Oleh: mbahbrata | 24 Januari 2010

‘Vas Biru’

Berderet sulaman talam

tempat kutaruh dahlia-ku

pada vas mesti kuisi pesan

yang tak boleh siapapun membacanya

vas biru berbalut pasir

yang selalu lepas satu-satu

ketika napas kecilmu

mendendangkan senandung rindu

kutak coba tahu sampai kapan

dapat kujaga aroma

saat dahlia-ku berbagi

Batu, 24 Januari 2010

Oleh: mbahbrata | 16 Januari 2010

‘Pada Waktu’

aku mentari, yang berbagi sinar kala hari

aku bulan, yang berbagi terang di atas riak sepi

aku siang, yang berbagi riang menuai harap

aku malam, yang berbagi tenang merajut mimpi

bukankah kau salah satu diantaranya?

kucoba jawab, lewat bulir embun

yang menetes pada dahi keringku

yang tak lagi mampu mengernyit

tuk melupakan masa lalu

Surabaya, 17 Januari 2009

Oleh: mbahbrata | 12 Januari 2010

‘Kabut Pelangi’

kucoba jawab riuh riang tonggeret di musim hujan pada pinus mengadu sapa bisakah aq berbagi? gundah menyapa hening yang menyatu pada rerimbunan talas pada tebing pelangi kala itu

Surabaya, 12 Januari 2010

Oleh: mbahbrata | 7 Januari 2010

‘Mawarku’

kulihat kau terbaring lesu

buliran tangismu masih tersisa beberapa tetes

di tanganmu kau genggam pualam retak

berukir bunga mawar

reda tangismu mengiringi gerimis di pagi buta

ketika buaian sudah tak lagi hinggap di pelukmu

mendulang kasih, berharap rindu

yang menyatu pada hempasan angin

ketika terbangkan sejuta anai-anai

Surabaya, 7 Januari 2010

Oleh: mbahbrata | 2 Januari 2010

‘SEMU’

tertatih menyeret langkah

dan berharap menggapai matahari

mampukah kau sapu peluh?

yang menetes liar tak mampu redakan nyeri

derita trauma luka lama

kau tatap bingkai kosong

di tembok lusuh beranda vila biru

gemetar bibir mungilmu berdesah

hampir tak bersuara

‘aku masih ada, aku masih bisa berharap..’

tatapan kosong itu tak mampu sembunyikan kerisauan

di bawah temaram bulan bisu

Surabaya, 2 Januari 2009

Oleh: mbahbrata | 31 Desember 2009

“Kau Telah Pergi Guruku”

[in memoriam Gus Dur]

Kau telah pergi guruku

Tatkala kami semua haus akan siraman rohanimu

Tatkala kami semua rindu nyanyian kehidupan penghibur lara

Untunglah..

Tlah kau pancangkan oase-oase putih

Di padang gersang tandus di bumi yang penuh kebohongan ini

Kau telah  pergi guruku

Tak ada yang mampu ajarkan kami menyayangi perbedaan

Tak ada lagi yang dapat ajarkan kami menepis kesombongan

Untunglah..

Tlah kau tinggalkan pada kami

Sebait nada kalam ilahi penyejuk hati

Kau telah  pergi guruku

Torehan kolbumu tlah mampu membasahi dahaga

Ibu pertiwi

Surabaya, 1 Januari 2010

Oleh: mbahbrata | 30 Desember 2009

‘alpha?’

aku lupa menyeka
ketika tangismu tak juga reda
masih kau genggam surat bisu
bertuliskan permohonan maafku

aku lupa mengeja
torehan kata pada kertas kusut bernoda
yang pernah kita pakai belajar menulis hati bersama

aku lalai.. untuk menanam kamboja
Berwarna kuning seperti yang kau pinta
Bukan aku tak mau, tapi tak kutemukannya

Masih saja aku lupa
Bagaimana dulu aku memulai nya

Surabaya, 30 Desember 2009

Oleh: mbahbrata | 28 Desember 2009

“RAMUAN AJAIB”

Oleh: Hendrik Iswahyudin

BABAK I

DI MALAM YANG SEPI, YOGI SENDIRI DI KAMAR SAMBIL MEREBAHKAN BADANNYA YANG GEMPAL DI TEMPAT TIDUR KESAYANGANNYA. TIBA-TIBA IA TERPERANJAT MENDENGAR SEKILAS TENTANG CERITA KAKEK YANG BERBINCANG DENGAN NENEKNYA DI RUANG TENGAH.

Kakek              : Nek! Mau dengar cerita kakek ndak?

Nenek              : Boleh, cerita apa sih kek?

Kakek              : Tentang ramuan ajaib

Nenek              : Ramuan ajaib apa sih kek?NENEK PENASARAN

Kakek              : Ya ramuan ajaib yang pernah kakek buat pada masa kecil dulu untuk        cepat menghafal rumus matematika.

DI DALAM KAMAR YOGI LANGSUNG MENDEKATI PINTU DI KAMARNYA DAN MENEMPELKAN DAUN TELINGANYA KE PINTU.

Nenek              : Memangnya ada ramuan ajaib seperti itu?

Kakek              : Dengar dulu cerita kakek, nek! Dulu kakek ketika seumuran Yogi, kakek mirip sekali dengan Yogi. Kakek itu malas sekali kalau di suruh belajar. Kemudian ketika menjelang ulangan kakek bingung karena tidak pernah belajar. Tapi kakek tidak putus asa, kakek berfikir untuk mendapatkan cara yang cepat agar hafal rumus-rumus matematika. Setelah beberapa lama berfikir, akhirnya kakek menemukan ide cemerlang.

Nenek              : Ide apa itu kek?

YOGI SEMAKIN MELEKATKAN DAUN TELINGANYA KE PINTU KAMARNYA.

Kakek              : Kakek membuat ramuan ajaib dengan harapan dapat hafal rumus-rumus matematika. Ramuan ajaib itu terdiri dari air putih, gula, garam dan abu dari catatan rumus-rumus matematika yang telah kakek bakar. Kemudian kakek campur jadi satu dengan air lalu kakek minum.

Nenek              : Hasilnya kek?

Kakek              : Waduh kepala kakek jadi pusing dan perut kakek terasa mual.

Nenek              : Terus?

KRIIING……KRIIIING……KRIIIING(SUARA TELEPON BERDERING)

Kakek              : Nek itu teleponya berdering!

Nenek              : Ya, ceritanya di lanjutkan besok saja ya kek.

Kakek              : Ya, kakek tidur dulu ya nek.BERJALAN MENUJU KAMAR

BABAK II

DENGAN HATI TANPA KEKHAWATIRAN MENGHADAPI ULANGAN MATEMATIKA BESOK, YOGI MELANGKAH TENANG MENUJU RUMAH. DI DEPAN GERBANG SEKOLAH, TEMAN-TEMAN YOGI TELAH BERKUMPUL MENUJU KE RUMAH MIA UNTUK BELAJAR KELOMPOK MEMPERSIAPKAN ULANGAN MATEMATIKA BESOK.

Mia                  : Gi! Ke mana? Nggak ikut ke rumahku?

Yogi                : Buat apa ke rumahmu.TANGANNYA BERKACAK PINGGANG

Anton              : Ya belajar dong, besok kan ulangan matematika, banyak rumus yang harus di hafal lo!

Yogi                : Kalian saja yang belajar, aku tidak perlu melakukannya.

Jaka                 : Kok bisa begitu?

Yogi                : Tentu bisa, karena aku telah mendapatkan resep mujarab dari kakekku.

Mia                  : Resep apa sih?

Yogi                : Resep agar sukses ulangan.

Anton              : Alaa…ah, paling juga disuruh belajar.

Yogi                : wah, kalian salah, pokoknya ini rahasia.

Mia                  : Dasar pelit.

Anton              : Jangan-jangan kakek Yogi dukun.

Jaka                 : Ha…ha….ha….dipanggil mbah dukun aja.

Yogi                : Jangan sembarangan ya, kita lihat saja besok.

MIA, ANTON DAN JAKA PERGI KE RUMAH MIA UNTUK BELAJAR, SEDANGKAN YOGI PULANG KE RUMAH

BABAK III

MALAM TELAH TIBA, YOGI SIBUK MEMPERSIAPKAN BAHAN-BAHAN UNTUK RAMUAN AJAIBNYA. CATATAN MATEMATIKA, SEGELAS AIR PUTIH, GULA, DAN GARAM. DENGAN HATI-HATI YOGI MEMBAKAR CATATAN LEMBAR DEMI LEMBAR MATEMATIKANYA. KEMUDIAN DENGAN HATI-HATI YOGI MEMASUKKAN GULA, GARAM DAN ABU KE DALM GELAS YANG BERISI AIR. TIBA-TIBA SUARA IBU MEMANGGIL.

Ibu                   : Yogi sedang apa kamu di kamar nak?kok ada bau benda terbakar dari kamarmu.

YOGI TERPERANJAT MENDENGAR IBUNYA DARI RUANG TENGAH. DIA MENDEKAT KE PINTU MENGAMATI LUBANG KUNCI DENGAN SEKSAMA, IA MEMASTIKAN PINTUNYA TELAH TERKUNCI.

Yogi                : Yogi tidak apa-apa kok bu, Yogi hanya menyiapkan untuk ulangan besok kok bu.

TOGI MENGADUK RAMUAN AJAIBNYA, KEMUDIAN MEMINUMNYA.

Yogi                : Huekk..kk!ternyata rasanya tidak enak. Bagaimana kakek dulu meminumnya ya?

YOGI MEMINUMNYA SEKALI LAGI.

Yogi                : Huek..kk!huekk..kk!

Ibu                   : Tok…tok….tok…..Yogi, ada apa nak?SUARA IBU DI DEPAN PINTU

Yogi                : Uhuk..kk!uhuk…kk!Yogi hanya tersedak kok bu.

Ibu                   : Buka pintunya nak, ini ibu bawakan susu hangat untukmu.

YOGI MEMBUKA PINTU DENGAN PERASAAN TAKUT KETAHUAN IBUNYA.

Ibu                   : Benar, kamu tidak apa-apa?

Yogi                : Tidak apa-apa kok bu.

Ibu                   : Ini susunya, ibu letakkan di meja belajar.

Yogi                : Ya bu terima kasih. YOGI MASIH KETAKUTAN

IBU KELUAR DARI KAMAR YOGI, YOGI KEMBALI MENUTUP PINTUNYA SAMBIL MENGELUS DADANYA.

Yogi                : kuteruskan nggak ya?……ku teruskan nggak ya?….Ah…daripada susah-susah menghafal mendingan kuteruskan saja.

YOGI MENCOBA MEMINUMNYA SEKALI LAGI.

Yogi                : Glek…glek….huekk…kk!huek…kk. aku benar-benar tidak dapat meminumnya.

YOGI TAMPAK PASRAH, WAJAHNYA SEDIKIT PUCAT DAN KEPALANYA PUSING .

Yogi                : Bukankah kakek dulu merasa mual dan pusing? Artinya ramuan ini mulai bekerja.

DENGAN PERASAAN SEDIKIT GEMBIRA, YOGI MEMILIH UNTUK TIDUR BERHARAP BESOK RUMUS-RUMUS MATEMETIKA MELEKAT DI KEPALANYA.

HARI SUDAH PAGI, YOGI MASIH TIDUR DI KAMARNYA. BERKALI-KALI IBUNNYA MENGETUK PINTU DENGAN PERASAAN KHAWATIR.

Ibu                   : Yogi (TOK……TOK…..TOK), Yogi(TOK….TOK….TOK)

TIDAK ADA JAWABAN DARI KAMAR YOGI. KEMUDIAN IBU MEMBUKA PINTU KAMAR YOGI. IBU MELIHAT YOGI MASIH TERBARING DI TEMPAT TIDURNYA. IBU MENDEKATI YOGI DAN MEMEGANG KENINGNYA.

Ibu                   : Kamu sakit nak?

Yogi                : Kepalaku pusing, bu. Aku juga kedinginan.

Ibu                   : Kaau  begitu, jangan masuk sekolah dulu. Istirahat di rumah saja.

Yogi                : Tapi hari ini Yogi ulangan bu.

Ibu                   : Nanti ibu telepon ke sekolah agar boleh ikut ulangan susulan…. Ibu telepon gurumu ya?

Yogi                : Ya bu. Bu tolong panggilkan kakek ya!

Ibu                   : Ya, sebentar.IBU MELANGKAH KE LUAR KAMAR

KAKEK MASUK KE KAMAR YOGI DAN DUDUK DI TEPI TEMPAT TIDUR YOGI.

Kakek              : Aduh Yogi, mau ulangan kok sakit.

Yogi                : Ya kek, kepala Yogi pusing sekali.

YOGI MENATAP GELAS YANG BERISI CAIRAN GELAP.

Kakek              : Yogi minum kopi?

Yogi                : tidak kek.

KAKEK MELANGKAH DAN MENGAMBIL GELAS YANG BERISI CAIRAN GELAP DAN MENCIUM ISI GELAS ITU.

Kakek              : Kamu buat ramuan ini?

Yogi                : Ya kek.

Kakek              : siapa yang mengajari. KAKEK BINGUNG

Yogi                : dua hari yang lalu Yogi mendengar kakek sedang bercerita tentang ramuan ajaib kepada nenek. Makanya aku mencobanya.

KAKEK TERTAWA TERBAHAK-BAHAK

Kakek              : ha…ha..ha…ha…

Yogi                : Kenapa tertawa kek. YOGI KEHERANAN

Kakek              : Ooo.. itu rupanya yang menyebabkan kamu sakit.

Yogi                : Kok bisa kek?

Kakek              : Ya,kakek dulu sama seperti kamu seperti sekarang ini. Setelah kakek meminum ramuan ajaib itu kakek juga langsung sakit.

Yogi                : Dan kakek jadi pintar?

Kakek              : Waduh, pasti kamu belum mendengar dengan lengkap cerita kakek waktu itu. Setelah minum ramuan iotu, kakek masih ikut ulangan dan hasilnya, kakek mendapat nilai tiga.

Yogi                : Ha?? Tiga??YOGI TERKEJUT

Kakek              : Ya , tiga.

Yogi                : lho bukankan kakek pandai matematika?

Kakek              : Ya, Karena setelah itu kakek rajin belajar agar semua rumus-rumus matematika dapat melekat di kepala, tidak dengan meminumnya. Kalau Yogi ingin pandai matematika, Yogi harus banyak belajar dan banyak menghafal. Dengan begitu Yogi akan hafal semua rumus matematika. Yogi mau seperti itu?

Yogi                : Baiklah, Yogi akan mencobanya.

Kakek              : Ingat Yogi tidak ada jalan pintas untuk pintar. Semua harus dimulai dengan kerja keras. Sekarang istirahat dulu.

Oleh: mbahbrata | 27 Desember 2009

‘Pengembara’

berbaring menengadah langit

mengunci  bibir rapat-rapat

berguman lirih pada bilur angin

“hujamkan duri pada harapan semuku”

tak terdengar barang sejengkal, kerna angin

tak pula mau mengirimkan pesan

tertatih kerna kaki terluka

bekas torehan pisau berkarat

terasa pedih tapi tak terasa

kerna sakit adalah pilihannya

dalam kesunyian

masih tersisa dendang pilu

beberapa bait kerisauan

yang sudah lama tak ternyanyikan

pengembara..

pada hati kau berbagi

pada cinta berasa

tak tertimbang bimbang

ketika cinta, pada siapa berlabuh..

Surabaya, 27 Desember 2009

Oleh: mbahbrata | 26 Desember 2009

‘Menunggu Kabar’

aku menunggu kabar

dari biduk asing yang terombang ambing ombak

aku menunggu kabar

dari merpati putih yang terbang menembus bias pelangi

aku menunggu kabar

dari deru dera yang mencederai kabut ngarai

dan aku disini, tetap menunggu

kabar dariMU

Surabaya, 26 Desember 2009

Tulisan Sebelumnya »

Kategori