Joglo Drama – Mbah Brata
Seni memanusiakan manusia, menjadikan manusia lebih manusiawi

Nov
16

ini waktu kita
begitu kau pandang aku setengah hati

kita harus segera pergi
jauh..jauh sekali

sesekali kutatap matamu
tapi kau tak peduli

rinai hujan menyapu debu, malam ini
dedaunan kering tak lagi gemerisik
masih tersisa harapan, biarpun tipis
kerna aku sadar
tak perlu kau hiraukan lantunan gundah yang menyeruak di relung hati

hanya aku yang boleh tahu..

Surabaya, 15 Nopember 2007

Nov
16

Anang – Separuh Jiwaku Pergi

Separuh Jiwaku Pergi
Memang indah semua
Tapi berakhir luka

Reff:
Benar ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku

Kau bilang tak pernah bahagia
Selama dengan aku
Itu ucap bibirmu
Kau dustakan semua
Yang kita bina
Kau hancurkan semua

Lirik Lagu Anang – Separuh Jiwaku Pergi ini dipersembahkan oleh Istanalagu.com ( Free Download Mp3 Gratis Lirik & Video Clip ). Kunjungi Juga Songspalace.com ( Song Lyrics ) Untuk mendapatkan Lyrics lagu barat dan video clipnya.

Nov
15

Secara umum bacaan anak-anak sekarang pasti tak lepas dari komik. Tak bisa dielakkan, daftar buku terlaris anak pada jaringan toko buku terkemuka menunjukkan golongan buku komik Crayon Shinchan, Yu Gi Oh!, Detektif Conan Special, New Kung Fu Boy, Samurai Deeper Kyo, Naruto, Baby Love, Gals, atau Cerita Spesial Doraemon selalu menjadi pilihan untuk dibeli. Selain buku komik Jepang tersebut, seri terjemahan dari Walt Disney-lah yang sering kali tampak di pasaran. Merebaklah tuduhan bahwa bacan-bacaan tersebut telah memelintir anak-anak bangsa hingga hanya memiliki segelintir nilai-nilai universal yang canggung dan kehilangan akar budayanya. Benarkah? Lalu di mana ya buku bacaan anak karya pengarang dalam negeri?

Sastra anak sebagai salah satu bentuk karya sastra, wujud pertama dapat dilihat dari bahannya, yaitu bahasa. Dalam pemakaian bahasa, sastra anak tidak mengandalkan satu bentuk keindahan sebagaimana laiknya karya sastra. Yang paling penting untuk ditonjolkan dalam sastra anak adalah fungsi yang hadir bersamanya, yaitu aspek pragmatis. Namun karena berpatok kaku pada tataran ini banyak karya sastra anak Indonesia yang terjebak dalam tema yang itu-itu saja, tidak berkembang, terlebih lagi unsur didaktik yang kuat menimbulkan kesan menggurui dan melemahkan cerita.

Di Indonesia tidak banyak pemerhati sastra anak. Sastra anak adalah sastra yang tersisihkan, jarang ada peneliti yang memperhatikan. Jika kita mau menengok, hanya segelintir orang saja yang getol berbicara tentang sastra anak, katakanlah Murti Bunanta, Sugihastuti, Riris K. Toha Sarumpaet, dan Christantiowati. Mereka-mereka inilah yang menelorkan literatur tentang sastra anak, walaupun dalam periode awal, tulisan tersebut adalah hasil olahan dari skripsi.

Literatur tersebut antara lain: (1) Bacaan Anak-Anak: Suatu Penyelidikan Pendahuluan ke dalam Hakikat Sifat dan Corak Bacaan Anak-Anak Serta Minat Anak Pada Bacaannya (Jakarta: UI, 1975) karya Riris K. Toha Sarumpaet, (2) Bacaan Anak Tempo Doeloe: Kajian Pendahuluan Periode 1908-1945 (Balai Pustaka, 1996) karya Christantiowati, (3) Serba-Serbi Cerita Anak (Pustaka Pelajar, 1996) karya Sugihastuti, (4) Petunjuk Praktis Mengarang Cerita Anak-Anak (Balai Pustaka, 1991) oleh Wimanjaya K. Liotohe. Sementara literatur yang paling belakang muncul (5) Cerita Anak Kontemporer (Nuansa, 1999) oleh Trimansyah, dan (6) Problematika Penulisan Cerita Rakyat untuk Anak Indonesia (Balai Pustaka, 1998) oleh Murti Bunanta.

Pembaca pemula di Indonesia pada umumnya mengenal bacaan melalui majalah anak-anak seperti Bobo, Bocil, Mentari, buku-buku picture book terjemahan Gramedia dan Elex Media, juga buku-buku bernuansa islami dari Mizan. Picture book (buku cerita bergambar) banyak mengajarkan anak berbagai ragam tema dan persoalan. Anak sejak usia dini mulai dikenalkan mengenai pluralisme, penyesuaian diri, lingkungan hidup, etika, kontrol diri, kerjasama, berbagi, persahabatan, toleransi, cinta kasih, rasa takut, dll.

Tapi ada juga yang menggunakan picture book sebagai media mengenalkan hitungan, abjad, warna, ukuran, alam semesta, ruang angkasa, tumbuhan, binatang, dll. Beberapa buku juga ada yang tanpa huruf (wordless picture book) yang berguna mengasah anak berbahasa dengan menciptakan ceritanya sendiri menurut pengertiannya mengenai gambar.

Kemudian pada periode lanjutan biasanya disusul oleh bacaan komik-komik Jepang yang begitu banyak ragam judul dan temanya. Baru di sekolah mereka mengenal buku-buku cerita rakyat Indonesia yang menjadi salah satu basis dari genre sastra anak. Buku cerita rakyat di sekolah biasanya dikoleksi melalui program pemerintah, itupun tidak banyak, dari sekitar 2000 hingga 8000 koleksi sekolah, paling kurang dari 60 yang merupakan cerita rakyat. Jika tidak melalui membaca, biasanya anak-anak mengenal cerita rakyat melalui dongeng oleh guru atau orang tua mereka, dan cerita favorit yang biasa diberikan biasanya tak luput dari Timun Mas, Malin Kundang, Bawang Merah Bawang Putih, Cindelaras, Sangkuriang, Lutung Kasarung, atau Joko Kendil.

Sastra Anak Indonesia bisa dikatakan tersubordinat dari bacaan terjemahan. Kenyataannya memang penerbit lebih memilih karya terjemahan dengan alasan ekonomis. Jadilah kita tamu di negeri sendiri. Bejibun karya terjemahan hadir, lihat saja Seri Pustaka Kecil Disney yang terbit 29 judul (al: Cinderella, Putri Aurora, Putri Salju dan 7 Orang Kerdil), delapan judul Seri Petualanganmu yang Pertama, (antara lain: Burung Hantu Kecil Meninggalkan Sarang, Kelinci Kecil Bermain dengan Adik, Ulang Tahun Babi Kecil) oleh Marcia Leonard, 12 judul Seri Boneka Binatang (antara lain: Bello Naik balon Udara, Bello Mendapat Sahabat, Bello Punya Kapal Selam) oleh Tony Wolf, enam judul Seri Jennings oleh Anthony A. Buckeridge, tiga judul Seri Adikku yang Nakal oleh Dorothy Edwards.

Seri-seri detektif juga mewarnai karya terjemahan, misalnya Seri Klub Detektif karya Wolfgang Ecke, Seri Enstein Andersen oleh Seymore Simon, dan Seri Klub Ilmuwan Edan karya Bertrand R. Brinley. Namun ada juga cerita-cerita lucu, seperti 15 judul Seri The Baby Sitter Club karya Ann. M. Martin.

Satu lagi, Ratu Tukang Cerita, Enid Blyton, yang telah mengarang lebih dari 700 judul buku yang diterjemahkan dalam 129 bahasa. Karya terjemahan Enid Blyton bertebaran di Indonesia, tidak kurang ada 28 judul Seri Mini Noddy (al: Belajar Jam Bersama Noddy, Belajar Berhitung Bersama Noddy, Belajar Berbelanja Bersama Noddy), 21 judul Seri Lima Sekawan yang juga telah difilmkan, 6 judul Seri Komplotan, enam judul Seri Kembar, tiga judul Seri Sirkus, enam judul Seri Mallory Towers, dan tiga judul Seri Gadis Badung.

Begitulah, karya-karya terjemahan tersebut telah menenggelamkan karya-karya sastra anak lokal yang tidak dapat muncul dipermukaan. Kebanyakan hanya menghuni rak-rak perpustakaan sekolah karena memang sebagian besar merupakan hasil subsidi pemerintah melalui program Inpres. Tentu saja dibandingkan dengan karya terjemahan yang terbit, kualitas fisik karya lokal tersebut jauh di bawah. Karya-karya terjemahan tersebut muncul dengan tampilan gambar, warna, dan kertas yang menawan.

Kemandegan sastra anak lokal juga diperparah dengan tidak adanya program-program sastra di sekolah dan di perpustakaan yang membicarakan buku lokal, kecuali untuk buku-buku sastra dewasa karya pengarang muda yang cepat sekali mendapat apresiasi dan terjual puluhan ribu kopi, katakanlah Dewi Lestari, Ayu Utami, dan Habiburrahman El Shirazi.

Bahkan siapapun orangnya, posisi pengarang bacaan anak tidaklah menarik untuk dikupas. Hal ini nampak ketika para selebritis menulis buku untuk anak, seperti Soraya Haque, Marisa Haque, Vinny Alvionita, Gito Rollies, Dwiki Dharmawan, dan Monica Oemardi. Bandingkan dengan buku anak karangan Madonna yang biasa saja mutunya tapi gemanya sudah ke mana-mana.

Jika demikian, semakin lemahlah orang-orang yang benar-benar intens di jalur ini, seperti pengarang muda Donny Kurniawan dan Eko Wardhana yang karya-karyanya cukup menjanjikan. Penerbit mizan juga memelopori terbitan serial Kecil-Kecil Punya Karya, walaupun hasilnya bisa dibilang children writing namun cukup efektif mengasah bakat-bakat menulis pada anak.

Pada periode 70 dan 80-an dikenal karya-karya dengan tema toleransi, keragaman budaya, arti perdamaian, dan sadar persamaan gender melalui pengarang-pengarang senior, seperti Suyadi, Alm. Kurnaen Wardiman, Djoko Lelono, Diah Ansori, Alm. Suyono, Dwianto Styawan. Tentu saja sudah banyak yang terlupakan. Namun kiranya karya-karya yang penuh humor, tidak berkhutbah, penuh ketrampilan menggunakan bahasa yang terkadang penuh suspens dan taburan fantasi, menyebabkan karya-karya mereka dapat dimodifikasi menjadi karya kreatif lain, semisal drama radio, drama panggung, dan mendongeng.

Pengarang sastra anak yang cukup beruntung di periode terkini adalah Murti Bunanta yang karya dwi bahasanya Si Bungsu Katak (Balai Pustaka, 1998) mendapat penghargaan internasional, The Janusz Korczak International Literary Prize Honorary Award dari Polandia. Juga karya Legenda Pohon Beringin (KPBA, 2001) yang mendapat hadiah utama Octogones 2002 for Reflets d’Imaginaire d’Ailleurs.

Bukan cuma itu, sebuah buku ceritanya, Kancil dan Kura-kura (KPBA, 2001) yang mengadaptasi cerita dari Kalimantan Barat, telah diterjemahkan dalam bahasa Jepang dan dipanggungkan di sana oleh sebuah grup teater anak profesional selama satu tahun. Murti Bunanta juga diminta oleh penerbit Amerika (Westport, Library Unlimited Inc.) untuk menuliskan buku cerita rakyat Indonesia yang kemudian terbit tahun 2003 dengan judul Indonesian Folktales.

Kini dia menggagas dan menerbitkan buku-buku kecil untuk anak dan pembaca yang mulai belajar bahasa Indonesia. Buku-buku tersebut kemudian diketahui laku dibeli oleh 52 perpustakaan di Singapura dan rencananya juga akan dapat dibeli di Australia.

Tantangan pengarang sastra anak Indonesia dewasa ini jadi demikian berat, karena tidak saja melawan sesama pengarang buku anak di dunia, tetapi juga melawan daya tarik media elektronik dan kemajuan teknologi yang pesat.

Sebuah Perpustakaan Digital Anak-Anak Internasional (International Children’s Digital Library) telah hadir di Library of Conggress (Amerika) di mana telah mencatat 275 buku koleksi yang dipilih dari buku-buku terbaik di dunia yang dapat diakses cuma-cuma melalui jaringan internet. Diperkirakan tahun ini akan mencapai 10.000 buku dalam lebih 100 bahasa. Karya-karya yang dikoleksi meliputi buku action, petualangan, dongeng, cerita pendek, dan drama.

Namun yang paling merisaukan adalah adanya usaha mengambil alih cerita rakyat Indonesia oleh pengarang Barat. Contoh nyata terjadi pada cerita-cerita asal Bali yang kemudian ditulis oleh Ann Martin Bowler dengan ilustrator I Gusti Made Sukanada yang berjudul Gecko’s Complain, juga Balinese Children Favorite Stories yang ditulis oleh Victor Mason dengan ilustrator Trina Bohan-Tyrie.

Rasanya para pengarang cerita anak kita harus cepat bertindak menggali potensi cerita yang banyak bertebaran di bumi Indonesia. Patut diacungi jempol bagi Kelompok Pencinta Bacaan Anak yang telah menerbitkan buku cerita rakyat (2001), antara lain Suwidak Loro, Si Kancil dan Kura-Kura, Kancil dan Raja Hutan, Si Kecil, Si Bungsu Katak, dan Senggutru, apalagi dengan sampul hard cover dan dwibahasa, cerita-ceritanya pun dapat disederhanakan dan didongengkan di kelas untuk anak usia dini.

Nov
15

Masih ingatkah engkau

Malam itu, ketika kubisikkan gurindam

Ketika kita bersama menengadah

Menanti setetes embun yang kau pinta

Masih ingatkah engkau

Ketika genggaman rapat tanganmu mulai menuai resah

Bersama semilirnya angin malam di pantai bisu

Kala itu

Masih ingatkah engkau

Ketika kau pinta sekuntum mawar, sambil berbisik

‘ambilkan bunga itu’ dan kau tersipu

Sambil kau rapikan kerudung biru berenda rindu

Masih ingatkah engkau

Ketika kita lalui malam

Lalu kita tiup kedua tangan kita yang menyatu

Sambil berucap ‘kita tak boleh memiliki..’

Malam semakin temaram

Dan kita pulang, mendawai mimpi

Surabaya, 15 Nopember 2007

Nov
03

tataplah mentari pagi

kala gundah berpadu resah, menunggu embun menetes

berdirilah dan tengok hasrat yang telah terkeranda sepi

tak usah kau harap bersua gerbong terakhir, kala terjal mengiringi langkah

bukalah hati yang telah terpagar duri//menjadi nyanyian rindu berrenda kasih

jumpai tulus hati pada titian terakhir….

 

Sby, 20 Oktober 2009

 

Nov
03

 

tlah kau pesan mawar jingga
yang terkukus harapan semu
di sudut bening matamu
tlah kau pesan mawar jingga
yang terburai kelopak hingga hilang warna
warna kesukaanmu
tlah kaupesan mawar jingga
yang belum sempat terantar pada pagi itu
masih kugenggam rapat
kusebarkan helai demi helai hingga hilang aroma
hingga aku tersadar akan mimpi bisu
yang tak pernah bisa aku raih
benarkah..
bila akan sirna warna jingga
warna kesukaanmu?
tak akan bisa kau jawab
kerna sudah kehilangan kata
rasa dan warna..
surabaya, 4 Nopember 2009

 

 

Nov
03

 

Kujemput mantari pagi itu
Di kelok lembah pada perbukitan
angin pagi mengusik keinginanku, saat rindu tlah kutepis
Sisa malam tlah menjamu purnama, datang membawa berita
kenapa kau datang kalau hanya membawa keraguan?
kenapa kau hadir kalau hanya menyindir?
Kau bak bening embun pagi, yang mengulir senyum saat kusentuh
Kau bak riak pelangi yang membias saat beradu sinar mentari
Sambutlah tanganku mentari
Kutunggu hasrat yang terukir indah
Pada kabut pagi
Jombang, 14 Oktober 2009

 

 

Sep
10

Andai aku bisa
Menggapai mawar jingga, yang tertepis merona
Yang tertiup angin barat di antara tebing2 terjal
Yang berdiri menggapai awan sambil sesekali berdesah lirih..
Pada pilu yang menusuk iga pagi itu

Andai aku bisa
Menabur bulir air kesejukan pada wajah memerah
Wajahmu, wajah bidadari mimpi yang selalu hadir
Pada mimpi-mimpi bisu kala itu

Andai aku bisa
Merengkuh batas angan tuk bunga yang tercampakkan
Tuk asa yang kian tenggelam
Menyatu dalam kasih, seremoni rindu

Andai aku bisa,
Ya andai bisa aku
Melukis di air mata dera kesedihan
Lalu, aku ingin menyanyikan sebuah lagu
Untukmu juwitaku…selamanya.

Surabaya, 10 September 2009

Sep
09

“AKHIRNYA”


kuraut seremoni rindu
yang bergayut sepi di batas anganku
yang mengalir riang di sanubariku

akhirnya…
jalan ini tlah kulalui
berbatas rona kasih bersemi
ketika lantunan efoni menyapu harap
yang kian bertalu

akhirnya..
kutunggu riak kasih, pada warna pelangi

surabaya, 9 September 2009

Sep
02

“KEKUDANGAN”

Sing sumendhe mbuwang karep

kalis ing rubeda

Sing ndhedher lan nguber ener

lodhang kaprayitnan

samongsoa sira isih bisa ngregem kautaman

ora prelu karep nyirep ati menep

samongsoa sira dadi manungsa kang ora kamanungsan

bakal teka apa sing dadi kekarepan

kekudangan wingi kari tetembangan aeng

sing keprungu kaya nglanguting gendhing monggang

minangka pangiring lelayon kala semana

kekudangan mung bisa dadi barang pajangan

kang sumendhe ing tembok-tembok loji

kaapit endhas menjangan lan macan

isih keprungu lelagon kuna

ananging kairing gedebuging kendhang koplo

kang saya ndadekake ati nglokro

isih keprungu sesanti

ananging kabuntel lawon kumel melas ati

yen dietung klawan mundur

mesti pandom jam tansaya kendhur

mungguh bisa muter kalacakra

mesti bisa daktemoni hanacaraka cakrik nglegena

lan yen bisa dak kupengi ilining rina wengi

mesti kautaman mung kari wewayangan kang ngiwi-iwi

uriping manungsa kang suwene mung bisa dietung karo driji

ayo budhal ngundha gegarane urip

kang kasendhal saya adoh

kabuncang angin sore

kekudanganku

mung kari sumendhe

Surabaya, 2 September 2009