagas Anung P

Patung 1: Layla Miftakhul

Patung 2 : Rahmi NurHabibah

Patung 3 : Oktavina Ika Palupi

Patung 4 : Azizah Syaila Amiliyana

Patung 5 : Lola Ayu Oktavia

Setan: Eka Retno Wardani

Malaikat : Hidayatul Munasihah

SINOPSIS

Bone dan sulastri merupakan sepasang suami isteri yang hidup bersama selama kurang lebih 10 tahun. Bone adalah seorang seniman pemahat patung yang telah menghaslkan patung – patung yang begitu luar bisa. Jika diperhatikan seluruh patung – patungnya bertubuh molek dan cantik – canti. Begitu juga dengan isterinya Sulastri, dia begitu molek dan cantik. Maklum dia adalah seorang penari yang kiprahnya telah melejit.

Namun, keluarga ini kurang harmonis karena Bone tidak pernah memperhatikan dan menyayangi Sulastri. Dia lebih mencintai patung – patungnya. Ditambah lagi oang tua Sulastri yang menekan mereka untuk segera mempunyai anak. Mengingat sudah 10 tahun mereka bersama.

 

 

Penokohan

Bone : Edo Tresnanto

Seorang pemahat patung yang angkuh dan psikopat. Dia memiliki seorang isteri namun, ia sangat mengagung – agungkan patungnya.

Karakter : Psikopat.

Sulastri  : Kartika Dewi W.

Dia adalah isteri Bone yang memiliki profesi sebagai penari yang kiprahnya sudah melejit dimana-mana. Dia sangat mencintai suaminya Bone.

Karakter : Tabah dan Tulus

Penari 1 : Kustiyo Rini

Seorang penari yang juga merupakan teman dari Sulastri. Namun, dia memiliki sifat yang mudah berubah.

Karakter : Labil

Penari 2 : Hesti Prastica

Teman penari Sulastri, namun ia bukanlah seorang teman yang baik karena ia suka mengolok Sulastri.

Karakter : Centil dan bawel.

Penari 3 : Erlin Citra

Sama halnya dengan Penari 2, penari 3 merupakan teman baik dari Penari 2. Namun, Dia ceplas – ceplos dalam berbicara dan gampang emosi.

Karakter : Kasar, centil, dan bawel.

Penari 4           : Prita Novilia

Penari dua, tiga, dan empat adalah teman baik. Namun, penari empat ini lebih frontal dalam menghina.

Karakter 4: kasar, jahat.

Penari 5 : Dzakirotul Dihni

Teman penari sulastri yang bodoh, namun ia baik hati.

Karakter : baik hati.

Bapak Sulastri : Moh. Setyo Wardono

Bapak Sulastri merupakan sosok penengah antara ibu dengan Sulastri.

Karakter : sabar dan bijaksana.

Ibu Sulastri      : Harumi

Ibu Sulastri merupakan sosok penuntut dalam rumah tangga Sulastri dan Bone.

Karakter : cerewet dan emosional.

Mas Heri : Dimas Dwi Kurniawan

Adalah orang yang menunggu sulastri sekian lama walaupun Sulastri sudah memiliki Bone sebagai suaminya.

Karakter : Genit tapi setia.

Bos Romlah    : Afifatul Istiqomah

Seorang kolektor patung terkenal dan kaya raya.

Karakter : suka pamer, centil.

Body Guard    : Gagas Anung P

Merupakan body guard dari bos Romlah yang setia namun diam-diam memiliki hubungan khusus dengan bos Romlah.

Karakter : tegas, agak bodoh.

Patung 1          : Layla Miftakhul

Menggambarkan kekayaan.

Patung 2  : Rahmi NurHabibah

Menggambarkan teman wanita bone bermain judi.

Patung 3  : Oktavina Ika Palupi

Menggambarkan teman wanita bone dalam menikmati minuman keras dan ekstasi.

Patung 4          : Azizah Syaila Amiliyana

Menggambarkan teman wanita bone dalam menikmati minuman keras dan ekstasi.

Patung 5 : Lola Ayu Oktavia

Menggambarkan teman wanita bone dalam pelampisan hasrat seksualnya.

Setan : Eka Retno Wardani

Makhluk dunia lain yang selalu menyesatkan Bone.

Karakter : penghasut ke arah negatif.

Malaikat : Hidayatul Munasihah

Makhluk dunia lain yang selalu menasehati Bone kearah yang baik.

Karakter : penghasut ke arah positif.

 

 

Musik

Sulastri dan para penari menari : Gongseng bangtih

Mas heri masuk : cuplikan musik Beethoven symphony No. 5

Sulastri Menangis : Musik tema sedih

Bos Romlah dan Body Guard  joget : Maju mundur cantik dan Teh bohay

Bone masuk ke panggung : Musik dengan tema horror

Patung 1 menari : Bento – Iwan Fals

Patung 2 menari : Judi – Rhoma Irama

Patung 3 dan 4 menari : Mirasantika – Rhoma Irama

Patung 5 menari : Mari Bercinta – Aura Kasih

Semua patung mendekati Bone : Musik tema horror 2

Bone meninggal dunia : Muisk dengan tema sedihTATA BUSANA

Para penari dan Sulastri          : atasan hitam, sewek, stagen.

Bone                                        : kaos oblong lusuh, celana pendek lusuh.

Bapak                                      : atasan batik, bawahan hitam.

Ibu                                           : jubah dan kerudung.

Mas Heri                                 : kemeja, dasi, dan celana hitam

Bos Romlah                            : kaftan, kerudung.

Body Guard                            : kemeja hitam, celana hitam.

Para patung                             : body painting putih seluruh tubuh, kertas roti.

Setan                                       : body painting merah, jubah merah.

Malaikat                                  : jubah putih.

NASKAH DRAMA

Setting;

Tempat : kediaman Sulastri dan Bone

Waktu : dari pagi hingga malam

Suasana : sedih, mencekam, haru.

Bone dan sulastri merupakan sepasang suami isteri yang hidup bersama selama kurang lebih 10 tahun. Bone adalah seorang seniman pemahat patung yang telah menghaslkan patung – patung yang begitu luar bisa. Jika diperhatikan seluruh patung – patungnya bertubuh molek dan cantik – canti. Begitu juga dengan isterinya Sulastri, dia begitu molek dan cantik. Maklum dia adalah seorang penari yang kiprahnya telah melejit.

Namun, keluarga ini kurang harmonis karena Bone tidak pernah memperhatikan dan menyayangi Sulastri. Dia lebih mencintai patung – patungnya. Ditambah lagi oang tua Sulastri yang menekan mereka untuk segera mempunyai anak. Mengingat sudah 10 tahun mereka bersama.

Pagi itu dikediaman Sulastri, Sulastri bersama teman – temannya sedang berlatih tari untuk persiapan pagelaran tari bulan purnama di Alun – alun.

  1. Penari 1 :  *berjalan kearah tape tane untuk mematikan lagu tari*
  2. Penari 2 : “ tidak terasa seminggu lagi kita akan tampil dipegelaran bulan purnama.”
  3. Penari 1 : “ ahh…. Kamu ini seperti baru pertama kali tampil di hajatan tersebut.  .

sriii… “

  1. Penari 2 : “ bukannya begitu mbak Sum, karena hajatan kali ini begiu “spesial” gitu

looohhh, kata orang – orang bule itu.”

  1. Penari 3 : “ seistimewa apa sih sri??? “
  2. Penari 2 : “ karena kali ini suami dan anak – anakku bisa melihat aku dalam hajatan

nanti,, gitu loh Sum”

  1. Penari 4 : “ halaaahh.. begitu saja special – spesialan segala,,, telurnya dua donh kalau

begitu”

  1. Penari 2 : “ emang telurnya dua”
  2. Penari 3 : “ sekalian kasih lontong dan mie dibungkus karetnya 2 “

Semuanya : *tertawa*

  1. Penari 5 : “ mbak yuuu… mbak yuuu… ini ngomongin lontong mie nya Darmi

deket pasar itu ta??? ” *muka goblok*

  1. Penari 4 : sitiii…sitiii dari dulu sampai sekarang otakmu kau gadaikan tak pernah kau

tebus”

  1. Penari 5 : “loohhh…. *mikir* memangnya otak bisa digadaikan ya mbak yuuuu…??

Wah kalau begitu akan ku suruh suamiku juga menggadaikan otaknya buat tambah kredit motor”

  1. Penari 1 : “waalaaahhh dalaahhhh Siti ini pintar sekali, biarpun dia tak punya otak

tetapi bisa berpikir memiliki ide secemerlang itu”

  1. Penari5 : “ yaaa tentu lah namanya juga Siti, SITI GITU LOOHHH…”
  2. Penari 3 : “ DASAR GOBLOK…..!!!!”
  3. Penari 5 : *Bingung*
  4. Sulastri : “ sudah… sudah….. jangan diteruskan. Kalian ini sudah tua – tusa kok masih

ngebully Siti saja, memangnya kalian tak malu dengan umur kalian.”

  1. Penari 5 : “ dengar kata mbak yuuu Sulastri ituuuu…….”
  2. Sulastri : “sudah – sudah Sit, jangan diteruskan, mending kita bahas yang lain saja.”
  3. Penari 3 : “Ooh Sulastri, ngomong – ngomong hajatan nanti suamimu datang?”
  4. Sulastri : *diam tertuntduk*
  5. Penari 2 : “ biarpun tahun kemarin suamiku tak datang, namun tahun ini suamiku

datang.”

  1. Penari 4 : “haaalllaaah.. mana mungkin suamimu itu datang,,,, dia itu bakalan hadir

kalau yang menari itu patung – patungnya… bukan kamu!!!!

  1. Penari 5 : “mbak yuuu… mbak yuuu.. mungkin suami mbak Sulastri punya kesibukan

lain.”

  1. Penari 1 : “bener sibuk, sibuk NGURUSIN PATUNGNYA ketimbang

SULASTRIIIII….!!! *tertawa*

  1. Penari 5 : “sudah  – sudah mbak yuuu jangan begitu kasihan kan mbak Sulastri. Mbak

yuu Sulastri jangan sedih puukk…puukk. Mbak Sulastri nggak kalah cantik kok sama patung itu. Cuma emang sih patung itu lebih seksi, lebih cantik, lebih imut, lebih putih.

  1. Penari 3 : “GOBLOK kok dipelihara Sit Sitiii…”
  2. Penari 5 : “loohhh kenapa mbak yuuu…”
  3. Sulastri : “sudah sit,,, emang nasib”
  4. Penari 2 : “betapa nasib jadi kambing hitam, memangnya nasib salah apaaa????? Kau

tak boleh begitu Sulastri.”

  1. Penari 1 : “bukannya nasib yang salah namun dirimulah yang salah dalam memilih,,,

kau harusnya cermat dalam membeli”

  1. Penari 4   : “ berpikir, memperhitungkan sebelum bertindak. Jangan sampai penyesalan

itu ada,, nasi sudah menjadi bubur tak akan bisa jadi beras.”

  1. Penari 3 : “kalau sudah jadi bubur, taburi saja dengan ayam, daun bawang kacang,

beserta bumbunya. Artinya bila tak bisa menyalahkan ataupun pasrah dengan keadaan. Ini pilihanmu kaulah juga yang harus mengendalikannya bukannya kau yang dikendalikan keadaan.“

  1. Sulastri : “dengan mudahnya kalian berucap namun kalian tak pernah tau keadaan di

dalamnya”

  1. Penari 1 : “kami semua disini sudah memiliki masalah, taka da satupun di dunia ini

yang tak terjerat oleh masalah, kamu bukan semata – mata menyalahkanmu Sulastri.”

  1. Sulastri : “namun apaaa…????”
  2. Penari 1 : “ya kami ini hanya mampu memberikan nasehat agar tak menyesal di akhir.”
  3. Sulastri : “itu sudah terlambat, nasehat – nasehat kalian ini hanya mengolok – ngolok

ku saja. Nasehat itu datangnya sebelum penyesalan datang, setelah penyesalan itu hanya membuat aku ini semakin bersusah.”

  1. Penari 5 : “ aku benar-benar bingung akan semua hal ini…… *sok tahu*  “nasib yang

dikambing hitamkan ,, Nasi yang menjadi bubur,, nasehat sebelum menyesal,, penyesalan yang membuat semakin bersalah…”  *bingung* jadi bingung aku”

  1. Penari 2 : “bingung apa kamu???”
  2. Penari 5 : “yang saya bingungkan….”
  3. Penari 4 : “huuuuhhh….  Nggak punya otak aja bingung”
  4. Penari 5 : “jadi kambing hitam siapa??? Apakah nasib si kambing hitam ini menjadi

pelengkap bubur sehingga yang punya menyesal dan merasa bersalah”

  1. Penari 3 : “wooooo…… dasar GEMBLONG”
  2. Penari 2 : “sudah… sudah…. Sebentar lagi anakku pulang sekolah, aku harus

menyiapkan makan.”

  1. Penari 1 : “ooohh iyaaa… aku juga harus pulang,,, ngirim makanan buat suamiku

tersayang”

  1. Penari 4 : “ya sudah kita pulang, tapi ingat besok kita lanjutkan latihan kita di jam yang

sama”

  1. Semuanya : “SSSiiiaaappp laksanakan..!!!!”

*Semuanya pergi* namun Siti sebelum pergi dia menghampiri Sulastri.

  1. Penari 5 : “sabar yaa mbak yu Sulastri, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Tuhan tak akan memberikan cobaan yang melampaui batas kemampuan hambaNya.”
  2. Sulastri : “terima kasih yaa Sit”
  3. Penari 5 : “ya sudah mbak yu….”

****   Siti pamit pulang dengan bernyanyi dan menari ala Soimah*

——————————————————————————————

Sulastri termenung, pikrannya maburadul memikirkan semua apa yang teman – temannya ucap

52. Sulastri : “Mas…..

Tahukah engkau,

Dengarkah engkau mas….

Coba sejenak engkau dengarkan aku……

Sudah 10 tahun kita hidup dalam mahligai perkawinan,

Selayaknya kita ini telah memiliki keturunan

Jangankan keturunan,

Darimana keturunan itu ada jika kau selama ini…….

Secuil pun aku tak pernah merasakan

Apa yang dikatakan orang banyak itu “kasih sayang”

Andaikan aku engkau anggap pakaian,

Pasti engkau kenakan

Andaikan aku daging

Pasti engkau makan

Andaikan aku duli harusnya engkau bersihkan

Dan jika aku ini keset

Pasti engkau pakai untuk……

Tapi engkau anggap apa aku ini !!!!!!!

Engkau begitu sibuk dengan duniamu saja!!

Untuk apa aku dihadirkan dalam duniamu….

Aku ini punya segumpal darah yang disebut HATI

Aku ini punya ruh yang disebut JIWA

Tak seperti patung – patungmu itu…….

Sebenarnya aku ini ada atau tidak dalam duniamu,,,,

Apa mungkin aku ini ada atau tidak ada,

Ada di ada-ada, tidak ada di ada-ada,

Tidak ada dan tidak pernah ada….

*nangis*

Engkau adalah laki-laki ku

Dulu mas yang aku bangga-banggakan di depan orang tua ku

Hingga mereka merelakanku untuk kau miliki.

Namun apa yang sekarang aku dapatkan.

Aku selayaknya menikah dengan patung,

Yang tak punya hati, jiwa, kasih sayang, dan perhatian.

Raga ini hampa, rongga – rongga ini bening

Tak pernah haus akan penyejuk

Engkau yang dulu menawarkan air surgawi

Kini sudi ku tenggak nanah belaka…..

*bone tetap memahat patung*

Kemudian tiba-tiba terdengar salam dari kejauhan.

53. Ibu & bapak : “ Assalamualaikum”

54. Sulastri : ”waalaikumsalam ,, eh ibuk bapak… kok ndak bilang mau kesini… kan kalau tahu begitu mas Bone saya suruh njemput bapak ibuk sama bapak. Ibuk sama bapak tadi naik apa??”

55. Ibu : “sudah nduk, ndak usah basa-basi. Tujuan kami kesini mau ketemu suamimu”

56. Bapak : “ ibuk jangan bilang begitu, kita ini kemari niatnya kan silahturrahmi….”

57. Ibu : “yaaa  ndak bisa begitu pak…”

58. Bapak : “sudah buk. begini loh nduk, kedatangan bapak ibuk kesini itu untuk melihat keadaanmu sama suamimu, *celingak celinguk* mana suamimu?

59. Sulastri : “ada pak,, mas Bone sedang memahat patung..”

60. Ibu : “selalu begitu,, memperhatikan patungnya….. kamu kapan diperhatikan??? Lagi pula tangan ibuk sama bapakmu ini sudah  gatal, pengen menggendong cucu….”

61. Bapak : “iya Sulastri… ibumu benar kalian sudah 10 tahun hidup bersama.”

62. Sulastri : “nggeh bapak… sulastri tau, Sulastri yang salah…”

63. Ibu : “bukan kamu yang salah, tapi suamimu yang slaah. Tak pernah  menyayangmu tak bisa memberikan cucu buat kami”

64. Sulastri : “sudah buk… jangan keras-keras nanti mas  BONE

65. Ibu : “biar saja, dia dengar dan bisa membuka matanya, biar ngerti biar tak seperti patung diam membisu.

66. Bapak : “sudah buk, sudah ibuk sudah jangan keterlaluan begitu sama anak.”

67. Ibu : “bapak ini sudah ndak usah ikut camur, ibuk ini sudah geram bapak ndak kasihan sama anak kita yang berlunta – lunta????”

68. Bapak : “ibuk…., bapak tahu namun tidak begini caranya ibuk, kan bisa dibicarakan baik-baik???”

69. Ibuk : “ sudah bapak, sudah ndak bisa baik-baik. Sudah 10 tahun pak bayangkan 10 tahun…..!!! itu waktu yang tak sebentar, bapak tega anak kita ini tak bisa punya keturunan. Karena laki-laki yang gak menghamili anak kita.”

70. Bapak : “sudah buk!! Ibuk sudah keterlaluan…!!!”

71. Ibu : “apaaaa….???? Bapak mau memarahi ibuk, demi apa bapak membentak ibuk seperti itu!!! Bapak mau memukul ibuk?? Pukul pak.. pukul…!!!”

72. Sulastri : “bapak ibuk hentkan!!! “

73. Ibu : “diam Sulastri…!!!! Kamu dengan bapakmu samaaa saja… kamu ini juga salah,, kau selalu saja membela suamimu yang jelas-jelas  tak pernah menyayangimu ibu tak tahu maksud suamimu yang tak bertanggung jawab itu menikahimu.” “bilang pada suamimu itu kalau dia tak bisa memberikan kami cucu lebih baik kau ceraikan saja dia dan menikah dengan orang lain yang busa membanggakan mu ibu serta bapak mu”

74. Sulastri : “ibuuuukkkk… “*menangis*

75. Bapak : “ibuk istighfar buk…”

76. Ibu : “ sudah Sulastri sekarang kau harus memilih, suamimu itu atau ibuk  bapakmu ini..”

77. Bapak : “ibuukk sudah laaahhh….”

78. Ibuk : “ya bapak sudah, kita pulang saja ibuk naik darah jika disini terus melihat kok ada suami yang semacam itu. Ayo pak….!!!”

79. Bapak : “iyaa buukkk… utnggu bapak..” “sabar ya nduk… bapak akan menenangkan ibumu dulu. Sudah tidak usah, dipikirkan apa kata ibumu,, kamu tenag saja, bapak percaya kamu pasti bisa menyelesaikan permasalahan ini,,”

80. Ibu :“ayoooooo paaaakkkk,,, ibu sudah tak sanggup!! Darah tinggi ibuk kumat nanti  pak” *dari jauh*

81. Bapak : “iya buuukkkk…”

82. Sulastri : “mas,,,, kau telah mendengarkan semuanya…. mengapa engkau mematung  dengan seribu misteri yang tak pernah dapat ku ungkap”

88. Heri : “Sulastri….. sulastri….. “ *dari kejauhan*

89. Sulastri : “mas Heri, itu mas Heri??”

90. Heri       : “haiii sulastriiii,,,,” *celingak celinguk* “ehhh ada Bone… Hai Bone,,, masih sibuk dengan patung-patungmu.”

91. Sulastri : “ada apa mas kemari….???’”

92. Heri : “mau main saja… mengunjungi sahabat lama, Bu Bone…”

93. Sulastri : “oohhh,,, ada perlu dengan mas Bone, silahkan… saya mau ke dalam dulu”

94. Heri : “tunggu Sulastri, aku juga ingin bertemu kamu juga….”

95. Sulastri : “ ada apa mas Heri???”

Bone berdiri dan keluar

96. Sulastri : “maaf mas Heri, saya harus masuk…..”

97. Heri : “sudah lah kamu disini saja…. Menemani aku….”

Sulastri berpikir

  • Heri : “tak usah dipikir terlalu dalam…. Aku tahu dari sorot matamu, kau

menyimpan begitu banya problem”

98. Sulastri : “itu hanya tebakan mu….”

99. Heri : “kau tak bisa membohongiku…”

100. Sulastri : “engkau seperti tuhan saja mas Heri…”

(bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR

Sastra Mampu Membuka Mata Hati dan Mata Pikiran Kita, Karena Sastra Adalah Refleksi Kehidupan Kita

Sobo sak paran-paran

Ini blog-blogan ...

Garis Edar-ku

Blog tentang seputar aktivitas kerjaku

@ReeMekarsari

Buat Saya, "Bahagia itu Sederhana" -Ree-

@MaureenMoz

live is an adventure. enjoy the ride.

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Enrichissez-vous!

enrich yourselves

Joglo Drama - Mbah Brata

Seni memanusiakan manusia, menjadikan manusia lebih manusiawi

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: